Arsip Kategori: Cerpen

Tikus-Tikus di Jendela Kantor

Senja nan indah telah jauh meninggalkan hamparan bumi berganti malam jelang ranum. Bulan dan bintang-bintang seolah semringah berbagi senyum pada semesta dan penghuni bumi. Di bulan jelang purnama nampak La Sakka menyusuri trotoar yang dinaungi rerimbun pohon trembessi. Dengan langkah pelan menunduk, sesekali ia sebar pandangnya ke berbagai penjuru, depan, kiri dan kanan. Di celah daun-daun pohon yang ia lewati cahaya bulan dan lampu-lampu jalan berebut menerpa tubuhnya, dan La Sakka menikmatinya sebagai sebuah keindahan yang bernilai gratis. read more

Pelukan-pelukan

Pukul 20.00 WITA, Bahlul baru saja menunaikan sembahyang Isya. Plong! Perasaannya sedikit lega karena masih mendapati dirinya dalam keadaan taat pada rambu-rambu agama. Meski ia sadar bahwa ia memeluk agamanya karena keturunan semata, bukan pilihan yang diambil dari hasil kajian mendalam dan kritis. Pelaksanaan ibadahnya pun masih jauh dari khusyuk, karena sekadar pelepas kewajiban semata. Pusaran ketidakpuasan terhadap ibadah yang dilakoni menerungkunya dalam gudang pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Inilah yang menciptakan lubang besar di kedalaman jiwanya. Gelisah, hampa, dan semua rasa yang kerap bersanding dengan galau yang memeluknya setiap malam dalam kamar gelap, pengap, dan sepi. read more

Tiada Pertanyaan yang Berakhir Pada Pertanyaan Itu Sendiri

Semuanya berlalu begitu saja, tapi saya tak tahu untuk apa. “Apa yang terjadi setelah suatu urusan usai?”, mungkin rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai? Barangkali hidup hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun tidak, “Mengapa tidak ada rehat yang benar-benar rehat? Mengapa tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”, sehingga semua bisa keluar menuju ruang yang tak memiliki sekat, prasangka, perasaan, serta hubungan sebab-akibat.

Pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian berulang kali menghinggapi kepala. Di tiap-tiap sudut sepi dan ramai. Ia menagih jawaban yang selama ini tak bisa kusiasati. Ia hadir seperti gayung kamar mandi yang dinding-dindingnya mulai timbul bercak-bercak hitam. Tubuh yang telanjang dan harap cemas terkena air dingin pagi itu, serta sikat gigi yang selalu bikin bingung. Akan ditaruh dimanakah ia?. Pasal, tak ada tempat untuk menyimpan peralatan mandi di ruang yang hanya dipisahkan dinding dua kali tinggi manusia itu. read more

Lamaran Pertama

Makassaar 21 Mei tahun 1999, kala itu Alan, suamiku, baru berumur 26 tahun, lelaki kelahiran 1973 itu datang ke rumahku membawa hantaran bersama keluarga besarnya. Kami menyambutnya dengan tangan terbuka nan hangat. Papa dan Mamaku mempersilakan ayah dan ibu Alan untuk memasuki ruang tamu, sedangkan Alan hanya duduk di teras rumah. Ia, Alan, nampak gagah dengan balutan kemeja putihnya.

***

Gadis yang kulamar itu bernama Fadilah Triana, ia putri semata wayang dari Pak M. Fahmi Samsu dan Ibu Natasya Nurul Zahira. Kedua orang tuanya dahulu dikenal sebagai orang yang cukup berada, maklum mereka punya usaha jual beli emas, akan tetapi peristiwa krisis ekonomi tahun 1998 dan penjarahan yang terjadi di ibukota membuat keluarga kaya itu terpuruk dan jatuh miskin. Untunglah saat itu Fadilah masih menyimpan satu stel emas—sebagai hadiah perayaan kelulusan sarjananya—untuk dijadikan modal membangun keluarganya kembali. Mereka pun bertolak ke Makassar untuk memulai kehidupan yang baru. read more

Lamaran Kedua

Tak seorang pun mengerti jalan pikiranku, termasuk ayah, ibu, bahkan sahabat-sahabatku. Seorang gadis yang baru lulus SMA menikah dengan lelaki yang umurnya lebih dari kepala empat. Lelaki yang bisa dikatakan lebih pantas menjadi seorang ayah ketimbang menjadi seorang suami.

***

Kamarku yang biasa sejuk kini begitu gerah, lantaran sahabat-sahabatku menjejali setiap sudut kamarku. Mereka serempak menyerangku dengan berbagai tanya, tentang keputusanku menerima pinangan Mas Alan Darma Saputra, lelaki berusia 46 tahun. read more

Aku Enggan Mati Muda

“Kau beruntung. Jadi sudahilah cerita melankolis yang selalu kau tumpah di kupingku. Hidupku, andai saja kau pelakonnya, kau pun akan memunggungi takdir. Lalu kau masih saja mencari-cari jalan keluh, dan berhenti bersyukur? Jangan menanti tulah, baru kau kapok!”

“Mmmmm….” Hanya itu.

Dia berlalu pergi, menyelinap di antara asam manisnya jus jeruk yang kuseruput.

***

Darma, demikian kupanggil dia sehari-hari. Dia dulunya bekerja sebagai pramuniaga di sebuah minimarket tak jauh dari mukimnya. Penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama ibu dan ayahnya yang telah berkurang tenaganya bekerja. Dari penghasilan di minimarket itu pula, Darma menyicil sebuah sepeda motor matic idamannya. Di sana, Darma bertemu Ramba’. read more

Presiden-Presidenan

Teman, bagaimana kabarmu sekarang? Kelihatannya kamu tambah sejahtera dan bahagia saja.

Kamu katakan dirimu belum sukses? Ukuran sukses itu relatif, teman. Menjadi petani, nelayan, pegawai, atau apapun pekerjaanmu, terpenting bisa bemanfaat. Sebenarnya kamu itu sudah sukses.

Janganlah kamu ukur kesuksesan dirimu dengan melihat kesuksesan orang lain. Terlebih jika kamu mau membandingkan dirimu dengan saya,

Oh iya, teman. masih ingatkah kamu, saat dulu kita sama-sama duduk di bangku sekolah? Untuk pertama kalinya kita bertemu, berkenalan lalu kian akrab. read more

Orang-Orang Kalah

Pagi ini cuaca cerah. Suasana di jalan-jalan kota sedikit lengang oleh kendaraan bermesin. Kecuali di tempat-tempat tertentu sedikit agak riuh oleh warga yang berolah raga. Dari yang bersepeda, berlari-lari santai, berjalan kaki, hingga melakukan senam berkelompok di ruang publik terbuka. Belum selesai aku berpikir dan bertanya dalam hati, kenapa Sabtu ini alun-alun kota yang sebagiannya telah dialihfungsikan menjadi tempat perbelanjaan, sangat padat pengunjung berolah raga. Anakku telah menjawabnya. read more

Potret Ayah

Ayah menyambangiku di sebuah malam sepi senyap. Ia datang dengan wajah ringis selimuti rupanya yang rupawan hingga tampak kusut. Tak seperti biasanya, ayahku selalu datang menyambangiku dengan tersenyum tanpa kata hanya rona wajah dan gesture tubuhnya yang ceria dan senang.

Aku masih tercenung di beranda rumah panggung adikku di kampung moyangku jauh dari hiruk pikuk kota. Kehadiran ayah menyambangiku dengan wajah dan gesture tubuh yang kurang menyenangkan membuatku galau terbagun tengah malam dan tak bisa lelap lagi. read more

Tikus-tikus di Jendela Kantor

Senja nan indah telah jauh meninggalkan hamparan bumi berganti malam jelang ranum. Bulan dan bintang-bintang seolah semringah berbagi senyum pada semesta dan penghuni bumi. Di bulan jelang purnama tampak La Sakka menyusuri trotoar yang dinaungi rerimbun pohon trembessi. Dengan langkah pelan menunduk, sesekali Ia sebar pandangnya ke berbagai penjuru depan, kiri dan kanan. Di celah daun-daun pohon yang Ia lewati cahaya bulan dan lampu-lampu jalan berebut menerpa tubuhnya dan La Sakka menikmatinya sebagai sebuah keindahan yang dinikmatinya gratis. read more