Arsip Kategori: Catatan KLPI

KLPI dan Empat Bulan Berpraktik

Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa KLPI di tahun 2017 mengalami perubahan format kelas. Pertama, jika mengembalikan kepada sistem keterlibatan anggota KLPI selama ini, tidak ada aturan mengikat sama sekali yang membuat kawan-kawan harus wajib mengikuti KLPI. Kebebasan ini awalnya memang menjadi kebiasaan yang sedari awal diberlakukan dalam kelas. Semenjak KLPI dimulai dari Agustus 2015 lalu, hingga KLPI jilid dua yang mulai bergerak awal Januari 2016, tidak ada aturan-aturan wajib yang berhak mengikat siapa pun agar dapat ikut di dalam kelas menulis ini. Jadi bisa dibilang KLPI hanya digerakkan atas kebebasan mandiri. Itu artinya, kesadaran kawan-kawan sendirilah yang mendorong kawan-kawan terlibat selama ini di KLPI. read more

Catatan KLPI Pekan 41

Saya harus jujur, catatan ini dibuat dalam keadaan tergesa-gesa. Itupun tidak seperti biasanya. Catatan ini dibuat ketika KLPI Pekan 42 akan digelar. Tepatnya sehari sebelumnya.

Pekan 41 barangkali cermin KLPI di waktu belakangan. Di catatan sebelumnya sudah ada pembacaan tentang situasi belakangan. Catatan itu sedikitnya berusaha menggambarkan situasi kekinian KLPI.

Catatan kali ini hanya mau sedikit menyoal problem yang digelontorkan Akmal. Sebelumnya Akmal membawa tulisan berupa resensi buku Calabai. Tulisan ini sudah terbit di Kalaliterasi.com beberapa tempo lalu. read more

Catatan KLPI Pekan 40

Ini catatan KLPI ke-40. Bila mengikuti kalender kelas, Catatan KLPI sudah lebih dari 40 catatan. Tapi, kawan-kawan yang terlibat dari awal pasti tahu, Catatan KLPI baru dimulai ketika kelas sesi dua dibuka.

Ketika itu ada kebutuhan merekam perkembangan dinamika kelas dari tiap minggu. Selain mengambil catatan visual berupa foto-foto, segala hal penting yang terjadi dalam kelas mesti juga dibuatkan catatan reportasenya. Ke depan, yakin dan percaya, catatan semacam ini akan sangat berguna. Tentu sebagai alat ukur dan evaluasi. read more

Catatan KLPI Pekan 39

Kelas menulis KLPI tidak seperti biasanya. Lenggang. Tapi, itu bagian dari rutinitasnya selama ini. Kadang kelas banyak kedatangan kawan-kawan, juga seringkali seperti pekan kemarin, sepi.

Bagi kawan-kawan, kondisi demikian sudah biasa. Yang berbahaya jika KLPI berhenti. Apabila KLPI berhenti, itu artinya dua hal: pertama, tujuan KLPI sudah terealisasi. Kedua, jika menulis dilarang pemerintah.

Yang pertama, barangkali keadaan yang masih jauh, bahkan utopis. Mau mengharapkan semua orang menjadi penulis. Mau mengharapkan semua orang sadar literasi. Kesannya muluk belaka. Tapi, bukankah semua tujuan harus muluk-muluk. Optimis. read more

Catatan KLPI Pekan 31 (sekaligus Pekan 29 dan 30)

Dua pekan belakangan, catatan KLPI absen dari yang selama ini dilakukan. Sesungguhnya banyak yang bisa diceritakan, tapi apa daya jika dua pekan sebelumnya, saya sebagai penyuguh catatan ini berhalangan terlibat. Padahal, jika ketua kelas punya lain kesibukan, harapannya peran ini bisa digantikan oleh kawankawan. Namun itu tidak terjadi, walaupun pernah sekali Muhajir mengambil peran yang sama di pekan 24.

Begitu pula di dalam teknis mekanisme forum. Sudah semenjak lama jika ketua kelas tak dapat ikut terlibat, maka harus ada kesadaran dari kawankawan mau mengambil peran kepemimpinan saat menyelenggarakan kelas. Aturan ini dibuat agar tidak ada patronase di dalam KLPI. Semua berjalan karena sistem yang bekerja berdasarkan fungsi, bukan status. read more

Catatan KLPI Pekan 28

Sebenarnya masih banyak yang tak tahu, Agustus adalah bulan pertama Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar (KLPI Makassar). Kala itu, saat Bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, di waktu itu pula kelas pertama KLPI dimulai. 17 Agustus 2015 adalah hari yang istimewa. Hari untuk kali pertama, kelas menulis Paradigma Institute digelar. Siapa yang menyangka, siapa pula yang mengingat?

Hingga akhirnya sampai pekan kemarin, sudah banyak obrolan yang dipertukarkan, begitu pula sudah banyak tenaga yang dibuat menjadi karya tulis. Dari semua itu, sadar atau tidak, KLPI tumbuh sebagaimana hukum perkembangan, dia bisa menyusut layu, atau justru sebaliknya, menjulang tinggi dengan dahan yang makin kokoh di kedalaman. read more

Catatan KLPI Pekan 27

Puisi, sebagai genre sastra, merupakan karangan yang tidak bisa sendirinya merujuk suatu makna dengan terang. Seperti yang diungkapkan Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, mengungkapkan bahwa bahasa sastra adalah bahasa yang berpotensi mengungkap dan menyembunyikan suatu makna. Bahkan, tulis  Ignas Kleden, kedua sifat itu bisa berlaku sekaligus. Misalkan saja kata “mawar” dalam sebait puisi, bisa mengungkap makna denotasinya  sekaligus menyembunyikan makna dasarnya.

Itu sebab, bahasa puitik adalah bahasa yang bermakna polisemi, beragama makna bisa berkembang. Sampai akhirnya, makna yang berjangkar banyak itu bisa masuk ke dalam beragam pengalaman manusia. read more

Catatan KLPI Pekan 26

Kali ini KLPI didominasi oleh mukamuka baru. Sebagian di antaranya sudah saling mengenal. Sebagiannya lagi malah baru pertama kali bertatap muka. Itu sebab, di dalam forum sebagian yang belum saling mengenal, agak canggung terlibat dalam obrolan yang menjadi percakapan.

Percakapan, seperti biasanya, sering kali malah dimulai dari karya kawankawan yang dipresentasekan. Dari situ, kadang obrolan menjadi serius akibat berkembangnya sudut pandang. Misalnya, satu obrolan yang berangkat dari karya Ma’sum, seorang pemuda dari Luwu. read more

Catatan KLPI Pekan 23

Kelas literasi PI sudah mulai dibuka. Kemarin, 31 Juli menjadi hari pertama setelah libur panjang pasca ramadan. Pekan kemarin adalah pekan 23 setelah kelas menulis PI babak 2 dimulai awal 2016. Tak dirasa sudah setengah tahun kelas PI berjalan. Alhamdulillah.

Seperti biasanya, setiap pertemuan, kelas menulis PI merilis catatan kecil buat dijadikan semacam laporan kegiatan. Kali ini catatan ini hanya mau kembali mengingatkan, hanya mau kembali menyapa kawankawan yang terbiasa dengan catatan seperti ini. read more

Catatan KLPI Pekan 14

Orangorang berkumpul hanya ingin banyak berbicara, orangorang menepi hanya untuk menulis. 

Suatu tindakan harus dimulai dengan satu kemauan, sekaligus karena itu di baliknya perlu ada seribu kesabaran.

Kelas literasi PI, awalnya bukan mau menyoal jumlah. Pertama kali dirintis, kalau tidak salah ingat, kelas dibangun berdasarkan visi gerakan. Sementara logika gerakan bukan mengutamakan jumlah. Itulah sebabnya KLPI menaruh utama pada niat. Kemauan. Karena itu semua kawankawan mesti tahu, kunci gerakan satusatunya adalah niat mau memikul visi. Makanya, sampai hari ini KLPI belum mau membikin barisan massa. Yang jadi tujuan orangorang yang mau belajar. Yang mau menerima visi literasi. Cukup itu saja. read more