Arsip Kategori: Cerpen

Ketemu Hujan Jangan Melepas Kemarau

Api-api yang membentang di langit biru. Membakar hutan belantara, rumput-rumput, sawah-sawah, dan batang tubuh para petani. Kemarau sepertinya bermukim begitu lama. Tumbuhan gersang, sungai-sungai mengering, bahkan sumur dalam mendangkal ke dasarnya.

Petani siapa yang tak luka? Sawah-sawahnya yang kering, air bersih yang tentu menjadi kebutuhan hidup, sulit tersediakan. Desa-desa terpencil, jalannya masih tergenangi lumpur-lumpur. Tak hanya luluk ketika musim hujan datang, tetapi jalan-jalan yang berdebu beterbangan bersama jerami-jerami, menandakan tak pernah terlirik panasnya hawa aspal, tak seperti di desa seberang. Namun, tak ada sedih yang terucap kepada pejabat-pejabat pemerintah, menandakan petani-petani cukup berdamai dengan nasibnya. read more

Bagai Paus 52-Hz

Satu dua katak melompat dari tepi sungai. Gesekan ranting dan dedaunan pohon serta deru air yang jernih membuat satu melodi indah. Sebotol susu dan sekotak roti menemaniku menikmati kedamaian alam. Sambil memandangi hamparan sawah dan jejeran-jejeran gunung. Sudah 15 tahun aku tak pernah berkunjung ke sini, wajar saja tak banyak orang yang kukenal. Hanya karena kakek tak kuat lagi mengunjungiku di kota, maka aku yang harus mengunjunginya di desa. Tak banyak memori tentang tempat ini, aku bahkan belum menemukan teman selama di sini. Sudah 3 hari aku duduk di bawah pohon dengan sebuah buku. read more

Jangan Terlalu Cinta Membaca

Sewaktu hujan sedang melepas rindu dengan bumi. Saya masih sibuk bertatap muka dengan butirnya. Membasuhi separuh tubuhku di jalan. Di tengah derasnya hujan, saya masih memaksa motor tua yang tak bisa dipaksakan lagi itu, menebas rintik-rintik hujan bermata peluru – Seperti itulah kira-kira penggambaran singkatnya – ditemani tubuhku yang kecil dan kurus.

Sepuluh menit di jalan. Tapi tidak dengan isi kepalaku. Sudah gentayangan di tempat berteduh. Bagian depan kemeja biru dan celana cokelat serta sepatuku jadi basah. Buatku geram. Semakin ingin cepat sampai. Sementara baju dan celana bagian belakang, untungnya hanya kena cipratan air sedikit saja. Begitupun tas hitam tipis, yang bisa dibilang tidak terlalu parah, sehingga harus membasahi seperangkat alat tulis dan laptop di dalamnya. read more

Asa di Jinjingan

Anak itu hadir bersama tanda waktu yang sedang resah di Mamuju. Tanah Manurung dirundung murung oleh tiupan musim yang bonsai. Di ambang gelap  ia menjadi kisah.

***

Ia meniti tanggul yang memanjang seratus meter di depan rumah adat. Tanggul yang tak pernah sepi di senja hari, oleh muda mudi. Ada yang menggandeng pacar, ada pula yang merenungi sapaan angin dan ombak yang tak henti menampar tepi tanggul.

Pada sudut lain, gadis belia tertunduk tanpa ekspresi menatap kosong ke Pulau Karampuang yang beku, jauh dilepasan pantai Manakarra. Mungkin sedang patah hati. Ada juga yang sibuk bersolek, bergaya bak model tabloid dewasa Korea dan seorang karibnya bersiap merapatkan mata ke camera DSLR. read more

Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java. read more

Dialog Imajiner Heraclitus dengan Daeng Pete-pete

Ada yang terasa berbeda tempo hari, sepanjang perjalanan, Daeng sopir pete-pete sepi penumpang. Daeng memalingkan kepala ke kanan ke kiri, tatapan yang presisi ke setiap sudut jalan, berharap ada penumpang yang tampak dan terlihat. Malang benar, hampir sampai pada titik akhir terminal kota, tak satu pun penumpang yang bertambah, hanya aku seorang yang ada dalam pete-pete di sepanjang perjalanan.

***

Situasi di atas kontras sekali dengan pemandangan 5-10 tahun yang lalu. Saya telah menjadi pelanggan setia pete-pete sejak SD di Bone. Jarak dari rumah saya ke sekolah sekitar 9 km, butuh jasa pete-pete untuk “memanjangkan” kaki saya sampai di sekolah. Masa SMP – SMA. Saya pindah ke Bantaeng, tepatnya di Kelurahan Tanah Loe. Jarak rumah ke sekolah berkisar 14 km. Lagi-lagi butuh jasa pete-pete untuk memudahkan akselerasi saya. Bahkan awal-awal mau kuliah di Makassar pun, saya masih sempat menikmati jasa pete-pete. read more

Pohon Waru, Janji dan Cerita Lainnya

Boleh jadi nanti aku akan bertemu, dulu masih kuingat saat kami saling memagut mesra dan berucap janji di malam yang hangat itu.

Ia kunamai Maya. Elok, bukan hanya karena tampang, tutur kata dan rambut panjangnya, tetapi ia juga indah karena bulatan-bulatan kecil yang menempel manis pada lekuk wajahnya. Meski tak pandai menaksir, tetapi kuduga, begitulah aku mengenalnya 15 tahun silam.

Kalau saja bukan karena peristiwa itu, barangkali sudah segubuk dengannya, membangun batih dan punya keturunan. Tetapi semenjak hari kepergian, aku sudah tidak mendapati kabarnya, terakhir kali melihat Maya saat ia mendekapku erat lalu pergi. Di sana awal semuanya dimulai, tatkala aku mengerti arti damba yang sebenarnya, di saat aku harus membenci waktu, perempuan dan suratan. read more

Pencurian di dalam Gedung Bioskop

Siang itu saat aku sedang membaca buku Detektif Cilik di ruang tamu. Ayah dan Bunda mengajak aku pergi ke bioskop. Mereka ingin mengajakku menonton film. Mereka melakukan itu untuk mengisi hari liburan sekolah. Maka dari itu mereka mengajakku menonton. Aku sih setuju saja asal filmnya sesuai usiaku.

Tidak lama kemudian aku, Ayah dan Bunda tiba di gedung bioskop. Setiba di sana Ayah pun langsung membeli tiket menonton untuk kami. Penonton film begitu ramai saat itu.

Aku pun akhirnya menonton film sesuai usiaku.  Itu pun Ayah  yang memilihnya. Jadi aku perlu di dampingi Ayah dan Bunda. read more

Marosso dan Kunang-Kunang yang Mati di Atas Kepalanya

Marosso, dia tidak pernah memilih lahir dari kandungan ibunya. Di sebuah subuh nan bisu, tatkala para tetua bersujud di Masjid, segerombol anak muda dalam pengaruh alkohol mengendap-endap masuk rumahnya. Mereka meniduri seorang gadis ranum beramai-ramai. Dari situlah asal muasal janin, Marosso terus tumbuh, lalu lahir meski telah coba digugurkan dengan urut dan ramuan obat-obatan tradisional, beberapa kali.

Telah banyak spekulasi perihal laki-laki yang berhak dipanggilnya ayah. Namun, spekulasi itu mengendap demikian saja. Bahkan para tetua kampung tidak berani mengadili biang kerok hadirnya Marosso, meski mereka tahu dalang pemerkosaan itu. Akhirnya, Marosso jebrol tanpa ayah. Inilah malapetaka kedua, setelah dia terpaksa tumbuh dalam rahim antah berantah, dan tak dikehendaki. read more

Kenangan Nenek Hafsah

Terik mentari pagi menyengat kulit ari, Rabiah yang bermandi peluh di sawah ayahnya. Ia  sedang memanen padi walau sawah mereka tak menghasilkan hasil yang maksimal untuk tahun ini. Sebab, musim kering yang cukup panjang sedang sungai mengalirkan air tak sederas dulu.

Padinya tak sekuning pada panen waktu-waktu lampau ya, kataku singkat pada, Rabiah.

Iya, Daeng, sembari tersenyum. Banyak hal yang mungkin ikut mempengaruhi, anomali cuaca. Hutan yang tergerus habis, juga memengarahi debit air sungai, dan lain-lain. read more