Arsip Kategori: Catatan KLPI

KLPI dan Empat Bulan Berpraktik

Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa KLPI di tahun 2017 mengalami perubahan format kelas. Pertama, jika mengembalikan kepada sistem keterlibatan anggota KLPI selama ini, tidak ada aturan mengikat sama sekali yang membuat kawan-kawan harus wajib mengikuti KLPI. Kebebasan ini awalnya memang menjadi kebiasaan yang sedari awal diberlakukan dalam kelas. Semenjak KLPI dimulai dari Agustus 2015 lalu, hingga KLPI jilid dua yang mulai bergerak awal Januari 2016, tidak ada aturan-aturan wajib yang berhak mengikat siapa pun agar dapat ikut di dalam kelas menulis ini. Jadi bisa dibilang KLPI hanya digerakkan atas kebebasan mandiri. Itu artinya, kesadaran kawan-kawan sendirilah yang mendorong kawan-kawan terlibat selama ini di KLPI.

Tapi, jika ada yang disebut aturan, maka hanya ada satu aturan wajib yang harus ditaati di KLPI, dan ini abadi. Yakni setiap kawan-kawan yang ingin terlibat di KLPI, wajib membawa satu karya tulis pribadi agar dapat ikut serta di setiap pertemuan yang diadakan di setiap hari Minggu. Kadang banyak kawan-kawan yang baru pertama kali ingin bergabung menanyakan jenis tulisan seperti apa yang diterima sebagai syarat utamanya. Untuk soal yang kerap ditujukan kepada “pengurus” KLPI ini, maka jawabannya tidak ada batasan genre tulisan apa yang harus dibawa ke dalam kelas. Selama itu merupakan karya tulis, yang genrenya terbentang dari fiksi ataupun nonfiksi, maka itu sah-sah saja bagi kawan-kawan.

Imbas tidak ada aturan wajib yang mengikat keterlibatan kawan-kawan bergabung selama KLPI berlangsung, maka menjelang akhir tahun 2016 intensitas kawan-kawan mulai melempem. Salah satu indikator dari problem ini adalah beberawa kawan-kawan yang datang di kelas dengan tangan kosong. Tanpa membawa tulisan. Kedua, banyak di antara kawan-kawan yang mulai jarang mengikuti kegiatan kelas akibat memiliki kesibukkan di tempat yang lain.

Dua problem ini sebenarnya merupakan cermin memudarnya penghayatan dan totalitas keterlibatan kawan-kawan terhadap “aturan main” dan keberlangsungan kelas selama ini. Kehadiran dengan tidak membawa tulisan berarti dengan sendirinya telah mengabaikan syarat wajib yang selama ini diterapkan. Berkurangnya totalitas berarti juga berkurangnya keterarahan visi kawan-kawan terhadap kelas yang selama ini dirintis bersama-sama.

Tidak perlu diperpanjang apa sisi negatif dan dampak lanjutan bagi KLPI dari dua problem di atas. Sudah banyak catatan kelas sebelumnya yang mengulas hal itu.

Kedua, format baru bagi KLPI di tahun 2017 didorong akibat perlunya generasi lanjutan demi memperbaharui suasana dan keberlangsunga KLPI ke depannya. Alasan di balik ini tidak jauh berbeda dari beragam organisasi-organisasi yang sering kali melakukan perkaderan. Selain menambah kuantitas kawan-kawan yang akan meminati literasi sebagai kebutuhannya, juga menambah kualitas pengetahuan seiring semakin berkembangnya wacana literasi di permukaan.

Hubungan dengan alasan yang ke dua, maka alasan yang ketiga mengapa perlu ada format baru bagi KLPI, yakni jika ibarat literasi adalah agama, maka siapa pun yang meyakininya perlu mendakwahkannya. Itu sebabnya perlu ada keterlibatan sebanyak-banyaknya terhadap “agama literasi” ini. Sebagaimana dorongan ideologis mana pun, literasi harus menjadi “hantu” yang menggentayangi kesadaran siapa pun.

Itulah tiga alasan yang harus dikemukakan mengapa perlu ada perubahan format dan penyelenggaraan KLPI di tahun 2017 ini. Atas dasar ini, setelah menjalani beberapa perbincangan dan pendiskusian di hari Minggu kemarin, akhirnya diputuskan beberapa butir pokok yang harus dikerjakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pertama, berbeda dari format sebelumnya, pertemuan KLPI jilid 3 kelak hanya akan dilaksanakan selama dua pekan sekali. Pertimbanganya, di minggu pertama, bagi kawan-kawan yang hendak menuliskan karya tulisnya dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menyiapkan seluruh persiapan menulisnya mulai dari ide, sudut pandang, referensi, pendiskusian gagasan, dlsb agar dapat di tuliskan di minggu kedua.

Perubahan jadwal pertemuan ini sekaligus meredam intensitas pertemuan yang selama ini dirasa mendesak. Pertemuan sekali seminggu sudah tidak adaptabel dengan rotasi waktu yang dialami kawan-kawan akibat bertambahnya agenda lain kawan-kawan di luar KLPI.

Kedua, tempat kegiatan akan dilangsungkan di pelbagai tempat di Makassar yang dirasa sesuai dengan kesepakatan kawan-kawan. Artinya, jika selama ini pertemuan KLPI hanya dilakukan di sekretariat KLPI di Pabbentengan, maka ke depannya akan ada perubahan suasana akibat tempat pelaksanaannya yang akan berganti seiring waktu pelaksanaannya.

Ketiga, di KLPI jilid 3 hanya akan diselenggarakan selama 6 bulan belaka. Perubahan targetan ini imbas persedian “oksigen” kawan-kawan yang terbatas selama pertemuan satu tahun seperti yang telah direncakan sebelumnya. Sisi positif perubahan durasi ini akan memudahkan kawan-kawan mengevaluasi baik kemajuan maupun mundurnya targetan-targetan KLPI selama satu semester kelak.

Keempat, pokok yang paling mencolok dari format baru ini yaitu dirumuskannya delapan jalan bagi kawan-kawan untuk menempuh hidup literasi dengan “keringat dan air mata” selama di KLPI ke depannya. Delapan jalan ini kemudian diturunkan menjadi delapan materi yang akan diturunkan selama empat bulan berturut-turut dari enam bulan yang ditargetkan.

Delapan jalan yang dimaksud itu adalah: Pertama, kuliah umum Apa, Mengapa dan Apa Pentingnya Literasi bagi Kehidupan Saat Ini? Kedua, 10 Dosa Penulis Pemula. Ketiga, Klasifikasi dan Genre Tulisan. Keempat, Cara dan Pengorganisasian Ide ke Dalam Tulisan. Kelima, Teknik Kepenulisan Esai. Keenam, Teknik Kepenulisan Opini. Ketujuh, Teknik Kepenulisan Cerpen. Kedelapan, Teknik Kepenulisan Puisi.

Di samping delapan jalan wajib penempuh suluk literasi di KLPI selama enam bulan, akan ada jalan tarikat yang menjadi materi-materi khusus agar dapat menggenapi capaian makam kepenulisan siapa pun yang menempuhnya. Sebagaimana jalan tarikat di manapun, ini hanya dapat ditempuh bagi siapa pun yang serius dan ikhlas menjalani suluk literasi selama ber-KLPI.

Terakhir, delapan jalan suluk literasi akan diprogramkan selama empat bulan pertama dengan mengundang guru-guru yang telah melanglang bumi persada literasi berdasarkan spesialisasi dan tema yang sudah ditentukan. Dua bulan terakhir akan diisi dengan praktik menulis itu sendiri dengan tetap melibatkan kawan-kawan yang telah dahulu ikut di KLPI selama ini.

Hatta, mari bersyukur KLPI sudah sampai di sini. Sehormat-hormatnya bagi siapa pun yang sudah menyediakan nafasnya bagi keberlangsungan KLPI selama ini.

***

Minggu 9 April kemarin merupakan kelas terakhir yang ditujukan untuk memberikan modal teoritis kepada kawan-kawan berkenaan dengan dunia tulis menulis. Kemarin adalah pekan delapan yang sesuai target, ditutup dengan materi “Puisi dan Teknik Kepenulisannya”. Orang terakhir yang mengisinya adalah Muhary Wahyu Nurba.

Minggu depan, kelas akan dilanjutkan dengan nuansa yang berbeda. Kali ini kelas akan berkonsentrasi pada dimensi praktik kepenulisan. Itu artinya tidak ada lagi momen-momen wacana-teoritik, melainkan peralihan menjadi diskursus-praktik. Di pertemuan-pertemuan ke depannya, kawan-kawan sudah harus membawa tulisan tiap pekannya.

Jika sesuai rencana, selama 4 bulan ke depan, pertemuan di KLPI akan kembali ke format kelas sebelumnya. Yang berbeda ini hanya dilakukan selama 16 kali pertemuan. Format kelas yang dipakai selama ini menjalankan mekanismenya dengan dua model. Pertama, adalah model reading text; sesi ini adalah waktu yang diberikan kepada kawan-kawan untuk membacakan karya tulisnya. Kebiasaan selama ini, model reading text dilakukan secara bergilir sesuai kebutuhan waktu dan peserta.

Kedua, adalah menggeledah teks. Sering kali ini juga disebut moment mengintrogasi. Model ini dijalankan berdasarkan prinsip tiada penulis yang bersih dari dosa. Dengan cara menggeledah karya tulis, model ini juga akan dipakai sebagai medium kritik dan masukan bagi tulisan yang dikurasi. Di waktu ini, sebagaimana kebiasaan selama ini, juga kerap mengundang “perdebatan” alot tentang suatu soal. Kadang bagi teman-teman yang ingin “mencuri-curi” ilmu, maka di sinilah waktunya.

Syahdan, KLPI Angkatan ke-3 sudah melewati tahap pertama dari rencana program yang dilakukan selama 6 bulan lamanya. Sekarang saatnyalah kawan-kawan, terutama peserta baru, menajamkan penanya, mengencangkan otot-otot kepenulisan yang selama ini akan dibentuk melalui praktik. Baiklah, selamat menulis. Adios.

Catatan KLPI Pekan 41

Saya harus jujur, catatan ini dibuat dalam keadaan tergesa-gesa. Itupun tidak seperti biasanya. Catatan ini dibuat ketika KLPI Pekan 42 akan digelar. Tepatnya sehari sebelumnya.

Pekan 41 barangkali cermin KLPI di waktu belakangan. Di catatan sebelumnya sudah ada pembacaan tentang situasi belakangan. Catatan itu sedikitnya berusaha menggambarkan situasi kekinian KLPI.

Catatan kali ini hanya mau sedikit menyoal problem yang digelontorkan Akmal. Sebelumnya Akmal membawa tulisan berupa resensi buku Calabai. Tulisan ini sudah terbit di Kalaliterasi.com beberapa tempo lalu.

Sembari forum yang hanya diisi tiga orang membahas karya tulis yang dibawa Akmal, juga sedikit mengulas pertanyaan yang dikemukakannya.  Bagaimana memulai menulis cerpen? Bagaimana cara membuka paragraf tanpa kehilangan daya pikat bagi pembaca? Bagaimana cerpen yang baik itu? Kira-kira begitu pertanyaan Akmal.

Pertanyaan Akmal ini sebenarnya harus dijawab kawan-kawan yang sering membuat cerpen. Tepatnya seorang pengarang. Bukan kawan-kawan yang sering kali menulis esai dibanding sastra.

Tapi apa boleh dibilang, pertanyaan itu kadung dilempar Akmal. Harus ada yang menjawabnya. Setidaknya forum mempunyai sesuatu yang akan dibahas.

Ketika itu, jawaban yang diberikan kepada Akmal hanya seadanya. Barangkali tidak bernilai penting, tapi ini diambil dari pengalaman ketika seseorang menulis cerpen.

Maka jawabannya kurang lebih begini (setelah ditambah-tambahkan di waktu tulisan ini dibuat): Mengarang cerpen berarti menghidupkan peristiwa. Peristiwa itu tidak mesti merupakan peristiwa epik. Keadaan sehari-hari terdiri dari beragam peristiwa; kita bisa melihat seorang penjual sayur yang bermain judi setelah dagangannya laku di sebuah emperan, Anak muda yang berhasrat ke Jakarta untuk mendapatkan tanda tangan artis idolanya, Seorang ayah yang menjual ginjalnya untuk membelikan gadget terbaru buat anaknya, atau diproduksinya mobil canggih yang bisa menyelam di bawah air, dsb. Macam-macam. Banyak hal yang bisa menginspirasi seseorang menulis cerpennya.

Konon membuka paragraf awal cerpen harus berdasarkan common sense. Sulit rasanya membuat kalimat pembuka jika itu tidak didasarkan berdasarkan fakta nyata. Orang akan merasa itu dilebih-lebihkan. Makanya, hampir semua cerpenis mengawali cerpennya dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti. Kalimat yang dekat dengan kehidupan nyata orang banyak.

Tapi, prinsip di atas hanyalah satu prinsip. Masih banyak prinsip lain ketika kita ingin membuka cerpen dengan kalimat yang menarik minat pembaca. Misalnya, dengan menggunakan kalimat-kalimat  metafora, atau sarkas.

Peristiwa dalam cerpen sebisa mungkin peristiwa tunggal. Kita tidak ingin membuat novel yang memiliki banyak plot. Cerpen lebih sederhana  dari novel. Tapi, banyak yang bilang menulis cerpen jauh lebih sulit akibat batasannya yang minim dibanding novel.

Itulah sebabnya, tidak banyak cerpen memuat beragam peristiwa.

Satu hal yang penting, karena cerpen memuat peristiwa, bukan berarti hukum sebab akibat terlepas dari sana. Kita tidak ingin menulis suatu cerita yang tidak memiliki asal usul. Setiap tokoh setidaknya memiliki asal usul. Apalagi jika diceritakan tokoh utamanya seorang pembunuh, sebisa mungkin sebab kenapa sang tokoh utama menjadi pembunuh mesti dijelaskan.

Prinsip sebab akibat ini begitu penting karena dia mengikat dimensi waktu dalam keseluruhan cerpen. Sebab akibat menjadi semakin penting jika cerita disusun menjadi alur maju mundur, atau sebaliknya. Kita tidak ingin pembaca dibuat bingung kan, ketika berusaha memainkan laur cerita?

Cerpen disebut dinamis jika memuat konflik. Umumnya cerpen dibangun di atas konflik. Tanpa konflik cerpen menjadi hambar. Imbasnya, setiap konflik bukan kejadian tanpa sebab. Itulah mengapa konflik harus terang, apa sebabnya dan bagaimana penyelesaiannya.

Di bagian akhir cerpen, konflik biasanya diselesaikan. Entah dengan cara apa, itu tergantung penulisnya.

Terlepas dari semua itu, menulis cerpen penting memiliki imajinasi yang kuat. Cerpenis harus memiliki “otot kepengarangan.” Tanpa itu sulit menghasilkan cerita yang dahsyat.  Lantas apa itu “otot Kepengarangan?”

Otot kepengarangan hanya bisa dimiliki jika seseorang rajin berlatih. Seorang jika mau menjadi cerpenis harus banyak berlatih menulis cerpen. Kalau perlu sehari minimal memiliki satu cerpen. Seperti otot tubuh, otot kepengarangan bisa berkembang baik apabila terus dilatih.

Tapi, otot kepengarangan hanya bisa sehat jika ditunjang dengan bacaan yang kaya. Selain berlatih menulis, imajinasi harus dikembangkan dengan bacaan yang melimpah. Tulisan yang baik karena dipengaruhi bacaannya. Apabila banyak bacaan bermutu, menulislah, pasti kemungkinan besarnya tulisan Anda bermutu pula.

Terakhir bagaimana cerpen yang baik itu? Nah yang terakhir ini bisa menjadi bahan obrolan di kelas besok, pekan 42.

Sampai jumpa di pekan 42.

Catatan KLPI Pekan 40

Ini catatan KLPI ke-40. Bila mengikuti kalender kelas, Catatan KLPI sudah lebih dari 40 catatan. Tapi, kawan-kawan yang terlibat dari awal pasti tahu, Catatan KLPI baru dimulai ketika kelas sesi dua dibuka.

Ketika itu ada kebutuhan merekam perkembangan dinamika kelas dari tiap minggu. Selain mengambil catatan visual berupa foto-foto, segala hal penting yang terjadi dalam kelas mesti juga dibuatkan catatan reportasenya. Ke depan, yakin dan percaya, catatan semacam ini akan sangat berguna. Tentu sebagai alat ukur dan evaluasi.

Pekan 39 dimulai pukul tiga sore. Tidak seperti pertemuan sebelumnya yang membuka kelas lebih awal. Mengingat perkembangan kelas hanya dihadiri tidak lebih dari lima orang, akhirnya waktu yang digunakan tidak lebih banyak dari pertemuan biasanya.

Bahan kritik di titik ini, semakin sedikit waktu dibutuhkan ketika menjalankan kelas, itu berarti kualitas belajar juga semakin minim. Selain kuantitas, tidak tersedianya waktu berdampak terhadap tidak maksimalnya mekanisme kelas yang selama ini dilakukan.

Akhirnya, di pekan 40, kelas tidak menjalankan mekanisme belajar sebagaimana mestinya.

Akibat kawan-kawan tidak membawa karya tulis, pekan 39 hanya diisi beberapa pokok diskusi. Dengan diselingi obrolan ringan beragam topik mengemuka. Mulai dari kasus Ahok hingga perkembangan wacana dalam dunia maya.

Situasi di atas hakikatnya akibat berkurangnya kuantitas kawan-kawan yang selama ini ikut terlibat KLPI. Tidak dimungkiri, berkurangnya kuantitas mempengaruhi animo sebagian kawan-kawan mengikuti kelanjutan kelas tiap pekannya.

Selama ini kuantitas KLPI tidak menjadi soal yang penting. KLPI tidak mendasarkan perkembangannya kepada kuantitas. Dan itu yang terjadi selama ini. Sampai detik ini, KLPI masih terus berjalan walaupun hanya dihadiri segelintir orang. Tiap pekannya.

Namun, ketika suasana itu berlarut-larut, mesti ada yang mengajukan pertanyaan. Kenapa suasana ini dapat terjadi? Apa sebabnya?

Apabila ditelisik, situasi KLPI mengalami apa yang disebutkan dalam ilmu psikologi sebagai titik jenuh. Titik jenuh situasi ketika suatu rangkaian proses telah melewati tahap produktif. Andaikan air panas, titik jenuh, keadaan air pasca titik didih.

Titik jenuh terjadi akibat hilangnya motivasi dan konsolidasi. Imbasnya, orang yang mengalami titik jenuh merasa tidak ada ikatan terhadap aktivitas yang sering dilakukan.

Gejala ini disebabkan seseorang mengalami gangguan konsentrasi dibanding keadaan sebelumnya. Hilangnya konsentrasi berimbas seseorang kehilangan titik fokus.

KLPI bisa dibilang kelas menulis yang tidak pernah libur. Di tiap pekan KLPI terus berjalan. Andaikan kendaraan bermotor, KLPI tidak pernah berhenti melintasi jalan raya. Tanpa henti kecuali itu dibutuhkan.

Kemungkinan besar, situasi demikianlah menyebabkan KLPI mengalami titik jenuh. Berjalan terus menerus tanpa mengalami peningkatan. Hingga akhirnya kehilangan motivasi.

Tapi, seperti juga dikatakan ilmu psikologi, titik jenuh hanya bersifat sementara. Bahkan titik jenuh bagian alamiah dari suatu proses.

Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua imbas dari peralihan aktivitas sebagian kawan-kawan. Sudah semenjak sekira dua bulan belakangan aktifitas primer kawan-kawan menyita banyak perhatian. Hubungannya dengan KLPI, persediaan tenaga kawan-kawan tidak mampu lagi mengimbangi aktifitas yang sering dilakukan tiap akhir pekan.

Atau sebaliknya, KLPI bukan aktifitas yang penting lagi. Jika sebelumnya di dalam pembatinan kawan-kawan KLPI adalah aktifitas utama akhir pekan, semenjak menemukan aktifitas lain, KLPI akhirnya dianggap aktifitas nomor dua. Pembalikkan ini mungkin saja terjadi. Sangat mungkin.

Apabila ingin dianalisis lebih jauh, banyak hal bisa dikemukakan. Yang terpenting apapun persoalannya mesti cepat diatasi. Sejauh masih ada dua tiga orang yang masih mau menggerakkan KLPI.

***

Muhajir mengusulkan perlu dibuka kelas sesi ke-3. Alasannya, agar banyak kawan-kawan baru yang terlibat. Usulan ini berangkat dari pengalaman sebelumnya, KLPI sesi 2, yang saat itu banyak menarik kawan-kawan baru ikut masuk KLPI.

Ada yang sepakat, ada yang hanya memilih mengobrol dengan tema lain. Sandra Ramli lebih asyik berdiskusi dengan Hajra. Mauliah Mulkin, yang sering disapa Kak Uli, belum bergabung di dalam forum.

Menurut saya pribadi, persoalan mendasarnya bukan kondisi KLPI itu sendiri, sehingga perlu memperbaharui atmosfer kelas dengan membuka KLPI sesi 3. Melainkan situasi “di belakang” kondisi KLPI yang mesti dirangsang. Artinya, dibuka tidaknya kelas baru, tidak signifikan mengubah situasi yang dialami belakangan ini.

Situasi “di belakang” KLPI yang saya maksudkan sudah sempat disinggung di atas. Yakni, peralihan aktifitas kawan-kawan. Mesti diakui, 3 bulan belakangan, sebagian kawan-kawan mengalami perubahan aktifitas sebagaimana dialami sebelumnya.  Perubahan inilah yang mendasari ikut berubahnya masuk-tidaknya di KLPI selama ini.

Dalam istilah yang sedikit dicanggihkan, geografi waktu kawan-kawan banyak mengalami pergeseran. Kapan mengalamai waktu produktif, waktu senggang, di mana lokasi paling banyak menyita waktu, saat kapan harus istirahat, adalah jaringan siklus yang berubah selama sepekan dan berakibat bagi KLPI.

Perubahan georgrafi waktu kawan-kawan tentu berimbas pula kepada georgrafi ruang.  Maksudnya, waktu yang dialami saat beraktifitas mesti memperhitungkan ruang sebagai pertimbangannya. Atau sebaliknya, mempertimbangkan waktu saat mengalami ruang. Tentu kawan-kawan berpikir, memberlakukan waktu saat di KLPI mesti mempertimbangkan jauh tidaknya ruang mukim kawan-kawan. Semakin dekat ruang kawan-kawan terhadap KLPI, semakin besar peluang kawan-kawan ikut di dalamnya. Juga semakin banyak waktu yang dimiliki, semakin besar keikutsertaan ke dalam ruang KLPI.

Ini hanya analisis belaka. Bisa jadi yang terjadi sesungguhnya tidak demikian. banyak faktor yang ikut menentukan berjalantidaknya KLPI. Faktor prioritas, misalnya.

Akhirnya, usulan Muhajir ditangguhkan dengan mengagendakan suatu forum diskusi menghadirkan penulis buku Calabai. Sementara usulan Muhajir yang berkeinginan membuka kelas baru ditangguhkan hingga awal tahun saja. Ini, kalau tidak salah juga dikatakan Kak Uli. Lebih baik awal tahun saja.

Baiklah, sepertinya KLPI pekan 40 akan dialami sebagaimana kelas biasanya. Informasi terakhir, penulis buku Calabai tidak bisa hadir di kelas akhir pekan ini.

Sampai jumpa di KLPI pekan 41.

Catatan KLPI Pekan 39

Kelas menulis KLPI tidak seperti biasanya. Lenggang. Tapi, itu bagian dari rutinitasnya selama ini. Kadang kelas banyak kedatangan kawan-kawan, juga seringkali seperti pekan kemarin, sepi.

Bagi kawan-kawan, kondisi demikian sudah biasa. Yang berbahaya jika KLPI berhenti. Apabila KLPI berhenti, itu artinya dua hal: pertama, tujuan KLPI sudah terealisasi. Kedua, jika menulis dilarang pemerintah.

Yang pertama, barangkali keadaan yang masih jauh, bahkan utopis. Mau mengharapkan semua orang menjadi penulis. Mau mengharapkan semua orang sadar literasi. Kesannya muluk belaka. Tapi, bukankah semua tujuan harus muluk-muluk. Optimis.

Pilihan yang kedua, bukan tidak mungkin bakal terjadi. Bukankah selama ini pemerintah sering kalap jika ada warganya lapakan buku. Menggusur dengan dalih mengganggu keindahan kota.

Di Makassar, ada namanya Pasar Minggu; komunitas yang terdiri dari anak-anak muda kreatif. Berasal dari beragam kelompok dan kecenderungan, tiap pekan berkumpul berdiskusi, menjual buku, membuat handycraff, berpuisi, dsb. Tapi, belakangan mereka digusur satpol PP. Sudah pasti dengan alasan yang sama.

Di kampus UNM, beberapa lapakan buku mahasiswa dilarang beraktivitas. Informasi yang diterima, jualan dan diskusi buku itu tidak memiliki ijin. Sungguh tidak masuk akal. Aktivitas intelektual macam lapakan buku dilarang. Besok-besok ketika membawa buku di dalam kampus bisa jadi dirazia.

Jika mengamati media sosial belakangan, banyak peristiwa serupa terjadi di berbagai daerah. Ini kalau dibenarkan, secara kultural, bangsa ini akan kehilangan generasi emasnya. Secara pendidikan, tidak ada sumber daya memadai. Lima sampai sepuluh tahun ke depan, misalnya, menulis dan membaca buku, menjadi pemandangan yang aneh.

Tapi, kemungkinan kecil bakal terjadi. Tiada bangsa yang mau mengerdilkan dirinya sendiri. semua bangsa pasti ingin penduduknya maju. Dapat bersaing di kancah dunia. Termasuk Indonesia.

Itulah sebabnya, KLPI mau ambil bagian. Membuat Indonesia menjadi bangsa besar. Bangsa yang diperhitungkan, tentunya.

Pekan kemarin, sebelum kelas dimulai, sudah ada diskusi panjang menyampir banyak soal. Pertama-tama, Syarif menunjukkan puisi Danarto yang “hanya” berupa kotak panjang berjumlah tiga segi empat. Dari penjelasan buku yang dibawanya, puisi Danarto disebut puisi akibat susunan segiempat itu juga bermakna. Alasannya, jika puisi adalah juga simbol-simbol bermakna yang dibuat penyairnya, itu berarti “kotak-kotak” buatan Danarto juga pantas disebut syair.

Tapi, apakah kotak-kotak bersusun itu memang memiliki makna? Jika ada, lantas apakah maknanya? Yang pasti, puisi “kotak” yang dibuat Danarto itu memicu pertanyaan apakah puisi itu sebenarnya? Apakah puisi harus diwujudkan dalam bentuk syair, kata-kata? Jika iya, lantas bagaimanakah puisi Danarto itu? Setidaknya, puisi “kotak” Danarto menjadi jalan kembali mempertanyakan pengertian dasar soal puisi.

Diskusi juga menyampir kecenderungan esai berbasis travelling. Omongan ini akibat beberapa kawan-kawan Mapala Syarif, ingin mendokumentasikan catatan perjalanannya berupa esai. Syarif bilang, di Seram, banyak memiliki situs budaya yang melimpah. Sejarah kerajaan-kerajaan Tidore dan kerajaan di sekitarnya. Kebiasan-kebiasaan bergama masyarakat setempat. Perkampungan-perkampungan yang banyak menyimpan mitos-mitos asing. Dan juga, cerita-cerita rakyat seputar Pattimura dan rempah-rempah dari tanah adat istiadatnya.

Apa yang disebutkan Syarif banyak memberikan data-data awal jika mau menulis esai berbasis pengalaman perjalanan. Apalagi, dari tanah kelahiran Syarif, banyak hal yang ingin diketahui khalayak. Ini modal besar seperti yang banyak ditulis bloger-bloger traveling. Intinya, esai hasil pengalaman perjalan seseorang, layak dibaca khalayak akibat banyak menyimpan kisah-kisah unik.

Dari esai travelling, diskusi sebelum kelas dibuka, juga akhirnya menyebut novel Pramoedya Ananta Toer: Arus Balik. Novel sejarah yang bercerita kejatuhan Nusantara.

Omongan mau tidak mau menyebut Malaka, satu titik di timur Nusantara yang pernah menjadi daerah strategis perdagangan internasional. Kala di mana Malaka adalah pusat perdagangan dunia.

Juga, obrolan panjang menyebut sejarah kerajaan Gowa-Makassar. Terutama seorang perdana menteri yang polygot: Karaeng Pattingalloang. Nama ini disebut hanya mau mengingatkan betapa seorang intelektual cemerlang, seperti Karaeng Pattingalloang, niscaya dibutuhkan jika mau membangun peradaban panjang. Seperti kerajaan Gowa-Makassar, kerajaan-kerajaan yang pernah digdaya di masa lalu, di belakangnya pasti ditunjang dengan kekuatan intelektual. Aktifitas tulis menulis, misalnya.

Diskusi tanpa disadari harus berhenti. Wawan dan dua teman lainnya datang. Juga tak lama ikut serta Sandra Ramli. Akhirnya kelas dimulai. Muhajir membukanya.

***

Muhajir duduk menatap lekat layar laptopnya. Kami hanya berdua. Belum ada siapa-siapa. Barangkali memang hanya kami berdua yang datang. Dugaan ini agak benar. Minggu-minggu kemarin, kuantitas kawan-kawan sedikit berkurang.

Akhirnya, tiada pilihan lain. KLPI tetap berjalan. Hanya saja, kali ini aktifitasnya berbeda. Kami masing-masing memilih melanjutkan pekerjaan di layar laptop. Kalaliterasi.com belum menurunkan tulisan  hari itu.

Hajir mengatakan, redaksi Kalaliterasi.com akhir-akhir kebanjiran puisi. Esai, kalah jumlah. Lama-lama, Hajir bilang, Kala bakal diisi puisi belaka.

Itu tidak jadi soal. Selama Kala beredar di dunia maya, tulisan esai, atau bahkan cerpen tak akan ada kehabisan stok tulisan. Ingat, Kala bukan media yang memiliki target redaksi muluk-muluk. Setiap satu hari satu karya tulis itu sudah luar biasa. Yang penting konsisten.

Sebenarnya, jajaran Redaksi Kalaliterasi.com sudah cukup mengisi tulisan satu hari satu karya tulis. Tinggal diatur saja. Dan, lagi-lagi konsisten. Namun, sampai sekarang hal itu belum dilakukan.

Terlepas dari semua itu, sampai sekarang, Kalaliterasi.com masih kuat menurunkan satu karya tulis setiap hari. Entah sastra ataupun esai, ataupun genre tulisan lainnya. Walaupun jam terbitnya kadang tidak menentu. Kadang malam, pagi. Terkadang siang.

Termasuk, rubrik Unjuk Rasa yang diampu Sulhan Yusuf. Setiap akhir pekan atau awal pekan akan menjumpai kawan-kawan di lini masa FB. Namun,entah mengapa minggu ini tulisan khas yang sering ditulis Sulhan Yusuf itu tidak terbit. Mungkin ada soal, entah apa.

Namun, satu keyakinan kami, tulisan unjuk rasa Sulhan Yusuf pasti bakal muncul. Ini hanya strategi beliau menarik kerinduan pembaca setianya.

Syahdan, besok KLPI dibuka pukul tiga siang.

Catatan KLPI Pekan 31 (sekaligus Pekan 29 dan 30)

Dua pekan belakangan, catatan KLPI absen dari yang selama ini dilakukan. Sesungguhnya banyak yang bisa diceritakan, tapi apa daya jika dua pekan sebelumnya, saya sebagai penyuguh catatan ini berhalangan terlibat. Padahal, jika ketua kelas punya lain kesibukan, harapannya peran ini bisa digantikan oleh kawankawan. Namun itu tidak terjadi, walaupun pernah sekali Muhajir mengambil peran yang sama di pekan 24.

Begitu pula di dalam teknis mekanisme forum. Sudah semenjak lama jika ketua kelas tak dapat ikut terlibat, maka harus ada kesadaran dari kawankawan mau mengambil peran kepemimpinan saat menyelenggarakan kelas. Aturan ini dibuat agar tidak ada patronase di dalam KLPI. Semua berjalan karena sistem yang bekerja berdasarkan fungsi, bukan status.

Di pertemuan terakhir kemarin (pekan 31), kelas banyak belajar dari karya kawankawan yang bergenre nonfiksi. Memang belakangan, banyak di antara kawankawan yang sering menyetor tulisan bergenre cerpen. Termasuk dua kawan baru, Arni dan adiknya, Riska.

Walaupun begitu, dari tulisan Arni dan Riska, kembali memantik perbincangan soal unsurunsur intrinsik dalam karya cerpen. Seperti sudah dijelaskan dalam catatancatan sebelumnya, suatu karya cerpen disebut cerpen jika memuat setidaknya tiga unsur intrinsik di dalamnya, yakni tokoh, plot, dan konflik. Pengetahuan ini penting, setidaknya memberikan kepada kawankawan pemahaman dasar untuk mengenali jenisjenis genre di dalam karya sastra.

Hal lain turut jadi omongan adalah soal tindak verbal yang kadang masuk menyusupi tindak menulis. Banyak ditemukan dari karya kawankawan, sulit memisahkan kebiasaan ucapan verbal dengan tindak berbahasa di dalam menulis. Mesti dipahami, aturan main berbahasa baik verbal atawa tulisan punya hukumnya masingmasing. Contoh kasus bunyi bahasa “bank” untuk menyebut tempat penyimpanan uang, berbeda dengan “Bang” kalau merujuk panggilan kepada orang yang lebih tua. Walaupun bunyinya sama, tapi itu tidak berlaku ketika dituliskan.

Hal demikian juga berlaku di dalam tindak verbal masyarakat Bugis-Makassar yang memiliki ciri khas dialek tertentu. Kadang kata yang berakhiran “n”, ditambahkan “g” sebagai penekanannya. Begitu pula katakata yang tidak seharusnya ditambahkan “h” di belakangnya, justru digenapi sebagai aturan berbahasanya. Aturan main ucapan verbal semacam ini yang tanpa disengaja dan disadari, mengambil kesadaran penulis di saat menulis karyanya.

Kelas kali ini juga turut membahas karya Ilyas. Ilyas di kesempatan kemarin membawa cerpen yang sudah lama di tulisnya di medio bulan Juli. Bahkan, dari pernyataannya, cerpen bersangkutan sempat dikirim ke salah satu media cetak di Makassar, namun gagal diterbitkan. Akibatnya, Ilyas penasaran apa yang membuat karya tulisnya itu tidak dimuat dan selanjutnya membawanya ke kelas untuk didiskusikan.

Dari penelusuran bersama, ditemukan ada beberapa poin yang luput dari perhatian Ilyas. Pertama adalah ada ejaan yang kurang memerhatikan EBI. Kedua, –dan ini sifatnya subjektif, menurut saya— gaya penulisan yang dibuat Ilyas tidak seperti cerpencerpen yang sering dimuat di koran yang dimaksud. Sementara, cara membangun cerita Ilyas sering memakai tehnik memenggal yang memotong adegan demi adegan penceritaan. Konsekuensi dari gaya bercerita demikian membuat pembaca sering tidak utuh menangkap keseluruhan peristiwa yang berada di balik penceritaan narator.

Dan, yang paling utama, barangkali tema cerpen Ilyas yang kurang menyentuh aspekaspek aktual yang sering kali menjadi bagian hidup manusia. Apa yang diceritakan Ilyas adalah seorang anak kecil yang berjualan jalangkote akibat kehidupan ekonomi orang tuanya yang di bawah ratarata, memang adalah kasus yang bisa dialami banyak orang, tapi dari waktu tulisan itu hendak diterbitkan bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang sedang menjadi perhatian redaktur koran terkait. Kalau yang ini, kita mesti paham, kadang suatu karya bisa bagus, tapi redaktur desktop tempat kita tuju memiliki cara pandang yang lain.

Karya tulis terakhir yang digeledah adalah buah tangan Hasyim, seorang kawan baru. Hasyim merupakan kawan Ishak Boufakar, juga kuliah mengambil konsentrasi ilmu komunikasi. Mungkin sebab itulah, karya pertama yang dibawanya tidak jauh dari tema ilmu komunikasi. Unsur entristik inilah yang kuat mendominasi karya esai yang dibuatnya.

Seperti kawankawan sering kali mendaku ketika baru pertama kali menulis, tulisan Hasyim tidak nampak seorang yang baru pertama kali menulis. Struktur kalimatnya terukur, pun argumentasinya dibuat logis. Begitu juga tatanan bahasanya normal sebagaimana karangan esai dibuat, tidak banyak mendayudayu juga tidak nampak ilmiah. Santai menggunakan bahasa populer. Namun, seperti sering kali terjadi, juga sebagaimana kawankawan lainnya, Hasyim masih sulit menghindari kesalahan ejaan yang selayaknya dipahami sebagai kaidah berbahasa selama ini.

Pasca karya tulis Hasyim digeledah, kelas akhirnya membubarkan diri.

***

Kelas sebelumnya juga kedatangan Muhary Wahyu Nurba, sastrawan yang belakangan sedang mempersiapkan diri memerankan satu karakter di Silariang, film yang mengambil latar belakang masyarakat Bugis-Makassar.

Hasil informasi yang berhasil dikumpulkan, banyak hal yang disampaikan pengasuh kolom sastra di harian Lombok Pos ini. Termasuk bagaimana mempersiapkan karya cerpen yang baik dan mampu menembus meja redaksi media cetak. Juga, seperti apa sikap yang harus dimiliki seorang ketika mengambil kepenulisan sebagai pilihan berkarya.

Di kesempatan itu Muhary mengingatkan dua hal yang kadang diabaikan kawankawan di kelas. Pertama soal ejaan yang harus mengikuti aturan main. Apalagi, jika ada kawankawan yang ingin mengirimkan tulisan di media cetak ataupun online, hal pertama yang diperhatikan redaktur adalah ejaan. Jika satu dua paragraf ditemukan ejaan yang kacau balau, maka besar kemungkin tidak dibaca apalagi diterbitkan.

Kedua berkaitan dengan mentalitas kerja. Ini kesannya sepele tapi sesungguhnya esensil. Muhary menyebut rewriting, yang artinya menulis ulang. Maksudnya, jika kawankawan telah selesai menuliskan karya tulisnya maka jangan segansegan membaca kembali. Hal ini berfungsi sebagai mekanisme agar tulisan yang dibuat terhindar dari segala kesalahan. Dengan sendirinya, jika ini dilakukan maka mau tidak mau sang penulis akan membaca kembali tulisan yang dubuatnya dan kemudian menyusun kembali tulisan yang terdapat kesalahan di dalamnya.

Yang terakhir ini membutuhkan kesabaran di dalamnya. Artinya ini menyangkut mental kerja. Siapa yang menerapkan cara ini, setidaknya mentalitas kerjanya sudah mulai terbangun.

***

KLPI dua minggu belakangan sedang merintis website resminya. Website ini berfungsi sebagai media kolekif kawankawan yang terlibat di KLPI. Artinya, kawankawan tidak perlu ragu lagi akan ke mana karya tulis yang dibuat, Kalaliterasi siap menampungnya, dengan catatan sesuai dengan standar kurasi yang dipakai. Walaupun masih tahap perbaikan, website ini sudah beroperasi beberapa hari yang lalu.

Kalaliterasi punya desktop Catatan KLPI, tujuannya menampung tulisan yang merekam halhal penting selama kelas literasi. Catatan KLPI menjadi esai rutin tiap akhir pekan ketika kelas mulai membuka sesi ke-2 beberapa bulan yang lalu. Selama ini, pasca catatan KLPI dibuat, hanya diterbitkan via status facebook. Namun, karena website sudah mulai beroperasi, maka catatan KLPI hanya dikirimkan melalui kolom yang memang disediakan untuknya. Itu artinya Catatan KLPI tidak akan diupload dalam format status seperti sebelumnya.

Kemudian ada kolom Unjuk Rasa. Unjuk Rasa adalah ruang yang dikhususkan bagi karya tulis Sulhan Yusuf. Awalnya Unjuk Rasa hanya ditemui via cetak yang diterbitkan kelas dalam format seleberan. Tapi, semenjak website didirikan, kolom Unjuk Rasa juga menjadi salah satu dekstop khusus yang menjadi salah satu menu terdepan website kami.

Selebihnya ada kolom sastra untuk karya tulis bergenre puisi dan cerpen. Utira Literasi yang bertujuan merekam aktifitas kawankawan yang berkaitan dengan literasi, baik tulisan ataupun visual. Dan terakhir, Blog Kawangkawang yang ditautkan langsung kepada blog pribadi kawankawan.

Terakhir, perlu juga rasa terima kasih diberikan kepada Aisyah Widya Satya Ningsi (Icha), orang di belakang panggung yang membuat Kalaliterasi.com dapat dirasakan khalayak, terutama kawankawan KLPI Makassar.

Catatan KLPI Pekan 28

Sebenarnya masih banyak yang tak tahu, Agustus adalah bulan pertama Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar (KLPI Makassar). Kala itu, saat Bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, di waktu itu pula kelas pertama KLPI dimulai. 17 Agustus 2015 adalah hari yang istimewa. Hari untuk kali pertama, kelas menulis Paradigma Institute digelar. Siapa yang menyangka, siapa pula yang mengingat?

Hingga akhirnya sampai pekan kemarin, sudah banyak obrolan yang dipertukarkan, begitu pula sudah banyak tenaga yang dibuat menjadi karya tulis. Dari semua itu, sadar atau tidak, KLPI tumbuh sebagaimana hukum perkembangan, dia bisa menyusut layu, atau justru sebaliknya, menjulang tinggi dengan dahan yang makin kokoh di kedalaman.

Apa pun arah perkembangannya, yakin dan percaya, siapa pun yang pernah dan sedang terlibat, turut menggemburkan tanah di dasar permukaannya. Masingmasing kita, sedang memegang sekop dan ember, membersihkan kekhawatiran, dan turut menyiramnya dengan semangat yang entah dari mana.

Pekan 28, masingmasing datang seperti biasanya. Membawa karya tulis yang sudah dilipatgandakan. Diperbanyak dengan tujuan dialogis dan kritis. Mulai dari cerpen hingga esai. Dalam prosesnya, karya tulis yang dibawa dibincangkan, atau bahkan digeledah.

Penggeledahan karya tulis selama ini dibuat menjadi prinsip kerja akibat mau menerapkan tujuan tak ada tulisan yang bersih dari kecacatan. Ini juga untuk mengantisipasi kemungkinan berlakunya tingkatan level kepenulisan yang disinyalir bisa membuat hirarki skill kepenulisan di kelas. Makanya, dengan mau mengatakan tiada penulis bebas mendapatkan previlage, semua tulisan, entah itu dinilai canggih atau pemula, harus dianggap masih mengandung kecacatan.

Itu sebabnya, banyak yang katakan, di KLPI, semua yang terlibat dianggap sama. Dari praktek penilaian di kelas, tiada pembedaan di dalamnya. Egaliterianisme.

Penggeledahan juga sebenarnya bermaksud mau mencari motifmotif bawah sadar yang bisa jadi menyusup di dalam karya tulis seseorang. Hanya saja selama ini, dari pengalaman yang dikerjakan, tujuan ini masih diminimalisir penggunaannya.

Setidaknya ada empat motif bawah sadar yang kadang bisa merusak kejernihan suatu karya tulis. Pertama ialah heroisisme. Motif kepahlawanan, sadar atau tidak, kadang muncul ketika tulisan dibangun dengan kalimatkalimat yang mengandung unsur kebesaran di dalamnya.

Heroisisme ditandai ketika maksud dari tulisan merupakan jargonjargon yang dinyatakan lewat bahasa yang diidealisasi. Kadang, kadar kepahlawanan dapat dinilai dengan mudah ketika seseorang mampu melihat suatu karya tulis menempatkan sang penulis di dalam karya tulisnya dalam konteks kebesaran sang penulis. Dan, yang paling gampang ketika karya tulis memuat profil penulisnya dengan menyertakan sejumlah banyak capaian dari gelargelar tertentu.

Motif bawah sadar yang kedua, erat kaitannya dengan heroisisme, yakni romantisisme. Romantisisme erat gejalanya dengan herosisisme dikarenakan karya tulis yang mengandung romantisisme, adalah karya tulis yang mengagungkan masa lalu sebagai ukuran kebesarannya.

Sangat gampang menggeledah karya tulisan yang terjangkiti romantisisme. Lihat saja bagaimana sang penulis selalu menggunakan ukuran masa lalu sebagai patokan konten karya tulisannya. Kadang motif bawah sadar ini selalu menonjol dengan menggunakan katakata: “saya dahulu ketika”, “di masa saya dulu”, atau “saat saya menjadi,” dsb. Perlu diingat, romantisisme plus heroisisme, hanya berlaku jika sang penulis selalu memusatkan karya tulisannya kepada “sang aku” sebagai bagian yang diidealisasi.

Motif yang ketiga adalah melankolia. Melankolia ditunjukkan dengan suatu produk tulisan yang diliputi kemuraman, kegundahan, kemurungan, dan kepedihan yang disebabkan depresi. Motif bawah sadar ini kadang tanpa disadari begitu kuat mendominasi produk karya tulis seseorang. Akibat tekanan batin yang hebat, dan tak mampu dikontrol dengan mekanisme tertentu, malah melankolia dianggapkan beberapa penulis sebagai sarana eskapisme.

Tulisan yang melankolia, berbeda begitu tipis dengan tulisan yang mengandung unsur sastarawi di dalamnya. Satusatunya perbedaan mendasarnya adalah jika puisi, misalnya, dibangun dari sikap kontemplatif, sementara karya tulis melankolia ditulis dengan cara tergesagesa dan agresif. Yang pertama dimulai dari sikap batin, sementara yang kedua disentimentaliskan dengan suasana emotif.

Cara menggeledah tulisan yang berbau melankolia biasanya dinilai dari bahasanya yang tergesategesa. Struktur logis yang tidak aplikatif, atau bahkan tidak memiliki keterhubungan di antaranya. Banyak ditemukan, gejala ini dilihat dari penggunaan bahasa yang dirusak, atau kata yang disalahartikan dari makna dasar dan dari arti keilmuannya. Atau kadang penggunaan kata yang tidak sesuai aturan main ejaan yang disepakati.

Motif keempat adalah turunan dari motif ketiga, yakni emosionalisme. Tulisan yang emosional adalah tulisan yang meluapluap. Emosionalisme terjadi di saat sang penulis diliputi perasaan yang emosional. Banyak hal yang bisa menyebabkan emosionalisme terjadi, salah satu diantaranya adalah kesenjangan dunia pengalaman batin dengan dimensi kognitifnya. Akibatnya, defisit dimensi kognitif menyebabkan suasana emotif yang lebih banyak mempengaruhi di saat tindak bahasa dilakukan. Proses selanjutnya barang tentu mempengaruhi bagaimana ketika bahasa itu dituliskan.

Dalam pengertian lain, emosionalisme ditunjukkan dengan praktek kepenulisan yang tidak disertai proses self editing. Proses self editing yang menyertakan ketelitian dan kesabaran, dengan begitu adalah mekanisme yang diabaikan akibat ketergesagesaan di saat hendak menyelesaikan karya tulis. Padahal, di saat self editing, yang diharapkan adalah keadaan netral untuk membaca kembali karya tulis yang sementara dibuat. Sebab, hanya dalam suasana netrallah, karya tulis bisa dilihat kembali seobjektif mungkin.

Empat motif yang dikemukakan di atas, boleh jadi adalah gejala alam bawah sadar yang sekalipun tersembunyi dan tanpa disadari, tidak sepenuhnya bisa diterapkan kepada semua genre tulisan.

Puisi, misalnya, sekalipun bagian dari genre sastra, masih sulit dikatakan bahwa gejala alam bawah sadar ini menjadi bagian yang dapat dipisahkan dari segi proses kreativitas penulisannya.

Nuansa emotif yang kadang menjadi energi positif dari proses penulisan puisi, tak dapat dipungkiri berfungsi secara integral dari ruang sadar penulis di saat mengeksplorasi bahasa yang ingin dipakainya. Apalagi jenis puisi pasca modern, yang lebih banyak mengeksplorasi nuansa emotif sebagai medium, atau bahkan inti puisi itu sendiri, malah begitu membutuhkan dimensi emotif terlibat di dalam suasana praktik berbahasa penyair.

Berbeda misalnya dalam genre esai. Jenis tulisan ini, harus mampu dilahirkan menjadi karya yang tidak menyerupai puisi, atau tidak terlampau dipenuhi bobot akademis yang tinggi. Esai di dalam praktik berbahasanya, membutuhkan ruang yang lebih longgar dari bahasa akademik, dan kehatihatian yang mawas untuk tidak terjebak menyerupai bahasa puisi. Sehingga empat motif yang dikemukakan di atas lebih mudah digunakan untuk menggeledah karya tulis yang bergenre esai.

Walaupun demikian, untuk menghasilkan tulisan yang bernas, sang penulis harus memahami seberapa besar ruang sadarnya diliputi empat motif di atas. Sebab, jika tidak demikian, akan sulit menghasilkan tulisan yang jernih dan licin. Jernih dengan pernyataanpernyataan yang logis, dan licin dari kecacatan ejaan.

***

Pekan 28, kelas diakhiri menjelang pasca isya. Setelah shalat magrib berjamaah, kelas dimulai kembali setelah beberapa kawankawan yang lain telah dahulu pamit. Kelas dilanjutkan karena masih ada karya tulis kawankawan yang belum sempat dibacakan dan dibincangkan.

Hal ini dilakukan akibat selama ini banyak di antara kawankawan yang jarang diangkat menjadi perbincangan di kelas. Selain itu, alasan utamanya kelas lebih memfokuskan kepada karya tulis kawankawan yang masih baru di dalam keterlibatannya selama ini di KLPI.

Sejauh yang bisa diingat, pasca magrib, empat tulisan yang tersisa untuk dibedah. Banyak hal yang diungkapkan di dalam forum lanjutan. Salah satu di antaranya adalah cerpen bersambung yang dibawa Syarif dan Ishak. Keduanya membawa cerpen yang khas dengan nuansa lokalitas. Selama ini, sejauh cerpen yang dibuat oleh mereka berdua, senantiasa dikategorikan sebagai sastra etnik.

Dari kedua cerpen yang diulas, perbincangan menguat di sisi apakah unsur lokalitas dalam cerpen harus dilengkapi dengan katakata khas daerah yang diceritakan, atau cukup dengan menceritakan cerita yang berlatar daerah lengkap dengan budayanya yang khas. Pertanyaan ini menguat ketika forum berfokus di salah satu cerpen yang banyak memuat istilahistilah daerah di dalamnya, dan juga, seberapa pentingkah suatu istilah harus dipakai untuk menunjukkan nuansa lokalitas di dalam penceritaannya.

Dari perbincangan yang ada, hampir semua sepakat, bahwa dalam menunjukkan unsur lokalitas di dalam cerpen, dianggap perlu menyematkan katakata lokal daerah yang bersangkutan. Namun, perlu diingat, tidak semua kata daerah dapat dipakai sebagai identitas lokalitas. Tidak ketika karena hanya mau menyebut cerpen termuati unsur lokalitas, untuk menyebut “kursi” menggunakan “kadera” sebagai pengganti bahasanya.

Di dalam forum, untuk menerangkan maksud di atas, alangkah baiknya penggunaan bahasa daerah sebagai penguat cerpen berbau etnik, menggunakan istilah khas daerah yang menunjukkan ciri tertentu di dalam sebuah kebudayaan. Misalnya, istilah “kamasemase” yang dianut masyarakat Kajang di Kabupaten Bulukumba, dengan tujuan memperkenalkan adat istiadatnya yang khas.

Selain pendiskusian di atas, cerpen yang berbau etnik kuat disebut demikian jika mengisahkan gejala kebudayaan tertentu yang menjadi tradisi di dalam masyarakat tertentu. Jadi, tidak sekadar menceritakan kisah yang berlatar belakang daerah tertentu, melainkan turut memotret suatu peristiwa kebudayaan yang diangkat menjadi bagian dari cerita. Tentu ini akan jauh lebih baik, karena sastra sebenarnya adalah cermin dari kebudayaan itu sendiri.

Terakhir, walaupun tidak semua bisa diceritakan lewat tulisan ini, KLPI ditutup dengan pembacaan esai oleh Sulhan Yusuf di kala lampu tengah padam. Pembacaan ini terjadi setelah Ma’sum turut membaca puisinya seperti di saat panggungpanggung dipadamkan. Tidak jauh berbeda di saat seorang sastrawan berdiri sendirian, ketika semua pasang mata menyorotinya di atas panggung dengan segenggam kertas.
Selamat libur kawankawan. Sampai jumpa pekan depan.

Catatan KLPI Pekan 27

Puisi, sebagai genre sastra, merupakan karangan yang tidak bisa sendirinya merujuk suatu makna dengan terang. Seperti yang diungkapkan Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, mengungkapkan bahwa bahasa sastra adalah bahasa yang berpotensi mengungkap dan menyembunyikan suatu makna. Bahkan, tulis  Ignas Kleden, kedua sifat itu bisa berlaku sekaligus. Misalkan saja kata “mawar” dalam sebait puisi, bisa mengungkap makna denotasinya  sekaligus menyembunyikan makna dasarnya.

Itu sebab, bahasa puitik adalah bahasa yang bermakna polisemi, beragama makna bisa berkembang. Sampai akhirnya, makna yang berjangkar banyak itu bisa masuk ke dalam beragam pengalaman manusia.

Barangkali karena itulah, pengalaman berbahasa pembaca puisi dalam menemukan makna syair bisa beragam.

Di KLPI pekan 27, persoalan di atas tak kunjung benderang. Berawal dari puisi Ma’sum yang berjudul Perempuan, menjadi jalan masuk dari beragam soal yang dipercakapkan, semisal, apakah batasbatas antara puisi modern dan puisi lama, apakah puisi lama selalu berpusat kepada pengalaman di luar “sang Aku” penyair, berkebalikan dari puisi modern? Atau, apakah semua puisi modern selalu mengitari “sang Aku” dan membahasan pengalamanpengalaman “sang Aku” sebagai pusat syairnya? Dengan kata lain, bukankah puisi pada hakikatnya adalah bahasa “sang Aku” dari pengalaman dunia yang dibahasakan?

Yang paling banyak dipercakapkan adalah apakah puisi harus menyuarakan hal yang universal atau tidak? Ini jadi problem yang diutarakan ketika membincang kecenderungan puisi modern yang berjarak dari pengalaman banyak orang.  Asran Salam, –sejauh mengingat—mengatakan kecenderungan puisi kontemporer terhadap pengalaman eksistensial sang penyair bermasalah akibat jarang membahasakan halhal “universal” yang seharusnya menjadi perhatian penyairpenyair kontemporer.

Tapi, setidaknya menurut Bahrul Amsal, sejauh pengalaman penyair adalah “asalusul” lahirnya karya puisi, indikator “universal cum objektif”-“partikular cum subjektif” tidak relevan lagi dinilai dikarenakan dalam praktik bahasa penyair saat membuat syairnya adalah pergulatan dari keduanya. Ini seperti hubungan yang saling mengandaikan antara “Aku” dan “dunia” dalam membentuk pengalaman sang penyair.

Walaupun begitu, di forum, ada kesepakatan bahwa sesubjektif bagaimana pun puisi dari seorang penyair, akan menjadi pengalaman bersama dan beragam dari pembaca puisi akibat bahasa puisi yang bersifat metaforik.

Soal lain lain yang menarik dibahasakan dalam forum adalah apa yang diutarakan Ruslan. Ruslan, terlepas dari pembicaraan puisi modern dan puisi lama, menyatakan seorang penulis syair atau prosa, dan juga esai, harus berpihak. Keberpihakan penulis kepada suatu maksud begitu penting,  sebab dalam kaitannya dengan tanggung jawab penulis berhubungan langsung  dengan moral etik penulis itu sendiri.

Moral etik penulis dapat ditunjukkan dari seberapa besar perhatian penulis terhadap dampak pengertian karya tulis yang dibuatnya. Kadang, di antara beberapa penulis, moral etik bukanlah menjadi hal yang penting sebab bahasa yang dipakainya merupakan kepemilikan umum penafsir pasca karya tulis dibuat. Dengan kata lain, pemahaman yang lahir dari karya tulis merupakan hak pembaca dalam menafsirkannya.

Berbicara bagaimana makna pemahaman terbentuk, moral etik sang penulis kadang bersembunyi di balik “kematian sang pengarang” Roland Barthes. Dengan kematian sang pengarang, pengertian akhirnya dengan bebas ditafsirkan pembac a sesuai dengan pengalaman sang pembaca.

Walaupun demikian, ketidakberadaan penulis atas karyanya, bukan berarti menghilangkan penuh keterlibatan pengarang dalam membentuk pengertian yang sebenarnya saat penafsiran itu hadir. Maksud lain dari ini,  keberadaan sang pengarang hanyalah satu dari keberadaan pembaca yang berhak pula dalam menafsirkan sebuah karya.

Namun, yang paling penting sebenarnya adalah, bagaimana moral etik bekerja di dalam proses produksi penulisan karya tulis. Sang penulis, entah itu berupa esai, harus mempertimbangkan penggunaan bahasa yang bisa jadi tidak berperspektif humanis atau sebaliknya justru menjadi penyulut kisruh sosial.

Begitu pula, kejujuran yang bagian dari moral etik, sudah harus diperhatikan untuk menghindari praktik copy-paste yang kerap sering terjadi. Moral etik penulis, jika dituliskan dengan best practice, barang tentu akan menghasilkan karya tulis yang jernih dan licin dari kesalahan.

Sebagian kawankawan KLPI karena baru memulai menulis sebagai tradisi, dengan terus melatih diri menulis, moral etic juga hal penting yang harus terus diingat.

Moral etic juga dapat ditunjukkan dengan kemampuan penulis dalam membangun tradisi literasi. Literasi yang dipahami sebagai dua kemampuan dasar (membaca dan menulis) yang harus inklud dalam praktik berbahasa, dalam penerapannya setidaknya memperhatikan kode etik penulisan yang selama ini dipahami.

Bagi penulis pemula, moral etik yang harus pertama kali ditempuh adalah kemampuan memabaca dan memahami konteks suatu bahasa yang dituliskan. Mampu mengambil kesimpualan dalam kaitannya dengan konteks masyarakat yang sedang berlangsung. Dan, mampu memberikan solusi dari persoalan yang ditulisnya.

***

Pasca menuliskan karya tulis, jadilah editor bagi karyatulis sendiri. Begitulah pesan yang kadang dilupakan begitu saja. Padahal, tiada karya tulis yang bersih jika tidak sebelumnya menjadi editor bagi karya tulis sendiri. Ini penting, walaupun di dalamnya membutuhkan kesabaran.

Menjadi editor bagi karya sendiri susahsusah gampang. Menjadi susah, kendati karena menuntut kesabaran dan ketelitian, juga sang penulis dalam pengertian tertentu menjadi “orang lain” bagi tulisan sendiri. Dalam proses ini, sang penulis harus mengambil jarak sebelumnya untuk melihat tulisan dari luar pemikirannya sendiri.

Kesulitan menjadi “orang lain” akan mudah teratasi akibat kedekatan dengan tulisan sendiri. mengetahui sendiri apa yang dituliskan, de ngan sendirinya membuat penulis yang telah menjadi “orang lain” bebas mengutakatik karya tulisnya. Jika kesulitannya itu kadang membuat penulis merombak habis tulisannya, maka kemudahannya akibat bebas memperlakukan tulisan sendiri adalah kemampuan membangun kembali tulisan yang sebelumnya telah dirubuhkan.

***

Sebanyak duabelas orang yang kali ini mengikuti KLPI pekan 27.  Banyak diantaranya yang membawa tulisan bergenre sastra. Peristiwa ini jarang terjadi selama ini. Selama KLPI dibuka dari sekira tahun lalu, sastra menjadi genre tulisan yang pinggiran.  Namun, peralihan ini bukan penanda genre lain mengalami penurunan. Bukan pula ada genre yang lebih dominan. Peristiwa ini di anggap wajar karena kebebasan minat menulis di KLPI dikembalikan kepada kawankawan yang terlibat. Malahan ini menandakan bahwa menyangkut dinamika genre tulisan, adalah perkembangan yang dinamis.

Yang terakhir, tak baik jika perkembangan keberadaan website resmi KLPI tidak disebutkan catatan ini. Icha, seorang kawan yang pernah terlibat di KLPI (sekarang melanjutkan kuliahnya di Bogor) telah membuatkanwebsite khusus KLPI sebagaimana yang telah direncakan sebelumnya. Dari tugas mulia ini, akhirnya, kawankawan dapat mengunjungi website KLPI dengan alamat­­­________.

Sengaja alamat website KLPI belum dituliskan dikarenakan masih dalam tahapfinishing. Insyaallah, dalam waktu dekat ini, website yang bernama Kalaliterasi, sudah dapat dinikmati bersama. Kita tunggu saja perkembangannya.

Catatan KLPI Pekan 26

Kali ini KLPI didominasi oleh mukamuka baru. Sebagian di antaranya sudah saling mengenal. Sebagiannya lagi malah baru pertama kali bertatap muka. Itu sebab, di dalam forum sebagian yang belum saling mengenal, agak canggung terlibat dalam obrolan yang menjadi percakapan.

Percakapan, seperti biasanya, sering kali malah dimulai dari karya kawankawan yang dipresentasekan. Dari situ, kadang obrolan menjadi serius akibat berkembangnya sudut pandang. Misalnya, satu obrolan yang berangkat dari karya Ma’sum, seorang pemuda dari Luwu.

Ma’sum baru pertama kali mengikuti kelas menulis di Paradigma. Menurut bocoran, info yang dia dapat soal KLPI diawali dari chatingan dengan seorang penulis buku yang kerap diundang KLPI. Isi chatingannya akhirnya menuntunya agar ikut di kelas yang sering digelar tiap akhir pekan ini. Ma’sum kemudian datang. Dia membawa dua tulisan sekaligus, puisi dan sejenis cerpen.

Tulisan yang “sejenis cerpen” itulah yang jadi awal percakapan kawankawan. Dari tulisannya, Ma’sum berkisah tentang perjalan seorang anak yang tumbuh besar dari persusuan bukan ibu kandungnya selama masa menyusui. Anak itu kemudian tumbuh dewasa, dan setelahnya, dengan harapan ingin menjadi orang yang berguna, dia melanjutkan fase hidupnya untuk menempuh pendidikan jauh dari desa kelahirannya yang dikisahkan belum memiliki sarana energi listrik.

Tulisan Ma’sum tidak lebih dari selembar kertas. Tapi, isinya sedikit banyak mampu merangkum sebagian besar perjalan seorang anak dari kecil hingga dewasa. Kalau mau dibilang, tulisan itu mirip dengan bahan dasar ketika orang ingin menulis cerita yang berkembang dengan beragam alur dan lebih panjang, novel misalnya.

Ketika Ma’sum berkesempatan memberikan pendakuannya, ia hanya mengatakan bahwa yang ia lakukan hanya ingin menulis kisah seorang anak yang hidup di pelosok desa, dan kemudian akhirnya mampu melanjutkan hidupnya dengan cara berpendidikan. Begitu kirakira yang berhasil disimpul dari ucapannya. Atau dengan kata lain, Ma’sum hanya mau menulis kisah seorang anak yang ada dalam kepalanya.

Pertanyaannya akhirnya menjurus kepada apakah tulisan Ma’sum bisa disebut cerpen? Atau barangkali bisa juga disebut miniautobiografi? Disebut cerpen karena, setidaknya tulisan itu memuat kisah seorang anak, memiliki latar peristiwa, dan anak itu sendiri sebagai tokohnya.

Disebut miniautobiografi, sebab Ma’sum mendaku, kisah yang ia tuliskan itu, tiada lain merupakan kisah hidupnya sendiri. Walaupun kemudian, mungkin Ma’sum menambahkan unsurunsur rekaan di dalamnya.

Wacana pun berkembang, dari pemahaman yang dibangun dan memang pada umumnya, indikator cerpen setidaknya memuat tiga unsur. Pertama adalah adanya tokoh. Tanpa tokoh, entah itu lewat sudut pandang orang pertama, kedua, atau malah ketiga, suatu cerpen mustahil dapat mengisahkan suatu peristiwa. Yang kedua, seorang tokoh, walaupun itu fiktif, adalah subjek hidup yang memiliki latar peristiwa tertentu. Latar peristiwa inilah yang menjadi elemen kedua di mana dari situ cerita digerakkan. Tanpa latar peristiwa, cerpen malah akan menjadi kisah yang susah dipahami konteksnya.

Elemen yang terakhir adalah konflik. Hidup tidaknya cerita, dinamis tidaknya kisah, lebih banyak ditentukkan oleh konflik di dalamnya. Cerpen yang tanpa konflik, bisa jadi bacaan yang membosankan. Bahkan tidak afdol suatu cerita tanpa dibumbui konflik. Melalui konflik, seorang tokoh cerita akan menjadi hidup karena memuati aspekaspek yang dimiliki manusia seperti cinta, nilai, pandangan hidup, atau pun prinsipprinsip yang diyakini. Melalui unsurunsur inilah, kadang konflik menjadi jalan masuk untuk membentangkan perselisihan antara tokoh maupun siapasiapa yang diceritakan di cerpen yang bersangkutan.

Dari struktur penceritaan, cerpen dibangun atas tiga atau empat tahapan. Pertama, adalah tahapan pembukaan. Kedua adalah awal terjadinya konflik, ketiga puncak konflik, dan terakhir adalah penyelesaian konflik. Struktur ini dikembangkan dari plot yang menjadi aliran penceritaan, yang di dalamnya perwatakan suatu tokoh dapat ditemukan biasanya dari dialog antara tokoh atau diceritakan langsung si pembuat cerpen.

Nah, dari beberapa pengertian sebelumnya, apakah karya tulis yang dibuat Ma’sum adalah cerpen? Atau malah merupakan semacam riwayat hidup?

Sebagaimana Ma’sum, dua kawan lain juga membawa cerpen. Ilyas bahkan membawa tiga cerpen sekaligus, walaupun cuman satu yang diberikan kesempatan agar dibacakan. Cerita yang dikisahkan Ilyas, salah salah satunya adalah cerita tentang suasana pemilihan ketua organisasi di suatu kampus. Dari latar suasana yang dibangunnya, jelas sekali Ilyas mengambilnya dari tempat dia aktif berorganisasi.

Demi menjaga kerahasiaan dari yang dikisahkan, maka Ilyas menggunakan tokoh rekaan demi menyembunyikan motif yang mendasari cerpennya ditulis. Walaupun begitu, jika orangorang yang dikisahkan membaca karangan Ilyas, dapat dipastikan mampu menangkap unsur ekstrinsik yang melarbelakangi unsurunsur intrinsik (salah satunya adalah konflik yang dikisahkan) yang termuat dalam cerpennya. Judul tulisan Ilyas kalau tidak salah mengingat adalah Intrik di Volksraad.

Yang bisa dipetik dari Ilyas adalah, suatu cerita jika mau ditulis, tidak mesti repotrepot mengambil kisahkisah yang jauh dari pengalaman sendiri. Apa yang secara tidak langsung diberikan Ilyas, merupakan salah contoh bahwa kisah suatu cerpen dapat diambil dari kehidupan real, tinggal bagaiamana si pembuat cerita menyusunnya dalam alur cerita tertentu.

Pasca Ilyas, giliran Syarif yang membacakan tulisannya. Perlu diketahui, seperti pendaukuannya sendiri, Kampung Kodok, tulisan yang dibawanya, merupakan karya tulis yang baru pertama kali dibuatnya. Tapi dari bagaimana cara dia memaparkan sturuktur kalimatnya, mendedah ideide kalimat, serta runutan paragraf secara deduktif maupun sebaliknya, kelihatan bahwa Syarif merupakan pembaca buku yang aktif (Tulisan Syarif dapat dibaca di Kala edisi minggu depan).

Yang mesti disimpulkan dari Syarif, terutama bagi siapa pun yang hendak berikrar menjadikan aktifititas menulis sebagai pekerjaan rutin, maka memperbanyak dan memperbanyak bacaan adalah kunci utamanya. Melalui membaca buku, dua pembelajaran dapat ditempuh sekaligus. Pertama, dengan membaca buku, akan sendirinya membantu daya pikir menjadi logis dan sistematis. Membaca buku secara tidak langsung, akan melatih struktur pikiran dalam melihat masalah menjadi runut dan jernih.

Kedua, tiada lain tiada bukan adalah bertambahnya informasi. Beragamnya pengetahuan yang diterima otak, secara biologis tentu akan menyehatkan organ otak. Secara mental, bermacammacam informasi yang masuk secara berlahanlahan membentuk suatu cara pandang dalam menilai suatu kasus. Bahkan, dengan membaca buku, sang pembaca akan banyak menerima beragam sudut pandang yang bisa membawanya pada pandangan yang objektif.

Persoalan lain yang turut dipercakapkan adalah apa beda esai dan opini. Banyak pandangan bermunculan dalam rangka melihat dua jenis tulisan yang kerap dipandang sama ini. Bila ditilik dari buku Inilah Esai, karangan Muhiddin M. Dahlan, esai adalah genre yang bermain diantara dua belahan puisi dan tulisan ilmiah. Esai, yang dalam pengertian umumnya adalah tulisan yang memuat suatu kasus dengan cara pandang tertentu, dalam buku Muhiddin M. Dahlan, seringkali mengandung unsur subjektif dan objektif sekaligus. Esai mengandung unsur intristik karena memuat sudut pandang tertentu dari penulis, dan objektif karena membangun argumentasi yang dipakai dengan cara ilmiah. Esai dalam hal ini terlalu subjektif akan menjadi semacam puisi, dan terlalu objektif akan ebih mirip tulisan ilmiah di forumforum resmi.

Sementara opini, dilihat dari bentuk dan gayanya, tidak jauh berbeda dengan esai. Ada pandangan di dalam forum yang menyebut tulisan jenis opini pada dasarnya adalah esai itu sendiri. Hanya saja diakibatkan dalam konteks penerbitan media massa, esai yang diterbitkan mewakili pandangan umum, maka disebut opini. Itu sebab, dalam perkembangan media massa, tulisantulisan yang masuk mewakili pandangan orang banyak terhadap masalah yang sedang mencuat ditaruh di desktop (kolom) opini.

Pandangan tentang opini berbeda dengan esai, selain karena ditentukan oleh penerbitan media massa, juga dipengaruhi banyaknya kalangan profesional yang menjadi kontributor kolom yang memang disediakan untuk masyarakat. Karena kebanyakan tulisantulisan yang masuk adalah kalangan profesional, maka dengan sendirinya mempengaruhi model dan gaya penulisan itu sendiri.

Akibatnya, gaya yang dipakai adalah jenis bahasa yang mewakili bahasa umum tanpa menghilangkan unsurunsur seperti ketika karya ilmiah dituliskan. Dari situ maka lahirlah jenis tulisan yang kerap dikenal sebagai gaya tulisan ilmiah populer. Disebut ilmiah karena tulisan sering kali menggunakan perspektif keilmiahan, disebut populer karena diperuntukkan kepada semua kalangan dengan bahasa yang lebih ringan.

Sebanyak limabelas orang terlibat di KLPI pekan 26. Kehadiran mukamuka baru sedikitnya bakal membutuhkan keterlibatan kawankawan yang lebih lama berkecimpung di kelas selama ini. Dengan tujuan agar ada pemahamanpemahaman soal tulismenulis yang dapat dipertukarkan, juga bisa langsung menceritakan pengalamanpengalamannya terkait proses kreatif saat mengerjakan satu karya tulis. Alhasil jika demikian adanya, maka emansipasi pengetahuan yang selama ini menjadi prinsip KLPI, cepat atau lambat akan memberikan hasil yang lebih memuaskan.

***
Kelas literasi Paradigma Institute, selonggar apa pun cara bekerjanya, tidak lepas dari penyelenggaraan yang mesti memerhatikan beberapa aturan yang telah disepakati. Hanya dua yang ingin ditekankan kali ini. Yang pertama adalah keharusan kawankawan memiliki pertofolio yang berfungsi sebagai perpusatakaan arsip. Kehadiran pertofolio ini, semenjak awal difungsikan selain sebagai arsip pribadi, juga menjadi catatan rekaman keterlibatan kawankawan selama di KLPI. Dari tulisantulisan yang disimpan di dalamnya, maka suatu saat akan menjadi bahan evaluasi dalam rangka menilai sejauh mana perkembangan kemampuan menulis kawankawan selama perminggunya.

Kedua adalah absen. Absen penting dikarenakan menyimpan datadata siapasiapa yang hadir setiap pekannya. Tugasnya sederhana, hanya mau melihat seberapa jauh kawankawan timbul tenggelam selama ber-KLPI. Yang malang dalam pertemuan kali ini, buku absen yang selama ini dipakai tercecer entah ke mana? Ada yang melihatnya?

Catatan KLPI Pekan 23

Kelas literasi PI sudah mulai dibuka. Kemarin, 31 Juli menjadi hari pertama setelah libur panjang pasca ramadan. Pekan kemarin adalah pekan 23 setelah kelas menulis PI babak 2 dimulai awal 2016. Tak dirasa sudah setengah tahun kelas PI berjalan. Alhamdulillah.

Seperti biasanya, setiap pertemuan, kelas menulis PI merilis catatan kecil buat dijadikan semacam laporan kegiatan. Kali ini catatan ini hanya mau kembali mengingatkan, hanya mau kembali menyapa kawankawan yang terbiasa dengan catatan seperti ini.

Agak susah bagi rutinitas yang berulang dijalankan mau terus dipacu jika sempat terhenti beberapa waktu. Kelas menulis PI sempat libur hampir sebulan lebih. Artinya, bisa saja spirit yang sudah berada pada kecepatan penuh tak bisa kembali ke jalur normal jika sebelumnya kelas menulis PI sempat “terhenti”. Butuh daya dorong besar untuk memulainya kembali.

Walaupun begitu komitmen yang semula sudah ditanam tidak mesti dibuat berhenti belaka. Kelas menulis PI punya niat bagi sesiapa pun yang terlibat bakal jadi penulis terlatih.

Dari awal kelas menulis PI menasbihkan dari rahimnya, akan lahir penulispenulis bertalenta. Penulis yang cakap dan mapan. Itu sebab gerbong KLPI harus terus didorong ke depan sejauhjauhnya.

Kabar baik selama ini dari rahim mungil KLPI sudah ada penulispenulis pemula yang berani bermunculan. Di catatan ini tak perlu dituliskan satusatu namanya. Biarlah karya mereka yang berbicara. Bukankah lewat tulisan suatu pernyataan dinyatakan. Prinsip ini hampir semua kawankawan KLPI tahu.

Visi sederhana KLPI di atas selama ini diterjemahkan dengan misi, bahwa setiap yang terlibat harus punya karya tulis tiap pekan. Ini sudah rutin jadi makanan kawankawan. Misi ini sejauhjauhnya berarti kawankawan nanti punya bundelan tulisan masingmasing. Kongkritnya, kalau mau itu bisa jadi buku di akhir tahun kelak.

Imajinasi semacam itulah yang terus dikembangkan KLPI. Setiap orang satu buku. Ini dilakukan hanya dengan cara setiap yang terlibat “wajib” menyetor satu karya tulis di tiap pertemuan. Tidak ada cara lain. Hanya itu.

Makanya, bagi pendatang baru, hal pertama yang harus diketahui adalah aturan main di atas. Jika tidak kawankawan diberikan kesempatan buat nimbrung selama tiga pekan untuk belajar bersama walaupun minus tulisan. Ini sudah seringkali dialami sebagian kawankawan. Dan, berhasil. Pekan keempat mereka sudah bisa bawa tulisan karya pribadi yang genuine.

Cara kerja KLPI hanya dua sesi. Pertama, setiap karya tulis berhak dipresentasekan penulisnya. Di momen ini dengan leluasa setiap penulis bisa dengan senang hati menceritakan seluk beluk tulisannya, mulai dari proses produksi sampai konten tulisan. Dari ide yang masih berkelabat sampai karya tulis yang menjadi rapi.

Kedua, sesi kritik. Di sesi ini yang bekerja dengan pendirian tiada tulisan yang bersih dari dosa. Tiada tulisan yang licin tanpa cela. Sesiapa pun tidak lolos dari prinsip ini. Aturan ini berlaku universal kepada siapa pun, baik yang amatir maupun yang sudah expert. Semuanya sama.

Kadang sesi kritik jadi tegang akibat aura mahkamah yang dibuatbuat serius. Tidak ada mainmain di sesi ini. Jika salah maka salahlah dia. Jika benar maka jadi contohlah dia. Tapi, semua samasama tahu, betapa pun seriusnya sesi ini, selalu ada halhal yang bakal membuat encer forum. Itu sebab, sesi ini tak berat dijalani, akhirnya.

Pekan 23 KLPI kemarin, kawankawan kedatangan Muhary Wahyu Nurba. Sosok yang sarat pengalaman dunia literasi. Di Paradigma Institute, kanda Muhary bukan sosok asing. Dia pernah lama bekerja sama dengan orangorang PI, bahkan menjadi bagian dari PI. Sekarang beliau berdomisili di NTB, mengasuh satu harian surat kabar di sana.

Pertemuan kemarin banyak hal yang disharing Muhary. Beliau cakap menyampaikan pengalaman dan ilmu seputar literasi. Suasana jadi semakin akrab karena di forum tiada sekat, yang ada malah sebaliknya, kawankawan bebas berdiskusi dan mengajukan pertanyaan sebanyakbanyaknya.

Yang esensil dari penuturan Muhary, barangsiapa hendak menjadi penulis maka kenalilah dirimu sebelumnya. Tiada penulis baik sebelum mengetahui siapa dirinya.

Prinsip ini begitu penting sekira akan menentukan orisinalitas karya tulis. Banyak kasus penulis yang gagal di tahap ini. Akibatnya, karya tulisnya adalah cermin diri yang suka membeo karya tulis orang lain.

Juga, tugas penulis yang baik, sepenuturan Muhary, adalah menelurkan karya yang baik. Pengalamannya selama mengasuh Lombok Pos, bukan nama yang jadi ukuran bila memilih tulisan layak terbit, melainkan karya tulis yang baik.

Tanggung jawab penulis intinya hanya satu, melahirkan karya tulis yang baik, di mana pun itu, sampai kapan pun.

Pekan 23 KLPI kemarin juga merupakan sejenis halal bi halal. Tradisi yang cuma ada di Indonesia. Sekaligus juga ajang silaturahmi pasca libur ramadan.

Harapan kawankawan pertemuan ini bisa jadi pemanasan buat pekan depan. Dengan membuat simpul kembali, energi yang sempat terpecahpecah bisa pulih dengan silaturahmi. Bukankah umur panjang hanya bisa lewat ajang silaturahmi?

Begitulah catatan ini dibuat. Pertama, sebagai ajang pengingat, yang kedua menjadi tali simpul yang mengikat kembali semangat dan harapan KLPI. Juga siapa tahu bermanfaat buat kawankawan yang belum sempat dan sudah pernah menginjakan kaki di KLPI Makassar. Untuk bersilaturahmi belaka, hanya itu.

Selamat beraktivitas kembali KLPI Makassar.

 

 

Catatan KLPI Pekan 14

Orangorang berkumpul hanya ingin banyak berbicara, orangorang menepi hanya untuk menulis. 

Suatu tindakan harus dimulai dengan satu kemauan, sekaligus karena itu di baliknya perlu ada seribu kesabaran.

Kelas literasi PI, awalnya bukan mau menyoal jumlah. Pertama kali dirintis, kalau tidak salah ingat, kelas dibangun berdasarkan visi gerakan. Sementara logika gerakan bukan mengutamakan jumlah. Itulah sebabnya KLPI menaruh utama pada niat. Kemauan. Karena itu semua kawankawan mesti tahu, kunci gerakan satusatunya adalah niat mau memikul visi. Makanya, sampai hari ini KLPI belum mau membikin barisan massa. Yang jadi tujuan orangorang yang mau belajar. Yang mau menerima visi literasi. Cukup itu saja.

Jumlah kadang membuat soal. Karena perkara jumlah kadang suatu niat jadi matematis. Dan apabila suatu maksud jadi matematis, kadang di situ suatu harap berubah untung rugi. Bicara gerakan kami sudah mewanti dari awal, yang mendasar merupakan kesabaran. Yang bikin gerakan nampak istikomah karena mau bersetia. Ini prinsip kedua; setia pada visi.

***

Akhir pekan ini hari yang sibuk. Hampir sebagian kawankawan punya tugas masingmasing. Juga ada yang mengalami gangguan kesehatan. Apa boleh dikata biar minim kelas mau tak mau harus terus berjalan.

Di kelas seperti biasa selalu ada tema yang jadi bahan omongan. Kali ini menyoal kebiasaan buruk saat mahasiswa hendak ujian meja; parsel. Agaknya ini memang sudah jadi tradisi. Akibatnya, tak banyak yang mau menggubris. Padahal, jika mau menelisik masuk ke dalam soal, kebiasaan ini nyatanya bikin banyak mahasiswa resah. Sumber keresahan pertama, pasal biaya. Informasi yang beredar kalau mau setor parsel harus macammacam isinya. Ari bilang bahkan sampai gula pasir jadi isinya. Karena itulah banyak fulus harus dikeluarkan jika menyediakan satu parsel. Masalah makin berat kalau parsel disediakan buat empat sampai lima orang dosen. Jadi masingmasing punya satu parsel buat dibawa pulang.

Kedua, parsel yang dibeli mahal itu katanya sudah dijatah. Ini yang bikin sesak. Cerita yang berkembang karena banyaknya mahasiswa ujian tiap periode waktu tertentu, biar tidak bosan, parsel dijatah model dan isinya. Contoh, jika ada ujian hari pertama bawa parcel berisi ratarata makanan manismanis, besok kalau bisa bawa jenis paganan yang harus berbeda. Bahkan urusan nasi kotak, kalau bisa jangan ituitu saja. Misalnya sering pakai jatah Wong Solo, besokbesok seleranya kepingin nasi padang misalnya.

Dengardengar, pasal ketiga yang bikin miris, kebiasaan ini akhirnya menciptakan lapangan kerja baru. Hanya karena kebiasaan ini jadi ramai akibat masingmasing jurusan jadikan ajang saing parsel, di situ timbul hasrat ekonomi. Makanya pasar tercipta dengan terbentuknya semacam penyedia parcel mirip kathering makanan. Katanya, kalau informasi ini valid, usaha ini dilakukan ibuibu pegawai fakultas. Nampaknya, kali ini hukum ekonomi tercipta: pasar selalu tercipta seiring kebutuhan manusia.

Yang terakhir, parsel akhirnya jadi prasyarat ujian. Padahal tak ada aturan manapun yang mengharuskan bawa parsel. Malangnya akibat sudah kebiasaan, walaupun tak ada aturan, cara ini bekerja berdasarkan konsensus antara mahasiswa dan dosen bersangkutan. Ini terjadi akibat proses sosialisasi yang kemudian terinternalisasi menjadi nilai asupan. Peter L Berger bilang, kemudian proses lanjutan dari model semacam itu akhirnya terinsititusikan dengan caracara tertentu. Sosiolog ini menegaskan, apabila sudah terinstitusikan maka pasti ada proses legitimasi yang menopang keadaan baru yang terterima begitu saja. Ini dibilangnya sebagai bagaimana kenyataan sosial itu terbentuk.

Artinya kebiasaan ini bukan tanpa sebab. Hasil omongan kemarin, asalusul tradisi ini dimulai kisaran tahun 2009 atau 2010. Hitunganhitungannya, jika kuliah dianggap normal dihabiskan selama 4 sampai 5 tahun, maka kebiasaan ini dilakukan mahasiswa angkatan 2004 atau 2005. Ini baru analisis sederhana. Namun, coba tebak, tradisi apa yang melatarbelakangi jika di tahuntahun itu kebiasaan ini bermula? Situasi akademik macam apa yang memungkinkan perilaku macam demikian terjadi?

Sebenarnya, banyak juga dosen yang tidak sepakat soal itu. Cuman secara politik dosendosen yang menolak kalah dominan jika bicara pengaruh. Akibatnya, walaupun katanya sudah ada pelarangan secara lisan dari pimpinan kampus, tetap saja kalau perilaku itu tetap dijalankan. Kalau bicara benar salah, dosen yang menolak sudah benar. Itu niat yang memang diharapkan. Tapi bicara sikap belum tentu, soalnya apa daya jika pernyataan lisan berkata tolak tapi tidak ada tindakan nyata meminimalisir kebiasaan buruk parsel.

Ini perlu sikap nyata soalnya parsel bisa jadi saluran kepentingan busuk. Kadang parsel diungkapkan sebagai bentuk terimakasih kepada dosen karena sudah meluangkan waktu buat bimbingan. Itu barangkali bisa diterima. Tapi, bagaimana jika niatnya bukan soal itu, melainkan usaha membikin urusan beres. Kalau begini, parsel terhitung gratifikasi. Akibatnya, parsel merusak hubungan objektif dari segi penilaian, sehingga siapa paling “ramai” parselnya maka kemungkinan besar dia bisa dapat nilai tinggi. Bayangkan praktek suap seperti ini ternyata dimulai dari institusi pendidikan. Gawat.

Kadang pula parcel dihitung sebagai honorarium penguji saat ujian. Pertanyaannya, kemana pembagian pembiayaan buat dosen pembimbing yang sudah diatur sebelumnya. Bukankah semua itu sudah disusun jadi bagian pendapatan dosen. Apalagi, bimbingan dan pengujian penyelesaian sudah merupakan tugas dosen di kampus. Artinya tidak perlu lagi biayabiayaan kalau mau membimbing atau menguji. Itu sudah punya anggaran khususnya dari pihak fakultas atau universitas.

Masalah di atas kalau mau diteruskan maka juga melibatkan urusan manajemen keuangan kampus. Apakah selama ini soal anggaran bimbingan tidak punya anggaran? Kalau ada, apa soal sampai tidak diberikan kepada dosen yang punya hak. Lantas kemana uang selama ini yang dipakai atas sumbangan pembiayaan pendidikan yang berjuta itu? Janganjangan ada penggelapan anggaran dari mekanisme yang tidak transparan?

Obrolan ini akhirnya jadi panjang. Mulai dari kasus parsel tak disangkasangka sampai menyinggung soal mekanisme penyelenggaraan pendidikan, menyitir soal kebijakan institusi kampus, bahkan sikap intelektual dosendosen. Nampaknya jika diteruskan soal perbincangan kemarin bisa banyak membuka soalsoal laten yang tersembunyi saat ini. Tapi, ada tulisan yang harus pula dibahas.

***

Kalau tidak ada aral melintang, di waktu ke depan ada perencanaan mengundang seorang penulis novel ke KLPI. Ini belum jadi informasi umum, tapi kemarin sempat disinggung bahwa agaknya perlu memberikan semacam asupan materi yang berkaitan dengan penulisan fiksi. Pertimbangan ini didasarkan karena tiga pekan belakangan kecenderungan tulisan banyak menyentuh jenis tulisan bergenre sastra. Selain itu, ini bisa menjadi faktor pendorong agar kelas menemukan energi baru untuk merefresh suasana kelas yang agak menurun.

Kiwari, menulis akhirnya jadi pekerjaan yang menuntut perhatian lebih dari biasanya. Bagi kawankawan, ini merupakan satu level yang menjadi tantangan. Tantangan pertamanya, untuk menulis satu karya maka perlu menemukan waktu luang yang mampu dipakai semaksimal mungkin. Waktu, dengan beragam kesibukan kawankawan, akhirnya harus lebih diatur berdasarkan daftar kegiatan yang sudah disusun.

Tantangan kedua soal perhatian. Tak bisa dipungkiri setiap orang punya kesibukan sehingga akibatnya menuntut beragam perhatian. Menulis sebagai suatu pilihan juga mesti diberikan perhatian khusus jika sudah menjadi agenda rutin. Orangorang yang serius mau belajar menulis setidaknya pasti punya perhatian lebih jika ingin menelurkan satu karya tulis. Dengan kata lain, tanpa mengenyampingkan tugastugas lainnya, penulis memang harus punya karya tulis. Itulah sebabnya setiap minggu KLPI dibuka buat melihat seberapa jauhkah karya tulis kawankawan diproduksi.

Sampai di sini KLPI harus kembali membangun target baru. Atau kembali mengevaluasi targettarget yang selama ini dipakai. Ini mesti dilakukan untuk memperbaharui penilaian di kondisi yang terbaru. Apaapa yang telah tercapai di dua bulan terakhir, apaapa yang belum sempat terealisasi, bagaimanakah tulisantulisan yang masuk, apakah ada kemajuan kualitas tullisan atau justru stagnan. Atau bagaimanakah pendekatan penilaian yang seharusnya dipakai. Juga termasuk, siapasiapa yang masih komitmen dengan KLPI. Yang terakhir ini agak ideologis, jadi anggap saja KLPI masuk kategori siaga tiga.

***

Kala kemarin menurunkan dua tulisan yang bisa dibilang tidak fresh. Penyebabnya meja redaksi kadang kosong dari tulisan kawankawan. Selain tulisan Sulhan Yusuf yang tiap minggu masuk, Kala dua terbitan terakhir mengambil tulisan dari dua blog anggota KLPI. Ini tidak sehat apabila mau menjunjung etika jurnalisme terutama soal tulisan yang harus up to date. Namun, keuntungannya Kala bukan jenis media macam begitu, sehingga bebasbebas saja mencaplok tulisan yang beredar di seputaran dunia maya kawankawan.

Waima, setidaknya ada perhatian soal keberlangsungan Kala dengan menyisihkan satu dua tulisan. Akan jauh lebih baik jika itu dikhususkan buat Kala. Hitunghitung Kala bisa menerbitkan tulisan yang terbaru. Juga, setidaknya bisa memberikan pengetahuan baru buat pembaca Kala di tiap pekannya. Terakhir, alangkah baiknya kawankawan bisa jadi corong Kala beredar di kampuskampus.