Arsip Kategori: Esai

Ibu Mega: Sosok Perempuan Pesisir yang Peduli Pendidikan

Kami mendapat suntikan energi baru.  Setelah menyelenggarakan agenda pembahasan kurikulum Kelas Anak Pesisir, esoknya kami langsung mengajak Teman Belajar baru untuk meninjau lokasi-lokasi yang dijadikan sebagai ruang kelas terbuka Kelas Anak Pesisir Komunitas Ruang Abstrak Literasi.

Letaknya di kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Pantai Marbo Tallo dan di salah satu beranda rumah masyarakat Kampung Karabba. Lokasi yang terakhir di Kampung Karabba adalah lokasi baru Kelas Anak Pesisir yang baru. Tidak jauh dari Pantai Marbo Tallo sekitar kurang lebih satu kilometer kita sudah tiba di lokasi yang masih termasuk bagian dari Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.

Pemukiman padat, tidak tertata dan terkesan kumuh yang berada di atas laut. Rumah-rumah penduduk semuanya terbuat dari kayu dan jembatan kayu seadanya sebagai penghubung dari rumah ke rumah yang hampir ambruk adalah gambaran lokasi baru Kelas Anak Pesisir di Kampung Karabba. Ibu Mega adalah salah satu masyarakat yang berbaik hati untuk meminjamkan beranda rumahnya sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran setiap hari sabtu dan minggu sore.

Kami beruntung bertemu dengan Ibu Mega, sosok Ibu sederhana yang merelakan mimpi-mimpinya untuk tidak melanjutkan kuliahnya dan memilih bekerja demi membantu biaya pengobatan orang tuanya yang sakit pada waktu itu. Sementara suami Ibu Mega, Pak Firman bekerja sebagai sopir pribadi dengan pendapatan yang tidak menentu setiap harinya.

Kehidupan keras telah dilalui Ibu Mega sejak kecil dan kesadarannya tentang pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah nasib ditularkan ke anak perempuan satu-satunya bernama Indah yang sudah beranjak naik ke kelas enam sekolah dasar. Kami melihat Indah begitu bersemangat dan menikmati setiap hal-hal baru yang didapatkan dari proses belajar di sekolahnya maupun di Kelas Anak Pesisir.

Siang itu kami pertama kali bertemu Ibu Mega dan menjelaskan maksud dan tujuan kami mengadakan Kelas Anak Pesisir untuk anak-anak di Kampung Karabba. Singkat cerita.

“Iye, di sini anak-anak masih banyak yang belum bisa membaca, ada anak usia kelas 5 SD belum bisa membaca padahal sekolah ji juga,” keluh Ibu Mega menjelaskan.

“kalau bisa ki’ bantu anak-anak disini supaya bisa banyak na tau juga, nanti saya yang cerita sama orang tuanya anak-anak disini supaya na dorong juga anak-anaknya ikut belajar,” lanjut Ibu Mega.

“Jadi kapan kami bisa mulai kelasnya Bu?” kata seorang teman kepada Ibu Mega.

“Kalau bisa jaki’ sore ini, nda papa juga,” jawab Ibu Mega dengan lugas.

Setelah itu, sebulan terakhir beranda rumah sederhana Ibu Mega berukuran lima kali dua meter didapuk menjadi tempat Kelas Anak Pesisir kami yang baru. Setiap kami ingin memulai kelas Ibu Mega dengan ikhlas membantu kami memanggil anak-anak dan begitu setianya mengikuti jalannya proses kelas hingga akhir.

Kami sendiri agak khawatir dengan kapasitas beranda rumah Ibu Mega yang sebenarnya hanya memuat sekitar dua puluh orang usia kategori anak-anak sementara ada sekitar tiga puluh anak-anak di Kampung Karabba yang aktif di Kelas Anak Pesisir yang tiap pekannya selalu antusias menunggu kami sebelum kelas di mulai.

Mengantipasi kemungkinan terburuk ketika kelas berlangsung, kami pun mendiskusikan hal ini kepada Ibu Mega. Untuk sementara yang bisa kami lakukan adalah menambah beberapa batang bambu sebagai tiang penyanggah agar rumah di atas laut tersebut tidak ambruk.

***

Bagi kami, Ibu Mega adalah pejuang pendidikan yang sesungguhnya. Mengajarkan kami tentang semangat untuk terus peduli terhadap kondisi pendidikan anak-anak pesisir yang begitu kompleks permasalahannya. Ada kekuatan di balik keterbatasan manusia. Karena dengan keterbatasan kita dapat merasakan suatu fase titik terendah dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya tetapi tidak semua manusia bisa melewati proses ini.

Ibu Mega telah menjadi guru kehidupan dan teladan bagi kami yang selama ini berkutat dalam kekakuan sistem pendidikan formal dan kemudian terjebak hanya sekedar untuk mengejar gaji, pangkat dan jabatan seperti kata Pramoedya Ananta Toer.

Konsep dan tujuan pendidikan telah banyak dicetuskan oleh para tokoh.  Pada hakikatnya mereka sependapat. Bahwa pendidikan adalah proses menjadikan manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Tetapi, soal konsep dan tujuan pendidikan negeri ini sama sekali tidak diketahui oleh Ibu Mega sendiri.

Karena kepedulian dan semangat Ibu Mega terhadap pendidikan anak-anak pesisir di Kampung Karabba tidak didapatkannya dalam ruang-ruang formal pendidikan itu sendiri.  Melainkan dari kondisi ketidakadilan sistem pendidikan yang dirasakannya langsung dan masih terjadi hingga saat ini. Dan memang betul bahwa pengetahuan sejati adalah pengalaman dari keadaan yang membangun kesadaran. Ibu Mega telah membuktikan hal tersebut.

Pertama Kali ke Getengan

Saya memiliki cita-cita meninggalkan tempat ini dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Jujur, kau akan selalu memiliki banyak alasan untuk berujar belum siap. Dalam hati, ada beribu pertanyaan, apa yang akan saya hadapi saat berada di sini. Sedetik, sejam, sehari, seminggu, setahun, entahlah, yang penting cuman menyiapkan pantat lalu ditempelkan di kursi dan mulailah. Carilah posisi senyaman mungkin dan mulailah mengusir kepanikan. Lalu, menyusun berbagai siasat untuk angkat kaki segera.

“Kita jemput dulu kepala puskesmas di Buntu Burake”, ujarnya.

Ucapan supir ambulance itu membuyarkan lamunan saya. Padahal, sudah kugarap sedemikian rupa siasat agar dapat meninggalkan tempat tugas segera.

“Sebentar lagi, akan sampai. 10 menit ji perjalanan dari Makale ke Getengan, dok”, lanjutnya.

Dia adalah supir ambulance Puskesmas Getengan. Martinus namanya. Belakangan, saya baru tahu, kalau dia akrab dipanggil oleh orang-orang di Puskesmas dengan sebutan Papa Keti. Kami menumpang di mobil ambulance. Dari jam 7 pagi, saat kabut dan hawa dingin masih menutupi tempat tinggal kami, dia sudah ada di sana menunggu kami berlima.

Hari pertama, kami sewajarnya membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk menuju ke suatu tempat yang sama sekali kau tidak tahu harus mengarah ke mana. Walaupun, kau tahu dan memiliki kendaraan menuju ke tempat itu. Untungnya, orang-orang baik di sini tidak ada habis jumlahnya yang bersedia membantu kami.

***

Kami dokter internship. Jumlah kami 15 orang. Hari ini, di dalam mobil ambulance, kami berlima. Selebihnya, sepuluh orang berada di rumah sakit. Kami masing-masing berasal dari perguruan tinggi yang berbeda-beda. 1 orang dari UNAIR, 2 orang dari UNHAS, 3 orang bersekolah di UNSRAT, dan paling banyak 9 orang dari UKI Jakarta.

Dokter internship itu ada sebab sebutan dari kementerian kesehatan. Kau tahu, kan kalau pemerintah itu gemar membuat program untuk mendapatkan tenaga kesehatan yang bersedia untuk ditaruh di manapun. Entah ini sial atau beruntung sebagai dokter yang baru lulus dari pendidikan kedokteran ditempatkan di desa Getengan. Celakanya ini wajib. Saya akan berada selama 4 bulan di Puskesmas lalu 8 bulan akan melaksanakan tugas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Oh iya, saya lupa memperkenalkan tempat ini. Getengan adalah sebuah desa di Kecamatan Mengkendek. Getengan ini berjarak 13 kilometer dari Makale, pusat kota dari kabupaten Tana Toraja. Kalau mau naik bus dari Makassar, kira-kira siapkan pantat untuk betah duduk selama 6 jam menggunakan bus kecil. Yah, kalau dari Makale ke Getengan menggunakan motor bisa tiba dengan menempuh waktu sekitar 20 menit dengan kecepatan tidak terlalu kencang.

***

Ambulance berhenti di depan rumah. Mungil. Pagar kayu dicat putih, rumah itu menambah nilai indah rumah itu. Sekeliling halaman depan rumah bertaburan pot-pot bunga. Rumput-rumput mungil hijau tumbuh menjalar.

Mesin mobil ambulance masih berderu. Asap knalpot perlahan-lahan mengisi tempat kami berlima duduk. Seorang teman membuka jendela. Udara pengap karbon knalpot pelan-pelan bertukar dengan udara segar. Bercampur dan hilir mudik di dalam sini.

“Ambulance ini sepertinya sudah lama. Kalau tidak pernah dipelihara pastinya sudah berakhir di tempat timbang besi bekas.”

Beda sekali bentuk fisik ambulance di pedesaan dengan di kota. Saya masih ingat bentuk fisik ambulance di kota. Bentuk mereka megah, sirine meraung-raung, sampai-sampai butuh pasukan bermotor yang memegang tongkat untuk membuka jalan dengan segera. Padahal, ambulance di kota itu sudah berisik terdengar.

Berbeda dengan ambulance di pedesaan. Pikirku, orang yang berada di dalamnya akan hikmat berdoa. Mungkin bukan hanya orang yang sakit atau keluarga pasiennya, bisa saja supir ambulance ataupun tenaga medis yang mengantar menuju ke rumah sakit. Pasalnya, kursi berbentuk tapal kuda tersedia di sini. Ada yang memanjang ke belakang seukuran manusia, cukup untuk pasien tidur. Lalu kursi memanjang ke samping untuk pengantar, serta kursi untuk paramedis duduk di samping pasien. Tidak ada peralatan medis yang canggih seperti ambulance-ambulance di film Barat. Bahkan yang paling sederhana pun, tiang infus ataupun tabung oksigen tidak ada di dalam ambulance ini.

“Dok.” sambil membuka kaca pemisah antara supir dan ruang tempat kami.

“Sebentar ada ballo 5 Liter itu. Ini acara untuk menyambut dokter internship baru. Kami juga ada bakar daging. Sebentar malam nah. Tinggal maki menginap satu malam di rumah dinas dokter puskesmas. Makan daging babi ji semua toh”, kata pak sopir.

Pak supir itu menutup kaca pemisah. Dia tersenyum, Kepala puskesmas sudah berjalan menuju ke ambulance. Dia duduk di kursi depan. Mobil perlahan-lahan turun menuju jalan poros menuju ke Getengan.

“Iya, pak. Di Manado tinggal kaki meja yang tidak dimakan”, sahabat saya menyambar ajakan pak supir itu.

Dalam beberapa jam ke depan, saya akan melanggar untuk meminum-minuman yang menurunkan kesadaran. Perlahan-lahan mobil ambulance meninggalkan Buntu Burake dan perlahan-lahan juga kedua tangan patung Jesus muncul menampakkan diri memberkati Kota Makale. Dan mobil ambulance ini memang sengaja dibuat agar orang di dalamnya bisa berdoa dengan hikmat.

 

Apa itu Ilmu Agama?

Ingar-bingar politik membawa suatu gelombang baru dalam ujaran publik beberapa tahun terakhir ini. Banyak yang telah melalui momentum politik sebagai sirkulasi kekuasaan. Hasilnya? Hanya berupa sirkulasi hidup belaka. Berangkat dari ketiadaan menuju kembali kepada ketiadaan. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah ratusan pejabat tinggi yang pernah melalui hidup penuh prestise dan kehormatan, kini menjadi manusia tua yang sejajar dengan penduduk negeri lainnya.

Salah satu yang amat sering diperbincangkan di dalam berbagai saluran media sosial adalah pernyataan B.J. Habibie dalam salah satu pidatonya. Ringkasan pesan itu adalah pernyataan sadar beliau bahwa kesuksesannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah banyak berarti. Andai beliau diminta memilih ilmu pesawat terbang dengan ilmu agama, maka pilihan beliau adalah yang terakhir. Perbincangan itu menggoda untuk mendalami pengertian ilmu agama. Begitu juga efeknya kepada pencerahan publik, terutama untuk masa depan kemajuan umat manusia. Manusia diajak kepada keyakinan baru tentang tiadanya makna hidup.

Narasi Masa Depan

Dalam suasana kekosongan inilah manusia mencari narasi baru masa depannya. Ketiadaan makna hidup adalah penderitaan bagi manusia yang mulai dijawab dengan berbagai narasi. Satu di antaranya adalah ajakan jihad. Hasilnya adalah berkubangnya sejumlah aktivis dalam gerakan bersenjata sambil mengabaikan perasaan kemanusiaan yang terdalam. Orang menyebutnya terorisme. Walhasil, itu dianggap sebagai cara teringkas masuk surga demi meninggalkan dunia tak bermakna ini.

Benarkah jalan keluar semacam ini? Sudah banyak kritik. Satu lagi jawaban yang lebih lunak. Ilmu agama! Menjauhi ilmu umum adalah salah satu jalan keluar untuk meninggalkan kehampaan hidup. Menghabiskan waktu untuk memperoleh ilmu umum memang dapat menghasilkan kemapanan hidup material, namun bisa menimbulkan kekosongan makna di akhir usia. Ketakutan ini sedang disebarkan ke tengah masyarakat. Oleh sebab itu, amat menarik untuk mencoba mengurai apa ilmu agama itu sebagai bagian dari narasi masa depan.

Agama

Agama adalah konsep kehidupan yang di dalamnya terdapat landasan, aturan, arah dan tujuan hidup. Konsep inilah yang memandu manusia untuk menentukan pilihan dalam kehidupannya.

Kelompok manusia yang meniadakan pilihan pun sebenarnya adalah suatu model pilihan dalam beragama. Deterministik, dalam istilah ilmu kalam disebut sebagai jabariyah menemukan waktunya yang tepat untuk dianut. Agama adalah kumpulan pengetahuan tentang tata cara memuji dan membesarkan Tuhan sambil berpasrah diri tentang nasib masa depan. Dunia mulai diombang-ambing oleh gelombang yang tak berarah.

Agama dalam perspektif hanya mengulang polemik pemikiran teologis. Ia tidak menyumbang optimisme. Adakah pilihan lain?

Tauhid

Satu hal yang diajarkan dalam khazanah agama-agama adalah cara beragama. Ada cara beragama dengan melihat semesta sebagai suatu kesatuan dan ada juga dengan memecah semesta dalam keterbilangan atau keragaman. Agama yang mengajarkan kesatuan datang dengan perspektif utuh ketika melihat semesta, termasuk asal-usul dan masa depannya. Komponen semesta tempat hidup manusia adalah sesuatu yang organik. Bagian-bagiannya adalah suatu keutuhan. Agama selainnya selalu melihat bahwa komponen semesta adalah bagian yang mekanistik.

Pada perspektif kesemestaan inilah ilmu-ilmu itu tumbuh. Pendapat yang meyakini ada pemilahan ilmu agama dan umum tumbuh dari cara beragama yang kedua. Cara beragama yang pertama menumbuhkan ilmu dalam perspektif kesatuan dan keutuhan, tanpa pembedaan. Perspektif Islam menyebut cara beragama ini dengan nama tauhid. Tauhid tidak semata pengesaan Tuhan namun juga pengakuan terhadap kesatuan semesta.

Kesatuan Semesta

Kesatuan semesta amat sulit diakui. Ini tergambar dari ilmu-ilmu yang berserak dalam kamar-kamar sosialnya masing-masing. Tiap-tiap ilmu memiliki otonomi dalam sebuah disiplin kajian yang terpisah-pisah.

Semesta yang dilihat sebagai komponen terpisah-pisah berefek buruk pada pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu tidak lagi mengantarkan manusia kepada kesejatian hidupnya. Ajaran agama pun ditempatkan sebagai disiplin kajian yang merupakan pecahan cara pandang terhadap semesta itu. Di sinilah pula ilmu agama itu dikenal sebagai sebuah disiplin terpisah.

Ilmu Agama

Lain Habibie, lain Nabi Adam. Tatkala Nabi Adam dibiarkan memilih agama dan ilmu, beliau pilih ilmu. Ilmu diyakininya akan mengantarkan kepada agama.

Semua ilmu adalah agama karena agama menganjurkan berilmu. Dengan demikian ilmu adalah bagian utuh dari kerja dalam agama. Aktivitas utama orang beragama adalah berilmu.

Ilmuwan yang tak beragama akan memperlakukan ilmunya hanya dalam wilayah material. Itu sebabnya ilmunya selalu terasa hampa. Berujung dengan kebinasaan. Kematian adalah awalnya. Mulai dari liang kuburnyalah kebinasaan itu disaksikan. Memandang ilmu seharusnyalah menganut cara pandang yang menyeluruh atas konsep semesta. Semesta sebagai kesatuan periada yang tercipta. Semesta ini bergerak untuk kembali kepada Tuhannya Yang Maha Esa. Kosmologi tauhid ini mungkin dapat menuntun untuk mengubah cara pandang mengenai ilmu. Segala ilmu yang menggerakkan peradaban manusia kembali kepada keridhaan Tuhannya adalah ilmu agama. Ilmu kapal terbang B.J. Habibie seharusnya mulai sekarang tidak dianggap sebagai bukan ilmu agama.

Gempa Lombok dan Pembangunan Berwawasan Bencana

Pada tahun 1995, di daerah bagian selatan Prefektur Hyogo, Kobe, Jepang, gempa bumi berkekuatan 6,9 skala richter mengguncang selama 20 detik dan menghasilkan 6.434 korban tewas. Gempa ini melakukan dua hal pada warga Jepang. Melakukan pukulan mematikan namun di satu sisi melakukan belaian kasih sayang untuk menyadarkan pemerintah jepang bahwa gempa bumi nyatanya harus diterima sebagai bagian kehidupan dari mereka yang berdiam di daerah-derah pertemuan lempeng tektonik.

Berkaca dari kasus gempa inilah, akhirnya jepang melakukan evaluasi besar-besaran dalam hal program pendidikan mitigasi bencana dan pengawasan bangunan tahan gempa yang diberlakukan secara nasional, merata dan tegas.

Kembali ke nagara kita, Indonesia. Semoga kita tidak lupa, bahwa nyatanya terhitung sejak tahun 2004, kita telah melalui 3 kasus gempa bumi yang sangat besar, destruktif dan sungguh mematikan. Pada tahun 2004, Gempa Aceh yang berkekuatan 9,3 skala richter diikuti oleh tsunami setinggi puluhan meter telah menghasilkan kerusakan yang teramat parah hingga menelan 283.106 korban jiwa.

Setahun kemudian, pada maret 2005, gempa berkekuatan 8,6 skala richter kembali mengguncang Sumatera, tepatnya di Pulau Nias, Sumatera Utara. Meski tidak berdampak tsunami, gempa ini tetap berujung mematikan karena menelan hingga 1.346 korban jiwa. Lagi-lagi, setahun kemudian, pada tahun 2006, gempa bumi kembali menimpa salah satu daerah padat di Indonesia, yakni Yogyakarta. Meski hanya berkekuatan 6,2 skala richter, namun karena kepadatan pemukiman dan rapuhnya sistem bangunan warga, alhasil tercatat 6.234 warga harus meregang nyawa dibawah reruntuhan bangunan mereka sendiri.

Dan terakhir pada 5 Agustus 2018, gempa sebesar 5,1 skala richter mengguncang Lombok dan disusul kembali dengan gempa yang lebih besar yakni 7 skala richter pada 19 gustus 2018. BNPB melansir korban jiwa pada gempa lombok ini mencapai 515 orang dan korban luka 7.145 orang, belum lagi dengan rusaknya infrastruktur berupa rumah warga yang mencapai 73.843 unit. Sungguh semua kejadian di atas sangat miris bila hanya berakhir pada sebuah catatan buku dan file-file saja. Berakhir tak lebih dari sebuah bacaan “ringan”.

Semua kejadian gempa bumi di atas sudah sepatutnya menjadi bahan evaluasi bersama, bahwa kejadian gempa meski tidak menghasilkan tsunami, nyatanya masih mampu menelan ribuan korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Maka patut kita mencermati, bahwa dengan diakhirinya status tanggap darurat di Lombok dan diganti dengan masa pemulihan dan rehabilitasi bangunan, nyatanya kita semua masih terjebak pada persoalan-persoalan yang meskipun substantif namun hanya berlaku dalam jangka waktu yang pendek. Semestinya, di lain sisi, pemerintah juga harus mulai memaksimalkan konsep-konsep pembangunan jangka panjang yang berwawasan bencana.

Sebagai sebuah perbandingan, mari kita bersama-sama melihat perda mengenai ketentuan pembangunan gedung ataupun perumahan yang sebagian besarnya masih menerapkan aturan-aturan lama mengenai kebencanaan yang hanya fokus pada peraturan mengenai rekomendasi Peil Banjir atau surat keterangan bebas banjir saja. Kita belum menemukan masifnya upaya pemerintah khususnya pemerintah daerah dalam menerbitkan Perda terkait ketentuan pembangunan bangunan yang harus tahan gempa. Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, Imam S. Ernawi mengugkapkan bahwa menurut catatannya baru 30% kabupaten/kota yang memiliki Perda terkait tata cara perencanaan bangunan tahan gempa.

Dilain sisi,. Minimnya pembangunan bangunan tahan gempa selain disebabkan oleh landasan hukum yang masih kurang dan tidak mengikat, juga disebabkan karena terbatasnya sumber daya manusia di bidang bangunan tahan gempa. Kalaupun ada, aksesnya sangat sulit dan biaya konsultannya cenderung lebih mahal dibandingan pendirian bangunan konvensional.

Kita harus mengingat bahwa kita mempunyai puluhan ribu kuota beasiswa melalui LPDP, Bappenas, BUMN serta donatur luar negeri setiap tahunnya yang bila ditetapkan 10% saja dari total seluruh kuota ini khusus untuk merekrut para Fresh Graduate Tekhnik Arsitektur, Tekhnik sipil dan jurusan lain dengan disiplin ilmu yang sama, maka beberapa tahun kedepan kita sudah mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan ahli bangunan tahan gempa yang bisa kita sebar ke seluruh Indonesia dan memulai program pembangunan kita yang baru yang lebih berwawasan bencana.

Yang terakhir, para pelaku pasar, khususnya pemerintah dan para kontraktor perumahan dan gedung, semestinya melaksanakan inovasi konsep pembangunan dan marketing yang lebih memfokuskan pada produk-produk gedung dan perumahan yang berwawasan bencana. Bila dimanfaatkan dengan baik, ada potensi keuntungan besar yang menanti mereka jika mau menerapkan konsep bangunan berwawasan bencana khususnya bangunan yang tahan gempa. Ada puluhan juta konsumen khususnya di sepanjang pesisir sumatra, Jawa, Nusa Tenggara hingga Maluku yang merupakan daerah rawan gempa yang pasti akan sangat antusias untuk memiliki hunian tersebut.

Terakhir, kesemua solusi diatas, baik itu peenyediaan SDM yang mumpuni terkait bangunan tahan gempa, penguatan dasar hukum khususnya Perda dan pengubahan konsep pasar mengenai bangunangedung dan perumahan yang berkualitas hendaknya harus dijalankan bersama-sama dan terhubung satu sama lain agar hasil yang kita dapatkan kelak bisa maksimal dan merata, sehingga di masa depan kita telah memiliki Blue Print mengenai konsep pembangunan yang lebih arif dan berwaawasan bencana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sang Aku di Hadapan Wajah Yang Lain

Jika Anda hendak membantu orang lain. Pernahkah Anda bersikap cuek? Mungkin Anda merasa secara pribadi tidak berkewajiban menolong orang lain. Pada level sosial tertentu, Anda merasa korban tidak terikat secara kebudayaan dengan Anda. Atau karena dia bukan penganut agama yang sama dengan Anda. Di antara miliaran orang di muka bumi ini, saya yakin ada yang bersikap demikian.

Namun kita tahu, persoalan etika kemanusiaan tidak sesederhana itu. Sejahat-jahatnya manusia, setidaknya minimal dalam sekali pernah melakukan perbuatan baik pada orang lain. Saya saja merasa bukan seorang hero yang kerap berperan di film Hollywood. Tapi sesekali muncul suatu perasaan untuk membantu orang lain. Bahkan, pada suatu peristiwa tertentu,  saya kerap merasa  bertanggung jawab atas hidup orang lain. Entah mengapa.

Misalnya di suatu hari, ketika saya bertemu korban kecelakaan. Seketika saja timbul rasa tanggung jawab saya kepada sang korban. Dan akan merasa bersalah jika tidak memberikan pertolongan. Perasaan itu hadir begitu saja saat setelah terjadi perjumpaan dengan sang korban. Perasaan itu membebaniku secara psikologis, karena saya diringkus dalam sebuah pilihan: meruntuhkan sejenak egoku dan menolog orang itu atau abai saja. Waktu itu saya memilih memberi pertolongan, bersama pejalan lainnya.

Mungkin Anda juga pernah merasakan hal yang sama dengan saya. Anda pasti pernah terlibat dalam momen-momen etis tatkala melihat orang lain sedang kesusahan. Meski sepercik saja, timbul rasa tanggung jawab yang mencoba membujuk, mendorong Anda untuk melakukan sesuatu. Terlepas dari apakah Anda bergegas menolong atau tidak.

Manusia sejatinya adalah keterbelahan antara yang etis dan yang egois. Pada momen tertentu, perjumpaan etis bisa terjadi dalam relasi sang Aku (subjek) dengan Yang Lain. Hanya saja, manusia terkerangkeng oleh egonya sendiri. Sehingga membuatnya merasa tidak perlu bertanggung jawab pada Yang Lain. Aku hanya bertanggung jawab pada diriku sendiri. Aku hanya bertanggung jawab pada keluarga, dan sesama muslim. Seorang penganut Syiah yang dipersekusi akan sulit mendapat simpati pada para pembencinya. Sebab ego pembenci Syiah merasa tidak bertanggung jawab pada kaum yang dianggapnya sesat.

Tapi, bukan berarti selamanya pembenci Syiah bersikap demikian. Kuncinya sekali lagi ada pada rasa tanggung jawab yang selalu saja datang tiba-tiba dalam perjumpaan sang Aku dengan Yang Lain. Jika seorang anti Syiah merasa punya tanggung jawab antar sesama manusia, melebihi sekat-sekat perbedaan, bukan tak mungkin dia bersedia mengulurkan bantuannya jika melihat seorang penganut Syiah sedang dalam kesusahan.

Hal ini unik sebenarnya. Hingga munculkan pertanyaan, mengapa perasaan tanggung jawab bisa muncul tiba-tiba dalam relasi sang Aku dengan orang lain? Padahal diketahui, seseorang selalu adalah Yang Lain dalam kerangka pemikiran subjek. Dengan segenap keberlainannya,  sang Aku bisa saja merasa tidak bertanggung jawab atas nyawa, keselamatan dan beban sosial orang lain.

Sekitar 50  tahun yang lalu, filsuf Perancis Kontemporer,  Emmanuel Levinas memperkenalkan konsep “Wajah” (FaceLe visage) untuk mengemukakan pemikirannya mengenai kemungkinan-kemungkinan terjadinya perjumpaan etis sang Aku dengan Yang Lain. Jawaban atas pertanyaan di atas bisa kita lacak pada diskursus etika filsuf Yahudi itu.

Levinas mengatakan,  dalam relasi sang Aku dengan Yang Lain, Wajah muncul melalui momen epifani: hadir tiba-tiba dan menyapa sang Aku. Perjumpaan sang Aku dengan Wajah Yang Lain membuatnya tersandera,  terpanggil untuk memberikan sesuatu pada Yang Lain. “The face opens the primordial discourse whose first word is obligation which no ‘interiority’ permit avoiding,” demikian tulis Levinas dalam bukunya yang terkenal, Totality and Infinity. Kewajiban itu menjelma dalam bentuk tanggung jawab yang tak bisa dihindari oleh sang Aku.

Konsep Wajah Levinasian ini tidak dipahami sebagai wajah biologis atau fisik. Wajah yang dimaksud adalah Wajah yang tak terlihat, tak dapat disentuh. Namun, kehadirannya dapat dihayati sang Aku hingga mendorongnya untuk bertanggung jawab terhadap Wajah itu. Untuk itulah Levinas mandang Wajah tak mungkin diabstraksikan atau dirumuskan dalam kerangka pemahaman apapun.

Masih dalam Totality and Infinity Levinas menyebut,”….the face is present in its refusal to be contained.” Pada kesempatan lain Levinas juga menyebut wajah sebagai suatu infinity (tak berhingga), transenden, dan suatu alteritas yang tak bisa direduksi dalam totalitas. Sifat Wajah ini adalah implikasi ontologis darinya yang tak terjamah. Hanya melalui relasi langsung yang bersifat etis, Wajah itu bisa menampakkan diri di hadapan sang Aku. Karena Wajah mustahil direngkuh oleh persepsi, maka Wajah hanya bisa dijumpai pada level pra reflektif.

Melalui perjumpaan itu, Wajah menyapa dan memanggil subjek untuk menemuinya: Wajah itu seperti takut ditinggalkan sendirian. Dalam suatu keadaan tertentu, mungkin Anda pernah merasakan adanya sebuah bisikan. Semacam sebuah perintah “tolong aku”, “lindungi saya”, di kedalaman perasaan Anda ketika berjumpa orang lain yang sedang menanggung kesulitan. Merujuk pada Levinas, itu adalah keadaan pra reflektif saat terjadinya perjumpaan sang Aku dengan Wajah.

Sapaan yang dilakukan Wajah mendorong sang Aku tiba-tiba sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Yang Lain bahkan sebelum ia melakukan identifikasi, refleksi, persepsi, atau komunikasi terhadap Yang Lain. Implikasi yang lebih kongkret, Wajah Yang Lain meruntuhkan egoisme sang Aku dalam suatu relasi etis.  Menjadikannya siap menerima orang lain dengan segala keberlainan dan perbedaannya melalui rasa tanggung jawab.

Keadaan bertanggung jawab ini yang menjadi titik mula ego sang Aku keluar mengambil tindakan demi Yang Lain. Levinas menyebutnya sebagai keadaan eksterioritas. Dalam tafsiran bebas saya, eksterioritas dapat terjadi hanya jika hasil refleksi subjek terhadap pengalaman pra reflektif itu membuatnya memutuskan mengambil tindakan.  Karena sesungguhnya kesadaran akan tanggung jawab itu  menjebak subjek pada dilema yang begitu tragis: bertindak atau diam saja melihat penderitaan Yang Lain.

Maka jangan heran jika banyak orang yang rela berkorban untuk orang lain. Tulus dan tanpa pamrih. Levinas menyebutnya hubungan yang asimetris. Karena orang-orang seperti itu berhasil menerjemahkan secara kongkret panggilan Wajah Yang Lain untuk bertanggung jawab atasnya. Tanpa peduli dia anak siapa, dari suku mana, penganut agama dan mazhab apa, ego orang baik ini sudah siap memihak pada Yang Lain dengan segala keberlainannya.

Syahdan, setiap orang sebenarnya pernah merasakan momen etis, hingga membuatnya merasa bertanggung jawab atas Yang Lain. Di sinilah kualitas kemanusiaan kita diuji. Apakah memilih menjumpai secara kongkrit Yang Lain, atau tetap membiarkan ego berada dalam interioritasnya sendiri. Pada konteks ini, diri kita sendiri adalah ujian untuk ego kita. Karena teman terbaik sekaligus musuh berbahaya adalah diri kita sendiri.

Jika diperluas jangkauannya, etika Levinasian bisa menjadi jembatan bagi pikiran dalam memandang pluralitas antar sesama manusia. “Metafisika Wajah” Levinasian ini—tanpa bermaksud mempersempit jangkauan teoritiknya—bisa menjadi pendasaran bagi kajian muktikulturalisme. Saat Indonesia sedang diterjang politik identitas dan fenomena intoleransi,  etika Levinasian bisa menjadi tawaran alternatif untuk memperkaya khazanah pluralisme.

Sumber gambar: crispme.com

Antivaksin dan Kengerian Masa Depan

Imunisasi Campak dan Rubella, atau Measles-Rubella (MR) menjadi perbincangan hangat mengarah brutal. Kegiatan imunisasi ini memunculkan protes dari berbagai lapisan masyarakat hingga institusi pendidikan tertentu yang menolak untuk melakukan imunisasi. Kelompok masyarakat yang oleh para warganet diberi gelar kelompok antivaksin ini kerapkali menyandarkan argumen utama mereka terhadap dua hal, yakni aspek teologis dan aspek kasus tertentu yang menunjukkan jatuhnya korban akibat imunisasi.

Alasan pertama yakni karena dasar agama. Dalam hal ini, memang kita tidak bisa abai terhaap kebutuhan masyarakat mengenai kepastian status kehalalan dari vaksin tersebut, meski pada dasarnya hal ini hanyalah sebuah persoalan administrasi dan sebuah perbedaan pandangan mahdzab tentang keharaman sebuah benda yang menekankan pada beberapa teori fiqh. Seperti pada teori Istihalah, teori ini meninjau status keharaman benda pada perubahan zat, seperti minuman keras Wine yang telah berubah menjadi cuka, maka hukumnya halal untuk dikonsumsi.

Pada pendapat yang lain, dikenal juga teori fiqh yakni Istihlak, yakni berubahnya status keharaman sebuah benda  yang haram atau najis bercampur dengan zat lain yang halal dengan jumlah yang lebih banyak seperti bangkai yang tenggelam di laut yang saat air lautnya berubah menjadi garam, maka garamnya tetap halal.

Pada kasus fatwa MUI ini, karena negara kita yang mayoritas bermahdzab Syafi’i, maka ulama-ulama kita cenderung ketat dan tetap memandang keharaman vaksin karena meskipun hasil Uji Labkesda tidak menunjukkan adanya kandungan babi, tapi pada saat proses pembuatannya masih tetap bersentuhan dengan unsur babi. Hal ini nampak berbeda dari negara-negara lain yang telah jauh-jauh hari menghalalkan vaksin MR karena pemahaman mahdzab dan penggunaan teori fiqh mereka yang sedikit berbeda dari kita.

Jadi pada sisi teologis,keharaman vaksin ini nyatanya bukanlah keharaman mutlak seperti pada daging babi atau minuman keras melainkan hanyalah sebuah perbedaan pandangan dan mahdzab yang sejatinya sangat debatable. Namun berlepas dari keharaman itu, toh MUI juga telah menghukumi imunisasi ini dengan mubah dikarenakan unsur darurat sehingga boleh digunakan oleh masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan, setelah MUI membolehkan imunisasi dengan melihat aspek kedaruratan, rupanya kalangan antivaksin bergeming. Hal ini bisa dilihat dari masih maraknya diskusi di dunia maya oleh mereka yang masih tetap enggan untuk mengimunisasi anaknya dan tetap memilih bertahan dengan pendapatnya yang nyatanya merupakan hasil dari copas kasus-kasus tertentu yang sangat kasuistik.

Sebut saja kasus anak yang meninggal pada tahun 2017 setelah diimunisasi yang kini kembali diangkat dan dijadikan pembenaran untuk mengugurkan kesuksesan jutaan imunisasi yang telah dilakukan sebelumnya.Kasus yang minim data dan pembuktian ilmiah ini dijadikan pembanding terhadap ratusan juta kesuksesan imunisasi yang telah dilaksanakan sejak berpuluh tahun yang lalu.

Kita tentunya tidak bisa menafikan beberapa kasus efek samping dari imunisasi ini yang nyatanya memang terjadi di sekitar kita. Maka di sinilah pemerintah semestinya bergerak cepat untuk melaksanakan penyelidikan menyeluruh mengenai kasus efek samping ini dan sesegera mungkin menyebarluaskan hasil dari penyelidikan ini agar kekhawatiran para orangtua tidak semakin menjadi-jadi dan tidak dijadikan bahan provokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Namun berlepas dari kesemua hal di atas, pemerintah sudah harus bergerak memetakan dan mendata tingkat keberhasilan atau bahkan tingkat kegagalan imunisasi di semua daerah, karena bila program imunisasi ini gagal, maka kedepan boleh jadi ada sebuah masalah besar yang mengintai seluruh anak-anak kita. Karena sebagaimana arahan dari Kementrian Kesehatan, bahwa imunisasi MR harus bisa diterapkan pada lebih dari 90% objek imunisasi (Kelompok anak usia 9 Bulan hingga 15 tahun) di sebuah area atau daerah tertentu.

Karena dengan memenuhi target >90%  maka kita akan menciptakan lingkungan yang kebal terhadap virus Rubella diakibatkan kesempatan berkembang biak bagi virus ini telah ditutupi oleh 90% populasi yang telah diimunisasi. Hasil dari imunisasi kita berpuluh tahun yang lalu ini jugalah yang sampai sekarang menciptakan kekebalan atau imunitas kolektif sehingga penyakit-penyait mengerikan yang dulu sempat mewabah kini tidak terdengar lagi dan berkurang secara sangat drastis. Hal inilah yang kdang menjadi kesalahpahaman dan dijadikan argumen oleh para orang tua yang merasa tidak pernah di imunisasi namun masih merasa sehat-sehat saja bersama anak-anak mereka.

Kesemua kesalahpahaman di ataslah yang akhirnya mendorong semakin meningkatnya kalangan antivaksin beberapa tahun belakangan ini. Kita dapat menyimak fenomena ini melalui banyaknya drama-drama penolakan imunisasi yang bahkan disuarakan bukan saja oleh orang tua melainkan oleh pihak sekolah sendiri. Maka sepatutnyalah menjadi kekhawatiran, bahwa hal ini merupakan indikator kemungkinan adanya daerah-daerah atau area tertentu yang tidak memenuhi target >90% imunisasi dan berpeluang menghambat terciptanya kekebalan kolektif di masa depan.

Kita mesti banyak belajar dari kasus seorang dokter pencernaan asal Inggris, Andrew Wakefield yang pada tahun 1998 menerbitkan sebuah jurnal kesehatan di The Lancet,sebuah jurnal kedokteran ternama dan prestisius di mana ia memaparkan bahwa hasil risetnya terhadap 12 orang anak menunjukkan gangguan perkembangan yang tidak wajar setelah diimunisasi Cacar, Gondok dan Rubella (MMR).

Namun pada tahun 2000, The Lancet menarik tulisan Wakefield karena terindikasi memiliki data yang fiktif dan terungkapnya skandal penyuapan kepada dirinya utuk menguatkan pendapat seorang pengacara yang tengah berkasus dengan perusahaan produsen vaksin MMR saat itu. Namun apa daya,  hasil penelitiannya ini telah terlanjur dimakan mentah oleh banyak kalangan antivaksin di Inggris dan Amerika, dan hasilnya, Amerika yang pada tahun 2000 telah mendeklarasikan negaranya telah bebas dari Cacar, kini pada tahun 2017 malah harus mendapati 2.216 warganya kini terinfeksi cacar.

 

Ilustrasi: https://www.suara.com/health/2018/08/21/180031/

 

5 Jenis Mahasiswa Senior Bakal ditemui ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Menjadi mahasiswa baru adalah pengalaman tersendiri bagi sebagian orang. Selain merupakan masa transisi dari kehidupan “pra-pencerahan”, ia juga menjadi penanda bertambahnya tanggung jawab sebagai pelanjut generasi bangsa.

Dunia kemahasiswaan adalah semesta pengalaman yang unik. Ketika je menjadi mahasiswa baru, je bakal menemukan dunia yang berbeda dari masa SMA dulu. Mulai dari beban sks, jadwal mata kuliah yang sering bergonta-ganti, teman nongkrong yang kece-kece(le), aneka ragam dosen dari kelas bulu sampai kelas berat, pembayaran ini itu, aktifitas organisasi yang macam-macam, hingga tentu senior-senior  yang kegatelan ingin mendekati je seperti calo tiket terminal.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan amatiran eike, tulisan ini ingin menyajikan 5 jenis mahasiswa senior yang bakal je temui ketika menjadi mahasiswa baru.

  1. Senior tipe ustaz/ustazah

Tipe pertama senior ini banyak bermunculan ketika kampus dikepung organ-organ berhaluan agama. Mulai dari organ tipe liberal sampai konservatif. Namun, sekira lima tahun belakangan organ agama kemahasiswaan yang dominan adalah ah-je-tahu-sendiri-yang-eike-maksud.

Ciri-ciri organ ini gampang diidentifikasi ketika mereka sedang menguasai masjid-masjid kampus. Dalam suatu artikel, Azyumardi Azra seorang cendikiawan muslim Indonesia sekaligus mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, organ-organ ini bisa merebak bak bakteri akibat tidak ada wacana Islam tandingan yang lebih moderat.

Yups, benar sekali. Mereka gampang dikenali dari paham keagamaan mereka yang menghendaki berdirinya negara agama.

Mahasiswa senior macam begini punya strategi rekuitmen kader bekerja sama dengan dosen-dosen buta politik. Dengan dalih kajian keagamaan banyak mahasiswa baru kepincut ikut organ ini yang berafiliasi dengan ormas-ormas keagamaan berhaluan konservatif.

Yang unik dari organ tempat jenis mahasiswa senior ini berkecamba,  mengikuti kegiatan mereka ikut menentukan bagus tidaknya nilai mata kuliah agama di kurikukulum tingkat jurusan.

Senior tipe ustaz/ustazah sangat gampang ditemui di lingkungan sekitar masjid-masjid kampus. Mereka getol berdakwah bahkan sampai berburu di rumah kos-kosan mahasiswa baru.

  1. Senior ala kadarnya

Senior ala kadarnya adalah mahasiswa akhir yang tidak terlalu ambil pusing ketika mahasiswa baru pertama kali menginjakkan kakinya di aula-aula kampus.

Senior tipe ini adalah satu jenis mahasiswa yang sehari-harinya mempraktikkan etika mahasiswa 3K: kampus, kamar kos, dan kakus. Di tiga semesta inilah senior tipe ini mengekalkan kehidupannya.

Karena prinsip etika 3K, senior seperti ini lebih mengedankan kehidupan akademik yang layak. Kuliah hanyalah satu-satunya aktivitas mereka. Bagi mahasiswa tipe ala kadarnya nilai A+ di atas ijazah adalah satu-satunya summum bonum yang mesti diperjuangkan seluruh mahasiswa.

Itulah sebabnya, kehadiran mahasiswa baru ketika masa PMB dan setelahnya, tak sedikit pun mengalihkan perhatian mereka.

Oh iya, senior jenis ala kadarnya  adalah mahasiswa yang paling banyak berkembang biak di dalam kampus. Mereka kelas mahasiswa mayoritas yang paling banyak memenuhi isi kantin jika rehat dari jam perkuliahan.

  1. Senior masih dunia lain

Senior masih dunia lain adalah senior yang misterius. Tidak banyak informasi dapat diketahui dari senior jenis ini. Namanya juga senior masih dunia lain! Kampus bukanlah alam hidup mereka.

  1. Senior aktivis sampai mampus

Nah, kalau yang ini adalah senior yang sering gagah-gagahan menggunakan Pakaian Dinas Harian (PDH) organisasi. Ibarat pegawai negeri sipil, baik kuliah atau sedang ee di kamar mandi seragam PDH adalah satu-satunya busana yang dikenakan. Mirip tentara, PDH adalah lambang kesetiaan kepada organisasi.

Senior dari klasifikasi ini merupakan mahasiswa penghuni sekretariat-sekretariat sebagai kantor mereka. Di masa OSPEK PMB tiba, mereka inilah yang paling sibuk menyiapkan penyambutan mahasiswa baru.

Di masa itu kadang mahasiswa senior dari kelas ini jarang sekali pulang ke rumah hanya untuk menghibahkan waktunya demi dedek-dedek mahasiswa baru.

Tidak jarang, dari senior seperti inilah lahir macan-macan kampus. Kelas mahasiswa minoritas yang garang di jalanan tapi malas membaca buku.

Berkat kehidupan altruis mereka, mantan macan kampus yang sudah lebih dahulu diusir dari kampus menitipkan tanggung jawab kelembagaan di atas pundak mereka. Kadang lantaran tanggung jawab ini mereka sampai mampus hidup abadi di dalam kampus.

  1. Senior ala KRS (Korban Retorika Senior)

“Sepertinya kita hidup di waktu yang salah,” seloroh kawan eike ketika ngopi di salah satu kampus di Makassar. Ucapannya itu dia maksudkan kepada mahasiswi-mahasiswi yang saat itu asik merumpi di sudut kantin. Tapi bukan isi obrolan yang ia sasar dari mahasiswi-mahasiswi itu, melainkan paras mereka yang cantik rupawan.

Waktu itu kami sudah lama meninggalkan kampus, dan ketika datang bertandang dalam suatu kegiatan di kampus, kawan eike terkesima melihat mahasiswi-mahasiswi generasi milenial yang lebih fesyienebel dari zaman kami sebelumnya. Dengan paras rupawan dan tampilan yang lebih stelish mahasiswi sekarang jauh lebih sadar penampilan dari generasi sebelumnya.

Kepada mereka inilah sekaum mahasiswa senior menjadikan mereka sebagai calon gebetan. Bagi mahasiswa senior yang sering ikut kajian retorika walaupun tidak tuntas-tuntas, sering menggunakan disiplin ilmu ini sebagai senjatanya.

Melalui obral kata-kata, mahasiswi-mahasiswi yang masih polos kerap menjadi korban senior jenis kelima ini. Sejak dijadikan pacar unyu-unyu, mahasiswi seperti mereka menjadi bamper bertahan hidup mulai dari ongkos ngerokok sampai belanja quota data mingguan.

Karena semua itulah mahasiswi-mahasiswi yang termakan kata-kata senior seperti ini sering disebut mahasiswi KRS (korban retorika senior).

Kadang, lantaran saking KRS-nya, mereka sering diPHP-kan di akhir semester nanti. Cinta akhirnya tak seawet empat belas semester.

Seperti senior tipe aktivis, senior ala KRS sering cari-cari muka ketika  mahasiswa baru pertama kali menjalani hari-hari pertamanya di selasar kampus.

Itulah 5 jenis mahasiswa senior yang bakal kamu temui saat menjadi mahasiswa baru. Tidak ideal, memang. Hidup mahasiswa.

 


sumber gambar: Okezone.news

Seputar Demokrasi: Batasan dan Kebebasan

Sering dijadikan bahan untuk brainstorming, apakah pisau itu baik atau buruk? Atau pistol, pedang, kitab suci, dsb, dsb? Saya skip saja. Anda tentu sudah familiar dengan “gojekan” semacam itu.

Begitu juga dengan internet. Medsos berserta fitur-fitur yang tersedia. Makan dan minum saja meski ia menjadi kebutuhan primer akan menjadi buruk kalau porsinya berlebihan. Kita perlu memiliki kesadaran untuk membatasi porsi makan kita. Di samping memiliki kebebasan untuk makan apa. Bahkan untuk tidak makan. Boleh jadi sedang tidak selera. Atau mungkin lagi kere. Hheu.

Baiknya, terhadap kata, kita lepaskan dulu stigma yang terlanjur dilekatkan oleh media. Mari kembalikan kepada denotasi kata itu sebagaimana maksudnya. Kebebasan itu identik dengan liberal. Sedang pendapat, apa bedanya dengan argumen, ocehan, dsb? Ya, tentu saja epistemologinya. Outputnya sama. Lebih lanjut, kalau mau tertib, nuansa dan momentum penggunaan kata itu sendiri. Yaitu konteksnya.

Tapi, di era digital sekarang, yang berpedoman “time is money“, apa-apa dilakukan kalau bisa dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sehingga sebagian orang enggan meluangkan waktu dan energi untuk menelusuri asal-usul sesuatu. Jarang yang mau meneliti. Asal cocok dengan selera politiknya, share!, sebarkan!, viralkan! Walhasil, ada berita mendahului peristiwanya tanpa sepengetahuan siapa-siapa (baca: hoaks).

Dalam demokrasi, manusia tertimbun oleh kata-kata, siapa saja bebas berpendapat. Terlepas itu benar atau salah, baik ataukah buruk. Kebebasan berpendapat. Tak hanya di Indonesia. Meski juga ada konsekuensi hukumnya.

Isu yang kekinian misalnya, yang sedang heboh di media, bisakah kita bedakan antara mereka yang mendukung suksesnya Asian Games dan mereka yang lebih condong mendukung koalisi Pak Jokowi meski dengan panggung Asian Games? Tipis memang. Tapi mari kita jernih melihatnya. Kepada poin apa/mana yang menjadi titik berat perhatian kita.

Maksudnya, apakah suksesnya Asian Games itu milik koalisi Pak Jokowi saja atau ia menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia? Apakah Pak Prabowo, Pak SBY, Pak Amien rais, dan semua pendukung koalisinya bukan termasuk masyarakat Indonesia juga?

Sebaliknya ketika Asian Games itu gagal atau berantakan apakah itu dampaknya pada koalisi Pak Jokowi saja ataukah seeganap masyarakat Indonesia menanggung dampaknya ketika penilaian buruk dari negara-negara kontestan itu mempengaruhi kebijakan politik luar negerinya terhadap Indonesia?

Bagaimanakah kita mengantisipasi arus itu? Siapa yang mampu menghentikan hoaks-hoaks itu? Siapa bisa menjinakkan warganet yang seakan non stop 24 jam itu?

Sebagaimana hukum dialektika. Sesuatu itu tidak mandek, stagnan, dsb. Bersyukurlah kita terlahir sebagai manusia, bukan domba. Dibekali akal untuk berpikir. Maka mampu berdialektika. Tak seperti domba, dari dulu makannya rumput. Manusia juga bisa makan rumput bahkan sedomba-dombanya, disate, digulai, dsb sesuai selera. Yang setelah itu pun bisa menyeruput kopi sambil rokok’an.

Maksudnya, makin kesini, kita pun makin mengerti gelagat ocehan-ocehan itu.

Oleh sebab media yang mengkategorisasi publik menjadi dua: cebong dan kampret. Seolah tak ada narasi di luar itu. Namun, tak apa. Toh manusia berdialektika. Sehingga kian menyadari bahwa dari kelompok itu siapapun tokohnya, narasinya akan lebih condong kepada kelompoknya. Begitu pun sebaliknya.

Maka, tak perlu repot menganalisa. Yang membedakan hanya warna kalimat dan corak pemikiran si pembicara. Tapi toh cuma atraksi retorika belaka. Publik yang berdialektika, makin hapal arahnya kemana, intinya apa, dsb.

Begitu juga pendukungnya. Maaf, cebong dan kampret. Pendukung paslon itu akan selalu berbicara begitu tentang itu. Survey dan data? Toh semua sudah tersedia, dari lembaga mana, dari institusi apa, mengutip pendapat siapa. Yang mengunggulkan pak Jokowi ada, pak Prabowo juga ada. Tinggal pilih, kedua kubu punya sederet intelektual, cendekiawan, ustadz, ulama, apalagi? Semua tersedia.

Cebong atau Kampret? Terserah anda. Kecanggihan teknologi mempermudahnya.

***

Siapa saja bebas berbicara apa saja diluar kapasitasnya. Di medsos, banyak orang ujug-ujug berprofesi sebagai pengacara dan hakim. Menjadi jaksa penuntut umum. Parahnya lagi ada yang seolah-olah berprofesi sebagai malaikat yang mencatati perbuatan baik-buruk seseorang, bahkan mengambil alih hak prerogatif Tuhan perihal surga-neraka. Begitulah konten sehari-hari yang kita jumpai di media. Jarang yang menjadi manusia, nyaris tak ada yang mengaku setan atau iblis. Kasian. Tak laku beliau.

Zaman memasuki era digital. Medsos terbuka untuk diisi konten apapun dari siapapun. Kebebasan berpendapat itu mesti dibersamai dengan kesadaran akan batas. Kiranya itu yang dibutuhkan demi kualitas demokrasi yang lebih baik. Artinya, kita membatasi diri dari sesuatu yang diluar kapasitas kita.

Di atas demokrasi masih ada aristokrasi dan teokrasi. Tulisan ini, juga tulisan yang sebelumnya, bukan dalam upaya mendiskreditkan demokrasi. Juga bukan sinisme terhadap kelompok cebong dan kampret. Tentunya, tiap sistem memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sistem itu menjadi baik manakala pengelolaannya efektif, dan itu bergantung pada pemahaman dan tingkat kesadaran manusianya. Sebagai subjek, baik sebagai individu maupun masyarakat.

Selamat berdemokrasi dan selamat bermedsos ria!

Tenggarong, 26 Agustus 2018

Merayakan Makna Kemerdekaan dalam Bayang-bayang Penggusuran

“Apakah kamu masih percaya negara?” seorang teman bertanya dengan serius.

“Apakah kita masih bisa mengatakan merdeka jika kemiskinan dan ketidakadilan masih nyata dilihat di depan mata?” lanjut bertanya kembali”

“Ah, sudah mi, pertanyaannmu tidak penting,” jawabku dengan santai

Seriuska ini bertanya cika’,” menatapku dengan tatapan tajam.

“Oke begini, bersama dengan warga Tallo, kami berencana akan mendirikan negara; Republik Rakyat Tallo (RRT) dan menjalin kerjasama serius dengan Negara Cina,” balasku dengan canda.

***

Malam itu hujan puisi berjatuhan di Pantai Marbo Tallo. Pak Ardi salah seorang Ketua RT juga turut membacakan puisi dan setelah itu diikuti secara bergantian oleh anak-anak muda setempat. Hanya bermodalkan pinjaman gitar akustik dan sound system dari salah satu organisasi UKM mahasiswa di kampus dan dengan pencahayaan lampu yang seadanya, bale-bale itu seketika menjadi panggung pertunjukan bagi para pencinta puisi.

Warga sedang merayakan ritus kemerdekaan dengan mengadakan lomba baca puisi khusus untuk anak-anak di Kampung Manggarabombang, Kelurahan Tallo tetapi ternyata di luar dugaan, sekitar ratusan warga yang hadir malam itu betul-betul menikmati setiap bait-bait puisi yang dibacakan.

Yasid, salah seorang anak yang mengikuti lomba baca puisi malam itu, membuat suasana menjadi hening dan membuat para pendengarnya larut terbawa emosi dengan puisi berjudul “Ibu” yang dibacakannya penuh penghayatan. Puisi bukan hanya milik dari yang menulis dan membaca puisi, puisi adalah bahasa perasaan, menjadi milik baginya yang menjadikan rasa sebagai jembatan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Puisi pun bisa menjadi hidup, penuh khidmat di tempat-tempat yang diklaim sebagai kawasan kumuh, ilegal, dan latar ekonomi warganya kebanyakan berkutat dalam kemiskinan.

Merayakan ritus kemerdekaan di pesisir Tallo merupakan tahun kedua bagi saya dan teman-teman Komunitas Ruang Abstrak Literasi. Itu artinya pula kami sudah memasuki tahun kedua mengambil peran dalam gerakan literasi di pesisir Tallo dengan segala dinamikanya yang membuat kami tetap bertahan hingga saat ini.

Tahun ini juga, perayaan kemerdekaan dengan berbagai macam lomba mulai dari olahraga, seni dan permainan tradisional dilaksanakan di dua kampung, yakni Kampung Manggarabombang dan Kampung Gampancayya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo.

Tidak banyak waktu untuk mempersiapkan semua hal, mulai dari konsep perayaan hingga teknis persiapan lomba. Tetapi warga terkhusus anak-anak muda di Tallo terlihat begitu kompak dan bersemangat untuk melibatkan dirinya menyukseskan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-73.Dua minggu sebelum perlombaan dimulai, kepanitiaan bersama terbentuk dengan melibatkan tokoh-tokoh warga setempat, anak-anak muda dan komunitas.

Tahun ini juga kami bersyukur, Komunitas Mata Kita Sul-Sel dan Agen Obat Manjur KPK (Komisi Pemberantasan Anti Korupsi) dan beberapa relawan mahasiswa dari beberapa kampus di Kota Makassar juga ikut berpartisipasi, merayakan bersama kemerdekaan selama kurang lebih satu minggu dengan warga pesisir Tallo.

Di pesisir Tallo kita mencoba merayakan makna ritus kemerdekaan di tempat yang sesungguhnya belum sepenuhnya dapat dikatakan merdeka jika tolak ukurnya adalah terpenuhinya hak-hak dasar sebagai warga negara, seperti hak atas tempat tinggal kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan dan lain-lain. Secara kasat mata kita bisa melihat langsung kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh warga pesisir Tallo, salah satu contoh kasus adalah warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Banyak warga yang mengeluh karena mereka harus mengeluarkan biaya setiap bulan kisaran Rp. 300 ribu hingga Rp. 600 ribu untuk membeli air di pedagang air dengan harga Rp. 3.000 per gerobak dengan isi 12 jergen dengan kebutuhan air setiap harinya 3 sampai 5 gerobak.

Belum lagi ketika menyinggung soal tangkapan hasil laut nelayan yang semakin menurun akibat dari limbah industri yang dibuang oleh perusahaan di muara Sungai Tallo dan proyek rakus reklamasi yang semakin luas sehingga daerah tangkapan ikan juga semakin terbatas. Oleh Pemerintah Kota Makassar, pesisir Tallo pun mendapat klaim sebagai kawasan kumuh dan identik dengan kemiskinan yang tentu membutuhkan sentuhan program penataan versi pemerintah.

Melalui program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) yang merupakan proyek pemerintah pusat atau dikenal dengan sebutan National Slum Upgrading Project, Kota Makassar menjadi salah satu kota dari 269 Kota di Indonesia yang melaksanakan program ini.

Program KOTAKU sekilas merupakan program yang akan bermanfaat karena akan menata kawasan pemukiman yang dianggap kumuh dengan model pendampingan sosial ekonomi untuk keberlanjutan penghidupan warga yang telah tinggal di pemukiman tersebut. Kelurahan Tallo dan Kelurahan Buloa adalah dua kelurahan di Kecamatan Tallo yang dipilih sebagai lokasi prioritas program KOTAKU.

Tetapi fakta lain dari hasil riset yang diterbitkan Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Sulawesi Selatan bersama dengan Koalisi Pemantau Pembangunan Infrastruktur pada Oktober 2017, mengungkap bahwa program KOTAKU perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Selain karena pembiayaan proyek dari utang Bank Dunia dan Asian Infrastruktur Investment Bank (AIIB) yang akan menambah beban negara, proyek ini juga tidak melibatkan langsung warga yang terkena dampak, mulai dari perencanaan awal dan sosialisasi terbuka.

Sehingga warga menganggap bahwa program KOTAKU justru akan menggusur mereka dari tempat tinggalnya dan berpotensi menghilangkan hak warga atas pekerjaan sertalingkungan yang rusak karena reklamasi. Kesimpulannya bahwa program KOTAKU adalah upaya tersistematis untuk mengusir orang miskin di perkotaan dengan mengesampingkan hak asasi sebagai manusia dan sebagai warga negara.

Merdeka bagi warga pesisir Tallo adalah ketika mereka merayakan ritus kemerdekaan dengan tertawa bahagia, terlibat dalam setiap lomba-lomba yang dipertandingkan atau sekedar meramaikan diri menjadi penonton. Setelah semuanya selesai, mereka akan kembali semula pada suatu kondisi yang sesungguhnya belum merdeka dengan terus bertahan dari kerasnya arus kehidupan yang tidak adil.

Bagi saya ruang untuk memaknai bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang simbol-simbol nasionalisme tetapi turut menciptakaan rasa merdeka di tempat yang belum sepenuhnya merdeka dari bayang-bayang penggusuran. Untuk itu saya belajar banyak hal pada warga pesisir di Tallo bagaimana menjadi merdeka dengan cara sederhana.

Seputar Demokrasi, Secuil Moralitas

Demokrasi adalah sebuah kebisingan. Demokrasi itu berisik. Itulah konsekuensi berdemokrasi. Anda suka atau tidak, terima atau tidak, setidaknya pahami dulu asumsi dasarnya. Agar tidak kintir dengan arusnya.

Beberapa mereka yang mengerti seluk liku demokrasi, memperoleh keuntungan. Sambil menyelam, minum air. Beberapa lainnya, meski juga piawai, memilih abstain rokok’an di gardu ronda. Sambil menyelam, minum kopi, gaplek’an, dsb, dsb. Tulisan ini membahas yang pertama. Yang kedua mohon maaf lain kali, lain waktu. Mungkin juga lain tempat.

Anda tidak bisa menghentikan ocehan-ocehan itu. Berisik adalah cirinya. Ocehan balas ocehan, pendapat lawan pendapat, asumsi versus asumsi, dsb, begitu dst. Untuk menghentikan seorang Rocky Gerung misalnya, anda mesti hadirkan ocehan yang lebih berbobot. Terserah nilai apa yang terkandung dalam ocehan Anda. Sehingga yang unggul adalah pendapat yang mampu meredam pendapat (atau ocehan, asumsi) lainnya. Setidaknya sebelum ditangkal lagi oleh pendapat baru yang mampu meredamnya kemudian. Ya, meredam dalam arti membantah.

Sekarang pointnya adalah meredam. Praktiknya: bantah-membantah. Pendapat mana/siapa yang paling bising. Maksudnya, yang paling berpengaruh, paling didengar, paling luas efeknya. Pertanyaan kemudian ialah faktor apa yang membuat argumen itu unggul? Yang oleh sebab itu seseorang bisa menyelam sambil minum air, dalam demokrasi. Kapan-kapan kita ulas soal faktor itu.

Dengan goal yang paling berpengaruh, paling didengar, dan paling berefek, maka tak begitu menjadi soal apakah pendapat siapa/mana itu benar atau salah, baik atau buruk. Yang penting tujuannya tercapai. Moral? Lain soal. Hubungannya dengan moral sangat bergantung pada tingkat pemahaman audiensnya. Kalau yang skalanya luas, local wisdom seperti apa yang berlaku di masyarakat itu, atau sejauh mana daya jelajah nalar publik menjangkau telikungan, lipatan, atraksi retorika itu.

Artinya apa? Moral adalah diskursus sekunder dalam demokrasi. Merupakan instrumen relatif dalam praktik berdemokrasi. Lebih jauh jika disangkut-pautkan dengan moralitas agama. Hampir bumi-langit jaraknya. Karena demokrasi dalam praktiknya cuma dua: ekonomi dan politik. Campur baurnya disiplin moral (atau agama) hanyalah instrumen pelengkap untuk mencapai goal. Sebagaimana dibahas di atas. Apakah itu baik atau buruk, benar atau salah, selama ia selaras dengan pemahaman audiensnya maka tak menjadi soal. Yang penting tak terjadi resisten luas.

Apakah keputusan pak Jokowi jatuh pada KH. Ma’ruf amin itu tepat? Apakah itu mendzolimi (atau setidaknya mempermainkan) pak Mahfud? Apakah keputusan pak Prabowo memilih pak Sandiuno tepat atau tidak? Apakah pak Prabowo mengabaikan ijtima’ ulama, mempermainkan kesetiaan PKS? atau, apakah kandidat capres/cawapres atau menunggangi agama tertentu? kenapa pak Said aqil mengatakan pak Mahfud bukan kader NU? mengapa pak Amien rais ujungnya bilang itu hanya guyon setelah sebelumnya getol menentang pemerintahan pak Jokowi?

Itu semua murni proses politik. Begitulah dialektikanya.

Apakah perilaku itu baik sebagai panutan publik, karena secara langsung maupun tidak itu merupakan potret pendidikan politik yang kemudian mempengaruhi alam pikir masyarakat? Di situlah domain moralitas. Pada tema itu diskursus moral menjadi relevan. Sebelum lebih lanjut dipertautkan lagi kepada moralitas agama tertentu.

Hanya saja, moralitas merupakan tema sekunder dalam proses demokrasi di Indonesia. Untuk sopan santun menyebut nihil praktik politiknya di lapangan. Meski saban hari gentayangan sebagai diskursus di dunia maya maupun layar kaca. Apakah fakta itu baik dipertontonkan kepada publik? itu lain hal.

Dahulu, di yunani, tempat dimana gagasan demokrasi itu muncul, siapa saja bebas naik mimbar berbicara apa saja memperkenalkan kreatifitas idenya. Kebebasan itu hanya dibatasi rasionalitas. Ketika yang dibicarakan adalah hoax, ketika itu pula ia menanggung penghakiman masyarakat. Ya, nalar publik bekerja. Sebagaimana di Nusantara dahulu, dahulu di penghujung sisa kejayaan Majapahit sebelum berganti era Kesultanan Demak sepenuhnya, Nyoo lay wa diangkat oleh Kesultanan Demak untuk memimpin Majapahit, mengendalikan masyarakat yang masih bersetia kepada Majapahit. Singkat kata singkat cerita, karena dianggap tak becus oleh masyarakat, ia dihakimi massa pada saat itu. Sekali lagi, nalar publik bekerja.

Maka tak butuh lembaga sedemikian rupa sebagaimana dewasa ini. Semisal, KPI, KPK, dsb dsb.. Karena nalar publik bekerja, sensitifitas publik hidup, semua saling merawat dan menjaga berdasarkan local wisdom yang ada. Gotong royong. Tata tentrem kerta raharja.

Ya, itu dulu. Lain dulu lain sekarang.

Sehingga pilihannya adalah pada level mana demokrasi itu akan kita tempatkan. Setelah terlebih dahulu mengetahui pada tahap mana capaian demokrasi kita sekarang ini.

Selamat memperingati Hari Proklamasi kemerdekaan!