Semua tulisan dari Wawan Saa

Wawan saa alias Sulpandi Adriawan. Lahir di Ballabulo, 28 Oktober 1995, Kabupaten Kepulaun Selayar Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Pegiat di komunitas literasi Rumah Belajar Paradox (RBP).

Pohon Waru, Janji dan Cerita Lainnya

Boleh jadi nanti aku akan bertemu, dulu masih kuingat saat kami saling memagut mesra dan berucap janji di malam yang hangat itu.

Ia kunamai Maya. Elok, bukan hanya karena tampang, tutur kata dan rambut panjangnya, tetapi ia juga indah karena bulatan-bulatan kecil yang menempel manis pada lekuk wajahnya. Meski tak pandai menaksir, tetapi kuduga, begitulah aku mengenalnya 15 tahun silam.

Kalau saja bukan karena peristiwa itu, barangkali sudah segubuk dengannya, membangun batih dan punya keturunan. Tetapi semenjak hari kepergian, aku sudah tidak mendapati kabarnya, terakhir kali melihat Maya saat ia mendekapku erat lalu pergi. Di sana awal semuanya dimulai, tatkala aku mengerti arti damba yang sebenarnya, di saat aku harus membenci waktu, perempuan dan suratan.

Lalu? Lima belas tahun usai berlalu. Menurutku, itu adalah waktu yang amat lama untuk mengingat, menyatukan kepingan-kepingan kisah dan menceritakannya secara utuh. Tetapi baiklah akan kucoba.

***

Barang delapan meter dari arah pantai, tumbuhlah pohon waru laut. Pohon dengan sejuta babad, umurnya telah berpuluh-puluh tahun, bahkan sebelum mendiang ayahku dilahirkan, konon sudah sebesar itu, nyaris tidak satupun berubah, kecuali satu, kini kerut-kerut kecil mulai tampak dirupaku. Pokok kayu itu selalu berjaya membawaku pada masa-masa budak, saat aku dan kawan-kawan saling beradu, memetik daun waru, menjepit rambut, lalu melepasnya dan tertawa berdengkang-dengkang.

Petang yang panjang, bongkahan awan samar menggantung di atas jagat, sebentar lagi gulita. Laut malam itu seperti memaksaku untuk kerasan berlama-lama di bibir pantai, menikmati riuh suara alun, mengelih para penjala yang baru saja datang mengeluhkan hasil tangkapan. Mereka mengutuki para pemburu ikan yang lalah, mereka menghancurkan karang seenak jidatnya. Serakah! nelayan-nelayan kecil juga butuh makan. Aku menggerutu dalam batin.

Di bawah pohon itu. Di bale bale milik Pak Syarif. Kuraba gelap, kelam semakin pekat. Yang begitu jelas hanya dua, riuh kecipak ombak menghempas permukaan pantai dan kedip-kedip cahaya di tengah hamparan laut.

Mataku melekat tepat pada sorot silau kerlap-kerlip itu. Menyala, padam, menyala, padam kemudian menyala lagi, semakin jelaslah saat teriakan itu mendengung samar berkali-kali, seperti memanggil-manggil.

“Tarik jangkarnya,” perintah Pak Syarif cekatan, agak-agak ia mengerti isyarat itu. Kami menuju lampu-lampu.

Perahu itu semakin tampak berbentuk, saat kami perlahan-lahan melekati lampu-lampu, aku sedikit-sedikit mahfum dengan percakapan orang-orang ini.

“Mereka dari pulau seberang,” tukas Pak Syarif menyakinkan.

Maya. Di sini pertama kali aku melihatnya, perempuan yang kelak menjadi benalu dalam hidupku, perempuan teguh, aneh dan penuh teka-teki. Kubawa langkahku dan meraih tangannya, membantunya beralih ke perahu milik pak Pak Syarif. Matanya menggeriap, bibirnya pucat, hawa angin malam makbul menyetubuhi perempuan asing itu.

Sepekan hari sudah perahu orang seberang ini terdampar, aku tak mengerti ini benar-benar nyata atau justru hanya mimpi, bahwa sejak malam kencan yang hangat itu, aku merasa Maya adalah milikku, kami saling menyukai, selama keberadaannya kami habiskan untuk membangun renjana.
.
”Kata mamak, pagi besok kami harus berangkat. Mesin perahunya sudah pulih,” tuturnya. Aku seakan patuh dengan pilihan itu meski sukar menerima.

Pagi temaram. Daun-daun pohon waru seperti jatuh satu persatu. Pagi ini Maya harus beranjak. Penumpang siap bertolak setelah dipastikan tidak ada satupun barang ditinggalkan kecuali satu, aroma tubuh Maya yang masih bergala di sehelai pakaianku.

“Jangan pernah menemuiku sampai waktunya tiba,” sekelip kalimat itu membuatku buncah betanya-tanya.

“Mengapa? kau tak ingin? atau aku berbuat salah?”

“Tidak, ini demi kebaikan kita, berjanjilah kelak saat aku mengabarimu, kau akan menandangiku,” cakapnya memotong kemudian berlalu tanpa menoleh. Perahu itu terus bergerak sampai sekecil titik lalu menghilang lebur bersama biru gelombang.

Kapan lagi aku akan menjumpainya. Hari demi hari adalah kekosongan, sunyi, sepi dan hitam. Setiap saban adalah musim yang begitu panjang. Sampai tiba waktu aku harus meninggalkan pulau ini.

Setelah kupikir matang-matang kuputuskan untuk menyusul para sahibku. Aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang guru bahasa seperti Pak Dadang, pengajar kesukaanku di waktu SMA dulu. Tiga tahun menganggur membantu ibu berladang, barulah kali ini aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah, dan di kota besar adalah satu-satunya jalan dengan melanjutkan pendidikan.

“Jaga dirimu, ingat tanah ini adalah tempatmu kembali,” kata ibuku saat merogoh saku baju dan memberiku azimat yang terbungkus dari kain hitam, “Ini milik ayahmu, simpanlah dan jaga baik-baik.” Kutatap wajahnya merah berkaca-kaca, lalu sekelip air mata itu tumpah mengguyur pipi.

***

Bibirku kering, terik seperti membakar seluruh isi bumi. Berat sekali meninggalkan ibu. Selama kurang lebih 24 jam aku di atas perahu, lalu tiba malam di pelabuhan kota. Pertama kali aku melihat lampu-lampu benderang sepanjang jalan, kiri kanan kendaraan lalu lalang.

Aku berharap di kota ini semua ingatan tentang Maya bisa kulengahkan, namun semakin aku berusaha semakin kurasa tak kuasa.

Selama lima tahun kuhabiskan waktuku dengan buku dan tugas-tugas, alhasil aku dapat meraih gelar sarjana pendidik lalu diterima mengajar sebagai guru honorer di sekolah tempatku magang pertama kali. Menjadi tenaga pengajar setiap hari membuatku tumbuh dewasa, setiap bulan kukirimkan ibuku surat-surat menanyakan kabarnya.

Lalu bagaimana dengan Maya? Ia masih seperti dulu, hangat dalam ingatan dan mimpi-mimpi. Namun, setiap terang setiap petang bagiku adalah penantian. Menunggu kabar darinya membuatku patah, kuputuskan untuk mencari dan tidak menaui hasil, orang-orang tak satupun mengenalinya.

***

Pagi hitam, bunyi alarm membuatku terbangun. Sebilang hari aku harus bergegas melanjutkan pekerjaanku sebagai seorang guru. Setelah sarapan kemudian berlepas ke sekolah.

Kulihat para murid lintang pukang menuju kelas masing-masing, saat bel sekolah bunyi berkali-kali, waktu istrirahat berakhir dan pelajaran segera dimulai. Hari ini adalah waktunya untuk membaca cerita pendek masing-masing murid, setelah anak didik kuberi tugas pekerjaan rumah tiga hari yang lalu.

Riuh suara tepuk tangan itu memenuhi ruang kelas, saat Karno membacakan sebuah cerita tentang perjuangan seekor Kijang, berlarian tunggang langgang, sampai berhasil menyelamatkan diri dari terkaman raja hutan.
Selanjutnya Inaya, perempuan kecil itu membawa langkahnya dengan pelan.

“Inaya?” Suasana kelas mendadak senyap. Semua mata tertuju padanya, Ia belum lagi memulai.

“Inaya, kenapa?” Dengan rasa penasaran aku mendekati.

Kepala gadis itu tertunduk. Tubuhnya mematung. “Ayo bacakan,” aku mengulangi, ia seperti menahan kantung mata agar tidak jebol. Sia-sia, air mata itu meleleh pecah, tumpah ruah menyimbahi lantai. Aku meraihnya dengan rasa iba. Kuraih secarik kertas yang dipegangnya.

”Surat Kecil Untuk Ayah.” Jantungku terpengarah saat membaca judul kisahnya. Cerita itu mengalir lara. Dalam cerita, Inaya berkisah lahir dari perut seorang perempuan bernama Maya.

Perempuan yang limabelas tahun silam itu melarikan diri setelah didapati dirinya sadar tengah berbadan dua, melahirkan di tanah rantau dan membesarkan anaknya tanpa seorang ayah. Ya. Perempuan hebat itu adalah Maya kekasihku. Perempuan yang kini tengah tertidur lelap disebelahku, bersama putriku. Inaya. []

Mengintip Sejenak “Si Kyai Merah”

Judul: Pertarungan Islam dan Komunisme Melawan Kapitalisme: Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach
Penulis: Nor Hiqmah
Penerbit: Madani, 2011
Tebal: 113 halaman

“jangan takut, jangan khawatir”

  –Misbach

Siapa yang tidak mengenal Haji Misbach, mungkin banyak, mungkin juga sedikit. Tetapi itu bukan soal. Biarkan itu menjadi hipotesa sementara, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melihat dan mediskusikan sosok “Kyai Merah” seperti Haji Misbach ini. Sebelum kita lebih jauh menelisik sosok Haji Misbach, saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk menyatukan presepsi, bahwa setelah rezim  Orde Lama tumbang, dan digantikan oleh zaman Orde Baru, dalam hal ini rezim Soeharto,  hampir seluruh elemen masyarakat menjadi serba bungkam, terkhusus dalam mendiskusikan tokoh-tokoh terlarang, dan peristiwa- peristiwa kelam di masa lalu, baik itu peristiwa G30S/PKI sampai pemberontakan-pemberontakan awal sebelum meletusnya peristiwa 65.

Tetapi suatu kesyukuran bagi kita semua karena setelah Orde Baru runtuh, Kran demokrasi menjadi terbuka. Hal ini ditandai dengan banyaknya peluncuran buku-buku “kiri” dari Jawa khususnya di Yogyakarta, meskipun hal ini masih menjadi hal yang sensitif, tetapi setidaknya ruang-ruang  sejarah menjadi terbuka dan bisa kita dijadikan sebagai wacana dan diskusi-diskusi akademik. Maka dari itu pada kesempatan ini saya akan mencoba mereview  tulisan Nor Hikmah yang berjudul: Pertarungan Islam & Komunisme Melawan Kapitalisme : Teologi Pembebasan Kyai Kiri, Haji Misbach. Buku ini merupakan edisi perbaikan dari yang telah diterbitkan pertama kalinya. Saya mengaku tidak Sehebat Nor Hiqmah yang menulis khusus tentang Haji Misbach, tetapi setidaknya melalui tulisan ini sedikit banyak bisa menambah wawasan kita tentang sejarah, tokoh-tokoh yang berpengaruh di masa Haji Misbach.

 

Haji Misbach dan Sepak Terjangnya

Nor Hiqmah menulis tentang Haji Misbach, mencoba menampilkan sosok Haji Misbach sebagai tokoh propagandis sekaligus tokoh penggerak kaum muda Islam. Haji Misbach lahir pada tahun 1876 di Kauman Surakarta, dari keluarga pedagang batik yang sukses,  ketika masih kecil ia bernama Achmad, lalu setelah menikah ia berganti nama Darmodipromo, dan setelah menikah untuk yang terakhir kalinya ia berganti nama Mohammad Misbach yang sampai hari ini kita kenal dengan sebutan Haji Misbach sang “Kyai merah”, karena ia hidup dalam keluarga pejabat keagamaan kraton, dengan kondisi keuangan yang cukup, maka ia disekolahkan dalam pendidikan pesantren, perlu kita ingat bahwa di masanya tidak semua pribumi bisa berpendidikan, kecuali orang-orang dari kalangan pejabat, pengusaha kaya, meskipun nantinya telah di sediakan pendidikan untuk orang-orang golongan bawah, tetapi dengan kelas yang berbeda dengan para pejabat, pengusaha yang berada di golongan atas.  Menginjak dewasa ia sempat menggeluti usaha dagang batik higga sukses, dengan watak yang revolusioner dan senang berorganisasi maka akhirnya ia meninggalkan usahanya dan memilih  bergabung di IJB (Inlandsche Journalisten Bond) yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo pada tahun 1914 dan bergabung dengan Sarekat Islam, disingkat SI.

Sepak terjang Haji Misbach  dimulai pada tahun 1915 ketika ia menerbitkan surat kabar Medan Muslimin, kemudian pada tahun 1917 menerbitkan surat kabar Islam bergerak, yang nantinya akan menjadi media propaganda yang sangat berpengaruh menentang kolonialisme Belanda. Nor Hiqmah sering mengutip tulisan-tulisan Haji Misbach dari surat kabar. Melakukan propaganda melalui media membuatnya dikenal dan dihormati. tidak hanya itu Haji Misbach selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an untuk mendukung tulisan dan propagandanya. Pada tahun 1920 ia sudah terlibat dalam pemogokan-pemogokan di wilayah Klaten sampai akhirnya diseret ke pengadilan dan dipenjara. Pada tanggal 22 Agustus tahun 1922 ia kembali dibebaskan dari penjara Pekalongan, kemudian bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang bergerak untuk memperjuangkan hak-hak kemanusian, membela para buruh, petani-petani miskin dan melawan kolonialisme Belanda.

Sampai di sini kita bisa melihat bahwa wajar ketika setiap gagasan Haji Misbach selalu disertai dengan kutipan-kutipan ayat Al-Quran sebab ia berlatar belakang pendidikan pesantren, tetapi yang menarik nantinya adalah dia berusaha mempertemukan wajah Komunisme dan Islam dalam satu kesatuan yang sama sekali tidak bersebrangan, dalihnya, kesamaan misi yaitu misi kemanusiaan. Setelah ia bergabung dalam organisasi partai, dia menjadi propagandis yang lebih garang. Nor Hiqmah mengganggap Haji Misbach memilih bergabung dengan partai kiri sebab organisasi-organisasi Islam tidak mampu menampung aspirasi rakyat kecil. Menurutnya organisasi Islam seperti SI di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Muhammadiyah dianggap mandul dan lebih bersikap kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda. Sebaliknya organisasi komunislah yang mampu bersikap radikal dan anti kooperatif terhadap pemerintah kolonial.

 

Pecahnya SI dan Disiplin Partai

Salah satu hal yang melahirkan perpecahan dalam tubuh SI dimulai ketika Tjokroaminoto menetapkan aturan tentang disiplin partai, hal ini yang di tentang oleh Semaun, Tan Malaka, termasuk Haji Misbach, mereka menganggap SI yang dibawah pimpinan Tjokroaminoto bergerak dan mendukung langkah-langkah pemerintah. Selain itu, iuran dan anggaran yang diperoleh SI digunakan untuk keperluan pribadi,  hal ini yang disebut Haji Misbach kapitalis Islam. Evaluasi perpecahan dalam internal SI dilakukan pada tanggal 14 Maret 1923, tetapi gagal dan tidak membuahkan hasil, tidak hanya itu, banyaknya surat kabar yang  yang menentang sikap Cokro menjadi pengaruh bagi kepercayaan pengikutnya, Tjokroaminoto pun tidak mau kalah, menurutnya langkah yang diambil disebabkan karena SI sudah terlalu banyak mengakomodir kepentingan ISDV, yang nantinya berganti nama menjadi PKI.

Akhirnya SI pecah menjadi dua, (SI putih) dibawah pimpinan Tjokroaminoto dan (SI merah) dibawah pimpinan Semaun, SI yang di bawah oleh Tjokroaminoto dianggap lebih mengarah pada gerakan moral dan bersikap kooperatif terhadap pemerintah, sementara SI Semarang yang dibawah oleh Semaun bergeser ke sosialisme kiri.

Nor Hikqmah juga menjelaskan bagaimana ketakutan Tjokroaminoto terhadap orang-orang sosialis yang dia anggap mencoba merampas orang-orang SI, sehingga menjadi wajar Tjokroaminoto mengeluarkan kebijakan tentang adanya disiplin partai. Dan disamping itu Nor Hiqmah juga menuliskan bahwa perpecahan itu disebabkan karena politik kanalisasi (adu domba) yang dilakukan oleh Dirk Fock, Gubernur Jendral baru, salah satu usahanya adalah memperketat pengawasan Algemeene Rechercheichediennst (Dinas Intelejen Umum),  terhadap seluruh organisasi-organisasi pribumi.

 

Haji Misbach dan Ayat-ayat Propaganda

Setelah kemudian Haji Misbach menjadi pemimpin di Vostenlanden, mendirikan PKI dan memimpin rapat-rapat umum. Dengan pengawasan ketat yang dilakukan oleh Gubernur Jendral polisi lebih mudah menangkap gerakan politik Misbach, akhirnya pada tanggal 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Monokwari, sejak priode itu iya disebut sebagai tokoh komunis terkemuka. Seperti yang sebelumnya telah kita singgung, bahwa ia selalu mengutip ayat-ayat Al-Quran untuk melakukan aksi propagandanya, seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’uun ayat 1-7 yang artinya :

“Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,(yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. (Terjemahan Al-Qurannurkarim Surat Al-ma’uun Ayat 1-7 Oleh Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Qur’an, 1971 ).

Selain itu Misbach juga orang-orang yang menggap Islam tidak hanya berbicara tentang spiritual semata tetapi, Islam juga berbicara tentang hak-hak kemanusiaan di muka bumi, Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran tentang keselamatan di akhirat, tetapi Islam juga mengajarkan bagaimana kita selamat di dunia, Misbach menyerukan kepada orang-orang untuk tidak takut dan ragu berperang melawan kapitalisme yang menghisap, menindas, dan menjadikan rakyat sengsara, seperti ayat yang dikutip Misbach:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, maupun anak-anak yang semuanya berdoa:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dhalim Penduduknya dan berilah kami perlindungan dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”. (Terjemahan Qur’an Surat (4) An Nisa’ Ayat 75, Departemen Agama RI 1993;131).

Misbach sebenarnya ingin menyampaikan bahwa agama Islam tidak hanya sekedar tampil sebagai doktrin spritual tetapi juga punya gagasan pembebasan. Semua agama sama menurutnya, yang membedakannya hanyalah nama dalam setiap kepemimpinan dan masa setiap Rasul yang membawa ajaran Tuhan dimuka bumi. Sintesis yang ditemukan Misbach adalah bahwa Islam dan komunisme menekan pada ajaran untuk melenyapkan kapitalisme, sebagai sumber kemiskinan dan kesengsaraan rakyat Hindia Belanda. Hal inilah yang menjadi dasar religiusitas yang dibangun dari akar sosial masyarakat pada waktu itu.

“Orang-orang yang mengaku dirinya Islam tapi menolak komunisme, saya berani katakan ia bukanlah Islam sejati”. Misbach.