Arsip Kategori: Katarsis

Bersabar dalam Badai

 

Kata sabar merupakan obat penenang bagi kehidupan. Betapa banyak peristiwa yang semestinya menjadi ledakan besar, namun tampil apa adanya tanpa gejolak karena pengaruh sabar. Betapa banyak gerakan yang semestinya menjadi gerakan yang begitu cepat, bahkan tanpa kendali, namun ia mengalir begitu saja apa adanya karena kekuatan sabar. Dengan sabar, gelegar kehidupan bisa berubah menjadi kesenyapan dan kedamaian. Sabar dihadirkan seolah menjadi rem istimewa bagi kehidupan, agar kehidupan bisa mengatur irama kecepatan demi menciptakan kenyamanan sekaligus memasuki jalur keselamatan. Sabar adalah rem pengontrol irama kehidupan. Sabar adalah energi positif yang memiliki kekuatan mumpuni  untuk membangun kehidupan agar kehidupan terbangun sesuai dengan urutan-urutan yang semestinya.

Pada sisi lain, kesabaran dapat diidentikkan dengan ketertindasan. Pada konteks ini, kesabaran bermakna sebagai pengungkungan pihak tertentu kepada pihaknya lainnya. Ada yang menindas dan ada yang ditindas. Kesabaran semacam ini merupakan tabungan mesiu yang memiliki daya ledak tinggi jika tiba masanya. Kesabaran yang semestinya merupakan energi positif, telah berubah menjadi dendam kesumat yang dapat meluluh-lantakkan kehidupan. Kesabaran semacam ini hanyalah penundaan bagi terciptanya ledakan besar dan bukan sebagai proses pematangan atas hadirnya sesuatu secara alami.

Sabar merupakan energi yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan, namun kehadirannya mengambil bentuk dua mata pisau sekaligus. Pada satu sisi kesabaran merupakan energi posisif yang sangat dibutuhkan untuk menyusun batu bata agar tercipta istana kehidupan yang megah dan indah, namun pada sisi lain kesabaran bisa tiba-tiba menjelma menjadi buldoser yang tanpa kendali meluluh-lantakkan istana megah tersebut. Sangat dibutuhkan pengelolaan yang bijak bagi kesabaran, agar kesabaran tetap dalam lajur rel positifnya sehingga bisa diambil manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan.

Sejak Adam terlempar ke dunia, sejak itu pula manusia bergumul dengan badai kehidupan. Sejak ini pula kehadiran kesabaran begitu penting agar pergumulan tersebut menghasilkan keselamatan sejati. Badai adalah badai, kesabaran adalah kesabaran. Pergumulan keduanya dapat mematangkan sekaligus menghancurkan diri anak-cucu Adam. Juga, pergumulan antara sabar dan badai dapat menata kehidupan dengan rapi sekaligus juga dapat memporak-porandakannya. Keselamatan mengisyaratkan hadirnya pengelolaan kesabaran dalam badai, juga pengelolaan badai dalam kesabaran dengan baik.

Untuk menciptakan suasana surgawi dalam kodisi berbadai, lazim didengar ungkapan:”Orang sabar kekasih Tuhan” atau “Orang sabar bersama Tuhan.” Ungkapan ini mengisyaratkan adanya hubungan erat antara Tuhan dengan kesabaran. Untuk merealisasikan kesabaran yang sesungguhnya dibutuhkan kehadiran Tuhan atau juga bisa dimaknai penghadiran kesabaran berdampak pada kebersamaan dengan Tuhan. Pada lakon sabar dalam kehidupan antara Tuhan dan kesabaran sama sekali tidak dapat dipisahkan, agar sabar tetap dalam relnya dan memberi sumbangsih positif terbesar bagi bangunan kehidupan. Lalu, apa yang terjadi dengan lelakon sabar yang kehilangan Tuhan?

Sebagai satu sifat dan sikap yang tak terelakkan dalam menghadapi badai kehidupan, kesabaran butuh pijakan, butuh sandaran agar ia tetap berdiri kukuh dan tegar. Kesabaran yang kehilangan pijakan atau sandaran adalah sifat dan sikap anarkis tanpa kendali, oleh karena itu ia telah berubah menjadi sesuatu yang lain, bukan kesabaran lagi. Kesabaran tetap menjadi sabar jika ia memiliki sandaran, tanpa sandaran dan pijakan, kesabaran kehilangan jati dirinya. Jadi, jauh lebih penting kehadiran sandaran bagi kesabaran dibandingkan sabar itu sendiri, sebab sandaran itulah yang mentukan keberadaan seperti apa sabar yang sesungguhnya.

Setidaknya secara umum ada tiga tempat menyandarkan praktik kesabaran. Pertama, kesabaran yang dilakukan berpangkal pada diri sendiri. Kedua, kesabaran yang dilakonkan demi Tuhan. Ketiga, kesabaran yang dipraktikkan bukan demi diri dan bukan demi Tuhan. Ketiga jenis sandaran ini sangat menentukan sifat dan praktik kesabaran, dan tentu juga sangat berpengaruh bagi ketangguhannya dalam mengelola badai kehidupan.

Jika disederhanakan, sandaran praktik kesabaran hanya dua, yaitu Tuhan dan bukan Tuhan, dan yang bukan Tuhan adalah diri. Jadi sandaran bagi praktik sabar hanya Tuhan dan diri. Kesabaran yang dilakukan atas nama diri adalah kesabaran yang berpangkal pada diri. Diri pribadilah sebagai sumber dan pelaku kesabaran. Kesabaran semacam ini adalah kesabaran yang berbatas, karena kemampuan diri memang sangat terbatas. Oleh karena itu, kemampuannya pun untuk mengelola badai juga sangat terbatas. Kesabaran semacam ini mengandalkan diri untuk menghadapi segala kesulitan, sementara badai kehidupan jauh lebih besar dan lebih kuat dari diri sebagai tempat sandaran bagi kesabaran tersebut. Pada jenis kesabaran semacam ini, kesabaran sangat rawan tetiba berubah menjadi dendam tersembunyi, pada saat itu ambruk pula diri yang sejak awal jadi tumpuan bagi kesabaran. Jargon bagi kesabaran jenis ini adalah: “Kesabaran ada batasnya.”

Kesabaran berikutnya adalah kesabaran yang dinisbahkan pada Tuhan. Badai yang sesungguhnya adalah terpisahnya antara hamba dengan Tuhan. Selama Tuhan dengan hamba berjarak, terpisah, selama itu pula badai bekerja, sebab badai adalah salah satu menifestasi dari kejamakan wujud. Semakin jauh jarak, semakin terpisah dengan Tuhan semakin besar pula badai yang menerpa. Oleh karena itu untuk mengurangi dan menghilangkan badai kehidupan dilakukan dengan cara merapat kepada-Nya. Kesabaran di sini sudah bermakna menjadi peleburan diri pada Tuhan. Kesabaran bukan lagi bermakna sebagai pertahanan diri dalam menghadapi badai, akan tetapi telah menjelma menjadi peleburan diri dan badai ke dalam Tuhan. Kesabaran semacam ini bukan saja sangat tangguh dalam mengelola dan menyelesaikan badai kehidupan akan tetapi sekaligus merupakan perjalanan cinta yang indah menuju Dia Yang Mahasabar. Jargon utama kesabaran jenis ini adalah: “Kesabaran tidak ada batasnya,” karena Dia sebagai sumber kesabaran juga Maha Tak Terbatas.

 

Sumber gambar:http://affandipreneur.com/blog_img/bn_l_4573-2693-sabar-dalam-menjalani-proses.jpg

 

Dan Tuhan Pun Mencintai Kopi

Kopi adalah minuman surgawi. Cairan hitam pekat dan pahit ini seolah  kiriman dari alam sana, dari alam surga, agar dengan kopi manusia membentuk peradaban sebagaimana suasana surga. Dan memang kopi menghadirkan suasana surgawi bagi penikmatnya. Kopi telah menorehkan pengaruh besar dalam peradaban manusia, sekalipun hal itu tidak begitu disadari. Yang tampak sepintas adalah menyeruput kopi, namun yang tak tampaknya adalah membangun peradaban manusia dan juga membangun suasana surgawi dalam diri. Dengan kopi manusia bisa beradab sekaligus membangun peradaban.

Namun yang patut disayangkan adalah, kopi dijadikan terdakwa sebagai penyebab berbagai penyakit. Tuduhan ini memakan waktu yang panjang. Hingga kini pun pandangan miring berkaitan dengan kopi begitu kuat hidup dalam masyarakat. Pandangan miring ini seolah tak memberi kesempatan bagi kopi untuk bermanfaat secara maksimal bagi kehidupan. Namun fakta sejarah tak pernah membantah begitu besar peran kopi sejak abad ke-16 hingga abad serba canggih sekarang ini dalam membangun peradaban manusia. Sekalipun kopi telah didakwa secara tidak adil, namun ia dengan rendah hati tetap berkarya dalam dunia lahir dan batin manusia tiada henti.

Dalam buku The Miracle of Caffeine, disebutkan ada tiga mitos kuat yang mendiskreditkan kopi: pertama, kopi buruk bagi jantung; kedua, kopi bisa ciptakan kecemasan dan perasaan negatif; ketiga, kopi menyebabkan dehidrasi. Bahkan masih banyak pandangan negatif lainnya terhadap kopi, seperti kopi dapat merusak lambung, kopi mempercepat penuaan dan lain sebagainya. Semua yang disebutkan di atas adalah mitos, kepercayaan yang salah. Hasil riset yang dilakukan para ilmuwan justru kebalikan dari mitos-mitos tersebut.

Penelitian ilmiah yang luas dan mendalam tentang kopi telah membuktikan kopi sangat aman dikonsumsi dan tidak membunuh, tentu dengan syarat diasup secara bijak, sebagaimana asupan umum lainnya. Manfaat mengasup kopi begitu luas, diantaranya: memperbaiki suasana hati, mepercepat respon, meningkatkan daya ingat, memperkuat konsentrasi, menajamkan pikiran, meningkatkan ketahanan otot dan kapasitas paru-paru, meredakan nyeri, mengurangi nafsu makan, mempercepat pembakaran lemak, mencegah dan membantu penyembuhan parkinson dan kepikunan, memperbaiki dan memaksimalkan performa seksual dan lain sebagainya. Ini diantara manfaat kopi secara spesifik bagi penikmatnya, selain kemungkinan-kemungkinan manfaat lainnya.

Menyeruput kopi secara bijak akan: 1)memperbaiki suasana hati, 2)memaksimalkan fungsi dan merawat otak, 3)membuat tubuh menjadi kuat. Demikianlah kesimpulan umum yang bisa diambil dari berbagai penelitian tentang manfaat kopi. Menyeruput kopi sama dengan menciptakan kebahagiaan, menghadirkan pikiran yang jernih dan tajam, serta membuat tubuh fisik menjadi kuat. Secara sadar atau tidak, melalui asupan kopi dengan bijak akan membentuk manusia ideal: hati, pikiran dan fisik yang prima, yang pada akhirnya berkontribusi dalam membentuk peradaban manusia. Manusia yang fungsi akalnya maksimal, manusia yang fungsi hatinya berpendar terang, manusia yang tubuh fisiknya prima, adalah sosok manusia surgawi, yang semacam inilah diharapkan hadir akibat menyeruput kopi dengan bijak.

Lima puluh tahun sebelum kedai kopi pertama dibuka di Inggris, William Harvey telah belajar mengasup kopi saat ia kuliah di Universitas Padua Italia, yang ia dapat dari teman sekuliahnya berasal dari Arab. William keranjingan kopi. Suatu saat dia berlebihan mengasup kopi dan jantungnya berdetak kencang lalu mengamatinya, saat itulah ia menemukan sistem sirkulasi darah manusia. Maka jadilah William Harvey sebagai bapak penemu sirkulasi darah. Terkuaknya kehadiran sirkulasi darah dalam peradaban manusia akibat dari kerja-kerja kopi.

Sistem sirkulasi darah menduduki posisi penting dalam dunia kedokteran hingga kini dan sangat besar manfaatnya bagi dunia penyembuhan. Artinya, melalui sistem peredaran darah ini, kopi punya kontribusi besar bagi peradaban, bagi kehidupan manusia, juga hewan. Masih banyak lagi bidang lain yang tanpa disadari ada persentuhannya dengan kehadiran kopi, seperti fisika, kimia, matematika, seni dan lain sebagainya. Adalah Sir Robert Boyle, penemu teori kimia modern, Ludwig van Beethoven, komposer tersohor asal Jerman, Henri Poincare, matematikawan besar Perancis, dan masih banyak lagi tokoh besar dan para penemu legendaris dunia yang lain, yang karya besar mereka tercetus akibat dari pengaruh kopi yang bekerja dalam diri mereka. Beberapa revolusi di Eropa juga hadir akibat pengaruh kopi, setelah merebaknya kedai-kedai kopi. Pada zaman itu, para tokoh besar memiliki kedai kopi favorit masing-masing. Di kedai kopi inilah berawal kehidupan modern diracik.

Para nelayan, baik di laut, di sungai ataupun di danau, juga para peternak di daratan, banyak di antara mereka merupakan pengasup kopi yang setia, sebelum dan saat bekerja. Hal ini berarti protein bagi kehidupan dihidangkan oleh kopi untuk segenap penduduk dunia. Penanam padi, penanam sagu, penanam umbi-umbian juga banyak yang mengasup kopi. Hal ini berarti perjamuan karbohidrat untuk ummat manusia juga berasal dari kemurah-hatian kopi. Para penanam sayur juga pengasup kopi, berarti penyediaan vitamin, mineral dan serat pun untuk manusia hasil dari pantikan kopi. Para pebisnis mengasup kopi, berarti ekonomi digerakkan oleh kopi. Para politisi mengasup kopi, menandakan kehidupan ini dibolak-balik oleh kopi. Sadar atau tidak sadar, kopi telah menyusup begitu dalam, mengaduk-aduk kehidupan!

Keseluruhan wujud dalam hidup ini mengada dengan kekuatan cinta-Nya, termasuk kopi. Tuhan mencipta dengan cara mencinta. Oleh karena itu pada setiap ciptaan sangat jelas berbekas jejak-jejak cinta-Nya. Kopi memantik kehadiran penemuan ilmiah modern mutakhir adalah jejak kehadiran cinta-Nya. Kopi menjamu kehidupan melalui para pengasup kopi dengan menghadirkan karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan serat adalah jejak-jejak kehadiran cinta-Nya. Kopi menggerakkan para kopiholic untuk menyentuh ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya adalah jejak-jejak kehadiran cinta-Nya.

Tuhan hadir melampaui konsep dan kenyataan tentang kapan dan di mana,  dalam mendampingi manusia untuk mengarungi hidup, salah satunya dengan cara mengirim kopi untuk manusia, agar manusia jadi manusia unggul, manusia surgawi yang tajam akal, cerah hati, dan kuat fisik, sebagaimana hasil riset ilmiah tentang kopi bagi penyeruput setianya. Kopi adalah wujud cinta-Tuhan untuk kekasih-Nya, manusia, agar sang kekasih menjadi sosok yang terbaik dalam mengelola kehidupan. Sebagaimana Tuhan mencintai ciptaan-Nya, juga mencintai manusia sebagai ciptaan yang terbaik, dan kopi dalam kadar tertentu, dapat memaksimalkan aktualisasi potensi yang Tuhan titip dalam diri manusia, maka tak begitu salah bila dikatakan: dan Tuhan pun mencintai kopi!

 


 

Sumber gambar: Google.

 

Teka-Teki Rindu

Mengapa harus ada rindu dalam hidup ini? Bukankah rindu itu sangat menyakitkan? Betapa banyak rindu yang berubah menjadi benci. Betapa banyak rindu yang menjelma menjadi putus asa. Betapa banyak rindu yang disiksa oleh cemburu. Betapa banyak rindu yang berakhir pada kegilaan. Betapa banyak rindu yang berujung pada pembunuhan dan kematian. Pada satu sisi, rindu adalah kekuatan yang sangat destruktif dalam diri manusia jika tidak dikelola dengan baik dan sepatutnya, namun ia akan menjadi tenaga dahsyat luar biasa jika ditangani dengan semestinya.

Rindu merupakan penanda adanya jarak. Rindu adalah penanda bagi adanya keterpisahan. Rindu juga mengisyaratkan pernah bersatu sekaligus ingin   kembali. Rindu adalah waktu jeda, dari bersatu, kemudian berpisah, selanjutnya untuk bersatu kembali. Rindu adalah perjalanan panjang sekaligus perjalanan singkat. Ia menjadi perjalanan panjang jika dipandang dari bersatu kemudian berpisah, namun rindu menjadi lintasan singkat jika ditilik dari sudut pandang dari bersatu untuk bersatu kembali.

Rindu menjadi perjalanan panjang yang sangat menyiksa  dan melelahkan jika dilihat dari sudut pandang keterpisahan yang tak kunjung menemukan jalan untuk kembali menyatu. Sebab, perpisahan itu sendiri adalah luka yang menganga yang tak akan pernah ada obatnya kecuali bersatu, dikarenakan keterpisahan dijadikan pandangan dunia. Selama dalam keterpisahan, selama itu pula hidup dalam duka lara luka. Semakin kabur dan tak menemukan jalan kembali untuk menyatu, rindu mengundang kehadiran putus asa dan dendam serta segenap ketersiksaan lainnya. Dalam sudut pandang ini, semakin kuat rasa rindu, semakin menganga jurang keterpisahan.

Sebaliknya, jika sudut pandang dari menyatu untuk kembali menyatu dijadikan pegangan, maka rindu adalah perjalanan singkat dan mengasyikkan, keterpisahan telah berubah menjadi amunisi dengan daya ledak dahsyat untuk menyatu, karena ketunggalan adalah pandangan dunianya. Bagi sudut pandang ketunggalan ini, keterpisahan hanya bayangan semata dan kemenyatuan adalah kenyataan sesungguhnya. Bayangan pasti sirna, kemenyatuan akan menyata dan menyata, oleh karena itu rindu adalah energi pemusnah bayangan, kekuatan yang melenyapkan jarak. Semakin kuat rasa rindu, semakin lenyap jarak, semakin hadir kemenyatuan.

Karena pada dasarnya wujud itu tunggal dan nyata, maka kejamakan hanya  perspektif berbeda dari ketunggalan. Oleh karena itu semua yang jamak berasal dari tunggal dan bukan kejamakan menghasilkan ketunggalan. Ada daya yang senantiasa bekerja untuk tetap menyatu dalam ketunggalan. Rindu adalah kekuatan dan gerak ketunggalan untuk tetap merangkul kejamakan dan juga gerak kejamakan untuk kembali pada ketunggalan. Gerak inilah yang mewujud pada setiap sesuatu sehingga semuanya tertitiskan dan tertitipkan rasa rindu untuk menyatu. Semua wujud, pada dasarnya ingin kembali dan menyatu dengan inangnya, dengan sumbernya. Rasa rindu telah menyatu dalam diri wujud itu sendiri.

Rasa rindu bekerja begitu nyata dalam hidup ini. Jeritan seruling adalah ekspresi kerinduan buluh pada rumpunnya untuk menyatu. Bebatuan terpecah-pecah menjadi pasir, hanyut menyusuri alur sungai, lalu tertambatkan di muara membentuk sedimen membatu, adalah kerinduan batu untuk menjadi batu kembali. Tanah adalah hasil akhir dari pelapukan bebatuan, kemudian ditumbuhi oleh pepohonan, pepohonan menjadi fosil, adalah hasil kerinduan batu untuk jadi batu kembali. Laut yang diterpa panas menguapkan air ke angkasa, menjadi awan, menjadi hujan, air jatuh di lautan dan daratan, menyusuri sungai-sungai mengalir ke laut, adalah kerinduan air untuk tetap kembali menyatu dengan laut. Seorang pria ingin menyatu dengan seorang wanita dan seorang wanita ingin menyatu dengan seorang pria adalah wujud kerinduan sel telur dan sperma untuk kembali menyatu dalam rahim kehidupan. Kekuatan rasa rindu begitu dahsyat, melenyapkan keterpisahan pada saat yang sama mewujudkan kemenyatuan. Demikianlah kerja nyata rindu.

Rasa rindu adalah kekuatan yang nyata dan dahsyat yang menjadikan satu antara perindu dengan yang dirindu. Hasil akhir dari proses rindu adalah menyatu, ketunggalan. Dalam ketunggalan tidak ada dominasi atau penguasaan yang satu terhadap yang lainnya, karena yang demikian mensyaratkan adanya kejamakan, sementara dalam ketunggalan, kejamakan telah tiada. Hasil akhir dari proses rindu adalah kemerdekaan sejati bagi perindu dan yang dirindu dalam bingkai ketunggalan dan kemenyatuan yang abadi. Dalam ketunggalan, tidak ada selainnya, sehingga jika hadir kemerdekaan, maka kemerdekaan itu tak berbanding.

Rasa rindu antar makhluk adalah kerinduan hamba-Tuhan yang berserak. Rasa rindu hamba-Tuhan yang menyebar, merembes ke dalam setiap wujud. Oleh karena itu, setiap makhluk telah memiliki modal besar dalam dirinya untuk kembali ke asalnya, yaitu rindu. Rasa rindu semestinya meringkus setiap makhluk, meringkus setiap kejamakan, untuk dilemparkan menyatu ke dalam naungan Tuhan-nya, menyatu masuk ke dalam ketunggalan wujud.

Semestinya antara hamba dan Tuhan tanpa jarak, akibat dari beroperasinya rindu-Nya Tuhan dan rindunya hamba. Semestinya antara hamba dan Tuhan tiada antara, namun dalam ketunggalan. Rasa rindu adalah pembakar jarak antara hamba dengan Tuhan dalam shalat, dalam puasa, dalam sedekah, dalam dzikir, dalam semedi, dalam meditasi, serta dalam segenap lelakon kebaikan. Pada akhirnya rasa rindu adalah pembakar segenap jarak dalam kehidupan untuk menyatu dalam keharmonisan hidup, dalam rindu-Nya, sehingga setiap lelakon dan pelakon menjadi wujud dari kebaikan-Nya, menjadi pemancar kesempurnaan-Nya.

 

Sumber gambar: https://juallukisanasli.files.wordpress.com/2013/05/potret-urban-dalam-kerinduan.

Membakar Cinta

Api dan cinta sama-sama meniadakan sekaligus mengabadikan. Api membakar, membuat obyek yang dibakar meniada. Hasil akhir pembakaran pada umumnya adalah arang dan abu. Pembakaran yang menghasilkan arang dipandang sebagai pembakaran yang tak sempurna. Sementara itu, pembakaran yang menghasilkan abu adalah pembakaran yang sempurna. Demikianlah urusan bakar-membakar dimaknai secara jamak.

Jika direnungkan secara logis, pembakaran yang menghasilkan abu sama tak sempurnanya dengan pembakaran yang menghasilkan arang, sebab masih menyisakan sesuatu, yaitu abu. Semestinya, pembakaran sejati adalah yang sempurna, yaitu pembakaran yang meniadakan obyek yang terbakar atau yang dibakar.

Tugas api adalah membakar dan membakar tanpa batas, maka pembakaran oleh api yang sempurna adalah lenyapnya obyek yang dibakar pasca pembakaran. Api meniadakan obyek bakarnya. Hasil akhirnya adalah semua obyek bakar lenyap, yang tersisa hanya subyek bakar, yaitu api. Api adalah pemain tunggal yang sama sekali tak mengizinkan eksis selain dirinya sendiri. Begitu dahsyat keberadaannya, api meniadakan semua obyek bakarnya, pada saat yang sama mengabadikan dirinya sendiri. Demikianlah pembakaran yang sempurna.

Sementara itu, cinta adalah peluruhan sekaligus pengukuhan. Peniadaan sekaligus pengabadian. Cinta meluruhkan subyek yang mencinta, pada saat bersamaan mengukuhkan keberadaan obyek yang dicinta. Cinta sejati adalah peluruhan sejati sekaligus pengukuhan sejati. Cinta sejati adalah proses panjang peluruhan diri subyek pencinta kepada obyek yang dicinta, hingga akhirnya yang tersisa hanya obyek yang dicinta. Pencinta telah sirna tergantikan oleh yang dicinta yang mengabadi.

Sebagaimana api yang hanya mengizinkan satu pemain tunggal yaitu dirinya sendiri, cinta pun hanya membolehkan satu yang eksis, yaitu yang dicinta. Api dan cinta pada akhirnya hanya membolehkan satu pemain tunggal dalam kehidupan. Perbedaan dari keduanya adalah, api meniadakan obyek bakar dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai subyek pembakar, sementara itu cinta meniadakan subyek pencinta dan mengabadikan obyek yang dicinta. Api meniadakan obyek, mengukuhkan subyek, sementara itu cinta meniadakan subyek, mengabadikan obyek.

Api yang membakar yang masih menyisakan arang atau abu adalah pembakaran yang tak sempurna, begitupun aktivitas cinta yang masih menyisakan keberadaan pencinta adalah cinta yang tak sempurna. Pencinta sejati itu senantiasa memberi dan memberi tanpa harap pada obyek yang dicinta sebagaimana mentari senantiasa memancarkan sinarnya yang sama sekali tanpa mengharap imbalan. Pancaran pencinta yang berharap imbalan dari yang dicinta adalah cinta yang cacat, karena ia mengukuhkan keberadaan subyek pencinta dan meluruhkan yang dicinta. Cinta yang bernuansa semacam ini adalah pseudo-cinta, cinta palsu. Cinta semacam ini tidak layak disebut cinta, namun lebih tepat disebut kolonialisasi, dominasi atau pun juga hegemoni. Bukan cinta, tapi penjajahan!

Pencinta yang berharap imbalan bukanlah pencinta, akan tetapi pekerja. Bisa juga dikatakan serakah. Ia bekerja untuk memenuhi keinginannya. Ia menguras yang ia cintai untuk memenuhi keinginannya, yang berarti melemahkan yang dia cintai pada saat bersamaan mengukuhkan dirinya. Proses cinta yang semacam ini, pada akhirnya, bukan sekadar melemahkan yang dicinta, akan tetapi pelenyapan diri yang dicinta, karena ia terkuras oleh hegemoni pencinta. Ini adalah praktek genosida cinta, yang membantai komunitas yang dicinta di mana pun berada.

Praktik cinta yang berorientasi pada diri-pencinta telah merusak konstalasi dunia percintaan. Karena hal ini sebenarnya bukanlah praktik cinta, akan tetapi merupakan ajang praktik penjajahan subyek terhadap obyek. Praktik penjajahan yang dilakukan oleh pencinta kepada yang dicinta. Praktik ini adalah sumber bagi keserakahan untuk mendominasi kehidupan. Cinta yang sejatinya laksana cahaya yang senantiasa memancar, memberi dan melayani berubah menjadi praktik menyerap, meminta dan menjadi tuan. Cinta yang bukan melahirkan tuan, tetapi melahirkan budak. Yang dicinta menjadi budak pencinta dan pencinta jadi budak keinginannya.

Cinta an-sich, cinta apa adanya yang dipahami umumnya, yang diterapkan kepada makhluk sangatlah berbahaya. Ia hanya menghasilkan penjajahan dan perbudakan. Cinta yang tulus kepada yang dicinta melahirkan pencinta sebagai budak, sementara itu cinta yang berpamrih menjadikan yang dicinta sebagai budak. Baik cinta tulus maupun pamrih sama- sama melahirkan perbudakan makhluk oleh makhluk. Perbudakan manusia terhadap sesama manusia. Praktik cinta semacam ini merekomendasikan kolonialisme, dominasi dan hegemoni untuk merajai dunia yang pada akhirnya menjadikan perbudakan menguasai kehidupan. Perbudakan, hasil salah terap cinta! Sejatinya, cinta melahirkan kemerdekaan sejati.

Cinta self-oriented, orientasi-diri adalah cinta yang destruktif. Sebab ia memfosilkan keakuan, bukan mencairkan atau bahkan mungkin melenyapkan keakuan. Justru keakuan inilah yang mengkrangkeng cinta sehingga ia tak dapat beroperasi dengan baik  melayani kehidupan. Cinta orientasi-diri inilah yang harus dibakar karena ia merusak konstalasi dunia percintaan dalam hidup ini. Tanpa membakar habis cinta orientasi-diri ini, maka yang ada hanyalah pseudo-cinta, cinta palsu.

Sekaliber apapun hebatnya sang pencinta tidak akan pernah mampu membakar cinta orientasi-diri-nya oleh dirinya sendiri, karena keberadaan dan kehebatannya itulah yang mengakibatkan ia kehilangan api. Keberadaan dan kehebatan diri adalah kegelapan yang hanya dibakar dengan api ia meniada kemudian yang hadir adalah cahaya.

Hanya Api Cinta-Nya yang mampu membakar melenyapkan cinta orientasi-diri, sehingga yang tersisa dan maujud adalah hanya Cinta-Nya yang senantiasa memancar menghidupkan kehidupan. Kita tak memiliki cinta sehingga tak layak memanfaatkan cinta untuk orientasi-diri. Kita hanya membagikan Cinta-Nya kepada satu dengan yang lainnya untuk saling merindu dan menyatu dalam keharmonisan-Nya Yang Agung.

Api tak mampu membakar Ibrahim, karena Cinta dengan Cinta adalah satu, tak mungkin saling membakar. Ismail tak mungkin tersembelih, karena Cinta dengan Cinta adalah satu,  tak mungkin saling menyembelih. Penyembelihan Ismail tidak membunuhnya akan tetapi menghadirkan daging kehidupan untuk seantero ummat manusia.  Ibrahim dan Ismail telah terbakar kehilangan cinta orientasi-diri, namun telah mewujud menjadi ejawantah Cinta-Nya. Berharap, demikianpun kita semua.

 

Sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/5uUXjCgJt1w/maxresdefault.jpg

 

Bertuhan Ala Plato VS Mulla Shadra

Bukan. Yang dimaksud dengan bertuhan ala Plato versus ala Mulla Shadra bukan cara kedua tokoh tersebut secara personal dalam bertuhan. Akan tetapi yang dimaksud adalah corak berpikir atau gagasan filosofis yang mereka kemukakan membentuk model tertentu dalam bertuhan. Kesadaran maknawi yang dipahami dan dianut seseorang sangat menentukan seperti apa ia menempatkan diri berkaitan dengan keberadaan dirinya dan Tuhannya. Kesadaran relasi diri dan Tuhan ini mewarnai perjalanan panjang dalam mengarungi perjalanan spiritual yang tak berujung dan tak bertepi. Dan, menentukan tampilan luar dan dalam bagaimana ia bertindak sekaitan dengan Tuhannya. Filosofi Plato menghadirkan cara bertuhan ala Plato dan filosofi Mulla Shadra melahirkan cara bertuhan ala kesadaran Mulla Shadra.

Dalam mazhab pemikiran, Plato adalah Bapak alam idea. Bagi beliau idea adalah realitas yang sesungguhnya. Sementara, alam yang tercerap oleh panca indera adalah alam imitasi. Imitasi dari realitas alam idea. Alam idea itu abadi. Imitasinya, alam terindra, senantiasa berubah-ubah, oleh karena itu tidak abadi. Dalam filsafat Plato, senantiasa ada dualisme, yaitu idea dan bayangannya. Ada realitas asli dan ada realitas imitasi. Antara idea dan imitasinya tidak akan pernah bertemu karena keduanya adalah hal yang berbeda secara diametral. Idea dan imitasinya berada di alam yang berbeda dan tidak ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Secara wujudiyah, dalam pandangan Plato, idea adalah wujud tersendiri begitupun alam nyata yang terindra adalah wujud tersendiri pula, sekalipun disebut sebagai imitasi dari idea. Ada wujud yang sama sekali berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Berbeda dengan Plato, Mulla Shadra memandang wujud itu tunggal dengan nuansa emanasi (memancar), illuminasi (bercahaya) dan dinamis di dalamnya. Wujud itu tunggal berupa cahaya yang meliputi. Wujud yang tunggal itu bergradasi, bertingkat-tingkat. Dalam wujud tunggal berupa cahaya yang meliputi dengan berbagai tingkatannya terdapat gerak dinamis, yang dinamai gerak substansial. Gerak yang ada dalam ketunggalan wujud yang memungkinkan wujud itu bergerak menaik atau menurun namun tetap dalam lingkup wujud tunggal dan gradasinya. Dalam pandangan ini tidak ada dualisme wujud, yang ada adalah deskripsi tentang wujud tunggal itu dan dinamikanya. Dengan demikian tidak ada pemilahan bahwa ada wujud asli dan wujud imitasi, yang ada adalah wujud tunggal dengan berbagai tingkatan pancaran cahaya internalnya.

Kedua corak pandang tersebut di atas, ala Plato dan ala Mulla Shadra, bila dikaitkan dengan relasi antara hamba dan Tuhan, memiliki perbedaan dan dampak yang sangat serius. Filosofi Plato yang mengatakan bahwa ada alam idea yang merupakan alam asli dan ada alam terindra yang imitasi, menempatkan Tuhan berada di alam idea yang tak tersentuh sama sekali dan hamba berada di alam imitasi yang tercerap oleh terindra. Sudut pandang ini menciptakan jarak pemisah yang serius antara hamba dan Tuhan. Relasi hamba dan Tuhan adalah relasi keterpisahan, efek logis dari adanya alam idea yang asli dan alam terindra yang imitasi yang memang terpisah secara azali.

Efek lebih lanjut dari perspektif ini, karena adanya dualisme wujud—asli dan imitasi—yaitu mengerasnya kehadiran ruang dan waktu. Adanya jarak dan gerak dari kejamakan wujud menghadirkan ruang dan waktu. Akibatnya adalah hubungan hamba dan Tuhan terjadi dalam relasi bingkai ruang dan waktu. Hubungan keterpisahan yang menguat dan mengeras. Tuhan berada di wujud idea yang abadi tanpa batas sementara hamba berada di wujud imitasi yang senantiasa berubah dan serba berbatas. Tak akan pernah ada pertemuan di antara keduanya. Dalam pandangan ini, hubungan hamba dan Tuhan adalah hubungan keterpisahan yang abadi.

Berbeda dengan Plato, sudut pandang Mulla Shadra melalui konsep wujud tunggal beserta deskripsinya, berdampak pada kehadiran relasi antara hamba dan Tuhan dalam bingkai ketunggalan. Jadi, relasi tersebut bukan relasi keterpisahan, akan tetapi relasi ketunggalan dan kemenyatuan. Relasi antara hamba dan Tuhan laksana cahaya dan pancarannya. Laksana api dan cahaya. Antara api dan cahaya tak dapat dipisahkan. Mereka menyatu. Hubungan keduanya adalah hubungan ketunggalan yang menyatu dan abadi.

Gerak internal dalam bingkai ketunggalan wujud menciptakan dinamika yang abadi. Adalah bijak jika setiap lakon relasi hamba dan Tuhan dalam kehidupan merupakan dinamika abadi gerak cahaya menuju intinya. Gerak menuju sumbernya. Ibarat pusaran laron mengitari sumber cahaya, namun dalam pandangan ini antara laron dan cahaya adalah wujud yang sama. Sama-sama cahaya. Gerak ini adalah gerak kembali, bukan gerak pergi. Gerak ini adalah gerak menyatu, bukan gerak memisah. Gerak hamba menuju Tuhannya adalah gerak cahaya menuju Yang Mahacahaya dalam ketunggalan wujud Cahaya-Nya.

Dalam ketunggalan wujud tidak ada ruang dan waktu. Secara azali semestinya relasi hamba dan Tuhan tidak berurusan dengan waktu dan ruang, karena ruang dan waktu membawa keterpisahan. Kalaupun tetap hadir ruang dan waktu, maka kedua hal tersebut harus dimaknai dan disadari dengan cara berbeda, dimaknai dan disadari dalam kaitannya dengan ketunggalan wujud yang berupa keabadian cahaya. Sejatinya hidup ini adalah Lautan Cahaya, antara hamba satu dengan yang lainnya saling menerangi dengan Cahaya-Nya, karena sesungguhnya wujud itu tunggal, yang ada hanya Dia Yang Mahacahaya.

 

Ikan Penasaran Mencari Air

Tersesat dalam cahaya, tak tampak namun di pelupuk mata. Mencari yang tak pernah hilang, mengejar yang tak pernah lari, mendatangi yang tak pernah pergi. Safar tanpa jarak, rekreasi tanpa ruang dan waktu, kembali tanpa pergi. Hampir-hampir lumpuh akal untuk memahami makna di luar kapasitasnya. Itulah yang terjadi saat ikan yang sedang berenang mencari air, saat ikan mengarungi samudra sangat penasaran ingin mengenal laut.

Tersebutlah ada seekor ikan yang memiliki keingintahuan yang cukup unik. Ia berbeda dengan ikan-ikan lainnya yang hanya mengikuti gerak arus air apa adanya. Atau, ikan yang sekadar menghabiskan hari-harinya untuk berburu makanan dan istirahat. Ikan yang satu ini sangat berbeda. Ia memiliki kecerdasan lebih dari yang lainnya. Dalam dirinya tertitipkan kemampuan kontemplatif untuk lebih memahami sesuatu, setidaknya untuk memahami keberadaan dirinya dan sekelilingnya. Selayaknya seperti manusia, ikan unik ini bergelimang kerisauan tentang di mana sebenarnya ia hidup. Ada informasi tentang hal itu, namun sayangnya ia tak mengenal wujud tempat ia hidup. Ia menjadi pengembara untuk mencari jawab atas pertanyaan yang senantiasa bergolak dalam batinnya itu.

Untuk sekadar menemui di mana keberadaan air,  ikan ini telah melanglang berenang ke mana-mana. Danau dan rawa ia datangi. Sungai-sungai ia lintasi, mulai dari hulu hingga hilir. Muara sungai pun yang berasa payau telah telah ia cicipi. Dalam pengembaraan panjang, ikan ini semakin risau, ia merasa tak menjumpai air, apalagi mengenalnya secara mendalam. Rasa risau ini bukannya membuat ikan tersebut menyerah, justru keingintahuannya tentang air semakin menyeruak, semakin menjadi-jadi. Ikan itu ingin sekali mengenal air yang katanya tempat hidup dan menghidupkan. Yang ia kenal selama ini bukannya air, akan tetapi hanya rawa, danau, sungai yang mengalir meliuk-liuk laksana ular panjang. Pengembaraan panjang ini tak mengantarkannya mengenal apa yang ia cari, air.

Tibalah suatu saat, dalam kondisi putus asa tanpa kontrol, ikan itu berenang tanpa arah bolak-balik seputaran tunggul (tunggul biasanya berupa kayu yang menancap di dasar sungai yang ujungnya menjulang hingga  ke permukaan, tegar tak terbawa arus). Karena ikan ini berputar-putar sekitar tunggul dalam waktu lama tanpa arah yang jelas, membuat tunggul keheranan dan bertanya,

“Wahai ikan, apa yang membuat kamu berputar-putar sejak tadi?”

“Aku sedang mencari air,” jawab ikan kemudian balik bertanya: “dan kenapa kau terpaku berdiam diri sejak tadi di situ?”

“Aku sedang menikmati air,” ujar tunggul ringan dan singkat.

“Hah?!”, ikan terperanjat bukan kepalang. Bagaimana mungkin ia yang sudah lama mengarungi rawa, danau dan sungai serta berputar-putar sejak tadi tidak menemukan air, sedangkan tunggul tanpa gerak menikmati keberadaan air?

“Bagaimana mungkin kau menemukan bahkan menikmati air tanpa bergerak mencari air wahai tunggul?” tanya ikan bernada protes karena  telah menghabiskan banyak tenaga dan waktu berkeliling mencari air namun tak menemukannya.

“Wahai ikan”, jawab tunggul dengan bijak, “air itu untuk dinikmati, dirasakan, bukan untuk dicari dan dipahami. Selama kau masih bergerak kau tak akan pernah merasakan dan menikmati keberadaan air. Jika kau tak menikmati keberadaan air maka kau tak memahaminya. Nikmatilah keberadaan air dengan cara menenangkan diri seperti yang kulakukan maka kau mengenal dan memahaminya, karena air tak ke mana-mana namun senantiasa bersama kita.” Ungkap tunggul dengan santai yang telah terbiasa menikmati terpaan air dalam ketenangannya. Ikan hanya tercengang mendengarkan. Tak menyangka sesederhana itu jawaban tunggul untuk mengurai kerumitan yang selama ini menyiksa hidupnya.

Mulailah ikan tersebut mencoba apa yang disarankan oleh tunggul. Ikan mulai berlatih menenangkan diri, tidak terbawa arus dan tetap di tempat. Awalnya mulai sedikit terasa terpaan air, akibat arus air yang mengalir. Semakin sering melatih menenangkan diri ia semakin merasakan kehadiran air dan mulai paham tentang air. Ikan itu terus  berlatih dan berlatih menenangkan diri dalam air hingga kesadarannya menyeruak merasakan kemenyatuan dengan air dan lebih mafhum tentang air. Dengan ketenangan tanpa gerak, kini ia lebih memahami  siapa dirinya dan siapa air yang katanya hidup dan menghidupkan. Hingga sampai pada kesadaran, sekalipun bergerak ke mana pun ikan itu tetap merasakan kehadiran air, karena telah terlatih untuk itu. Ikan bermursyid pada ketenangan tunggul untuk mengenal diri dan hidupnya.

Kehidupan yang tenang dan damai kadang telah dirampok oleh gerak ambisi, hingga kehadirannya tidak dirasakan dan dinikmati. Manusia terkadang menumpang kapal berlayar di permukaan laut berseteru dengan badai dan ombak untuk mencari kehidupan, namun lupa menyelam ke kedalaman samudra ketenangan tempat bersemayam kehidupan sesungguhnya. Manusia mencari kehidupan dengan cara melupakan hidup dan terseret oleh gerak yang  tak tentu arah, sebagaimana yang ikan alami.

Meditasi, semedi, yoga, zakat, puasa dan dzikir serta sedekah adalah upaya menikmati ketenangan tunggul dalam rangka merasakan dan memahami kehadiran air kehidupan. Salat adalah ketenangan dalam gerak, yang mengisyaratkan bahwa gerak kehidupan ini sejatinya merupakan pancaran dari ketenangan-Nya. Semua gerak adalah titisan gerak-Nya, oleh karena itu sudah semestinya gerak itu menyatu dengan ketenangan-Nya, sehingga hidup merupakan wujud kehadiran hidup-Nya. Lautan kehidupan adalah bentangan air-Nya yang dengan ketenangan diri, baik dengan gerak atau tanpa gerak, merupakan sarana efektif untuk senantiasa  bersama Dia Yang Maha Hidup.

Sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=ikan+mencari+air

Pernikahan Profetik

Nabi adalah manusia biasa yang tercelup cahaya dan ia kekal di dalamnya. Wujud nabi adalah perkawinan antara manusia biasa dengan cahaya yang melahirkan segenap pancaran kebenaran, kebaikan dan keindahan. Pengetahuan yang benar dan akhlak mulia adalah hasil perkawinan itu. Langit dan bumi menyatu-tubuh melahirkan nabi demi menjelmakan kebahagiaan dan kemaslahatan sebagaimana titah langit. Nabi lahir dari perkawinan langit dan bumi untuk menyinari kehidupan agar gerak-gerik bumi penuh dengan rembesan cahaya langit. Tanpa keperkasaan dan kasih sayang langit,  bumi akan terlunta-lunta kehilangan arah, makna dan cinta.

Langit menyetubuhi bumi, cahaya mentari menyentuh tanah, menerpa bibit hingga menjelma jadi tumbuhan. Biji yang sebelumnya tidur beralas bumi, dibangunkan oleh usikan sinar mentari, seiring waktu terjaga hingga menghasilkan biji kembali. Bumi yang sebelumnya mati mendapat kiriman hujan dari langit, menjadikan bumi hidup dan siap menghidupkan manusia, tumbuhan, hewan dan segenap makhluk di punggungnya. Betapa indahnya perkawinan langit dengan bumi menciptakan hidup yang menghidupkan.

Sebagai hasil perkawinan antara langit dengan bumi, para nabi mempersembahkan dirinya untuk menghidupkan kehidupan. Para nabi memancarkan kejujuran dan kesempurnaan langit agar hidup di bumi menjadi harmonis dalam rangka meniti kembali jejak-jejak cahaya asalnya. Para nabi membaluri setiap napas kehidupan dengan cahaya langit  agar kehidupan kembali dengan utuh dan selamat ke sumbernya. Para nabi memberi contoh bagaimana semestinya melakoni hidup agar lakon-lakon tersebut setiap detailnya menyelamatkan sesama untuk bersama-sama kembali ke asal kehidupan. Pernikahan langit dengan bumi melahirkan keselamatan untuk semua.

Pernikahan langit dengan bumi tidak bermotifkan bahwa langit mencintai bumi atau sebaliknya. Akan tetapi mereka membumikan cinta cahaya ke dalam diri masing-masing, yang dengan kehadiran cinta itu memungkinkan keduanya menyatu. Mereka bukan pemilik cinta, akan tetapi kehadiran cinta cahaya dalam diri mereka yang tarik-menarik untuk menyatu, yang menyebabkan keduanya terikut menyatu pula guna melahirkan kebajikan dan kebijakan. Hanya cinta dengan cinta yang merindu dan menyatu. Bumi dengan langit disatukan oleh kekuatan cinta yang tidak berasal dari keduanya yang melahirkan kehidupan, melainkan cinta berasal dan dimiliki oleh Yang Maha Cinta.

Pernikahan langit dengan bumi juga tidak berdampak pada langit memiliki bumi atau bumi memiliki langit. Pernikahan keduanya bukan untuk saling memiliki, tapi untuk menciptakan keharmonisan dalam melahirkan kehidupan dengan berpegang pada kemerdekaan masing-masing dan tetap mengembalikan kepemilikan pada Yang Mahamemiliki. Bumi tetaplah bumi. Langit tetaplah langit. Tidak saling memiliki. Namun keduanya sama-sama merdeka melahirkan kehidupan di hadapan Yang Maha Memiliki.

Pernikahan profetik adalah pernikahan langit dengan bumi, pernikahan dua insan untuk meneruskan dan menyebarkan generasi cahaya di bumi. Generasi cahaya berupa kejujuran, ketulusan, keikhlasan, kebaikan, kesopanan dan segenap kemuliaan lainnya yang berbungkuskan sosok alim berakhlak mulia. Sosok yang dikenal dan mengenal Tuhannya. Sosok yang bermodalkan mengenal Tuhannya untuk mengenal selain-Nya. Sosok yang senantiasa memancarkan cahaya kearifan-kearifan langit agar kehidupan bumi menjadi terang indah berseri.

Selayaknya, pernikahan adalah berpadunya dua insan sebagai sahabat untuk meniti jalan ilahi. Bagi keduanya, pernikahan adalah sarana mengeja cahaya langit untuk disusuri guna kembali ke haribaan Yang Mahacahaya. Pernikahan telah menjelma jadi alat efektif untuk merapat dan taat kepada Tuhan, untuk kembali pada-Nya sekaligus memancarkan keagungan dan cinta-Nya di bumi. Suami-istri adalah dua sahabat sejati yang bersama mengeja cahaya ilahi, sebagai bentuk safar panjang kehambaan untuk kembali kepada Dia Yang Mahacinta.

Sebagaimana pernikahan langit dengan bumi, pernikahan profetik dua insan jauh dari sentuhan cinta profan individualistik. Jauh dari sentuhan cinta sempit yang dijerat oleh keegoan. Pernikahan profetik tidak beroperasi dengan kekuatan cinta profan penuh keegoan, akan tetapi bekerja dengan rembesan Cinta-Nya ke dalam diri masing-masing. Rembesan Cinta-Nya inilah yang merasuk ke dalam jiwa masing-masing dan Cinta-Nya ini saling merindukan, yang mengakibatkan keduanya bersatu. Mereka menyatu karena kekuatan magnetik yang dahsyat dari Cinta-Nya, bukan karena tarik-menarik cinta sempit berbalut keegoan masing-masing. Bukan sekedar cinta karena Allah, akan tetapi lebih dari itu, tarik-menarik dahsyat Cinta-Nya Allah-lah yang menyatukan mereka. Pernikahan ini tidak memiliki cinta pada diri masing-masing, akan tetapi dimiliki oleh Cinta-Nya.

Sebagaimana pernikahan langit dengan bumi tidak saling memiliki, demikian juga dengan pernikahan profetik. Suami tidak memiliki istri dan istri pun tidak memiliki suami. Akan tetapi keduanya milik Tuhan. Relasi suami-istri adalah relasi yang merdeka, tidak saling memiliki, untuk bersama-sama melahirkan kehidupan langit di bumi. Interaksi mereka bukan pada kesepakatan untuk tunduk pada individu satu ke yang lainnya, sehingga mempersempit gerak masing-masing, akan tetapi untuk sama-sama tunduk pada titah kepemilikan-Nya. Istri tetaplah istri, suami tetaplah suami. Rembesan kepamikikan-Nya lah yang menyatukan mereka. Relasi dan lakon suami-istri telah menjadi sarana pengejawantahan kepemilikan-Nya.

Pernikahan profetik telah menjelma jadi samudera kasih sayang dan cinta-Nya, untuk diarungi bersama sebagai sahabat, menuju dermaga-Nya nan indah. Pernikahan ini telah berwujud menjadi sajadah panjang untuk menyempurnakan kehambaan di setiap saat dan tempat. Pasangan suami istri saling menjaga dan saling mengingatkan bukan untuk taat pada satu pribadi ke pribadi lainnya, akan tetapi untuk sama-sama lebur taat pada-Nya. Tidak saling membatasi, namun melebur pada kemerdekaan-Nya. Pernikahan profetik telah menyeret segala sesuatu yang berkaitan dengannya kearah peleburan kepada Yang Mahacinta, Maha Pengasih dan Penyayang. Suami-istri adalah dua sahabat sejati menuju ilahi.

Illustrasi: http://static.republika.co.id/uploads/images/headline_slide/ilustrasi-_120417094450-624.

Mengeja Cahaya

Diskusi ringan tanpa rencana di pelataran Papirus, sebuah toko buku dan komunitas, di bilangan Tamalanrea, Makassar. Sempat terungkap bahwa kegiatan literasi, literate, itu tanggung jawab peradaban. Secara leksikal, literate berarti melek huruf. Melek huruf ini berkaitan erat dengan kemampuan membaca. Kemampuan membaca berkaitan dengan aktivitas memahami. Memahami itu sendiri bermakna yang sebelumnya tidak diketahui, tidak dipahami, menjadi diketahui dan dipahami. Sesuatu yang sebelumnya gelap-gulita menjadi terang-benderang secara intelek. Tidak ada yang mampu mengubah gelap menjadi terang kecuali cahaya. Aktivitas literasi merupakan tanggung jawab peradaban yang mengubah kegelapan kehidupan menjadi peradaban yang bersinar dengan pancaran cahaya logika, etika dan estetika dalam bentuk tampilan seperti ilmu pengetahuan, filsafat, sains dan lain sebagainya. Kerja literasi adalah kerja menyinari kehidupan.

Scientific curiosity, keingintahuan secara ilmiah, senantiasa lekat dalam diri manusia, termasuk keingintahuan hakikat asal semua benda-benda dalam hidup ini. Sekitar tahun 1976, berkumpul para ilmuan untuk mencari tahu asal- muasal benda-benda di Stanford University. Mereka melakukan eksperimen untuk menjawab keingintahuan itu. Sebagaimana diketahui secara umum, semua benda tersusun atas molekul-molekul dan molekul terdiri atas atom-atom. Atom merupakan bagian terkecil suatu benda dan tidak dapat dipecah lagi, walaupun telah ditemukan bagian-bagiannya: elektron, proton dan neutron.  Dalam eksperimen itu dibuatlah perangkat sedemikian rupa untuk mengurai atom dan unsur pembangunnya. Dalam eksperimen itu upaya mengurai elektron, proton dan neutron menghasilkan sinar alfa, beta dan gamma. Riset ini mentok pada kesimpulan bahwa benda-benda yang dipandang gelap ini berasal dari cahaya. Setidaknya sinar alfa, beta dan gamma. Benda-benda yang selama ini dipandang gelap ternyata bergelimang cahaya di dalam dirinya. Benda-benda itu dipandang gelap bukan karena hakikat mereka adalah kegelapan, akan tetapi ketidakmampuan manusia melihat cahaya di dalamnya secara kasat mata. Hanya kebutaan manusia yang menjadikan mereka dipandang benda gelap. Manusia tidak literate terhadap huruf-huruf yang ditampilkan benda-benda itu.

Kaitan bentuk fisik otak manusia dan cahaya juga menarik. Penelitian ilmiah tentang otak telah menemukan bahwa ada titik pada  bagian tengah otak manusia yang bercahaya. Titik bercahaya ini dinamakan god spot. Titik tuhan. Mungkin otak manusia bekerja atas sinaran lembut nan bijak titik ini walaupun jari-jemari ilmu pengetahuan belum menyentuhnya secara eksak. Otak manusia yang jelas-jelas fisik itu bekerja tak lepas dari cahaya, bukan sekedar karena di dalamnya ada god spot akan tetapi ia juga terdiri atas atom-atom yang bergelimang cahaya. Otak manusia yang canggih itu pun beroperasi dengan cahaya.

Dalam tradisi sufi, kehadiran cahaya adalah wajib. Ada beberapa titik pusaran cahaya yang disebut lathifah. Lathifah-lathifah ini ada yang terletak di ubun-ubun, anatara kedua alis, pangkal tenggorokan, tengah dada atau seputaran letak jantung, pusar, seputar tulang kelamin dan tulang ekor. Ada juga yang menyebutkan lathifah-lathifah itu menyebar ke seluruh tubuh dengan jumlah tanpa batas. Semua lathifah itu berpendar-pendar cahaya. Latihan spiritual berfokus pada menatap secara batin cahaya-cahaya tersebut hingga kehadirannya merembes pada dunia fisik. Cahaya yang non-fisik menyinari kehidupan fisik. Bahkan para pesuluk terkadang melihat dirinya sendiri berupa tubuh-cahaya yang sulit dibedakan apakan ia melihat duplikat diri tersebut dengan mata batin atau mata fisik. Batas-batas mata batin dan mata fisik menjadi lumer saat memandang cahaya spiritual tersebut. Mungkin karena bergelimang cahaya, para sufi lebih bijak mengarungi kehidupan karena mereka lebih bisa memandang kehidupan ini secara detail baik nuansa lahir maupun batin. Para sufi itu literate secara terperinci. Mereka lebih melek secara terperinci terhadap setiap huruf-huruf kehidupan.

Cahaya bertugas menerangi. Bukan karena ia ingin menerangi, akan tetapi karena bawaan azali cahaya memang senantiasa menerangi. Pada esensi cahaya tertitip langsung eksistensinya yang berefek menerangi. Cahaya dan menerangi sama sekali tak dapat dipisahkan. Setiap aktivitas yang berkaitan dengan membuat sesuatu menjadi lebih terang, menjadi lebih jelas adalah aktivitas cahaya. Belajar untuk mengetahui adalah kerja cahaya. Fokus memahami apa yang diungkap oleh lawan bicara adalah aktivitas cahaya. Berkontemplasi merenungi diri agar lebih kenal diri adalah aktivitas cahaya. Mengamati benda-benda fisik maupun non-fisik melahirkan pahaman dan pengetahuan baru adalah aktivitas cahaya. Ilmu pengetahuan berupa matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi dan semua disiplin ilmu adalah pancaran-pancaran cahaya. Dan semua itu tidak bisa lepas dari literate, melek dari setiap detail huruf-huruf kehidupan.

Kehidupan ini, baik yang tampak maupun tak tampak berunsurkan cahaya. Benda-benda gelap berintikan cahaya. Otak manusia beroperasi dengan cahaya. Jiwa manusia berbuntat cahaya. Pergerakan dan perpindahan adalah perubahan cahaya. Tampilan dan proses kehidupan ini adalah permainan cahaya yang begitu mengagumkan. Bahkan peradaban pun merupakan kado indah kehidupan hasil dari proses cahaya. Tak pernah ada peradaban tanpa literate, tanpa melek pada setiap huruf-huruf kehidupan yang begitu menggoda libido pengetahuan untuk diketahui dengan bantuan cahaya, kekuatan untuk menjadikan terang yang sebelumnya gelap-gulita.

Tuhan, Dialah Cahaya langit dan bumi. Cahaya yang meliputi segala sesuatu, baik yang tampak maupun tak tampak. Tiada sumber cahaya kecuali dari-Nya, karena tak mungkin cahaya hadir tanpa asal. Maka, Ia-lah Cahaya Yang Mahacahaya yang menerangi seluruh kehidupan tanpa batas. Sadar atau tanpa sadar, setiap kali mengeja cahaya, maka kita mengeja Dia, untuk lebih mafhum tentang Dia, karena tiada cahaya yang lepas-bebas dari Cahaya-Nya. Betapa bijaknya, saat literate, saat melek terhadap huruf-huruf kehidupan yang berintikan cahaya, kita literate pula tentang Dia Yang Mahacaya sumber dari segala cahaya. Literasi adalah pancaran cahaya yang membangun peradaban dan kita adala cahaya-Nya.

 

Berguru pada Tembok

Tembok adalah guru yang amat jujur dan tampil apa adanya. Tanpa rekayasa. Mengajarkan tentang apa saja. Tentang kehidupan dan juga kematian. Baik kehidupan sehari-hari maupun kehidupan dunia kontemplasi yang suci, indah dan agung. Secara kasat mata, tembok bukanlah apa-apa. Ia hanyalah benda keras yang berdiri kukuh, tergeletak atau bahkan tertanam dalam perut bumi.

Tembok menjadi penanda kemajuan peradaban manusia. Ia tersusun rapi nan asri dan banyak membantu aktivitas manusia. Sebagai tempat tinggal, perkantoran, areal bisnis dan lain sebagainya. Namun juga kehadiran tembok bisa bermakna memperkosa bumi. Tembok memancang keras, menusuk-nusuk, tanpa ampun menembus keelokan Bumi. Kemolekan Bumi menumbuhkan gairah pancang beton untuk menyetubuhinya akibat pancaran nafsu manusia yang berkobar tanpa kendali. Dan, bumi pun tampaknya pasrah dengan perlakuan itu. Atau mungkin menikmatinya. Seolah-olah membiarkan begitu saja kehadiran hutan beton bahkan lautan tembok di mana-mana membalut pemukiman manusia.

Bagaimanapun juga, tembok sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam peradaban manusia, baik kuno maupun modern. Yang membedakannya adalah, dalam peradaban kuno tembok terbuat dari batu alami yang tersedia secara natural, sedangkan peradaban modern menciptakan tembok dengan sengaja melalui adonan berbagai bahan dasar seperti pasir, semen, besi, air, kapur dan kerikil.

Dalam peradaban kuno tembok telah mempersembahkan kedigdayaannya dengan menampilkan Piramida Mesir, Tembok Raksasa Cina, Candi Borobudur, Prambanan dan lain sebagainya. Begitupun dalam peradaban modern tembok telah menyihir setiap mata yang memandang dengan menampilkan pelbagai bangunan yang megah nan indah, bahkan laksana ingin mencakar-cakar langit biru. Tampaknya, manusia nyaman hidup dalam tembok dan dikelilingi oleh tembok. Bahkan mati pun kuburannya tetap bertembok-ria. Kalau sudah seperti ini, tampaknya amat susah memisahkan manusia dengan tembok.

Sebelum lanjut mengurai berguru pada tembok, mari sedikit menilik kemampuan unik manusia dalam belajar. Karena sejak lahir telah built-in akal-intelek dalam diri manusia, sehingga memudahkannya untuk belajar dan mengajar. Dengan modal dasar ini manusia dapat belajar dan belajar sepanjang hayatnya. Apa pun yang menyentuh indera dan akalnya, diolah sedemikian rupa menjadi pengetahuan yang pada akhirnya untuk menciptakan kebijakan dan kebajikan.

Dengan tertanamnya secara otomatis sejak lahir akal-intelek pada manusia, hal ini telah mendaulat manusia menjadi guru bagi dirinya sendiri, sehingga ia layak untuk mengangkat apa dan siapa pun menjadi gurunya. Manusia merdeka dalam urusan belajar dan mengajar dengan kemampuan dasar ini. Bisa dikatakan bahwa pembelajar sejati adalah orang yang gila berguru. Berguru pada apa dan siapa pun dengan jumlah guru yang tak berbilang angka. Itulah pembelajar sejati.

Bagi pembelajar sejati, apa dan siapa pun yang ia cerap melalui akal atau indera, akan diolahnya sedemikian rupa untuk menghasilkan kebijakan dan kebajikan. Yang mereka cerap itu senantiasa mengajarkan sesuatu. Oleh karena itu segala yang maujud bagi mereka adalah guru. Yaitu, guru yang jujur senantiasa mengajarkan kebijakan dan kebajikan. Guru manusia sesungguhnya adalah diri sendiri, sehingga ia bebas mengangkat guru-guru lain, termasuk tembok.

Berguru pada tembok. Ada banyak hal yang diajarkan oleh tembok. Tembok tak mudah bercerai-berai mengajarkan tentang kekerasan dan kekukuhan. Tembok senantiasa solid mengajarkan kekompakan dan keutuhan. Tembok tak lekang oleh zaman dan cuaca mengajarkan tentang keabadian dan ketegaran. Tembok menjadi tempat beraktivitas manusia mengajarkan tentang pelayanan dan kesabaran. Tembok sangat sulit berubah-ubah mengajarkan tentang kesetiaan dan keistiqomahan. Dan masih banyak lagi hal-hal mulia yang dapat diajarkan oleh tembok. Guru terbaik menghadirkan guru yang baik. Diri dan tembok sama-sama guru.

Dari sekian banyak yang diajarkan oleh tembok, yang paling menarik adalah relasinya dengan air. Bila kita menatap tembok, baik tembok kuno ataupun modern sangat tidak tampak jejak-jekak air. Seolah-olah keberadaan tembok sama sekali tidak ada hubung-kaitnya dengan air. Padahal, jika dicermati proses pembentukannya, peranan air sangat besar. Air membangun tembok bersama dengan pasir, semen, kerikil, kapur, besi, dan mungkin bahan lainnya, namun semua bahan dasar itu akan menetap bersama tembok secara fisik, kecuali air.

Air hanya datang menemani unsur lainnya untuk menghadirkan tembok. Setelah selesai prosesnya, unsur-unsur lain tetap kukuh bersama mengutuhkan tembok, dan air pergi begitu saja. Air datang menyatukan unsur-unsur yang berbeda dan bercerai-berai kemudian pergi. Air datang menyempurnakan penyatuan kemudian menghilang. Bahkan jejaknya pun tak tampak. Itulah air yang hadir dengan keikhlasan dan pergi pun dengan keikhlasan.

Pada tembok bangunan: semen, pasir, besi, kerikil, kapur dan lainnya menduduki posisi masing-masing, ada yang tampak dari luar dan ada yang tersembunyi, namun tetap menyatu dengan tembok bangunan tersebut. Tidak ada yang lebih hebat antara satu unsur dari yang lainnya karena masing memiliki kontribusi pada porsinya. Dalam tembok bangunan kehidupan, masing-masing wujud menduduki posisinya dan juga memberikan kontribusinya. Karena kehadiran masing-masing yang unik, tak tergantikan oleh yang lain, maka secara keberadaan tidak ada yang lebih tinggi antara satu dengan yang lainnya.

Sebagai wujud, kemiskinan berkontribusi pada kekayaan, meniscayakan kekayaan bermurah hati pada kemiskinan. Ketaksempurnaan berkontribusi pada kesempurnaan meniscayakan kesempurnaan bertanggung jawab untuk menitiskan dirinya pada ketaksempurnaan. Begitupun dengan hal-hal lainnya. Unsur-unsur pembangun tembok menyatukan diri membangun keutuhan tembok kehidupan.

Berkaitan dengan pembentukan tembok, air mengajarkan tentang ketulusan dan keikhlasan. Air menghilang setelah setelah tembok terbentuk kukuh. Terkadang kita harus tampil berperan sebagai air dalam membangun tembok kehidupan, bahkan harus senantiasa tampil sebagai air. Ikhlas.

Aktivitas yang terbaik adalah yang mengatasnamakan Tuhan, bukan mengatasnamakan diri. Sebab perwujudan kita dari-Nya. Hanya Dia yang maujud, selain-Nya tiada. Oleh karena itu keikhlasan yang sesungguhnya adalah keikhlasan yang berbasis pada-Nya, bukan pada diri. Dengan cara ini, segala aktivitas membangun tembok kehidupan adalah Pancaran-Nya, bukan pancaran diri. Begitu ikhlasnya Tuhan membangun tembok kehidupan, hingga seola-olah Ia tak tampak dalam kehidupan dan prosesnya.

Reinkarnasi Poppo’-Parakang

Dengan santai, mendaras Anging Mammiri-nya senior saya,  Abdul Rasyid Idris, mata tertuju pada judul “Poppo’-Parakang” dalam buku tersebut. Berseliweranlah angan ke masa kecil, mengais memori yang hampir tertimbun rapi yang merapuh, cerita rakyat dari neneknya nenek ke ibunya dan neneknya dan juga ke ibuku dari nenek tentang Poppo’-Parakang. Angan juga melayang-melayang mencari tahu, sekalipun agak ragu, apakah Poppo-Parakang masih ada di zaman serba digital ini? Akal nakal menjawab: Ya! Akal yang sama dalam benakku malah balik bertanya dengan penuh keheranan:”Hah??! Betulkah?”

Berdasarkan paparan cerita kampung, Poppo’-Parakang adalah makhluk jadi-jadian namun bertubuh serupa manusia sesungguhnya. Poppo’ berjenis kelamin perempuan dan Parakang bergender laki-laki. Namun belum pernah terdengar tegas mereka adalah pasangan suami-istri. Karena, tidak pernah terdengar ada Parakang yang melamar Poppo’ atau sebaliknya. Lebih-lebih tidak pernah terjadi ada perhelatan yang megah atas pesta perkawinan antara Poppo’ dengan Parakang. Kalaupun memang ada, yang pasti tidak diketahui berapa besar uang panai’ dan penghulunya. Namun uniknya, makhluk jadi-jadian ini senantiasa hadir dalam kesadaran lama, mungkin juga kesadaran baru,  sekalipun tidak pernah diketahui bagaimana mereka berkembang biak dan mati. Poppo’-Parakang hadir begitu saja dalam cerita rakyat, bahkan dipercaya memang hadir dalam masyarakat.

Poppo’ bertubuhkan perempuan yang cantik, berkulit putih, rambut panjang, berleher jenjang dan tinggi semampai. Parakang bertubuhkan lelaki biasa yang suka bertelanjang dada dan bermata merah. Pekerjaan mereka sama: mangiso’ pallo’(bugis: pello’) yang artinya menghisap dubur. Dengan menghisap dubur, diasosiasikan selanjutnya menghisap darah sehingga korbannya akan kehabisan darah dan meninggal. Begitulah cara Poppo’-Parakang mendapatkan dan mempertahankan hidup dengan cara menciptakan kematian bagi orang lain. Orang yang sesungguhnya. Sementara mereka adalah orang jadi-jadian. Jadi, orang jadi-jadian mencari hidup dengan cara menciptakan kematian bagi orang sesungguhnya. Itulah Poppo’-Parakang.

Sebelum beroperasi di malam hari, Poppo’ mengeluarkan isi perutnya di rakkeang atau bagian dalam bubungan rumah dengan mengucap: “Poppo…poppo…poppo…” berulang-ulang. Setelah ritual ini selesai, maka bergentayanganlah Poppo’ mencari mangsa. Jam kerja Parakang lebih sederhana, begitu masuk waktu Magrib berarti sudah masuk jam operasi. Parakang keliling kampung mencari anak-anak dan orang sakit atau siapa saja yang lalai untuk dihisap duburnya yang kemudian terhisap juga darahnya. Dalam kondisi genting yang merugikan, Poppo’ bisa menghilang begitu saja, sedangkan Parakang bisa tetiba menjadi kucing hitam pekat lincah. Sepertinya perangkat penyelamatan diri sudah built-in di dalam diri Poppo’-Parakang bila mereka menghadapi suasana berbahaya. Mungkin karena hal ini pula daya survive keduanya dipandang andal sehingga dapat hidup di segala zaman.

Karena dapat bertubuhkan pada siapa saja yang sesuai, maka Poppo’-Parakang adalah makhluk sifat. Dia merupakan sekumpulan sifat yang dapat hinggap pada siapa saja yang bersesuaian karakternya. Secara umum Poppo’-Parakang berpenampilan sebagaimana umumnya manusia. Namun sifat-sifatnyalah yang buruk. Secara luaran baik, namun dalamannya buruk bahkan sangat berbahaya, membunuh. Pada unsur sifat inilah Poppo’-Parakang punya kemampuan reinkarnasi yang luar biasa. Ia dapat menjelma menjadi berbagai personifikasi buruk—karena secara hakiki sifatnya memang buruk—dengan berbagai tampilan perwajahan tak berbatas jumlah.

Poppo’-Parakang bisa bertubuhkan pada pembunuh, pencuri, peneror, pembohong, dan segenap person negatif lainnya. Poppo’-Parakang menghisap darah korbannya adalah pembunuh sadis. Poppo’-Parakang mengambil rezeki orang lain dengan tidak semestinya adalah pencuri. Poppo’-Parakang yang menciptakan aroma ketakutan akan kejahatannya bagi orang lain adalah peneror kejam. Poppo’-Parakang berpenampilan baik namun bersifat buruk adalah pembohong dan munafik. Begitupun personifikasi buruk lainnya sangat berhimpitan dengan Poppo’-Parakang jika kita tidak ingin mengatakan bahwa mereka identik. Poppo’-Parakang adalah satu sosok yang dalam dirinya berisi multikejahatan.

Di antara sosok negatif yang sangat dekat dengan karakter Poppo’-Parakang zaman sekarang adalah koruptor. Sama-sama dalam satu sosok berisi multikejahatan. Koruptor melestarikan hidupnya dengan cara menggunting urat nadi ekonomi kehidupan. Koruptor bekerja dengan cara mencuri, mengambil sesuatu yang semestinya bukan haknya. Koruptor dengan sadar atau tidak, mengancam kestabilan kehidupan, menebarkan mesiu menakutkan, adalah teroris yang nyata. Koruptor senantiasa menampilkan kebaikan namun mengoperasikan rencana buruknya pada saat bersamaan adalah pembohong besar. Jika disimak dengan jeli berurai tajam, koruptor mengumpulkan segenap kejahatan dalam dirinya. Dengan berbagai predikat tersebut, maka sangat layak jika dikatakan koruptor adalah reinkarnasi definitif dan cukup sempurna dari Poppo’-Parakang untuk masa digital ini.

Bagaimanapun juga, karena sangat membahayakan, sepak terjang Poppo’-Parakang harus dihentikan. Secara tradisional ada berbagai cara untuk menangkal manuver-manuvernya. Misalnya, dengan menggunakan azimat bambu ketemu buku atau rajah-rajah tertentu yang dibungkus dengan kain hitam lalu dililitkan ke leher sebagai kalung atau di pinggang. Atau juga dengan cara menaburi garam di sekeliling rumah serta membaluri garam ke sekujur tubuh “tersangka” gangguan Poppo’-Parakang. Biasa juga dengan jampi-jampi untuk menangkal serangan makhluk berbahaya ini.

Dalam konteks reinkarnasi Poppo’-Parakang, koruptor, dibutuhkan kekuatan tertentu untuk memberantasnya, mungkin inilah wujud kehadiran KPK. KPK adalah azimat, garam atau jampi-jampi era digital untuk menangkal agresivitas Poppo’-Parakang zaman mutakhir, yaitu koruptor. Namun, dengan kelincahan yang luar biasa, karena Poppo’-Parakang itu adalah makhluk sifat sebagaimana koruptor, maka bebas mengambil tubuh mana saja yang bersesuai dengan sifatnya. Jadi bisa saja Pawang Poppo’-Parakang kemasukan Poppo’-Parakang, begitupun bisa terjadi relasi antara KPK dan Koruptor. Bila hal ini memang terjadi, benarlah kiranya Poppo’-Parakang masih eksis di era digital ini dengan multikejahatannya yang jauh lebih sadis.