Bissu, Gender Kelima di Sulawesi Selatan dan Kerusuhan Gurilla Melawan Tentara Jawa

Lazim dikenal gender terbagi atas dua, yaitu laki-laki dan perempuan. Namun, masyarakat Amparita di Sidrap mengenal lima gender sekaligus.

Soal gender ala Sidrap itulah yang menjadi basis cerita novel Faisal Oddang berjudul Tiba Sebelum Berangkat.

“Ingat, Pata, Bissu bukan calalai atau perempuan kelaki-lakian, bukan pula calabai atau lelaki gemulai, bukan. Ketahuilah, Pata, bahwa kita sebagai orang Bugis mengenal lima jenis manusia, yaitu lelaki, perempuan, calabai, calalai,  dan Bissu,” kata Puang Matua Rusmi kepada Mapata, dua tokoh dalam novel karya penulis asal Wajo.

Bissu disebut-sebut sebagai perantara Dewa. Mereka bukan seperti kelompok gender yang kerap mangkal di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar. Bissu adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh masyarakat Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan. Golongan Bissu mengambil peran gender laki-laki dan perempuan. Mereka dilihat sebagai separuh manusia dan separuh Dewa dan bertindak sebagai penghubung antara kedua dunia: atas dan bawah.

Dalam novel Tiba Sebelum Berangkat, diceritakan bahwa tokoh Puang Matua Rusmi adalah salah satu Bissu, bahkan menjadi pemimpin para Bissu yang membuatnya bergelar Puang Matua. Dalam cerita, Puang Matua Rusmi menjelaskan alasan mengapa Bissu perlu hadir.

“Ketika dunia tengah ini tidak berpenghuni, Dewa mengutus anak mereka, dari dunia atas diturunkan seorang lelaki, dan dari dunia bawah muncul seorang perempuan. Keduanya adalah nenek moyangmu, nenek moyangku, nenek moyang semua orang Bugis. Tetapi karena Dewata merasa bahwa dunia tengah membutuhkan seorang penjaga keseimbangan, maka turunlah Bissu pertama dalam sejarah manusia. Bissu dipilih karena dia tidak berjenis kelamin, bukan perempuan atau lelaki, juga tidak beranak serta suci karena tidak berdarah, tidak dapat berdarah karena datang bulan dan tidak dapat berdarah karena baja,” kata Puang Matua Rusmi saat menjelaskannya kepada Mapata.

Dalam kehidupannya, Bissu ini bukannya tidak memiliki perseteruan dengan kepercayaan lain. Dikisahkan oleh pengarang bahwa para Bissu dan pasukan gurilla (gerilya) bagaikan air dan minyak yang tidak akan menyatu bahkan ketika mereka di belanga yang sama. Pasukan gurilla kemudian menyebut dirinya Tentara Islam Indonesia atau TII setelah ikut sama Kartosoewirjo di Jawa  pada 7 Agustus 1953.

Bagi TII, Bissu tidak sesuai dengan agama karena mereka lelaki yang menyalahi kodrat dan berubah jadi perempuan. Selain itu, rumah arajang (tempat tinggal Bissu) dianggap tempat menyimpan berhala. Bissu dituding TII sebagai pemuja berhala.

Kerap tentara gurilla turun dari gunung dan mencari orang-orang yang dianggap menyalahi ketentuan agama, termasuk Puang dan teman-temannya sesama Bissu. Padahal, para Bissu dipandang sebagai penyambung lidah masyarakat Bugis dengan Tuhan, Dewata Sewwae.

Konon, ketika ditangkap gurilla, rambut para Bissu itu dipangkas,  kuku mereka yang panjang dipotong, dipaksa membaca doa agama tertentu, dan dipaksa menggarap sawah. Jika tidak, nyawa mereka gantinya.

Pasukan TII ini menguasai kawasan gunung di Sulawesi Selatan. Di sana, mereka membangun benteng pertahanan dari serangan “tentara Jawa”. Mereka menjadi lawan dari tentara Jawa dikarenakan TII dilabeli sebagai kelompok pemberontak. Puang Matua Rusmi menggunakan istilah tentara Jawa untuk semua tentara pemerintah.

Faisal Oddang menjelaskan secara detail mengenai perseteruan  antara tentara Jawa dan pasukan gurilla. Awalnya, ketika tahun 1950, Kesatuan Gerilja Sulawesi Selatan (KGSS), mengadakan pertemuan besar-besaran di Maros. Pertemuan itu menghasilkan keputusan untuk mengajukan diri bergabung dengan Divisi Hasanuddin.

Tuntutan KGSS untuk dimasukkan dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) dan bagian Divisi Hasanuddin ditolak Komisi Militer. Lalu, keluarlah kebijakan bahwa penerimaan orang-orang yang pernah berjuang, termasuk KGSS, dilakukan dengan cara seleksi perorangan. Mereka tidak bisa diterima langsung sebagai satu kesatuan, divisi, atau batalion.

Konon, salah satu petinggi di Komisi Militer mengatakan bahwa orang bodoh sekalipun bisa jadi pejuang asal diberi senjata. Jadi, sekadar berjuang tidak cukup untuk menjadi tentara resmi. Mereka harus lulus uji kemampuan baca-tulis serta kesehatan jasmani dan rohani, tidak cukup dengan berani mati di medan perang. Pernyataan itu membuat murka para tentara gurilla.

Tahun 1952 menjadi tahun yang tak mereka inginkan. Sungguh, para gurilla itu marah besar. Bertambah alasan mereka memusuhi orang pusat. Pikir mereka, Provinsi Sulawesi bukan untuk putra daerah dari Bugis atau Makassar. Orang-orang Jawa semua itu jadi orang penting.

Sudiro jadi gubernur, Gatot Subroto juga itu Jawa, dia jadi panglima TT-VII, dan orang Sunda bernama Saleh Sastranegara jadi kepala polisi. Sama pula dengan orang Madura bernama Letkol Chandra Hasan yang jadi Komandan RI-23, resimen infantri yang markasnya di Parepare itu.

Pada 13 April sore hari, Andi Azis dicap sebagai pemberontak. Keesokan harinya, Mokoginta mengawal Andi Azis ke Jakarta setelah secara jujur memberi jaminan atas keselamatannya. Namun, setibanya di Jakarta, Andi Azis segera ditahan. Dia diadili pada bulan Maret dan April 1953 dan divonis hukuman 14 tahun penjara.

Kata gurilla-wan Andi Upe salah seorang tokoh dalam novel, ada tiga ideologi yang bisa digunakan, yaitu komunisme, nasionalisme, dan Islam dengan pertimbangannya masing-masing. Ketiga ideologi itu tercampur secara tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan Kahar. Ia telah dididik dan diajar di sekolah Muhammadiyah. Ia dibuang dari Luwu karena serangannya terhadap sistem feodal di sana. Selama masa revolusi, ia bekerja di biro perdjuangan di bawah pengaruh Amir Sjarifuddin, Djokosujono, dan orang-orang yang bersekutu erat dengan golongan kiri.

Dalam tulisannya sendiri dan dalam gaya hidup Kahar yang dijelaskan Faisal Oddang, terdapat unsur-unsur dari apa yang bisa dianggap sebagai ideologi dan praktik komunis. Ia mendasarkan falsafah kenegaraannya tidak hanya atas agama, tetapi atas “Keadilan sosial” dan “Demokrasi sejati”. Ia terus menentang watak feodal masyarakat Sulawesi Selatan dan melarang pengikutnya memakai gelar bangsawan.

Perseteruan antara tentara gurilla dengan tentara Jawa tidak bisa dielakkan.  Selain menjadi lawan dari tentara Jawa, gurilla juga menjadi lawan dari para Bissu seperti yang telah dijelaskan di atas sehingga terjadi kekacauan dalam masyarakat.

Bissu di sini hanya berharap dapat melakukan tradisi yang telah mereka anut bersama masyarakat sekitar tanpa harus dicegah apalagi dipaksa meninggalkan kepercayaan leluhur mereka tersebut.

“Kau serius bertanya kenapa bissu atau sebutlah orang Sulawesi Selatan mengutuk perang? Kau tahu, hanya karena kau punya otak, bukan berarti kau bisa berpikir, dan entah kenapa saya pikir kau tidak memanfaatkan otakmu ketika menanyakan hal itu. Jelas, sekali lagi, jelas, perang hanyalah perbuatan sia-sia yang mengatasnamakan kehidupan yang lebih baik, tetapi, sungguh omong kosong,” kata Mapata ke salah seorang penculiknya.

Mapata, salah satu tokoh dalam novel ini adalah bekas toboto (pelayan yang tinggal bersama Bissu selama waktu tertentu) dari Puang Matua Rusmi. Dia dituduh terlibat dalam pemberontakan yang terjadi di masa lampau.

Dia diculik, diinterogasi, dan disertai penyiksaan mahakejam. Bahkan, Mapata yang dipaksa menulis kesaksian. “Tapi kejadian-kejadian yang kalian ingin ketahui ini terjadi lima puluh tahun yang lalu, sebelum saya lahir, dan kalian menuduh saya terlibat? Tidak masuk akal!” tulis Mapata pada tulisan kesaksiannya.

Mapata tetap saja dipaksa menulis semua yang ia ketahui. Apa pun  ia tulis, terutama yang ada kaitannya dengan Bissu, tentara gurilla, dan tentara Jawa. Bahkan, tentang masa lalunya yang kelam.

Mapata yang dituduh telah membelok dan akhirnya diculik menjadi resah, sampai-sampai  membuatnya berani menyangkal salah satu penculiknya. Bagi Mapata, “Pengakuan negara terhadap agama resmi adalah pengakuan yang tidak adil. Landasannya apa?” Mapata mulai mencecar, “karena agama-agama tersebut memiliki penganut terbanyak? Serendah itu ukuran mengakui eksistensi agama? Agama impor malah dibanggakan,” ia geram.

“Agama sendiri, asli Indonesia, eh dipandang sepele. Ukuran baik atau tidaknya suatu agama bukan dari jumlah penganutnya, tahu!” lanjutnya.

Mereka, tentara-tentara Jawa itu, sama saja seperti tentara gurilla, sama-sama membuat warga tidak tenang. Warga bertambah mengutuk perang. Tidak peduli siapa pun yang akan memenangkannya. Yang jelas, perang harus dihentikan. Memang,  sering terdengar kabar bahwa tentara gurilla atau tentara gerilya akan turun dari gunung dan mencari orang-orang yang dianggap menyalahi ketentuan agama.

Puang Matua Rusmi pun pernah bermimpi. Di dalam mimpi, dilihatnya orang berpesta tujuh hari tujuh malam menyambut panen padi yang berhasil. Lumbung penuh sesak dan orang-orang bergembira. Ketika pesta selesai, dilihat oleh Puang Matua Rusmi, ratusan tikus dan ayam meninggal di dalam lumbung milik warga. Bahkan, kucing penjaga lumbung juga mati tercabik-cabik.

“Tahukah kamu, Nak, makna mimpi itu?” Mapata menggeleng. Kemudian, Puang Matua Rusmi menjelaskan makna dari mimpi tersebut, yaitu orang-orang berbahagia karena hasil panen yang melimpah adalah lambang Indonesia yang baru saja merdeka. Kemerdekaan itu ibarat padi atau gabah hasil panen, Anakku. Adapun mereka yang sedang bertikai berebut kekuasaan untuk menikmati hasil kemerdekaan adalah tikus dan ayam. Kucing adalah lambang Bissu yang dianggap penjaga serta perawat dunia. Kucing juga disebut-sebut jenis binatang yang dimuliakan di langit.

Mimpi itu pun benar terjadi. Pertikaian antara tentara gurilla dan tentara Jawa serta perburuan Bissu yang dilakukan oleh tentara gurilla tak bisa dielakkan

Menjadi perantara dewa, itu artinya Bissu yang memimpin upacara-upacara sesembahan. Bissu juga memiliki ilmu kebal, dan dikenal bijak dalam berkata. Puang Matua Rusmi pernah menasehati Mapata, “Jaga ucapanmu, Nak. Kau tahu bahwa laki-laki hanya punya tiga bekal hidup di dunia, yang pertama ujung lidah untuk tutur kata kepada sesama, ujung kemaluan untuk kemampuan berketurunan, dan ujung badik untuk menegakkan harga diri.”

Bukan hanya sampulnya yang berwarna-warni, tetapi kisah di buku ini tidak kalah penuh berwarnanya. Perseteruan, sejarah, kebudayaan, cinta terlarang, serta penghianatan tersaji dalam narasi yang bagai sungai, sukses membawa pembaca dari hulu ke hilir cerita. Penulis juga mengajak kita memandang dari sisi yang berbeda dari biasanya kita gunakan pada kasus pemberontakan TII dan fenomena Bissu di Sulawesi Selatan.

Identitas buku:

Judul Buku : Tiba Sebelum Berangkat

Penulis : Faisal Oddang

Penerbit : KPG (kepustakaan populer gramedia)

Tahun Terbit  :2018

Tebal : vi + 216

sumber gambar: alagraph.com

The following two tabs change content below.

Muhammad Dirhamsyah

Kader HMI Komisariat ATIM Cabang Makassar. Mahasiswa Prodi Otomasi Sistem Permesinan (Teknik Elektro Industri) Poltek ATIM. IG: @dirhamsyah_muh

Latest posts by Muhammad Dirhamsyah (see all)

One thought on “Bissu, Gender Kelima di Sulawesi Selatan dan Kerusuhan Gurilla Melawan Tentara Jawa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *