Arsip Kategori: Fragmen

Sulhan adalah Han dan Sang Guru Itu Sendiri

Tutur Jiwa dan Beberapa Hal Tentangnya

***

Malam itu, Bedah Buku Tutur Jiwa  Karya Sulhan Yusuf oleh LKIMB UNM di pelataran PKM UNM itu, sepertinya menjadi awal teks-teks kearifan Sulhan menari di belantara realitas, yang mulai kering dari wejangan-wejangan spritual dan filosofis. Tutur Jiwa  hadir seolah memanggil kumpulan jiwa-jiwa muda yang haus akan tutur kebijaksanaan. Puluhan jiwa-jiwa itu duduk bersila, menunggu Sang Guru (sang tokoh spritual Han dalam Tutur Jiwa) berujar mengenai perihal yang dapat membasuh kedalaman batin yang kian kerontang. Ujaran Sang Guru itu tentu bergema melalui perantara Sulhan, sebagai pencatat wejangan-wejangannya. read more

Setelah Berliterasi Lalu Apa Lagi?

Gerakan literasi berbasis komunitas akhir-akhir ini semakin marak diperbincangkan. Bukan hanya menjadi perbincangan, namun juga telah banyak terbentuk dan mengambil ruang di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran pelbagai komunitas literasi dari berbagai penjuru dalam acara Temu Komunitas Literasi “Selagi September: Sastra di Titik Temu” pada Sabtu, 16 September 2017 (malam minggu).

Sebagaimana yang dilansir di Rakyatku.com, Temu Komunitas Literasi  itu merupakan kegiatan temu komunitas literasi yang diprakarsai oleh empat komunitas literasi sastra Makassar, yaitu Pecandu Aksara, Arakata, Pembatas Buku, dan Serat Sastra UNM yang tentu juga bekerja sama dengan La Macca Creative Corner. Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk gerakan literasi kreatif di sektor selatan Makassar. Sehingga salah satu bentuk kampanye media sosialnya adalah penggunaan hastag #jamaahkreatifsektorselatan. read more

Dari Diary ke Free Writing

Sekotahnya, bermula dari permintaan beberapa orang, baik lewat media sosial, maupun pertemuan langsung dengan saya, agar membuka kelas literasi, lebih tepatnya kelas menulis di Bantaeng. Awalnya, saya enggan menyahutinya. Tapi, atas desakan yang terus menerus, akhirnya saya mengiyakannya. Alasan mereka yang membuat saya takluk, tatkala salah seorangnya minta keadilan, dengan sejumput tanya, semacam gugatan, mengapa hanya di Paradigma Institute Makassar? Bukankah Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng adalah kembarannya? read more

Ruang Kudus di KLPI Makassar

Kami tersentak kaget dengan penuturan Muhary Wahyu Nurba yang tidak dibayangkan sebelumnya, tentang kita kejamakan yang kehilangan banyak ruang kontemplatif di era kiwari. “Kita” saat ia berbicara dengan suaranya yang berat itu bukan saja ditujukan kepada peserta KLPI yang sudah menjadi rutin itu. Melainkan juga kepada masyarakat yang dikepung gaya hidup modern. Ya, orang-orang yang gila kerja, gila berbelanja, gila uang, gila jabatan, gila media sosial, gila politik, gila agama, dan entah gila apa lagi (Anda bisa menambahkan sesuka hati Anda di sini). read more

Literasi untuk Peradaban

(Refleksi 7 Tahun Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan)

Di waktu kiwari ini, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan sudah memangsa waktu 7 tahun lebih. Didirikan pada tanggal 1 Maret 2010, bertempat di poros jalan Ratulangi Bantaeng, yang sekaligus menjadi markasnya sekira 5 tahun. Kini, markas itu telah menjadi klinik kesehatan, sedangkan markas terkini berada di Ruko Lamalaka, depan Stadion Lamalaka, yang di depannya terdapat kawasan kuliner, Pantai Lamalaka Bantaeng. Ruko ini aset Pemda Bantaeng, yang dikontrak secara berkala. Semboyan yang mengikuti hadirnya, bertajuk, “Menuju Pencerahan Intelektual-Spiritual.” Dan, 3 tahun kemudian berubah menjadi, “Bantaeng Menuju Masyarakat Literasi.” read more

Mapia, bukan Mafia

Adakah bahagia yang melebihi kebahagiaan tatkala sejumput janji telah ditunaikan? Mungkin saja ada, bahkan banyak. Namun, janji yang saya tunaikan kali ini, cukup menghasilkan bahagia yang meluap-luap, seperti meluapnya air yang tak tertampung di selokan depan rumah, karena derasnya hujan belakangan ini. “Janji adalah utang,” demikian kata bijak yang sering diuarkan. Dan, ketika saya membayarkan janji, untuk datang memenuhi permintaan tandang, maka dengan serta merta, utang saya pun lunas. Waima di pucuk persuaan, lahir lagi janji baru, yang berarti utang baru pula. read more

Irmus dan Tandang Literasi ke Lantebung

Kala itu, pada akhir pekan di pertengahan bulan, tepatnya, hari Ahad, tanggal 12 Februari 2017. Mentari baru semenjana teriknya, saya merapat ke tribun lapangan sepak bola Lompo Battang, Bantaeng. Hajatan yang digagas oleh Ikatan Remaja dan Mushollah (Irmus) SMA Neg.1 Bantaeng, bertajuk Pelatihan Literasi dan Teknik Resensi Buku, dengan mengambil tema, seputar hubung kait antara literasi dan peradaban.

Oleh penyelenggara, saya diundang untuk berbagi dua hal, gerakan literasi di sekolah, dan teknik meresensi buku, sebagai bekal kelantipan dalam membaca, sekaligus menuliskan hasil bacaan. Kehadiran saya atas undangan Irmus, bukanlah yang pertama. Entah sudah berapa kali saya didapuk sebagai pemantik gagasan, yang kesemuanya diselenggarakan di areal sekolah. Barulah kali ini di luar sekolah, yang menurut pembinanya, sekaligus guru agamanya, yang juga pegiat literasi di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Kamaruddin, mencari suasana baru, sebagai bagian dari cara menyegarkan kegiatan-kegiatan literasi. read more

Literasi Parenting di Desa Labbo, Bantaeng

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 26 Februari 2017, Sabtu pagi saya dan suami bersiap melakukan perjalanan weekend  ke Bantaeng, sebuah kota kabupaten yang berjarak + 120 kilometer dari pusat kota Makassar. Meskipun jaraknya terbilang dekat, namun bagi saya yang memiliki sederet tugas rumahan dan mengajar setiap hari tetap sulit untuk meluangkan waktu untuk sering-sering berkunjung ke sana. Berbeda dengan suami yang hampir setiap pekan meluangkan waktu ke sana dalam rangka menggalakkan semangat baca warga Butta Toa. read more

Berkencan dengan Serambi Baca Tau Macca Loka

Ada satu yang sering sulit saya elakkan, tatkala ada urita aktifitas literasi di suatu tempat. Apatah lagi, jika lokasinya masih dalam jangkauan saya, semisal di kampung halaman, Butta Toa Bantaeng. Muasal ceritanya kali ini, gegara postingan gambar di facebook, oleh Rahmat Ikhtiar, yang mengabarkan satu tempat, berupa serambi rumah yang difungsikan sebagai tempat mengaji, sekaligus sebentuk ruang baca. Dari postingan itu, ada pesan yang disampaikan, bahwa wadahnya sudah ada, yang kemudian amat dibutuhkan adalah buku-buku, khususnya buku anak-anak. read more

Bencana Neoliberalisme di Boetta Toa dan Maulid Akhir Tahun

Seorang ibu berbadan gempal masuk ke bilik kamar, tidak berapa lama dia keluar dan menenteng beberapa bungkus kantungan hitam. Tanpa pikir panjang, bungkusan itu dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang beranjak pulang.

Saya yang duduk tak jauh dari pintu masuk, sudah tahu isi kantungan itu. Saya hanya menatap peristiwa itu sebagai bagian dari tradisi yang selama ini ditemukan ketika merayakan kelahiran nabi terakhir.

Peristiwa itu menandai merayakan Maulid Nabi adalah suatu cara untuk berbagi kebahagiaan, berbagi berkah. Sokko, makanan yang terbuat dari beras ketan itu tidak semata-mata tanda biologis belaka, melainkan sebagai simbol silaturahim. Suatu tanda umat Muhammad mengikat kembali simpul-simpul kekerabatan. read more