Arsip Kategori: Cerpen

Tikus-tikus di Jendela Kantor

Senja nan indah telah jauh meninggalkan hamparan bumi berganti malam jelang ranum. Bulan dan bintang-bintang seolah semringah berbagi senyum pada semesta dan penghuni bumi. Di bulan jelang purnama tampak La Sakka menyusuri trotoar yang dinaungi rerimbun pohon trembessi. Dengan langkah pelan menunduk, sesekali Ia sebar pandangnya ke berbagai penjuru depan, kiri dan kanan. Di celah daun-daun pohon yang Ia lewati cahaya bulan dan lampu-lampu jalan berebut menerpa tubuhnya dan La Sakka menikmatinya sebagai sebuah keindahan yang dinikmatinya gratis. read more

Rasa yang Hidup di Kelut Hati

Apa kabar sang pemilik hati ?

Denting nada masih mengumandang dari ufuk timur. Ayam-ayam menyapa ‘kita’ yang masih terlelap tidur, dan sebagian makhluk jelata ada yang menjelajah, menunda buana, serta tersungkur. Para pemabuk terkapar di jalanan atau tentang rumah pantai yang akan kita tempati tempati untuk memenanam rindu kepada jarak.

Mentari pun mengkedokan cahayanya, seinci demi seinci mulai memasuki jeda jendela yang terbuat dari kaca-bersolek penuh pesona. Butiran air benih embun di rerumputan hijau membawa riuh angin sejuk ke dalam diri yang terbungkus ‘kain sutra’ “sontak-sontak diri, betapa dinginnya suhu pagi.” read more

Perempuan Penunggu Perahu

Kecipak air berlarian seiring deru mesin jolloro yang saling bersahutan. Burung-burung pipit berkejaran dari ranting ke ranting di pohon-pohon bakau nan hijau memadati sungai Pute. Di salah satu pojok arusnya sebuah pondok kecil berbahan kayu dan gemecah dan sepotong dermaga mungil terbuat dari kayu ulin peninggalan suaminya. Di antaranya itulah, Daeng Cinnong saban hari menghabiskan waktunya menunggu perahu-perahu yang lalu lalang berharap ada salah satu atau lebih yang mampir berbagi senyumnya dan membeli penganan yang dijajakannya, gogoso kambu dan telur asin dipagi hari dan cendol di siang harinya. read more

Sebongkah Kisah di Bulan Desember yang Basah

Di kedai kopi ini kulihat butiran hujan sedang bercumbu dengan jendela dan sejenak kemudian ingatanku terbayang olehnya.

***

Ingatanku kembali ke masa itu, kala saya jatuh hati pada seorang gadis pemilik senyuman yang indah, seindah mentari pagi yang terbit di celah bukit hijau nun ufuk timur sana. Pertama jumpa padanya saat kongkow-kongkow di kedai kopi langganan, kala itu ia mengenakan sweter hitam dipadupadankan dengan celana jeans tiga perempat dan sepatu kets. Gadis itu sedang asyik-masyuk duduk di dekat jendela dan menikmati secangkir cappuccino. read more

Tewasnya Pemimpin Be’ban di Bawah Pohon Keramat

Pagi itu begitu riuh. Orang-orang jalan bergerombol. Dari penjuru mata angin berbeda. Tetapi, tujuannya persis sama. Sebuah pohon besar—pohon beringin tua, tumbuh menjulang dan rimbun, di sembir sungai.

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Be’ban. Telah turun-temurun. Kala mentari tengger di dahan-dahan pohon. Orang-orang berduyun-duyun membawa dulang penuh sesajen, ke pohon beringin. Pohon tua itu sangat dikeramatkan. Orang-orang Be’ban percaya bahwa arwah leluhur sudah mati tinggal di pohon beringin. Dan selalu mengawasi mereka. Itulah sebabnya, orang-orang Be’ban acapkali membuat sesajen. Sebagai bentuk terima kasih. Karena, di hari penuh penyakit, atau malam yang beku, mereka—orang-orang Be’ban diselamatkan arwah leluhur. read more

Ketika Iblis pun Tertipu

Arepus Cula Merah keluar dari ruangan bernuansa kelam itu dengan lunglai. Cula merahnya tidak memancarkan api yang berkobar seperti biasanya. Matanya yang merah menyala, kali ini redup bagai habis disiram air kencing. Bibirnya yang tebal hitam tergantung menggelepai. Sementara cambang, kumis dan janggutnya yang memang selama ini meranggas simpan siur, kini terlihat semakin sengkarut. Paras yang betul-betul muram, bahkan lebih gelap dari Ruang Kegelapan, tempat dari mana Ia berjalan keluar.

Ada apa gerangan? Bukankah iblis termuda yang bernama Arepus Cula Merah ini biasanya selalu gembira? Apalagi inilah pertama kalinya ia mendapat titah dari Raja Iblis untuk masuk ke dunia manusia menggoda para penghuninya. Bagi Arepus menggoda manusia agar terjatuh ke jalan yang sesat adalah pekerjaan yang menyenangkan sekaligus mulia. Itulah semulia-mulia pekerjaan iblis. Para iblis akan sampai pada keimanan yang sejati bila semakin banyak manusia yang digelincirkan ke jalan yang sesat. read more

Ketemu Hujan Jangan Melepas Kemarau

Api-api yang membentang di langit biru. Membakar hutan belantara, rumput-rumput, sawah-sawah, dan batang tubuh para petani. Kemarau sepertinya bermukim begitu lama. Tumbuhan gersang, sungai-sungai mengering, bahkan sumur dalam mendangkal ke dasarnya.

Petani siapa yang tak luka? Sawah-sawahnya yang kering, air bersih yang tentu menjadi kebutuhan hidup, sulit tersediakan. Desa-desa terpencil, jalannya masih tergenangi lumpur-lumpur. Tak hanya luluk ketika musim hujan datang, tetapi jalan-jalan yang berdebu beterbangan bersama jerami-jerami, menandakan tak pernah terlirik panasnya hawa aspal, tak seperti di desa seberang. Namun, tak ada sedih yang terucap kepada pejabat-pejabat pemerintah, menandakan petani-petani cukup berdamai dengan nasibnya. read more

Bagai Paus 52-Hz

Satu dua katak melompat dari tepi sungai. Gesekan ranting dan dedaunan pohon serta deru air yang jernih membuat satu melodi indah. Sebotol susu dan sekotak roti menemaniku menikmati kedamaian alam. Sambil memandangi hamparan sawah dan jejeran-jejeran gunung. Sudah 15 tahun aku tak pernah berkunjung ke sini, wajar saja tak banyak orang yang kukenal. Hanya karena kakek tak kuat lagi mengunjungiku di kota, maka aku yang harus mengunjunginya di desa. Tak banyak memori tentang tempat ini, aku bahkan belum menemukan teman selama di sini. Sudah 3 hari aku duduk di bawah pohon dengan sebuah buku. read more

Jangan Terlalu Cinta Membaca

Sewaktu hujan sedang melepas rindu dengan bumi. Saya masih sibuk bertatap muka dengan butirnya. Membasuhi separuh tubuhku di jalan. Di tengah derasnya hujan, saya masih memaksa motor tua yang tak bisa dipaksakan lagi itu, menebas rintik-rintik hujan bermata peluru – Seperti itulah kira-kira penggambaran singkatnya – ditemani tubuhku yang kecil dan kurus.

Sepuluh menit di jalan. Tapi tidak dengan isi kepalaku. Sudah gentayangan di tempat berteduh. Bagian depan kemeja biru dan celana cokelat serta sepatuku jadi basah. Buatku geram. Semakin ingin cepat sampai. Sementara baju dan celana bagian belakang, untungnya hanya kena cipratan air sedikit saja. Begitupun tas hitam tipis, yang bisa dibilang tidak terlalu parah, sehingga harus membasahi seperangkat alat tulis dan laptop di dalamnya. read more

Asa di Jinjingan

Anak itu hadir bersama tanda waktu yang sedang resah di Mamuju. Tanah Manurung dirundung murung oleh tiupan musim yang bonsai. Di ambang gelap  ia menjadi kisah.

***

Ia meniti tanggul yang memanjang seratus meter di depan rumah adat. Tanggul yang tak pernah sepi di senja hari, oleh muda mudi. Ada yang menggandeng pacar, ada pula yang merenungi sapaan angin dan ombak yang tak henti menampar tepi tanggul.

Pada sudut lain, gadis belia tertunduk tanpa ekspresi menatap kosong ke Pulau Karampuang yang beku, jauh dilepasan pantai Manakarra. Mungkin sedang patah hati. Ada juga yang sibuk bersolek, bergaya bak model tabloid dewasa Korea dan seorang karibnya bersiap merapatkan mata ke camera DSLR. read more