Arsip Kategori: Katarsis

Alam Sadar VS Alam Bawah Sadar: Gerbang Penentu Takdir

Kebebasan manusia dan takdir Tuhan merupakan tema yang hangat sepanjang masa. Pada satu sisi, dengan kebebasan yang dimiliki oleh manusia maka ia dipandang sebagai penentu nasib bagi dirinya sendiri. Manusia bebas menentukan nasib seperti apa yang diinginkan. Manusia merdeka dalam menentukan  corak takdir yang ingin ia lakoni. Dalam pandangan ini manusia bertanggung jawab penuh atas tindakan atau pilihannya. Dan pada sisi lain, Tuhan Yang Maha Kuasa sangat berkuasa pada manusia sehingga tidak ada jalan lain kecuali Tuhanlah sebagai penentu nasib manusia. Manusia tak berdaya di hadapan Tuhan karena Tuhanlah yang menentukan segalanya, termasuk takdir manusia. Pandangan ini dapat melahirkan pendapat bahwa manusia tidak bertanggung jawab atas takdir yang menimpanya dan Tuhanlah yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Pandangan lain yang berusaha menyatukan dua kutub di atas, yaitu Tuhan telah menetapkan berbagai pilihan takdir yang mungkin dan manusialah yang memilihnya. Manusia diberi kelonggaran atas pilihan-pilihan takdir sebagai campur tangan Tuhan dan manusia bertanggung jawab atas takdir yang ia pilih tersebut.

Berkaitan dengan masa depan manusia, tentu persoalan takdir ini adalah hal yang sangat serius. Pertanyaan siapa yang sebenarnya berperan besar dalam menentukan takdir harus dijawab dengan tepat dan utuh sebab ia adalah subjek utama dalam penentuan takdir. Charles F. Haanel mencoba menjawab pertanyaan ini dengan cara menyodorkan analisa keberadaan psikologi manusia. Ia membagi kondisi psikologi manusia pada dua keadaan, yaitu alam sadar dan alam bawah sadar.

Menurut Haanel, proses yang terjadi pada alam sadar dan alam bawah sadar inilah yang menentukan takdir manusia. Artinya, kesadaran manusialah yang membentuk nasibnya. Pada alam sadar manusia masih memiliki pilihan-pilihan atas takdir yang ingin ia jalani, sedangkan pada alam bawah sadar pilihan tersebut sudah tidak ada lagi. Alam sadar bertanggung jawab atas pilihan-pilihan takdir, sedangkan alam bawah sadar bertanggung jawab atas perealisasian takdir tersebut.

Secara sadar atau tidak, setiap orang berekspresi atau merespon kenyataan yang ia hadapi. Ekspresi atau respon tersebut dapat berupa penerimaan atau penolakan. Hal ini bisa berarti menerima atau menolak hal-hal yang positif atau negatif. Kebiasaan menerima atau menolak, sebagai pilihan, akan merembes ke alam bawah sadar yang pada akhirnya membentuk citra diri. Seseorang yang, secara sadar atau tidak, terbiasa berekspresi atau merespon hal-hal positif akan membentuk citra diri positif. Sebaliknya, yang terbiasa dengan yang negatif akan membentuk citra diri negatif. Citra diri inilah yang dimaksud sebagai alam bawah sadar yang merupakan akumulasi berkelanjutan dari ekspresi atau respon yang terjadi pada alam sadar.

Citra diri atau alam bawah sadar ini, dengan bantuan the Low of Attraction–citra pikiran akan membentuk atau menarik realitas eksternalnya—akan membentuk kenyataan takdir. Dengan kekuatan the low of attraction, alam bawah sadar positif membentuk kenyataan takdir positif dan alam bawah sadar negatif membentuk alam bawah sadar negatif.

Dengan ungkapan yang berbeda, orang yang terbiasa secara sadar berekspresi atau merespon nuansa sukses secara kontinyu akan membentuk alam bawah sadar atau citra diri sukses yang dengan kekuatan the low of attraction akan menarik realitas sukses pada orang tersebut. Sebaliknya, orang yang terbiasa secara sadar atau tidak berekspresi atau merespon nuansa gagal secara kontinyu akan membentuk alam bawah sadar atau citra diri gagal yang dengan kekuatan the low of attraction akan menarik realitas gagal pada orang tersebut.

Dalam pandangan Haanel tersebut di atas sangat tampak bahwa manusialah pencipta takdirnya dan bertanggung jawab penuh atas takdir tersebut, sebagaimana salah satu pandangan yang diulas pada awal tulisan  ini. Tuhan, pada pandangan ini, tidak memperlihatkan peran yang signifikan dalam menciptakan takdir manusia. Seolah-olah, setelah menciptakan manusia, Tuhan menjadi penonton pasif atas takdir yang dilakoni manusia.

Dalam pandang Wahdatul Wujud, tidak mengenal dikotomi dualisme wujudiah antara Tuhan dan manusia. Yang ada adalah Wujud Tunggal yaitu Allah dan manusia hanyalah semata pancaran wujud-Nya, manifestasi-Nya. Sehingga, apa pun yang terjadi, sebebas-bebasnya manusia sama sekali tidak luput dari Allah SWT. Oleh karena itu, apapun yang terjadi pada manusia, termasuk takdirnya, tetap dalam sentuhan Allah SWT secara langsung. Justru pada totalitas takdir tersebut Allah “bersama” manusia, sebagai bentuk kasih sayang-Nya dalam mengawal perjalanan hidup manusia. Allah menitip dan mengawal langsung proses takdir manusia dalam bentuk potensi dan aktualisasinya untuk menyempurna. Dalam sudut pandang ini, bukan lagi kategorisasi kontradiktif baik dan buruk yang digunakan, akan tetapi menggunakan sudut pandang yang lebih bijak berupa kategorisasi kontinyu, yaitu kesempurnaan dan kebelumsempurnaan.

Allah memancarkan kesadaran pada manusia, yang dengan pancaran tersebut semestinya  manusia memilih untuk menapakai jalan kesempurnaan dan meninggalkan segenap peluang yang memungkinkan ia terjerumus ke dalam lorong-lorong ketaksempurnaan. Pada saat menapaki jalan kesempurnaan, “bersama” Allah bermakna Allah menyemangati manusia untuk membentuk takdir kesempurnaannya, serta pada saat menapaki jalan ketaksempurnaan, “bersama” Allah berarti Allah menyentuh manusia agar berbalik ke jalan kesempurnaan agar ia tetap pada membentu takdir kesempurnaannya. Dan semua “bersama” Allah tersebut adalah bentuk kasih sayang dan cinta-Nya secara langsung pada manusia.

Pesan Allah agar manusia senantiasa berbaik sangka merupakan perintah agar secara sadar manusia membentuk alam bawah sadar yang positif untuk menggapai takdir kesempurnaan dalam realitas hidupnya. Dan semua ini adalah pancaran cinta-Nya pada manusia agar manusia senantiasa memetik takdir baik dalam hidupnya.

 

Sumber gambar: https://farm6.staticflickr.com/5783/24029283516_7043f8c879.jpg

 

The Secret of Giving

The secret of giving, rahasia sedekah. Telah banyak uraian tentang sedekah dalam berbagai aspeknya. Secara umum sedekah dipahami sebagai pemberian yang tulus yang justru hasilnya akan kembali kepada  pemberi. Bahkan efek kembalian sedekah itu berlipat ganda. Secara fisik sangat tampak dalam proses sedekah yang dapat manfaat langsungnya adalah penerima, namun justru yang sesungguhnya yang mendapat manfaat lebih banyak adalah pemberi. Pernyataan ini didukung oleh banyak fakta dalam kehidupan bahwa orang yang banyak bersedekah, orang yang banyak memberi adalah mereka yang lebih kaya dan bahagia dibanding orang yang sedikit melakukannya. Ada kebalikan makna dalam sedekah, orang yang memberi justru menerima lebih banyak. Pertanyaan yang tersisa adalah: kenapa bisa demikian?
Secara normatif, pertanyaan tersebut dapat dijawab bahwa Tuhanlah yang memberi nilai lebih atas pengembalian setiap pemberian atau sedekah. Tuhanlah  yang berperan melipatgandakan imbalan setiap sedekah. Dapat juga dijawab dengan prinsip pertumbuhan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan akan bertumbuh dan berkembang, begitupun dengan sedekah. Pemberian atau sedekah itu ibarat tanaman, semakin unggul bibit dan lahan serta perlakuan, maka ia semakin bertumbuh melampaui bibit-bibit yang lain. Itulah sedekah diberikan kepada penerima, justru pemberilah yang panen raya. Sedekah yang tulus memutar balik logika umum, memberi sama sekali tidak mengurangi, malahan menambah nilai lebih pada pemberi.
Rahasia sedekah ini dapat juga disibak dengan menelisik prinsip penciptaan dalam pandangan Wahdatul Wujud. Melalui konsep ini, setidaknya, dapat diketahui mengapa setiap pemberian yang tulus, sedekah yang ikhlas, senantiasa membuahkan nilai lebih yang berlimpah bagi pemberi. Sedekah, dalam pandangan ini, selama dilakukan dengan ikhlas, tidak ada jalan lain kecuali hasilnya kelipatgandaan imbalan bagi pemberi. Seolah hal ini menjadi aksioma. Menjadi keniscayaan. Memberi pasti hasilnya adalah keberlimpahan bagi pelakon sedekah. Seolah prinsip ini menjadi ‘kode keras’ yang mengatakan bersedekahlah dengan apapun bentuk kebaikan yang dimiliki untuk menciptakan keberlimpahan bersama untuk semua.
Penciptaan dalam pandangan Wahdatul Wujud  secara hakiki tidak bermakna menghadirkan sesuatu dari “tiada” menjadi “ada”, akan tetapi Yang Maha Ada-lah yang memanifestasi, yang mentajali. Laksana mentari yang memancarkan sinarnya. Sinar matahari tidaklah dicipta dari “tiada” menjadi “ada”, akan tetapi ia mewujud karena adanya matahari itu sendiri. Sinar matahari mewujud akibat dari kewujudan matahari itu sendiri yang memancarkan diri. Dalam konteks  internal keberadaan matahari, pancaran cahaya matahari tidak pernah dicipta dan dimusnah, karena pancaran cahaya tersebut semata tajaliat dari matahari dan keberadaannya bergantung total pada matahari. Begitupun dengan segenap manifestasi, baik yang lahir maupun batin, keberadaannya hanyalah semata pancaran dari Yang Maha Ada, dari Yang Maha Wujud. Manifestasi secara hakiki tidak dicipta dari “tiada” menjadi “ada” akan tetapi ia semata hanyalah pancaran wujudiah dari Yang Maha Ada. Oleh karena itu kehadiran manifestasi bukan berasal dari “tiada” menjadi “ada” akan tetapi ia hadir dari “ada” menjadi “ada”. Keberadaan manifestasi dengan sumbernya ibarat gelombang dengan lautan. Semua wujud gelombang, semua wujud manifestasi adalah “tampilan luar” dari wujud lautan, dari Wujud-Nya.
Dalam konteks konsep ini tidak ada penerima. Yang ada hanya pemberi semata. Karena secara hakiki memang penerima tiada, sebab yang bisa menerima itu hanyalah ketiadaan. Dan secara logis, ketiadaan pun tidak dapat menerima, karena bagaimana mungkin ia dapat menerima sementara ia sendiri tiada. Di sisi lain, bagi yang ada juga tidak perlu lagi menerima “ada” karena hal tersebut sudah ada dalam dirinya secara azali. Oleh karena itu, secara hakiki, dalam pandangan ini tidak ada penerima, yang ada hanya pemberi semata. Sehingga, pada saat pemberi bersedekah, ia sedang “menampakluarkan” manifestasi-Nya. Orang yang pemberi sedekah sedang memerankan peran-Nya, yaitu menjadikan tampak tajaliat-Nya.
Dalam perspektif Wahdatul Wujud bahwa segenap kehidupan ini hanyalah pancaran manifestasi dari Yang Maha Ada, Yang Maha Wujud, oleh karena itu kehidupan ini beserta segala pernak-perniknya hanyalah wujud dari pemberian semata. Wujud dari sedekah semata. Totalitas kehidupan ini hanyalah sedekah dari Yang Maha Memberi. Hanya dengan sedekah inilah, sedekah dari-Nya, sehingga segenap pancaran wujud memanifestasi. Menyata. Satu-satunya pemberi sedekah hanyalah Allah, sebab dalam Wahdatul Wujud hanya dikenal Subjek Tunggal, yaitu Allah SWT, oleh karena itu persyaratan mutlak sedekah adalah ikhlas, yaitu tiadanya subjek pemberi sedekah kecuali Allah semata. Hadirnya subjek lain selain Allah dalam sedekah, yaitu hadirnya “aku” yang mengklaim sedekah, berakibat jatuhnya sedekah ke dalam fatamorgana penciptaan, dan bukan murni lagi merupakan pancaran dari tajaliat-Nya serta memposisikan pesedekah tersebut jauh terlempar dari sumber yang manifestasi, hal ini merupakan posisi kebalikan dari keberlimpahan.
Para pesedekah, selama dilakukan dengan ikhlas, telah memerankan peran Allah dalam menghadirkan berbagai tajaliat kebaikan dalam kehidupan. Ini berarti secara wujudiah ia mengambil posisi tingkat wujud sumber, tingkat wujud keberlimpahan. Ia mengambil posisi kearah tingkat wujud pemberi. Sehingga, secara sadar atau tidak, dengan sedekah ikhlas—pemberian yang dinisbahkan kepada Allah semata, karena Ia memang satu-satunya Pemberi—para pemberi sedekah telah menaiki tangga-tangga ke tingkat wujud keberlimpahan sehingga ia bergelimang dengan keberlimpahan tersebut. Semakin ia sedekah dengan tulus semakin ia menanjak ke tinggkat wujudiah keberlimpahan yang lebih tinggi lagi. Sehingga, sedekah semakin berefek multikebaikan kepada pesedekah tersebut.
Mungkin dengan pandangan semacam ini pula para nabi dan rasul serta para orang suci, tidak memiliki perhitungan dalam memberi, dalam bersedekah. Karena dalam kesadaran mereka, dalam pandangan batin mereka, urusan tajaliat semata, sedekah adalah kekuatan dalam yang ada pada tajaliat untuk menyata, maka bagi mereka bersedekah adalah kekuatan yang nyata untuk berpartisipasi dalam melahirkan manifestasi dalam kehidupan, tentunya dengan kehadiran Allah dan “mereka tiada”. Tiada keraguan akan kekurangan bagi mereka dalam bersedekah karena mereka sadar betul bahwa semua manifestasi merealitas hanya dengan kekuatan sedekah dari Yang Maha Memberi. Setiap kali mereka bersedekah kebaikan maka pada saat itu pula Yang Maha Memberi melimpahkan kebaikan pada mereka dengan keberlimpahan tanpa batas. Sedekah dan sedekah, menaiki tingkat wujud keberlimpahan yang lebih tinggi menuju yang lebih tinggi lagi. Demikianlah cara kerja sedekah dalam menghadirkan keberlimpahan kebaikan yang tanpa batas.
Sumber gambar : Google

Baik Buruk dalam Perspektif Wahdatul Wujud

 

Masalah baik dan buruk senantiasa hangat diperbincangkan oleh para pencari kebenaran. Baik dan buruk merupakan hal yang bertentangan secara diametral dan sangat terasa kehadirannya bahkan begitu mempengaruhi kehidupan. Baik dan buruk adalah hal yang nyata hadir dalam kehidupan. Keduanya adalah fakta senyatanya yang tak terbantahkan. Sejauh baik dan buruk sebagai ejawantah yang hadir dalam kehidupan, tidak ada masalah dengannya. Namun, jika sudah menyentuh persoalan asal-usul baik dan buruk dalam perenungan mendalam, persoalan menjadi rumit dan krusial. Bagi orang yang meyakini Tuhan sebagai sumber segala sesuatu dan satu-satunya sumber, menyematkan kebaikan berasal dari Tuhan adalah hal yang semestinya. Namun, menyematkan Tuhan sebagai sumber keburukan bukan hanya merupakan hal yang tidak etis, namun juga tidak logis. Mungkinkah Tuhan sebagai sumber kebaikan sekaligus merupakan sumber keburukan?

Jika menggunakan logika linear, Tuhan adalah satu-satunya sumber dan sumber segala sesuatu, maka merupakan keharusan kebaikan dan keburukan berasal dari Tuhan. Logika ini mendemonstrasikan, pada tataran sumber dan ejawantah, bahwa kebaikan dan keburukan berasal dari Tuhan. Tuhan sebagai sumber kebaikan dan sekaligus sebagai sumber keburukan. Hal ini ini mengisyaratkan bahwa dalam diri Tuhan menyatu kebaikan dan keburukan sekaligus. Cara pandang semacam ini memang menggunakan logika yang lurus-lurus, namun sekaligus menginjak-injak prinsip logika, yaitu tidak mungkin berkumpul dalam satu sumber sesuatu yang bertentangan secara diametral dan baik dan buruk adalah pertentangan itu. Dalam logika ini, terkandung isyarat bahwa dalam diri Tuhan yang satu terjadi peperangan antara baik dan buruk, dan peperangan ini terefleksi dalam kehidupan sehari-hari. Cara pandang semacam ini melahirkan mazhab monoteisme semu, yaitu bertuhankan pada Tuhan yang tunggal namun penuh pertentangan dan kesamaran di dalamnya akibat tidak terurainya masalah baik dan buruk secara jelas dan gamblang dalam diri Tuhan.

Cara pandang lainnya adalah, karena baik dan buruk secara logis dan etis tidak dapat dipandang berasal dari sumber yang sama, oleh karena itu harus hadir kejamakan sumber. Kebaikan harus memiliki sumber tersendiri yang sama sekali berbeda dengan sumber keburukan. Oleh karena itu, secara logis harus ada Tuhan Kebaikan dan Tuhan Keburukan. Kedua jenis Tuhan ini berbeda dan terpisah satu dengan yang lain. Dalam tradisi bertuhan umat manusia dikenal dengan adanya Dewa Kebaikan dan Dewa Keburukan dengan berbagai nama khas yang disematkan pada dewa-dewa tersebut. Namun, cara pandang semacam ini memiliki dilema tersendiri, yaitu hadirnya dua Super Power atau lebih dalam mengatur dan berebut pengaruh dalam kehidupan—Tuhan Kebaikan dan Tuhan Keburukan. Dalam sudut pandang ini, manusia dan kehidupan hanyalah korban dari keinginan dua jenis Tuhan tersebut untuk mengejawantahkan diri, yaitu pembumian sifat-sifat Tuhan tersebut—kebaikan dan keburukan. Sudut pandang semacam ini merupakan akar dari kehadiran mazhab politeisme, yaitu bertuhankan pada Tuhan yang banyak, akibat dari konsistensi logis bahwa segala sesuatu harus ada sumbernya sesuai dengan citra tiap sesuatu itu. Harus ada Tuhan Kebaikan, Tuhan Keburukan, Tuhan Kasih Sayang, Tuhan Kebencian, Tuhan Pemelihara, Tuhan Penghancur dan lain sebagainya, dan setiap Tuhan tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. Politeisme, bertuhan pada banyak Tuhan sebagai sumber dari berbagai citra yang ada.

Dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar ungkapan: “Kalau ada kebaikan dan kebenaran maka itu datangnya dari Allah, namun jika ada keburukan dan kesalahan  maka itu datangnya dari saya.” Ungkapan tersebut mengisyaratkan ada dua sumber, yaitu Allah sebagai sumber kebaikan dan kebenaran dan manusia sebagai sumber kesalahan dan keburukan. Penyematan kebenaran dan kebaikan berasal dari Allah tidak bermasalah dan memang semestinya, namun penyematan manusia sebagai sumber kesalahan dan keburukan menyisakan masalah serius. Jika dikatakan bahwa satu-satunya sumber segala sesuatu adalah Allah, lalu dari mana manusia mendapatkan  kesumberannya atas kesalahan dan keburukan jika tidak disematkan pada Allah sebagai sumber? Mungkinkah manusia menjadi sumber keburukan dan kesalahan sementara dia sendiri berasal dari Allah? Oleh karena itu, jika ingin konsisten, kesalahan dan keburukan itu juga berasal dari Allah dan manusia hanya menjadi terminal saja. Terminal mewujudnya kesalahan dan keburukan yang sesungguhnya juga berasal dari Allah. Karena, tidak mungkin manusia menjadi sumber kesalahan dan keburukan sebab ia sendiri berasal dari Allah, berarti totalitas yang ada pada manusia juga berasal dari Allah, termasuk kesalahan dan keburukan. Masalah ini mengantarkan pada problem yang sama seperti yang telah diurai sebelumnya, yaitu dalam diri Tuhan bercampur kebaikan dan keburukan sekaligus. Paradoks. Lalu harus bagaimana?

Salah satu cara untuk menyibak krusialitas hubungan kebaikan dan keburukan dengan Tuhan adalah dengan mengurainya dalam sudut pandang Wahdatul Wujud. Doktrin Wahdatul Wujud mengatakan bahwa yang ada hanya wujud tunggal, selainnya tiada. Oleh karena itu hanya ada satu wujud yaitu Wujud Tunggal dan Wujud Tunggal inilah menjadi sumber dari segala keberadaan. Pada Wujud Tunggal berkumpul segenap kesempurnaan murni dan tidak ada pertentangan di dalamnya, sebab jika ada pertentangan, hal ini menunjukkan ketaksempurnaan Wujud Tunggal tersebut. Oleh karena itu yang memancar dari Wujud Tunggal hanyalah kesempurnaan semata, termasuk kebaikan dan kebenaran dan sama sekali tidak memungkinkan memancar dari Wujud Tunggal tersebut kekurangan dan keburukan, sebab kekurangan dan keburukan bukanlah kesempurnaan dan bukan bagian dari kesempurnaan secara hakiki yang ada pada Wujud Tunggal yang senantiasa sempurna secara azali.

Lantas dari mana asal ketaksempurnaan, termasuk keburukan dan kekurangan? Untuk hadir dalam kehidupan Wujud Tunggal memanifestasi, Allah mentajalli. Manifestasi dan tajaliat adalah pancaran cahaya kesempurnaan Wujud Tunggal, yaitu Allah SWT untuk mewujud dalam kehidupan. Segenap kesempurnaan yang ada pada Wujud Tunggal memancar memanifestasi atau mentajali dalam kehidupan dengan segenap tingkat kesempurnaannya sesuai dengan karakter dunia eksternal yang mewujud darinya. Pada tingkat inilah, tingkat manifestasi atau tajaliat ditemukan keberagaman wujud, termasuk wujud-wujud yang secara eksternal tampak bertentangan di samping yang harmonis berdampingan. Pada tingkat manifestasi inilah ditemukan keberadaan “kebaikan” dan “keburukan” yang tampak bertentangan itu.

Pancaran kesempurnaan, termasuk kebaikan di dalamnya, yang berasal dari Allah mentajali dalam kehidupan dengan berbagai tingkat kesempurnaannya. Sebenarnya yang memanifestasi adalah kesempurnaan tersebut dengan segenap tingkatannya, dalam sudut pandang ini, yang tampak adalah kesempurnaan yang menyempurna. Namun, dalam sudut pandang lain, dengan memandang manifestasi yang sama, sisi belum sempurna dari proses manifestasi kesempurnaan akan tampak sebagai ketaksempurnaan. Cara sudut pandang inilah yang menampakkan ketaksempurnaan dengan segenap detailnya.

Kebaikan yang memancar dari Allah memanifestasi dalam kehidupan dengan berbagai tingkat kesempurnaannya, akan tampak sebagai pancaran kebaikan. Namun jika dipandang dari sudut lain, sudut kebelumsempurnaannya dalam memanifestasi, maka yang tampak adalah keburukan. Jadi, keburukan hanyalah tampilan luar dari sisi belum sempurna kebaikan dalam memanifestasi, oleh karena itu yang memiliki wujud hakiki hanya kebaikan dan keburukan tak memiliki wujud hakiki tersebut. Keburukan hanya bayangan yang mewujud akibat dari sisi belum sempurnanya kebaikan dalam memanifestasi. Kebaikan adalah cahaya dan keburukan merupakan bayangan yang hadir akibat belum sempurnanya mewujud cahaya kebaikan tersebut secara total.

Dengan cara pandang di atas, keburukan tidak memiliki asal-usul atau sumber wujud hakiki, dia hadir karena efek dari kehadiran yang lain, yaitu kebaikan yang belum sempurna dalam mewujudkan diri dari total kesempurnaan potensi yang ia miliki. Oleh karena itu, yang memiliki sumber wujud hakiki hanya kebenaran dan keburukan tidak memiliki sumber wujud hakiki tersebut. Sehingga, hanya kebaikan yang bersumber dari Allah dan keburukan sama sekali tidak mungkin dinisbahkan bersumber dari Allah. Keburukan tak memiliki sumber hakiki karena ia hadir sekedar efek dari belum sempurnanya mewujud kebenaran secara total.

Kebaikan dengan keburukan ibarat cahaya dengan bayangan, cahaya memiliki wujud hakiki sementara bayangan hanya wujud yang hadir sementara karena belum sempurnanya cahaya dalam mewujudkan diri. Cahaya adalah kehadiran yang sesungguhnya dan bayangan hanya kehadiran semu. Begitu pun, kebaikan adalah kehadiran yang sesungguhnya, sementara itu keburukan hanya kehadiran bayangan, yang jika kebaikan mewujudkan diri secara sempurna maka bayangan keburukan akan sirna dengan sendirinya.

Sebagai salah satu contoh sederhana dalam kehidupan dalam hal ejawantah kebaikan dan keburukan, misalnya pelaksanaan salat. Salat adalah pancaran kebaikan dan salat memiliki tingkat-tingkat dan ragam dalam perwujudannya. Pelaksanaan salat secara keseluruhan merupakan cahaya kebaikan, namun kehadiran ujub, riya dan sejenisnya menutupi cahaya dan menghadirkan bayangan, menghadirkan keburukan dalam salat tersebut. Seiring dengan hilangnya ‘keakuan’ dalam salat tempat menempelnya ujub, riya dan lain sebagainya, seiring itu pula lenyap keburukan dalam salat, sehingga yang terejawantah hanyalah pancaran kebenaran salat tersebut. Begitu pun yang terjadi dengan pelaksanaan segenap kebaikan lainnya. Pada saat kebaikan menyata, maka keburukan akan sirna dengan sendirinya, karena keburukan hanyalah sisi belum sempurnanya perwujudan kebaikan.

 

Sumber gambar: http://www.hidayatullah.com/engine/files/image/2013/06/gal180046922.jpg

 

 

Persaudaraan Wujudiah

Dari sekian banyak pemaknaan, ada yang mengartikan “saudara” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “sa” berarti satu dan “udara” berarti perut atau rahim. Maksudnya adalah terlahir dari satu perut atau rahim yang sama. Atau pun juga berasal dari satu sumber yang sama. Sesuatu disebut bersaudara karena satu dengan yang lainnya terlahir dari sumber yang sama. Atau, dengan makna yang lebih luas, disebut bersaudara jika berada dalam lingkup yang sama.

Ikatan persaudaraan ini menentukan nilai-nilai yang membalut kerekatan antara satu dengan yang lainnya untuk tetap menyatu. Kesatuan, cinta, kasih sayang, senasib, tenggang rasa dan lain sebagainya merupakan nilai-nilai yang mengikat mereka dalam keutuhan dengan pandangan bahwa mereka berasal dari sumber yang sama. Sumber atau asal yang sama dijadikan pijakan persaudaraan untuk tetap menyatu padu antara satu dengan yang lainnya.

Pada umumnya persaudaraan ditilik dari garis keturunan. Melalui sumber keturunan yang sama itulah mereka mengada dan dianggap bersaudara. Ibu merupakan sumber terdekat untuk dikatakan sesuatu atau seseorang bersaudara satu dengan yang lainnya. Ada ikatan yang menyatukan satu dengan yang lainnya berdasarkan fakta dan kesadaran bahwa mereka berasal dari ibu yang sama, sehingga mengharuskan untuk tetap bersatu pada hal-hal tertentu dalam keadaan apa pun.

Moyang merupakan titik acuan terjauh untuk dipandang sebagai bersaudara, seperti Nabi Adam as. Semua manusia adalah keturunan Adam as. sehingga semua mereka bersaudara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, sebagai keturunan Adam, manusia semestinya menyatu padu dalam membangun kehidupan dan bukan bersaing tidak sehat atau bahkan menjatuhkan yang lain untuk mencapai tujuan. Tindakan yang tidak sehat semacam ini adalah pengingkaran atas nilai-nilai yang berkaitan dengan persaudaraan karena tidak mencerminkan kesadaran bersatu bahwa mereka terlahir dari sumber yang sama.

Lingkup persaudaraan dapat dipersempit atau diperluas berdasarkan acuan yang diambil yang dipandang sebagai sumber bersama. Lingkup persaudaraan dengan acuan ibu lebih kecil dibanding dengan yang beracuan moyang. Lingkup nilai-nilai yang terkandung dalam persaudaraan juga dapat menyempit dan meluas mengikuti acuan yang diambil sebagai asal bersama.

Dalam pandangan Wahdatul Wujud, semua yang ada berasal dari sumber tunggal, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu segala sesuatu mengada berasal dari rahim tunggal dan satu-satunya rahim, yaitu Allah SWT. Dan yang paling menarik adalah, meng-ada-nya segala sesuatu tetap dalam ketunggalan wujud sehingga bermakna tidak melahirkan wujud baru, dengan demikian hubungan antara Allah dengan segala sesuatu adalah hubungan ketunggalan yang sama sekali jauh dari keterpisahan dan jarak. Kepaduan antara Allah dengan yang ada dan yang ada dengan yang ada adalah dalam ketunggalan, sehingga ketunggalan ini memancarkan persaudaraan yang melampaui segala bentuk persaudaraan yang ada umumnya. Inilah persaudaraan wujudiah. Persaudaraan yang tercipta dari sumber wujud tunggal yang di dalamnya beroperasi ikatan-ikatan mulia yang menyatukan karena aspek individualitas tidak pernah tercerabut bebas dari sumber ketunggalannya.

Segala yang tampak dan tak tampak berasal dari Wujud Tunggal. Keberasalan ini tidak melahirkan terciptanya kejamakan wujud hakiki, karena kehadiran segala yang ada hanyalah pancaran atau manifestasi dari Wujud Tunggal. Semua yang ada adalah manifestasi dan bukan merupakan wujud mandiri, namun bergantung murni pada Wujud Tunggal. Persaudaraan satu manifestasi dengan yang lainnya adalah persaudaraan yang amat kental dan luhur penuh kebersamaan dan kemuliaan karena ia terikat oleh ketunggalan sumber wujud dan senantiasa dalam limpahan keagungan Wujud Tunggal sebagai sumber segenap keberadaan dan juga sumber segenap kesempurnaan termasuk keagungan dan kemuliaan.

Dalam pandangan sufistik, segala sesuatu selain Allah hanyalah tajaliat-tajaliat atau “penampakan luar” Allah SWT. Oleh karena itu tidak mungkin tajaliat bersanding wujud dengan Allah SWT karena tajaliat tidak memiliki wujud hakiki. Tajaliat hanya “mengalami keterpinjaman” wujud belaka. Semua bentuk tajaliat bersumber dari Allah yang tajaliat-tajaliat tersebut dalam kondisi kepapaan murni, bergantung total pada Allah SWT. Sebagai sesuatu yang bersumber sama, yaitu Allah SWT, maka setiap tajaliat bersaudara satu dengan yang lainnya.

Persaudaraan di atas kental dengan kesadaran sufistik, yaitu setiap tajaliat dalam kondisi kepapaan murni dan sekaligus bergantung murni pada Allah SWT secara langsung. Dalam keadaan semacam ini tidak mungkin antara satu tajaliat akan mengganggu tajaliat lainnya karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu akibat kepapaan murninya, akan tetapi mereka kompak menyatu bergantung kepada Allah untuk mewujud. Sehingga persaudaraan antar tajaliat adalah kemenyatuan satu dengan yang lainnya untuk tetap sadar diri atas kepapaan murni dan bergantung murni pada Allah SWT, atas keadaan ini segenap tajaliat menerima limpahan kebaikan dan untuk menyempurna dari Allah SWT. Persaudaraan dengan kesadaran sufistik ini jauh melampaui jenis persaudaraan umumnya yang tersekat oleh berbagai bingkai ilusi wujud kehidupan.

Allah menciptakan segala sesuatu dan tetap bersamanya, hal ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu itu bersaudara satu dengan yang lainnya dan tetap dalam lingkup-Nya. Citra persaudaraan luhur ini Allah ciptakan secara azali bersamaan dengan proses penciptaan, yang semestinya citra persaudaraan ini merembes pada semua jenis persaudaraan dalam kehidupan. Citra persaudaraan wujudiah luhur ini semestinya mengisi persaudaraan antar manusia, persaudaraan antar agama, persaudaraan antar golongan dan persaudaraan antar segenap eksistensi yang ada dan yang akan mengada. Persaudaraan yang tercerabut dari citra persaudaraan wujudiah akan melahirkan suasana “kelompok persaudaraan” satu dengan yang lainnya akan saling menerkam dan saling meniadakan, bisa memakai topeng kelompok, agama, ras dan lainnya. Sejarah kemanusiaan, sejarah kehidupan semestinya dipenuhi oleh tetes-tetes embun persaudaraan wujudiah secara berkelanjutan sehingga melahirkan gerak kehidupan yang menyempurna demi terwujud kesempurnaan-Nya pada setiap manifestasi yang dirasakan dalam hidup keseharian.

 

Sumber gambar: Gogle

Konsep Bersama Allah dalam Pandangan Syekh Yusuf Al-Makassary

Syekh Yusuf al-Makassary merupakan tokoh besar sufi yang bukan sekedar senantiasa bergelimang Tuhan dalam setiap tarikan napasnya, tapi juga merupakan sufi pejuang yang melawan praktik kezaliman dalam dunia nyata di zamannya. Biografinya menunjukkan bahwa beliau begitu gigih dalam menuntut pengetahuan pencarian jati diri dan mengajarkannya, pada saat yang sama juga gigih menentang penjajahan dan kezaliman. Seolah beliau ingin membumikan citra surgawi yang didapat dalam perjalanan ruhaninya ke dalam dunia nyata sehingga harus berhadap-hadapan langsung dengan pelakon kezaliman dalam kehidupan. Sepanjang hidupnya dihabiskan dengan belajar mengenal diri serta mengajarkannya dan juga menghabiskan banyak waktu untuk menentang kolonialisme dan kekafiran.

Berbagai pemikiran Syekh Yusuf yang tertuang dalam banyak risalah pendek dan surat-surat yang beliau kirim kepada para sahabatnya telah diriset dan dikumpulkan oleh Tudjimah dalam buku Syekh Yusuf Makasar: Riwayat dan Ajarannya. Selain memaparkan bagaimana berzikir dengan baik untuk terhubung dengan Allah kapan dan di mana pun, karya-karya Syekh Yusuf juga kaya dengan pandangan Wahdatul Wujud. Bahkan, dalam berbagai tempat beliau mengutip langsung pandangan-pandangan Grand Master Wahdatul Wujud, Syaikh Ibnu Arabi tentang “kemenyatuan” dengan Allah.

Dengan mengusung konsep wahdatul wujud, maka pemikiran Syekh Yusuf berfokus pada urusan hubungan spesial antara hamba dengan Khalik dalam konteks ketunggalan wujud. Guna menghindari terjatuh pada kubangan panteisme atau pun deisme, Syekh Yusuf memagari ajarannya dengan doktrin “laisaka mitslihi syai’”(tiada sesuatu pun yang menyerupai Allah) dan surah al-Ikhlas. Dengan demikian pemahaman dan pengalaman spiritual berkaitan dengan Allah harus terhindar dari segala sesuatu selain Allah demi menghindari kejamakan wujud. Begitupun juga jika membincang kedekatan atau kebersamaan dengan Allah juga harus bersih dari selain-Nya secara wujudiah.

Adalah jamak secara awam didengar ungkapan dekat atau pun bersama Allah. Bagi para pencari jati diri yang sejati, ungkapan tersebut menjadi bahan perenungan mendalam. Seperti apa realitas sebenarnya yang dimaksud dengan “dekat Allah” atau pun “bersama Allah”? Bagi mereka pertanyaan ini harus dikupas tuntas karena ia bagian penting dari tujuan perjalanan spiritual. Kegagalan atau kesalahan dalam menjawab pertanyaan ini berdampak pada kegagalan perjalanan spiritual tersebut. Perjalanan spiritual semestinya kembali kepada Allah, akibat dari salah baca realitas yang sesungguhnya dan salah jawab, bisa jadi perjalanan tersebut berakhir pada selain-Nya.

Dalam konsep Wahdatul Wujud mengharuskan wujud itu tunggal. Tunggal di sini dalam artian tunggal tanpa bandingan dan tanpa rangkapan, tiada yang menyamainya termasuk dalam urutan atau kelanjutan. Tunggal sama sekali bukan dalam konteks bilangan, berarti bukan satu sebagai angka permulaan. Tunggal hanya tunggal itu yang ada, selainnya tiada. Dengan demikian, dalam konteks Wahdatul Wujud, Wujud Tunggal-Nya Allah sama sekali tidak mengizinkan hadirnya wujud selain Wujud-Nya Allah. Dalam konteks ketunggalan inilah dalam beberapa tulisannya, Syekh Yusuf dengan gamblang mengurai seperti apa hakikat hubungan hamba dengan Allah, hubungan manusia dengan Tuhannya. Termasuk, menjawab seperti apa sesungguhnya yang dimaksud dengan ungkapan “bersama Allah” sebagai mana ungkapan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan Wahdatul Wujud, yang ada hanya Wujud Tunggal, kalau pun ada sesuatu selain Wujud Tunggal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa wujud tersebut tidak lebih dari manifestasi-manifestasi dari Wujud Tunggal tersebut. Dan, manisfestasi-manifestasi tersebut tidak memiliki wujud mandiri, akan tetapi ia bergantung murni pada Wujud Tunggal. Begitu pun, dalam pandangan Syekh Yusuf, segala yang tampak, baik lahir maupun batin, tidak lebih dari tajaliat-tajaliat dari Allah SWT, tidak lebih dari manifestasi-manifestasi dari Allah SWT. Hubungan tajaliat-tajaliat ini dengan Allah adalah hubungan ketergantuangan murni. Tajaliat-tajaliat ini tidak dapat mewujud secara mandiri, akan tetapi tergantung murni total wujudnya pada Wujud Allah SWT. Tajaliat-tajaliat ini ada hanya karena Ada-Nya Wujud Allah SWT, berarti yang ada hanya Wujud Allah sementara selain-Nya hanya pancaran dari Wujud Allah tersebut. Hal ini seibarat dengan Zat Allah dan sifat-sifat-Nya yang sama sekali tidak dapat dipisahkan dan tetap dalam ketunggalan.

Hubungan hamba dengan Allah adalah hubungan Allah dengan tajaliat-Nya. Hamba bergantung murni pada Allah dalam total wujudnya, hamba ada karena Ada-Nya Allah. Dalam konteks ini secara hakiki hamba tidak memiliki wujud, ia tidak lebih sebagai tajaliat-Nya, ia  mewujud bukan karena secara azali ada wujud pada dirinya, akan tetapi ia mewujud karena adanya Wujud Allah. Oleh karena itu, dalam segala hal, hamba bergantung total kepada Allah, dan ini terjadi dalam Ketunggalan Wujud Allah SWT.

Dengan demikian, menurut Syekh Yusuf, “bersama Allah” sama sekali bukan berarti ada dua wujud yang berdampingan, yaitu Wujud Allah dan wujud hamba, akan tetapi “bersama Allah” berarti Allah bersama tajaliat-Nya, dimana hamba sebagai tajaliat tersebut. Sebagai pengandaian, “bersama Allah” itu laksana hubungan matahari dengan pancarannya, air dengan sifat cairnya, api dengan sifat panas dan cahaya dan hal-hal yang sepertinya. Kebersamaan dalam pengandaian tersebut tidak memperlihatkan bersamanya dua zat yang berbeda, akan tetapi kebersamaan dalam ketunggalan zat dan kebersamaan tersebut sama sekali tidak dapat dipisahkan.

Karena “bersama Allah” itu adalah Allah dan hamba sebagai tajaliat-Nya, sehingga hubungan ini adalah hubungan azali, dia hadir apa adanya dalam ketunggalan, bukan pada dua wujud yang berbeda, oleh karena itu seorang hamba senantiasa bersama Allah kapan dan di mana pun dia berada. Para sufi adalah orang-orang yang sangat menyadari kelemahannya sebagai tajaliat atau manifestasi yang sama sekali bukan apa-apa dan bukan siapa serta tanpa memiliki kekuatan sedikit pun, dalam kepapaan murni tersebut tetap berharap kepada Allah SWT untuk merasakan dan mengalami “bersama Allah” selalu.

 

Sumber gambar: http://i2.wp.com/metroislam.com/wp-content/uploads/2015/09/syekh-yusuf-al-makassari-ilustrasi-_120327151939-501.jpg?fit=1140%2C9999

 

The Master Key System: Andalah Sang Penentu Nasib Diri

Dengan mengacu pada ketunggalan semesta, Charles F. Haanel, dalam bukunya The Master Key System, terbit seratus tahun lalu, 1916, seolah ingin mengatakan bahwa manusialah yang menentukan nasib dirinya dan lingkungannya. Seperti apa wajah kehidupan dan keadaan seseorang, sebenarnya jauh-jauh hari sebelumnya telah ia ciptakan sendiri terlebih dahulu dalam dirinya. Seseorang sukses atau gagal dalam bidang apa pun, itu hasil olah dalam dirinya baik disengaja atau tidak, bukan hasil olah di luar dirinya.

Konon, pada semester awal kuliahnya, seorang anak muda menelisik jejeran buku di perpustakaan Harvard University, matanya tertumbuk pada sebuah judul buku, kemudian membacanya dengan penuh kesungguhan, setelah itu sang pemuda berkesimpulan ia telah menemukan kunci utama dari segala bentuk kesuksesan. Setelah menghayati isi buku itu, sang pemuda menetapkan dirinya sendiri sebagai orang yang membuat perubahan besar bagi dunia dan menjadi orang terkaya di dunia. Dan konon pula, buku ini juga yang membuat pemuda ini drop out dari kampusnya, karena begitu yakin ia telah menggenggam kunci utama dari segala kesuksesan. Pemuda tersebut telah membuktikan diri sebagai orang terkaya di dunia dan juga mengubah dunia melalui kekuatan dunia virtual. Dialah Bill Gates penuh sukses  yang dipicu oleh buku The Master Key Sistem.

Dalam ketunggalan semesta, Haanel membagi dua alam, yaitu alam dalam diri dan alam di luar diri. Hubungan kedua alam ini adalah hubungan sebab-akibat. Alam dalam diri merupakan sebab dan alam luar diri adalah akibat. Proses penciptaan itu ada pada sebab, apa pun bentuk ciptaan itu, termasuk sukses mau pun gagal, berarti proses penciptaan itu bermula pada dalam diri—sebagai sebab. Karena berproses dalam diri, maka penciptaan itu ada dalam kendali penuh seseorang. Sedangkan kondisi eksternal diri dan lingkungan hanyalah perwujudan luar dari realitas yang sebelumnya  yang dicipta dalam diri. Realitas eksternal ini sudah di luar kendali langsung seseorang, karena ia memang sebagai akibat dari realitas dalam diri.

Jika ingin mengubah keadaan jangan mengubah pada tingkat akibat, yaitu di dunia luar diri, karena tidak akan menghasilkan perubahan yang mendasar, hanya berpindah dari satu akibat ke akibat lainnya yang berasal dari citra sebab yang sama. Oleh karena itu perubahan mendasar hanya terjadi dengan cara mengubah sebab, yaitu mengubah realitas dalam diri sebagai tempat bersemayamnya sebab yang sesungguhnya.

Dapat pula dikatakan bahwa dalam hal penciptaan dan perubahan, kekuatan sesungguhnya ada dalam diri, sebagai tempat bersemayam sebab, dan bukan pada realitas luar diri yang merupakan tempat mewujudnya segenap akibat. Ubahlah realitas dalam diri maka secara otomatis realitas luar diri akan berubah dengan sendirinya, karena ia memang merupakan perwujudan luar dari realitas dalam diri sebagai akibat semata. Kekuatan untuk mengubah ada dalam diri dan bukan pada luar diri. Sehingga, mengubah realitas dengan cara menyerap kekuatan di luar diri tidak akan menghasilkan perubahan besar karena ia hanya bermodalkan kekuatan yang bersemayam di alam akibat, bukan dari sumber kekuatan sesungguhnya yang ada di alam sebab, yaitu alam dalam diri.

Pada alam dalam diri, alam sebab, bersemayam diri nonfisik dan Tuhan. Pada alam luar diri, alam akibat bermukim diri fisik dan lingkungan. Penciptaan berawal dari interaksi antara diri nonfisik dengan Tuhan yang menghasilkan realitas internal melalui proses berpikir. Berpikir pada diri tidak dapat berdiri sendiri karena ia tergantung murni pada Yang Maha Berpikir yang sekaligus sebagai Maha Mencipta. Oleh karena itu setiap kali terjadi aksi pikir maka ia terhubung langsung dengan Tuhan, sehingga proses penciptaan internal terjadi dan hal ini secara otomatis akan dilanjutkan ke penciptaan dunia eksternal.

Pada tahap inilah seseorang mempunyai akses untuk menciptakan realitas diri dan lingkungannya. Dengan cara menyengaja berpikir dan menciptakan gambaran lengkap dalam diri seperti apa realitas eksternal yang diinginkan secara kontinyu yang diperhadapkan langsung secara mental kepada Yang Maha Mencipta, maka gambaran tersebut akan memiliki kekuatan untuk menyata. Semakin intens secara mental gambaran ini dilakukan tiada henti di hadapan Yang Maha Mencipta, semakin kuat pula dayanya untuk mengekternalisasi diri untuk menjadi kenyataan. Semakin kuat daya yang ada pada alam dalam diri, alam sebab, maka semakin terdesak pula ia untuk menyata dalam dunia luar diri.

Tuhan adalah Master Mind dan manusia adalah mind yang di dalamnya bersemayam semua potensi, dalam tingkatan ini kondisi serba pasif. Murni alam potensi. Yang membuat potensi ini keluar dari dirinya adalah proses berpikir. Dan, kemampuan berpikir itu ada pada manusia. Pada manusia, mind begitu bergerak menjadi berpikir dan berpikir ini menyentuh Master Mind yang Omnipotent, mengandung semua potensi. Proses berpikir menyentuh Master Mind mengakibatkan Omnipotent mengeluarkan potensinya yang sesuai dengan citra pikiran yang menyentuhnya. Jika citra positif yang dibawa oleh pikiran, maka ia akan mengundang keluar realitas positif dari persemayaman potensinya. Jika pikiran membawa citra negatif, maka ia akan mengeluarkan realitas negatif dari persembunyiannya untuk merealitas ke dunia eksternal.

Pikiran yang lengkap menghasilkan visi, gambaran batin atau realitas batin yang juga merupakan hasil dari interaksi dengan Yang Maha Berpikir. Gambaran ini, yang sebenarnya hasil dari Yang Maha Berpikir, akan secara otomatis dicarikan jalan untuk merealitas ke dunia eksternal oleh Yang Mahacerdas dan diri yang berpikir dan bervisi hanya terikut saja dalam proses ini. Dengan berpikir, jika kita menciptakan realitas-realitas kesempurnaan dalam diri secara kontinyu, maka kita akan memanen realitas tersebut dalam dunia eksternal, begitu pun yang terjadi pada proses sebaliknya. Nasib kita ada dalam kepalan tangan kita sendiri, bukan dalam  kepalan tangan orang lain atau apa pun.

 

Sumber gambar: http://communicationstyles.org/wp-content/uploads/2015/09/attention.jpg

 

 

Relasi Mistis antara “aku” dan “Aku” dalam Konsep Wahdatul Wujud

Teka-teki tentang diri atau “aku” merupakan misteri sepanjang sejarah manusia. Telah banyak cara dan jawaban yang diberikan untuk menjawab siapa “aku” sebenarnya namun selalu saja menyisakan berbagai pertanyaan. Dari setiap cara dan jawaban itu selalu saja memancing pertanyaan berikutnya, yang menunjukkan bahwa misteri siapa “aku” belum tersibak secara benderang. Jika dikatakan bahwa “aku” mengetahui dan bertindak, di sisi lain tiada kejelasan siapa “aku” sebenarnya, maka segenap pengetahuan dan tindakan tersebut tidak memiliki pijakan yang jelas, oleh karena itu runtuhlah semua bangunan pengetahuan dan tindakan tersebut. Pengetahuan dan tindakan semacam ini tidak memiliki nilai kepastian sehingga tidak dapat dijadikan acuan, semua itu akibat dari masih tersamarnya siapa “aku” yang sebenarnya. Begitu pun dalam hal ibadah, karena tidak jelasnya siapa “aku” atau salah paham tentang siapa “aku” menyebabkan segenap bangunan ibadah runtuh seketika, karena pelakon ibadah yang tidak jelas.

Setidaknya ada dua mazhab pemikiran dalam memandang siapa “aku” secara hakiki. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “aku” memang ada secara mandiri, berwujud dan tidak bergantung pada yang lain. Kedua, pendapat yang berpendirian bahwa “aku” tidak memiliki wujud yang mandiri, akan tetapi ia bergantung pada yang lain. Kedua mazhab ini memiliki interpretasi yang sangat berbeda dalam memandang “aku” dan berimplikasi serius pada pemaknaan pengetahuan dan tindakan pada “aku” selanjutnya.

Pendapat pertama yang mengatakan bahwa “aku” memiliki wujud mandiri, mengharuskan “aku” tampil sebagai manusia super: “aku hebat dalam segala hal dan tidak bergantung pada yang lain”. Dalam bentuk ekstrim pendirian semacam ini pada sisi manusia dapat melahirkan penindasan sesama manusia karena adanya kompetisi kekuatan, dan pada sisi keyakinan dapat melahirkan ateisme, karena percaya diri yang sangat berlebihan dalam kemandirian wujud, mengakibatkan “aku” mengingkari Tuhan.

Yang menjadi pertanyaan utama adalah: apakah “aku” itu sesungguhnya terikat pada tubuh fisik atau tubuh non-fisik saja? Atau terikat pada keduanya? Atau mungkin juga “aku” justru tidak terikat pada keduanya, baik tubuh fisik maupun tubuh non-fisik? Apakah tubuh fisik dan atau tubuh non-fisik merupakan “aku” atau bukan aku, akan tetapi hanyalah “alat” bagi “aku” untuk menyata? Apakah “aku” itu identik dengan jiwa atau sama sekali bukan jiwa, akan tetapi jiwa hanyalah “alat” bagi “aku” untuk menyata? Pertanyaan semacam ini banyak diabaikan, terlebih lagi jawabannya, namun sangat menentukan bagi kepastian landasan pijak pengetahuan dan tidakan manusia secara keseluruhan. Juga, pada nilai ibadah ummat manusia.

Dalam konsep Wahdatul Wujud yang ada hanya wujud tunggal, kalaupun ada selainnya maka hal tersebut tak lain hanyalah manifestasi atau penampakan dari wujud tunggal tersebut. Penampakan tidak memiliki wujud hakiki akan tetapi ia bergantung wujud pada wujud tunggal. Kebergantungan ini adalah kebergantungan wujudiah, kebergantungan murni. Manifestasi hanya mewujud karena ketergantungan totalnya pada wujud tunggal. Jadi, secara hakiki yang mewujud pada manifestasi adalah wujud tunggal itu sendiri.

Dalam konteks Wahdatul Wujud, “aku” harus dipandang sebagai manifestasi dari “Aku”, sehingga tidak terjadi dualisme wujud hakiki, yaitu kesalahan pandang yang mengatakan bahwa “aku” dan “Aku” adalah dua wujud hakiki yang berbeda. “Aku” dan “aku” berada pada satu wujud, yaitu wujud tunggal, hanya saja “Aku” berada pada wujud hakiki dan “aku” hanyalah manifestasi atau penampakan dari “Aku”. Dan, secara wujudiah “aku” bergantung total dan murni pada “Aku”. Secara hakiki pada saat “aku” menyebut diri sebagai “aku” sesungguhnya yang dia rujuk adalah “Aku”. Oleh karena itu “Aku” adalah aktor utama dan “aku” hanyalah “alat” bagi “Aku” untuk bertindak dan menyata.

Pada segenap kebaikan aktor utamanya adalah “Aku” dan “aku” hanyalah “alat” bagi “Aku” untuk menyebar kebaikan dalam kehidupan, oleh karena itu kesalahan besar jika terjadi klaim oleh “aku” bahwa dialah aktor utamanya. Lalu, bagaimana dengan hal-hal yang dipandang sebagai keburukan, apakah juga aktor utamanya adalah “Aku”? Atau pelaku utamanya adalah “aku”? Untuk menjawab pertanyaan ini dibutuhkan ruang lain yang lebih leluasa, namun tetap berpijak pada kosistensi argumen yang berakar dari konsep Wahdatul Wujud.

Sebagai wujud yang tidak memiliki wujud yang mandiri dan hakiki, maka “aku”, karena ia hanyalah manifestasi dari “Aku”, tidak mungkin menjadi pijakan bagi tindakan dan pengetahuan yang sesungguhnya, oleh karena itu hal tersebut hanya layak dinisbahkan pada “Aku”, karena pada “Aku”-lah bersemayam wujud hakiki pengetahuan dan tindakan. Sehingga adalah sama sekali tidak mungkin menemukan pengetahuan dan tindakan yang baik dan benar sesungguhnya hanya berpangkal pada “aku” semata tanpa menghadirkan dan meleburkannya pada “Aku”.

Dalam konteks hamba-Tuhan, maka “aku” adalah hamba dan “Aku” adalah Tuhan. Dengan demikian hamba tidak memiliki diri sendiri yang mandiri namun ia bergantung total dan murni pada Tuhan. Kebergantungan hamba pada Tuhan ini bersifat azali dan menyeluruh melampaui konsep ruang dan waktu. Tanpa sekejap pun hamba tidak bergantung pada Tuhan, dengan demikian secara hakiki hamba senantiasa bersama Tuhan, oleh karena itu tidak ada yang ada pada hamba tidak dalam pengetahuan Tuhan, termasuk kebaikan dan keburukannya. Setiap kali hamba mengetahui dan bertindak  maka hal itu langsung dilakukannya di hadapan Tuhan tanpa perantara, karena pada dasarnya yang memiliki wujud hanya Tuhan, termasuk wujud tindakan dan pengetahuan yang dinisbahkan pada hamba.

 

Sumber gambar: https://systemicalternatives.files.wordpress.com/2015/01/nature-photos-2012-7.jpg?w=1200

Fore Play untuk Menikmati Kedalaman Rasa Tutur Jiwa Sulhan Yusuf

Fore play, pengantar dini untuk hanyut dalam kenikmatan selanjutnya. Sengaja dipilih fore play dibanding warming up dalam mengawali “membaca” karya bernas Tutur Jiwa Sulhan Yusuf. Pada warming up mengandung makna pendahuluan mengantar kepada fokus dan menguras energi, sementara itu fore play juga pendahuluan, namun lebih pada makna kesantaian dan kenikmatan serta mengakumulasi energi. Dengan fore play ini, diharapkan pembaca dapat larut menikmati legitnya kedalaman rasa dan makna saat membaca Tutur Jiwa, berharap mencapai klimaks pemahaman dalam setiap paragrafnya.

Salah satu kunci memahami setiap paragraf tunggal Tutur Jiwa Sulhan Yusuf adalah menyelami relasi antara Han dan Sang Guru. Sang Guru dengan santun dan lembut namun penuh ketegasan makna senantiasa membimbing Han ke kedalaman makna lautan kebijaksanaan. Han diantarkan memasuki wilayah keluasan dan kedalaman makna setiap peristiwa yang dialami dengan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Dengan keberadaan masing-masing, secara jeli dapat dilihat relasi keduanya berupa: Han mewakili “aku individual(=aku)” dan Sang Guru mereprentasikan “Aku Universal(=Aku)”. Sangat tampak dalam percakapan keduanya, Sang Guru selalu dan senantiasa membimbing Han ke keuniversalan makna setiap peristiwa yang dibincang. Misal Sang Guru bertitah: “Han…, Ramadan sebagai nama bulan boleh pergi meninggalkanmu, tetapi sebagai jalan kesucian tetaplah abadi buat sulukmu”(hal. 185). Di sini, Ramadan dimaknai bukan sekadar bulan suci yang berisikan 30 hari, akan tetapi telah bertambah makna menjadi tarekat yang tak berbatas hari. Perluasan dan pendalaman makna semacam ini ditemukan dalam setiap tutur Sang Guru, secara halus tak terasa, kepada Han, seolah dengan kelihaian penuh, menenggelamkan Han ke dalam kenikmatan lautan makna dan kebijaksanaan yang begitu tinggi. Hal ini adalah efek dari Sang Guru berdimensi “Aku Universal”.

Ada tiga hal yang patut dicermati sebagai fore play untuk menikmati setiap menu sajian Tutur Jiwa yaitu, pertama, dari mana sumber tutur bijak Sang Guru berasal? Kedua, mengapa Sang Guru senantiasa bertutur bijak? Ketiga, mengapa Han mengikut saja, bahkan menikmati tutur bijak Sang Guru? Tidakkah perlu sesekali Sang Guru keseleo lidah dalam bertutur atau tetiba Han menggurui Sang Guru? Kesemua tanya tersebut jawabannya bisa didapat dari hasil menelisik hubungan mistis antara Han dengan Sang Guru.

Relasi Han dengan Sang Guru dapat diurai dengan fenomenologi. Han sebagai “aku fenomena” dan Sang Guru sebagai “Aku noumena”. “aku fenomena” bergelut dengan dunia nyata, sementara “Aku noumena” bersemayam di alam imanen. Menurut Kant, noumena tak tersentuh, kita hanya dapat membaca fenomena saja. Menurut mazhab ini, pengetahuan itu hasil dari pergumulan empirik, artinya yang dapat memiliki pengetahuan itu adalah fenomena, karena fenomenalah yang menyentuh dunia empirik, bukan noumena. Bila konsisten dengan cara pandang ini, semestinya Han-lah sebagai “aku fenomena” yang mengajar Sang Guru yang “Aku noumena” sebab ranah pengetahuan adalah ranahnya fenomena, ranahnya Han, bersemayam dalam realitas nyata. Kenyataannya terbalik, dalam Tutur Jiwa Sang Guru yang “Aku noumena” yang bertitah pada Han yang “aku fenomena”, padahal tempat bersemayamnya Sang Guru di alam noumena, bukan tempat bertumbuh-kembangnya ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam konteks ini, selain ada dua aku yang eksis yang memungkinkan Han membantah Sang Guru karena kesetaraan wujud, pendekatan ini tidak mampu menjawab tuntas ketiga pertanyaan di atas, sehingga dibutuhkan pendekatan yang lain.

Dengan cara lain, Relasi Han dengan Sang Guru dapat ditilik dari segi relasi ketunggalan wujud, pendekatan teori Wahdatul Wujud. Salah satu cara untuk menjelaskan teori ketunggalan wujud ini adalah dengan menganalisa kopula sebab-akibat. Analisa kopula ini dapat mengantarkan pada pahaman hakiki apakah wujud itu sebenarnya jamak atau tunggal. Dari peta wujud inilah nanti dapat dilacak di mana posisi Han dan Sang Guru beserta kualitas-kualitas masing-masing, termasuk setiap tutur mereka.

Secara umum dipahami bahwa pada kopula sebab-akibat terdapat tiga hal, yaitu sebab, akibat dan relasi keduanya. Pahaman ini, dengan sepintas, mengisyaratkan adanya tiga wujud, yaitu wujud sebab, wujud akibat dan wujud relasi keduanya. Namun jika dicermati lebih teliti, dari ketiganya, hanya sebablah yang memiliki wujud hakiki, akibat dan relasi sekedar penampakan luar dari wujud sebab. Wujud pada akibat dan relasi keduanya sebenarnya tidak ada, sebab keduanya bergantung wujud pada wujud sebab, sehingga yang memiliki wujud itu sesungguhnya hanyalah sebab. Oleh karena itu, secara wujudiah, akibat dan relasi sebab-akibat bergantung murni pada wujudnya sebab. Sehingga yang ada hanya wujud tunggal, selainnya adalah manifestasi, pancaran dari wujud tunggal tersebut.

Dalam konteks pemahaman di atas, mau atau tidak, Han dan Sang Guru harus dipandang sebagai wujud tunggal, bukan dua wujud secara individual berdiri sendiri. Yang membedakannya adalah siapa yang bergantung murni pada siapa atau perbedaan itu pada tingkat wujudiah yang mereka duduki dalam cakupan wujud tunggal.

Secara cerdik, Sulhan Yusuf yang tunggal membelah diri dalam buku Tutur Jiwa menjadi Han dan Sang Guru. Seolah hal ini menampakkan rentang wujud atau hirarki wujud yang ada dalam diri Sulhan Yusuf. Katakanlah, Han mewakili tingkat kerendahan wujud tertentu dan Sang Guru merepresentasikan ketinggian wujud tertentu pula, yang keduanya ada dalam diri Sulhan Yusuf. Tutur yang terjadi adalah, jika Han yang berkata kepada Sang Guru, maka kerendahan wujud bertutur kepada ketinggian wujud, sedangkan jika Sang Guru yang bertutur kepada Han, maka ketinggian wujud yang bertitah pada kerendahan wujud. Namun yang perlu dicatat adalah keduanya dalam wujud yang tunggal. Tutur keduanya adalah tutur yang menginternal, bukan mengeksternal, sehingga tidak membuka peluang untuk melahirkan wujud baru.

Untuk menjawab ketiga pertanyaan di atas, Sang Guru sebagai “Aku Universal” pada ketinggian wujud tentu termuat dalam dirinya ketinggian pengetahuan pula, yang terekspresikan menjadi tutur-tutur jiwa kepada Han. Pengetahuan bijak ini bukan hasil dari pergumulan empirik sebagaimana yang terjadi pada alam fenomena, akan tetapi ia telah bersemayam sejak azali pada ketinggian wujud tersebut sebagai titisan dari pengetahuan bijak-Nya. Sehingga, setiap kali Sang Guru bertutur, tak lain yang terekspresikan adalah pengetahuan bijak setinggi makam wujudiah tempat bersemayam Sang Guru.

Ada pun Han, menduduki makam wujudiah dari kerendahan, akan ikut begitu saja pada titah Sang Guru, karena memang ketundukan wujudiah, mencucup segenap curahan pengetahuan bijaknya. Justru dengan manut semacam itu, Han mendapat keuntungan besar, yaitu pengetahuan bijak yang ia peroleh menjadi pendongkrak baginya untuk naik ke makam wujud yang lebih tinggi. Adalah logis jika telah mencucup pengetahuan bijak selama sekitar tiga tahun, Sang Guru mentasbihkan Han menjadi Guru Han, bukan sekedar akumulasi tutur bijak yang ia terima, akan tetapi seiring dengan itu terjadi peningkatan makam wujudiah. Mungkin sebelumnya Han menghuni di kerendahan makam wujudiah, namun kini berubah, Guru Han juga mendiami ketinggian makam wujudiah juga (hal. 209).

Dengan paradigma di atas, paragraf mana pun yang dibuka dalam Tutur Jiwa senantiasa akan ditemukan bahwa Sang Guru senantiasa bertitah dari ketinggian wujud memancarkan makamnya berupa tutur-tutur bijak yang jika direnungkan lebih dalam, akan meningkatkan makam wujudiah pendengarnya pula. Betapa indahnya Sang Guru bertutur: “Han…, karena tampangmu tidak begitu menawan, maka perbanyaklah tersenyum. Moga rupawan wajahmu akibat senyum, terpampang merona selebar permadani yang memukau semesta,” (hal. 177). Bayangkan, kekurangberuntungan di wajah, melaui tutur bijak Sang Guru, berubah menjadi tebar pesona dengan percaya diri tinggi.

Pada akhirnya, setiap paragraf Tutur Jiwa merupakan untaian mutiara kearifan ilahi yang ditutur dari ketinggian makam wujudiah yang diungkap di kekinian dan kedisinian sehingga memungkinkan para pembaca menikmati setiap sajiannya untuk menyelam ke dasar palung kebijaksanaan yang sesungguhnya merupakan pancaran dari Dia Yang Mahabijak. Sebagaimana karya-karya lain yang ditulis pada ketinggian makam kebijaksanaan mengabadi, maka Tutur Jiwa pun akan mengabadi, bertutur kepada siapa pun tiada henti menularkan virus kebijaksanaan pada kehidupan.

 

 

 

Mengenal Diri dengan Merasakan Gerak Substansial Mulla Shadra

Konsep Wihdatul Wujud Ibnu Arabi telah banyak digunakan dalam dunia tasawuf sebagai awal pijakan untuk menjelaskan hubungan antara hamba dengan Tuhan sebagai hubungan ketunggalan. Suatu hubungan yang membuat lebih terang betapa dekatnya hamba dengan Tuhan, bahkan melampaui relasi yang berunsur jarak dan waktu. Nuansa konsep Wihdatul Wujud yang disodorkan oleh Mulla Shadra dengan tetap menggunakan jejak pemikiran Ibnu Arabi dan illuminasi Suhrawardi, yang memunculkan teori ‘gerak substansial’, membuat konsep ini lebih bermuatan ‘operatif’. Maksudnya, dengan bantuan teori gerak substansial Mulla Shadra, konsep Wihdatul Wujud dan illuminasi mendapat sejenis “manual operatif” untuk dibumikan dalam dunia nyata, dunia eksternal, termasuk ke dalam dunia tasawuf.

Sekalipun sangat simplifikatif, untuk kepentingan tulisan ini setidaknya ada empat hal yang harus mendapat perhatian khusus, yaitu: konsep Wihdatul Wujud, cahaya dan pancarannya, konsep sebab-akibat, dan teori gerak substansial itu sendiri. Pertama, konsep Wihdatul Wujud. Wujud itu tunggal dan meliputi. Segala sesuatu yang ada, apakah di alam internal atau di alam eksternal, keberadaannya tak lepas dari keberadaan wujud yang tunggal itu. Dalam dunia sufistik, Wihdatul Wujud dimaknai sebagai Tuhan Yang Mahatunggal, tiada wujud lain selain Dia, sehingga Ia adalah Yang Maha Meliputi segala wujud yang ada. Kalau pun ada wujud lain selain Wujud-Nya, maka wujud tersebut hanyalah ‘manifestasi’ dari Wujud-Nya dan bukan Wujud-Nya itu sendiri. Jadi hubungan hamba dengan Tuhan adalah hubungan Wujud dengan manifestasinya. Hamba tak punya wujud, akan tetapi hanya penampakan dari Wujud-Nya, semata manifestasi.

Kedua, cahaya dan pancarannya. Dalam dunia tasawuf, tamsil antara Tuhan dengan hamba ibarat cahaya dengan pancarannya. Tuhan sebagai Yang Mahacahaya dan hamba adalah pancaran dari Yang Mahacahaya tersebut. Hubungan antara Tuhan dengan hamba adalah hubungan antara cahaya dengan pancarannya. Hamba bukanlah pemilik cahaya, akan tetapi kehadirannya semata merupakan pancaran dari Yang Mahacahaya. Dalam konteks ini, secara hakiki yang ada hanya Tuhan semata sebagai Sumber sekaligus Pemilik Cahaya dan hamba tiada karena ia tiada lain selain merupakan pancaran dari Cahaya-Nya.

Ketiga, konsep sebab-akibat. Dalam sorotan teori wujud tunggal, hanya sebab yang sesungguhnya memiliki wujud, sedangkan akibat hanya memperoleh kelimpahan wujud dari wujudnya sebab. Oleh karena itu akibat bukanlah pemilik wujud, wujudnya hanya efek dari keberadaan wujud sebab. Dengan demikian keberadaan akibat bergantung murni pada adanya sebab. Tuhan sebagai Yang Mahasebab, Dia-lah Sumber sekaligus  Pemilik Wujud sedangkan hamba semata hanya kelimpahan dari Wujud-Nya. Dengan demikian, kebergantungan hamba pada Tuhannnya adalah kebergantungan wujudiah murni. Secara wujudiah, hamba tak mungkin ada tanpa kehadiran Yang Mahawujud dan hamba sama sekali bukan pemilik wujud. Kehadiran hamba dan segala sesuatu murni bergantung langsung pada Wujud-Nya.

Keempat, gerak substansial. Gerak substansial adalah berubahnya yang potensial menjadi aktual. Pergerakan ini mesti bersifat gradatif karena perubahan dari potensi ke aktual tidak dapat dikumpulkan dalam satu waktu. Artinya, perubahan dari potensi sempurna menuju aktual sempurna memakan waktu, dan setiap penggalan waktu tersebut menunjukkan tahap-tahap perubahan. Tahap-tahap perubahan per waktu inilah menunjukkan gradasi perubahan tersebut. Perubahan ini adalah nyata dan terjadi di dunia nyata. Tidak mungkin gerak perubahan nyata ini hanya muncul di permukaan atau di luaran saja, pasti ada sumbernya. Dan, sumber tersebut ada pada substansinya, pada jauharnya. Pada substansi bersemayam gerak dinamis secara azali, yang memungkinkan segenap wujud untuk memanisfestasi, segenap cahaya untuk memancar dan segenap sebab untuk melahirkan akibat. Gerak substansial ini membuat jelas proses kehadiran manifestasi dari sumber wujudnya. Gerak substansial ini juga yang menjadikan terang kerja cahaya dengan pancarannya. Gerak substansial ini pula yang membuat jelas proses hubung-kait antara sebab dengan akibat. Yang membuat semua konsep itu beroperasi dan merealisasi adalah gerak substansial.

Dalam hidup ini tiada yang tanpa gerak, semuanya berubah dan berubah, dan perubahan itu bersumber dari gerak dinamis yang ada dalam substansi kehidupan, yang berasal dari Dia Yang Maha Menggerakkan. Gerak substansial merupakan gerak menyempurna yang mengantarkan setiap sesuatu ke kesempurnaannya. Gerak yang menyerupai kerinduan yang mengantarkan perindu kepada yang dirindu dan rasa cinta sang pencinta kepada yang dicinta . Yaitu, rasa rindu manifestasi untuk kembali menyatu dengan wujudnya dan rasa rasa cinta wujud untuk merangkul erat manifestasinya. Juga, rasa rindu pancaran cahaya untuk kembali ke haribaan sumbernya dan rasa cinta sumber cahaya untuk menyatu-tubuh dengan pancarannya. Demikian pula, rasa rindu akibat untuk kembali kepada sebab dan rasa cinta sebab untuk senantiasa mengirim hidup pada akibat. Gerak substansial menjadi kekuatan  nyata bagi manunggalnya wujud dengan manifestasinya, pancaran cahaya dengan sumbernya, juga pada sebab dengan akibat.

Perubahan substansial menyata dan menyatu pada perubahan eksternal yang merupakan titah dari Dia Yang Maha Menggerakkan. Dalam diri dan di luar diri penuh dengan perubahan-perubahan, dan setiap perubahan itu adalah kehadiran-Nya yang nyata. Pada darat dan laut, pada langit dan bumi, pada segala di luar diri terjadi perubahan dan semua itu adalah kehadiran-Nya yang nyata. Pada mata, telinga, tangan, kaki, jantung, hati dan pada hidup bahkan seluruh dalam diri senantiasa  terjadi perubahan dan itu menunjukkan kehadiran-Nya yang nyata. Semua itu menjadi nyata karena semua yang ada, termasuk hamba, bergantung murni pada Wujud-Nya melampaui batasan ruang dan waktu. Betapa indahnya jika lelakon syariat merupakan lelakon gerak substansial yang dirasakan kehadirannya dengan hati yang jernih dan terpahamkan dengan pikiran bersih.

 

Sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-JdrRF7JPttI/TiAcEouBgnI/AAAAAAAAAMY/FSJqDQCyrd4/s1600/mulla-sadra1.jpg

The Science of Getting Rich

Soekarno, sejak muda, telah melakukan dua langkah penting  yang mengantarkan ke arah Indonesia merdeka. Langkah tersebut, baik beliau sadari atau tidak, sangat jelas berperan nyata. Tanpa langkah penting ini, sepertinya, mustahil dicapai kemerdekaan Indonesia. Langkah-langkah tersebut adalah: pertama, sejak muda Soekarno punya visi atau pandangan batin yang jelas tentang seperti apa Indonesia merdeka;  kedua, beliau berjuang tanpa henti dengan ikhlas merealisasikan visi tersebut. Kedua virus ganas inilah yang dengan gagah berani Soekarno tularkan kepada siapa pun sehingga mewabah tak terbendung dalam hitungan sekitar seperempat abad, hasilnya adalah proklamasi bagi Indonesia merdeka.

***

Eksakta. Ilmu untuk menjadi kaya itu adalah ilmu pasti, sebagaimana matematika dan sama sekali bukan kekuatan magis dan sejenisnya. Demikian ungkap Wallace D. Wattles dalam bukunya The Science Of Getting Rich terbitan 1910, lebih dari seabad yang lalu. Beliau seorang penulis, pengusaha, pendidik dan motivator yang sukses di zamannya. Sebagaimana ilmu eksakta yang lain, jika dioperasikan hukum-hukumnya dengan benar maka akan menghasilkan kepastian yang terukur. Demikian pula dengan ilmu menjadi kaya, jika dijalankan hukum-hukumnya dengan benar maka pasti menghasilkan kekayaan. Kaya bukan hasil dari kerja atau berada di lingkungan kaya, jika hal itu benar, maka semua orang yang bekerja dan berada di lingkungan kaya sudah pasti menjadi orang kaya. Kenyataan tidak demikian, namun kaya adalah hasil dari mengoperasikan hukum-hukum kekayaan. Jika dijalankan hukum-hukum menjadi kaya tersebut, apakah secara sadar atau tidak, ia pasti menghasilkan kekayaan.

Menurut Wattles menjadi kaya itu wajib, sebab untuk mengaktualkan diri menjadi manusia sempurna sebagaimana kehendak Tuhan butuh berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan diri tersebut. Dan, dengan memiliki kekayaan berlimpah manusia dapat memanfaatkan kekayaan tersebut untuk pengembangan diri sehingga lebih mudah untuk menjadi yang terbaik dalam hidup dan mengelola kehidupan. Kebalikannya, kemiskinan membatasi manusia untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupan sehingga kehadirannya tidak maksimal bagi kemaslahatan. Wattles menolak kemiskinan struktural dan sejenisnya, akan tetapi kemiskinan adalah hasil dari tidak diterapkannya satu ilmu pasti, yaitu sains untuk menjadi kaya.

Menurut Wattles alam semesta ini merupakan ketunggalan kosmik yang di dalamnya berlaku hukum-hukum alam yang eksak. Dalam ketunggalan ini tidak ada yang terlepas mandiri, akan tetapi semua terhubung satu dengan yang lainnya. Ada hukum-hukum tertentu yang berlaku antar unsur-unsur dalam kosmos yang tunggal itu, termasuk hukum menjadi kaya. Bahwa hidup ini berbasis pada penciptaan, dari yang dikatakan tiada menjadi ada dan dari yang ada menjadi banyak, bertumbuh. Penciptaan itu sifatnya bertumbuh. Dari penciptaan yang bertumbuh itulah melahirkan keberlimphan, kekayaan.

Dalam ketunggalan kosmik mencakup: 1) sumber segala sesuatu, 2)kekuatan penciptaan dan, 3) realitas nyata dari ciptaan. Ketiga hal ini terhubung-kait antara satu dengan yang lainnya. Segala sesuatu yang ada dalam hidup ini memiliki asal, dan asal dari segala sesuatu hanya satu, yaitu alam Formless Omnipotent, alam multi potensi tanpa bentuk. Semua yang ada dalam hidup ini berasal dari bahan asal yang satu dan sama, yaitu Formless Omnipotent tak berbatas. Begitupun dengan semua jenis kekayaan, juga berasal dari sumber tak berbatas yang satu ini.

Formless Omnipotent tidak berubah dari kondisinya yang tanpa bentuk multi potensi hingga ia disentuh oleh kekuatan penciptaan, yaitu thought, pikiran. Pikiranlah yang memiliki kekuatan mencipta, yang mengeluarkan Formless Omnipotent dari kondisi asalnya menjadi manifestasi yang berbentuk. Pikiran yang merupakan titisan dari Yang Mahacerdas ini tertitipkan dalam diri manusia, sehingga manusia menjadi agen yang dahsyat dalam mencipta, termasuk mencipta kekayaan. Dengan demikian, untuk menjadi kaya, manusia tidak perlu keluar dari dirinya, cukup memaksimalkan kerja pikirannya dalam mencipta guna mengubah Formless Omnipotent tak berbatas menjadi berbagai jenis kekayaan yang ia inginkan. Benarlah kata para tetua dahulu, kunci rahasia kehidupan ada dalam diri manusia, termasuk kunci kekayaan. Kalau ada yang masih hidup dalam kemiskinan, berarti kunci kekayaan tersebut hilang dalam dirinya atau setidaknya tidak pandai menggunakan kunci tersebut.

Everything created twice, segala sesuatu tercipta dua kali, termasuk kekayaan. Pertama, kekayaan diciptakan dari Formless Omnipotent oleh pikiran ke dalam bentuk visi batin, ke dalam bentuk gambaran batin. Kedua, selanjutnya kekayaan dalam bentuk visi batin tersebut diubah ke alam nyata dengan kekuatan-kekuatan lahiriah. Kedua tahapan ini dilakukan secara bertahap berurutan sekaligus bersamaan sebagai sebuah keniscayaan hukum untuk menjadi kaya. Tahap pertama adalah kerja batin dan tahap kedua adalah kerja lahiriah, namun dalam pelaksanaannya kedua tahap tersebut dijalankan bersamaan. Kekayaan adalah hasil dari aktivitas penciptaan batiniah yang dihadirkan melalui kerja ikhlas ke dalam dunia nyata.

Menurut Wattles, untuk menjadi kaya adalah pekerjaan sederhana, cukup melakukan dua tahap di atas. Dengan pikiran, berasal dari keberlimpahan tanpa batas Formless Omnipotent, sehingga tanpa kompetisi, ciptakan gambaran terang dalam diri jenis kekayaan apa yang diinginkan. Biarkan gambaran ini, visi batin ini, senantiasa hidup dalam diri kapan dan di mana pun sehingga ia menjadi sebuah kehendak kuat secara alami untuk menyata. Selanjutnya lakukan secara lahiriah apa saja yang dapat dilakukan secara sempurna, sekalipun hal tersebut secara kasat mata sama sekali tidak berhubungan dengan gambaran visi batin kekayaan yang diharapkan. Bertindaklah sekarang, untuk saat ini, bukan bertindak untuk kemarin atau yang akan datang, karena kita hidup dalam konteks kekinian. Karena dalam ketunggalan kosmos, biarlah Yang Mahacerdas, dengan kesempurnaan pengetahuannya, menghubungkan setiap detail tindakan sempurna yang dilakukan dengan visi batin yang dicipta sebelumnya, sebagai kekuatan untuk membumikan jenis kekayaan yang diinginkan. Dalam bahasa sederhana, niatkan setiap tindakan sesempurna mungkin dengan ikhlas sebagai upaya untuk membuat nyata visi batin yang telah dicipta sebelumnya.

***

Jika disimak dengan rinci tulisan-tulisan Soekarno, sangat jelas tergambarkan beliau melakukan kedua tahapan yang disebutkan Wattles. Dengan kekuatan mencipta dalam pikirannya, Soekarno mengurai Formless Omnipotent menjadi visi batin berbentuk masa depan yang terang tentang Indonesia merdeka. Visi batin inilah yang beliau bawa kapan dan di mana pun, yang beliau kawinkan dengan kerja nyata ikhlas setiap detailnya secara terus-menerus tanpa henti untuk membumikan visi mulia tersebut.

Kedua tahap tersebut harus hadir bersama. Visi batin Indonesia merdeka tanpa kerja ikhlas berkelanjutan sama dengan kerja ikhlas berkelanjutan tanpa visi batin  Indonesia merdeka, sama-sama tidak menghasilkan Indonesia merdeka. Ini satu formula eksak. Keduanya harus padu, sama sekali tidak dapat diambil salah satu dan yang lainnya diabaikan. Kedua tahap yang dilakukan Soekarno ini, tentu dapat pula dilakukan oleh siapa pun untuk memperoleh jenis kekayaan yang ia kehendaki.

Ilmu hudhuri menyebutkan formulasi: Tuhan-dalam-diri, diri-dalam Tuhan. Ketunggalan mengikat kepaduan hamba dengan Tuhan. Ada titisan Tuhan Yang Mahakaya,  Yang Maha Mencipta dalam diri manusia. Manakala kehendak Tuhan dengan kehendak manusia telah selaras, maka tiada kekuatan yang dapat menghalangi pembumian kehendak tersebut. Hamba yang kaya tak selamanya salah, selama ia merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Mahakaya, bukan manifestasi dari diri yang egosentris dan penuh keterbatasan.

 

Sumber gambar: https://pipiiinnn.files.wordpress.com/2011/11/pikiran.jpg?w=842