Arsip Kategori: Fragmen

KLPI Bukan Ruang Pertemuan Pahlawan dan TBPI Bukan Markas Power Rangers

Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) hadir kembali. Baru saja membuka kelas perdana untuk angkatan ke-5. Peserta sebanyak 37 orang. Di Toko Buku Paradigma Ilmu (TBPI) mereka berkumpul. Menyimak wejangan Kanda Sulhan Yusuf—CEO Paradigma Group—mengenai orientasi KLPI. Ruangannya pengap dan sempit karena dijejali buku-buku. Peserta yang jumlahnya cukup banyak akhirnya berhimpit-himpitan. Tapi percayalah, semangat dan harapan yang membangun komunitas ini seluas galaksi Bima Sakti.

KLPI memang bermula dari semangat untuk menjadi bagian dari kosmologi literasi. Meski hanya sebagai entitas kecil belaka. KLPI juga bergerak atas dorongan harapan akan terciptanya masyarakat berbudaya literasi. Meski sumbangsinya tak banyak, Tapi KLPI percaya, berbuat sesuatu adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini daripada saling menyalahkan atas terpuruknya budaya literasi masyarakat.

Ada banyak jalan menuju Roma, kata peribahasa klasik. Harapan terwujudnya masyarakat berbudaya literasi tentu bukan hal mustahil terwujud. Asalkan ada segelintir—dalam bahasa Arnold Toynbee—creative minority yang siap bergerak mewujudkan harapan itu. Buktinya, hanya berawal dari sebaran pamflet sederhana di media sosial. Ajakan berliterasi bisa memantik niat segelintir orang untuk bergabung membenahi diri. 37 anak muda ini akhirnya terpanggil untuk belajar.

Bisa dibayangkan. Jika kegiatan literasi dilakoni secara intensif oleh banyaknya komunitas yang tersebar di berbagai penjuru. Bukan tak mungkin, harapan terwujudnya Makassar menuju kota Literasi, atau Indonesia menuju negara literasi bisa menjadi nyata. Mulanya budaya literasi itu ditanamkan dari individu ke individu melalui ruang diskusi. Seperti biasanya, hanya segelintir saja yang berhasil terprovokasi.

Di antara segelintir ini, ada secuil subjek yang bersedia menanamkan semangat literasi di lingkungan sosialnya. Seterusnya demikian. Perlahan tapi pasti. Mungkin hasilnya belum bisa dipetik pada generasi saat ini. Namun di generasi selanjutnya—entah di generasi ke berapa—budaya literasi bisa saja terwujud secara masif melalui benih-benih dari generasi sebelumnya.

Apa salahnya bermimpi, Bung. Mumpung masih gratis. Lagi pula, mimpi-mimpi kebangkitan masyarakat literasi ini bukan semacam utopia yang tak memiliki referensi di dunia nyata. Dia lebih riil di banding utopia akan tatanan masyarakat tanpa kelas ala Marxisme, atau negara ideal ala Platon, misalnya.

Sebab fenomena kebudayaan literasi itu benar-benar ada. Hanya belum merata. Agar bisa meluas di ranah kehidupan masyarakat, budaya literasi ini tentu perlu diperjuangkan. Memperjuangkan mimpi ini setidaknya lebih bermanfaat daripada terus berkelahi demi mendukung salah satu kandidat presiden, yang belum tentu memikirkan nasib kita.

Tentu KLPI hadir bukan sebagai ruang bertemunya pahlawan sok jago yang ingin memperjuangkan tatanan dunia baru. Dan TBPI bukan sejenis markas Power Ranger. KLPI sadar diri hanya sebagai entitas kecil dari kosmologi literasi. Tapi KLPI punya tekad yang besar menyumbangkan sumbangsi bagi perjuangan tatanan masyarakat literasi meski sejumput saja. Relawan KLPI hanya tahu, literasi itu penting dan memperjuangkannya adalah sebuah kebaikan bernilai berpahala.

Bahkan, relawan dan peserta kadang mencuri sedikit waktu untuk ketawa-ketiwi ketika proses belajar di kelas berlangsung. Karena memang KLPI tak punya tampang untuk bisa disebut sebagai ruang pertemuan para pejuang yang hendak membahas cita-cita revolusi secara serius. KLPI hanya ingin memperjuangkan satu elemen penting dalam masyarakat: literasi. Perjuangan yang tentunya dijalani dengan gembira, banyak bercanda, sambil menikmati hangatnya kopi hitam dan pisang goreng buatan Yunda Mauliah Mulkin.

KLPI telah memasuki angkatan ke-5. Tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Kadang semangat melanjutkan kelas ini meredup. Kemudian menyala lagi. Redup lagi. Menyala lagi. Seterusnya demikian. Namun, relawan KLPI kadang tidak tega, jika orang-orang bertanya: “kapan kelas dibuka lagi?”, “Kak Hajir, kabarika kalau mau buka kelas lagi nah!”.

Relawan KLPI merasa bersalah jika tidak menjemput antusiasme orang-orang yang memilih KLPI sebagai ruang membenahi tradisi literasinya. Para relawan tentu bersyukur, jika KLPI dipercayai sebagai—ibarat kawah candradimuka— ruang membenahi diri. Itu artinya, orang-orang mulai melihat KLPI sebagai salah satu gerakan bagi masa depan kemajuan literasi masyarakat.

Selamat bergabung, peserta KLPI Angkatan ke-5. Mari menjadi bagian dari sejarah.

Tiga Hari Dibuai Pendar Literasi

 

Semestinya, hari Sabtu , 5 Mei 2018, saya berada di Kabupaten Bulukumba, guna memenuhi permintaan sekaum perempuan, yang terhimpun dalam Korps HMI-Wati  (KOHATI}, yang menyelenggarakan Latihan Khusus Kohati {LKK) Tingkat Nasional. Tapi, ajakan penyelenggara itu saya tampik, sebab hingga Sabtu malam, saya masih ada acara di Makassar, yang tak kalah pentingnya untuk saya sambangi. Jadi, agar semuanya bisa teraalisir, saya meminta jalan keluar, supaya digeser ke hari Ahad saja, sebab hari Senin, pun saya sudah harus balik ke Makassar, memenuhi  panggilan lainnya. Beginilah resiko “lelaki panggilan”, sejak menabalkan diri selaku pegiat literasi.

Acara yang saya maksud tiada lain, persamuhan Makassar International Writers Festival (MIWF), berlangsung 2-5 Mei 2018, berpusat di Benteng Rotterdam. Festival tahunan ini, sudah memasuki tahun ke-8. Suatu festival literasi berskala international. Dari sekian menu acara yang disodorkan selama festival berlangsung, tidak semua saya bisa hadiri. Maklum saja, saya pun masih harus membajak nafkah, menjaga toko buku, bersemedi di Toko Buku Papirus. Saya  hanya membidik satu mata acara, book launch, peluncuran buku , Semesta Manusia, anggitan Nirwan Arsuka  Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia.

Sekira pukul 14.00, saya sudah beredar di Benteng Rotterdam. Berputar-putar mengunjungi berbagai stand pameran, baik yang digawangi oleh beberapa komunitas literasi, maupun beberapa penerbit. Sekadar melihat-lihat perkembangan buku yang lagi best seller. Jadwal  peluncuran dan bincang bukunya Nirwan, akan berlangsung pukul 16.00-17.30. Pun, yang menarik bagi saya, sebab kali ini, seorang budayawan, Alwy Rachman akan ikut mempercakapkan buku ini. Dalam benak saya, pastilah sawala ini akan menukik pada kedalaman pengetahuan.

Benar saja adanya. Alwy Rachman mengantar percakapan dengan seikat impresi. Mempertanyakan dan sekaligus menelisik motif, serta memetakan maksud dari hadirnya buku ini. Umpan pengantar tersebut, langsung disambar oleh Nirwan selaku penulis buku. Didedahkannya sekotah latar belakang hadirnya buku ini, senarai isinya, juga obsesi-obsesi pengetahuan yang diimajinasikannya. Ada satu poin yang amat terang kilatannya pada bilik intelektual saya, tatkala Nirwan bicara tentang perkembangan sains dan sastra sebagai medan ilmu pengetahuan.

Sains dan sastra, punya kesamaan. Keduanya bekerja berlapikkan akal budi, waima berbeda dari segi penamaan dan aktivitas. Pengetahuan puncak adalah sastra. Karenanya, sains seharusnya berenang di dalam karya-karya sastra. Sesarinya, karya sastra harus menjadi corong perkembangan sains. Dunia sains, punya batasan-batasan kaidah yang mesti dipatuhi. Sementara, dalam karya sastra imajinasi mendapat ruang jelajah yang tak berujung. Penjelajahan sastra, kredebilitasnya terletak pada koherensi internal sastra itu sendiri.

Ada hal yang menarik dari penabalan Nirwan. Bahwasanya, Perbedaan sains –sastra lama dengan sains-sastra baru. Pada sains-sastra lama, dunia dijelaskan dan digambarkan sebagai sesuatu yang di luar kita. Sementara , perkembangan sains-sastra baru, karya yang mesti lahir, haruslah mengubah dunia.  Singkatnya, karya sastra, mengubah dunia lewat bahasa. Karenanya, mengubah bahasa, berarti mengubah dunia. Karya sastra lama, harus diinterogasi, agar menemukan signifikansinya di era kiwari.

Percakapan atas buku setebal 800-an halaman ini, tak terasa sudah memangsa waktu, sehampir satu setengah jam. Pucuk percakapan pun menyata. Tentulah antara durasi waktu dan ketebalan buku tidak sepadan, buat menuntaskannya. Ada simpulan-simpulan personal dari setiap peserta, yang dibiarkan oleh Alwy Rachman sebagai tanda pikir dari setiap penghadir. Alwy tak ingin menyimpulkan percakapan. Sebab, percakapan adalah sesuatu yang melingkar. Begitu pendakuannya, sembari menutup persamuhan intelektual ini.

Ternyata, perbalahan berlanjut  ke sudut lain, masih dalam kawasan Benteng Rotterdam. Pun masih melibatkan beberapa penghadir yang ikut percakapan di ruang diskusi buku tadi. Bintangnya masih Alwy Rachman dan Nirwan Arsuka. Ditambah bintang-bintang lainnya. Sudut ruang persamuhan ini memang agak gelap, tapi pendar-pendar pikiran yang saling melintas di antara para pencakap, menerangkan banyak hal, seputaran semesta manusia. Yah, memang manusia tak habis dipercakapkan oleh manusia itu sendiri. Percakapan pun berakhir, benar-benar berakhir pada pukul 23.00. Saya pun langsung pulang, sebab esoknya, akan ke Bulukumba.

Ahad pagi, baskara baru semenjana teriknya. Tetiba saja, seorang kisanak, Muhary Wahyu Nurba,  menelpon saya. Semalam ia mencari saya di lokasi MIWF. Saya ceritakanlah kronologis semalam, seperti yang saya tuliskan. Di pucuk pertelponan, saya bilang mau ke Bulukumba, saya harus segera bersiap, sebab mobil langganan saya di terminal sedang menanti. Sisa saya selaku penumpang yang ditunggu. Setiba diterminal, saya buka pesan  masuk di WA saya, ada kalimat begini dari Muhary, “salamaki ri lampata, sudah terisi nutrisi semalam, jadi silakan bertarung lagi”.

Pesan Muhary ini, bagi seorang pegiat literasi, semisal saya, sungguh merupakan suplemen penyemangat. Dan, suplemen kata-kata inilah yang menghiduku hingga tiba di Bantaeng, jelang siang. Istirahat kurang lebih enam puluh menit, saya langsung saja mengontak seorang kawan, Dion Syaif Saen, buat pinjam motor, guna saya pakai ke Bulukumba. Jarak tempuhnya sekira tiga puluh kilometer. Jadwal manggung saya di pelatihan LKK Tingkat Nasional itu, pukul 15.00-17.00. Begitu menyata di lokasi, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba, beberapa menit kemudian, saya langsung tancap perbincangan, bertopik, “Membumikan Budaya Literasi: Peluang atau Tantangan Bagi Perempuan?”

Usai mengisi materi perbincangan, saya lagsung balik lagi ke Bantaeng. Jeda sejenak, lalu sekira pukul 20.00, saya ke Teras Baca Lembang-Lembang, markasnya Dion dan kawan-kawan. Mengembalikan motor, plus bercakap-cakap seputaran gerakan literasi, khususnya even literasi yang baru saja usai, perhelatan MIWF. Khusyuk dalam perbincangan, tetiba seorang kisanak menelpon ke Dion. Ternyata, yang menelpon itu adalah seorang kawan pegiat literasi, Denassa, pendiri Rumah Hijau Denassa. Rupanya, malam mini, Denassa akan ke Bulukumba untuk kegiatan yang ada juga kaitannya dengan item literasi. Tapi, setiba di Bantaeng, mobilnya ngadat. Tak bisa melanjutkan perjalanan.

Nginaplah Denassa dan seorang kawannya. Saya dan Dion mengantar ke sebuah wisma, yang tak jauh dari lokasi mobilnya. Di lobi wisma, saya terlibat percakapan intim dengan Denassa. Ada banyak program yang akan disinergikan, yang kesemuanya dalam bingkai gerakan literasi.Mulai dari beberapa even literasi yangakan digelar oleh Rumah Hijau Denassa, program residensi untuk penulis, dan festival komunitas literasi bergandengan dengan program literasi sekolah, kampung literasi, dan aneka topik lainnya, yang saling menguatkan gerakan literasi antar komunitas. Pukul 23.30, saya pamit, lalu menyilakan Denassa istirahat, sekaligus saya mohon maaf tidak bisa temani esok pagi, sebab subuhnya, saya harus balik ke Makassar. Apa pasal? Siangnya, pada hari Senin, pukul 13.00-15.00, saya menjadi pembicara pada suatu pelatihan, dan salah satu materi sajiannya terkait gerakan literasi.

Mendekati waktu yang ditetapkan, saya sudah berada di lokasi pelatihan yang digagas oleh sekelompok anak muda, tergabung dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrengpulu (HPMM) Kabupaten Enrekang. Saya didapuk untuk mengantarkan satu topik pembicaraan, “Membangun Gerakan Literasi”. Bertempat di Aula Balai Diklat PUPR Wilayah Makassar, saya merasa menari, dengan tarian gerakan literasi. Memprovokasi sekaum anak muda ini, agar membangun tradisi literasinya secara personal, agar bisa ikut bergumul membangun gerakan literasi. Pendar-pendar literasi saya berondongkan dari arsenal pikiran dan pengalaman saya dalam bergulat di gerakan litarasi. Hingga batas waktu yang dipatutkan pada saya, persuaan pun berakhir, dengan satu janji, bahwa kita akan bersua lagi dalam momen perjumpaan literasi lainnya.

Usai acara di HPMM ini, saya langsung balik ke mukim. Sesampai di mukim, saya langsung diberitahu, bahwa ada seorang karib yang ingin bertemu. Mau berdiskusi, sekaligus ingin menyerahkan bukunya, buat wakaf buku di Bank Buku Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Saya pun, meminta agar mengontaknya, bikin janjian sesudah waktu Isya, biar lebih nyaman. Janji waktu pun tiba, muncullah sang kawan, seorang mantan aktivis mahasiswa, Muhammad Farid, kini melanjutkan studinya di Taiwan, program S3, program doktor bidang teknik otomotif. Hampir sejam saya bercakap, tentang banyak hal, termasuk perkembangan gerakan literasi, yang ia coba kawal di kalangan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Taiwan. Sederet geliat didedahkan, pendar literasi berkilau di sana. Pun, perjumpaan mesti diusaikan, dengan sebuah penanda, mewakafkan dua eksamplar buku karangannya, berjudul, Ruang Kontemplasi.

Saya tidak langsung tidur usai perbincanagn dengan Farid, tapi mencoba merekap aktivitas saya selama tiga hari belakangan ini, Sabtu, Ahad, dan Senin. Rasa-rasanya, saya terlempar pada seruang terungku tarian literasi. Saya melata dari peristiwa literasi ke hajatan literasi lainnya. Saya seperti dibui oleh gerakan literasi ini, waima sesungguhnya saya lebih banyak terbuai oleh pendar-pendar literasi ini. Setidaknya, tiga hari dibuai oleh pendar literasi. Dan, barulah paginya, saya sadar, bahwa buaian pendar literasi ini, harus saya tulis. Begitulah, semestinya.

 

Menulis untuk Hidup dan Hidup untuk Menulis

 

Mereka adalah sekaum anak muda, mahasiswa, dan pelajar. Para pewaris ideologis Tjokroaminoto, Sang Guru Bangsa. Guru dari Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen. Kelak ketiga murid ini, bertarung menawarkan pikirannya untuk bangsa, bentuk negara buat bangsa Indonesia. Soekarno menyodorkan Nasionalisme Indonesia, Republik Indonesia. Kartosoewrjo mengemukakan Islamisme, Negara Islam Indonesia (NII). Dan, Semaoen mengedepankan Komunisme bagi Indonesia.

Tapi, pewaris yang saya hadapi kali ini, bukanlah titisan Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen. Melainkan, sekaum cicit ideologis dari Tjokroaminoto yang tergabung dalam Pergerakan Pemuda Syarikat Islam Indonesia, terdiri dari Serikat Pelajar Muslimin Indonesia {SEPMI), Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), dan Pemuda Muslimin Indonesia (PEMUDA MUSLIM). Mereka menyelenggarakan Intermediate Training Nasional, dengan tema: “Membangun Ideologi Progresif dalam Bingkai Gerakan Revolusioner Menuju Kemerdekaan Sejati”, 28 April – 6 Mei 2018, bertempat di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Saya diundang untuk ikut menabuh gendang pemikiran training ini. Tabuhan gendang saya bertajuk, “Falsafah Menulis”. Arti penting materi ini dijadikan salah satu topik bahasan, saya coba raba, dari alam pikiran penghelat, karena soal menulis adalah soal terdepan dalam kejuangan Tjokroaminoto dan segenap muridnya. Sosok Tjokroaminoto adalah sosok penulis. Buah pikirannya, lewat tulisan-tulisan dan bukunya, masih bisa dibaca hingga kini. Tradisi literasi Tjokroaminoto sangat kuat. Pun, makin dikuatkan oleh para pengikutnya. Mereka menjadikan tulisan sebagai senjata perjuangan. Dan, saya pun memulai menggendang pikiran para peserta dengan pantikan dari tradisi literasi pendiri dan generasi awal Syarikat Islam.

Selanjutnya, saya pun mulai menggebuk pikiran peserta. Pertanyaan dan sekaligus jawaban  saya ajukan guna merangsang birahi ingin tahu mereka. Bahwasanya, tatkala kita bicara falsafah menulis, sesungguhnya kita tiba pada, paling tidak, tiga subjek fundamental, yakni: Apa hakikat menulis? Bagaimana menulis? Dan, tujuan menulis? Pertanyaan-pertanyaan itu, merupakan pertanyaan filosofis dari kegiatan menulis.

Hakikat menulis adalah mengeluarkan olahan jiwa. Agar hasil kerja ruhani ini memadai adanya, maka terlebih dahulu mestilah membaca sebanyak mungkin. Sebab, penulis yang baik, pastilah dia seorang pembaca yang rakus. Membaca, ibaratnya memberi asupan gizi pada jiwa. Dan, gizi bacaan ini, diolah oleh perangkat intelektualitas, menjadi energi ruhani, yang salah satu bentuknya berupa tulisan. Makin bergizi asupan bacaan, makin berenergi pula suatu tulisan. Jika bacaannya kurang bergizi, bahkan mengandung racun, semisal hoaks, akan merusak jiwa. Dengan begitu, tulisan yang dihasilkan pun tak berenergi, malah menyebarkan racun buat jiwa orang lain.

Lalu, bagaimana caranya menulis? Memulai menulis bergantung pada kapasitas awal yang dimiliki seseorang. Ada penegasan yang saya ajukan sebagai langkah yang paling mula, bagi seorang yang kesulitan menulis. Menulislah diary, serupa catatan harian tentang apa saja yang mampu dituliskan. Tujuan menulis ala catatan harian ini, amat berguna untuk melatih otot-otot kepenulisan. Membiasakan diri menulis setiap saatnya, akan mempermahir diri. Ala bisa karena biasa, begitu kata pepatah. Dan, dari kebiasaan ini, sudah memungkinkan  jadi modal untuk melakukan aktivitas lanjutan dalam menulis dengan cara menulis bebas, free writing.

Saya pun harus merekomendasikan satu buku bergizi tinggi untuk keperluan ini, sebuah buku anggitan dari Hernowo Hasim, Free Writing, selain buku lainnya, Quantum Reading, dan Quantum Writing, serta Mengikat Makna. Sesungguhnya, masih banyak buku karangan Hernowo yang dapat membantu untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Pun, jangan lupa buku lainnya, yang cukup melimpah ruah, dan amat mudah mendapatkannya.

Berikutnya, tujuan menulis. Buat apa menulis? Setidaknya, ada dua tujuan menulis. Ada tujuan individual dan sosial. Sebagai tujuan individual, aktivitas menulis itu dapat dijadikan terapi bagi jiwa. Boleh pula sebagai sarana untuk mendapatkan nafkah. Menjadi penulis professional. Sedangkan tujuan sosialnya, bergantung pada posisi seorang penulis, sebab ada penulis sekadar ingin memasarkan gagasannya, buat berkontribusi pada perubahan sosial. Namun, tidak sedikit pula tulisan-tulisan itu dihadirkan untuk mendinamisir keinginan masyarakat. Jadi, ada yang menulis karena kebutuhan jiwa, ada pula yang menulis sebab keinginan masyarakat

Pada penghujung persamuhan, seorang peserta minta penjelasan tentang pernyataan yang ia pernah dengar. Begini kalimatnya, “menulis hidup untuk dan hidup menulis untuk ”. Saya pun memberikan penjelasan ringkas, bahwa maksud dari kalimat itu, “menulis  untuk hidup”, bahwasanya, seseorang melakukan kegiatan menulis sebagai upaya mencari nafkah. Menjadi penulis professional. Memilih jalan kepenulisan agar bisa bertahan hidup. Tidak sedikit penulis yang hidup sejahtera karena tulisan-tulisannya.

Adapun kalimat, “hidup untuk menulis”, adalah orang-orang yang menjadikan aktifitas menulis sebagai jalan untuk berbakti buat sesama. Menulis adalah jalan juang. Apa yang dicontohkan oleh Tjokroaminoto, dan ketiga muridnya, Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen adalah insan-insan yang menjadikan kepenulisan sebagai jalan perjuangannya. Berusaha berkontribusi bagi orang lain, dengan menawarkan pikiran-pikirannya. Kesemua buah pikiran mereka untuk kepentingan bangsa. Bukankah tulisan-tulisan mereka, hingga diwaktu kiwari ini masih disantap, sebagai bacaan bergizi bagi anak bangsa yang ingin memahami perjalanan kebangsaan kita?

Di sisa waktu yang tersedia, saya mengunci pernyataan saya dihadapan cicit ideologis Tjokroaminoto itu, bahwa, “menulis untuk hidup” adalah sah adanya sebagai bekal melata di atas bumi ini. Pun, demikian dengan pilihan, “hidup untuk menulis”, merupakan kualitas diri yang dinubuatkan buat berguna bagi kehayatan di semesta. Para professional, menulislah untuk hidup. Kaum muda di pergerakan, hiduplah untuk menulis.

 

Badaruddin Amir: Esai itu Tulisan yang Genit

Esai itu tulisan yang genit. Dia diibaratkan seseorang yang datang dan mencubit pipimu dan kemudian pergi. Begitulah esai di mata Badaruddin Amir. Pendakuan ini ia sampaikan saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis esai bagi Guru-Guru Bahasa se-Kabupaten Sidrap beberapa waktu lalu.

Badaruddin Amir seorang sastrawan Sulsel. Dia tangkas menghidupkan suasana forum. Sebelumnya, forum ibarat ruang tunggu yang sepi lantaran materi yang cenderung teoritis. Kaku. Dan mungkin membosankan.

Sebelum Pak Badar, begitu ia disapa, eike yang berkesempatan pertama kali memberikan materi. Begitulah, semenjak Pak Badar mendapatkan giliran, dengan pengalamannya yang segudang mengampu pelatihan-pelatihan menulis, forum berubah 180 derajat.

Sebenarnya slide-slide materi yang disampaikan Pak Badar tidak jauh berbeda dari apa yang sudah eike sampaikan. Tapi, dari cara penyampaian, dan beragamnya contoh pengalaman yang ia ajukan, membuatnya menjadi bintang forum. Ya, semenjak mengetahui akan dipanel dengan beliau, dari awal eike sudah memosisikan diri sebagai peserta kesekian yang kebetulan duduk di sebelah Pak Badar.

Kalau mau jujur, selama ini Badaruddin Amir tidak familiar di telinga eike. Ini bukan karena Pak Badar tidak tenar dalam dunia kesusastraan maupun literasi di Sulawesi Selatan, melainkan lingkaran pergaulan eike yang masih selebar daun kelor. Juga jelajah bacaan eike yang tidak meningkat-meningkat sehingga belum sempat membaca tulisan-tulisannya.

Nama Badaruddin Amir pertama kali eike temukan di dunia maya. Secara tidak sengaja eike melihat postingan cerpen beliau yang kebetulan nongol di beranda Fb. Karena merasa ganjil, kala itu eike memberanikan diri mengomentari beberapa kata dalam cerpennya. Tidak disangka komentar itu memancing pendiskusian yang lumayan panjang. Bahkan mengundang orang-orang dekat Pak Badar turut berkomentar.  Akibat saling kritik, eike mencoba mengintip-intip dinding Pak Badar. Setelah beberapa saat, rasa-rasanya beliau ini bukan orang biasa.

Tak disangka kami dipertemukan dalam kegiatan yang sama.

“Rival saya ini,” canda Pak Badar sambil menyalami eike ketika pertama kali bertemu. Sebelum forum dibuka kami sempat terlibat diskusi ringan. Pak Jamal selaku pihak yang mengundang heran. Dia mengira kami sama sekali belum saling mengetahui. Ternyata aksi “kritik-mengkritik” di Fb beberapa waktu lalu cukup berkesan bagi Pak Badar. Dia tidak semata-mata lupa dengan eike.

“Dulu di Pedoman Rakyat tradisi kritik diapresiasi. Saling kritik itu baik, yang penting tidak membawa personalitas di dalamnya” begitu seingat eike perkataan Pak Badar ketika kami duduk berdiskusi ringan. Dia juga menerangkan posisinya terkait “polemik” yang ditimbulkan Denny JA yang belakangan booming. Bahkan dia menilai usaha Denny JA dalam memperkenalkan  “puisi esai-nya” sudah tidak wajar.

“Di Sulawesi Selatan saya yang pertama kali dihubungi Denny JA untuk ikut mengapresiasi puisi esainya,” ucap Pak Badar di saat mengatakan penolakannya. “Dampak-dampaknya kelak berbahaya,” sambungnya.  Apa yang dikatakan Pak Badar ini jelas merujuk kepada upaya yang dilakukan Denny JA menghimpun sastrawan-sastrawan di seluruh daerah Tanah Air dengan memberikan bayaran sebanyak lima juta dengan catatan mau menulis puisi-esai dalam rangka ikut mempromosikannya.

Bahkan kalau tidak salah ingat, ia juga sempat mengatakan sudah menulis beberapa pandangannya tentang puisi-esai dalam esai yang diikutkan dalam kelompok penulis yang tidak sepakat dengan sepak terjang Denny JA.

Di siang itu forum berjalan lancar-lancar saja. Walaupun sebelumnya eike mesti bergegas dari Makassar semenjak Subuh agar sampai di lokasi kegiatan pukul 8 pagi. Langit yang tidak berubah cerah dan hujan yang awet ikut menemani selama perjalanan.

Apa boleh buat, keadaan tidak bisa dilawan sepenuhnya. Eike tiba pukul delapan lewat. Hampir pukul sembilan, bahkan.

Ketika naik ke lokasi kegiatan di lantai dua, sepintas eike melihat seorang pria paruh baya duduk mengenakan topi hitam melalui celah pintu. Tidak langsung masuk, eike memilih duduk sebentar di bagian depan sambil mengatur napas. Dengan terkejut eike bertemu seorang senior semasa di kampus. Sekarang ia menjadi seorang guru sejarah. Ternyata ia salah satu peserta di kegiatan ini. Tak dinyana, sekarang eike yang bergantian memberikan materi seperti yang pernah ia lakukan di masa masih mahasiswa dulu. Ah, begitulah, dunia bekerja.

Pria paruh baya itulah Pak Badaruddin Amir. Ia datang lebih awal dengan menggunakan topi dan duduk sembari menengok layar gawainya. Nampaknya Pak Badar lumayan aktif di dunia maya. Cerpen maupun esainya, sering ia posting di sana.

“Tulisan yang kamu komentari itu sebelumnya sudah saya kirim di Fajar, tapi saya enggan memotongnya menjadi lebih pendek,” ungkap Pak Badar. Ia nampaknya tidak setuju jika karya tulisnya mesti dipermak sampai harus memenuhi kolom “sempit” yang disediakan koran-koran selama ini. Itulah sebabnya ia lebih memilih memostingnya di dunia maya yang jauh lebih banyak memberikan ruang bagi karya tulis yang panjang.

Di tengah pemaparan materi memang ada sedikit pembahasan tentang apa yang dimaksudkan “pendek” ketika mengartikan cerpen. Apakah ia ditentukan oleh faktor internal semisal jumlah karakter? Atau jalan cerita yang sekali dibaca sudah dapat menangkap karakter tokohnya? Atau memang lebih ditentukan oleh faktor eksternal semisal medium cerita itu diterbitkan, yang dalam hal ini sangat ditentukan oleh space yang ada pada setiap koran, majalah, atau junal?

Pertanyaan ini akan makin membingungkan jika tradisi kepenulisan cerpen dikaitkan dengan tradisi tulis menulis di luar negeri. Pengalaman Eka Kurniawan ketika menerjemahkan karya-karya cerpennya ke bahasa asing  misalnya, menggambarkan ternyata cerpen-cerpen yang ditulis penulis-penulis luar negeri jauh lebih panjang dari apa yang dituliskan cerpenis-cerpenis dalam negeri. Kala itu seperti yang dituliskan Eka melalui blognya, editor yang menerbitkan tulisannya sempat membandingkan cerpen-cerpennya yang lebih pendek dari cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan.

Menurut Eka, cerpen-cerpen yang ditulis di Tanah Air selama ini lebih banyak ditentukan oleh kolom yang disediakan media cetak. Sehingga ikut memengaruhi cara bercerita cerpenis ketika membangun narasinya. Menurut eike, efek paling membahayakan bagi pembaca adalah batas kemampuan membaca yang akhirnya tidak tahan membaca narasi yang panjang. Kata “pendek” dengan kata lain sudah pertama kali mendikte pembaca sehingga sulit memiliki energi lebih ketika berhadapan dengan narasi yang lumayan panjang.

Salah satu yang menarik selama pemaparan, menulis diibaratkan Pak Badar seperti berenang. Semua orang tahu seluruh gaya berenang, mereka tahu perbedaan di antara gaya kupu-kupu dengan gaya punggung, tapi itu hanya sebatas pengetahuan. Berenang yang sesungguhnya adalah ketika seseorang sudah di dalam air. Ketika dia sudah berpraktik. Sudah mau melakukannya. Begitulah yang dimaksudkan Pak Badar, menulis hanya disebut menulis ketika dia dilakukan.

Sebelumnya, eike sempat malu sendiri. Pasalnya tidak ada tandamata berupa buku yang eike hadiahkan kepada Pak Badar. Sebaliknya, sebagai pamungkas dan tanda karya, eike diberikan buku kumcer beliau Latopajoko & Anjing Kasmaran. Di sini kelihatan kan, siapa sebenarnya penulis?

 

Teknologi, Hoax dan Perlawanan Literasi

Kita tahu bersama, manusia telah berjalan melawati puluhan juta tahun untuk sampai di era sekarang. Sudah banyak yang pergi dan datang. Kita juga tahu bersama,bahwa pada puluhan juta tahun yang lalu, manusia pernah hidup dengan berkoloni dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Manusia kala itu, memiliki pengetahuan yang kompleks dan holistik tentang alam semesta. Literasinya tidak pada lembaran-lembaran buku. Tapi pada alam semesta yang penuh misteri. Manusia purba demikian para antropolog menamainya hidup damai bersama alam semesta. Mereka mengambil seadanya dari alam, sekadar untuk hidup. Nalar mereka adalah nalar kebutuhan bukan keserakahan.

Laju sejarah tak tertahan. Setelah ribuan tahun manusia menganut hidup seadanya dari alam dan tak bermukim pada satu tempat, sekitar 10.000 tahun yang silam, sebuah revolusi besar terjadi. Manusia mulai mencurahkan seluruh waktunya untuk memanipulasi kehidupan sepsis hewan dan tumbuhan. Mulai dari terbit hingga matahari terbenam manusia menabur biji, menyirami tanaman, mencabuti gulma dari ladang dan menggiring domba-domba ke padang subur. Pekerjaan itu, di pikir bisa menyediakan lebih banyak buah, padi-padian, dan daging. Di sinilah awal terjadi revolusi cara hidup manusia—Revolusi pertanian.[1]

Mungkin kita hampir semua berada pada pengetahuan yang sama bahwa revolusi pertanian yang ditemukan oleh manusia adalah sebuah kemajuan. Sebuah terobosan yang menghadirkan kebahagiaan pada manusia. Tapi faktanya, menurut Yuval Noah Harari, justru itu adalah kemunduran manusia. Di sana manusia mengalami ancaman gagal panen. Busung lapar menghinggapi manusia. Menjadi penyakit yang tercipta akibat perubahan itu. Tak hanya itu, manusia semakin mempersulit dirinya. Tenaga mereka keluar dua kali lipat dari pada  peradaban sebelumnya.

Waktu tak mungkin kembali, situasi alam telah berubah. Sudah banyak spesis hewan dan tumbuhan yang telah punah. Kini manusia semakin di ambang krisis. Dengan perjalanan waktu dengan segala lakon negatifnya, sepertinya pertanian tak lagi memadai hasrat manusia. Pada situasi seperti itu, manusia juga tak pernah berhenti. Tak pernah menyerah. Imajinasi tentang hidup yang simpel dan mudah menggerakanya untuk menemukan hal baru. Dan hal yang baru ditemukan selanjutnya adalah sains. Revolusi sains tercipta.

Sains bukanlah pengetahuan akan tetapi ketidaktahuan. Sains lahir dari pertanyaan-pertanyaan atas sisi misterius yang tersisa dari alam semesta. Lahir dari jawaban teks agama yang dianggap tidak memadai menjawab kosmos. Lalu berangkat dari pertanyaan-pertanyaan atas kosmos, sains modern berkembang hingga peradaban baru lahir mengubur peradaban sebelumnya. Peradaban modern—begitu kita semua menamainya. Di peradaban ini, sains menjadi agamanya. Kemajuan sains modern akhirnya memicu hadirnya teknologi. Kita semua menyambutnya secara suka cita seolah tanpa cacat.

Kehadiran teknologi telah menjadi budaya sebab ia berubah menjadi cara hidup. Secara tidak sadar menyetir cara kita merasa, berpikir dan berharap. [2] Saat ini, hampir seluruhnya teknologi menjadi pengelola hidup kita. Lewat teknologi, manusia diberi imajinasi bisa mengembangkan dirinya secara cepat dan tak terbatas secara kuantitatif. Manusia yang tenggelam dalam arus mencari yang lebih cepat, lebih canggih dan selalu lebih melimpah. Larut dalam keragaman tanpa fokus. Bukannya kita menemukan diri, arus yang serba cepat membuat kita tersesat di antara banyak hal yang melingkupi kita. Dan dalam hasrat merangkul semuanya, kita malah tak menjadi apa pun dan kehilangan diri sendiri. [3] Barangkali di sinilah kebenaran Heidegger bahwa era teknologi hanya membawa manusia pada nihilis. Teknologi diciptakan sebagai upaya untuk mengemansipasi diri justru berakibat pada kehilangan diri sendiri.

Teknologi sebagai wujud kemajuan dari peradaban justru tak hadir memberi kebahagiaan sepenuhnya. Di balik kecanggihan teknologi ternyata menyisahkan kecemasan. Dengan teknologi, eksistensi kita sebagai manusia terancam. Sebab bukan lagi kita yang mengontrol teknologi. Malah sebaliknya, teknologi yang telah mengontrol diri kita. Bukan lagi teknologi yang tergantung kepada diri kita, akan tetapi kitalah yang tergantung kepada teknologi. Kita pada akhirnya menjadi budak dari teknologi. Menjadi budak dari apa yang kita ciptakan sendiri. Dalam situasi kebudayaan teknologi saat ini, kita tidak seharusnya berdiri pada sisi menolak teknologi sebab ia sudah menjadi fakta sosial. Yang terpenting adalah menyadari kunci terdalam teknologi yakni manusia yang merdeka dan kreatif.

Budaya teknologi minus kreativitas, nihil independensi atau kemerdekaan akan berpuncak pada budaya copy paste. Tanpa kreativitas dan independensi melalui gawai (handphone) kita dengan gampangnya menyebarkan hoax. Menyebarkan berita bohong—tanpa fakta. Menyebarkan info yang direkayasa untuk tujuan tertentu secara masif guna mengubur info yang benar. Dengan menyebarkan hoax, kita akhirnya masuk dalam lingkaran kepentingan uang dan kekuasaan tanpa disadari. Kita akhirnya seperti robot-robot tanpa kesadaran dan daya kritis untuk memferivikasi kebenaran info yang hadir. Dengan wajah demikian, kita sebenarnya tak lebih baik dari manusia purba. Bisa jadi kita adalah evolusi kemunduran dari manusia-manusia sebelumnya. Manusia yang hidup puluhan juta tahun silam.

Akhirnya tak ada pilihan lain untuk melawan maraknya fenomena penyebaran hoax. Kita harus berdiri tegak dengan gagah berani digerakan literasi. Kita perlu bergerak bersama mendorong sebanyak mungkin orang untuk mencintai literasi. Saatnya kita bergandeng tangan—tanpa harus melihat, kita dari latar belakang mana untuk menyebarkan virus membaca dan menulis. Sebab dengan lakon literasi akal sehat dapat terjaga. Daya kritis akan tumbuh. Dengan literasi kita akan memiliki imun terhadap info-info yang tak benar. Kita akan mawas diri dari kebohongan yang sengaja disebar. Saatnya semua elemen berdiri bersama mengulurkan tangan. Menarik orang di sekitar untuk mulai membuka lembaran-lembaran papirus yang bernama buku untuk mengejanya. Kita harus mulai menghadirkan perpustakaan di rumah masing-masing dengan itu budaya literasi tumbuh dari rumah.

# Di sampaikan pada Orasi Ilmiah Palopo Festival Literasi 6 Maret 2018 di Taman Baca
[1] Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta: KPG. Hlm: 93-94
[2] Setyo Wibowo. Paideia: Filsafat Pendidikan Politik Platon. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 21
[3] Ibid, Hlm: 21

# Gambar bersumber Google

Dari Qushayi, Sun Go Kong, Kungfu Panda, hingga Etnografi

Pagi-pagi buta di kota kaum urban, saya terbangun bukan karena alarm atau suara ayam, tapi bunyi-bunyian klakson. Selepas salat subuh – kira-kira pukul tujuh lewat sekian menit – saya nyambi di samping kiri rumah kos. Selain riuh jalanan, saya ditemani Si hitam manis, dari tanah Toraja dan Si Hegemoni Quraisy. Lama kami berdialog, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk bergegas menyusuri lorong sunyi peradaban. Jalan yang penuh semak belukar karena jarang orang melintas. Semua memilih jalan lain yang penuh fantasi dan hiburan yang menggoda.

Sebelum melanjutkan sekuel jalan sunyi, saya ingin sejenak bercerita tentang Qushayi, teman yang datang dari padang pasir, sebagaimana yang ada dalam buku Hegemoni Quraisy itu . Dia buah cinta dari pasangan Kilab bin Murrah dan Fatimah binti Sa’ad bin Sail. Qushayi berasal dari suku yang terbuang, tetapi mampu menjadi orang berpengaruh di kemudian hari. Qushayi bin Kilab merupakan pendiri suku Quraisy. Qushayi adalah buyut dari Muhammad bin Abdullah SAW. Turunan dari Hasyim, Abdi Manaf, ke Abdul Muthalib kakek Rasulullah SAW.

Penting diketahui dalam menanamkan pengaruhnya di Mekkah, Qushayi menggunakan beberapa strategi ekonomi dan politik. Yakni penyatuan suku-suku yang bercerai-berai di sekitar Mekkah. Qushayi pun memahami bagaimana sirkuit kebudayaan masyarakat Arab saat itu, sehingga melakukan pendekatan agama dalam melangsungkan hegemoni kekuasaannya. Melalui strategi politik buka keran, siasat politik yang memberikan kebutuhan hidup sebanyak-banyaknya bagi orang-orang. Begitulah Qushayi memberikan persediaan air bagi peziarah, atau orang-orang yang melakukan ritual haji kala itu. Sekolompok orang hari ini pun mencoba melakukan hal serupa, memainkan agama sebagai jalan meraih kedudukan politik. Tetapi, pendekatan yang dilakukan Qushayi bin Kilab jauh lebih beradab, tinimbang yang dilakukan manusia now. Maniak politik kiwari ini banyak menjual ayat-ayat untuk meligitimasi kekuasaannya, atau untuk merebut simpati masyarakat.

Kembali ke era now, saya menautkan jiwa raga di kelas etnografi yang digelar LAPAR dan Jaringan Gusdurian Makassar.  Kelas-kelas seperti ini, sama saja dengan kelas-kelas lain seperti menulis, biasanya sepi peminat. Etnografi, menurut Syamsul Rijal Adhan, peneliti Litbang Makassar,  merupakan penelitian yang berkontemplasi pada bagaimana memahami kebudayaan suatu etnis, suku, atau kelompok masyarakat berdasarkan sudut pandang masyarakat tersebut atau emik. Maka menjadi penting memahami bagaimana sirkuit kebudayaan diproduksi sebagaimana Qushayi, agar kita mampu merumuskan siasat-siasat perlawanan. Sebab, hari ini suatu kelompok masyarakat marginal, bahkan kita semua banyak didefinisikan oleh the other, sesuatu yang berada di luar diri kita. Olehnya, wordview the other harus berganti menjadi the self.

Ya! Kita harus mulai membicarakan diri kita sendiri. Agar tidak terjebak dalam klasifikasi-klasifikasi yang cenderung memarginalkan. Misalnya saja, bagaimana doktrin Barat yang direpresentasikan sebagai pusat peradaban yang beradab atau modern. Sedang Timur, digambarkan sebagai tempatnya manusia-manusia terbelakang, kolot, mesum, dan sebagainya. Makanya, harus diperadabkan. Inilah yang kemudian hari ditafsirkan Barat sebagai legitimasi melakukan ekspansi dan kolonialisasi terhadap Timur.

Ada beberapa catatan penting lain terkait literasi selama mengikuti kelas etnografi. Badauni yang pernah menjadi wartawan Tempo Makassar, dan kini menjadi editor media Seputar Sulawesi, banyak membincang perbedaan essai dan opini, serta kiat-kiat menulis. “Apa yang susah dari menulis?” Kira-kira begitu pertanyaan pemateri kepada peserta kelas etnografi siang itu. “Memulai menulis”, jawab peserta berbadan gempal di sudut ruangan secara spontan. Sontak pemateri dan beberapa peserta tertawa kecil, memecah suasana kaku dan panas ruang kelas. Memang, perkara paling sulit dalam kepenulisan adalah mulai menulis. Ide dan kata-kata yang menumpuk di kepala saat hendak dituliskan, biasanya langsung menguap begitu saja.

Pikiran manusia masih memiliki keterbatasan, sehingga saat ide muncul, harus segera dituliskan atau dikerjakan. Rentannya pikiran manusia dalam menyimpan ide, sering digambarkan dalam film Tom and Jerry. Sering kita lihat di atas kepala Tom muncul lampu yang bersinar sebagai penanda bahwa Tom memiliki ide. Tapi idenya kerap hilang, karena Jerry si tikus datang mengambil lampu gagasan tersebut. Maka perlu bagi Tom menyelamatkan lampu itu sebelum hilang. Begitulah sifat ide manusia, harus segera dituliskan. Karena “sebagaimana membaca, menulis adalah kata kerja”, tutur Badauni. Jadi memahamai bahwa membaca dan menulis merupakan kata kerja, menjadi kunci jawaban persoalan susah menulis atau malas membaca.

Senada dengan Badauni, Anwar Jimpe Rahman, peneliti dari Ininawa mengatakan bahwa kegagalan orang-orang dalam menulis adalah karena menghakimi dirinya sendiri sebelum tulisannya dibaca oleh orang lain. Mengatakan “tulisanku jelek” adalah salah satu bentuk menghukumi diri sendiri, apalagi dengan menyerah dan tidak mau mempubikasikannya. Menurut Anwar Jimpe, yang harus dilakukan jika terlanjur menghukumi diri adalah membuktikan kepada orang-orang bahwa tulisan kita jelek. Biarlah orang-orang yang memberikan interpretasi bahwa tulisan kita jelek atau bagus.

Yang menarik dari pembahasan Anwar Jimpe bagi saya adalah soal metode praktik sebelum teori. Al-Quran menjadi landasan dari rumusan tersebut. Praktik langsung di lapangan dan melakukan penelitian lebih efektif, daripada berkutat pada metodologi terlebih dahulu. Keberadaan metode cenderung memenjarakan kreatifitas peneliti di lapangan. Karena dibatasi oleh ketentuan-ketentuan metodologis yang kaku dan harus. Jadi menurutnya, metode paling ampuh dalam penelitian adalah tidak ada. Kita hanya butuh alat seperti recorder, pulpen, buku, dan lisan. Saat itulah, saya cengar-cengir sendiri. “Ahh.., kamu ketawa berarti masuk di akalmu”, tuduh salah satu kakak berkumis tipis yang hadir saat itu, sembari tertawa.

Yang membuat saya cengar-cengir adalah terbersitnya kesadaran bahwa perjalanan menyusuri kelas etnografi mirip perjalan Sun Go Kong dan Kungfu Panda. Antara Saya dengan kelas etnografi, Sun  Go Kong dengan perjalanan mencari kitab suci di barat, dan Kungfu Panda dengan gulungan naganya, sama-sama menemukan kekosongan. Inilah yang coba kami urai dalam proses selanjutnya di lapangan, menyisir padang pasir yang penuh fatamorgana. Mencari makna-makna dan bagaimana sirkuit kebudayaan suatu masyarakat. Maka menjadi penting percaya pada diri sendiri. Sabar dalam menghadapi segala proses yang ada. Penghapusan ego pun sangat dibutuhkan, agar data emik yang didapatkan tidak bias oleh subjektivitas atau tercemar sudut pandang the other.

Sulhan adalah Han dan Sang Guru Itu Sendiri

Tutur Jiwa dan Beberapa Hal Tentangnya

***

Malam itu, Bedah Buku Tutur Jiwa  Karya Sulhan Yusuf oleh LKIMB UNM di pelataran PKM UNM itu, sepertinya menjadi awal teks-teks kearifan Sulhan menari di belantara realitas, yang mulai kering dari wejangan-wejangan spritual dan filosofis. Tutur Jiwa  hadir seolah memanggil kumpulan jiwa-jiwa muda yang haus akan tutur kebijaksanaan. Puluhan jiwa-jiwa itu duduk bersila, menunggu Sang Guru (sang tokoh spritual Han dalam Tutur Jiwa) berujar mengenai perihal yang dapat membasuh kedalaman batin yang kian kerontang. Ujaran Sang Guru itu tentu bergema melalui perantara Sulhan, sebagai pencatat wejangan-wejangannya.

Lantas, siapa Sang Guru? dan siapa Han? Anda boleh bilang mereka adalah tokoh fiksi yang hadir dari rahim imajinasi Sulhan. Tapi, dari sisi yang lebih filosofis, Sang Guru dan Han itu adalah nyata. Meminjam perspektif Herman Pabau, salah seorang pembedah Tutur Jiwa di malam itu, “Han dan Sang Guru harus dipandang sebagai wujud tunggal, bukan dua wujud secara individual berdiri sendiri. Yang membedakannya adalah siapa yang bergantung murni pada siapa atau perbedaan itu pada tingkat wujudiah yang mereka duduki dalam cakupan wujud tunggal.”

Tentu, yang dimaksud Herman Pabau bahwa, Sang Guru dan Han adalah suatu ketunggalan dalam wujud Sulhan, dan bergradasi  membentuk suatu ikatan guru dan murid. Sulhan ibarat punya dua kepribadian yang tak terpisah satu sama lain, Sulhan Yusuf hadir dalam dua wajah yang saling bercakap-cakap: Han sebagai murid dan Sang Guru yang tentu sebagai guru si Han. Atau dalam pengertiannya yang paling sederhana: Sulhan sebagai murid (Han) dan Sulhan juga sebagai guru untuk dirinya sendiri (Sang Guru).

Ini menarik. Sebab Sulhan hadir sebagai murid yang bersedia menerima wejangan kearifan dari refleksi batinnya sendiri dan Sulhan juga sekaligus menjadi guru untuk menuntun jiwanya dalam membaca realitas. Terkadang, orang-orang berkhotbah dengan maksud untuk memperingati orang-orang di sekelilingnya, namun di sisi lain, tidak mau menceramahi dirinya sendiri karena merasa sudah cukup sempurna. Untuk itu, Tutur Jiwa hadir tak hanya menjadi pengingat bagi pembacanya mengenai suatu perihal, namun juga menjadi pengingat bagi Sulhan sendiri. Wejangan-wejangan Sang Guru untuk semua orang, tanpa terkecuali.

Kearifan yang Bergerak di Ketinggian dan di Kerendahan

Wejangan kearifan apa yang ditawarkan oleh Sang Guru (atau Sulhan) dalam Tutur Jiwa? Pracitra yang ditulis oleh Alwy Rachman, Budayawan Sulsel, sudah cukup untuk memberi jawaban. Alwy menulis, “Di kerendahan Sulhan Yusuf membincang manusia melalui satir yang santun, bukan sarkasme yang kasar. Satir santun dialamatkan pada politikus, kepada demokrasi, dan kepada kekuasaan. Di ketinggian, Sulhan Yusuf berkisah tentang cinta, tentang persahabatan, tentang kedirian, tentang hak dan tentang jiwa.”

Tentu, Tutur Jiwa ini hadir tidak untuk mengganti kitab suci (karena sama-sama berbincang soal ketinggian dan kerendahan) agama-agama dan Sulhan mendeklarasikan dirinya sebagai nabi.  Meskipun kearifan yang kemudian dibukukan itu proses kreatifnya hampir sama dengan cara para nabi mencatatkan wahyu Ilahi. Di malam itu Sulhan bercerita, di suatu ketika dia sedang menemudikan motor dan sedang membonceng istrinya, Mauliah Mulkin. sembari mengamati kenyataan di sekelilingnya, tiba-tiba Sulhan berhenti, mengambil pulpen dan kertas, kemudian mencatatkan satu paragraf mengernai kenyataan yang dihadapinya. Yah, seolah-olah Sulhan mendapatkan wahyu.

Tapi, Sulhan memperingati peserta, ini bukan wahyu dan dia bukan nabi. Lantas,  bisikan itu dari mana? Jika kembali pada pembahasan sebelumnya, sudah pasti bisikan itu datang dari permenungan pribadi Sulhan sendiri, ketika pada posisi itu Sulhan menjadi Sang Guru dan sekaligus menjadi Sang Murid, Han. Memang, bukan kitab suci. Tapi, isi teks yang ditawarkan Sulhan bisa menjadi panduan para pembacanya untuk merenungi diri sendiri dan kenyataan di luar dirinya: Tutur Jiwa sudah pantas menjadi kitab untuk membawa para pembacanya bergerak di kerendahan dan di ketinggian.

Literasi Paragraf Tunggal, Apa itu?

Jika kearifan yang larut dalam samudra jiwa Nabi Muhammad Saw kemudian hari disebut sebagai Al-quran, maka sebut saja rangkaian teks kearifan Sulhan dalam Tutur Jiwa ini sebagai “Literasi Paragraf Tunggal”. Apa itu Literasi Paragraf Tunggal? Saya sebagai salah satu peserta dalam diskusi buku itu sebenarnya menunggu kehadiran Alwy Rachman, seorang budayawan yang bertanggung jawab atas istilah itu. Maka dari itu, saya hanya bertanya kepada Sulhan saja, yang tahu asal usul istilah itu.

Suatu kesimpulan akhirnya kuracik dari pernyataan Sulhan. Literasi Paragraf Tunggal hadir saat tidak ada padanan kategorisasi sastra yang (mungkin) bisa tepat untuk melabeli teks-teks Tutur Jiwa. Sejauh Alwy membaca buku-buku sastra, belum ada karya sastra yang dituliskan dalam bentuk satu paragraf, dan hampir unsur-unsur sastra terdapat di dalamnya. Tiap Literasi Paragraf Tunggal dalam Tutur Jiwa memiliki unsur cerpen, epigram, aforisme dan puisi. Yah, satu paragraf  yang ditulis dengan rongga yang sangat luas untuk menyimpan kisah dengan kandungan makna yang sangat padat. Kandungan makna yang luas ini juga tercipta karena, tiap teks ditulis dengan jejaring metafora yang kuat. Sehingga ragam tafsir dan tarikan makna bisa diambil dalam rongga yang luas itu.

Apakah Tutur Jiwa suatu produk sastra baru? Anda boleh bilang “ya” dan Anda juga boleh bilang “bukan”.  Sebab, Sulhan sendiri dalam penyampaiannya malam itu mengatakan, jika ia menuliskan tiap teks Tutur Jiwa itu tidak bermaksud untuk menciptakan karya sastra baru, atau motif-motif lainnya. Ia hanya merenung, dan menulis. Itu saja. Labelisasi karya sastra memang selalu hadir dari pembaca dan kritikus. Maka, pembaca dan kritikuslah yang punya wewenang untuk itu. Saya malah melihat, Sulhan tidak punya motif popularitas papun. Karya luar biasa ini lahir justru dari ruang sunyi kesastraan, dan bukan di panggung-panggung elit sastra Indonesia.  Tutur Jiwa tercipta dari semangat altruisme yang selalu hanya hinggap di pinggiran ruang pertunjukan literasi.

Setelah Berliterasi Lalu Apa Lagi?

Gerakan literasi berbasis komunitas akhir-akhir ini semakin marak diperbincangkan. Bukan hanya menjadi perbincangan, namun juga telah banyak terbentuk dan mengambil ruang di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran pelbagai komunitas literasi dari berbagai penjuru dalam acara Temu Komunitas Literasi “Selagi September: Sastra di Titik Temu” pada Sabtu, 16 September 2017 (malam minggu).

Sebagaimana yang dilansir di Rakyatku.com, Temu Komunitas Literasi  itu merupakan kegiatan temu komunitas literasi yang diprakarsai oleh empat komunitas literasi sastra Makassar, yaitu Pecandu Aksara, Arakata, Pembatas Buku, dan Serat Sastra UNM yang tentu juga bekerja sama dengan La Macca Creative Corner. Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk gerakan literasi kreatif di sektor selatan Makassar. Sehingga salah satu bentuk kampanye media sosialnya adalah penggunaan hastag #jamaahkreatifsektorselatan.

Kegiatan ini terdiri dari empat jenis acara, yakni acara Talk Show yang bertema “Membangun dan Menjaga Napas Komunitas Literasi”, Creative Sharing, Music Accoustic, dan Pembacaan Puisi. Untuk acara Talk Show dimoderatori oleh Fachri Djaman, ST (Ghost Writer dan Pegiat Literasi di komunitas Pecandu Aksara) dan yang menjadi narasumber yakni Faisal Oddang (Sastrawan Nasional dan Penulis buku Puya ke Puya) dan Sulhan Yusuf (Direktur Paradigma Institute dan Founder Toko Buku Papirus).

Sebelum langsung pada pembahasan tema Talk Show, Fachri selaku moderator mengemukakan sebuah argumen yang kurang lebih memberikan indikasi ketidaksepakatan kepada Pemerintah Sulawesi Selatan khususnya Kota Makassar yang telah memberikan identitas Makassar sebagai “Kota Kreatif atau Kota Kuliner”. Karena bagi analisis Fachri, Makassar tidaklah memiliki warisan kreativitas atau warisan kuliner yang kokoh untuk dijadikan sebagai identitas nasional namun Makassar memiliki warisan literasi yang kokoh. Misalnya karya sastra terpanjang di dunia versi PBB yakni sastra La Galigo, warisan aksara Lontara dan warisan literasi lokal lainnya.

Warisan-warisan inilah yang seharusnya dilirik oleh Pemerintah Kota Makassar sebagai pijakan dasar untuk menjadikan Kota Makassar sebagai kota literasi. Selanjutnya, moderator ini juga mengatakan pernah melakukan riset komunitas di kota Makassar dengan hasil riset bahwa dalam sehari terdapat kurang lebih empat komunitas terbentuk. Dan ini menandakan bahwa gerakan literasi Kota Makassar semakin ramai dan semangat berkomunitas serta berliterasi mulai menjamur.

Fachri selaku moderator ini kemudian mengajukan kedua argumen tersebut—Makassar sebagai kota literasi dan riset tentang maraknya kelahiran komunitas—kepada kedua narasumber talk show untuk ditanggapi.

Sulhan Yusuf sebagai narasumber pertama yang menanggapi kedua hal tersebut dengan menyatakan bahwa ia tidak terlalu menggebu-gebu untuk menjadikan Kota Makassar sebagai kota literasi, sebab menurut Direktur Paradigma Institute ini, bahwa meskipun dalam sehari terdapat empat atau bahkan lebih komunitas terbentuk tetapi dalam sehari itu pula empat atau bahkan lebih komunitas juga mengalami kematian.

Sedangkan Faisal Oddang memberikan tanggapannya lebih pada fungsionalitas komunitas literasi yang marak tumbuh. Sastrawan yang sering disapa Bang Fais ini, kurang lebih menyatakan bahwa komunitas literasi yang terdapat di kalangan mahasiswa harusnya menjadi alternatif bagi mahasiswa untuk memasuki dunia literasi yang sebenarnya juga bisa didapat di organisasi lain maupun dalam kuliah. Sebab menurut Faisal Oddang, gerakan berbasis komunitas di kampus jauh lebih mudah diakses dibandingkan organisasi kampus yang lebih bersifat struktural.

Lebih lanjut, penulis buku Puya ke Puya ini juga menceritakan pengalamannya ketika berkunjung dan ingin menjadi anggota Perpustakaan Daerah di Sulawesi Selatan. Ia merasa mengalami kendala karena untuk menjadi anggota perpustakaan itu, orang harus memiliki surat keterangan dari RT setempat. “Bayangkan! Untuk menjadi pembaca buku, Anda mesti dipersulit oleh perkara-perkara demikian,” ungkap Faisal Oddang. Dan perkara-perkara semacam itu memang sangat marak kita jumpai dalam institusi pemerintahan dan pendidikan.

Selanjutnya berpindah ke wacana buta aksara. Sebagaimana diungkapkan oleh Fachri dari Kemendikbud bahwa Sulawesi Selatan menduduki peringkat ke-6 sebagai provinsi yang masih mengalami buta aksara. Dan ini kemudian dilemparkan kepada para narasumber dengan pertanyaan bagaimana peran komunitas literasi dalam mengatasi masalah buta aksara dan juga tuna menulis?

Menurut narasumber pertama—Sulhan Yusuf, bahwa sebelum menjawab bagaimana mengatasi masalah itu kita mesti menganalisis maqam atau tingkatan-tingkatan literasi seseorang atau suatu masyarakat. Setelah mengetahui tingkatan-tingkatan literasi itu, kita bisa memahami siapa yang seharusnya mengatasi masalah semacam buta aksara. Tingkatan yang dimaksud tersebut ada tiga: Pertama, tingkatan literasi yang sekadar bertaraf pada pembebasan seorang diri atau kelompok dari buta aksara dan tuna tulis. Kedua, tingkatan literasi yang bertaraf pada kebutuhan profesi semata. Dan yang ketiga, sebuah tingkatan literasi yang berdasarkan pada kebutuhan jiwa dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa masalah yang timbul dari tingkat literasi pertama yakni buta huruf dan tuna aksara seharusnya diselesaikan oleh pemerintah. Karena pada dasarnya buta huruf terjadi karena kurangnya peran pemerintah dalam memberikan fasilitas dan dorongan kepada masyarakat bawah. Jadi menurutnya, pemerintahlah yang memiliki peran utama dalam mengatasi masalah itu yang kemudian tentunya juga komunitas literasi. Dalam artian komunitas literasi bertugas sebagai pendobrak pemerintah agar melakukan tindakan, dalam artian komunitas literasilah yang seharusnya selalu siap dan tanggap menyampaikan masalah dan solusi wacana buta aksara ini dan kemudian dieksekusi oleh pemerintah.“Kalau perlu komunitas literasi membawa linggis untuk menggerakkan pemerintah,” ungkap Sulhan Yusuf dengan nada canda.

Sedangkan masalah atau tugas yang mesti diselesaikan di tingkatan literasi kedua adalah bagaimana agar literasi tidak hanya sampai pada tingkatan ini. Bagaimana agar tingkatan kedua ini kemudian bisa sampai pada tingkatan ketiga, tidak hanya bertaraf pada profesi semata semisal mahasiswa membaca dikarenakan tuntutan membaca buku-buku kuliah, mahasiswa menulis yang dikarenakan tuntutan menulis dari tugas kampus serta dosen membaca dan menulis dikarenakan tuntutan untuk meraih prestasi profesi akademik tertentu. Namun harus sampai pada tingkatan ketiga yakni membaca karena merupakan kebutuhan jiwa baik intelektualitas maupun spiritualitas. Nah, tugas dosen dan pengajarlah dalam menyelesaikan masalah dan menanamkan literasi pada pelajarnya untuk masuk dalam literasi tingkatan kedua. Dan letak tugas komunitas literasi adalah berupaya menjadikan para peminat literasi pada tingkatan kedua menjadi peminat literasi yang menduduki maqam atau tingkatan ketiga.

Selain masalah tingkatan keliterasian seseorang atau kelompok, Sulhan Yusuf juga mengungkapkan gelombang gerakan literasi yang juga memiliki tiga tingkatan yakni: Tingkatan pertama, gerakan literasi yang gerakannya hanya sampai pada penyediaan buku-buku bacaan. Dalam artian, komunitas atau gelombang gerakan literasi yang masuk dalam kategori ini meliputi komunitas yang hanya memiliki program penyediaan buku-buku bacaan, hanya seputar melayani proses pinjam dan pengembalian buku. Tingkatan kedua, gerakan literasi yang bukan hanya melayani proses meminjam dan pengembalian buku namun juga melakukan kegiatan pengkajian, penelitian, penerbitan, dan program kegiatan keilmuan lainnya. Tingkatan ketiga, gerakan literasi yang yang berbasis segala bentuk kegiatan populer masa kini. Gelombang kegiatan literasi ini menjadikan literasi sebagai hal yang fleksibel dan harus ada di segala tempat. Jika dalam istilah Sulhan Yusuf, literasi diibaratkan sebagai teknologi flashdisk yang bisa dicolok di teknologi jenis apa saja.

Sehingga menurutnya, gerakan komunitas literasi seharusnya tidak hanya memiliki dampak pribadi  tapi juga berdampak untuk khalayak atau dalam istilah Sulhan Yusuf menyebutnya dua faktor: internal dan eksternal. Faktor internal yakni program literasi yang bertujuan untuk anggota komunitas itu sendiri, dan faktor eksternal yakni program literasi yang bertujuan untuk luar komunitas sebagai bentuk pengenalan dunia literasi untuk khalayak.

Selanjutnya tibalah pada pertanyaan bagaimana cara membangun dan menjaga napas komunitas literasi. Sebelum memberikan kesempatan kepada kedua narasumber, Fachri yang selaku moderator menyampaikan tips membangun dan menjaga napas komunitas literasi sebagaimana yang pernah ia dapatkan dalam suatu forum diskusi literasi yakni pertama, sinergitas antar pegiat komunitas literasi dan yang kedua, mind mapping. Mind mapping yang dimaksud di sini berupa visi, misi, dan kerangka gerakan komunitas literasi.

Untuk tema membangun dan menjaga napas komunitas literasi sebenarnya cukup menarik apa yang dikemukakan oleh Sulhan Yusuf. Menurut Sulhan Yusuf, ada dua hal yang mesti diperhatikan dalam membangun dan menjaga napas gerakan atau komunitas literasi: Pertama, perlu diperhatikan bahwa membangun gerakan/komunitas literasi jauh lebih mudah dibandingkan merawat dan menjaga komunitas literasi. Karena berdasarkan pengalamannya berkali-kali ia membangun komunitas literasi dan berkali-kali juga gerakan-gerakan literasi tersebut mengalami kematian. Sehingga menurut beliau salah satu penyebab kematian sebuah komunitas literasi adalah hilangnya ikon komunitas itu. Ikon yang dimaksud adalah pelopor atau pemantik semangat gerakan. Biasanya, hilangnya ikon ini terjadi ketika sosok ikon mendapatkan profesi atau pekerjaan sehingga meninggalkan komunitasnya, dikarenakan sosok ikon berpindah tempat sehingga meninggalkan komunitasnya atau bahkan hal lain yang menimpa sosok ikon sehingga komunitas literasi itu pun mengalami kematiannya.

Kemudian yang kedua, harus ada nilai atau asas yang ditanamkan dalam sebuah gerakan atau komunitas literasi. Semisal dalam komunitas literasi Paradigma Institute memiliki dua nilai atau asas penting yakni altruisme dan pluralisme. Altruisme merupakan asas Paradigma Institute yang berarti kesukarelaan, kerelawanan. Jadi dalam komunitas Paradigma Institute baik anggota maupun pengurus komunitas harus punya jiwa altruisme. Juga dalam tradisi menulis di media menulisnya (kalaliterasi.com), baik penulis yang mengirim tulisan maupun redaktur yang mengontrol tulisan yang masuk tidak mendapatkan upah. Sehingga inilah yang dimaksud penerapan asas altruisme. Namun sekadar informasi tambahan bahwa jika Anda mengirim tulisan ke medianya (kalaliterasi.com) maka sebagai imbalannya, pengurus akan membagikan tulisan Anda sehingga bisa mendapat pembaca yang memadai dari segala penjuru mata angin.

Sedangkan asas kedua—pluralisme yang dimiliki oleh Paradigma Institute berarti cinta keberagaman dan menerima segala bentuk perbedaan. Sehingga dengan adanya asas kedua ini, Paradigma Institute memiliki keberagaman anggota, mulai dari yang tingkatan religiusnya tinggi sampai yang rendah. Jika dalam ungkapan lisan Sulhan Yusuf “mulai yang rajin salat sampai pada yang malas salat”. Bukan hanya itu, bahkan pada latar belakang agama, profesi, umur, asal daerah yang berbeda-beda. Semuanya jadi satu, satu rasa pada rasa yang sama serta sama rata dalam komunitas literasi Paradigma Institute.

Asas yang dikemukakan oleh Sulhan Yusuf tersebut memberikan indikasi bahwa dalam membangun dan menjaga napas komunitas literasi diperlukan kesadaran dan upaya yang maksimal dari setiap personal dalam komunitas dan sinergitas pada asas-asas komunitas. Dan lebih penting menurut Sulhan Yusuf, gerakan atau komunitas literasi tidak mesti menyamakan asas atau nilai-nilainya dengan gerakan dan komunitas yang lain. Sebab, setiap gerakan dan komunitas literasi selalu memiliki identitas dan rasa tersendiri, sehingga berkomunitaslah, sehingga berliterasilah, sehingga temukanlah nilai dan rasa komunitas Anda pada komunitas Anda sendiri.

Lebih lanjut, pandangan Sulhan Yusuf di atas memiliki keterkaitan dan titik temu dengan pandangan Faisal Oddang yang menyatakan bahwa sebuah komunitas literasi akan berumur pendek jika anggotanya masih memikirkan dirinya sendiri. Dalam artian komunitas literasi akan berumur pendek jika kita memiliki alasan bergabung dalam komunitas hanya untuk mendapatkan bahan bacaan yang banyak, hanya untuk mendapatkan keterampilan menulis yang memadai. Karena setelah keduanya didapatkan maka kelanjutan nilai atau asas gerakan dalam berkomunitas ini pun dilupakan. Maka dari itu, kata Faisal Oddang harusnya lebih dari itu—bukan hanya membaca dan menulis untuk diri sendiri, tetapi juga harus memiliki dampak bagi orang lain di luar komunitas.

Seperti itulah ringkasan diskusi dari kegiatan Temu Komunitas Literasi Makassar yang bertema “Selagi September: Sastra di Titik Temu” yang kemudian dilanjutkan dengan Sharing Creative dari berbagai komunitas literasi, Music Acoustic persembahan dari Walasuji, dan Pembacaan Puisi dari berbagai perwakilan komunitas literasi.

Di akhir ringkasan ini, saya ingin menulis sebuah pertanyaan yang juga merupakan pertanyaan Faisal Oddang bahwa: Dalam periodisasinya, setelah masa perjuangan ada kemerdekaan, setelah Orde Lama ada Orde Baru, setelah Reformasi ada apalagi? Dalam literasinya, setelah kita berkomunitas, setelah kita membaca, setelah kita menulis, lalu apa lagi?

Salam Literasi.

Dari Diary ke Free Writing

Sekotahnya, bermula dari permintaan beberapa orang, baik lewat media sosial, maupun pertemuan langsung dengan saya, agar membuka kelas literasi, lebih tepatnya kelas menulis di Bantaeng. Awalnya, saya enggan menyahutinya. Tapi, atas desakan yang terus menerus, akhirnya saya mengiyakannya. Alasan mereka yang membuat saya takluk, tatkala salah seorangnya minta keadilan, dengan sejumput tanya, semacam gugatan, mengapa hanya di Paradigma Institute Makassar? Bukankah Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng adalah kembarannya?

Akhirnya, saya pun merealisasikan penyelenggaraan kelas literasi di Bantaeng. Bertolak dari pengalaman menggawangi kelas literasi di Paradigma Institute, yang sudah memasuki angkatan ke-3, dan telah melahirkan beberapa orang yang suka menulis di berbagai media luring (cetak) dan daring (maya), saya adaptasi sistem belajarnya. Maka pertemuan pertama pun dimulai pada hari Sabtu, 8 April 2017, pukul 15.00 Wita, bertempat di markasnya Boetta Ilmoe, ruko Lamalaka Bantaeng. Topik perbincangan yang saya sajikan: Mengapa Mesti Menulis?

Topik perbincangan pertemuan perdana ini, sesungguhnya merupakan sejenis kerangka filosofis dalam menulis. Ketika pertanyaan berbau filosofis ini saya ajukan, beragam jawaban yang disahutkan oleh peserta yang jumlahnya menghampiri 20 orang. Dari jawaban mereka yang beragam, saya ikatkan dalam satu kata sebagai jawaban pamungkas, yakni AMBAK. Jawaban yang saya ajukan ini, adalah jawaban yang diperkenalkan oleh Hernowo Hasyim, seorang mentor baca-tulis, yang telah melahirkan puluhan buku yang bertema literasi, membaca dan menulis. AMBAK merupakan akronim dari Apa Manfaatnya Bagiku. Hernowo sendiri menjelaskan bahwa AMBAK diambilnya dari seorang penulis tenar dalam bidang pembelajaran, Bobbi DePorter yang menulis buku Quantum Learning.

Bertolak dari jawaban AMBAK, maka setiap orang bisa berkembang jawabannya, sesuai dengan kebutuhan, atau manfaat yang bakal diambil dari momentum perhelatan, termasuk dalam mengikuti kelas menulis. Meski tidak bisa dimungkiri, ada jawaban umum, yang sudah populer dan menjadi standar argumen, yang telah banyak dikemukakan oleh para pelatih tulis-menulis. Jadi, di samping ada jawaban umum, pun ada jawaban khusus, sifatnya personal. Waima keduanya, umum dan khusus itu, tetap terikat dalam jargon AMBAK.

Berangkat dari motif keikutsertaan dalam kelas literasi ini, yang telah tuntas AMBAK-nya, maka masalah klasik yang paling sering muncul adalah kesulitan dalam memulai menulis. Seabrek kesulitan menulis  pun diajukan oleh peserta. Ibarat umpan yang dilemparkan oleh peserta, saya pun langsung menyambarnya, dengan jawaban taktis, bahwa tiada yang lebih sulit bakal ditemui oleh seorang penulis, jikalau ia kurang membaca. Kunci terdepan dari kepenulisan adalah banyaknya bacaan yang disantap oleh penulis. Bila ingin menulis dengan baik, maka perbanyaklah memakan kata-kata lewat bacaan-bacaan yang bergizi.

Namun, dari rona yang saya lihat, wajah mereka kurang puas dengan jawaban taktis yang saya babarkan. Kelihatannya jawaban saya ini kurang bertuah, sebab jawaban saya ini, memang telah menjadi jargon umum dalam pelatihan menulis. Salah seorangnya, seolah ingin mengajukan tanya, tapi sebelumnya, saya sudah duga maksudnya, bahwa ia membutuhkan tindakan praktis untuk memulai menulis. Sebuah tindakan paling dasar, yang setiap orang bisa melakukannya, dengan amat sederhana, dan gampang untuk diwujudkan.

Pada poin inilah saya ajukan tindakan menulis yang paling dasar kepada mereka. Saya nyatakan, menulislah diary, sebentuk catatan harian dari setiap diri. Diary merupakan sarana terpenting untuk menuliskan apa saja yang ingin dituliskan. Mulai dari sekadar mencatat peristiwa, pengalaman, perasaan, keinginan, penilaian, hingga soal-soal rumit di lingkungan sosial. Menulis catatan pribadi, yang tidak dipublikasikan, adalah tindakan nyata dari menulis yang tidak membutuhkan campur tangan orang lain. Sehingga, terbebas dari penilaian orang lain, yang pada akhirnya memelihara kemerdekaan setiap orang dalam menuliskan apa yang dipikirkannya.

Dan, sesungguhnya pola menulis diary ini, sepertinya diadopsi oleh salah satu media sosial, Facebook. Lewat pertanyaan, Apa yang Anda Pikirkan? Maka setiap orang yang mempunyai akun facebook, pasti terpancing untuk menuliskan apa saja yang ingin dituliskannya. Karenanya, beranekalah pikiran yang dimuntahkan oleh pemilik akun, bergantung pada kualitas tradisi literasi seseorang. Ada yang curhat masalah pribadi, sampai berkomentar masalah yang melanda dunia pun menghiasi jejaring dunia maya.

Saya lalu rekomendasikan, kalau kesulitan menulis pada buku diary konvensional, maka tuliskanlah di akun facebook, atau fasilitas media sosial lainnya. Cuman saya tegaskan, bila ingin menjadikan media-media sosial itu sebagai pengganti buku diary, maka pilih dan pilahlah, mana yang layak diuarkan, dan mana yang mesti disimpan sebagai catatan pribadi, yang fasilitasnya telah disiapkan oleh masing-masing media sosial. Sehingga, tulisan-tulisan yang telah dipahatkan itu, tetap lestari, dan capaian keinginan untuk keluar dari mitos kesulitan menulis, pun terjawab sudah.

Paparan saya tentang menulis diary, menutup sesi pertemuan perdana. Sepekan berikutnya, bertepatan dengan hari Sabtu, 15 April 2017, pada jam dan tempat yang sama, pertemuan kedua berlangsung. Topik kali ini, saya ajukan, Free Writing, menulis bebas. Terus terang, kala saya ajukan topik ini, saya harus menyebut kembali Hernowo Hasim, sebagai sosok yang mempopulerkan dua kata itu. Saya pun pertama kali mendengarnya, ketika membaca tulisan-tulisannya, khususnya yang terangkum dalam bukunya, Flow di Era Socmed, yang saat buku ini didiskusikan di Makassar, saya berkesempatan menimba langsung pokok-pokok pikirannya.

Kalau boleh saya menabalkan pendapat, bahwa sebenarnya, free writing ini, adalah sejenis tindakan menulis yang amat mirip dengan menulis gaya diary. Unsur-unsur kepenulisan diary amat kuat, jika bukan menjadi dasar dalam kepenulisan model free writing. Menulis catatan pribadi, yang tertuang dalam diary, sesarinya tertutup. Sementara menulis apa saja yang tersaji pada free writing, sejatinya terbuka. Menulis dengan gaya menulis bebas, tetap berpijak pada AMBAK, itu pastinya. Maka, sekali lagi, soalnya hanya pada domain tertutup (rahasia?) dan terbuka, antara diary dan free writing.

Menurut Hernowo, free writing, menulis bebas sangat ampuh dalam mengatasi masalah besar bagaimana memulai menulis. Ya, “dari mana mesti memulai menulis?” adalah persoalan klasik menulis yang terus berlangsung sepanjang zaman. Dan free writing, setelah Hernowo praktikkan berkali-kali, benar-benar berhasil menyirnakan persoalan klasik menulis tersebut. Free writing menunjukkan kepada para penggunanya bahwa kegiatan menulis layak, secara mutlak, dikendalikan oleh si pelaku menulis. Ringkasnya, free writing ingin menunjukkan kepada semua penulis bahwa ketika mengawali menulis, mereka berada sendirian di muka bumi.

Lebih dalam Hernowo menyeru, awalilah kegiatan menulis dengan sesuatu yang Anda sukai. Terserah Anda, mau memulai dengan satu kata, “enak”, atau dua kata, “teh manis”. Atau lihatlah di seputar tempat Anda menulis. Apa yang menarik perhatian Anda? “Lampu”? “Lantai”? Atau “meja”? Tulislah segera. Kaitkan apa yang sudah Anda pilih itu dengan diri Anda, lalu alirkan seluruh diri Anda dengan bebas—terkait dengan kata pilihan Anda—ke layar monitor atau selembar kertas. Boleh memulai dengan judul,  boleh pula memulai dengan penutup. Semuanya dalam kendali mutlak Anda.

Selanjutnya, Hernowo berpendapat, free writing memberi tahu kepada kita bahwa ia tidak menekankan hasil tapi proses menulis. Inilah manfaat terbesar dari free writing. Menulis tidak bisa sekali jadi. Menulis perlu waktu. Menulis membutuhkan koreksi atau perbaikan, dan seterusnya. Sehingga, dengan membebaskan diri di awal kegiatan menulis, seorang penulis akan dapat menuangkan (baca: membuang) apa saja yang nantinya bisa dipilih—mana yang sampah dan mana yang mutiara.

Akhirnya, Hernowo mengunci pendapatnya, dengan merujuk pada gagasan persona-persona lantip, serupa, Natalie Goldberg, Peter Elbow, dan Dr. Pennebaker, bahwa menulis bebas atau free writing, adalah menulis dalam makna membuang apa saja, yang ada di di dalam diri secara sangat-sangat bebas. Goldberg, mengatakan, ada kemungkinan yang kita buang (tulis) di awal itu sampah. Elbow menguatkannya, bahwa pembiasaan menulis bebas, bisa membuat Anda menulis seperti laiknya berbicara (tanpa diedit atau dikoreksi berkali-kali ketika tahap mengeluarkan bahan). Dan, Dr. Pennebaker malah menjamin, siapa saja yang bisa menulis bebas, akan menjumpai keajaiban menulis, yaitu “menulis yang menyembuhkan”.

Seintinya, tibalah pada simpai yang menyimpulkan dua sesi persuaan dalam pelatihan di kelas literasi ini. Saya lebih suka dengan pola yang berkelanjutan ide. Bahwasanya, menulis bebas adalah kelanjutan dari menulis catatan pribadi. Dari diary ke free writing. Dari menulis catatan pribadi ke menulis bebas. Dan, dari menulis bebas inilah, merupakan pintu terbaik untuk memasuki lahan kepenulisan, baik yang bersifat fiksi maupun non fiksi. Tentulah, kepenulisan fiksi dan non fiksi itu, sudah penuh dengan rambu-rambu kepenulisan. Tetapi, dengan bantuan free writing, jejak sari diri seorang penulis, termanifestasi dalam tulisan-tulisannya.

 

 

 

Ruang Kudus di KLPI Makassar

Kami tersentak kaget dengan penuturan Muhary Wahyu Nurba yang tidak dibayangkan sebelumnya, tentang kita kejamakan yang kehilangan banyak ruang kontemplatif di era kiwari. “Kita” saat ia berbicara dengan suaranya yang berat itu bukan saja ditujukan kepada peserta KLPI yang sudah menjadi rutin itu. Melainkan juga kepada masyarakat yang dikepung gaya hidup modern. Ya, orang-orang yang gila kerja, gila berbelanja, gila uang, gila jabatan, gila media sosial, gila politik, gila agama, dan entah gila apa lagi (Anda bisa menambahkan sesuka hati Anda di sini).

Sebenarnya, apa yang disampaikan Muhary hanya mengulang apa yang sudah banyak disitir scholar ilmu-ilmu sosial. Namun, melalui konteks pembicaraannya dalam kaitannya dengan sastra, terutama puisi, membuatnya memiliki konotasi yang baru, setidaknya menurut kami.

“Kita tidak akan pernah lagi melahirkan Jalaluddin Rumi,” Ucap Muhary dalam kaitannya dengan hilangnya ruang permenungan kala ingin melahirkan syair-syair yang bernas. Kita tidak akan pernah lagi akan menemukan karya-karya sepuitis Rendra, dan sederet nama penyair yang disebut Muhary, yang samar-samar dalam ingatan kami. Tepat di bagian inilah kami kaget.

Kami mengira di pertemuan itu, penyair cum fotografer ini akan banyak mengajukan pemahaman dasar penulisan puisi, atau paling tidak pendasaran teoritik puisi sebagai karya sastra, atau sejarah puisi, atau mungkin juga bagaimana teknik menulis puisi bagi seorang penyair. Namun, seperti yang kami katakan, dugaan kami meleset. Muhary berbicara jauh lebih dalam dari dugaan kami. Sesuatu yang kami sendiri alami, dan tidak dibayangkan sebelumnya. Ruang kontemplatif yang banyak dilupakan orang-orang masa sekarang.

Era modern era yang massif menampakkan segalanya ke permukaan. Budaya pamer menjadi tren. Apa yang dikonsumsi dipamerkan. Apa yang dipakai dipamerkan. Apa yang dimakan dipamerkan. Apa yang dibeli dipamerkan. Apa yang difoto dipamerkan. Bahkan hal yang seharusnya lebih bernilai jika menjadi rahasia, ibadah pribadi misalnya, dipamerkan. Melalui media sosial, semua itu akhirnya menjadi tontonan. Artifisial belaka.

Budaya pamer ini akhirnya membuat dunia pengalaman manusia menjadi super sibuk. Bising dan ramai dengan permukaan: gambar-gambar, pencitraan. Akhirnya yang “permukaan” menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi tradisi.

Akibat sering pamer dan lebih mementingkan “pencitraan”, “kedalaman” akhirnya diabaikan, atau terlupakan. Mungkin hilang dengan sendirinya. Terkait kepenulisan puisi, “kedalaman”, “kesunyian” menjadi musykil dialami. Sekarang, hampir semuanya dipenuhi keramaian. Bahkan di tempat paling privat pun kita masih terhubung dengan “dunia luar”. Apalagi kalau bukan melalui gadget. Sedikit-sedikit berbunyi, entah dari siapa, atau grup apa lagi yang lagi ramai.

Dan, malangnya, massifnya ruang sepi yang diinvasi jaringan internet melalui gawai, menandai juga semakin keponya kita untuk tidak kuat menahan godaan untuk tidak tidak memerhatikannya.  Sedikit-sedikit tangan kita tidak kuat menahan godaan hasrat untuk mengintip info atau apa lagi yang masuk di gawai. Toh kalau bisa menahan, sampai kapan kita bisa menolaknya? Paling lama mungkin dua menit (ini tergantung pengalaman Anda).

Kami kira ruang permenungan bukan dibutuhkan bagi penyair saja, tapi bagi setiap kita yang semakin ke sini makin “kalap”. Ruang permenungan memang penting bagi seorang penyair ketika merefleksikan dirinya dan segala soal manusia ketika melahirkan syair-syairnya. Namun, tidak kalah penting juga bagi siapa saja yang masih ingin menjaga kewarasannya di era “gila” ini.

Kami pribadi harus mengakui, semakin kasifnya waktu yang mampu kami “gunakan” di antara kesibukan sehari-hari. Sementara kalau mau menyelami “kedalaman”, waktu juga menjadi bagian penting selain penghayatan atas ruang kita yang sekarang jadi super sesak.

Di pertemuan itu, sesaat Muhary tiba, dengan logat khas  Makassarnya mengeluhkan suasana kota yang semakin sesak dengan keramaian. Di perjalanan ketika menuju tempat kegiatan, butuh waktu yang panjang dan lama yang tidak sesuai dengan lamanya waktu berdasarkan jarak sebenarnya. Ketika hanya untuk sampai ke lokasi diskusi, Muhary mengatakan butuh berjibaku denga padatnya kendaraan yang mengakibatkan kemacetan.

Penghayatan atas waktu akibat keramaian dan kecepatan yang menjadi ciri sekaligus momok zaman ini mengakibatkan masyarakat menjadi apa yang dikatakan Muhary dipertemuan itu sebagai damned people. Sadis, Bung!

Merosotnya ruang kontemplatif, atau dalam istilah Muhary sebagai waktu kudus, berimplikasi kepada kesadaran manusia yang tidak terhubung dengan “kenyataan yang sebenarnya”. Orang yang baru saja ikut bermain peran dalam film Silariang ini mencotohkannya dengan tindakan seseorang terhadap buku. “Kita banyak membaca buku, tapi jarang yang mengunyahnya”. Ini mirip-mirip konsep kesadaran Edmund Husserl atau Heidegger, misalnya, yang membilangkannya sebagai hubungan intensionalitas yang menghayati fenomena tanpa mengalami sekat terhadapnya.

Kami teringat dengan peribahasa Bugis, taro ada, taro gau. Simpan kata, simpan perbuatan. Manusia Bugis, melalui peribahasa itu, jika mengucapkan sesuatu dalam ikrar, maka pantang untuk tidak dilakukan. Orang-orang bilang, konsisten. Apa yang diucapkan itu pula yang akan dilakukan, atau sebaliknya, yang dilakukan sudah pasti realisasi dari ikrar yang sudah diucapkan. Dalam konteks contoh buku Muhary tadi, bisa dibilang, kita ini tanpa disadari tidak betul-betul “mengalami” bahasa.

Itulah poin besarnya, pengalaman atas bahasa. Kami kira itu yang menjadi hikmat dalam diskusi kami sore itu. Penyair atau orang yang berkeinginan menemukan syairnya yang dahsyat mesti “mengalami” bahasa yang diliterasikannya. “Ibaratnya hati kita yang kita taruh dalam tulisan kita”, ucap Muhary sambil menggerakkan tangannya dari dada ke buku puisi Airmatadarah karangan Sulhan Yusuf, owner Paradigma Intitute tempat kami bernaung.

Kami kira ini sindiran halus dari Muhary: banyak orang-orang menulis syairnya, namun semuanya itu berjarak dari dirinya. Dengan kata lain, apa yang disyairkannya, bukan lahir dari pengalamannya, dari hatinya. Itulah sebabnya, kata Muhary syair macam demikian tidak dalam, tidak menggugah batin dan kesadaran pendengarnya.

Inilah barangkali kalimat yang kami harus renung-renungkan dalam-dalam: pengalaman atas bahasa. Yang dalam kaitannya dengan ruang kudus tadi adalah usaha kita untuk mengalaminya melalui penghayatan dalam waktu dan ruang. Hanya melalui itu bahasa yang diliterasikan menjadi luar biasa. Bagi penyair, sajak-sajaknya besar kemungkinan sudah pasti menggugah sekaligus menggugat!

Di sore itu, kami memang dibuat kaget. Syair hanya permukaan bahasa, di balik itu ada proses kreatif penyair yang begitu banyak pengalaman fundamental yang dari situ lahir kata-kata yang arkaik, sekaligus dalam. Muhary memang tidak sedang berbicara di dimensi “permukaan”, sore itu terma “ruang kudus” begitu menghentak kesadaran kami yang selama ini beria-ria di hal-hal permukaan.

Begitulah pertemuan Minggu sore kemarin (April, 09, 2017), sekaligus menandai pertemuan ke-8 Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar yang sudah berjalan selama hampir dua tahun tanpa henti. Sampai waktu magrib tiba, dan setelah kelas bubar, “ruang kudus” bergiang-giang di kepala kami.


sumber gambar: doc.pribadi