Arsip Kategori: Esai

Melihat Orang Gila dari Dekat

Erich Fromm, dalam hidupnya, pernah menyimpan sebuah pertanyaan besar. Pertanyaan itu kira-kira berbunyi, bagaimana mungkin? Perjumpaan dia dengan pertanyaan itu berasal dari sebuah peristiwa yang pertama kali mengguncang rasa kemanusiaan Fromm sendiri. Erich Fromm saat itu berusia dua belas tahun. Di usia seperti itu, dia mengenal seorang perempuan muda, teman keluarganya.

Si perempuan itu cantik, menarik, dan terlebih lagi, ia juga seorang pelukis. Sayangnya, perempuan muda itu sudah bertunangan. Dalam ingatan Fromm, perempuan itu hampir selalu menemani ayahnya yang telah menduda. Seorang laki-laki tua yang tidak menarik, yang juga tidak berpenampilan menarik. Fromm mengakui penilaian ini dilandasi dengan rasa cemburu. read more

Memaknai Hari Pahlawan Melalui Memperkaya Wawasan Sejarah

Di saat memperingati hari pahlawan, kita selalu disuguhi dengan kisa-kisah heroik perjuangan para pahlawan kita dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama masa kolonial sejak berdirinya VOC, pemerintahan Hindia-Belanda hingga pendudukan Jepang, bangsa kita memang sudah mengalami begitu banyak perjuangan fisik yang memakan ribuan korban jiwa. Dimulai sejak perjuangan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang berujuang membebaskan diri dari praktik culas VOC dalam memonopoli perdagangan, ketimpangan sosial di masa Hindia-Belanda, kekejaman Romusha di masa pendudukan Jepang, serta perjuangan berdarah-darah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di perjuangan yang terakhir inilah, di perjuangan mempertahankan kemerdekaan, bisa dicatat sebagai perjuangan revolusi fisik yang paling menguras banyak tenaga, dana hingga nyawa. Banyak di antara kita yang tidak terlalu intens dalam membaca literatur-literatur sejarah malah kadang berfikir bahwa istilah-stilah atau peristiwa bersejarah seperti Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api, Pertempuran Surabaya, Palagan Ambarawa hingga peristiwa-peristiwa sejarah di kampung kelahiran kita seperti Korban 40.000 Jiwa dan nama-nama besar di dalamnya seperti Wolter Monginsidi dan Emy Saelan adalah bagian dari perjuangan merebut kemerdekaan sebelum 17 Agustus 1945. Nyatanya, perjuangan terberat dan paling mematikan justru terjadi di masa-masa setelah proklamasi kemerdekaan kita. Jangan membayangkan sebuah kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan setelah kita memproklamasikan kemerdekaan kita dari penjajahan. read more

Change you Words Change you World

Kata dan pikiran ialah elemen yang saling mengandaikan. Kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Melalui elemen kata, pikiran dapat diakses sedemikian rupa: melacaknya, menelusurinya, menggeledahnya, menunjuknya… kepada sesuatu titik, entah konsep, ide, atau gagasan.

Tapi juga kata sebaliknya cangkang yang demikian purna menyembunyikan pikiran: membungkusnya, menutupinya, melindunginya… ke dalam suatu maksud, entah berupa niat, kemauan, atau kehendak. read more

Intelektual Muda yang Redup

Pada masa-masa awal perintisan bangsa Indonesia, pemuda menjadi bagian integral narasi perjuangan kemerdekaan. Elan vital intelektual muda yang menyala-nyala dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, menerangi Nusantara yang telah lama berkubang dalam kegelapan. Suara mereka menggema di pelosok desa dan pesisir pantai terjajah. Membangkitkan semangat juang para petani untuk mengangkat senjata merebut tanah yang telah dirampas. Membakar api semangat para nelayan mengusir perompak dari bumi pertiwi. Dan momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, merupakan wujud kristalisasi semangat kemerdekaan tersebut. Semangat yang didorong rasa senasib dan sepenanggungan, sebagai bangsa yang telah disakiti dan dikebiri hak-haknya. read more

Demokrasi dan Korupsi

Patut kita syukuri karena demokrasi kini berkembang begitu pesat di negara kita, terutama di tingkatan massa rakyat. Sebagai bukti, kini setiap orang begitu bebasnya dapat :  memilih calon pemimpin tanpa adanya tekanan; menyampaikan kritik terhadap penguasa yang dinilai menyimpang, baik secara lisan (demonstrasi) maupun tulisan; membentuk maupun bergabung dalam suatu organisasi politik (partai politik).

Namun hal yang disayangkan, di tengah proses demokratisasi, praktik korupsi dalam tubuh lembaga-lembaga demokrasi (eksekutif, legislatif dan yudikatif) masih berkembang seolah-seolah tak ada habisnya. Menurut data, kini sebanyak 361 kasus korupsi melibatkan Kepala Daerah, 2545 anggota DPRD Provinsi, 431 anggota DPRD Kabupaten/Kota yang terjerat kasus korupsi (Metro TV). read more

Lamuru: Riwayatmu Dulu, Riwayatmu Kini

Lamuru dapat saya katakan sebagai kerajaan yang tenggelam!

-Ahmadi, Juru Rawat Situs Kompleks Makam Raja-Raja Lamuru-

17 Oktober 2018, kala itu senja telah menyapa Kecamatan Lamuru—salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bone—keheningan sejenak mendekap tempat tersebut, angin berhembus pelan, sejauh mata memandang, hanya ada hamparan rerumputan hijau yang dinaungi sebatang pohon yang teramat besar. Tak jauh dari tempat tersebut, dengan jarak selemparan batu membentang makam yang menghadap dari arah utara ke selatan dan berjejer dari barat ke timur. Jejeran makam itulah yang dikenal sebagai kompleks pemakamam Raja-Raja Lamuru. read more

Para Penggenggam Arit

Sekelompok manusia berarak menuju sebidang tanah di kaki bukit, turun dari rumah dengan sarung terikat di pinggang. Mereka menggenggam arit, separuhnya lagi berjalan sambil memikul cangkul dengan kaki ringkih telanjang.

Pagi itu cuaca cerah, petani di perbatasan Seko dan Kalumpang itu, akan memanen padi setelah tiga bulanan menunggu. Pada hamparan sawah mereka padi-padi itu tertunduk sempurna, menguning dengan bulir yang padat meski ditanam di musim tak tentu.

Demikianlah adanya padi di kaki Bukit Sandapang. Orang-orang sekitar memang tak pernah berpatokan pada musim hujan atau kemarau saat hendak menanam. Lebih-lebih tak mau terjebak dalam rumus para penyuluh pemerintah yang mereka anggap tak memahami konsep pertanian secara baik. Mereka lebih teguh memegang tradisi purba dengan berpatokan pada batu pare. Batu dalam bahasa Kalumpang berarti sebuah batu, sedangkan pare berarti padi. read more

Mengikat Ingatan Lepas Soal Laut

“Naik ke laut. Siapkan perahu. Dayung dan ingatan pasti ‘kan bicara.”

Holaspica (Petikan lagu Naik ke Laut)

Lagu Holaspica yang berjudul Naik ke Laut, diawali dengan deburan ombak. Deburan yang menghantar debar menghadapi laut yang luas dan lepas. Laut yang lepas dari mata orang-orang yang berpaling memunggungi laut, atau dari mereka yang melepas ingatannya tentang biru laut berwarna dalam.

Mengapa orang-orang memunggungi laut? Satu hal yang perlu kita tilik bersama, mengingat kita adalah bangsa maritim. Ada beberapa hal yang barangkali bisa menjelaskan hal itu. Trauma, misalnya. Dalam film Walt Disney, Moana (nama yang dalam bahasa Polynesia berarti laut), kita melihat bagaimana suku Motunui menaruh ‘rasa takut’ berlebih pada laut, sampai pada titik memasukkan kapal-kapal pendahulunya itu ke dalam sebuah gua. read more

Pergulatan Tanpa Henti

Sejenak memanggul renung selepas malam menggelinding dan hujan menempias di balik pucuk pohon yang tumbuh di halaman. Mozaik hening mengisah ngilu serta setumpuk pertanyaan di kepala dan juga harapan yang timpah-penimpah.

Gemuruh di luar kian menjadi. Arakan hujan menggedor atap rumahku. Namun, mataku tetap lena pada banjaran aksara, hendak mengemasi cerita tentang padi dan sawah di kaki Bukit Sandapang dan sekelompok manusia penggenggam arit, di pedalam Bagian Barat Sulawesi.

Tetapi tiba-tiba aku melenguh, mengingat jiwa-jiwa yang runtuh dihajar banjir, pagi kemarin. Dalam hati kecilku ada doa semoga huja malam ini tak lagi berbuah banjir. read more

Bonus Demografi 2020, Siapkah Kita?

Sumpah pemuda merupakan hasil rumusan para pemuda yang berkumpul dari berbagai daerah di seluruh nusantara. Sejak dulu, pemuda merupakan motor penggerak yang menancapkan tonggak–tonggak perjuangan bangsa ini. Mereka berkumpul demi satu tujuan, yaitu memerdekakan Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi 90 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928. Hasil deklarasi rumusan sumpah pemuda menjadi cikal bakal terbentuknya gerakan pemuda yang lain.

Pemuda sejatinya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Seperti yang dikatakan sang founder father Indonesia, Bung Karno pada pidatonya yang terkenal dengan istilah JAS MERAH. Dia mengatakan  “beri aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”. read more