Arsip Kategori: Esai

Kopi dan Pahitnya Literasi

Suatu pagi saya menyeruput secangkir kopi, saya larut dalam kenikmatan. Entah sejak kapan saya mulai menjadi penikmat kopi dan untuk apa meminumnya. Kopi racikan saya mungkin tidak akan pernah senikmat racikan seorang Ben yang diperankan Chicco Jerikho dalam film Filosofi Kopi. Sebuah film yang diangkat dari novel Dewi Lestari.

Tapi satu hal yang sama, saya mencintai kopi seperti Ben walaupun tidak terlalu terobsesi dengan kopi. Satu-satunya hal saya tahu bahwa teman yang tepat untuk menikmati kopi adalah membaca buku. Mengapa? Karena cara menikmati keduanya adalah harus dengan cinta. Kopi yang nikmat adalah kopi yang diseduh dengan cinta, dan cara terbaik untuk membaca adalah dengan mencintai buku. Kopi dikonsumsi oleh raga dan buku adalah makanan untuk jiwa. read more

Manusia yang Tak Pernah Selesai

Memikirkan manusia, sama saja memikirkan sesuatu yang lebih luas dari geometri ruang angkasa dan lebih dalam daripada palung laut terdalam di dunia. Hingga detik ini, manusia adalah sesuatu yang tetap menjadi misteri, lebih misterius dibanding legenda manapun yang pernah dikuak oleh Arkeologi dan ilmu sejarah kontemporer. Semakin banyak spesialisasi bidang ilmu pengetahuan yang objek materilnya adalah manusia, semakin tebal pula hijab misteri manusia.

Dalam tradisi Ilmu Pengetahuan dan filsafat, ada semacam kesamaan tujuan saat melakukan penelitian, pembedahan ataupun penjelasan terhadap manusia. Yaitu ikhtiar untuk mengetahui hakikat, esensi ataupun hukum yang melekat pada diri manusia. Hakikat manusia ini kita sebutlah dengan istilah The Real I. Setiap bidang pengetahuan ataupun aliran pemikiran memiliki interpretasi tersendiri terhadap The Real I. Ironisnya semakin cabang-cabang ilmu pengetahuan dan pemikiran tersebut mengeksplorasi tema manusia, secara tidak sadar telah terjadi proses detachment (penjarakan/pengelakan) yang berlapis (stratified) terhadap manusia dan kemanusiaan. Hal ini dikarenakan The Real I adalah sesuatu yang abstrak dan murni ide, sedangkan dalam aktivitas pengkonsepsian dan teoritisasinya menggunakan medium bahasa yang sifatnya konkrit dan kondisional. Sehingga hakikat manusia dan kemanusiaan yang sifatnya universal telah terlimitasi dalam sekian banyak kotak-kotak konsep dan terpotong-potong ke dalam kategori-kategori pikiran yang berupa ragam. read more

Tindak Membaca Ali Syariati

Sebagian orang khusunya yang akrab dengan khazanah Islam (pemikiran Islam Iran) mungkin sangat jarang yang tidak mengenal Ali Syariati. Rekam jejaknya tidak diragukan lagi dalam memberikan sumbangan dalam bentuk “gagasan baru” terhadap Islam. Di Iran, Ali Syariati, sangat dominan terkenal dikalangan intelektual muda yang punya gejolak perlawanan. Namun, tidak disenangi oleh sebagian ulama terkhusus ulama yang ortodoks yaitu ulama menolak kebaruan dalam tafsir tentang Islam. Ali Syariati, dengan sejumlah tafsir Islam yang ia suguhkan pada prinsipnya merupakan upaya untuk keluar dari dogma interpretasi Islam yang statis dan apatis tanpa gerak dinamis. read more

Iqbal: Sang Raushan-Dhamir

“I have no need the ear To-Day. I am the voice of the poet of To-morrow.”
( Sir Muhammad Iqbal)

Takjublah saya, lalu jatuh cinta, tatkala menjumpai Muhammad Iqbal, seorang pemikir, penyair dan sekaligus filosof dari India-Pakistan, dalam sejumput sabdanya di atas, dalam bukunya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, yang bermakna, “Aku tak butuh telinga angkatan kini. Aku suara penyair masa akan datang”. Mengapa Iqbal berharap pada generasi masa depan untuk mendengar sabdanya? Dan, masihkah sabda-sabda itu relevan dengan kekinian kita? Lebih dari itu, adakah kita salah satunya dari sekian banyak orang yang mampu mendengarnya? read more

Di manakah Anak Muda yang Mengaku Politikus? (Coretan pikiran untuk Pilkada Takalar)

Boleh dikata, sekarang semua mata dan telinga tertuju pada Pilkada Jakarta. Dari media cetak sampai ke media sosial. Berbagai macam berita, wacana, analisis, ataupun status (cerdas dan culas) mengisi lembaran kertas pemberitaan dan layar kaca. Jadilah Jakarta sebagai pusat pergumulan politik negeri ini. Dari banjir hingga label kafir. Dari puisi hingga analisis mimik wajah. Dari kuli gerobak sampah sampai gosip keluarga. Pokoknya semua dihubung-hubungkan. Dan hampir kita semua membingkainya dalam wajah politik. Entah kita paham atau tidak. Soalnya tak pernah jelas, kita tak pernah benar-benar selesai dalam diskursus politik. Apa yang sampai di kepala kita hanyalah jejak-jejak yang ditinggalkannya. Mungkin saja kan? read more

Islam Soekarno, Islam Progresif

Islam adalah agama yang tak mudah diringkus dalam definisi tertentu. Atau pada sebuah pengertian yang berlaku secara universal—di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh Islam tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah dan konteks di mana ia diterima. Karena Islam tak bisa dipisahkan dari tafsiran. Walau demikian, beberapa pengertian setidaknya diterima oleh pemeluk Islam. Bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam sebagai agama yang memberikan cahaya pada kegelapan. Islam adalah agama yang membela nilai-nilai kemanusiaan. Islam hadir untuk memperjuangkan keadilan. Walau dari sekian pengertian tersebut, pada akhirnya juga dimaknai berbeda oleh umat Islam. Memberikan artikulasi yang berbeda yang tidak sedikit melahirkan kebencian di atara mereka. Artikulasi yang satu mencaci artikulasi yang lain. read more

Dari Pelataran ke Kafe

Sekali waktu, saya menghadiri sebuah persamuhan para mantan aktifis, kaum muda mahasiswa tahun 90an, yang mengklaim diri sebagai generasi yang mewujudkan reformasi tahun 1998. Salah seorangnya angkat bicara, lalu menyatakan bahwa generasi 80an, atawa kaum muda-mahasiswa angkatan 80an adalah generasi yang tak bernama. Disimpulkannya, bahwa angkatan 90an yang mencetak perubahan. Sejumput kesimpulan yang membuat beberapa orang di persamuhan itu terhenyak, khususnya yang terkena sodokan tudingan.

Saya sendiri tidak mempersoalkan klaim seperti itu, walakin saya tergolong yang menempuh pendidikan tinggi, menjadi mahasiswa tahun 80an. Masalahnya kemudian, apakah kaum muda mahasiswa 80an itu adalah generasi yang tak punya geliat sama sekali? Terpaksalah saya membuka kembali lipatan-lipatan ingatan, untuk sekadar mengajukan beberapa rujukan, guna menunjukkan rekaman dinamika diskursus intelektual tahun 80an. Setidaknya, ada tiga buku yang saya sodorkan sebagai pijakannya. Kesaksian Kaum Muda, Menegakkan Demokrasi, dan Mencari Islam, yang kesemuanya terbit penghujung tahun 80an. read more

Bersahabat dengan Mycobacterium Tuberculosis

Pernah baca buku kedokteran? Kalau belum, luangkan waktumu. Banyak hal menarik di dalam sana. Di sana diceritakan bagaimana jantungmu bekerja memompa darah ke seluruh tubuh. Ada juga cerita bagaimana kamu bisa lari dengan kerja sistem otot. Bahkan, paru-parumu yang kembang kempis itu diceritakan dengan lugas.

Iya, organ itu di dadamu. Kiri dan kanan menggelantung di depanmu. Di dalam kulitmu, dilindungi ruas-ruas tulang iga. Tempelkan daun telingamu, kamu bisa mendengar suaranya. Seperti ada angin yang asik hilir mudik di dalam sana. read more

Catatan Kecil Tentang “Mohr”

Karl Marx lebih dari sebuah nama. Karl Marx adalah sebuah pemahaman. Perspektif. Kita tahu, sejak dia menggedor dunia dengan pikirannya, suatu tatanan tidak sekadar utopis. Masyarakat tanpa segregasi, yang jadi utopia sosialis sebelumnya, di tangan Marx  jadi ilmiah. Itu disebutnya komunisme.

5 Mei 1818, Marx lahir di Trier. Kota di perbatasan barat Jerman, waktu itu termasuk Prussia. Besar dari rahim Yahudi, kemudian berpindah agama; protestan. Konon rasa “emoh” Marx terhadap agama karena pilihan masa lalu orang tuanya yang gampang berpindah keyakinan. Kuliah hukum agar melanjutkan pekerjaan sang ayah, notaris. Karl Marx muda tidak terlalu tertarik hukum. Dia berminat jadi penyair. Terutama dilihat dari surat kepada ayahnya yang ditulisnya di bulan November selama studinya di Berlin tahun 1837. read more

Muasal

Pada akhirnya, orang-orang akan mencari muasalnya, tempat segalanya bermula. Kau akan ke kampung halaman, ke pohon mangga dekat rumahmu, atau mungkin ke rumah perempuan yang pernah kau perkosa. Sebab di sana ada sehimpun masa silam, suatu ruang-waktu di mana takdir menulis sejarahmu, menciptakanmu. Dan kau akan ke mana-mana, tapi juga tak akan kemana- mana. Sebab, kau akan merindukan perihal permulaan. Juga, barangkali penyesalan, atau dendam, membawamu menemui tempat di mana suatu ihwal dimulai. read more