Arsip Kategori: Esai

Mengikat Ingatan Lepas Soal Laut

“Naik ke laut. Siapkan perahu. Dayung dan ingatan pasti ‘kan bicara.”

Holaspica (Petikan lagu Naik ke Laut)

Lagu Holaspica yang berjudul Naik ke Laut, diawali dengan deburan ombak. Deburan yang menghantar debar menghadapi laut yang luas dan lepas. Laut yang lepas dari mata orang-orang yang berpaling memunggungi laut, atau dari mereka yang melepas ingatannya tentang biru laut berwarna dalam.

Mengapa orang-orang memunggungi laut? Satu hal yang perlu kita tilik bersama, mengingat kita adalah bangsa maritim. Ada beberapa hal yang barangkali bisa menjelaskan hal itu. Trauma, misalnya. Dalam film Walt Disney, Moana (nama yang dalam bahasa Polynesia berarti laut), kita melihat bagaimana suku Motunui menaruh ‘rasa takut’ berlebih pada laut, sampai pada titik memasukkan kapal-kapal pendahulunya itu ke dalam sebuah gua.

Laut dalam film Moana digambarkan sebagai sosok yang hidup. Ia memanggil, membantu, bahkan digambarkan sebagai penyanyi yang bisa membuat nenek Moana melenggangkan badannya di pinggir laut. Sosok yang bisa diajak berkomunikasi. Ia mendengar dan berbicara dengan suara dan berbentuk ombak. Dua hal yang pada akhirnya menjadi hal yang menakutkan bagi orang-orang yang mengalami kebalikan dari apa yang dicitrakan laut pada film Moana.

Ketakutan-ketakutan dalam film Moana, bisa dibaca sebagai trauma. Untuk melihat dampaknya, dalam artikel yang ditulis oleh Andisa Sabrina (2018) berjudul Dampak Trauma Pada Wanita dan Pria Ternyata Beda (Lebih Parah Mana?):

“Post traumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan kecemasan yang dipicu oleh pengalaman traumatis di masa lalu, seperti kecelakaan yang mengancam nyawa atau tindak kekerasan dalam keluarga. Mengalami kejadian traumatis adalah hal yang berat untuk siapa saja… Beberapa gejala PTSD yang paling umum adalah muncul flashback atau kilas balik soal kejadian traumatis yang dialami secara tiba-tiba atau kalau ada pemicu yang sangat mirip dengan traumanya. Selain itu, orang dengan PTSD mungkin kesulitan menjalin relasi dengan orang terdekat, susah tidur, dan terus-terusan merasa bersalah.”[1]

Ada yang lepas. Jangkar ingatan kita pada laut yang indah dan, luas, dalam, dan pengalaman menyenangkan tentang apa saja yang pernah dialami dilaut. Avianti Armand (2017:9) menulis dalam buku Arsitektur yang Lain:

“Mungkin kita perlu jangkar: momen-momen, benda-benda, orang-orang—yang bisa mengikat ingatan lepas dan mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah dan memberi makna. Mungkin juga cinta.”

Jangkar ingatan kita tentang momen, benda, atau apa saja yang intim dari laut, lepas oleh bencana alam, misalnya. Pengalaman traumatis yang dialami memicu rasa takut yang berkepanjangan. Memang tidak mudah menyembuhkan trauma. Memang tidak mudah menaruh kembali jangkar ingatan kita yang lepas tentang laut. Tetapi dengan keterbukaan, segala sesuatu bisa saja terjadi. Termasuk sembuh dari trauma. Bisa dilakukan dengan cara mengalami ‘laut’ kembali sebagai sesuatu yang diciptakan Tuhan bukan untuk dipunggungi.

Trauma dan perlakuan mungkin berjahitan pada satu garis kondisi yang bertemu pada titik subjek dan objek. Seseorang yang trauma pada laut. Garis itu membentang panjang dengan ketakutan sebagai ujungnya. Sehingga, bertemu laut, adalah mengalami rasa takut, lagi. Sehingga laku yang berujung ke laut bagi orang trauma adalah takut.

Kemudian, ada juga bentuk perlakuan pada laut yang tidak dibentuk karena trauma. Kita kehilangan ‘rasa memiliki’ terhadap sesuatu. Kita menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir. Belum diketahui pasti, ‘komederenan’ seperti apa yang menjauhkan kita dari laut. Padahal, menurut hipotesis bernama biofilia yang dikemukakan Edward O. Wilson (1984), sesungguhnya kita dari lahir memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk berhubungan dengan alam.

Pada tahun 2017, sepanjang Januari sampai bulan Juni, saya memotret sampah yang ditemukan di Pantai Nabire, untuk melihat kemungkinan pemetaan sampah itu. Ada televisi, sepatu, botol air mineral, tulang hewan, boneka, buah-buahan seperti singkong, jeruk, dan jagung, ada ban mobil truck, mainan anak-anak, juga sampah rumah tangga yang begitu mudah ditemukan. Laut kemudian menjelma tempat pembuangan akhir yang luas dan dalam. Tetapi tidak pernah tenggelam. sampah-sampah itu hanya terombang-ambing di tepi pantai, menumpuk dan semakin banyak.

Untuk perlakuan kedua, barangkali ini butuh kolaborasi yang dapat mengembalikan citra laut menjadi bahari, lagi. Bisa dengan membuat narasi posotif yang menumbuhkan energi positif tentang laut. Atau barangkali dengan cara membuat narasi mitos. Seperti yang nenek moyang kita lakukan, agar kita menjaga laut seperti menjaga diri kita sendiri dari banyak ancaman.

Persoalan trauma, saya pernah mengikuti pelatihan Basic Trauma Healing Skill yang dibawakan oleh Alifah Bachmid, yang diinisiasi oleh Koalisi Solidaritas 14 Gerakan Untuk Sulteng Bangkit, Rabu, 10 Oktober 2018, di Café Baca Ruang Ide. Pelatihan ini dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga relawan yang ikut berpartisipasi dalam proses pemulihan trauma korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.

Dalam penjelasannya, memulihkan orang yang trauma, tidak boleh mengikat energi negatif pada perkataan dan tindakan kita. Untuk itu, Alifah Bachmid menyarankan untuk melakukan terapi trauma healing kepada diri sendiri terlebih dahulu. Menghilangkan energi-energi negatif, sehingga hanya energi positif turut menyertai kita.

Misalnya, dalam proses Set Up pada proses trauma healing—SEFT (Spiritual Emotional Freedom Theraphy), narasi yang dicontohkan:

“Ya Allah meskipun saya merasa… (titik-titik diisi dengan hal-hal negatif), saya ikhlas dan menerima keadaan ini dan saya pasrahkan ‘hilangnya energi negatif tersebut’ dan… (titik-titik diisi dengan hal-hal positif) padamu Ya Allah. (Diulang tiga kali).”

Narasi yang ditawarkan Alifah, adalah tidak mengisi titik-titik dengan elemen negatif lagi. Misalnya, ketika kita menyebut ‘malas’ pada hal negatif kita, kita harus merelakan dan pasrahkan energi positif tersebut menjadi kebalikannya. Misalnya, dari malas menjadi rajin. Bukan dari malas, menjadi tidak malas. Sebab, kata Alifah, menggunakan kata tidak malas masih menggunakan sisi negatif pada hal-hal yang positif.

Alifah kemudian mencontohkan, “Coba kalian tutup mata.” Ketika semua orang menutup matanya, ia menyebut, “Jangan pikirkan gajah. Jangan pikirkan jangan gajah pakai celana.” Tetapi, gambaran gajah tetap saja ada di kepala saya. Saya mencoba memikirkan semut memaki celana, tetapi tidak bisa. Inilah yang Alifah maksud sebagai energi positif untuk pemulihan dengan cara sugesti.

Dalam melakukan terapi trauma healing pun, Alifah menganjurkan untuk tidak mengikat ‘masa lalu’ jika orang yang diterapi belum siap. Misalnya, jika kita datang seminggu atau bisa jadi sebulan setelah bencana, bisa jadi ada orang yang belum siap mengingat masa lalunya soal trauma yang ia alami. Sebab ada energi-energi negatif yang mengikat pada masa lalunya, yang perlu dipulihkan dengan energi-energi positif. Sebenarnya, tidak mengulik masa lalu, kata Alifah, bukan anjuran untuk melakukan terapi. Tetapi, ini menghindari kemungkinan yang lain. Juga menstimulus terapi trauma healing yang kita lakukan dengan cepat.

Tetapi, ada beberapa hal besar yang harus kita lawan bersama. Misalnya paradigma ’bad news is good news’ selalu menggembor lewat narasi negatif tentang sisi buruk sebuah peristiwa. Ini adalah hal yang barangkali dimaksud Alifah dengan sugesti negatif. Mengikat ingatan lepas soal laut, barangkali dengan sugesti-sugesti positif yang tersebar secara massif, trauma healing bisa dilakukan dengan cara yang lain. Misalnya tadi, dengan cara menyebarluaskan narasi-narasi positif.

Seperti penggalan lirik lagu Holaspica dalam Naik ke Laut, “Bila yang baik tak mau bicara, yang buruk tertawa melihat semua. Bila yang baik tak turun ke bawah, siapa buktikan, siapa mendengar?”[]

Catatan kaki:

[1] Andisa Sabrina, https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/perbedaan-dampak-trauma-pada-otak/, diakses pada 15 Oktober 2018, 16.12 WITA.

Pergulatan Tanpa Henti

Sejenak memanggul renung selepas malam menggelinding dan hujan menempias di balik pucuk pohon yang tumbuh di halaman. Mozaik hening mengisah ngilu serta setumpuk pertanyaan di kepala dan juga harapan yang timpah-penimpah.

Gemuruh di luar kian menjadi. Arakan hujan menggedor atap rumahku. Namun, mataku tetap lena pada banjaran aksara, hendak mengemasi cerita tentang padi dan sawah di kaki Bukit Sandapang dan sekelompok manusia penggenggam arit, di pedalam Bagian Barat Sulawesi.

Tetapi tiba-tiba aku melenguh, mengingat jiwa-jiwa yang runtuh dihajar banjir, pagi kemarin. Dalam hati kecilku ada doa semoga huja malam ini tak lagi berbuah banjir.

Seketika kutingalkan bukit Sandapang, kuhadirkan kembali seraut wajah di balik reruntuhan tembok dihimpit mobil sedan. Istrinya mencubiti tubuhnya yang ambruk, sambil berteriak memelas iba pada sosok yang lalu lalang. Tetapi, siapa yang peduli, para tentangga juga tengah kelimpungan mencari bantuan sambil memunguti sisah hartanya yang mengapung.

Cukup lama wanita berwajah kelam itu menuntun suaminya agar mengusai diri. Dia seperti hendak mengutuk waktu yang tak kunjung memulihkan kesadaran suaminya. Tetapi hingga para medis datang dan membawa suaminya ke rumah sakit, kesadaran itu tak kunjung tandang.

Esok, ketika matahari rebah di ufuk barat, kabar duka datang. Suaminya telah meregang nyawa di salah satu ruang perawatan rumah sakit di bagian Selatan Sulawesi. Ternyata rumah sakit di pusat pemerintahan bagian Barat Sulawesi, tak mampu menangani lelaki yang datang dari reruntuhan itu. Hanya memasangkan infus lalu merujuknya ke luar kota.

Pemerintah nampaknya kurang serius pada hal-hal elementer berbau kebutuhan manusia. Barangkali perlu membaca filsafat manusia untuk memahami hakikat kebutuhan manusia, atau menelaah psikologi humanistik sekedar memahami lima hirarki kebutuhan manusia ala Abraham Harold Maslow.

Dan di dalam hujan yang lebat, kisah itu mengabil ruang dalam tutur batinku. Pikiranku tertuju pada tiga orang anaknya yang masih sangat kecil, menyaksikan bapaknya yang mangkat seketika.

Betapa tak padu kata pepatah bahwa seseorang yang berani melewati hujan badai akan berpeluang besar menyaksikan indahnya pelangi. Itu tak berlaku bagi ayah dari tiga anak itu. Betapa ia berani melewati hujan badai dan menerobos banjir. Namun, pada akhirnya tak berkesempatan menyaksikan indahnya pelangi -entah di alam lain-.

Dia adalah sosok bernasib nahas dari antara 3.315 jiwa. Drama ini akan terus berulang mengesah haru biru dari mulut-mulut yang memberang. Membaur rintih, lantaran tak mampu membendung nafsu menggagahi alam. Hebatnya lagi, sebab para pejantan alam tak pernah ikut menelan duka.

Mereka baru akan muncul ketika langit memancarkan indah pelangi, biduk yang nyaris karam kembali ke muara dengan gemulai menawan dan para pengguna seragam keki ngaceng, menenteng payung sekedar mengusir sangka untuk tak disebut khianat.

Mereka tak membiarkan noda menggenang bercak biru dan ambigu dan tak bisa membayangkan jika namanya tak menemu jalan pulang, ke kampung nurani khalayak.

Karena itu meraka datang, ngeceng meski berpayung. Hendak memberi ruang lapang pada cakrawala sang korban, menyibak getir walau sekedar omong kosong. Seolah-olah mengatakan -aku ikut merasakan apa yang kalian rasakan, juga sakit atas apa yang kalian derita. Meminjam bait terakhir puisi “Satu” karya Sutardji Calzoum Bachri “yang tertusuk padamu berdarah padaku”. Tetapi sekali lagi, itu hanya omong kosong.

Ketika hari-hari lindap dalam segala sibuk dan hiruk pikuk, semua akan menjadi lupa. Ambisi kembali memainkan peran tanpa peduli akan akibat yang diterakan, juga tidak mau tahu segores luka di hati yang dalam. Baginya, luka bukanlah hal penting untuk dipikirkan sebab telah terjatuh dalam kubang hasrat dan memiliki memori yang pendek, mereka mudah lupa. Seperti yang ditulis Afifah Afra “Aku tersenyum menang, tak ada lagi pembangkangan karena aku sudah punya status, punya identitas, sebuah harga diri. Aku puas”.

Terpenting kemudian, nantinya bisa ngaceng lagi jika musibah menyapu jalan raya. Para penjaga hasrat akan bergerak di atas pick up berisi kardus-kardus mieintan dan popok bayi, juga pakaian bekas yang menahun dalam gudang.

Tetapi, itu lumrah saja sesungguhnya sebab di dalam risalah filosofis yang disebut postmodernisme, hadir pula sesuatu yang disebut masyarakat konsumtif, sebuah ruang identifikasi yang imaginer tentang diri. Tidak sekedar mengakumulasi benda atau barang material, melainkan halusinasi tentang citra diri dan makna simbolik.

Ketika fajar menyingsing di ufuk timur, mesin-mesin bertenaga raksasa kembali menderu menggerayangi sungai, menggagahi pepohonan dan mencungkil bebukitan untuk dipindahkan ke laut. Sebuah penegasan akan kepemilikan dan penguasaan dan saat sakramen pertemuan ombak dan muara membuncah, abrasi dan banjir terjadi lagi. Terus berulang disusul korban-korbannya.

Demikian itulah hasrat, sebuah pergulatan tanpa henti yang menghadirkan eskapisme hingga manusia bermain-main dengan ambisi tanpa batas. Pemuasan hasrat buas atas tubuh, dalam filsafat sosial disebut hedonisme. Namun, sebaiknya para pemerkosa alam melakukan sakramen taubat sebagai pengakuan, agar tak lebih lama bergumul dalam kemunafikan menyembunyikan noda hitam diri.

Kutundukan kepala, kuresapi suara hujan yang menggedor kian keras. Rasa khawatir masih bersarang di dada, membayangkan orang-orang yang lena dan banjir menjemputnya di kamar tidur. (**)

Bonus Demografi 2020, Siapkah Kita?

Sumpah pemuda merupakan hasil rumusan para pemuda yang berkumpul dari berbagai daerah di seluruh nusantara. Sejak dulu, pemuda merupakan motor penggerak yang menancapkan tonggak–tonggak perjuangan bangsa ini. Mereka berkumpul demi satu tujuan, yaitu memerdekakan Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi 90 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928. Hasil deklarasi rumusan sumpah pemuda menjadi cikal bakal terbentuknya gerakan pemuda yang lain.

Pemuda sejatinya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Seperti yang dikatakan sang founder father Indonesia, Bung Karno pada pidatonya yang terkenal dengan istilah JAS MERAH. Dia mengatakan  “beri aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”.

Soekarno tak serta merta mengatakan hal tersebut, beliau melihat bahwa pemuda memiliki peran yang teramat penting bagi kemajuan suatu bangsa, bahwa salah satu pilar utama dalam kesuksesan suatu bangsa yaitu pemuda yang berkualitas dan berdaya saing.

Indonesia tiga tahun lagi akan memasuki era bonus demografi. Pada tahun 2020, Indonesia diprediksi mengalami fenomena langka yang hanya terjadi sekali selama berdirinya suatu bangsa. Bonus demografi yaitu masa dimana penduduk produktif (usia 15-64 tahun) lebih banyak dibanding penduduk yang tidak produktif (dibawah 15 tahun atau diatas 64 tahun).

Berdasarkan data dari BKKBN, proyeksi usia penduduk produktif pada tahun 2020 akan mencapai 180 juta jiwa, sementara penduduk yang berusia nonproduktif mengalami penurunan, hanya sekitar 60 juta jiwa. Hal ini berarti Indonesia akan mendapatkan surplus penduduk usia produktif hingga 70% dari total penduduk Indonesia atau 100 penduduk usia produktif hanya akan menanggung 44 orang nonproduktif pada tahun tersebut.

Lebih banyak penduduk berusia produktif, berarti lebih besar pula kesempatan untuk meningkatkan perekonomian negara, karena jumlah angkatan kerja lebih banyak.

Pemuda merupakan roda penggerak pembangunan dan sebagai pemegang kendali kelangsungan suatu negara. Apalagi, bonus demografi 2020 akan didominasi oleh generasi z dan milenial yang terkenal kreatif dan inovatif, serta cakap teknologi.

Namun disisi lain, bonus demografi bagaikan pedang bermata dua. Dimana bisa saja mendatangkan bonus atau malapetaka. Penduduk usia produktif  lebih banyak, sehingga angkatan kerja pun akan semakin melimpah menyebabkan persaingan akan semakin meningkat. Apabila mereka tidak berbekal skill yang mumpuni, mereka hanya akan menjadi beban bagi negara. Oleh karena itu, mulai sekarang berbagai persiapan perlu dibenahi agar di masa yang akan datang kita dapat memajukan bangsa Indonesia dan tidak menjadi beban.

Menurut menteri keuangan Sri Mulyani, ada tiga hal utama yang harus diperhatikan untuk memaksimalkan potensi pemuda menghadapi bonus demografi. Ketiga hal tersebut dikenal dengan 3E (education, employment dan engagement). Ada apa dengan ketiga perihal tersebut? Ketiganya merupakan hal utama yang dapat mendorong terciptanya generasi muda yang kreatif, inovatif, dan produktif.

Pertama yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan sarana mencetak generasi yang berkualitas. Kita sebagai generasi muda dituntut untuk menjadi generasi yang mumpuni di berbagai bidang. Pemuda yang menguasai hard skill, yaitu kemampuan untuk mengaplikasikan suatu ilmu pengetahuan dimana Indonesia sangat kekurangan, khususnya di bidang teknologi digital.

Itulah mengapa Indonesia sering kali menggunakan tenaga kerja asing, dikarenakan skill tenaga kerja Indonesia sangat tidak mumpuni. Seperti pernyataan Kemenaker, bahwa lulusan sarjana Indonesia tidak siap pakai.

Selain itu, Soft skill terkait komunikasi, critical thinking, kreativitas, kolaborasi, dan entrepreneurship juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Soft skill bagaikan batin dalam tubuh manusia yang mengontrol keberlangsungan kehidupan. Dalam hal ini terkait hard skill.

Kedua yaitu angkatan kerja. Tenaga kerja produktif di era bonus demografi sangat melimpah, oleh karenanya untuk mengantisipasi adanya pengangguran maka pemuda sekarang dituntut untuk berjiwa entrepreneur yang berdampak positif bagi masyarakat atau biasa dikenal dengan sociopreneur. Lapangan pekerjan merupakan wadah untuk mengimplementasikan skill yang diperoleh dari bangku instansi.

Selanjutnya yaitu engagement atau partisipasi. Partisipasi pemuda pada tahun 1928 untuk mendeklarasikan sumpah pemuda merupakan landasan munculnya tonggak perjuangan pemuda hingga sekarang. Peran pemuda untuk ikut serta memajukan bangsa ini, sangatlah dibutuhkan.

So, what we can do for Indonesia? Sekarang saatnya kita mengambil peran untuk memaksimalkan bonus demografi yang sudah di depan mata. Menghidupkan kembali semangat sumpah semuda melalui prestasi dan kegiatan bermanfaat. Selain itu, peran dari pemerintah juga sangat dibutuhkan sebagai otak penggerak berbagai sektor bagi kemajuan Indonesia.

Tapi, kita juga harus terus melakukan usaha yang serupa, meningkatkan skill dan terus berinovasi sesuai dengan bidang dan bakat. Kita sebagai pemuda jangan takut untuk menjadi agent of change. Bergerak bersama sebagai bagian dari perubahan, melalui kegiatan yang bermanfaat. Mari kita berpartisipasi menyongsong bonus demografi untuk Indonesia yang lebih gemilang.


sumber gambar: Hipwee.com

Bencana dan Tuduhan-Tuduhan

Sesaat setelah gempa dan tsunami mengguncang Palu dan Donggala, ruang-ruang sosial media kita kembali riuh dipenuhi prasangka dan justifikasi politis mengenai penyebab gempa dan tsunami Palu yang sangat tidak substantif.

Terhitung ada dua topik yang paling menyedot perhatian dunia maya. Yang pertama yakni status seorang wanita yang diketahui merupakan warga palu yang menuliskan status di laman facebooknya “Biar gempa mogoyang palu, eykeer tetap pilih Pa dee”. Topik yang kedua yakni penetapan tersangkanya seorang Sugik Nur atau yang sering disebut Cak Nur atau Gus Nur.

Topik yang pertama tentunya akan sangat debatable bila ditampung pada ruang-ruang linguistik dan keilmuan lainnya. Namun bila dihadapkan pada ruang-ruang politis, maka pemaknaan itu pun akan langsung terpolarisasi pada pemahaman bahwa wanita tersebut tak akan surut dukungannya pada paslon tertentu meskipun bumi diguncang gempa.

Bahkan secara sempit akan ada dua variabel yang menjadi sasaran justifikasi sepihak para netizen kubu tertentu. Yang pertama pada term “Biar gempa mogoyang Palu” yang kedua pada terma “Tetap pilih Pa dee atau pak Dhe”. Pada term pertama, wajar bila terjadi silang pendapat apakah istilah ini merupakan bentuk kiasan keteguhan hati terkait dukungan politik seperti pada lirik lagu Kebyar-kebyar yang juga mengatakan “Biarpun bumi bergoncang kau tetap Indonesiaku” atau apakah memang term ini sebagai bentuk tantangan agar diturunkan gempa olehNya? Term pertama ini sangatlah debatable.

Yang menjadi keheranan adalah ketika term pertama ini dikaitkan dengan sosok pada term kedua yakni “Pak Dhe” yang  merupakan salah satu paslon capres dan kemudian dijustifikasi bahwa dukungan pada diri dan rezimnya adalah sumber bencana.

Pada topik yang kedua, penetapan status tersangka pada Sugi Nur yang oleh salah satu organisasi dijadikan sebuah landasan pokok bahwa hal inilah yang dijadikan dasar oleh Allah menurunkan gempa dan tsunaminya di Palu.

Melihat topik yang kedua ini, wajarlah kita cenderung khawatir dengan semakin maraknya politisasi bencana oleh beberapa oknum yang pada hakikatnya telah mengubah esensi dari bencana yang merupakan peringatan Allah kepada manusia yang hikmahnya dikembalikan pada diri pribadi dan masyarakat kita.

Namun itu kini menjadi sebuah alat legtimasi untuk menjustifikasi bahwa kubu tertentu diisi oleh orang-orang suci yang mutlak benar dan kubu yang lainnya diisi oleh orang-orang jahat, mutlak salah dan sumber bencana. Kedua topik diatas telah menggambarkan perilaku politik sebagian oknum yang cenderung semakin beringas dan abai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Yang menambah kemirisan kita adalah kedua topik diatas seolah diamini oleh banyak warganet dan alhasil ruang sosial media kita pun dipenuhi oleh banyak orang yang tiba-tiba menjadi wakil Tuhan untuk mengumumkan kepada segenap umat manusia bahwa karena si Fulan inilah dan si Fulan itulah Tuhan turunkan bencana di bumi ini.

Berlepas dari topik-topik diatas, kita juga patut mengamati bahwa setelah gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, muncul pula beberapa argumen yang seolah-olah mencari-cari keburukan dan dosa-dosa yang dilakukan oleh orang-orang Palu.

Isu pesta LGBT hingga festival adat dan budaya yang oleh sebagian pihak disebut sebagai sumber kemusyrikan dianggap menjadi pemicu kemarahan Tuhan kepada warga Palu. Di sini seolah-olah Palu dan warganya didudukkan sebagai subjek sekaligus objek utama penyebab bencana yang terjadi.

Sebagai seorang yang beragama yang betul-betul percaya terhadap hak prerogatif Tuhan dalam menurunkan bencana bagi mereka yang lupa jalan-Nya, kita patut meyakini bahwa memang dosa-dosa dan kemaksiatan kitalah yang turut mengundang bencana, namun apabila kita menjadikan kedua isu tersebut sebagai justifikasi keburukan orang-orang Palu semata, dan mengabaikan keburukan dan kemaksiatan di sekitar daerah kita sendiri.

Nampaknya ada sebuah justifikasi sepihak di situ. Maka kemudian, dalam hal ini saya cenderung lebih memilih untuk berhudznushan (berprasangka baik) bahwa orang-orang Palu adalah orang yang baik dan dekat dengan Tuhan. Ia menurunkan bencananya di Palu sebagai bentuk sampel teguran bagi kita semua di daerah-daerah lain yang cenderung masih aman, namun enggan untuk semakin dekat kepada-Nya.

Tuhan mungkin memilih Palu karena Tuhan tahu mereka adalah orang-orang yang tabah. Maka mungkin kita bisa menganggap bahwa saudara-saudara kita di Palu adalah para martir yang menjadi wakil dalam menanggung dosa-dosa kita semua.

Terakhir, ketimbang menganggap bencana ini sebagai hukuman bagi orang-orang Palu, saya secara pribadi lebih melihat bahwa bencana ini adalah bentuk teguran Tuhan bagi kita semua di Indonesia terkait bagaimana kita menggunakan anugerah ilmu dan pengetahuan yang diberikan Allah untuk kita. Karena penting untuk diketahui bahwa sejak 1927, tercatat bahwa sebenarnya daerah Sulawesi Tengah sudah mengalami 11 kali bencana gempa dan tsunami, bahkan pada 14 Agustus 1938, tsunami setinggi 8-10 meter pernah menerjang Teluk Bambu, Kecamatan Balaesang, Donggala yang menelan 200 korban jiwa yang pada saat itu merupakan jumlah yang sangat besar  mengingat masih rendahnya tingkat kepadatan penduduk.

Bahkan pada tahun 2012 lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalu Badan Geologi sudah mempublikasikan riset mengenai potensi likuifaksi di daerah Palu yang ajaibnya justeru diabaikan oleh pihak pemerintah yang malah menjadikan daerah-daerah yang terdeteksi sebagai area likuifaksi ini sebagai area pemukiman padat penduduk yang dari sisi investasi memang sangat menggoda.

Maka lagi-lagi, daripada sekedar melihat semua bencana ini sebagai satu tuduhan sepihak saja mengenai dosa-dosa orang-orang Palu, saya lebih cenderung untuk melihat bahwa Tuhan mungkin marah dengan abainya kita terhadap berbagai peringatan yang telah diturunkannya sejak 1927.

Tuhan mungkin kecewa melihat betapa kita menyia-nyiakan anugerah ilmu pengetahuan mengenai lempeng, sesar, patahan, gempa, tsunami dan likuifaksi yang diturunkannya pada kita semua. Kita terkesan hanya membangun unuk kembali menghancurkannya kelak di kemudian hari.

Maka sungguh tidak bijak, bila semua bencana ini hanya selalu berhenti pada sisi teologis saja, sementara Tuhan pun dalam kitab sucinya pertama kali memerintahkan kita untuk iqra, membaca dan menggunakan semua ilmu dan pengetahuan kita untuk berjalan selaras dengan alam.

Ilustrasi: http://makassar.tribunnews.com/2015/07/06

Dialog Imajiner Heraclitus dengan Daeng Pete-pete

Ada yang terasa berbeda tempo hari, sepanjang perjalanan, Daeng sopir pete-pete sepi penumpang. Daeng memalingkan kepala ke kanan ke kiri, tatapan yang presisi ke setiap sudut jalan, berharap ada penumpang yang tampak dan terlihat. Malang benar, hampir sampai pada titik akhir terminal kota, tak satu pun penumpang yang bertambah, hanya aku seorang yang ada dalam pete-pete di sepanjang perjalanan.

***

Situasi di atas kontras sekali dengan pemandangan 5-10 tahun yang lalu. Saya telah menjadi pelanggan setia pete-pete sejak SD di Bone. Jarak dari rumah saya ke sekolah sekitar 9 km, butuh jasa pete-pete untuk “memanjangkan” kaki saya sampai di sekolah. Masa SMP – SMA. Saya pindah ke Bantaeng, tepatnya di Kelurahan Tanah Loe. Jarak rumah ke sekolah berkisar 14 km. Lagi-lagi butuh jasa pete-pete untuk memudahkan akselerasi saya. Bahkan awal-awal mau kuliah di Makassar pun, saya masih sempat menikmati jasa pete-pete.

Kala itu, Daeng pete-pete berada di puncak kejayaan, kita anak sekolahan kadang kala dicuekin sama daeng pete-pete, gara-gara bayarnya dikit dibandingkan orang dewasa. Daeng pete-pete kadang seenaknya menurunkan saya dan penumpang lainnya di jalan, walaupun belum sampai ke tempat tujuan, karena ingin berbalik arah dengan penumpang yang lebih banyak. Tapi ada suatu hal yang membanggakan bagi saya.

Daeng pete-pete waktu itu sering kali mendapat posisi yang terhormat. Tak jarang banyak Daeng yang mendapatkan bunga desa, karena pada waktu itu, memiliki menantu Daeng Pete-pete adalah sebuah kebangaan. Tapi itu dulu, entah apa gerangan, puncak kejayaan itu perlahan-lahan runtuh dan luntur, daeng pete-pete kadang meringis tidak mendapatkan penumpang.

***

Sekitar 2 km lagi akan sampai di terminal kota. Di depan ada persinggahan. Daeng pete-pete’ mampir sejenak untuk sekadar merokok, sambil berharap ada penumpang yang datang. Waktu itu tiba, ada penumpang yang naik dan langsung duduk di bagian depan, pas di samping Daeng pete-pete, tiba-tiba orang itu nyeletuk. ”Hai, Daeng, namaku Heraclitus, saya tinggal di Bisappu,” ucapnya. Senyum si Daeng tampak merekah, sambil berucap “Iye’ Hera, mau ke terminal jiki’ toh?” Heraclitus merespons dengan hanya menaikkan keningnya.

Sepanjang perjalanan terjadi percakapan yang intens anatara Heraclitus dan Daeng pete-pete.

Daeng: Di mana ki’ di Bissappu, Pak? Jarang-jarang ki’ kulihat, padahal saya sering antar penumpang di sana.

Hera: Baru ka’ memang lagi sekarang di Bisappu, saya dulu lama ka’ di Epheus, Turki, sekitar 2000 tahun yang lalu.”

Daeng: Terlalu tongi becandanya ini Bapak, di mana sedeng dibilang Epheus, di sebelah mananya Makassar? Dari 2000 tahun lalui bede’ di sana, jangan ki’ terlalu kalau bercanda, Pak!

Hera cuma meresponsnya sambil tertawa, dan melanjutkan percakapan.

Hera: Kenapa sedikit sekali penumpang ta’, Pak? Dua orang ji ini di dalam pete-pete.

Daeng: Sepi sekali penumpang sekarang … (ucapnya lirih). Tidak sama mi beberapa tahun yang lalu, susah mi dapat penumpang, ada semua mi motornya orang, ada mi juga ojek online, mobil online, banyak mi macam-macamnya, ndak kutahu kenapa bisa begini sekarang!

Hera: Bagaimana memang waktu jaman jaman dulu, Daeng?

Daeng: Dulu, penumpang di mana-mana, keluar ta’ kasi’ jalan mobil banyak mi penumpang, dulu anak sekolah ndak mau jiki’ ambil i, ka sedikit ji na-bayar, sekarang di tunggu i mi anak sekolah di depan gerbangnya, kayak jadi miki’ sopir pribadinya anak sekolah, ka dia mami bisa diangkut, yang lainnya, ada semua mi motornya masing-masing. (Sambil menghel napas, si Daeng melanjutkan pembicaraan). Dulu, Mama’ na, Mama’nya anak-anak, gadis tercantik di desanya, sekali tunjuk ji mau mi sama saya, saking berkharismanya Daeng Pete-pete  waktu itu.

Hera: Kenapa memang sekarang, Daeng?

Daeng: Sekarang, mustahil mi Daeng Pete-pete dapat bunga desa, mustahil mentong mi. Sekarang serba susah mi Pak Hera, kurang sekali mi penumpang. Dulu, kalau penumpang turun dari pete pete, tidak lupa I bilang “Terima kasih, Daeng”, sekarang tidak ada mi, biar terima kasih susah tong mi didapat.

Sambil tertawa pak Hera, menaikkan kaki pada jok mobil, kali ini dia tampak angkuh sekali.

Hera: Eee Daeng! Kita lihat ji air yang mengalir di bawah jembatan Lamalaka? Hari ini, coba kau lompat di situ, besoknya coba kau lompat lagi, apakah air yang membasahi tubuhmu hari ini sama dengan air yang membasahi mu besok? Begitu tong ji juga dengan kehidupan, lain dulu lain sekarang, lain bolu lain cakalang  (dia berucap sambil tertawa).

Daeng: Nassami tidak iya, Pak Hera, tapi sopan-sopan tong miki’ kalau ngomong ki’  (Si Daeng kelihatan murka).

Walaupun agak jengkel dengan sikap Pak Hera, si Daeng tampak penasaran dengan Pak Hera

Daeng: Bagaimana mi pale saya ini, Pak Hera? harus ka’ demo ke Pak Bupati soal itu ojek online supaya nabuatkan ki’ aturan, ka bagus tongi kalau banyak penumpang bela.

Hera: (Sambil tertawa menepuk kaca jendela mobil). Daeng, hidup itu adalah perang, alias assibakjiang, dan pertentangan itu ada di kehidupan dan sebuah keniscayaan, pertentangan- pertentangan inilah yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berguna.

Daeng: (Dengan nada heran si Daeng menatap Pak Hera) Gila alias pongoro’ mi anne Pak Hera, mana ada perang dan pertentangan membuat sesuatu tumbuh dan berguna?!

Hera: (Mata Pak Hera melotot memandang si Daeng) Perang kebaikan dan keburukan itu adalah pertentangan, tapi satu kesatuan. Sebagai contoh, kalau robek jidat ta’, pergi ki’ ke dokter untuk nasembuhkan ki’, caranya dengan nabuat ki’ sakit, najahit dan nabedah kepala ta’, namintaki ki’ lagi uang upah, itu semua nabuat ki’ sakit, tapi ada akhirnya nasembuhkan jiki’. Satu lagi contoh. BPJS, itu mempunyai dua sisi, kebaikan dan keburukan, kebaikannya adalah bisa ki’ berobat pada saat sakit berat maupun ringan, tapi di saat yang sama keburukannya adalah harus ki’ membayar tiap bulan untuk biaya asuransinya! Tapi… satu ji yang ingin kusamapikan Daeng, pertentangan itu hadir untuk memberikan harmoni, jadi santai miki’, dunia ji ini!”

Daeng: Bingung ma juga mau bagaimana Pak Hera, setiap malam berdoa ma sama Dewata e, bagaimana supaya dimudahkan ini hidupku kodong, Tapi… dibalas dengan Tuhan dengan kondisi seperti ini ji…. (berucap dengan nada lirih).

Hera: (Si Hera cuma tertawa ke arah si Daeng, tak nampak sekali ada rasa sedih atau iba mendengar curhatan si Daeng) Ee Daeng, Tuhan menghargai manusia yang bertarung dalam kehidupannya. Bagi kita melihat perang ini adalah sesuatu yang tidak wajar, tapi bagi Tuhan mungkin tidak seperti itu, ini dispensasi atas segala kejadian, dan menghasilkannya sebagai suatu harmoni.

Daeng hanya mengangguk, entah dia bingung atau mengerti.

Hera: Beberapa abad yang lalu, manusia bertarung untuk mengisi perutnya, kebanyakan orang-orang kelaparan, tapi lihatlah manusia modern sekarang, mereka bertarung melawan kegemukan, itu contoh pertentangan! Beberapa tahun silam sebelum dokar, bendi, yang biasa mengantarkan para ibu ke pasar, dengan kehadiran pete-pete, berhasil menggilas dokar-dokar itu, lalu mengapa kau mengeluh dengan apa yang terjadi pada dirimu saat ini? Dulu kamu menggilas  dokar-dokar itu, sekarang kamu digilas dengan ojek online dengan teknologi yang mumpuni itu. Pertentangan itu hal yang lumrah terjadi di bumi ini, Daeng. Apa yang perlu kau ratapi?

Daeng: Iye’, iye’… Jadi, sampai berapa lama mi ojek teknologi itu akan bertahan di puncak singgasana?

Hera: (Tampak serius menjawab pertanyaan si Daeng) Hidup itu mengalir seperti sungai, lihat ojek online itu, dia menjemput pelanggan di mana pun dengan titik presisi yang tinggi, bahkan kalau bisa, menjemputmu tepat di depan kamarmu, orang-orang di Indonesia itu miskin dan malas untuk bergerak, tempo hari ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang Indonesia itu sebagai orang yang malas bergerak, dan itu bisa berefek pada metabolisme kesehatan tubuh, mencetak orang-orang gemuk dan penyakitan, saya meprediksi, ke depannya akan mucul pete-pete dengan fasilitas fitness di dalamnya” (setelah berucap dia tertawa).

Daeng: Mau miki sampai di terminal kota ini Pak Hera, kalau bisa ki’ bayar lebih supaya ada pembeli bensinku kodong.

Hera: Sorry mami ini Daeng, tidak ada uangku ini, tapi ada ji ini oleh-oleh mau kukasikan ki (Sambil menarik dua lembar kertas dari tasnya, ia nampak menulis sesuatu). Ini ada jimat, satu lipatan kertas ini untuk kamu, dan satunya lagi untuk istrimu di rumah. Ini mi baca saja terus yakin ka akan nada nanti sesuatu yang besar dalam hidupmu datang.

Setelah memberikan dua pucuk lipatan kertas, Pak Hera beranjak dan meninggalkan pete-pete itu, entah ke mana dia akan melangkah setelahnya.

Sementara Daeng tampak berhati-hati membuka surat itu, dia tampak penasaran sekali tentang isi lembaran kertas itu, maka dibacanya lah “The hidden harmony is better than visible”. Si Daeng tampak bingung.

Daeng: Baca-baca dari mana mi ini, tareka’ dari mana mi ini Pak Hera, kenapa barusannya ada baca-baca susah sekali diucapkan.

Tak lama di Terminal Kota, si Daeng langsung beranjak kerumahnya, ia ingin langsung menemui istrinya dan menceritakan pengalamannya bertemu dengan pak Heraclitus. Amanah berupa sepucuk lembaran kertas, tak lupa diberikan untuk istrinya. Walaupun minim pemasukan hari ini, pertemuannya dengan pak Heraclitus tetap merupakan sebuah berkah baginya. Setelah sampai, sepucuk kertas itu diberikan, dengan penasaran istrinya membuka kertas itu dan membacanya “Immortals are mortals, mortals are immortals, living their death, dying their life”. Setelah membacanya, sang Istri tampak cemberut dan merobek kertas itu sambil berkata, “Tidak butuh ja’ kertas kertas begini, apa lagi baca baca (mantra), mana uang mu sekarang!, mauka’ beli ikan!”

Dari Calistung ke Literasi

Literasi, apa sih itu? Kok begitu santer didengungkan dan digaungkan, sekarang ini? Apatah lagi, pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui permendikbud tentang gerakan literasi ini. Ada, Gerakan Literasi Nasional ( GLN) Gerakan Literasi Sekolah ( GLS), Gerakan Literasi Masyarakat ( GLM) dan Gerakan Literasi Keluarga (GLK). Selengkapnya bisa dibaca pada permendikbud nomor 23 tahun 2015. Tentang penumbuhan budi pekerti.

Apa? Literasi itu berkenaan dengan huruf, baca, dan tulis? Ya, memang arti sederhanya seperti itu, literasi, berarti melek huruf, suka membaca dan menulis.

Lha, kan selama ini sudah ada program pemberantasan buta aksara. Yaitu program pemberantasan buta huruf masyarakat. Agar bisa membaca, menulis dan berhitung. Jika dengan demikian, buat apa lagi, ada program gerakan literasi. Program pemerintah yang lalu itu, tidak berhasil, atau supaya tampak lebih keren ya? Makanya istilah yang dipakai juga berubah.

Tunggu dulu. Jangan berpikiran negatif dulu lah. Program gerakan literasi ini hadir, memang bukan tanpa sebab. Di antaranya, hasil survey yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga survey, menyatakan bahwa, bangsa Indonesia, minat baca tulisnya masih sangat rendah. Jika dipersandingkan dengan negara-negara lain. Misalnya, Finlandia, Jepang, atau Malaysia. Sementara, salah satu kategori, sebuah bangsa atau negara dianggap sudah maju, jika literasinya juga sudah meningkat dan maju.

Terus bagaimana dengan program pemberantasan Buta Aksara?

Nah, program itu, sudah dianggap berhasil. Pemerintah dianggap berhasil menekan angka masyarakat yang buta huruf. Oleh karena itu, program ini perlu ditingkatkan lagi. Terlebih tantangan kehidupan, juga semakin banyak dan beragam. Itulah sebabnya, kebijakan yang diambil adalah dengan program gerakan literasi ini.

Hah? Sesederhana itu kah? Apa hubungannya, literasi dengan pemecahan masalah kehidupan?

Sabar ya, akan diperjelas dengan lebih sederhana. Pada intinya, pengetahuan yang diperoleh harus bisa berguna, berfungsi dalam kehidupan kita. Demikian pula halnya, pengetahuan calistung, yang dianggap menjadi syarat seseorang dianggap sudah bebas buta aksara.

Nah setelah mengetahui calistung, seseorang bisa memanfaatkannya, menggunakannya dalam kehidupan sehari-harinya. Atau dengan kata lain, ketika kita sudah membaca buku, ada pelajaran atau hikmah yang bisa kita jadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Baik secara teoritis maupun teknis. Baik langsung maupun tidak langsung.

Karena seringnya kita bersentuhan dengan buku, lalu membacanya. Maka, makin kayalah kita dengan jalan keluar yang bisa diambil. Atau lebih sederhananya. Bila ilmu itu tidak dipakai, tidak difungsikan. Ibarat pohon yang tanpa buah.

Terlebih lagi, bahwa literasi sekarang ini banyak ragamnya. Bahkan menulis dan membaca hanyalah salah satu bagian dari literasi yang lainnya. Literasi baca tulis ini, merupakan pintu pertama memasuki dan mengenali jenis literasi lainnya.

Lalu mengapa perlu ada GLS? Bukankah memang demikian lembaga pendidikan, menjadi tempat berpijaknya literasi?

Inilah yang jadi problem pendidikan kita saat ini. Memang di sekolah, peserta didik setiap hari di sekolah bergaul dengan huruf-huruf, angka-angka, buku-buku dan pena. Tetapi itu belum bisa dianggap sebagai tanda kemelekan literasi.

Apalagi, jika belajar hanya untuk dapat nilai raport dan ijazah. Belajar melum menjadi kebutuhan pokok bagi jiwa atau rohani. Belajar baru menjadi sebatas kewajiban yang harus digugurkan.  Tak heran bila belajar dilakukan dengan tanpa kenikmatan dan kekhusyukan. Pembelajaran belum memiliki makna, yang bisa menjadi solusi dan pembuka jalan bagi problem yang terjadi.

Pun, paradigma pendidikan kita masih parsial, terkotak-kotak belum terintegrasi, universal dan holistik.

Lihatlah misalnya, pemilihan jurusan eksakta lebih diminati oleh peserta didik dibanding ilmu-ilmu sosial. Padahal paradigma yang dikotomi tersebut, sudah harus ditanggalkan dan dibuang jauh. Setiap cabang keilmuan bisa dimainkan perannya masing-masing, tanpa melihat dan memandang, bahwa jurusan yang satu lebih superior dibanding jurusan yang lainnya.

Fenomena lain, adalah menurunnya minat dan daya baca peserta didik terhadap buku. Hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah siswa yang berkunjung ke perpustakaan sekolah. Atau siswa yang membaca buku saat jam istirahat, saat gurunya berhalangan mengisi jam mengajar. Lebih banyak siswa senang ke kantin, nongkrong dengan  HP, atau bergosip.

Siswa mau menyentuh buku, saat belajar di kelas. Itupun yang dibaca hanya buku teks mata pelajaran. Sementara buku nonteks, buku pengayaan, novel, puisi dan yang lainnya, bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Jika tak mau mengiyakan istilah yang dipakai, bapak Taufiq Ismail, tragedi nol buku.

Tetapi, fenomena “negatif” saya sebutkan di atas, tidak seharusnya dan semestinya ditimpakan seluruhnya pada siswa, peserta didik.

Jika peserta didik atau kaum pelajar ini lebih tertarik ke kantin, nongkrong dengan HP, tinimbang berkunjung ke perpustakaan, berarti kantin dan hp lebih menarik daripada perpustakaan atau membaca buku.

Jadi solusinya, bagaimana?

Waduh, kalau soal solusi, berarti sudah masuk ke inti dan pembicaraan pamungkas ya.

Hadirnya gerakan literasi ke sekolah, ke masyarakat, ke keluarga adalah salah satu upaya untuk merevitalisasi kesukaan kita pada buku, pada membaca atau menulis. Demikian pula, dengan menjadikan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan yang dapat diaktualisasikan delam kehidupan sehari-hari. Kata para filosof, dari mengada lalu menjadi.

Seluruh stakeholder mulai dari bawah sampai atas, atau sebaliknya. Perlu memikirkan dan membuat sebuah terobosan yang bisa membuat anak-anak kembali berminat dengan buku.

Membuat fasilitas perpustakaan yang menarik dikunjungi, penataan buku yang lebih fresh dan gaul. Pun isi perpustakaan, perlu diperhatikan.

Jangan sampai kita berpikir dan memvonis anak-anak tidak suka membaca, padahal ketersediaan buku, dan fasilitas yang memang tidak membuat mereka tertarik untuk membaca. Atau bahkan buku yang mau dibaca, masih minim.

Kegiatan kepustakawanan juga perlu lebih variatif. melibatkan mereka, sebagai salah satu bagian dari subjek pendidikan. Misalnya membuat lomba yang bernuansa buku. Buat kegiatan pengembangan diri di perpustakaan, berdiskusi, membuat kreasi, kerajinan tangan, atau apa pun itu. Yang bisa membuat mereka tertarik dan nyaman berada di lingkungan tersebut. Atau dengan kata lain, program yang edukatif-rekreatif. Belajar yang menyenangkan.

Akses buku di tengah-tengah masyarakat juga harus dipermudah dan didekatkan aksesnya. Urusan pengadministrasian, boleh diperlonggar sedikit, jika hal yang berbau administrasi, dianggap menghambat, masyarakat mendekat merapat dengan buku.

Jika kita mengeluhkan anak-anak kita malas membaca saat di rumah, maka perlu dilihat, apakah di rumah kita ada perpustakaan keluarga? Atau rak buku yang berisi buku-buku yang menarik untuk dibaca?

 

Ilustrasi: https://ru.kisspng.com/kisspng-nlde5c/preview.html

 

La Tahzan

Saudaraku,  pernahkah kau berjumpa dengan pipi yang tak pernah basah oleh airmata?

Juga rumah yang tak pernah ada duka di dalamnya?

Pernahkah kau berjumpa dengan seseorang yang tak pernah marah?

Juga hari yang tak Nampak cahaya matahari di dalamnya?

Dan telah nyata bagimu bagaimana Kami berbuat terhadap mereka dan telah kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan” (QS Ibrahim: 45)

 

Anehnya,  bagaimanapun besarnya hal yang menimpa kita, tak akan ada yang setega itu menyalahkan Tuhan. Tak ada yang benar-benar berani menghujat,  meraung-raung mempertanyakan  mengapa ‘ini harus terjadi’,  atau juga ‘mengapa harus kami’. Semua hal  besar yang terjadi dan mengambil harta,  nyawa, serta kekuatan kita pada akhirnya,  akan dipersalahkan kepada tangan-tangan manusia. Karena rumput yang bergoyang pun tak ingin menjawab,  maka kenyataan ini mungkin benar.

Manusia,  kapankah akan datang sejahteranya? Justru aneh kalau kita tanyakan kapannya karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Bumi adalah tempat kita mengais-ngais rejeki, sambil menikmati ujian dan cobaan yang berganti. Suka diganti duka,  naik diganti turun,  kanan diganti kiri,  miskin diganti kaya,  sehat diganti sakit dan macam-macam pergantian lainnya.

Berapa banyak orang kaya yang kehilangan uangnya dalam satu kedipan mata?

Berapa banyak orangtua yang merana karena dibunuh anaknya?

Berapa banyak manusia yang marah karena dipenjara?

Berapa banyak manusia yang mengeluh kesakitan karena tak bisa bicara?

Banyak.

Jangankan mereka,  cerminlah pada diri sendiri. berapa banyak yang bahagia hatinya 2 jam yang lalu,  dan kemudian menjadi berduka-duka di 2 jam setelahnya. Berapa banyak yang marahnya setengah mati,  lalu berganti menjadi tertawa berikutnya. Memang dunia ini bulat adanya,  dan sifatnya pun demikian. Terbolak-balik juga kita yang hidup didalamnya.

Syahdan,  mengenai hal ini telah jauh-jauh hari Allah menjaminkan bahwa tidak ada sedih yang kekal,  juga tidak ada bahagia yang tetap tinggal. Yang fana adalah rasa dan yang kekal hanyalah Dia.

Apapun hal yang dicipta olehNya,  suatu hari pada hari yang kembar akan pergi jua. Tua,  lapuk,  usang dan mati. Apapun hal yang dicipta olehNya,  suatu hari akan merasakan kesulitan yang tiada tara hingga ia kembali kepada Tuhan dengan keadaan bersih dari dosa-dosanya. Perniagaan yang menguntungkan bukan?

Namun bagi kita yang telah silau dengan hias-hiasan dunia,  tentu mendengar kalimat tersebut justru tidak melegakan. Hati masih saja waspada dan senantiasa diliputi sedih. Kita masih urung percaya dengan perniagaan ini. ‘Rela, sabar dan ikhlas di beri cobaan di dunia,  hingga pulang ke kampung akhirat dalam keadaan bersih dari dosa-dosa masa lalu’,  adakah yang benar-benar mau?

Masih banyak yang tak rela rumahnya di sapu Tsunami. Masih banyak yang tak sabar anaknya tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan. Masih banyak yang tak mau badannya  memakai pakaian yang biasa-biasa. Masih banyak yang dilema di dalam hati akankah Tuhan benar-benar ganti?. Akankah Tuhan benar-benar ganti? Akankah saya benar-benar ikhlas dan Nrimo?

Padalah sudah jelas kita berjanji bahwa saya hanya akan menjadikan Dia sebagai satu-satunya Ilah,  disaksikan oleh  langit bumi beserta segala isinya.

Dengan menyatakan itu,  serta merta pula raga dan jiwa sangat siap dengan yang namanya kehilangan,  karena semua hanya milikNya dan kapan-kapan jika ia mau ambil itu terserah Dia.  Dengan menyatakan itu,  serta merta kita berjanji akan tetap percaya dan setia menyembahNya walau diri berdarah-darah kelaparan. Dengan mengambil janji seperti itu,  manusia telah bersikukuh dan wajib hukumnya untuk tunduk dan patuh hanya kepada satu hal yang paling Akbar kekuasaan dan kebaikannya,  yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Sakit? Tentu. Penulis sendiri mungkin orang yang paling pertama melanggar janji. Tidak sabar dan berduka jika mengalami kehilangan.

Takut? Mesti. Penulis sendiri tak pernah mau membayangkan jika suatu saat nanti harus hidup di tengah-tengah orang yang sedang perang sana-sini.

Lapar? Ya. Penulis sendiri tidak pernah membayangkan bagaimana harus menanggung pedihnya lapar dahaga dan hanya  rumput yang bisa dimakan.

‘dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin’ (QS Luqman : 20)

‘maka nikmat Rabb yang manakah yang kamu dustakan?’ (QS Rahman : 13)

Diri kita benar-benar berada pada kehinaan di saat tidak pernah bersyukur karena diberikan kaki yang bisa berjalan sendiri,  dimana banyak sekali manusia yang meraung-raung minta di beri kesembuhan pada kakinya yang lumpuh

Tahukan kita bahwa tak pernah ada  manusia yang paling rendah dari dia yang tidak pernah mensyukuri amannya Negara sendiri dari serangan makhluk-makhluk perusak bumi lainnya,  di saat Palestine hanya tinggal sisa-sisa.

Anak-anaknya terkapar kelaparan

Bapaknya merana kehilangan kaki dan tangan

Wanita-wanitanya tak punya lagi kehormatan

Dan apa yang mereka-mereka teriakkan?

barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji olehNya’ (Al-Hadits)

Juga mereka melanjutkan

‘dan cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi Petunjuk dan Penolong’ (QS Furqan : 31)

Bisakah kita melapangkan hati seluas itu untuk sabar terhadap ujian?

Meskipun itu beruntun dan seperti saling berkejaran,  bisakah kita ikhlas melepas kehilangan?

Bisakah kita menyiapkan hati untuk senantiasa bertubat dan bersyukur untuk hari ini? Melupakan masa lalu yang mungkin sangat pedih untuk diingat dan menatap hari yang masih sangat berpeluang untuk kita goreskan kebaikan di dalamnya? Bisakah kita hanya percaya kepada Allah dan menyerahkan semua diri dan jiwa hanya kepadaNya,  tunduk dan patuh pada perintahnya, ridha dengan segala ketetapanNya dan juga berbaik sangka kepadaNya?

Bahwa kesabaran Nabi Ibrahim dapat mengubah panasnya api menjadi dingin dan sejuk. Apalagi jika hanya meluluhlantakkan kekasaran hati?

Bahwa berprasangka yang baik kepadaNya hanya akan melahirkan jiwa yang terus terisi dengan kebaikan-kebaikan. Apalagi jika itu hanya mengembalikan harta melimpah?

Bahwa bertawakkal kepadaNya dapat memberikan perasaan untuk selalu merasa cukup akan kehadiranNya. Alapagi jika itu hanya menyembuhkan dari bencana?

Saudaraku,  Hari esok itu belum terjadi dan mari membuatnya lebih baik. Hingga Dia..

‘lalu,  menurunkan ketenangan atas mereka’ (QS Al-Fath : 18)

 

Bahasa Alam (2)

Tubuh alam kadang menjadi hal yang terabaikan begitu saja. Suatu yang ironis, karena kita tiap hari didekap erat. Denyut nadi hidup kita ada di dalam dekapan alam. Alam berkasih sayang dengan ikhlas.

Saat ia tergores akan muncul reaksinya. Walau begitu ia tidak bergegas menumpahkan amarahnya. Kalau hutannya digunduli, tanah di sekitarnya akan diam-diam mengagetkan pembalak atau pemukim di sekitarnya. Sebaliknya, keluarga kita ini sangat bersahabat jika diperlakukan dengan baik. Ia akan memberikan semua tanda-tanda tentang hal-hal yang akan terjadi padanya.

Dahulu banyak cerita di tengah masyarakat tentang air laut berdiri. Ia adalah pemandangan yang indah ditonton oleh warga dari atas bukit. Ombak yang tingginya sampai belasan meter itu seakan berdiri lalu menyapu dataran rendah mulai dari estituaria hingga tepian kaki kars. Mengamuk namun enak ditonton karena di sana ia dihadapi oleh tebalnya hutan bakau. Bakau hancur, perumahan yang sudah ditinggalkan lebih dahulu penghuninya itu hanya bergeser sedikit. Air laut berdiri itu tak lain adalah tsunami.

Dihantam tsunami, hewan dan ikan tidak satu pun terlihat di tepi pantai. Sepertinya mereka amat paham apa yang sesungguhnya akan terjadi. Mereka mengikuti irama alam ini sambil tetap hidup di habitatnya dengan tenang. Manusia sajalah yang justru mengalami korban jiwa walaupun pun masih sangat sedikit. Kasus Palu dapat diambil sebagai contoh. Tercatat ada 12 orang meninggal dalam bencana air laut berdiri di Palu pada tahun 1927 dan 200 orang pada tahun 1968.

Tatkala lanskap pemukiman berubah cepat, sepertinya reaksi alam mulai berubah. Banjir, longsor, dan abrasi serta macam-macam bencana mucul menjadi ancaman. Perilaku alami bumi tetap berlangsung. Mungkin saja bukan reaksi alam namun dilihat sebagai bencana karena sudah menelan korban jiwa. Banyak bahasa alam yang mulai dilupakan manusia.

Penduduk menggenjot pertumbuhan ekonominya dengan mengubah banyak sekali kenampakan alam. Hutan bakau dibabat habis. Di sana didirikan pemukiman. Sebagiannya digunakan untuk pertanian demi keperluan industri. Pemukiman berjejer menghadap laut yang menganga tanpa masker. Tatkala gempa mengguncang warga menghadapi reruntuhan batu. Batu yang jadikan dinding tak diikat dengan sistem –dinding- yang baik. Semua itu karena perhitungan ekonomi yang berbeda dengan bahasa alam.

Kala pemukiman didirikan di daerah rentan kejadian alami seperti gempa, maka sebenarnya sudah ada konsekuensi yang harus ditanggung tanpa tawar-menawar. Sayangnya, kemampuan kita itu mamahami bahasa alam ini sangat kurang.

Palu pada tahun 1927 mulai menuai akibat buruk itu. Gempa mengguncangnya pada 6 SR. Ribuan orang menjadi korban, belasan meninggal dunia karena air laut berdiri itu. Gempa yang lebih kuat terjadi lagi pada tahun 1938 pada magnitudo 7,6. Kali ini kian meluas ke wilayah sekitarnya.

Kali ini dengan magnitudo yang hampir sama, Kota Palu berantarakan lagi. Ia menjadi kota mati dalam hitungan beberap menit saja.

Ada yang mencoba menghubungkan kejadian yang amat dahsyat ini dengan perikaku kemusyikan. Upacara Palu Nomoni dituding menjadi biang kehancuran Palu 28 Oktober lalu. Ditengarai ada praktik kemusyrikan dalam perhelatan budaya itu.

Apakah memang demikian? Apakah ini bukan karena ketidakmampuan kita membaca bahasa alam? Tentu menarik untuk ditelusuri dalam perspektif budaya. Apakah dosa besar harus selalu dijawab dengan kejadian yang sering disebut bencana?

Sebelum kenabian ditutup, Tuhan sangat sering mengirim kejadian luar biasa kepada sekelompok orang. Kejadian mana membuat manusia mengakui Keagungan Tuhan. Tuhan sering juga menghukum sekelompok manusia karena pembangkangannya terhadap seruan mengesakan-Nya.

Ajakan untuk menggunakan akal tidak mumpuni mengantar manusia ke pintu iman. Peradaban manusia pada periode tersebut belum tiba pada tingkatan yang kompatibel dengan sistem pandangan dunia berbasis akal. Ia harus dibantu dengan peristiwa ajaib yang melampaui hukum-hukum alami, misal kausalitas.

Itulah yang dikenal dengan mukjizat. Ia adalah suatu pengecualian. Mukjizat menyela hukum-hukum alamiah. Hukum alamiah yang bergerak di alam semesta tetap berjalan sebelum dan setelah munculnya mukjizat tersebut. Mukjizat hanya terjadi satu kali untuk selamanya dan tidak dapat diulangi oleh siapapun pada saat yang lain.

Kalau tiap saat peluang keajaiban mukjizat itu bisa terjadi, maka tentu kita akan sulit membedakan peristiwa alamiah biasa dengan teguran atau ujian dari Tuhan. Akan muncul peluang untuk saling menipu mengatasnamakan hukuman Tuhan.

Selain itu, mukjizat selalu harus dicatat di dalam kitab suci. Ia menjadi arsip penting untuk sejarah bahwa pernah terjadi pada masa tertentu, Nabi diingkari lalu umatnya disadarkan dengan kajaiban. Mukjizat yang sudah pernah terjadi tidak akan terjadi lagi setelahnya. Orang saleh yang tidak dibakar api hanya terjadi satu kali yakni pada Nabi Ibrahim as. Sesudah itu, Nabi Ibrahim pun tak bisa mengulanginya lagi, atau Allah tak mengulangi lagi pada siapapun termasuk pada Nabi Ibrahim as itu sendiri.

Kalau seluruh masa hingga kiamat manusia hanya bisa disadarkan hanya dengan keajaiban maka tentu akan banyak sekali kemungkinan munculnya kejadian luar biasa yang melampaui hukum-hukum alamiah. Padahal hukum alamiah itu adalah bukti keseimbangan semesta berdasar Keadilan Tuhan.

Demi menjaga keseimbangan tersebut maka manusia setelah era kenabian dibekali dengan satu mukjizat agung bernama Alqur’an. Ia adalah kitab ilmu pengetahuan. Manusia pasca kenabian hingga akhir zaman adalah manusia yang berada di etape kesempurnaan pemikiran dan peradaban. Saat mana, nalar menjadi perangkat utama untuk mencapai keyakinan. Bukan mengandalkan keajaiban lagi.

Dengan demikian, manusia diajarkan untuk meyakini Kemahabesaran Tuhan benar-benar melalui kesadarannya dengan mengoptimalkan perangkat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ajakan Alquran untuk menajamkan akal sangat tegas dalam misi ini.

Konsep ketuhanan versi Alquran untuk masa selanjutnya tidak lagi berbasis keajaiban peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya. Justru pada keteraturan hukum-hukum alamiah itulah terdapat Kemahabesaran Tuhan. Keajaiban diubah maknanya menjadi pengakuan akan Kemahabesaran Tuhan karena tertib semesta ini memang sangat menakjubkan. Baik pada kosmos luar diri maupun kosmos diri manusia sendiri terdapat keteraturan hukum Tuhan yang dapat mencegah dan menundukkan kesombongan bagi orang-orang yang berpikir.

Demikianlah, usai kenabian hukum-hukum semesta dan bahasa alam ini berjalan secara alamiah. Manusia diajarkan untuk menyadari adanya dosa dan akibat-akibatnya dengan cara menajamkan akal untuk mengimani Tuhan. Tidak lagi diperlihatkan suatu hukuman kontan dan dahsyat di luar kausalitas alamiah sebagai akibat kedurhakaan.

Hal demikian ini bermanfaat pada pengembangan peradaban manusia secara rasional. Tidak ada peluang untuk mengajak manusia mencapai kemajuan peradabannya hanya dengan upacara peribadatan semata tanpa ikhtiar keilmuan.

Tuhan akan memberi hukuman setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri.  Perbuatan musyrik misalnya tidak lagi dijawab dengan peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya, melainkan mengalir dalam sebab akibat alami hingga ia sampai pada kejadian yang menjadi konsekuensi logis perbuatan tersebut.

Dengan perspektif ini maka peluang untuk mengatasnamakan peristiwa menakutkan sebagai hukuman atas dosa manusia dapat diurai secara rasional. Jika itu berkenaan dengan kekeliruan manusia ketika memperlakukan alam ini maka alam akan bereaksi menuju keseimbangannya yang mungkin saja berbahaya bagi manusia. Longsor bebukitan adalah akibat penebangan hutan yang melampaui ambang batas dan carring capacity alam. Begitu juga bencana yang menimpa pemukim karena belum mengetahui gejala peristiwa alamiah seperti gempa bumi dan tsunami.

Ini semua menantang akal untuk mengenali bahasa alam.  Persepektif ini mengajak manusia untuk menggali tanda-tanda (ayat) Tuhan dan Kekuasaan-Nya di alam semesta agar dapat digunakan untuk kemaslahatan, mengantisipasi dampak buruk, dan sebagainya.

Manusia pasca kenabian dibekali dengan kemampuan membedakan hukuman Tuhannya yang merupakan akibat kelalaiannya dengan peristiwa alamiah semesta. Konsep ketuhanan tidak lagi berada di luar jangkauan kesadaran manusia. Oleh sebab itu manusia bisa lebih arif dalam berhadapan dengan semesta tempat hidupnya.

Saat ini kita berada di alam pasca kenabian. Kesadaran untuk hidup saleh dan menjauhi maksiat tidak lagi karena ditakut-takuti oleh bencana alam, sebab bencana alam semula adalah kejadian normal dalam semesta.

Kesadaran kita harus sampai pada tingkat tertinggi yakni keyakinan akan datangnya hari pembalasan. Akal kita harus tiba pada kesadaran bahwa Tuhan tidak lagi akan menegur manusia sekonyong-konyong lewat jeweran alam kecuali sebagai suatu konsekuensi logis dari kekeliruan dalam pengelolaan alam.[]

 

Ilustrasi: http://www.mysultra.com/masih-banyak-yang-salah-alamat-ke-bpbd/ilustrasi-bencana-alam-internet/

 

Bahasa Alam (1)

Gempa bumi dengan derajat guncangan tinggi Agustus 2018 di Mataram, Nusa Tenggara Barat disusul pada bulan ini gempa disertai tsunami di Palu dan Donggala pun memperpanjang deretan kejadian menakutkan itu. Tidak ada pilihan lain untuk menempatkan kejadian alam ini sebagai sesuatu yang patut mendapat perhatian.

Gempa ini disebut sebagai bencana dalam ungkapan publik kita. Gempa adalah kejadian geologis namun secara sosiologi ia adalah bencana.

Gempa sebagai peristiwa geologis sebenarnya biasa saja. Peristiwa alami yang tak dapat dicegah. Justru gempa bumi diperlukan oleh bumi itu sendiri.

Naskah-naskah ekologis menyebut adanya suatu sifat alami bumi ini yang disebut sebagai homeostatis. Ia adalah kemampuan bumi dan komunitas yang terdapat di atasnya untuk memulihkan dirinya sendiri. Perubahan alam yang terjadi secara alami  bisa saja terlihat seperti kehancuran namun pemulihan bentuk dan fungsinya akan dilakukan sendiri. Kemampuan itu hanya akan berlangsung jika ambang batasnya tak terlampaui.

Homeostatis adalah bahasa alam. Ia menyapa manusia sekelilingnya dengan kesahajaan tanpa basa-basi. Makhluk hidup dan benda alam lainnya juga memiliki keharmonisan berbahasa engan gerak alaminya masing-masing.

Laksana drama semesta, sahut-sahutan komponen alam ini sebenarnya sedang berlangsung. Hanya manusia yang merupakan komponen alam yang perlu memahami lebih mendalam. Ini lantaran manusia memiliki potensi ekspresif yang amat berbeda dengan benda semesta lainnya.

Ekspresi manusia di alam sangat berbeda dengan komponen alam lainnya. Semula ia menjadi bagian organik dari alam. Lambat laun manusia mengerti ekonomi dan membentuk kelas sosial. Lalu tercipta perlombaan gaya hidup.

Lewat itu semua, manusia mulai melepaskan diri dari tubuh alam. Ia membuat panggung alam kini dihuni oleh dua komponen yang saling terpisah. Keduanya adalah manusia dan benda-benda di luar manusia. Benda-benda itu dianggap sebagai pemuas kepentingan dan gaya hidupnya.

Konsepsi diri manusia yang seperti inilah yang menyebabkan munculnya pengertian bencana secara sosiologis. Doa-doa dipanjatkan agar kejadian alami itu tak perlu terjadi. Suatu hal yang sesungguhnya bertentangan dengan bahasa alam.

Manusia tiba-tiba ingin memaksa alam mengubah bahasanya. Padahal seharusnya manusia bekerja keras mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai untuk menyesuaikan diri dengan bahasa alam ini. Teknologi deteksi dini, desain kota, dan bangunan, seharusnya menjadi seni “berbahasa” manusia yang dikembangkan di masa depan.

Doa dalam bahasa manusia seharusnya memohon agar cahaya Allah yakni ilmu pengetahuan dan hikmah selalu dilimpahkan kepada para periset agar mampu menemukan perangkat ilmu untuk menjamin keamanan di masa depan.

Ikhtiar keilmuan amat diperlukan. Mengenal berbagai karakteristik geologis dan ekologis adalah cara terbaik untuk menyahuti bahasa alam. Rekayasa manusia secara tepat akan menjadi jawaban terbaik. Tidak sekadar menjadi usaha penyelamatan jiwa melainkan penyelamatan nalar agar tetap sehat. Melihat bencana tidak sebagai kutukan melainkan ujian. Bukan untuk menyadari nasib yang dianggap telah ditentukan Tuhan, melainkan menyadari ujian dari Tuhan untuk meningkatkan kreasi manusia. Bahasa manusia harus tetap menjadi bagian organik dari bahasa alam, karena begitulah Bahasa Tuhan Semesta Alam.

Bincang saya dengan teman yang menekuni kuliah filsafat menjelaskan bahwa gerak di alam ini selalu terjadi. Geraknya bukan saja berupa perubahan pada aksidennya melainkan substansinya. Lupakan dulu istilah-istilah filsafat ini sebab kita tidak ingin menghapalkannya untuk menghadapi ujian komprehensif!

Prinsipnya, semua anggota keluarga ekologi kita ini sedang bergerak. Mereka sedang berubah untuk menyempurnakan atau mencapai posisinya yang stabil. Menurut naskah yang ditulis beberapa pemikir bahwa gerak adalah keluarnya sesuatu dari potensi menuju aktus. Anggota alam semesta kita ini tidak akan tinggal diam.

Ketika gerak salah satu anggota keluarga ekologis kita itu sedang berlangsung, maka rekan-rekannya yang lain akan menyesuaikan diri. Sungguh pun terlihat akan menimbulkan gangguan, namun kekompakan mereka memperlihatkan harmoni. Tidak saling meniadakan.

Respon mereka bak simfoni musik yang saling melengkapi. Toh, jika terjadi kerusakan maka mereka akan memperbaiki dirinya sendiri secara alami. Itu demi memberi kesempatan buat anggota keluarga ekologisnya mencapai proses perubahan lebih stabil.

Proses ini dinamakan dengan adaptasi. Mereka akan menyesuaikan diri secara alamiah dengan perubahan apapun yang terjadi di sekitarnya. Adaptasi dapat dilakukan dengan beruaya, bahkan jika terpaksa mereka mengubah sel-sel secara evolutif.

Ruaya adalah perpindahan kelompok hewan tertentu secara besar-besaran ke tempat lain. Ruaya adalah bahasa alam. Ia menggambarkan terjadinya suatu peristiwa alami yang sebenarnya biasa saja. Andai saja kita mengerti bahasa ini maka proses penyesuaian diri terhadap perubahan alam dapat dilakukan.

Sehari setelah gempa di Palu dan Donggala, seorang penjual nasi kuning di Pantai Manakarra, Mamuju, bercerita. Dirinya tak ikut menyingkir ke bukit-bukit. Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda alam belum terlihat. Ia meyakini bahwa burung-burung tertentu akan berpindah secar besar-besaran jika akan terjadi perubahan di laut.

Saya tidak tertarik ikut pro-kontra usai penjelasannya itu. Saya hanya meyakini juga bahwa ilmu pengetahuan kita belum maksimal mengungkap rahasia bahasa alam ini. Celakanya lagi, kearifan lokal kita sudah kian tergerus. Budaya kita dulu banyak menyimpan pengetahuan tentang perilaku semesta ini. Ia dihentikan oleh kekejaman paradigma ilmu modern.

 

Berdialog dengan Alam

Jumat sore usai silaturrahim ke rumah sepupu sambil menjalankan terapi yang disarankan dokter, kampung kami guncang. Suasana berubah menjadi kepanikan. Penduduk berlarian keluar rumah.

Televisi dan berbagai media sosial menyiarkan telah terjadinya gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Daerah kami, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang berdempet dengan Sulawesi Tengah pun kena guncangan magnitudo 7,4 itu. Sebagian penduduk mengungsi sebagai antisipasi jika ada tsunami. Maklum jarak kampung kami dengan tepi laut hanya beberapa meter saja. Ada rumah yang bahkan tepat di bibir pantai.

Publikasi terakhir, hingga tulisan ini saya bikin, berdasar pada koran Kompas, Sabtu, 29 September 2018, bahwasanya gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah ini, berkekuatan M 7,4, lokasi 0,20 LS dan 119,89 BT. Kedalaman 11 km, berpusat di 26 km utara Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa terjadi pada pukul 17.02 WIB.

Gempa ini menimbulkan tsunami dengan ketinggian 1,5 meter hingga 3 meter, yang diperkirakan tiba pukul 17.22 WIB. Tsunami tersebut berakhir pukul 17.36 WIB. Penyebab gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Palu-Koro. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar (slike-slip).

Lebih jauh lagi, dikabarkan oleh Kompas, jalur telekonunikasi lumpuh hingga lewat tengah malam. Akibatnya, gempa bermahnitudo 7,4 yang berpusat di Kabupaten Donggala, yang disusul tsunami di pesisir Teluk Palu, sampai Jumat malam belum jelas benar dampaknya. Berapa korban jiwa meninggal dan luka-luka belum ada kepastian. Pun, taksiran jumlah kerugian material. Yang pasti, banyak warga Sulteng yang bersiaga di luar rumah, mengungsi ke daratan yang lebih tinggi, karena khawatir gempa susulan dan tsunami.

Anjuran agama, khususnya Islam, menganjurkan kepada umatnya, tatkala mengalami peristiwa menakutkan adalah Salat Ayat. Saya melmbaca media sosial dipenuhi dengan doa agar keluarga dan rekan di area kejadian selamat.

Sebagai orang yang mengimani hal itu doa pun terpanjat dari lisan saya. Namun selain itu, ada semacam refleksi atas kejadian ini. Ini adalah bahasa alam. Berdialog dengan alam tentu akan lebih baik mengiringi doa-doa.

Gempa adalah kejadian alami. Beda dengan banjir, longsor, erosi, abrasi, atau kebakaran dan yang semacamnya. Ada unsur tangan manusia pada deretan contoh kejadian yang disebut terakhir ini. Bagaimana dengan gempa bumi dan tsunami? Kejadian alami.

Baik gempa maupun longsor dan semacamnya adalah bahasa alam. Bedanya, longsor dan semacamnya adalah respon alam atas kelakuan tangan manusia. Dialog dengannya adalah dengan cara menghentikan kebiasaan buruk kepada semesta ini, seperti menebang vegetasi besar di lahan rawan bencana.

Program edukasi dan literasi lingkungan menjadi mendesak dilakukan. Pengetahuan manusia sudah seharusnya dapat menyapa alam sekitar dengan ramah. Program dan perencanaan perlindungan sudah perlu menjadi bahasa manusia sehari-hari.

Kejadian-kejadian alami memang tak dapat dihentikan. Gempa bumi tidak bisa dicegah. Akan tetapi, sebagai bahasa alam manusia perlu memiliki cara menyapanya.

Keperluan manusia adalah eliminasi terjadinya kerusakan dan korban yang akan berjatuhan. Ikhtiar manusia dapat mencipta optimisme untuk mengurangi dampak tersebut. Upaya mengungkap tanda-tanda kejadian semacam itu bukan mustahil ditemukan secara lebih dini.

Itu sebabnya, tiba-tiba selain berdoa, yang teringat setelah gempa mulai mengguncang itu adalah sepupu saya. Ia kini tengah berada di Chiba, Jepang, untuk menyelesaikan studi doktoralnya dalam soal-soal remote sensing. Suatu disiplin kajian yang berusaha menajamkan indera lewat bantuan peralatan guna mengenali gejala alami pada bumi dan semesta.

Mungkin dengan kemampuan teknologi suatu saat, mengenali gempa bumi dan tsunami sudah mirip dengan melihat mendung untuk mengantisipasi dampak hujan. Setelah kita tahu bahwa hujan akan segera turun jika sudah mendung, maka kita akan mengambil jas hujan. Dengan demikian perjalanan tetap bisa dilanjutkan sedang badan kita tidak basah kuyup.

Itu pulalah sebabnya saya mendoa dengan dua doa ketika gempa dan tsunami datang. Pertama saya panjatkan permohonan kepada Tuhan agar penduduk selamat, keluarga korban tabah, penderita mendapat bantuan dan santunan. Selain itu, saya mendoa agar para ilmuwan yang tengah memikirkan upaya deteksi dini segala kejadian alam terutama yang alami itu terus-menerus disempurnakan. Seharusnya begitulah kita berdialog dengan alam. Wallahu a’lam.