Arsip Kategori: Fragmen

Perpustakaan yang Seperti Rumah Hantu dan Sebuah Renungan

Alkisah di suatu pagi yang cerah. Seperti biasa, mukimku diliputi nuansa alami khas pedesaan. Angin yang sejuk, burung berkicau, embun yang menetes dari dedaunan, dan para peternak bersama sapi-sapi gemuknya yang merumput. Rutinitas sama seperti pagi-pagi lainnya, menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa yang hendak berangkat sekolah. Meminta mereka bergegas mandi, memakai seragam dengan rapi, salat dhuha berjamaah, lalu sarapan pagi bersama.

Aku duduk di meja makan menikmati kebiasaan-kebiasan itu. Menjadi seperti bapak bagi anak-anak, dan terkadang menjadi seorang ibu. Kadang menjadi guru yang berceloteh, sesekali menjadi seorang murid yang sibuk mendengar keluhan mereka. Kuseruput kopiku sembari tetap bercengkrama dengan “sahabatku”. Saat itulah urita gembira datang lewat pesan WA, “Tolong hadiri kegiatan literasi di gedung Balai Keprajuritan Manunggal Makassar!” Kira-kira seperti itu inti pesannya. read more

Anakronisme Sejarah: Bapak yang Terlupakan

Dentuman diskusi didedahkan di sebuah warung kopi, Jl. Wr Monginsidi Mamuju. Panitia menugasi mengulas referensi seputar pemikiran Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka

***

Saya memulai dengan ulasan bahwa, Tan Malaka adalah orang pertama yang  menulis secara utuh konsep Republik Indonesia. Oleh Moehammad Yamin digelari bapak Republik, sedang Sukarno, menyebutnya seorang yang mahir dalam revolusi. Tetapi ia dilupakan begitu saja. Namanya tak pernah muncul dalam sejarah arus utama, kecuali dengan embel-embel pekai, pemberontak, kominis tak bertuhan dan sederet hal-hal buruk lainnya. read more

KLPI Bukan Ruang Pertemuan Pahlawan dan TBPI Bukan Markas Power Rangers

Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) hadir kembali. Baru saja membuka kelas perdana untuk angkatan ke-5. Peserta sebanyak 37 orang. Di Toko Buku Paradigma Ilmu (TBPI) mereka berkumpul. Menyimak wejangan Kanda Sulhan Yusuf—CEO Paradigma Group—mengenai orientasi KLPI. Ruangannya pengap dan sempit karena dijejali buku-buku. Peserta yang jumlahnya cukup banyak akhirnya berhimpit-himpitan. Tapi percayalah, semangat dan harapan yang membangun komunitas ini seluas galaksi Bima Sakti.

KLPI memang bermula dari semangat untuk menjadi bagian dari kosmologi literasi. Meski hanya sebagai entitas kecil belaka. KLPI juga bergerak atas dorongan harapan akan terciptanya masyarakat berbudaya literasi. Meski sumbangsinya tak banyak, Tapi KLPI percaya, berbuat sesuatu adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini daripada saling menyalahkan atas terpuruknya budaya literasi masyarakat. read more

Tiga Hari Dibuai Pendar Literasi

Semestinya, hari Sabtu , 5 Mei 2018, saya berada di Kabupaten Bulukumba, guna memenuhi permintaan sekaum perempuan, yang terhimpun dalam Korps HMI-Wati  (KOHATI}, yang menyelenggarakan Latihan Khusus Kohati {LKK) Tingkat Nasional. Tapi, ajakan penyelenggara itu saya tampik, sebab hingga Sabtu malam, saya masih ada acara di Makassar, yang tak kalah pentingnya untuk saya sambangi. Jadi, agar semuanya bisa teraalisir, saya meminta jalan keluar, supaya digeser ke hari Ahad saja, sebab hari Senin, pun saya sudah harus balik ke Makassar, memenuhi  panggilan lainnya. Beginilah resiko “lelaki panggilan”, sejak menabalkan diri selaku pegiat literasi. read more

Menulis untuk Hidup dan Hidup untuk Menulis

Mereka adalah sekaum anak muda, mahasiswa, dan pelajar. Para pewaris ideologis Tjokroaminoto, Sang Guru Bangsa. Guru dari Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen. Kelak ketiga murid ini, bertarung menawarkan pikirannya untuk bangsa, bentuk negara buat bangsa Indonesia. Soekarno menyodorkan Nasionalisme Indonesia, Republik Indonesia. Kartosoewrjo mengemukakan Islamisme, Negara Islam Indonesia (NII). Dan, Semaoen mengedepankan Komunisme bagi Indonesia.

Tapi, pewaris yang saya hadapi kali ini, bukanlah titisan Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen. Melainkan, sekaum cicit ideologis dari Tjokroaminoto yang tergabung dalam Pergerakan Pemuda Syarikat Islam Indonesia, terdiri dari Serikat Pelajar Muslimin Indonesia {SEPMI), Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), dan Pemuda Muslimin Indonesia (PEMUDA MUSLIM). Mereka menyelenggarakan Intermediate Training Nasional, dengan tema: “Membangun Ideologi Progresif dalam Bingkai Gerakan Revolusioner Menuju Kemerdekaan Sejati”, 28 April – 6 Mei 2018, bertempat di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. read more

Badaruddin Amir: Esai itu Tulisan yang Genit

Esai itu tulisan yang genit. Dia diibaratkan seseorang yang datang dan mencubit pipimu dan kemudian pergi. Begitulah esai di mata Badaruddin Amir. Pendakuan ini ia sampaikan saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis esai bagi Guru-Guru Bahasa se-Kabupaten Sidrap beberapa waktu lalu.

Badaruddin Amir seorang sastrawan Sulsel. Dia tangkas menghidupkan suasana forum. Sebelumnya, forum ibarat ruang tunggu yang sepi lantaran materi yang cenderung teoritis. Kaku. Dan mungkin membosankan.

Sebelum Pak Badar, begitu ia disapa, eike yang berkesempatan pertama kali memberikan materi. Begitulah, semenjak Pak Badar mendapatkan giliran, dengan pengalamannya yang segudang mengampu pelatihan-pelatihan menulis, forum berubah 180 derajat. read more

Teknologi, Hoax dan Perlawanan Literasi

Kita tahu bersama, manusia telah berjalan melawati puluhan juta tahun untuk sampai di era sekarang. Sudah banyak yang pergi dan datang. Kita juga tahu bersama,bahwa pada puluhan juta tahun yang lalu, manusia pernah hidup dengan berkoloni dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Manusia kala itu, memiliki pengetahuan yang kompleks dan holistik tentang alam semesta. Literasinya tidak pada lembaran-lembaran buku. Tapi pada alam semesta yang penuh misteri. Manusia purba demikian para antropolog menamainya hidup damai bersama alam semesta. Mereka mengambil seadanya dari alam, sekadar untuk hidup. Nalar mereka adalah nalar kebutuhan bukan keserakahan. read more

Dari Qushayi, Sun Go Kong, Kungfu Panda, hingga Etnografi

Pagi-pagi buta di kota kaum urban, saya terbangun bukan karena alarm atau suara ayam, tapi bunyi-bunyian klakson. Selepas salat subuh – kira-kira pukul tujuh lewat sekian menit – saya nyambi di samping kiri rumah kos. Selain riuh jalanan, saya ditemani Si hitam manis, dari tanah Toraja dan Si Hegemoni Quraisy. Lama kami berdialog, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk bergegas menyusuri lorong sunyi peradaban. Jalan yang penuh semak belukar karena jarang orang melintas. Semua memilih jalan lain yang penuh fantasi dan hiburan yang menggoda. read more

Sulhan adalah Han dan Sang Guru Itu Sendiri

Tutur Jiwa dan Beberapa Hal Tentangnya

***

Malam itu, Bedah Buku Tutur Jiwa  Karya Sulhan Yusuf oleh LKIMB UNM di pelataran PKM UNM itu, sepertinya menjadi awal teks-teks kearifan Sulhan menari di belantara realitas, yang mulai kering dari wejangan-wejangan spritual dan filosofis. Tutur Jiwa  hadir seolah memanggil kumpulan jiwa-jiwa muda yang haus akan tutur kebijaksanaan. Puluhan jiwa-jiwa itu duduk bersila, menunggu Sang Guru (sang tokoh spritual Han dalam Tutur Jiwa) berujar mengenai perihal yang dapat membasuh kedalaman batin yang kian kerontang. Ujaran Sang Guru itu tentu bergema melalui perantara Sulhan, sebagai pencatat wejangan-wejangannya. read more

Setelah Berliterasi Lalu Apa Lagi?

Gerakan literasi berbasis komunitas akhir-akhir ini semakin marak diperbincangkan. Bukan hanya menjadi perbincangan, namun juga telah banyak terbentuk dan mengambil ruang di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran pelbagai komunitas literasi dari berbagai penjuru dalam acara Temu Komunitas Literasi “Selagi September: Sastra di Titik Temu” pada Sabtu, 16 September 2017 (malam minggu).

Sebagaimana yang dilansir di Rakyatku.com, Temu Komunitas Literasi  itu merupakan kegiatan temu komunitas literasi yang diprakarsai oleh empat komunitas literasi sastra Makassar, yaitu Pecandu Aksara, Arakata, Pembatas Buku, dan Serat Sastra UNM yang tentu juga bekerja sama dengan La Macca Creative Corner. Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk gerakan literasi kreatif di sektor selatan Makassar. Sehingga salah satu bentuk kampanye media sosialnya adalah penggunaan hastag #jamaahkreatifsektorselatan. read more