Arsip Kategori: Fragmen

Dari Diary ke Free Writing

Sekotahnya, bermula dari permintaan beberapa orang, baik lewat media sosial, maupun pertemuan langsung dengan saya, agar membuka kelas literasi, lebih tepatnya kelas menulis di Bantaeng. Awalnya, saya enggan menyahutinya. Tapi, atas desakan yang terus menerus, akhirnya saya mengiyakannya. Alasan mereka yang membuat saya takluk, tatkala salah seorangnya minta keadilan, dengan sejumput tanya, semacam gugatan, mengapa hanya di Paradigma Institute Makassar? Bukankah Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng adalah kembarannya? read more

Ruang Kudus di KLPI Makassar

Kami tersentak kaget dengan penuturan Muhary Wahyu Nurba yang tidak dibayangkan sebelumnya, tentang kita kejamakan yang kehilangan banyak ruang kontemplatif di era kiwari. “Kita” saat ia berbicara dengan suaranya yang berat itu bukan saja ditujukan kepada peserta KLPI yang sudah menjadi rutin itu. Melainkan juga kepada masyarakat yang dikepung gaya hidup modern. Ya, orang-orang yang gila kerja, gila berbelanja, gila uang, gila jabatan, gila media sosial, gila politik, gila agama, dan entah gila apa lagi (Anda bisa menambahkan sesuka hati Anda di sini). read more

Literasi untuk Peradaban

(Refleksi 7 Tahun Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan)

Di waktu kiwari ini, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan sudah memangsa waktu 7 tahun lebih. Didirikan pada tanggal 1 Maret 2010, bertempat di poros jalan Ratulangi Bantaeng, yang sekaligus menjadi markasnya sekira 5 tahun. Kini, markas itu telah menjadi klinik kesehatan, sedangkan markas terkini berada di Ruko Lamalaka, depan Stadion Lamalaka, yang di depannya terdapat kawasan kuliner, Pantai Lamalaka Bantaeng. Ruko ini aset Pemda Bantaeng, yang dikontrak secara berkala. Semboyan yang mengikuti hadirnya, bertajuk, “Menuju Pencerahan Intelektual-Spiritual.” Dan, 3 tahun kemudian berubah menjadi, “Bantaeng Menuju Masyarakat Literasi.” read more

Mapia, bukan Mafia

Adakah bahagia yang melebihi kebahagiaan tatkala sejumput janji telah ditunaikan? Mungkin saja ada, bahkan banyak. Namun, janji yang saya tunaikan kali ini, cukup menghasilkan bahagia yang meluap-luap, seperti meluapnya air yang tak tertampung di selokan depan rumah, karena derasnya hujan belakangan ini. “Janji adalah utang,” demikian kata bijak yang sering diuarkan. Dan, ketika saya membayarkan janji, untuk datang memenuhi permintaan tandang, maka dengan serta merta, utang saya pun lunas. Waima di pucuk persuaan, lahir lagi janji baru, yang berarti utang baru pula. read more

Irmus dan Tandang Literasi ke Lantebung

Kala itu, pada akhir pekan di pertengahan bulan, tepatnya, hari Ahad, tanggal 12 Februari 2017. Mentari baru semenjana teriknya, saya merapat ke tribun lapangan sepak bola Lompo Battang, Bantaeng. Hajatan yang digagas oleh Ikatan Remaja dan Mushollah (Irmus) SMA Neg.1 Bantaeng, bertajuk Pelatihan Literasi dan Teknik Resensi Buku, dengan mengambil tema, seputar hubung kait antara literasi dan peradaban.

Oleh penyelenggara, saya diundang untuk berbagi dua hal, gerakan literasi di sekolah, dan teknik meresensi buku, sebagai bekal kelantipan dalam membaca, sekaligus menuliskan hasil bacaan. Kehadiran saya atas undangan Irmus, bukanlah yang pertama. Entah sudah berapa kali saya didapuk sebagai pemantik gagasan, yang kesemuanya diselenggarakan di areal sekolah. Barulah kali ini di luar sekolah, yang menurut pembinanya, sekaligus guru agamanya, yang juga pegiat literasi di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Kamaruddin, mencari suasana baru, sebagai bagian dari cara menyegarkan kegiatan-kegiatan literasi. read more

Literasi Parenting di Desa Labbo, Bantaeng

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 26 Februari 2017, Sabtu pagi saya dan suami bersiap melakukan perjalanan weekend  ke Bantaeng, sebuah kota kabupaten yang berjarak + 120 kilometer dari pusat kota Makassar. Meskipun jaraknya terbilang dekat, namun bagi saya yang memiliki sederet tugas rumahan dan mengajar setiap hari tetap sulit untuk meluangkan waktu untuk sering-sering berkunjung ke sana. Berbeda dengan suami yang hampir setiap pekan meluangkan waktu ke sana dalam rangka menggalakkan semangat baca warga Butta Toa. read more

Berkencan dengan Serambi Baca Tau Macca Loka

Ada satu yang sering sulit saya elakkan, tatkala ada urita aktifitas literasi di suatu tempat. Apatah lagi, jika lokasinya masih dalam jangkauan saya, semisal di kampung halaman, Butta Toa Bantaeng. Muasal ceritanya kali ini, gegara postingan gambar di facebook, oleh Rahmat Ikhtiar, yang mengabarkan satu tempat, berupa serambi rumah yang difungsikan sebagai tempat mengaji, sekaligus sebentuk ruang baca. Dari postingan itu, ada pesan yang disampaikan, bahwa wadahnya sudah ada, yang kemudian amat dibutuhkan adalah buku-buku, khususnya buku anak-anak. read more

Bencana Neoliberalisme di Boetta Toa dan Maulid Akhir Tahun

Seorang ibu berbadan gempal masuk ke bilik kamar, tidak berapa lama dia keluar dan menenteng beberapa bungkus kantungan hitam. Tanpa pikir panjang, bungkusan itu dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang beranjak pulang.

Saya yang duduk tak jauh dari pintu masuk, sudah tahu isi kantungan itu. Saya hanya menatap peristiwa itu sebagai bagian dari tradisi yang selama ini ditemukan ketika merayakan kelahiran nabi terakhir.

Peristiwa itu menandai merayakan Maulid Nabi adalah suatu cara untuk berbagi kebahagiaan, berbagi berkah. Sokko, makanan yang terbuat dari beras ketan itu tidak semata-mata tanda biologis belaka, melainkan sebagai simbol silaturahim. Suatu tanda umat Muhammad mengikat kembali simpul-simpul kekerabatan. read more

Komplen dan Literasi

“Andai kota itu peradaban, rumah kami adalah budaya, dan menurut ibu, tiang sarinya adalah agama.”  (Faisal Tehrani).

Penabalan tutur dari Faisal Tehrani, seorang pengarang di bidang fiksi-sastra: cerpen, puisi, dan naskah drama, berkebangsaan Malaysia di atas, menutup sajian foto-foto dan testimoni dari masyarakat sekitar, yang dipancarkan pada layar slight, menandai satu dekade perjalanan sekaum pegiat seni-budaya, yang bernama Komplen (Komunitas Pakampong Tulen) di Butta Toa, Kabupaten Bantaeng. Saya amat tergetar dengan penggalan tutur itu, seolah kejatuhan sabda dari langit. read more

Menggosipkan Buku

Kampus adalah medan perang, yakni memerangi kebodohan untuk mewujudkan mahasiswa yang cemerlang, dan generasi yang memiliki ciri intelektualitas tinggi. Jika sebagai prajurit di medan laga peperangan anggota militer, senjata yang digunakan adalah pistol, senapan, dan senjata api lainnya, untuk menegakkan keamanan rakyat, maka sudah selayaknya seorang mahasiswa menjadikan buku, pena, dan laptop sebagai senjata untuk berlaga di “medan perangnya” yang bernama kampus.

Komitmen yang kuat tentu sangat diperlukan dalam suatu pertempuran untuk memperoleh hasil yang baik. Demikian pula bagi seorang mahasiswa dalam membatinkan komitmennya, untuk selalu mendekatkan bahkan mencintai “alat tempurnya”. Hal tersebut tentu sangat diharapkan agar generasi yang dicita-citakan, bisa terwujud melalui cetakan-cetakan kampus. Mengingat hal itu, turut andil dalam menanamkan komitmen, tentulah tidak hanya sekadar memperkenalkan melalui nasehat dan imbauan lisan, tetapi ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada komitmen yang akan dibangun. read more