Semua tulisan dari Syamsu Alam

Dosen di Fakultas Ekonomi UNM, dan pegiat di Kelompok Studi Praxis FE UNM.

Krisis Protes Mahasiswa dan Logika Biner Kampus

Sekilas pandangan saya melihat aksi protes solidaritas Mahasiswa atas skorsing yang dialami temannya di Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM), yang menurut pengalaman saya yang pernah mengecap kehidupan mahasiswa awal abad 21 silam, aksinya begitu wah. Pataka-pataka lengkap, sound system, speaker mantap, di masa kami hanya menggunakan megaphone, orasi dan baca puisi variatif. Sangat mengharu biru melihatnya dari balik jilbab mahasiswi-mahasiswi yang menontonya dari lantai 2 gedung FE UNM (12 Juli 2018).

Saya tidak mengurai kronologisnya, karena saya bukan anggota Komisi Disiplin Fakultas (laporannya mungkin bisa dilihat pada komisi yang bersangkutan). Hal ini untuk menghindari klaim kebenaran dan pembenaran pada kedua pihak: pihak mahasiswa dan pihak birokrasi kampus. Tapi sebagai bagian dari entitas kampus yang prihatin melihat tindakan skors tersebut, dan juga miris melihat protes ‘solidaritas mahasiswa’ se-UNM siang tadi.

Dalam benak saya, cara pandang logika biner, benar-salah, kawan-lawan, kamu-saya, Loe -gue, kalian-kami, tidak akan menyelesaikan masalah dengan elegan. Tapi bisa saja elegan, jika kita melihat, kamu adalah “saya yang lain”. Kalian adalah “kami yang lain”. Sehingga apapun hasilnya bisa lapang dada dan bukan saling pasang badan dalam menyelesaikan masalah.

Saya menulis ini bukan karena latah, karena memang saya suka menulis, bukan hendak membantah sejumlah klaim kebenaran yang beredar di linimasa menurut versi masing-masing. Tulisan ini hadir dengan versinya sendiri. Menurut versi mahasiswa, hanya karena protes dan meminta transparansi sehingga diskorslah mahasiswa yang dianggap kurang etis dalam pandangan birokrasi kampus. Pada sisi lain, mahasiswa melakukan protes secara brutal (bukan anarkis) pada saat melakukan aksi pada Kamis (24/5/2018) lalu. SK skors 11 Juli 2018. Perihal tidak etis dan detail hal yang diprotes bukan bagian dalam tulisan ini.

Seperti yang sering saya kemukakan pada berbagai kesempatan tentang pentingnya membaca. Membaca secara kultural, membaca bahasa tubuh, situasi, hingga geopolik, dengan alat indera, akal, dan hati, seharusnya menjadi ciri pembeda masyarakat intelektual dan selainnya. Karena dengan pembacaan yang bagus akan menghindarkan kita pada kebuntuan komunikasi dan terjebak pada cara pandang “oposisi biner”. Bagaimana perasaan orangtua yang diteriaki oleh anaknya, atau anak yang aspirasinya tidak ditanggapi dengan serius oleh orangtuanya? Atau bagaimana kalau orangtua dan anak saling curiga mencurigai? dan seterusnya.

 

Inefesiensi Protes Mahasiswa

Saya melihat ada pemborosan sumber daya atau energi mahasiswa dalam *aksi protes tadi siang di FE UNM. Saya tidak menyebutnya gerakan, sekadar protes saja.

Kenapa boros energi? Seberapa urgenkah menggerakkan massa se-UNM, untuk soal skorsing 6 orang mahasiswa? Apakah sudah tepat sasaran atau tidak? Apakah tidak ada upaya diplomatis yang lain yang bisa ditempuh selain pengerahan massa dan teriak-teriak, yang kadang tak jelas diksi dan intonasinya? Bahkan dari kejauhan saya mendengar seperti orang mau eee. Seberapa panik protes tersebut dilakukan sehingga memanfaatkan hampir semua kekuatan broadcast, mobilisasi isu dan massa pada berbagai media, online dan offline. Seberapa genting sampai harus melakukan aksi malam di jalan raya (depan Pinisi UNM)? Dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan mendasar dibenak saya? Kalau ingin membentuk opini, dan memenangkan perang informasi, lalu apakah hal tersebut bisa memperbaiki keadaan? Mungkin ya, masih ada ruang negosiasi, mungkin juga hanya berakhir seperti gosip ibu-ibu kompleks.

Kenapa tidak membentuk tim mediasi (apakah elit/senior mahasiswa) yang sedikit soft untuk menangguhkan atau meninjau ulang skors tersebut. Apakah semua masalah yang dihadapi mahasiswa, harus di atasi dengan protes (maaf bukan gerakan) a la “Manajemen Marah”. Jawaban semua pertanyaan di atas pasti akan beragam, dan para pembaca boleh memberikan jawaban yang berbeda.

Mengerahkan kekuatan protes penuh mendatangi FE untuk protes pada pejabat fakultas yang bersangkutan dan tak seorang pun ada di tempat. Hal ini serupa dengan memborong semua partai politik melawan ‘Kolom Kosong’ hasilnya adalah omongan dan mungkin omong kosong. Mengapa tidak belajar dari kasus tersebut yang masih sangat hangat disajikan di menu koran-koran dan linimasa lainnya.

Protes sebagai sebuah tindakan, harusnya memiliki dasar yang kuat, cara dan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan, tujuan, dan tujuan. Tujuan yang baik harusnya SMART (Spesifik, Measurable, Achievable, Realistic, Time Bound). Sudahkan dirumuskan itu?

 

Pejabat Kampus: Belajar dari Pengalaman

Beberapa kasus yang melibatkan seteru antara mahasiswa dengan birokrasi kampus yang berlanjut sampai meja hijau. Beberapa kasus, di antaranya, 19/20 majasiswa UNM yang di-drop out (DO) memenangkan gugatan di PTUN pada medio 2011 silam, Rektor mengeluarkan surat DO pada 17 Februari 2016 pada dua mahasiswa UIM, bahkan MA tolak kasasi Rektor UIM. Dan sejumlah kasus lainnya dapat ditemukan dengan mudah di laman pencarian.

Menurut hemat saya, kampus adalah benteng terakhir peradaban (Kak Alwy Rahman). Kampus adalah cerminan masyarakat kita. Jika cerminnya retak, kemana lagi kita bisa melihat contoh yang baik dan berperadaban.

Sokoguru utama kampus adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat. Ketiganya mengandung nilai-nilai mulia. Secara normatif, pendidikan mengajarkan prinsip egaliter dan demokratis. Pendidikan tujuannya adalah memerdekakan manusia. Merdeka dari rasa takut, rasa lapar, kebodohan dan penindasan. Penelitian mengajarkan pentingnya rasionalitas, kejujuran dan konsistensi. Kita tidak dibenarkan mengutip pendapat orang tanpa melampirkan sumbernya. Di situlah kita belajar jujur. Pengabdian pada masyarakat mengajarkan keikhlasan dan semangat berbagi pada sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Operasionalisasi nilai-nilai di atas tidaklah mudah. Belajar pada hal apapun adalah hal utama yang, termasuk pada kasus-kasus konflik ‘fungsionaris mahasiswa’ vs birokrasi kampus. Kampus memang bukan pegadaian,slogannya tidak realistis. Mangatasi masalah pasti selalu ada masalah baru, tapi masalah baru sedini mungkin lebih kecil dan lebih mudah di atasi.

Lalu apa solusinya? Pada setiap masalah pasti ada solusi. Secara matematis, Solusinya bisa 1, belum (tidak) menemukan atau banyak. Solusi ibarat ramuan obat, bisa mujarab jika diagnosanya tepat. Tulisan ini hanya refleksi dan keresahan, moga-moga dari sejumput keresahan bisa mengantar pada solusi 3 K. Kritis, Konstruktif, dan penuh Kasih Sayang.

Pasar bebas mengajarkan bahwa jika pemerintah mengontrol harga, kadang hanyalah tindakan sia-sia dan tidak tepat. Harga susah dikontrol, demikian pula mahasiswa. Keduanya sangat dinamis. Harga dinamis karena agen-agen dalam mekanisme suply demand yang kelihatannya sederhana, tetapi di bawah permukaan jual-beli sangat kompleks. Di sana ada preferensi-preferensi fan referensi-referensi sebelum melakukan aksi jual atau beli. Sedangkan dinamisasi mahasiswa kadang mendudukkan harga dirinya pada kekuatan dan kemampuan melawan sesuatu yang dianggapnya menyimpang dari idealismenya. Protes adalah perwujudan tindakan, yang bisa saja dipicu oleh beragam preferensi dan referensi yang beragam. Belum lagi dalam protes massa, secara psikologi massa, memang kadang tidak rasional.

Bahkan, pada kasus hal dianggap tidak etisnya mahasiswa saat demonstrasi pun dapat dijadikan pembelajaran. Mengapa mahasiswa kita hanya mengandalkan “Manajemen Marah” melakulan protes? Darimanakah mereka belajar tentang hal itu? Substansi protesnya apa? Protes ibarat asap. Ia hanyalah fenomena puncak gunung es. Protes bukanlah sumber asap, mengatasi asap tanpa mengatasi apinya, justru bisa menyebabkan kebakaran lebih luas. Demikian pula sanksi (skors), mungkin ia hanyalah efek jera yang diberikan pada si pelanggar tata nilai tapi sanksi bukanlah tujuan utama. Yang utama dari kedua hal di atas adalah sama-sama menemukan akar timbulnya protes dan sanksi. Dan melanjutkan kehidupan yang harmoni, agar cita Tri Dharma PT dapat tercapai, Eureka !

Atau, bisakah kita mengatasi protes sambil menikmati cemilan Protes.

Belajar Respect dari Euforia Fans Sepak Bola

Sejenis adagium klasik berbunyi: Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah. Jika ungkapan ini diterima, maka fanatisme ‘buta’ tidak semestinya memenjarakan kita. Santai saja menerima kekalahan, demikian pula yang menang, jangan euforia. Respect and Perfect dua hal yang mulia dalam setiap permainan. Kenapa mulia, karena ia sulit dan langka ditemukan dalam pertandingan, ibarat berlian. Kalau kedua hal tersebut tidak ada pada suatu kemenangan, paccei (tidak bisa diandalkan), kata orang Makassar.

Para pendahulu sekelas Nabi dan Pengikut-pengikut setianya, para petarung dalam kisah-kisah samurai, para kesatria-kesatria dalam film klasik, mengajarkan bertarunglah dengan RESPECT, tidak dengan mencederai lawanmu lebih dulu hingga tidak bisa bertarung dengan sempurna dan menunjukkan keahlian dan kemampuannya secara optimal.

Kemenangan yang disertai dengan aib atau kecurangan atau keculasan terhadap lawan, menyerupai kemenangan para politisi-politisi culas. Mereka yang menghalalkan segala cara agar menang. Yaa… segala cara, di sepak bola ada teknik menghancurkan psikologis lawan dengan mencederai pemain kunci. Di politik ada “pembunuhan karakter” keduanya sama kejamnya, dengan kadar yang berbeda. Industri sepak bola tak jauh beda dengan industri politik, dan industri-industri lainnya. Ada taktik dan strategi, dari yang elegant sampai yang terhina.

Strategi culas dan kemenangan, tertulis dan terhampar luas dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam sepak bola Slogan RESPECT oleh pendukung yang tidak respect pada nilai dan kemenangan yang ‘berkelas’. Menghalalkan segala cara dalam hal apapun tidak menunjukkan ‘kita’ selaku pemenang. Atau mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan culasnya, bukankah pemenang. Begitu kira-kira pesan dalam film The Cars. Bahkan dalam kalah pun, Nathan Algren (Tom Cruise) Katsumoto dalam film The Last Samurai memberikan teladan kalah yang terhormat.

Setiap laga emosional sejumlah analis, status, dan tulisan microblog berseliweran. Bahkan, ada yang sangat fanatik, dengan pembenaran “dalil pokok”, pokoknya harus menang, pokoknya tim saya yang benar.  Btw, santai saja, ini hanya permainan, ini hanya bisnis kenikmatan. Penonton yang baik dapat mengambil pelajaran dari setiap tontonan kenikmatan, dan nikmati klimaks tanpa menganggu kenikmatan dan klimaks orang lain. Cheeer

Cheerless (sedih, tanpa kegembiraan) di satu pihak dan euforia di pihak lain. Bahkan tak jarang ejekan, sumpah serapah dan makian keluar dari para pendukung tim. Mereka yang fanatik.

Fanatisme ini menyerupai otak reptil, kalau tidak kabur ya, menyerang. Seolah-olah tidak ada alternatif lain. Sebagaimana pandangan Margareth Treacher ketika meneguhkan dukungan kebijakan pada pandangan pasar neoliberal. There is no alternative, katanya. No Socialism, no communisme,  nothing else. Begitulah watak reptil, cara berpikir biner, dan sejenisnya. Sayalah pemenang, yang lainnya loser.

Dalam khasanah pelajaran matematika kita mengenal Logika Biner. Cara pandang benar-salah, lawan-musuh. Pada kondisi tertentu, gaya berpikir ini benar, tapi tidak untuk semua kondisi. Menurut saya, gaya berpikir beginian adalah awal mula radikalisme, fundamentalisme. Fanatisme yang berlebihan bukan hanya bisa merusak akal sehat, tapi juga bisa mengacaukan dan mengobrak-abrik pertemanan dan persaudaraan. Bahkan tak jarang nama Tuhanpun di bawa-bawa seenaknya. Yaa, semacam cocoklogi. Hanya slogan, relaks dan santailah yang sedikit bisa membuat keadaan lebih senyap.

Betapa mudahnya kita terbelah, dalam kasus yang sebenarnya remeh-temeh. Padahal, kita bukanlah pinang, durian, semangka, apel, kelapa yang nanti dibelah baru bisa dinikmati saat berbuka puasa. Kita adalah manusia yang padanya bukan sekadar takaran benar-salah atau musuh-kawan. Ini bukan perang, ini hanya permainan, hanya bisnis kenikmatan, dst.

Akhirnya, kita bisa belajar pada Logika Fuzzy, bahwa kenyataan atau peristiwa bukan hanya bersisi dua (benar-salah). Ada sejumlah peluang yang bisa terjadi. Misalnya, dual antara Striker (sebut saja Salah) dengan Bek (Misalnya, Ramos), pilihannya bukan hanya dua, salah satunya pasti cedera atau tidak cedera, ini kalau cara pandang biner. Tapi ada kemungkinan lain, keduanya bisa tidak cedera, atau keduanya bisa menghindari risiko cedera yang parah, kalau cedera tetap bisa melanjutkan permainan, dst. Itulah Logika Fuzzy. Para Fans bola umumnya masih terjebak pada pemetaan biner, dan fanatisme pula. Kalau dia bukan Madrid pasti Barca, kalau dia Barca paati dia dukung Liverpol. Nah, itulah realista fans yang sedikit banyak mewakili kondisi masyarakat kita.

Masyarakat yang sakit adalah masyarakat yang cara berpikirnya masih terjerembab dalam logika biner, atau otaknya masih diselimuti otak reptil. Keduanya terpenjara dalam fanatisme, yang sangat boleh jadi akan menganggu mimpi indahnya dalam tidur. Atau tidak bisa melihat keindahan sebuah permainan, atau abai melihat logika bisnis kenikmatan dan rating suatu acara tivi. Permainan yang baik adalah yang permainan yang indah, demikian filosofi Arsene Wenger dan pelatih-pelatih pecinta keindahan bola lainnya, termasuk peluang bisnis di dalamnya. Nah, kalian dapat apa, kalau tidak menikmati indahnya permainan. Salam Respect and Perfect.

“Every Economy is a Culture” dan Relevansinya dengan Doktrin Produktivitas.

Menonton film pendek memang mengasyikkan. Di dalamnya tersirat banyak simbol, makna dan pesan-pesan. Pada salah satu perkuliahan ekonomi internasional bagian integrasi ekonomi, saya lazimnya mendahului dengan pengantar cerita-cerita santai dan lucu, sebelum sesi menonton film pendek di kelas, judulnya Why Some Countries are Rich and the Others are Poor? Film ini menyiratkan bahwa perbedaan dalam mengoptimalkan tiga hal; institusi, budaya, dan sumber daya alam sebagai penyebab adanya perbedaan antar negara. Apa, bagaimana dan seberapa penting ketiga hal tersebut?

Sentilan Escobar dalam Encountering Development, Every Economy is a Culture, menarik ditelisik lebih jauh. Mengingat ekonomi adalah hal fundamental dalam hidup dan kehidupan manusia sepanjang sejarah. Selain itu, ekonomi kerap direduksi menjadi sekadar angka-angka statistik yang kaku. Data kuantitatif penting tapi belum cukup menjelaskan kompleksitas ekonomi.

Jika setiap ekonomi adalah juga budaya, hal ini bisa bersifat resiprokal bahwa setiap budaya adalah proses ekonomi, proses pemenuhan kebutuhan atau kesejahteraan. Ukuran kesejahteraan setiap individu tidak sama. Karena secara hakiki tidak ada manusia yang sama. Kita memang sama-sama manusia, tetapi secara personal bakat dan kapasitas setiap orang berbeda sejak ia lahir. Secara potensial mungkin sama, tetapi aktualisasinya beragam. Ada yang belajar puluhan jam tapi tidak paham-paham, ada yang belajar hanya sejam dapat memahami suatu pelajaran dengan baik. Itu bukan ketimpangan, tapi keragaman mengoptimalkan sumber daya. Tuhan telah menganugerahkan potensi panca indera, akal, dan naluri atau kemampuan batiniah. Kemampuan mengoptimalkan segala potensi tersebut meniscayakan kita berbeda dan beragam. Karena kita berbeda maka perlakuan juga berbeda, bahkan di depan hukum sekalipun semua orang sebenarnya tidak diperlakukan sama. Kenapa tidak sama, karena kasusnya beda, deliknya beda, orang-orangnya beda. Itulah kenapa pengadilan kerap tidak mencerminkan keadilan. Karena sedari awal diksi gombalannya “semua orang diperlakukan sama di depan hukum” hampir dipastikan sulit dipenuhi. Keadilan salah satu topik yang sangat dinamis dalam berbagai bidang termasuk dalam kajian-kajian ekonomi.

Dalam Globalisme kehidupan kita digiring pada keadaan yang bersifat homogen. Selera musik sama, makanan sama, slogan sama, dan kemiripan-kemiripan lainnya.  Sadar atau belum sadar, infiltrasi kebudayaan dalam ekonomi global, sedikit demi sedikit menggeser ‘cita rasa’ budaya lokal suatu daerah atau negara. Apa yang dikonsumsi warga Eropa dan Amerika sejatinya dapat dinikmati pula oleh masyarakat lokal. Globalisasi menyediakan ruang-ruang hidup bebas yang sangat luas. Tetapi bukan kebebasan itu sendiri. Termasuk bebas mati kelaparan di pinggir jalan, bebas foya-foya, bebas mati karena kelaparan, keracunan, atau karena mati dibegal ditonton massa yang lebih fokus mengambil gambar daripada berusaha menolong korban.

Globalisasi (ekonomi) bukan sesuatu yang alamiah, ia adalah serangkaian gerakan ideologi (kapitalisme) sistematis. Perpaduan pengusaha fund kartel global beserta institusi global (World Bank, WTO, IMF, dll), kekuatan-kekuatan militer negara-negara tiran global, dan termasuk para intelektual penyebar dan pembela gagasan pasar bebas. Keempat serangkaian itulah yang menciptakan hegemoni global. Dalam terminologi Quran mereka adalah perpaduan Firaun (penguasa), Qarun (hartawan), Bal’am (ulama), dan Hamman (teknokrat), demikian istilah yang  digunakan Dimitri Mahayana dalam Berhala Globalisme. Mereka menciptakan sistem dominasi untuk mengeksploitasi sumber daya alam negara-negara lain.

Globalisme bisa jadi adalah sebentuk tirani. Fidel Castro pernah mengemukakan dengan lantang bahwa “The United States tyrannizes and pillages the globalized world with its political, economic, technological, and military might”. Faktanya, jika suatu negara tidak bisa ditaklukkan atau dijinakkan dengan kekuatan ekonomi dan politik, jalan terakhir adalah kekuatan militer (lihat kasus di timur tengah).

Homogenisasi, penyeragaman yang inheren dalam budaya globalisme adalah sebentuk tirani. Setidaknya tirani psikologis atau tirani pemikiran. Meskipun terkesan hiperbolik, atau lebih tepatnya cara pandang globalisme telah menghegemoni kita. Efek lebih jauh dari sebuah hegemoni adalah membuat pihak-pihak yang terhegemoni rendah rasa percaya diri, bermental budak, dan cenderung menganggap apa pun yang berasal dari yang menghegemoninya adalah sesuatu yang baik dan harus ditiru dan digugu alias latah.

Semakin maraknya standar-standar global, standar-standar kompetensi, pengukuran indeks-indeks , dan ranking-ranking adalah upaya-upaya peningkatan kualitas dan standardisasi global. Hal ini sebagai prakondisi proses produksi dan integrasi global. Meskipun hal ini tidak fair. Saya sering bergurau, apa perbedaan mendasar antara Cambridge dan Universitas di Makassar? Ini jelas tidak mangga dengan mangga, satunya sudah ada abad yang lalu sedangkan UNM misalnya baru kemarin dapat akreditasi A. Akreditasi A (unggul) sudah pasti beda dengan unggulnya yang dipahami sebagai unggul yang sebenarnya. Misalnya para dosen “dipaksa” membuat jurnal internasional dengan level-level pembayaran yang bertingkat. Yang tak jarang membuat para dosen/peneliti lebih sibuk mengurusi administrasi penelitian daripada isi dan substansi penelitan itu sendiri. Tapi sebagai tahap awal okelah, di mana kita ‘dipaksa’ berlomba dengan mereka yang sudah lari duluan. Kita butuh tenaga ekstra, kalau perlu konsumsi doping.

Standar-standar kompetensi yang kini marak dikampanyekan. Menjamurnya institusi-institusi penjamin standardisasi, baik swasta maupun milik pemerintah. Kehadiran institusi-institusi penjamin standar menyerupai massifnya lembaga-lmbaga survey dan pemeringkat kualitas bidang tertentu. Ia seperti sebuah industri tersendiri. Semua diupayakan demi dalih meningkatkan kualitas dan produktivitas. Faktanya, mari kita cek, berapa banyak guru dan dosen yang sudah lulus uji kompetensi (sertifikasi) benar-benar kompeten dan mampu merangsang minat belajar siswa atau mahasiswa? Jawabannya ada di ruang batin kita masing-masing. Berapa banyak universitas, sekolah tinggi, dan progran studi yang berakreditasi unggul, tapi belum memenuhi standar minimal pelayanan konsumen (mahasiswa) dan juga civitas akademika. Inilah salah tantangan dalam perbaikan di bidang institusi (kelembagaan).

Tentang institusi, setidaknya ada tiga hal yang patut diperhatikan menurut North, yaitu formal rule, informal rule, dan force rule. Formal rule berkaitan dengan aturan-aturan formal yang tertulis. Informal rule berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan budaya dalam suatu organisasi/lembaga, termasuk dalam hal ini adalah “pamali”, yang umumnya tidak tertulis tapi disepakati atau diyakini untuk ditatati. Force rule, berkaitan dengan mekanisme reward and punishment untuk menegakkan aturan-aturan. Jika ketiga variabel institusi belum disatupadankan maka wajar-wajar saja kita masih tergolong ‘poor’. Sinkronisasi ketiga hal di atas akan menciptakan kualitas unggul dan akhirnya produktivitas dan inovasi. Namun yang paling adalah perubahan dan transformasi perilaku.

Saya meyakini bahwa tindakan atau perbuatan adalah refleksi dari pengetahuan kita. Kebiasaan konsumtif masyarakat, bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Iklan melalui berbagai media, pada berbagai saluran teknologi, bahkan setiap kedipan mata berseliweran iklan-iklan menjajakan produk untuk dibeli, beli, dan beli. Watak utama iklan adalah, mengubah desire (keinginan) menjadi seolah-olah needs (kebutuhan). Watak tersebut membentuk mental. Mental konsumerisme adalah bentukan pasar, lebih tepatnya pelaku pasar yang kalah oleh mekanisme supply and demand. Pasar secara ekstrim hanyalah supply and demand, kalau kita bukan produsen, maka kita sudah pasti konsumen. Hanya rantai nilainya saja yang kadang panjang dan berbelit, sebagaimana birokrasi yang kompleks. Kini, Interaksi produsen dan konsumen bergeser lebih singkat dan praktis karena kemajuan pemikiran dan kebudayaan manusia melalui teknologi.

Teknologi menghadirkan cara baru berinteraksi. Teknologi adalah proses berkebudayaan. Ia melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru, kebiasaan ini lama kelamaan akan menjadi tradisi dan akhirnya terbentuklah kepribadian. Kepribadian yang menular dan massif akan menciptakan budaya komunitas. Dalam mode produksi kapitalisme lanjut pun mengalami perubahan, entah karena perubahan dari dalam atau perubahan dari luar. Disrupsi, yaa hampir semua sisi kehidupan terdisrupsi oleh kamajuan teknologi. Dalih utamanya semua untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kehidupan.

Dalih efektifitas dan efisiensi kadang seperti bahasa langit yang sulit membumi. Kenapa prinsip dalam ekonomi tersebut teramat sulit untuk dibudayakan. Meskipun ia diklaim sebagai nilai kapitalisme. Tetapi jauh sebelum cara pandang kapitalisme atau liberalisme ekonomi mendominasi kampus-kampus kita, pendahulu kita sangat piawai memerankan hidup dengan efektif dan efisien. Efisien dalam artian tidak boros, efektif dalam arti memanfaatkan semua sumber daya secara penuh untuk mencapai hasil optimal. Atau sederhananya hiduplah secara produktif. Barang siapa yang hidupnya lebih baik dari hati kemarin maka ia adalah orang beruntung, jika sama ia rugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, ia celaka. Ini adalah doktrin-doktrin produktifitas. Doktrin lainnya, manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan sehatmu sebelum sakit. Dan, doktrin yang paling monumental adalah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan ia sendiri yang berusaha merubahnya.

Dalih dan doktrin di atas belum sepenuhnya terserap pada setiap batin-batin kita, termasuk penulis. Kata-kata belum searah dengan aksi, taro ada taro gau masih sebatas slogan, satunya kata dan perbuatan masih sekadar lipsing. Pengetahuan belum menjadi ‘pengetahuan seutuhnya’ yang mewujud dalam setiap tindakan. Pengetahuan kita masih sebatas ceceran-ceceran kata-kata yang hampa nilai “mistis”, nilai yang mampu menggerakkan para penganutnya.

Secara hiperbolik saya ingin menyebutkan setiap kata atau istilah adalah pesan-pesan ideologis. Ideologi dalam pandangan Murtadha Mutahhari adalah sesuatu yang menggerakkan para pengikutnya, sesuatu yang mampu mentransformasikan diri para pendukungnya. Bukan Ideologi sebagaimana yang dipahami Marx  sebagai sesuatu yang datangnya eksternal, ilusif dan melahirkan kesadaran palsu. Ia adalah sesuatu yang inheren dalam diri setiap orang, makanya tindakan setiap orang tidak sama, karena kamampuan dan bakatnya untuk mengeksplorasi cara pandangnya yang berbeda. Mindset bisa jadi kata lain untuk menggambarkannya, ia bukan sekadar alam ide, ia adalah aksi sekaligus. Oleh karena setiap kita berbeda, maka biarkanlah setiap orang, daerah, negara benar-benar bebas mengelola dirinya sendiri berdasarkan local genius masing-masing. Teori-teori ekonomi yang sukses di Eropa dengan keadaan geografis serba dataran, kondisi ruang dan budaya yang berbeda sudah bisa dipastikan gagal diterapkan di negara kepulauan. Rumus sederhanya ATM (Amati Tiru dan Modifikasi) bukan sekadar copy paste kebijakan negara maju ke negara berkembang. Salah satu ciri negara berkembang atau terbelakang dapat dilihat pada saat macet, atau perempatan lampu merah. Itulah cerminan paling kasat mata suatu masyarakat yang terbelakang.

Upaya menstrukturisasi dan menyeragamkan cara pandang terhadap apa pun justru membuat hidup kadang tidak produktif. Jika tidak produktif tidak inovatif. Justru doktrin kebebasan untuk berbedalah yang kerap memicu produktifitas. Berpikirlah bebas niscaya kamu akan menemukan dirimu dan Tuhanmu. Kira-kira demikian pelajaran dari kasus Nabi Ibrahim dalam pencarian Tuhannya. Setiap individu diberikan jatah sumber daya waktu yang sama 24 jam/hari tetapi sungguh masih banyak yang lalai dengan waktunya masing-masing. Mengapa kampus atau sekolah, institusi pendidikan atau pemerintah di negara kita pada umumnya tidak produktif? Bisa jadi karena, kita tidak terbiasa dengan tradisi-tradisi yang berbeda dengan kebiasaan kita. Inginnya itu-itu saja, yang penting damai. Keberagaman memicu dialektika, dialektika dapat merangsang nalar, asalkan tidak baper. Bukankah pelangi indah karena warna-warninya.

Upaya memenuhi kebutuhan (upaya ekonomi) adalah juga proses berkebudayaan maka seluruh standar-standar yang telah menjadi kesadaran massif, mungkin perlu didekonstruksi. Misalnya, kenapa definisi standar kemiskinan tidak ada yang sama, bahkan banyak versi, ada versi konsumsi 2$, 1200 kkalori per hari, dll? Karena sejatinya kemiskinan ataupun kesejahteraan adalah persepsi personal yang coba distandardisasi. Standar-standar umum atau (katanya objektif) dicoba dipadupadankan dengan standar subjektif. Sudah pasti ada konflik dan distorsi. Upaya mendorong ukuran kesejahteraan berbasis komunitas perlu senantiasa digelorakan. Standar kesejahteraan warga pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi, kota-desa umumnya beda.

Von Mises mendefinisikan ekonomi sebagai logika tindakan. Alat analisisnya disebut Praxiology. Dalam logika tindakan terdapat tiga hal; alat, cara, dan tujuan. Besi orang Papua, besi dapat dijadikan tombak atau mata panah, bagi Amerika bagus dibuat senjata. Kedua alat tersebut dapat dijadikan media untuk membunuh, tapi caranya sudah tentu beda. Demikian pula jika kita ingin makan, sejahtera, lulus kuliah, sarjana dst. Tujuannya bisa sama, tapi alat dan caranya berbeda. Logika tindakan ini menyiratkan keberagaman cara untuk mencapai tujuan. Dalam cara pandang demikian pengikut Mises, Mashab Austria menolak cara pandang John Locke yang emipiris, yang pada perkembangan mutakhirnya ‘menuhankan’ data-data statistik. Dampaknya cara pandang tersebut mereduksi kenyataan.

Keterasingan diri memahami logika tindakan kita masing-masing berdampak pada rendahnya produktivitas dan inovasi. Kenapa rendah? Karena dalam logika tindakan terdapat aksi dan refleksi. Apa yang telah dilakukan akan direfleksikan secara berkesinambungan, ada perbaikan secara terus menerus dan berkelanjutan. Sehingga kebiasaan meniru-niru dan latah tidak menjadi kebiasaan kita. Misalnya, ketika seorang Photografer berhasil mempopulerkan wisata “Negeri di atas Awan” di Toraja Utara, hingga menjadi objek wisata alternatif. Daerah lain pun ketularan mengekpose tempat-tempat yang serupa. Kebiasaan latah pun merebak pada hampir semua hal. Latah tentang #Hastag, latah tentang #pilpres, dan lain-lain latah boleh jadi adalah budaya orang-orang/komunitas yang malas bernalar dan berkontemplasi.

Saya tidak tahu harus mengakhiri bagaimana tulisan ini. Banyak pihak yang menginspirasi tulisan ini, WAG literasi Bantaeng, anak-anak Praxis_Comm, Mutahhari, Marx, Mises, mahasiswa Ekonomi Pembangunan UNM, dll. Namun pemicunya adalah buku Escobar Encountering Development. Pembangunan, pernah menjadi anak emas di negeri ini, di era Soeharto, para teknokrat pembangunan melesatkan ide-idenya dalam penerapan pembangunan oleh “Bapak Pembangunan”, namun saya tidak tahu siapa “Anak Pembangunan”. Para kritikus sosial pun mengkritik dan bahkan mencibir “Pembangunan” sebagai biang kerok kerusakan alam, penggusuran, ketimpangan, dll. Kalau pernyataan ini diterima, semakin nyata kalau kata memang adalah senjata. Oleh karena itu untuk menimpali cibiran “Pembangunan”. Menarik merenungkan ungkapan Armatya Sen, Pembangunan adalah pembebasan, Pembangunan harusnya membahagiakan. Nah, apakah Anda sudah bebas dan bahagia?

Mahasiswa Kri(t)sis Zaman Now

Aktivis-aktivis mahasiswa jangan bikin malu yah, koar-koar di jalanan bakar ban tapi pas ujian skripsi terbujur kaku menghadapi pertanyaan dosen. Jika berani membantai kekuasaan melalui orasi sangar, janganlah bikin malu dengan merelakan diri dibantai di ujian skripsi. (Status Muhajir MA)

Pada umumnya, Jangankan di ujian meja, ujian mata kuliah saja kadang banyak keteteran. Banyak ‘orator’, maaf sy tidak menyebutnya ‘aktivis’ itu sangat mulia bahkan saya pun tidak pantas menyandangnya, dikala jamanya juga, ketika pernah sedikit nakal di usia belia ‘masa kemahasiswaan’.

Saya sering berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa tipe seperti di atas. Mereka protes tentang proses perkuliahan tapi mereka sendiri jarang masuk kuliah. Pun, kalau tidak masuk kuliah Its Okelah. Thats your Right. Tapi kalian ngapaian malam hari sampai ngga bisa bangun pagi, akhirnya tidak bisa masuk kuliah. Kalau ngga masuk kuliah lalu banyak baca buku, its better than join to the class. Apalagi kelasnya membosankan, materi dan pengajarnya juga tidak menginspirasi dan memprovokasi adrenalin belajar dan berorganisasi.

Mau jadi suri tauladan apa? Malam harinya dihabiskan diskusi 10-30 menit, selebihnya main game on line, sisa waktu lainnya ngomongin cewek paling seksi dan manis nan rupawan, termasuk keseksian calon-calon bupati atau gubernur yang dengan telanjang mengekspose gombalan-gombalan pro rakyat dan bla..bla..bla… La..la.. la….

Ini hanyalah sebahagian kecil cerminan  ‘aktivis’ jaman now. Mereka kadang menganggap hanya di jalanlah ruang2 perjuangannya, dan bahkan yang tidak se-ide dan se-strategi pun, kadang dianggapnya belum masuk dalam barisan perjuangan rakyat, front perjuangan melawan pasar bebas dan totalitarianisme. Hellowwww wake up, bro, ini sudah 2017. Setahu saya sejak tahun 2000-an gerakan melawan totalitarianisme, monopoli, dll sudah massif dilakukan para aktivis LINUX dan varian-varian gerakan open source lainnya. Kini strategi kolaborasi mereka banyak diimitasi oleh gerakan-gerakan organisasi non-profit bahkan yang profit sekalipun. Atau jangan-jangan kalian juga telah menderita ‘si mata satu kuda’ yang merasa diri paling benar. Sebagaimana yang diderita kaum-kaum pemuja kemujudan, kedunguan, dan anti-nalar kritis. Kaum yang merasa hanya dia pejuang dan penjaga keMahaan Tuhan. Kedua kelompok ini biasa disebut kelompok ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Yang kiri berjuang ‘atas nama rakyat’ di bumi penindasan. Satunya berkoar-koar membela Tuhan pada kemuliaan Tuhan yang tertinggi. Kesamaan keduanya memiliki militansi ‘kaum muda’ yang sama-sama jago koar-koar, bahkan tak jarang menghalalkan segala cara, melalui hoax.

Massifikasi its ok, tapi tanpa internalisasi dan eksteriorisasi gagasan dan praktik transformatif, ngapain. Internalisasi, sejenis tahapan membangun kesadaran internal diri, pergulatan-pergulatan kesadaran batin, tahap selanjutnya mengekplorasi ke daerah sekitar dimana kita berada.

Tanpa kedua hal di atas gerakan koar-koar hanyalah sejenis letupan-letupan meriam bambu, yang hanya mengganggu gendang telinga dan polusi udara yang sifatnya sesaat. Tak lebih dari sekadar pedis-pedis cabe. Tapi itu masih lebih baik dibanding koar-koar yang pra bayar dan pasca bayar.

Kreatifitas dan inovasi adalah sunnatullah dalam gerakan apa pun, tanpanya, ibarat hidup di dunia maya tak seru tanpa lelucon, tanpa celaan, dan tanpa benturan. Saya sering bilang kalau masih takut dengan ancaman nilai Error, maka bertobatlah dari sekarang, lebih baik merintis jalan akdemisi tulen, sejenis mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) daripada tumbuh menjadi benalu yang hanya akan berakhir pada istilah 86, mereka yang tumbuh menjadi anak muda karbitan yang serba nanggung. Kuliah nanggung, organisasi juga nanggung. Akhirnya, lahirlah gen-gen ‘aktivisme’ labil.

Kalian (mahasiswa) hanya punya waktu maksimal tujuh tahun di kampus, optimalkanlah. Itupun kalau masih kuat menahan gempuran pertanyaan dari berbagai arah. Maksimalkan dan optimalkan untuk membekali diri dengan berbagai persenjataan ‘analisis’ dan ‘keterampilan’. Toh, kalaupun selesai, setidaknya kita mempunyai berbagai perangkat persenjataan, minimal bisa tahan godaan untuk sekadar menjadi ‘kacung’ karakter  dan praktik  politisi busuk yang pernah dikritik.

Duhai anak muda, silakan mengkritik segala hal di luar dirimu, tapi jangan lupa untuk melihat cermin diri. Sehatkan fisik dengan latihan, asah pikir dengan pergulatan berbagai pemikiran, matangkan emosi melalui belajar aktif dari pengalaman emosi diri sendiri dan pengalaman orang lain. Sejatinya ‘koar-koar’ anak muda adalah ekspresi pikiran-pikiran nakal dan emosi yang meluap-luap. Luapkanlah asal tetap berpijak pada realitas. Karena mungkin di ruang kelas, realitas kadang diabaikan.

Moo, salah satu komika pernah berujar, masalah materi dan delivery mudah di atasi tapi kalau masalah EMOSI, butuh perhatian khusus. Kampus adalah salah satu wadah untuk mematangkan akal, emosi dan mungkin juga pergulatan spiritual. Gelutilah pergulatan anak muda, sebagaimana sebenar-benarnya anak muda, yang ditugaskan untuk memberantas kaum tua yang mengacau (adaptasi Gie). Kaum tua tidak sekadar dilihat dari usia kalender, tapi siapa pun yang ‘anti kritik’ dan ‘anti perubahan’. Karena sungguh banyak anak muda belia meneriakkan demokrasi dan keadilan, tetapi mereka sendiri kadangkala memasung kebebasan berpendapat

yunior-yuniornya di kampus. Bahkan tak jarang mereka berlagak layaknya ‘tiran’ dengan segala petuahnya harus diamini para yunior. Yang lebih menjengkelkan lagi dari tingkah laku senior-senior urakan dan kurang bergaul itu adalah, mereka merasa sudah tidak perlu membaca buku, atau sudah malas baca buku. Jika demikian adanya, sudah bisa diprediksi kualitas koar-koarnya seperti apa dan bagaimana. Kegenitannya pasti tidak genit-genit amat.

Pendidikan dan Belenggu Fasisme Pikiran

Pendidikan seringkali dikerdilkan menjadi gedung sekolah, seragam, dan aktivitas belajar antara guru-murid, dosen-mahasiswa, kyai-santri, dan seterusnya. Pendidikan ibarat pisau bermata ganda, ia bisa dimanfaatkan untuk kebaikan bisa pula untuk kejahatan. Ia dapat membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan di sisi yang lain bisa menjadi candu dan ilusi. Pendidikan dalam berbagai tingkatan dan jenisnya yang sekuler dan berbasis agama adalah semacam propaganda yang mampu menggerakkan peserta didik atau sebaliknya menjadi penjara bagi pikiran dan kebebasan (jumud).

Saya yakin dan percaya bahwa niat suci suatu proses pendidikan adalah untuk mencerdaskan dan meningkatkan kualitas hidup, baik fisik maupun rohani. Namun, niat saja tidak cukup. Kita merindukan pendidikan yang bisa benar-benar mengeksplorasi potensi peserta didik, sedemikian sehingga mampu mengatasi problematika kehidupan yang dihadapi peserta didik nantinya. Bukan sebaliknya yang mereduksi kemanusiaan peserta didik, menjadi sekadar gelas kosong yang harus diisi. Padahal, menurut Ki Hadjar Dewantara anak didik ibarat benih yang harus dirawat agar tumbuh dengan baik.

Secara sederhana, potensi manusia ada tiga, yaitu indra, akal, dan hati. Pendidikan ideal, tentu yang bisa mengembangkan ketiga potensi tersebut. Nah, bagaimana jika pendidikan kita sekuler, bersandarkan pada filsafat materialisme. Di mana ukuran kecerdasan didominasi oleh ukuran-ukuran kuantitatif, bahkan ukuran-ukuran kesejahteraan pun ditakar dengan kepemilikan materi. Seberapa tinggi nilai matematika, fisika, dan nilai mata pelajaran lainnya. Meskipun untuk memperoleh nilai-nilai tersebut siswa/mahasiswa akan melakukan apa pun untuk meraih nilai yang diharapkan.

Secara normatif pendidikan merupakan upaya sadar untuk mencerdaskan kehidupan manusia khususnya subjek pendidikan (siswa, mahasiswa, santri, guru, dosen, kiai). Di dalamnya sikap ilmiah, objektivitas, sikap kritis, kebebasan berpikir, menjadi pondasi  bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengatahuan.

Institusi pendidikan telah menjadi alat kekuasaan politik dan ekonomi. Kekuasaan politik karena ia menjadi wacana penciptaan kepatuhan total, kesetiaan sejati, menjadi alat kontrol pikiran dan jiwa (mind). Ketimbang membiarkannya berkembang secara bebas, produktif, dan dinamis, justru dipenjara dalam sebuah perangkap pikiran, yang membatasi ruang geraknya yang mematikan kreativitasnya.

Setidaknya ada dua perangkap pikiran yang tercipta dalam institusi pendidikan yang memangsa daya hidup sebuah sistem pendidikan. Pertama, perangkap kekuasaan. Bukan hanya perebutan posisi ketua jurusan, kepala sekolah hingga jabatan rektor, tetapi lebih dari itu pendidikan telah menjadi perpanjangan tangan dari sebuah sistem kekuasaan. Ya,  kekuasaan pasar, kekuasaan otoritarian yang anti kritik. Di mana, untuk melanggengkan dominasi kuasa di institusi pendidikan maka dicangkokkanlah di dalam pendidikan seperti p4, litsus. Praktik ini menjadi penghambat yang serius bagi pengembangan daya nalar, daya kritis, daya kreativitas, imajinasi, sikap-sikap objektivitas, sportivitas, kebijaksanaan, dan kearifian. Namun sebaliknya pendidikan justru berhasil membentuk kepatuhan, loyalitas, pembelaan buta, dan ketakutan. Warisan sistem pendidikan seperti ini tampaknya masih berbekas dan bahkan masih gentayangan hingga sekarang.

Kedua yaitu perangkap ekonomi, ketika pendidikan telah menjadi bagian dari sistem komersial dan ekonomi (reguler, ICP, jalur khusus, mandiri, dll), yang menjadikannya sebagai sebuah komoditi untuk diperjualbelikan dan kemudian terperangkan dalam sistem jual beli an sich !. Sekolah atau perguruan tinggi ibarat restoran yang menawarkan menu berupa program dan jalur pendidikan yang akan ditempuh.

Pendidikan, meminjam istilah Hans Magnus E, di dalam Dreamers of Absolute, menjadi sebuah industri besar pikiran yang dilengkapi dengan mesin-mesin pikiran (mind producing machines), yang memproduksi pikiran-pikiran seragam. Segala sesuatunya diseragamkan, mulai dari pikiran, nama, kurikulum, metode, buku ajar, bahkan tingkah laku hingga membentuk sebuah mesin besar “keseragaman”. Great uniform meachine sebuah totalitas keseragaman yang tidak memberi tempat bagi perbedaan, keunikan dan pluralisme. Penyeragaman secara totalitas ini bukan hanya membunuh kreativitas tetapi efek jangka panjangnya mereduksi toleransi dan pluralitas. Inilah wujud fasisme pikiran dalam pendidikan. Doktrin ABS (Asal Bapak Senang) masih diajarkan secara informal secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Doktrin ini masih mendominasi praktik dan aktivitas aparatus negara di hampir semua kelembagaan pemerintah.

Hal ini, makin diperparah dengan hadirnya diktator-diktator daerah, para gubernur, bupati dan walikota yang menempatkan orang-orangnya di puncak kepemimpinan sekolah, yang mengakibatkan sekolah terbengkalai. Bukan rahasia lagi korupsi dana BOS oleh kepala sekolah namun tidak pernah tersentuh karena bakingnya adalah pejabat daerah.

Akibat lebih jauh dari sistem yang telah mendarah daging dalam pendidikan kita yang mulia adalah terhambatnya berpikir kritis (Descartes), berpikir dealiktis (hegel), berpikir lateral atau alternatif (De Bono), berpikir argumentatif (Habermas), dan lain-lain, sebagai sebuah pondasi dari perkembangan intelektualitas. Sehingga menyebabkan kreativitas tidak maksimal, misalnya berpikir kritis dan argumentatif sebagai dua hal yang saling menguatkan sebagai pondasi daya kreativitas.

Hans Magnus Enzenberger mengingatkan, bahwa dalam sebuah masyarakat yang sistem komunikasinya adalah oral, ketergantungan murid pada guru, mahasiswa pada dosen, santri pada kiai, yang mengakibatkan segala sesuatu diterima saja (taken for granted) tanpa perlu dipertanyakan lagi. Ketika proses pendisiplinan pikiran oleh para “polisi pikiran” di institusi pendidikan tampak samar-samar, mengandung teka-teki dan tak bisa dipahami oleh orang-orang awam, di tengah masyarakat industrialisasi, yang konsumeristik, muncul pertanyaan ideologis di balik pendisiplinan pikiran kita muncul ke permukaan. Misalnya, ketika pendidikan mengarahkan peserta didiknya hanya pada satu tujuan__ sebagai pekerja.

Dalam masyarakat industri, bekerja dan pekerja adalah pondasi dasarnya, dan ketika pendidikan hanya terjebak menjadi supplier tenaga kerja bagi industri maka pada saat itulah pendidikan terjebak dalam “komoditi total” hal ini ditegaskan oleh Theodor Adorno dan Max Horkheimer dalam buku mereka Dialectic of Enlightenment, mengatakan bahwa, ketika segala sesuatu terjebak dalam sistem komersial, maka ia akan terpenjara pula di dalam “industri kebudayaan”. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan fenomena “fasisme pikiran”, yaitu pengaturan masyarakat secara sentral dari atas serta penyeragaman pikiran, selera dan gaya hidup lewat institusi pendidikan, media massa dan komoditi. Di mana semua orang harus bertingkah laku sama, berpikiran sama, punya selera yang sama. Sesuai dengan kondisi yang telah dirancang untuk mereka sebelumnya. Walaupun penjelasan Adorno dan Hokheimer ditujukan dalam masyarakat konsumer, namun pola dan formasi juga terjadi dalam dunia pendidikan.

Institusi pendidikan sebagai alat ideologi negara dan sebagai alat ekonomi , dalam hal ini ‘pemaksaaan’ institusi pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang hanya siap bekerja di industri (link and match) merupakan sebuah bentuk kekerasan pikiran dan budaya. Sebuah sistem yang memaksa (secara lembut) setiap orang menjadi pekerja, menjadi sekrup dalam mesin industrialisasi, industri media hingga industri pendidikan. Hal ini bisa menghambat mental kepoloporan, kepemimpinan, kemandirian, mentalitas otonom yang sangat diperlukan bagi negara yang sedang berkembang.

Semoga para pendidik dan institusinya tetap awas dengan propaganda Fasisme-Nazi, Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik percaya.” Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja.

Wallahu a’lam bishshawab

Robot, Manusia dan Ekonomi Baru

Apa jadinya jika robot mampu mengkudeta peran manusia? Robot bisa saja merupakan The Future of Employment, atau wakil manusia di muka bumi. Robot bisa saja menggantikan polisi yang tidak bisa memberi rasa aman di kota ini, di mana rasa takut kepada jambret dan begal menggantikan malam-malam kita yang asyik ngerumpi di warung kopi. Robot berasal dari kata ‘robota’ dalam bahasa Ceko berarti budak, pekerja atau kuli.  Kata ‘robota’ pertama kali diperkanlkan oleh Karel Capek dalam sebuah pentas sandiwara pada tahun 1921 Rossum’s Universal Robot (RUR). Pentas ini berkisah tentang mesin yang menyerupai manusia yang dapat bekerja tanpa lelah, kemudian memberontak dan menguasai manusia. Dari berbagai literatur robot sering diidentikkan dengan ‘otomatisasi’.

RoboCop adalah salah satu robot superhero yang paling populer di hampir semua tingkatan usia. Robot polisi penumpas kejahatan dan penegak keadilan. Ada banyak film dengan genre teknologi AI (Artificial Intelegence) atau populer dengan istilah kecerdasan buatan yang beredar di pasaran. Dan boleh jadi adalah bidang yang sangat berkembang dengan pesat. Ada film yang mengeksplorasi bagaimana transformasi peran  antara manusia dengan robot, bahkan dalam film-film AI terbaru seperti Transendence (2014), Lucy (2014), Exmachine (2015), Chappie (2015) dan lain-lain lebih jauh melampaui versi-versi robot sebelumnya. Sang sutradara seolah-olah hendak menyampaikan pesan kegagalan manusia mengelola dan memakmurkan kehidupannya sendiri.

Pergantian peran antara robot dan manusia bukan sekadar pergantian tenaga kerja tetapi mereka bisa melakukan transeksual hingga perpindahan atau pertukaran alam sadar (alam rasional) atau kecerdasan. Apa yang terjadi jika suatu saat manusia bisa mencipta robot yang bisa belajar sendiri yang memungkinkan kecerdasannya melampaui penciptanya? Pertanyaan tersebut menyerupai pertanyaan para penggila pengetahuan yang mempertanyakan bisakah Tuhan menciptakan batu, dan batu tersebut tidak bisa diangkatnya sendiri?  Bagaimana pula jika robot-robot tersebut bisa diinstall semacam stimulus emosi, simpati dan empati yang memungkinkan si robot lebih berempati dan mempunyai simpati dibanding penciptanya sendiri. Atau jangan-jangan ini adalah penanda terjadinya revolusi industri baru atau penanda bahwa siapapun yang menguasai kecerdasan mengolah besi maka dialah yang akan menguasai dunia, entahlah !

Dalam literatur ekonomi kecerdasan adalah faktor produksi yang paling utama, tanpa mengabaikan peran penting faktor tanah, tenaga kerja dan modal. Kecerdasan rasional (alam sadar) adalah ukuran kemuliaan manusia modern. Rasionalitas adalah kunci model ekonomi lama, di mana pikiran rasionallah yang membimbing produsen, konsumen, rumah tangga, pemerintah untuk memenuhi self-interest mereka.

Self-interest bukanlah kosakata baru. Plato memposisikan Self-interest sebagai sesuatu yang negatif. Menurutnya self-interest merupakan biang kejahatan dan dosa. Baginya hanya akan mendorong individu berlaku tidak adil terhadap orang lain. Sementara Aristoteles memandang self-interest secara ambigu. Menurutnya, self-interest tidak selalu negatif, melainkan juga positif. Menurutnya self-interest pada dasarnya terbagi menjadi dua: bad self-interest dan good self-interest. Bagi Aristoteles good self-interest terjadi ketika individu mengutamakan pula kepentingan umum (common interest). Perdebatan tentang self-interest bukan hanya terjadi dikalangan filosof, bahkan ditingkatan praktis tidak kalah sengtinya.

Dinamika self-interest seolah betul-betul menemukan kediriannya (the self). Ketika Bentham yang melihat self- interest sebagai perkara psikologis individual. Menurutnya meskipun selain self-interest terhubung dengan kepentingan masyarakat, namun self-interest dianggap lebih utama. Selanjutnya Nietzsche, yang melihat self interest sebagai afirmasi diri dari kehendak will to power. Begitu juga dengan Ayn Rand, yang melihat self-interest sebagai tindakan individu rasional yang penuh integritas. Di dalam ekonomi, pengertian self-interest sudah dianggap barang jadi yang stabil dan tidak bisa diganggu gugat, pun kalau ada yang menyalahi prinsip dasar self-interest, bisa di atasi dengan berbagai asumsi. Di hal ini, self-interest diyakini sebagai satu-satunya dasar bagi rasionalitas tindakan manusia, maksimalisasi utility (kepuasan) oleh konsumen, dan maksimisasi profit bagi produsen. Menurut Hirschman, dalam ilmu ekonomi konsep self-interest begitu cepat berkembang sehingga menjadi suatu doktrin dan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Pada titik inilah Armatya Sen memandang Ilmu ekonomi sangat egois.

Bagi Sen, sifat egois yang disandarkan pada mementingkan dan mengutamakan kepentingan diri semata tidak realistik, karena dalam banyak hal tindakan manusia tidak murni egois, melainkan kombinasi dengan utilitarian. Artinya pada derajat tertentu manusia akan selalu memikirkan kepentingan orang banyak. Namun utilitarianisme tidak juga membantu menutupi pekatnya egoisme. Sebab kepentingan semua orang pada dasarnya adalah penjumlahan dari kepentingan masing-masing (self-interest) atas nama keluarga, teman, kelompok, kelas sosial, dst. Hal ini berpotensi terjadinya diktator mayoritas, ketika individu-individu yang menguasai koin dan kekuasaan bahu membahu membangun dinasti untuk memenuhi hasrat self-interest tanpa mempedulikan keseimbangan semesta.

Armatya Sen mengusulkan pentingnya persentuhan antara the self  dan others dengan menghadirkan simpati dan komitmen. Sen Mengilustrasikan begini: jika kita mengetahui orang lain disiksa, lalu kita ikut merasakan sakitnya siksaan itu, inilah yang disebut simpati. Jika penyiksaan terhadap orang lain, secara personal tidak memberikan dampak buruk bagi kita, namun kita sadari bahwa penyiksaan itu salah, lalu kita siap untuk menghentikan tindakan penyiksaan tersebut, maka ini yang disebut komitmen.

Dengan kata lain, simpati merupakan suatu upaya menempatkan perasaan dan perhatian (self) kita kepada situasi apa dan bagaimana yang dirasakan orang lain. Sedangkan komitmen adalah suatu kehendak yang muncul untuk melibatkan diri guna melakukan perubahan positif terhadap situasi orang lain. Dari perbedaan pengertian di atas, nampak bahwa simpati adalah suatu bentuk tindakan yang “minimalis”, pasif dan masih membawa nuansa egoistiknya. Sedangkan komitmen merupakan tindakan aktif, antisipatif dan ada keterlibatan aktif dengan yang lain.

Dalam imajinasi saya, jika simpati dan komitmen hadir dalam interaksi dalam kehidupan (sosio ekonomi dan politik) maka mungkin kita tidak menemukan pasien yang mati di rumah sakit karena tidak ada biaya pengobatan. Penyerobotan lampu merah di ‘traffict light’, mark-up dan korupsi anggaran belanja publik, intimidasi mahasiswa yang kadang tidak rasional hanya karena protes soal keadaan yang dianggapnya timpang. Rasisme dalam berbagai bentuknya bisa direduksi, kesalahan sosial yang dipicu oleh ketimpangan sosio ekonomi bisa diminimalisir.

Chappie (plesetan Happy) robot ciptaan Deon (Pemain Slumdog Milionaire), boleh jadi menjadi representasi imajinasi saya. Chappie adalah robot cerdas yang memiliki alam sadar, kecerdasannya bisa melampaui kecerdasan manusia jika dilatih dengan baik dan benar. Chappie bisa menjadi budak self-interest para gangster, atau menjadi hero bagi warga yang tertindas.

Robot boleh jadi adalah representasi manusia super yang bisa menggantikan peran manusia dalam banyak hal. Pilihannya adalah apakah robot akan menjadi komplemen (pelengkap) kehidupan manusia atau ia akan mensubtitusi manusia. Jika robot adalah komplemen untuk kehidupan manusia berarti kontrol masih di tangan manusia, namun jika sebaliknya yang terjadi maka sangat mungkin perang di masa depan adalah perang antara robot versus manusia. Atau mungkin saja telah terjadi robotisasi (dalam arti mekanisasi) massif disebabkan karena tiadanya pilihan lain selain menjadi budak koin, poin dan kekuasaan. Alternatif lainnya, robot bisa mensubtitusi peran manusia dengan asumsi bahwa robot sebagai karya kecerdasan buatan mampu melampaui kecerdasan penciptanya, dan mempunyai simpati dan komitmen untuk melindungan yang lemah, mendistribusikan kekayaan, maka mungkin ekonomi baru dan kehidupan baru benar-benar akan lahir, entahlah Chappie !

 

Sumber ilustrasi: deviantart.com

 

Naiknya Harga Komoditas dan Cita Rasa Konsumsi

Hukum alam permintaan mengatakan: jika harga-harga barang meningkat maka permintaan pada barang tersebut (mestinya) menurun. Faktanya bagaimana?  Apa sebenarnya yang kita konsumsi? Benarkah kita adalah apa yang kita konsumsi?

Sebagian besar masyarakat, lebih menyukai kenyataan tiruan (simulasi) daripada kenyataan itu sendiri. Lebih gemar chat dengan orang jauh daripada teman di sampingnya. Lebih gemar memburu apa yang tiada dalam genggaman, daripada memaksimalkan apa yang telah dimiliki. Lebih menyukai yang artifisial daripada yang alami. Pada tingkat akut, seseorang sudah tidak bisa membedakan mana kenyataan mana manipulasi. Mana yang sebenar-benarnya benar, mana yang keliru atau menyimpang.

Kegemaran ini secara perlahan dan sitematis meringsek masuk dalam alam bawah sadar kita. Setelah melewati alam sadar (rasional) yang pas-pasan. Pas dibutuhkan kritis, pas tidak bisa kritis, pas dibutuhkan berpikir holistik, malah parsial, dan seterusnya.

Meski tidak semua hal harus dirasionalkan, tapi untuk mengenali kenyataan yang betul-betul nyata, kita amat membutuhkannya. Khususnya saat ini dan di sini. Di tengah absurditas menyerang kita dari berbagai sisi. Dari berbagai kelompok, bahkan berasal dari institusi yang marawat tradisi intelektual (kampus) justru semakin irasional.

Kampus kini semakin memprihatinkan, semakin berjarak dengan kenyataan. Bukan saja teori yang sudah hampir dimapankan seperti kitab suci, yang seolah naif mengkritiknya. Tradisi kritis konstruktif, debat, saling belajar, berkolaborasi sesekali berkompetisi kini benar-benar tergantikan dengan tradisi feodal. Kebiasaan “menghamba” pada atasan yang umumnya digerakkan oleh motif koin dan poin –sebentuk penghalusan dari menjilat. Kebiasaan ini diperparah dengan makin rumitnya dan disibukkannya para dosen dengan urusan-urusan administratif, yang pada akhirnya mengabaikan substansi akademik.

Tengoklah tugas akhir mahasiswa, lihatlah penelitian-penelitian dan jurnal-jurnal, serta  proyek-proyek pengabdian pada masyarakat, apa yang Anda temui? Pikiran kita barangkali senada, ‘ini hanya sekadar mengugurkan kewajiban”. Meskipun sebahagian kecil di antara karya-karya tersebut tetap perlu diapresiasi, oleh karena kontribusinya pada pengembangan pengetahuan teoretis dan praktis. Menurut hemat saya, praktik feodal adalah salah satu biang keladi perusak tradisi berpengetahuan di kampus. Dosen dan pejabat kampus merasa serba tahu, serba berkuasa, termasuk berkuasa mengontrol dan mengendalikan pikiran-pikiran “liar” mahasiswa. Atau pikiran-pikiran “aneh”  teman sejawat. Apa buktinya, tanyalah pada mahasiswa yang usil mendebati dosennya di kelas, apakah mereka aman dari “eksekusi di akhir semester” pada abjad A, B, C,D,E, K. Atau parameter benar ditentukan oleh “kesenioran” dan jabatan. Objektifitas dan kejujuran ilmiah merupakan hal langka. Distorsi rasionalitas benar-benar hampir terkikis punah dimakan para zombie feodal, pemuja determinisme, dan jamaah konservatif fundamentalis anti kritik.

Pada kuliah penutup makroekonomi kemarin (Selasa, 9 Juni) saya bereksperimen lagi. Kasusnya sederhana, pada bulan ramadan kita hanya makan dua kali sehari, di luar bulan ramadan, kita makan tiga sampai empat kali sehari, tapi mengapa bahan makanan harganya naik (mahal) dan msyarakat tetap membelinya?  Bahkan secara kumulatif kenaikan konsumsi masyarakat di bulan ramadan tahun lalu mencapai 20-30 persen (Akrindo, 2016). Kasus sederhana bisa dilacak lebih jauh pada bagaimana terbentuknya harga baru komoditas. Pemerintah ngapain saja, institusi pengontrol stabilitas komoditas seperti Bulog kerja apa saja? Komite persaingan usaha (KPPU) dipastikan selalu keteteran memantau persaingan usaha yang semakin kompleks? Balai pengawas makanan (BPOM) juga selalu menemukan bahan makanan yang tak layak konsumsi bagi manusia. Atau jangan-jangan diamnya pemerintah karena mereka dapat meraup keuntungan dari “shock” harga dan anomali konsumtifnya masyarakat. Atau mereka (pemerintah) juga adalah bagian dari rantai bisnis raksasa. Yaa boleh jadi emoh melihat praktik-praktik persekongkolan dagang (kartel).

KPPU memperkirakan kartel bawang putih di Indonesia bisa meraup untung Rp12 triliun pada tahun ini. Nilai itu dengan asumsi kartel bisa mengerek harga bawang putih di pasaran sampai Rp 40 ribu perkilogram. Ini baru satu komoditas sembako, gimana jadinya kalau 10 komoditas. Sandang (pakaian) juga tidak kalah menariknya untuk ditelisik. Sejatinya  ada penjelasan rasional dan emosional atas kenyataan ini.

Saya berkeyakinan bahwa kampus tidak selayaknya menjadi menara gading. Apalagi menara pasir, yang sekali dihantam ombak kecil, bhoom, hancur. Setidaknya kampus bisa menjadi semacam menara masjid. Di mana dikumandangkan ajakan-ajakan kebaikan dan perlawanan pada kebodohan dan keterbelakangan. Ajakan-ajakan amar ma’ruf dan nahi munkar pun sah-sah saja diadopsi kampus.

Hasil dari eksperimen di atas, yang diujicobakan pada 46 mahasiswa. Hasilnya hanya sekitar 3 dari 46 orang yang bisa melihat dan berargumentasi pola kenyataan dan menafsir ulang, mempertanyakan keandalan teori dalam menjelaskan fenomena. Bahkan lebih jauh, mencoba mengkolaborasi dengan bidang ilmu, selain ekonomi. Selebihnya terjebak pada hukum-hukum statis ekonomi pada “kitab-kitab-kitab tidak suci ekonomi”.  Persamaan, grafik, dan model, ternyata tidak cukup mampu menjelaskan fenomena konsumtifnya masyarakat yang menjungkirbalikkan hukum permintaan dan penawaran yang jumawa itu. Permintaan konsumen dipengaruhi oleh pendapatan (Keynes), tapi ia tidak baik menjelaskan ketika orang bertanya bagaimana kalau pendapatan terbatas. Ahli lainnya mengatakan pinjam, atau mengorbankan konsumsi sekarang untuk konsumsi esok. Semuanya masih pada ranah memenuhi kebutuhan.

Adalah Karl Marx yang juga bersepakat dengan David Ricardo tentang nilai guna dan nilai tukar atas suatu komoditas. Komoditas adalah segala hal yang ada di luar individu yang melalui kualitas yang dimilikinya bisa memuaskan individu (Capital: 125). Di sini berarti setiap benda yang dikonsumsi manusia memiliki kegunaan (use value) untuk memenuhi kebutuhannya dengan sendirinya menjadi komoditas.

Ketika suatu  komoditas bisa ditukarkan dengan komoditas lain yang juga memiliki nilai guna, saat itulah komoditas memiliki nilai tukar (exchange-value). Nilai guna ditentukan oleh kualitas, nilai tukar ditentukan oleh kuantitas. Nilai tukar suatu komoditas sama sekali tak ditentukan oleh nilai gunanya.

Nilai guna dan nilai tukar pun tak sempurna menjelaskan kasus di atas. Oleh karena itu, kita meminjam analisa Jean Baudrillard. Baginya, hasrat mengkonsumsi masyarakat bukan sekadar didorong nilai guna dan nilai tukar tetapi oleh nilai tanda/ simbolik (symbolic value) yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.

Pada nilai guna dan nilai tukar, komoditaslah yang menyesuaikan dengan kebutuhan kita. Tapi, dalam nilai tanda justru kita yang menyandarkan kedirian/keberadaan pada abstraksi barang yang kita konsumsi. Agar disebut sebagai orang kaya, maka barang-barang bermerk (branded) adalah pilihan utama. Jika pendapatan tidak cukup, bisa menggunakan mekanisme lain, pinjam.

Oleh karena itu, tidak usah gusar melihat cewek-cewek gemar berbelanja, dan mengoleksinya, meskipun barang tersebut belum tentu ia gunakan. Boleh jadi dia mereplikasi kehidupan artis yang glamor. Hal yang sama melanda ibu-ibu yang doyan mengoleksi alat masak, sekadar mensimulasikan diri sebagai chef. Yang sudah tentu digoda melalui media cetak offline dan online. Iklan adalah media penggoda dan stimulus yang soft namun mampu mensubversi pilihan-pilihan kita.

Hal ini disebabkan karena beberapa bagian dari tawaran iklan justru menafikan kebutuhan konsumen akan keunggulan produk, melainkan dengan menyerang rasa sombong tersembunyi dalam diri manusia, produk ditawarkan sebagai simbol prestise dan gaya hidup mewah yang menumbuhkan rasa bangga yang klise dalam diri pemakainya.

Dari sinilah terjadi percampuran antara kenyataan dengan simulasi dan menciptakan hiperrealitas di tengah masyarakat, di mana yang nyata dan tidak nyata menjadi tidak jelas. Media secara perlahan membuat masyarakat jauh dari kenyataan, kemudian masyarakat secara tidak sadar akan terpengaruh oleh simulasi dan tanda (simulacra) yang ada di tengah-tengah kehidupan mereka. Periode simulasi adalah ketika terdapat hal yang nyata dan tidak nyata. Hal yang nyata diperlihatkan melalui model konseptual yang menyerupai  mitos, yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Segala sesuatu yang menarik perhatian masyarakat konsumen (seperti seni ataupun kebutuhan sekunder) ditayangkan media dalam bentuk dan model-model yang ideal.

Sepertinya, tausiah Marx dan Ricardo perlu diresapi kembali. Mengkonsumsilah karena barang itu kita butuhkan, memiliki nilau guna/manfaat dan nilai tukar yang lebih nyata. Mengkonsumsi karena sekadar melihat tanda, citra atau simbol (mewah, elegan, semangat, cool, glamor dan atribut abstrak lainnya), ibarat fatamorgana, seperti meminum air laut, semakin banyak diminum, dahaga tiada teratasi. Ramadan sejatinya mengingatkan kita pada kisah-kisah penuh hikmah keluarga nabi yang sederhana, bersyukur atas apa yang ada, bahkan tak jarang berbagi bahan makanan, meskipun mereka sendiri pas-pas.

Ramadan dan idul fitri niscaya disambut dengan suka cita. Bulan inilah distribusi pendapatan dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya kaum miskin, yatim, dan kaum lemah lainnya. Suka cita bukan berarti hura-hura. Hura-hura dengan simnol-simbol kesalehan, hura-hura dengan pamer belas kasihan, dll. Hura-hura justru berpotensi medistorsi kemuliaan bulan ini. Hargailah ia dengan setinggi-tingginya harga, karena mekanisme harga benar-benar ditentukan oleh mekanisme pasar. Kita adalah para pelaku pasar. Kesalehan pada dasarnya bersifat individu. Jual-belilah dengan Tuhan dengan amal kebajikan, dan tegaknya amar ma’ruf nahi munkar. Semoga kita semua menjadi bagian didalamnya.

 


sumber gambar: kompas.com

Persekongkolan Serakah

Mayoritas yang kompak adalah bahaya bagi kebebasan [H. Bergson]

Dalam dunia yang semakin terbuka, postulatnya adalah tidak ada manusia yang dapat memenuhi kebutuhannnya sendiri, demikian pula negara. Setiap kita saling bergantung antara yang satu dengan yang lainnya, baik secara individu maupun konteks negara. Untuk memenuhi kebutuhan, ada dua jalan yang dapat ditempuh bekerjasama dan/atau berkompetisi.

Bekerjasama dalam perdagangan atau berkompetisi dalam wujud ‘perang’ memperebutkan sumber daya yang tersedia. Organisasi-organisasi regional antar benua sebagai perwujudan bentuk kerjasama, Uni Eropa, ASEAN, kerjasama bilateral, kerjasama antar benua. Dalam setiap kubu kerjasama tersebut, tidak dapat dimungkiri terjadinya persaingan. Baik di antara sesama anggota perserikatan maupun dengan perserikatan yang lain. Sebagai contoh, perebutan kuasa antara TPP (Trans Pasific Partnership) yang dikomandoi oleh Amerika Serikat, dan The Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang didominasi oleh China. Kedua perserikatan ekonomi tersebut, saling berkompetisi menguasai pasar Asia Tenggara.

Hasrat politik dan ekonomi yang tak terbatas, dan sumber daya yang terbatas seringkali menyeret kita pada ‘menghalalkan segala cara’ untuk memenuhi hasrat tersebut. Kebijakan dan strategi dilakukan oleh negara adikuasa (pemberi utang/investor) untuk menciptakan hegemoni dan kepatuhan pada negara subordinat (pengutang). Menurut Dimitri Mahayana, ada empat serangkaian yang menciptakan hegemoni, yang sepadan dalam terminologi Islam yaitu Qarun, Firaun, Haman, dan Bal’am.

Bagaimana watak keempat tokoh tersbut? Qarun di simbolkan kekinian dengan korporasi-korporasi global yang serakah, dalam istilah David C. Korten “when Corporations Rule the World”, pun korporasi-korporasi lokal yang serakah adalah sewujud dengan Qarun. Kedua, Firaun, para penguasa dunia, negara-negara adikuasa, Amerika dan negara-negara sekutunya di Eropa, yang terkait dalam berbagai kejahatan kemanusian, termasuk perang yang mereka ciptakan dan biaya.

Tokoh ketiga adalah Haman sang teknokrat. Para teknokrat yang merancang sistem globalisme untuk dan demi kepentingan negara-negara serakah. Para teknokrat yang ada di PBB dengan dewan keamanannya, yang sering bertindak sangat tidak adil. World Bank, IMF, dan jaringan bank-bank besar di Barat, termasuk bank Swsis. Sistem kelembagaan global yang seolah-olah dibuat untuk membantu negara dunia ketiga, namun kenyataannya untuk menciptakan ketergantungan dan kepatuhan-kepatuhan lainnya. Termasuk kepatuhan untuk memberikan hak pengelolaan sumber daya alam yang ada di negara berkembang.

Selain bidang keuangan, pengaturan Hak Kreatifitas Intelektual, suatu hukum global baru yang sampai diperjuangkan mati-matian oleh Bill Clinton dalam konferensi APEC di Bogor 1994, telah berubah menjadi alat teknokrat globalisme yang kurang masuk akal. Tempe telah dipatenkan di Amerika , sehingga bila kita akan mengekspor tempe ke Amerika kita mesti ijin kepada yang memiliki patennya dan membayar hak ciptanya. Demikian pula batik Pekalongan dan karya-karya seni yang demikian hebat dari Bali, – si Pulau Dewata yang memiliki kekayaan antropologis tak terhingga. Sangat boleh jadi Pinisi akan dipatenkan oleh negara lain.

Akibat tata global di atas yang mulai dirasakan tidak adil, kini muncul protes global dari negara-negara berkembang menuntut kembali pada ‘Deglobalization’. Deglobalisasi hendak mengembalikan peran negara sebagai ‘the protector’ warganya atas dampak arus modal yang liar. Namun, apakah keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), dan terpilihnya Donald Trump yang konservatif, telah membaca fenomena ini, dan mengambil langkah sedari dini untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dan kebijakan-kebijakan untuk tata dunia yang baru, entahlah. Namun, duet dua negara adidaya ini mengingatkan kita pada Ronald Reagen dan Margareth Thatcher ketika mereka mempelopori pasar bebas.

Kelengkapan dari empat serangkai yang menegakkan hegemoni keserakahan global adalah para intelektual. Dalam simbolisme agama ini adalah Bal’am, yang merupakan figur ulama yang memihak para penindas. Dikembangkan secara besar-besaran wacana-wacana yang memandang dunia dan masyarakat yang penuh kebhinekaan ini dengan kacamata tunggal. Para pemikir dan intelektual mengeluarkan serangkaian teori-teori dan pandangan yang seolah-olah tidak memiliki alternatif lain.

Globalisme dianggap satu-satunya jalan. Globalisasi, dalam arti lenyapnya batas-batas antar negara, dianggap sebagai keniscayaan alamiah yang tidak mungkin dapat ditolak lagi. Sebagaimana air jatuh ke bumi karena ditarik gravitasi bumi. Cara berpikir seperti ini kerap ditemui di kampus-kampus, di sekolah, dan institusi-intitusi pendidikan lainnya. Menggunakan kacamata tunggal untuk menilai selain dirinya dan teorinya. Teori diposisikan layaknya sebagai kitab suci yang tidak bisa dipertanyakan dan dikritik. Para intelektual yang menghamba pada kuasa dan uang. Dalam simbolisme agama disebut Bal’am.

Persekongkolan keempat tokoh di atas menyatu dalam wadah globalisme. Sebuah tata kehidupan global yang mengarahkan setiap kita untuk sibuk menumpuk-numpuk harta, hasrat berkuasa sebagaimana Firaun, teknokrat dan intelektual penyokong harta dan kuasa. Empat serangkai di atas adalah watak dominan yang ada pada individu dan Negara yang serakah. Individu atau negara yang senang menumpuk-numpuk harta dengan berbagai cara.

Watak yang menjadikan semua hal adalah komoditas, yang dapat diperjualbelikan dan meraup untung darinya. Pertemanan dan silaturrahmi dikomersilkan, di bawah bayang-bayang investasi MLM yang hirarkis dan menindas. Dalam kontek global, kerjasama antar negara dilakukan untuk menghegemoni negara-negara subordinat (berkembang). Akhirnya, dalam sistem ekonomi yang serakah, individu dan negara bukan untuk saling memberdayakan, tapi saling memperdaya. Salam berdaya{}

Ilustrasi: http://www.theeventchronicle.com/news/north-america/conspiracy-vs-government-elite-propaganda-justifying-violent-repression/