Arsip Kategori: Catatan KLPI

Catatan KLPI Pekan 13

Manusia hakikatnya tidak dirancang untuk mengerti perpisahan. Manusia hanya mahluk yang mengambil resiko berpisah karena suatu pertemuan. Begitulah alam bekerja, juga di kelas menuli PI.

Kemarin pertemuan 13. Tak ada yang jauh berbeda dari biasanya. Kawankawan membawa tulisan, setelah itu sesi kritik. Hanya saja sudah tiga minggu belakangan kuantitas kawankawan pelanpelan menyusut. Barangkali banyak soal di luar sana. Banyak urusan yang mau diselesaikan. Satusatunya yang bikin berbeda barangkali dirasai Salman, juga kawankawan yang sudah tahu; pekan 13 pertemuan terakhirnya di KLPI.

Salman sudah sekira dua bulan terlibat di KLPI. Tapi, mulai dari kelas perdananya, dia sudah menunjukkan tandatanda keterikatan dengan tradisi menulis. Saya agak lupa kesan apa yang membawanya mau terlibat tiap pekan di Paradigma Institute. Satu hal yang menandai permulaannya terlibat yakni pertemuan saya dengannya lewat beberapa kali ngobrol soal tradisi kampus. Pasca beberapa pertemuan itu, sudah bisa ditebak, alumnus UNM ini sering kali datang lebih awal di kelas menulis PI.

Obrolan Salman sama halnya refleksi yang jadi keresahan atas institusi pendidikan saat ini. Di kampus –tempat kami menimba ilmu, bukan tempat ideal peradaban dimulai. Analisisnya sederhana, pengetahuan maupun tatacara penyelenggaraannya sudah terkesan ekonomistik, tenaga pengajarnya didominasi pandangan antihumanisme, struktur bangunannya tidak mendukung, dan mahasiswanya hampir semuanya apatis. Beberapa poin ini sering kali jadi obrolan Salman jika bertemu. Satu kesimpulannya, kami bersepakat, gerakan perubahan jika mau punya nafas panjang harus ditunjang dengan tradisi literasi di dalamnya.

Itulah sebabnya tulisantulisan yang dibawanya punya kesan kuat soal semangat perubahan. Nada protes diamdiam sering menyertai di dalam karya tulisnya. Soal ini Salman pernah bilang, dia ingin menulis dengan cara yang komikal, lucu dan santai. Dia bosan jika menulis dengan gaya pamflet –gaya tulisan pernyataan sikap yang kerap dilakukannya saat di FMN. Tapi, usaha yang ditampakkannya tidak bisa berbohong, seberapa komikal tulisannya selalu ada nuansa kritisisme di situ. Akibatnya, saya pernah bilang, kekuatan tulisan Salman terletak di pesan kritisnya. Perspektif sebagai aktivis organ semacam FMN bisa jadi modal bagaimana dia membangun tulisannya.

Bicara soal gaya tulisan sering jadi tema obrolan di KLPI. Sampai saat ini mudahmudahan kawankawan paham, suatu pemikiran ditataran ide boleh saja sama, bahkan sama persis. Sudut pandang jika memahami suatu soal juga bisa saja identik. Tapi itu semua bakal pecah akibat gaya yang dipakai seorang penulis. Ide itu universal, juga gagasan itu sering kali umum, namun hanya gaya yang membelahnya jadi partikular. Pengalamanlah sering kali membikin gaya suatu penulis jadi khas. Makanya, penulis yang punya banyak pengalaman (menulis dan membaca) yang cepat menemukan khasnya. Membuatnya jadi khusus.

Barangkali karena pengalamanlah yang juga membikin Andi Reski sering meneropong dunia anakanak. Soal gaya, dialah orang pertama yang kerap membawa gambargambar komik ciptaannya sendiri sebagai bahan obrolan kelas menulis. Ecce, begitu saya sering memanggilnya, kerap datang dengan gambar berupa dunia anakanak. Selain puisi atau cerpen, Ecce kerap melengkapi gambar komiknya dengan cerita. Dengan caranya yang demikian akibat gambargambarnya, membuat saya –barangkali juga lainnya, berpikir ulang soal gerakan literasi berbasis dunia aksara. Mungkin banyak yang bilang, kesadaran literasi hanya dipahami sejauh dunia teks belaka, padahal simbol, gambar, nada atau musik juga bagian dari literasi itu sendiri. Makanya itu makna kebudayaan beririsan juga dengan arti literasi sebagai mediumnya.

Sebelum Salman, sebenarnya Andi Reski JN sudah lebih dahulu hengkang. Kala itu, sudah beredar informasi di luar kelas bahwa Reski bakal hengkang. Cuman yang bikin tidak didugaduga adalah kepergiannya yang tak jelas kapan. Yang kami tahu, pekanpekan selanjutnya Reski sudah tidak terlibat lagi. Di benak masingmasing kawan saat itu mungkin punya satu kesimpulan sama; Reski sudah meninggalkan Makassar.

Selasa  nanti, Salman bakal beranjak ke Bone kemudian ke Enrekang. Di dua kabupaten ini dia bakal bertemu sanak keluarganya. Seperti dia bilang, pasca itu baru dia berangkat menyeberang menuju Sebatik, tempatnya berdomisili kelak.

Suatu waktu di kampusnya, Salman bilang dia punya niat memajukan anakanak muda dengan membentuk komunitas menulis di Sebatik. Walaupun kala itu agak klise, tapi ungkapan itu sudah jarang saya temui. Klise tapi ini yang disebut idealisme. Bahkan dia sempat menanyakan bagaimana metode yang tepat jika berhadapan dengan anakanak pedalaman. Saya urung langsung menjawabnya. Pengalaman saya belum sampai sebagaimana imajinasi yang dibayangkan Salman. Kala itu saya hanya mendukungnya sembari mengutarakan kebahagiaan kala mendengar niatnya. Waktu itu pikiran saya hanya mengacu kepada satu person; Sulhan Yusuf. Di obrolan itu saya hanya bilang, “coba bertukar pikiran dengan Kak Sulhan. Dia orang yang saya tahu banyak bersentuhan langsung dengan anakanak SMA kala menyebarluas semangat literasi di daerah. Dia pasti punya cara khusus bagaimana menghadapi anakanak muda seperti anakanak SMA.”

Pasca hari itu saya tak tahu apakah Salman sudah banyak berdiskusi soal niatnya via Sulhan Yusuf. Toh kalau belum, saya kira pengalamannya mengorganisir mahasiswa di kampusnya jadi modal bagi usahanya kelak. Satu hal yang patut ditiru, Salman setidaknya sudah membangun niat memperbaiki daerahnya nun jauh di  sudut kepalanya. Setidaknya dia sudah memulai citacitanya sejak dalam pikiran.

***

Pesanku

 

Semailah pohon dengan ilmiahnya pengetahuan

Ajaklah mereka yang tertindasberteduh di rindangnya keilmiahan

Jagalah benih perjuangan, walau pahit kopi kehidupan

Agar kelak

Bisa kau didik penguasa dengan perlawanan!

Pasca kelas berakhir, puisi yang ditulis Salman di atas dibaca secara bergilir. Hal ini dibikin buat mengapresiasi kelas terakhirnya. Sebelumnya, Salman bilang, proses penulisannya tidak memakan waktu banyak. Puisi ini dibuat sebelum kelas diberlangsungkan. Puisi ini dia niatkan untuk mahasiswa di almamaternya. Tapi, Salman emoh katakan kalau itu sebab dia menulis puisinya.

Pekan 13 hanya Salman seorang yang membawa puisi. Sempat ada bahasa yang lamatamat protes soal puisi yang ditulis dengan bait pendek. Saya kira, puisi bukan soal panjang atau pendek bait yang direkam berdasarkan pengalaman penyair. Namun, sejauh apa dan bagaimana pemaknaan atas puisi membangun kesadaran atau bahkan pengalaman baru pendengarnya. Soal panjang puisi atau pendeknya bait yang ditulis penyair bukan urusan pembaca atau pendengar. Itu urusan di belakang panggung penyair. Seberapa kuatkah dia mengimplikasikan makna di setiap syair. Dan itu tergantung pengalaman apa yang melibatkan dunia subjektif di mana penyair terkait dengan dunia objektif di luarnya.

Itulah sebabnya kawankawan harus melihat kembali, apakah nilai susastra puitik puisi terletak di panjang pendeknya syair atau sebaliknya, seberapa dalam pengalaman kita terlibat dengan katakata yang dipakai penyair. Karena itulah kita harus mengapresiasi puisi apapun bentuknya, bagaimana pun caranya ditulis. Satu hal yang penting, puisi bukan dunia informasi seperti berita atau genre tulisan lainnya. Puisi dunia maknawi. Dia menyulap dunia seharihari jadi pernakpernik pengalaman sublim lewat bahasa sebagai semesta maupun mediumnya.

Jusnawati menulis sepenggal kisah yang dia bangun dari imajinasinya atas perempuan rembang yang tempo hari mengecor kaki sebagai bentuk protesnya. Dia bilang tulisan sepanjang dua lembar halaman itu diniatkan sebagai esai, tapi malah jadinya lebih kuat disebut cerpen. Tulisan Jusna, jadi jalan berangkat melihat kebiasan kawankawan ketika membangun tradisi menulis. Ini soal kedalaman dan intensitas.

Saya bilang ada dua hal harus diperhatikan oleh kawankawan. Pertama, kebiasaan setiap akhir pekan yang harus menyetor tulisan, bisa beresiko kehilangan kedalaman saat melakukan refleksi atas gagasan yang ingin ditulis. Ini lebih beresiko bagi kawankawan yang hampir intens secara waktu kala menulis tiap dua tiga hari perminggu hitungan rataratanya. Kalau setiap dua atau tiga hari selalu melahirkan tulisan, maka kedalaman atas tulisannya bisa mengalami pasang surut. Kedalaman bisa menjadi barang langka kala hampir tiap waktu jika menulis. Akibatnya tulisan bisa banyak memberikan informasi soal apa saja, tapi soal kedalaman belum tentu.

Persoalan kedua soal intensitas. Saya menduga setiap penulis yang baik pasti punya jadwal kapan dia menulis. Hal ini dilakukan untuk menjaga kedalaman isi tulisannya. Penulis yang baik selalu mengatur kedalaman tulisannya lewat refleksi yang dilakukan melalui membaca dan bermenung. Dua hal ini tidak terikat waktu, bahkan bisa memakan waktu berlamalama. Itulah sebabnya, tulisan yang banyak makan waktu kadang adalah karya yang monumental. Itu akibat di baliknya banyak ruang refleksi yang dipunyai untuk menunjang kedalaman isi tulisannya.

Saya kira apa yang dialami Jusna yang meniatkan esai tapi malah menjadi cerpen adalah soal bagaimana refleksi kehilangan kedalamannya. Waktu yang menjadi hanif barangkali adalah soalnya. Kita yang terlibat di kelas literasi, pasti turut mengalami itu; waktu yang kian sempit sementara betapa sedikitnya ruang bermenung yang kita punyai.

Barangkali itulah yang penting buat Putri Reski Ananda. Dia membawa tulisan awal yang jadi bagian rencananya novelnya. Menulis novel butuh banyak membangun peristiwa imajinal, entah itu dipungut dari kenyataan atau dicomot dari penggalan memori yang tersimpan dari ingatan. Di kelas belum ada kawankawan yang berhasil membuat novel. Kekurangan pengalaman macam demikian jadi soal tersendiri bila ada kawankawan seperti Putri yang berniat membikin novel. Soal yang utama, tentu pasal perangkat pengetahuan kala ingin menulis novel beserta persiapan apa saja yang harus ada demi menunjang suatu cerita bisa selesai dituliskan. Sejauh ini selain Putri, Reski dan juga kalau tidak salah Vivi, sudah berniat membuat novel atau tulisan sejenisnya.

***

Sampai di sini –terutama buat kawankawan KLPI, menulis ibarat menyulam kenangan atas suatu peristiwa. Seorang penulis barangkali memahami bahwa suatu dunia punya dua sudut pengalaman; memori dan realiti. Yang dikenang dan yang terjadi. Seorang yang bakal menulis pasti tahu dia akan masuk pertama kali melalui dunia memori atau realiti, kemudian membangun dunia ketiga melalui karya tulisnya. Dunia ketiga yang murni ciptaan penulis bisa menjadi banyak hal dalam bentuk tulisan atau pun simbol. Jika memori maupun realiti adalah dunia banyak orangorang, pengalaman khalayak ramai, maka dunia ketiga dunia teks penulis adalah dunia pribadi sekaligus dunia orangorang banyak. Di dunia ketiga itulah penulis jadi identik, jadi pribadi yang khas. Itulah sebabnya, barangsiapa menulis, sesungguhnya dia membangun dunia pribadinya. Atau bahkan dari teksnyalah dunia pribadi seseorang terhampar bersamaan dunia memori ataupun realiti yang disaksikannya.

Berikut syair Salman yang memotret Makassar, kota yang bakal ia tinggalkan dalam waktu yang entah sampai kapan:

 

Kelamnya Kota Daeng

 

Polos, namun penuh kesombongan

Diam, namun penuh bisik mematikan

Ramai, namun sesak dengan kemunafikan

Banggga, bangga akan kebodohan

 

Kelamnya wajahmu kini, mengakhiri tapak janji

Janji kau akan menjajaki

Tanah yang penuh dengan suara birahi

Apalah arti yang kau ketahui

Jika tuan tanah murka lagi

 

Ombaknya kini sudah mati

Terhampas tembok semen yang sunyi

Berdiri di atas kokohnya tirani

Penguasa negeri penuh janji merubah negeri

 

Tanah mu punya filsafat yang layak di bawa mati

Malu untuk diri yang berkhianat terhadap ibu pertiwi

Sengsara melihat penderitaan berbalut sakit hati

Karena janji sang raja tak bisa ditepati

 

Rakyatmu kini

Bersimbah noda dari cerita para sakti

Dari klenik yang penuh hikayat misteri

Terus menghujani mengunakan lembing sakti

Demi melindungi kekuatan si raja yang telah lama mati

 

Daeng,

Riwayatmu telah jauh meninggalkan kami

Apakah akan terus bertahan nanti

Ketika arus laut telah mati

Ketika mata air telah menelan mati para santri

Akankah kau kembali bersama para sakti untuk mengobati

Mengobati sakit para pemimpin negeri ini

Yang kau lahirkan bersama dari rahim ibu pertiwi

 

Kota ini,

Menjadi saksi bagi kami

Santri yang berusaha melawan  mati

Matinya keadilan yang seharusnya terpatri

Dalam janji-janji hikayat belum berujung nanti

 

Kelam yang ku asah kini

Semoga hanya tafsiran kami yang telah melihat mati

Matinya para penguasa dan matinya hati

Daeng kami yang baik hati

***

Kita akhirnya tahu, menulis kadang menyakitkan. Di saat bersamaan menanggung perih sekaligus mengungkapkan kesakitan dari beribu peristiwa. Syahdan, memang karena itu manusia tidak dirancang untuk berpisah karena kenangan memang kadang sakit. Manusia hanya mahluk yang mengambil resiko berpisah karena suatu pertemuan. Begitulah alam bekerja. Begitulah manusia harus tahu.

Catatan KLPI Pekan 12

Scribo Ergu Sum—Aku Menulis, Aku ada (Robert Scholes)

Kelas menulis sudah sampai pekan 12.  Sampai di sini kawankawan sudah harus memulai berpikir ulang. Mau menyoal kembali hal yang dirasa juga perlu; keseriusan.

Keseriusan, kaitannya dengan kelas menulis, saya kira bukan perkara mudah. Tiap minggu meluangkan waktu bersama orangorang yang nyaris sama kadang tidak gampang. Di sana akan banyak kemungkinan, bakal banyak yang bisa terjadi sebagaimana lapisan es di kutub utara mencair akibat global warming. Di situ ikatan perkawanan bisa jadi rentan musabab suatu soal sepele misalkan perhatian yang minim, perlakuan yang berlebihan, atau katakata yang menjemukan, bisa mengubah raut wajah jadi masam.

Makanya di situ butuh asah, asih, dan tentu asuh. Agar semua merasai suatu pola ikatan yang harmonik. Sehingga orangorang akhirnya bisa membangun kesetiaan, tentu bagi keberlangsungan kelas literasi PI.

Begitu juga diakhir pekan harus menyetor karya tulis dengan kemungkinan mendapatkan kritikan, merupakan juga aktifitas yang melelahkan. Menulis, bukan hal mudah di saat dunia lebih mengandalkan halhal instan. Menulis butuh kedalaman dan waktu yang panjang. Menulis membutuhkan daya pikiran dan pengalaman yang mumpuni agar suatu karya layak baca.

Karena itu kawankawan harus punya persediaan energi yang banyak. Biar bagaimana pun tujuan masih panjang, bahkan tak ada terminal pemberhentiaan. Walaupun tujuan selama ini hanya mau menghadirkan penulispenulis handal. Akibatnya hanya ada satu cara biar punya stamina besar; rajin bangun subuh.

Saya kurang yakin apakah memang ada hubungan antara keseriusan dengan bangun di waktu subuh? Tapi, sampai pekan 12, keseriusan itu mesti terwujud di dalam karya kawankawan. Keseriusan yang mau membina diri. Keseriusan memamah berbagai bacaan, mau melibatkan diri di berbagai forum diskusi, dan banyak berlatih menulis. Kalau tiga hal ini disiplin dilakukan, saya harap dari komunitas sederhana kita bisa tumbuh orangorang yang tulisannya bakal ditunggu kedatangannya.

Belakangan cara kita membangun komitmen sebagai penulis pemula ditandai dengan menerbitkan blog pribadi. Hal ini satu kemajuan menyenangkan sekaligus menyakitkan. Blog itu semacam buku harian. Akan membahagiakan jika di situ kawankawan rajin mengisinya dengan berbagai tulisan. Melihatnya dibaca banyak orang pasca diterbitkan. Juga melihatnya dapat membuat orang senang membacanya.

Menulis begitu menyakitkan karena prosesnya sama dengan kelahiran seorang anak. Di situ ada ide yang dikandung, tersedimentasi sekaligus. Akibatnya, tiap tulisan dirasa punya masa kandungan. Kapan dia lahir tergantung lamanya waktu di dalam kandungan. Tulisan sebagaimana takdir sang anak, tak bisa dipaksakan waktu kelahirannya. Akibatnya kita harus bisa bersabar menunggu momen yang baik kala melahirkannya. Dan kesakitan yang paling adalah masa tulisan itu dibiarkan tumbuh, di situlah proses menulis sebetulnya; merawat tubuh tulisan dengan cara melihat kesalinghubungan maksud di dalamnya.

Keseriusan juga ditunjukkan dengan mau banyak membaca karya tulis orang lain. Bagi penulis pemula, membaca karya orang lain penting kala ingin mencari identitas menulis. Melalui cara itu kawankawan akan bersentuhan dengan berbagai jenis tulisan. Akan menemukan berbagai macam bentuk tulisan. Yang salah adalah jika semenjak awal kita mau meniru gaya menulis orang lain. Di satu sisi itu tidak baik karena bisa membunuh sidik jari yang kita punyai. Seperti manusia, tulisan punya kepribadian dan tentu punya nasib masingmasing

***

Saya tak hadir di pekan 12. Makanya tak banyak yang bisa dituliskan di sini. Tapi satu hal yang bisa saya duga, di kelas selalu ada cerita yang bisa dikembangakan menjadi tulisan. Hal itulah yang selama ini dipupuk menjadi tulisan semacam laporan kepada khalayak. Awalnya tak ada kesepakatan apaapa mau menulis catatan tentang kelas tiap akhir pekan. Tak ada aturan yang menganjurkan setiap pekan harus ada tulisan soal apapun yang berkembang di dalam forum menulis PI. Hanya saja, saya merasa sebagai ketua kelas punya tanggung jawab moral merekamnya dalam bentuk tulisan. Saya yakin suatu saat nanti, tulisan tiap akhir pekan itu punya manfaat.

Syahdan, saya  dan juga kawankawan di PI pasti meyakini diktum sederhana yang sering diucapkan; verba volant, scripta manent, apa yang diucapkan menguap bersama angin, ihwal segala yang ditulis kelak abadi.

CATATAN KLPI PEKAN 11

Lisan

Sebuah getaran keluar dari mulut
Dari leher turut decak yang ingin meluap
Menggemakan wicara bak pesulap

Tadinya dia hanya gesekan paruh dan rongga,
Kemudian terluah dalam bahasa
Kini gelombang punya rona
Sama ketika frekuensi mencipta bahasa pesona
Aku ringkih mendengar sebuah suara
Pagut memagut, mesti takut
Memaksa ikut

Itulah lisan yang nista
Mencuri hati lalu mematahkannya

Kirakira tak ada yang salah dalam puisi. Yang diperjuangkan dalam puisi bukan dunia faktafakta. Penyair bukan mau mengambil peran seorang wartawan, yang harus menulis sesuai realita yang ditemukannya. Atau seperti ilmuwan yang melihat relasi asumsi antara satu proposisi sesuai kaidah logika sebagai kebenaran. Akibatnya yang esensil dalam puisi bukan kebenaran, tapi kebermaknaan. Puisi berjuang dari “dunia dalam”, makanya dia begitu subjetif. Namun, tidakkah dia bisa menjadi objektif? Entahlah, bukankah yang objektif itu kerap hanya terma sesat atas ilmu pengetahuan? Lalu, bagaimanakah puisi harus diapresiasi?

Puisi di mana pun pasti punya makna kedua. Ini biasa disebut makna simbolis. Mengacu dari konsep alegori, puisi menyimpan suatu dunia yang nirkatakata. Suatu dunia maknawi, dunia simbolsimbol. Artinya, bahasa puisi bahasa polisemi. Bahasa puisi bahasa yang mendua. Puisi, syair bahasa yang menyiratkan banyak arti. Itulah sebabnya, puisi bukan bahasa ekposisi, dia bahasa simbol.

Barangkali, karena itulah suatu soal timbul. Bagaimana cara menilai puisi. Haruskah dia ditempatkan di dalam suatu penyelidikan ilmiah; mengecek korelasi katakata dengan makna semantiknya, atau memang ada prosedur yang tepat guna menilai puisi.

Problem ini jadi panjang di kelas menulis PI. Pemicunya puisi di atas milik Sandra Ramli. Kawankawan, bukan penyair apalagi sastrawan, dibuat bingung. Puisi, di kelas, salah satu jenis karya yang masih gelap. Akibatnya sering kali puisi dianggap tulisan sampiran. Padahal, di kelas, setiap tulisan harus dianggap penting. Itulah mengapa perlu ada porsi yang sama ketika ada kawankawan menulis puisi. Puisi, seperti genre tulisan lain juga karya tulis. Makanya, di kelas dia harus diapresiasi.

Bentuk apresiasi juga jadi soal kedua. Mestikah ada bentuk kritik buat puisi? Kalau ada, kepada apa kritik diajukan? Kepada bentuk atau pilihan diksinyakah? Proses kreatif atau motif kepenulisannyakah? Ataukah yang lain dari itu semua, kepada apa model sastra suatu puisi disematkan? Dengan kata lain, di kelas, belum ada perangkat penilaian yang memadai soal apresiasi puisi.

Akibatnya, puisi, atau sejenisnya kurang mendapatkan tempat di kelas. Kondisi ini tidak mesti dibiarkan. Sebab, kadang puisi hanya dibaca sekali setelah itu dilewatkan. Tak ada ruang sama seperti jika esai dinilai. Makanya, ini harus diubah. Biar bagaimanapun puisi juga mesti diapresiasi. Entah bagaimana modelnya.

Di konteks itu justru dibutuhkan kawankawan yang punya basic ilmu sastra. Sebelumnya ada Muchniart, yang bisa menilai seluk beluk suatu karya. Atau setidaknya memberikan gambaran kepada kelas soal kesusastraan. Tapi, belakangan ini Niart, begitu sering dipanggil, jarang bertandang di kelas. Selain Niart, entah siapa yang punya bacaan kesusastraan yang memadai.

Tapi, pasca disoal, akhirnya puisi memang berbeda dengan genre sastra lain. Bahkan, setiap genre sastra punya karakter dan bentuk berlainan. Itulah sebabnya, cara menyikapinya juga berbeda. Makanya, puisi harus diperlakukan berbeda. Dia punya cara tersendiri dan sikap tersendiri.

***

Maret berakhir dengan hari yang lapang. April datang bersamaan hujan yang ritmik. Mendung bagai selimut di atas langit pekan pertama April. Hujan tetiba jatuh tanpa bisa ditampung. Jauh di Pabbentengang tempat kelas sering dibuka, barangkali masih kosong. Hujan, menunda langkah, setiap mata hanya sampai di daun pintu. Melihat langit yang tetiba kelabu, berharap hujan segera berhenti.

Kala sudah siap pasca dicetak. Selebaran yang kali ini dicetak hanya sebelas eksemplar itu dimasukkan dalam tas. Hujan, yang beberapa saat lalu mereda jadi pantangannya. Kala, sedikit saja tersentuh air, dia luntur. Maklum tinta print, bukan jenis tinta yang sering dipakai media cetak. Makanya satu kelemahan Kala, dia tidak kedap air. Karena itu, Kala mesti diperlakukan spesial. Hatihati.

Barangkali banyak yang datang, tapi bisa juga sebaliknya. Hujan kadang bisa jadi tak romantis. Akibatnya, banyak langkah bisa dirundung sesal. Tidak sedikit dunia menyempit, hanya sebatas teras rumah.

Di sekretariat PI, baru Hajrah yang datang. Dia duduk terpaku di teras PI, juga mungkin termangu. Melihat bulir hujan yang pecah di atas tanah sendirian. Perempuan mungil ini sedari tadi sudah lama begitu. Sebatang tubuh menunggu sesiapa yang bakal datang.

Lama berselang satu per satu tiba. Hajrah menyungging senyum. Di balik senyum setengah sabit itu dia sesal. Dia bilang sudah lama menunggu sendirian. Sudah banyak air pecah bersimbahan mengalir hilang di balik tanah basah. Sudah banyak putaran jarum melingkar di tangannya. Waktu begitu lambat dia rasakan. Mungkin akibat Hujan, atau berkalang sepi menunggu di tepi teras kelas.

Kelas memang agak renggang. Kali ini tak banyak ikut terlibat. Beberapa kawan meminta izin semenjak awal. Beberapa lain tak punya kabar. Tapi, kelas bukan person. Selama ini ini kelas berjalan dengan sistem. Fungsi lebih diutamakan dibanding person. Karena itulah, siapa pun yang datang bisa mengambil alih menjalankan beberapa tugas. Mungkin itulah kekuatannya, selain konsisten, tugas kepemimpinanlah membuat kelas tak pernah lolos sehari pun.

Sehingga, jika cuman Hajrah seorang yang datang kelas tetap berjalan. Kelas akan terus dibuka setiap pekannya seorang atau dua orang. Hajrah otomatis bisa mengambil peran sebagai penyelenggara. Dia bisa berfungsi sebagai ketua kelas. Pesertanya, tentu Hajrah seorang atau juga kak Uly yang selalu stand by di mukimnya. Artinya belajar bukan soal siapa yang datang, melainkan sejauh mana ilmu itu dimungkinkan.

Literasi sejauh ini masih jadi wacana minor. Atau barangkali wacana sampiran. Penandanya sejauh ini wacana literasi belum bisa keluar dari lingkaran tertentu. Literasi masih dipandang produk komunitas, bukan kebutuhan bagi perubahan. Sehingga, literasi dianggap sebelah mata dan dinyatakan sebagai gerakan elitis. Padahal, di mana pun kitab sejarah dibuka, di situ pasti ditopang tradisi literasi.

Makanya, wacana literasi harus dibuka dari kedap suara komunitaskomunitas. Kalau perlu bukan sekedar perbincangan di Kelas Menulis PI saja, tapi juga merembes di sudut kampuskampus. Di tilik dari sini, kawankawan yang aktif di kampus harus jadi corong suara buat gaung di masingmasing lingkungan belajar.

***

Ishak punya tema tulisan menarik. Entah ide apa menyulutnya mau menulis soal suku Naulea di (pedalaman/pesisir?) Maluku. Suku yang diceritakannya membikin sesembahan dengan pengorbanan kepala manusia. Jadi, ditulisnya bahwa suku Naulea selain mengorbankan kepala orang sebagai bagian dari ritual acara adat, juga mengasingkan perempuan jika mengalami haid. Tidak cukup di situ, perempuan yang hamil juga ditinggalkan di suatu tempat untuk dijauhi.

Suku Naulea, yang masih hidup sampai sekarang, bisa jadi pembicaraan pembuka buat mempertanyakan masih adakah suku semacam itu di tempat lain. Terutama soal tradisi kanibalisme, atau bentuk ritual yang mengambil kepala manusia sebagai sesembahan. Di Toraja, kata Rahmat, yang ikut dalam diskusi, menyebut di masa silam juga punya tradisi serupa. Namun, di Toraja, bukan sesembahan terhadap kekuatan maha gaib, melainkan kepala budakbudak yang dipenggal jika tuannya meninggal dunia.

Suku Naulea ditulis Ishak dengan bentuk cerpen. Kekuatan cerpennya masih minim dari segi penceritaan. Ishak masih belum maksimal membikin ceritanya jadi lebih hidup. Cerita yang hidup tidak mesti dengan gaya bahasa yang diksionis, bisa juga dengan membangun detail dari peristiwa yang diceritakan. Misalnya, jika menyebut “parang” bisa juga menyebut terbuat dari apa dia dibuat, bagaimana bentuk gagangnya, atau besi apa yang membuatnya jadi lebih tajam. Artinya, dari situ “parang” tidak sekedar benda, tapi membuka ruang pembaca mengetahui sejarah “parang” itu sendiri. Bisa mengetahui budaya apa yang melekat di situ hanya membayangkan bentuk gagang parang, misalnya.

Dengan kata lain, kekuatan cerpen Ishak dimiliki dari tema ceritanya itu sendiri. Unsur lokalitas begitu kuat di sana, walaupun belum banyak yang bisa dieksplore. Ishak bisa saja membuat konflik dari sudut lokalitas yang diperhadapkan dengan modernisme saat ini. Atau sebaliknya, memasukkan unsur modernisme yang mengancam lokalitas suku Naulea. Sehingga, dari cara macam itu, bisa saja ceritanya lebih kuat dan hidup akibat memasukkan unsur pertentangan di dalam ceritanya.

Tapi, terlepas dari cerita ditulis Ishak, bagaimanakah cara kita membayangkan kehidupan semacam suku Naulea dengan tradisi kanibalisme. Sebab, di suatu tempat lain, atas nama religi, kanibalisme jadi perbuatan halus dengan menyitir ayatayat Tuhan. Bagaimanakah cara keduanya mampu bertahan di kehidupan yang menjunjung nilai kemanusiaan? Bagaimanakah prinsip etis dan tradisi macam suku Naulea bisa diterima?

***

Matahari sudah jauh tenggelam di balik atapatap rumah. Bulatan api itu seperti disedot ke bawah lantailantai mukim yang berubah kebiruan. Malam datang, lampulampu dinyalakan tanda orangorang enggan disapu gelap. Burungburung terbang membelah mendung. Jauh di depannya siluet orange bergelantungan pelan mulai pucat.

Bersamaan dengan itu, kelas menyisakan satu tulisan terakhir. Hajir bilang tulisannya hanya berupa catatan perjalanan. Menurutnya minggu depan masih banyak waktu buat membahas tulisannya. Akhirnya kawankawan sepakat kelas harus diakhiri. Tidak seperti biasa, kali ini kelas ditutup lebih awal. Setelah magrib selesai, kelas mulai kosong. Hajrah, orang pertama yang datang, dia juga orang terakhir meninggalkan kelas.

CATATAN KLPI PEKAN 10

Harus saya akui, kali ini redaksi Kala teledor soal cetakan edisi 10. Di terbitan tertanggal 27 Maret itu, judul kolom khusus kepunyaan Sulhan Yusuf salah cetak. Tulisan yang seharusnya berjudul Arsene, Arsenal, dan Arsenik, malah jadi Arsene, Arsenal, dan Arsenal. Ini gawat, malah justru fatal.

Saya kira, di sini harus diakui, redaksi Kala belum punya prinsip kerja yang matang. Jika Kala mau dibilang media, redaksi Kala malah belum punya sistem. Media manapun, seharusnya punya mekanisme kerja yang jelas, semacam standar operasional kerja. Kala, jika disebut media, harus punya redaksi yang mapan. Atau, setidaknya, untuk ukuran buletin sederhana, bahkan selebaran, harus punya orangorang yang berpengalaman.

Kenyataannya, Kala bukan media mulukmuluk. Kala, hanya kertas dua tulisan yang terbit di akhir peka bagi kalangan terbatas. Bahkan, sekali lagi, Kala hanya selebaran sederhana dan nyaris dengan tampilan yang monoton. Kala, dengan kata lain hanya selembar kertas berisikan tulisan hasil kelas literasi yang sudah berjalan hampir setengah tahun. Kala, dengan begitu hanya media yang sedang mencari pengalaman. Dari pengalaman minim itulah redaksi Kala bekerja. Juga, dari situ teledor itu datang.

Akibatnya, perlu ada kritik, terutama kepada mekanisme kerja redaksi Kala. Di sini, kalau mau diperjelas, redaksi Kala, secara teknis hanya saya seorang. Sehingga, kalau mau menyebut siapa yang teledor, bukan sistem atau semacam dewan, melainkan saya belaka.
Kesalahan atas sesuatu adalah hal yang lumrah, tapi jika itu datang dari suatu kerja yang lumayan sering, saya kira, itulah yang disebut teledor. Makanya, melihat hal yang tak diduga dari suatu usaha yang berulangulang, dan pada akhirnya tidak sesuai standar, di situ suatu prinsip kerja harus segera dievaluasi.

Konon, mediamedia besar, hanya soal editing bahasa dan tulisan harus melewati banyak meja -ada yang menyebut lima sampai enam meja. Di ruang kerja media, meja sama artinya dengan sepasang mata cekatan yang sudah akrab dengan berjuatjuta huruf. Artinya, jika ada lima meja, di situ berarti ada sepuluh mata mawas. Bahkan, sebuah meja berarti suatu sistem kerja. Di ruang kerja mediamedia, sebuah meja malah jadi suatu tehknik evaluasi dan editing itu sendiri.

Bisa ditebak, dari setiap meja dengan mata yang cekatan, dan lima sampai sepuluh kali dibaca per mejanya, setiap tulisan yang masuk siap jadi objek tanpa cela. Dari mekanisme editing semacam itu, ada space yang lebar bagi setiap tulisan melewati proses yang begitu selektif. Akibatnya, tulisan dengan cara demikian menjelma karya siap baca.

Dulu saya pernah kerja beberapa lama di salah satu media di Makassar. Setiap malam, sebelum naik cetak setiap berita disorot, dilihat kesalahan ketik atau semacamnya. Kala itu setiap berita yang diperiksa dibaca setidaknya tiga orang. Jika menemukan typo, kesalahan pengejaan, istilah asing, atau ketidaklaziman sesuai standar ejaan, maka itu dibulati, diberikan tanda dengan tinta merah. Bahkan beberapa di antaranya diberikan semacam catatan kecil sebagai keterangan perbaikan. Kalau sudah, hasil print out beritaberita itu diserahkan ke bagian layout, dari situ tugas langsung layouter sekaligus memperbaiki kembali. Alhasil, cara seperti itu efektif jadi mekanisme editing sebelum berita betubetul naik cetak.

Kala, akibat tidak punya mekanisme macam itu, membuat setiap tulisan nyaris tak berubah. Kala, juga tidak punya banyak meja sebagai space editoringnya. Meja di Kala bahkan nyaris bukan sebagai sistem kerja. Dengan kata lain, redaksi Kala hanya memanfaatkan sepasang mata jika mau mengedit suatu naskah. Akibatnya, dari mata yang minim pengalaman itu, suatu tulisan akhirnya nyaris tetap sama sekali pra dan pasca editing. Bahkan, untuk kasus kali ini, justru itu berubah jadi kesalahan.

Tapi, keteledoran dengan sendirinya tak bisa dimaafkan. Kala, biar bagaimana pun harus berkembang dari waktu ke waktu. Soal judul yang akhirnya berubah redaksi bukan perkembangan, itu kemunduran. Makanya ini gawat, sekaligus juga fatal.

***

Menulis barangkali ibarat jalan pulang ke dunia yang pernah disinggahi namun asing. Di sana, suatu keadaan samarsamar digenggam buat ditulis kembali. Menulis berarti kembali dari dunia samar untuk suatu kabar kepada khalayak, juga sebagai tanda bahwa kita belum lupa.

Azan magrib bergelantung di langit jatuh merembesi setiap bilik. Menggema di bawah atap di saat lampulampu mulai dinyalakan. Bersamaan dengan itu kelas dipending. Orangorang bergegas, mengambil jedah. Sebagian lain memilih dudukduduk membaca, sebagian yang lain memilih meninggalkan kelas menuju asal suara.

Kala sekira pukul 20.00, piringpiring dikeluarkan dari bilik belakang. Gelasgelas berdenting. Kertaskertas yang berserakan disingkirkan. Waktunya makan malam. Seperti biasa makan berjamaah. Semua lahap. Semua kenyang.

Tak lama forum dilanjutkan kembali. Kali ini giliran Nain membacakan tulisannya. Dari bacaanya, dia mengisahkan hasil pertemuannya dengan seorang mantan PSK. Dia bilang, tulisan ini lahir dari ingatan yang sudah lama tersimpan. Di pertemuan yang sudah silam itu, Nain menuliskan kembali sepenggal kisah Ibu dua orang anak itu. Katanya, mantan PSK ini sudah berkeluarga, sudah punya suami. Dia juga bilang, mantan PSK itu, hari ini sudah berumur, makanya dia tinggal di panti rehabilitasi. Nain bercerita di akhir tulisannya, Ibu yang seharihari menjahit dan melakukan aktifitas kreatif lainnya itu ingin bertobat. Mizari, begitu nama PSK itu dulu bilang, “mauka berubah Nak”. Begitulah akhir tulisan yang dibuat Nain.

Tapi, sebelumnya ada soal yang memicu perbincangan. Perkara itu dipicu oleh tulisan Sandra yang dinilai di luar kelaziman. Tidak sedikit kawankawan harus pelanpelan mengeja jika mau tahu pesan apa yang ditulis Sandra. Juga sering kali, pasca Sandra membacanya, beberapa pertanyaan diajukan untuk mengetahui maksud kalimatkalimat yang mengandung banyak peristilahan. Sandra bilang, dia memang agak kesulitan menulis tulisannya yang sudah ditinggalnya beberapa lama. Juga, agak susah ketika menyambung tulisan yang memang sudah dipisah oleh dua situasi yang berbeda. Itulah sebabnya, tulisannya itu membuat kawankawan sulit menangkap pesan apa yang mau disampaikan.

Di satu sisi, setiap tulisan mewakili satu gaya. Bahkan setiap tulisan mengandung satu cara penulisnya menyatakan identitasnya. Soal ini saya kira dialami oleh kawankawan kelas menulis PI. Sandra, kali ini menyetor tulisan yang memang agak berbeda. Penggunaan bahasanya banyak menggunakan istilahistilah asing. Bahkan hubungan semantik dan sintakmatik dalam kalimatkalimatnya terkesan di luar ukran standar. Tulisan Sandra, kalau mau dipahami, termasuk jenis tulisan yang membutuhkan penulis sebagai penafsirnya sendiri. Artinya, tulisan Sandra hanya bisa diketahui maknanya sejauh penulisnya turut hadir di belakangnya.

Saya kira, setiap tulisan harus mampu menyeimbangkan dua hal; isi dan bentuk. Kadang, dua poin ini tidak jalan secara proporsional sehingga kabur mengabarkan pesan. Kadang tulisan yang mengedepankan isi, tidak terlalu ambil pusing seperti apa gaya tulisan harus dijabarkan. Tulisan sejauh isi ingin disampaikan sudah cukup menggunakan bahasa dengan gaya sederhana. Isi, dari cara ini jauh lebih penting dibandingkan gaya bahasa yang bisa mengacaukan tatanan makna sebagai inti pesan buat khalayak.

Namun, gaya sebagai kemasan di saat tertentu juga menjadi penentu. Pengandaian kemasan sebagai kulit luar dari isi, adalah penampakan pertama yang memberikan kesan estetis bagi pembaca. Melalui kulit luarlah, dengan kesan yang estetis, isi tidak sekedar informasi yang memberikan pengetahuan, melainkan menjadi pesan yang menggugah rasa. Dengan cara itu, suatu tatanan bahasa akhirnya tidak sekedar alat penyampai pesan, tapi juga jadi unsur penting ketika pesan disampaikan. Di bagian inilah, orangorang sering mengambil bentuk sastra ketika mengemas tulisannya. Pertimbangannya bukan sekedar hanya soal gaya belaka, melainkan bagaimana suatu tulisan dilengkapi dengan unsurunsur retoris.

***

Semenjak kelas dibuka, kelas literasi mengedepankan tujuan agar setiap kawankawan mahir menulis. Berbeda dari kelas angkatan pertama, kelas angkatan kali ini menggunakan sistem yang mendorong agar setiap tulisan menjadi jejak rekam perkembangan kemampuan menulis. Sistem ini sengaja diajukan sebagai tolak ukur sekaligus bahan evaluasi sejauh mana perbaikanperbaikan dilakukan demi pencapaian tujuan.

Di kelas, kawankawan juga diharapkan saling memotivasi. Menjadi teman cerita, bahkan menjadi teman curhat. Kelas literasi, walaupun diformat sebagai kelas menulis, di beberapa kesempatan kadang sering kali dibuat jadi ajang diskusi. Di momenmomen itu, kadang diskusi bisa menyentuh banya soal, bisa melibatkan banyak perspektif. Akibatnya, dari situ sering bikin penasaran kawankawan jika ada satu tema tidak tuntas dibahas. Namun, harus dimaklumi, kelas literasi bukan forum kajian. Konsepnya berbeda.

Minggu depan, tentu banyak tulisan juga pasti banyak cerita. Tulisan, yang ditulis kawankawan, mungkin saja bukan sekadar tulisan belaka, barangkali di situ ada bathin yang bergulat penuh keresahan, ada kecamuk pikiran atas gagasangagasan, atau bahkan ada kisah yang mau dibilang. Kalau sudah begitu, siapa sangka itu berarti akan banyak cerita, akan banyak telinga, juga akan perlu banyak mata yang lebih peka.

Catatan KLPI Pekan 9

Parasnya lelah. Mukanya sendu, keringatnya cucur. Di penghujung pukul sembilan malam suaranya berubah parau. Awalnya, perempuan ini bersemangat memimpin forum. Namun, waktu berderap, energi banyak dikuras, forum masih panjang. Di waktu penghabisan, Hajrah merapal karya tulisnya. Kali ini gilirannya.

Satu persatu huruf diejanya. Tulisannya agak panjang. Kali ini dia menyoal masyarakat tanpa kelas perspektif Marx. Yang unik dia menyemat Rasul Muhammad sebagai tokoh lain. Di tulisannya, dua orang beda zaman, disandingkan. Lamatlamat, forum berubah khusyuk. Suaranya akhirnya mulai stabil.

Kalau mau dibilang, Hajrah menulis ulang isi suatu buku. Semacam resume. Hajrah bilang, awalnya dia mau menulis resensi. Cuman, dia agak ragu. Makanya dia mengulas tema umum buku yang sudah dibacanya, soal segregasi masyarakat. Nampaknya, tulisan itu bikin polemik. Di kelas, dari beberapa diksi dipakai Hajrah akhirnya jadi esensil, jadi soal.

Perkara itu dimulai Sandra dan Arhie. Perdebatan menyoal kata ganti “beliau” yang dinisbahkan kepada anak Abdullah bin abdul Muthalib. Sandra bilang, kata ganti “beliau”, yang merujuk kepada Rasulullah, dalam teks tidak sepadan. Asumsinya, sembari menyitir ilmu tafsir, “beliau” bukanlah diksi yang layak disemat kepada Muhammad saw. “Beliau”, sejauh jelajah literatur Sandra, belum ditemukan mengganti Rasulullah sebagai kata ganti. Bagi Sandra, ini bukan soal perkara diksi belaka. Ini soal hubungan penanda dan tinanda.

Arhi justru punya asumsi lain. “Beliau” bukan soal karena mengandung makna penghormatan. Artinya, jika dipakai merujuk kepada Muhammad nabi terakhir, itu boleh saja. Hubungan penanda dan tinanda di situ tak jadi soal. “Beliau” sebagai kata pengganti, sebagai penanda, dan “Muhammad” orang yang jadi tinanda, secara semiotik bisa dibenarkan sejauh itu merujuk kepada hal yang sama. Arhi, karena itu bilang, “Beliau”, sama halnya julukan Muhammad yang lain, bisa dipakai sebagai kata ganti.

Soal lain yakni diksi “pemikir” yang ditulis Hajrah. Konteksnya, Muhammad dan Karl Marx disebut “pemikir” besar yang punya pengaruh. Di sini, saya nyatakan, perlu kehatihatian jika mau menyebut  Muhammad “pemikir”. Karl Marx punya gagasan sosialisme ilmiah, dia berpikir soal nasib buruh. Dia bersama Enggels merumuskan Manifesto Komunis. Syahdan, Marx adalah orang yang memacu intelektualitasnya dengan berpikir di batasbatas keilmiahan. Sedangkan Muhammad seorang nabi. Dia kalau mau dibilang tidak punya “orisinalitas” pemikiran. Muhammad, orang yang menerima wahyu, dia seorang pembawa pesan.

Soal ini akhirnya jadi esensil. Banyak kemungkinankemungkinan terbuka. Kalau Muhammad seorang “pemikir” maka dia orang yang punya ruang otonomi menggunakan rasio. “Pemikir” apalagi dalam konteks modern, merupakan antitesa dari cakrawala bathin abad pertengahan. “Pemikir” dan seperti intelektualitas abad pertengahan “Perenung”, dua soal yang berbeda tolak ukur. “Pemikir” akibatnya adalah suatu “pemberontakan” terhadap otoritas wahyu yang menjadi sistem pengetahuan sebelum abad modern.

***

Kelas dimulai sekira pukul dua. Kawankawan agak telat. Saya dan Hajir, seperti biasa pergi menggandakan Kala. Selebaran ini sudah masuk bulan ketiga. Di edisi akhir Maret, Kala punya kolom baru; “Unjuk Rasa“.

Kolom ini sudah jadi “milik” Sulhan Yusuf. Nampaknya, dia sudah ditakdirkan menulis di sana, halaman terakhir KalaKalabukanlah media berita yang punya nama. Dan, memang Kalabukan media berita. Kala hanyalah mini buletin yang terbit setiap akhir pekan. Tapi, kolom “Unjuk Rasa” yang baru di Kala jadi semacam nilai jual. Pasalnya, di situ Sulhan Yusuf melahirkan ideidenya tiap akhir pekan. Di situ, kita bisa berjumpa “Sulhan Yusuf” yang lain.

Saya kira, di beberapa komunitas, Sulhan Yusuf bukan asing. Dia orang yang gampang dikenali. Ciri khas yang lekat dari beliau adalah kepala yang plontos. Kalau mau dibilang, hidup pria penggila Arsenal ini adalah dunia literasi. Dari mahasiswa hingga sekarang, hanya satu semesta tempat Sulhan menyatakan diri; dunia aktivisme. Makanya, contoh vulgar kayak bagaimana aktivispar excellence, Sulhan Yusuflah orangnya.

Aktivisme itulah yang dia niatkan untuk Kala. Dia sudah dibaptis untuk mengakar diri di kolom “Unjuk Rasa“.  Di tulisan perdananya, dia bilang ini jalan literasi yang bakal ditempuh. Kolom “Unjuk Rasa” sebidang rumah tempat dia datang karena merasa terpanggil. Menulis, bilangnya, adalah panggilan jiwa.

Karena itulah, di kolom itu kita bakal bertemu “Sulhan Yusuf” yang lain. Di situ bukan Sulhan Yusuf penggila Arsenal, bukan Sulhan Yusuf yang kerap jadi “murid” Guru Han, juga bukan seorang pimpinan Paradigma Institute. Di situ, “Sulhan Yusuf” sudah jadi pemikiran, ujud yang dirundung kenyataan, ditimpa soalsoal dan kembali bersuara, berunjuk rasa.

Makanya bisa dua hal terjadi di sana, di kolom “Unjuk Rasa“. Pertama, dari mata bulat Sulhan Yusuf, dia bisa memapar beragam kejadian. Dari matanya, dia bisa mewakili mata objektif orangorang. Menulis atas orangorang, juga merasai seperti orang kebanyakan. Matanya, atau perspektifnya adalah pengamatan yang berusaha masuk dalam dunia orangorang. Akibatnya, Sulhan harus jadi “orangorang kebanyakan”, dia harus objektif.

Atau, yang kedua, dari ruang bathin yang subjektif. Di sini, kemungkinannya jadi lain, di sini dunia objektif jadi surut. Di ruang bathin, Sulhan berlaku subjektif. Di ruang ini, Sulhan memiliki kemerdekaan berbuat apa saja. Tak ada yang punya hak intervensi di situ. Di dalam dimensi subjektifitas, Sulhan bisa menulis apa saja, mulai dari perkara pribadi sampai ihwal masyarakat. Mata bathinnya bisa berlaku surut atau maju menyoal masa silam atau masa depan. Karena itulah disebut unjuk rasa; menyuarakan segala soal dari dalam kepada khalayak. Suatu pernyataan sikap.

Di dua kemungkinan itulah kita bakal menjumpai “Sulhan Yusuf” yang lain. Dia bakal bergerak di antara suara orangorang banyak atau seorang yang mengambil suatu sudut di antara banyak orang. Dia bakal bermain di batas dua dunia, dunia subjektif, juga dunia objektif. Dia bakal menulis khalayak ramai faktafakta atau ihwal sunyi permenungan suatu jiwa.

***

Akhir Maret pekan yang terik. Kelas menulis PI ramai dengan pekik suarasuara. Kadang gema bibir kala gema aksara. Dari situ tulisan dibaca satusatu. Ini metode pertama kali dipakai. Mekanismenya, tulisan yang dibawa dibacakan sendiri untuk dikritik. Satu tulisan dibaca, satu tulisan dikritik.

Gema itu salah satunya datang dari dua tulisan; Arhi dan Heri. Mereka menyoal dua kasus berbeda, tapi siapapun membacanya pasti tahu, mereka sebenarnya sedang protes. Barangkali “protes” itulah benang merahnya. Sadar atau tidak, mereka jadi dua orang yang bersuara paling lantang atas tulisannya. Mereka sedang memprotes dunia “orangorang suci”; dunia pendidikan.

Arhi menyoal kebijakan pemerintah yang dianggap meliberalkan pendidikan. Atas itu dia tulis lengkap sejumlah aturanaturan. Mulai undangundang sampai peraturan presiden. Dari BHP sampai BLU. Di situ Arhi menulis sejumlah alasanalasan mengapa BLU perlu ditolak, selain karena privatisasi, juga liberalisasi. Arhi tulis “bolehkah kami bertanya, kapan kampus lebih baik dari peternakan anjing? Lebih baik dari pembuangan sampah? Tidak kebanjiran ketika hujan, dan tidak berdebu ketika kemarau? Tidak kepanasan ketika kuliah? Kapan biaya kuliah kami murah? Kenapa kami harus bayar mahal, tapi fasilitasnya tidak layak?

Heri, yang juga seorang mahasiswa, mengungkap faktafakta ganjil penyelenggaraan pendidikan di almamaternya. Dia bilang banyak bentuk diskriminasi dilakukan di sana. Dan, juga yang dia sebut ganjil adalah soal pungutan liar.  Jadi kasusnya soal sebentuk kegiatan yang dilakukan oleh pihak kampus kepada mahasiswa UKT. Sesuai aturan Pemendikbud No. 55 Tahun 2013, tidak ada lagi pungutan biaya bagi penyelenggaraan akademik berbasis uang kuliah tungal. Namun sayang, kegiatan itu membebankan sejumlah pungutan kepada mahasiswa UKT demi berlangsungnya kegiatan. Heri menulis, “hal ini musti dikritisi dan mendapat respon yang baik bagi kalangan mahasiswa sendiri, menyatukan suara dan berteriak tolak pungli.” Di akhir tulisannya dia menutupnya “Namun kita haris yakin bahwa penindas, cepat atau lambat akan binasa”.

Sebelumnya, Salman sudah dahulu bersuara. Dia tulis soal perilaku manusia yang merusak alam. Tulisannya mirip suara koor yang berteriak dibelakang panggung, bahwa aktivitas moralis pecinta alam, justru punya maksud lain. Atau digeser dengan maksud lain. Dia singgung soal brandbrand terkenal yang menciptakan trend mencintai alam, namun justru kental dengan unsurunsur kepentingan kapital. Mahasiswa alumni fakultas pendidikan ini, juga  sedikit menyinggung soal etika komunitas alam yang dinilai ambivalen dengan semangat ekologis yang sering jadi jargon.

Tapi, juga ada suara gema yang lain. Semacam kabar bahwa dunia bukan medan yang lurus, melainkan dunia yang landai, curam. Vivi, dengan prosa lirisnya bersuara soal peralihan perempuan muda yang secara transfiguratif menjadi seorang ibu rumah tangga. Fifi, menulis kesankesan peralihan dari seorang perempuan muda yang tibatiba mengemban suatu tanggung jawab keluarga. Dia mengungkap dunia kejiwaan perempuan yang beralih dunia. Perasaanperasaannya. Pekerjaannya kala sendiri mengurusi keluarga. Dan, di situlah kekuatannya, dia mengungkap sisi “keterasingan” seorang istri dari seorang suami yang sibuk dalam dunia kerja.

Retno Sari dan juga Marwa, merekam gema soal suara seorang perempuan yang tersakiti. Retno menulis deskripsi perempuan dengan analogi bungabunga. Di saat dia membaca tulisannya, implisit di situ parau suara perempuan yang bangkit dari semacam pengalaman traumatis. Retno bilang, dia sering mendengar curahan hati perempuanperempuan sekitarnya. Soal bagaimana suatu pengalaman kelam tidak membuat perempuan mendendam dan tersakiti, malah bangkit dan menjalani kehidupan selayaknya kehidupan normal. Suara semacam itulah yang dia tulis, dengan analogi bungabunga.

Marwa, perempuan yang mengemas suaranya lewat fiksi. Teksnya adalah kritisisme perempuan atas idealisme intelektual. Dia nyatakan ambivalensi yang dia rekam. Di kampus, tempat kala menara ilmu jadi tinggi, idealisme sudah jadi barang usang. Idealisme hanya jadi bahasa lantai, atau bahasa jalan raya yang diinjak dan berlalu begitu saja. Kampus, hanya kumpulan suarasuara tengik omong kosong. Di sana, idealisme, entah di atas mejameja birokrat, atau di bukubuku mahasiswa hanya kecerdasan yang disembelih oleh sikap amoralis.

Tapi, di baitbait puisinya, Marwah masih menaruh harap. Terutama kepada orangorang yang harus tercaci maki. Orangorang yang menempuh jalan kecil. Orangorang yang mungkin cuman seorang dua orang, orangorang yang hanya dihitung jari. Orangorang yang punya mimpi besar, dengan gagasan besar. Orang “yang menempuh jalan yang kecil meskipun harus tercaci maki.”

***

Muhajir memacu motornya. Suara knalpot setengah bocor itu membelah jalan Pabbentengang. Saya sedari awal yang diboncengnya duduk memegang selebaran Kala. Kami memang sudah dua minggu ke tempat yang sama menggandakan Kala. Di siang itu, dengan Kala yang tintanya belum kering betul, melaju ke tempat kelas literasi PI digelar; TB Paradigma Ilmu. Di situ kami yakin sudah ada kawankawan menunggu.

Hajir menarik tali gasnya panjangpanjang. Motornya meraungraung. Dan, siang masih terik. Ini hari yang bakal panjang.

Catatan KLPI Pekan 8

Pada akhirnya, hanya dua hal; disiplin dan sikap gigih. Biar bagaimanapun jadi penulis harus disiplin. Ini berarti di situ perlu pola, suatu rencana. Agak susah mau sebut disiplin, kalau di situ tidak ada suatu rencana. Penulis, saya kira orang yang punya agenda; dia menghitung, merancang, menetapkan. Dia mengklasifikasi bacaannya. Menulis catatannya. Dan, menyusun tulisannya.

Sikap gigih, saya kira suatu cara untuk maju. Gigih berarti tak mudah menyerah. Gigih artinya ulet, tekun. Di situ artinya ada tujuan yang mau dituju. Suatu jalan yang sudah dirancang. Jalur yang sudah ditetapkan. Sikap gigihlah yang mendorong terus maju, sesuai rencananya.

Barangkali itu yang penting di pertemuan delapan, kelas menulis PI. Banyak tulisan digeledah. Banyak tulisan punya dosa. Tidak sedikit tulisan punya kasus purba; kesalahan EYD. Ini fatal. Apa kata, sudah lacur terjadi.

Yang soal sekarang adalah isi. Ada harapan kalau setiap tulisan punya bobot. Ini standar baru agar tulisan jauh lebih maju. Kelas sepakat, isi sudah harus lebih tajam, lebih peka. Jadi, barangsiapa menulis sudah bisa punya nilai jual. Ini bukan apaapa, ini indikator kemajuan.

Sebenarnya dari kelas ini dimulai, gaya dan konten sudah jadi prioritas. Isi dan bentuk dua hal yang jadi sorotan. Isi, dinilai baik kalau dia punya perspektif. Atau, bahkan dia punya sudut pandang yang tak diperhitungkan banyak orang. Juga, akan baik kalau isi memuat suatu soal yang baru.

Gaya, saya kira berarti bagaimana bentukbentuk kalimat dibuat. Gaya, punya hubungan dengan struktur jabaran kalimat. Banyak teknik menjabarkan suatu kalimat. Ini hanya soal suatu kalimat mengambil bentuk tertentu. Yang soal, seberapa jauh suatu gaya bisa dibuat menarik. Suatu daya ungkap yang rethoris.

Tapi, perlu hatihati, baik gaya ataupun isi, sebagaimana bentuk dan konten, juga perlu dibuat seimbang. Isi, tak mungkin sampai ditangkap pembaca kalau gaya ungkapnya cacat secara penuturan. Begitu juga sebaliknya, gaya hanyalah kemasan belaka kalau dibalik itu tak ada isi yang mau disampaikan. Dua hal ini, perlu diperhatikan, perlu diseimbangkan.

***

Kelas pekan ini juga molor. Hampir satu jam lebih. Agaknya ini perkara mental. Kurang disiplin.

Harusnya suatu pola sudah jadi mekanisme paten. Sejak dulu, target pertama adalah membangun polah disiplin. Dua hal; disiplin atas waktu, dan disiplin atas jadwal. Yang terakhir saya kira tidak rumit. Ingatan kolektif sudah mapan, kalau tiap akhir pekan kelas menulis digelar. Cuman, soal waktu kelas dimulai memang ada perubahan. Sudah dua minggu kelas dibuka pukul satu siang.

Selang berapa lama kelas dibuka. Saya bilang ada kawankawan tak sempat datang. Beberapa nama saya sebut. Juga alasannya. Walaupun ini bukan kelas formal institusional, perlu untuk disampaikan. Kawankawan yang datang punya hak informasi. Makanya perlu dibilang dari awal.

Awalnya tujuh orang. Kawankawan sudah paham, soal prinsip kelas. Terutama keberlangsungan kelas tanpa bertumpu kepada peserta. Kebutuhan kelas bukan pada banyak atau sedikit yang datang. Justru, sebaliknya, kawankawan yang membutuhkan program harus berjalan. Kelas punya aturan main programatik, bukan pesertasentris.

Makanya, seandainya cuman satu dua orang datang, program tetap jalan. Mekanisme ini sudah otomatis. Jadi, seperti sudah saya bilang, kepemimpinan bisa disematkan bukan pada persona belaka, tapi juga sistem. Ini rumus patennya.

Tak lama berselang satu persatu mulai berdatangan. Kelas tetap berjalan. Waktu pasti berputar.

Kelas, seperti sudahsudah, selalu menjalankan dua mekanisme; sesi naratif, dan sesi kritik. Yang pertama soal membangun cerita atas tulisan, mulai dari proses kreatif sampai kontennya, juga dari motif hingga sikap solutifnya. Yang kedua, sesi kritik. Kelas punya istilah sendiri soal ini; sesi penghakiman. Istilah ini bertolak dari “setiap karya punya dosa”. Jadi, tak ada tulisan yang bersih, semua punya cacat.

Soal cacat, kelas kali ini sempat menyoal ihwal kritik macam apa yang harus diajukan kepada karya tulis. Ada dua pandangan berkembang, yang pertama mau menyoal kedalaman gagasan dengan melihat seberapa dalamkah suatu tema diturunkan penulis di balik struktur teks. Yang kedua, mau melihat seberapa jauh suatu tema gagasan menemukan kelogisannya di dalam struktur kalimat.

Yang pertama pandangan yang diajukan Asran Salam, bahwa seorang penulis harus bertanggung jawab atas ideidenya. Setiap gagasan kalau bisa adalah ide yang sudah matang diungkap lewat karya tulis. Akan problematik kalau menulis atas ide yang masih prematur. Ini soal serius. Tulisan dengan cara begitu akan banyak cacat. Model kayak begitu rentan dengan celah kritis.

Konsekuensi atas cara ini mengharuskan suatu penyelidikan atas maksudmaksud yang ditulis penulis. Bahkan, di tingkatan tertentu akan masuk sampai menyoal sikap ideologis penulis. Pertanyaannya, apakah sikap ideologis penulis sudah selalu ikut dalam pilihan kalimat yang ditulisnya, atau malah sebaliknya? Artinya, keberpihakan penulis di kasus ini bisa mendua, dia bisa bersikap ideologis dalam menulis, atau malah persis seperti seorang ilmuwan, mengedepankan sikap yang netral.

Perspektif ini akan dirasa perlu waktu panjang kalau diajukan sebagai pola paten sebagai mekanisme kritik, sementara waktu dirasa kurang memadai dengan jumlah tulisan yang menumpuk. Alternatifnya, kritik diajukan kepada cara kedua, yakni melihat seberapa logis makna literer dibentuk dalam suatu struktur kalimat. Pola ini juga punya konsekuensi, terutama jika dilihat dari kehadiran penulis sebagai aktor utama di balik karya tulisnya.

Prinsip kedua bertolak dari semacam asumsi bahwa dunia teks juga punya makna mandiri yang terlepas dari dunia pengarang. Artinya, makna teks bisa ditemukan tanpa kehadiran pengarang. Bagaimana teks bisa berarti tergantung dari sistem penandaan yang ada di dalam teks itu sendiri. Maksudnya, ketika suatu struktur pikiran diturunkan di dalam suatu struktur teks, maka di situ sudah ada dua yang bisa berbeda. Yang pertama adalah “yang mau dituliskan”, dan yang kedua adalah “yang sudah dituliskan”. Konsekuensinya, masingmasing dari itu akhirnya punya dua struktur kelogisan yang berbeda. Masalahnya, kepada yang mana kritik harus ditujukan? Kepada yang pertamakah atau yang kedua? Yang pertama akan masuk kepada soalsaoal dunia pengarang, sementara yang kedua memilih menyoal perkaraperkara yang ada di dunia teks.

Perspektif kedua diajukan oleh saya sendiri dengan menimbang dua hal; pengalaman dan waktu. Pengalaman selama ini ada beberapa tulisan yang akhirnya tidak sempat dibahas lantaran kritik yang lama. Sementara pengajuan model kritik pertama dirasa akan memakan waktu yang panjang. Makanya, bukan berarti pola kritik pertama tidak afdol, pengajuan saya ditujukan dengan melihat situasi kelas yang tidak mendukung. Akibatnya, kritik yang diajukan hanya ditujukan kepada dunia teks, bukan kepada dunia pengarang. Dengan memakai mekanisme ini, pola kedua berusaha melihat sejauh apa struktur logis itu dibangun melalui kalimat perkalimat, paragraf perparagraf. Artinya, kritik belum sampai mau menyoal bagaimana ide dipersepsi sang penulis, malah untuk sementara bagaimana mau melihat ide itu sendiri dipersepsi dari tulisan itu sendiri.

***

Selebaran Kala sudah berjalan dua bulan. Tanpa putus terbit tiap kelas dibuka. Distribusinya selama ini diampu kawankawan sendiri. Artinya, kalau ada Kala beredar di luar itu bisa jadi karena kawankawan yang jadi agennya. Prinsipnya, di tangan kawankawan Kala berlipat ganda. Menyebar.

Genap di bulan ketiga kelak, Kala punya kolom khusus. “Unjuk Rasa”, nama yang dipilih untuk sekotak kolom belakang. Dulu, kolom itu diisi redaksi. Asbabnya hanya mau mengisi kekosongan yang tak cukup terisi tulisan. Sekarang, itu “milik” Sulhan Yusuf, beliau nanti bebas mau mengisinya dengan berbagai macam hal. Intinya, kolom ini ditakdirkan hanya memuat 400-500 kata. Tantangannya, dengan konsep yang minimalis, dengan tidak lebih 500 kata, pengampunya dituntut menulis apa saja, segala soal. Ini ibarat perjumpaan “dunia pemikiran yang bebas” dengan “medan teks yang terbatas”. Di antara batas dua dunia itulah nanti Sulhan Yusuf akan menuliskan pikiranpikirannya.

Dengan ijin yang Maha Kuasa, Kala sudah bisa mencantumkan kolom itu diterbitan pekan depan. Kita tunggu saja, terbitan di awal bulan ketiga.

***

Maret jadi penanda kelas menulis PI angkatan dua sudah masuk bulan kedua. Banyak yang datang, tidak sedikit juga akhirnya harus pergi. Agaknya, kelas menulis sudah akrab dengan pola macam itu. Kalau mau mengingat pekan perdana angkatan kedua, kelas jadi ramai, padat. Banyak mukamuka baru. Asing akhirnya kemudian saling kenal. Itu suatu kemajuan dibanding angkatan pertama. Namun, hukum alam bekerja, siapa bisa adaptatif dia yang bertahan.

Kelas, sampai pertemuan kedelapan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau datang berbagi pengalaman seputar dunia literasi. Tak ada penolakan kepada siapa pun yang mau terlibat, selagi mau dan berminat, itu sudah jadi modal bergabung di kelas menulis PI. Cukup datang membawa karya tulis, dan niat mau belajar. Selebihnya, biar Tuhan yang mengatur, orangorang yang konsisten pasti menuai apa yang ia sudah tanam.

Syahdan, ini bukan sekedar komunitas, ini gerakan. Yang namanya gerakan butuh keberlangsungan terus menerus. Butuh kontinyuitas. Yang namanya gerakan harus punya niat yang besar, dan juga napas yang panjang. Kuncinya pada akhirnya hanya dua soal; disiplin dan sikap gigih.

Catatan KLPI Pekan 7

Pekan ke tujuh, kelas menulis PI agak molor. Hampir dua jam. Kesepakatannya, kelas harus dibuka pukul satu siang. Minggu lalu masih menumpuk beberapa tulisan, makanya perlu tambah waktu. Tapi, kelas dimulai sekira pukul tiga. Kawankawan satu persatu datang. Kelas mulai ramai.

Yang buka kelas Heri. Saya, yang diplot jadi ketua kelas memilih bagi tugas. Kebiasaan ini agaknya perlu, sembari mengedukasi kawankawan, bahwa kepemimpinan tidak mesti diampu sendiri. Saya kira kepemimpinan harus jadi kolektif. Maksudnya: agar tidak dominan.

Soal kepemimpinan, agaknya mesti diujicobakan, terutama sifatnya yang kolektif. Kelas menulis PI sebenarnya sudah digerakkan sistem. Persona, yang sering jadi motor bukan rumus paten. Di kelas menulis, fungsi diutamakan tinimbang sosok. Fungsi adalah pokok.

Itulah kenapa, kepemimpinan harus dipengalamanbersamakan. Kawankawan bisa silih berganti, jadi ketua, sebagai fungsi. Artinya, kelas tetap berjalan tanpa digerakkan status, tapi peran yang bisa disematkan kepada siapa saja.

Sudah jadi tradisi, kritik karya tulis jadi prioritas. Empat belas naskah digeledah, sekalikali didedah. Awalnya, kawankawan sudah mendedah karya tulisnya, macammacam. Tapi, hanya ada dua genre; esai dan cerpen. Tajuknya yang purnaragam, soal tulisan yang menyitir falsafah dasar manusia, sampai Nietzsche, filsuf yang menganggap dirinya dinamit itu. Puisi, yang kerap jadi bahan omongan, kali ini absen.

Yang pokok dari pekan ini nampaknya karya tulis Sulhan Yusuf. Sudah ghirahnya barangkali, pendiri PI ini menulis esai. Ini bukan pengecualian bahwa puisi juga jadi pilihan literasinya. Cuman, esainya kali ini digadang punya bentuk baru. Bilangnya, setiap paragrafnya bisa mandiri bila berdiri sendiri.

Ini mirip, sebut saja air. Rumus kimiawinya, air dibentuk hidrogen dan oksigen yang masingmasing bisa lepas dan berdiri sendiri. Namun, kesemuanya jadi unsur baru tanpa meleburkan masingmasing identitas. Hidrogen tetaplah hidrogen, dan oksigen hanyalah oksigen walaupun bersatu dalam air. Masingmasing otonom.

Tulisan Sulhan Yusuf, diberi judul “Pendidikan Literasi dan Politik.” Kalau tidak salah disusun oleh duabelas paragraf. Kalau dibilang setiap paragraf bisa mandiri, artinya bila dicomot satu paragraf tidak mengubah inti gagasan secara keseluruhan. Begitu juga lain sisi, paragraf yang sudah dicomot, jadi gagasan baru yang bisa dikembangkan. Kirakira begitu yang diajukan saat Sulhan mendedah karya tulisnya.

Saya kira, ini soal baru. Pasalnya, kalau dilihatlihat, struktur paragraf tulisan kawankawan pakai pola linear. Model ini gaya konvensional, yakni setiap paragraf dibiarkan bergerak berdasarkan kaidahkaidah garis lurus. Skemanya seperti linearitas bilangan asli; 1-10. Akibatnya, jika angka 2 atau 7 dicopot, maka runutannya akan berhamburan. Pikiran akan merasai agaknya ada yang tidak inklud dalam hitungan.

Dari obrolan pasca kelas, diketahui kalau macam tulisan Sulhan Yusuf, bukannya tanpa pola, justru seperti yang disebutnya memakai pola zigzag. Pola ini nampak jelas kalau hubungannya dilihat dari skema paragraf satu dengan paragraf tiga, paragraf dua dengan empat, lima dengan tujuh, enam dengan delapan, sembilan berpasangan dengan paragraf sebelas, begitu seterusnya.

Tidak semua tulisan habis digeledah. Soalnya waktu dirasa minim. Akibatnya, simpulannya dibuat mapat jadi dua garis besar; EYD, dan konten tulisan. Dua hal ini memang setua kehadiran karya tulis. Kalau mau ditarik ke belakang, ke masa filsuffilsuf, soal gaya dan isi sudah problematik. Makanya, saya kira ini juga jadi perkara laten di kelas menulis PI. Memang sudah dari sononya perkara ini dimulai. Jadi, agaknya perlu sikap sabar. Soal EYD dan konten hanya soal waktu belaka. Lamalama akan punah sendirinya.

Cuman ada wantiwanti, kalau EYD bukan lagi harus jadi kasus primer. Ini perkara elementer, artinya kawankawan harus punya sikap serius berbenah diri. Kawankawan harus disiplin mengajukan kritik internal kalau tulisan yang dilahirkan sudah layak baca. Salah satu ukuran layak baca, tidak ada lagi dosa purba EYD. Bersih.

Jelang magrib, sisa waktu, dipakai obrolobrol lepas, tapi jelas. Pertama, lagilagi soal kasus Saut Situmorang. Tak jelas siapa yang mulai, tibatiba saja sudah diomongkan. Agaknya, beberapa kawankawan belum tahu soal ini, makanya ada sedikit ulasan kalau kasus ini sedang masa persidangan dengan Saut tersangkanya. Juga sempat diungkap ulang kronologis polemik yang disulut buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.” Dua, bahkan tiga nama disebut; Denny J.A, Fatin Hammama, dan Saut sendiri, yang sedang bersengketa hukum.

Tapi, setidaknya ada dua poin genting buat kawankawan. Pertama, menjadi sastrawan, atau profesi apapun butuh proses panjang. Tidak ada usaha karbitan menjadi profesi yang dimaui. Segala butuh disiplin dan ketekunan. Di balik, misalnya, Pramoedya Ananta Toer, ada beriburibu peristiwa untuk disebut sastrawan besar. Di setiap profesi, selalu mengandung pertaruhan waktu. Barangsiapa gigih, dia tuai hasil.

Kedua, puisi esai yang lekat dengan jenis baru Denny J.A. Ini perkara baik untuk bisa masuk di wacana yang lebih luas. Maksudnya, lewat model yang diperkenalkan Denny J.A, puisi esai, kawankawan bisa sekaligus mengumbar macammacam jenis atau bentuk puisi. Atau, bahkan mempersoalkan apakah yang ditulis Denny J.A merupakan puisi? Kalau iya, adakah model semacam itu sebelumnya? Kalau tidak, kenapa disebut puisi esai? Apa itu puisi esai? Dsb.

Obrolan juga sempat singgung politik sastra. Ini agak peka, perkara bawabawa mazhab sastra. Di kelas menulis, soal ini kurang dapat perhatian. Ini hanya perbincangan orangorang tertentu. Kelas menulis prinsipnya tak hirau soalsoal macam itu. Toh kalau ada, lagilagi itu hanya melibatkan segelintir orangorang. Kelas menulis terbuka segala macam mazhab kesusastraan, mulai dari realisme sampai lirisme. Dari humanisme universal hingga sastra sebagai panglima.

Pasca makan malam bersama, kelas menulis PI lakukan evaluasi. Yang utama ihwal keseriusan membangun tradisi membaca dan menulis. Juga, bagaimana kawankawan banyak membaca karangan penulis ternama, tujuannya agar bisa membangun sudut pandang. Begitu juga cerpen, bagi yang senang menulisnya bisa bereksperimen seperti apa konflik menjadi unsur utama cerita. Bagaimana menciptakan karakter, membangun plot, dan menutup cerita dengan ending memesona.

Kala juga jadi sorotan, terutama soal jumlah tulisan yang mau dimuat . Selebaran ini, sekali terbit sampai edisi ke tujuh hanya menurunkan dua tulisan. Jika dua tulisan menyisakan kolom kosong di halaman terakhir, redaksilah yang mengisi. Keadaan ini sudah tiga pekan terjadi, yang artinya tugas redaksi harus mengisinya. Ini akibat minimnya tulisan yang masuk ke meja redaksi. Walaupun tulisan selalu diambil dari karya kawankawan, tetap saja minim. Makanya, mulai pekan depan sudah ada mekanisme menentukan tulisan siapa layak muat. Ini sekaligus menjadi ajang saing, internal kelas menulis tentunya.

Yang baru dari Kala, mulai terbitan minggu depan, kolom yang sering diisi redaksi akibat ruang kosong akan diampu langsung Sulhan Yusuf. Halaman terakhir ini mirip Catatan Pinggir Tempo yang ditulis Goenawan Mohammad, atau Catatan Dahlan Iskan di kolom koran besutan Jawa Pos. Artinya, pria berkepala plontos ini harus menulis sekira 500 kata tiap akhir pekan di kolom yang direncanakan mengambil nama “Unjuk Rasa.”

Akhir kelas, kawankawan menaruh perhatian soal swasembada di sektor ekonomi. Keputusan menerapakan iuran dirasa perlu akibat kebutuhan kelas. Kebijakan ini sekaligus jadi indikator seberapa jauh perhatian kawankawan terhadap keberlangsungan kelas menulis PI. Alokasinya bisa banyak hal, mulai air minum, langganan koran, sampai ongkos produksi selebaran Kala. Selebihnya barangkali hanya buat kebutuhan teknis.

Yang terakhir, ada kesadaran membuat website. Pilihan ini masih mau dibicarakan kembali, berhubung Icha punya pengalaman membuat website. Soal kelanjutannya, agaknya jadi tanggung jawab Icha, kawan yang sudah dua pekan terlibat kelas menulis PI. Kalau diamanahkan dia siap. Kelas sepakat.

Awal maret, seorang kawan merasai tulisan pertamanya terbit. Saya kira, bagi penulis manapun, tulisan pertama tembus surat kabar punya kesan yang sulit dilukis. Tapi, kalau ibarat warna, hati Ishak Boufakar sudah berubah jadi warna lapislapis pelangi yang tetiba tumpah, meleleh dan saling menindih. Teradukaduk. Bercampur. Warnawarni.

Syahdan, ini awal Maret yang panas. Seperti akhir Februari yang basah, awal Maret jadi deret pekan yang menyulut asa. Tidak boleh seret, besok, di pekan yang lain, kertas masih banyak kosong. Tulislah, semampunya saja.

Catatan KLPI Pekan 6

Ini pekan yang panjang, terutama Kelas Menulis PI. Sudah jauhjauh hari tulisan diposting, sudah jauh sebelumnya kritik diajukan. FB jadi media, untuk tulisan dapat masukan. Sebelumnya tidak ada macam begitu. Ini hal yang baru.

Sudah dua pekan hujan urung berhenti. Langit jadi basah, hitam. Tak sering malah bikin waswas. Apakah kawankawan mau datang, biar pun hujan enggan pergi. Makassar memang sering basah, tapi asa harus diasah.

Karena itulah sudah pekan ke 6. Kelas menulis sudah sampai di sini, akhir Februari. Banyak yang datang, sedikit yang bertahan. Yang begini hukum alam. Siapa nyaman dia pasti bertahan.

Selalu ada harap kelas ini bukan tempat singgah. Kelas ini diharap jadi rumah, home. Begitu kirakira prinsip yang mau ditanam. Saling asah, asuh, dan asih. Makanya sampai sekarang kelas ini bisa bertahan. Tak ada yang mulukmuluk. Yang penting, saling perhatian, saling beri masukkan, sesekali kritik.

Omongomong soal kritik, kali ini jadi perkara yang panjang. Pola baru diajukan, kalau setiap karya dapat jatah diintrogasi. Soalnya pekan sebelumnya kurang maksimal, malah tidak fair.

Perlu dibilang ulang di sini, di kelas ada dua mekanisme dipakai. Ini pola kami belajar. Pertama, mekanisme yang punya tugas menarasikan karya tulis. Di mekanisme ini, kawankawan punya waktu untuk membahasakan ide tulisnya, mulai dari motif sampai bentuk tulisan. Tahap ini kawankawan punya kemungkinan mau menceritakan kembali karya tulisnya atau dengan tujuan apa tulisan itu diniatkan.

Kedua, mekanisme kritik. Ini sering dibilang tahap introgatif. Maksudnya tak ada karya tulis yang bersih. Semua punya cela. Makanya di sini perlu penggeledahan. Perlu kritik. Dua hal bisa terjadi di sini, sebagai tersangka, penulis diintrogasi apa motifmotif dia menulis karya bersangkutan. Kenapa temanya demikian, kenapa judulnya demikian. Tapi ini jarang ditanyakan. Kritik belum sampai mau singgung halhal macam itu.

Kemungkinan kedua kritik struktur dan konten. Analisanya ditujukan kepada struktur kalimat dan gagasan apa sebagai isinya. Kadang, di sini juga sering ada kesalahan ejaan. Bahkan kata sering jadi soal.

Mekanisme kedualah jadi perkara panjang. Tulisan kawankawan digeledah satusatu. Dipreteli. Kemungkinan kedua yang jadi alur. Kalimat per kalimat dikritik. Susunannya. Kesalahan ejaannya. Macamamacam.

Lewat mekanisme itu tiap kawankawan jadi waswas sekaligus senang. Waswas karena banyak kritik dijukan, senang karena ada perbaikan.

Kalau mau dirangkum, ini hal yang jadi problem di kelas pekan ke 6:

Pertama, masalah klasik. Soal ejaan yang sempurna. Kadang “yang disempurnakan” bisa menjadi anutan kalau menulis itu berarti berproses. “EYD” akronim yang sering di dengar itu, tidak begitu saja jadi pakem. Sejarah kesusastraan juga bilang begitu, kalau bahasa itu berkembang. Perkembangannya bisa oleh banyak hal, tapi kebudayaan paling dominan di situ.

Kadang suatu kata atau bahkan cara mengucap tiap kebudayaan berbeda. Apalagi bahasa yang beragam. Sejak Indonesia lahir, bahasa Indonesia juga lahir. Bahasa budaya tetap bertahan, namun Indonesia sebagai bangsa merdeka punya bahasa kolektif. Itulah sebabnya bahasa budaya bukan bahasa nasional. Yang lokal hanya berlaku pada teritori tertentu. Tapi bahasa Indonesia, dari ujung Sumatera sampai ekor timur jauh, jadi bahasa nasional.

Semenjak itu, banyak penyempurnaan kalau bahasa juga butuh aturan. Kalau tidak bahasa jadi medan yang rentan karena waktu dan perubahan. Makanya perlu pembakuan agar punya cara yang sama. Karena akan jadi perkara bila bahasa cair, bisa jadi berbeda. Lewat proses sedemikian, bahasa akhirnya terus dijaga lewat ejaan yang disempurnakan. Bukan dibekukan.

EYD akhirnya jadi patok buat orangorang yang mau menurunkan bahasa lisan jadi tulisan. Aksara yang ditulis harus taat aturan. Bahasa yang diverbatimkan harus ikut EYD.

EYD itu penting, makanya di kelas ini hal pertama yang jadi sorotan. Hasilnya, masih ada beberapa kawankawan yang kurang peka. Misalnya, kalau bahasa asing harus dimiringkan. Kalau yang benar itu bukan “muda” jika mau menyebut tidak susah, tapi “mudah.” Bukan “kesustraan” tapi “kesusastraan”, bukan “dirumah” tapi “di rumah”. Dan, jenisjenis perkara yang dilanggar. Ini memang soal klasik. Barangkali lolos dari tahap editing.

Perkara editing kadang banyak yang lupa. Sesi ini sering disebut bukan bagian proses kreatif menulis. Banyak yang mau karya tulisnya langsung jadi begitu saja. Seolaholah tanpa itu karya tulis sudah jadi belaka. Padahal tidak. Editinglah justru proses menulis sebenarnya. Di situlah, mulai ada perhatian lebih soal ide, kata, kalimat, sampai paragraf. Perhatiannya apakah sudah koherenkah gagasan, tertata baikkah kalimat, sudah baiikkah kata yang dipakai, juga betulkah yang sudah ditulis. Singkatnya, di sini penulis harus berpikir dua kali dibanding tahap pertama saat menulis.

Kedua, soal struktur berpikir. Kalau yang ini kawankawan sudah banyak paham. Tapi, beda struktur pikir, beda struktur kalimat. Boleh dibilang beda yang dipikirkan, beda juga yang telah dituliskan. Ini juga sering jadi soal. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menurunkan gagasannya lewat susunan kalimat yang runut. Lewat kalimat yang runut, pasti ditunjang struktur berpikir yang kokoh. Kadang banyak kalimat jadi runyam akibat struktur pikiran yang berantakan. Sudah bisa dipastikan, orangorang yang punya struktur pikir yang baik, kalau bikin susunan kalimat pasti rapi.

Ketiga, lingkaitnya dengan sudut pandang. Kehebatan seorang penulis bisa ambil sudut pandang yang tak didugaduga. Ini seperti seorang juru kamera yang memainkan angelnya. Di sudut mana dia arahkan kameranya. Banyak kameramen handal, ditunjang dengan lensa beratusratus pixel, tapi tidak memiliki sudut pandang yang unik saat ambil gambar. Banyak penulis dengan gagasan jernih, tapi tidak ditunjang sudut pandang yang berbeda.

Soal ini lebih banyak ditentukan dengan latihan. Banyak membaca karangan orang lain, dan mau belajar terus menerus.

Keempat soal insight. Yang ini bisa dua hal; pengetahuan dan pengalaman. Kawankawan hampir semuanya punya pengetahuan yang bagus. Tapi, barangkali minim pengalaman. Insight tumbuh seusia seberapa jauh gagasan dikembangkan. Mau buka ruang bagi halhal baru. Terutama jika soal pengetahuan mendalam. Yang terakhir kaitannya kuat dengan refleksi, kontemplasi.

Ada dua hasil karya, karya reflektif dan karya aplikatif. Yang pertama, tulisan yang bisa menggubah daya pikir. Karya yang bisa mengajak orang menimbang kembali soalsoal, macammacam. Yakni, karya yang mampu membuat orang tahu, bahwa “soalsoal” bukan sekedar soal belaka, tapi perkara penting. Bisa jadi karya begini bahkan mengubah sudut pandang orangorang. Ini kadang tulisan yang meresahkan.

Karya aplikatif, tulisan yang mengandung teknikteknik, tata cara, juga metode. Kalau yang ini tulisan yang mengajak orangorang lebih banyak berbuat, bukan berpikir. Tulisan karya begini banyak. Bahkan disukai orangorang.

Soal keempat inilah sekaligus diasah di kelas menulis PI. Bukan sekedar menulis, namun juga punya insight.

Barangkali empat hal itulah yang pokok. Kelas begitu panjang, sekaligus juga mengisi yang lenggang; pengetahuan yang bertambah.

Kali ini kelas ditutup sampai sekira pukul sembilan. Sebagian yang lain sudah pulang lepas magrib. Katanya tidak bisa berlamalama. Soalnya baru habis sakit. Yang lain memilih tinggal melanjutkan kelas yang dipending. Kritik karya dilanjutkan, sampai interupsi datang; kelas dilanjutkan pekan depan. Ada kawan yang harus diutamakan, dia belum tidur seharian. Makanya jelang malam agak kurang fit. Karena itu kelas disusul pekan depan.

Pekan depan kelas dimulai sedari siang; pukul satu. Tempatnya masih sama, sekretariat PI. Kawankawan, ini tantangan. Besokbesok butuh banyak energi, perhatian, kemudian juga waktu. Barangkali karena itu bisa maklum, tidak ada penulis yang lahir karena waktu lenggang. Setiap detik begitu penting. Karena itulah menulis berarti siap menderita.

Syahdan, di angkasa masih sama, setiap sudut penuh kabut mendung. Ini memang pekan yang kadung basah. Akhir Februari tinggal dibendung kenangan. Maret, selamat tiba. Jangan sungkan, asa sudah dibubung tinggitinggi..

Catatan KLPI Pekan 5

Awalnya agak ragu kelas menulis PI tidak jadi digelar. Tibatiba hujan datang. Deras. Tapi, selama berlangsung, kelas PI tidak pernah bolong. Sudah hampir tujuh bulan kelas dibuka. Sekarang, yang diuji konsisten. Juga disiplin.

Semangat bisa datang, bisa lapuk, bahkan hilang. Kali ini biar bagaimana pun kelas tak boleh gagal. Pasca hujan reda, gegas berangkat. Semangat masih ada, tidak bisa hilang.

Di sekretariat PI, sudah berkumpul beberapa mata. Melingkar seperti sudah sering. Banyak kertas berhamburan. Curiga, kelas sudah dibuka dari awal. Perbincangan sudah alot. Terkaannya, soal tulisan salahsatu peserta.

Sebelumnya, Kala dilipatgandakan. Dengan print sewaan. Juga dicopy. Kala sudah terbit lima pekan. Kali ini menurunkan tulisan Sandra Ramli. Dia tulis soal isu yang sedang dirundung pro dan kontra. LGBT. Begitu juga soal homofhobia. Baru kali ini Kala menurunkan tulisan yang sedang happening. Biasanya hanya tulisan yang tak punya kaitan dengan isuisu di masyarakat. Ini suatu kemajuan bagi Kala.

Kedua karya Muchniart AZ. Katanya Muchniart pulang sebelum kelas dimulai. Ada urusan mendesak. Esai yang dimuat mengomongkan lifestyle kaum muda. Dia pakai analisis Giddens, yang menyampir zaman yang bak Juggernaut. Lari tunggang langgang tanpa kendali. Normanorma bergerak tanpa arah. Sementara suatu pegangan tak kunjung jelas. Begitulah rasarasanya inti yang ditulis.

Di halaman terakhir Kala mengajukan satu polemik. Seperti yang sudahsudah dari sejarah sastra Tanah Air. Soal identitas kebangsaan. Apakah identitas harus selalu bagian dari tradisi masa lalu atau ini soal visi ke depan. Perdebatan mainnya di soal itu: keinginan merumuskan tradisi sebagai identitas, atau sebaliknya jauh lebih maju, identitas juga harus menggamit apa yang di depan, suatu tatanan yang modern.

Polemik kebudayaan setidaknya juga jadi wacana kembali. Biar bagaimana pun ini bagian dari sejarah selama ini. Aspek ini yang ingin disuarakan tulisan ketiga Kala. Walaupun tulisannya dadakan. Tapi redaksi punya mau, kalau bisa ini juga jadi topik gosip kawankawan di PI.

Karena telat, baru hampir pukul lima kelas dibuka. Saya yang jadi ketua kelas buka seperti biasa. Saya jelaskan mekanisme kelas. Soalnya saya melihat muka baru. Di kelas selama ini selalu ada peserta baru, walau belum tentu bisa bertahan. Ini maklum, bukan yang utama. Yang penting mereka tahu, kami konsisten.  Juga disiplin.

Omongomong disiplin, ini mungkin penyakitnya. Kesepakan bilang pukul tiga, namun kerap molor. Saya khawatir ini jadi akut, terutama peserta yang sering telat tiba. Saya juga begitu, kurang disiplin. Tapi, bicara konsisten, kawankawan sudah membuktikannya. Ini prestasi. Salut.

Di kelas tulisan begitu banyak. Melebihi jumlah peserta. Banyak titipan. Bahkan Ari membawa dua tulisan: satu esai satu puisi.  Beberapa yang lain cerpen. Ada juga puisi. Saya sendiri sejenis Esai. Sementara K Uly dan Ishak yang saya kira esai murni.

Mekanisme pertama dimulai: menarasikan tulisan. Saya memulai. Yang saya bawa tulisan bertajuk “Bukan Pahlawan.” Isinya bisa di telusuri di lini masa FB, atau blog saya. Kemudian Arhi, dia bawa esai apresiasi karya Sulhan Yusuf. Sandra Ramli bilang dia bawa cerpen, tajuknya menarik: “Mengantar ke Vihara Menuju Lahore.” Jalan ceritanya fresh. Juga tulisan Kak Uly yang menyitir soal parenting. Tulisannya sudah muat di Tempo Jum’at lalu. Bisa di baca di lini masa FB beliau. Banyak yang ingin membacanya. Saya duga karena tak sempat beli korannya.

Setelahnya Rahmi, tak tanggungtanggung ternyata membawa dua tulisan. Cerpen dan Puisi. Saya tak sempat membacanya. Pikir saya bisa nanti. Di sebelahnya Jusnawati, kali ini dia hanya bawa puisi “Noktah Kita” Ada tafsir berkembang di forum, kalau itu tentang seseorang yang ditinggal pergi, atau seseorang yang lekas beranjak tapi di hadapannya masih dunia yang abuabu. Ada enggan yang menarik agar tetap di tempat, tapi keinginan mau pergi malah semakin besar.

Muhajir yang datang agak telat juga bawa karangan fiksi. Dia bawa cerpen. Saya juga belum baca. Katanya nanti diupload di FB. Dia punya alasan kalau tulisannya dikerjakan di waktu yang mepet, makanya belum sempat diedit. Kita tunggu saja diposting di blognya. Pasca itu ada Ishak. Dia konsisten tulis esai. Juga seperti dia bilang pada tema yang dia sukai, soal kebiasaannya: mendaki gunung.

Ishak tulis beberapa nama yang sudah menaklukkan gununggunung tinggi. Bahkan juga Khadijah, istri Muhammad. Tulisannya bilang Khadijah sering tahanust, suatu kebiasaan menyepi di bebukitan tinggi. Ini juga sekaligus aktifitas spiritual. Suatu yang sudah jadi tradisi. Dia juga singgung Soe Hok Gie, adik Arief Budiman, sosiolog yang terkenal itu. Dalam tulisannya, Gie mendaki sebagai bagian aktifitas politik, bahkan bentuk nasionalisme. Karena itu Ishak mendaku kalau pegiat alam yang gandrung bagi anakanak muda, jangan sampai hanya bagian dari soal yang sering merusak alam. Bisa dibilang hanya aktifitas gagahgagahan.

Khalik yang datang lebih awal menulis semacam prosa liris. Saya bilang tulisannya semacam aktifitas bathin yang gundah. Yang ditulis saat suatu perkara datang. Ini soal hati. Makanya hanya Khalik yang tahu persis gambaran karyanya. Di penyampaiannya, pasal Khalik adalah suatu yang sedang dia alami. Bahkan dia menulisnya di selasela yang mepet. Dia tulis di pagi ini. Katanya jam sembilan pagi. Dia merasa harus menulis sesuatu.

Jika mau mengangkat perkara, di sesi kedua masih soal penyakit lama. Ihwal EYD. Ini soal yang tak kunjung tuntas. Tapi, sekaligus langsung diwantiwanti. Bahaya kalau penyakit lama tak kunjung sembuh.  Kak Uly banyak sitir kebiasaan buruk jangan sampai menghambat perkembangan kualitas menulis. Halhal tekhnis harus segera diungsikan. Besokbesok sudah harus omong perkara konten. Ide. Kalau perlu gagasan.

Dari situ kritik dimulai. Banyak tulisan yang diintograsi. Bahkan penggeledahan semakin butuh ruang. Saya jauhjauh hari bilang tak ada tulisan yang cakap dan sempurna. Semua punya salah. Makanya setiap tulisan harus  dicurigai bersalah. Setiap tulisan punya cacat. Saya pikir itu yang mampu mendasari kami dalam melakukan kritik. Tapi, istilah kami, menggeledah. Setiap penulis tersangkanya.

Kelas hari ini tak ramai sedia biasanya. Banya kawankawan yang berhalangan datang. Beberapanya agak sakit. Yang lain tak ada kabar. Entah. Mungkin hujan jadi batu sandungnya. Cuaca memang bisa jadi penjara. Atau memang info datang tak sempat menyebar. Saya harap ini bisa diminimalisir kalau kawankawan saling bikin anjuran. Bisa mengingatkan satu dengan yang lain.

Makanya grup Paradigma Institute harus jadi pusat. Dunia kongkret sering membangun jarak. Waktu bisa ditempuh lama. Jauh dekatnya bisa ambil waktu. Di dunia maya, justru itu hilang. Dunia maya bisa melipat segalanya, juga waktu, apalagi ruang. Itulah kenapa, tulisan lebih baik di kirim ke sana. Di grup yang sudah lama ada. Ini penting, biar kawankawan di waktu tertentu bisa lebih leluasa berkomentar tentang apa saja. Tulisan akhirnya bisa lebih sempurna dikritik.

Yang baru dari kelas kali ini ada pembacaan puisi. Ridho yang memulainya. Puisinya sempat jadi obrolan. Rahmi bilang tidak menemukan estetika di dalamnya. Kritik Rahmi membuka wacana: yang mana disebut estetis dalam puisi. Apakah puisi gelap lebih indah dibanding puisi semacam Ridho tulis. Puisi Ridho dalam wacana tertentu dibilang puisi pamflet. Saya mengistilahkannya tadi puisi jalan raya, bukan puisi panggung. Tapi diskusi tak sempat panjang. Waktu mepet. Azan berkumandang. Kami pulang.

NB: Pekan depan kelasnya masih di sekretariat PI.

Catatan KLPI Pekan 2

Hari ini saya punya janji untuk mengikuti kelas literasi. Mau tidak mau saya harus ikut, soalnya sudah diingatkan oleh kanda Bahrul Amsal melalui lini masa FB. Apalagi beberapa hari sebelumnya saya sudah janjian dengan Aii Avicenna, kawan saya yang juga kebelet ingin ikut. Maka, siang ini saya bersiapsiap lebih awal, sembari menunggu jemputan Aii.

Kelas literasi sebenarnya sudah lama saya ketahui dari kabar yang diceritakan kanda Bahrul. Beberapa foto kegiatannya juga sering kali nongol di FB. Melihat kegiatankegiatan mereka, saya merasa harus ikut. Namun, waktu itu kepalang kelas sudah berjalan, makanya saya agak malu bergabung. Sampai belakangan ini saya dikabari kelas literasi angkatan kedua akan dibuka. Sontak saya senang bukan main. Ini kesempatan emas, saya harus ikut.

Sekarang saya sudah di TB Paradigma, tempat kelas literasi di selenggarakan. Hari ini pertemuan kedua. Banyak yang datang. Minggu kemarin kelas perdananya. Saat itu bagaikan mimpi, saya bisa berkumpul dengan orangorang yang memiliki minat yang sama. Apalagi pertemuan itu diawali dengan kuliah umum kanda Sulhan Yusuf. Beliau dengan santai omong banyak seputar gerakan literasi. Maqammaqam literasi, dan kecenderungankecenderungan orang terhadap dunia literasi. Saya tidak perlu menulisnya di sini, reportase kanda Bahrul sudah sempat membahasnya minggu lalu.

Hampir jam empat saya tiba dil okasi. Di dalam kelas ternyata sudah banyak orang. Termasuk kanda Bahrul yang datang lebih awal. Menurut info yang ditulisnya, hari ini kelas akan diisi diskusi santai bersama kanda Syafinuddin al Mandari. Katanya beliau sedang bertandang di Makassar, maka tak afdol kalau tidak mengundang beliau nimbrung di kelas.

Sambil menunggu kanda Syafi datang, begitu panggilan akrab yang saya dengar dari kawankawan, kelas dibuka dengan perkenalan singkat antara peserta. Setelah dibuka Kanda Bahrul, maka kami saling bertegur sapa mengenalkan diri. Ternyata ada duapuluh orang yang datang. Tidak semua nama saya kenal selain sebagian yang sudah saya ketahui sebelumnya. Setelah saling memperkenalkan diri, dan penjelasan Kanda Bahrul tentang mekanisme kelas yang selama ini dijalani, maka kelas dialihkan untuk mendengarkan persentase tulisan yang dibawa kawankawan. Kali ini saya sudah menyiapkan tulisan saya. Judulnya Mummy dan Ruang Anak yang Hilang.

Salah satu tulisan yang menarik ditulis Ishak Boufakar. Dia menulis tentang ilmu komuniskasi. Ulasannya menarik saat dia menjelaskan tulisannya. Juga Itto, yang sering membuat puisi tanpa judul. Memang Itto punya masalah ketika menulis puisi, ia sering membiarkannya tanpa judul. Kemudian Ali, peserta yang paling siap di antara kami. Ketika datang dia sudah menyiapkan map khusus untuk tulisantulisannya. Dia juga membawa puisi yang katanya dia tulis saatsaat galau.

Banyak hal yang diungkapkan kanda Syafi ketika ia membuka diskusi. Awalnya saya kaget dengan bahan diskusi yang menyinggungnyinggung soal pemanfaatan lahan yang minim di kota. Katanya suatu saat orangorang dengan pendekatan yang tepat dapat mengembangkan ilmu pertanian untuk memanfaatkan ketersediaan pekarangan yang minim. Sampaisampai beliau mengatakan pertanian akan jauh lebih maju dengan ilmu pertanian organik yang belakangan ini sedang marak. Jujur dipikiran saya apa kaitannya literasi dengan ilmu pertanian. Tapi saya dengarkan saja dulu ulasannya.

Saya semakin bingung ketika pembicaraannya menyinggung soal sampah. Katanya, jika seorang pemulung memiliki pengetahuan yang memadai, sampah justru dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Maka, pemda DKI Jakarta tak akan bingung masalah TPA yang dipermasalahkan oleh warga Bekasi. Contoh itu diambil Kanda Syafi kalau kita mampu mengelola sampah dengan baik. Dengan ilmu yang benar, kata Kanda Syafi, sampah bisa diolah jadi pupuk bubuk dan cair yang jauh lebih baik dari pupuk urea.

Sampai di sini saya semakin bingung dengan omongan beliau. Bukankah informasi Kanda Bahrul bahwa beliau diundang karena pengalamannya di dunia literasi? Kok omongannya tentang pertanian dan sampah? Hubungannya dengan literasi di mana? Sampai akhirnya beliau bilang bahwa literasi itu sebenarnya pencerahan. Ketika sektorsektor dibidang kehidupan dikelola ilmu yang baik dan tepat guna, maka area yang masih gelap akhirnya menemukan perspektif baru yang bisa dimajukan. Itulah literasi, semangat untuk memajukan lini kehidupan dengan ilmu pengetahuan.

Sampai di sini saya kaget. Ternyata literasi memiliki makna yang begitu dalam. Tidak seperti pemahaman hanya sekitar baca tulis. Pantasan kanda Syafi sempat membahas ilmu pengetahuan dan peradaban di awal diskusi. Ternyata kuncinya di situ, setiap sektor yang diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan, yang mencerahkan masyarakat dengan inovasiinovasi, itulah literasi. Usaha mencerdaskan bangsa, seperti amanat konstitusi kata kanda Syafi.

Pantas juga dari awal beliau menyinggung peradabanperadaban yang stagnan akibat mandegnya ilmu. Barang siapa berhenti mengembangkan ilmu pengetahuan, dengan sendirinya suatu peradaban akan tertinggal dan runtuh. Katanya ilmulahyang meninggikan derajat umat manusia. Hanya melalui ilmulah kemajuan peradaban bernilai tinggi dari peradaban sebelumnya.

Karena itulah gerakan literasi memiliki jangka yang panjang. Visi dan misinya harus menyentuh seluruh sektor kehidupan demi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Maka kanda Syafi menghimbau jangan meremehkan kelas yang kami jalani ini. Karena ini adalah salah satu cara untuk membangun gerakan literasi, walaupun denga cara mengumpulkan manuskrip setiap minggunya. Dengan cara berkumpul dalam komunitas, membangun semangat dan konsistensi.

Kanda Syafi juga menyinggung tugastugas pejuang literasi. Menurutnya yang utama dari gerakan literasi adalah membuat orang sadar dengan pandangannya. Bahkan memperkuat pandangan seseorang dengan jalan berpikir yang benar. Inilah esensi pencerahan. Esensi literasi yang sesungguhnya. Sehingga orang yang bergerak dan sadar dengan literasi bisa menjadi lilin yang menerangi di mana pun berada. Dengan begitu akan tercipta apa yang beliau sebut ledakan bom peradaban.

Terakhir kanda Syafi bilang, mudahmudah komunitas semacam ini bisa menjadi sekolah sosial yang berefek kepada banyak orang. Kalau konsisten, maka tidak tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Asalkan kita mau terus menggalakkan gerakan literasi. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, melalui tulisantulisan yang cemerlang. Agar tercipta perubahan di segala sektor kehidupan.

Berikut fotofoto yang diambil kanda Bahrul di saat beliau beraksi. Tak lupa pula beberapa kawankawan yang ikut bertanya seputar kiatkiat menulis. Bagaimana agar menulis dapat dimulai? Seperti apa tahapantahapan menulis? Bagaimana cara memancing ide menulis? Semuanya dijawab apik oleh Kanda Syafi. Kalau kamu masih penasaran, ikut saja kelas di minggu depannya. Dijamin menyenangkan loh?