Arsip Kategori: Cerpen

Sepucuk Surat dari Guru Sejarah untuk Siswanya Nun Jauh di Sana

“Ceritakan kepadaku tentang sejarah.” Kataku pada seorang kawan—yang baru saja pulang dari Negeri Barat—pada satu senja di Pantai Losari. Kawanku pun bercerita tentang surat.

***

Bersama surat ini terkirim salam dan permintaan maaf saya kepadamu wahai siswaku sekalian. Kuhaturkan permintaan maaf ini lantaran telah lewat empat purnama saya belum pernah memberikan hak-mu. Iya! Hak pengajaran. Seyogyanya, kealpaanku ini bukan lantaran malas masuk kelas. Bukan pula karena lelah menghadapi tindak-tandukmu yang kadang menjengkelkan. Bukan pula karena beban kerja sebagai guru yang begitu berat. Pun bukan karena honor yang kuterima terbilang sedikit. Ketidakhadiranku dalam beberapa masa ini lantaran saya berada pada satu tempat yang nun jauh di sana, sebuah tempat bernama Negeri Barat. Dan kalian para siswaku tahu sendiri kan? Bahwa antara Negeri Barat dan Negeri Timur itu begitu jauh jaraknya. Sedang sekolah tempat kalian merenda pengetahuan dan mencecap indahnya masa-masa remaja berada di Negeri Timur. Tetapi ketahuilah bahwa jarak nun jauh itu sesungguhnya menciptakan sebuah perasaan yang kita namakan rindu. Dan rindu itu perlu jarak. Sedang rindu itu tak berbatas antara kekasih dan kekasihnya. Antara lelaki yang kasmaran dengan gadis pujaan. Rindu juga berlaku antara guru dan siswanya sekalian.

Siswaku sekalian yang baik perangainya, generasi penerus bangsa. Ketahuilah bahwa surat ini butuh waktu yang lama untuk—mungkin—mengetuk kotak pos yang berdiri manis di beranda rumahmu. Ia menempuh jarak berkilo-kilo meter, melintasi lautan dengan menjelajahi udara. Selaksa  surat ini mengingatkanku pada seorang Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, dan Cornelius de Houtman—para penjelajah Abad ke XV—yang mengarungi samudra demi mencari rempah-rempah di dunia timur. Bedanya! Suratku ini melintasi lautan dengan mengarungi udara sedangkan para penjelajah itu melintasi samudra dengan mengarungi lautan.

Di benak kalian mungkin masih mengingat, mungkin pula tidak?! Pembelajaran tentang penjelajahan samudra oleh bangsa barat yang tempo hari itu kuajarkan kepada kalian. Bagaimana para penjelajah Spanyol, Portugis, Belanda, dan berbagai bangsa barat lainnya—mencari dunia baru yang belum terjamah. Mereka menjelajah dunia tentunya melepaskan belenggu kebodohan. Melepaskan doktrin sesat yang mengatakan bumi itu datar. Mereka mencoba membuktikan pernyataan dari seorang Galileo Galilei—pendukung utama seorang Nicolaus Copernicus—yang menyatakan matahari pusat dari tata surya dan bumi itu bulat.

Syahdan, tidak hanya itu. Berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi perkapalan, ikut andil dalam penjelajahan samudra. Apatah lagi kebutuhan mereka terhadap rempah-rempah. Ketahuilah siswaku sekalian yang baik sapinya, eh hatinya. Rempah-rempah atau bumbu dapur yang sering ananda sekalian lihat seperti bawang merah, merica, pala, lada, kunyit, adas, ketumbar, dan kawan-kawan—sesarinya kurun abad XV-XVII begitu bernilai dan mahal nian harganya. Pun begitu penting keberadaannya. Mungkin sama mahalnya dengan emas atau giwang yang dikenakan mamakmu atau nenekmu. Demikian sama pentingnya dengan gawai dan paket kuota yang sering kalian beli di counter hape.

Pada awalnya, mereka mendapatkan rempah-rempah di Konstantinopel. Tetapi sejak kota itu jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah—di bawah naungan Muhammad Al Fatih Sultan Mehmed II yang mengakhiri hegemoni Kekaisaran Bizantium—pada tahun 1453 menyebabkan para pedagang barat kesusahan memperoleh rempah-rempah.

“Apa gerangan yang harus dilakukan dengan kondisi ini Kapten?”

“Entahlah, sejak kota ini di bawah perlindungan Turki Ustmani para pedagang barat dan bangsa kita sudah dilarang lagi melemparkan sauh di Konstantinopel.  Kamu tahu sendiri masih ada luka yang ditinggalkan akibat perang salib.”

“Jadi! Apa yang harus kita perbuat Kapten?”

“Mau tidak mau kita harus menuju sumber penghasil rempah-rempah. Di mana gerangan mereka tumbuh berkembang.”

“Aiyayaya Kapten! Angkat sauh putar haluan!”

***

Siswaku sekalian. Masihkah kalian mengingat bagaimana syahdunya desiran angin yang mengibas-ngibaskan gorden jendela? Kala senja itu kuberikan kepada kalian penjelasan kronologi kedatangan bangsa Spanyol ke Bumi Nusantara. Bagaimana seorang penganut katolik yang taat bernama Ferdinand Magellan menjelajahi samudra demi satu tujuan. Mencari rempah-rempah, mencari kejayaan, dan di satu sisi yang lain menyebarkan agama yang dianutnya. Gold, Glorry, Gospel.

Tatkala kapal layar bernama San Antonio, Conception, dan Victoria mengawal Triniad—kapal induk yang dinahkodai Magelans. Bersama para kaptennya yang handal di mana salah satunya bernama Juan Sebastian del Cano mereka berlayar mengarungi Samudra Atlantik lalu menyisiri pesisir Amerika Latin kemudian berkelok ke arah selatan, tepat pada 1 Nopember mereka menyusuri selat yang sulit dilalui di ujung selatan Benua Amerika. Selat Magellan.

Walaupun sayang, menurut catatan sejarah di tahun 1521 ketika kapal Magellan berhasil berlabuh di Filipina, sang pemimpin ekspedisi ini tewas di-tangan penduduk setempat. Praktis kapten andalan Magelan yang bernama Sebastian del Cano mengambil alih pucuk pimpinan ekspedisi.

“Cepat! Kalian naik ke kapal!” Seru Magellan sembari memainkan pedang melawan suku setempat.

“Tetapi kami tidak bisa meninggalkan Tuan di sini.”

“Jangan hiraukan saya Sebastian. Saya siap menjadi martir demi membuka jalur perdagangan rempah-rempah. Bawa sisa awak kapal kita. Kematianku membuka jalan menuju keabadian.”

Dengan sisa armada Sebastian sang kapten kemudian menarik jangkar. Layar telah terkembang. Pantang biduk lagi surut ke pantai. Haluan berlayar ke arah selatan menuju surga rempah-rempah. Maluku.

Tahukah Ananda sekalian ketika mereka berlabuh di Maluku. Sultan Tidore menyambutnya dengan baik dan ramah. Sebagaimana adat Kesultanan Tidore dan kewajiban seorang Muslim. Bahwa tuan rumah harus menjamu tamu dengan baik. Lihatlah dalam narasi sejarah ini. Bagaimana seorang Muslim menjamu dengan bersahabat seorang penganut Katolik. Bukankah pada sisi ini kedamaian begitu nampak? Maka pada bagian ini ada cerminan yang harus dicontoh.

***

Angin masih berembus kala itu, senja semakin sendu. Suasana kelas mulai sepi. Beberapa dari kalian menampakkan mata yang sayu—mungkin karena mengantuk. Kujelaskan lagi pada kalian. Bagaimana bangsa Portugis masuk ke Bumi Nusantara. Tatkala itu seorang pelaut bernama Alfonso de Albuquerque berhasil menaklukkan Malaka di tahun 1511. Jatuhnya Malaka membuka jalur baru bagi pelaut-pelaut Portugis untuk menjelajahi Bumi Nusantara. Sekiranya ananda sekalian mengetahui, setahun setelahnya utusan Alfonso de Albuquerque bernama Antonio de Abreu dan Francisco Serrao berhasil membuang sauh di perairan Banda. Di tahun yang sama, para pelaut Portugis itu menjalin perjanjian dengan Kerajaan Pajajaran. Mereka berbaur dan saling mengenal di tengah perbedaan.

Lalu apa hikmah dari penjelajahan bangsa Portugis itu? Setidaknya mereka meninggalkan jejak di Nusantara. Apa itu? Mari kusebutkan, perbendaharaan bahasa, bangunan berupa benteng, dan musik keroncong. Jangan salah, akar dari musik ini berasal dari musik Portugis yang dikenal sebagai Fado. Mengenai keroncong, ingatkah ananda sekalian peristiwa seorang lelaki yang sering memetikkan gitar dari kelas sebelah? Petikan gitar yang mengalunkan musik keroncong. Pertanda cinta dan kasih sayang yang tersuar melalui melodi-melodi indah. Saya ingat lelaki itu menyanyikan Sepasang Mata Bola milik Ismail Marzuki.

Sepasang Mata Bola/ /Dari Balik Jendela/ /Datang dari Jakarta/ /Menuju Medan Perwira/

Semakin senja semakin mengantuklah kalian ketika mendengarkan penjelasanku. Tetapi, sebagai guru profesional saya harus menuntaskan materi ajar. Kunarasikan kembali kisah tentang lelaki bernama Cornelius de Houtman. Seorang pelaut yang mengomandai enam buah kapal dan berlayar menuju Hindia. Dengan menulusuri jalur yang dirintis pelaut Portugis mereka berlayar dari Negeri Kincir Angin, menyisir pantai barat Afrika, singgah di Tanjung Harapan—bagian dari Afrika Selatan sekarang—lalu menantang ombak Samudra Hindia. Ketika mereka sudah hampir tiba di Pulau Sumatera. Sang pimpinan ekspedisi memerintahkan mengubah arah layar, menghindari Selat Malaka dan melintasi Selat Sunda kemudian berlabuh di Banten pada bulan Juni yang syahdu di tahun 1596.

Tahukah Ananda sekalian?! Mereka begitu terkagum-kagum dengan pelabuhan Banten. Dengan kebesaran kerajaan tersebut. Lalu pertanda apakah itu? Ananda sekalian, petiklah hikmah dari fakta itu. Bahwa di salah satu sudut nusantara—Indonesia sekarang—terdapat peradaban yang besar—menunjukkan betapa hebatnya leluhur kita. Dan contohlah itu, jadilah manusia yang akan membuat Indonesia menjadi peradaban yang besar.

Kelak kita ketahui bersama. Kedatangan bangsa Belanda di bumi nusantara akn membawa perubahan yang besar pada narasi sejarah bangsa kita ini. Sebuah episode yang panjang. Selama 350 tahun dari masa itu, Belanda melakukan proses penaklukan satu per satu kerajaan-kerajaan di nusantara.

Ananda sekalian yang nun jauh di sana. Para siswaku yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Demikianlah surat ini kutuliskan. Sekiranya surat ini mampu mengunggah jiwa kalian. Agar membuka cakrawala berpikir. Bahwa belajar sejarah bukan hanya menghafal tahun. Melainkan lebih dari itu, kita mendedah sebuah peristiwa lalu menarik hikmah yang terkandung di dalamnya.

***

“Menarik,” kataku sejenak. “Lalu, apakah surat itu sampai ke tujuan?” Sambungku dengan tanya.

Kawanku hanya tersenyum, mengibas-ngibaskan sebuah kartu pos di hadapanku. Kemudian beranjak berlalu meninggalkanku. Adapun saya hanya menatap punggung dan amplop di genggaman. Di ujung amplop itu nampak noda bewarna merah, warnanya menyerupai darah.

 


sumber gambar: www.diskusilepas.id

Penikmat Ekspresi

“Jadi, apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku?” tanyamu, membuka cerita.

“Ekspresi.”

“Kau gila!” ucapmu, menyambut jawaban singkatku barusan. Aku tersenyum mendengarnya, aku suka caramu menjawab ucapanku, karena itulah aku menikmatinya, menikmati ekspresimu.

“Yah, aku jatuh cinta kepadamu pada pandangan yang ke-empat,” ucapku.

“Maksudmu?” lagi-lagi kau menyambut ucapanku barusan.

“Pada dasarnya, jatuh pada pandangan pertama benar-benar tidak pernah ada, kelakukan nakal penyair itulah yang membuat paradigma kita menjadi satu, tatapan pertama adalah ketidaksengajaan yang dibuat oleh keadaan, tatapan kedua karena aku mulai penasaran dari ketidaksengajaanku sendiri, tatapan ketiga aku mulai suka, namun, bukan berarti aku jatuh cinta, jatuh cinta tidak semudah itu, ada tatapan keempat yang tidak dilukiskan dalam bilangan, ia imaji yang bersetubuh dengan waktu, menggilai rasa yang dengan cepat menyerbak ke frasa yang lain, dan aku tidak sadar dibuatnya.”

“Ya, jatuh cinta tidak semudah itu, butuh proses,” tambahku.

“Berarti jatuh cintamu adalah soal tatapan?” kau sepertinya tertarik dengan cara pandang yang aku rancang sendiri, aku kembali tersenyum ke arahmu, mengangguk.

Kali ini kau terdiam, aku kembali memperhatikan ekspresi diammu, kau nampak memikirkan sesuatu, tapi pikiranku tidak ingin menembus pikiranmu, bagiku merekam ekspresimu lebih menyenangkan daripada merekam caramu berpikir.

Merekam cara berpikir bisa aku dapatkan dari jutaan bahkan miliaran makhluk di jagad raya, berpikir tentang cara bertahan hidup, belajar, mencerna masalah, cara menyelesaikannya, itu sangat mudah bagiku.

Tapi, aku butuh tantangan, yaitu mencari hal yang jarang aku temukan, ialah merekam ekspresimu, yang tiada duanya dengan makhluk lain di jagad raya ini, itulah yang aku sebut menyenangkan.

“Berarti kau sudah tidak suka dengan ekspresimu sendiri?” ucapanmu membuyarkan lamunanku.

“Hmm… aku manusia tanpa ekspresi,” jawabku.

“Aku adalah manusia yang senang memainkan lakon orang lain ke dalam tubuhku, termasuk ekspresi, tidak tahu diri sendiri, senangnya hanya bermain, tanpa harus mengetahui bahwa saya tidak sedang berada dalam diri saya sendiri, melainkan pergi, selalu pergi sampai lupa caranya pulang, dan kau datang merazia semua lakon dan ekspresi dalam diriku, mendobrak alam bawah sadarku, dan kau tahu dengan cara apa kau melakukan itu semua?”

“Ekspresi, bukan?” ucapmu menebak, tawaku meledak, kau akhirnya tersenyum, aku kembali menangkap ekspresi senyummu.

Hanya butuh beberapa menit aku merasakan fantasi itu lagi, fantasi yang menyenangkan, itu karena kau dan ekspresimu.

Aku menyelesaikan tawaku, kau sesekali tersenyum lagi ke arahku, aku menangkapnya lagi.

“Tapi, bagaimana jika akhirnya semua ekspresi yang ada dalam diriku hilang, lenyap dan tak tersisa? Apakah kau masih tetap jatuh cinta kepadaku?” kau sedikit mengagetkanku dengan pertanyaanmu barusan.

Aku diam, kau menunggu jawabanku, ekspresimu untuk kesekian kalinya terekam lagi dan lagi, “Aura yang membawa ekspresimu kemari, Qis, siapapun yang hendak membawa lari auramu, ekspresi tentang dirimu tidak akan pernah hilang, ekspresi tetap hidup, walau auramu mati, seberapa besar kau menunjukkan bahwa kau sedang bahagia, aku bisa saja menebak dan tahu kalau kau sedang merekayasa semuanya.”

Kau tersenyum mendengarnya, untuk kesekian kalinya aku kembali merekamnya saat waktu seolah berjalan lambat, nyatanya dia berjalan cepat tak terduga, tapi, aku dan kau tidak perlu lagi memperdebatkan masalah seperti itu, karena kau telah merekam ekspresiku dan aku telah merekam ekspresimu untuk dibawa pulang, dan kita berdua telah menjadi penikmat ekspresi.

Nona Biskuit dan Kebahagiaan Abadi

Sepotong biskuit cokelat berbentuk persegi tipis dengan taburan kristal gula di sekujur tubuhnya lahir begitu saja di suatu petang yang ganjil. Tanpa Bapak, tanpa Ibu. Lantas begitu saja terhidang di atas meja, duduk manis dalam plat porselen yang indah.

Joy, Nona Biskuit bertabur gula itu adalah biskuit pengembara. Ia bertualang ke seluruh negeri, mengikuti berbagai sayembara, ikut serta dalam kerja bakti, dan berkhidmat menjadi warga negara yang baik. Setiap gula di tubuhnya adalah piagam penghargaan dari seluruh sayembara yang ia serta, maupun dari orang-orang yang sempat ia bantu. Joy adalah biskuit paling berbahagia di kota itu. Seluruh kebahagiaan ditaburkan ke seluruh tubuhnya.

Namun petang ini lain, terasa ganjil bagi Nona Manis itu. Baru saja ia mengobrol dengan matahari yang nyaris terbenam. Bagaimanakah caranya agar ia bisa mendapatkan gula kebahagiaan darinya?

‘Wahai Nona Biskuit bertabur gula, akan kau apakan seluruh kebahagiaan yang melekat di seluruh tubuhmu?” Matahari bertanya.

Aku ingin lebih bahagia.

“Gula kebahagiaanku punya batas waktu, Nona. Pagi hari mungkin kau merasa seperti biskuit paling bahagia di dunia. Tapi menjelang petang kebahagiaan itu diangkat dari tubuhmu tanpa sisa. Tidak mengapa, aku akan memberitahumu di mana kau bisa mendapatkan kebahagiaan abadi.”

Joy penasaran, ia sangat penasaran.

“Pergilah ke kota minuman. Carilah seseorang yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan. Ikuti dia, kemanapaun dia pergi.”

Jingga adalah warna terakhir yang disaksikan Joy dari matahari. Malam itu juga Joy berangkat ke kota yang dimaksud. Melewati beberapa bukit dan hutan berpohon jarang. Sampai di sebuah ladang, terlihatlah gerbang kota minuman. Dari jauh kota itu bercahaya, seluruh gerbangnya dipenuhi lampu-lampu aneka warna.

Kota minuman mirip pasar malam. Ramai sekali. Sepanjang jalan utama berjejer toko-toko minuman, ada jus, anggur, sirup, minuman herbal. Ah.. Joy mendadak merasa haus.

Joy memasuki salah satu toko jus. Memesan segelas jus mangga. Ia begitu haus setelah berjalan jauh.

Setelah menandaskan jus mangganya, Joy lantas ingat tujuannya kemari. Mencari minuman yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan.

“Oh.. pergilah ke toko minuman herbal, nyaris semua minuman di sana pahit bukan main.” Sahut pemilik toko.

Joy berangkat ke toko yang dimaksud, di sana ia menemukan bau wangi rempah yang legit dan eksotik. Bertanya pada pemilik toko. Adakah minuman yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan?

Si pemilik toko bingung.

***

Joy lesu, gula di seluruh tubuhnya meredup satu-satu. Tanda kebahagiaan sedang diangkat demi sedikit darinya. Aduh! Minuman seperti apakah yang dimaksud Matahari. Keluhnya.

“Malam begini dingin, tidakkah tubuh tipismu akan membeku, Nona Biskuit?” Sebuah sapaan. Seseorang sedang mendekat ke kursi taman yang Joy duduki.

Tidak ada siapa-siapa, mata Joy nanar mencari-cari. Bangku tempatnya duduk demikian terang, lampu taman sebesar bola bersinar. Tapi Joy tidak melihat asal suara barusan.

“Oh.. aku memang sulit terlihat, apalagi di gelap malam. Tubuh hitamku yang malang..” Keluh suara itu pilu.

Joy bertanya ragu-ragu.

“Aku Robi, minuman paling pahit di kota ini. Dan seolah kepahitan itu belum cukup, tubuhku juga hitam bagai jelaga. Aku minuman paling tidak diminati di kota ini.” Sahut Tuan Kopi mengenalkan diri, sambil tidak lupa mengeluh.

Joy terhenyak. Tuan inikah yang dimaksud oleh Matahari? Seseorang yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan.

Apakah seluruh hidupmu dilumuri kepahitan?

“Tidak ada yang lebih pahit daripada hidupku, aku lahir dengan seluruh kepahitan yang ada. Mungkin juga akan mati dengan cara yang sama. Ngomong-ngomong siapa kau, Nona Biskuit? Kau punya banyak sekali gula kebahagiaan di seluruh tubuhmu.”

Aku Joy, Tuan Kopi. Dan kaulah yang kucari untuk mendapatkan gula kebahagiaan abadi.

Tuan Kopi heran. Di malam yang ganjil itu pertama kali ada seseorang yang mengatakan hal seindah itu tentang dirinya. Nona biskuit yang seluruh tubuhnya dipenuhi kebahagiaan, malah mencari kebahagiaan abadi pada seseorang yang dilumuri kepahitan macam dirinya. Wahai.. tidak cukupkah kebahagiaan yang diberikan padanya?

“Aku tidak memiliki satu pun gula kebahagiaan.”

Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi. Sekujur tubuh Joy kembali bersinar.

Sepanjang hidupnya Robi hanya menginginkan satu hal. Menemukan seseorang yang bersedia meminumnya tanpa mengernyitkan dahi, menghidunya dengan penuh perasaan tanpa memiliki niat memuntahkannya ke tanah.

“Maukah kau menemaniku menemukan seseorang itu?”

Joy mengangguk tanpa pikir panjang.

***

Sepotong biskuit cokelat bertabur gula terhidang di meja, di atas plat porselen yang indah. Di sampingnya tersaji dengan sederhana secangkir kopi hitam pekat yang mengepul.

Seorang lelaki datang dengan tempias hujan di rambutnya, kuyup di bahunya. Memeluk cangkir Tuan Kopi. Menghidunya dengan khidmat dan meminumnya dengan penuh rasa terimakasih. Dan sepotong biskuit coklat bertabur gula dicelup ke dalamnya.

Di luar hujan sedang turun.

 

Makassar, 04 Agustus 2017

*Sepotong biskuit dan

cerita tentang kamu..

Mengapa Kita Tidak Diperkenankan Memasuki Hutan?

Semua penduduk Desa Qahwe tahu bahwa pantangan keras untuk memasuki hutan yang berada di sebelah timur desa. Bahkan raja pun melalui Tumabicara-nya menyampaikan maklumat kepada penduduk desa untuk tidak memasuki hutan itu. “Kenapa kita dilarang memasuki hutan itu?” Tanya Syahbannara kepada salah satu pemuda desa yang begitu khidmat mendengarkan maklumat raja.

“Kenapa kita dilarang memasuki hutan itu?” Syahbannara kembali mempertanyakan permasalahan yang sama, pria itu tetap tak bergeming hingga ketiga kalinya Syahbannara mempertanyakan ikhwal maklumat itu.

“Kenapa kita dilarang memasuki hutan itu?”

“Pokoknya jangan Tuan, itu sudah menjadi satu keputusan dari Raja Yang Dipertuankan Agung Negeri Seberang yang tidak bisa digugat,” sahut pemuda desa itu kemudian berpaling mendengarkan sekali lagi maklumat raja.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya penduduk Desa Qahwe, raja telah bertitah kepada kalian untuk tidak memasuki hutan di sebalah timur desa. Barang siapa penduduk desa yang melanggar titah ini, maka tiang gantung akan menunggumu. Titah ini berlaku bagi mereka para pendatang dan pedagang.” Begitulah isi titah raja yang disampaikan Tumabicara.

***

Banyak cerita-cerita aneh tentang hutan di sebelah timur desa, cerita-cerita itu sering didengar Syahbannara di kedai-kedai minuman yang terletak di depan gerbang desa sebelah barat, tempat para pengembara beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan mencari sutra di sebelah utara desa—wilayah kekuasaan Adipati Mancanegara.

“Kau tahu kenapa Raja Yang Dipertuankan Agung Negeri Seberang melarang kita menginjakkan kaki ke hutan di sebelah timur desa?” tanya salah satu pengembara yang pakaiannya mirip pedagang dari Senrijawa.

“Tidak tahu,” sahut pengembara yang satunya lagi—pakaiannya mirip pedagang dari Polimpang.

“Konon katanya hutan di sebelah timur desa itu angker, banyak hantunya.”

“Ahh, kamu terlalu sering dengar bualan kosong, mana ada hantu di dunia ini?”

“Walah, ini serius. Kamu tidak dengar berita tentang pedagang dari Tarumanegara yang nekat ke hutan itu? Kabarnya ia tewas dimakan hantu. Kemarin kepalanya ditemukan mengambang di dekat sungai.” Pedagang dari Senrijawa itu sejenak menghentikan ceritanya, diteguknya anggur merah yang dijual di kedai itu. Anggur nikmat yang diimpor langsung dari wilayah kekuasaan Adipati Mancanegara.

“Warga desa geger ketika menemukan kepala pedagang Tarumanegara itu, dicarinya bagian tubuh sepanjang sungai yang menjadi pembatas antara Desa Qahwe dan hutan. Tapi hasilnya nihil. Ini pasti ulah hantu hutan!”

Pedagang dari Polimpang itu tidak percaya apa yang dikatakan pedagang dari Senrijawa itu, baginya apa yang diceritakannya hanyalah bualan belaka untuk menakut-nakuti warga desa dan dirinya. “Palingan pedagang Tarumanegara itu mati dieksekusi oleh menteri-menteri raja karena melanggar titah.”

“Mungkin saja,” sahut Pedagang Senrijawa itu. “Barang siapa penduduk desa yang melanggar titah ini, maka tiang gantung akan menunggumu.” Pedagang Senrijawa itu kemudian menirukan suara Tumabicara beberapa hari lalu.

“Saya tetap tidak percaya rumor itu, mungkin saja di hutan seberang desa ini ada harta karunnya sehingga raja tidak mengijinkan kita ke sana.”

Pedagang Senrijawa itu termenung sejenak mendengarkan penuturan Pedagang dari Polimpang itu. “Bagaimana kalau malam ini kita ke sana menyibak tanya, apakah perkataanku yang benar atau perkataanmu yang tepat?”

***

Ketika malam telah menyelimuti Desa Qahwe, obor-obor jalanan telah padam, dan burung-burung gagak berkeok-keok dengan mengerikan seperti keokan memanggil penghuni hutan di seberang timur desa. Para pedagang dari Senrijawa dan Polimpang itu mengendap-ngendap menuju hutan. Pedagang dari Polimpang itu tampak bersemangat, mereka akan membuktikan bahwa apa yang didengar oleh pedagang dari Senrijawa itu hanyalah bualan belaka dan akal-akalan raja yang mencoba menyembunyikan sesuatu. Demikian pula sebaliknya pedagang dari Senrijawa, ia akan membuktikan apa yang didengarnya bahwa hutan di seberang timur Desa Qahwe berhantu bukanlah suatu isapan jempol belaka.

Ketika sampai di daerah paling timur Desa Qahwe, kedua pedagang itu sejenak menyembunyikan diri dibalik rimbunnya semak belukar menunggu waktu yang tepat untuk menyeberangi sungai. “Kita harus seberangi sungai ini sebelum masuk ke dalam hutan,” sahut pedagang dari Polimpang itu. “Tapi kita harus tunggu waktu yang tepat, kamu lihatkan penjagaan hutan ini cukup ketat.” Pedagang dari Senrijawa itu menunjuk Hulubalang yang mengenakan zirah, di belakang Hulubalang itu ikut beberapa laskar-laskar yang bertugas menjaga hutan.

Kedua pedagang itu cukup lama menunggu, hingga suasana sudah terasa aman. “Inilah kesempatan kita,” sahut pedagang Senrijawa kemudian berlari kecil menuju sungai dan menyeberangi sungai itu setelah sebelumnya melangkahkan kakinya melompati satu per satu bebatuan yang menyembul dari dasar sungai. Hal itu pula diikuti oleh pedagang dari Polimpang.

“Akhirnya kita berhasil,” sahut mereka berdua dengan terengah-engah. Tetapi mereka tidak mengetahui bahwa seseorang sedari tadi mengikutinya.

***

Sedari siang hingga malam semakin gelap, Syahbannara diliputi rasa penasaran, di dalam kepalanya berkebelat cerita hutan di seberang timur desa dan pembicaraan antara pedagang Senrijawa dan Polimpang. Hingga ia memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri setapak desa, sekadar penawar kegundahan. Ketika kakinya melangkah ke arah timur, secara tak sengaja ia melihat kedua pedagang itu berjalan sembari mengendap-ngendap. “Apa gerangan yang mereka lakukan di tengah malam begini?” tanyanya pada dirinya sendiri, hingga kemudian ia memutuskan untuk mengikuti secara diam-diam kedua pedagang itu.

Ia begitu terkejut ketika mengikuti kedua pedagang itu hingga sampai di perbatasan paling timur desa. “Jangan katakan mereka berdua akan menyelinap masuk ke hutan?”

Sejenak kedua pedagang itu menghentikan langkahnya dan bersembunyi dari semak belukar. Syahbannara sendiri mencari lokasi yang cukup aman dan berjarak dari kedua pedagang itu. Cukup lama menunggu hingga kedua pedagang itu telah berada di seberang sungai dan memasuki hutan di sebelah timur desa.

Syahbannara menimbang-nimbang apakah ia harus mengikuti lebih jauh para pedagang itu dengan segala risikonya atau berbalik menuju rumah dengan ranjang yang menunggu untuk ditiduri? Tapi insting dan rasa penasaran Syahbannara menuntun hatinya untuk mengambil keputusan. Mengikuti kedua pedagang itu!

***

Setelah kedua pedagang itu dan Syahbannara berhasil memasuki hutan, mereka berjalan menyusuri setapak-setapak hutan yang rimbun, walaupun demikian cahaya rembulan masih dapat menembus melalui celah dedaunan. Namun yang unik, semakin mereka berjalan ke dalam hutan semakin mereka merasakan suatu aura yang menenangkan dan damai. Belum pernah mereka merasakan kedamaian dan ketenangan seperti ini, seolah-olah jiwanya telah diisi oleh satu zat yang entah apa namanya. “Hutan ini kenapa begitu menenangkan jiwa,” sahut pedagang dari Senrijawa itu, pedagang dari Polimpang itu mengangguk pertanda setuju. Baru kali ini ia merasakan kedamaian. Sama halnya yang dirasakan Syahbannara yang berjalan mengendap-ngendap di belakang kedua pedagang itu.

Semakin dalam berjalan ke hutan semakin banyak pula keanehan yang mereka rasakan, setelah keanehan perasaan jiwa yang tenang, kini mereka melihat sebuah cahaya bersinar bewarna yang beterbangan di sisi sebelah kanan-kiri pepohonan yang rimbun, suatu pemandangan yang menakjubkan. “Apa itu yang bersinar-sinar?” tanya Pedagang dari Polimpang kepada pedagang dari Senrijawa. Pedagang dari Senrijawa itu menggeleng pertanda tak tahu, baru kali ini ia melihat cahaya bersinar beterbangan. Tetapi keterkejutan kedua pedagang itu tak berlaku bagi Syahbannara, ia memang tertegun melihat cahaya beterbangan itu, tapi ia tahu bahwa cahaya beterbangan itu bernama kunang-kunang. Setidaknya ia pernah membaca ikhwal kunang-kunang pada gulungan yang dibelinya seharga tiga shilling dari pedagan Siam. Gulungan itu menyebutkan bahwa kunang-kunang adalah perwujudan janin dalam rahim yang keguguran.

Ketika langkahnya semakin dalam, mereka terheran-heran bin takjub mendapati satu bangunan besar dan megah, terbuat dari batu yang tersusun apik. Berdiri kokoh di tengah hutan. “Lihat itu! Bagaimana bisa ada kastil berdiri megah di tengah hutan?” tanya pedagang Senrijawa kepada pedagang Polimpang. Pedagang Polimpang pun hanya terheran-heran entah apa yang harus dijawabnya. “Luar biasa kastil ini, di negeriku Polimpang kastil Sang Maratua tak semegah ini,” sahut pedagang Polimpang dengan takjub. “Mungkin ini alasannya kenapa raja penguasa Desa Qahwe melarang penduduknya memasuki hutan,” tambahnya.

***

Kastil di tengah hutan itu begitu mengangumkan, terdapat empat menara yang menjulang di setiap sisi-sisinya, atapnya begitu kokoh melindungi kastil itu. Dinding dan temboknya pun nampak kuat. Meriam Portugis pun diyakini tidak dapat menembus dinding kastil ini. Gerbang utama kastil ini tinggi menjulang, pintunya terbuat dari kayu cemara yang mungkin nilainya setara dengan seratus keping real. Pedagang dari Polimpang dan pedagang dari Senrijawa itu semakin takjub ketika memasuki kastil itu, namun yang aneh ia mencium sebauh aroma. “Bukankah ini…?!” sejenak kedua pedagang itu saling memandang dan mengangguk. “Aroma Roti Batavia!!!” seru Syahbannara tanpa sadar. Kedua pedagang itu kaget bukan kepalang, mereka menghunuskan pedangnya kearah Syahbannara. “Siapa kamu?” tanya pedagang dari Polimpang itu, ia sudah mengambil kuda-kuda untuk menyerang.

“Jangan-jangan kamu salah satu dari anak buah Hulubalang itu?” belum sempat Syahbannara menjawab pertanyaan pedagang dari Senrijawa itu, pedagang itu telah mengambil ancang-ancang dan menyerang Syahbannara, Syahbannara hanya menghindar sebisa mungkin. “Kenapa kamu tak melawan?” tanya pedagang Senrijawa di tengah-tengah perkelahian itu. “Saya tidak melawan karena saya bukan musuhmu,” sahut Syahbannara sembari menghindari serangan-serangan pedagang Senrijawa.

Syahbannara melompat kebelakang dan berdiri dalam posisi siaga, belum sempat pedang itu menekak leher Syahbannara, buru-buru pedagang dari Polimpang itu menghentikan serangan kawannya. “Sudah hentikan! Dia bukan musuh, pemuda itu adalah Syahbannara, kepala pelabuhan negeri ini.”

Setelah insiden itu, mereka bertiga kemudian terlibat suatu pembicaraan. Pedagang Senrijawa lebih banyak mendengar dari pada berbicara, berbeda halnya dengan pedagang dari Polimpang dan Syahbannara mereka lebih mendominasi pembicaraan. Tapi pembicaraan mereka bertiga bermuara pada satu hal. Ada suatu hal yang disembunyikan raja!

***

Mereka bertiga kemudian memutuskan untuk menulusuri setiap seluk-beluk kastil, mulai dari ruang bawah tanah, selasar istana, hingga ke menara. Namun yang didapatkannya nihil. Tapi selama penulusuran itu Syahbannara menaruh suatu kecurigaan terhadap lukisan-lukisan yang terpajang di selsar kastil. Seolah ada satu teka-teki di dalam lukisan-lukisan itu. sebuah lukisan yang terjejer rapi, ada wajah yang menggambarkan ekspresi kesedihan, ekspresi datar, hingga ekspresi penuh kegetiran. Tapi lukisan-lukisan itu memiliki satu kesamaan. Bola matanya menjeling ke arah bawah.

“Hei tunggu,” sahut Syahbannara kepada kedua pedagang itu, ia menunjukkan kedua pedagang itu mengenai lukisan-lukisan yang berjejer rapi di dinding selasar istana. Dan kemudian menunjuk kearah bawah lukisan itu sesuai arah jelingan mata lukisan itu. Mereka bertiga kemudian menemukan suatu simbol-simbol aneh, mirip satu aksara kuno.

“Tunggu dulu Syahbannara, saat saya ke ruang bawah tanah saya juga melihat simbol-simbol aneh ini tertempel di dinding,” sahut pedagang dari Senrijawa. Sesaat pedagang dari Polimpang memerhatikan dengan saksama simbol-smbol itu dan entah kenapa pupil matanya tiba-tiba membesar. “Bukankah ini simbol aksara Kerajaan Samboppe?!”

“Kerajaan Samboppe?” tanya Syahbannara dengan heran. Selama perkelanaannya ia tidak pernah menemukan satu Kerajaan bernama Samboppe, mendengar kisahnya pun ia tak pernah.

“Kerajaan Samboppe itu adalah kerajaan tua yang terletak di sebelah paling timur pulau Sondonesia. Kerajaan ini telah punah karena letusan gunung beberapa ratus tahun lalu. Buyutku pernah menceritakan sekilas tentang kerajaan ini.” Pedagang dari Polimpang itu kemudian mengambil sebuah gulungan dari tas kecilnya yang tersembunyi dari balik jubahnya. Dengan saksama ia membaca gulungan itu kemudian sesekali melihat simbol-simbol itu.

Syahbannara dan pedagang dari Senrijawa hanya melihat dengan heran gerangan apa yang dilakukan oleh pedagang dari Polimpang itu, ia seperti menyalin simbol-simbol itu pada gulungan yang kosong. “Kita harus ke ruang bawah tanah segera.”

Mereka bertiga kemudian ke ruang bawah tanah, pedagang dari Polimpang menanyakan kepada Pedagang dari Senrijawa di mana lokasi ia melihat simbol-simbol yang sama dengan simbol-simbol yang mereka temukan di selasar istana. “Di situ!” sahut mantap pedagang dari Senrijawa itu.

Mereka bertiga sejenak memerhatikan dinding yang cukup lebar, di dinding itu berjejer sebuah simbol-simbol, pedagang dari Polimpang kemudian meraba sejenak simbol-simbol itu dan menekan satu-persatu simbol-simbol itu, menyatu dengan dinding. Sedangkan simbol-simbol yang tak menyatu dengan dinding membentuk suatu rangkaian kata.

“Hei kamu tahu apa maksud dari simbol-simbol ini?” tanya Syahbannara. Pedagang Polimpang itu mengangguk mantap. “Tidak percuma saya mempelajari simbol-simbol ini, tak salah lagi, ini mantra kutukan!” seru pedagang dari Polimpang itu. sejenak keheningan menyelimuti mereka bertiga dan tiba-tiba terasa suatu getaran, dinding di depan mereka roboh. Seolah mereka secara tak sengaja membuka suatu pintu rahasia, seperti lorong menuju ketempat yang entah apa namanya.

“Kita sudah telanjur, ayo kita masuk,” sahut Syahbannara. Mereka berjalan sembari memegang obor di tangan masing-masing. Syahbannara memerhatikan raut wajah pedagang dari Polimpang itu sedikit pucat. Semakin dalam ia melangkah semakin mereka merasakan suatu aroma yang teramat busuk. Seperti bangkai. Tak lama mereka melangkah tibalah pada satu ruangan yang cukup besar. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah peti mati. “Apakah ini peti mati?” sahut Syahbannara kemudian memberikan obornya kepada pedagang dari Polimpang itu. Syahbananra memberanikan diri membuka peti mati itu. Dan nampaklah sesosok perempuan muda berambut perak nan cantik dalam balutan gaun hijau, di lehernya terdapat rosario yang terbuat dari emas. Namun ada hal yang aneh, aroma di ruangan itu tiba-tiba menjadi harum.

“Aneh kenapa aroma dari ruangan ini tiba-tiba menjadi harum, dan jasad ini mengapa masih utuh?” sahut pedagang dari Polimpang. Pedagang dari Senrijawa kemudian memberanikan diri mendekati peti mati itu dan meraih rosario emas itu.

“Lihat rosario emasnya, jika kita mengambilnya dan menjualnya serta dibagi rata kita akan kaya raya.” Sejenak Syahbannara menggenggam pergelangan tangan pedagang dari Senrijawa itu menatapnya dengan tajam. “Jangan!”

“Kenapa?” balasnya dengan tatapan tajam pula.

Belum lepas rosario dari genggaman pedagang Senrijawa, tiba-tiba tercium kembali aroma yang sangat busuk, bahkan lebih busuk dari bangkai. “Kawan-kawan sepertinya kita harus keluar dari tempat ini!” Seru pedagang dari Polimpang.

Syahbannara dan pedagang dari Senrijawa itu kemudian memandangi pedagang dari Polimpang, ekspresinya telah menunjukkan suatu ketakutan yang teramat sangat. Kemudian pandangannya beralih ke jasad itu. Syahbannara tertegun, jasad itu bangkit, tersenyum, matanya berbinar merah. Jasad itu spontan mencekik orang yang menggenggam Rosarionya, sontak Syahbannara melompat mundur. Pedagang dari Senrijawa itu berusaha melepaskan diri dari cekikakan kuat, kuku-kuku tajamnya menancap di lehernya. “Gawat jika terus begini pedagang dari Senrijawa itu akan mati,” sahut Syahbannara kemudian menghunuskan pedangnya, dipotongnya lengan jasad itu. Pedagang dari Senrijawa itu terhuyung kebelakang. Namun tangan dari Jasad berambut perak itu masih mencekiknya. Syahbannara bersusah payah melepaskan tangan jasad itu.

“Untunglah saya selamat,” sahut pedagang dari Senrijawa kemudian bangkit berdiri. Mereka bertiga kembali melihat jasad yang sudah tanpa lengan, matanya menatap dengan tatapan tajam. Ia mengacungkan ke depan lengannya yang bersimbah darah, namun bukan darah merah melainkan hitam pekat. Yang lebih aneh tangannya bergerak sendiri dan terlontar, kemudian menyambung dengan lengan yang putus itu. Kini jasad perempuan cantik berambut perak itu telah utuh kembali.

“Hahahahahaha…..!!!” ia tertawa seolah menertawakan kematian. Lantai-lantai dari ruangan itu kemudian bergetar, dan tiba-tiba muncul mayat-mayat hidup. Seperti korban peperangan. Mayat-mayat itu kemudian menghunuskan pedangnya dan menyerang Syahbannara dan kedua pedagang itu.

Mereka bertarung dengan sengit, memainkan pedang, ditebasnya mayat-mayat itu, namun setiap ditebas mayat-mayat itu kembali bangkit. “Kalau begini kita akan mati!” seru Syahbannara, kedua pedagang itu mengangguk. “Sebaiknya kita keluar sesegera mungkin,” sahut kedua pedagang itu secara bersamaan.

Mereka berlari sekencang-kencangnya, berlari dari kejaran mayat-mayat hidup yang dikendalikan oleh Perempuan Berambut Perak. “Itu dia gerbangnya,” sahut Syahbannara, mereka bertiga menambah kecepatan untuk sesegera mungkin keluar dari kastil megah yang ternyata kastil yang terkutuk. Mereka bertiga akhirnya berhasil keluar dari kastil itu, buru-buru ditutupnya gerbang. “Semoga ini membuat mereka tertahan sejenak,” sahut Syahbannara. “Akhirnya kita selamat juga,” sahut pedagang dari Senrijawa. Mereka berdua kemudian duduk bersimpuh mencoba mengatur nafas. Namun berbeda dengan pedagang dari Polimpang ia berdiri tertegun. “Sepertinya kita belum selamat.” Pedagang Polimpang menunjuk segerombolan mayat hidup yang berjalan kearahnya. Bukan satu, bukan sepuluh atau dua puluh. Melainkan gerombolan mayat hidup yang begitu banyaknya, tak terhitung!!!

***

Di Istana Raja Dipertuankan Agung Negeri Seberang geger! Seluruh menteri-menteri, dan hulubalang berjejal berlari menuju ruang Balairung Istana, mereka menghadap kepada junujungannya. Membawa satu berita yang teramat buruk. Tumabicara bersimpuh di depan Raja. “Gawat Junjunganku! Seseorang mungkin secara tak sengaja membangkitkan Iblis Perak!”

Tompobalang, 4 Agustus 2016

Cara Terbaik Mencintai

Helai-helai malam dianyam oleh sepasang tangan seputih pualam milik seorang perempuan. Ia duduk tekun di atas anyaman bambu yang hampir selesai, sesekali tangannya yang kanan membenturkan batang besi pipih untuk merapatkan anyaman. Sinar lampu minyak tanah bercahaya, membuat wajah perempuan itu bersinar bagai purnama.

Adalah Nur, yang sejak kepergian suaminya beberapa jam lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa malam menanti sang suami pulang dengan menyelesaikan anyaman gamacca (anyaman yang terbuat dari serat bambu, biasa dibuat dinding) yang telah dimulai suaminya. Nyaris saban malam Nur menghabiskan waktunya menekuri anyaman demi anyaman sembari menunggu sang suami, sedang suaminya sendiri baru pulang lewat tengah malam dengan bau tuak menyeruak dari seluruh tubuh, dan mulut yang sudah tidak jelas lagi menggumamkan apa.

Suaminya Karna memang pemabuk kelas berat seantero dusun. Bergelas-gelas tuak bisa ia habiskan dalam semalam, membuat kawan-kawannya menyerah kalah dan bersorak untuk kemenangannya.

Berkali-kali saudara perempuan dan sepupu-sepupu Nur menganjurkan agar ia berpisah saja dengan suaminya. Tapi Nur hanya tersenyum, lantas bilang bahwa suaminya minum tuak dan mabuk-mabukan hanya untuk bergaul dengan kawan-kawannya. Lagipula sang suami tidak pernah berkata kasar apalagi memukul. Hari itu mekar dalam hatinya yang bening, kelak suaminya akan berubah menjadi semakin baik. Bersama dengan itu makin mekar pula cintanya pada Karna.

Bulan demi bulan berlalu. Akhirnya tiba juga kabar bahagia yang dinantikan keduanya. Nur hamil anak pertama mereka. Maka dimulailah episode bahagia dalam keluarga kecil itu. Karna berlipat-lipat perhatiannya. Tidak pernah ia membiarkan Nur bekerja terlalu banyak. Mencuci pakaian dan mengangkat air menjadi tanggungjawabnya setelah pulang dari sawah. Karna juga tidak pernah keluar malam lagi dengan kawan sepeminumannya.

Malam-malam mereka lewati saling bercengkerama, merencanakan hal-hal sederhana namun indah bagi mereka berdua dan Si Kecil yang sedang tumbuh dalam perut Nur. Di luar para jangkrik berebutan mengaminkan, sedang langit dan bintang-bintang berkelipan mencatat kenangan manis mereka berdua.

Kadang mereka juga menganyam gamacca bersama, merampungkan sudut-sudut bagian masing-masing. Berdua mereka mengerjakannya dalam diam, hanya suara besi pipih beradu dengan helai-helai serat bambu terdengar sekali dua kali. Di atas sinar lampu minyak makin purnamalah wajah Nur, dan Karna adalah bintang-bintang yang sedang jatuh cinta.

Malam itu ingin Nur bertanya, apakah Karna telah menyiapkan sebuah nama yang bagus bagi si bayi kelak. Namun segera ia urung, Nur ingat pesan Mamaknya, pamali memberikan nama bagi jabang bayi sebelum ia lahir ke dunia.

***

Angka pada lembaran almanak berganti. Lahirlah Si Bayi mungil dengan kulit merah berseri. Karna segera menggendong anaknya disertai rasa gugup, ia gembira sekaligus takut dekapannya membuat Si Bayi kesakitan. Karna melantunkan azan di telinga putrinya dengan khidmat. Membuat Karna merasa sebagai laki-laki paling terberkati di dunia.

Nur tersenyum di atas ranjang rumah bersalin. Masih sakit seluruh tubuhnya, masih serasa remuk tulang-tulangnya. Namun menyaksikan kedua belahan jiwanya berdekapan, sungguh tiada artinya seluruh penderitaan itu. Nur merasa sebagai perempuan paling terberkati di dunia.

“Siapakah namanya?’ Buncah juga pertanyaan yang ditahan-tahannya berbulan-bulan.

“Purnama. Lihatlah! Wajahnya bundar dan bersinar seperti purnama penuh.” Sahut Karna bangga.

Sejak saat itu Purnama menjadi sinar kebahagiaan bagi kedua orangtuanya. Setiap hari ia tumbuh, bergerak dengan lincah, berlari-lari kecil, bertanya apa saja yang ia temukan. Purnama telah tumbuh menjadi gadis cilik yang menggemaskan.

Karna juga semakin hari semakin bahagia dan semangat bekerja. Hingga suatu waktu kawannya pulang dari rantau. Ia dan kawan-kawannya di dusun menyiapkan acara penyambutan kecil-kecilan, acara minum tuak bersama-sama. Katanya kawan yang baru pulang itu rindu minum tuak dari kampung mereka.

Mulailah sejak saat itu kebiasaan Karna pulang malam kambuh lagi. Meninggalkan Nur menganyam sendirian dan si kecil Purnama yang pulas tanpa tepukan lembut dari Bapaknya.

Nur masih diam di awal-awal, tetapi ia tidak bisa terus diam ketika Purnama selalu bertanya kemana perginya sang Bapak saban malam. Si Kecil yang mulai beranjak enam tahun itu mulai curiga pada Bapaknaya, apalagi ia sering mendengar sepupu-sepupu Mamaknya bilang tentang mendengar Karna agar tidak terlalu banyak minum, tentang Mamaknya yang sudah punya anak, atau tentang Karna yang mulai sering membentak dan berteriak kasar pada Nur.

“Lebih baik kau ancam saja dia dengan perpisahan.” Salah satu sepupu Nur memberi saran. Bertiga. Nur dan kedua sepupunya sedang berbincang di bale-bale depan rumah, di bawah rimbun pohon bambu. Si Kecil Purnama sedang bermain rumah-rumahan.

Nur diam, tidak setuju. “Suatu saat Karna pasti akan berubah. Kalau tidak demi aku, boleh jadi demi Purnama.” Tegas Nur sore itu.

***

Bulan-bulan berlalu begitu cepat. Almanak berganti tanpa disadari, Purnama tumbuh semakin jelita. Kini gadis cilik itu duduk di bangku taman kanak-kanak. Bila sore menjelang ia mengaji di kolong rumah Pak Imam bersama kawan-kawannya. Sementara Karna semakin kuat minum, tidak hanya pada malam hari. Tetapi juga siang hari, selepas duhur dia sudah menghabiskan empat gelas tuak di rumah tetangga.

Nur resah, tertekan batinnya. Ia kehabisan cara menasihati sang suami. Percuma menasihati saat Karna pulang di waktu malam. Orang mabuk tidak bisa mendengar penjelasan. Malah Nur dibentak bila bersuara. Menegur di siang hari juga tak patut ia lakukan. Nur tidak ingin Purnama melihat kedua orangtuanya bertengkar. Ia semakin kurus memikirkannya.

Suatu hari Nur berkunjung ke rumah Mamaknya. Tidak ada maksud lain. Nur hanya ingin meminta nasihat.
Maka mengeluhlah Nur mengenai kesusahannya, bahwa dia kehabisan cara menghadapi sang suami.

“Nur, masihkah kau mencintai Karna?” Mamak Nur bertanya sungguh-sungguh.

“Kalau begitu, cara terbaik mencintai suamimu adalah tetap berada di sampingnya. Jangan berkurang perhatianmu padanya, jangan patah kepatuhanmu padanya kecuali bila Karna menyuruhmu berbuat dosa, jangan benci pada suamimu walau sebesar biji sawi. Kelak Gusti Allah akan mendengar doa-doamu. Kita tidak akan pernah mengira dari mana datangnya pertolongan itu. Maka bersabarlah Nur, sesungguhnya sabar adalah atap dari sebuah bangunan cinta.”

Didengarnya sungguh-sungguh nasihat sang Mamak, diresapinya dalam-dalam. Kelak sejak hari itu Nur tidak pernah lagi mengeluh. Semakin Karna membentaknya, makin telaten Nur mengurusnya. Ia yakin suatu saat Karna akan luluh.

***

Jumat adalah hari yang sempurna bagi Purnama. Anak itu sekarang naik tingkat ke jilid lima. Ia senang sekali, sebab itu berarti sisa satu jilid lagi ia taklukkan untuk bisa mendaras surah-surah pendek. Anak itu tidak sabar ingin segera pulang. Berita baik ini harus segera disampaikan pada Mamak dan Bapak.

Selepas majelis ditutup, Purnama segera bergegas pulang. Tidak dihiraukannya seruan Guntur yang menantangnya bermain kelereng. Anak itu berlari-lari kecil sepanjang jalan setapak menuju rumah saking girangnya.

Tiba di depan pintu rumah anak itu mengucap salam, membuka pintu, lantas melipir menuju dapur tempat Mamaknya berada setiap ia pulang mengaji.

“Mak, hari ini Purnama sudah jilid lima. Sebentar lagi sudah bisa baca jus’amma. Hebat kan?!” Serunya bersemangat.

Tidak ada yang bisa membuat seorang Ibu lebih bahagia selain melihat buah hatinya tumbuh dengan baik dan bangga atas kerja kerasnya sendiri, “Wah, hebat sekali anak Mamak.” Nur tersenyum dengan lebarnya.

“Bapak mana Bu? Purnama juga mau memberitahu Bapak,” lehernya menoleh ke setiap sudut rumah mencari sosok sang Bapak.

Nur gamang, tetapi ia tidak tega melihat semangat Purnama yang letup. “Tadi Bapakmu pamit ke rumah Kirana.”

Purnama segera meraih tas mengajinya lantas pamit tanpa mengganti baju. Ia tahu rumah Kirana. Teman sepengajiannya itu tinggal tidak jauh dari rumahnya.

Purnama tiba dengan napas tersengal dan mendapati Kirana sedang bermain di halama, “Bapakku ada di dalam, Rana?”

Kirana mengiyakan, lantas mengikuti langkah Purnama dari belakang.”

Ruang tamu rumah Kirana penuh. Karpet merah digelar di lantai dan orang-orang laki-laki duduk melingkar. Di tengah lingkaran terhidang berpiring-piring ikan bakar sebesar telapak tangan dan bergelas-gelas minuman berwarna putih pekat, mirip air tajin. Baunya kecut dan menyengat.

Purnama tahu itu minuman apa. Anak itu menajamkan mata mencari sang Bapak. Lihatlah Bapaknya, duduk diapit dua laki-laki kawannya sedang berseur panjang setelah menghabiskan segelas. Entah gelas yang keberapa.

Purnama tidak peduli, ia merangsek menuju Bapaknya duduk. Merengek, meminta perhatian.

“Pak. Pak hari ini Purnama sudah jilid lima. Sebentar lagi sudah bisa membaca jus’amma.” Karna hanya mengangguk-angguk antara sadar dan tidak, sementara Purnama terus memeluk lengan Bapaknya.

“Bapak, Purnama sudah jilid lima. Ayo kita pulang,” ajaknya lirih. Suara anak itu serak dan mengiba. Dua mata beningnya siap menganak sungai.

Wahai.. gadis kecil yang lugu itu. Ia kebingungan. Apakah gerangan yang membuat air matanya tumpah? Padahal sang Bapak begitu gembira tertawa-tawa di antara riuh kawan-kawannya.

Lalu kelabat baying Ibunya melintas dalam benak. Ibunya dengan wajah bersinar oleh pelita, Ibunya yang sedang tekun melengkapi anyaman demi anyaman serat bamboo hingga jauh malam sendirian. Alangkah elok wajah itu. Namun setegar apapun perempuan itu terlihat, matanya sungguh tidak dapat berdusta. Bahwa ada kesedihan panjang dan dalam mendekam di kedalaman hati. Bahwa ada harap yang tak putus-putus yang perempuan itu sendiri tidak tahu di mana ujungnya.

Karna, bagaimanapun bebalnya seorang peminum saat mabuk. Ia tetap tidak bisa menghindar dari tali kasih sayang antaranya dengan Purnama. Gadis kecil berkerudung hijau lembut itu anaknya. Anaknya yang tersayang. Yang mewakili wajah bundar milik istrinya.

“Bapak, ayo kita pulang.” Rengek Purnama dengan sisa-sisa suara.

Itu siang dengan pemandangan mengharukan si seluruh kampong. Seorang gadis kecil berwajah purnama, sisa-sisa tangis membekas di pipi, tangannya lekat pada lengan sang Bapak yang menggendongnya dalam keadaan setengah mabuk.

Purnama yang lain leleh di ambang jendela demi menyaksikan pemandangan mengharukan itu. Wahai, benarlah seluruh nasihat itu. Bersabar adalah cara terbaik untuk mencintai.
Makassar, Mei-Juni 2017

Senyum di Riuh Jalan

Kota ini semakin sumpek saja. Sebagian besar jalan tak diteduhi pohon-pohon penyimpan angin yang dapat menyejukkan orang-orang di sekitarnya, khususnya para pejalan kaki ataukah para penunggu angkot yang super sibuk lalu-lalang. Sebagai kota yang telah masuk kategori kota metropolitan, tentu disesaki berbagai masalah sosial dan ekonomi, penataan jalan-jalan agar tidak semrawut dan mengundang macet yang akut, menata taman-taman sebagai ruang hijau terbuka yang dapat menyergarkan paru-paru penghuninya, dan juga dapat mengimbangi polusi kendaraan yang inheren untuk sebuah kota besar yang penduduknya padat. Semua mesti dihitung dengan cermat dan diupayakan untuk diwujudkan oleh pemerintah kotanya.

Alya menggerutu seturun dari angkot hendak menuju kampusnya, tempatnya dulu menimba ilmu yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan. Nampaknya kotaku tak banyak berubah, masih gersang, berdebu, dan lalu lintas yang kurang tertata sehingga kerap membuahkan kemacetan yang panjang, ketusnya dalam hati. Pagi itu, Alya mengunjungi kampusnya hendak bernostalgia dengan beberapa kawannya yang telah jadi dosen dan bekerja di tempat yang lain di kota kelahirannya ini.

Alya, baru dua hari tiba di kotanya setelah bertahun-tahun meninggalkannya sejak lulus dari kampusnya dan diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor nasional, kemudian ditempatkan di salah satu kota di Kalimantan Timur. Kala kuliah dulu, Alya cukup dikenal sebagai aktivis yang rajin mengelola event-event yang terkait dengan penulisan dan perbukuan, hingga melahirkan sebuah komunitas literasi di kampusnya. Ia pun dikenal gemar menulis cerpen (cerita pendek) dan puisi yang kerap menghiasi koran kampus dan media lokal lainnya.

Pertemuan reunian dan nostalgia kecil-kecilan itu berujung pada buka puasa bersama di sebuah café kelas mahasiswa yang kerap mereka tempati berkumpul dahulu, kala mereka masih berstatus sebagai mahasiswa dan aktivis di kampusnya. Canda tawa tak hentinya menggelinding menghiasi waktu-demi waktu yang singkat itu. mereka bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari pekerjaan sehari-harinya, kini. Bernostalgia akan hal-hal yang menggelikan yang ia lakukan kala masih aktif di kampus, serta rencana-rencana kedepannya.

Ya, begitu, Alya disapa. Si Muis yang pernah naksir kamu itu, yang dari fakultas Sospol, telah terpilih dan duduk sebagai anggota legislatif di kampung kelahirannya pada pemelihan umum yang lalu. Oh ya, berarti dia melanjutkan dinasti kerajaan politik keluarganya yang memang sejak kakeknya, ayahnya, dan kerabatnya yang lain, sejak dahulu kala sudah mengenyam nikmatnya mengais nafkah di ranah politik, tukas, Alya kemudian.

Uga, pernah ketemu dia, tanya, Alya. Iya lah. Kan dia menikah dengan adik sepupuku yang ditaksirnya kala aku bertemu tiga tahun lalu di sebuah pertunjukan, trio Lestari, Glenn Fredly, Tompi, dan Sandhy Sondoro. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama, hehehe… Rugayya yang disapa Uga, Alya, dan teman-teman lainnya tergelak. Habis, Alya menolak cintanya sih.. tukas Rukka masih tergelak. Kamu nyaris dipanggil, ibu dewan, Ya, sambung Cici yang juga masih tergelak. Seandainya jadi kamu menerima cintanya, mungkin kita sudah menyaksikan ibu dewan bersama suaminya di baliho-baliho menyambut Ramadan dan ucapan Idul Fitri timpal, Mardi, hahaha.. suasana semakin riuh di kering keronkongannya masing-masing.

Sembari mencicipi penganan berbuka puasa yang mereka pesan masing-masing, Pallawarukka Andi Palogai yang akrab disapa, Rukka, mengusulkan sebuah rencana untuk berbuka puasa bersama anak jalanan yang mangkal di sebuah perempatan jalan protokol di kotanya itu. Kala mereka mahasiswa dulu pernah menggagas program pembelajaran membaca dan menghitung bagi anak-anak yang kurang beruntung tersebut, kemudian mendirikannya rumah baca untuk mereka. Konon , dari upayanya itu sebagian dari anak-anak binaannya, ada yang jadi polisi, kerja di salon, sebagai sopir, dan lain sebagainya. Mereka terangkat dari jalanan yang berdebu menjadi pekerja yang cukup terhormat tanpa menengadahkan tangannya dan belas kasih dari para pejalan dan pelintas.

Hari Sabtu pagi, Alya yang bernama lengkap, Alyanti Bunga Lestari, telah menghubungi kawan-kawannya via telepon genggam, untuk merealisasikan rencana yang mereka sepakati dua hari lalu. Mereka berkumpul di rumah, Riskya Damayanty yang akrab disapa, Cici. Rumahnya tak terlampau jauh dari kampus sebab orangtuanya dulu dosen yang kemudian disusulnya jadi dosen pula di kampus yang sama.

Aku sudah memesan 100 paket buka puasa dan makan malam, kawan-kawan setelah mereka berkumpul. Kita akan mengambilnya pada jam jelang buka puasa sebab cateringnya tak jauh dari lokasi anak-anak jalanan di simpang jalan yang akan kita tuju. Oke mantap, memang soal ‘memenej’ sesuatu jagonya adalah ibu dosen ini, tukas Mardi yang hari itu membawa kendaraan mobil Toyota Kijang Kapsul keluaran tahun dua ribuan. Rugayya Daeng Intang yang akrab disapa Uga, juga membawa kendaraan Avanza.

Jadilah mereka menelusuri jalan-jalan kotanya sebelum memenuhi hajatnya berbuka puasa dengan anak-anak jalanan, di mana, Alya dan Rukka lama tak menyusurinya, sebab mereka berdua mengais nafkah di tempat yang jauh. Alya di Kalimantan sedang Rukka, di kota kembang Bandung. Kala melintasi jalan Cokroaminoto di depan dealer mobil Royota, Rukka menggelengkan kepala, kenapa jalan dan pasar ini menjadi sangat kumuh dan berantakan seperti ini, walikotanya kerja apa sih. Masa pasar di tengah kota yang dulu sangat sohor dibiarkannya terbengkalai tak terurus, ketusnya.

Di sebuah jalan agak di pinggiran utara kota, mereka menyaksikan baliho seorang lelaki parubaya tersenyum, dengan tulisan ‘Selamat Merayakan Idul Fitri’ dan beberapa tulisan sebagai pengumuman akan membagikan sembako gratis di rumahnya jelang Idul Fitri ini. Bapak itu adalah seorang pengusaha sukses di bidang perikanan yang juga politisi. Beliau duduk sebagai ketua komisi di DPRD kota. Pegumuman-pengumuman berbagi sedekah kerap ia sampaikan lewat baliho di daerah pemilihannya. Tapi kan bukan hanya dia yang berlaku seperti itu tapi hampir semua politisi, selalu mengumbar senyum di baliho-baliho yang mereka pajang, imbuh, Cici. Iya dan cenderung pemasangan balihonya tidak estetik mengotori kota saja. Senyumnya tidak seindah warna aslinya, sambung, Alya di riuhi tawa mereka sepanjang jalan yang mereka lintasi.

Senja di musim kering ini cerlang tempiaskan kemilau merah saga di langit-langit kota yang sangat riuh ini. Para pekerja telah bergegas kembali ke rumah menyambut buka puasa bersama keluarga. Banyak pula warga yang meraya buka puasa di berbagai restoran, café, kedai kopi, dan warung-warung lainnya. Mal-mal telah mulai disesaki pengunjung di hari minus delapan lebaran. Para anak jalanan yang mengais nafkan dengan mengharap belas kasih dari para pejalan dan pelintas, tentu sangat jarang merasakan hal seperti itu. di antara mereka pun ada yang tak sanggup berpuasa karena bergelut dengan polusi kendaraan yang panas dan gerah terik matahari yang menyengatnya.

Kala beduk berbuka telah ditabuh, loudspeaker di masjid-masjid bersahut-sahutan mengumandankan azan Magrib, Alya dan sahabat-sahabatnya telah selesai meggelar tikar di sepotong trotoar yang kerap dijadikan tempat ngasoh anak-anak jalanan itu. Iwan, ayoo pimpin doa berbuka puasa, seloroh, Mardi pada seorang anak yang usianya telah beranjak remaja. Mereka menyudahi puasa dan berbuka bersama dengan khidmat. Senyum-senyum tulus mengembang dari bibir mungil anak-anak jalanan dan dari, Alya bersahabat. Mereka menikmatinya di riuh jalan yang seolah tak pernah menemui sepi.

Sementara di pojok pojok jalan itu beberapa baliho tersenyum pula menyaksikannya berbagi cinta dan kasih dengan senyum tanpa mengharap imbalan apapun. Mereka sama-sama tersenyum di keriuhan kota yang belum bersahabat dengan anak-anak jalanan yang meriuhinya.

 

Nama

Bagaimana mungkin manusia di hadapanku itu tak bernama? Baru kali ini aku menemukan makhluk bernyawa tak bernama, manusia tanpa identitas. Sepertinya…

***

Sejak usiaku baru menginjak tujuh tahun, aku gemar mengumpulkan kartu nama. Bagiku, kartu nama adalah sebuah kemewahan, tak sembarang orang memiliki kartu bertahtakan nama panjang dan embel-embel titel yang tersemat di sana.

Beruntung aku memiliki ayah seorang kepala desa, karenanya aku kerap kali diajak bertandang dari satu desa ke desa lain. Ayah bertemu banyak kolega dan orang-orang yang memiliki jabatan penting, mulai dari perangkat desa, priayi, polisi, sampai orang asing dari kota.

Seperti biasa ayah selalu memamerkanku pada orang-orang yang dijumpainya, mereka biasanya akan memuji kecantikanku dan bertanya siapa namaku. Aku selalu bangga akan hal itu, bangga akan namaku. Ayah dan Ibu menamaiku Lentera, yang berarti cahaya. Ayah dan Ibu berharap kelak aku akan menjadi cahaya yang menghangatkan dan bersinar terang untuk orang-orang di sekitarku.

“Len-te-ra” aku mengeja namaku dengan lantang, mengejanya menjadi tiga suku kata, teman ayahku yang merupakan anggota dewan bertepuk tangan dan memuji keindahan namaku. Disusul berikutnya aku menceritakan riwayat pemberian nama itu dan doa ayah-ibu yang turut di dalamnya.

“Kalau om siapa namanya?” aku memberanikan diri seperti biasa, biasanya teman-teman ayah akan menyebutkan namanya disusul dengan sebuah kartu nama aneka warna dan corak.

“Om namanya Muhammad Unggul, Om Unggul” benar saja, ia menyodorkan sebuah kartu nama padaku, warnanya keemasan. Aku cukup tercengang melihatnya, itu adalah kartu nama terindah yang pernah kudapatkan.

Aku melonjak kegirangan, koleksi kartu namaku semakin bertambah banyak. Ada lima belas jumlahnya, aku selalu menyimpannya dengan rapi dalam sebuah kotak kecil yang kuselipkan di bawah ranjang.

Hobiku terus berlanjut bahkan sampai aku menginjakkan kaki ke kota untuk melanjutkan pendidikan strata satu. Jangan tanya mengapa aku tak  kuliah di kampung, sebab Sekolah Menengah Lanjutan pun bisa dihitung jumlahnya. Itu pun sangat jauh, aku mesti menempuh perjalanan hampir dua kilometer untuk sampai ke sekolah. Maka dengan berat hati ayah dan ibu mengirimku ke kota untuk belajar meskipun kebiasaan warga kampung yang menikahkan anaknya usai lulus dari sekolah. Itu tak berlaku di keluargaku, ayah dan ibu memiliki cita-cita yang tinggi untuk pendidikanku, akhirnya aku dititipkan di rumah di salah satu rumah sepupu ayah di kota.

Kehidupan di kota nyatanya tak seburuk apa yang dikatakan orang-orang di kampungku, meskipun demikian aku tak bisa memungkiri berbagai perbedaan signifikan yang kutemui di kota.  Aku hanya butuh adaptasi, pikirku.

Walau begitu, aku sungguh senang. Di kota aku bisa menemukan banyak wajah-wajah baru, berkenalan dengan banyak orang, dan mengetahui nama mereka. Ah iya, perihal nama dan kartu nama itu masih menjadi kegemaran yang kugeluti. Aku masih rajin berkunjung ke banyak tempat untuk menemui orang-orang, mengajak berkenalan, dan sebisa mungkin meminta kartu nama mereka. Aku sendiri sampai saat ini belum memiliki kartu nama, aku masih mencari-cari referensi kartu nama terbaik yang sekiranya bisa membuatku jatuh hati. Sebetulnya, banyak sekali kartu nama mahal dan mewah yang kudapatkan, tapi saat ini belum satu pun dari mereka yang membuatku tertarik. Itu sebabnya aku ingin mengenal lebih banyak orang lagi.

Saban hari, usai kuliah aku selalu menghabiskan waktu di pinggir kota. Aku suka keramaian, aku suka banyak orang. Berbekal sebuah kamera hasil tabunganku selama enam bulan, aku giat berkeliling menyusuri tiap sudut kota, banyak hal yang menarik penglihatanku dan menarik tanganku yang gatal untuk memotret. Hobiku bertambah satu lagi, yakni fotografi, itu sebabnya aku konsisten mengikuti UKM Fotografi di kampus dan berhemat selama berbulan-bulan.

Ada yang mengusik pikiranku beberapa hari ini, yang menjadi objek tetap kameraku selama hampir dua pekan. Aku tak tahu mengapa alasannya, aku hanya tertarik untuk terus mengikuti perkembangannya dari hari ke hari.

Ia adalah seorang lelaki yang tak kutahu namanya, namun rasa-rasanya bila melihatnya dari jarak lima belas langkah ini, usianya tak jauh beda dariku. Perawakannya tinggi, tubuhnya kurus, rambut keritingnya jatuh hampir menutup matanya yang cekung. Aku rasa ia kurang tidur, atau ia kurang makan? Entahlah, mengapa aku mesti repot-repot memikirkannya.

Sebenarnya tak ada sisi menarik dari dirinya, tapi sebagian lagi aku tak bisa menyangkalnya. Ia suka duduk di tangga penyebrang jalan, kakinya menekuk menyanggah tumpukan kertas di tangannya. Sebuah pensil yang digenggamnya sibuk mencorat-coret kertas, kurasa ia sedang menggambar.

Tapi satu hari, aku tak berhasil menemuinya di sana, aku mencari-cari ke seantero tangga penyebrang jalan. Tak ada sosok bermata cekung itu, kemana ia? Pikirku.

“Kau mencariku?” tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara berat dan asing dari belakang pungkungku. Aku menoleh, lelaki yang kucari berdiri tepat di hadapanku. Dari dekat, aku bisa melihat air mukanya yang sendu, matanya memang cekung bak telaga di musim kemarau yang berkepanjangan, tapi dia lebih tampan dengan jarak sedekat ini.

Aku tak bisa memungkiri bahwa aku memang mencarinya seperti biasa, dan aku tak bisa mengelak bahwa selama ini aku diam-diam mencuri potretnya. Aku hendak meminta maaf, tapi ia terus berjalan dan seolah memberi instruksi padaku untuk mengikutinya. Ia sampai di tempat biasa aku mendapatinya, duduk menekuk dan mulai menggambar, aku mengambil tempat di sebelahnya. Setelah terdiam cukup lama, aku memberanikan diri untuk menyapanya lebih dulu.

“Aku Lentera, namamu siapa? Boleh kupinta kartu namamu?” seketika pensil di genggamannya berhenti berderit, ia mengangkat wajah dinginnya dan menatapku lamat.

“Tak apa jika tak mau, aku tak memaksa” ujarku gusar, sesungguhnya aku ngeri melihat kilatan cahaya matanya yang tajam menusuk, namun ia merogoh saku celananya, mengambil selembar kartu putih yang kemudian ia beri padaku.

Aku mengernyitkan dahi, tak kutemukan tulisan namanya di sana, bahkan tak kutemukan barang satu huruf pun yang berjejal di sana. Aku muntab, seenaknya saja ia mempermainkanku. Jika ia memang tak ingin memberi tahu namanya, bukankah ia bisa menolak?

“Apa-apaan ini?! Kau membodohiku” kulemparkan kartu kosong itu hingga mengenai wajahnya,  aku bangkit dari dudukku dan hendak meninggalkannya.

“Aku tidak membodohimu, bukankah kau yang meminta kartu namaku?”

“Ya, tapi kartu nama yang bertuliskan namamu!” aku setengah berteriak

“Aku tak punya nama, lantas apa yang aku harus tulis disana?” aku mematung, bagaimana mungkin manusia di hadapanku itu tak bernama? Baru kali ini aku menemukan makhluk bernyawa tak bernama, manusia tak beridentitas. Aku jadi ingin tahu apa yang ia tulis di KTP atau Ijazah sekolahnya dulu, atau aku ingin tahu seperti apa orangtuanya yang tega tak memberikan nama untuk anak lelakinya itu. Setahuku, apa-apa di dunia ini memiliki nama, orang-orang yang kutemui semuanya punya nama, kucing tetanggaku di kampung punya nama, sapi dan kambing milik ayah-Ibu punya nama, bahkan benda-benda pun juga bernama bukan?

“Tak mungkin kau tak punya nama, bagaimana orang-orang akan mengenalmu sedangkan kau tak punya nama?” aku menyela, kartu nama di depan wajahnya telah raib tertiup angin, lantas jatuh ke jalan dan terlindas truk pengangkut semen.

“Kau ingin orang-orang mengenal dirimu atau namamu?”

Aku mendegut ludah, pertanyaannya menohok ulu hatiku. Aku seperti terlempar jauh ke masa silam, kala aku gemar-gemarnya mengoleksi kartu nama orang, saat aku benar-benar takjub pada nama-nama yang tertera di sana, nama-nama indah dengan titel yang bersandar di depan dan di belakang nama.

“Seindah apapun nama, ia tak akan pernah bisa mewakili apa-apa dari yang diberi nama, maka aku memilih untuk tidak bernama”

Aku diam saja, pertanyaanku ternyata melahirkan pertanyaan dan pernyatan darinya. Aku belum sepenuhnya memahami jalan pikiran manusia tanpa identitas di depanku ini. Dari mana ia berasal, siapa-siapa saja keluarganya, atau apa tujuan hidupnya. Aku terus mereka-reka, tak kuasa menahan rasa penasaranku padanya.

“Pulanglah, sudah hampir malam”  ujarnya, dan memang benar, langit tampak muram dan sayup-sayup adzan maghrib telah berkumandang. Tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk pulang, meninggalkan ruh berjasad tanpa nama itu yang menyeringai tajam.

Sepanjang malam aku memikirkan kata-katanya, menurutku ia cukup realistis, dan aneh. Untuk kali pertamanya sepanjang sejarah hidupku ada manusia sepertinya. Aku kembali membuka kumpulan kartu nama yang kudapat, kotaknya sudah lama kupindahakan ke tempat yang lebih besar karena jumlahnya sudah bertambah banyak. Aku mengamatinya satu-satu, seraya mengingat si empunya kartu-kartu tersebut.

Ahmad  Solehudin, nama teman ayah pemilik lahan pertanian terluas di kampungku. Namanya sangat bagus, Ahmad yang merupakan penggalan dari Muhammad, dan Soleh yang artinya baik. Kabar yang kudengar kali terakhir adalah tentang kekejaman dan ketamakannya pada para petani upahannya, menjadi lintah darat dan bergonta-ganti istri seperti berganti pakaian. Sungguh kenyataan yang terbalik.

Ada lagi kartu nama cantik milik seorang perempuan muda yang kutemui di pinggir kota, Zahra Amira, permaisuri cantik seperti bunga. Pada kenyatannya aku akui ia memang cantik, namun kecantikan yang membawanya pada dunia malam dan menjajakan kecantikannya. Sungguh aku tak berbohong, ia sendiri yang mengatakan itu padaku.

Mungkin benar kata lelaki bermata cekung di tangga penyebrang jalan itu, nama tak akan pernah bisa menjelaskan esensi dari si empunya nama, tapi sesungguhnya bukan salah orangtua mereka memberikan nama, bukankah yang harus disalahkan adalah perbuatannya, bukan namanya.

Esoknya, ingin kuhampiri kembali lelaki itu, kususuri tangga penyebrang jalan, tapi tak kutemukan dirinya. Yang ada malah keramaian, banyak polisi, dan garis polisi berwarna kuning yang bercokol di sana. Berjuta pertanyaan terlontar di benakku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku pada seorang ibu yang ada di tempat kejadian. Kebiasaan orang indonesia memang begitu, suka menonton dan bergosip tentang apa-apa yang terjadi di disekitarnya.

“Ada laki-laki jatuh dari tangga penyebrang jalan, lalu tertabrak truk pasir dan tewas di sana” kata si ibu seraya menunjuk ke jalan tepat di bawah jembatan.

Aku segera berlarian turun, lantas mendapati sosok lelaki yang tergeletak tewas dengan tumbuh bersimbah darah. Aku berteriak, tak percaya dengan apa yang barusan kulihat.

“Apa kau mengenal pria ini? kami tak berhasil menemukan identitasnya” tanya seorang polisi berkumis tipis. Tubuhku bergetar, bahuku terguncang.

“Ia…ia tak punya nama” gumamku.

 


sumber gambar: www.istockphoto.com

Sang Penista

Matahari merangkak menuju puncaknya. Sinarnya membakar petala bumi. Dari atas panggung orasi, aku melihat beberapa orang menyingkir ke tepi halaman kantor bupati itu. Mereka mencari tempat-tempat berteduh. Sebagian terlihat bergerombol di bawah pohon mangga yang cukup rindang, tepat di sudut halaman kantor itu. Panji al-rayah yang berwarna hitam yang bertuliskan kalimat La IlaahaIllallah Muhammad Rasulullah masih terpancang, melambai ditiup angin siang yang terasa panas. Spanduk bertuliskan kalimat serupa ditambah dengan kalimat “ Menolak Calon Bupati Anu, Sang Penista Agama” terpancang di beberapa sudut. Dua spanduk besar yang dipegang oleh beberapa orang dari kerumunan massa bertuliskan kata-kata: ‘Allahu Akbar.…Mendukung si Anu Sama dengan Jihad Membela Agama’. Sementara itu beberapa bendera putih bertuliskan kalimat tauhid yang kami kenal dengan al-liwa, ikut menepi, bersama beberapa ikhwan yang memegangnya.

Aku sendiri dari atas panggung orasi, meneriakkan Allahu Akbar dengan garang. Suaraku seakan menyundul langit, menantang matahari yang garang. Entah beberapa kali kalimat itu aku teriakkan. Aku terbiasa dengan kalimat itu dalam setiap aksiku. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku merasa dengan kalimat Allahu Akbar itu, aku telah membela agamaku lewat aksi menolak si calon Bupati Anu.

Ya….si Anu, calon bupati itu, kami anggap tak pantas memimpin daerah ini. Ia seagama tapi kerap ikut kegiatan-kegiatan adat yang berbau kemusyrikan. Bagi kami yang pantas menjadi bupati itu adalah tokoh lain yang sering tampil di TV dengan kopiah dan bahkan kadang berserban. Bicaranya manis, santun, dan bijak. Sebelum pidato, biasanya ia pun berteriak Allahu Akbar.

Awal mula kami merasa si Bupati Anu adalah musuh Islam, setelah orang dekat dari calon bupati lainnya, yang bicaranya manis itu, sering mendatangi kelompok kami. Ia menceritakan bahwa calon Bupati Anu sering ikut selamatan, upacara adat, dan seterusnya.

“Calon Anu itu telah melakukan perbuatan-perbuatan yang mencampuradukkan adat dan agama. Ia penista agama.” Ucapnya suatu ketika.

Kalimat itu singkat, tapi cukup mendidihkan emosi keagamaan kami. “Penista agama”. Sungguh terlalu. Siapa orang yang mau dinistakan agamanya? Amarah kami meruak. Kami tidak merasa perlu lagi mencari tahu lebih dalam, benarkah si calon Bupati Anu itu menistakan agama atau tidak. Kami juga tak mau dengar penjelasan si calon Bupati Anu yang berkali-kali menyatakan di berbagai media, tidak mungkin punya niat menistakan agamanya sendiri. Bagai mantra sihir, kata penista agama yang dihembuskan itu cukup sudah menggerakkan nalar kami untuk segera beraksi.

Sejak saat itulah kami menjadi orang yang berdiri di belakang si calon bupati yang bermulut manis itu. Kami merasa membela dia sama dengan membela agama. Bukankah dia yang sedang bertarung melawan sang penista itu. Kami tahu, aksi kami sama dengan kampanye gratis bagi dia. Tapi apa salahnya. Kami telah dengan sengaja memilih membela sang tokoh santun ini. Mengarak dia dengan kalimat-kalimat suci. Memayunginya dengan bahasa agama.

Aku bersiap melanjutkan orasi, ketika ikhwan Amir datang menggamitku. Ia membisiki sesuatu. Sesaat aku tertegun mendengarnya. Tetapi selanjutnya aku lantas menyerahkan mikrofon ke ikhwan yang lain. Aku kemudian bergegas turun dari panggung orasi mengikuti jejak Amir yang telah mengegah terlebih dahulu.

“Betul yang kau katakan itu.” Tanpa basa basi saya langsung melantingkan tanya begitu saya berdiri di samping Amir.

“Ya….calon Bupati Anu sering datang melakukan acara keislaman yang dicampur dengan berbagai ritual adat itu di Desa Belimbing. Di situ ada tokoh masyarakat yang sering melakukan acara itu. Yang lebih bermasalah lagi, kabarnya tokoh masyarakat itu menyimpan berbagai benda pusaka yang disembah-sembah, tiap malam dibakarkan lampu. Tidak sembarang orang bisa melihatnya.” Amir menjelaskan dengan semangat. Entah dari mana berita itu didengarnya.

“Baik…., nanti malam kita ke sana, ajak beberapa ikhwan, kita buktikan perilaku yang menistakan agama yang melibatkan calon Bupati Anu itu.”

***

Aku menatap tajam orangtua yang ada di depanku. Daeng Tunayya, begitu ia memperkenalkan dirinya. Ia tidak menentang pandangan mataku yang garang, sebaliknya ia malah menundukkan pandangannya. Sementara sepuluh orang ikhwan yang ikut serta denganku mengambil posisi menyebar. Lima orang tegak di belakang lelaki tua itu, sementara lima lainnya duduk di sampingku. Gaya kami yang berjumlah 11 orang itu bagai pasukan yang tengah mengepung musuh. Aku yakin ia tidak akan bisa lolos jika berniat melarikan diri. Sikap kami juga aku pastikan akan membuka mulut lelaki tua ini. Ia tidak mungkin berbohong melihat sikap intimidatif kami ini.

Perlahan orang tua itu mengangkat wajahnya. Sorot matanya tenang. Tidak ada setitik kecemasan terlihat di balik sinarnya. Sebelum kalimat pertama meluncur dari mulutnya, ia terlebih dahulu melontarkan senyum. Lalu dengan ketenangan menakjubkan ia berkata:

“Jadi Ananda semua datang ke sini untuk membuktikan bahwa saya adalah orang yang telah melakukan perbuatan sesat dan menistakan agama.”

“Tidak hanya Anda, kami juga sekaligus akan membuktikan bahwa calon Bupati Anu juga sering terlibat dalam kegiatan Anda ini.” Aku menyambar dengan cepat ucapan Daeng Tunayya ini.

“Kalau hanya sekadar membuktikan bahwa calon Bupati Anu itu ikut dalam beberapa upacara selamatan saya, tak perlu ananda setegang itu. Saya bisa langsung katakan, ia memang ikut, tak hanya sekali, tapi sudah beberapa kali.”

Kami tak menyangka bahwa Daeng Tunayya ini akan langsung dengan jujur mengatakan keterlibatan Calon Bupati Anu. Mulanya kami duga, ia akan menyembunyikan kesertaan calon Bupati Anu itu dalam hajatan-hajatan yang kami anggap sebagai perbuatan menyesatkan dan menistakan agama. Tapi Daeng Tunayya langsung membabarkan begitu saja. Tanpa tendeng aling-aling. Justru karena sikapnya itu, kami beberapa jenak terkesiap bingung. Sejenak aku tergagu . Tapi segera aku berusaha memperlihatkan sikap sengit dengan langsung mengucapkan kalimat menohok.

“Ya…sudah, berarti benar kalian terbukti melakukan penistaan agama! Anda ikut saya sekarang, untuk mengakui semua perbuatan Anda dan keterlibatan calon Bupati Anu itu !”

“Tunggu dulu Ananda, siapa yang kalian tuduh menistakan agama?”

“Loh, tentu saja Anda dan calon Bupati Anu.” Kali ini yang menimpali adalah Amir, ikhwan yang menyampaikan berita ini. Daeng Tunayya berpaling sejenak ke arah Amir.

“Bagaimana kalian bisa menyatakan bahwa saya dan calon Bupati Anu, menistakan agama.” Suara Dg Tunayya masih terdengar sareh.

“Tadi Anda sudah mengakuinya.” Timpalku dengan nada tinggi .

“Maaf Ananda semua, yang mana dari pernyataan saya yang menyatakan bahwa saya dan calon Bupati Anu telah melakukan perbuatan menistakan agama?” Tanya Daeng Tunayya dengan nada berat.

“Tadi Anda menyatakan bahwa sering melakukan upacara yang juga melibatkan calon Bupati Anu itu.”

“Ya benar, tapi yang mana dari upacara kami yang dianggap menistakan agama? Apa upacara syukuran, yang kami sebut mappadekko, atau upacara permohonan keselamatan pada Yang Maha Kuasa yang kami sebut andingingi?”

“Ya…itu sudah, kedua-duanya. Itulah kegiatan kalian yang menistakan agama. Masih ingin mangkir lagi?”   Kali ini saya merasa Daeng Tunayya tidak bisa mengelak. Saya memandang ke arah ikhwan yang lain, mereka juga mengangguk-angguk membenarkan.

“Maksud Ananda sekalian mappadekko dan andingingi itu perbuatan yang menista agama?”

“Ya…perbuatan kalian itu adalah syirik, sesat, dan menistakan agama.” Ucapku tandas.

Allahu Akbar…..!!!, serentak ikhwan yang lain menimpali dengan takbir.

“Yang mana dalam andingingi itu yang sesat, sementara kami hanya mengundang semua sanak kadang untuk sama-sama berdoa kepada Allah SWT agar negeri kita, khususnya daerah ini dilimpahi berkah dan keselamatan? Yang mana pula dalam acara mappadekko itu yang menistakan agama, sementara kami hanya berkumpul memberi makan kepada seluruh handai tolan, khususnya yang tidak mampu, sekaligus kami mengucapkan syukur atas karunia Allah atas hasil panen kami.” Sahut Daeng Tunayya masih dengan sikap yang sareh. Ucapannya meluncur dengan tenang dari mulutnya.

Apa yang diutarakan Daeng Tunayya sawabnya masuk akal. Naluri kami senyatanya menerima, tidak ada yang bermasalah dengan upacara yang dilakukannya itu. Justru karena itu kami semua jadi tergagu. Melihat kami didekap keheningan, duduk membeku tanpa menimpali, Daeng Tunayya pun melanjutkan tuturannya.

“Ananda semua, sesungguhnya dibanding kalian siapalah saya, saya hanya orang kampung, sementara Anak-anakku ini adalah aktivis muda muslim. Pengetahuan agama yang saya miliki mungkin hanya sesilir bawang dari yang Ananda semua miliki. Ilmu Ananda sekalian mungkin sundul langit. Tapi jika boleh, saya ingin katakan, bahwa tradisi andingingi yang kami lakukan itu adalah ungkapan doa keselamatan untuk negeri kita. Bukankah dalam khotbah kedua di hari Jumat, doa senada juga sekali waktu dilantunkan.” Nada bicara Daeng Tunayya masih tetap datar, tak ada kesan menggurui dalam ucapannya.

Kami masih belum menimpali. Keterangan Daeng Tunayya semakin sulit kami sanggah. Daeng Tunayya melanjutkan kalimatnya satu demi satu dengan sareh. Setenang angin yang berembus sepoi-sepoi.

“Demikian halnya dengan upacara mappadekko, ananda. Itu adalah ungkapan kesyukuran, bukankah bersyukur atas karunia Allah adalah justru perintah agama.”

Aku masih bungkam, ikhwan lainnya juga masih membisu. Kami justru kehilangan ujaran, meski hanya sepatah dua kata. Kami tidak tahu harus membantah dengan kalimat apa. Tiba-tiba aku melihat ke salah satu bilik di rumah itu. Pintunya tidak tertutup rapat. Dari sela-sela pintu yang terbuka , saya melihat pendar cahaya menyeruak keluar. Aku melangkah mendekati pintu itu, tanganku meraih daunnya. Di dalam bilik itu, dua lampu diletakkan mengapit satu peti yang dipasangi kelambu. Tiba-tiba aku merasa mendapatkan bukti valid dari apa yang kami cari.

“Tengoklah….Ikhwan sekalian, inilah bukti perbuatan Daeng Tunayya yang menista agama itu. Ini benda-benda yang mereka sakralkan, bahkan mungkin benda inilah yang disembahnya dalam upacara itu.”

Serentak para ikhwan yang berjumlah sepuluh orang itu beranjak ke dalam bilik itu. Bilik yang memang tidak terlalu besar itu jadi sesak. Perlahan Daeng Tunayya juga beringsut ke dalam bilik kecil itu. Ia lalu tegak di sampingku.

“Daeng Tunayya, bukalah! Apa yang selama ini kau sembunyikan dalam peti itu ?” Ucapku, sambil menunjuk ke peti yang dipasangi kelambu itu.

Dengan anteng Daeng Tunayya membuka kelambu kecil yang digunakan sebagai sungkup dari peti tersebut. Dengan sikap yang sama, ia melanjutkan membuka peti tersebut. Begitu peti terbuka, serentak kami berebutan ikut melongok. Kami penasaran apa sebenarnya isinya. Ternyata hanya tiga kain, Merah, Putih dan Hitam. Ketika Daeng Tunayya membentangkan kain yang berwarna merah, ternyata secarik bendera merah putih. Setelah meletakkan bendera merah putih itu. Ia lalu mengambil kain yang berwarna putih. Ketika dibentangkan, hampir bersamaan kami mengucapkan “subhanallah”. Kain putih itu di tengahnya bertuliskan La IlahaIllallah Muhammad Rasulullah.

“Itu kan al-liwa, bendera putih simbol perjuangan Rasulullah.” Celetuk salah seorang ikhwan dengan spontan.

Daeng Tunayya tidak menanggapi. Ia malah membentangkan kain yang berwarna hitam. Kembali di hadapan kami terpampang secarik kain berwarna hitam, dengan tulisan warna putih La IlahaIllallah Muhammad Rasulullah. Al-Rayah, panji Rasulullah yang juga sering dibawa saat peperangan dulu.

“Itulah isi dari peti itu Ananda.” Suara sareh Daeng Tunayya memecah atmosfer yang sedari tadi beku dan sirep.

“Apakah menyimpan dengan sepenuh-penuhnya penghormatan ketiga bendera itu adalah sikap yang menistakan agama?” Daeng Tunayya melanjutkan ucapannya dengan nada tanya. Meski kelihatannya Ia tak butuh jawaban, karena selanjutnya ia pun bertutur.

“Ketiga carik kain itu kami simpan dan tak sembarang mengeluarkannya, karena kami menghormatinya, Anak-anakku. Sekali-kali kami tidak pernah berniat menyembahnya. Meski kami ini bukanlah orang yang mahir dalam hal agama, tapi kami juga paham ketiga kain itu hanyalah benda yang tidak patut untuk disembah.”

Belum ada di antara kami yang menimpali ucapan Daeng Tunayya. Justru karena itulah Daeng Tunayya meneruskan kembali kalimat-kalimatnya.

“Kami menyimpan dengan baik ketiga kain itu karena kami begitu menghormatinya. Bukankah di balik tiga carik kain itu masing-masing memiliki makna dan sejarah yang agung. Merah Putih adalah simbol perjuangan bangsa ini.Betapa banyak darah pahlawan dan ulama yang membasuhnya agar merah putih ini tetap berkibar. Ingatlah syair indah dari Guru Tua: Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan dan simbol kemuliaan kita adalah merah dan putih.

Kata demi kata mengalir dari mulut Daeng Tunayya. Kalimatnya seakan mencengkau kesadaran.Kami hanya bisa berdiri termangu-mangu. Bahkan ketika Daeng Tunayya melanjutkan ucapannya dengan suaranya yang sareh itu, serempak kami memasang telinga baik-baik.

“Sementara dua kain yang lain, kalimatnya adalah kalimat tauhid, kalimat yang paling agung yang pernah kalian tahu. Tidak pantaskah saya jaga baik-baik kalimat itu. Tidak sembarang waktu saya keluarkan.”

Daeng Tunayya menjeda sesaat kata-katanya. Ia terbatuk-batuk, mungkin karena usia tua mulai menyergapnya, sehingga tidak tahan udara dingin. Aku meliriknya diam-diam. Sosok yang bersahaja. Pakaiannya sederhana. Sehelai sarung sedikit lusuh dan baju kemeja biru yang sudah pudar warnanya. Parasnya menunjukkan, usianya sudah di ujung senja, namun wajah itu terlihat jernih bersimbur kelembutan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.

“Saat ini, Anak-anakku, sering kali kita berteriak si anu menista agama…., tapi pernahkah kita sadari jangan-jangan kitalah sang penista itu. Tengoklah ke dalam bilik sanubari kita masing-masing, apakah yang kita perbuat adalah wujud memuliakan kalimat suci itu? Dengan gegabah kita bawa-bawa tak jelas juntrungannya bendera tauhid ini. Kita arak untuk aksi yang hanya membela kepentingan politik kelompok tertentu. Bukankah dengan sikap seperti itu, justru kita yang telah merendahkan serendah-rendahnya kalimat suci ini sampai tersuruk pada kenistaan politik?”

“Tapi bukankah Rasulullah sendiri berpolitik dan menjadikan Islam sebagai landasan politiknya?” selaku tiba-tiba.

“Ya benar,….saya tidak mengatakan Rasulullah tidak berpolitik. Tapi politik Rasulullah adalah politik kemaslahatan. Islam menjadi sandaran nilainya dalam berpolitik.  Jika kalian melongok ke dalam nurani kalian yang terdalam, saya yakin Ananda semua akan sama merasakan, dalam langit politik negara kita yang kusam ini, tak ada yang sungguh-sungguh menjadikan Islam atau agama sebagai landasan berpolitiknya.” Daeng Tunayya menjeda lagi kata-katanya. Pandangannya beredar memerhatikan wajah kami satu demi satu. Melihat kami hanya tegak mematung, ia meneruskan ucapannya.

“Yang ada malah sebaliknya, agama, khususnya Islam, hanya diarak-arak untuk kepentingan politik tertentu. Agama dijadikan tunggangan. Kalimat suci hanya untuk membenarkan hasrat untuk berkuasa. Teriakan Allahu Akbar yang gelegarnya sampai menyundul langit itu kosong tak bermakna. Ia sekadar kita jadikan penyemangat nafsu berkuasa dan menyingkirkan yang lain.”

Kami masih termangu-mangu. Bahkan rasa-rasanya kalimat-kalimat Daeng Tunayya yang disampaikan dengan sareh, semakin lama justru semakin menghunjam ke dalam sanubari kami. Pikiran kami bagai dibersihkan. Dan entah bagaimana….tiba-tiba saja rasa kantuk menyergapku. Tidak hanya aku, tapi ikhwan yang lain terlihat mengalami hal yang sama. Suara Daeng Tunayya semakin lamat….samar dan akhirnya lenyap sama sekali…..

***

Kami berpandangan dengan keheranan. Aku dan sepuluh orang ikhwan yang bersamaku semalam, kini tiba-tiba berada di tengah ladang. Di ladang kecil itu ada satu kuburan dalam bangunan tak berdinding dan diatapi dengan beberapa helai seng. Aku terbangun di pagi hari ini dengan kepala bersandarkan nisan kuburan tersebut. Ikhwan yang lain bertebaran pula di sekitar kuburan tersebut.

“Kita di mana ? Mana rumah Daeng Tunayya ?” suara Amir memecah kebingungan kami.

Tidak ada yang menjawab. Kami semua memang tidak tahu berada di mana. Yang kami tahu semalam kami mendatangi rumah Daeng Tunayya. Mencari bukti penistaan orangtua itu terhadap Islam. Kemudian kami berdiskusi sengit dengan orangtua itu. Lalu kami mengantuk….dan tiba-tiba saja sekarang berada di tengah ladang, persis di samping sebuah kuburan.

“Sebentar…, itu ada orang menuju ke mari, kita bisa bertanya pada orang itu.” Aku menunjuk ke arah matahari terbit. Dari arah sana, seseorang dengan langkah-langkah yang bergegas menuju ke tempat ini. Tak lebih dari sepenginang, orang itu telah berada di hadapan kami. Ia mengangguk hormat.

“Pagi-pagi begini sudah datang ziarah Anak Muda?”

“Iya…eh anu….sebenarnya kami tidak sedang berziarah.” Aku menjawab dengan gugup. Soalnya aku sendiri tidak mengerti sedang apa di tempat ini.

Orang itu menatap kami dengan heran. Aku berpaling pada ikhwan yang lain. Mereka memberi isyarat untuk bertanya saja pada orang itu.

“Sebenarnya aku dengan para Ikhwan ini datang untuk bertemu dengan Daeng Tunayya.”

“Ya…kalian sudah ada di depan Daeng Tunayya.”

“Jadi bapak daeng Tunayya.”

“Bukan, bukan aku, tapi itu.” Orang itu menunjuk pada kuburan di belakang saya.

Bagai disentakkan tangan tak terlihat serentak kami menoleh ke arah kuburan yang ditunjuk oleh orang itu. Kami berpandangan dengan keheranan. Bukankah semalam justru kami berada di rumahnya, berjumpa dengan lelaki tua bersahaja itu. Tapi kenapa lelaki itu justru mengatakan bahwa kuburan di belakang kami adalah kuburan Daeng Tunayya.

“Maksud Bapak Daeng Tunayya sudah meninggal.”

“Ya….!. Sudah lama beliau ini meninggal. Seturut cerita orang-orang tua, Daeng Tunayyalah yang pertama mengajarkan Islam di kampung ini. Dialah yang pertama mengajar membaca Alquran. Dia pulalah yang pertama mendirikan surau yang sekarang sudah jadi masjid. Bahkan dialah yang mengajak orang-orang membuka persawahan di kampung ini. Daeng Tunayya dianggap wali oleh warga kampung ini. Makanya kami juga menamai kampung ini dengan kampung Tunayya selain Desa Belimbing.”

“Jadi…..Daeng Tunayya….sudah…lama….meninggal.” Dengan suara terbata-bata seorang ikhwan yang lain menimpali penjelasan orang ini.

Orang itu hanya mengangguk.

“Maaf Anak Muda saya harus melanjutkan perjalanan, saya akan menuju sawah saya yang ada di seberang itu.”

“Tunggu sebentar Pak, apakah Bapak kenal si Anu yang menjadi salah satu calon Bupati itu.”

“Oh….dia, ya…., dia adalah salah satu keturunan dari Daeng Tunayya. Dia juga sampai sekarang masih sering ikut dalam acara keagamaan dan upacara adat di daerah ini. Upacara yang dirintis Daeng Tunayyalah, leluhurnya.”

Kami kembali berpandangan. Ketika orang itu pamit sambil memberi salam, kami hanya bisa mengangguk dan menjawab salam orang itu dengan lemas. Setelah orang itu semakin jauh, kami pun tanpa banyak bicara meninggalkan tempat ini.

***

Siang itu aku duduk di depan TV di ruang tamu. Saya menekan tombol hitam di sudut kanan TV itu. Televisi menyala. Di layar terpampang aksi 123 yang sedang berlangsung hari itu. Aksi itu adalah kelanjutan dari aksi menuntut penodaan agama yang dilakukan si calon Bupati Anu. Di sebut aksi 123, karena dilakukan pada tanggal 12 bulan 3. Aku memindahkan ke channel lain, tapi berita yang sama juga terpampang di channel TV itu. Ah….aku tiba-tiba merasa segan melihat itu semua, sebagaimana aku merasa enggan untuk ikut aksi hari ini . Aku raih remote TV, lantas menekan tombol off-nya.

Mataku kemudian terbentur di rak TV itu. Di sana sebuah Al-Quran tampak teronggok diam. Hati saya tiba-tiba berdesir tajam. Sejak sering ikut aksi bela ini bela itu, menghantam si Anu dan si Itu, aku jarang menyentuh kitab mulia nan agung ini. Perlahan kuraih kitab tersebut. Untuk sejenak, seperti orang asing aku memandanginya lekat-lekat. Lalu dengan penuh keharuan menciumnya penuh hikmat. Selanjutnya aku mulai tenggelam dalam alunan ayat demi ayat dari kitab yang mulia ini.

Memoriaphobia

Malam datang begitu lesat, umpama desing peluru yang tiba di sasaran sepersekian detik setelah pelatuk ditarik. Lail mengeluh, rupanya kali ini peluru macam itu menyasar jantungnya. Dua manik mata gadis itu cemas memandangi meja, di atasnya tergeletak secarik undangan yang diikat pada tangkai mawar putih mekar sempurna.

Sejak pagi Lail gelisah. Lebih tepatnya sejak Ben muncul di depan pintu rumahnya dan menyodorkan undangan berikat mawar itu. Hanya undangan makan malam perpisahan antara dua sahabat. Kata Ben sambil menyengir, tidak lupa mengingatkan betapa Lail harus datang apapun yang terjadi.

“Karena setelah ini kita akan jarang sekali bersama-sama.” Sahut Ben riang.

Keriangan Ben membuat Lail tersinggung. Lihatlah, Ben begitu bahagia dengan gagasan bahwa mereka akan jarang sekali bersama-sama setelah dia menikah.

Ben memang akan menikah tidak lama lagi, dengan seorang perempuan beruntung dari antah-berantah. Perempuan yang dengan kedatangannya secara tiba-tiba telah merenggut Ben darinya.

Dalam sekejap waktu-waktu luangnya bersama Ben dikuasai perempuan itu. Hilang sudah percakapan-percakapan gila dua sahabat di warung-warung kopi. Tidak ada lagi Lail dan Ben berdua menyasar bangunan-bangunan tua tersembunyi di sudut-sudut kota hanya untuk mengambil gambar. Kini Ben yang akan selalu pergi kemanapun bersama perempuan beruntung itu. Tanpa Lail.

Esok lusa Ben dan perempuan itu akan menikah, dan undangan makan malam perpisahan antara dua orang sahabat itu begitu mengecewakan hati Lail. Ben dengan cara yang resmi sekaligus terselubung hendak mengusirnya pergi jauh dari hidup mereka. Apalagi setelah Ben bilang undangan spesial itu hanya ada satu. Hanya untuk Lail seorang.

“Maaf Ben, kupikir aku tidak akan datang,” sahut Lail kecewa.

Ben terkejut, tidak menyangka reaksi Lail begini berbeda.

“Aku akan menikah Lail, apakah kamu tidak bahagia sebagai sahabatku?”

“Beginikah caramu bersahabat Ben? Ketika kamu bahagia, kamu malah menghadiahi sahabatmu dengan undangan perpisahan.”

Lail tidak kuasa menyaksikan wajah polos tanpa dosa Ben lagi. Setelah mengungkapkan kekecewannya, Lail berlari masuk kamar. Tidak keluar lagi hingga malam.

***

Apakah Lail cemburu?

Mungkin iya. Sebab Ben lebih duluan menemukan pendamping hidup, sebab Ben memilih perempuan dari antah-berantah yang membuat Ben mau mengucapkan selamat tinggal padanya.

Tapi mungkin juga tidak. Lail bukan tipe perempuan yang jatuh cinta pada sahabatnya. Ia mungkin hanya merasa kehilangan.

Bukan kehilangan Ben.

Tetapi kehilangan terhadap kenangan-kenangannya bersama Ben.

Lail telah banyak merasakan momen bernama perpisahan. Dan perpisahan selalu sanggup membuat dua orang menyesal pernah bertemu dan membangun kisah bersama-sama. Padahal apa susahnya membiarkan? Toh kita hidup di dunia yang serba dinamis. Semua orang bisa datang dan pergi kapanpun dia mau.

Lalu apa susahnya membiarkan Ben pergi, mengetuk pintu kebahagiannya bersama perempuan beruntung itu?

Di luar bulan sedang purnama. Sinarnya bulat sempurna menggantung di atas siluet daun-daun mangga di bingkai jendela. Ben baru saja mengirim pesan. Sahabatnya itu sudah menunggu dengan manis di restoran tempat pertama kali mereka makan malam. Di tepi pantai, di sebalik deru ombak, di bawah sinar bulan. Lail menyukai pantai dan kehadiran Ben malam itu.

Sebagian hati Lail tidak rela jika tempat yang menyimpan kenangan manis itu harus diingatnya juga sebagai tempat kali terakhir mereka bertemu. Lail ingin mengkristalkan tempat itu di dalam kenangannya yang indah-indah tentang Ben. Bukan tentang perpisahannya.

Ayolah Lail, bulan sedang bagus-bagusnya. Aku menunggu.

Itu pesan Ben yang kedua. Lail berusaha tidak peduli.

Wahai, beginikah dasyatnya kenangan? Makhluk tanpa wajah tapi sanggup menciptakan kepedihan tiada tara. Membalikkan peristiwa bahagia di masa lampau menjadi penyebab kesedihan panjang di waktu sekarang. Beginikah jahatnya kenangan? Tanpa ampun membuat Lail tidak bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya.

Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Membiarkan Ben menunggu untuk kecewa pada akhirnya. Atau merelakan sebagian kecil kenangan manis bersama Ben rusak demi membuat sahabatnya bahagia. Lalu Lail juga akan pergi setelah menjelaskan segalanya.

***

Di langit bulan makin tinggi, angin laut menjelang tengah malam tidak hanya membawa bau asin tetapi juga gigil yang menggigit. Ben nyaris putus asa. Atau kecewa lebih tepatnya. Lelaki itu belum juga mengerti, apa yang membuat seorang sahabat tidak bisa ikut bersimpati atas kebahagiannya?

Padahal Ben yakin tidak ada alasan bagi Lail menolak datang. Segala hal menyangkut makan malam kali ini adalah semua yang disukai Lail. Pantai, bulan, setangkai mawar putih, dan senyumnya.

Ya, Lail pernah bilang ia sangat menyukai senyum Ben.

“Heh, Tuan Kegeeran. Aku nggak pernah ya bilang suka senyum kamu.”

Ben takjub, malu sekaligus senang. Malu sebab ternyata tanpa sadar ia telah menyuarakan pikirannya dan Lail mendengar. Senang, sebab lihatlah Lail yang nyaris membuatnya putus asa menunggu akhirnya berdiri tepat di hadapannya dengan gaun coklat muda dan jepitan bunga yang manis.

“Tapi.. tapi kamu pernah bilang aku jauh lebih ganteng kalau senyum.” Sahut Ben tidak terima.

“Ia, tapi bukan berarti aku suka senyum kamu.” Lail membalas dengan sengit sambil menggeser kursi dan duduk seenaknya.

“Kamu lama banget Lail. Tadi itu satu menit lagi kamu nggak datang, aku pasti sudah pulang. Dan kita berdua selesai.”

Lail tersenyum getir, “di luar macet, Ben.”

Hati Lail kecut pada kata selesai yang disematkan Ben untuk mereka berdua. Begitu mudah menyelesaikan segalanya bagi Ben. Tapi biarlah, toh ini akan menjadi kali terakhir ia bertemu Ben, kali terakhir ia akan makan di tempat ini dengan bulan dan bau laut, dan.. senyum Ben.

Nanti setelah mereka berdua melangkahkan kaki keluar dari restoran maka tidak akan ada langkah untuk kembali masuk. Lail berjanji tidak akan membuat kenangan lagi

Kampung Tua

Suara takbir bergema sahut bersahut dari masjid ke masjid. Malam baru saja tiba mengusir mentari bersama cahayanya. Suasana sakral bergelayut memenuhi kampung tua di pesisir pantai yang dikitari bukit-bukit di sebahagian wilayahnya. Aku baru kurang lebih tiga tahun berdomisili di kampung ini, sebagai pekerja di sebuah perusahaan pengalengan ikan. Hanya sebagai pendatang yang rajin berinteraksi dengan penduduk di kampung tua ini.

Bapak tidak mudik ? tanya kepala kampung.
Tidak aba, banyak tugas yang mesti kuselesaikan pekan ini dan pekan depan.

Oh.. besok salat di masjid ini saja, jelasnya padaku.
InshaAllah aba, jawabku singkat sembari menyemai senyum pada semua orang yang duduk di beranda masjid setelah salat Isya berjamaah.

Ini tahun keberapa kamu berdomisili di kampung ini, tanya kepala kampung.
Tahun ketiga, tapi baru Idhul Adha ini aku lebaran di sini, jawabku singkat.

Oh.. semoga masih berlanjut dan kamu betah tinggal di sini, ujarnya sembari memberiku senyum.
Aamiin.. insha Allah, seruku.

Rupanya, di malam takbiran jelang lebaran kurban tahun ini, di beranda masjid tua di kampun tua ini akan diadakan rapat pemantapan prosesi lebaran kurban. Aku pun dipersilakan untuk ikut serta memberi sumbang saran, sebab perusahaan tempatku bekerja juga ikut hajatan kurban di kampung tua ini dengan tiga ekor sapi. Rapatnya singkat saja karena hanya pemantapan, memastikan semua panitia mengambil peran masing-masing dan semua kebutuhan kurban telah tersedia.

Usai rapat sekitar pukul 9.00, aku begegas pulang ke kediamanku di tepi kampung tua ini, letaknya di bibir bukit yang tentu bercuaca sejuk. Dingin malam membawaku tertidur bersama mimpi bersua dengan seorang lelaki tua berwajah bersih, penuh kasih dan cinta. Kalimat-kalimatnya bijak, satu di antara kalimat yang disampaikannya padaku kala aku menyalaminya “Dari tubuh Kau jauh, tapi dalam hatiku ada jendela menghadapMu. Lewat rahasia jendela itulah, seperti bulan, kukirim pesan kepada-Mu”. Setelah menyampaikan sepenggal kalimat indah itu, ia menuntun tanganku berjalan menyusuri jalan-jalan berliku di kampung tua itu. Dari pesisir pantai yang gerah menyusuri jalan-jalan kampung yang landai, kemudian mengikuti lekuk-lekuk bukit mendaki. Sebelum melepas tangan dan pergi menghilang, kakek itu berpesan untuk yang terakhir kalinya, belajarlah dari jalan-jalan ini, dan buatlah Jendela hatimu lapang untuk selalu memotret wajahNya, hanya dengan itu jalan-jalan keselamatan engkau akan raih.

Ah.. mimpiku indah sekali, alhamdulillah. Gumamku kala jelang subuh aku terbangun. Sebagai bentuk kesyukuranku padaNya, aku bergegas mengguyur air sejuk ke bagian-bagian tubuhku sebelum menghadapNya. Tak lama kemudian, kudengar lagi sayup-sayup suara takbir dan tahmid, dari masjid-masjid kampung, sebagai isyarat bahwa hari lebaran Idul Kurban telah di raya. Sebuah hari raya besar umat Islam ditandai oleh keluarga Nabi Ibrahim As, sebagai pengingat bila para pengikutnya mengikuti jalan-jalan yang disemai Ibrahim As, Ismail As, Siti Hajar As, dalam keteguhan Tauhid mengesakannNya, sebagai tanda keteguhan cinta yang tak terpermanai. Jalan-jalan inilah yang diabadikan dalam kitab-kitab sebagai jalan-jalan keselamatan yang mestinya setiap saat menggugah cinta kita padaNya, sebagai muara dari segala cinta, sebagai puncak dari segala cinta.

***

Setelah prosesi salat Idul Kurban usai ditunai, kami bergegas ke rumah kepala kampung sebagai pusat prosesi Idul Kurban selanjutnya. Silih berganti para tetua dan masyarakat berdatangan, aku berbarengan dengan kepala kampung yang akrab kusapa Aba, sebagaimana orang-orang kampung tua, karib menyapanya. Aba dari bahasa arab yang berarti bapak atau yang dituakan. Dari kepala kampung sendiri dan masyarakat, kutahu bila kepala kampung itu nenek moyangnya dari Yaman. Konon, kampung tua ini memang dibangun dan dikembangkan awal mula oleh para pendatang Arab, yang sesungguhnya hanya menjadikan pesisir wilayah ini sebagai tempat persinggahan sementara atau transit kala mereka berlayar dan melintas di sekitar pesisir kampung tua ini. Lalu kemudian ada di antara pelintas itu yang menemukan jodoh di sini. Jadilah kampung tua ini sebagai sebuah kampung yang awal penyebaran Islam dimulai.
Ayooo bapak ibu, silahkan masuk, seru istri kepala kampung, yang akrab disapa Ummi atau Ibu.

Terima kasih, Ummi, tukasku singkat.

Aku mengambil posisi duduk di pojok rumah menghadap ke pintu, dengan maksud agar mudah dapat memandangi sesiapa saja yang datang, sebab rumah ini cukup luas dan konon yang hadir di hajatan ini setiap tahunnya cukup banyak termasuk para tetua dari kampung-kampung sekitar.

Sementara para tetamu berdatangan dan sebagian lagi telah mengambil dan mencicipi penganan yang telah disiapkan oleh tuan rumah, kepala kampung mendekatiku dan duduk di sampingku. Dan menjelaskan tentang keadaan yang riuh di kediamnnya saban tahun perayan Idul Kurban diraya di kampung ini. Selalu riuh dan menjadi ajang silaturrahim yang cukup efektif.

Di kampung ini dulu bermukim seorang alim atau ulama atau guru spiritual, yang sangat masyhur di seantero gugusan pulau ini. Guru itu berumur hampir 100 tahun baru mangkat. Dialah salah satu perintis berdirinya kampung ini. sepak terjangnya menebar kebajikan, kasih sayang, dan cinta, tidak hanya diteguk oleh orang-orang di kampung ini, tetapi jauh melanglang melintasi bukit-bukit, padang ilalang, ngarai dan sepanjang alir sungai. Karamahnya masih kerap muncul ke permukaan, apatah lagi bila kampung ini sedang dilanda duka, maka dia akan datang dengan membawa berbagai tanda dan ekspresi. Jelas kepala kampung itu padaku di sela-sela keriuhan para tetamu.
Maaf Aba, boleh aku bercerita sedikit ?

Tentang apa itu ? tanya kepala kampung.

Tentang mimpi saya semalam, mungkim berkenaan dan ada hubungannya dengan sosok alim yang Aba ceritakan tadi.
Dengan wajah sedikit heran, keningnya mengernyit, dan seolah spontan ia melupakan tamunya yang ruah dan riuh, mempersilakanku bercerita.

Ayooo ceritalah, pintanya, dengan ekspresi yang sangat bersemangat dan serius.

“Tadi malam aku bermimpi bersua seorang lelaki tua berwajah bersih, penuh kasih dan cinta. Kalimat-kalimatnya bijak, satu di antara kalimat yang di sampaikannya padaku kala aku menyalaminya ‘Dari tubuh Kau jauh, tapi dalam hatiku ada jendela menghadapMu. Lewat rahasia jendela itulah, seperti bulan, kukirim pesan kepa-Mu’. Setelah menyampaikan sepenggal kalimat indah itu, ia menuntun tanganku berjalan menyusuri jalan-jalan berliku di kampung tua ini. Dari pesisir pantai yang menyusuri jalan-jalan kampung yang landai, kemudian mengikuti lekuk-lekuk bukit mendaki. Sebelum melepas tanganku dan pergi menghilang, kakek itu berpesan untuk yang terakhir kalinya, belajarlah dari jalan-jalan ini, dan buatlah Jendela hatimu lapang untuk selalu memotret wajahNya, hanya dengan itu jalan-jalan keselamatan engkau akan raih”.
Seperti itu mimpiku semalam, Aba.

Sepetinya belum usai ucapanku yang terakhir, kepala kampung itu refleks memelukku dengan wajah pucat dan bola mata berkaca-kaca, subhanallah, subhanallah, subhanallah, engkau sangat beruntung anak muda. Katanya dengan suara agak bergetar.
Dialah itu Sang Wali kampung tua ini, sangat jarang ia datang menandangi sesorang dalam mimpi, itu sebuah keberuntungan besar dalam hidupmu, ulasnya selanjutnya. Kalimat indah yang ia sampaikan padamu itu, adalah kalimat Maulana Rumi yang ia kagumi. Bincang kami sejenak terhenti oleh tamu-tamu yang datang yang mesti juga harus dapat perhatian dari pemilik rumah lapang ini.

Nanti kita berbincang lagi ya, aku mau melayani tamu dulu, sahutnya lembut dan pelan nyaris berbisik padaku.

Baik Aba, balasku cepat.

Dari tetamu yang duduk di sebelahku kutahu bila guru orang-orang di kampung tua yang kumimpikan itu bernama lengkap, Sayyid Muhammad Abdullah Al Idrus, karib disapa Habib Muhammad. Tamu-tamu itu bercerita berbagai hal tentang karamah yang dimilikinya. Satu di antaranya adalah, beliau jarang sekali ke kamar belakang. Kala ditanya perihal buang hajatnya, beliau hanya menjawab singkat, mengeluarkan sesuatu yang kotor dari tubuh tidak mesti melalui anus dan alat kelamin lainnya, bisa juga melalui pori-pori dan organ tubuh yang lainnya.

***

Di hari penyembelihan kurban di keesokan harinya, di halaman masjid Jami’ telah di riuhi warga kampung tua. Mulai dari panitia, tim penyembelih, dan sebagian warga yang telah terdaftar namanya sebagai penerima daging kurban. Mereka nampak sangat kompak dan saling membantu satu dengan yang lainnya.

Ada satu lagi yang unik di kampung tua ini, Pak Dudi, kata kepala kampung padaku.
Apa itu Aba’, tanyaku.

Biasanya di kampung ini, setelah pembagian kurban untuk warga yang berhak menerimanya, daging kurban seolah tak hendak habis sebelum pembagiannya merata ke seluruh warga di kampung ini termasuk kepada warga yang non muslim. Mereka juga menerima kenikmatan dan kebahagian di hari kurban itu. Mengenang dan memperingati kurban Ibrahim As, Ismail As, Siti Hajar As, secara substansial, yang meninggikan nilai keyakinan, solidaritas, dan konsistensi. Itulah sebabnya, salah satu perekat sesama warga yang paling ampuh di kampung tua ini salah satunya adalah momen Idul Kurban ini, jelas kepala kampung, padaku.

Oh.. luar biasa, kataku sembari manggut-manggut terkagum- kagum.

Sembari mengamati orang-orang bekerja, kepala kampung masih tersenyum-senyum menyaksi ekspresi kekagumanku.
Sesungghnya masih banyak keunikan di kampung ini yang diwariskan oleh, Habib Muhammad itu, kata kepala kampung kemudian, padaku.

Misalnya lagi, bila akan terjadi bencana di kampung ini, sebelumnya Sang Habib datang lewat mimpi ke beberapa warga memberi nasehat atau peringatan berkenaan dengan ulah kebanyakan warga kampung yang mulai merendahkan nilai budi pekerti, melakukan ketidak-adilan, melakukan penganiayaan kepada sesama dengan masif dan berlangsung lama, dan bila mereka tidak mengindahkan maka bencana akan datang tak terduga-duga. Tapi bila para tetua berhasil menafsir mimpi tersebut kemudian mensosialisasikannya kepada warga, dan warga melakukan perubahan seperti peringatan dan nasehat di dalam mimpi itu, maka biasanya kampung tua ini akan aman-aman saja. Jadi, interaksi secara spiritual kerap masih berlangsung dengan orang-orang merasa dekat dengannya.
Jangan-jangan bila kamu menetap di sini cukup lama, akan menjadi medium beliau juga dalam menyeberkan kebajikan dan pesan-pesan cinta kepada masyarakat. Walaupun sesungguhnya di kampung ini sudah ada majelis zikir yang dipimpin langsung keturunan beliau, jelasnya lagi padaku.

Mendengar pejelasan dan sugesti terakhir, bapak kepala kampung tua ini, aku hanya tersipu-sipu sembari membatin, ah.. tidak mungkin, aku kan pendatang saja yang tidak mengerti apa-apa secara spiritual kecuali cerita-cerita tentang karamah Habib itu dari kepala kampung dan beberapa tetua di kampung ini.
Yang memungkinkan untuk itu, ya.. keturunan Aba’ sebagai keturunan langsung Habib Muhammad, kataku sembari tersenyum.

Semua orang memungkinkan menjadi mediumnya, bila ia dikasihi, timpal kepala kampung.

***

Setelah tiga hari berturut-turut pemotongan sapi kurban di kampung tua yang dipimpin langsung oleh kepala kampungnya, betul adanya, sapi yang hanya berjumlah selusin dapat mencukupi dan mendistribusi seluruh kepala rumah tangga yang ada di kampung tua ini. tapi sesungguhnya, menurut kepala kampung, kampung tua ini, soalnya tidak terletak pada distirbusi daging yang merata pada semua warga an sich, tapi bagaimana kebahagian dan cinta semai kepada seluruh penduduk kampung tua ini, sebagaimana cinta dan konsistensi yang dititip oleh Nabi Ibrahim As dan keluarganya kepada seluruh penghuni semesta ini.

 

Makassar, September 2016.