Arsip Kategori: Cerpen

Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java.

Kalau diingat-ingat, perkenalanku dengan Riki bisa dikatakan ‘iseng-iseng berhadiah’. Kala itu saya sedang asyik melihat-lihat story Instagram (IG) followers-ku. Karena suntuk, saya coba mengetik sebuah nama di bilah pencari. Nama yang kuketik ialah ‘Riki’. Yap, lelaki yang kelak menjadi kekasihku itu.

“Oke juga nih,” sahutku kemudian mencoba melihat dengan seksama story-story Instagram serta time-line IG-nya, kulihat Riki nampaknya gandrung akan sastra dan alam. Ia sangat senang membuat caption tentang senja, hujan, hutan, lembah, dan kesemuanya dimuarakan pada satu kata “cinta”. Salah satu caption IG-nya yang menurutku begitu menyentuh ialah sebuah pemandangan lembah yang diselimuti guyuran hujan. Di situ, ia menuliskan caption seperti ini : aku ingin menjadi hujan, agar jatuh di hatimu dan kau tak bisa mengelak.

Dari situlah saya mulai mem-follow IG Riki dan memerhatikan setiap captionnya. Oh iya, bicara permasalahan wajah?! Riki boleh dikata punya rupa yang lumayan, mengingatkanku pada artis Korea, kalau tak salah namanya Jimin, salah seorang pentolan Bangtangboys.

Seperti kata pepatah Jawa waitingtresno jalane soko kulino yang artinya cinta datang karena terbiasa. Perasaan itu mulai bertambat di hatiku kala saya terbiasa melihat-lihat hasil jepretan dan caption yang wau di IG-nya. Olehnya itulah kuberanikan diri untuk mengirimkan pesan via chat-IG.

“Hai, perkenalkan, nama saya Faradiba. Saya suka dengan foto dan caption di IG-mu.”

Begitulah chat pembukaku padanya, seperti gayung bersambut, Riki membalas pesanku

“Oh iya. Salam kenal, namaku Riki dan terimakasih atas apresiasinya.”

Hanya mendapat balasan dari Riki entah kenapa saya menjadi senang. Mungkin di luar nalar saya bisa jatuh hati dengannya—hanya lantaran caption dan jepretan—tapi begitulah kenyataannya. Lalu saya dan Riki mulai intens saling bertukar kabar, mulai dari sekadar “say hello” , “udah makan belum?”, hingga menjerumus ke hal-hal yang cukup pribadi. Tak puas dengan berkirim pesan, kami pun mulai saling teleponan via Whatsapp (WA), lalu mengobrol lewat video call di WA. Bahkan, pernah di beranda rumahku kutemukan tergeletak kartu pos bergambarkan pemandangan Kota Bandung di subuh hari, tentunya sebuah untaian kata indah tersematkan di balik kartu pos itu. Hingga pada satu hari, melalui pesan WA, dia menanyakan alamat rumahku.

“Faradiba, kalau berkenan, boleh nggak aku minta alamat rumahmu?!” Tanya Riki melalui pesan WA.

“Untuk apa?!” tanyaku seolah jual mahal, padahal senangnya bukan kepalang.

“Ada deh….!” Jawabnya singkat. Dan saya pun mengirimkan alamat rumahku.

Yah tanpa dinaya, Riki datang mengunjungiku, langsung dari Bandung. Di Bandara Internasional Hasanuddin ia mengabari kedatangannya, seolah tak percaya saya hanya menimpali dengan kata, “kalau Riki benar di Makassar, coba nampakkan batang hidungmu di depan rumahku? Bukankah pernah kukirimkan alamat kepadamu?!.

Yah seperti sinema di teve ia sungguh datang ke rumahku. Saya masih ingat kala itu rembulan telah mendekap malam, mungkin sekitar pukul 20.00 pintu rumahku diketuk kemudian disusul ucapan salam beberapa menit setelahnya.

Waalaikumsalam, ya tunggu,” sahutku singkat. Kemudian pintu kubuka dan nampaklah sesosok pria dengan tinggi 177 sentimeter mengenakan blazer biru gelap dan celana cino hitam, wajahnya putih cerah, lelaki itu mengulas senyuman sembari berkata “Faradiba yah?! Saya Riki….”

***

Malam semakin larut, kedai kopi yang kukunjungi semakin ramai. Beberapa pemuda-pemudi sedang asyik bercengkramah satu sama lain. Yah sekira duabelas pasang lah. Wah ramai juga yah. Mungkin karena malam ini malam minggu.

Oh iya, saya lupa memberitahukan kepadamu. Saat Riki datang kala itu sontak saja, saya menutup mulutku dengan kedua tangan, seolah tak percaya bahwa lelaki di depanku adalah Riki, lelaki yang diam-diam kukagumi dan you know-lah what I mean. Dan kamu mungkin tak percaya, bahwa ia lebih tampan tinimbang di foto-foto IG-nya. Singkat kata hubungan kami saat itu semakin akrab dan hangat. Ia juga menyatakan perasaannya padaku. Tentu saja perasaan itu kuterima dengan hati berbunga-bunga. Kurang lebih ia seminggu berada di Makassar dan selama itu pula tercipta kenangan yang begitu manis. Setelah itu? Yah seperti yang telah kujelaskan kepadamu, long distance realionsip. Hubungan itu berlangsung hingga setahun lebih.

“Sudah lama menunggu?” sahut seorang lelaki yang membuyarkan lamunanku. Sontak saya menoleh ke sumber suara. Rupanya ialah Riki, lelaki yang kuceritakan kepadamu.

“Oh Riki?!” sahutku kemudian berdiri menjabat tangannya.

Lelaki itu kemudian mengambil posisi duduk di hadapnku. Wajahnya masih seperti yang dulu, tetap memesona. Kulihat Riki hanya mengulas senyuman mendengarkan penuturanku, sesekali sepasang bola matanya menuding pada sebuah undangan pernikahan, yah undangan perniakahan yang kita alamatkan kepadanya……

Sunggguminasa, di Kantin Sekolah 13 Oktober 2018

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/drawrepulser/art/Afternoon-Cafe-748905730

Dialog Imajiner Heraclitus dengan Daeng Pete-pete

Ada yang terasa berbeda tempo hari, sepanjang perjalanan, Daeng sopir pete-pete sepi penumpang. Daeng memalingkan kepala ke kanan ke kiri, tatapan yang presisi ke setiap sudut jalan, berharap ada penumpang yang tampak dan terlihat. Malang benar, hampir sampai pada titik akhir terminal kota, tak satu pun penumpang yang bertambah, hanya aku seorang yang ada dalam pete-pete di sepanjang perjalanan.

***

Situasi di atas kontras sekali dengan pemandangan 5-10 tahun yang lalu. Saya telah menjadi pelanggan setia pete-pete sejak SD di Bone. Jarak dari rumah saya ke sekolah sekitar 9 km, butuh jasa pete-pete untuk “memanjangkan” kaki saya sampai di sekolah. Masa SMP – SMA. Saya pindah ke Bantaeng, tepatnya di Kelurahan Tanah Loe. Jarak rumah ke sekolah berkisar 14 km. Lagi-lagi butuh jasa pete-pete untuk memudahkan akselerasi saya. Bahkan awal-awal mau kuliah di Makassar pun, saya masih sempat menikmati jasa pete-pete.

Kala itu, Daeng pete-pete berada di puncak kejayaan, kita anak sekolahan kadang kala dicuekin sama daeng pete-pete, gara-gara bayarnya dikit dibandingkan orang dewasa. Daeng pete-pete kadang seenaknya menurunkan saya dan penumpang lainnya di jalan, walaupun belum sampai ke tempat tujuan, karena ingin berbalik arah dengan penumpang yang lebih banyak. Tapi ada suatu hal yang membanggakan bagi saya.

Daeng pete-pete waktu itu sering kali mendapat posisi yang terhormat. Tak jarang banyak Daeng yang mendapatkan bunga desa, karena pada waktu itu, memiliki menantu Daeng Pete-pete adalah sebuah kebangaan. Tapi itu dulu, entah apa gerangan, puncak kejayaan itu perlahan-lahan runtuh dan luntur, daeng pete-pete kadang meringis tidak mendapatkan penumpang.

***

Sekitar 2 km lagi akan sampai di terminal kota. Di depan ada persinggahan. Daeng pete-pete’ mampir sejenak untuk sekadar merokok, sambil berharap ada penumpang yang datang. Waktu itu tiba, ada penumpang yang naik dan langsung duduk di bagian depan, pas di samping Daeng pete-pete, tiba-tiba orang itu nyeletuk. ”Hai, Daeng, namaku Heraclitus, saya tinggal di Bisappu,” ucapnya. Senyum si Daeng tampak merekah, sambil berucap “Iye’ Hera, mau ke terminal jiki’ toh?” Heraclitus merespons dengan hanya menaikkan keningnya.

Sepanjang perjalanan terjadi percakapan yang intens anatara Heraclitus dan Daeng pete-pete.

Daeng: Di mana ki’ di Bissappu, Pak? Jarang-jarang ki’ kulihat, padahal saya sering antar penumpang di sana.

Hera: Baru ka’ memang lagi sekarang di Bisappu, saya dulu lama ka’ di Epheus, Turki, sekitar 2000 tahun yang lalu.”

Daeng: Terlalu tongi becandanya ini Bapak, di mana sedeng dibilang Epheus, di sebelah mananya Makassar? Dari 2000 tahun lalui bede’ di sana, jangan ki’ terlalu kalau bercanda, Pak!

Hera cuma meresponsnya sambil tertawa, dan melanjutkan percakapan.

Hera: Kenapa sedikit sekali penumpang ta’, Pak? Dua orang ji ini di dalam pete-pete.

Daeng: Sepi sekali penumpang sekarang … (ucapnya lirih). Tidak sama mi beberapa tahun yang lalu, susah mi dapat penumpang, ada semua mi motornya orang, ada mi juga ojek online, mobil online, banyak mi macam-macamnya, ndak kutahu kenapa bisa begini sekarang!

Hera: Bagaimana memang waktu jaman jaman dulu, Daeng?

Daeng: Dulu, penumpang di mana-mana, keluar ta’ kasi’ jalan mobil banyak mi penumpang, dulu anak sekolah ndak mau jiki’ ambil i, ka sedikit ji na-bayar, sekarang di tunggu i mi anak sekolah di depan gerbangnya, kayak jadi miki’ sopir pribadinya anak sekolah, ka dia mami bisa diangkut, yang lainnya, ada semua mi motornya masing-masing. (Sambil menghel napas, si Daeng melanjutkan pembicaraan). Dulu, Mama’ na, Mama’nya anak-anak, gadis tercantik di desanya, sekali tunjuk ji mau mi sama saya, saking berkharismanya Daeng Pete-pete  waktu itu.

Hera: Kenapa memang sekarang, Daeng?

Daeng: Sekarang, mustahil mi Daeng Pete-pete dapat bunga desa, mustahil mentong mi. Sekarang serba susah mi Pak Hera, kurang sekali mi penumpang. Dulu, kalau penumpang turun dari pete pete, tidak lupa I bilang “Terima kasih, Daeng”, sekarang tidak ada mi, biar terima kasih susah tong mi didapat.

Sambil tertawa pak Hera, menaikkan kaki pada jok mobil, kali ini dia tampak angkuh sekali.

Hera: Eee Daeng! Kita lihat ji air yang mengalir di bawah jembatan Lamalaka? Hari ini, coba kau lompat di situ, besoknya coba kau lompat lagi, apakah air yang membasahi tubuhmu hari ini sama dengan air yang membasahi mu besok? Begitu tong ji juga dengan kehidupan, lain dulu lain sekarang, lain bolu lain cakalang  (dia berucap sambil tertawa).

Daeng: Nassami tidak iya, Pak Hera, tapi sopan-sopan tong miki’ kalau ngomong ki’  (Si Daeng kelihatan murka).

Walaupun agak jengkel dengan sikap Pak Hera, si Daeng tampak penasaran dengan Pak Hera

Daeng: Bagaimana mi pale saya ini, Pak Hera? harus ka’ demo ke Pak Bupati soal itu ojek online supaya nabuatkan ki’ aturan, ka bagus tongi kalau banyak penumpang bela.

Hera: (Sambil tertawa menepuk kaca jendela mobil). Daeng, hidup itu adalah perang, alias assibakjiang, dan pertentangan itu ada di kehidupan dan sebuah keniscayaan, pertentangan- pertentangan inilah yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berguna.

Daeng: (Dengan nada heran si Daeng menatap Pak Hera) Gila alias pongoro’ mi anne Pak Hera, mana ada perang dan pertentangan membuat sesuatu tumbuh dan berguna?!

Hera: (Mata Pak Hera melotot memandang si Daeng) Perang kebaikan dan keburukan itu adalah pertentangan, tapi satu kesatuan. Sebagai contoh, kalau robek jidat ta’, pergi ki’ ke dokter untuk nasembuhkan ki’, caranya dengan nabuat ki’ sakit, najahit dan nabedah kepala ta’, namintaki ki’ lagi uang upah, itu semua nabuat ki’ sakit, tapi ada akhirnya nasembuhkan jiki’. Satu lagi contoh. BPJS, itu mempunyai dua sisi, kebaikan dan keburukan, kebaikannya adalah bisa ki’ berobat pada saat sakit berat maupun ringan, tapi di saat yang sama keburukannya adalah harus ki’ membayar tiap bulan untuk biaya asuransinya! Tapi… satu ji yang ingin kusamapikan Daeng, pertentangan itu hadir untuk memberikan harmoni, jadi santai miki’, dunia ji ini!”

Daeng: Bingung ma juga mau bagaimana Pak Hera, setiap malam berdoa ma sama Dewata e, bagaimana supaya dimudahkan ini hidupku kodong, Tapi… dibalas dengan Tuhan dengan kondisi seperti ini ji…. (berucap dengan nada lirih).

Hera: (Si Hera cuma tertawa ke arah si Daeng, tak nampak sekali ada rasa sedih atau iba mendengar curhatan si Daeng) Ee Daeng, Tuhan menghargai manusia yang bertarung dalam kehidupannya. Bagi kita melihat perang ini adalah sesuatu yang tidak wajar, tapi bagi Tuhan mungkin tidak seperti itu, ini dispensasi atas segala kejadian, dan menghasilkannya sebagai suatu harmoni.

Daeng hanya mengangguk, entah dia bingung atau mengerti.

Hera: Beberapa abad yang lalu, manusia bertarung untuk mengisi perutnya, kebanyakan orang-orang kelaparan, tapi lihatlah manusia modern sekarang, mereka bertarung melawan kegemukan, itu contoh pertentangan! Beberapa tahun silam sebelum dokar, bendi, yang biasa mengantarkan para ibu ke pasar, dengan kehadiran pete-pete, berhasil menggilas dokar-dokar itu, lalu mengapa kau mengeluh dengan apa yang terjadi pada dirimu saat ini? Dulu kamu menggilas  dokar-dokar itu, sekarang kamu digilas dengan ojek online dengan teknologi yang mumpuni itu. Pertentangan itu hal yang lumrah terjadi di bumi ini, Daeng. Apa yang perlu kau ratapi?

Daeng: Iye’, iye’… Jadi, sampai berapa lama mi ojek teknologi itu akan bertahan di puncak singgasana?

Hera: (Tampak serius menjawab pertanyaan si Daeng) Hidup itu mengalir seperti sungai, lihat ojek online itu, dia menjemput pelanggan di mana pun dengan titik presisi yang tinggi, bahkan kalau bisa, menjemputmu tepat di depan kamarmu, orang-orang di Indonesia itu miskin dan malas untuk bergerak, tempo hari ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang Indonesia itu sebagai orang yang malas bergerak, dan itu bisa berefek pada metabolisme kesehatan tubuh, mencetak orang-orang gemuk dan penyakitan, saya meprediksi, ke depannya akan mucul pete-pete dengan fasilitas fitness di dalamnya” (setelah berucap dia tertawa).

Daeng: Mau miki sampai di terminal kota ini Pak Hera, kalau bisa ki’ bayar lebih supaya ada pembeli bensinku kodong.

Hera: Sorry mami ini Daeng, tidak ada uangku ini, tapi ada ji ini oleh-oleh mau kukasikan ki (Sambil menarik dua lembar kertas dari tasnya, ia nampak menulis sesuatu). Ini ada jimat, satu lipatan kertas ini untuk kamu, dan satunya lagi untuk istrimu di rumah. Ini mi baca saja terus yakin ka akan nada nanti sesuatu yang besar dalam hidupmu datang.

Setelah memberikan dua pucuk lipatan kertas, Pak Hera beranjak dan meninggalkan pete-pete itu, entah ke mana dia akan melangkah setelahnya.

Sementara Daeng tampak berhati-hati membuka surat itu, dia tampak penasaran sekali tentang isi lembaran kertas itu, maka dibacanya lah “The hidden harmony is better than visible”. Si Daeng tampak bingung.

Daeng: Baca-baca dari mana mi ini, tareka’ dari mana mi ini Pak Hera, kenapa barusannya ada baca-baca susah sekali diucapkan.

Tak lama di Terminal Kota, si Daeng langsung beranjak kerumahnya, ia ingin langsung menemui istrinya dan menceritakan pengalamannya bertemu dengan pak Heraclitus. Amanah berupa sepucuk lembaran kertas, tak lupa diberikan untuk istrinya. Walaupun minim pemasukan hari ini, pertemuannya dengan pak Heraclitus tetap merupakan sebuah berkah baginya. Setelah sampai, sepucuk kertas itu diberikan, dengan penasaran istrinya membuka kertas itu dan membacanya “Immortals are mortals, mortals are immortals, living their death, dying their life”. Setelah membacanya, sang Istri tampak cemberut dan merobek kertas itu sambil berkata, “Tidak butuh ja’ kertas kertas begini, apa lagi baca baca (mantra), mana uang mu sekarang!, mauka’ beli ikan!”

Pohon Waru, Janji dan Cerita Lainnya

Boleh jadi nanti aku akan bertemu, dulu masih kuingat saat kami saling memagut mesra dan berucap janji di malam yang hangat itu.

Ia kunamai Maya. Elok, bukan hanya karena tampang, tutur kata dan rambut panjangnya, tetapi ia juga indah karena bulatan-bulatan kecil yang menempel manis pada lekuk wajahnya. Meski tak pandai menaksir, tetapi kuduga, begitulah aku mengenalnya 15 tahun silam.

Kalau saja bukan karena peristiwa itu, barangkali sudah segubuk dengannya, membangun batih dan punya keturunan. Tetapi semenjak hari kepergian, aku sudah tidak mendapati kabarnya, terakhir kali melihat Maya saat ia mendekapku erat lalu pergi. Di sana awal semuanya dimulai, tatkala aku mengerti arti damba yang sebenarnya, di saat aku harus membenci waktu, perempuan dan suratan.

Lalu? Lima belas tahun usai berlalu. Menurutku, itu adalah waktu yang amat lama untuk mengingat, menyatukan kepingan-kepingan kisah dan menceritakannya secara utuh. Tetapi baiklah akan kucoba.

***

Barang delapan meter dari arah pantai, tumbuhlah pohon waru laut. Pohon dengan sejuta babad, umurnya telah berpuluh-puluh tahun, bahkan sebelum mendiang ayahku dilahirkan, konon sudah sebesar itu, nyaris tidak satupun berubah, kecuali satu, kini kerut-kerut kecil mulai tampak dirupaku. Pokok kayu itu selalu berjaya membawaku pada masa-masa budak, saat aku dan kawan-kawan saling beradu, memetik daun waru, menjepit rambut, lalu melepasnya dan tertawa berdengkang-dengkang.

Petang yang panjang, bongkahan awan samar menggantung di atas jagat, sebentar lagi gulita. Laut malam itu seperti memaksaku untuk kerasan berlama-lama di bibir pantai, menikmati riuh suara alun, mengelih para penjala yang baru saja datang mengeluhkan hasil tangkapan. Mereka mengutuki para pemburu ikan yang lalah, mereka menghancurkan karang seenak jidatnya. Serakah! nelayan-nelayan kecil juga butuh makan. Aku menggerutu dalam batin.

Di bawah pohon itu. Di bale bale milik Pak Syarif. Kuraba gelap, kelam semakin pekat. Yang begitu jelas hanya dua, riuh kecipak ombak menghempas permukaan pantai dan kedip-kedip cahaya di tengah hamparan laut.

Mataku melekat tepat pada sorot silau kerlap-kerlip itu. Menyala, padam, menyala, padam kemudian menyala lagi, semakin jelaslah saat teriakan itu mendengung samar berkali-kali, seperti memanggil-manggil.

“Tarik jangkarnya,” perintah Pak Syarif cekatan, agak-agak ia mengerti isyarat itu. Kami menuju lampu-lampu.

Perahu itu semakin tampak berbentuk, saat kami perlahan-lahan melekati lampu-lampu, aku sedikit-sedikit mahfum dengan percakapan orang-orang ini.

“Mereka dari pulau seberang,” tukas Pak Syarif menyakinkan.

Maya. Di sini pertama kali aku melihatnya, perempuan yang kelak menjadi benalu dalam hidupku, perempuan teguh, aneh dan penuh teka-teki. Kubawa langkahku dan meraih tangannya, membantunya beralih ke perahu milik pak Pak Syarif. Matanya menggeriap, bibirnya pucat, hawa angin malam makbul menyetubuhi perempuan asing itu.

Sepekan hari sudah perahu orang seberang ini terdampar, aku tak mengerti ini benar-benar nyata atau justru hanya mimpi, bahwa sejak malam kencan yang hangat itu, aku merasa Maya adalah milikku, kami saling menyukai, selama keberadaannya kami habiskan untuk membangun renjana.
.
”Kata mamak, pagi besok kami harus berangkat. Mesin perahunya sudah pulih,” tuturnya. Aku seakan patuh dengan pilihan itu meski sukar menerima.

Pagi temaram. Daun-daun pohon waru seperti jatuh satu persatu. Pagi ini Maya harus beranjak. Penumpang siap bertolak setelah dipastikan tidak ada satupun barang ditinggalkan kecuali satu, aroma tubuh Maya yang masih bergala di sehelai pakaianku.

“Jangan pernah menemuiku sampai waktunya tiba,” sekelip kalimat itu membuatku buncah betanya-tanya.

“Mengapa? kau tak ingin? atau aku berbuat salah?”

“Tidak, ini demi kebaikan kita, berjanjilah kelak saat aku mengabarimu, kau akan menandangiku,” cakapnya memotong kemudian berlalu tanpa menoleh. Perahu itu terus bergerak sampai sekecil titik lalu menghilang lebur bersama biru gelombang.

Kapan lagi aku akan menjumpainya. Hari demi hari adalah kekosongan, sunyi, sepi dan hitam. Setiap saban adalah musim yang begitu panjang. Sampai tiba waktu aku harus meninggalkan pulau ini.

Setelah kupikir matang-matang kuputuskan untuk menyusul para sahibku. Aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang guru bahasa seperti Pak Dadang, pengajar kesukaanku di waktu SMA dulu. Tiga tahun menganggur membantu ibu berladang, barulah kali ini aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah, dan di kota besar adalah satu-satunya jalan dengan melanjutkan pendidikan.

“Jaga dirimu, ingat tanah ini adalah tempatmu kembali,” kata ibuku saat merogoh saku baju dan memberiku azimat yang terbungkus dari kain hitam, “Ini milik ayahmu, simpanlah dan jaga baik-baik.” Kutatap wajahnya merah berkaca-kaca, lalu sekelip air mata itu tumpah mengguyur pipi.

***

Bibirku kering, terik seperti membakar seluruh isi bumi. Berat sekali meninggalkan ibu. Selama kurang lebih 24 jam aku di atas perahu, lalu tiba malam di pelabuhan kota. Pertama kali aku melihat lampu-lampu benderang sepanjang jalan, kiri kanan kendaraan lalu lalang.

Aku berharap di kota ini semua ingatan tentang Maya bisa kulengahkan, namun semakin aku berusaha semakin kurasa tak kuasa.

Selama lima tahun kuhabiskan waktuku dengan buku dan tugas-tugas, alhasil aku dapat meraih gelar sarjana pendidik lalu diterima mengajar sebagai guru honorer di sekolah tempatku magang pertama kali. Menjadi tenaga pengajar setiap hari membuatku tumbuh dewasa, setiap bulan kukirimkan ibuku surat-surat menanyakan kabarnya.

Lalu bagaimana dengan Maya? Ia masih seperti dulu, hangat dalam ingatan dan mimpi-mimpi. Namun, setiap terang setiap petang bagiku adalah penantian. Menunggu kabar darinya membuatku patah, kuputuskan untuk mencari dan tidak menaui hasil, orang-orang tak satupun mengenalinya.

***

Pagi hitam, bunyi alarm membuatku terbangun. Sebilang hari aku harus bergegas melanjutkan pekerjaanku sebagai seorang guru. Setelah sarapan kemudian berlepas ke sekolah.

Kulihat para murid lintang pukang menuju kelas masing-masing, saat bel sekolah bunyi berkali-kali, waktu istrirahat berakhir dan pelajaran segera dimulai. Hari ini adalah waktunya untuk membaca cerita pendek masing-masing murid, setelah anak didik kuberi tugas pekerjaan rumah tiga hari yang lalu.

Riuh suara tepuk tangan itu memenuhi ruang kelas, saat Karno membacakan sebuah cerita tentang perjuangan seekor Kijang, berlarian tunggang langgang, sampai berhasil menyelamatkan diri dari terkaman raja hutan.
Selanjutnya Inaya, perempuan kecil itu membawa langkahnya dengan pelan.

“Inaya?” Suasana kelas mendadak senyap. Semua mata tertuju padanya, Ia belum lagi memulai.

“Inaya, kenapa?” Dengan rasa penasaran aku mendekati.

Kepala gadis itu tertunduk. Tubuhnya mematung. “Ayo bacakan,” aku mengulangi, ia seperti menahan kantung mata agar tidak jebol. Sia-sia, air mata itu meleleh pecah, tumpah ruah menyimbahi lantai. Aku meraihnya dengan rasa iba. Kuraih secarik kertas yang dipegangnya.

”Surat Kecil Untuk Ayah.” Jantungku terpengarah saat membaca judul kisahnya. Cerita itu mengalir lara. Dalam cerita, Inaya berkisah lahir dari perut seorang perempuan bernama Maya.

Perempuan yang limabelas tahun silam itu melarikan diri setelah didapati dirinya sadar tengah berbadan dua, melahirkan di tanah rantau dan membesarkan anaknya tanpa seorang ayah. Ya. Perempuan hebat itu adalah Maya kekasihku. Perempuan yang kini tengah tertidur lelap disebelahku, bersama putriku. Inaya. []

Pencurian di dalam Gedung Bioskop

Siang itu saat aku sedang membaca buku Detektif Cilik di ruang tamu. Ayah dan Bunda mengajak aku pergi ke bioskop. Mereka ingin mengajakku menonton film. Mereka melakukan itu untuk mengisi hari liburan sekolah. Maka dari itu mereka mengajakku menonton. Aku sih setuju saja asal filmnya sesuai usiaku.

Tidak lama kemudian aku, Ayah dan Bunda tiba di gedung bioskop. Setiba di sana Ayah pun langsung membeli tiket menonton untuk kami. Penonton film begitu ramai saat itu.

Aku pun akhirnya menonton film sesuai usiaku.  Itu pun Ayah  yang memilihnya. Jadi aku perlu di dampingi Ayah dan Bunda.

Kini tiba waktunya pertunjukkan film dimulai. Aku, Ayah dan Bunda pun langsung menuju ke ruangan yang cukup besar tapi tertutup dan kedap suara. Di sana ternyata sudah banyak para penonton untuk menyaksikan film hari itu.

Seusai aku, Ayah dan Bunda mendapatkan kursi sesuai nomor tertera di tiket ternyata film yang kami tonton pun di mulai. Aku pun duduk sesuai nomor kursi yang tertera. Sebelumnya aku melihat-lihat lebih dulu orang-orang yang menonton film saat itu. Setelah itu aku duduk dengan seksama.

***

Aku begitu sangat menikmati film itu. Apalagi film itu menceritakan tentang sekelompok anak kecil yang menyelamatkan  gajah yang tersesat. Hewan itu perlu dilindungi dan diselematkan dari para pemburu liar. Akhirnya gajah pun terselamatkan atas kerja sama anak-anak kecil seusiaku, di dalam film itu. Lalu ditempatkan ke suaka gajah yang disediakan oleh para relawan peduli gajah. Anak-anak yang menyelamatkannya pun ikut gembira.

Satu jam lebih tidak terasa aku menonton film itu. Tahu-tahu sudah tamat jalan ceritanya.

“Ayo kita balik, Sayang! Filmnya sudah selesai,” Bunda tetiba mengagetkan lamunanku.

“I-iya, Bunda!” seruku.

Dengan gontai aku melangkah meninggalkan gedung bioskop itu. Tapi saat ingin keluar terdengarlah suara jeritan seorang Ibu yang kehilangan tasnya. Saat itu semua pun penonton dibuat panik.

Akhirnya datang petugas keamanan dan manager gedung bioskop ikut mencari tas Ibu yang hilang itu. Semua bangku penonton diperiksa. Ternyata hasilnya nihil.

“Ibu tadi duduk di mana saat tas itu masih ada?” tanya petugas keamanan bioskop.

Begitu yang aku dengar dari petugas keamanan itu. Sebenarnya aku tidak ingin menguping pembicaraan mereka. Tapi karena  penasaran aku mencoba mencari tahu siapa yang mencuri tas milik Ibu itu. Dan naluri detektifku bergejolak. Begini-begini juga aku punya kelompok detektif di sekolah lho?

Namun saat aku ingin menemui Ibu itu dihalangi oleh petugas keamanan. Mungkin karena aku masih kecil. Jadi mereka menganggap aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ugh, kesal!

Tapi aku tidak kehabisan akal. Akhirnya aku meminta bantuan Bunda untuk bisa menemui Ibu yang kehilangan tas tadi. Bunda ternyata mau membantuku. Bunda pun menemui petugas keamanan bioskop yang tadi menghalangiku.

“Boleh anak kami membantu Ibu yang kehilangan tas itu, Pak? Siapa tahu anak kami ini bisa membantunya. Karena di sekolahnya ia mempunyai kelompok dektektif,” ucap Bunda.

Aku melihat Bunda mempromosikan kelompok detektifku jadi malu. Tapi apa yang dilakukan Bunda ampuh juga. Petugas keamanan bioskop itu akhirnya mau mengizinkan aku untuk menemui korban pencurian di dalam gedung bioskop tadi.

“Maaf, Bu, boleh aku melihat ponselnya. Karena aku lihat sebelum film diputar Ibu poto-poto lebih dulu,” kataku. “Oya, kenalkan aku Irfan. Aku kelas V di SD Patriot.”

Ibu itu pun langsung memberikan ponselnya padaku. Usai itu aku langsung mengamati satu persatu poto hasil jepretan Ibu tadi. Aha! Membawa hasil.

Aku melihat seorang laki-laki berjas coklat, memegang ponsel dan berkacamata. Ia duduk di samping Ibu itu. Kemungkinan saat film akan diputarlah ia melakukan aksinya karena kondisinya saat itu gelap.

“Iya, laki-laki ini yang berada di samping Ibu. Tapi mana mungkin ia pencurinya?”

“Namanya pencuri tidak melihat dari penampilan. Karena kesempatanlah yang membuat tindakan pencurian itu bisa terlaksana,” bak Sherlock Holmes, aku pun menjelaskan pada Ibu tadi. Karena itulah cita-citaku yang ingin menjadi detektif seperti tokoh fiksi itu.

Manager gedung bioskop itu hanya menyimak saja penjelasanku. Usai itu ia langsung mengomadoi semua petugas keamanan untuk mencari pencurinya.

***

Setengah jam akhirnya pencurinya berhasil ditangkap. Aku sangat senang sekali. Apalagi Ibu itu berterima kasih padaku sambil memberikan uang. Tapi aku menolaknya.

“Maaf, aku tidak bisa menerimanya! Ini sudah tugasku untuk saling menolong,” jawabku.

Bunda yang melihat aku pun  bangga. Tapi tidak dengan manager gedung bioskop itu. Ia memberikan aku tiket menonton gala primier. Nonton bareng bersama artis cilik pemain film.

“Kalau Om memberikan tiket ini. Pasti kamu maukan,” rayunya.

Aku ragu saat itu.

“Ambil saja, Sayang! Tidak usah bilang Bunda jika yang ini,” Bunda pun berucap sambil melirik ke arahku.

“Terima kasih ya, Om!” seruku sangat senang sekali menerimanya.

“Iya! Kalau begitu Om mau menyerahkan pencuri itu ke kantor polisi dulu ya. Sampai ketemu detektif cilik!” Setelah itu ia meninggalkanku.

Aku kembali melihat tiket itu. Lagi-lagi aku sangat senang sekali menerimanya.

“Ayah nanti boleh ikut tidak?” tetiba Ayah menggodaku.

“Kalau, Bunda bagaimana?” timpal Bunda.

“Pasti dong semua ikut! Lagi pula jika Ayah dan Bunda tidak ikut nanti siapa yang mendampingi aku,” kataku sambil tersenyum.

Ayah dan Bunda pun tertawa. Akhirnya kami pulang dengan hati senang terutama aku. Karena jiwa detektifku bisa menolong Ibu yang hampir kehilangan tasnya di dalam gedung bioskop.[]

 

Marosso dan Kunang-Kunang yang Mati di Atas Kepalanya

Marosso, dia tidak pernah memilih lahir dari kandungan ibunya. Di sebuah subuh nan bisu, tatkala para tetua bersujud di Masjid, segerombol anak muda dalam pengaruh alkohol mengendap-endap masuk rumahnya. Mereka meniduri seorang gadis ranum beramai-ramai. Dari situlah asal muasal janin, Marosso terus tumbuh, lalu lahir meski telah coba digugurkan dengan urut dan ramuan obat-obatan tradisional, beberapa kali.

Telah banyak spekulasi perihal laki-laki yang berhak dipanggilnya ayah. Namun, spekulasi itu mengendap demikian saja. Bahkan para tetua kampung tidak berani mengadili biang kerok hadirnya Marosso, meski mereka tahu dalang pemerkosaan itu. Akhirnya, Marosso jebrol tanpa ayah. Inilah malapetaka kedua, setelah dia terpaksa tumbuh dalam rahim antah berantah, dan tak dikehendaki.

Baginya, dunia itu sederhana. Bangun cari makan jika pagi, main-main sejenak, berkeliling kompleks perumahan kalau-kalau ada yang bisa dipungut untuk dijual, tertidur di sembarang tempat, dan terbangun lagi jika perut keroncongan. Mandi, ganti baju, tidak masuk prioritas kesehariannya. Beginilah masa kecil, dia jalani. Perempuan yang ditumpangi peranakannya, tidak mau ambil pusing. Marosso, telah membunuh masa depannya. Dia telah dipinang seorang lelaki mapan sebelum peristiwa subuh itu menimpanya, kemudian batal tanpa kompromi. Begitu dia menarik simpulan.

Tetapi, marcapada masih memberi ruang bahagia untuk Marosso. Hidupnya terang, sewaktu dia bertemu dengan seorang nenek. Tempo hari, dia sungguh menikmati beberapa ekor belalang hasil kejarannya di lapangan sepakbola, lalu dibakar seadanya. Sembari mencabuti kulit-kulit belalang gosong, seorang nenek mendekatinya. Bola matanya mengawasi gerak Sang Nenek, meski mulutnya terus mengunyah serampangan. Alangkah senangnya dia, sewaktu nenek tersebut menyodorkan nasi kuning terbungkus daun pisang. Pagi itu sungguh luar biasa baginya.

Sekenyangnya, Sang Nenek mengajak Marosso tinggal di rumahnya, dengan iming-iming bisa makan, dan minum sepuasnya. Dia manut! Walhasil, dia tidak lagi berkeliling kompleks dan memakan belalang. Dia memilih membantu nenek menyapu jalanan kala subuh, dan memulung barang-barang bekas saat pagi. Hasilnya, dikumpul, dijual, dan dibagi sama rata.

Satu yang sangat membekas di ingatan Marosso selama tinggal bersama Sang Nenek. Ini tentang sebotol kunang-kunang sebagai hadiah untuknya, entah demi merayakan apa. Tatkala itu, Marosso barulah pulang, ketika Sang Nenek berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya. Tangan kanannya menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya, sementara satu tangannya lagi berusaha menangkap lengan Marosso. Merespon sikap perempuan renta itu, Marosso secara sukarela mengulurkan lengannya. Belum sempat tersentuh telapak nenek, semburat cahaya membuatnya terperangah. Sang Nenek, semisal peri tua dipenuhi kilauan. Dia bermandi kunang-kunang yang tanpa sengaja jatuh dari pengangannya demi meraih lengan Marosso, lalu berlomba-lomba keluar dari lubang mulut botol plastik ukuran besar. Tetiba, rumah kecil miliknya bersimbah terang. Untuk pertama kalinya Marosso terpukau terang, dan pertama kali pula dia merasai sakitnya kehilangan. Esok, di pagi yang berembun, perempuan berumur itu menghilang.

****

Kepulan asap kopi hitam melayang-layang di udara. Dia senang mengisi paginya menyeruput secangkir kopi, bersama sebatang kretek terapit jari tengah dan telunjuknya. Tidak banyak yang diharapkan dari hidup yang sekarang. Bersyukur, dia telah mampu mandiri, mengelolah warung kaki lima dengan beberapa pajangan kebutuhan sehari-hari itu lebih dari cukup. Pun berinteraksi dengan para sopir yang singgah menjerang kopi instan jualannya, sungguh membawa rezeki untuknya.

Sejak dikerumuni kunang-kunang, dia merasa hidupnya sangat berubah. Dia percaya, binatang kecil bercahaya itu membawa keberuntungan. Maka setiap malam, dia menyiapkan waktu khusus, duduk berlama-lama di rawa penuh belukar di belakang rumahnya. Jika pun udara sungguhlah dingin, dia tidak akan meninggalkan kebiasaannya ini. Dia sangat menikmati kemunculan salah satu hewan keluarga kumbang bersayap tersebut, satu persatu dari rimbun pohon di sekeliling rawa. Semakin larut, akan semakin bertambah banyak, jika sudah demikian, bersamaan dengan riuh berhimpunnya kunang-kunang, Sang Nenek ada di sana.

Maka, Marosso pun akan berkeluh kesah pada perempuan tua itu. Kadang, percakapan berlanjut sangat lama dan alot, apatah lagi jika membicarakan tentang hidup yang diperjuangkan Marosso. Meski perjumpaan mereka memakan waktu lama, dia sama sekali tidak pernah menanyakan perihal perginya Sang Nenek. Kunang-kunang telah membawanya kembali.

Dalam perjumpaan itu pula, Sang Nenek kadang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap Marosso karena masih menjalani hidup sendirian, padahal usianya telah layak menikah. Jika wanita berumur itu menanyakan perihal ini, Marosso menanggapi seadanya saja. “Pastilah akan tiba saatnya nanti, mungkin saja ketika kunang-kunang sedang ramai-ramainya beranak pinak.” Selorohnya.

Bukan hanya nenek, kadang ini juga menjadi pertanyaan para sopir yang beristirahat di warungnya. “Bukankah Si Dara sangat suka mengunjungimu? Sepertinya dia menyukaimu!” Kalimat-kalimat ini seperti hujan, menguyur Marosso.

Sebenarnya, perkara meminang gadis menjadi istrinya mudah saja. Penghasilan dari warung kecilnya, terbilang cukup menafkahi keluarganya kelak. Dan inilah yang menjadi alasan para sopir tersebut menjadikan Marosso bulan-bulanan setiap hari. Tetapi, dalam pikiran Marosso, tidak pernah terbesit perihal hidup bersama perempuan muda dalam rumahnya. Dia selalu ketakutan jika memikirkan ini. Sejak kecil, seorang gadis ranum membuangnya. Untuk apa dia memelihara gadis lagi, yang akan mencampakkannya sebagaimana dulu? Pada sebagian ruang ingatannya, hanya tersimpan memori ihwal pertolongan perempuan berumur yang melebur bersama kunang-kunang di suatu malam. Selebihnya lagi, bekas-bekas tangisan ketika dia merengek air susu ibu tapi tidak didapatkannya.

Didera ketakutan mengigilkan, kadang Marosso memimpikan menjadi kunang-kunang saja. Ada Sang Nenek yang bisa membantunya. Sampai-sampai suatu malam, sebagaimana gelap yang selalu ditempuhinya, dia mengumpulkan banyak kunang-kunang dalam botol plastik berukuran besar. Ini sengaja dilakukannya, agar dia menghilang seperti Sang Nenek. Botol plastik tersebut dipeluknya sampai pagi, tetapi dia tidak juga menjadi kunang-kunang. Tidak berputus asa, dia melakukannya berulang-ulang. Telah banyak kunang-kunang dibuat mati kehabisan oksigen. Namun dia tetap berhasrat jadi kunang-kunang.

Malam ini, dia berharap menjadi malam terakhirnya. Dia berjalan menuruni anak tangga rumahnya yang tak seberapa. Mengeratkan balutan jaket menghalau beku. Seperti biasa, dia duduk menunggui kunang-kunang satu-satu berkilau di rimbun belukar. Menanti pula Sang Nenek, hadir di situ. Seekor kunang-kunang mengintip, pelan-pelan mendekat,  terbang ke atas kepalanya. Selanjutnya bayangan Sang Nenek berkelebat. Marosso riang. Dia sungguh lama merindukan Sang Nenek, sejak ratusan kunang-kunang dibunuhnya.

“Kau masih menunggunya? Kau bodoh! Coba hitung berapa banyak binatang ini telah kau buat mati? Untung saja tersisa sedikit jantan membuahi betinanya, hingga masih ada yang ingin menemuimu. Mereka juga punya hasrat. Punya cara mempertahankan diri untuk hidup. Punya soalan hidup sendiri-sendiri! Menjadi seperti mereka, apa yang kau harapkan?” Rentetan kalimat Sang Nenek serupa peluru melesat cepat tanpa memberi kesempatan Marosso mengelak, apalagi bertanya.

Hening! Apalah daya, seekor kunang-kunang yang tadi bermain-main di atas kepala Marosso, mendadak mati. Jatuh tepat mengenai ubun-ubunnya. Pelan-pelan, kepalanya ditumbuhi antena, tubuhnya bersayap, dan bercahaya. Dia telah menjadi kunang-kunang!

 

Makassar, Sabtu dini hari/ 26 Januari 2018

Kenangan Nenek Hafsah

Terik mentari pagi menyengat kulit ari, Rabiah yang bermandi peluh di sawah ayahnya. Ia  sedang memanen padi walau sawah mereka tak menghasilkan hasil yang maksimal untuk tahun ini. Sebab, musim kering yang cukup panjang sedang sungai mengalirkan air tak sederas dulu.

Padinya tak sekuning pada panen waktu-waktu lampau ya, kataku singkat pada, Rabiah.

Iya, Daeng, sembari tersenyum. Banyak hal yang mungkin ikut mempengaruhi, anomali cuaca. Hutan yang tergerus habis, juga memengarahi debit air sungai, dan lain-lain.

Mungkin hasilnya hanya berkisar setengah dari biasanya. Tahun ini sangat kering nyaris tak ada hujan, sedang air sungai yang kami andalkan seperti tahun-tahun lampau pun tak seramah biasanya. Ada beberapa tetangga dan kerabat yang memasang pompa untuk air tanah, namun tak mampu juga menjangkau semuanya, sebab kapasitas pompa terpasang dengan luasan sawah tak sebanding.

Aku membatin pasrah, mengenang, Mahatma Gandi “Sesungguhnya Tuhan memberi Alam dan isinya untuk manusia cukup, tapi tidak cukup untuk seorang serakah”

Di kampung Makarring nun jauh di pedalaman kabupaten yang berjuluk Pa’rasangang Malabbiri. Kampung ini memang dikenal sebagai salah satu pemasok beras dari kota terdekat. Kampung ini dulunya dialiri sungai yang cukup luas dan berair deras, sehingga alurnya juga dijadikan sebagai alur transportasi menuju kampung-kampung tetangga, sebab kala itu jalan darat untuk jenis kendaraan apapun belum tersedia. Dari jalan poros kabupaten berjalan kaki ke kampung ini ditempuh dengan waktu sekira dua hingga tiga jam lamanya.

Setelah berpuluh tahun kemudian barulah kendaraan dengan berbagai jenis tipe dapat melenggang di kampung ini. Bersamaan dengan itu air sungai pun pergi jauh entah ke mana, pun, kala bukit-bukit karst yang mengelilinginya hancur dengan  berdatangannya investor menyulapnya menjadi marmer yang diimpor ke berbagai negeri dan setelah jadi dikembalikan lagi ke negeri ini dengan harga berpuluh kali  lipat.

Masa kanakku kala berkunjung ke kampung ini, bukit-bukit karst yang dikelilingi sawah berjumbai padi menguning adalah sebuah pemandangan yang tak bisa hengkang dari ingatanku. Sebab, nuansanya sangat eksotis. Menumbuhkan rasa teduh dan nyaman dalam rentang waktu yang panjang. Namun, kini sudah mulai sirna dari pandangan. Yang tersisa hanyalah bongkahan-bongkahan yang tak beraturan membuat sesak jiwa para pemandangnya.

“Eeeee.. kenapaki melamun, Daeng Beddu?”

“Tidak, hanya mengenang masa kecil saya di tanah ini. kala itu keindahan kampung ini tak tertandingi. Tapi, sekarang hancur semua.”

“Iya sih..”

Kemudian, Rabiah melanjutkan tuturnya, menurut ayahku, tahun ini kampung ini memang lagi apes. Pembangunan nyaris tak menjamahnya. Kepala desa tak acuh dengan program-program di desanya. Pun, pemerintah kabupaten demikian pula. Mereka kompak melampiaskan kekesalannya sebab pada pemilihan bupati dan wakilnya setahun lampau, mayoritas warga di kampung ini tak memilihnya dan kalah telak setelah kotak suara dihitung di kantor kecamatan.

“Makanya, jalan di depan rumah tak digarap sedikit pun padahal hanya tersisa sekitar satu setengah kilometer antaranya, jarak dari kampung sebelah. Saluran air tak di renovasi sedikitpun, bahkan penyuluh pertanian nyaris tak pernah berkunjung di kampung ini padahal mereka bermukim di kampung sebelah yang tak terlampau jauh dari sini,” Rabiah menjelaskan dengan berapi-api.

Paman Ruslan, yang baru saja bergabung di rumah sawah tempat kami berbincang dengan, Rabiah, tersenyum simpul mendengar perbincangan kami.

“Iya nak.. tahun ini memang tahun apes untuk warga kampung ini. Namun, nampaknya mereka tegar-tegar saja dan maklum dengan hasil pilihannya.”

“Sebagian besar warga di kampung ini sudah mulai melek politik, nak. Jadi, mereka tidak gampang dibeli. Dan mereka juga telah tahu konsekuensi dari sebuah pilihan politik, walau pun warga di kampung ini hanya rata-rata berpendidikan sekolah menengah pertama dan menengah atas.”

“Kami pun memahami bila kondisi air sungai yang mengering akibat dari penebangan pohon-pohon di hutan di mana ruang-ruang di hulu dari berbagai sungai di kampung-kampung ini . penebangan yang berlangsung tak terencana dengan baik karena dilingkupi persekongkolan antara para pemegang amanah dan para investor. Akibatnya mengeringlah sungai, biota-biota yang pernah eksis di pojok-pojok dan di lekuk-lekuk sungai sepanjang alirnya tak tersisa lagi tergerus kekuasaan dan modal yang yang memangsa apa saja yang bisa di mangsa dalam priode kuasanya, aji mumpung yang melanda para politisi negeri ini secara akut.”Jelas om Ruslan agak panjang.

Dari jauh nampak, nenek Hafsah berjalan tertatih di pematang yang sempit dan licin menuju rumah-rumah sawah yang sedari tadi kami tempati berbincang dengan, Rabiah yang juga sedang sibuk memanen padi bersama kerabat lainnya.

Nenek Hafsah ibu dari ayahku yang telah berumur mendekati tujuh puluh tahun, namun masih kuat kesana-kemari membantu urusan pamanku di sawah.

“Sudah lapar ya.. nak Beddu,” sapa nenek Hafsah.

“Maaf, agak terlambat kami membawa penganan hari ini soalnya ibunya, Rabiah ada keperluan di kampung sebelah. Jadi, semuanya saya sendiri yang kerjakan, maklum nenek sudah tua.” Ujarnya sembari tersenyum dengan gigi yang mulai hampir punah.

“Ya.. baru  lapar sedikit nek, belum terlalu laparnya, jadi masih  bisa tahan sekitar satu jam kedepan,” gurauku.

Semua ikut tersenyum girang menyambut kehadiran, nenek kami yang baik hati itu.

Dengan tangkas, nenek Hafsah mengatur hidangan yang dibawanya dari rumah untuk bersantap siang bersama di rumah-tumah sawah yang dikelilingi jumbai padi menguning, yang sebentar lagi selesai dipanen.

“Mari nak.. kita menikmati penganan hasil racikan dan olahan nenek.”

Semua penganan ini tidak memakai vetsin tapi dengan terasi dan rempah lainnya sebagai penyedap rasa, ujarnya, seolah menyindir kami yang dari kota yang tak bisa hidup tanpa penyedap rasa instan.

Inilah mungkin yang membuat nenekku awet dan kuat, pikirku. Sebab semua masakan diolahnya dengan racikan tradisional.

Menikmati penganan dengan olahan tradisional di tengah-tengah sawah membawa rindu pada kampung halaman masa silam, melanglang mengangkasa jauh melampaui bintang-bintang. Rindu akan ayah yang telah kembali pada penciptaNya, mengalahkan semua rindu pada mahlukNya yang lain, sebab rindu itu bermuara cinta. Cinta akan kebajikan dan kebijakan yang ia pernah jejakkan di kampung halamannya ini. Cinta yang bermuara pada ke indahan cintaNya.

“Kampung ini sudah tidak seperti dulu, nak, kala kamu masih kanak yang kerap dibawa ayahmu berlibur ke sini. Tak ada lagi air bening mengaliri sungai di belakang rumah nenek. Burung-burung yang hinggap di dangau-dangau sembari bernyanyi riang mengusik dan dan menikmati bulir-bulir padi menguning yang sedang ranum siap untuk dipanen. Bukit-bukit karst yang indah di tengah-tengah sawah memperindah panorama ciptaanNya yang tiada tara.”

Panen raya pun tak diraya lagi oleh ketukan dan bunyi lesung dalam pesta panen meriahi kampung ini. semua itu telah raib bersamaan dengan gerus sumber-sumber alam yang melimpah. Demikian, nenek Hafsah berceloteh. Di matanya ada rindu yang terpendam tentang hal-hal yang Ia ceritakan ke kami sembari menikmati penganan dan ke ndahan yang tersisa.

Bersamaan dengan itu, pesta politik dan kuasa menggerus segala keindahan dan sumber daya yang melimpah di kampung kampung seluruh negeri. pertikaian di ranah politik mengorbankan warga negeri dan khususnya di kampung ini mengalami bengkalai pembangunan di berbagai sektor. Karena ulah para politisi. Bangsa besar ini menjadi kecil dan kerdil. Tertidur panjang dan nampaknya belum ada tanda untuk bangkit dan menjadi bangsa besar seperti cita para founding fathers negeri ini, gerutuku dalam hati yang meradang.

Peluhku melimpahi wajah dan mengaliri seluruh tubuhku menikmati penganan hasil racikan, nenek Hafsa.

Di kejauhan nampak gugusan bukit karst seakan melempar-lempar senyum membawa hembusan angin meneduhi dan menyejukkan peluhku yang simbah.

Batinku tak hentinya mengulang-ulang doa untuk kebaikan warga dan kampung moyangku, sebab walaupun sedikit saja masih tersisa keindahan yang dapat digumuli di hamparannya.

Setelahnya doa kulekatkan mengabadi melalui hembusan angin yang sepertinya tak hendak urung mengunjungi kampung ini. tetaplah berhembus sejukkan kampung ini, pintaku dalam hati.

Kelabu Kesayangan Ibu

Kelabu sangat penyendiri dan kesepian. Ia seperti sesuatu yang lain dari segalanya di rumah ini. Tetapi Ibu menyayanginya, amat sangat. Ia punya kamar sendiri dan tempat makan sendiri-makannya selalu teratur. Tidak pernah terlambat walau sedetik.

Aneh. Dengan seluruh keistimewaan yang diberikan Ibu padanya, Kelabu justru terkesan tidak begitu mengacuhkan. Ia meninggalkan makanannya di tempat khusus itu, lantas memilih mencari di dapur atau mengorek sisa makanan di meja makan kami. Ia makan sendirian, tanpa suara, tanpa ambil pusing dengan keributan dari ruang sebelah  tempat Ibu meletakkan makanan khusus untuknya.

Kelabu juga selalu bermain sendiri. Kegemarannya adalah berkeliling di halaman rumah, mengamati apa saja. Tumpukan batu yang diam, pot bunga warna-warni milik Ibu, atau sekedar berjalan-jalan di atas rumput sambil memandangi kakinya yang tidak pernah beralas. Kalau sedang hujan, ia akan duduk diam di kursi teras. Mengamati hujan lamat-lamat, matanya seolah dapat menyibak bilah-bilah hujan. Kelabu akan terus seperti itu hingga hujan reda.

Aku menyayangi Kelabu-walaupun tidak sesayang Ibu. Aku senang memperhatikannya diam-diam sembari menebak-nebak gerangan apa yang sedang terlintas di kepala kecilnya. Mengamati Kelabu sibuk sendiri, seperti melihat seseorang yang sedang mencari bagian yang hilang dalam dirinya.

Namun, sayangku berangsur-angsur berubah seiring kelabu tumbuh semakin besar. Dia menjadi kurang ajar. Seenaknya saja memasuki daerah pribadi kami tanpa permisi, mengotori lantai dengan bekas-bekas lumpur yang menempel di kakinya. Kami semua anak-anak Ibu mengeluh, tapi Ibu malah makin sayang padanya.

Saban kali kakinya hendak melewati pintu, aku dan saudara-saudaraku sigap mengusirnya. Kami membentaknya agar segera keluar dan kembali ke tempatnya sendiri. Aku tidak mau jejak kakinya mengotori lantai. Lalu Ibu selalu datang bak malaikat bagi Kelabu. Dibujuknya Kelabu pelan-pelan, dan diantarkannya Ia ke tempatnya.

Semakin hari Ibu semakin protektif pada kelabu. Tidak boleh ada yang menyentuhnya kecuali Ibu. Bapak pun tidak, sebab tangan Bapak adalah api yang memusnahkan segala yang hidup. Sedang Ibu adalah Bumi tempat tumbuh segala yang hidup.

Aku masih senang memperhatikan Kelabu diam-diam. Tidak tahulah, aku selalu penasaran dengan isi kepalanya. Bagaimana ia memandang kami anak-anak Ibu? Seperti apa Bapak baginya? Atau apa yang ada di benaknya mengenai Ibu?

Kelabu adalah segala sesuatu yang tidak pernah terucap dalam keluarga kami. Dia mengakrabi sunyi, diam adalah napasnya, dan kesendirian adalah jejak kakinya. Dia adalah Kelabu, anak ayam kesayangan Ibu yang beliau pelihara sejak masih dalam telur dan tidak pernah tahu siapa Bapaknya.

 

sumber gambar: junkhost.com

Orang Gila dan Masjid yang Raib

 

Senja telah berakhir. Garis merah di langit barat mulai memudar. Gelita merayap pelan memeluk bumi.  Sang kala merangkak-rangkak.  Pelan, lambat tapi pasti. Dan akhirnya malam betul-betul runtuh ke bumi.  Di langit, bintang gemintang merekah senyum. Tapi tidak demikian dengan  sepotong bulan di akhir Muharram itu, lesu mengapung di balik awan.

Tepat pada saat itulah, Faizal menginjakkan kakinya di tanah.  Pendar lampu jalan menimbulkan bayangan tubuhnya yang memanjang.    Lelaki ceking itu baru saja turun dari mobil bus yang ditumpanginya.  Kota Telaga Indah, itulah tempat yang tanahnya dijejaknya kini.    Sejenak Ia membiasakan diri dengan suasana.  Situasi yang mulai gelap membuatnya tak bisa segera mengenali keadaan. Udara dingin menyergapnya.  Faisal segera mengenakan jaket yang tadi disampirkan ke pundaknya.   Tangannya menyisir rambutnya yang telah diacak-acak angin sejak berada di bus tadi.

Saat itulah, telinganya jelas mendengar suara azan yang sudah mau berakhir. Terdengar dari mana-mana dan bersahut-sahutan. Di dekat tempatnya berdiri dia mendengarkan azan itu dari dua masjid. Satu terdengar dari pelantam yang berada di  menara masjid yang  menjulang persis di sisi jalan di mana ia berdiri.  Satunya lagi terdengar dari seberang jalan, sedikit ke arah kiri.   Beberapa jenak Faisal menatap dua masjid yang  memancang mengapit jalan di mana  ia kini sedang tegak.  Lalu bergegas Faisal belok kanan, masuk ke masjid yang ada di sisi itu.

Faisal baru saja memasuki halaman masjid itu, ketika dari arah samping seorang tua berpakaian putih lusuh,  bersongkok hitam yang mulai pudar warnanya dan bersarung hitam melambaikan tangan.

“Tunggu anak muda, aku ingin bertanya?”. Orang tua itu memanggil Faisal dengan suaranya yang serak sambil melangkah tergopoh-gopoh.

Faisal menghentikan langkahnya  menanti kedatangan orang tua itu.  Melihat sikapnya yang tergapah-gopoh , jelas ada sesuatu yang penting.

“Anak muda, magrib telah tiba, di mana kita bisa melaksanakan salat?”.  Tanya orang tua itu.  Matanya yang bulat  berputar-putar memandang sekeliling.  Mata itu mencari-cari sesuatu.

Faisal menatap orang tua itu dengan bingung.  Pikirannya buncah.  Bukankah di depan mata orang tua ini menjulang masjid dengan  jelas sekali? Bahkan tidak jauh dari masjid yang akan dimasuki Faisal, di seberang jalan juga memancang masjid yang tak kalah megahnya. Faisal dengan terheran-heran memperhatikan orang tua ini.  Tubuhnya tidak terlalu tinggi.  Wajahnya beberapa bagian telah muncul keriput namun bersih, jelas bukan gelandangan. Matanya yang agak besar seperti bersinar-sinar.  Baju putih yang dikenakan sudah agak lusuh, demikian halnya dengan sarung hitamnya. Songkok yang hitamnya sudah agak pudar dan sudah mengarah pada warna coklat disungkupkan sekenanya di kepala, nangkring agak miring ke kiri.  Warna coklat itu semakin coklat bahkan sudah mengarah ke warna merah pada bagian bawah,  tepi dari songkok itu. Mungkin karena sering terkena air saat berwudu.

“Mungkinkah matanya buta? Demikian  batin Faisal. “Tetapi bola matanya bergerak-gerak seperti mencari-cari sesuatu, berarti Ia melihat?” Bantah Faisal sendiri dalam hatinya.

“Tapi ah…biar aku mengetesnya”.  Katanya kemudian. Dalam hati tentunya.

Perlahan tangannya diangkat lalu digoyang-goyangkan di depan muka orang tua tersebut.

“Hei anak muda mengapa malah menggoyang-goyangkan tanganmu di depan mukaku, aku mencari tempat untuk salat”.  Sahut orang tua itu tiba-tiba.  Meski sebelumnya Faisal sudah memperkirakan orang tua ini melihat, tapi ditegur orang tua atas sikapnya itu,  Faisal sampai surut satu langkah ke belakang saking kagetnya. Maka sambil terbata-bata Faisal berkata;

“Maaf…..maaf ….pak, aku eh…iya, ini di depan bapak kan ada masjid, aku juga mau masuk salat di masjid ini”

“Mana…mana….aku tak melihat ada masjid, tidak ada….tidak ada….”. Seru orang tua tersebut. Suaranya mengedau di tengah kesunyian menunggu iqamat. Beberapa orang menoleh ke arah mereka.

Nalar Faisal betul-betul buncah. Ia menatap orang tua itu dengan mulut menganga. Tiba-tiba dilihatnya seseorang memberi isyarat kepadanya. Jari telunjuk tangan kanan orang itu diletakkan menyilang di dahinya, sambil menunjuk ke arah orang tua. Setelah dua kali isyarat yang sama dilakukan orang itu dari jauh. Faisal langsung paham. Orang tua di depannya ini gila rupanya. Bergegas Ia meninggalkan orang tua itu. Melangkah cepat mencari tempat berwudu.

“Di mana masjid….aku mau salat, tapi masjid tidak ada. Ya Allah tunjukkan padaku letak masjid-masjidmu, kenapa tiba-tiba semua masjid raib di negeri ini….”

Samar-samar masih didengarnya orang tua itu berteriak-teriak mencari masjid. Faisal tidak menghiraukannya lagi. Buru-buru dia mengambil air wudu. Iqamat sudah mulai disuarakan oleh muazin.

Salat berjamaah di masjid itu dihadiri oleh hanya segelintir manusia.  Sedikit lebih cepat dari salat jamaah yang pernah diikuti oleh Faisal sebelum-sebelumnya. Tanpa zikir bersama setelah salat. Bahkan begitu selesai salam, salah seorang  jemaah salat yang duduk di saf depan, persis di belakang imam,  berdiri. Mengenakan songkok putih, serban putih menggantung di bahu serta baju koko terusan, panjang sampai di pertengahan betisnya. Sejumput janggut, atau tepatnya beberapa helai rambut yang tumbuh segan, mati pun tak hendak, bergelantungan di dagunya.

“Jemaah salat magrib yang dirahmati Allah,” demikian orang berjanggut segan ini memulai pidato atau ceramah, atau sekedar memberi informasi.  Entahlah, dengar kan saja.

“Masjid kita butuh kembali pemugaran, kita akan membangun lantai dua. Rencananya menara masjid kita, akan dibuat lebih menjulang lagi”.  Begitu orang berjanggut segan itu melanjutkan pidato, eh tepatnya pengumuman rupanya.

“Masjid adalah rumah Allah, jangan mempermalukan Allah dengan masjid yang tak lapang. Tidak terlihat keagungannya.  Apalagi jika di sekitarnya ada rumah ibadah umat agama lain yang lebih agung, lebih indah dan lebih  segala-galanya.  Tidak boleh….tidak boleh ada yang melebihi keagungan rumah ibadah kita di tanah ini! Di tempat lain, jika ada rumah ibadah umat lain lebih besar, lebih agung dan lebih indah, bukan urusan kita. Tapi di tanah ini….!!!”.  Orang ini menjeda sejenak ucapannya. Padangan matanya menyusuri jemaah yang hadir di tempat itu yang duduk menyimak dengan takzim.  Ia seperti ahli pidato ulung yang memberi jeda pada pendengar agar penasaran.   “Di tanah ini, tanah Allah, tanah umat muslim…  tidak boleh ada kejadian semacam itu.” Katanya kemudian.

Jemaah salat magrib yang hanya segelintir itu mangut-mangut. Mereka sepertinya setuju 100 % dengan ucapan orang berjanggut segan itu. Sebaliknya Faisal yang juga berada di tengah-tengah mereka malah celangak-celinguk memperhatikan masjid.  Kagum bercampur heran. Masjid ini sudah luas, saking luasnya orang yang sedang salat berjamaah magrib saat ini ibaratnya hanya  sejumput rumput dalam lapangan bola yang luas. Masjid ini pun tak kalah indahnya dengan masjid-masjid agung yang pernah dilihatnya di beberapa kota. Tiang-tiangnya kokoh menjulang, diukir dengan kaligrafi.  Tegelnya  mungkin dari pualam karena berkilat-kilat di timpa sinar lampu.  Mimbarnya dari kayu hitam yang diukir indah. Sekujur dinding masjid dipenuhi dengan kaligrafi.  Tepatnya di tengah-tengah masjid, lampu-lampu hias yang klasik-elok menjulur-julur ke bawah.

“Kenapa dianggap tidak lapang, dan kenapa pula dianggap kurang agung?”   Tentu saja pertanyaan itu hanya disimpan dalam hatinya. Sebenarnya ia ingin berbisik, bertanya pada orang di sebelahnya. Tapi orang yang di sebelahnya dilihatnya terlalu khusyuk mendengar penyampaian orang berjanggut segan itu.  Kepalanya berulang kali mangut-mangut. Barulah Faisal sadar bahwa orang di sebelahnya bukannya menyimak tapi justru terkantuk-kantuk, bahkan mungkin tertidur, ketika sang janggut segan bertanya padanya.

“Bagaimana pak Setya, berapa Bapak akan sumbang, bukankah Bapak mau menjadi calon kepala desa dalam pemilihan tahun depan?” Apa kata khalayak kalau masjid di desa Bapak ini tidak terlihat agung dan indah. Apalagi peresmian bapak sebagai calon kepala desa kan dilakukan di masjid ini”.   Tiba-tiba terdengar orang berjanggut segan itu bertanya.

Orang di sebelah Faisal itu tersentak, mengucek sejenak matanya lalu dengan buru-buru menjawab.

“Saya siyap  50 juta saja dulu”….

“Subhanalah…..,”  terdengar serentak suara menyucikan Tuhan dari dalam masjid itu.

***

Siang itu, Faisal menyusuri kota Telaga Biru. Ia memang mendapat tugas riset tentang Kehidupan dan Keberagamaan Masyarakat Telaga Biru. Sepanjang perjalanan ia menyaksikan beberapa masjid-masjid besar yang memancang kokoh.  Ada 2 atau 3 gereja, dan 1 klenteng.  Menariknya setiap ada gereja, maka di sekelilingnya ada setidaknya dua masjid yang memancang kokoh. Seakan mengepung gereja. Gereja yang tidak seberapa besar itu pun seakan-akan tenggelam di bawah bayang-bayang kemegahan masjid.

Sementara di sekitar Klenteng juga demikian adanya. Klenteng ini terlihat memang cukup megah. Dengan ornamen-ornamen cina yang artistik, Klenteng ini tampak menantang kekudusan masjid-masjid di sekitarnya. Tetapi dua masjid yang berada di dekatnya. Memancang lebih tinggi, besar dan gagah.  Letak Klenteng ini sendiri ternyata tak jauh dari masjid yang di tempati magriban oleh Faisal,  saat hari pertama menginjakkan kakinya di kota Telaga Biru ini.

Tapi ada satu hal eh…dua hal  yang mengganggu pandangan mata dan pikiran Faisal. Pertama-tama Ia menyaksikan di sepanjang  penelusurannya di kota ini, berderet-deret rumah-rumah reyot dan kumuh. Terjepit di antara rumah-rumah besar dan mewah atau bahkan berada di sekitar naungan menara-menara masjid yang tegak memancang.   Anak-anak tak berbaju dengan perut buncit-buncit berlarian di halaman rumah mereka yang sempit.  Bisa dipastikan perut mereka yang buncit bukan karena kekenyangan, soalnya selain perutnya yang buncit, yang lain di badannya hanya tulang berbalut kulit. Beberapa yang lain memilih bermain bola di sisi jalan. Sesekali ada satu-dua di antara mereka melongok ke pekarangan masjid yang luas dan dipenuhi rumput. Sangat cocok untuk berlari-lari sambil menendang bola. Tapi tidak mungkin, pagar terkunci.  Lagi pula di situ dengan jelas ada tulisan “Dilarang Berlarian Apalagi Main Bola di Halaman Masjid.”  Masjid adalah tempat beribadah, rumah Tuhan yang Agung, bukan tempat bermain-main, meski pun itu hanya di halamannya. Mungkin begitu maksud dari larangan itu.

Selain itu, sepanjang ia menelusuri kota, Ia tidak pernah melihat lapangan bola, lapangan voli atau lapangan olahraga lainnya. Mulanya Ia menyangka, belum sekujur kota Ia jajaki. Mungkin di satu sudut ada stadion olahraga yang lengkap lapangan untuk berolahraganya. Tapi ketika Ia bertanya pada seorang anak muda soal lapangan olahraga ini, anak muda itu menggeleng. “Tidak ada…tidak ada lapangan olahraga di kota ini.  Dulunya ada tapi sudah dibangun masjid di sana. Masjid kebanggaan kota ini”.  Begitu kata anak  muda itu.

Saat menyusuri jalan-jalan kota itulah tiba-tiba Faisal kembali bertemu orang tua gila yang pernah mencari-cari masjid yang hilang. Pakaian orang tua itu tetap sama dengan yang dia kenakan saat pertama kali bertemu dengannya. Bedanya kali ini orang tua itu tidak berteriak-teriak mencari masjid. Mulutnya bungkam, tapi tangannya sibuk menempelkan kertas-kertas di dinding rumah, di pagar masjid, di tiang listrik, bahkan di punggung orang. Orang yang ditempeli punggungnya gelagapan, ngomel-ngomel dan berusaha mencabut kertas yang ditempel di punggungnya.  Orang tua gila itu sendiri hanya tertawa terkekeh-kekeh. Orang gila ini bahkan berusaha memanjat pagar sebuah masjid.  Rupanya Ia berniat menempel kertas yang dibawanya di dinding atau di papan informasi  masjid tersebut. Penjaga masjid melihatnya dan buru-buru mengusirnya.

Faisal mendekat ke salah satu kertas yang di tempel di salah satu pagar masjid. Ia tersenyum geli setelah membaca tulisan di kertas itu. “Masjid, rumah Allah, tempat merendahkan hati, kini telah ditemukan, datanglah untuk syukuran. Ba’da Ashar hari Jum’at! Jangan telat, nanti keburu raib lagi.Di bawah tulisan tadi, disebutkan alamat tempat lokasi syukuran.

Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu ikut membaca pengumuman tersebut. Faisal mendatangi salah seorang di antara mereka. Bertanya tentang lokasi dari alamat yang tertera di kertas yang dipasang di mana-mana oleh si orang tua gila.

***

Sore itu pun akhirnya datang.  Hari Jumat selepas salat Ashar di tempat yang disebut-sebut di kertas pengumuman si orang tua gila. Tidak dinyana, di sore Jumat yang muram oleh awan hitam yang mengapung lesu di angkasa, orang-orang ternyata mengular datang ke tempat itu. Entah apa yang membetot mereka berbondong-bondong ke tempat tersebut.

Faisal menelisik satu-satu orang yang datang. Rata-rata berjalan kaki. Pakaian kumal.  Satu dua memang ada pula yang berkendaraan dengan pakaian rapi jali. Tapi memang yang paling banyak berbondong-bondong datang ke tempat itu adalah para penghuni rumah-rumah kumuh lengkap dengan anak-anaknya yang berperut buncit.

Faisal mengalihkan perhatiannya ke arah lokasi yang dimaksud. Matanya mencari cari si orang tua gila. Tidak kelihatan. Yang tampak di sana adalah bangunan yang di buat dari bambu, sebagian juga ada kayu-kayunya. Atap bangunan dari daun rumbia.  “Mungkinkah itu yang dimaksudkannya masjid yang telah di temukan kembali?”  Kata Faisal dalam hati. Di depan bangunan itu terlihat beberapa tumpukan. Entah  barang apa? Tak seorang pun yang paham, soalnya tumpukan itu ditutupi terpal.

Lalu saat Faisal dan beberapa orang-orang yang semakin menyemut di tempat itu terlongo-longo menyaksikan bangunan dari bambu yang tidak jelas rupanya dan tumpukan yang tak kelihatan wujudnya, tiba-tiba dari dalam bangunan itu muncullah si orang tua gila. Ia memberi isyarat kepada beberapa orang-orang yang berpakaian kumal untuk mendekat. Mungkin mereka adalah para penghuni rumah kumuh di sepanjang kota ini, mungkin juga para sejawat gilanya. Tapi ah..sudahlah tidak usah diambil pusing. Perhatikanlah sekarang apa yang mereka lakukan. Orang-orang itu diminta membuka   tutup-tutup terpal itu.  Ketika tutup terpal pertama dibuka, ternyata isinya adalah sembako, tutup terpal kedua dibuka isinya berdus-dus mie instan, dan ketika tutup terpal ketiga dibuka isinya adalah pakaian-pakaian yang  sudah dikepak sedemikian rupa. Dua tutup terpal belum dibuka. Si orang tua gila memberi isyarat untuk membukanya. Lima orang datang membuka terpalnya, dan semua hanya bisa terheran-heran ketika ternyata di balik dua terpal itu ada dua kubah masjid.

“Hei….ternyata dua kubah masjid itu ada di sini, itu kubah masjid yang dekat klenteng yang mau dibangun lagi, pantasan dua hari yang lalu hilang”. Tiba-tiba salah seorang pengunjung yang berpakaian rapi berteriak. Semua orang berpaling padanya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah dua kubah masjid itu.

“Tak ada masjid….tak ada masjid di sana….he…he..he…”. Tiba-tiba terdengar suara si orang tua gila. Serentak perhatian orang kini beralih pada orang tua gila.

“Aku melihat dua kubah ini tergeletak  di sana, sayang sekali tidak digunakan, soalnya masjidnya ada di sini. Ya…aku bantu bawa ke sini”. Lanjut Si orang tua gila.

“Dasar orang gila.” Teriak orang berpakaian rapi tadi. Si orang tua gila yang diteriaki gila seperti tidak mendengarkan. Ia malah melanjutkan ucapannya.

“Masjid adalah tempat merendahkan hati, menghilangkan segala rasa sombong dan tempat untuk mengagungkan Allah, bukan tempat yang justru dijadikan lahan memupuk keangkuhan apalagi  untuk memperlihatkan kehebatan kelompok.”  Demikian orang tua gila itu bilang. Matanya menatap orang-orang di sekitarnya  dengan liar. Mendengar kata-kata orang tua gila itu, Faisal menjadi tertarik. Apa yang dikatakan sepertinya tidak mungkin keluar dari mulut orang gila.  Ia lantas menyeruak ke depan.  Mendekat.

“Semua masjid di kota ini telah hilang. Yang ada sekarang hanyalah tempat orang berkerumun bicara politik, tempat orang menampar harga diri dan menjatuhkan marwah orang atau kelompok lain.” Ucap orang tua gila itu lantang. Orang-orang yang hadir di tempat semakin merapat. Yang berpakaian lusuh yang paling pertama maju, lalu meski dengan agak segan-segan, orang-orang yang berpakaian rapi juga mendekat.  Mereka menyimak apa yang dikatakan orang tua yang dianggap gila itu.

“Masjid itu ternyata pindah ke sini”. Kata orang tua itu sambil menunjuk bangunan di belakangnya. “Di sinilah kubah-kubah itu akan dipasang. Masjid ini milik kita semua. Anak-anak kalian, yang perutnya besar-besar itu boleh bermain-main di halamannya. Masjid ini tidak perlu besar, tapi bisa menjadi pusat transaksi sosial. Masjid ini harus menjadi pusat keadilan sosial, setidak-tidaknya jadi tempat untuk membicarakan hal itu”  Lanjut orang tua gila ini. Faisal semakin dicengkau rasa heran mendengar ucapan-ucapan orang tua ini. Bukan hanya dia, yang lain juga terlihat terlongo-longo. Kebanyakan mungkin tidak mengerti khususnya mereka yang berpakaian lusuh-lusuh itu, tapi ada yang betul-betul terpukau. Mereka tidak menyangka orang tua yang selama ini dianggap gila bisa berkata seperti itu.

Si orang tua gila lantas menunjuk ke arah tumpukan barang-barang, pakaian, sembako dan mie instan dan berkata   “Tapi sebelum kita mulai salat di masjid ini, silakan kalian bagi barang-barang yang ada itu” .

Mendengar itu serentak orang yang berpakaian lusuh menyerbu ke depan. Lima orang yang sebelumnya membuka terpal-terpal itu dengan sigap membagikan  barang-barang yang ada di situ, sembako, pakaian dan mie-mie instan. Pembagian barang-barang itu membuat suasana riuh rendah. Orang-orang berpakaian lusuh terlihat bersemangat. Sesekali mereka bersorak dan bertempik dengan riuhnya. Faisal tersenyum-senyum melihatnya. Sementara pengunjung lain yang berpakaian rapi hanya tegak seperti orang dicengkau pesona mistis.

Matahari semakin bergerak turun, sinarnya memerah di balik selimut awan yang kelabu.  Gelap terasa lebih cepat memeluk waktu. Mungkin karena senja hari itu berkelumun awan yang pekat.

Tepat ketika hujan yang berinai-rinai luruh ke bumi, dari dalam bangunan yang dianggap masjid oleh si orang tua gila terdengar suara azan magrib.  Mengalun dengan syahdu. Tapi azan tanpa pelantam itu segera ditindih oleh azan dari menara-menara masjid yang lain yang seakan berlomba mempertunjukkan pelantam-pelantam paling canggih. Orang-orang berpakain rapi mundur teratur, lalu pelan-pelan naik ke kendaraan masing-masing, pulang ke rumah mereka  atau mencari masjid-masjid dengan suara azan dengan pelantam di menara-menara. Sementara orang-orang berpakaian lusuh itu berbondong-bondong masuk ke bangunan sederhana, yang dibangun si orang gila dan disebutnya masjid. Tempat mereka memang hanya di sana, bukan di masjid mewah-mewah yang selama ini pagarnya digembok.  Melarang mereka masuk.

Faisal masih tegak. Ia ragu apakah masuk salat ke bangunan yang tidak berbentuk masjid itu, atau ikut pulang dan salat di masjid mewah, menara menjulang dan suara pelantam yang berdentam-dentam. Azan dari dalam bangunan mengalun semakin syahdu, suara sang muazin menyusup ke telinga Faisal. Kemudian lesap ke dalam batinnya.  Sementara itu, tiba-tiba saja Faisal mendengar suara azan dari pelantam-pelantam di menara-menara masjid mewah itu, seperti suara tawa. Mulanya pelan, lalu seperti tawa terbahak-bahak. Tawa yang angkuh…!!, tapi tawa siapa?

 


sumber gambar: Tribunnews.com

Ingatan yang Merindukan

Saya seoalah kembali ke dalam ingatan masa lalu. Juga soal gerimis yang hanya berlalu begitu saja dan kenapa ia tersisa dalam ingatan. Aku pikir karena ada kejadian masa lampau yang belum usai soal gerimis,yang layak terbenam dalam memori. Atau bisa jadi sebaliknya, gerimislah yang mengikuti  memori ingatan. Bisa jadi, catatan akan terhimpun menjadi sejarah.  Tetapi tidak semua yang terhimpun dalam catatan sejarah, meski berada pada lembarannya.  Ada hal yang tidak sekadar menjadi peristiwa di dalam catatan sejarah, juga dalam ingatan memori. Tidak semua daun digugurkan oleh angin, nyanyian seorang bisu dan perbincangan. Semua ini tentang gerimis yang terekam jelas dalam memori ingatan.

Sepertinya, setiap kali aku sedang menerima gerimis dari langit yang jenuh, setiap kali pula aku harus kembali pada sebuah titik awal, soal ingatan. Karena tidak lama setelah itu akan menyusul sebuah kesedihan yang memberikan kesunyian yang temaram. Menatap jendela dengan lama, melihat bagaimana langit masih gelap dan penuh dengan kesunyian. Seolah-olah gerimis ini, mengundang kita untuk saling beradu dengan dinginnya hembusan angin yang masuk, lewat ventilasi jendela. Setelah ingatan yang mengembalikan himpitan masa lampau, yang dengan beban luar biasa, bahkan bila kita tidak mau. Apalagi jauh-jauh hari kamu sudah enggan, tidak kuasa lagi untuk berjuang bersama. Aku tahu, kamu ingin hidup dengan segalanya terpenuhi, tanpa kesusahan.

Aku coba lagi menanyakan soal kejelasan kepadamu, menyakinkan lebih tepatnya. Di kehidupan yang dijalani kebanyakan manusia, selain gerimis dan waktu yang tergulung dengan begitu cepat. Kepiluan hati pun banyak yang menimpa manusia, apalagi yang berpasangan. Tidak semua selamat, memang. Tapi beberapa, ya. Selamat. Setelah terjangan yang menghancurkan itu mampu dilewati, bukankah itu semua butuh perjuangan, untuk merasakan nafas lega.

Tapi itu hanya narasi yang belum pasti soal kebenaran ceritanya, bisa jadi juga itu adalah benar adanya. Tidak juga, kawan, saudaraku. Beberapa  pernah mengalaminya. Aku tahu, ketika mereka curhat kepadaku, lebih menyesakkan dari ini, lebih perih dari ini. Aku pikir seperti itu.

Bebicara selamat, soal ini agak sulit rasanya, seperti halnya yang hanya sekadar cerita. Lagi, bisa jadi lebih banyak yang mengalami nasib naas. Karena ini hal yang tidak mudah untuk dilalui, apalagi untuk ditangguhkan, begitu saja, pikirku. Dan kita aku pikir akan selamat.

Lihat aku sekali lagi kekasihku, tatap kedua bola mata ini, dengan waktu yang lama. Atau, sudah tidak kah, seperti dulu?

Ia memalingkan wajahnya, bahasa tubuhnya sedang, seperti menolak untuk melihatku. Sepertinya, ini memperjelas, bahwa sudah tidak ada lagi aku di dalam ingatannya, kalaupun ada, mungkin hanya seperti gerimis yang begitu cepat untuk berlalu. Semua berakhir, semenjak kata yang belum sempat terucap, tetapi hanya sebuah bahasa tubuh yang memperjelas segalanya.

Senja dan gerimis, tentu di waktu sore. Sungguh hanya sebentar keduanya begitu cepat berlalu, seperti perbincangan-perbincangan yang sangat singkat. Lalu termenung, mencari tempat untuk sendiri, mungkin meratapi kesunyian.  Dan di sudut entah mana, aku dan kamu akan merasakan gerimis kembali. Di sore hari dengan waktu yang berbeda.

Lalu impian itu datang, aku dan kamu bertemu kembali, pada waktu sore; saat senja mulai nampak. Kali ini, gerimis tidak turun, hanya ingatan senja, yang menggores kembali memori di masa lampau. Tempat bertemunya pun, di sebuah warung makan. Bisa jadi, ia rindu, aku coba tebak dan aku  tahu itu.

Aku memesan kopi hitam, ia hanya memesan es teh. Sembari menunggu senja untuk berlalu, agar tumpangan segera tiba. Untuk pulang ke rumah. Ia masih seperti setahun yang lalu, hanya agak sedikit berisi. Kupikir lamat-lamat, mecoba berdoa dalam hati “agar senja sedikit lebih lama untuk berlalu” itu doaku. Tetapi, aku tidak yakin soal doaku, senja ini akan lama. Namun, satu hal yang pasti senja selalu, punya maksud pada setiap pertemuan.

Aku berisi ya.., Aku mengatakan “ya” . Percakapan ini tidak sebagaimana lazimnya. Ia agak kaku, dan ingin segera mengatakan-seperti kisah yang dulu-dulu: aku mencintaimu. Sesuatu yang tidak mungkin, untuk terucap kembali. Aku yakin sekarang semua butuh strategi dan berpikir lebih cermat. Juga, untuk kata-kata yang akan terucap oleh nada kejujuran.

Senja berlalu, kami berpisah. Betul sekali, tidak ada kepastian. Tapi aku tidak ingin lagi berharap soal pertemuan selanjutnya dengannya. Tidak lagi, aku berharap pada senja dan gerimis yang akan, memberi ingatan, apalagi pertemuan untuk kedua kalinya. Akhirnya, entah kenapa, kami bertemu kembali untuk kali kedua. Di kotanya, ia tidak secerah dulu, lebih agak redup. Dalam benakku, bergumam: “Ingin kurapatkan tubuhku padanya, sambil berbisik sesedih apakah kamu.” Tetapi tidak aku lakukan. Tanpa aku sadar, kami kedatangan dua anak-anak yang dari jauh, sudah berteriak dengan girang. Imut-imut. Dan kamu berubah sekejap, tertawa lepas begitu riang dan menyambut anak-anak itu dengan pelukan hangat. Tiba-tiba dari arah yang sama, datanglah pula seorang laki-laki menghampirimu.

Seketika ekspresiku berubah, lebih terkejut, dengan raut muka yang tidak seperti sebelumnya. Tidak mungkin, baru setahun yang lalu bukan? Tetapi bisa jadi, suamimu adalah orang sebelumnya berkeluarga, misalnya. Ini pita dan nia, keponakanku, dan ini kakakku. Pertemuan itu, berlalu begitu saja seperti ruang hampa angkasa raya.

Tetapi kepastian itu datang jua menghampiriku. Akhinya, telah aku terima undangan pernikahan dengan bertuliskan namamu di sana. Beberapa minggu yang lalu, di dalam kamar, aku sedang melihat jendela untuk menatap langit jenuh, diiringi gerimis. Di waktu yang tidak tepat karena senja tidak nampak di sore hari itu. Ingatan kembali muncul, soal kenangan masa lampau. Tetapi sudahlah, pertemuan terakhir kali telah menutup dan memperjelas semuanya.

Sekarang semuanya sudah jelas, seperti senja yang dihalangi oleh gerimis, seketika langit lebih cepat menjadi hitam pekat, padahal aku sedang menanti senja. Bukan gerimis, yang akan mengembalikan soal kenangan masa lampau. Pertanyaan muncul dalam benak. Kamu di mana, dan sedang apa sekarang? Kamu sedang bahagia, tetapi tidak dengan aku. Aku mulai merasa gelisah dan resah, tetiba aku mengambil pena berikut sebuah buku catatan. Menjadi sebuah kebiasaan, ketika sedang mengalami kegalauan. Menulis adalah sebuah kebiasaan yang aku lakukan. Tetapi kali ini, berbeda yang biasanya menulis sebuah puisi. Karena tekad ingin membuat buku tentang kumpulan puisi. Tetapi, tidak kulaksanakan, malah: aku sedang merobek catatan sebelumnya dan hanya menulis nama saya seorang yang pernah singgah (di hati), di sana. Sudah cukup bagiku, kali ini. Karena semua berakhir, ketika bahasa tubuh yang pernah kamu siratkan ke padaku.

Tidak lama kemudian, gerimis berubah menjadi hujan yang begitu deras. Tiba-tiba, terdengar suara nada dering handphone berbunyi. Keluar dari dalam kamar, untuk melihat siapa gerangan yang menelepon. Kulihat namamu, entah aku harus bahagia atau sedih. Karena, untuk apalagi: kita sudah berbeda tujuan, namamu telah tertulis pada undangan pernikahan. Sebenarnya tidak ingin peduli dengan telepon itu lagi, apalagi ini dari kamu. Kubiarkan saja, sampai beberapa kali, engkau terus saja menelepon.  Aku putuskan untuk menerima panggilan telpon darimu: halo,iya ada apa?  Engkau hanya bilang “aku kangen” lagi, dalam hidupku penuh dengan kebimbangan menderaku. Kubiarkan saja, aku tidak ingin menjawab itu.

Lama terjadi perbincangan saat langit makin bersedih, dengan ditandai hujan makin deras. Ia berucap, “bolehkah aku minta tolong?” Aku mengatakan, “iya.” Meski dalam benakku, apakah ia ingin kabur denganku. Betapa bodoh, aku punya pikiran itu. Tidak mungkinlah. Lanjut, ia berucap tetapi janji jangan bertanya soal pernikahanku. Tidak, sebab apapun jawabanmu tidak akan menyelamatkan apapun lagi, harapan itu sudah pupus. Seperti kayu yang menjadi arang ataukah nasi yang terlanjur menjadi bubur.

Suaramu, menjadi parau, sepertinya suara menangis. Diam dan menyimak adalah posisi yang harus kulakukan, karena kita sudah bersepakat untuk tidak membahas soal tentangmu saat ini.

Dari jendela ruang tamu, tempat menerima teleponmu, kulihat sepintas kalau malam telah tiba, lampu-lampu mulai memberikan sinarnya. Kamu bertanya soal diriku: tentang kesehatan, makan, dan buku-bukuku. Tidak lupa menanyakan soal jam tangan yang pernah engkau berikan padaku. Harusnya banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu. Tetapi, aku tidak ingin jadi bulan-bulanan kenangan yang akan menghampiriku.

Meski jujur, aku mengalaminya. Sampai beberapa waktu yang lalu. Benjol dan babak belur dihancurkan kenangan dan dicincangnya. Terutama jika sedang menatap jendela, di kala gerimis dan senja bersamaan menghampiriku, ingatan tentangmu begitu kuat. Menyeruak mengisi kembali kenangan di masa lalu.

Kamu berhenti menangis, tidak lagi. Padahal hampir saja aku ikut terharu. Setelah itu, lanjut, sudah dulu yah, saya ada janjian makan malam. Berakhirlah suara yang menghiasi malamku kali ini.

Malam ini aku habiskan seorang diri dengan beberapa buku untuk kulahap habis. Setelah itu, kucoba mengecek bebrapa film yang belum kut onton. Sampai subuh kuhabiskan dengan film dengan sesekali kamu main dalam beberapa adegan didalamnya. Selebihnya, film itu bermain sendiri dan aku juga bermain sendiri, bersamamu dalam bayanganku.  Pagi ini, aku tidur, tidak lelap. Terbangun karena nada dering telpon, sangat mengganggu. Aku bangkit dengan badan sakit, bisa jadi karena posisi yang kurang baik waktu tidur tadi. Ternyata Kamu yang menelepon, ku angkatnya. Tanpa rasa bersalah, kamu mengucapkan selamat pagi dengan suara yang sepertinya sangat bahagia.

Aku tidak terlalu peduli lagi, kusimpan handphone itu, masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, lanjut untuk membuat kopi untuk pagi ini. Rasanya, ngantuk sekali dan mata terasa berat sekali. Tidak lama, setelah itu, kamu menelepon lagi, ucapmu, “aku minta maaf, mungkin ini terakhir kali untuk bisa mendengar suaraku.” Kuingin bilang, “memangnya mau ke mana?” Kuurungkan kata-kata itu. Dengan sisa kekejaman yang kumiliki, “ Oh iya, baguslah, semoga bahagia yah. Sampaikan salamku untuk keluargamu.” Padahal aku tahu, kamu berharap agar aku bilang mau ke mana? Atau mengatakan hal yang lebih untuk, seolah-olah menahan kepergianmu.

Lalu beberapa menit, menjadi senyap, begitu sepi rasanya. Dengan hampa menjalar sampai ke otakku. Itu yang kurasa saat ini, tidak ada masalah, sebuah perpisahan yang sangat indah, bukan?

Aku membuka kulkas, untuk mencari minuman segar, sepertinya kopi panas saat ini, tidak mengena soal suasana. karena hati mulai panas. Butuh untuk didinginkan. Lalu sebuah catatan tertempel pada pintu kulkas,  yang bertuliskan “ ingat untuk mengangkat jemuran”.

Perempuan dalam Bayang Literasi

Alunan sendu membisiki telinganya. Hari mengganti hari dan ia masih saja bersikukuh ingin tegar. Tak mau dipisahkan dari rasa cinta pada sang suami. Ia ingin tabah, tak pernah sekalipun dalam pernikahannya airmata menetes. ia mengalahkan tabahnya hujan di bulan Juni itu. Tak ada tempat bercerita,  hanya pada anaknya terkecuali.

“Bunda,  izinkan aku keluar. Jangan kau paksa  saya bunda. Saya tak suka di dalam.” Suatu hari anaknya mulai mengeluh.

“Sebentar nak, belum saatnya. Jangan kau buat risau bunda. Tinggallah di dalam sedikit lebih lama. Banyak yang bunda pikirkan nak” sang bunda memelas kasih,  membatin ia.

“Tapi bunda,  ini telah mencapai umur saya. Saya sangat ingin keluar bunda. Tak kah bunda merasa kasihan? Mohon izinkan saya.” Sang anak mulai meminta belas kasih sang bunda.

Diam. Bunda yang dimintai belas kasih hanya diam. Bulir air matanya terpaksa keluar dari kelopaknya. Kali ini tak bisa ditahan. Sedih ia alang kepalang. Sang suami tak kunjung pulang sebagai sandaran.

***

Perempuan ini adalah jelitanya abad. Mengalahkan keindahan “bunga akhir abad”. Bukan, bukan tingginya hidung sebagai ukuran,  mata biru yang berbinar juga tidak,  bahkan kulit putih mulus tak jua.  Yang ia punya lebih dari itu. Sesuatu yang semua orang dambakan untuk dimiliki. Kecantikan di luar nalar yang pernah kau bayangkan untuk dipunyai. Sebuah jelita yang bukan saja indah dalam pandangan,  namun juga dalam pikiran.

Memandang wajahnya kau akan terbayang megahnya istana Firaun,  menatap senyumnya membawamu pada fatamorgana gurun pasir,  mendengar dia bertutur aduhai,  seperti nyanyian simfoni sang malam. Begitu merdu alunannya,  bahkan pada ritme sendu. Bukan bualan kata kakek Pram. Semua keindahan seperti bersekutu untuk menujunya. Wahai kau sang pemilik,  tak merasa kah?

Dulu,  waktu masa muda masih dimilikinya. Ia dipuja hadirnya. Menjadi dambaan semua lelaki yang mengenalnya.

“Gerangan siapakah dia?” Laki-laki penuh tandatanya.

“MasyaAllah,  betapa indah. Siapa pemiliknya?” Semua memuji tuhannya, begitu melihat sang perempuan.

“Bagaimana dia bisa seperti itu? Dari negeri mana dia terlahir?” Lagi,  masih riuh orang-orang bertanya tentangnya.

Sang pemilik keindahan hanya saja tak begitu sadar dengan yang dimilikinya. Sangat-sangat tak ambil pusing dengan semua pujian. Dianggapnya nasehat yang tak perlu didengar. Dalam pikirannya hanya satu,  aku ingin menyelesaikan segalaku ini dengan baik, dalam cakupan Tuhanku. Yah,  perempuan yang cantik tidak hanya dalam pandangan,  juga dalam pikiran. Bagaimana indahnya tak didamba? Jika wajahnya bercahaya setiap harinya. Bagaimana kehadirannya tak dirindu,  jika tutur katanya hanya berupa kebaikan. Tak pernah sekalipun ia mencemooh dan mengolok. Bagaimana ia tak di inginkan? Jika keramahan adalah nafasnya. Tak suka ia pada penindasan,  dan mendorongnya meng-AKSI bersama kawan mahasiswanya di jalan-jalan. Meski itu,  pandangan dan pergaulannya tetap pada jalannya. Ia berbuat karena tuhannya dan suatu saat akan diminta tanggung jawab atas yang dilakukannya. Maka menjaga diri adalah pakaiannya. Di sana-sini penghargaan atas kebaikannya membludak. Pujian kian menjamur karena jasanya. Membantu sesama adalah hal yang selalu dipedomaninya. Bagaimana ku gambarkan perempuan indah ini? Begitu sulit merangkai katanya.

Sampai pada suatu hari,  dia berjalan dalam pelukan musim semi. Aroma bunga menusuki indera penciumannya. Awan yang menggantung,  berdirinya langit yang tegar pun turut memberi restu. Sempurna semesta  membentuk harmoni. Hijab yang dikenakannya berkibar dan memolekkannya. Warna kuning dan biru terpadu dengan indah dikenakannya. Berjalan ia dengan dentuman jantung dan aliran darah yang menyesaki daging-daging.   Seorang lelaki penulis menghampiri. Mencoba  menghapuskan jaraknya dengan perempuan itu. Dengan lantang mengumandangkan

“Aku ingin menikahimu!”

Perempuan itu beku. Langit terasa merenta.

“Aku ingin menikahimu!” Sang penulis mengambil jarak,  mendekat.

Perempuan itu masih beku. Langitnya ingin runtuh

“Aku ingin menikahimu. Bukan karena indahmu,  bukan karena pikiranmu. Bukan itu. Aku hanya ingin menikahimu karena itu kamu,”  disuarakannya dengan lantang pikirannya itu. Disaksi semesta. Dia berhasil menjadikan sang perempuan tetap beku. Tak bisa berkata.

Berhari setelah kejadian itu,  sang perempuan dilanda sendu. Minum dan makan enggan. Riuh pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya. Menjamur satu persatu.

“Siapa laki-laki itu?”

“Siapa laki-laki itu?”

“Siapa dia yang mengambil tenangku? Siapa dia yang menyesaki nafasku?”

Bimbang ia. Tak tahu membalasnya dengan apa. Tak tahu melakukannya bagaimana. Segalanya menjadi kian susah. Tak tenang. Ia lalu duduk dan membanting diri pada kasur empuk,  membiarkan sebuah surat berisi cinta berbaring di sebelahnya.

“Aku mencintamu. Sampai mentari menemui akhir. Tak terbit lagi,,

Aku mencintaimu. Sampai tak ada lagi jalan untuk jadi  tujuan. Sejauh itu..

Aku mencintaimu. Sampai tak ada lagi nafas untuk dihela. Sebutuh itu..

Dan aku tak mencintaimu. Dengan dekat,  dengan butuh,  dengan batas.

Aku mencintaimu dengan segalaku. Itu kewajibanku.”

Dan begitu, puisi membuat perempuan  dan penulis itu merajut kenyataan. Mereka berakhir di pelaminan. Bermandi restu dan doa. Juga riuh kekesalan. Ada yang merasa tak senang dengan bersatunya mereka.  Mengapa  sang perempuan melabuhkan cintanya pada sang penulis? Ia tak punya apa-apa selain tulisan yang juga tak membuahkan apa-apa. Mau diberi makan huruf kau? bahagiakah kau dengan pikiran suamimu? Bisakah?

“Yah, semua perkataan berat mesti dibalas dengan kebaikan. Seperti suamiku,  aku pun mencintainya  dengan imanku.”  Membatin lagi sang perempuan. Benar-benar jelita dalam pandangan.

***

3 bulan usia pernikahan mereka. Perempuan itu meski telah dipinang,  tak bisa jelitanya disembunyikan. Kemana-mana selalu ia mencuri segala perhatian. Meski didampingi laki-laki penulis di sisi,  tak menyurutkan niat bola-bola mata untuk menikmati indahnya perempuan indah itu.

“Tenang, Mas. Aku mencintaimu. Sungguh.. sedikitpun tak ada niat menjauh darimu,” sang perempuan menghibur suaminya. Melingkarkan erat lengannya pada sang suami. Memberi senyuman terbaik hanya untuk suaminya. Sebentar memegang wajah suaminya,  lalu mengusapnya lembut.  Dan tumpah-tumpah cintanya kemudian. Tak ada sesal menikahi suaminya. Tak ada.

Sang suami setiap pagi memberinya puisi cinta. Dan perempuan itu makin indah dengan senyumnya. Karena puisi. ia mencintai suaminya lagi dan lagi. Yah,  Suami yang memberikan segala hidupnya untuk tulisan. Suami yang memberinya makan lewat tulisan. Dan kemudian,  tulisan merenggut semua senyum yang dimiliki sang perempuan.

***

Hari ini tepat 4 tahun pernikahan mereka. Rumah nampak lengang. Sang perempuan duduk di pekarangan. Dibelai angin sepoi,  di atas kursi goyang kayu rotan hadiah suaminya. Ia bermata lesu,  kulitnya Nampak lebih menua. Warna kulitnya memucat,  dengan bibir yang tak merekah lagi. Jaket rajut berwarna abu lebih didekapnya. Tubuhnya sangat kurus,  semangatnya kian usang.  Angin tak mau lagi menjaganya. Semesta sudah bosan memeluknya. Perempuan itu tak indah lagi. Perempuan itu sempurna kehilangan cahayanya.

“Bunda,  saya lelah. Ingin keluar. Tolong bunda,  izinkan saya,” memelas lagi sang anak

“Tidak nak, jangan. Kasihani bundamu. Jangan kau keluar dulu. Bunda belum bisa memngeluarkanmu. Tidak nak. Tunggulah sebentar.”

“Bunda,  tapi ini telah waktunya. Saya tak tahu kapan,  cepat-cepat saya akan keluar jua. Bunda tak bisa menidak lagi,” sang anak menjawab bundanya

“Kau memang benar nak. Kau benar. Bunda tak tahu sampai kapan bunda bisa menahannya. Tapi akan kutahan nak. Keluarnya kau dari situ,  mulailah kau meneguk penderitaan bundamu. Tidak nak,  bunda tak mengizinkan” perempuan indah itu mengerang. Memegangi perutnya. Menahan sakitnya. Betapa sakit tuhan, betapa sakit. Tolong aku.

Perempuan itu,  kembali menancapkan matanya pada gerbang. Berharap terbuka,  dan sang suami ada di baliknya. Berharap suaminya sang penulis itu membawa pulang sejumlah uang. Berharap suami yang begitu digilainya itu memberinya nafas lega. Berhari-hari sudah suami tak pulang. Pergi menempuh jalan yang ia sendiri tak pernah jalani. Ia,  suaminya pergi menjajakan tulisannya. Berharap ada yang mau membeli kata-kata yang ditulisnya.

Bertahun sudah perempuan itu berada dalam ketabahan.  Mencoba meneriakkan bahwa anggapan orang-orang itu salah besar. Berharap semua omongan tak indah dari mulut mereka berhenti. Ia berkata tidak! Mereka semua salah. Menjadi istri dari seorang penulis adalah hal termewah di dunia. Tak ada bandingannya. Tak bisa sekuntum mawar diganti sekalimat puisi. tak ada yang semesra itu,  mendapatkan pelukan hangat puisi sang suami,  di saat sedang lelah membereskan rumah. Semua tak terganti.

Hanya saja belum. Bukan suamiku yang berdosa. Mereka para pembaca yang tidak tahu estetika. Tidak menghargai makna sebuah karya. Tidak menghargai tulisan. tidak mencintai bahasa. Tidak mau membudayakan budaya baca. Tidak mau membuka jendela dunia. Bukan salah suamiku. Ya, bukan salahnya. Suamiku adalah terbaik karena masih mau berpikir. Dalam diammnya ia memaknai bahasa,  kutemukan gagah di dalamnya.

Perempuan itu diam tersebab pikirannya. Ia lelah menunggui dirinya mengantuk. Matanya telah berhari-hari terjaga. Untuk makan sesuatu pun tenaga yang ia punya hanya sisa-sisa. Meski di dapur tak ada yang bisa ia masak. Harta yang ia punya saat ini hanyalah setumpuk puisi dari suaminya. Tak dibuang. Begitu berharga.  Namun ia masih tabah. Memupuk keyakinannya lagi,  suami yang dimilikinya pasti pulang.

Ia terdiam. Beku di atas kursi malasnya. Langit Nampak gelap. sakit yang dialaminya tak terperi lagi. Sayup-sayup didengarnya tetangga memanggil-manggil minta tolong sambil mendekap tubuh perempuan itu. Darah segar mulai menetes.

***

“Bunda, aku keluar,” sang anak menangis meraung

“Bunda,  aku sudah keluar. Bunda, sepedih inikah di luar bunda? Tak kau sambut aku dengan senyummu?” sang anak makin menjadi. Menangis ia.

“Bunda,  takkah kau dengar aku? Menyesal bunda mengandung aku?” sang anak kembali menangis

Perempuan itu,  hanya memandangi anaknya. 5 menit yang lalu anaknya telah menghirup udara. Jiwa yang dikandungnya itu kini telah lahir. Jiwa yang selalu ia bisiki untuk tetap tinggal di dalam rahimnya. “Di luar terlalu  berat nak, berat. Kau tak kan tahan. Ayahmu  belum pulang. Air susuku bahkan mengering. Tapi tenanglah nak,  jangan kau menangis. Mungkin setumpuk puisi di lemari itu akan membantu,” kali ini tak tahan. Perempuan  itu akhirnya meneteskan air matanya lagi.

 


sumber gambar: panampost.com