Bonus Demografi 2020, Siapkah Kita?

Sumpah pemuda merupakan hasil rumusan para pemuda yang berkumpul dari berbagai daerah di seluruh nusantara. Sejak dulu, pemuda merupakan motor penggerak yang menancapkan tonggak–tonggak perjuangan bangsa ini. Mereka berkumpul demi satu tujuan, yaitu memerdekakan Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi 90 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928. Hasil deklarasi rumusan sumpah pemuda menjadi cikal bakal terbentuknya gerakan pemuda yang lain.

Pemuda sejatinya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Seperti yang dikatakan sang founder father Indonesia, Bung Karno pada pidatonya yang terkenal dengan istilah JAS MERAH. Dia mengatakan  “beri aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”.

Soekarno tak serta merta mengatakan hal tersebut, beliau melihat bahwa pemuda memiliki peran yang teramat penting bagi kemajuan suatu bangsa, bahwa salah satu pilar utama dalam kesuksesan suatu bangsa yaitu pemuda yang berkualitas dan berdaya saing.

Indonesia tiga tahun lagi akan memasuki era bonus demografi. Pada tahun 2020, Indonesia diprediksi mengalami fenomena langka yang hanya terjadi sekali selama berdirinya suatu bangsa. Bonus demografi yaitu masa dimana penduduk produktif (usia 15-64 tahun) lebih banyak dibanding penduduk yang tidak produktif (dibawah 15 tahun atau diatas 64 tahun).

Berdasarkan data dari BKKBN, proyeksi usia penduduk produktif pada tahun 2020 akan mencapai 180 juta jiwa, sementara penduduk yang berusia nonproduktif mengalami penurunan, hanya sekitar 60 juta jiwa. Hal ini berarti Indonesia akan mendapatkan surplus penduduk usia produktif hingga 70% dari total penduduk Indonesia atau 100 penduduk usia produktif hanya akan menanggung 44 orang nonproduktif pada tahun tersebut.

Lebih banyak penduduk berusia produktif, berarti lebih besar pula kesempatan untuk meningkatkan perekonomian negara, karena jumlah angkatan kerja lebih banyak.

Pemuda merupakan roda penggerak pembangunan dan sebagai pemegang kendali kelangsungan suatu negara. Apalagi, bonus demografi 2020 akan didominasi oleh generasi z dan milenial yang terkenal kreatif dan inovatif, serta cakap teknologi.

Namun disisi lain, bonus demografi bagaikan pedang bermata dua. Dimana bisa saja mendatangkan bonus atau malapetaka. Penduduk usia produktif  lebih banyak, sehingga angkatan kerja pun akan semakin melimpah menyebabkan persaingan akan semakin meningkat. Apabila mereka tidak berbekal skill yang mumpuni, mereka hanya akan menjadi beban bagi negara. Oleh karena itu, mulai sekarang berbagai persiapan perlu dibenahi agar di masa yang akan datang kita dapat memajukan bangsa Indonesia dan tidak menjadi beban.

Menurut menteri keuangan Sri Mulyani, ada tiga hal utama yang harus diperhatikan untuk memaksimalkan potensi pemuda menghadapi bonus demografi. Ketiga hal tersebut dikenal dengan 3E (education, employment dan engagement). Ada apa dengan ketiga perihal tersebut? Ketiganya merupakan hal utama yang dapat mendorong terciptanya generasi muda yang kreatif, inovatif, dan produktif.

Pertama yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan sarana mencetak generasi yang berkualitas. Kita sebagai generasi muda dituntut untuk menjadi generasi yang mumpuni di berbagai bidang. Pemuda yang menguasai hard skill, yaitu kemampuan untuk mengaplikasikan suatu ilmu pengetahuan dimana Indonesia sangat kekurangan, khususnya di bidang teknologi digital.

Itulah mengapa Indonesia sering kali menggunakan tenaga kerja asing, dikarenakan skill tenaga kerja Indonesia sangat tidak mumpuni. Seperti pernyataan Kemenaker, bahwa lulusan sarjana Indonesia tidak siap pakai.

Selain itu, Soft skill terkait komunikasi, critical thinking, kreativitas, kolaborasi, dan entrepreneurship juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Soft skill bagaikan batin dalam tubuh manusia yang mengontrol keberlangsungan kehidupan. Dalam hal ini terkait hard skill.

Kedua yaitu angkatan kerja. Tenaga kerja produktif di era bonus demografi sangat melimpah, oleh karenanya untuk mengantisipasi adanya pengangguran maka pemuda sekarang dituntut untuk berjiwa entrepreneur yang berdampak positif bagi masyarakat atau biasa dikenal dengan sociopreneur. Lapangan pekerjan merupakan wadah untuk mengimplementasikan skill yang diperoleh dari bangku instansi.

Selanjutnya yaitu engagement atau partisipasi. Partisipasi pemuda pada tahun 1928 untuk mendeklarasikan sumpah pemuda merupakan landasan munculnya tonggak perjuangan pemuda hingga sekarang. Peran pemuda untuk ikut serta memajukan bangsa ini, sangatlah dibutuhkan.

So, what we can do for Indonesia? Sekarang saatnya kita mengambil peran untuk memaksimalkan bonus demografi yang sudah di depan mata. Menghidupkan kembali semangat sumpah semuda melalui prestasi dan kegiatan bermanfaat. Selain itu, peran dari pemerintah juga sangat dibutuhkan sebagai otak penggerak berbagai sektor bagi kemajuan Indonesia.

Tapi, kita juga harus terus melakukan usaha yang serupa, meningkatkan skill dan terus berinovasi sesuai dengan bidang dan bakat. Kita sebagai pemuda jangan takut untuk menjadi agent of change. Bergerak bersama sebagai bagian dari perubahan, melalui kegiatan yang bermanfaat. Mari kita berpartisipasi menyongsong bonus demografi untuk Indonesia yang lebih gemilang.


sumber gambar: Hipwee.com

The following two tabs change content below.

Sinta Wastika

A 17 years old. An INTP women who attend high school In SMA Insan Cendekia Syech Yusuf. I just write what I think, I am not good writers who came from Sinjai. Just don't mind me. Read my writings instead

Latest posts by Sinta Wastika (see all)

One thought on “Bonus Demografi 2020, Siapkah Kita?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *