Arsip Kategori: Kembara

Sahabat

Seorang perempuan muda cantik dilamar oleh seorang lelaki muda untuk dijadikan istri pada sebuah momentum yang romantis. Namun perempuan itu menolak dengan alasan yang tak diduga oleh lelaki muda gagah Sang Pelamar itu. Padahal mereka berdua telah saling mengenal sudah cukup lama, walaupun pengungkapan isi hati prihal kesukaannya pada perempuan muda cantik itu baru pertama kalinya di momen yang menurutnya indah dan pas untuk menyampaikan rasa suka dan langsung melamarnya. Alasan penolakan perempuan itu cuma satu, bahwa selama beberapa tahun mereka akrab dan berteman hanya menganggapnya sebagai sahabat saja.

Di sebuah lontang (tempat minum tuak) hampir setiap hari mereka berkumpul merayakan persahabatan mereka dengan cara sedikit unik, minum tuak (hingga mabuk) sembari berdiskusi berbagai hal berkenaan dengan keluarga dan kehidupan sosial mereka. Sesekali perayaan itu di hibur oleh musik gitar dan perkusi menyanyikan lagu-lagu daerah berirama langgam. Mereka ini komunitas yang mengklaim diri diikat oleh persahabatan yang kuat. Namun realitasnya di tempat ini kerap pula terjadi perselisihan yang tajam di antara mereka bahkan saling berbunuh.

Dalam hubungan-hubungan yang akrab dan intens dengan lebih sedikit orang yang terlibat, dua hingga mungkin sekira sepuluh orang membangun komunkasi secara baik dalam durasi waktu yang cukup lama. Mereka pun mengklaimnya ikatan psikologis yang mereka lakukan dibilangkannya sahabat. Pada kelompok yang lebih kecil ini pun terdiri dari berbagai tingkatan usia, dari usia remaja hingga usia dewasa. Mereka mengikatkan diri dalam sebuah hubungan yang karib dalam waktu yang cukup panjang. Ada yang karena kesamaan hobi, kesamaan cara pandang tentang hidup, mungkin karena sekantor hingga intensitas pertemuan dan kesamaan suatu hal hingga mereka karib, keakraban karena merasa sependeritaan atau senasib dalam satu atau beberapa hal. Hingga kesemua itu mereka klaim atau membilangkan ikatan-ikatan yang mereka lakukan adalah persahabatan atau sahabat.

Dalam buku kecil Plato berjudul, Lysis yang dirujuk oleh F. Budi Hardiman, lewat bukunya, Filsafat untuk Para Profesional, bertemakan persahabatan membantu kita memahami bahwa persahabatan bersifat triangular (segitiga). Dua kawan bersatu karena ada pihak ketiga yang bernama kebaikan, boleh juga disebut “kepentingan”. Konteks besar pemikiran Plato akan membantu kita memilah bentuk-bentuk persahabatan. Ada kongkalikong dagang, karena kepentingan pengikatnya adalah uang; ada kesetiakawanan bonek (bondo/modal nekat), karena yang dibela adalah harga diri dan kekuasaan; dan akhirnya ada persahabatan yang indah dan benar karena yang menjadi pengikatnya adalah kebaikan yang sungguh-sungguh baik.

Dalam perkembangan selanjutnya, perbincangan berkenaan dengan persahabatan diramaikan pula oleh Sokrates, seorang filosof dan pemikir yang notabene adalah murid dari Plato itu sendiri. Menurut Sokrates klaim-klaim kebaikan pun perlu dikritisi. Bila kebaikan hanya sebatas berbagi dalam bentuk fisikal, seperti, Hippothales mendekati Lysis untuk menjadikannya kekasih dalam cerita Lysis-nya Plato, dengan mendeklamasikan puisi dengan puja-pujian secara fisik dan berharap dapat menjadikannya kekasih dengan beragam iming-iming bendawi. Menurutnya, cara mencintai dan bersahabat seperti ini adalah menggelikan. Karena kebaikan-kebaikan yang dimaksud hanya terbatas pada aspek bendawi.

Relasi cinta dan sahabat atas dasar fisik hanya menciptakan para pemburu cinta yang bodoh, katanya kemudian. Relasi persahabatan ditilik Plato dari dua sudut pandang, dari orang-orang yang terlibat dalam persahabatan (para pelakunya) dan dari hal yang menyatukan mereka yang terlibat dalam persahabatan (objeknya). Dari sisi pelaku persahabatan, lazim diterima bahwa persahabatan mengandaikan resiprositas (kesalingan) antara dua pihak yang saling berkawan.

Tapi bagi Sokrates, ada banyak kasus di mana orang menyahabati sesuatu tanpa berharap ada balasan (resiprositas) dari yang disahabati. Misalnya, orang yang besahabat (philia) atau karib dengan anjing. Dalam cintanya pada anjing dia tahu bahwa para anjing itu tidak bisa membalas persahabatannya sesuai kelaziman. Pun benda-benda yang kita sukai, disahabati dan dipelihara dengan baik tapi Ia tidak bersifat resiprok, tapi persahabatan sebelah pihak hanya satu arah, tanpa berharap balasan.

Mungkin kita berpendapat bahwa relasi persahabatan dengan binatang atau benda lainnya memang tidak bersifat resiprok, namun membangun relasi dengan sesama manusia pasti ada kesalingan berbagi, benarkah ? Sokrates membantah pendapat itu. Beliau memberi contoh, tentang persahabatan atau cinta orangtua kepada anak-anaknya diberikan sebagai bukti bahwa relasi philia memang tidak bersifat resiprok. Orang tua yang menyahabati dan mencintai bayinya berlaku demikian terlepas dari apakah ada balasan dari bayinya. Setelah besarpun orang tua tetap mencintai meski kadang mereka malah dibenci oleh anaknya.

Masih ingat bukan, sebuah lagu kala kita masih kecil, Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya mengitari dunia.” Cinta orangtua sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah. Sepenggal contoh di atas mebawa kita bahwa hampir semua orang tua membangun persahabatan dan rasa cinta pada anaknya dan manusia pada sesuatu tidak ditentukan oleh adanya resiprositas.

Mungkin ini pula yang dipersembahkan oleh sebagian pekerja social di pelbagai segmen kehidupan yang melakukan pekerjaannya dengan filosofi altruistic di mana semua pekerjaan yang dilakoninya berdasarkan atau mementingkan kepentingan orang lain tanpa mengharap balasan. Masih ingat kan? Bagaimana, Bunda Tresa, sosok yang monumental itu, melakukan pelayanan kepada para fakir miskin dan secara spesifik bagi orang-orang yang terjangkiti penyakit kusta di Kalkutta, India. Melayaninya sepenuh kasih sepanjang usia tuanya. Beliau tidak berharap sedikit pun balasan dari siapa saja. Sejak usia muda hingga keriput menjangkiti kulitnya waktunya dihabiskan mencurahkan persahabatan dan cinta kepada sesama manusia tanpa tersekat oleh perbedaan ras dan keyakinannya.

Di Jazirah Arab juga dikenal seorang lelaki penuh kasih yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk berkhikmat pada kemanusiaan. Pernah dengar atau baca kan kisahnya. Suatu waktu anaknya bernama Hasan Bin Ali, menjamu para tamu dan musafir di rumahnya di Kota Madinah. Kala seorang musafir dari kampung nun jauh usai menikmati jamuan yang dipersembahkan, mengambil lagi sepaket penganan. Sayyidina Hasan Bin Ali melihatnya dan menanyainya, penganan itu untuk siapa ? lalu langsung di jawabnya, bahwa untuk seorang tua di pinggir kota yang sedang duduk di tepi sebuah kebun kurma nampak kelihatan kelapan. Sayyidina Hasan, tak tahan langsung mengucurkan air matanya, lalu menjelaskan bahwa orang tua itu adalah ayahku yang sedang bekerja di kebun milik orang Yahudi. Semua upah yang dikumpulkan untuk menyediakan penganan para musafir dan fakir miskin yang memasuki kota ini.

Suatu waktu filosof dan pemikir, Aristoteles menyampaikan gagasannya yang singkat dan pendek berkenaan dengan sahabat atawa persahabatan dengan sebuah kalimat pendek “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” “Plato adalah sahabat, tetapi kebenaran adalah sahabat yang lebih besar.”

 

Ilustrasi: https://www.bintang.com/celeb/read/2667300/editor-says-rindu-keseruan-seperti-dulu-sahabat/page-1

Pak Ishak, Tralala, dan Bunga-Bunga

 

Makassar pada suatu hari, ketika aku usai bertamasya di gerai toko buku di bilangan mall Panakukang, aku beranjak bergeser ke sebuah kedai kopi hendak membaca buku yang baru saja kubeli. Menurutku itu adalah cara terbaik menunggu isteriku yang tengah membawa dua anakku ke sebuah praktik dokter yang tak terlampau jauh dari tempat ngopi yang kupilih. Aku belum menikmati kopi di sore hari ini.

“Kopi Kalosi Toraja, pak?” ujar seorang barista yang rupanya telah mengenaliku berikut pesanananku. Saban hari bila aku mengunjungi kedai kopi ini, aku selalu kepincut dengan racikan kopi Kalosi dan Toraja. Entah berapa lama aku larut dalam “Just After Sunset”-nya Stephen King, mengalun lagu dari Aiza Segulerra. Aku berusaha mengingat judul lagunya tapi kulupa. Kuteruskan bacaanku…

Sekitar satu jam aku menikmati sedapnya cerita Stephen King bersama kopi Kalosi Toraja. Aku menatap ke luar jalan. Ah magrib begitu deras, ada yang terhempas. Tiba-tiba aku teringat potongan sajak Sapardi Djoko Damono. Waktu telah beranjak dari sore menemui malam. Seorang lelaki lebih paruh baya yang sangat familiar bagiku duduk di sebelahku. Aku berbagi senyum untuknya sembari menyapanya, “Selamat malam, Pak.” Ia segera membalas dengan keramahanku dengan senyuman yang lebih akrab dan hangat, “Selamat malam.”

“Sejak tadi ya?” sapanya sopan.

“Sekitar satu jam lalu, Pak,” sahutku.

Mungkin dari sikapku yang tampak olehnya bila aku ingin sekali berbincang dengannya, beliau bergeser berpindah kursi semeja denganku. Beberapa saat kemudian beliau memanggil pelayan dan memesan Cappuccino dan dua buah roti.

Beliau membuka perbincangan dengan menertawai dirinya dan isterinya yang salah melihat tanggal dan hari dari sebuah hajatan pengantin salah seorang anak sahabatnya. Ia mengira hari ini padahal mestinya sabtu pekan depan. Jadilah bincang awal itu riuh oleh derai tawa kami berdua.

“Apakah adik mengenal Tralala?” (Saya samarkan namanya)

“Oh, iya saya mengenalnya, pak. Beliau termasuk kawan dekat ketika mahasiswa dulu walupun kami berbeda asal perguruan tinggi tempat kami mengais pengetahuan. Sekarang beliau sudah bebas dari rumah tahanan di Filipina setelah mendekam beberapa tahun di sana dan saat ini telah di Makassar. Lalu berceritalah dengan tema yang menarik minat kami berdua dengan cukup serius. Dalam waktu dekat beliau ingin menemuinya dan menulis kisahnya di catatan-catatan pendek yang setiap pekan di salah satu media lokal beroplah cukup besar di kota Makassar.

“Beberapa tahun lalu,” Pak Ishak memulai ceritanya, “Ketika media geger oleh penangkapan Tralala di negeri seberang, sebab tertuduh sebagai “teroris” yang selama ini telah diincar oleh pemerintahan Filipina, kumasukkan ia ke dalam daftar doaku. Sebagaimana kebiasaanku sebelum tidur, aku mendoakan orang-orang satu persatu khususnya sahabatku dan orang yang kukenal dan dalam keadaan dilanda masalah.”.

“Tapi malam itu, setelah beberapa orang saya doakan, wajah Tralala yang baru saja tertangkap di Filipina itu selalu menyambangiku dan tak hendak beranjak bayang-bayangnya, maka kulantunlah doa-doa yang cukup panjang untuk beliau demi kebaikan dan kesehatannya.”

“Pak, tapi beliau kan tertuduh “teroris” yang salah satu rencananya pernah hendak membom gereja yang ada di Makassar,” ujarku.

“Iya aku juga dengar seperti itu tapi sebelum ada bukti. Prasangka tidak boleh bersemayam di pikiran dan hati kita. Saya mengenalnya, kerap aku berdiskusi di rupa-rupa forum dan aku menyukai kelugasannya meyakini keyakinannya dan untuk hal itu ia bersuara lantang.”

“Setelah beberapa pekan penahanannya di negeri yang mayoritas penduduknya katolik itu. aku menemui isterinya melalui seorang mahasiswa saya di pasca sarjana tempatku mengajar sebab ia dalah salah satu dari beberapa sahabatnya. Setelah berbincang dengan isterinya, aku menyimpulkan bahwa perempuan ini adalah seorang ibu yang kuat menanggung beban psikologi dan materi. Hidup sebagai single parent adalah wujud cintanya kepada suaminya yang menempuh jalan “perjuangan” yang tidak lazim.”

“Beberapa hari setelah pertemuan itu aku mengunjungi seorang pastor dan menceritakan prihal pertemuanku dengan isteri tertuduh teroris itu. Dan meminta kepadanya untuk membantu dalam tiga hal. Pertama, bila berkenan tolong doakan kawan saya itu dan keluarganya supaya mereka tetap dalam kebaikan. Kedua, tolong umumkan di jamaah anda yang berjumlah lebih dari lima ribu itu bila hendak berbelanja kue-kue belanjalah di kedainya untuk membantu meringankan biaya hidup keluarganya. Ketiga, bila memungkinkan carilah jalan agar aku dan atau kamu dapat mengunjungi Tralala di rumah tahanan di Filipina.”

“Awalnya pastor ini rada bingung juga mendengar permintaanku,” Pak Ishak terus melanjutkan cerita dengan penuh semangat.” Namun setelah kujelaskan panjang lebar alasan-alasanku, akhirnya ia mengiyakan walaupun mungkin sedikit bimbang. Singkat cerita, suatu waktu doa-doaku nampaknya mewujud. Pastor yang kumintai tolong, diundang ke Filipna untuk menghadiri sebuah hajatan seminar Internasional yang diprakarsai lembaga gereja katolik di negeri itu.”

Di sela waktu hajatan, sang Pastor akhirnya bisa mengunjunginya di rumah tahanan. Sang tertuduh teroris ini tak kepalang terharunya ketika tahu bahwa yang menjenguknya adalah seorang pastor dari kota kelahirannya, jauh dari negeri seberang atas permintaan Pak Ishak. Dari bilik jeruji ia menulis surat untuk bapak penuh kasih ini dan juga buat isterinya di kampung halaman.

Kelopak mataku tak tahan membendung bulir-bulir air hangat basahi pipiku. Betapa lelaki lebih dariparuh baya di hadapanku memiliki cinta kasih yang tulus. Bulu kudukku tak hentinya merinding. Pak Ishak lalu berbisik kepadaku bila cerita ini untuk pertama kalinya ia ceritakan pada seseorang. Aku sungguh beruntung. Aku diliputi bahagia tak terkira dan sepenuh haru.

Aku membayangkan bagaimana Baginda Nabi dalam sebuah kisah. Saban hari di pojok sebuah pasar di kota Madinah menyuapi seorang buta Beragama Yahudi dengan sepenuh kasih sembari tak hentinya dari mulut si buta itu mencaci maki sang Nabi yang sangat penyayang. Sehingga ketika baginda Nabi wafat, seorang sahabatnya mencoba melanjutkan kebiasaannya menyuapi si buta, namun ia dibentak, “Siapa kamu?” Sahabat itu menjawab, “Aku yang biasa menyuapimu,” ujarnya. “Bukan!” kata si Buta, “Beliau sangat lembut dan penuh kasih. Sedang kamu tak seperti dia.” Sahabat itu menangis meninggalkan orang tua buta itu kemudian berujar bahwa beliau telah mangkat. Dialah Muhammad Sang Nabi Agung yang saban hari menyuapimu dengan lembut sepenuh kasih.

Aku teringat Mahatma Gandhi yang gelisah dan berpuasa sepanjang waktu bila masyarakat di kampung dan negerinya bertikai antar suku dan agama. Beliau menghabiskan umurnya mengayomi masyarakatnya membangun negerinya secara egaliter. Meneguhkan hak-hak kaum tertindas sepanjang waktu.

Aku teringat Bunda Theresa yang menggadaikan dirinya sepanjang hayatnya mendampingi masyarakatnya yang terjangkit penyakit kusta dan kaum papa lainnya tanpa mengenal ras dan agamanya.

Sebelum kami berpisah, bapak yang sangat bijak dan bersahaja yang kukagumi sejak dulu, meminta padaku satu pernyataan tentang karakter kawan yang jadi objek pembicaraan kami. Beliau bertanya padaku sebagai seseorang yang pernah bersentuhan cukup dekat dengannya. “Menurutku, yang paling menonjol padanya adalah sikap teguh pada sesuatu yang diyakininya,” kataku singkat.

“Itu poin bagus yang akan aku sampaikan bila beliau mengizinkanku menuliskannya kelak. Sebab kehidupan di kekinian, orang teguh bertahan pada sesuatu yang benar sudah mulai langka.”

Tak lama kemudian kami berpamitan. Beliau lebih dahulu meninggalkan kedai kopi tempat kami berbincang. Langkahnya pelan. Di tubuhnya kurasakan aura kasih sayang meliputinya. Memancarkan kasih yang tulus tak bertepi.

Seorang teman saya yang bertetangga dengan, pak Ishak Ngeljaratan, saban pagi di suatu musim mendapatinya menanam bunga baru di halaman rumahnya. Teman saya itu menyapa dan menanyainya, “Pak Ishak, rajin sekali menanam bunga.” Beliau hanya berseloroh, “Saya tidak mau kalah dengan pencuri yang setiap malam mengambil bungaku.”

 

 

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan mahluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikkan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak.

Dalam sebuah perjalanan panjang melintasi bentang katulistiwa di sebuah pesawat komersial yang sarat penumpang, sesekali berguncang dan kerap kali guncangannya keras. Spontan sekejap para penumpang hampir bersamaan menyapa tuhannya dengan ekspresi yang takut akut. Penumpang yang tadinya berwajah gelap karena berasal dari etnis tertentu berubah rupa menjadi pucat pasi dan berwajah tak lagi hitam walau tak juga putih nampaknya. Takut tak mengenal agama, etnis, dan jenis kelamin. Semua orang pernah merasakan takut. Sebab, rasa takut dalam perspektif psikologi merupakan reaksi manusiawi yang secara biologis merupakan mekanisme perlindungan bagi seseorang pada saat menghadapi bahaya. Ketakutan adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu ancaman yang membahayakan hidup. Biasa juga dibilangkan dengan tanda peringatan terhadap hidup.

Dalam perjalanan panjang manusia meniti hidupnya di dunia fana ini banyak peristiwa yang menyandungnya membuatnya lupa pada hal-hal yang subtansial akan tujuan hidup yang telah diikrarkannya entah sengaja atawa tak. Bergelimang pada hal-hal yang profan. Para ahli psikologi sosial menengarai masyarakat seperti ini tertelan pengaruh materialisme yang sedang merajai dunia dan tak berdaya membendungnya. Mungkin seperti yang dibilangkan Emile Durkheim, seorang sosiolog, bahwa pola interaksi karakteristik fakta sosial yang secara substansial memaksa individu melepaskan diri dari kehendaknya, karsa dirinya melebur secara adaptif dengan kehendak fakta sosial struktural yang ada secara ekternal di dalam dirinya. Jika proses sosialisasi fakta sosial struktural ini berhasil, maka individu menikmatinya sebagai kehendak sendiri.

Sedianya manusia hanya takut pada zat yang maha tunggal penciptanya tapi dalam berbagai situasi tanpa sadar dan mungkin juga sadar manusia diselimuti rasa takut dengan beragam alasan, dan didominasi alasan-alasan tak hendak berpisah dengan berbagai kesenangan materi yang telah lekat pada tubuhnya. Perangkap materialisme yang telah jauh merasuk hingga jasad dan jiwa menumbuhkan rasa takut yang akut. Takut terpisah dengan dunia fana yang gemerlap. Manusia menjadi rapuh dalam kepribadian sebab tidak jelas orientasi dan tujuan hidup yang hendak dituju kecuali hanya bersiliweran pada kehidupan fana yang tak pasti. Sayyidina Ali berpesan “bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah yang membuat kita sulit, karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah  menyerah untuk mencoba. Dan jangan katakana pada Tuhan aku punya masalah, tetapi katakanlah pada masalah bahwa aku punya Tuhan yang maha segalanya”.

Dalam sebuah dialog kecil, dua orang teman kantor yang beberapa bulan lagi akan memasuki masa purna bakti. Rupanya keduanya berbeda jalan mempersiapkan masa istirahatnya dalam bekerja. Satunya telah mempersiapkan beberapa petak tanah kebun sebagai peralihan kerja dan mencari nafkah kelak bila tiba waktunya dia istirahat total dari perusahaan tempatnya mengais nafkah selama ini. Satunya lagi telah menyiapkan toko sederhana sebagai tempatnya mencurahkan waktu kelak sembari menimang cucu, candanya. Tapi, di ujung dialog kecil itu masih tersirat dan tersurat kekhawatiran-kekhawatiran untuk tidak mengatakan takut pada realitas kehidupan paska purna bakti nantinya. Yang ingin berkebun mengungkapkan rasa gundahnya, aku masih kuat tidak, masih mencukupi hasil untuk kebutuhan keluarga kami nantinya dari hasil kebun itu. Masih cukup tidak, keuntungan dari toko kami untuk membiayai kehidupan keluarga kami kelak. Kekhawatiran dan ketakutan seperti inilah yang banyak menghantui manusia di hari-harinya yang mesti ia nikmati dan berjuang untuk saling memuliakan diantara sesama manusia.

Kala senja datang lagi menjenguk bumi, hempaskan takutmu hingga ke pojok-pojok kehidupan fanamu. Hanya jalan itu yang dapat membuka tabir kegelapan semesta yang merajai jejak-jejak hidupmu. Pertarungan ini memang tak akan selesai hingga semesta sementara ini akan mengubur dan melanjutkan kehidupnya selanjutnya di mana di sana tak ada lagi rasa takut dan khawatir yang menghinggapi manusia.

Kata para bijak, bila engkau mengenal Tuhanmu dengan baik maka engkau akan menjadi bagian dariNya sepanjang jejakmu. Ketika kesadaran itu sampai pada tahap paripurna, pada saat semua jalan-jalan kebajikan tersingkap, yang oleh para pejalan cinta membilangkannya tajalli. Proses perjalanan ke sana tak boleh berhenti sepanjang usia fana kita. Bahwa, di jalan-jalan yang kita jejak terdapat onak dan duri di situlah upaya-upaya kita terus diuji. Oleh Mohammad Iqbal, mengibaratkan perjalanan kita di bumi fana ini ibarat ujian membakar jalan-jalan kita di tungku dunia.

 

sumber gambar: merdeka.com

Profesional

 

 

Belum cukup sebulan aku dimutasi oleh kantorku mangais nafkah dari kantor di Bolaang Mongondow ke salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo. Kabutpaen yang masih beririsan dengan garis bentang katulistiwa di Sulawesi Tengah yang sangat khas udaranya menyengat sehingga beberapa kawan sejawat menyebutnya negeri api, daerah yang memiliki matahari dua saking panas dan gerahnya. Hampir-hampir aku tak tahan gerahnya dalam proses adaptasi yang telah berlangsung hampir sebulan. Apatah lagi aku memulai puasa di bulan Ramadan tahun ini. Lambat laun ujian-ujian yang cukup berat bisa kulalui dengan sabar yang juga karena berkenaan dengan Ramadan yang salah satu pesannya adalah menghimbau kita untuk meningkatkan kesabaran.

Pekerjaaan dilakukan seperti biasanya berjalan normal tanpa hambatan yang cukup berarti. Hingga suatu hari pergantian pilot helikopter terjadi sebagaimana lazimnya bila schedule pergantian tiba maka pilot yang baru akan menggatikan pilot yang lama. Tapi, sebelum bekerja, pilot yang baru harus memenuhi syarat-syarat profesional sebagaimana perjanjian atawa MoU (Memorandum of Understanding) antara perusahaan user dengan vendor. Dalam proses itu ternyata pilot yang berkebangsaan Australia itu tidak memenuhi syarat untuk beberapa hal. Manajemen perusahaan tempat kami bekerja memulangkannya ke perusahaan tempat dia bekerja walaupun bule tersebut berusaha melobi hingga nyaris menyogok.

Kesan dan stigma tentang “kebobrokan” mental orang-orang di negeri ini rupanya ingin digeneralisasi bahwa semua orang dan bangsa ini mudah dibeli dan disogok, dan untuk kali ini mereka keliru, sebab, pekerja di level menejer yang masih  berusia muda memiliki komitmen dan attitude yang cukup bagus bagi perusahaan dan negerinya, tempat mereka bekerja dan membangun negerinya. Mereka pekerja profesional yang terdidik bagus sejak di kampusnya. Mereka mantan aktivis yang memiliki karakter yang tertempa bagus dalam pergulatan pamikiran dan aktivitasnya di kampus dan di masyarakat.

Pekerja profesional memang adalah para pekerja yang sangat spesifik, expert, dan ahli di bidangnya masing-masing. Dihargai dan dibayar cukup tinggi, jadi konsekwensinya mesti harus memiliki komitmen membangun perusahaan dan negeri di mana mereka bekerja dan beraktivitas mencari nafkah. Sesungguhnya apapun pekerjaan kita adalah termasuk bagian dari sebuah profesi yang merupakan tanggung jawab moral kita dalam melakoninya, walaupun di era modern ini ada kecenderungan orang-orang memisahkan para pekerja biasa atawa amatir dan para profesional yang sangat expert di bidangnya, dan oleh sebab itu mereka dihargai dengan bayaran yang tinggi.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga, Balai Pustaka 2001), profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian dalam arti keterampilan dan kejuruan tertentu, dalam artian memerlukan kepandaian khusus untuk menjalakannya sehingga mengharuskan adanya pembayaran yang lebih spesifik. Seseorang disebut profesional, apabila kita melihatnya mampu menjalankan tugas sebagaimana yang dituntut. Kemampuannya ini dimiliki karena ia belajar dan memiliki keterampilan teknis dibidang tersebut. Misalnya, dokter yang profesional bekerja sesuai dengan kaidah pekerjaannya.

A.Setyo Wibowo, dalam buku Filsafat Untuk Para Profesional, menguraikan  bahwa karena kata profesional tidak berasal dari bahasa Indonesia, adalah baik kalau kita melongok definisi yang diberikan oleh bahasa-bahasa lain. Misalnya, kamus Prancis (Le Nouveau Petir Robert, Paris 1996) selain menekankan dimensi teknis pekerjaan (keahlian) yang sudah disebut, juga memberi wawasan yang lebih luas mengenai makna kata “profession” (kata benda feninin), yang bermakna tidak hanya pekerjaan yang besifat positif tapi juga pekerjaan yang bersifat negatif, seperti profesi pembunuh, dan yang lainnya. Dan lebih lanjut, kata profession juga bermakna “pernyataan di depan umum berkenaan dengan kepercayaan, opini, atawa tingkah laku tertentu, dan hal ini berkaitan dengan tradisi panjang di kalangan religious kristiani. Dan kata profesi ternyata tidak selamanya terkait dengan urusan bayaran uang atawa keterampilan teknis apa pun, tapi berkenaan pernyataan di depan umum sebelum menerima sakramen penguatan, anak-anak usia SMP melakukan apa yang disebut profession de foi (bahasa latinnya : professio fidei) yang artinya pernyataan iman.

Dalam konteks perdefinisi di atas, bila kita mencoba menggabungkannya dalam sebuah pemahaman religious, bahwa kata profesional sebuah kata yang menunjukkan keterampilan seseorang yang sangat tinggi pada sebuah pekerjaan yang dikerjakannya, dan sekaligus persaksian iman bagi seseorang sebagai bekal dalam mengarungi hidupnya kedepan secara bertanggungjawab yang dipenuhi nilai-nilai spiritual.

Manarik benang merah dari perdefinisi di atas, maka kloplah sudah bila beberapa orang anak muda yang secara profesional sangat mumpuni di bidangnya dan sekaligus memiliki tanggung jawab moral dan spiritual. Menolak segala hal yang berbau korupsi, kolusi, sogok, dan sejenisnya, juga adalah tanggung jawab profesional yang mesti inhern di dalam jiwa dan laku bagi seseorang yang mengaku pekerja profesional, dalam membangun perusahaan dan negerinya tempat mereka mengais nafkah.

 

 

Pejuang Literasi Itu Telah Pulang

 

In Memorian, Bapak Hernowo Hasim Bin Thoyyib.

Bulan Ramadan tahun ini beberapa orang yang kukenal mangkat meninggalkan dunia fana ini, pulang ke rumah keabadian yang niscaya. Satu diantaranya adalah seorang penulis yang gigih mengajak masyarakat untuk membaca dan menulis, Hernowo Hasim bin Thoyyib. Beliau telah menulis puluhan buku yang mayoritas tentang motivasi membaca dan menulis. Buku-bukunya yang best seller di antaranya, Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quantum Writing, dan yang terakhir Free Writing. Dari konsep mengikat makna, beliau terinspirasi oleh kata-kata Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Mengenalnya sebagai penulis produktif dan kreatif sesungguhnya sudah cukup lama sekira tahun sembilan puluhan. Lalu kemudian di suatu waktu aku ke Bandung dalam sebuah hajatan kantor, di waktu jeda hajatan itu aku berusaha menemuinya yang selama ini komunikasiku dengannya hanya lewat sms dan telponan. Kantornya cukup jauh dari pusat kota Bandung, di bilangan jalan Cinambo Bandung di mana penerbit Mizan berlokasi.

Kesan pertama kala menyambutku di pintu kantornya, aku langsung jatuh cinta pada sikapnya yang sangat ramah dan hangat. Menyambutku seolah-olah seorang sahabat yang lama tak bersua. Setelah ngobrol sejenak lalu aku diperkenalkan dengan tim editor dan kreatif Mizan yang rata-rata masih muda belia. Di ruang tamu ngobrol berbagai hal tentang kepenulisan dan tips-tips membaca yang menyenangkan. Lebih dari setengah hari waktunya dia buang untuk melayaniku.

Jelang sore sebelum pamitan dengan beliau, aku dihadiahinya buku dan kuberikan pula novel dan kumpulan cerpen putri keduaku. Selebihnya aku kalap memborong buku-buku berdiskon tinggi yang sedang berlangsung di pelataran penerbit besar itu. Itulah pertemuan pertamaku secara langsung yang sangat berkesan dan sulit kulupakan hingga saat ini. Dan pertemuan itu pulalah yang memotivasiku untuk kembali menulis lebih intens dan menyusul membaca buku-buku beliau.

Hernowo Hasim Bin Thoyyib, telah pulang ke rumah keabadiannya. Ia membawa bekal amal jariyah yang melimpah. Meninggalkan jejak harum mewangi untuk negerinya yang ia cintai. Harumnya menyemai keseluruh pelosok Nusantara. Dari puluhan buku-buku yang mencerahkan dan memotivasi serta menginspirasi telah ia tuliskan. Ratusan pelatihan, workshop, seminar dan sejenisnya berkenaan dengan membaca dan menulis telas Ia tunaikan.  Bukankah kerja-kerja membaca dan menulis adalah kerja-kerja kemuliaan, kerja-kerja memanusiakan manusia, kerja-kerja membangun peradaban beradab.

Hanya segelintir orang yang mengerjakan jalan-jalan yang selama ini ditempuhnya. Iqra kata Jibril kepada Nabi mulia Muhammad SAW kala pertama kali beliau sua di Gua Hira sekaligus sebagai persaksian kenabian Muhammad SAW yang ditandai perintah membaca. Inilah laku mulia yang terus menerus berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Membaca adalah kata kunci dari seluruh elemen pembangunan peradaban manusia.

Di bulan Ramadan yang mulia dan di saat gencar-gercarnya gerakan literasi didengungkan dan diejawantahkan di seluruh pelosok negeri dengan beragam modus dan caranya. Penyebaran gerakan literasi yang sedang menuju ranum di pelosok-pelosok negeri ia berpulang ke rumah abadi-Nya. Pegiat literasi berduka, negeri berduka, dan sahabat-sahabatnya berduka.

Setelah berbagai buku menginspirasi dan memotivasi untuk membaca dan menulis ditulisnya, buku yang terakhir Ia wujudkan sebelum berpulang adalah free writing, menulis bebas tanpa hambatan dan menulis saja apa yang terbetik dipikiran. Sebagian teman mengikuti pesannya itu dengan hampir setiap hari menulis catatan-catatan pendek di media social khusunya facebook (FB) yang juga menjadi perhatianku. Latihan-latihan menulis dengan bebas sebagaimana pesan di buku terakhirnya itu diejawantahkan banyak generasi muda maupun kawan-kawan yang memang menulis telah menjadi bagian dari hidupnya.

Lalu beberapa kali beliau ke Makassar memberi pelatihan dan workshop membaca dan kepenulisan. Tahun 2017 dua kali beliau ke Makassar bersamaan waktu cutiku dari mengais nafkah di kampung seberang, dan aku menemuinya. Sekali di antaranya aku berdiskusi panjang di sebuah lobi hotel berkenaan dengan fenomena semangat gerakan literasi, dari semangat membaca, menulis, hingga penerbitan.

Dalam pertemuan itu pula kusampaikan bahwa, aku sedang merampungkan sekumpulan esai yang kutulis selama sebulan Ramadan yang lalu dengan judul Dari Langit Dan Bumi : Catatan-catatan Ramadan. Dan sesungguhnya calon bukuku itu terinspirasi dari buku beliau Spirit Iqra : Menghimpun Samudra Makna Ramadan. Sekaligus aku meminta ke beliau untuk memberi pengantar bukuku itu, ya kirim dulu naskahnya aku baca, tukasnya.

Hanya dalam tempo seminggu setelah naskah bukuku kukirim ke beliau, beliau langsung menelponku dari Semarang dalam perjalanannya memberi materi kepenulisan pada sekelompok guru-guru kelas menengah atas di sana. Itu telpon terakhir beliau yang kuterima yang sangat membahagiakanku. Beliau mengapresiasi buku tersebut dengan sangat baik dan bersedia memberi pengantar. “Anda telah menjadi kaya, mengutip pesan, Walt Disney, buku adalah ‘kekayaan’ : There is more treasure in books than in all the pirate’s loot on treasure island, menutup pembicaraan kami, yang dikutipnya juga dalam pengantar buku itu.

Pengantar buku Dari Langit Dan Bumi : Catatan-catatan Ramadan ditulisnya dengan sangat apik. Hatiku berbunga-bunga. Dan beliau mangkat di bulan Ramadan setahun kemudian, hatiku sedih mengantarnya dengan doa dan salat hadiah (wahsya). Selamat jalan Mas Hernowo, insha Allah Engkau husnul khotimah, kuburmu di lapangkan. Cahaya-cahaya literasi yang telah engkau ukir selama dalam perjalanan singkatmu di bumi fana ini. Amal jariyah menemanimu di alam barsah hingga di hari kebangkitan kelak. Amiin ya Rabbal alamin.

Pejuang literasi itu telah pulang.

 

Bahagia dengan Puasa

 

Hari sudah mulai ditinggal terangnya cahaya sudah mulai meredup, senja mulai menyambangi kampung di atas bukit tempatku berdomisili dan bekerja mangais nafkah jauh dari keluarga. Ramadan tahun ini adalah Ramadan tahun ketiga aku menjalani puasa di kampung sejuk ini. di kampung ini perusahaan membangun masjid dan gereja dengan ukuran masing-masing mungil terbuat dari kayu atau bangunan khas Minahasa Sulawesi Utara yang terbuat dari kayu cempaka yang endemik Sulawesi utara. Walaupun masjid dan gerejanya tetap mengikuti desain dan arsitektur lazimnya masjid dan gereja di Indonesia.

Kampung ini tempat menjalankan ibadah puasa yang cukup ideal, di samping karena penghuninya tidak terlampau banyak. Toleransi kerukunan penganut beragama menurutku sangat bagus. Mungkin salah satu penyebabnya karena terpengaruh oleh tradisi perusahaan yang terbuka dan kompetitif secara profesional. Selain itu, juga cuaca di kampung ini sejuk, kalau kita tidak sengaja berolahraga jangan berharap keringat ditemukan mengaliri pori-pori. Ketinggian dan hutan-hutan kecil yang mengelilingi mes dan kantor kami itulah salah satu penyebabnya. Waktu-waktu tertentu malah penghuni kampung ini bermain-main dengan kabut yang menyelimutinya.

Selain suasana yang kulukis sekilas di atas, di kampung kami ini juga terdapat masjid yang bangunan terbuat dari kayu serupa rumah panggung. Selain ruang salat di depannya terdapat semacam koridor yang tak terlampau luas cukup memuat sekitar dua puluhan orang duduk bersila. Di koridor inilah setiap harinya kami bersama kawan-kawan sejawat dan penghuni lainnya menunaikan buka puasa bersama. Di tempat ini tidak jarak anatara bos dan anak buah tak ada, antara menejer dan office boy semua lebur dalam kebahagian jelang buka puasa. Sesekali kebahagiaan itu dalam bentuk canda tawa, yang tentu tidak menjerumuskan pada hal-hal yang membatalkan puasa. Semua teraktualisasi dalam persaudaraan yang karib.

Sebagaimana sabda Nabi mulia Muhammad SAW yang diriwayatkan, Imam Muslim sebagai berikut ;“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraa ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Kegembiraan pertama, kegembiraannya ketika berbuka, yaitu kegembiraan dengan nikmat yang telah Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya dengan menyempurnakan puasanya. Ibadah ini termasuk amal shalih yang paling utama, namun betapa banyak orang yang terhalang dari puasa. Selain itu, ia juga bergembira dengan apa yang kembali dihalalkan Allah untuknya, berupa makanan, minuman dan persetubuhan (jima’) mengingat hal-hal tersebut sebelumnya diharamkan baginya pada saat sedang berpuasa.

Kegembiraan kedua, kegembiraannya ketika berjumpa dengan RobbNya dengan keridaan dan kemurahanNya. Ia gembira dengan membawa pahala puasanya. Ketika dia mendapatkan pahalanya di sisi Allah SWT yang telah disediakan untuknya, ketika dikatakan kepadanya “Mana orang-orang yang berpuasa, hendaklah dia masuk sorga dari pintu Ar-Royyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa”.

Di koridor masjid mungil itu, semua orang menyambut buka puasa dengan penuh kebahagiaan tak ada yang datang dalam duka cita, tak ada yang datang dengan berbagai masalah yang nampak di raut wajahnya, tak ada yang datang dengan ekspresi gundah. Senyum bertebaran di wajah-wajah kami, sebab walaupun kami bersal dari kampung-kampung nun jauh yang berbeda-beda namun hati kami telah diikat oleh bulan pengampunan ini. Bulan yang penuh dengan kasih sayang, bulan yang penuh dengan berkah, bulan mulia yang mengikat hati-hati kami.

Semua bentuk peribadatan yang diperintahkan oleh Allah SWT bukanlah semata-mata praktek-praktek ritual agama seperti yang disalahtafsirkan banyak orang. Seluruh peribadatan tersebut merupakan suatu bentuk rinci dari pendidikan ruhani, psikologis, fisik dan sosial.

Di samping suatu sarana untuk menunjukkan penyerahannya yang total kepada Allah SWT, seluruh peribadatan itu berfungsi dan berperan penting dalam memperbaiki dan mengembangkan jiwa dan kepribadian seseorang, yang pada gilirannya akan mempengaruhi masyarakat secara positif sebagai suatu kesatuan yang utuh. Seperti puasa bukanlah sekadar menahan makan dan minum dan hubungan seks saja, tetapi juga menahan diri dari semua perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Konsep ini akan membentuk secara langsung sebuah masyarakat yang penuh kebajikan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa dalam bulan Ramadan karena iman dan mencari keridaan Allah serta melindungi telinganya, matanya dan lidahnya dari hal yang merugikan orang lain, niscaya Allah akan menerima puasanya, mengampuni kesalahan-kesalahannya di masa lalu.” (Riwayat dari Imam Ali bin Abi Thalib).

Dari Imam Muhammad al-Baqir, bahwa Nabi saw bersabda kepada sahabat Jabir bin Abdillah, “Wahai Jabir, barangsiapa berpuasa pada hari-hari bulan Ramadan, mendirikan shalat pada bagian-bagian malamnya, menjaga hawa nafsu syahwatnya, mengendalikan lidahnya, merendahkan pandangannya dan tidak menyakiti perasaan orang lain niscaya akan terbebas dari dosa seperti pada saat ia baru dilahirkan!”.

Imam Ja’far al-Shadiq, meriwayatkan dari ayah kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila seseorang berpuasa menjawab ketika dicerca: “Damai atas kamu, saya tidak akan mencerca seperti yang anda lakukan.” niscaya Allah SWT akan berfirman, “Demi Puasa, hamba-Ku telah menyelamatkan dirinya dari kejahatan hamba-Ku yang lain, maka Aku anugerahkan perlindungan dari siksa Neraka.”.

Rengkuhlah puasamu dengan seindah mungkin. Cerap kebahagian yang menantimu. Bukankah kebahagian yang paling hakiki adalah kebahagiaan yang diraih dari kasih sayangNya. Itulah puncak dari kebahagian.

Menjemput Masa Depan

—In Memoriam Ustadz Muhammad Abdul Salam B

 

Kala prajurit Berigade Infantri (Brigif) Manasa XX Gorontalo sedang beraksi memperagakan beladiri khas militer Indonesia yang masyhur itu, aku menyaksikannya dengan takzim dan takjub. Haru biru menyambangi hatiku. Aku bangga memiliki Tentara Nasional Indonesia yang tangkas dan lihai memainkan beladiri dan perlatan tempur lainnya. Aku merasa aman dan terpekur sejenak dan berdoa dalam hati, semoga anak-anak muda ini diberi kesehatan jiwa dan fisik untuk menjaga negeriku yang sama kami cintai. Di sela-sela hati yang masih takjub itu tiba-tiba berita duka terkabar menyambangiku via WhatsApp (WA) “Innalillahi wa innailaihi roji’un. Guru kita, ustadz Abdul Salam B, telah meninggalkan kita. Kalimat-kalimat yang tertera di layar hp-ku tak kulanjutkan membacanya, air mataku spontan mengalir deras dengan suara tangis yang kutahan dengan kuat di tengah kerumunan para petinggi militer yang sedang menghadiri Sertijab (serah terima jabatan) komanadan Brigif XX Manasa Gorontalo.

Aku berjalan lesu ke kamar kecil terdekat untuk menumpahkan semua rasa sedihku. Di kamar kecil itu aku menangis sejadi-jadinya. Almarhum adalah, guru, sahabat, dan teman diskusi yang hangat walaupun kerap “menjengkelkan.” Diskusi terakhir kami yang cukup panas, kala mendiskusikan strategi dakwah yang ramah di kediamanku bersama komunitas yang menghendaki hubungan antar mazhab dalam agama Islam berjalan baik secara khusus dan lintas iman secara umum. Mungkin karena keinginannya keras dengan ilmu yang mumpuni yang dimilikinya sehingga kerap terkesan menggurui dan menganggap remeh lawan diskusinya, hingga suatu waktu yang belum terlampau lama, aku melakukan protes keras padanya yang tidak diresponnya hingga ajal menjemputnya. Padahal, jelang ramadan ini telah kuniatkan, seperti biasanya bila aku berada di kotaku aku menandanginya di kediamannya silaturrahim dan saling memaafkan ataukah bila tak sempat sebelum ramadan tiba, aku dan keluarga kecilku mengunjunginya di hari lebaran, sebagai guru dan sahabat yang kami hormati dan cintai.

Kematiannya seolah menjemput masa depan yang cerlang. Ia sedang mengajar dan berdoa di malam jumat dengan murid-muridnya yang masih aktif, tiba-tiba terserang stroke dengan pendarahan di otak, lalu murid-muridnya melarikannya ke rumah sakit terdekat. Malam jumat dan menjemput hari jumat yang berkah di akhir bulan Sya’ ban jelang ramadan. Sedang berbagi ilmu di waktu-waktu munajat yang makbul. Ia seolah merekayasa kematiannya menjemput masa depan nan bahagia. Muridnya banyak dalam kurun waktu yang panjang.

Aku mengenalnya di pertengahan tahun delapan puluhan di sebuah sekretariat organisasi kemahasiswaan tempat kami menempa diri, walau dirinya bukan anggota dari organisasi tersebut tapi kawan-kawan kami mendaulatnya sebagai “anggota luar biasa.” Keinginan belajar dan megajarnya sangat luar biasa. Pernah belajar di sebuah pesantren di Jawa Timur dalam durasi yang cukup panjang. Kemudian persentuhannya di komunitas kami mengantarnya belajar secara otodidak dan kepada orang-orang yang kavabel dalam berbagai ilmu termasuk filsafat yang ditekuninya akhir-akhir ini. Beliau termasuk orang yang tak pernah puas dengan ilmu yang dimamahnya di hari-hari panjang dan terus belajar seolah tak ada jeda. Beliaulah yang mengajariku mengenal huruf-huruf hijaiyah dan tajwid yang sangat ketat. Memperkanalkanku sejenak metode tafsir Al-Qur’an dan mengajari kami hadis-hadis dalam kumpulan Kutubussitta dalam waktu yang tak terlalu lama, dengan metode mangkul seperti cara ia belajar di pesantren dulu. Sejak tahun delapan puluhan muridnya silih berganti hingga kini. Cara mengajar dan pembawaannya menurutku unik, sebab tak jarang murid-murid yang pernah diajarnya kembali mendebatnya.

Sekolah pembelajaran yang dibangun dalam kurun waktu yang panjang tidaklah dalam pengertian sekolah permanen fisikal yang formal, tapi sekolah terbuka di mana saja dan kapan saja proses belajar mengajar bisa dilangsungkan. Yang menentukan tempat dan waktu belajar adalah para murid-muridnya. Inilah mungkin yang disinyalir oleh, Stephen R. Covey, bahwa memenej waktu menuju masa depan yang baik, kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginfestasikan waktu Anda. Menginvestasikan waktu tidak melulu terkait dengan sesuatu yang bersifat material akan tetapi juga pada investasi yang bersifat masa depan jauh setelah kehidupan ini. Pun pesan Nabi Muhammad SAW berkenaan dengan kualitas manusia dalam menjemput masa depan, bahwa manusia yang paling baik di antara kamu adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi sesamanya dalam kehidupan ini. Pekerjaan apalagi yang paling mulia selain belajar dan mengajar ?

Aku belum beranjak dari tempat dudukku menyaksikan berbagai pertunjukan atraksi beladiri dari prajurit-prajurit Brigif di hari Sertijab (serah terima jabatan) komandan Brigif XX Manasa Gorontalo itu, aku kembali dikejutkan oleh berita yang sama di WA, berita kematian di kampung halamanku. Ayah dari seorang sahabatku telah mangkat dengan selang waktu yang tak terlampau jauh dari mangkatnya guruku sekaligus sahabatku. Innalillahi wa innailaihi roji’un, sesungguhnya kita berasal dariNya dan akan kembali padaNya. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian (Qs. Ali Imran 285). Bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti.

Soal kematian atawa terpisahnya ruh dari jasad adalah sebuah kejadian yang semua manusia meyakininya dan akan menyambanginya pada suatu waktu yang telah ditentukan olehNya dan tidak  bisa ditolak oleh siapapun, termasuk orang-orang yang tidak setuju dengan adanya kehidupan setelah kematian di alam fana ini, orang-orang yang tidak setuju dengan keberadaan Tuhan yang mutlak kekuasaanNya di semesta ini. Tinggallah mempersiapkan kematian yang indah, menjemput masa depan abadi nan bahagia.

Aku beranjak pulang kekediamanku setelah berpamitan pada Komandan Brigif XX Manasa Gorontalo, yang baru dilantik oleh Pangdam (Panglima Daerah Militer) XIII Merdeka-SulutGo. Kehadiranku di Sertijab  ini bagian dari tugas-tugasku sebagai Humas di kantor, sebagai penanggung jawab terjalinnya hubungan baik dengan semua stakeholders yang ada di wilayah kerjaku. Dalam perjalanan menempuh waktu yang cukup panjang, renungku jauh mengembara dalam memaknai hidup ini, seperti kata para bijak, bahwa perjalanan hidup ini adalah perjalanan mengalir menujuNya. Dia adalah keindahan dan cinta itu sendiri. Mengalirlah bersama keindahan dan cinta menuju masa depan nan indan penuh cinta. Selamat jalan, guru dan sahabatku. Berbahagialah menemui kekasih para pejalan cinta.

 

Azan di Negeri Sultan

Sudah lama aku berniat mengunjungi Ternate, negeri para sultan. Negeri yang di datarannya berdiri kokoh gunung Gamalama yang kerap terbatuk memuntahkan erupsi lahar panas dan dingin. Hingga suatu hari niat itu kabul dan mengunjunginya walau hanya dalam waktu singkat.

Sebelum berangkat terlebih dulu menghubungi beberapa kawan lama yang dulu sama-sama di Makassar dan saat ini telah domisili di sana dengan berbeda-beda profesi. Namun, dari beberapa yang aku hubungi hanya satu orang yang punya waktu luang untuk bersiap jadi guide-ku.

Kala sore remangi kota Ternate aku dijemput kawan yang sejak awal telah menaruh janji. Seperti pulau-pulau lain di negeri ini dua hal yang selalu padu-padan, yakni panorama gunung dan laut yang bertaut apik bak untaian lukisan beriris indah sambung-menyambung.

Kami tiba di sebuah rumah baca pas berhadap-hadapan dengan sebuah kampus perguruan tinggi swasta yang cukup besar di pulau sultan itu. rumah baca komunitas “Nation Building Corner library” cukup membuat saya melongo oleh koleksi buku dan desain interior ruang-ruang bacanya yang inspiratif dan nyaman. Menurut kawan pengasuh rumah baca, tempat ini menjadi ruang-ruang diskusi kawan-kawan aktivis mahasiswa dari belbagai perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan. Luar biasa kerja-kerja kawanku ini. kerja membangun manusia dan peradaban bajik tentunya. Di waktu singkat itu jelang senja memasuki malam kami berdiskusi singkat prihal gerakan literasi dalam pelbagai perspektifnya. Semangat literasi mesti disemai terus menerus bila perlu tanpa jedah. Sebab, hanya gerakan ini yang bisa menularkan kecerlangan, kebajikan,  melawan kebodohan dan kejumudan beragama.

Sebelum gelap malam menutupi semesta bumi kami beranjak ke destinasi wisata yang banyak dikunjungi dan kerap kali dijadikan sebagai background selfie-selfie para wisatawan. Yakni, memandang dan memotret dari kejauhan gunung Maitara dan danau Laguna sekaligus. Destinasi ini menjadi favorit karena gunung ini menjadi latar belakang gambar dipecahan uang kertas seribuan. Dan dari ketinggian menatapnya memang menumpuk aura eksotis nan magis. Subhanallah, maha suci Engkau ya Allah maha mencipta segala keindahan di semesta ini.

Usai memotret gunung Maitara dan danau Laguna, kami menuju ke sebuah kampung di ketinggian di kaki gunung Gamalama. orang kampung dan warga Ternate menyebutnya “Taman Moya Mobuku” sebuah kampung yang daerahnya berada di lereng-lereng salah satu kaki gunung Gamalama. Kampung inilah yang oleh pemerintah kota atas prakarsa bapak Walikota menjadikannya destinasi wisata dengan mendesain dan menghiasnya  beragam kembang dan taman, serta membangun kios-kios sepanjang jalan kampung itu. karena dari kampung atawa taman-taman ini kota Ternate dapat kita pandang dari ketinggian dalam jarak yang cukup jauh. Bila malam tiba kerlap kerlip lampu kota sangatlah indah.

Dari kampung Taman Moya Mobuku itu, kami mendengar suara azan kala waktu salat tiba, hanya serupa terpaan angin sepoi halus menyentuh gendang telingaku. Tak ada suara loudspeaker yang memecah gendang telinga dalam waktu yang lama. Apatahlagi suara azan dari pembesar suara yang bersuara fals dan memekik tak beraturan karena loudspeakernya telah berusia tua. Yang unik pula, selama tiga malam di penginapan yang hanya berjarak sekira 400 meter dari Masjid Raya Al Munawwar dan beberapa masjid yang berukuran kecil di sekitar penginapan tempat beristirahat, tak pernah kudengar suara loudspeaker dari masjid-masjid tersebut yang bersuara keras dan garing dan dalam durasi waktu yang panjang. Bahkan suara azan pun hanya bersuara lirih bak suara angin sepoi melambai menyapa dengan sejuk, memanggil-manggil para wajib salat di subuh hari. Di subuh hari sunyi itu aku bergumam, indah sekali suasana ibadah di kota ini. tak ada suara hiruk pikuk yang silang menyilang dari satu masjid dengan masjid lainnya. Karena aku pun memahami bila seseorang memang bersungguh-sungguh ingin melaksanakan ibadahnya dengan baik dan tepat waktu tanpa di seru oleh pengeras suara sekeras-kerasnya pasti dia akan terbangun dengan sendirinya dengan damai dan khusus. Sebab, menurutku esensi sebuah pelaksanaan ibadah terletak pada ketulusan hati seorang hamba. Antara Tuhan dan hambanya adalah hubungan cinta yang sangat dahsyat. Tanpa gonjang ganjing, tanpa pamer, tanpa mesti diancam neraka, maka semua akan berjalan dengan indah tanpa mengusik orang sekitar kita.

Padahal Kesultanan Ternate adalah salah satu kesultanan tertua di Nusantara.  Adanya kota ini juga tak lepas dari sejarah Kesultanan Ternate, salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara yang cikal bakalnya sejak tahun 1257. Kesultanan Ternate ini meraih kejayaan dari perdagangan rempah-rempah pada paruh abad ke-16, sebelum akhirnya diacak-acak penjajah Portugis dan Belanda. Kini, meski peran Kesultanan Ternate tak lagi sentral dalam pemerintahan, namun sangat berperan dalam menjaga adat dan budaya. Istana Kesultanan Ternate masih berdiri kokoh di depan alun-alun kota.

Melihat sejarah panjang daerah ini dan Kesultanan Ternate, jejak dinamika hubungan antar warga lokal dan pendatang yang otomatis berbeda etnis dan mungkin keyakinan nampaknya sejak berabad lampau tetap terjaga dengan baik. Menurut Alfred Russel Wallace, pada tahun 1858 telah datang seorang keturunan Belanda Kuno yang lahir dan besar di Inggris telah berdomisi di Ternate bernama, Duivenboden. Dia seorang kaya raya yang akrab dengan para Sultan dan masyarakatnya. Melalui, Duivenbolden itulah, Wallace memasuki Ternate untuk melakukan penelitian tentang fauna di sana.

Kota Ternate dan sekitarnya termasuk daerah terlama yang pernah dikunjungi oleh, Alfred Russel Wallace, seorang petualang dan peneliti fauna dari Inggris. Beliau berdomisili di Ternate selama tiga tahun sebagai basis tempat tinggalnya kala mengelilingi pulau-pulau di sekitarnya hingga sampai di New Guinea.

Suasana yang yang bersahabat dan damai itulah yang mestinya menjadi salah satu pemicu atawa daya tarik sehingga para turisme baik lokal maupun dari macanegara mesti berdatangan dengan sangat pesatnya. Sebab, hal itu menjadi modal besar untuk perkembangan daerah ke depan baik pariwisatanya maupun yang lainnya.

Stereotip

Hari ini, pengembaraanku ke pelbagai pojok negeri ini sedikit mengalami interupsi dan distorsi dari kenyamanan menikmati keindahan negeri beribu pulau ini. ada yang tak nyaman lagi setelah perhelatan politik menguasai ruang-ruang pikir dan hidup warganya. Sepanjang jalan ruang dan waktu kita diriuhi dan disesaki gelinding kabar hoax dan fitnah. Perbincangan mulai memasuki pojok-pojok pribadi kita dan begitu susah menghindarinya.

Kawan-kawan yang bergelut di dunia politik formal di partai-partai nampaknya telah banyak yang sungkuk dari keretivitas dan kecerdasan positif. Strategi pemenangan yang dilakukan jauh dari kata bajik untuk memuliakan langkah-langkah politik jangka panjang kemaslahatan negeri. Banyak yang terjebak pada keuntungan instan dan jumud. Amarah dipertontonkan dengan lihainya. Padahal dalam semua tatanan, baik agama dan budaya, amarah adalah value yang paling rendah. Ia adalah jalan-jalan menuju kebusukan peradaban.

Di sebuah pojok kampung, kala kumelintasinya dan sejenak jeda di sebuah rumah kepala desa meluruhkan penat dalam perjalanan panjang. Obrolan-obrolan yang biasanya ringan dan rileks, kali ini masuk pada tema politik praktis yang mengernyitkan dahi. Kata kepala desa sahabat saya ini, pergulatan politik satu dasawarsa terakhir sangat melelahkan dan mengkhawatirkan, sebab para kompetitor politik tak lagi ramah menyampaikan program-program kandidatnya. Apatahlagi cerdas dan kreatif, nampaknya para pegiat politik seolah berjalan di jalan buntuk yang gulita. Tinggal satu jalan, hoax dan fitnah.

Fenomena di atas mengingatkan kita di masa awal Orde Baru di mana penguasa yang baru saja melakukan “kudeta” melakukan gerakan politik konstruksi stereotip. Bahwa semua orang yang tidak setuju dengan kebijakan penguasa kala itu, pastilah label komunis, Lekra, GPK (Gerembolan Pengacau Keamanan), dll, pasti diberi label ini. pelabelan-pelabelan seperti itu menjadi stereotip sehingga masyarakat dirundung ketakutan. Bila pun ada yang berani melakukan terobosan-terobosan baru maka pasti dibilangkan aneh. Melawan arus maenstream yang telah diciptakan dari awal hingga dalam kurun waktu yang cukup lama.

Dengan bantuan Medsos (Media Sosial) dengan beraneka ragam modelnya dan perkembangan teknologi mutakhir, arena caci maki, hoax, dan fitnah semakin menemukan ruangnya. Perseturuan di ruang-ruang canggih itu lumer hingga ke pelosok-pelosok desa walaupun prosentasenya masih lebih banyak jumlahnya yang tidak bisa bermain langsung di area itu, tapi menjadikan permainan informasi satu arah. Semua info yang samapi ke mereka bisa langsung di telan bulat-bulat. Perseteruan politik di Jakarta bisa berpengaruh hingga ke desa-desa yang aku kunjungi di atas. Masih bersaudara kandung bisa terputus silaturrahim hanya karena berbeda pilihan ketika Pilkada di daerahnya, bahkan Pemilukada yang berlangsung di Ibu kota Jakarta bila kecenderungan pilihan berbeda maka perseteruan berlangsung pula di desa tersebut padahal mereka bukan pemilih langsung, hanya sekedar pendoa dari kecenderungan pilihannya, hehehe..

Yang menarik, bila di masa Orde Baru, politik stereotip di konstruksi rezim penguasa dengan menggunakan perangkat kekuasaan untuk mendukung kekerasan atawa teror yang dilakukan oleh perangkat keamanan pada kelompok-kelompok warga dan pererongan yang antitesa dari kekuasaan dengan perlawanan-perlawanan yang dilakukan, baik secara intelektual maupun dengan gerakan tertutup dan terbuka. Tapi, kini stereotip politik terjadi dua arah arus besar. Warga pendukung penguasa dan warga pendukung partai politik lawan penguasa. Mereka saling menghardik dalam waktu durasi panjang. Melempar dan mengemas informasi-informasi hoax. Tidak jarang fitnah dikemas seolah nyata dan benar.

Perseteruan politik inilah yang menurutku unik, sebab kepala negara yang sah pun bisa dilecehkan dengan tuduhan-tuduhan yang menurutku berlebihan nyaris irasional. Semisal menghina pisiknya, bentuk wajah dan tubuhnya. Bahkan, berita-berita hoax dan fitnah tak luput disandangkan padanya. Tuduhan PKI-lah, non muslimlah, dan cemooh- cemooh lainnya. Mungkin inilah fase di mana perpolitikan kita sampai pada titik nadir buruknya. Dan yang lebih parah, sebab kerapkali berita hoax dan fitnah diusung oleh orang-orang atawa kelompok yang mengatasnamakan gerakan politiknya berbasis pada agama tertentu. Di mana substansi agama yang diusungnya adalah agama yang penuh kasih sayang dan di liputi kedamaian.

Stereotip politik saat ini langsung terpolarisasi menjadi dua bagian besar. Bila mendukung pemerintahan padanannya kurang islami dan berbagai label lainnya yang rada-rada negatif. Dan sebaliknya, para kompetitornya mengklaim diri sebagai kelompok-kelompok putih yang menjalankan keyakinannya dan agamanya paling baik dan paling suci. Walaupun realitasnya kerap pula mempertontonkan adegan yang terbalik sangat dari idealisasi yang diusungnya. Kekerasan pisik dan terkesan menghalalkan segala cara untuk meraih target politiknya bisa dihalalkan. Fenomena inilah yang saat ini mewarnai jagad perpolitikan kita negeri indah ini yang konon warga dan bangsanya terkenal santun.

Saat menuliskan catan-catatan ini, aku sedang membaca sebuah novel sejarah yang cukup tebal “merajut harkat” ditulis oleh seorang penyair, cerpenis, novelis, Putu Oka Sukanta, yang bercerita tentang konstruksi stereotip politik yang dibangun oleh penguasa Orde Baru sebagai senjata untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya. Aku ingin mengakhiri tulisan pendek ini dengan mengutip puisi pembuka dari buku itu ;

Napas mengepakkan sayapnya

menyelinap di bayang-bayang mega berarak

mencari perlindungan dan bersembungi.

Tak ada lagi rumah yang aman.

Matahari yang menerpa pohon tidak lagi

membangun ruang teduh bagi pengembara.

Pepohonan hangus tempat bertengger dan bermalam.

Capung dan ulat di dedaunan banyak yang musnah,

dipanggang panas mesiu atau terbunuh amuk.

Orang-orang berlari-larian sepanjang siang

dan malam memburu sesamanya.

Membangun sungai fatamorgana

di atas bangkai yang dijadikan lawan.

Pori-pori bumi merekah menguapkan bau mayat segar,

rohnya masih mengembara di bumi

yang baru saja ditinggalkan dalam kepanikan.

Air sungai merah, darah mengucur

dari leher yang digorok.

Napas mengepakkan sayapnya

menjauh dari deru kilap kelewang dan deru panser

menghirup udara dalam ketakutan

dari celah-celah dinding.

Ruang langit telah dipersempit tipu muslihat

membangkitkan kebiadaban.

Fitnah, dengki, dendam, buas, telah dinyalakan

menghanguskan rumah-rumah penduduk

napas mengepakkan sayapnya,

air mata menetes dari lubang pori-pori tubuhnya

kesedihan membahana.

Dunia tidak hanya terpaku membiarkannya berlalu,

dunia membisu.

Napas mengepakkan sayapnya

bertengger di kepalamu.

“kau dengarkan tangis bayi

dari perut ibunya yang sedang digorok?.

Ilustrasi: Nabila Azzahra

 

 

 

Pesona Kota Seribu Masjid

Telah lama kudengar kabar bila di pulau Lombok Mataram terdapat sebuah “surga” yang dicipta Tuhan. Dapat membuat jiwa-jiwa manusia yang menikmatinya serasa di “surga”. Masih terhitung pagi, kala aku mengunjunginya di sebuah hari yang cerah. Dari kota mataram. Kota berjuluk seribu masjid. Setelah menikmati lantunan shalawat sebagai sebuah tradisi yang sangat mengakar di masyarakatnya pada setiap jelang azan salat lima waktu dikumandangkan. Aku bergegas berkemas untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di pulau Lombok ini.

Masih pagi, udara masih sangat segar menyambangi paru-paru pada setiap pejalan dan pelancong di kampung dan kota yang bersuku asli Sasak. kami menuju pantai Kuta-Lombok. Sepanjang jalan kota mataram dan desa yang terlintas masih menyimpan pepohonan yang terawat baik sehingga dinginnya masih terasa menusuk-nusuk kulit ari. Hamparan persawahan dan perkebunan juga terlihat masih tergarap dengan memadai.

Bincang-bincang kecil menyertai perjalanan kami yang tentu sangat mengasyikkan. Masih terbilang pagi, kami tiba di kawasan pantai kuta. Kami langsung menyusuri bibir-bibir pantai yang berombak landai. Panoramanya sangat menakjubkan sebab selain berpasir putih juga beberapa spot di ujung-ujung pantai nampak beberapa gundukan bukit-bukit kecil yang menjorok ke laut menyerupai kawasan raja ampat di Papua. Orang-orang lokal menyebutnya bukit Tunak.

Kami menikmati panorama pagi yang sejuk. Deburan ombak landai yang seolah memanggil-manggil dengan suara desah gadis-gadis manja bermanja cinta pada kekasihnya. Setelah beberapa view dan spot kupotret dan kurengkuh gambarnya. Kami bersiap bergegas melanjutkan perjalanan yang cukup panjang menuju destinasi yang lebih eksotis dan prestisius, menuju Gili.

Masih terhitung pagi kami menyusuri jalan-jalan menuju pelabuhan penyeberangan menuju Gili. Namun sebelumnya kami mampir beberapa saat di pantai Senggigi yang lebih sepuluh tahun tak kukunjungi. Kala masuk di kawasan ini aku sedikit terhenyak dari perubahan yang terjadi. Perubahan yang sangat drastis terjadi. Senggigi bak’ disulap menyerupai kawasan kuta-Bali di akhir tahun delapan puluhan. kala suasana ini kusampaikan pada seorang sahabatku yang beberapa bulan terakhir berdomisili di kota mataram, beliau membenarkan bahwa seolah-olah kawasan senggigi ini didesain menjadi duplikat dari kawasan Kuta-Bali. Resort, bungalow, hotel-hotel berbintang dan berbagai fasilitas mewah dan mahal bertaburan di kawasan ini.

Yang pasti turis-turis dari manca Negara dan lokal berbondong-bondong mengunjunginya. Investor pun pasti tak kalah gesitnya membebaskan lahan-lahan di kawasan pantai berpanorama indah ini dengan sunset yang eksotis di senja hari yang membuat mata seakan tak hendak berkedip oleh keindahannya. Dan sebagaimana lazimnya di negeriku ini, penduduk asli menjadi “penggembira” pada setiap proses industrialisasi berlangsung di setiap kawasan dengan dalih “menampung” tenaga kerja. Padahal sebelumnya lahan-lahan yang berbentang di kawasan tersebut adalah milik turun temurun moyang mereka. Maka nampaklah pemandangan, penduduk lokal sebagai pemijit menjual jasa di hamparan pantai berpasir putih itu. Sebagai penjaja asesoris yang berkerumun dengan harapan-harapan besar yang nampaknya sulit ia gapai dan berbagai cerita yang mengundang Tanya lainnya.

Setelah mata dan rasa berpuas menikmati panorama Senggigi, kami pun melaju ke kawasan Gili. Gili yang pertama kutandangi adalah gili meno. Udaranya tak terlampau menyengat kendatipun ia di kelilingi pantai dari laut nan indah. Di gili ini, tak kunyana aku bersua dengan orang-orang yang berasal dari kampung moyangku. Bugis Bone, Sinjai, Mandar, dan Selayar. Konon mereka lahir di Gili Meno, hanya mampu berbahasa ibunya nun jauh di tanah Bugis dalam sepatah dua kata dengan terbata-bata pula. Hanya Haji Fatahuddin yang lancar bebahasa Bugis, Makassar dan Mandar. Sebab, hingga kini beliau masih pengembara dari pulau ke pulau berkomunikasi dengan sanak moyangnya. selebihnya adalah warga yang moyangnya berasal dari tanah Bugis yang tak pernah mudik. Cengkrama pun berlangsung akrab walaupun hanya sejenak saja namun menggerus dahaga bertemu sanak-sekampung di kampung orang.

Kala kutandangi gili trawangan, aku sedikit terperangah sebab suasananya seolah tak di negeriku walaupun masih banyak yang berbahasa Indonesia. Namun nampaknya orang-orang lebih suka berkomunikasi dalam bahasa internasional. Pun, kampung ini disesaki manusia dari berbagai negeri. Para pelancong yang bepakaian minim menyesaki Gili Trawangan. konon beberapa resort dan bungalow telah digadai kepada para pemilik modal dari berbagai negeri. Gili trawangan sangat padat oleh pengunjung sebab hampir semua fasilitas telah disiapkan. Dentum musik berbagai aliran mewarnai pulau kecil ini sepanjang pantai. Hampir tak ada ruang jeda yang tak di sesaki café, kedai penjaja assesoris, dan resort. Lagi-lagi, anak-anak dan pemuda lokal menjadi bagian “dekoratif” yang mengais nafkah di hiruk-pikuk pelancong. Tentu seperti lazimnya pula mereka putus sekolah.

Menuju Gili trawangan selain dari bandara praya, dapat juga ditempuh langsung dari tanjung Benoa di Bali dengan menaiki speed boat berukuran besar dengan waktu tempuh hanya dengan satu jam lebih sedikit dengan harga ticket yang relative murah, seharga tiga ratus ribu rupiah. Pun dari Gili Trawangan mau menuju Bali setiap hari dengan mudah dilakukan.

Gili air yang lebih eksotik tak kurang lebih mirip, sebab di Gili ini pun manusia-manusia yang datang beroleh kebebasan lebih dari tempat-tempat lain di negeri ini. melihat situasi ini sesungguhnya aku hanya setuju dengan porsi setengahnya selebihnya sama sekali aku tak setuju. Mestinya, kala sebuah kawasan wisata dibeludaki pengunjung maka secara otomatis penduduk lokal akan mengalami tingkat kesejahteraan yang meningkat sebagai sebuah konsekwensi logis. Tentu dengan backup kebijakan daerah maupun pusat yang memihak padanya. Namun, nampaknya menjadi sebuah fenomena umum di negeriku ini bila hal itu terjadi maka dampak ekonomisnya sangat minim dan mereka selalu terpojok sebagai pemain piguran, dan guest starnya adalah mereka yang datang membawa uang segepok. Gili yang indah, gili yang eksotis, dan gili yang mistis hanya menjadi sebuah cerita di pojok-pojok kegirangan para pemodal.

Gili yang berarti pulau kecil, memang sangat eksotis melebihi dari berbagai pulau yang pernah kukunjungi. Jadi, Gili memang “Gila” dari berbagai plus-minusnya.

Sebagai sebuah ex kerajaan di masa lampau jauh sebelum negeri ini bernama Indonesia tentu masyarakat dan pemerintahannya telah pula melakukan komunikasi dan jalinan kerjasama dengan masyarakat Dunia. Satu diantara yang mungkin banyak yang lain, adalah kunjungan pengembaraan dan petualangan, Alfred Russel Wallace ke mataram-Lombok, sebelum beranjak ke Makassar, Sulawesi dan Indonesia bagian timur lainnya. Wallace, sebagai peneliti keanekaragaman fauna telah mengililing Nusantara selama 8 tahun. Sejak 1854 hingga 1862. Beliau juga mencatat beberapa spesimen fauna (burung) di hutan Lombok diantaranya, Kingfisher Halcyon fungidus, burung murai tanah yang aneh dan cantik, Zoothera anromeda, Dll.

Petualangang, Wallace di Lombok, juga menceritakan ke indahan kota Ampanan atawa Ampenan beserta sawah-sawah yang telah di garap oleh warga dengan model terasering dengan pembagian distribusi air yang cukup apik dan adil. Dari seluruh pengembaraan penelitiannya di Nusantara, Alfred Russel Wallacea telah merangkumnya dalam sebuah buku yang diberi judul “The Malay Archipelago”.

Semakin jauh kita melangkahkan kaki di negeri Indah ini pesonanya semakin menghunjam ke dalam sukma. Dalam berbagai perspektif negeri ini disuratkan untuk beragam karena hal tersebut menjadi asbab dari bagian ke indahannya. Karenanya, sangat disayangkan bila hanya sekedar dalih kekuasaan sebagian anak bangsa entah sadar atawa tidak nampaknya berupaya melakukan langkah-langkah memecah belah ke indahan negerinya yang sangat elok ini. semoga tidak.

 


sumber gambar: traveltodayindonesia.com