Arsip Kategori: Cerpen

Surat untuk Nulifar

Saat ini mungkin kau sudah benar-benar dewasa. Bahkan menjadi tua secara perlahan. Mungkin juga kau telah menjadi mapan dan beranak, seperti para sejawatmu. Tapi aku takut saat ini mungkin kita akan pura-pura tak lagi saling kenal. Ada sedikit hal yang ingin kudiskusikan denganmu. Sekiranya di antara waktu berhargamu, ada jeda. Aku bisa kau ajak berduskusi.

Apakah saat ini kau telah sangat bahagia? Dengan dia yang selalu kau elu-elukan? Atau semua telah berlalu dan kau tak lagi peduli tentang kata bahagia itu? Aku merasa yakin kau paling pandai mengabaikan pertanyaannya itu. Seperti dahulu, saat kau masih sangat muda, dan merah muda. Kau selalu mengabaikan saat bahagia, saat sedih, dan paling pandai marah saat panik. Yah, kau selalu panik dan berkeringat dingin. read more

Setelah Kematian yang di Pundaknya Bertengger Bintang

Kawan, di tempat yang mungkin dikatakan nirwana, izinkanlah saya menceritakan satu kisah kecil di medio tahun enam puluhan, namun berjanjilah! Jangan memberitahukan kisah ini kepada orang-orang berpakaian hijau. Nanti kamu diculik.

***

Masih kuingat bagaimana rasanya sebilah parang akan menggorok leherku, saat fajar telah menyingsing sempurna. Di belakang halaman rumah reyot—di pinggir kali—bersama tuanku, kami diperhadapkan pada kematian.

Sebelum kematian itu menjemput, saya mencoba melawan sekuat tenaga, menyelamatkan tuanku dan kabur dari tempat penjagalan. Namun sayang seribu sayang, saya hanyalah makhluk tak berdaya, tak sebanding melawan orang-orang berpakaian hijau, dan tahukah kau kawan, konsekuensi dari perlawanan yang sia-sia itu? Saya diseret ke dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu. read more

Celengan Impian

Sorak-sorai teman-temannya membuat suasana kelas menjadi gaduh. Pak Bato mengetuk meja berulang kali sembari menyeru, “Anak-anak mohon tenang!” Keributan itu bermula ketika Pak Bato, wali kelas tiga sekaligus guru sejarah di SD itu, menanyakan Danu tentang impian dan cita-citanya. Danu awalnya menolak untuk menjawab pertanyaan gurunya. Sebab, ia menilai ada yang aneh dengan impain dan cita-citanya. Berbeda dengan teman-teman kelasnya yang lain: ada yang ingin jadi dokter agar bisa menolong orang sakit, ada yang ingin jadi tentara agar bisa berperang seperti jagoan di film-film, ada yang ingin jadi guru agar bisa menjewer telinga siswa yang tidak buat tugas, ada yang ingin jadi imam masjid agar selalu mendapat undangan tahlilan dan membawa pulang banyak kue. Yang terakhir itu impian dan cita-cita Icak, teman sebangkunya. read more

Setelah Bumi, Sekarang Kepler

Kisaran enam miliar tahun silam, kami sudah beranak-pinak di Kepler. Mengutuk siapa saja yang menolak cinta dan patuh pada tindak sadis—seperti inilah iman kami, manusia bersayap malaikat.

Kepler yang kami tempati sekarang,merupakan sebuah planet dengan ukuran sepuluh persen lebih besar dari Bumi. Di Kepler, kami menggantung nasib pada rasi bintang tipe G—kepler 22b, yang lebih tua usianya dari matahari yang berusia empat koma enam miliar tahun.

Kepler terletak sekitar limaratus tahun cahaya dari konstelasi cygnus—suatu rasi bintang di belahan utara. Selain itu, Keplar memiliki empatpuluh delapan rasi bintang ptolemy dan juga satu dari delapanpuluh delapan rasi bintang modern. Dengan rupa-rupa rasi ini, rasa takut tak bergelantungan di dalam diri kami. read more

Hikayat Lajana

Nama aslinya Tungka’ namun warga sekitar memanggilnya Lajana. Sematan namanya sering dikait-kaitkan dengan hikayat orang-orang tua dahulu, tentang pemuda tampan, pemalas dan angkuh yang mendiami desa tempat mukim Tungka’. Warga setempat percaya bahwa reinkranasi Lajana Tarattu ada pada pria bernama Tungka’,[1] lelaki tampan—yang kata gadis berseragam putih abu-abu—mirip dengan aktor korea Lee Jong Suk ini memiliki perangai yang sama dengan hikayat Lajana Tarattu. Tampan namun pemalas, angkuh, picik dan licik. read more

Nenek Pakamekame

Anak-anak senang menjadikannya guyonan. Jika sedang melintas, mereka berlari kecil-kecil, mengekor pada bayangan perempuan ini, sambil serempak bersorak-sorak, “Torroko-torroko na kandeko batitong!![1]!” Sebagian lagi akan berkata, “Minggirko, lewatki nenek pakamekame, na curiko nanti[2].

Sementara perempuan yang diteriaki sedemikian rupa, melenggang saja. Tak hirau pada keusilan anak-anak tersebut. Baginya, itu tak lebih dari angin lalu. Dia telah terbiasa digempur cibiran. Makanya, dia memilih membangun rumah kecil pada sepetak tanah di pinggiran sungai, untuk menghindari kebisingan orang-orang yang panjang lidah, demikian dia memberi istilah. Walau begitu, masih ada saja yang sengaja datang membuang masalah. Semisal, para perempuan yang sahaja lewat, lalu melempar gunjingan bahwa salah satu di antaranya melihat seorang laki-laki keluar masuk di rumah itu, dengan suara keras dan cekikan mesum. Atau, para lekaki yang berkelakar saat melewati daun pintu rumahnya, bahwa kalau pun digaji mereka takkan pernah sudi dilamar oleh perempuan itu. read more

Aroma Kebohongan

Telah bertahun-tahun lelaki itu menjadi pelanggan setia di warung kopi milik pria tua itu, bahkan setiap pagi dan petang di setiap hari, ia tak absen menyempatkan diri ke warung kopi miliknya. Kecuali hari jumat, karena hari itu ia tak bekerja, dan hanya berdiam diri di rumah.

Berbeda dengan hari-hari selama tiga tahun yang telah berlalu, hari itu pemilik warung kopi itu mengungkapkan sesuatu yang tak pernah dibayangkan lelaki itu, ia tak menyangka bahwa pria tua yang hidup sudah setengah abad itu, mengungkapkan sesuatu yang begitu menguras pikiran hingga nyaris membuatnya gila memahami maksudnya. Sebab, selama tiga tahun menjadi pelanggan setianya, tak pernah sekalipun ia mendengar pria tua itu berbicara sekatapun pada pelanggan yang datang ke warungnya, termasuk dirinya. Bahkan sekadar menyapa atau berterima kasih pun tidak. Tapi justru sebaliknya, pria tua itu hanya memandangi setiap orang dengan roman wajah yang datar, wajah yang tidak terlihat sebagai seorang yang pemarah, tidak juga sebagai seorang yang ramah, apalagi lucu. Tatapannya tetap sama pada siapa saja. Bahkan orang-orang menganggapnya bisu. Dan semenjak kedatangannya tiga tahun yang silam di desa itu, tak seorang pun tau dari mana asalnya. read more

Lajana Taruttu

Seekor kelabang menggelitik punggungnya. Lima jarinya meraba, ternyata bukan hanya satu. Ada dua. Tidak, ada tiga, empat, dan serasa punggungnya dipenuhi kelabang. Serentak, binatang berkaki berjibun ini menyuntikkan bisanya di punggung Lajana, menyisakan jerit yang lebih serupa lolongan, dan lebam-lebam biru kehitaman di seluruh punggungnya. Nyeri yang melanda, membuatnya bermandi keringat. Dia meringis sejadi-jadinya, dan meronta menghalau sakit. Saking berisiknya, seorang perempuan tua, tergopoh-gopoh menghampiri, dengan setangkup air di tangan, lalu memercikkan air tersebut ke wajahnya. Dia tersadar, untung hanya sebuah mimpi. read more

Keluarga Butterfly

Di sepetak ladang milik Bu Tani, di antara rumpun pohon bambu yang meliuk ketika angin bertiup, di bawah rumpun tanaman semak, di antara ranting-ranting rapuh perdu-perduan. Tinggallah keluarga besar Butterfly.

Papi Utter dan Mami Erly adalah sepasang kupu-kupu kebun berwarna putih bersih dengan corak elips hitam mirip bola mata di kedua sayap belakangnya. Keduanya adalah sepasang kupu-kupu bahagia yang tinggal di atas mahkota bunga-bunga putih dan ungu, bersama keempat anak-anak mereka. Willow, Spring, Guntur, serta Lail. read more

Proyek Pemugaran Makam Kyai

—Untuk M. Rajab

Doktorandus Ramli terbangun mendadak di pagi buta itu dengan napas tersengal-sengal dan peluh seni bercucuran di segenap tubuhnya gegara mimpi dihimpit beton dari empat penjuru sementara lehernya dicekik rangka baja. Ia merasa akan almarhum saat itu juga, tapi beruntung Kyai Ahmad lekas datang dan menyelamatkannya. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya sudah lima kali Kyai Ahmad hadir selaku juru selamat dalam mimpi menyengkak yang dialami Doktorandus Ramli. Namun dalam mimpi yang terakhir ini, Kyai Ahmad berpesan sebelum pergi: “Ini terakhir kalinya aku datang menolongmu.” Pesan itu membuat Doktorandus Ramli bergidik hebat. Ia lebih bergidik lagi tatkala di akhir mimpinya, tiba-tiba ayahnya muncul dan berkata: “Putraku, ikutilah jalan Kyai Ahmad, atau kupastikan kau akan celaka!” read more