Arsip Kategori: Kembara

Butta Toa Butta Literasi (Memantik semangat dari Desa Labbo)

Tentu bagi sebagagian besar pegiat literasi sangat familiar dengan kisah Jhon Wood yang hidup di abad ini. kisah hidupnya yang sangat menginspirasi dan menggerakkan banyak orang di planet Bumi ini. Tersebutlah seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun dengan posisi mentereng di sebuah perusahaan yang mentereng pula. Dialah Jhon Wood, yang posisi terakhirnya di Microsof sebagai salah satu Direktur untuk wilayah Asia Pasifik yang berkantor di pusat keriuhan Kota Hongkong.

Kala suatu waktu di tahun 1998, dia mengambil cuti tahunannya dan berlibur ke sebuah desa terpencil di Himalaya yang akhirnya mengubah jalan hidupnya dengan sangat ekstrim. Dari pengembaraanya saat liburan itu, Ia menemui beberapa guru dan mengunjungi beberpa sekolah, menyaksikan sekolah-sekolah yang tidak memiliki buku. Dari situlah bermula perubahan itu. Setelah pulang dari berlibur Ia mengirim e-mail ke teman-temannya secara terbatas meminta buku-buku bekas untuk disumbangkan ke sekolah-sekolah di daerah terpencil yang telah dikunjunginya itu. read more

Sepanjang Jalan, Kopi

Salah satu yang saya syukuri bekerja di rantau, khususnya di perusahaan tempatku mengais nafkah saat ini, hingga jelang usia pension, perjalanan dan mutasi dari site satu ke site lainnya. Saya selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, dan khususnya penikmat dan pencinta kopi. Pernah menemui kelompok pembuat kopi goraka atawa dibilangkan juga kopi jahe sekaligus kerap menikmatinya untuk beberapa lama di sebuah kampung di Bolaang Mongondow. Kopi jenis robusta Mongondow dan jahe merah yang ditanam sendiri oleh warga. Mengolahnya secara manual tradisional dan sederhana yang telah berlangsung cukup lama. Paduan kopi dan jahenya proporsional. Terasa kopinya terasa pula jahenya ditenggorokan. Saya cukup menyukainya sebab di samping kopinya yang anti oksidannya tinggi juga jahenya konon bisa menggerus masuk angin yang kerap menyiksa. read more

Uang dan Uang

Dalam sebuah dialog kecil tapi nyaris tegang antara seorang bos dan seorang anak buahnya di sebuah kantor pertambangan kelas menengah. Seorang anak buah yang berposisi selevel menejer tersinggung oleh pernyataan bosnya yang menilai semua hubungannya dari perspektif uang an sich, padahal kedua laki-laki pekerja profesional ini di luar hubungan kerja memang bersahabat sejak di bangku kuliah puluhan tahun lampau. Sudut pandang yang begitu sulit dihindari saat ini adalah memposisikan uang sebagai segalanya mengalahkan semua alat ukur hubungan antar manusia. read more

Muasal Jagung, dari Milho ke Milu

Perjalananku kali ini melintasi negeri nyiur melambai ditemani gerimis hujan sore hari. Senja hanya nampak sebagian karena sebagiannya sedang bertirai gerimis. Suasananya sedikit romantis, perpaduan gerimis hujan dan senja memerah saga. Dalam suasana seperti itu, kenangku berkelebat jauh ke masa-masa kala masih kanak di Kota Makassar. Waktu itu, kondisi negeri ini sedang tak berdaya, daya beli masyarakat sedang anjlok hingga ke titik nadir. Antrian panjang untuk mendapatkan beberapa bahan pokok seperti minyak tanah, beras, dll., itu kita dapati di mana-mana khususnya di sekitar mukimku di sebuah pasar tua di Makassar. read more

Beribu Cinta Untukmu

Menyambut maulid Nabi

 Bak kulihat cahayamu di matahari menerangi semesta. Membasuh wajah-wajah lugu bersahaja hingga melek hidup, membasuh batin-batin letih para pencari cinta ke ruang dan waktu tak berbatas. Membasuh laku kasar penduduk sahara menuai santun. Semesta mewujud cinta dari perangaimu yang indah. Engkau hadir di remah hidup kaum tak berpunya, mengasihi mereka yang memusuhimu.

Menyelimuti cinta dan kasih semesta dan paradaban. Para penyair tak habis kalimat mengukir keindahanmu. Pena-pena para cerdik pandai tak hentinya menggores kebajikan yang engkau jejakkan. Jadi, bila mencintaimu dengan beragam ekspresi budaya, merindukanmu dengan berbagai laku yang kami jejakkan, lalu kami dituduh berlaku bid’ah dhalalah, tak mengapa,  sebab semuanya hanya sezarra ekspresi cinta kami dari gundukan semesta ini. read more

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan makhluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more

Sedekah Ilmu

Pagi bergegas nampakkan mentari menyinari semesta. burung-burung terbang ke sana ke mari berpindah dari dahan ke dahan yang merimbuni jalan-jalan menuju sebuah kampung. Bersama beberapa rekan kerja kami beramai-ramai menuju sebuah sekolah dasar di sebuah kampung di kaki gunung. Semesta kampung di kaki gunung itu seolah menyambut kami dengan riang gembira dan suka cita. bersama tim dari perusahaan tempat kami mengais nafkah akan mengajar di sekolah tersebut dengan program CSR (Corporate Social Responsibility) yang telah disepakati oleh semua unsur sekolah, dari kepala sekolah hingga para siswa, dan perangkat pemerintahan desa hingga kecamatan. Kawan-kawan membilangkannya program “sedekah ilmu”. read more

Sahabat

Seorang perempuan muda cantik dilamar oleh seorang lelaki muda untuk dijadikan istri pada sebuah momentum yang romantis. Namun perempuan itu menolak dengan alasan yang tak diduga oleh lelaki muda gagah Sang Pelamar itu. Padahal mereka berdua telah saling mengenal sudah cukup lama, walaupun pengungkapan isi hati prihal kesukaannya pada perempuan muda cantik itu baru pertama kalinya di momen yang menurutnya indah dan pas untuk menyampaikan rasa suka dan langsung melamarnya. Alasan penolakan perempuan itu cuma satu, bahwa selama beberapa tahun mereka akrab dan berteman hanya menganggapnya sebagai sahabat saja. read more

Pak Ishak, Tralala, dan Bunga-Bunga

Makassar pada suatu hari, ketika aku usai bertamasya di gerai toko buku di bilangan mall Panakukang, aku beranjak bergeser ke sebuah kedai kopi hendak membaca buku yang baru saja kubeli. Menurutku itu adalah cara terbaik menunggu isteriku yang tengah membawa dua anakku ke sebuah praktik dokter yang tak terlampau jauh dari tempat ngopi yang kupilih. Aku belum menikmati kopi di sore hari ini.

“Kopi Kalosi Toraja, pak?” ujar seorang barista yang rupanya telah mengenaliku berikut pesanananku. Saban hari bila aku mengunjungi kedai kopi ini, aku selalu kepincut dengan racikan kopi Kalosi dan Toraja. Entah berapa lama aku larut dalam “Just After Sunset”-nya Stephen King, mengalun lagu dari Aiza Segulerra. Aku berusaha mengingat judul lagunya tapi kulupa. Kuteruskan bacaanku… read more

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan mahluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikkan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more