Arsip Kategori: Cerpen

Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java. read more

Dialog Imajiner Heraclitus dengan Daeng Pete-pete

Ada yang terasa berbeda tempo hari, sepanjang perjalanan, Daeng sopir pete-pete sepi penumpang. Daeng memalingkan kepala ke kanan ke kiri, tatapan yang presisi ke setiap sudut jalan, berharap ada penumpang yang tampak dan terlihat. Malang benar, hampir sampai pada titik akhir terminal kota, tak satu pun penumpang yang bertambah, hanya aku seorang yang ada dalam pete-pete di sepanjang perjalanan.

***

Situasi di atas kontras sekali dengan pemandangan 5-10 tahun yang lalu. Saya telah menjadi pelanggan setia pete-pete sejak SD di Bone. Jarak dari rumah saya ke sekolah sekitar 9 km, butuh jasa pete-pete untuk “memanjangkan” kaki saya sampai di sekolah. Masa SMP – SMA. Saya pindah ke Bantaeng, tepatnya di Kelurahan Tanah Loe. Jarak rumah ke sekolah berkisar 14 km. Lagi-lagi butuh jasa pete-pete untuk memudahkan akselerasi saya. Bahkan awal-awal mau kuliah di Makassar pun, saya masih sempat menikmati jasa pete-pete. read more

Pohon Waru, Janji dan Cerita Lainnya

Boleh jadi nanti aku akan bertemu, dulu masih kuingat saat kami saling memagut mesra dan berucap janji di malam yang hangat itu.

Ia kunamai Maya. Elok, bukan hanya karena tampang, tutur kata dan rambut panjangnya, tetapi ia juga indah karena bulatan-bulatan kecil yang menempel manis pada lekuk wajahnya. Meski tak pandai menaksir, tetapi kuduga, begitulah aku mengenalnya 15 tahun silam.

Kalau saja bukan karena peristiwa itu, barangkali sudah segubuk dengannya, membangun batih dan punya keturunan. Tetapi semenjak hari kepergian, aku sudah tidak mendapati kabarnya, terakhir kali melihat Maya saat ia mendekapku erat lalu pergi. Di sana awal semuanya dimulai, tatkala aku mengerti arti damba yang sebenarnya, di saat aku harus membenci waktu, perempuan dan suratan. read more

Pencurian di dalam Gedung Bioskop

Siang itu saat aku sedang membaca buku Detektif Cilik di ruang tamu. Ayah dan Bunda mengajak aku pergi ke bioskop. Mereka ingin mengajakku menonton film. Mereka melakukan itu untuk mengisi hari liburan sekolah. Maka dari itu mereka mengajakku menonton. Aku sih setuju saja asal filmnya sesuai usiaku.

Tidak lama kemudian aku, Ayah dan Bunda tiba di gedung bioskop. Setiba di sana Ayah pun langsung membeli tiket menonton untuk kami. Penonton film begitu ramai saat itu.

Aku pun akhirnya menonton film sesuai usiaku.  Itu pun Ayah  yang memilihnya. Jadi aku perlu di dampingi Ayah dan Bunda. read more

Marosso dan Kunang-Kunang yang Mati di Atas Kepalanya

Marosso, dia tidak pernah memilih lahir dari kandungan ibunya. Di sebuah subuh nan bisu, tatkala para tetua bersujud di Masjid, segerombol anak muda dalam pengaruh alkohol mengendap-endap masuk rumahnya. Mereka meniduri seorang gadis ranum beramai-ramai. Dari situlah asal muasal janin, Marosso terus tumbuh, lalu lahir meski telah coba digugurkan dengan urut dan ramuan obat-obatan tradisional, beberapa kali.

Telah banyak spekulasi perihal laki-laki yang berhak dipanggilnya ayah. Namun, spekulasi itu mengendap demikian saja. Bahkan para tetua kampung tidak berani mengadili biang kerok hadirnya Marosso, meski mereka tahu dalang pemerkosaan itu. Akhirnya, Marosso jebrol tanpa ayah. Inilah malapetaka kedua, setelah dia terpaksa tumbuh dalam rahim antah berantah, dan tak dikehendaki. read more

Kenangan Nenek Hafsah

Terik mentari pagi menyengat kulit ari, Rabiah yang bermandi peluh di sawah ayahnya. Ia  sedang memanen padi walau sawah mereka tak menghasilkan hasil yang maksimal untuk tahun ini. Sebab, musim kering yang cukup panjang sedang sungai mengalirkan air tak sederas dulu.

Padinya tak sekuning pada panen waktu-waktu lampau ya, kataku singkat pada, Rabiah.

Iya, Daeng, sembari tersenyum. Banyak hal yang mungkin ikut mempengaruhi, anomali cuaca. Hutan yang tergerus habis, juga memengarahi debit air sungai, dan lain-lain. read more

Kelabu Kesayangan Ibu

Kelabu sangat penyendiri dan kesepian. Ia seperti sesuatu yang lain dari segalanya di rumah ini. Tetapi Ibu menyayanginya, amat sangat. Ia punya kamar sendiri dan tempat makan sendiri-makannya selalu teratur. Tidak pernah terlambat walau sedetik.

Aneh. Dengan seluruh keistimewaan yang diberikan Ibu padanya, Kelabu justru terkesan tidak begitu mengacuhkan. Ia meninggalkan makanannya di tempat khusus itu, lantas memilih mencari di dapur atau mengorek sisa makanan di meja makan kami. Ia makan sendirian, tanpa suara, tanpa ambil pusing dengan keributan dari ruang sebelah  tempat Ibu meletakkan makanan khusus untuknya. read more

Orang Gila dan Masjid yang Raib

Senja telah berakhir. Garis merah di langit barat mulai memudar. Gelita merayap pelan memeluk bumi.  Sang kala merangkak-rangkak.  Pelan, lambat tapi pasti. Dan akhirnya malam betul-betul runtuh ke bumi.  Di langit, bintang gemintang merekah senyum. Tapi tidak demikian dengan  sepotong bulan di akhir Muharram itu, lesu mengapung di balik awan.

Tepat pada saat itulah, Faizal menginjakkan kakinya di tanah.  Pendar lampu jalan menimbulkan bayangan tubuhnya yang memanjang.    Lelaki ceking itu baru saja turun dari mobil bus yang ditumpanginya.  Kota Telaga Indah, itulah tempat yang tanahnya dijejaknya kini.    Sejenak Ia membiasakan diri dengan suasana.  Situasi yang mulai gelap membuatnya tak bisa segera mengenali keadaan. Udara dingin menyergapnya.  Faisal segera mengenakan jaket yang tadi disampirkan ke pundaknya.   Tangannya menyisir rambutnya yang telah diacak-acak angin sejak berada di bus tadi. read more

Ingatan yang Merindukan

Saya seoalah kembali ke dalam ingatan masa lalu. Juga soal gerimis yang hanya berlalu begitu saja dan kenapa ia tersisa dalam ingatan. Aku pikir karena ada kejadian masa lampau yang belum usai soal gerimis,yang layak terbenam dalam memori. Atau bisa jadi sebaliknya, gerimislah yang mengikuti  memori ingatan. Bisa jadi, catatan akan terhimpun menjadi sejarah.  Tetapi tidak semua yang terhimpun dalam catatan sejarah, meski berada pada lembarannya.  Ada hal yang tidak sekadar menjadi peristiwa di dalam catatan sejarah, juga dalam ingatan memori. Tidak semua daun digugurkan oleh angin, nyanyian seorang bisu dan perbincangan. Semua ini tentang gerimis yang terekam jelas dalam memori ingatan. read more

Perempuan dalam Bayang Literasi

Alunan sendu membisiki telinganya. Hari mengganti hari dan ia masih saja bersikukuh ingin tegar. Tak mau dipisahkan dari rasa cinta pada sang suami. Ia ingin tabah, tak pernah sekalipun dalam pernikahannya airmata menetes. ia mengalahkan tabahnya hujan di bulan Juni itu. Tak ada tempat bercerita,  hanya pada anaknya terkecuali.

“Bunda,  izinkan aku keluar. Jangan kau paksa  saya bunda. Saya tak suka di dalam.” Suatu hari anaknya mulai mengeluh.

“Sebentar nak, belum saatnya. Jangan kau buat risau bunda. Tinggallah di dalam sedikit lebih lama. Banyak yang bunda pikirkan nak” sang bunda memelas kasih,  membatin ia. read more