Arsip Kategori: Katarsis

Bersabar dalam Badai

Kata sabar merupakan obat penenang bagi kehidupan. Betapa banyak peristiwa yang semestinya menjadi ledakan besar, namun tampil apa adanya tanpa gejolak karena pengaruh sabar. Betapa banyak gerakan yang semestinya menjadi gerakan yang begitu cepat, bahkan tanpa kendali, namun ia mengalir begitu saja apa adanya karena kekuatan sabar. Dengan sabar, gelegar kehidupan bisa berubah menjadi kesenyapan dan kedamaian. Sabar dihadirkan seolah menjadi rem istimewa bagi kehidupan, agar kehidupan bisa mengatur irama kecepatan demi menciptakan kenyamanan sekaligus memasuki jalur keselamatan. Sabar adalah rem pengontrol irama kehidupan. Sabar adalah energi positif yang memiliki kekuatan mumpuni  untuk membangun kehidupan agar kehidupan terbangun sesuai dengan urutan-urutan yang semestinya. read more

Dan Tuhan Pun Mencintai Kopi

Kopi adalah minuman surgawi. Cairan hitam pekat dan pahit ini seolah  kiriman dari alam sana, dari alam surga, agar dengan kopi manusia membentuk peradaban sebagaimana suasana surga. Dan memang kopi menghadirkan suasana surgawi bagi penikmatnya. Kopi telah menorehkan pengaruh besar dalam peradaban manusia, sekalipun hal itu tidak begitu disadari. Yang tampak sepintas adalah menyeruput kopi, namun yang tak tampaknya adalah membangun peradaban manusia dan juga membangun suasana surgawi dalam diri. Dengan kopi manusia bisa beradab sekaligus membangun peradaban. read more

Teka-Teki Rindu

Mengapa harus ada rindu dalam hidup ini? Bukankah rindu itu sangat menyakitkan? Betapa banyak rindu yang berubah menjadi benci. Betapa banyak rindu yang menjelma menjadi putus asa. Betapa banyak rindu yang disiksa oleh cemburu. Betapa banyak rindu yang berakhir pada kegilaan. Betapa banyak rindu yang berujung pada pembunuhan dan kematian. Pada satu sisi, rindu adalah kekuatan yang sangat destruktif dalam diri manusia jika tidak dikelola dengan baik dan sepatutnya, namun ia akan menjadi tenaga dahsyat luar biasa jika ditangani dengan semestinya. read more

Membakar Cinta

Api dan cinta sama-sama meniadakan sekaligus mengabadikan. Api membakar, membuat obyek yang dibakar meniada. Hasil akhir pembakaran pada umumnya adalah arang dan abu. Pembakaran yang menghasilkan arang dipandang sebagai pembakaran yang tak sempurna. Sementara itu, pembakaran yang menghasilkan abu adalah pembakaran yang sempurna. Demikianlah urusan bakar-membakar dimaknai secara jamak.

Jika direnungkan secara logis, pembakaran yang menghasilkan abu sama tak sempurnanya dengan pembakaran yang menghasilkan arang, sebab masih menyisakan sesuatu, yaitu abu. Semestinya, pembakaran sejati adalah yang sempurna, yaitu pembakaran yang meniadakan obyek yang terbakar atau yang dibakar. read more

Bertuhan Ala Plato VS Mulla Shadra

Bukan. Yang dimaksud dengan bertuhan ala Plato versus ala Mulla Shadra bukan cara kedua tokoh tersebut secara personal dalam bertuhan. Akan tetapi yang dimaksud adalah corak berpikir atau gagasan filosofis yang mereka kemukakan membentuk model tertentu dalam bertuhan. Kesadaran maknawi yang dipahami dan dianut seseorang sangat menentukan seperti apa ia menempatkan diri berkaitan dengan keberadaan dirinya dan Tuhannya. Kesadaran relasi diri dan Tuhan ini mewarnai perjalanan panjang dalam mengarungi perjalanan spiritual yang tak berujung dan tak bertepi. Dan, menentukan tampilan luar dan dalam bagaimana ia bertindak sekaitan dengan Tuhannya. Filosofi Plato menghadirkan cara bertuhan ala Plato dan filosofi Mulla Shadra melahirkan cara bertuhan ala kesadaran Mulla Shadra. read more

Ikan Penasaran Mencari Air

Tersesat dalam cahaya, tak tampak namun di pelupuk mata. Mencari yang tak pernah hilang, mengejar yang tak pernah lari, mendatangi yang tak pernah pergi. Safar tanpa jarak, rekreasi tanpa ruang dan waktu, kembali tanpa pergi. Hampir-hampir lumpuh akal untuk memahami makna di luar kapasitasnya. Itulah yang terjadi saat ikan yang sedang berenang mencari air, saat ikan mengarungi samudra sangat penasaran ingin mengenal laut.

Tersebutlah ada seekor ikan yang memiliki keingintahuan yang cukup unik. Ia berbeda dengan ikan-ikan lainnya yang hanya mengikuti gerak arus air apa adanya. Atau, ikan yang sekadar menghabiskan hari-harinya untuk berburu makanan dan istirahat. Ikan yang satu ini sangat berbeda. Ia memiliki kecerdasan lebih dari yang lainnya. Dalam dirinya tertitipkan kemampuan kontemplatif untuk lebih memahami sesuatu, setidaknya untuk memahami keberadaan dirinya dan sekelilingnya. Selayaknya seperti manusia, ikan unik ini bergelimang kerisauan tentang di mana sebenarnya ia hidup. Ada informasi tentang hal itu, namun sayangnya ia tak mengenal wujud tempat ia hidup. Ia menjadi pengembara untuk mencari jawab atas pertanyaan yang senantiasa bergolak dalam batinnya itu. read more

Pernikahan Profetik

Nabi adalah manusia biasa yang tercelup cahaya dan ia kekal di dalamnya. Wujud nabi adalah perkawinan antara manusia biasa dengan cahaya yang melahirkan segenap pancaran kebenaran, kebaikan dan keindahan. Pengetahuan yang benar dan akhlak mulia adalah hasil perkawinan itu. Langit dan bumi menyatu-tubuh melahirkan nabi demi menjelmakan kebahagiaan dan kemaslahatan sebagaimana titah langit. Nabi lahir dari perkawinan langit dan bumi untuk menyinari kehidupan agar gerak-gerik bumi penuh dengan rembesan cahaya langit. Tanpa keperkasaan dan kasih sayang langit,  bumi akan terlunta-lunta kehilangan arah, makna dan cinta. read more

Mengeja Cahaya

Diskusi ringan tanpa rencana di pelataran Papirus, sebuah toko buku dan komunitas, di bilangan Tamalanrea, Makassar. Sempat terungkap bahwa kegiatan literasi, literate, itu tanggung jawab peradaban. Secara leksikal, literate berarti melek huruf. Melek huruf ini berkaitan erat dengan kemampuan membaca. Kemampuan membaca berkaitan dengan aktivitas memahami. Memahami itu sendiri bermakna yang sebelumnya tidak diketahui, tidak dipahami, menjadi diketahui dan dipahami. Sesuatu yang sebelumnya gelap-gulita menjadi terang-benderang secara intelek. Tidak ada yang mampu mengubah gelap menjadi terang kecuali cahaya. Aktivitas literasi merupakan tanggung jawab peradaban yang mengubah kegelapan kehidupan menjadi peradaban yang bersinar dengan pancaran cahaya logika, etika dan estetika dalam bentuk tampilan seperti ilmu pengetahuan, filsafat, sains dan lain sebagainya. Kerja literasi adalah kerja menyinari kehidupan. read more

Berguru pada Tembok

Tembok adalah guru yang amat jujur dan tampil apa adanya. Tanpa rekayasa. Mengajarkan tentang apa saja. Tentang kehidupan dan juga kematian. Baik kehidupan sehari-hari maupun kehidupan dunia kontemplasi yang suci, indah dan agung. Secara kasat mata, tembok bukanlah apa-apa. Ia hanyalah benda keras yang berdiri kukuh, tergeletak atau bahkan tertanam dalam perut bumi.

Tembok menjadi penanda kemajuan peradaban manusia. Ia tersusun rapi nan asri dan banyak membantu aktivitas manusia. Sebagai tempat tinggal, perkantoran, areal bisnis dan lain sebagainya. Namun juga kehadiran tembok bisa bermakna memperkosa bumi. Tembok memancang keras, menusuk-nusuk, tanpa ampun menembus keelokan Bumi. Kemolekan Bumi menumbuhkan gairah pancang beton untuk menyetubuhinya akibat pancaran nafsu manusia yang berkobar tanpa kendali. Dan, bumi pun tampaknya pasrah dengan perlakuan itu. Atau mungkin menikmatinya. Seolah-olah membiarkan begitu saja kehadiran hutan beton bahkan lautan tembok di mana-mana membalut pemukiman manusia. read more

Reinkarnasi Poppo’-Parakang

Dengan santai, mendaras Anging Mammiri-nya senior saya,  Abdul Rasyid Idris, mata tertuju pada judul “Poppo’-Parakang” dalam buku tersebut. Berseliweranlah angan ke masa kecil, mengais memori yang hampir tertimbun rapi yang merapuh, cerita rakyat dari neneknya nenek ke ibunya dan neneknya dan juga ke ibuku dari nenek tentang Poppo’-Parakang. Angan juga melayang-melayang mencari tahu, sekalipun agak ragu, apakah Poppo-Parakang masih ada di zaman serba digital ini? Akal nakal menjawab: Ya! Akal yang sama dalam benakku malah balik bertanya dengan penuh keheranan:”Hah??! Betulkah?” read more