Arsip Kategori: Singkap

Tafsir Sufi Surah Wal Ashri

Wal Ashri yakni Demi masa. Ada satu pertanyaan yang menarik, Mengapa Tuhan bersumpah dengan masa? Mengapa Tuhan tidak bersumpah atas diriNya sendiri atau atas namaNya? Sebenarnya apa yang dimaksud dengan masa (al-Ashri) di sini. al-Ashr berasal dari ad-Dahr yang juga terkait dengan persoalan konteks masa. Dalam hadits dijelaskan bahwa ad-Dahr merupakan salah satu dari nama Tuhan. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa sebenarnya Tuhan bersumpah atas namanya sendiri. Tuhan tidak bersumpah atas sesuatu di luar diriNya.

Salah satu hadis dari Rasulullah saw, ‘jangan pernah engkau mencela masa, karena sesungguhnya Allah adalah ad-Dahr (Allah adalah masa itu sendiri). Maksudnya masa atau ad-Dahr adalah salah satu nama dari nama-nama Ilahi.

Coba perhatikan jam yang kita gunakan.  Apakah yang dimaksud dengan masa atau waktu di sini adalah jam? Jika kita teliti lebih dalam, kita akan pahami bahwa masa itu tidak bisa kita bagi di realitas eksternal. Jika kita membagi waktu selama 24 jam, pembagian itu berdasarkan kepada pembagian kita saja di alam mental untuk memudahkan kita dalam mengatur kehidupan keseharian.

Pernahkah kita tahu kapan pukul 01.00 dan tepat pukul 01.00? Maksudnya apakah kita pernah benar-benar hadir di potongan waktu pukul 01.00? Biasanya kita menjawab pertanyaan ini sambil melihat posisi jam yakni saat jarum jam menunjukkan pukul 01.00. Namun soal kehadiran sebenarnya adalah hanya terkait dengan masa sekarang ini, dan bahkan ‘sekarang’ ini tidak bisa kita bagi, misalnya dalam rentang waktu satu menit dari detik nol (0) hingga 60 detik, lalu saya bagi dua masing-masing menjadi 30 detik, kemudian dari 30 detik saya bagi lagi menjadi dua bagian, dan demikian selanjutnya dibagi lagi terus menerus, dan kita tidak mungkin benar-benar berada di dalam potongan pembagian tadi, sebab yang ada hanya masa sekarang ini, bahkan ketika saya menyebut ‘sekarang’ itu pun sudah berlalu.

Jadi yang disebut dengan sekarang atau kehadiran dalam real time senantiasa diapit oleh dua hal yaitu masa lalu dan masa datang. Yang lalu sudah terlewati sementara masa yang akan datang belum tiba dan dua hal ini terus menerus berdampingan seperti itu dalam mengapit masa sekarang. Masa sekarang diapit oleh yang telah berlalu dan belum terjadi.

Dengan demikian, sangat sulit memahami masa. Sulit membayangkan kapan kita benar-benar berada di kondisi sekarang ini yang real time. Semua manusia telah melewati hal yang sudah terjadi sedangkan yang akan datang belum terjadi. Masa adalah kehadiran eksistensi kita di dalam real time. Artinya, Tuhan mengajarkan kepada kita agar bisa hadir di real time sekarang ini, sehingga kita benar-benar ada pada real time.

Jika kita benar-benar sadar berada di masa kini, dan al-Ashr adalah salah satu dari nama Tuhan (wal Ashri), maka kesadaran masa kini seharusnya menjadi kesadaran bersama Tuhan. Itu sebabnya mengapa dalam ayat selanjutnya, ‘sungguh manusia benar-benar dalam kerugian’, karena kebanyakan manusia apakah bersama masa lalu atau bersama yang akan datang, apakah kesadaran kita dibangun dengan angan-angan yang belum terjadi atau kesadaran kita adalah kesadaran yang belum ‘move on’ sehingga hidup dengan masa lalu yang telah terjadi. Kebanyakan manusia merugi karena apakah dia berada di masa lalu atau di berada di masa yang akan datang. Islam mengajarkan kita agar senantiasa bisa berada di real time saat ini. Dan berada di real time pilihannya ada dua, apakah bersama Tuhan atau selain diriNya.

Jika kita hubungkan dengan konteks masa, seharusnya kita selalu berzikir sehingga real time-nya senantiasa bersama Tuhan, maksudnya zikir itu sudah seharusnya kita lantunkan terus-menerus sehingga kesadaran Ilahi tetap di dalam real time. Quran mengatakan ‘dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku’ kemudian di ayat lain dikatakan ‘ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya’ sehingga kesadaran Ilahiah terus hadir di dalam diri kita.

Dalam surah ini Tuhan mengajarkan bahwa esensi diri yang paling sejati adalah apa yang kita miliki saat ini. Kesadaran kita sekarang ini seharusnya bersama Allah swt. Oleh karena itu masa yang dimaksud bukan masa ciptaan manusia dalam sebutan jam, karena waktu dalam pengertian jam sengaja kita ciptakan untuk mengatur ritme kehidupan kita, sementara waktu itu bukan jam tetapi kesadaran kita untuk hadir dalam konteks ‘sekarang’ ini.

‘Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian’, karena memang kebanyakan kita tidak bersama Tuhan akan tetapi apakah kita bersama masa lalu atau bersama masa yang akan datang. Kita dikuasai oleh angan-angan kita sendiri atau kita belum bisa move on terhadap apa yang terjadi dan itu yang mengganggu kita sehingga tidak bersama Tuhan di real time masa sekarang.

‘Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh’. Maksud iman di sini adalah kesadaran secara terus-menerus. Jadi maksud pengecualian di sini ‘kecuali orang-orang yang beriman’ adalah orang-orang yang terus-menerus bersama Tuhan. Tentu implikasi kesadaran Ilahiah adalah amal sholeh. Sebab itu Quran tidak pernah memisahkan dua hal tersebut. Keimanan terkait dengan kesadaran dan amal soleh terkait dengan perbuatan sehingga keduanya harus berkelindan. Kebanyakan orang hanya mementingkan iman sedangkan yang lain hanya mementingkan amal saja.

‘Saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran’. Yang senantiasa terpanggil untuk saling menasehati adalah yang senantiasa berada di dalam masa. Orang yang tidak bersama Tuhan, jika memberikan suatu nasehat, nasehat itu tidak berasal dari dalam dirinya karena orang itu tidak bersama Tuhan. Suatu nasehat tidak akan memberikan efek jika si pemberi nasehat itu senditi tidak mengamalkannya. Misalnya orangtua menasehati anaknya untuk salat tetapi orangtua tersebut tidak salat, maka anaknya tidak akan ikut nasehat tersebut.

Dan yang menarik ialah surah ini ditutup dengan aspek sabar, Maksudnya memiliki kesadaran terus menerus di real time membutuhkan kesabaran yang luar biasa karena saat berhadapan dengan suatu fenomena, kita sedang diperhadapkan dengan tiga kesadaran; fisik, psikis, dan Ilahiyah. Dan di dalam real time kita, sebenarnya kesadaran manakah yang mendominasi diri kita diantara ketiga kesadaran tersebut?

Tafsir Sufistik; 114. Surah An-Nâs

﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيمِ﴾

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾

1. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia,

Rabbinnas, Malikinnas, Ilahinnas bisa dimaknai sebagai tiga tahap perjalanan yang semestinya dilalui oleh manusia dalam perjalanan ruhaniah menuju Allah swt. Tahap pertama adalah berlindung ke Rabbinnas. Manusia sudah semestinya menjadikan Rabb sebagai pelindungnya sebab nama Rabb yakni pemelihara yang terkait secara langsung dengan eksistensi manusia.

Keyakinan manusia terhadap Rabb sebagai aspek pemelihara merupakan landasan dan pondasi utama dalam memasuki tahapan selanjutnya. Dalam tahapan ini manusia mesti menjadikan Rabb sebagai pelindung dirinya. Ada pertanyaan penting terkait dengan persoalan ini, kapankah manusia menjadikan Rabb-nya sebagai pelindung? Dan apakah kita pernah menempatkan Rabb sebagai pelindung diri kita?

Kita hanya akan menjadikan Rabb sebagai pelindung jika sebelumnya kita telah pasrah, menyerahkan segala eksistensi kita kepadaNya, dan menempatkan diriNya sebagai satu-satunya tempat bergantung. Tanpa keyakinan seperti itu kepada Rabb, maka kita tidak pernah menjadikanNya sebagai pelindung. Oleh karena itu berlindung kepada sesuatu berarti sebelumnya kita telah pasrah, percaya, menyerahkan, dan menggantungkan eksistensi kita kepada Ilahi.

Jika seseorang telah mampu menempatkan Rabbinnas sebagai pelindung berarti orang tersebut telah menyerahkan seluruh eksistensinya kepada Ilahi. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Ilahi yang akan menempatkan Allah swt sebagai satu-satunya tempat berlindung. Dan dari sini manusia bisa melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu menuju Malikinnas.

﴿مَلِكِ النَّاسِ﴾

2. Raja dan penguasa manusia,

Ketika seseorang telah berada pada tahap selanjutnya yaitu Malikinnas, maka pada saat itu manusia telah merasakan dominasi Ilahi terhadap dirinya. Pada tahapan ini manusia telah menyaksikan bahwa Allah swt dengan namaNya al-Malik pemilik segala realitas. Bahkan manusia telah memahami bahwa ia bukan pemilik bagi dirinya sendiri. Pemilik sejati hanya Allah swt dan pemilik segala realitas termasuk memiliki diri kita.

Apalagi jika dipahami bahwa manusia bukan pemillik hidup, mati, untung, rugi, dan kebangkitan. Oleh sebab itu, satu-satunya yang dimiliki manusia adalah ketidakpunyaan atau kefaqiran. Manusia yang telah sampai ke maqam Malikinnas adalah manusia yang telah mencicipi manifestasi Ilahi. Dan manifestasi atau tajalli Ilahi yang telah hadir di dalam dirinya membuat dirinya memahami bahwa dirinya tidak lagi memiliki apapun termasuk tidak lagi memiliki dirinya. Allah swt adalah pemilik segala keberadaan.

Kondisi kefaqiran menegaskan bahwa posisi manusia adalah sebagai wadah atau penerima asma Ilahi. Jika masih ada ego dan keakuan di dalam diri, tentu tidak akan mungkin menjadi wadah sepenuhnya dalam menerima manifestasi Ilahi. Manusia yang benar-benar bersih dari ego dan keakuan menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki apapun selain sebagai wadah penerima manifestasi Ilahi. Kondisi kefaqiran inilah yang akan mengantar manusia memasuki tahapan selanjutnya yaitu Ilahinnas.

﴿إِلٰهِ النَّاسِ﴾

3. sembahan manusia,

Kata Ilah adalah salah satu dari asma agung Ilahi. Dari kata Ilahi inilah kemudian menjadi kata Allah. Dalam Quran manusia diajak agar menyeru Allah swt. Dalam surah al-isra 110 Allah swt berfirman, “serulah Allah atau serulah Arrahman dengan nama mana saja yang kau seru, baginya mempunyai (meliputi) asmaul husna . . .”. Oleh karena itu, yang kita sembah sesungguhnya adalah Allah swt. Namun seseorang yang masih punya ego dan keakuan akan sulit menyembah Allah swt.

Berbeda dengan seorang hamba yang benar-benar kosong dari hawa nafsu yang memahami bahwa dirinya sudah tidak memiliki apapun. Namun dengan aspek kefaqiran di dalam dirinya itulah sehingga ia benar-benar mampu menempatkan Allah swt sebagai hakikat yang sebenar-benarnya mesti disembah.

Dari sini dapat dipahami bahwa Rabbinnas, Malikinnas, dan Ilahinnas merupakan tiga tahapan perjalanan ruhaniah. Puncak perjalanan adalah sampai kepada Ilahi yang diawali dengan berlindung kepada Rabbinnas. Malikinnas adalah maqam penegasan aspek kefaqiran manusia agar manusia bisa benar-benar sampai kepada Ilahi.

﴿مِنْ شَرِّ الْوَسْواسِ الْخَنَّاسِ﴾

4. dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,

Ayat diatas adalah suatu peringatan sekaligus menjelaskan alasan mengapa manusia mesti berlindung kepada Rabbinnas dari waswas atau bisikan. Syekh Sahal Tustari dengan sangat apik menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan waswas adalah segala sesuatu selain Allah swt. Apa pun dan bagaimana pun bentuk sesuatu tersebut, selama masih tidak terkait dengan Ilahi maka akan terpahami sebagai selain Tuhan.

Bisikan setan hadir di dalam batin manusia. Tapi mengapa setan mampu membisikkan sesuatu di dalam diri manusia? Jawabannya adalah karena selama ini kita membiarkan bisikan setan hadir di dalam diri kita. Kita tak pernah mencoba mengendalikan imajinasi dan pikiran kita sendiri. Selama ini kita membiarkan segala bentuk pikiran dan imajinasi hadir di dalam diri kita. Akibatnya bisikan itulah yang mengontrol pilihan-pilihan kita.

Bukan itu saja, bahkan kita menikmati kehadiran bisikan setan di dalam diri. Bukankah kita benar-benar menikmati saat kita melakukan gibah dan menggibah orang lain? Bukankah kita menikmati saat kita bisa mengecilkan dan menundukkan orang lain? Dan inilah salah satu dari makna ayat tersebut tentang ‘yang biasa bersembunyi’.

Karena setan adalah musuh utama kita sebab itu setan selalu bersembunyi. Dan tempat persembunyian setan yang paling aman adalah sesuatu yang buruk ditampakkan sebagai sesuatu yang indah dan sesuatu yang indah ditampakkan sebagai sesuatu yang buruk. Sehingga saat setan berhasil melakukan trik tersebut, setan tak perlu lagi bersembunyi sebab telah menjadi kawan dekat di dalam diri kita.

﴿ٱلَّذي يُوَسْوِسُ في‏ صُدُورِ النَّاسِ﴾

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

Cara setan agar benar-benar bisa menguasai manusia adalah dengan merebut hati (shudur) manusia. Jika setan mampu berhasil masuk di dalam hati manusia, dan beranak pinak di dalam hati manusia, maka pada saat itu setan akan mengontrol eksistensi manusia. Apa pun yang diperintahkan oleh setan akan diikuti oleh manusia. Dan pada saat itu manusia menjadi bagian dari makar setan dalam menjerat manusia ke jalan keburukan dan kesesatan.

﴿مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ﴾

6. dari (golongan) jin dan manusia.

Ironi Kesadaran 2018

Banyak teman saya yang bertanya, ‘kira-kira bagaimana tahun 2018?’ Saya hanya menjawab, mungkin akan lebih baik jika pertanyaannya diubah menjadi pertanyaan yang lebih memprihatinkan, ‘kira-kira apa yang lebih mengkhawatirkan di tahun 2018?’ Bukankah kita melewati tahun 2017 ini dengan ketegangan-ketegangan sosial dan menyisakan keretakan identitas kita sendiri? Dan menurut saya tahun 2018 tentu lebih mengkhawatirkan karena ketegangan-ketegangan sosial tersebut sudah menemukan polanya di tahun ini.

Tak ada yang perlu disalahkan sebab kita semua berkontribusi dalam ketegangan yang hanya menyisakan keretakan tersebut. Hampir kita semua tak bisa menahan diri atau tak tahu menahan diri. Bahkan tak paham apa yang mesti diposting di medsos dan apa yang harus kita bagikan di medsos. Apakah maslahat atau tidak maslahat, sudah tidak menjadi pertimbangan dalam memposting atau merespon sesuatu di sosmed. Seolah tugas kita hanya mengalahkan dan selanjutnya menertawakan orang-orang yang berseberangan pandangan dengan kita.

Ironi kesadaran salah satu tantangan terbesar kita dan bahkan ancaman besar atas budaya dan peradaban manusia di masa depan. Kecendrungan yang serba instan manusia kini akhirnya mampu menurunkan derajat kesadaran masyarakat hanya pada level medsos. Kepuasan dalam membaca dan menganalisa hanya dipermukaan saja. Minat membaca buku-buku di perpustakaan semakin menurun sebab apa yang orang-orang cari sudah tersedia di internet. Orang-orang lebih senang membaca bacaan ringkas dan sederhana dan akan lebih mengasyikkan jika disertai dengan hujatan.

Yang paling ironi karena manusia kini telah lupa membedakan informasi dan kesadaran. Kemajuan teknologi informasi membuat batas-batas ruang dan waktu semakin tidak terasa. Kita bisa tahu dan bahkan menyaksikan secara ‘live’ suatu kejadian di belahan dunia sana. Bahkan kejadian yang sangat sederhana sekali pun sangat mudah untuk diketahui, seperti memancing ikan di daerah kutub. Namun manusia kini sudah tak paham bagaimana mengubah informasi menjadi sebuah kesadaran.

Mengelola informasi menjadi suatu kesadaran sangat bergantung kepada pengalaman dan bentuk-bentuk informasi yang ada di benak kita sebelumnya. Semakin kaya pengalaman dan informasi yang kita miliki, respon kita atas informasi tersebut semakin cepat dan bahkan boleh jadi kita mampu memberikan solusi jika ditemukan suatu persoalan. Tentu tidak seluruh informasi mampu kita ubah menjadi suatu kesadaran di dalam diri sebab sangat bergantung pada batas pengalaman dan informasi yang kita miliki.

Semisal suatu ketika anda melihat foto orang faqir yang sedang makan di atas tempat sampah. Keesokan harinya anda menyaksikan foto anak seorang buruh yang sedang memikul beban berat membantu ayahnya. Kemudian di hari selanjutnya anda menyaksikan sebuah berita proses belajar mengajar yang sangat tidak memadai di tempat terpencil. Besoknya lagi anda mendengarkan berita tentang seseorang yang harus menjual ginjalnya demi membiayai perkuliahan adiknya.

Berita-berita tersebut yang anda dengarkan dan saksikan –hari demi hari- tentu akan mempengaruhi kondisi kejiwaan. Hari pertama akan menyentuh perasaan. Hari kedua mulai menyayat hati dan anda mencoba untuk membantunya. Hari ketiga anda mulai mengutuknya dan sudah mulai menyalahkan. Hingga suatu saat kita akan terbiasa dengan kondisi kemiskinan dan kefaqiran dan menerima keniscayaan keberadaan seorang faqir.

Dalam kondisi tersebut, seseorang  akan mencoba memberikan alasan-alasan atas fenomena yang ada di balik kemiskinan. Sebagian mengatakan karena korupsi masih terjadi dimana-mana. Analisis lainnya akan mengatakan sebagai ujian Tuhan kepada hamba-hambaNya. Sebagian lagi akan mengatakan, kemiskinan itu karena faktor kemalasan saja karena setiap orang memiliki potensi yang unik.

Namun seperti apakah hakikat kemiskinan itu? Pertanyaan ini tidak akan terjawab di medsos. Perlu penelusuran lebih jauh agar kita bisa berada di dalam kesadaran dalam memahaminya sehingga tidak hanya sekedar menerima informasi. Membaca buku akan memperkaya penelusuran kita tentang kemiskinan. Membaca roman Oliver Twist akan menambah khazanah kita tentang kemiskinan.

Dunia saat ini dipenuhi dengan informasi dan tak ada batasnya. Justru wadah manusia yang terbatas dalam menerima informasi. Dan hanya dengan menelaah dan penelusuran yang mendalam manusia akan memperoleh kesadaran. Memutuskan diri dari buku berarti kita tidak akan tahu proses nikmatnya menelaah suata persoalan.

Maulana Rumi menggambarkan manusia kini dalam meraih hakikat seperti orang-orang yang ingin memahami gajah di malam hari yang gelap gulita. Proses yang bisa dilakukan dalam memahami gajah di malam hari yang gelap gulita adalah dengan proses meraba. Ilustrasi ini mampu menggambarkan manusia kini yang tak mampu lagi membedakan antara kesadaran dan informasi.

Fenomenologi Mal dan Ideologi

Fenomenologi Mal dan Ideologi

Bagi anda yang sering  mengunjungi mal-mal besar di Jakarta. Sangat mudah menjumpai beragam jenis manusia dari berbagai latar belakang ideologi dan pemikiran. Bahkan tak perlu mewawancarai satu persatu untuk menanyakan prihal keyakinan mereka. Pakaian yang mereka gunakan sedikit banyaknya menjelaskan seperti apa keyakinan mereka. Dan akan nampak lebih mudah lagi jika pengunjung mal tersebut sudah menggunakan simbol-simbol tertentu yang  menegaskan keyakinan mereka.

Mulai dari pakaian yang terbuka sampai pakaian tertutup dan bercadar pun sangat mudah kita jumpai. Mereka para pengunjung memanfaatkan fasilitas mal sebaik mungkin sambil bercengkrama bersama keluarga dan sahabat. Para pengunjung yang berbeda ideologi larut dalam irama suguhan-suguhan mal. Tak terlihat perbedaan mencolok sebagai pengunjung mal. Perbedaan suku, ideologi, dan pemikiran bukan menjadi penghalang sebagai pengunjung mal.

Ornamen-ornamen mal akan tampak berbeda di saat mendekati hari-hari besar. Menjelang hari raya Idul Fitri akan dihiasi dengan ornamen islami dan musiknya pun berubah. Demikian halnya sekarang ini, menjelang perayaan natal, mal-mal akan dihiasi dengan aksesori natal. Meski demikian, pengunjung mal masih tetap sama dan tidak berubah. Masih dikunjungi dari berbagai kalangan dan dengan latar pemikiran yang berbeda.

Ada pertanyaan tebersit di benak saya, bagaimana jika fenomenanya terbalik? Kira-kira akan seperti apa jika lapak-lapak yang ada di mal tersebut menjual lapak-lapaknya dengan lebel ideologi tertentu. Misalnya ‘Mie Instan Islami’, ‘Mie Goreng Natal’, ‘Mie Siram Budhis’, dan demikian halnya dengan lapak-lapak lainnya dari berbagai jenis merek. Apakah masih bisa ditemukan pengunjung yang sama dan masih dikunjungi dari berbagai kalangan? Memang tak mudah untuk memastikan jawabannya namun fakta menunjukkan hampir tidak ada lapak di mal yang mengawinkan antara dagangan dan ideologi. Sebab jika relasi dagangan dan ideologi di mal-mal benar-benar memberikan keuntungan, tentu akan menjadi incaran kaum kapitalis mengubah mal-mal yang ada menjadi mal-mal ideologi.

Fenomenologi mal ingin menegaskan –baik itu kita menerima atau menolaknya- bahwa kita semua adalah manusia moderen. Baik itu modernitas kita maknai sebagai sifat personal, sosial, atau pun budaya, pada akhirnya kita semua adalah manusia moderen. Namun hal yang menarik karena satu sisi, keberagamaan masih bisa hadir di tengah-tengah kemegahan mal-mal yang indah dan mewah.

Berangkat dari pemaparan sebelumnya, kita akan menyelami satu pertanyaan dan persoalan baru, apakah agama dan modernitas bisa menyatu? Agama manakah yang mampu mempersatukan antara modernitas dan keberagamaan? Tentu tak semua keyakinan mampu berjalan berbarengan dengan modernitas. Keberagamaan yang bisa berjalan berbarengan dengan modernitas adalah yang menempatkan esensi agama dalam aspek ruhaniah dan maknawiyah. Namun mereka yang menempatkan esensi agama hanya pada aspek zahir dan lahiriyah semata tidak akan mampu bersaing dengan ruang-ruang modernitas yang mengalami percepatan luar biasa.

Fenomena lain yang sangat menarik untuk kita perhatikan tentang kehadiran seorang pria muslim dengan pakaian khas muslim arab di Aljazair yang akan menghancurkan patung karya seniman Perancis 1898. Ketika orang muslim itu dengan kampak yang ada di tangan kanannya ingin menghancurkan patung yang telah ada sejak lama, serentak orang-orang sekitarnya melempari orang itu dengan batu agar orang itu menghentikan tindakannya merusak patung. Fenomena yang lucu namun memberikan pesan yang luar biasa kepada kita semua.

Pria muslim itu mewakili budaya dan pemikiran tertentu dan orang-orang yang melempari pria muslim tersebut yang juga notabene orang-orang muslim Aljazair mewakili budaya dan pemikiran tertentu. Pria tersebut meyakini patung di realitas eksternal mesti dihancurkan sedangkan muslim lainnya meyakini bahwa yang mesti dihancurkan adalah patung yang ada di dalam diri kita sendiri yaitu egoisme, takabbur, dan kejahilan. Pria muslim itu mewakili islam literal dan puritan dan muslim lainnya mewakili islam transenden dan sufistik.

Benar! Agama dan keberagamaan lebih kompleks dari persoalan mal. Mal tidak akan mungkin menggambarkan segala hal yang ada di dalam agama. Namun setidaknya, kita bisa belajar dari fenomenologi mal, ternyata keberagamaan akan nampak indah jika masing-masing pemeluk agama dan keyakinan menyadari batas-batas eksistensi mereka masing-masing.

Sebab agama dan keberagamaan tampak berbeda jika memasuki ranah yang lebih kompleks dimana tingkat persaingannya lebih tinggi dan ketat, seperti dalam ranah politik. Wajah agama dan keberagamaan ketika kawin dengan agenda-agenda politik nampak lebih menegangkan dan tanpa kompromi.

Satu hal yang mesti kita sadari bahwa esensi agama adalah pilihan dan kesadaran. Memaksakan jargon-jargon agama ke ranah politik, bukan hanya akan membuat chaos dalam masyarakat, namun juga akan membuat agama menjadi tak bermakna.

Heidegger: Sejarah Filsafat adalah Sejarah Nihilisme

Karl Jaspers dalam biografi filsafatnya menceritakan kisah yang sangat menarik tentang Heidegger. Kata Karl Jaspers, suatu ketika saya melihat seseorang mengantarkan surat. Surat itu berasal dari masyarakat biasa. Tulisannya pun jelek dan banyak kesalahan dalam penulisan. Orang awam itu sedang menuliskan keresahannya. Dan ia merangkum seluruh tulisannya dalam satu pertanyaan, “apakah benar setelah dunia ini, setelah kehidupan ini, benar-benar tidak ada lagi sesuatu?”.

Karl Jaspers melanjutkan, kebetulan pada saat itu Heidegger hadir sebagai tamu. Lalu saya menunjukkan surat itu padanya. Saya menyaksikan pemandangan yang berbeda saat Heidegger membaca surat itu sebab di antara orang-orang yang membaca surat itu, hanya Heidegger yang benar-benar serius dan memperhatikan surat itu.

Apa pentingnya seorang pemikir membaca dan benar-benar menyimak surat dari orang awam? Pada umumnya seorang pemikir, guru besar, dan dosen hanya sibuk dan ingin disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan penting. Tentu bukan di sini letak persoalannya sebab inti persoalannya adalah dalam meletakkan sejauh mana pertanyaan itu menjadi hal yang sangat penting sehingga menjadi tak penting darimana pertanyaan itu berasal.

Ciri seorang pemikir adalah selalu peduli atas apa yang akan terjadi di masa yang akan datang melalui tanda-tanda yang sedang terjadi saat ini. Mereka senantiasa menanti tanda dan mencari petunjuk atas apa yang sedang terjadi. Kata Heidegger, surat dari orang awam itu adalah petunjuk bahwa kita tidak tahu apa yang sedang terjadi dan sekaligus sebagai tanda atas ketidakpedulian dunia atas mereka.

Tugas seorang pemikir tidak hanya menanti pertanyaan yang meresahkan sebab pertanyaan meresahkan senantiasa hadir dalam setiap perenungan. Pemikir akan benar-benar beranjak dari singgasananya ketika ada peristiwa penting yang benar-benar akan terjadi. Bagi Heidegger, peristiwa penting yang akan melanda seluruh masyarakat manusia moderen disebut dengan nihilisme. Surat dari orang awam itu menjadi penanda penting bahwa nihilisme telah berhasil masuk ke rumah-rumah kita.

Nihilisme tidak selamanya bermakna penafian atas hakikat atau wujud. Juga tidak selalu berarti nilai-nilai yang telah ada, sudah tidak memiliki nilai lagi. Sebab ciri utama nihilisme adalah ketika masuk ke dalam rumah atau berada dalam sebuah sistem, nihilisme akan menghancurkan segalanya. Nihilisme bukan penyakit dan tidak menular seperti penyakit. Nihilisme bukan sifat personal seseorang akan tetapi bagian aksidental dari alam ini. Tak heran jika Heidegger menganggap sejarah filsafat barat Yunani dianggap sebagai sejarah nihilisme.

Bagaimana mungkin manusia selama kurang lebih dua ribu tahun tidak memahami dan mengetahui bahwa mereka terjebak dalam nihilisme? Apa mungkin sesuatu disebut ada namun tak memiliki nama?

Tentu mereka yang tak pernah memikirkan masalah tersebut tak akan bisa menjelaskan persoalannya dan jika tak dijelaskan tentu tidak akan memiliki sebutan. Nihilisme hadir di abad 19 namun akar-akar nihilisme telah ada di dalam pemikiran Yunani. Kira-kira apa penyebabnya sehingga Eropa pada saat itu diingatkan oleh ke-nihilisme-an dirinya sendiri. Apakah Dostoyevsky dan Nietzsche secara kebetulan saja mengangkat persoalan nihilisme kemudian mengajarkannya?

Jika kita menganggap esensi nihilisme hadir secara aksidental di era modernitas, berarti faktor-faktor pendukung kemunculannya telah hadir sebelumnya yaitu di filsafat Yunani. Nihilisme yang semakin mendominasi di awal-awal kemunculannya berdampak kepada para pemikir dan penyair. Nihilisme mampu membuat mereka terusir dari tanahnya sendiri sehingga manusia dan kemanusiaan kita tidak memiliki tempat lagi untuk bernaung.

Jika kita tak pernah sadar bahwa saat ini kita tengah menghirup di dalam budaya dan pemikiran barat berarti kita tak akan tersadarkan bahwa sebenarnya kita sedang bersama nihilisme, bersama di dalam budaya dan pemikiran kita. Demikian halnya dengan orang-orang yang telah memiliki kesadaran atas nihilisme, sudah saatnya mereka mencari jalan keluar dari cengkraman nihilisme.

Banyak orang yang tidak memahami bahwa politik identitas berakar dari subjektivisme. Subjektivisme akan membiarkan setiap gagasan muncul dipermukaan sebab kebenaran hanya ada dipikiran setiap orang sedangkan realitas eksternal adalah kebenaran-kebenaran yang disepakati secara bersama. Kita sedang memasuki babak baru dari era nihilisme yaitu subjektivisme. Oleh sebab itu persoalan penting saat ini adalah ‘apakah kita bisa melewati subjektivisme atau tidak?’ karena tiap kali kita mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan ini, lagi-lagi orang lain akan berkata kepada kita, ‘jawaban itu sesuai dengan perspektifmu’.

Apakah Manusia dan Kemanusiaan sedang Mengalami Kematian?

Hampir tak ada orang yang mampu memperkirakan kondisi yang dialami manusia saat ini. Kondisi yang begitu menakutkan, tidak hanya menakutkan bagi peradaban manusia, tapi juga mengerikan bagi eksistensi manusia. Tak heran jika akhir-akhir ini banyak yang membicarakan tentang periode akhir zaman, meskipun pada saat yang sama kita tak tahu kapan akhir zaman itu.

Ketakutan ini bukan sesuatu yang tidak beralasan sebab begitu banyak tanda-tanda yang sulit kita pahami, seperti perubahan iklim yang ekstrim yang seolah sudah tidak bersahabat lagi dengan manusia, seperti virus-virus menakutkan karena mematikan  manusia secara massif, sumber-sumber alam yang sudah mulai menipis bahkan habis, dan juga tentang sistem-sistem yang sebelumnya dibangun oleh manusia sudah mulai berjatuhan, baik itu sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem peradilan, karena “uang” menjadi pengendala penting dan segalanya untuk saat ini. Bahkan manusia mampu menciptakan ‘kecerdasan artifisial’ yang pada akhirnya meragukan eksistensi kemanusiaan kita.

Mungkin sudah saatnya kita mulai bertanya kembali dan menanyakan, apa sebenarnya hakikat manusia? Mana yang dimaksud dengan esensi manusia? Sebab kemanusian kita hari ini sedang mengalami kematian dan kesirnaan secara perlahan-lahan. Gagasan-gagasan sebelumnya sudah tidak mampu lagi menjawab persoalan masa kini. Gagasan agama, teologi, dan filsafat yang ada pada periode sebelumnya seolah sudah tidak menemukan ruang kontekstual di masa kini. Jika kita tetap memaksakan menjawab persoalan hari ini dengan jawaban-jawaban masa lalu, berarti kita telah gagal membaca masa kini karena pemikiran dan imajinasi kita hanya ada masa lalu, jika pun toh masa kini itu ada, hanya dipandang sebagai masa lalu.

Pada manusia dahulu masih terlihat hubungan kemanusiaan yang begitu hangat dan erat. Tak ada kecurigaan yang begitu besar antar sesama manusia. Saat itu hati masih mampu menjadi tali pengikat dan tali penyambung dalam melihat persoalan manusia dan kemanusiaan. Namun saat ini seolah segalanya telah sirna seiring dengan kemajuan teknologi. Media sosial menjadi alat pembunuh karakter kemanusiaan kita yang paling ampuh. Setiap orang bisa menjadi pembunuh karakter seseorang di media sosial dengan begitu mudah dan massif, bahkan tanpa orang itu menyadarinya sama sekali. Media sosial telah berperan aktif  mengubah manusia menjadi zombie dan mengajak orang lain agar menjadi zombie yang mampu membunuh karakter seseorang dalam tempo yang sangat singkat.

Kemajuan teknologi yang telah dicapai manusia saat ini tak pernah dibayangkan oleh manusia di masa sebelumnya, akan tetapi apa yang manusia raih saat ini justru menjadi ancaman untuk kemanusiaan kita di masa kini dan masa datang. Jika kita mencoba bertanya lebih jauh, kira-kira apa yang menyebabkan sehingga kemanusian kita menjadi seperti sekarang ini?

Mungkin karena saat ini kita tidak lagi hidup sebab “hidup” telah menjadi bagian dari pekerjaan  dan kesibukan kita. Di saat hidup telah menjadi bagian dari kesibukan, kita akan terasing dari diri kita sendiri dan berubah menjadi manusia dengan satu dimensi saja. Manusia satu dimensi adalah manusia yang hanya memaknai segalanya dari aspek materi semata. Ukuran segala sesuatu adalah materi.

Artinya kita telah melupakan alegori gua Plato. Manusia yang begitu lama hidup di dalam kehidupan gua sehingga tak mampu lagi membedakan mana esensi manusia yang sejati dan mana esensi manusia yang palsu. Manusia yang tenggelam dalam keseharian perumpamaannya seperti manusia yang begitu lama hidup di dalam kehidupan gua sehingga tak sadar bahwa apa yang dia saksikan di dalam gua karena pantulan cahaya hakikat manusia yang sejati.

Benar kata Leo Tolstoy, “saat badan manusia ingin dioperasi, orang itu harus dibius hingga tak sadarkan diri, namun saat ruh manusia ingin dibetulkan, orang itu justru harus dibangunkan yakni disadarkan”.

 


sumber gambar: www.pelitabanten.com

 

Manakah yang Lebih Menakutkan antara Kesia-siaan dan Kejahilan?

Emang apa untungnya berpikir dan menenggelamkan diri di dalam tafakkur selain kesia-siaan? Tentu tafakkur tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar. Tafakkur hanya menyisakan derita. Meski demikian, ada hal yang perlu dipertimbangkan dalam esensi tafakkur atau berpikir sebab dalam tafakkur akan menyingkirkan kebodohan. Manusia yang memahami esensi tafakkur tidak akan terjebak dalam kejahilan.

Di sisi lain ada benarnya jika ada yang menganggap tafakkur adalah pekerjaan sia-sia, sebab tafakkur bukan pekerjaan. Tafakkur adalah keberanian untuk bertanya dan menggali pertanyaan, bukan keberanian dalam menyebarkan apa yang orang lain yakini dan pahami. Tafakkur memberikan kemerdekaan dalam memilih, sebab memilih tanpa bertanya dan tafakkur atasnya adalah kejahilan.

Kesia-siaan bagi sebagian orang seperti memancing ikan atau melakukan hal yang tak berguna. Tapi kita tak pernah menganggap kesia-siaan sebagai kejahilan. Jika kesia-siaan adalah kejahilan berarti saat menggaruk wajah kita tanpa sengaja adalah bentuk kejahilan. Dan juga saat kita memandang lautan tanpa pemaknaan adalah kejahilan. Jika seperti ini pemaknaan kita atas kejahilan berarti kita benar-benar tak pernah tafakkur.

Namun yang manakah yang lebih menakutkan antara kesia-siaan dan kejahilan? Orang-orang jahil tak pernah bermaksud melakukan penipuan sebab melakukan penipuan membutuhkan pengetahuan, demikian pula, orang-orang jahil tak pernah bermaksud melakukan perbuatan yang salah. Namun saat mereka tidak senang kepada sesuatu, solusi yang ada di kepala mereka hanya menghancurkan orang-orang yang mereka anggap salah. Kekerasan dan kejahilan adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Orang-orang jahil tak peduli dengan benar dan salah atau maslahat dan tidak maslahat. Orang-orang jahil yang dimaksud di sini tidak selamanya bermakna bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan, akan tetapi dapat juga diartikan sebagai orang-orang yang lemah dalam memahami kemaslahatan, kebenaran, dan hakikat. Bahkan terkadang mereka tidak meletakkan posisinya dengan benar.

Bahkan boleh jadi orang-orang itu -di dalam dunia politik- mendapatkan tempat dan pengaruh yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat, terutama dalam situasi demokrasi di mana uang menjadi segala-galanya dalam meraih kursi kemenangan. Dan kematangan berpikir seseorang tidak menjadi parameter utama. Tak heran jika ada tokoh intelektual yang menjual nilai intelektualitasnya demi kursi politik atau demi kekuasaan.

Jadi kita tidak sedang membicarakan orang-orang jahil yang lugu dengan seluruh kepolosannya, seperti tokoh Dostoyevsky. Dostoyevsky selalu menunjukkan kebodohannya namun kebodohan yang menyenangkan. Kejahilan yang menunjukkan kejujurann apa adanya, berani, bebas, dan merdeka. Bukan kejahilan seperti ini yang sedang kita bicarakan.

Di dunia ini memang sudah seperti itu adanya, ada yang jahil dan ada yang memiliki kesadaran. Zaman yang menyenangkan adalah zaman ketika orang-orang jahil sedikit dan orang-orang yang sadar mendominasi orang-orang jahil. Sedangkan zaman kejumudan adalah zaman ketika orang-orang jahil lebih banyak dan mampu mendominasi orang-orang yang memiliki kesadaran.

Akhir-akhir ini sudah teramat sering kita menyaksikan orang-orang yang sebelumnya kita sangka memiliki kesadaran, namun setelah beriringnya waktu dan kesempatan yang diraihnya, akhirnya menunjukkan bahwa orang itu benar-benar jahil. Bukan karena mereka tidak berpengetahuan atau tidak mengenyam pendidikan, akan tetapi mereka tidak memiliki kesadaran. Begitu mudah mereka mengingkari fakta atau begitu cepat mereka menilai tanpa meneliti terlebih dahulu.

Orang-orang jahil masa kini adalah jutsru didominasi oleh orang-orang yang berpengetahuan namun sudah tak memahami mana yang maslahat dan mana yang tidak maslahat, mana ruang nyata dan mana ruang virtual dan digital, mana ruang kebenaran dan mana ruang keselamatan, mana ruang kebenaran penafsiran dan ruang kebenaran absolut, mana ruang ‘ada’ dan ruang ‘diadakan’. Bukankah kejahilan lebih menakutkan daripada kesia-siaan?!

Mungkin karena tafakkur tidak memberikan keuntungan sehingga dianggap sebagai ke-sia-sia-an. Umur pergi dan berlalu begitu saja tanpa menghasilkan apa-apa sebab kita sedang asyik bertafakkur. Walaupun satu sisi kita sangat memahami bahwa suatu peradaban tidak akan pernah maju jika tafakkur masih terpasung oleh egoisme kepentingan dan ideologi. Bukankah kejahilan lebih menakutkan daripada kesia-siaan?!

Pemikir dalam Penjara Ideologi

Saya salah seorang dari mereka yang meyakini bahwa proposisi filsafat tidak perlu dibandingkan dengan proposisi politik dan sains. Persoalan dan metodologi yang digunakan dalam mengurai persoalan diantara ketiga bidang studi tersebut berbeda dan tidak sama. Proposisi filsafat dan proposisi politik, serta proposisi sains tidak berada dalam satu atap dan tidak berada dalam satu payung sehingga tak bijak membandingkan diantara ketiganya dan saling mengkontraskan diantara ketiga pemahaman tersebut.

Filsafat adalah ruang independensi dalam melihat suatu persoalan. Filsafat tidak berbicara tentang keuntungan, tidak berbicara tentang maslahat, dan tidak berbicara tentang tujuan dari segala pembicaraan. Namun sangat dimungkinkan dominasi pemikiran ideologi dalam diri seseorang yang akan mengarahkan secara otomatis arah gerak pemikiran filsafatnya.

Para pemikir, filosof, penyair, dan sufi, sudah semestinya tidak mengikuti keinginan-keinginan politik dan sosial. Bukan berarti mereka tidak peduli terhadap realitas sosial dan tidak peduli terhadap apa yang sedang terjadi. Namun ada ilustrasi dan contoh yang sangat menarik, coba perhatikan gagasan Maulana Rumi atau Hafez. Keagungan dan kemuliaan Rumi dan Hafez pada bait-bait syairnya dan di dalam bait-bait syair merekalah akan terlihat relasi-relasi sosial dan budaya yang begitu agung. Tapi sejak awal Maulana Rumi dan Hafez tidak berbicara dalam konteks realitas sosial.

Sebaiknya kita tidak mencampuradukkan antara pemikiran dan kecendrungan personal seseorang terhadap fenomena sosial dan politik yang terjadi. Kaidah-kaidah berpikir tidak sama dengan bentuk personal kehidupan seseorang. Jika kita mencoba mencampuradukkan persoalan ini akibatnya pemikiranlah yang akan mengikuti kecendrungan masyarakat dan mengikuti kecendrungan mayoritas. Jika para pemikir, penyair, dan filosof meninggalkan pekerjaan berpikir, dan hanya mencari kecendrungan atas apa yang baik sebagaimana yang dipahami oleh kaum mayoritas, maka pada saat itu mereka tidak lagi mencari kebaikan-kebaikan dan bahkan pondasi kebaikan-kebaikan telah mereka rubuhkan terlebih dahulu. Jika ini terjadi, seketika pemikir tersebut menjadi manusia yang paling awam. Sebab dirinya tidak lagi berkhidmat kepada kebaikan-kebaikan akan tetapi menjadi pelayan kepentingan-kepentingan orang lain.

Sebaiknya kita menganalisa kembali ketika Karl Marx mengatakan, ‘para filosof selama ini hanya menafsirkan dunia, namun sekarang ini sudah saatnya mengubah dunia’. Sebagian menafsirkan perkataan Marx dengan menyimpulkan, pikiran sudah cukup, sudah saatnya beraksi. Namun yang paling mengkhawatirkan dan orang-orang lupa bahwa melakukan aksi atau amal tanpa berpikir terlebih dahulu adalah satu bentuk kekonyolan tersendiri. Mungkin ada yang menjawab, ‘maksud dari kalimat Marx, suatu pemikiran seharusnya memberikan dampak praktis terhadap realitas eksternal, bukan pemikiran yang hanya berada dalam konteks pemikiran semata’.

Di sini perlu ditegaskan bahwa kita tidak sedang membicarakan penafian atas aspek praktis, bahkan tak perlu mengkhwatirkan hal tersebut yakni tidak perlu merancang sejak awal seperti apa konsekwensi atau aspek praktis dari sebuah pemikiran. Oleh karena pemikiran itu sendiri yang akan mengarahkan dan menjelaskan konsekwensinya seperti apa aspek praktis dari pemikiran tersebut.

Kondisi ini akan nampak berbeda jika sejak awal, arah dan tujuan telah ditentukan, kemudian berdasarkan arah dan tujuan tersebut, pemikiran mulai disusun secara sistematis. Lalu kemudian mereka akan mengatakan, pemikiran adalah kesesuaian antara teori dengan praktek atau tujuan. Namun jika mencoba menganalisa secara mendalam, orang tersebut sebenarnya tidak sedang melakukan aktivitas pemikiran, tapi sedang mengambil peran sebagai seorang ideolog.

Tugas pemikir adalah memikirkan persoalan-persoalan secara global dan universal. Pemikir sejak awal tidak pernah menuntut apa yang diperoleh dan apa yang menguntungkan dirinya. Dan juga tak pernah menentukan akan kemanakah arahnya. Pemikir datang bukan untuk menjadi pelayan atas komunitas manapun. Pemikir datang hanya untuk menciptakan kekhawatiran dan kecemasan agar kejumudan luluh dan kemuliaan fatamorgana sirna.

Pertanyaan-Pertanyaan Mengenai Filsafat Moral

Salah satu ruang perdebatan yang tak pernah surut dibahas oleh para peneliti adalah membahas mengenai persoalan moral. Para peneliti mengakui, tak mudah menganalisa persoalan moral, apalagi membangun gagasan mengenai persoalan moral. Suatu ketika Heidegger pernah ditanya oleh salah satu mahasiswanya, “Prof, kapan anda menulis persoalan moral?” “lebih baik anda jelaskan terlebih dahulu kepada saya seperti apa fondasi pemikiran moral, baru setelah itu akan saya jelaskan kepada anda gagasan dan struktur moral”, Jawab Heidegger.

Bisa kita bayangkan jika pemikir besar seperti Heidegger saja tidak dengan mudah memasuki dan membahas persoalan moral. Heidegger melebihi pemikir lainnya menyadari kerumitan persoalan moral. Orang-orang yang begitu mudah menentukan gagasan moral, bisa dipastikan tidak begitu memahami fondasi moral dan persoalan moral.

Tulisan yang sangat ringkas ini tidak bermaksud menjelaskan secara detail persoalan moral. Tulisan ini hanya mencoba memaparkan beberapa persoalan fondasi moral melalui pertanyaan-pertanyaan filosofi berikut ini:

  1. Pertanyaan tentang bagaimana semestinya kita memilih persoalan hidup atau kehidupan adalah pertanyaan setiap manusia, dan persoalan ini termasuk persoalan yang sangat fundamental di dalam persoalan moral.
  2. Selama ini kita selalu memahami bahwa dalam menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya hidup, umumnya kita menjawab dengan bersandar kepada agama, meyakini keberadaan Ilahi, dan meyakini hari kiamat sebagai alam keabadian. Namun paradigma modern mencoba menggeser gagasan tersebut dengan bersandar kepada nilai fitrah kemanusiaan. Sebab itu apakah suatu gagasan moral masih dimungkinkan tanpa bersandar kepada nilai-nilai agama?
  3. Dari pertanyaan sebelumnya kita akan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, diantaranya: (a) Apakah agama adalah moral dan moral adalah agama? (b) Apakah bisa dikatakan jika seseorang benar-benar bermoral niscaya telah menjadi manusia soleh dan agamais, atau sebaliknya, boleh jadi orang itu adalah orang yang soleh dan taat beragama namun tak berakhlak atau tak bermoral. (c) Apakah sejak awal kita harus memisahkan antara agama dan moral?
  4. Persoalan mengenai relasi antara agama dan moral telah dibahas sejak dahulu. Mungkin dapat dikatakan yang pertama kali membahas persoalan ini adalah Plato saat menukil gurunya, Socrates yaitu saat Socrates berdialog dengan Euthyphro. Socrates bertanya kepada Euthyphro Apakah karena Tuhan memerintahkan sehingga perbuatan tersebut adalah perbuatan yang baik atau karena perbuatan tersebut adalah perbuatan yang baik sehingga Tuhan memerintahkan?
  5. Pertanyaan penting lainnya adalah apakah manusia dapat memahami hukum-hukum moral tanpa harus bertanya kepada agama? Apakah tanpa meyakini agama kita bisa tetap percaya kepada Tuhan, keabadian jiwa, dan jaminan tindakan nilai-nilai moral? Seberapa besarkah relasi antara agama dan moral?
  6. Pertanyaan penting lainnya terkait dengan persoalan ini adalah jika kita meyakini realitas agama bersandar kepada agama, apakah dapat dibuktikan dengan pengalaman? Dalam kata lain, apakah relasi antara agama dan moral merupakan relasi yang bersifat sosial, historikal, dan eksperimentasi atau relasi antara agama dan moral hanya bisa dijelaskan dengan relasi metafisik?

Namun satu hal yang mesti diperhatikan bahwa para peneliti yang menggunakan pendekatan sosial, historis, dan eksprementasi pun dalam menjelaskan relasi antara agama dan moral, menggunakan asumsi-asumsi metafisik, khususnya dalam menjelaskan makna, konsep agama, dan konsep moral.

Oleh sebab itu, pertanyaan tentang relasi antara agama dan moral bukan persoalan yang mudah terutama jika ingin menafikan atau pun juga mengafirmasi. Apalagi relasi di antara keduanya tidak berada di dalam naungan kaidah atau aturan tertentu.

 


sumber gambar: www.theatlantic.com

Charles Bukowsky: Kebencian adalah bagian dari Hakikat, Keindahan hanya Ilusi.

Fitrah manusia tidak akan menerima jika kebencian dianggap sebagai hakikat sebab fitrah manusia mengajak kepada keindahan, kebenaran, keadilan, dan segala bentuk kebaikan-kebaikan. Tapi jika kita menengok keluar dan melihat apa yang terjadi di luar sana, di sekeliling kita, dan melihat dengan jujur apa yang sedang melanda dunia hari ini, sangat mudah untuk mengatakan bahwa kebencian adalah bagian dari hakikat. Perlombaan di dalam kebaikan-kebaikan jika bersandar kepada kebencian akan berubah menjadi kesirnaan dan keburukan sebab satu-satunya tujuan perlombaan adalah mengalahkan dan mendominasi yang lain.

Namun bagaimana menggambarkan kebencian sebagai bagian dari hakikat? Sekali lagi cobalah tengok dan lihat bagaimana dunia sekitar kita yang sangat ‘sulit menerima’ yang lain. Kita sulit menerima jika orang lain berbeda dengan diri kita. Kita akan lebih senang jika orang lain seperti diri kita. Mengikuti cara kita memandang dan memaknai kehidupan ini. Mengapa? karena kita selalu berpikir, hanya kita saja yang telah menemukan mata air kebenaran. Kita telah meneguknya dan merasakan kebahagiaan mata air tersebut. Saking bahagianya sehingga menganggap mereka yang tak merasakan mata air kebenaran yang kita teguk sebagai orang-orang yang tersesat dalam menjalani kehidupan ini. Dan hingga akhirnya serta secara perlahan-lahan menganggap cara pandang kita sebagai satu-satunya neraca kebenaran. Kita adalah kebenaran dan selain kita adalah kesesatan.

Pada saat itulah, kita akan heran melihat orang lain. Heran mengapa mereka memililih jalan yang tak sesuai dengan cara pandang kita. Bahkan boleh jadi kita jijik saat melihat mereka melakukan ritual yang berbeda dengan ritual kita. Dan akhirnya kita tak mau lagi melihat mereka. Kita lebih asyik bersama dengan kelompok kita sendiri. Kita akan menutup pintu rumah kita rapat-rapat agar tak lagi terlihat ritual yang mereka lakukan. Saat kita membuka pintu itu kembali, perasaan kita kepada orang lain bukan hanya jijik, tapi kita mulai membenci mereka. Kita memilih memutuskan silaturrahim. Memutuskan pertemanan kita di FB. Meng-unfollow mereka di twitter dan instagram. Memblock Whatsapp mereka.

Sekarang pertanyaannya, ada berapakah cara pandang orang di dunia ini? Mungkin kita akan menjawabnya, jumlahnya sebanding dengan aliran pemikiran yang ada di dunia ini. Namun jika ingin  menjawabnya secara lebih detail, sebenarnya jumlahnya sebandingan dengan jumlah manusia. Sebab meskipun kita berada dalam satu aliran tapi kita punya penafsiran dan pemahaman sendiri. Nah sekarang bayangkan jika setiap orang melakukan hal yang sama, menganggap pandangannya sebagai satu-satunya neraca kebenaran dan membenci pandangan orang lain yang berbeda dengan kita. Tentu kita akan mulai saling memangsa. Benar kata Hobbes, saat itu manusia adalah serigala.

Mungkin kita terlalu lama asyik dengan rumah kita sendiri. Tak punya kesempatan mendengarkan dan memahami orang lain. Tak mau tahu mengapa orang lain memiliki cara pandang yang berbeda dengan kita. Kita lupa bahwa setiap orang berproses menjadi diri mereka sendiri. Mereka juga punya nalar sendiri sebagaimana kita menggunakan nalar kita sendiri. Orang lain juga membangun neraca kehidupannya sendiri sebagaimana kita membangun neraca kehidupan kita sendiri.

Sebab itu jangan sampai kita berubah menjadi zombie. Manusia tanpa nalar yang hanya siap memangsa karena keinginannya hanya memangsa. Manusia zombie adalah manusia yang berjalan dengan tanpa kesadaran dengan langkah yang tertatih-tatih dengan mulut penuh darah akibat memangsa.

Karena jika kita berubah menjadi manusia Zombie, maka benar apa yang dikatakan oleh Charles Bukowsky, “kebencian adalah bagian dari hakikat sedangkan keindahan hanya ilusi semata”.

 


sumber gambar: theunboundedspirit.com