Arsip Kategori: Cerpen

Narcisius dan Nasehat Danau

Masih dapat saya petik kenangan bersamamu Tetta. Malam itu saya tidak bisa tenang, tidak juga mampu untuk tertidur padahal malam sudah larut. Ammah sudah berpesan kepadaku untuk membasuh muka dengan air wudu agar diri terjauhkan dari gangguan jin seraya malafalkan ayat Kursi dan tiga surah Kul hua Allah sebanyak tiga kali sebelum tidur agar terhindar dari sihir dan mendapati mimpi yang indah.

Rukun itu sudah saya laksanakan tetapi kepala dan bantal tidak juga mau berdamai. Sedangkan Ammah sudah pulas sejak tadi. saya masih terjaga sambil memandang cahaya bulan lewat jendela kamar. Bukan karena gangguan jin atau kekuatan mistik hitam yang membuatku gelisah. Tapi kepulangan Tetta yang belum juga ada tanda. read more

Orang-orang Berbaju Putih di Malam Natal

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Natal kembali memeriahkan kota Ambon. Namun tetap sama, ketegangan masih saja menggerogoti hati sebagian orang, termasuk Saleh— Lelaki yang baru tiba di Ambon tiga hari yang lalu, setelah lima tahun mengecap pendidikan di salah satu universitas di Makassar.

Kabar-kabar akan terjadi lagi kerusuhan, masih saja bermukim di kapala sebagian orang. Kendati demikian, setiap hari-hari besar (Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru), ketegangan selalu saja terjadi. Hal ini lantaran luka sejarah, terjadinya kerusuhan di tahun 1999 silam, masih membekas dalam hati dan benak sebagian masyarakan Ambon. Luka yang hanya dapat diobati dengan maaf, cinta dan kesadaran hidup berdampingan dengan harmonis sebagai orang Basudara[1]. read more

Clostridium Botulinium

Ada kumpulan detik yang membuat kita terjebak dalam satu keadaan dan memaksa kita untuk tetap tinggal di tengah penderitaan yang nampak seperti bahagia (kebanggaan semu).

***

Sebiji bola mata timbul tenggelam dalam katup yang menutup dan terbuka dengan ritme yang sangat lamban; setengah lelah bekerja dengan terbelalak dalam jendela kecil. Tangan lentik dengan kuku putih bersih yang menempel di setiap ujung jari sedang menikmati putaran mikrometer−mencari titik yang pas. Kumpulan titik-titik perak yang bias bergerak menggeliat. read more

Viya

Pernikahan hanyalah legitimasi perbudakan. Tetiba aku teringat kata-kata itu. Awalnya aku pikir itu hanyalah sebuah senjata yang ia gunakan untuk menolakku. Sehingga ia bisa terbebas dari upayaku merebut hatinya. Tapi kini aku sadar, pesan itu bukanlah sekadar penutup ruang hati, namun juga sebuah petuah. Atau barangkali peringatan. Aku menyesal tak mencatatnya baik-baik dalam lembaran hidupku.

Aku terus memacu mobil. Melewati padatnya lalu lintas Ibu Kota. Sesekali juga harus menekan klakson untuk memperingatkan pengendara motor yang kerap menyerobot dari arah kiri. Memang bukan hal yang rahasia lagi jika di negara ini orang bisa melanggar aturan agar tujuannya cepat tercapai. Hari ini udara sangat terik, jarum arlojiku telah mengarah tepat pada angka sebelas. “Sial, aku bisa terlambat” read more

Musik Kosmik yang Terdengar dari Beranda Warkop

Engkau ditemani kopi hitam dengan satu setengah sendok gula kesukaanmu, sedang aku memesan kopi susu yang moderat. Kita duduk berdua di warkop yang sedang sepi pengunjung, sore itu kita duduk di lantai dua, tepatnya di beranda. Dari sini Kita bisa melihat kesibukan lalu lalang kendaraan yang kadang kala melaju cepat dan terkadang bunyi rem menyeringit terdengar.

Di beranda itu kita juga dapat melihat kesibukan alam, saat langit menjadi abu-abu, lalu engkau kasihan melihat kucing putih polos itu terjerembab dari atas tembok ke tempat sampah, angin mulai rajin membelai dedaunan di pinggir jalan. Dan itu adalah tanda,  awan gelap mengumpulkan nyali. Hasil dari evavorasi kimiawi antara awan dan air laut, benar saja hujan turun membuat atap menjadi ribut. Sayonara suasana gerah. read more

Surat untuk Nulifar

Saat ini mungkin kau sudah benar-benar dewasa. Bahkan menjadi tua secara perlahan. Mungkin juga kau telah menjadi mapan dan beranak, seperti para sejawatmu. Tapi aku takut saat ini mungkin kita akan pura-pura tak lagi saling kenal. Ada sedikit hal yang ingin kudiskusikan denganmu. Sekiranya di antara waktu berhargamu, ada jeda. Aku bisa kau ajak berduskusi.

Apakah saat ini kau telah sangat bahagia? Dengan dia yang selalu kau elu-elukan? Atau semua telah berlalu dan kau tak lagi peduli tentang kata bahagia itu? Aku merasa yakin kau paling pandai mengabaikan pertanyaannya itu. Seperti dahulu, saat kau masih sangat muda, dan merah muda. Kau selalu mengabaikan saat bahagia, saat sedih, dan paling pandai marah saat panik. Yah, kau selalu panik dan berkeringat dingin. read more

Setelah Kematian yang di Pundaknya Bertengger Bintang

Kawan, di tempat yang mungkin dikatakan nirwana, izinkanlah saya menceritakan satu kisah kecil di medio tahun enam puluhan, namun berjanjilah! Jangan memberitahukan kisah ini kepada orang-orang berpakaian hijau. Nanti kamu diculik.

***

Masih kuingat bagaimana rasanya sebilah parang akan menggorok leherku, saat fajar telah menyingsing sempurna. Di belakang halaman rumah reyot—di pinggir kali—bersama tuanku, kami diperhadapkan pada kematian.

Sebelum kematian itu menjemput, saya mencoba melawan sekuat tenaga, menyelamatkan tuanku dan kabur dari tempat penjagalan. Namun sayang seribu sayang, saya hanyalah makhluk tak berdaya, tak sebanding melawan orang-orang berpakaian hijau, dan tahukah kau kawan, konsekuensi dari perlawanan yang sia-sia itu? Saya diseret ke dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu. read more

Celengan Impian

Sorak-sorai teman-temannya membuat suasana kelas menjadi gaduh. Pak Bato mengetuk meja berulang kali sembari menyeru, “Anak-anak mohon tenang!” Keributan itu bermula ketika Pak Bato, wali kelas tiga sekaligus guru sejarah di SD itu, menanyakan Danu tentang impian dan cita-citanya. Danu awalnya menolak untuk menjawab pertanyaan gurunya. Sebab, ia menilai ada yang aneh dengan impain dan cita-citanya. Berbeda dengan teman-teman kelasnya yang lain: ada yang ingin jadi dokter agar bisa menolong orang sakit, ada yang ingin jadi tentara agar bisa berperang seperti jagoan di film-film, ada yang ingin jadi guru agar bisa menjewer telinga siswa yang tidak buat tugas, ada yang ingin jadi imam masjid agar selalu mendapat undangan tahlilan dan membawa pulang banyak kue. Yang terakhir itu impian dan cita-cita Icak, teman sebangkunya. read more

Setelah Bumi, Sekarang Kepler

Kisaran enam miliar tahun silam, kami sudah beranak-pinak di Kepler. Mengutuk siapa saja yang menolak cinta dan patuh pada tindak sadis—seperti inilah iman kami, manusia bersayap malaikat.

Kepler yang kami tempati sekarang,merupakan sebuah planet dengan ukuran sepuluh persen lebih besar dari Bumi. Di Kepler, kami menggantung nasib pada rasi bintang tipe G—kepler 22b, yang lebih tua usianya dari matahari yang berusia empat koma enam miliar tahun.

Kepler terletak sekitar limaratus tahun cahaya dari konstelasi cygnus—suatu rasi bintang di belahan utara. Selain itu, Keplar memiliki empatpuluh delapan rasi bintang ptolemy dan juga satu dari delapanpuluh delapan rasi bintang modern. Dengan rupa-rupa rasi ini, rasa takut tak bergelantungan di dalam diri kami. read more

Hikayat Lajana

Nama aslinya Tungka’ namun warga sekitar memanggilnya Lajana. Sematan namanya sering dikait-kaitkan dengan hikayat orang-orang tua dahulu, tentang pemuda tampan, pemalas dan angkuh yang mendiami desa tempat mukim Tungka’. Warga setempat percaya bahwa reinkranasi Lajana Tarattu ada pada pria bernama Tungka’,[1] lelaki tampan—yang kata gadis berseragam putih abu-abu—mirip dengan aktor korea Lee Jong Suk ini memiliki perangai yang sama dengan hikayat Lajana Tarattu. Tampan namun pemalas, angkuh, picik dan licik. read more