Arsip Kategori: Cerpen

Upacara Sesat

Gerilyawan pemberontak memasuki desa itu pagi-pagi sekali. Mereka membawa senjata, juga wajah yang murka. Langkah mereka tergesa menuju area persawahan. Di sana penduduk tengah menggelar upacara turun sawah, pertanda dimulainya musim tanam. Kali ini upacara digelar alakadarnya, lantaran sebelumnya telah ada perintah disertai ancaman dari gerilyawan untuk tidak menggelar upacara semacam itu. Gerilyawan menyebut ritual tersebut sebagai “upacara sesat” yang bertentangan dengan ajaran agama. Para gerilyawan memang mendaku diri sebagai pejuang agama. read more

Meniti dengan Sabar dan Cerita Lainnya

Meniti dengan Sabar

Sore ini tak ditemani senja merona saga, sebab kabut hitam pekat tak hentinya mengerubuti cerlangnya. Aku tertatih menapaki jalan-jalan setapak menuju puncak kebajikan yang masih jauh di pucuk angan-angan, terhalau ego membatu. Padahal, pelbagai cara telah kurajut menuju cahaya di balik kabut pekat itu. Namun langkahku masihlah tertatih terhalau berupa-rupa ranjau yang kerap kubuat sendiri, sengaja ataupun tak.

Kala malam tiba aku tak sua bintang-bintang yang cerlangnya kerap menunjuki jalan para pejalan. Tapi, entah kenapa malam ini ia seolah enggan menyapa. Padahal kabut hitam telah menepi di pojok-pojok semesta. Badai pun telah pergi menjauh bersama senja, kala waktunya telah usai semayam. Setelah kutengok lebih seksama, rupanya cahaya hanya samar, sebab kunang-kunang pun meringkuk tak sudi menerangi jalan di hampir gulita itu. read more

Putu Menangis

Warnanya hijau seperti daun pisang matang, berbentuk tabung silinder sekitar lima senti. Seluruh bangunnya dibuat dari tepung beras yang dimampatkan dalam cetakan bambu kecil berbentuk serupa. Setelah matang, penganan hijau tersebut digulingkan di atas bulir-bulir kelapa parut. Yang membuat penganan khas satu itu berbeda adalah peralatan memasaknya.

Prinsip alatnya mirip dandang kukusan. Si putu dikukus bersama cetakan bambunya sampai mencapai panas dan tingkat tekanan tertentu. Sampai si putu cukup matang untuk bisa terpisah dari cetakannya. Sampai tekanan uap di dalam ruang kukusan cukup tinggi dibanding udara luar, hingga menghasilkan desisan nyaring di corong panci. Berdesis panjang seperti tangisan. read more

Rasa yang Tertahan Oleh Politik Brengsek

Riuh desiran ombak pada Desember yang rintik. Aku menatap jauh ke tengah laut. Di kejauhan, sesekali nampak muncul tenggelam cahaya lampu para nelayan. Malam ini, dalam pikirku, aku akan menabalkan hati yang lama tertahan. Perasaan yang lama terpendam. Aku berpikir inilah saatnya. Ini kesempatan yang terbaik kupunya. Mungkin agak sulit untuk menemukan momen seperti malam ini. Aku berpikir jika tidak malam ini, berakhirlah segalanya. Jika tidak malam ini, ada baiknya aku mengubur saja rasa ini dan melupakannya. Membiarkan berlalu dan ditelan oleh waktu. Tapi jika itu tidak terjadi pikirku, aku akan menahan “sakit” yang saya bisa pastikan begitu lama. Ya, lama—seiring  ia ditelan oleh waktu. Dan, itu pasti perjuangan melelahkan. Melupakan yang tak berarti itu mudah. Akan tetapi jika ia terkait pengalaman eksistensial itu pasti berat. Sekali lagi, butuh perjuangan yang tak mudah. Butuh sajen hati yang ikhlas. Aku tak bisa menyangkal kali ini, aku berada pada dua ruas rasa yang tak akan lolos dari konsekuensi. Menabalkan lalu bersedia menerima apa pun hasilnya atau tidak sama sekali. read more

Burung Dua Lelaki

Merdekalah jiwa pada sakit yang mengoyak, pada perih yang kian mengerikan, pada rintih yang memeluk ringkih!

 Jendela mendongak di hadapanku. Namun, aku tak punya daya untuk melompat keluar. Tubuhku meronta tapi tetiba aku harus duduk manis karena tancapan jarum yang dari kawanan berbaju putih.

Sebenarnya aku sudah merasa sangat kuat. Aku pun merasa baik-baik saja. Tapi yang berkesan di benaknya hanya saat aku melucuti seluruh perabot-perabot yang menyelimuti tubuhku. Maka dikatuplah aku di sini. Kadang-kadang aku meraung tapi tak jarang kepalaku seperti akan pecah. Aku ingin melepaskan jiwa yang tidak pada tempatnya. read more

Perempuan Terakhir dari Keluarga Petualang

Terkadang kita sepakat perihal pembunuhan, demi kebahagiaan orang lain. Dan, kita rela mati—mengubur segala impian, demi sebuah kepatuhan terhadap orang terkasih.

***

Saking cinta pada dunia petualangan, ayahku menamaiku dari nama sebuah gunung di kota tempat aku dilahirkan, Gunung Binaya. Jika Shakespeare, dramawan Inggris, risih menyoal what is a name—apalah arti sebuah nama, hal berbeda dengan ayahku, menamaiku Binaya, harapannya aku tumbuh seperti dirinya, seorang petualang.

Sebenarnya aku sendiri begitu tak memahami, kenapa kedua orangtuaku, terutama ayahku lebih betah di gunung daripada di rumah? Atau, kerapkali memasksaku menjejaki jalannya? read more

Teror Hantu

Lucas baru saja datang dari wangsa yang jauh: Belanda. Ia mengunjungi Kelurahan Samalewa, Pangkep, untuk meneliti sejarah Kerajaan Siang. “Ruangannya sudah dibersihkan Pak, silakan masuk. Biar saya yang mengangkat barang-barangnya,” kata pemilik indekos. Tapi Lucas hanya mengajukan telapak tangannya ke arah pemilik indekos, sebagai tanda penolakan. “Biar aku saja,” katanya, dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Sehingga dibawalah sendiri barangnya memasuki kamar.

Di Samalewa memang cukup banyak tersebar indekos. Sebab orang yang berasal dari kabupaten lain, khususnya kabupaten terdekat, memilih menyekolahkan anaknya di suatu sekolah menengah ternama di Pangkep yang didirikan di Samalewa. Sehingga, warga setempat memanfaatkan kesempatan itu. Beberapa warga mendirikan indekos untuk anak-anak dari luar yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Tapi Lucas datang sebagai sejarawan. Dan sebenarnya ia bisa menyewa tempat yang lebih mewah lagi. Cuma ia merasa indekos itu lebih dekat dari tempat penelitiannya, sehingga ia lebih memilih menetap di sana. read more