Semua tulisan dari Syamsu Alam

Dosen di Fakultas Ekonomi UNM, dan pegiat di Kelompok Studi Praxis FE UNM.

Krisis Protes Mahasiswa dan Logika Biner Kampus

Sekilas pandangan saya melihat aksi protes solidaritas Mahasiswa atas skorsing yang dialami temannya di Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM), yang menurut pengalaman saya yang pernah mengecap kehidupan mahasiswa awal abad 21 silam, aksinya begitu wah. Pataka-pataka lengkap, sound system, speaker mantap, di masa kami hanya menggunakan megaphone, orasi dan baca puisi variatif. Sangat mengharu biru melihatnya dari balik jilbab mahasiswi-mahasiswi yang menontonya dari lantai 2 gedung FE UNM (12 Juli 2018). read more

Belajar Respect dari Euforia Fans Sepak Bola

Sejenis adagium klasik berbunyi: Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah. Jika ungkapan ini diterima, maka fanatisme ‘buta’ tidak semestinya memenjarakan kita. Santai saja menerima kekalahan, demikian pula yang menang, jangan euforia. Respect and Perfect dua hal yang mulia dalam setiap permainan. Kenapa mulia, karena ia sulit dan langka ditemukan dalam pertandingan, ibarat berlian. Kalau kedua hal tersebut tidak ada pada suatu kemenangan, paccei (tidak bisa diandalkan), kata orang Makassar. read more

“Every Economy is a Culture” dan Relevansinya dengan Doktrin Produktivitas.

Menonton film pendek memang mengasyikkan. Di dalamnya tersirat banyak simbol, makna dan pesan-pesan. Pada salah satu perkuliahan ekonomi internasional bagian integrasi ekonomi, saya lazimnya mendahului dengan pengantar cerita-cerita santai dan lucu, sebelum sesi menonton film pendek di kelas, judulnya Why Some Countries are Rich and the Others are Poor? Film ini menyiratkan bahwa perbedaan dalam mengoptimalkan tiga hal; institusi, budaya, dan sumber daya alam sebagai penyebab adanya perbedaan antar negara. Apa, bagaimana dan seberapa penting ketiga hal tersebut? read more

Mahasiswa Kri(t)sis Zaman Now

Aktivis-aktivis mahasiswa jangan bikin malu yah, koar-koar di jalanan bakar ban tapi pas ujian skripsi terbujur kaku menghadapi pertanyaan dosen. Jika berani membantai kekuasaan melalui orasi sangar, janganlah bikin malu dengan merelakan diri dibantai di ujian skripsi. (Status Muhajir MA)

Pada umumnya, Jangankan di ujian meja, ujian mata kuliah saja kadang banyak keteteran. Banyak ‘orator’, maaf sy tidak menyebutnya ‘aktivis’ itu sangat mulia bahkan saya pun tidak pantas menyandangnya, dikala jamanya juga, ketika pernah sedikit nakal di usia belia ‘masa kemahasiswaan’. read more

Pendidikan dan Belenggu Fasisme Pikiran

Pendidikan seringkali dikerdilkan menjadi gedung sekolah, seragam, dan aktivitas belajar antara guru-murid, dosen-mahasiswa, kyai-santri, dan seterusnya. Pendidikan ibarat pisau bermata ganda, ia bisa dimanfaatkan untuk kebaikan bisa pula untuk kejahatan. Ia dapat membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan di sisi yang lain bisa menjadi candu dan ilusi. Pendidikan dalam berbagai tingkatan dan jenisnya yang sekuler dan berbasis agama adalah semacam propaganda yang mampu menggerakkan peserta didik atau sebaliknya menjadi penjara bagi pikiran dan kebebasan (jumud). read more

Robot, Manusia dan Ekonomi Baru

Apa jadinya jika robot mampu mengkudeta peran manusia? Robot bisa saja merupakan The Future of Employment, atau wakil manusia di muka bumi. Robot bisa saja menggantikan polisi yang tidak bisa memberi rasa aman di kota ini, di mana rasa takut kepada jambret dan begal menggantikan malam-malam kita yang asyik ngerumpi di warung kopi. Robot berasal dari kata ‘robota’ dalam bahasa Ceko berarti budak, pekerja atau kuli.  Kata ‘robota’ pertama kali diperkanlkan oleh Karel Capek dalam sebuah pentas sandiwara pada tahun 1921 Rossum’s Universal Robot (RUR). Pentas ini berkisah tentang mesin yang menyerupai manusia yang dapat bekerja tanpa lelah, kemudian memberontak dan menguasai manusia. Dari berbagai literatur robot sering diidentikkan dengan ‘otomatisasi’. read more

Naiknya Harga Komoditas dan Cita Rasa Konsumsi

Hukum alam permintaan mengatakan: jika harga-harga barang meningkat maka permintaan pada barang tersebut (mestinya) menurun. Faktanya bagaimana?  Apa sebenarnya yang kita konsumsi? Benarkah kita adalah apa yang kita konsumsi?

Sebagian besar masyarakat, lebih menyukai kenyataan tiruan (simulasi) daripada kenyataan itu sendiri. Lebih gemar chat dengan orang jauh daripada teman di sampingnya. Lebih gemar memburu apa yang tiada dalam genggaman, daripada memaksimalkan apa yang telah dimiliki. Lebih menyukai yang artifisial daripada yang alami. Pada tingkat akut, seseorang sudah tidak bisa membedakan mana kenyataan mana manipulasi. Mana yang sebenar-benarnya benar, mana yang keliru atau menyimpang. read more

Persekongkolan Serakah

Mayoritas yang kompak adalah bahaya bagi kebebasan [H. Bergson]

Dalam dunia yang semakin terbuka, postulatnya adalah tidak ada manusia yang dapat memenuhi kebutuhannnya sendiri, demikian pula negara. Setiap kita saling bergantung antara yang satu dengan yang lainnya, baik secara individu maupun konteks negara. Untuk memenuhi kebutuhan, ada dua jalan yang dapat ditempuh bekerjasama dan/atau berkompetisi.

Bekerjasama dalam perdagangan atau berkompetisi dalam wujud ‘perang’ memperebutkan sumber daya yang tersedia. Organisasi-organisasi regional antar benua sebagai perwujudan bentuk kerjasama, Uni Eropa, ASEAN, kerjasama bilateral, kerjasama antar benua. Dalam setiap kubu kerjasama tersebut, tidak dapat dimungkiri terjadinya persaingan. Baik di antara sesama anggota perserikatan maupun dengan perserikatan yang lain. Sebagai contoh, perebutan kuasa antara TPP (Trans Pasific Partnership) yang dikomandoi oleh Amerika Serikat, dan The Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang didominasi oleh China. Kedua perserikatan ekonomi tersebut, saling berkompetisi menguasai pasar Asia Tenggara. read more