Ayo Menulis

Menemukan Posisi Diri

Menulis adalah tindakan untuk perubahan. Keren memang kedengarannya, tapi seperti itulah seharusnya! Kita perlu menemukan posisi kita dalam struktur sosial sebelum jauh melibatkan diri dalam kegiatan tulis-menulis. Pilihannya jelas, memihak kepada kelas penguasa dan kawan-kawannya atau kepada rakyat yang tak punya ruang untuk bersuara. Keberpihakan selanjutnya menentukan apakah tulisan yang dihasilkan punya makna perubahan atau tidak.

Suara perubahan biasanya hanya muncul dari ruang pengap yang bernama situasi kemiskinan dan ketertindasan. Penguasa dan kaum borjuis biasanya sangat tidak menyukai perubahan. Mereka menyenangi stabilitas untuk mengamankan kekuasaan dan kenyamanan mereka sebagai kelas penindas. Menulis untuk perubahan adalah salah satu mode perlawanan terhadap penguasa yang semena-mena dan serakah. Menulis sebagai idiom anti kemapanan!

Menulis dengan demikian bukanlah peristiwa biasa, bukan sekadar mendaftar huruf-huruf di atas kertas yang membentuk deretan kata menjadi kalimat dan paragraf yang kemudian menjadi esai makalah, paper, atau buku, tetapi untuk melahirkan makna! Pada gilirannya melahirkan semangat perlawanan. Menulis adalah alat politik untuk memperjuangkan suara-suara rakyat yang bisu di sudut peradaban yang dikuasai sepenuhnya oleh penguasa dan pemilik modal. (Jika anda menulis hanya untuk membenarkan tindakan penguasa yang semena-mena, maka segeralah berhenti menulis).

 

Memulai dengan Imajinasi

Saya sangat yakin bahwa semua penulis yang kita anggap hebat adalah penghayal tingkat tinggi. Mereka memiliki kemampuan untuk menjelajahi alam imajinasi yang tanpa batas dan mengambilnya sebagai inspirasi untuk menulis. Imajinasi adalah anugerah Ilahi. Ia sangat unik, anti-realita, tapi sungguh sangat mengasyikkan. Tanpa batas dan tanpa larangan. Anda bisa terbang dengan superman, bercinta dengan bidadari, berkawan dengan iblis, berbicara dengan Tuhan, menjadi raja, dan menjadi apa pun dalam dunia imajinasi anda. Tidak ada hukuman dan sanksi bagi imajinasi. Semuanya bebas!

(Ber) imajinasi sangat dibutuhkan dalam berkarya apa pun itu termasuk menulis. Imajinasi dapat melahirkan cerpen, novel, film, musik, patung, diorama, dan sebagainya. Imajinasi pun dapat menjadikan karya tulis yang kita sebut ilmiah atau nonfiksi memiliki daya tarik. Imajinasi dapat memunculkan cita-rasa yang membantu kita menemukan rangkaian kata-kata yang memiliki padu-padan yang indah. Orang yang memiliki imajinasi tinggi bisa dipastikan akan melahirkan karya-karya yang monumental. Film Harry Poter, Avatar, Jurrasic Park, Ronggeng Dukuh Paruh, Lasykar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Candi Borobudur, Taj Mahal, Great Wall China, adalah karya monumental yang dilahirkan oleh orang-orang dengan imajinasi yang tinggi.

Jangan takut untuk berimajinasi. Jangan takut disebut penghayal. Semakin kita menjadi penghayal semakin besar potensi kita untuk menjadi penulis atau kreator kebudayaan yang andal. Dunia imajinasi bukan satu fase kekanak-kanakan kita. Ia adalah keseluruhan hidup kita. Imajinasi juga bukan sesuatu yang berada di luar struktur kesadaran kita. Ia ada dalam diri kita. Ketika anda memejamkan mata dan berbagai bayangan liar muncul dalam alam pikiran anda, maka imajinasi anda sedang bekerja. Ketika anda tidur dan menemukan orang yang anda cintai di satu tempat yang sangat indah, maka imajinasi anda sedang bekerja. Peliharalah itu. Berimajinasi-lah lalu pelan-pelan turunkan ke dalam pikiran sistemik anda, dan mulai-lah menulis.

 

Selanjutnya Memperbanyak Pengalaman

Imajinasi tentu tidak cukup. Kita membutuhkan satu pendekatan lain yaitu pengalaman. Pengalaman itu unik bagi setiap orang. Proses pembentukannya pun tidak seragam. Pengalaman adalah proses interaksi intensif seseorang dengan realitas sosial. Perspektif dan keberpihakan nantinya terbangun dari proses pengalaman seseorang dengan realitas sosialnya. Seorang yang setiap hari melihat ibunya tertindas dan dipukuli oleh ayahnya akan memunculkan perspektif tentang lelaki yang berbeda dengan seorang lain yang setiap hari melihat ibunya disayangi oleh ayahnya. Pengalaman sebagai mahasiswa yang aktivis tentu berbeda dengan mahasiswa yang bukan aktivis. Memperbanyak pengalaman membantu untuk menentukan posisi sosial kita dan akan memudahkan proses kita menulis.

Pengalaman bisa diperoleh dari aktivitas keseharian yang membantu kepekaan kita terhadap realitas. Pengalaman bisa pula diperoleh dari cara melakukan penelitian. Ini membantu kita untuk memahami realitas secara komprehensif. Meriset berarti sedang ingin memastikan dugaan-dugaan atau menemukan perspektif baru yang bisa saja mengubah cara pandang kita sebelumnya.

Membaca buku adalah (juga) bagian dari mengalami. Membaca sangat membantu kita untuk menemukan menajamkan dan memperkaya sudut pandang.

Pengalaman dibutuhkan karena kegiatan menulis adalah peristiwa yang historis. Seseorang tidak mungkin menulis sesuatu yang tidak memiliki keterkaitan sejarah dengan dirinya, meski itu hanya tulisan fiksi yang sumber utamanya berasal dari imajinasi. Novel Harry Potter sangat imajinatif. Apakah itu berarti J.K Rowling hampa sejarah (ahistori) ketika menulis Harry Potter? Tentu saja tidak. Para pembaca Harry Potter tidak menemukan gambaran tentang hantu versi Indonesia (sundel bolong, kuntilanak) atau nama-nama versi Indonesia dalam cerita itu. Ini karena J.K Rowling tidak memiliki basis pengalaman historis tentang Indonesia. J.K. Rowling menghadirkan imajinasi tentang dunia sihir sebagai orang Inggeris dan itu berarti sangat historis. Andrea Hirata sangat fasih menceritakan secara detil kehidupan anak-anak Belitong dalam novel Laskar Pelangi karena dia orang Belitong. Tokoh-tokoh yang diceritakan pun adalah dirinya dan teman-temannya. Habiburrahman sangat baik menghadirkan latar Mesir dalam novel Ayat-Ayat Cinta karena dia kuliah di sana. Menulis sesuatu yang kita alami lebih mudah daripada yang kita tidak alami. Perbanyaklah meng-alam-i sesuatu, lalu hadirkan dalam imajinasi, turunkan dalam pikiran sistemik anda, lalu mulailah menulis!

 

Berdamai dengan Penjara Struktur Bahasa

Menghayal-mengalami-berfikir-berbicara-menulis adalah sirkuit yang dilalui dalam menghadirkan tulisan. Menghayal paling mudah karena bebas struktur. Yang tersulit adalah menulis. Apa yang dihayalkan, dialami, dipikirkan, dan dibicarakan tidak serta merta dapat dituliskan. Dunia tulis menulis terikat dengan aturan bahasa. Aturan gramatikal yang tidak membebaskan kata-kata dideretkan begitu saja. Rangkaian kata-kata itu harus memiliki makna (kebahasaan) dan harus memenuhi standar struktur bahasa yang baik dan benar. Tidak boleh meletakkan tanda baca di sembarang tempat karena akan memengaruhi makna. Celakanya, standar gramatikal ini kadang-kadang menjadi ukuran tertinggi dalam menilai suatu tulisan baik atau tidak. Belum lagi tetek bengek aturan menulis karya tulis ilmiah. Ini yang saya sebut sebagai penjara struktur bahasa.

Proses menulis tidak bisa mengelak dari penjara struktur bahasa, tetapi kita bisa berdamai dengan itu. Salah satunya dengan mendekonstruksi kategori tulisan baik dan tulisan jelek. Bagi saya, tidak ada yang disebut tulisan baik dan tulisan jelek. Seluruh proses menulis sama dan melalui sirkuit yang sama. Yang membedakan, ada orang yang telah sering menulis, ada yang jarang menulis, dan ada yang baru mulai menulis. Hasilnya bisa berbeda, tetapi tidak berarti harus dijustifikasi baik dan jelek. Tulisan orang yang baru menulis tentu tidak bisa disandingkan dengan tulisan orang yang sudah sering menulis. Itu tidak fair, karena standarnya berbeda.

Kata jelek adalah penjara bagi penulis yang baru ingin memulai masuk ke dalam dunia tulis menulis. Padahal, yang dimaksud jelek sangat multiperspektif. Semua tergantung pada konteks pembacanya. Tulisan tentang barzanji sebaik apa pun tetap dianggap tidak baik oleh kelompok Islam puritan. Tulisan tentang tambang yang dibuat oleh orang perusahaan, selalu dianggap penipuan oleh aktivis. Orang ahli bahasa selalu menilai tulisan dari ketepatan penggunaan ejaan dan gramatika. Semua tulisan yang tidak memenuhi standar EYD dan struktur gramatika pasti jatuh harga. Intinya, baik dan jelek adalah persoalan standar. Jika standarnya berubah maka nilainya juga berubah. Standar itu bisa berasal dari mekanisme bahasa, selera, aliran, dan (bahkan) ideologi.

Tulisan pada prinsipnya memuat dua hal, bentuk dan isi. Bentuk, berarti tentang sistematika, prosedur, dan standar formal bahasa yang diakhiri dengan situasi keterbacaan. (Konon) esai Goenawan Muhammad dalam Caping (Catatan Pinggir) adalah salah satu contoh tulisan dengan bentuk yang baik. Ia sangat pandai memainkan kata-kata yang canggih nan memukau. Isi, berarti tentang ide, gagasan, dan subtansi yang ingin disampaikan. Ada banyak tulisan dengan bentuk yang baik tapi gagasannya kering. Ada pula tulisan yang memiliki ide yang brilian tetapi dengan bentuk yang kurang baik. Pencapaian terhadap dua titik ini secara bersamaan tentu saja dibutuhkan proses yang panjang. Proses yang dimulai dengan melatih diri menulis (bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri sendiri), memanfaatkan semua media yang ada. Jika tulisan yang anda hasilkan telah berbentuk dan memiliki ide yang jelas, maka tulisan anda pasti bagus!

Tapi ingat! Pencapaian pada dua titik itu tidak akan berarti bila tidak memenuhi standar ketiga yaitu pengaruh. Jika harus menentukan tulisan itu baik atau jelek, maka saya lebih memilih standar ketiga ini. Tulisan harus memiliki pengaruh kepada pembacanya. Setidaknya pada dua hal; menggugah atau menginspirasi. Tulisan yang menggugah berarti memiliki kekuatan pada bentuk dan format bahasanya. Puisi, cerpen, novel bisa sangat menggugah pembaca hingga emosinya dinamis sesui dengan alur. Tulisan yang menginspirasi memiliki kekuatan pada ide dan gagasannya sehingga menggerakkan pembaca untuk melakukan sesuatu. Semua terserah anda, ayo menulis!

Sumber gambar: https://www.sydneycommunitycollege.edu.au/course/creative.writing.script.writing

The following two tabs change content below.

Pepi Al-Bayqunie

Peneliti di Balai Litbang Agama Makassar dan novelis. Penulis buku Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki.

Latest posts by Pepi Al-Bayqunie (see all)

One thought on “Ayo Menulis”

  1. Saya suka buku, saya juga sudah terlalu muak dengan imajinasi saya yang banyak sekali tapi tidak bisa tertuang ke dalam kertas, saya sudah ingin sekali menjadi penulis tapi apa daya selalu kalah dengan rutinitas, sejak dibangku sekolah sampai sekarang beranak 2, blm pernah berhasil menorehkan cerita yang utuh, bukan tidak pernah mencoba, tp selalu berhenti dijalan. Tolong dong bantuinnn😭😭😭😭

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *