Arsip Kategori: Fragmen

Literasi untuk Peradaban

(Refleksi 7 Tahun Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan)

Di waktu kiwari ini, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan sudah memangsa waktu 7 tahun lebih. Didirikan pada tanggal 1 Maret 2010, bertempat di poros jalan Ratulangi Bantaeng, yang sekaligus menjadi markasnya sekira 5 tahun. Kini, markas itu telah menjadi klinik kesehatan, sedangkan markas terkini berada di Ruko Lamalaka, depan Stadion Lamalaka, yang di depannya terdapat kawasan kuliner, Pantai Lamalaka Bantaeng. Ruko ini aset Pemda Bantaeng, yang dikontrak secara berkala. Semboyan yang mengikuti hadirnya, bertajuk, “Menuju Pencerahan Intelektual-Spiritual.” Dan, 3 tahun kemudian berubah menjadi, “Bantaeng Menuju Masyarakat Literasi.”

Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sesarinya adalah komunitas, yang saya dirikan berdasarkan pada tiga pilar, yakini: Toko Buku, Institut, dan Komunitas. Toko bukunya, dikepalai oleh Zaenal Asri, Institutnya digawangi oleh Kamaruddin, dan komunitasnya diayomi oleh Dion Syaef Saen, selaku kepala sukunya. Setahun berjalan, kami bersepakat untuk meluncurkan produk, berupa Rumah Baca Boetta Ilmoe, yang secara garis koordinasinya bertautan pada Institut. Slogan selaku pengiring kelahiran Rumah Baca ini, berbunyi, “Hadir untuk Pencerahan.”

Pada setiap momen miladnya diperingati, selalu saja ada perayaan. Bentuknya beraneka, mulai dari pementasan, hingga peluncuran buku terbitan Boetta Ilmoe. Sekadar catatan, Boetta Ilmoe telah menerbitkan buku, karya warga Bantaeng sejumlah 12 judul. Namun, seiring perjalanannya, memasuki tahun ke-5, Toko Buku Boetta Ilmoe saya harus tutup, sebab mitra-mitra penerbit, dan pemasok buku banyak yang mundur, berhubung omset yang tidak memenuhi target. Walhasil, yang tersisa hanyalah institut dan komunitas.

Dalam kondisi transisi ini, akibat penutupan toko bukunya, persis di usianya yang ke-6, saya mengajak seluruh lapisan komunitas untuk membincang kelangsungan nasib Boetta Ilmoe ini. Bagi saya, lima tahun pertama sudah cukup memadai untuk melepaskan Boetta Ilmoe ke publik, khususnya pada kawan-kawan pegiat di komunitas. Sebab, foundingnya yang terdepan, toko buku sudah tutup, maka mestilah dicarikan founding yang tetap menjaga kemerdekaan komunitas. Di depan segenap kawan pegiat komunitas, saya ajukan permasalahan ini. Di luar dugaan saya, kawan-kawan mengambil solusi jitu untuk menyelamatkan komunitas, dengan mendirikan lembaga sayap, yang bernama Bonthain Institute, dengan slogannya, “Civilization, Humanity, Divinity.”

Bonthain Institute, merupakan kado teranyar dari Boetta Ilmoe pada usianya yang ke-6, 2016 silam. Institut ini, mendudukkan Rahman Ramlan selaku penanggungjawabnya, yang dibantu oleh segenap pegiat di komunitas, baik yang masuk di struktur maupun yang tidak masuk. Lembaga ini, boleh saya tabalkan sebagai wahana untuk mengkomunikasikan kepentingan pihak luar, ataupun sebaliknya, dalam rangka mewujudkan kepentingan komunitas lebih luas. Sebab, tidak sedikit program yang ditawarkan ke Boetta Ilmoe, ataupun sebaliknya, tapi terkendala oleh kelengkapan formalitas kelembagaan. Hadirnya Bonthain Istitute, yang berbadan hukum, bakal memudahkan program-program yang sulit digarap secara komunitas.

Memasuki tahun ke-7, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan merayakannya dengan amat sederhana. Pada hari Sabtu, tanggal 25 Maret 2017, mulai pukul 19.30, dan berakhir pukul 23.00. Bertempat di teras-halaman depan sekretariat, perayaan dilangsungkan. Mata acaranya pun, tidak direncanakan secara kaku. Acara dibuka dengan penampilan akuistik minimalis dari Komplen, yang malam itu diawaki oleh, Dion Syaif Saen, Aldy Bentho, Irsan Guvara, Ashwink Pratama, dan Haedir Tumphaka. Lagu kerajaan Boetta Ilmoe, yang berjudul, “Membacalah-Menulislah,” mengalun dengan hikmat, memesona hadirin, yang sebagian besarnya adalah pegiat-pegiat literasi dari berbagai komunitas. Lagu ini tercipta, tatkala Boetta Ilmoe berusia 4 tahun, yang syairnya dibuat oleh Atte Shernylia Maladevi, dan arasemennya digarap oleh Dion Syaif Saen, bersama kawan-kawan Komplennya.

Acara yang sangat sederhana ini, berisi mata acara berupa testimoni dari para penghadir. Baik mewakili komunitas-komunitas literasi, maupun persona-persona, yang selama ini terpesona oleh pesona gerakan literasi. Apalagi, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, isi dalamnya dihuni oleh beragama latar belakang profesi, dan jenjang sosial-pendidikan. Waima, sejatinya, komunitas ini, menempatkan semuanya secara setara, tiada kaya berada, pun tiada miskin berpapa. Tidak mengenal pintar berpengetahuan, bodoh tak berpendidikan. Sekotahnya, duduk sama rata, berdiri sama tinggi.

Malam perayaan ini, dihadiri oleh komunitas-komunitas literasi. Diantaranya, Rumah Baca Paguyuban, Taruna Baca Sipakalabbiri, Rumah Baca Rita Tinggia, Komunitas Lapak Bantaeng Ammaca, Serambi Baca Tau Macca Loka, Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying, Taman Baca Siana’ Koskar, Teras Baca Lembang-Lembang, dan Sudut Baca Al-Syifa. Mereka silih berganti, menceritakan komunitas masing-masing. Saling berbagi pengalaman, informasi, dan pengetahuan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ajang silaturrahim antar komunitas literasi, yang diperkuat oleh pribadi-pribadi yang punya dukungan tak bertepi pada gerakan literasi. Meski tidak mewakili instansi resmi, setidaknya, kehadiran Kr. Ali Appatoba, seorang birokrat, Kadis Perdagangan dan Perindustrian Bantaeng, dan Poni Gassing, dari Dinas Perpustakaan Bantaeng, cukup menguatkan asumsi saya.

Lalu, apa kado terindah dari Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan di usianya yang ke-7 ini? Hadiahnya, tiada lain adalah peluncuran program Bank Buku Boetta Ilmoe, yang merupakan sebentuk penegasan akan keseriusan dalam mengawal makin menggeliatnya gerakan literasi di Butta Toa Bantaeng. Bank Buku ini, adalah pengembangan dari Rumah Baca Boetta ilmoe, yang fungsi awalnya bergerak secara konvensional, meladeni individu-individu. Jadi, kehadiran Bank Buku, sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja, buat menyahuti pelayanan akan bahan bacaan, yang sasaran utamanya adalah komunitas-komunitas literasi, baik yang sudah relatif mapan, maupun yang sementara bertumbuh, bahkan komunitas yang bakal lahir. Dan, penanggung jawab operasional Bank Buku ini, adalah Zaenal Asri.

Dengan begitu, seiring dengan perubahan dari Rumah Baca, menjadi Bank Buku, maka slogan pun mengalami perubahan. Bila Rumah Baca Boetta Ilmoe, berkata, “Hadir untuk Pencerahan,” maka Bank Buku Boetta Ilmoe, bertutur, “Literasi untuk Peradaban.” Mungkin saja ada yang beranggapan, apalah arti sebongkah slogan, tapi bagi kami, ini merupakan ikatan kalimat praktis dari suatu visi dan misi. Di pucuk perhalatan malam itu, saat saya nyatakan launching Bank Buku Boetta Ilmoe, dengan slogan yang menghidunya, “Literasi untuk Peradaban,” akan makin menguatkan asa, dan rasa akan terwujudnya “Masyarakat Lietrasi Bantaeng,” sebagaimana terungku janji dari Komunitas ini, “Boetta Ilmoe: Bantaeng Menuju Masyarakat Literasi.”

Mapia, bukan Mafia

Adakah bahagia yang melebihi kebahagiaan tatkala sejumput janji telah ditunaikan? Mungkin saja ada, bahkan banyak. Namun, janji yang saya tunaikan kali ini, cukup menghasilkan bahagia yang meluap-luap, seperti meluapnya air yang tak tertampung di selokan depan rumah, karena derasnya hujan belakangan ini. “Janji adalah utang,” demikian kata bijak yang sering diuarkan. Dan, ketika saya membayarkan janji, untuk datang memenuhi permintaan tandang, maka dengan serta merta, utang saya pun lunas. Waima di pucuk persuaan, lahir lagi janji baru, yang berarti utang baru pula.

Utang yang saya lunasi itu, terjadi pada hari Ahad, 5 Maret 2017. Sebelumnya, saya sudah pernah berjanji untuk datang, saat mengunjungi Serambi Baca Tau Macca Loka, beberapa waktu yang lalu, tapi karena berhalangan, hingga baru separuh jalan, balik lagi ke mukim. Sekira pukul 11.00 siang, saya bersama tiga orang kawan, Dion, Mahbub, dan Aswin, tiba di Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying.

Komunitas literasi, tepatnya, serambi baca yang ada di Lanying ini, bolehlah dinyatakan sebagai kembarannya yang ada di Loka. Sebab, kedua komunitas ini dideklarasikan pendiriannya secara bersamaan. Bedanya, satu di Loka, lainnya di Lanying. Walau, sama-sama di Kecamatan Ulu Ere, Bantaeng. Pembeda lainnya, yang di Lanying, mereka menambahkan kata Mapia.

Sewaktu saya tanyakan, sembari menunjukkan rona wajah agak keheranan, apa itu Mapia? Oleh Jamal, salah seorang pendirinya, langsung disahuti dengan ucapan, “mapia, bukan mafia.” Semula, dalam benak saya pun sempat terlintas, kata “mafia” ini, sebab siapa tahu hanya teknik pengucapan saja yang kurang pas. Tapi, rupanya benar-benar “mapia” dan bukan “mafia.” Lalu didedahkannyalah maksud kata mapia ini. Bertolak dari ujar Jamal inilah, saya patenkan untuk jadi judul tulisan.

Bahwasanya, “mapia” adalah akronim dari Manusia Pecinta Alam (MAPIA).  Alamak, benar-benarlah saya tertegun. Sebab, seandainya pun yang Jamal maksudkan adalah kata “mafia”  tak jadi perkara,  karena saya pun bakal mengaminkannya. Soalnya, sering batin saya menabalkan pada diri sendiri, sesekali selaku pegiat literasi, bolehlah bermetamorfosis menjadi mafia literasi, biar lebih keren.

Sebagai komunitas pecinta alam, Mapia telah menunjukkan kreatifitasnya yang amat memadai. Dari deretan buku-buku yang terpajang di rak, terdapat pula hasil-hasil kerajinan tangan, yang terbuat dari limbah, sisa-sisa potongan kayu, kardus-kardus bekas, yang dijadikan hiasan dinding. Rupanya, mereka sudah sering mengikuti perhelatan pameran kerajinan. Saya takjub melihat sekotah hasil kreatifitas itu. Pada kedalaman hati, saya membatin, betapa dahsyatnya potensi kaum muda, yang terserak di pelosok desa. Di kecamuk pikiran, saya merenung, alangkah hebatnya capaian mereka, jikalau produk-produknya, mendapatkan sentuhan tradisi literasi.

Pelengketan akronim Mapia, pada Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying, adalah sebentuk penegasan dari titik berangkat gerakan literasi yang lebih maju. Seperti yang dinyatakan oleh Gola Gong, dalam buku Gempa Literasi, bahwa komunitas literasi, ditilik dari sudut geliatnya, dapat diklasifikasikan pada tiga kelas. Pertama, komunitas literasi, sejenis perpustakaan semata. Kegiatannya, hanya sebatas meminjamkan dan mengembalikan buku. Model semisal ini, banyak dilakukan oleh perpustakaan-perpustakaan pemerintah, termasuk perpustakaan desa.

Kedua, model komunitas literasi, yang di dalamnya ada perpustakaan, menyelenggarakan proses peminjaman dan pengemabalian buku, namun ada kegiatan lainnya. Misalnya, menjadi wadah bersawala, pelatihan keterampilan, penerbitan media, dan kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Dan, ketiga, komunitas literasi yang menyambungkan aktifitasnya dengan ikon-ikon budaya pop. Jadi, sekotah wadah yang memungkinkan berkembangnya kreatifitas, yang mendukung gerakan literasi, disetubuhkan agar terjadi kelanggengan komunitas. Nah, sejauh rabaan saya, meski komunitas literasi masih seumur jagung, tapi kelihatannya, sudah langsung berada pada poin kedua, yang bila saja diberi sentuhan oleh para mafia literasi, ehem, maksud saya, pegiat literasi, bakal moncer ke poin ketiga.

Rombongan kami yang sedari awal kedatangan dan langsung bersawala dengan pengelola, melahirkan banyak perspektif, buat pengembangan komunitas literasi ini. Saya sendiri amat optimis pada komunitas ini, karena selain didukung oleh sumberdaya dari anak-anak pecinta alam, juga di tempat ini sekaligus sebagai rumah buat santri-santri pengajian dasar Alquran. Dukungan dua pilar ini, para pecinta alam dan para santri, sudah menjadi jaminan akan keberlangsungannya. Sehingga, akan terjadi sinergi yang utuh dalam tubuh segitiga yang saling menguatkan.

Toa mesjid dekat markas Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying bunyi, suara azan untuk ibadah zuhur memanggil. Sawala kami akhiri. Usai dirikan salat, sawala berlanjut beberapa saat. Namun sebelum semuanya berakhir, ada beberapa hal yang saya rekomendasikan. Diantaranya, mempersering dalam menguritakan kegiatan-kegiatan komunitas, agar berefek pada adanya hasrat bagi publik yang ingin berwakaf buku. Perlu pula diadakan sejenis pelatihan manajemen komunitas baca yang sederhana pengelolaannya.

Dan, di akhir segalanya, setelah saya tenggak habis secangkir kopi susu, yang sedari awal sawala tersaji, saya tawarkan pelatihan literasi, bersama dengan komunitas literasi kembarannya, yang ada di Loka. Tawaran ini, serupa lagi dengan janji, yang mesti saya tunaikan kelak. Selanjutnya, sungguh-sungguh di ujung persamuhan, rombongan kami menyerahkan beberapa eksamplar buku, yang diwakafkan oleh Teras Baca Lembang-Lembang, asuhan Dion Syaef Sain.

Irmus dan Tandang Literasi ke Lantebung

Kala itu, pada akhir pekan di pertengahan bulan, tepatnya, hari Ahad, tanggal 12 Februari 2017. Mentari baru semenjana teriknya, saya merapat ke tribun lapangan sepak bola Lompo Battang, Bantaeng. Hajatan yang digagas oleh Ikatan Remaja dan Mushollah (Irmus) SMA Neg.1 Bantaeng, bertajuk Pelatihan Literasi dan Teknik Resensi Buku, dengan mengambil tema, seputar hubung kait antara literasi dan peradaban.

Oleh penyelenggara, saya diundang untuk berbagi dua hal, gerakan literasi di sekolah, dan teknik meresensi buku, sebagai bekal kelantipan dalam membaca, sekaligus menuliskan hasil bacaan. Kehadiran saya atas undangan Irmus, bukanlah yang pertama. Entah sudah berapa kali saya didapuk sebagai pemantik gagasan, yang kesemuanya diselenggarakan di areal sekolah. Barulah kali ini di luar sekolah, yang menurut pembinanya, sekaligus guru agamanya, yang juga pegiat literasi di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Kamaruddin, mencari suasana baru, sebagai bagian dari cara menyegarkan kegiatan-kegiatan literasi.

Di pelatihan itu, saya mendedahkan terlebih dahulu, pandangan seputar pentingnya merawat dan memberikan makanan bergizi pada jiwa, di tengah kegilaan berburu hasrat memenuhi tuntutan raga. Padahal, menurut amanat para pendiri bangsa, yang disabdakan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, meminta agar membangun jiwa terlebih dahulu, barulah bangun raganya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya, begitulah bait sakralnya. Dan, setelahnya, saya sajikan pula, bagaimana kebiasaan membaca, bakal menentukan kemampuan menulis. Proses membaca ibarat memasukkan asupan gizi, agar ada energi yang kuat buat berbicara dan menulis.

Dari sekian buah dari kemampuan menulis, yang dikelompokkan dalam karya fiksi dan non-fiksi, salah satunya adalah resensi buku. Karya non-fiksi, yang berupa resensi buku, biasa pula disebut dalam istilah lain, semisal, timbangan buku, bedah buku, ulasan buku, pustaka, dll, bergantung pada selera media, baik yang berbasis luring (cetak), maupun daring (online).  Istilah yang dipakai boleh saja berbeda, namun yang pasti, tulisan itu berbicara tentang buku yang disorot, mulai dari yang paling kulit, penampakan fisik, hingga konten, atau isi gagasan yang dirahimi oleh sebuah buku.

Secara teknis, tulisan resensi buku, mempunyai tingkatan kualitas. Pertama, tulisan yang sekadar menggambarkan hal-hal yang bersifat umum dari buku itu. Biasanya, hanya mengutipkan apa yang terdapat pada halaman  belakang, sinopsis sebuah buku. Kedua, memaparkan secara deskriptif dari buku itu, ketiga, melakukan perbandingan dengan buku lain, baik buku yang ditulis oleh pengarang yang sama, pun pengarang yang lain. Dalam perbandingan inilah, menuntut keluasan pandangan seorang peresensi buku.

Jelang siang, sekira pukul 11.30, tetiba saja cuaca berubah secara cepat. Langit menjadi mendung, awan gelap menyelimuti. Biji-biji air sebentuk biji jagung, mewujud jadi hujan, berlomba menghempaskan diri ke tanah. Pastilah ada kekacauan sedikit, tapi saya selaku pembicara langsung menenangkan para peserta, dengan sejumput kalimat-kalimat, yang rada bijak, “biarkanlah hujan itu turun, sebab dia juga punya hak untuk berpesta. Tiadalah kebahagiaan yang lebih khusyuk, tatkala titik-titik air itu, berhasil lolos dari terungku awan. Hujan, sesungguhnya adalah simbol pembebasan diri bagi titik-titik air. Tatkala titik-titik air itu, membulatkan diri menjadi biji-biji air, lalu menghempaskan diri, di situlah kemerdekan sang titik air, karena akan segera mencari tempat yang lebih rendah, menggenangkan diri, tenang dalam jeda, sebelum disedot kembali oleh terik matahari, kemudian awan menawannya.”

Setelah pesta penghempasan biji-biji air, hujan pun reda. Kumandang azan membahana, acara pun dinyatakan usai. Selanjutnya, kami pun menuju mesjid terdekat buat tunaikan salat bagi yang ingin melunaskannya. Habis ibadah zuhur, kami semua santap siang. Di sela-sela makan siang itulah, program selanjutnya dibincangkan, bahwa salah satu bentuk follow up dari persamuhan ini, adalah melakukan kunjungan ke komunitas literasi. Saya mengajukan istilah, tandang literasi, yakni menyambangi komunitas literasi, komunitas baca, yang menyediakan fasilatas buku bacaan. Tujuannya, agar anak-anak Irmus mengenal komunitas itu, sekaligus menjadikannya sebagai arena untuk mendapatkan bahan bacaan.

Dari sekian banyak komunitas literasi yang ada di Bantaeng, saya mengusulkan untuk bertandang ke Kolong Baca Lantebung, yang diasuh oleh Atte Shernylia Maladevi. Pertimbangannya sangat strategis, sebab pada pelatihan kali ini, saya tak lupa mengenalkan seorang penulis, dari alumni SMA 1 Bantaeng, yang telah mengarang dua novel, Titisan Cinta Leluhur, dan Djarina. Bagi saya, tandang literasi ini bermakna ganda, selain mengenalkan salah satu komunitas literasi, bertemu pula dengan seorang penulis, pun sekaligus sebagai ajang silaturrahim dengan alumninya. Apatah lagi, pada pelatihan itu, saya memberikan ganjaran hadiah buku, pada dua penanya, yang judul bukunya adalah anggitan Atte itu. Komplitlah sudah.

Ada lebih 20-an orang anak-anak Irmus dan pembinanya, berombongan ke Kolong Baca Lantebung. Jarak tempuhnya, kurang dari 7 menit, dengan kecepatan 20 km per jam. Setiba di lokasi, kami sudah disambut oleh pendiri komunitas literasi ini. Sambutan yang hangat, sehangat cuaca yang berpadu antara terik yang harus berbagi dengan hempasan biji-biji air, hujan. Jadilah sore itu mendung, menyelimuti kami semua. Dan, pada dinding depan Kolong Baca Lantebung, yang juga masih merupakan bagian dari rumahnya Atte, tertulis kalimat indah, “Selamat Datang di Surga Kami.” Wow… Sepetak surga yang bakal kami kunjungi.

Saya sendiri barulah pertama kali bertandang ke Kolong Baca Lantebung ini, sejak dipindahkan dari Kolong Balla Lompoa Lantebung. Sebelumnya, saat komunitas literasi ini didirikan jelang bulan Ramadan tahun 2016, bermarkas di kolong rumah adat Balla Lompoa. Tapi, karena situasinya kurang memadai, sebab buku-buku sering dikencani oleh debu-debu yang ingin melapisi sampul-sampul buku, maka Atte mengamankannya sementara waktu. Jadi, Kolong Baca Lantebung ini, pernah jeda, sembari menunggu selesainya pengerjaan rumah tinggal keluarga Atte. Nah, sekarang rumah itu sudah rampung, maka buku-buku itu menemukan mukimnya yang lebih adem, jauh dari usilan debu.

Salah satu keunikan dari Kolong Baca Lantebung ini, karena yang paling sering menungguinya adalah anak-anak dari pasangan keluarga Atte dan Nasir. Usianya baru duduk di SD, dan ada pula yang masih balita. Namun, yang paling garib lagi, sebab bagi para peminjam leluasa meminjam dan mengembalikan sendiri, tanpa ada proses adminitrasi. Kalau selama ini kita mengenal adanya kantin kejujuran, maka di Kolong Baca Lantebung ini, pun menerapkan mekanisme kejujuran. Jadi, semuanya amat bergantung pada para peminjam. Sebuah terobosan buat pendidikan karakter. Inilah senyatanya penanaman kejujuran.

Rombongan dari Irmus pun menikmati pojok surga itu. Namun, karena luasnya ruangan tidak mampu menampung kami, akhirnya kami diajak untuk ke Balla Lompoa Lantebung, yang jaraknya hanya sekira 30-an langkah. Kami kemudian menaiki Balla Lompoa, yang juga merupakan salah satu situs bersejarah dari Kerajaan Bantaeng di masa silam. Balla Lompoa Lantebung ini adalah rumah tinggal sang raja. Seintinya, ini serupa paket tambahan dari tandangan literasi. Mendapatkan kesempatan naik di Balla Lompoa, diladeni langsung oleh kerabat raja, merupakan kebahagiaan tersendiri. Oleh Atte, diberilah penjelasan mengenai keberadaan rumah adat ini, dan segala sesuatu yang ada di atas rumah ini.

Bagi rombongan Irmus, berlaku pepatah, “Sambil menyelam minum air,” sembari tandang literasi dapat pula wisata budaya. Sebab, banyak yang belum menganal situs ini, bahkan barulah pertama kali berkunjung ke rumah bersejarah ini. Dan, pada ruang yang semirip ruang tamu inilah , anak-anak bersilaturrahim dengan penulis, yang sejak pelatihan berlangsung, saya sudah mengenalkannya. Dari rona muka anak-anak Irmus, terpancar asa untuk menimba ilmu kepenulisan dari sang penulis novel.

Atte memulai perbincangannya dengan bercerita tentang novelnya. Khususnya novel yang kedua, berjudul Djarina. Bahwasanya, Djarina sebagaimana yang ada di novel adalah tokoh nyata dari keluarga Raja Bantaeng. Tempat mukim Djarina, di Balla Lompoa. Sewaktu novel Djarina diluncurkan, pun dilaksanakan di ruangan ini, sebagai bentuk dedikasi buat Djarina. Perbincangan pun melebar pada proses kreatif dalam kepenulisannya, hingga jauh pada putusannya mendirikan komunitas literasi, Kolong Baca Lantebung. Di pucuk persamuhan, Atte menawarkan kepada segenap anak-anak Irmus, agar datang meminjam buku, sesuka hati, lalu mengembalikannya dengan sepenuh hati.

Hingga tulisan ini saya bikin, anak-anak Irmus sudah silih berganti, datang meminjam dan mengembalikan buku. Pun makin merambah ke anak-anak sekolah lainnya. Terkadang, Atte sendiri tidak mengenal lagi siapa mereka, sebab pekerjaannya juga menuntut senantiasa meninggalkan rumah. Untunglah ada sepasukan anak-anaknya yang menggawangi Kolong Baca Lantebung ini. Bagi saya, komunitas literasi ini, hanya ingin selalu mengatualkan vision lamonde, pandangan hidup pemiliknya, mencicil sepetak surga di mukimnya, yang memang sedari awal, keluarga ini telah menabalkan janji, membuat surga di rumahnya, lahan subur menanam kebaikan.

 

Literasi Parenting di Desa Labbo, Bantaeng

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 26 Februari 2017, Sabtu pagi saya dan suami bersiap melakukan perjalanan weekend  ke Bantaeng, sebuah kota kabupaten yang berjarak + 120 kilometer dari pusat kota Makassar. Meskipun jaraknya terbilang dekat, namun bagi saya yang memiliki sederet tugas rumahan dan mengajar setiap hari tetap sulit untuk meluangkan waktu untuk sering-sering berkunjung ke sana. Berbeda dengan suami yang hampir setiap pekan meluangkan waktu ke sana dalam rangka menggalakkan semangat baca warga Butta Toa.

Mengapa akhirnya saya sanggup menyisihkan waktu berkunjung ke sana karena sejak jauh hari sebelumnya saya sudah dimintai kesediaan untuk mengisi materi parenting bagi warga desa Labbo, sebuah daerah yang sangat sejuk dalam tahun-tahun ingatan saya. Bagi saya undangan ini adalah sebuah langkah maju untuk ukuran lingkup desa yang jauh dari pusat kota kabupaten.

Hari pertama

Sabtu pagi pukul sepuluh, kami berangkat menuju kota Bantaeng. Hawa sejuk sepanjang perjalanan serta pemandangan kiri-kanan yang menghijau, termasuk kota Jeneponto yang saya tahunya sedikit gersang dibandingkan kota-kota kabupaten yang mengapitnya turut  menghijau. Wajah alamnya sangat cantik, hamparan sawah hijau terlihat di mana-mana. Rupanya hawa yang semula sejuk mesti berakhir hujan yang cukup serius. Sehingga saat memasuki kota Bantaeng, ada beberapa cabang dari jalan utama yang digenangi air. Waktu tempuh yang normalnya hanya berkisar tiga jam saja mesti dilalui selama lebih dari empat jam. Kami tiba pukul setengah tiga sore.

Karena hujan masih turun meskipun tidak deras hingga jelang magrib, maka rencana untuk jalan-jalan ke pantai Seruni pun batal kami lakukan. Akhirnya saya menghabiskan sore itu dengan membaca-baca ulang buku “Mendidik Anak Era Digital” yang sedianya akan menjadi salah satu pelengkap bahan diskusi pada acara esok hari.

Selepas Isya kami jalan kaki berdua menyusuri jalan raya depan rumah hingga membelok ke lokasi rumah salah satu sahabat, Dion Syaif Saen yang memiliki taman baca Teras Baca Lembang-lembang. Rencananya akan meminjam motor teman yang dititip di sana. Namun ternyata ia tak ada di tempat, karena sedang menghadiri sebuah acara IPPNU di salah satu SMU di Bantaeng. Maka untuk mengisi kekosongan kami menyempatkan diri berfoto di depan jam kayu raksasa yang menjadi objek perhatian saya.

Selesai berfoto sebagai kenang-kenangan bahwa saya pernah jalan-jalan ke tempat tersebut, kami kembali berjalan kaki menuju rumah untuk meminjam salah satu motor saudara yang lagi nganggur. Setelahnya dengan  berboncengan  kami menuju pantai Seruni, melihat keramaian malam Minggu di sana. Hanya kali ini suasana tidak seramai biasanya. Mungkin karena seharian kota ini diguyur hujan sehingga warga pun banyak yang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah saja.

Selesai mengitari pantai kami bergerak menuju warung sarabba Dg Sido yang legendaris itu. Rasa sarabbanya yang khas membuatnya sanggup bertahan sejak tahun berdirinya, 1972 hingga kini. Warungnya sederhana namun membuat pengunjung betah dan nyaman. Pemiliknya pun sederhana, hanya bersarung dan berkaos meski nampak sudah sepuh, ia tetap menyambut siapa pun yang datang dengan senyum lebar. Saat selesai menghidangkan gelas sarabba beserta kue mangkok khasnya di atas meja, beliau melanjutkan keasyikannya menonton film Mandarin sembari tersenyum-senyum dan manggut-manggut.

Tak terasa waktu sudah semakin malam. Sekitar pukul sepuluh kami sudah berada kembali di rumah. Saya menyempatkan untuk mengecek berita di media sosial. Membantu menyebar info kelas literasi Paradigma Institute yang akan berlangsung esok harinya di danau Unhas, serta memposting foto kami saat sedang berada di Teras Baca Lembang-lembang magrib tadi.

 

Hari kedua

                Hari Ahad subuh kami bangun dengan perasaan segar meski menjelang tidur semalam, suara balapan motor cukup mengganggu pendengaran. Saya sempat membatin, bahkan di daerah pun anak-anak balapan sudah mulai menjamur. Laptop dan segala perlengkapan saya masukkan ke dalam tas dan memastikan tak ada benda penting yang terlupa.

Pukul delapan kurang sedikit kami berboncengan motor menuju lokasi desa Labbo, kecamatan Tompobulu yang berjarak kurang lebih satu jam perjalanan. Meskipun cuaca agak mendung namun hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk segera bertemu dengan warga desa yang sudah menanti di lokasi.

Perjalanan lagi-lagi sangat menyenangkan, selain hawanya yang sejuk, pemandangan sawah dan pantai kiri-kanan cukup menghibur mata di sepanjang jalan. Bantaeng di mata saya termasuk kota yang bersih. Petugas kebersihan nampak rajin menjalankan tugasnya meskipun itu hari libur. Sebelum tiba di desa Labbo kami melewati beberapa tempat seperti Banyorang, Ereng-ereng, dan lain-lain. Di Ereng-ereng kami mampir sebentar di Sudut Baca Al-Syifa asuhan suami isteri yang masih belia, Ahmad Rusaidi dan Elma Malewa. Namun berhubung waktu yang tidak memungkinkan untuk berlama-lama, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju kantor desa Labbo.

Kepala Desa menyambut dengan semringah. Beberapa warga sudah mulai berdatangan menduduki kursi-kursi yang telah disediakan. Oh iya, penggagas dan penyelenggara kegiatan ini adalah mahasiswa dan mahasiswi KKN dari Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjai. Dengan kesederhanaannya mereka mampu menggelar acara seminar yang bertema “Mendidik dengan Cinta” dan menghimpun warga khususnya ibu-ibu untuk hadir di Minggu pagi di aula kantor desa.

Kendati cuaca agak mendung,  warga yang datang kurang lebih berjumlah hampir 50 orang. Sebuah angka hadir untuk ukuran wilayah desa yang terhitung lumayan banyak. Mereka berasal dari beragam profesi. Ada ibu rumah tangga, ada guru, ada bidan, dan ada yang masih mahasiswa.

Acara dibuka oleh kepada desa yang selanjutnya diambil alih oleh adik-adik mahasiswa KKN. Berhubung di tempat yang sama sementara berlangsung pula kegiatan literasi untuk para pemuda warga di dusun yang berbeda, maka beliau tidak bisa berlama-lama berada di tengah kami saat itu dan memlih bergabung dengan warganya yang lain untuk mendengarkan pemaparan soal literasi yang saat itu dibawakan oleh kanda Sulhan Yusuf.

Seminar yang dimulai pada pukul sepuluh dengan penyajian materi yang dilanjutkan dengan diskusi masing-masing selama satu jam, berakhir pada pukul setengah satu siang. Beberapa pertanyaan yang terlontar saat sesi diskusi menunjukkan bahwa persoalan mendidik anak dengan baik tidak pernah ada habisnya. Masalah demi masalah muncul seiring tuntutan zaman yang berbeda pada setiap masanya. Namun satu hal yang pasti dan tak bisa ditawar-tawar adalah peran keluarga dan orangtua sangatlah penting di era sekarang. Orangtua tidak boleh berlepas tangan menyerahkan urusan pendidikan anak-anaknya pada sekolah atau lembaga pendidikan di luar sana. Karena orangtua dan keluarga adalah elemen penting dan merupakan peletak pondasi paling pertama yang akan terus mengawal perjalanan anak-anaknya hingga usia dewasa kelak.

Besar harapan saya pertemuan berikutnya masih akan tetap diadakan, agar pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan bisa terus tertanam dalam ingatan dan dipraktikkan dalam laku sehari-hari. Kita harus berjuang dan mengambil peran penting dalam mengawal generasi masa depan. Jika tidak, lingkungan di sekitarnya yang notabene banyak yang buruk akan memengaruhinya dengan cara yang tak terbayangkan.

Sepulang dari desa Labbo, kami mampir sekali lagi untuk berbincang lebih lama di Sudut Baca Al-Syifa, lanjut ziarah kubur di makam kedua orangtua kami di Ereng-ereng. Sorenya selepas istirahat beberapa saat di rumah, kami bertandang ke rumah sahabat yang lain, dinda Atte Shernylia untuk mengantar buku pesanannya. Beliau juga mengasuh taman baca di kediamannya, sepetak surga yang bernama Kolong Baca Lantebung. Rencana hanya mampir sebentar rupanya berujung pada obrolan seru yang panjang.

Menjelang magrib kami menuju pantai Lamalaka, dua gelas es kelapa muda menjadi sebab obrolan kami yang berseri sejak hari pertama. Malam itu ditutup dengan kunjungan ke rumah om dan tante di Tompong yang sudah pensiun. Cerita nostalgia mampu membuat mereka lupa waktu untuk mengakhiri obrolan malam itu. Masa-masa mereka masih muda, saat menjadi guru dan pengurus organisasi kepemudaan semakin menyalakan semangat hidupnya. Rasanya jika tidak kami akhiri di jarum penunjuk angka sembilan, maka nampaknya kisah nostalgia itu akan semakin menemukan jalannya.

Pulang ke kediaman akhirnya menjadi pilihan tepat malam itu. Beristirahat memulihkan tenaga untuk siap kembali ke Makassar keesokan paginya. Bantaeng, desa Labbo, Ereng-ereng,  dan desa-desa lainnya, tunggu kahadiran kami kembali.

 

 

 

 

 

Berkencan dengan Serambi Baca Tau Macca Loka

Ada satu yang sering sulit saya elakkan, tatkala ada urita aktifitas literasi di suatu tempat. Apatah lagi, jika lokasinya masih dalam jangkauan saya, semisal di kampung halaman, Butta Toa Bantaeng. Muasal ceritanya kali ini, gegara postingan gambar di facebook, oleh Rahmat Ikhtiar, yang mengabarkan satu tempat, berupa serambi rumah yang difungsikan sebagai tempat mengaji, sekaligus sebentuk ruang baca. Dari postingan itu, ada pesan yang disampaikan, bahwa wadahnya sudah ada, yang kemudian amat dibutuhkan adalah buku-buku, khususnya buku anak-anak.

Postingan yang diuar itu, kalau tidak salah ingat, sekira bulan Nopember 2016. Saya pun langsung berkontak ria dengan Rahmat Ikhtiar, yang kesehariannya adalah polisi yang bertugas di Kecamatan Ulu Ere Bantaeng. Komunikasi saya denganya cukup lancar, mengingat bahwa sering berinteraksi, tepatnya tatkala ia juga merupakan relawan pengajar di Kelas Inspirasi Bantaeng, yang hingga kini, saya masih koordinatornya. Dari komunikasi inilah, saya kemudian menyatakan janji untuk bertandang, kelak nanti.

Sekira tiga pekan setelah saya utarakan janji, saya mencoba untuk menunaikan janji itu. Saya ajaklah Dion Syaef Sain, pengelola Teras  Baca Lembang-Lembang, buat jalan bersama ke Loka. Tapi, apa lacur, Dion sakit, maka saya pun berinisiatif untuk berangkat sendiri. Sialnya, belum separuh perjalanan, barulah pada tanjakan-tanjakan pemula perjalanan, rantainya motor yang saya pakai terlepas. Setelah saya timbang-timbang, akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, sebab makin jauh jarak tempuh, tanjakan pun makin meninggi. Soalnya daerah Loka ini berada di ketinggian pegunungan. Saya pun balik, dan memasang kuda-kuda untuk merancang jadwal kunjungan.

***

Berikutnya, tibalah masa yang saya nanti. Tidak ada yang kebetulan, semesta menggelombangkan resonansinya, sehingga bertemulah waktu yang seolah kebetulan. Betapa tidak, Dion mendapat undangan bincang-bincang seni budaya di Loka, yang diselenggarakan KNPI Kec. Ulu Ere, yang diketuai oleh Mahmuddin Stiven. Acara ini digelar sebagai program akhir tahun. Bertepatan dengan hari Sabtu, 31 Desember 2016, sekira pukul 11.00 jelang siang, saya berboncengan motor dengan Dion ke Loka. Tentulah dia yang pegang setir,  saya duduk manis saja di boncegannya. Selama perjalanan, hujan ikut turun menderas, seolah mendaras bumi. Hujan senantiasa ingin jalan beriring, kadang di depan, kadang pula di belakang. Namun, ketika bersamaan, kami pun singgah berteduh.

Kurang lebih 2 jam waktu yang saya mangsa selama mengikuti persamuhan KNPI itu. Pada acara ini, ada panel diskusi, yang menghadirkan Gusti (Ketua KNPI Bantaeng), Dion (Pegiat Seni), dan saya sendiri selaku pegiat literasi. Tema yang dibincangkan seputar potensi kaum muda, dan tantangan yang dihadapinya. Diskusinya amat dinamis, dan saya saat itu mengusulkan agar KNPI Bantaeng, ikut serta mendorong gerakan literasi di Bantaeng, paling tidak ada ruang baca di sekretariatnya, sebagai bentuk pengaktifan kembali taman baca yang pernah ada, sebelum gedung sekretariatnya direnovasi. Dan, di forum ini pula, hadir sepasang suami istri, Rahman dan Erni, yang ingin membikin sejenis perpustakaan di desanya. Ajaibnya, ketika tulisan ini saya bikin, rupanya, sudah lahir ruang baca itu, yang mereka namakan Taruna Baca Sipakalabbiri Bonto Daeng. Saya belum menandanginya, baru sebatas lihat postingan aktifitas awalnya di facebook. Pastilah, agenda berikut bakal dapat giliran untuk disambangi.

Usai acara bincang-bincang di KNPI Ulu Ere, saya bersama Dion, pun menyambangi Serambi Baca Tau Macca Loka, yang pekan sebelumnya telah dilaunching keberadaannya. Dari kabar yang saya pantau di facebook, acara peluncuran ini dihadiri oleh Poni Gassing, unsur Dinas Perpustakaan Bantaeng, beberapa pegiat dari gerakan 1001 Buku, dan sekaum muda inisiator. Dari bincang-bincang saya dengan pengelola, yang sekaligus serambi rumahnya menjadi tempat bertenggernya Serambi Baca ini, Abi Pasker, saya mendapatkan info banyak tentang mulai dari motif pendirian, hingga aneka kebutuhan pelengkap bacaan. Dari sekitar pukul 17.00, sampai 18.00, tidak terasa lamanya perbincangan. Apatah lagi, perbincangan menjadi lebih hangat, karena dilengkapi dengan kopi panas, yang segera menjadi hangat karena cuaca dingin mulai merasuk raga.

Setelah tunaikan shalat Magrib, saya dan Dion pamit pulang ke kota. Sepanjang perjalanan, aura pesta pergantian tahun mulai terasa. Bahkan, hingga di pelosok pun acara menanti pergantian tahun, disambut dengan berbagai macam perhelatan. Habis melunaskan kewajiban shalat Isya, saya merapat ke tempatnya Dion, yang sekaligus sebagai markasnya Teras Baca Lembang-Lembang. Di tempat ini pula, acapkali anak-anak Komplen, sebuah komuitas pegiat seni, berkumpul. Dan, di malam tahun baru 2017 ini, saya menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Ada acara ngobrol, nyanyi-nyanyi, dan makan-makan nasi santan-ayam bakar. Tidak ada resolusi bersama malam itu, namun secara personal, saya menancapkan janji, akan kembali berkencan dengan Serambi Baca Tau Macca Loka.

***

Rindu yang membuncah untuk mengencani Serambi Baca Tau Macca Loka, benar-benar sudah di ubun-ubun. Pekan pertama Februari 2017, tepatnya hari Sabtu, sekira pukul 10.00 pagi, saya dan Dion meluncur ke Loka. Perjalanan kali ini mulus, tidak ada hujan yang mengiringi, hanya sesekali tiupan angin yang agak kencang. Saya sengaja tidak memberi tahu sang pengelola, Abi Pasker. Soalnya, saya ingin datang begitu saja, apa adanya. Ini sejenis sidak, biar bisa menangkap keautentikan suasana, persis seperti kunjungan perdana, alamiah. Betul saja, dengan keramahan tuan rumah, segalanya menjadi beriang, aura bahagia meluap-luap. Saya lalu menyerahkan sekantong buku anak-anak, yang merupakan wakaf untuk Serambi Baca.

Sesarinya, saya membawa dua kantong buku, yang satunya lagi saya peruntukkan untuk Serambi Baca Bonto Lojong, yang jaraknya setempuh 3 km dari Loka. Jadi, ada kembarannya Serambi Baca yang di Loka ini, berlokasi di desa Bonto Lojong. Saya sedari awal sudah meniatkan bakal melanjutkan perjalanan ke sana, tapi karena sang pembonceng, Dion, agak kurang fit. Akhirnya, rencana ke Bonto Lojong dipendam dulu, nanti dapat giliran berikutnya. Tapi, sekantong buku itu, saya sudah titip di Loka. Dan, esok harinya, telah diantar oleh Abi ke Bonto Lojong. Sebelum balik, saya sampaikan pada Abi, bahwa akan waktu khusus untuk bersama-sama ke Bonto Lojong, menyambangi sang kembaran. Sekira pukul 13.30, saya dan Dion izin pamit pulang. Ada senyum bahagia menandai perpisahan kami. Sekantong buah advokat buat kami dari tuan rumah, adalah penanda lainnya.

Bencana Neoliberalisme di Boetta Toa dan Maulid Akhir Tahun

Seorang ibu berbadan gempal masuk ke bilik kamar, tidak berapa lama dia keluar dan menenteng beberapa bungkus kantungan hitam. Tanpa pikir panjang, bungkusan itu dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang beranjak pulang.

Saya yang duduk tak jauh dari pintu masuk, sudah tahu isi kantungan itu. Saya hanya menatap peristiwa itu sebagai bagian dari tradisi yang selama ini ditemukan ketika merayakan kelahiran nabi terakhir.

Peristiwa itu menandai merayakan Maulid Nabi adalah suatu cara untuk berbagi kebahagiaan, berbagi berkah. Sokko, makanan yang terbuat dari beras ketan itu tidak semata-mata tanda biologis belaka, melainkan sebagai simbol silaturahim. Suatu tanda umat Muhammad mengikat kembali simpul-simpul kekerabatan.

Begitulah, malam itu saya berkesempatan ikut merayakan hari kelahiran baginda Rasulullah di kediaman Sulhan Yusuf, di Bantaeng. Setelah sebelumnya kami melantunkan syair puja-pujian atas kelahiran manusia suci berabad-abad lalu.

“Saya ingin mengembalikkaan tradisi Barasanji ke rumah-rumah,” ucap Sulhan Yusuf sebelum acara dimulai.

“Sekarang tradisi Maulid sudah banyak berubah ketika dirayakan oleh institusi-institusi formal.”

Begitulah petikan obrolan yang masih sempat saya ingat.

Malam itu beberapa orang belum beranjak pulang. Di antaranya duduk  berdiskusi menyambung perbincangan siang tadi, sambil menyalakan rokok. Selang berapa lama senampan gelas berisikan sarebba dibawa Sulhan Yusuf dari bilik belakang. Di tangan kanannya masih ada setengah ceret persediaan ketika sewaktu-waktu ada yang meminta tambah.

Saya hanya ikut mendengar diskusi yang berlangsung alot. Sembari menahan kantuk merebahkan badan di dinding rumah. Tidak lama berselang, Javid, satu-satunya anak lelaki Sulhan Yusuf datang menghampiri.

“Masih ada Sarebba, Abi?”

***

Inti dari dialog itu saya kira seperti yang dikemukakan Mahbub di akhir diskusi sore yang mendung. Kedaulatan dan kemandirian negara menjadi poin penting dari telikungan neoliberalisme. Tanpa itu, kehadiran negara hanya menjadi kaki-tangan dari agenda-agenda neoliberal selama ini.

Negara, intrumen kekuasaan yang sejatinya harus berdaulat, ketika berhadapan dengan neoliberalisme, mesti mendahulukan kepentingan warga negaranya dibanding kekuasaan pasar yang sering kali banyak merinsek masuk mengguyah tatanan kenegaraan.

Itulah sebabnya di bawah kebijakan liberalisasi, swastanisasi, dan privatisasi yang menjadi prinsip kerja neoliberalisme, negara harus mampu mengelola kebijakannya tanpa harus kehilangan kendali atasnya. Itu artinya, di hadapan pasar sebagai satu-satunya kekuatan ekonomi selama ini, politik kenegaraan penting bagi negara-negara yang ingin membangun kemandirian.

Agenda besar konsep neoliberal sesuai dengan Konsesus Washington, dirumuskan John Williamson di tahun1989. Konsensus Washington bertujuan sebagai mekanisme reformasi bagi negara berkembang jika ingin menyetarakan diri seperti negara-negara maju.

Konsesus ini melahirkan 10 item agenda besar liberalisasi ekonomi. Pertama, disiplin anggaran pemerintah (ingat kebijakan perdana, menteri keuangan Sri Mulyani ketika resmi bergabung di Kabinet Kerja Jokowi-JK!). Kedua, pengerahan pengeluaran pemerintah dari subsidi ke belanja sektor publik, terutama sektor pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan (ini yang menjelaskan mengapa institusi pendidikan diarahkan seperti pengelolahan swasta). Ketiga, reformasi pajak.

Keempat dan enam item lainnya berturut-turut: tingkat bunga yang ditentukan pasar dan harus dijaga positif secara ril, nilai tukar yang kompetitif, liberalisasi pasar, perlakuan yang sama antara investor asing dan domestik untuk menarik investasi asing, privatisasi BUMN, deregulasi aturan main pelaku pasar, dan keamanan legal bagi hak kepemilikan.

Ciri khas konsep neoliberal adalah mengusung ide pasar bebas, tetapi bukan berarti persaingan yang tercipta di pasar berlangsung secara bebas. Dengan kata lain, kebebasan ekonomi yang terjadi adalah kebebasan bagi korporasi bukan bagi masyarakat.

Itu sebabnya, senjata neoliberalisme dalam merealisasikan agenda besarnya yang menjadi item liberalisasi menggunakan kekuatan aktor utamanya yaitu IMF, WTO, dan Bank Dunia.

Melalui tiga lembaga internasional ini agenda neoliberal kerap membangun “hubungan kemanusiaan” terhadap negara dunia berkembang berupa bantuan program-program pemberdayaan demi pemerataan ekonomi dunia. Walaupun dengan dalih pemerataan ekonomi, tetap saja pemerataan yang dimaksud adalah keuntungan kapital bagi kepentingan negara-negara maju.

Kira-kira begitulah diskursus yang berkembang dalam dialog akhir tahun oleh Boetta Ilmu-Rumah Pengetahuan. Komunitas yang berdomisi di Bantaeng ini, sengaja mengakhiri akhir 2016 dengan mengundang beberapa elemen masyarakat Bantaeng di bawah tajuk Dialog Akhir Tahun, Persembahan Akhir Tahun.

Saya mendapat kesempatan mewakili Paradigma Institute Makassar menjadi pemantik selain Mahbub Emha Alahyar, direktur Bonthain Institute Bantaeng.

Dialog ini merujuk kepada buku Petaka Neoliberalisme: Membongkar Proyek Pembangunan Sosial Sebagai Kuda Troya Neoliberal yang sengaja dibedah di Balla Lompoa Letta.

Di sela-sela persiapan acara, Sulhan Yusuf mengemukakan kegiatan seperti ini akan rutin dilakukan setiap bulan. Ketika berdiskusi di teras rumahnya, Sulhan berharap, Boetta Ilmoe, komunitas yang dirawatnya bersama pemuda-pemudi Bantaeng, bisa menjadi wadah tempat semua orang bertukar pikiran, membangun silaturahmi pemikiran.

“Saya ingin Boetta Ilmoe jadi semacam tempat kembali pegiat sosial Banteng, untuk membesarkan masyarakat Bantaeng.” Ungkap Sulhan Yusuf.

Saya kira, komunitas semacam ini yang perlu dilipatduakan, semacam rumah pemikiran, ruang bersama tempat segala kepentingan didialogkan. Kemudian merumuskan suatu program yang memiliki visi memajukan daerah tanpa harus kehilangan lokalitasnya.

“Barangkali ada maksud mengapa kita melakukan kegiatan ini di Balla Lompoa? Mungkin ingin menegaskan bahwa kebudayaan adalah benteng terakhir segala ancaman yang berbau neoliberal.” Begitu kira-kira suatu ucapaan salah satu peserta kala diskusi berlangsung.

“Saya berharap ruang publik di Bantaeng dimanfaatkan Boetta Ilmoe untuk kegiatan seperti tadi itu (dialog publik), itulah sebabnya mengapa Balla Lompoa yang dipilih sebagai tempat kegiatan.” Beber Sulhan Yusuf  sebelum beranjak shalat Magrib.

Ruang publik memang, juga menjadi arena yang sarat persitegangan. Era kiwari, tempat-tempat umum menjadi ruang eksterior yang menyuplai hasrat hedonistik masyarakat. Imbasnya, jamak ditemui ruang publik malah menjadi arena pertukaran modal tinimbang gagasan.

Kapitalisasi ruang semacam inilah yang mesti dialihmaknakan setiap komunitas berbasis gagasan dan gerakan, menjadikan ruang publik semata-mata ruang diskursif. Ini penting dikarenakan seharusnya ruang publik menjadi media masyarakat untuk meningkatkan dimensi interiornya dibanding eksteriornya. Dengan begitu, ruang publik hadir untuk  mengangkat dan mewarisi “pengetahuan lintas generasi” yang menjadi pembatinan kolektif masyarakat.

Jika merujuk kepada Pierre Bourdieu, sosiolog Perancis, masyarakat adalah aktor yang memiliki perangkat episteme, dan paling memungkinkan merebut dan menciptakan ruang antara yang dimediasi habitus.

Dengan kata lain, habitus yang diciptakan masyarakat memungkinkan setiap aktor memiliki kewenangan yang sama mendaur ulang setiap modal sosial yang dimiliki demi peningkatan kapasitas pemahaman masyarakat itu sendiri.

Syahdan, ruang publik di mana pun mesti diterjemahkan ulang berdasarkan kerangka kerja berbasis “pencerahan” dan “pergerakan” seperti yang menjadi tujuan utamanya, yakni menggerakkan gagasan dan wacana

***

“Buku ini memiliki satu kekurangan, tidak jelas memaparkan apa petaka dari neoliberalisme itu sesungguhnya,” Mahbub membeberkan kekurangan buku yang diacungkan tangan kirinya. Di hadapannya, peserta dialog nampak serius menunggu petaka macam apa yang ingin dijelaskan pria murah senyum ini.

Saya yang duduk di sampingnya dibuat kaget. Bergegas bersiap mencatat enam petaka neoliberal yang disebutkan Mahbub secara lantang:

Pertama. Disebut bencana akibat neoliberalisme merusak tatanan alam berpikir bangsa. Ketika ideologi berbangsa dirusak dengan semangat individualisme. Jika cara memahami dunia diperantai dengan cara pandang yang menjunjung kebebasan moral.

Kedua. Menghancurkan kedaulatan dan kemandirian bangsa. Ketergantungan secara ekonomi bagi negara berkembang terhadap negara maju berimbas kepada pudarnya kedaulatan dan kemandirian. Situasi ini sudah dimulai dari era Orde Baru hingga sekarang dengan warisan hutang yang semakin hari semakin bertambah.

Ketiga. Petaka neoliberalisme ditandai dengan dikeruknya aset-aset negara berupa sumber daya alam ataupun aset-aset kekayaan lainnya.

Agenda utama neoliberalisme dalam privatisasi aset-aset merupakan cara menguasai kekayaan Indonesia. Periode 1991 – 2001 pemerintah Indonesia 14 kali memprivatisasi BUMN dengan jumlah 12 BUMN yang diprivatisasi. Periode 2001-2006 pemerintah juga 14 kali memprivatisasi BUMN dengan 10 BUMN yang diprivatisasi. Pada tahun 2007 pemerintah melalui Komite Privatisasi memutuskan untuk memprivatisasi 34 BUMN dan melanjutkan privatisasi 3 BUMN yang tertunda pada tahun2007 sehingga total BUMN yang diprivatisasi sebanyak 37 (www.jurnal-ekonomi.org).

Keempat, dan dua petaka lainnya yaitu: Semakin banyaknya kaum miskin, pengangguran dan lapangan kerja yang kompetitif, hancurnya tatanan moral dan sosial yang ditandai dengan cara hidup hedonistik dan korup, dan generasi muda yang bodoh dan apatis akibat kebijakan pendidikan yang tidak berpihak kepada golongan kelas bawah.

***

“Mohon maaf karena saya terlambat menghadiri kegiatan ini,” suara seorang perempuan remaja ketika diberikan kesempatan terakhir untuk bertanya, “saya tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan tadi, tapi kenapa dari tadi disebutkan jika Indonesia selalu peringkat nomor dua dari bawah?”

Saya tidak tahu berdasarkan kriteria dan segi apa Indonesia mengalami urutan terbawah dari pertanyaan anak SMA perempuan itu. Tapi, seperti yang saya rasakan, menjawab rasa keingintahuan dari anak ini, tidak sesederhana yang dibayangkan.

Begitulah, pertanyaan itu dibiarkan tidak terjawab. Di akhir penutup acara, Sulhan Yusuf berpesan jika pertanyaan siswi perempuan itu harus ditindaklanjuti melalui grup Boetta Ilmoe via facebook.

Tak lama berselang, sore berlahan-lahan berubah gelap. Masjid-masjid berkumandang. Magrib telah tiba.

Komplen dan Literasi

“Andai kota itu peradaban, rumah kami adalah budaya, dan menurut ibu, tiang sarinya adalah agama.”  (Faisal Tehrani).

Penabalan tutur dari Faisal Tehrani, seorang pengarang di bidang fiksi-sastra: cerpen, puisi, dan naskah drama, berkebangsaan Malaysia di atas, menutup sajian foto-foto dan testimoni dari masyarakat sekitar, yang dipancarkan pada layar slight, menandai satu dekade perjalanan sekaum pegiat seni-budaya, yang bernama Komplen (Komunitas Pakampong Tulen) di Butta Toa, Kabupaten Bantaeng. Saya amat tergetar dengan penggalan tutur itu, seolah kejatuhan sabda dari langit.

Malam Jum’at, 3 November 2016, sekira pukul 20.00, genderang peringatan satu dekade Komplen, sebagai komunitas yang banyak bergiat di ruang seni-budaya, mulai ditabuh. Menu ganrang bulo, sejenis tari yang dimainkan oleh bocah-bocah lelaki, yang diringi permainan gendang yang atraktif, lalu dilanjutkan dengan tari Pakarena, yang amat gemulai dibawakan oleh anak belia perempuan, menandai acara dimulai. Dan, setelahnya, sekumpulan cilik perempuan, berpuisi dan bernyanyi tentang arti persahabatan, buah karya sendiri yang berjudul Sahabat. Tak ketinggalan, tiga orang remaja putri-pelajar, menembangkan sebuah lagu, Cermin Retak, yang merupakan adaptasi dari puisi Aspar Paturusi.  Para bocah lelaki, cilik dan belia perempuan, serta remaja itu, adalah anak-anak yang kesehariannya bergumul di Teras Baca Lembang-Lembang.

Kiprah Komplen yang sudah lebih satu dekade, terbentuk 25 Juli 2005, kini telah mewujud menjadi tiga tingkatan generasi. Ada Komplen Senior, Junior dan Cilik. Bahkan, Komplen Balita pun nampaknya sudah ada. Pasalnya, di Teras Baca Lembang-Lembang, sebagai markas utamanya, sering hadir balita-balita, yang dibawa oleh para Amma (Ibu), yang tiada lain adalah orang tua dari para pegiat di Komplen. Memang, sejak teras rumahnya Tata’ Pare’ (Syaifuddin Baharu), seorang guru mengaji, difungsikan menjadi Teras Baca, maka nilai gunanya, menjadi sentrum berbagai aktivitas, baik anak-anak Komplen sendiri, maupun para tetuanya.

Tata’ Pare” sendiri, tiada lain adalah ayah dari Baharuddin, namun lebih populer dengan panggilan Dion Syaif Saen. Dan, Dion sendiri merupakan pendiri sekaligus pentolan utama, bersama Khaidir Tumphaka, Ince Bantayank, Jamhari Alfa, Wawan dan Rosdalifha sebagai generasi awal Komplen, yang kemudian disebut Komplen Senior. Dari mereka inilah, fondasi Komplen dalam berkesenian terburai, dalam berbagai bentuk, semisal: mencipta lagu, bermain drama, monolog, berpuisi, tari, pantomim dan bentuk kesenian lainnya.

Sehingga, tidak mengherankan, tatkala peringatan satu dekade ini, anasir-anasir berkesenian yang utuh, ditampilkan dengan apik, sebagai penegasan akan jati diri sebagai suatu komunitas. Makanya, sehabis menu tari, puisi dan pantomim, segeralah tersajikan menu utama, dalam bentuk sajian tembang-tembang balada, yang merupakan karya cipta sendiri. Perlu dicatat, bahwa selama Komplen eksis, telah menelurkan lebih dari 20 judul lagu. Dari lagu-lagu itu, yang sempat disajikan, diantaranya: Aku Mutiara Anak Bangsa (2000), Lestari Alamku (2005), Jelang Malam (2006), Narkotika (2006), Bunga Kehidupan (2007), Seandainya 1 (2007), Seandainya 2 (2008), Kemarin Membohongi Kami (2008), Ammaku (2010), Patinro Anak (2010), Tentang Kita (2011), dan Perempuan Matahari (2013).

Selain lagu yang syairnya dibikin sendiri, juga melakukan musikalisasi puisi, dalam pengertian, syairnya diambil dari para penyair, seperti puisi-puisi Muhary Wahyu Nurba , Ibu, Tidurlah dan beberapa lagi, serta dari Aspar Paturusi, Cermin Retak (2016), yang penyair-penyair itu, tiada lain adalah penyair terdepan dari tanah Sulawesi. Dan, selain itu, mencipta lagu pula, yang didedikasikan buat lagu kebesaran komunitas literasi Boetta Ilmoe Bantaeng, Membacalah-Menulislah, dan lagu Kelas Inspirasi Bantaeng 1,2,3, yang syair-syairnya disumbangkan oleh pegiat literasi dan Kelas Inspirasi Bantaeng.

Tanpa mengabaikan personil yang lain, Dion merupakan personil yang cukup produktif mengarang lagu. Semua lagu Komplen, ada jejak jiwanya di situ, waima ada beberapa lagu dibuat bersama, terutama dalam arasemennya. Dan, buat perhelatan satu dekade ini, semua lagu yang ditampilkan, sepertinya diaresemen ulang oleh para pentolan Komplen Junior, di antaranya: Ashok, Ippank, Baddu, Aldi dan Iccang, serta mendapat dukungan penuh dari teman segenerasinya. Bahkan, kepanitiaan perhelatan kali ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari Komplen Junior.

Bagi saya selaku pegiat literasi, merasa beruntung sekali bersua dengan komunitas ini. Seingat saya, pertemuan perdana dengan Komplen, dalam artian sebagai pementas, ketika saya dan kawan-kawan di Komunitas Hijau Hitam Makasar, menggelar acara reuni, tahun 2009. Kala itu, pemanggung yang kami ajak adalah Komplen dari Bantaeng. Dan, ternyata kemudian, beberapa personilnya, saya kenal baik, soalnya satu kampung. Dari mula inilah, perkawanan saya berlanjut, hingga saya dan beberapa kawan mendirikan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, serupa dengan komunitas literasi di Bantaeng. Hal mana, kawan-kawan kemudian mendapuk Dion selaku kepala suku komunitas Boetta Ilmoe, yang dalam perkembangannya, amat signifikan menggerakkan tradisi literasi di Bantaeng.

Dion sendiri selaku salah seorang motor terdepan Komplen, punya tradisi literasi yang kuat. Bukan saja dalam mengarang syair-syair lagu buat Komplen, tetapi juga sangat telaten dalam menulis puisi dan narasi-narasi yang menggetarkan jiwa. Dan terbuktilah di momentum berikutnya, tatkala Boetta Ilmoe mengumpulkan lalu menerbitkan, syair dan narasinya menjadi satu buah buku, yang bernuansa prosa liris, dengan judul, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2011), yang sewaktu diluncurkan, dirayakan dengan penuh nuansa pementasan.

Momentum peluncuran buku ini, menandakan sebuah pertemuan antara gerakan literasi dan berkesenian plus berkebudayaan, yang muaranya kemudian menemukan buah cintanya, dalam bentuk Teras baca Lembang-Lembang. Sebab, perlu dicatat, bahwa Teras Baca Lembang-Lembang, serupa dengan hasil persetubuhan antara Komplen selaku komunitas seni-budaya dan Boetta Ilmoe sebagai komunitas literasi. Maka benarlah apa yang ditabalkan oleh Gola Gong dalam bukunya, Gempa Literasi, bahwa gerakan literasi yang paling mutakhir, bisa berwujud sinerginya dengan berbagai komunitas, termasuk ikon budaya pop.

Di waktu kiwari ini, telah satu dekade kehadiran Komplen, makin menarik untuk ditelisik lebih jauh ke dalam sari dirinya. Pasalnya, komunitas ini unik, kalau bukan aneh, dikarenakan dari segi latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi jamaahnya, beraneka ragam. Ada yang tidak tamat sekolah dasar, hingga sarjana berbaur tidak ada jarak perbedaan. Dari pegawai negeri sipil, tukang batu, tukang becak, penggali pasir, sampai yang serabutan pekerjaannya, semuanya menyatu tak berkelas. Di sini, pada Komplen, semangat egalitarianisme dijunjung setinggi langit dan kebersamaan dalam spirit altruisme, dipijak sekuat tanah untuk berdiri. Dan, ini tercermin dalam logonya, yang sangat sederhana, hanya berupa tiga titik air, yang maknanya, mengalir seperti air dalam hitungan. Bagi mereka, hitungan itu, hanyalah satu, dua, tiga, maka jadilah, dan kalau tidak jadi kembali ke hitungan satu, karena Komplen tidak mengenal angka empat.

Saya yang hadir pada malam satu dekade Komplen itu, pun oleh mereka diminta untuk memberikan testimoni. Karenanya, saya pun menghentakkan pidato, bahwa Komplen adalah aset daerah, telah menjadi aset Kabupaten Bantaeng. Seyogyanya, marilah menjaganya secara bersama-sama. Baik selaku pemerintah daerah maupun selaku masyarakat Bantaeng. Lebih dari itu, hendaknya Komplen tidak perlu diberikan program-program yang berbau proyek, sebab mereka tidak mahir mengelolah proyek. Pun, janganlah Komplen ditarik ke arena politik praktis, yang cukup sering digalang oleh para politisi, sebab Komplen merupakan komunitas yang tidak pandai bermain politik praktis. Selanjutnya, komplen mesti dipagari oleh kaum agamawan, sebab jangan sampai suatu saat, Komplen diberi stigma sebagai kelompok yang mengumbar hasrat duniawi karena berkesenian, sebab tidak sedikit paham keagamaan yang berkembang belakangan ini, kerjanya menjadi tukang semat bid’ah.

Mengapa demikian? Sebab seperti yang dibilang Faisal Tehrani, yang saya nukilkan di awal tulisan ini, sepertinya amat cocok meletakkan Komplen di dalamnya. Bagi Komplen, seni-budaya adalah rumahnya, dan sari tiangnya adalah agama. Meski kelihatan lahiriahnya anak-anak komplen, sepertinya lebih unik ketimbang masyarakat pada umumnya, tetapi mereka amat berbudaya, bahkan ikut mengusung nilai-nilai budaya. Walau penampakannya seolah urakan, namun mereka adalah anak-anak yang lahir dari rahim sosial keagamaan yang taat.

 

 

 

 

Menggosipkan Buku

Kampus adalah medan perang, yakni memerangi kebodohan untuk mewujudkan mahasiswa yang cemerlang, dan generasi yang memiliki ciri intelektualitas tinggi. Jika sebagai prajurit di medan laga peperangan anggota militer, senjata yang digunakan adalah pistol, senapan, dan senjata api lainnya, untuk menegakkan keamanan rakyat, maka sudah selayaknya seorang mahasiswa menjadikan buku, pena, dan laptop sebagai senjata untuk berlaga di “medan perangnya” yang bernama kampus.

Komitmen yang kuat tentu sangat diperlukan dalam suatu pertempuran untuk memperoleh hasil yang baik. Demikian pula bagi seorang mahasiswa dalam membatinkan komitmennya, untuk selalu mendekatkan bahkan mencintai “alat tempurnya”. Hal tersebut tentu sangat diharapkan agar generasi yang dicita-citakan, bisa terwujud melalui cetakan-cetakan kampus. Mengingat hal itu, turut andil dalam menanamkan komitmen, tentulah tidak hanya sekadar memperkenalkan melalui nasehat dan imbauan lisan, tetapi ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada komitmen yang akan dibangun.

Salah satu forum yang mendukung pada peneguhan komitmen itu adalah forum bedah buku, yang sudah beberapa pekan hadir di tengah-tengah mahasiswa. Forum ini biasa juga dikenal dengan istilah yang lebih gaul ala generasi kekinian, sebagai ajang pertemuan “Ngegosip Buku”. Di mana tokoh penggeraknya adalah Muchniart AZ dan saya sendiri. Forum tersebut rutin dilaksanakan satu kali dalam sepekan, tepatnya pada pukul 13.00-15.00 wita. Adapun hari dan tempat pelaksanaannya sampai detik ini cukup fleksibel atau berdasarkan kesepakatan setiap pertemuan. Hal tersebut kami putuskan agar forum ini bisa melakukan penyesuaian, dengan jadwal perkuliahan dan tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh mahasiswa dari beberapa kampus.

Selaku pengelola forum ini, sehari sebelum jadwal pertemuan dilaksanakan, saya terlebih dahulu akan mengingatkan teman-teman, dengan menginformasikannya melalui akun saya di media sosial. Pengamatan saya selama pertemuan ini diadakan, beberapa wajah baru bermunculan dan menunjukkan semangatnya untuk belajar. Tampaklah pesona kebahagiaan di wajah kami dengan melihat respon positif dari adik-adik mahasiswa.

14344115_1327485310597700_6026070192256458139_n

Pertemuan Ngegosip Buku yang kami selenggarakan pada dasarnya adalah titik balik dari pencitraan atau makna gosip, yang selama ini nyaring terdengar sebagai hal yang negatif, dan mayoritas dilakukan oleh kaum perempuan, bahwa di era perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan yang tumbuh pesat, buku menjadi objek yang sangat seksi untuk diperbincangkan, dan perempuan harus tampil sebagai subjek yang terampil dalam memposisikan diri, serta turut andil di dalamnya. Sehingga dalam pertemuan Ngegosip Buku yang diselenggarakan, mahasiswa perempuan menjadi prioritas.

Forum yang masih terbilang seumuran jangung ini, kami lakukan dengan desain yang sangat sederhana dan santai. Di mana setiap pertemuan akan membedah satu buku yang “bernafaskan” feminitas, sebagaimana beberapa buku yang telah menjadi bahan gosip di forum tersebut, yakni Marriage With Heart, Perempuan dan Ketidakadilan Sosial, Feminisme untuk Pemula, dan Perempuan di Titik Nol. Beberapa buku yang telah dibedah ini mengangkat cerita seputar kehidupan tentang perempuan, mulai dari kehidupan privat hingga ruang publik, yang tidak jarang diteropong dari sudut pandang budaya, agama, sejarah dan pesan-pesan hikmah yang diangkat dari kisah tokoh klasik.

Sebagai tantangan dari pertemuan Ngegosip Buku, setiap peserta akan mendapatkan giliran membedah buku yang disepakati, termasuk saya dan kak Muchniart. Para pembedah pun wajib menuliskan hasil diskusi atau pertemuan Ngegosip Buku, dan menyebarluaskannya di media sosial, sebagai bentuk penyebaran virus-virus ngegosip positif dalam skala yang lebih luas. Tentunya hal ini juga diniatkan, media sosial menjadi “tabung jejak”, Dalam upaya meningkatkan kualitas mahasiswa melalui gerakan literasi. Langkah yang ditempuh dalam pertemuan ini memang cukup sederhana, tetapi tidak menutup kemungkinan perjalanan ke depannya akan mengalami perkembangan, dan perubahan untuk efisiensi dan efektivitas forum pembelajaran selanjutnya.

Hal lain penting yang menjadi harapan kami, serangkaian aktivitas dalam pertemuan Ngegosip Buku ini, menjadi tahap pengenalan wacana tentang perempuan, sekaligus bagian dari agenda gerakan literasi yang membumi dalam dunia mahasiswa. Sehingga, segala persoalan dan wacana terkait perempuan, akan menjadi target kajian utama, mulai dari hal yang mendasar sebagai pemenuhan kebutuhan peserta.

Melalui medan ini pula, kami dapat terus belajar bersama untuk melatih diri secara terbuka berpendapat, dan berargumentasi berdasarkan referensi yang jelas. Terkhusus bagi mahasiswa, proses ini dapat menjadi pembelajaran bagi mereka, untuk menjalankan fungsi kemahasiswaannya sejak dini sebagai agent of change, dengan bekal mencintai buku dan menjadi pengusung gerakan literasi. Bukan hal yang tidak mungkin, di balik aktivitas yang sangat sederhana ini, akan memberi sumbangsih untuk menutup “kran” mahasiswa yang lahir dari produk-produk instan, melalui prosesnya yang step by step.

Demikianlah kami mengukuhkan harapan besar ini dalam perjalanan panjang pertemuan sederhana, berkumpul di saat terik matahari terang memancar, dan kembali ke peraduan masing-masing di kala matahari mulai mengatupkan kelopak cahayanya.

Ibn ‘Arabi, Para Pencari Ilmu, dan Suatu Rasa Bersalah

Di ruang berisikan puluhan meja dan kursi itu, peserta diskusi tengah duduk santai, sambil menikmati sajian kopi dan fasilitas internet. Saya datang terlambat. Dan entah mengapa, setelah sampai di warkop itu saya merasa gugup. Saya tak seperti biasanya.

Mungkin karena materi yang dibebankan oleh Yusri, owner dari warkop yang bernama Be Smart Coffee itu, membuatku seperti ciut sendiri. Bayangkan, saya harus mengulas pemikiran Ibn ‘Arabi, meski hanya pengantar saja. Dan kita tahu, pemikiran Ibn ‘Arabi begitu rumit, tak sederhana yang kita bayangkan. Tapi saya pikir, ini tugas intelektual yang harus saya emban. Saya hanya memilih mensiasati diskusi ini dengan mengutarakan apa yang saya tahu, dan tidak mengutarakan, atau tidak asal ngomong dari apa yang saya tidak tahu tentang percik pemikirannya.

Soal tugas intelektual, bagi saya adalah “barang” yang tak bisa ditawar-tawar. Justru karena itu, saya berupaya memantik semangat berbagi ilmu dalam diri saya yang nyaris hilang belakangan ini, dengan menerima undangan sebagai pembicara pada majelis ilmu yang digelar Be Smart Coffee, meskipun tawaran materinya rumit bukan main.

Yah, belakangan ini saya sering “ogah” berkunjung, ketika diundang sebagai pembicara di suatu majelis ilmu. Saya menyadari, kelakuan seperti itu sebenarnya tidak baik. Bahkan saya kerap merasa bersalah sendiri ketika melakukan penolakan untuk menjadi pembicara. Di samping juga, kelakuan seperti itu perlahan mematikan etos belajar anak-anak muda kita. Apa jadinya ketika mereka lagi semangatnya menuntut ilmu, lantas kecewa gara-gara pematerinya yang tidak ada? Sangat betul, kelakuan seperti itu sungguh tak baik. Apalagi saat melihat air muka para peserta diskusi Ibn ‘Arabi malam itu, yang kelihatan haus intelektual, kuyakinkan diriku sekali lagi untuk ke depan, tak lari dari tanggung jawab intelektual.

Baiklah untuk tidak berlama-lama, di kesempatan ini, saya berencana mengulang bahasan Ibn ‘Arabi malam yang lalu. Meski tidak sesempurna pada saat diskusi yang lalu, setidaknya garis-garis besar pembahasan itu bisa kuutarakan di sini, untuk yang tidak sempat menghadiri diskusi, ataupun untuk mereka yang mau mengomentari pemahaman sempit saya tentang Ibn ‘Arabi. Oke, the next…..

***

Ibn ‘Arabi. Pesohor tasawuf teoritik itu, setidaknya bagi mereka yang bergulat dalam dunia diskursus, adalah persona yang tak asing lagi. Apa lagi jika mendengar konsep wahdat al-wujud, tajalli dan insan kamil, maka pikiran kita tertuju pada persona yang pemikirannya penuh kontroversi itu. Malam itu saya hanya membahas dua konsep kuncinya. Yakni hanya membahas pokok pemikiran wahdat al-wujud-nya, dan konsep tajalli-nya.

Sebenarnya penyematan wahdat al-wujud untuk konsepnya mengenai ketunggalan wujud, bukanlah berasal dari Ibn ‘Arabi. Cuma ciri pemikiran wahdat al-wujud dimiliki sepenuhnya dalam diskursus metafisikanya. Bahkan, pemantik awal perkembangan diskursus wahdat al –wujud, baik dalam tasawuf teoritik maupun dalam terang metafisika Islam, berasal darinya.

Jika disimak baik-baik konsep pemikirannya, Ibn ‘Arabi hanya menjelaskan bahwa wujud itu tunggal dan esa, bersifat tetap dan tak berubah, tidak sebagaimana semesta kosmik yang berubah, bergerak dan jamak. Bahkan eksistensi segala yang ada di alam semesta, diragukan Ibn ‘Arabi sebagai yang benar-benar “ada”. Ibn ‘Arabi melihat, yang mawujud (yang berada) di alam semesta tidaklah ada-pada-dirinya. Sebab limpahan keberadaan yang plural itu bisa binasa oleh kuasa ruang-waktu, hingga menjadi tiada. Sehingga Ibn ‘Arabi memahami, tak pantaslah segala yang ada di semesta kosmik ini dibilangkan sebagai al-wujud. Hanya satu yang pantas disematkan sebagai al-wujud. Ialah Tuhan. Dan selainnya, hanyalah “ketiadaan”, perihal yang fana. Dari sinilah Ibn ‘Arabi identik dengan wahdat al-wujud.

Yang menjadi soal kemudian, Ibn ‘Arabi memahami, Tuhan sebagai al-wujud itu adalah perihal yang tak terperi. Ia musykil terkatakan oleh bahasa manusia, musykil terpikirkan oleh nalar manusia, dan musykil pula tergambarkan oleh imajinasi manusia. Menjadi soal karena, al-wujud akhirnya tak bisa dipahami, apapun modus pengetahuan yang kita pergunakan. Sehingga ketidakpahaman kita pada al-wujud, atau Tuhan itu sendiri, benar-benar membawa kita pada kondisi absennya pengetahuan kita tentangnya. Dia-pada-diriNya-sendiri adalah suatu kesendirian, suatu yang tak terjamah oleh nalar manusia. Jika kita ingin menggambarkan ketidak terjamanya Dia, maka meminjam istilah suatu hadis Qudsi yang dipakai oleh Ibn ‘Arabi, katakanlah al-wujud itu sebagai “Harta yang tersembunyi”.

Tetapi, redaksi yang lengkap dari hadis Qudsi itu sebenarnya menyiratkan juga suatu kemungkinan untuk mengenali Allah sebagai al-wujud. Di situ diterangkan, “Aku adalah harta yang tersembunyi. Aku tidak dikenal, maka Aku ingin dikenal”. Hal demikian adalah suatu pertanda bagi mungkinnya mengetahuan tentang-Nya.

Di sinilah konsep Tajalli Ibn ‘Arabi dirumuskan dalam melengkapi diskursus metafisikanya. Upaya Allah agar dikenal oleh mahluknya adalah dengan melalui proses “penyingkapan diri” (Tajalli). Dengan tajalli, Allah melimpahkan wujudnya dalam penciptaan mahluk bersama semesta kosmik, melalui proses manifestasi “ke –Diri-an-Nya”, melalui pemancaran cahaya wujudnya yang paripurna dan tak terbatas. Sehingga mahluk tercipta pada segenap limpahan wujudnya, dengan memberikan eksistensi kepada setiap mahluk, sesuai porsi penciptaan mereka masing-masing. Maka dari itulah Allah, sang al-wujud itu, memungkinkan menjelma pada setiap mahluknya, dan menyingkapkan “wajah”-Nya pada setiap mahluknya. Dalam arti memungkinkan untuk dikenali. Yah, Dia lebih dekat dari urat leher kita (QS. Qaff : 16). Dan, di manapun kita menghadap di situ ada wajah Tuhan (QS. Al Baqarah: 115).

Pada konsep tajalli itu, ada dua pokok yang bisa kita urai. Pertama, tajalli adalah suatu konsep kosmologi, suatu proses bagaimana Allah mencipta mahluknya, dan penjelasan asal usul alam semesta ini. Dari sini, Allah adalah al-wujud yang tunggal, esa dan sendiri, melimpahkan wujudnya, menciptakan pluralitas eksistensi, kejamakan realitas. Kedua, tajalli adalah konsep di mana Allah memperkenalkan dirinya kepada mahluknya. Pengenalan itu, selain Dia menyingkapkan “wajah” pada setiap mahluk, juga bisa melalui 99 asma-Nya. Maka dalam 99 asma Tuhan itu adalah upaya simbolisasi, upaya konseptualisasi dalam menggambarkan sifat-sifat –Nya, menggambarkan identitas-Nya agar dikenali mahluk.

Lantas, bagaimana mesti menjelaskan hal tersebut? di satu sisi Ibn ‘Arabi menegaskan ketidak mungkinan pemahaman apapun terhadap Allah sebagai al-wujud. Tapi di sisi lain, Ibn ‘Arabi menegaskan kemungkinan-Nya untuk diketahui. Di sinilah terkadang pemikirannya menuai kontroversi. Sebab, pada konsepnya, cenderung memperlihatkan keadaan yang contradictio in terminis, sehingga menuai prilaku yang multitafsir bagi para pembacanya. Bahkan, Ibn ‘Arabi pernah dituduh sebagai seorang panteis. Sebab konsep-konsepnya memperlihatkan kecenderungan menyamakan antara Tuhan dan mahluk. Sebab bagaimanapun, keberadaan mahluk bukanlah keberadaan yang sejati. Dikarenakan mahluk hanyalah bayangan Allah, limpahan wujud yang seolah-olah plural, tapi sebenarnya tunggal. Bahwa keseluruhan adaan-adaan hanyalah wujud Allah yang tampak jamak dan terpisah-pisah karena diakibatkan oleh tampakan esensi-esensi saja. Maka dari sini, orang-orang seenaknya menuduh bahwa Ibn ‘Arabi memahami mahluk adalah Tuhan juga.

Padahal paradoks dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, karena ia contradictio in terminis, maka tak bisa dijustifikasi oleh penalaran absolut seperti apapun. Sebab Ibn ‘Arabi mengakui mahluk sekaligus tidak mengakui mahluk. Ia mengakui pluralitas sekaligus mengabaikannya. Ia mengakui ketidakmungkinan mengenali al-wujud sekaligus mengakui kemungkinan pengenalan terhadap-Nya. Di sini, logika Aristotelian tak memadai lagi untuk memilah-milah pemikirannya pada suatu ketetapan justifikasi yang absolut. Definisi pun tak memungkinkan lagi. Makanya, Ibn ‘Arabi tetap harus ditempatkan pada pemikir di jalan tasawuf. Di mana pencapaian pengetahuan intuitif kadang tak memadai dibahasakan oleh bahasa manusia.

***

Aku hanya menjelaskan itu. Sangat jauh dari sempurna. Bahkan, bisa saja terjadi kesalahpahaman pada saat saya mengurai pemikiran Ibn ‘Arabi. Tapi, bagaimana pun, saya tetap yakin bahwa setidaknya, terselip percikan kecil kebenaran dari penjelasan itu. Dan, suatu kesyukuran, para peserta cukup antusias bertanya, dan mengutarakan pendapatnya sendiri. Diskusi akhirnya tercipta dengan sendirinya, dari sebuah lemparan pertanyaan dari satu orang, menggelinding bagai bola sajlu, lebih besar dan semakin besar muatan bobot diskusinya, hingga diskusi ini harus berakhir oleh waktu yang terbatas.

Tapi setidaknya, “wajah’ Ibn ‘Arabi seperti nampak pada kedirian para peserta. Yakni, “wajah” Ibn ‘Arabi yang haus pengetahuan, sang pencari pengetahuan. Sebagaimana Ibn ‘Arabi yang mendalami ilmu dengan mencari tempat-tempat yang sekiranya berseliweran ilmu pengetahuan di sana, dengan berjalan kaki. Para peserta pun seperti itu. Perbedaannya, mereka belum setangguh Ibn ‘Arabi, yang mampu berjalan ribuan kilo meter untuk mencari guru, mencari hikmah di setiap negara-negara terdekat. Tapi etos mencari ilmu itu ada pada mereka.

Literasi Terasi dan Terasi Literasi

Tidak banyak insan yang mengisi hari libur dengan berbagi kepada sesama. Sebab, bagi kebanyakan orang, liburan adalah buat keluarga, atau setidaknya, menjadi ajang memanjakan diri, mengurus soal-soal pribadi. Tapi, bagi empat pembicara di Seminar Nasional yang bertajuk: “Narasi Kepustakawanan dalam Gerakan Literasi”, yang diselenggarakan oleh IKA Ilmu Perpustakaan dan HMJ Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, memilih menunda liburannya, dan mengada untuk berbagi, membagi apa yang tidak hilang kalau dibagi, ilmu dan pengalaman.

Tepat lima belas menit sebelum pukul 08.00 pagi, bersetuju dengan hari Kamis, 05 Mei 2016, sekena tanggal merah karena libur nasional, Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, saya sudah tiba di gedung Training Centre UIN Alauddin Makassar. Sedianya, acara seminar itu dimulai pukul 08.00, namun karena ada sedikit “gangguan”, tertundalah beberapa saat. Di sela menunggu itulah, saya menyempatkan berbincang dengan Quraisy Mathar, Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, yang lebih dulu hadir di lokasi. Pada perbincangan itulah, soal kehebohan Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, yang melakukan penyiangan koleksi, khususnya skripsi mahasiswa, saya tahu duduk perkaranya.

Empat orang yang saya maksud selaku pembicara, masing-masing: Drs. Muh. Syarif Bando, MM. (Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Minat Baca), Muh Quraisy Mathar, S.Sos. M,Hum. (Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar), Andi Ibrahim S.Ag, SS,M.Pd (Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar) dan Sulhan Yusuf(Pegiat Literasi Sulawesi Selatan). Setiap pembicara, dengan sudut pandang yang berbeda, bahu membahu memprovokasi peserta seminar, yang didominasi oleh mahasiswa dan alumni Ilmu Perpustakaan.

Ada yang menarik dari Syarif Bando, ketika mendedahkan kondisi terkini peta dunia literasi. Menurutnya, kalau dulu, sebelum abad ke-21, dunia sering dibagi menjadi lima benua. Dan, dari patokan inilah kemudian dunia dipotret lebih rinci menjadi perbedaan berdasarkan ras, bahasa, bangsa, dan geografis. Setelah dunia memasuki era internet, hadirlah dunia maya yang mengubah tatanan. Pembagian dunia bergeser ke katagori sejauh mana persentuhannya dengan aspek literasi. Maka dunia pun dibagi menjadi pra literasi, literasi dan pascaliterasi.

Setelah pembicara pertama, giliran berikutnya adalah Quraisy Mathar, dengan topik yang perbincangan agak nyentrik, Terasi dan Literasi. Bagi Quraisy Mathar, dikarenakan oleh pelaksanaan acara ini bertepatan dengan liburan, maka suasana penyajian pun tidak perlu serius. Dan, bukti kesantaian itu, setidaknya tercermin dari judul yang ditabalkannya. Pun, ditambahkannya pula, bahwa kelak nanti di Padang Mahsyar, antara surga dan neraka, bakal ada perpustakaan terbesar, yang dikawal oleh dua sosok “pustakawan”, malaikat pencatat perbuatan baik dan buruk.

Selanjutnya, Andi Ibrahim, yang memberikan perspektif tentang pentingnya mempersiapkan diri, selaku mahasiswa jurusan perpustakaan untuk menjadi pustakawan. Dibutuhkan tenaga-tenaga profesional nantinya, guna mengawal perpustakaan, sebagai kaum profesional,mengingat begitu banyaknya perpustakaan yang membutuhkan tenaga-tenaga yang mumpuni di bidang pengelolaan perpustakaan.

Sebagai pembicara keempat, saya diminta untuk berbicara seputar geliat gerakan literasi di Sulawesi-Selatan. Pada sajian saya, lebih banyak membabarkan sisi-sisi pengalaman lapangan dalam mengampu gerakan literasi yang berbasis komunitas. Saya tegaskan di forum itu, bahwa gerakan literasi harus didefenisikan sebagai gerakan sosial, tepatnya sebagai bagian dari Gerakan Sosial Baru (GSB). Sehingga, pada konteks ini, gerakan literasi bisa bergandengan dengan entitas sosial manapun. Gerakan literasi, ibarat flashdisk yang bisa dicolokkan ke pelbagai perangkat pembaca program.

Pada sisi inilah menarik mempertajam gagasan nyentrik dari Quraisy Mathar, tentang Terasi dan Literasi. Saya menangkapnya, gagasan ini penuh dengan jamuan-jamuan ilustratif. Terasi, sebagaimana diungkapkan olehnya, adalah sejenis adonan yang terbuat dari bahan udang, ikan dan bumbu tertentu. Tidak ada kata sepakat mengenai bentuknya, mau bulat, segi empat, lonjong tergantung selera pembuatnya. Namun, ada satu hal yang identik pada diri terasi, baunya menyengat, khas. Kadang tidak disukai, walau tidak sedikit yang membutuhkannya untuk memperenak selera makan.

Begitupun juga dengan literasi, tidak ada defenisi yang baku tentangnya. Yang pasti, satu hal yang menjadi konvensi, yakni: baca-tulis. Literasi sendiri, berkembang mengikuti geliat zaman. Sehingga, di masa kiwari ini, seluruh aspek kehidupan, ditempeli oleh istilah literasi. Maka lahirlah istilah-istilah sebentuk: literasi media, literasi informasi, literasi ekonomi, literasi budaya, literasi politik, dll. Pun, tak ketinggalan tentunya, istilah literasi terasi.

Ketika saya menjadi tawanan ungkapan ilustratif dari Quraisy Mathar, akan Terasi dan Literasi ini, saya pun berspekulasi untuk membabarkan tohokan-tohokan gagasan, dengan mengelaborasi dua penggalan lema itu. Saya memaksudkannya dengan “Literasi Terasi”, bahwasanya terasi mesti dijelaskan secara tekstual, agar tersajikan pengertian baku akan benda itu. Ketika terasi itu diaktualkan fungsinya untuk memperenak selera makan, maka pada poin inilah, arti penting terasi menemukan bentuk fungsionalnya. Terasi dengan sengatan baunya, telah memasuki seluruh lapisan masyarakat. Tidak kenal dengan istilah masyarakat kelas atas, menengah dan bawah, semuanya telah bersetubuh dengan terasi. Terasi tidak lagi menjadi konsumsi masyarakat tertentu, tapi sudah memondial, termasuk tempat mendapatkannya, tidak lagi di pasar tradisional, di pasar modern sekalipun terasi ikut nangkring menawarkan diri.

Bila sudah sebegini keliaran imajinasi saya, maka taklah menjadi masalah kemudian, tatkala saya ajukan istilah lain, “Terasi Literasi”, bahwa semestinya literasi meniru terasi dalam gerakan eksistensialnya, memformulasi diri sedemikian rupa, bermetamorfosis dalam bentuk sesuai lingkungan yang membutuhkannya. Sehingga, gerakan literasi — manakala sudah seperti terasi, sewujud terasi literasi– pun harus dijalankan dengan bentuk-bentuk, mulai dari yang paling awal hingga paling mutakhir. Dengan begitu, gerakan literasi akan menghidu segenap lapisan sosial, bergantung pada konteks adaptasinya. Jadi, literasi terasi dan terasi literasi, adalah dua sejoli gagasan ilustratif yang mesti dibumikan.