Arsip Kategori: Kembara

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan mahluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikkan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more

Profesional

Belum cukup sebulan aku dimutasi oleh kantorku mangais nafkah dari kantor di Bolaang Mongondow ke salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo. Kabutpaen yang masih beririsan dengan garis bentang katulistiwa di Sulawesi Tengah yang sangat khas udaranya menyengat sehingga beberapa kawan sejawat menyebutnya negeri api, daerah yang memiliki matahari dua saking panas dan gerahnya. Hampir-hampir aku tak tahan gerahnya dalam proses adaptasi yang telah berlangsung hampir sebulan. Apatah lagi aku memulai puasa di bulan Ramadan tahun ini. Lambat laun ujian-ujian yang cukup berat bisa kulalui dengan sabar yang juga karena berkenaan dengan Ramadan yang salah satu pesannya adalah menghimbau kita untuk meningkatkan kesabaran. read more

Pejuang Literasi Itu Telah Pulang

In Memorian, Bapak Hernowo Hasim Bin Thoyyib.

Bulan Ramadan tahun ini beberapa orang yang kukenal mangkat meninggalkan dunia fana ini, pulang ke rumah keabadian yang niscaya. Satu diantaranya adalah seorang penulis yang gigih mengajak masyarakat untuk membaca dan menulis, Hernowo Hasim bin Thoyyib. Beliau telah menulis puluhan buku yang mayoritas tentang motivasi membaca dan menulis. Buku-bukunya yang best seller di antaranya, Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quantum Writing, dan yang terakhir Free Writing. Dari konsep mengikat makna, beliau terinspirasi oleh kata-kata Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” read more

Bahagia dengan Puasa

Hari sudah mulai ditinggal terangnya cahaya sudah mulai meredup, senja mulai menyambangi kampung di atas bukit tempatku berdomisili dan bekerja mangais nafkah jauh dari keluarga. Ramadan tahun ini adalah Ramadan tahun ketiga aku menjalani puasa di kampung sejuk ini. di kampung ini perusahaan membangun masjid dan gereja dengan ukuran masing-masing mungil terbuat dari kayu atau bangunan khas Minahasa Sulawesi Utara yang terbuat dari kayu cempaka yang endemik Sulawesi utara. Walaupun masjid dan gerejanya tetap mengikuti desain dan arsitektur lazimnya masjid dan gereja di Indonesia. read more

Menjemput Masa Depan

—In Memoriam Ustadz Muhammad Abdul Salam B

Kala prajurit Berigade Infantri (Brigif) Manasa XX Gorontalo sedang beraksi memperagakan beladiri khas militer Indonesia yang masyhur itu, aku menyaksikannya dengan takzim dan takjub. Haru biru menyambangi hatiku. Aku bangga memiliki Tentara Nasional Indonesia yang tangkas dan lihai memainkan beladiri dan perlatan tempur lainnya. Aku merasa aman dan terpekur sejenak dan berdoa dalam hati, semoga anak-anak muda ini diberi kesehatan jiwa dan fisik untuk menjaga negeriku yang sama kami cintai. Di sela-sela hati yang masih takjub itu tiba-tiba berita duka terkabar menyambangiku via WhatsApp (WA) “Innalillahi wa innailaihi roji’un. Guru kita, ustadz Abdul Salam B, telah meninggalkan kita. Kalimat-kalimat yang tertera di layar hp-ku tak kulanjutkan membacanya, air mataku spontan mengalir deras dengan suara tangis yang kutahan dengan kuat di tengah kerumunan para petinggi militer yang sedang menghadiri Sertijab (serah terima jabatan) komanadan Brigif XX Manasa Gorontalo. read more

Azan di Negeri Sultan

Sudah lama aku berniat mengunjungi Ternate, negeri para sultan. Negeri yang di datarannya berdiri kokoh gunung Gamalama yang kerap terbatuk memuntahkan erupsi lahar panas dan dingin. Hingga suatu hari niat itu kabul dan mengunjunginya walau hanya dalam waktu singkat.

Sebelum berangkat terlebih dulu menghubungi beberapa kawan lama yang dulu sama-sama di Makassar dan saat ini telah domisili di sana dengan berbeda-beda profesi. Namun, dari beberapa yang aku hubungi hanya satu orang yang punya waktu luang untuk bersiap jadi guide-ku. read more

Stereotip

Hari ini, pengembaraanku ke pelbagai pojok negeri ini sedikit mengalami interupsi dan distorsi dari kenyamanan menikmati keindahan negeri beribu pulau ini. ada yang tak nyaman lagi setelah perhelatan politik menguasai ruang-ruang pikir dan hidup warganya. Sepanjang jalan ruang dan waktu kita diriuhi dan disesaki gelinding kabar hoax dan fitnah. Perbincangan mulai memasuki pojok-pojok pribadi kita dan begitu susah menghindarinya.

Kawan-kawan yang bergelut di dunia politik formal di partai-partai nampaknya telah banyak yang sungkuk dari keretivitas dan kecerdasan positif. Strategi pemenangan yang dilakukan jauh dari kata bajik untuk memuliakan langkah-langkah politik jangka panjang kemaslahatan negeri. Banyak yang terjebak pada keuntungan instan dan jumud. Amarah dipertontonkan dengan lihainya. Padahal dalam semua tatanan, baik agama dan budaya, amarah adalah value yang paling rendah. Ia adalah jalan-jalan menuju kebusukan peradaban. read more

Pesona Kota Seribu Masjid

Telah lama kudengar kabar bila di pulau Lombok Mataram terdapat sebuah “surga” yang dicipta Tuhan. Dapat membuat jiwa-jiwa manusia yang menikmatinya serasa di “surga”. Masih terhitung pagi, kala aku mengunjunginya di sebuah hari yang cerah. Dari kota mataram. Kota berjuluk seribu masjid. Setelah menikmati lantunan shalawat sebagai sebuah tradisi yang sangat mengakar di masyarakatnya pada setiap jelang azan salat lima waktu dikumandangkan. Aku bergegas berkemas untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di pulau Lombok ini. read more

Hanya Dia yang Pasti

Perjalananku di bulan Oktober ini, kembali mengais nafkah di kampung seberang berjalan lancar. Seperti biasa dalam perjalanan panjang menyusuri jalan dan angkasa selalu saja sua dan berkenalan dengan orang baru. Ada yang setelah mengakhiri perjalanan maka berakhir pula sampai di situ pertemuan kami. Ada pula yang berjalin berkelindan setelahnya. Saling menyapa via telepon atawa alat komunikasi lainnya. Begitulah perjalanan kehidupan dan perjalananku yang telah berpuluh tahun mengais nafkah di kampung rantau. read more

Di Pojok Jalan Ada Sudut Baca

Pagi sekira pukul sembilan, kami meninggalkan rumah di bilangan kompleks Bulurokeng Permai Makassar menuju Kabupaten Sengkang. Perjalanan kali ini, mengantar anak menemui mertuanya yang baru sekira sepekan saya nikahkan. Di Sengkang akan ada resepsi pernikahan yang diraya oleh keluarga besar besanku. Sebagai sebuah tatanan adat yang mesti direspon secara bijaksana. Sebab, substansi dari sebuah pernikahan adalah selain ijab kabulnya adalah mempersaksikan kepada kerabat, handaitoulan, dan masyarakat umum bahwa kedua orang muda berlainan jenis ini telah melakukan sebuah ikrar untuk hidup bersama dan saling mendukung dalam semua hal. Sepanjang perjalanan kami sua panorama indah hamparan sawah menguning yang seperti tak bertepi, dalam suasana jelang panen dan sedang panen. Beberapa kali kala menemukan spot indah dan super indah kami menghentikan kendaraan dan berfoto ria di sana. Mengabadikan ke indahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa dan Maha Indah tentulah sebuah momentum yang sangat mengasyikkan. Demikianlah sebuah perjalanan yang selalu menyimpan pesan dan kenang indah di lubuk hati manusia. Sudah lama aku tak bertandang ke kota kecil yang berjuluk Kota Sutra ini. Mungkin sekira hampir sepuluh tahun. Setelah melewati malam dengan berbagai aktivitas sebelum terlelap menemui mimpi-mimpi indah, seperti kebiasaanku bila berkunjung ke sebuah kota atawa tempat, maka sebelum matahari menyingsing aku mengelilinginya sembari menikmati suasana subuh dan menyerap aura tempatnya secara natural. Kota ini, bagi beberapa kota sekitarnya menjadi kota destinasi belanja selain kota Makassar yang tentu jaraknya lebih jauh. Maka, walaupun dari sana sini tidak banyak perubahan yang kulihat tapi tetaplah Ia nampak sebagai kota bisnis dengan berbagai pernak perniknya. Menyediakan sentra-sentra bisnis dengan variasi produk yang lumayan lengkap dengan jejeran Ruko (rumah Toko) yang menyeruak di banyak spot. Dan yang terbaru sebuah mall telah tegak berdiri di sana. Di samping trade mark-nya sebagai kota bisnis, yang baru bermunculan laiknya kota-kota di seantero negeri ini adalah cafeteria-cafetaria yang secara khas menjadikan kopi dengan berbagai racikannya sebagai menu utama. Sebagai penikmat kopi sangat memudahkan kala waktunya ngopi dan besosialisasi di mana saja di hampir semua kota di negeri ini termasuk kota Sutra yang sedang kunikmati saat ini. Setelah menikmati kota sutra ini di subuh hari, sekira pukul sepuluh pagi kami mengelilinginya kembali dengan harapan menemukan cafeteria yang meracik kopi sesuai selera kami. Sepertinya kami sedang melintas di jalan kota tua karena ruko-rukonya nampak lebih kecil dan tua juga berarsitektur “antik”  persis di perempatan jalan di depan sebuah kantor bank. Pandangku tertumbuk ke sebuah tembok atawa dinding cafeteria yang menjejer buku-buku. Di pojok jalan ada sudut baca, gumam kami hampir bersamaan. Cafeteria itu berada di pojok jalan sebuah ruko tua. Selintas kami melihat deretan buku di dindingnya, itulah yang seolah memanggil-manggil kami untuk mampir. Kopinya masih standar tak memenuhi kualifikasi selesra kami. Tapi dua hal yang menarik dari cafeteria nyaris mungil ini, yang pertama deretan buku-buku di dindingnya. Walau tak terlampau banyak tapi cukuplah sebagai upaya awal untuk memadukan cafeteria dan dan ruang baca. Yang kedua adalah di salah satu pojoknya ada pemusik akuistik tampil dengan elegan dan apik, yang ternyata pemusiknya adalah ownernya sendiri. Dalam perspektif sejarah, wajo yang beribu kota Sengkang ini adalah sebuah kerajaan yang unik tak seperti kerajaan lainnya. Ia berdiri tak seperti kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan. Berdiri tanpa diawali oleh datangnya To Manurung. Menurut lontara Sukkuna Wajo kerajaan ini berdiri dimulai dengan pembentukan komunitas di tepi Danau Lampulung. Mereka dipimpin oleh seseorang yang tak diketahui namanya yang digelari dengan Puangnge Ri Lampulung. Puangnge Ri Lampulung dikenal sebagai orang yang bijak. Mengetahui tanda-tanda alam dan tata cara bertani yang baik. ada pun penamaan Danau Lampulung dari kata sipulung yang berarti berkumpul. Dalam perkembangan kerajaan Wajo kemudian, mengalami perubahan struktural setelah Perjanjian Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo. Posisi Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional, dari sinilah kemudian falsafah orang yang Wajo menggaung di kenal sebagai orang merdeka “maradeka to wajo’e ade’nami napupuang” “merdekalah orang Wajo hanya tunduk pandak konstitusi.” Dan Wajo mengalami pase keemasan di masa pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo menjadi anggota persekutuan Tellu Poccoe sebagai saudara tengah bersama Kerajaan Bone sebagai saudara tua dan Kerajaan Soppeng sebagai saudara bungsu. Perang Makassar (1660 -1669) dengan kekalahan Kerajaan Gowa juga berdampak pada Kerajaan Wajo. Kala Kerajaan Wajo dipimpin oleh Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin, sehingga kerajaan Wajo pun diserang oleh pasukan gabungan Belanda dan takluk. Kekalahan kerajaan Wajo oleh Belanda, banyak diantara warganya yang memiliki jiwa merdeka meninggalkan kampungnya pergi merantau dan membangun komunitas social ekonomi di daerah perantauannya. Salah satu yang sohor adalah, Lamohang Daeng Mangkona salah satu panglima perang Kerajaan Wajo yang tidak terima kekalahan merantau ke Kerajaan Kutai dan membuka lahan yang kini dikenal sebagai Samarinda. Sejarah panjang Kerajaan Wajo dan Kota Sengkang, mesti menjadi titik tolak inspiratif pemerintah dan warganya saat ini dalam membangun peradabannya. Semangat orang-orang merdeka mesti tetap patri di jiwa-jiwa pelaksana pemerintahan dan warganya. Saya mengkhayal, sekiranya cafeteria tempatku duduk menyesap kopi saat itu juga menginspirasi cafetraia lainnya dan pemerintah Kabupaten Wajo membangun sebuah taman baca atawa perpustakaan yang cukup representatif dengan semangat Matoa La taddampare Puangrimaggalatung, tentu sebuah langkah yang bijak dalam menyerap semangat “maradeka to wajo’e ade’nami napupuang.” read more