Ayah Memberimu Puisi, Ibu Memberimu Surga

“Ayah, aku berangkat,” sembari mecium punggung tangan ayahnya.

Kemudian, Ryan menuju ruang belakang menemui ibunya dan pamit seperti yang dilakukan pada ayahnya.

“Hati-hati di jalan, sayang. Jangan lupa bawa pengananmu.”

“Baik Ma,” sembari memberi salam dan melambai.

Kemudian, menyusul, Fina dan Didit adik Ryan.

Ryan, masih duduk di bangku kelas XI SMA dan adiknya dua orang masing-masing duduk di kelas IX  SMP dan adik bungsunya yang masih di kelas V SD.

Setiap hari pada pukul 5.30 pagi, Ryan sudah berjalan kaki menuju sekolahnya yang cukup jauh dari rumahnya. Jalan kaki ditempuh dengan waktu sekira 45 menit. Sedang sekolah adik-adiknya tidak terlampau jauh dari rumahnya. Berjalan dengan langkah anak kecil masih ditempuh dengan waktu sekira 10 menit.

Demikian itulah anak-anak sepasang suami istri, Bahsin Hamid dan Indira Rasyid. Pasangan yang akhirnya melabuhkan cintanya di pelaminan dengan susah payah. Sebab, menyatukan dua keluarga yang berbeda dan bersimpang jauh secara sosial dan psikologis. Keluarga Indira adalah sebuah keluarga bangsawan dan berpendidikan tinggi. Sedang keluarga Bahsin hanyalah seorang pedagang kelontong di pojok sebuah pasar di kotanya.

Orang tua, Bahsin keturunan Arab Pakistan yang entah sudah generasi keberapa keluarga buyutnya domisili di Indonesia. Sedang keluarga Indira dari tanah Bugis, bangsawan terdidik dan secara ekonomi sangat mapan.

Pertemuan pertama kali antara, Bahsin dan Indira berlangsung dalam sebuah  event  sastra yang diikuti oleh hampir semua kampus di negeri ini. Kala itulah, Bahsin tampil membaca puisi dan menjadi pemenang.

Pandangan pertama, Indira langsung jatuh cinta pada sosok gondrong, perawakan tinggi dan berwajah tirus khas Pakistan. Suaranya gelegar saat mebacakan sajaknya yang mengantarnya keluar sebagai juara di event itu. Indira terpesona sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi penyuka sastra.

***

“Assalamu alaikum.”

Yang ketiga kalinya, Indira menyerukan salamnya, baru Bahsin menjawabnya dengan ekspresi sedikit kikuk.

“Wa’alaikum salam.”

“Kok ngelamun sih, sore-sore.”

“Mikirkan siapa, Pa.”

“Tidak mikir apa-apa,” Bahsin semakin gerogi.

“Eh.. kok cepat pulang, Ma,” Bahsin memotong candaan, istrinya.

“Iya, tadi ada keluarga teman kantor yang meninggal dunia, jadi kami cepat pulang kecuali petugas teller.”

“Sakit apa, ma ?”

“Kecelakaan di perbatasan kota, tadi jelang siang.”

Dan Indira langsung berjalan ke kamar, tak mampir di beranda tempat suaminya sedang menikmati sore sembari menyesap kopi dan merokok.

Satu tahun terakhir mulai muncul banyak hal yang membuatnya kerap berselisih paham. Soal penghasilanlah yang stagnan sementara biaya dan kebutuhan anak-anak sekolah semakin meningkat. Waktu berkumpul yang semakin jarang, apatah lagi berekreasi di hari weekend dari hari-hari libur panjang lainnya.

“Assalamu alaikum, papa”, seru Fina dan Didit hampir bersamaan.

“Wa’alaikum salam.”

“Eh..ngajinya sudah selesai?”

“Iya pa..” seru Fina kemudian, dengan suara manjanya.

Keduanya mencium punggung tangan ayahnya.

Dan Bahsin meciumi pipinya masing-masing.

Hingga jelang magrib kala senja merona saga di ufuk barat, Bahsin masih menikmati sore di beranda rumahnya. Kopinya sudah gelas yang ke tiga tandas, tapi asap rokoknya masih ngepul meruangi berandanya. Dia sedang berusaha keras mengundang inspirasi dan menyambanginya. Rencana besar yang ia gagas belum rampung-rampung ia konsep. Sebuah perhelatan seni yang akan mengundang para penyair dan penulis fiksi se-Nusantara.

Kordinasi via telepon genggam telah ia lakukan berkali-kali dengan tim kecil yang telah terbentuk. Para penyair senior, mahasiswa yang aktif di dunia sastra, dan beberapa dosen sastra teman-temannya dulu semasa kuliah.

“Halo assalamu alaikum,” sapa seseorang dari jauh via telepon genggamnya.

“Ya.. haloo wa’alaikum salam.”

“Bagaimana konsep yang kamu susun, sudah jadi kah?”

“Ooo iya ini sementara saya kerjakan, mungkin paling lambat dua hari ke depan baru  selesai.”

“Oke, soalnya saya sudah sampaikan ke beberapa sponsor yang saya kenal, termasuk pihak rektorat di kampus, dan mereka antusias mendukung tapi mereka meminta konsepnya dalam bentuk proposal atawa skenario acaranya.”

“Oke, kita bertemu tiga hari kemudian bersama tim yang sudah ada setelah kamu pulang dari Jakarta ya. InshaAllah konsepnya sudah bisa saya bawa untuk kita diskusikan dan disempurnakan.”

Hingga usai shalat isya, Bahsin baru menyelesaikan setengah dari konsep yang dibutuhkan untuk pegelaran seni itu.

Bahsin belum bisa move on untuk berkonsentrasi penuh menyelesaikan konsep yang telah ia susun beberapa hari terakhir ini hingga melangkahi pekan. Ia dikenal pula oleh kawan-kawan sebagai orang yang sangat perfeksionis dalam menyusun konsep dan karya-karya sastra lainnya. Apatahlagi akhir-akhir ini, Bahsin juga kerap terganggu dengan kabar-kabar yang melintas dari keluarga besar istrinya yang menudingnya sebagai pengangguran terselubung. Ia hanya memperoleh nafkah sebagai dosen tidak tetap di beberapa perguruan tinggi swasta di kotanya bermukim, yang tentu dibayar sesuai jam berdiri di depan kelas. Juga sebagai penyair dan penulis yang tidak setiap saat melahirkan karya. Dua profesi yang digelutinya tak memberi peluang hidup layak di negerinya sebagaimana profesi-profesi lainnya. Keluarga kecilnya hanya ditopang utuh dan sinambung oleh sang istri yang sangat dicintainya, sebagai pegawai biasa di sebuah bank swasta.

***

Matahari sudah mulai berpendar beranjak dari pagi menuju jelang siang, tepat pukul sepuluh pagi, Bahsin dan timnya telah duduk di ruang pertemuan rektorat, menunggu para sponsor dan PR III (pembantu rektor)  yang akan mewakili kampus dalam kerja sama tiga pihak, tim Bahsin, kampus, dan dunia usaha.

“Hai.. assalamu alaikum, Sin.”

“Wa alaikum salam, Bad,” paggilan akrab Badrun. Seorang dosen tetap di perguruan tinggi ternama di bagian timur negerinya yang kemudian jadi sahabatnya hingga kini. Tempat mereka berdua dulu aktif sebagai penyair muda kala masih mahasiswa. Juga kampus awal beradu pandang dan jatuh cinta antara Bahsin dan Indira istrinya.

“Sudah lama, Sin ?”

“Baru sekira sepuluh menit.”

“Tunggu sebentar lagi ya,” kata Badrun pada sahabatnya

“Saya lihat mobil, Pak Amran dan pihak sponsor baru saja memarkir mobilnya waktu saya memasuki kantor rektorat ini.”

“Oke, santai saja, Bad.”

“Proposal-dan draft kontrak kerjasama, sudah siap semua kan?”

“Iya, sudah siap dari kemarin seperti janji saya padamu.”

Badrun, sahabat Bahsin, adalah dosen di Fakultas Sastra kerap menjadi perantara, Bahsin dan komunitasnya dengan pihak kampus dalam penyelenggaraan event-event kesusastraan di kotanya. Sebab, meminjam tangan-tangan kampus mempermudah mendapatkan sponsor dan izin dari pihak pengamanan.

Dalam pertemuan kali ini antara pihak kampus dan sponsor serta tim Bahsin, relatif tidak ada hambatan yang signifikan. Tadi, yang sedikit alot hanyalah waktu penyelenggaraan, sebab, pihak perusahaan tidak bisa menghadirkan direkturnya kala pembukaan event tersebut diselenggarakan sesuai tawaran waktu yang disodorkan tim Bahsin, sedangkan perusahaan mewajibkannya untuk hadir dan memberi sepatah dua kata pada setiap event besar yang disponsori. Maka, tim pelaksana setuju megundurkan jadwal eventnya dua minggu dari jadwal yang ditetapkan semula.

Pak Amran dan Badrun serta Pak Iwan dari pihak sponsor, menyalami Bahsin dan kawan-kawannya.

“Selamat ya.. semoga lancar dan sukses,” sapa Pak Amran, setelah MoU (Memorandum of Understanding) ditandatangani.

“Baik Pak, semoga kami tidak mengecewakan,” jawab, Bahsin dengan senyum yang merekah nampak bahagia.

Di samping panitia ini, tim Bahsin akan menambah tim atawa panitia yang khusus menangani transportasi, akomodasi, komsumsi, sebab para peserta dari seluruh Nusantara sudah mengirim kembali kesedian untuk berpartisipasi. Untuk panitia seksi super sibuk ini akan melibatkan mahasiswa yang bersamaan dengan selesainya semua ujian semester.

***

Sejak event ini dipersiapkan oleh, Bahsin, sejak empat bulan lalu kondisi rumah tangganya khususnya hubungannya dengan, Indira semakin tak elok. Mereka jarang sua. Bila Indira pulang dari kantor, Bahsin sudah tak di rumah, dan sebaliknya bila, Bahsin kembali ke rumah dinihari jelang pagi, Indira masih tidur. Mereka pun telah jarang se kamar. Bahsin lebih banyak tidur di sofa atawa menggelar tikar di ruang tamu. Hingga, Indira kembali terbangun dan menuju kantor tak bersitatap lagi dengan Bahsin. Padahal biasanya sesibuk apapun, keduanya menyempatkan diri untuk sarapan bersama.

Hingga puncak acara kesusastraan itu berlangsung dengan sangat meriah, Indira yang dulu mempertemukannya di acara sastra dengan Bahsin tak menampakkan batang hidungnya padahal jauh-jauh hari telah disampaikan oleh Bahsin, bahkan undangan VIP disediakan khusus untuknya.

Bahsin mendapatkan apresiasi yang luas dari segenap penyuka dan pencinta sastra pun dunia kampus di negeri ini, bahkan setelahnya semakin intens pula undangan menyambanginya dengan berbagai jenis event sastra dalam dan luar negeri.

Hingga di suatu malam Minggu nan ranum, kala Bahsin duduk di beranda rumahnya sebagaimana kebiasaannya bila lagi suntuk di rumah. Bahsin, ditemani buku, kopi dan tentu rokok, mendapati istrinya pulang di larut malam diantar oleh seorang lelaki dengan kendaraan mewah berkelas, dan dia saksikan pula keningnya dikecup oleh lelaki itu.

Kala Indira memergoki, Bahsin duduk di beranda yang tak pernah dia nyana, sedikit agak kaget dan gerogi walaupun akhirnya ia mampu mengimbangi perasaan dan sikapnya. Namun sitatap itu hambar tak ada sapa menyapa. Indira, langsung ngeluyur masuk kamar, sedang Bahsin, berhasil menutupi rasa dan sikap kikuk serta jengkelnya, dengan cara menghisap dalam-dalam rokoknya dan menghirup kopinya yang sudah dingin seolah di puncak kenikmatan.

Bahsin, tak memikirkan lagi istrinya, yang ia resahkan adalah anak-anaknya, Ryan, Fina, dan Didit, yang dia kasihi dan mengasihinya. Bahsin, terlalu dekat dengan anak-anaknya sebab keadaan yang membuatnya demikian itu, di mana waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah dibandingkan Indira yang berangkat bekerja sangat pagi dan pulang setelah malam hari.

Bahsin, telah menyusun rencana untuk meninggalkan rumahnya setelah menghadiri event sastra Internasional di Bali dan Jerman yang waktunya hampir bersamaan.

Di suatu siang setelah ketiga anaknya pulang dari sekolah, Bahsin memanfaatkan momen ini untuk bersendagurau dan santap siang bersama. Mereka berempat menuju sebuah kawasan mall merayakan kebersamaan yang telah lama raib oleh kesibukan kedua orang tuanya. Ketiga anaknya nampak bahagia ditemani ayahnya yang mengasihinya dan dikasihinya pula. Tempat pertama yang mereka tandangi adalah rumah makan cepat saji. Sembari bersantap bersama canda dan sendagurau menyertai kebersamaan mereka yang diliputi bahagia membuncah walau keluarga ini kurang satu orang, sebab, Indira ibunya nyaris tak punya waktu lagi. Di sela-sela canda dan sendagurau itulah tiba-tiba, Fina, melempar pertanyaan dan pernyataan ke ayahnya yang seolah gelagar guntur di siang hari.

“Pa.. rasanya Mama telah lama tak bersama kita padahal kita masih se rumah. Bila nanti Papa tak bersama Mama lagi, kami ikut Papa saja,” seolah Fina telah menyelami dasar hati ke dua orang tuanya yang bergelut gejolak yang tak lazim. Walau pun secara fisik tak pernah ada riak dan gejolak antara Bahsin dan Indira.

“Yuk.. kita nonton setelah makan?” ajak, Bahsin pada anak-anaknya, memotong pertanyaan dan pernyataan, Fina yang menusuk ulu hatinya. Dan gelombang air yang menyerbu sudut-sudut matanya ditahannya sekuat tenaga.

“Ayoook pak,” seru Ryan dan Didit spontan dengan ekspresi sangat riang.

“Iya pak, lama kita tidak nonton bersama,” timpal Fina yang seolah telah melupakan pertanyaan dan pernyataannya tadi.

Bahsin, merasa agak lega bulir-bulir air mata yang bergerombol tadi hendak tumpah tertarik kembali urung membasahi ruang-ruang matanya.

***

Jelang keberangkatannya ke Bali dan Jerman, disempatkannya menulis sepotong puisi untuk ke tiga anaknya, sebagaimana kebiasaannya bila waktu tak tersedia untuk ke tiga anaknya, kerap Ia menuliskan puisi untuk mereka sebagai salahsatu bentuk komunikasi yang ia ciptakan sendiri, yang rupanya ketiganya menyukainya, dan semakin membuatnya dekat secara psikologis.

 

Ayah memberimu Puisi, Ibumu Memberimu Surga

 

Aku menyayangimu di semua petak hatiku

meski hanya kasih dan cinta kusembahkan untukmu

lewat lembar-lembar puisi kurangkai di hatimu

berangkatlah arungi hidup bersama puisi-puisi

 

Jangan lupa, Ibumu membawakanmu cinta tiada tara

sebab, di hati hingga telapak kakinya semayam surga

ayooo petiklah surga di sana lalu genggam ukir jejakmu

bila kelak waktu berjarak, bahagiakanlah tanpa pamrih

 

Lembar puisi itu ia letakkan di meja belajar masing-masing anaknya, sebelum jelang siang ia meninggalkan rumah menuju airport. Sebelum beranjak, Bahsin mengambil rokok di meja kerjanya yang sederhana, dan di bawah tindih rokoknya tergeletak secarik kertas berwarna putih berlogo pengadilan agama. Di pojok kertas itu tertulis huruf balok GUGATAN CERAI.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *