Bahasa Alam (2)

Tubuh alam kadang menjadi hal yang terabaikan begitu saja. Suatu yang ironis, karena kita tiap hari didekap erat. Denyut nadi hidup kita ada di dalam dekapan alam. Alam berkasih sayang dengan ikhlas.

Saat ia tergores akan muncul reaksinya. Walau begitu ia tidak bergegas menumpahkan amarahnya. Kalau hutannya digunduli, tanah di sekitarnya akan diam-diam mengagetkan pembalak atau pemukim di sekitarnya. Sebaliknya, keluarga kita ini sangat bersahabat jika diperlakukan dengan baik. Ia akan memberikan semua tanda-tanda tentang hal-hal yang akan terjadi padanya.

Dahulu banyak cerita di tengah masyarakat tentang air laut berdiri. Ia adalah pemandangan yang indah ditonton oleh warga dari atas bukit. Ombak yang tingginya sampai belasan meter itu seakan berdiri lalu menyapu dataran rendah mulai dari estituaria hingga tepian kaki kars. Mengamuk namun enak ditonton karena di sana ia dihadapi oleh tebalnya hutan bakau. Bakau hancur, perumahan yang sudah ditinggalkan lebih dahulu penghuninya itu hanya bergeser sedikit. Air laut berdiri itu tak lain adalah tsunami.

Dihantam tsunami, hewan dan ikan tidak satu pun terlihat di tepi pantai. Sepertinya mereka amat paham apa yang sesungguhnya akan terjadi. Mereka mengikuti irama alam ini sambil tetap hidup di habitatnya dengan tenang. Manusia sajalah yang justru mengalami korban jiwa walaupun pun masih sangat sedikit. Kasus Palu dapat diambil sebagai contoh. Tercatat ada 12 orang meninggal dalam bencana air laut berdiri di Palu pada tahun 1927 dan 200 orang pada tahun 1968.

Tatkala lanskap pemukiman berubah cepat, sepertinya reaksi alam mulai berubah. Banjir, longsor, dan abrasi serta macam-macam bencana mucul menjadi ancaman. Perilaku alami bumi tetap berlangsung. Mungkin saja bukan reaksi alam namun dilihat sebagai bencana karena sudah menelan korban jiwa. Banyak bahasa alam yang mulai dilupakan manusia.

Penduduk menggenjot pertumbuhan ekonominya dengan mengubah banyak sekali kenampakan alam. Hutan bakau dibabat habis. Di sana didirikan pemukiman. Sebagiannya digunakan untuk pertanian demi keperluan industri. Pemukiman berjejer menghadap laut yang menganga tanpa masker. Tatkala gempa mengguncang warga menghadapi reruntuhan batu. Batu yang jadikan dinding tak diikat dengan sistem –dinding- yang baik. Semua itu karena perhitungan ekonomi yang berbeda dengan bahasa alam.

Kala pemukiman didirikan di daerah rentan kejadian alami seperti gempa, maka sebenarnya sudah ada konsekuensi yang harus ditanggung tanpa tawar-menawar. Sayangnya, kemampuan kita itu mamahami bahasa alam ini sangat kurang.

Palu pada tahun 1927 mulai menuai akibat buruk itu. Gempa mengguncangnya pada 6 SR. Ribuan orang menjadi korban, belasan meninggal dunia karena air laut berdiri itu. Gempa yang lebih kuat terjadi lagi pada tahun 1938 pada magnitudo 7,6. Kali ini kian meluas ke wilayah sekitarnya.

Kali ini dengan magnitudo yang hampir sama, Kota Palu berantarakan lagi. Ia menjadi kota mati dalam hitungan beberap menit saja.

Ada yang mencoba menghubungkan kejadian yang amat dahsyat ini dengan perikaku kemusyikan. Upacara Palu Nomoni dituding menjadi biang kehancuran Palu 28 Oktober lalu. Ditengarai ada praktik kemusyrikan dalam perhelatan budaya itu.

Apakah memang demikian? Apakah ini bukan karena ketidakmampuan kita membaca bahasa alam? Tentu menarik untuk ditelusuri dalam perspektif budaya. Apakah dosa besar harus selalu dijawab dengan kejadian yang sering disebut bencana?

Sebelum kenabian ditutup, Tuhan sangat sering mengirim kejadian luar biasa kepada sekelompok orang. Kejadian mana membuat manusia mengakui Keagungan Tuhan. Tuhan sering juga menghukum sekelompok manusia karena pembangkangannya terhadap seruan mengesakan-Nya.

Ajakan untuk menggunakan akal tidak mumpuni mengantar manusia ke pintu iman. Peradaban manusia pada periode tersebut belum tiba pada tingkatan yang kompatibel dengan sistem pandangan dunia berbasis akal. Ia harus dibantu dengan peristiwa ajaib yang melampaui hukum-hukum alami, misal kausalitas.

Itulah yang dikenal dengan mukjizat. Ia adalah suatu pengecualian. Mukjizat menyela hukum-hukum alamiah. Hukum alamiah yang bergerak di alam semesta tetap berjalan sebelum dan setelah munculnya mukjizat tersebut. Mukjizat hanya terjadi satu kali untuk selamanya dan tidak dapat diulangi oleh siapapun pada saat yang lain.

Kalau tiap saat peluang keajaiban mukjizat itu bisa terjadi, maka tentu kita akan sulit membedakan peristiwa alamiah biasa dengan teguran atau ujian dari Tuhan. Akan muncul peluang untuk saling menipu mengatasnamakan hukuman Tuhan.

Selain itu, mukjizat selalu harus dicatat di dalam kitab suci. Ia menjadi arsip penting untuk sejarah bahwa pernah terjadi pada masa tertentu, Nabi diingkari lalu umatnya disadarkan dengan kajaiban. Mukjizat yang sudah pernah terjadi tidak akan terjadi lagi setelahnya. Orang saleh yang tidak dibakar api hanya terjadi satu kali yakni pada Nabi Ibrahim as. Sesudah itu, Nabi Ibrahim pun tak bisa mengulanginya lagi, atau Allah tak mengulangi lagi pada siapapun termasuk pada Nabi Ibrahim as itu sendiri.

Kalau seluruh masa hingga kiamat manusia hanya bisa disadarkan hanya dengan keajaiban maka tentu akan banyak sekali kemungkinan munculnya kejadian luar biasa yang melampaui hukum-hukum alamiah. Padahal hukum alamiah itu adalah bukti keseimbangan semesta berdasar Keadilan Tuhan.

Demi menjaga keseimbangan tersebut maka manusia setelah era kenabian dibekali dengan satu mukjizat agung bernama Alqur’an. Ia adalah kitab ilmu pengetahuan. Manusia pasca kenabian hingga akhir zaman adalah manusia yang berada di etape kesempurnaan pemikiran dan peradaban. Saat mana, nalar menjadi perangkat utama untuk mencapai keyakinan. Bukan mengandalkan keajaiban lagi.

Dengan demikian, manusia diajarkan untuk meyakini Kemahabesaran Tuhan benar-benar melalui kesadarannya dengan mengoptimalkan perangkat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ajakan Alquran untuk menajamkan akal sangat tegas dalam misi ini.

Konsep ketuhanan versi Alquran untuk masa selanjutnya tidak lagi berbasis keajaiban peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya. Justru pada keteraturan hukum-hukum alamiah itulah terdapat Kemahabesaran Tuhan. Keajaiban diubah maknanya menjadi pengakuan akan Kemahabesaran Tuhan karena tertib semesta ini memang sangat menakjubkan. Baik pada kosmos luar diri maupun kosmos diri manusia sendiri terdapat keteraturan hukum Tuhan yang dapat mencegah dan menundukkan kesombongan bagi orang-orang yang berpikir.

Demikianlah, usai kenabian hukum-hukum semesta dan bahasa alam ini berjalan secara alamiah. Manusia diajarkan untuk menyadari adanya dosa dan akibat-akibatnya dengan cara menajamkan akal untuk mengimani Tuhan. Tidak lagi diperlihatkan suatu hukuman kontan dan dahsyat di luar kausalitas alamiah sebagai akibat kedurhakaan.

Hal demikian ini bermanfaat pada pengembangan peradaban manusia secara rasional. Tidak ada peluang untuk mengajak manusia mencapai kemajuan peradabannya hanya dengan upacara peribadatan semata tanpa ikhtiar keilmuan.

Tuhan akan memberi hukuman setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri.  Perbuatan musyrik misalnya tidak lagi dijawab dengan peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya, melainkan mengalir dalam sebab akibat alami hingga ia sampai pada kejadian yang menjadi konsekuensi logis perbuatan tersebut.

Dengan perspektif ini maka peluang untuk mengatasnamakan peristiwa menakutkan sebagai hukuman atas dosa manusia dapat diurai secara rasional. Jika itu berkenaan dengan kekeliruan manusia ketika memperlakukan alam ini maka alam akan bereaksi menuju keseimbangannya yang mungkin saja berbahaya bagi manusia. Longsor bebukitan adalah akibat penebangan hutan yang melampaui ambang batas dan carring capacity alam. Begitu juga bencana yang menimpa pemukim karena belum mengetahui gejala peristiwa alamiah seperti gempa bumi dan tsunami.

Ini semua menantang akal untuk mengenali bahasa alam.  Persepektif ini mengajak manusia untuk menggali tanda-tanda (ayat) Tuhan dan Kekuasaan-Nya di alam semesta agar dapat digunakan untuk kemaslahatan, mengantisipasi dampak buruk, dan sebagainya.

Manusia pasca kenabian dibekali dengan kemampuan membedakan hukuman Tuhannya yang merupakan akibat kelalaiannya dengan peristiwa alamiah semesta. Konsep ketuhanan tidak lagi berada di luar jangkauan kesadaran manusia. Oleh sebab itu manusia bisa lebih arif dalam berhadapan dengan semesta tempat hidupnya.

Saat ini kita berada di alam pasca kenabian. Kesadaran untuk hidup saleh dan menjauhi maksiat tidak lagi karena ditakut-takuti oleh bencana alam, sebab bencana alam semula adalah kejadian normal dalam semesta.

Kesadaran kita harus sampai pada tingkat tertinggi yakni keyakinan akan datangnya hari pembalasan. Akal kita harus tiba pada kesadaran bahwa Tuhan tidak lagi akan menegur manusia sekonyong-konyong lewat jeweran alam kecuali sebagai suatu konsekuensi logis dari kekeliruan dalam pengelolaan alam.[]

 

Ilustrasi: http://www.mysultra.com/masih-banyak-yang-salah-alamat-ke-bpbd/ilustrasi-bencana-alam-internet/

 

The following two tabs change content below.

Syafinuddin Al-Mandari

Lahir di Kasambang, 19-04-1973. Doktor Kajian Multidisiplin Ilmu Lingkungan. Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003. Dosen Universitas Paramadina Jakarta. Penulis buku: HMI dan Wacana Revolusi Sosial (2003), Demi Cita-cita HMI; Catatan Ringkas Perlawanan Kader dan Alumni HMI Terhadap Rezim Orba (2003), Demokrasi dalam Cengkraman Orde Baru (2004), Anak Tentara Melawan Orba (2015), dan Strategi Kebudayaan dan Kesadaran Ekologi (naskah siap terbit).

Latest posts by Syafinuddin Al-Mandari (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *