Butta Toa Butta Literasi (Memantik semangat dari Desa Labbo)

Tentu bagi sebagagian besar pegiat literasi sangat familiar dengan kisah Jhon Wood yang hidup di abad ini. kisah hidupnya yang sangat menginspirasi dan menggerakkan banyak orang di planet Bumi ini. Tersebutlah seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun dengan posisi mentereng di sebuah perusahaan yang mentereng pula. Dialah Jhon Wood, yang posisi terakhirnya di Microsof sebagai salah satu Direktur untuk wilayah Asia Pasifik yang berkantor di pusat keriuhan Kota Hongkong.

Kala suatu waktu di tahun 1998, dia mengambil cuti tahunannya dan berlibur ke sebuah desa terpencil di Himalaya yang akhirnya mengubah jalan hidupnya dengan sangat ekstrim. Dari pengembaraanya saat liburan itu, Ia menemui beberapa guru dan mengunjungi beberpa sekolah, menyaksikan sekolah-sekolah yang tidak memiliki buku. Dari situlah bermula perubahan itu. Setelah pulang dari berlibur Ia mengirim e-mail ke teman-temannya secara terbatas meminta buku-buku bekas untuk disumbangkan ke sekolah-sekolah di daerah terpencil yang telah dikunjunginya itu.

Alhasil lelaki penyuka traveling atawa berwisata ke daerah-daerah terpencil itu, resign dari tempatnya  kerjanya dan mendirikan sebuah organisasi nirlaba bernama Room to Read. Dari keputusannya yang ekstrim itu, hingga konon pacarnya yang hendak Ia nikahi tak lama lagi memutuskannya dan meninggalkannya. Untungnya keluarga dekatnya cukup mendukungnya sehingga beberapa tahun setelah resign dari kantornya dan memilih bekerja sebagai social worker, membiayai gerakannya dari tabungannya dan support dari keluarga dan teman-temannya, membuahkan hasil yang mengagetkannya.

Sebab, hanya beberapa tahun kemudian Room to Read mengalami perkembangan sangat pesat yang jauh dari dugaannya sendiri. Bantuan buku dan dana mengalir tiada henti ke rumah yang sementara dijadikan sebagai kantornya dan rekening lembaga nirlaba yang Ia bangun itu. Dalam usia sebelas  tahun terakhir, Room to Read, telah mendirikan perpustakaan di pelosok beberpa negeri sebanyak dua belas ribu perpustakaan. Menerbitkan lebih dari sepuluh juta buku, dengan penulis lokal dan dalam bahasa lokal pula. Mendirikan lebih dari seribu lima ratus sekolah, dan mendukung lebih dari tiga belas ribu anak perempuan untuk menyelesaikan studinya di sekolah menengah atas.

***

Suatu pagi jelang siang saya mengunjungi sahabat saya di tempat semedinya begitu Ia kerap membilangkannya. Sebuah toko buku di bilangan Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di kompleks Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Bila hendak mengunjunginya harus kusiapkan waktu yang sangat luang, sebab berbincang dengannya membutuhkan waktu yang panjang apatah lagi bila membincangkan gerakan literasi, sepertinya waktu tak pernah cukup. Begitulah, kala hari jumat itu aku kembali mengunjunginya di pagi jelang siang. Dalam perbincangan kali ini, di samping mengabari padaku tentang beberapa rumah baca baru yang dirintis kawan-kawan di beberapa Desa di Bantaeng serta geliat dan semangat gerakan literasi di Butta toa itu yang semakin moncer. Dan yang sangat specsal pertemuaku kali ini adalah, aku diberi sebuah buku yang berjudul, Literasi Dari Desa Labbo.

Hatiku berbunga-bunga menerima buku itu. Setelah kubuka-buka dan mendaras beberapa tulisan dan pengantarnya, aku semakin yakin bahwa kelak Kabupaten Bantaeng ini adalah salah satu kabupaten pemantik gerakan literasi di Indonesia dengan berbagai dinamikanya. Dan bersyukur pula bahwa kabupaten ini telah di karuniai dua pemimpin yang gayung bersambut, pemimpin muda, cerdas dan sangat peduli. Dari Nurdin Abdullah ke Ilham Azikin.

Buku Literasi Dari Desa Labbo adalah sebuah buku pemantik dari Desa Labbo yang diharapkan menularkan virusnya ke desa-desa lainnya. Substansi isinya cukup variatif. Buku itu bercerita mulai dari sejarah Desa Labbo dan dinamika pembangunannya, hingga cerita-cerita rakyat Desa Labbo itu sendiri.

Setahuku di negeri ini, baru Desa Labbo inilah yang memulai gerakan literasinya menyusun sebuah buku yang penulisnya dari warga desa itu sendiri. Gol A Gong, seorang penulis produktif di negeri ini pernah menghimpun banyak tulisan dari komunitas literasi yang dia bangun dengan judul Gempa Literasi, dari kampung untuk Nusantara dan bukunya walau cukup tebal dengan harga yang cukup “mahal” tapi tetap laris manis di pasaran.

Bedanya, adalah komunitas yang di bangun dan dirintisnya lama bersama para penulis yang relative sudah jadi, tapi Desa Labbo melahirkan penulis dari warganya yang tulen warga desa, yang relatif belum begitu lama bersentuhan dengan gerakan literasi. Semangat dan dedikasi kepala Desa dan warganya perlu diapresiasi, apatah lagi konon gerakan literasi yang dibangunnya juga menggunakan dana desa yang sedang moncer-moncernya ke seluruh desa di negeri ini, di tengah banyaknya kepala desa yang tidak tahu hendak diapakan atawa bagaimana menghabiskannya dan bermanfaat untuk pembangunan dan warga desanya, makanya tidak sedikit kepala desa saat ini yang bersoal dengan hukum karena keliru dalam menggunakan dana desanya dan berujung ke bui, entah Ia sengaja atawa tidak.

Aku juga pernah diundang ke kabupaten yang berjuluk Botta Toa ini, untuk sharing dengan kawan-kawan pegiat literasi di sana berkenaan dengan literasi dan pernak-perniknya terkhusus tentang kepenulisan. Respon dan semangat kawan-kawan di sana memang sangat hangat sebagai sebuah indikator bahwa gerakan literasi di kabupaten ini bak ketemu buku dan ruasnya. Tidak hanya warga dan generasi mudanya, tapi juga pemerintahnya sangat well come  sehingga semua stakeholder padu padan mengawalnya.

Tentu moncernya gerakan literasi di Butta Toa tidaklah terjadi secara kebetulan, tapi juga melalui proses panjang yang tidak mudah dan sederhana namun ada seorang pekerja keras yang sangat kuat keinginan dan dedikasinya. Setahuku gerakan literasi di Kabupaten Bantaeng sebagai tempat lahir dan tumpah darahnya ini telah dirintisnya sejak beberapa tahun silam. Berupaya sekuat tenaga memprtemukan dan mempersatukan ruas-ruas dan tulang-tulang yang berserakan.

Waktu akhir pekannya yang mestinya untuk keluarga dihabiskannya untuk menongkrongi dan mengawal gerakan literasi di kampungnya. Tokoh itu sahabat saya sejak mahasiswa yang aku kenal memang ulet untuk sesuatu yang ditekuninya. Kerja-kerja gerakan literasi yang ditekuninya sejak bertahun-tahun lamanya kerap pula dibilangkannya sebagai gerakan atawa kerja-kerja altruist. Gerakan sukarela yang tulus untuk kepentingan banyak orang. Semoga dengan hadirnya buku Literasi Dari Desa Labbo menjadi pemantik semakin moncer dan meluasnya gerakan literasi di Butta Toa khususnya dan tidak menutup kemungkinan merambahi kabupaten-kebupaten lainnya di Sulawesi selatan dan Indonesia.

***

Hari jumat, usai salat magrib, barulah aku meninggalkan tempat semedi sahabtaku ini. seharian duduk berdua membincangkan gerakan literasi, dari merintis taman baca baru hingga kepenulisan dan melahirkan buku baru sebagai bagian dari gerakan literasi yang kami tekuni selama ini. ketika masuk berbincang pada tema-tema kepeloporan merintis pendirian taman baca di kampung kami masing-masing, di situ tergelitik kecemburuan melandaku, sebab aku jauh tertinggal, dan sekaligus kujadikan pemicu untuk selalu bersemangat, berupaya melakukan rintisan pendirian rumah baca dan melakukan gerakan literasi di kampungku yang sebenarnya juga telah kurintsi walau hingga saat ini masih berjalan belum signifikan.

Temaram senja menemani perjalananku kembali keperaduanku. Hatiku lapang dan segudang inspirasi menemaniku pulang. Seperti itulah setiap kali usai berbincang dengan sahabatku itu. Makanya, untuk menemuinya selalu kusiapkan waktu panjang agar banyak yang bisa kuserap dalam setiap kali pertemuan itu. Di Dunia ada Jhon Wood dengan Room to Read-nya, di Jawa Barat ada Gol A Gong dengan Forum Taman Baca Masyarakat-nya , di Butta Toa dan Sulawesi Selatan ada Sulhan Yusuf dengan Bank Buku Boetta Ilmoe-nya.

***

Di ketinggian 7000 meter dpl desa-desa di Himalaya, pada sepuluh tahun berdirinya Room to Read, Jhon Wood, memboyong Ibunya tercinta, Carolyn ke desa itu untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 79, sebagai bentuk kesukuran yang selama ini mendukungnya dalam berbagai hal. Persis kala Jhon Wood membantu merintis pendirian perpustakaan sekolah di Nepal yang ke sepuluh ribu dalam tenggak waktu sepuluh tahun gerakan literasi yang dirintisnya. Ah.. indah sekali.

 

Makassar, Februari 2019.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *