Berbeda Sudut Pandang

Kebiasaan saya bersama istri satu tahun terakhir bila saya berada di kota kelahiranku, Makassar. Setiap akhir pekan melakukan jogging atawa berjalan kaki mengelilingi lapangan karebosi minimal lima hingga tujuh kali putaran. Istriku biasa menyebutnya tawaf di karebosi. Rumahku dari karebosi lumayan jauh. Beberapa  alasan kenapa kami memilih tempat jogging yang terlampau jauh dari kediaman kami, sebab di area ini setiap pekannya dijubeli orang dari berbagai penjuru kota Makassar untuk berolah raga, berjalan kaki seperti yang kulaku. rupa-rupa senam yang dilaku oleh berbagai komunitas, bermain bola kaki, dan yang sekedar datang bersua teman-temannya sembari bersilaturrahim. Aku pun saban hari ke sana kerap sua kawan dan sahabat. Siltaurrahim terjalin kembali dan sungguh amat membahagiakan.

Pagi ini setelah berjalan kaki mengelilingi karebosi sebanyak tujuh kali sembari ngobrol dengan beberapa kawan semasa mahasiswa dulu, saya dan istri mencari-cari warung untuk sarapan pagi dan memilih sebuah cafeteria yang menjual rupa-rupa penganan sarapan pagi dan tak ketinggalan kopinya. Sedang asyik-asyiknya menyesap kopi dan penganan lainnya tiba-tiba suara gemuruh kendaraan roda empat dan dua disertai teriakan-teriakan membesarkan nama Tuhan dengan intonasi amarah melintas di depan café tempat kami rehat sejenak. Spontan pengunjung café yang padat di akhir pekan itu mengalihkan perhatiannya sejenak dengan berbagai ekspresi. Ada yang sinis, merasa lucu, dan biasa-biasa saja karena mungkin menganggap iring-irngan ini adalah hal biasa di zaman demokrasi terbuka ini.

Beberapa spanduk di pampang di mobil yang bertuliskan “Enyahkan Syi’ah dan PKI dari NKRI karena bukan Islam dan tegakkan khilafah” dan beberapa spanduk yang benada mirip-mirip. Bagi yang tidak paham tujuan gerakan kelompok ini pasti akan bertanya-tanya, kenapa mesti mereka yang melarang dengan cara-cara amarah dan anarkis. Bukankah kita mempunyai pemerintahan dengan berbagai perangkatnya. Bila mereka yang dituding sesat oleh pendemo ini adalah pelanggar konstitusi Negara kenapa tidak secara legal dilakukan secara procedural berdasarkan aturan main Negara yang sudah ada, walaupun kita tahu bahwa menyampaikan aspirasi melalui demontrasi sah-sah saja.

Saya tidak mengerti, apakah kelompok yang menyuarakan kesesatan kelompok (keyakinan) lain dan harus dienyahkan dari bumi pertiwi ini ada undang-undang atau perangkat hukum negeri ini yang dilanggar?  Sebab bila hanya sekedar perbedaaan sudut pandang dalam menafsirkan agama yang bermuara pada terbentuknya aliran-aliran dalam sebuah agama dan keyakinan tentu jalan keluarnya bukan memaksa Negara untuk mengenyahkan aliran atau mazhab yang ditengarai menyimpang, untuk mengenyahkannya dari negeri hukum ini. Tetapi salahsatu jalan keluar terbaik adalah melakukan dialog secara intensif. Tentu dialognya dilakukan secara bijak dan arif serta setara sesuai dengan prinsip-prisnsip dasar agama  itu sendiri. Boleh difasilitasi oleh lembaga-lembaga keagamaan, semisal MUI (Majelis Ulama Indonesia), Muhammadiyah, NU (Nahdatul Ulama), dan sebagainya. Untuk tidak berlarut-larutnya setiap penyerangan kepada kelompok yang ditengarai sesat. Pemerintah mestinya melakukan tindakan-tindakan strategis untuk tidak melukai warganya sendiri. Sebab, di negeri ini sudah terlampau banyak peristiwa sebuah komunitas yang dianggap keyakinannya bermasalah dan menyimpang diciderai dengan sangat fatal, baik pisik maupun psikis tapi Negara hanya diam dan tidak berperan. Padahal yang dianiaya itu adalah warga Negara pembayar pajak dan taat pada aturan Negara. Bila hal seperti ini dibiarkan begitu saja maka tunggulah negeri ini akan menjadi negera abu-abu yang tak jelas jenis kelaminnya, sebab hukum menjadi lumpuh bagi kaum minoritas dari kelompok-kelompok yang selalu meyelesaikan masalahnya dengan jalan kekerasan.

Sejak reformasi merebak dan menjatuhkan kekuasaan orde baru, salahsatu pekerjaan pemerintahan era reformasi yang tersisa adalah bagaimana penegakan hukum setegak-tegaknya pada kelompok-kelompok intoleran yang kerap beraksi anarkis dan merusak fasilitas umum yang dibiayai rakyat dari berbagai jenis pungutan yang dilaku pemerintah. Memberi rasa aman kepada warganya untuk hidup dengan aman tentram dan bermatabat tanpa reserve apapun. Kelompok-kelompok dalam etnik, agama, dan mazhab, kerap tersakiti dan tercederai tanpa perlindungan yang memadai dari Negara. Seolah mereka adalah warga kelas dua dari negeri yang dicintainya. Sedang kelompok-kelompok yang selalu mengatasnamakan agama dan keyakinannya paling benar dan pemilik tunggal kebenaran, namun jelas-jelas dari semua aksi yang dilakunnya mengarah pada wacana pendidrian Negara agama berdasarkan keyakinannya dan menggantikan panca sila sebagai dasar Negara. Namun sepertinya dibiarkan melakukan aksi semaunya. Mengganggu ketenangan orang lain dan merusak fasilitas umum, membakar dan merusak rumah ibadah yang menurut mereka berbeda dengan keyakinannya. Padahal negeri ini didirikan dan dibangun berdasarkan kemajemukan agama dan adat istiadat warganya.

Dalam perspektif agama yang kuyakini yakni Islam, mengajarkan budi-pekerti atau yang lazim dibilangkan akhlak sangat di junjung tinggi. Untuk meninggikan ajarannya sebagaimana titahnya “Al Islamu yu’la wa ya’lu alaik, Islam itu tinggi di atas segalanya”, Sang Nabi menitahkan untuk  berakhlakul karimah atau berbudi-pekerti yang mulia. Sebab beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak pengikut agama-agama samawi sebelumnya. Artinya, agama yang di bawahnya mesti memiliki pengikut yang lebih cerlang-cemerlang akhlak dan budi-pekertinya melebihi dari yang lain. Pengikutnya dituntut memelopori kehidupan harmoni saling memuliakan diantara manusia. Memelopori kebangkitan peradaban manusia dengan ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah disuguhkan oleh para ulama kaliber yang pernah lahir di Rahim agama Islam, seperti Ibnu Sina, Alfarabi, Alkindi, Ibnu Arabi dan sebagainya.

Berkenaan hal kecenderungan sebagian ummat Islam dalam menyelesaikan masalah dengan pentungan dan bedil hingga merusak fasilitas umum dan menumpahkan darah. Albert Camus, dalam sebuah esai pendeknya “pohon buah badam” menukil “ tahukah kau, Napoleon suatu kali berkata kapada Fontanes, apa yang membuat diriku penuh kekaguman? Ketidakberdayaan dari kekuatan untuk membangun apapun. Hanya ada dua kekuatan di dunia yakni, pedang dan pikiran. Pada akhirnya pedang selalu dikalahkan oleh pikiran. Belajar dari situ, secara sederhana mengajak kita untuk selalu mendahulukan pikiran dan akal sehat dalam mengawal peradaban melanjutkan dan mengejawanthakan pesan Nabi Suci Muhammad SAW, bahwa Islam itu tinggi dan mulia. Seperti pesannya bahwa dalam peperangan pun, menjatuhkan sehelai daun  bila tak diperlukan tidak boleh dilakukan. Coba simak bagaimana Sayyidina Ali karamallahu wajha mengapresiasi pesan mulia tersebut “kala dalam suatu peperangan beliau urung menebas lawannya hanya karena mukanya diludahi. Kala ditanya kenapa Sayyidina Ali urung menebas lawannya, beliau hanya menjawab dengan senyum, karena beliau tak ingin menebas lawan dalam keadaan marah”.

Jelang Ramadan dan di bulan Ramadan ini dua peristiwa yang memalukan terjadi lagi di negeri yang kita cintai ini. Peristiwa yang mengatasnamakan agama dengan bom bunuh diri di beberapa tempat dan mempora-poranda beberapa rumah warga yang bernaung di bawah organisasi Ahmadiyah di NTB (Nusa Tenggara Barat). Kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah bahkan akan melahirkan kekerasan lainnya bila hal ini terjadi secara terus menerus. Padahal di situlah perlunya dialog secara intens perlu difasilitasi oleh institusi yang berkenan. Kemudian bagi pelanggar hukum, mesti dihukum sebagaimana hukum yang berlaku. Bila hal ini dibiarkan berkecambah maka tunggulah kelompok-kelompok intoleran akan membesar dan di ujungnya akan berbuah teroris serta mengebiri semua perbedaan dengan cara-cara kekerasan hingga pembunuhan.

Padahal perbedaan sudut pandang (perspektif) dalam Islam katanya adalah rahmat. Dan perbedaan dalam pelbagai hal dalam memaknai sesuatu di kalangan sahabat Nabi telah terjadi digenerasi awal kala Nabi masih hidup bersama mereka, hanya Nabi selalu bijak dalam menyelesaikan setiap perbedaan yang terjadi diantara sahabatnya. Bila demikan halnya makin jauhlah kita dari tuntunan dan titahnya.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *