Azan di Negeri Sultan

Sudah lama aku berniat mengunjungi Ternate, negeri para sultan. Negeri yang di datarannya berdiri kokoh gunung Gamalama yang kerap terbatuk memuntahkan erupsi lahar panas dan dingin. Hingga suatu hari niat itu kabul dan mengunjunginya walau hanya dalam waktu singkat.

Sebelum berangkat terlebih dulu menghubungi beberapa kawan lama yang dulu sama-sama di Makassar dan saat ini telah domisili di sana dengan berbeda-beda profesi. Namun, dari beberapa yang aku hubungi hanya satu orang yang punya waktu luang untuk bersiap jadi guide-ku.

Kala sore remangi kota Ternate aku dijemput kawan yang sejak awal telah menaruh janji. Seperti pulau-pulau lain di negeri ini dua hal yang selalu padu-padan, yakni panorama gunung dan laut yang bertaut apik bak untaian lukisan beriris indah sambung-menyambung.

Kami tiba di sebuah rumah baca pas berhadap-hadapan dengan sebuah kampus perguruan tinggi swasta yang cukup besar di pulau sultan itu. rumah baca komunitas “Nation Building Corner library” cukup membuat saya melongo oleh koleksi buku dan desain interior ruang-ruang bacanya yang inspiratif dan nyaman. Menurut kawan pengasuh rumah baca, tempat ini menjadi ruang-ruang diskusi kawan-kawan aktivis mahasiswa dari belbagai perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan. Luar biasa kerja-kerja kawanku ini. kerja membangun manusia dan peradaban bajik tentunya. Di waktu singkat itu jelang senja memasuki malam kami berdiskusi singkat prihal gerakan literasi dalam pelbagai perspektifnya. Semangat literasi mesti disemai terus menerus bila perlu tanpa jedah. Sebab, hanya gerakan ini yang bisa menularkan kecerlangan, kebajikan,  melawan kebodohan dan kejumudan beragama.

Sebelum gelap malam menutupi semesta bumi kami beranjak ke destinasi wisata yang banyak dikunjungi dan kerap kali dijadikan sebagai background selfie-selfie para wisatawan. Yakni, memandang dan memotret dari kejauhan gunung Maitara dan danau Laguna sekaligus. Destinasi ini menjadi favorit karena gunung ini menjadi latar belakang gambar dipecahan uang kertas seribuan. Dan dari ketinggian menatapnya memang menumpuk aura eksotis nan magis. Subhanallah, maha suci Engkau ya Allah maha mencipta segala keindahan di semesta ini.

Usai memotret gunung Maitara dan danau Laguna, kami menuju ke sebuah kampung di ketinggian di kaki gunung Gamalama. orang kampung dan warga Ternate menyebutnya “Taman Moya Mobuku” sebuah kampung yang daerahnya berada di lereng-lereng salah satu kaki gunung Gamalama. Kampung inilah yang oleh pemerintah kota atas prakarsa bapak Walikota menjadikannya destinasi wisata dengan mendesain dan menghiasnya  beragam kembang dan taman, serta membangun kios-kios sepanjang jalan kampung itu. karena dari kampung atawa taman-taman ini kota Ternate dapat kita pandang dari ketinggian dalam jarak yang cukup jauh. Bila malam tiba kerlap kerlip lampu kota sangatlah indah.

Dari kampung Taman Moya Mobuku itu, kami mendengar suara azan kala waktu salat tiba, hanya serupa terpaan angin sepoi halus menyentuh gendang telingaku. Tak ada suara loudspeaker yang memecah gendang telinga dalam waktu yang lama. Apatahlagi suara azan dari pembesar suara yang bersuara fals dan memekik tak beraturan karena loudspeakernya telah berusia tua. Yang unik pula, selama tiga malam di penginapan yang hanya berjarak sekira 400 meter dari Masjid Raya Al Munawwar dan beberapa masjid yang berukuran kecil di sekitar penginapan tempat beristirahat, tak pernah kudengar suara loudspeaker dari masjid-masjid tersebut yang bersuara keras dan garing dan dalam durasi waktu yang panjang. Bahkan suara azan pun hanya bersuara lirih bak suara angin sepoi melambai menyapa dengan sejuk, memanggil-manggil para wajib salat di subuh hari. Di subuh hari sunyi itu aku bergumam, indah sekali suasana ibadah di kota ini. tak ada suara hiruk pikuk yang silang menyilang dari satu masjid dengan masjid lainnya. Karena aku pun memahami bila seseorang memang bersungguh-sungguh ingin melaksanakan ibadahnya dengan baik dan tepat waktu tanpa di seru oleh pengeras suara sekeras-kerasnya pasti dia akan terbangun dengan sendirinya dengan damai dan khusus. Sebab, menurutku esensi sebuah pelaksanaan ibadah terletak pada ketulusan hati seorang hamba. Antara Tuhan dan hambanya adalah hubungan cinta yang sangat dahsyat. Tanpa gonjang ganjing, tanpa pamer, tanpa mesti diancam neraka, maka semua akan berjalan dengan indah tanpa mengusik orang sekitar kita.

Padahal Kesultanan Ternate adalah salah satu kesultanan tertua di Nusantara.  Adanya kota ini juga tak lepas dari sejarah Kesultanan Ternate, salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara yang cikal bakalnya sejak tahun 1257. Kesultanan Ternate ini meraih kejayaan dari perdagangan rempah-rempah pada paruh abad ke-16, sebelum akhirnya diacak-acak penjajah Portugis dan Belanda. Kini, meski peran Kesultanan Ternate tak lagi sentral dalam pemerintahan, namun sangat berperan dalam menjaga adat dan budaya. Istana Kesultanan Ternate masih berdiri kokoh di depan alun-alun kota.

Melihat sejarah panjang daerah ini dan Kesultanan Ternate, jejak dinamika hubungan antar warga lokal dan pendatang yang otomatis berbeda etnis dan mungkin keyakinan nampaknya sejak berabad lampau tetap terjaga dengan baik. Menurut Alfred Russel Wallace, pada tahun 1858 telah datang seorang keturunan Belanda Kuno yang lahir dan besar di Inggris telah berdomisi di Ternate bernama, Duivenboden. Dia seorang kaya raya yang akrab dengan para Sultan dan masyarakatnya. Melalui, Duivenbolden itulah, Wallace memasuki Ternate untuk melakukan penelitian tentang fauna di sana.

Kota Ternate dan sekitarnya termasuk daerah terlama yang pernah dikunjungi oleh, Alfred Russel Wallace, seorang petualang dan peneliti fauna dari Inggris. Beliau berdomisili di Ternate selama tiga tahun sebagai basis tempat tinggalnya kala mengelilingi pulau-pulau di sekitarnya hingga sampai di New Guinea.

Suasana yang yang bersahabat dan damai itulah yang mestinya menjadi salah satu pemicu atawa daya tarik sehingga para turisme baik lokal maupun dari macanegara mesti berdatangan dengan sangat pesatnya. Sebab, hal itu menjadi modal besar untuk perkembangan daerah ke depan baik pariwisatanya maupun yang lainnya.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *