Berdialog dengan Alam

Jumat sore usai silaturrahim ke rumah sepupu sambil menjalankan terapi yang disarankan dokter, kampung kami guncang. Suasana berubah menjadi kepanikan. Penduduk berlarian keluar rumah.

Televisi dan berbagai media sosial menyiarkan telah terjadinya gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Daerah kami, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang berdempet dengan Sulawesi Tengah pun kena guncangan magnitudo 7,4 itu. Sebagian penduduk mengungsi sebagai antisipasi jika ada tsunami. Maklum jarak kampung kami dengan tepi laut hanya beberapa meter saja. Ada rumah yang bahkan tepat di bibir pantai.

Publikasi terakhir, hingga tulisan ini saya bikin, berdasar pada koran Kompas, Sabtu, 29 September 2018, bahwasanya gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah ini, berkekuatan M 7,4, lokasi 0,20 LS dan 119,89 BT. Kedalaman 11 km, berpusat di 26 km utara Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa terjadi pada pukul 17.02 WIB.

Gempa ini menimbulkan tsunami dengan ketinggian 1,5 meter hingga 3 meter, yang diperkirakan tiba pukul 17.22 WIB. Tsunami tersebut berakhir pukul 17.36 WIB. Penyebab gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Palu-Koro. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar (slike-slip).

Lebih jauh lagi, dikabarkan oleh Kompas, jalur telekonunikasi lumpuh hingga lewat tengah malam. Akibatnya, gempa bermahnitudo 7,4 yang berpusat di Kabupaten Donggala, yang disusul tsunami di pesisir Teluk Palu, sampai Jumat malam belum jelas benar dampaknya. Berapa korban jiwa meninggal dan luka-luka belum ada kepastian. Pun, taksiran jumlah kerugian material. Yang pasti, banyak warga Sulteng yang bersiaga di luar rumah, mengungsi ke daratan yang lebih tinggi, karena khawatir gempa susulan dan tsunami.

Anjuran agama, khususnya Islam, menganjurkan kepada umatnya, tatkala mengalami peristiwa menakutkan adalah Salat Ayat. Saya melmbaca media sosial dipenuhi dengan doa agar keluarga dan rekan di area kejadian selamat.

Sebagai orang yang mengimani hal itu doa pun terpanjat dari lisan saya. Namun selain itu, ada semacam refleksi atas kejadian ini. Ini adalah bahasa alam. Berdialog dengan alam tentu akan lebih baik mengiringi doa-doa.

Gempa adalah kejadian alami. Beda dengan banjir, longsor, erosi, abrasi, atau kebakaran dan yang semacamnya. Ada unsur tangan manusia pada deretan contoh kejadian yang disebut terakhir ini. Bagaimana dengan gempa bumi dan tsunami? Kejadian alami.

Baik gempa maupun longsor dan semacamnya adalah bahasa alam. Bedanya, longsor dan semacamnya adalah respon alam atas kelakuan tangan manusia. Dialog dengannya adalah dengan cara menghentikan kebiasaan buruk kepada semesta ini, seperti menebang vegetasi besar di lahan rawan bencana.

Program edukasi dan literasi lingkungan menjadi mendesak dilakukan. Pengetahuan manusia sudah seharusnya dapat menyapa alam sekitar dengan ramah. Program dan perencanaan perlindungan sudah perlu menjadi bahasa manusia sehari-hari.

Kejadian-kejadian alami memang tak dapat dihentikan. Gempa bumi tidak bisa dicegah. Akan tetapi, sebagai bahasa alam manusia perlu memiliki cara menyapanya.

Keperluan manusia adalah eliminasi terjadinya kerusakan dan korban yang akan berjatuhan. Ikhtiar manusia dapat mencipta optimisme untuk mengurangi dampak tersebut. Upaya mengungkap tanda-tanda kejadian semacam itu bukan mustahil ditemukan secara lebih dini.

Itu sebabnya, tiba-tiba selain berdoa, yang teringat setelah gempa mulai mengguncang itu adalah sepupu saya. Ia kini tengah berada di Chiba, Jepang, untuk menyelesaikan studi doktoralnya dalam soal-soal remote sensing. Suatu disiplin kajian yang berusaha menajamkan indera lewat bantuan peralatan guna mengenali gejala alami pada bumi dan semesta.

Mungkin dengan kemampuan teknologi suatu saat, mengenali gempa bumi dan tsunami sudah mirip dengan melihat mendung untuk mengantisipasi dampak hujan. Setelah kita tahu bahwa hujan akan segera turun jika sudah mendung, maka kita akan mengambil jas hujan. Dengan demikian perjalanan tetap bisa dilanjutkan sedang badan kita tidak basah kuyup.

Itu pulalah sebabnya saya mendoa dengan dua doa ketika gempa dan tsunami datang. Pertama saya panjatkan permohonan kepada Tuhan agar penduduk selamat, keluarga korban tabah, penderita mendapat bantuan dan santunan. Selain itu, saya mendoa agar para ilmuwan yang tengah memikirkan upaya deteksi dini segala kejadian alam terutama yang alami itu terus-menerus disempurnakan. Seharusnya begitulah kita berdialog dengan alam. Wallahu a’lam.

 

The following two tabs change content below.

Syafinuddin Al-Mandari

Lahir di Kasambang, 19-04-1973. Doktor Kajian Multidisiplin Ilmu Lingkungan. Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003. Dosen Universitas Paramadina Jakarta. Penulis buku: HMI dan Wacana Revolusi Sosial (2003), Demi Cita-cita HMI; Catatan Ringkas Perlawanan Kader dan Alumni HMI Terhadap Rezim Orba (2003), Demokrasi dalam Cengkraman Orde Baru (2004), Anak Tentara Melawan Orba (2015), dan Strategi Kebudayaan dan Kesadaran Ekologi (naskah siap terbit).

Latest posts by Syafinuddin Al-Mandari (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *