Arsip Kategori: Kembara

Hanya Dia yang Pasti

Perjalananku di bulan Oktober ini, kembali mengais nafkah di kampung seberang berjalan lancar. Seperti biasa dalam perjalanan panjang menyusuri jalan dan angkasa selalu saja sua dan berkenalan dengan orang baru. Ada yang setelah mengakhiri perjalanan maka berakhir pula sampai di situ pertemuan kami. Ada pula yang berjalin berkelindan setelahnya. Saling menyapa via telepon atawa alat komunikasi lainnya. Begitulah perjalanan kehidupan dan perjalananku yang telah berpuluh tahun mengais nafkah di kampung rantau.

Dari bandara Internasional Sam Ratulangi kami dijemput rekan kerja dan mampir sejenak di kantor perwakilan untuk kemudian berangkat ke tempat kerja yang akan menempuh perjalanan sekira dua ratus kilometer. Sepanjang jalan irama hujan mengantar kami seolah mengiringi beberapa lelaki pejalan yang bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya. Seolah derai hujan itu bernyayi senandung rindu yang selalu memeluk tiga lelaki yang sedang mengembara untuk melanjutkan hidup membangun peradaban beradab tanpa harus mengkhianati negeri dan khalayak.

Irama hujan baur dengan syair dan lagu dari group band payung teduh sepanjang jalan, menambah romansa hati yang saling bersitatap satu dengan yang lainnya, yang selalu menangkup rindu. Dalam diam, seorang kawan dari kami bertiga memecah keheningan dengan bertanya padaku tentang seorang putra daerah yang tertangkap tangan oleh KPK menyuap seorang hakim dalam sebuah perkara penangan delik korupsi. Temanku itu bertanya padaku, mungkin karena beliau tahu bila aku mengenal pemuda itu yang reputasi politiknya senanjak sangat bagus di usianya yang masih tergolong muda.

Aku mencoba menjelaskannya sebatas kemampuanku dan apa yang kutahu tentang pemuda itu. Bahwa kasus yang menjeratnya sesungguhnya termasuk sepele walau berdampak mematikan secara telak akan karir politiknya ke depan. Bahwa anak muda yang jalan hidup politiknya sangat cemerlang itu sesungguhnya sangat menyayangi keluarganya. Dan nampaknya ekspresi itulah yang mengantarnya terjebak dalam pusaran kasus yang menjerat dan membawanya terpuruk di usia mudanya. Dan tidak tanggung-tanggung sebab kasus yang menjeratnya adalah kasus yang sangat nista untuk sebuah nama baik dan peradaban nan bajik.

Dalam setiap perjalanan kehidupan tidak selamanya berjalan linear. Di tengahnya atawa mungkin di awal dan di akhir ada hal yang mengejutkan mengantar jejak-jejak kita. Pertarungan kebajikan dan kejahatan terus berlangsung hingga akhir kehidupan di bumi fana ini seperti kisah awal dari kehidupan manusia di bumi ini seolah kisah Qabil dan Habil secara antropologis tak pernah usai . Namun nampaknya kepicikan selalu saja menutup mata dunia untuk menghalaunya.

Dalam sebuah kisah abadi nan bajik, sepotong kisah dari Hasan Al Bashri yang dikenal sebagai seorang sufi besar dan alim yang disegani di zamannya. Suatu hari, sebagai seorang pedagang mutiara dan permata, Hasan Al Basri mengunjungi Negeri Bizantium untuk urusan dagang dan menemui perdana menterinya. Setelah berbincang sejenak, Sang menteri itu mengajak Sang Sufi untuk mengunjungi suatu tempat di padang pasir yang luas. Di sana Hasan Al Basri melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium, diikat dengan tali sutra dan dipancang dengan tiang emas di atas tanah. Hasan Al Basri berdiri di jejauhan.

Tak berselang lama kemudian muncul sepasukan tentara perkasa dengan perlengkapan perang yang lengkap. Mereka lalu mengelilingi tenda itu, menggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi. Setelah itu muncul para filsuf dan cendekiawan yang hampir empat ratus orang jumlahnya. Mereka mengelilingi tenda itu, menggumamkan beberapa patah kata kemudian berlalu dari tempat itu. Kemudian, datang lagi sekira tiga ratus orang tua yang arif bijaksana dan berjanggut putih, mereka menghampiri dan mengelilingi tenda itu lalu menggumamkan beberapa kata, kemudian berlalu. Akhirnya datang pula lebih dari dua ratus perawan cantik masing-masing mengusung nampan penuh dengan emas, perak, dan batu permata, mereka mengelilingi tenda itu dan menggumamkan beberpa patah kata kemudian pergi meninggalkannya.

Sepasukan tentara di atas yang mula-mula mengelilingi tenda tersebut berkata : “wahai putra mahkota seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimpamu datang dari Dia yang tak sanggup kami perangi dan tak bisa kami tantang.” Setelah berucap seperti itu mereka pun berlalu dari tempat itu.

Kemudian giliran para filsuf dan cendekiawan. Mereka berkata : “Malapetaka yang menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak bisa kami lawan dengan ilmu pengetahuan, filsafat, dan tipu muslihat. Karena semua filsuf di atas bumi ini tidak berdaya menghadapinNya. Jika tidak demikian halnya, kami telah berusaha dengan mengajukan dalih-dalih yang tak bisa dibantah oleh siapa pun di alam semesta ini.” Setelah berucap demikian para filsuf dan cendekiawan itu pun pergi dari tempat tersebut.

Selanjutnya orang-orang tua yang mulia tampil seraya berkata : “Wahai putra mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa dicegah oleh campur tangan orang-orang tua, niscaya kami telah mencegahnya dengan doa-doa kami yang rendah hati ini, dan pastilah kami tidak akan meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tetapi malapetaka yang ditimpakan kepadamu datang dari Dia yang sedikit pun tak bisa dicegah oleh campur tangan manusia-manusia yang lemah.” Setelah kata-kata itu mereka ucapkan mereka pun berlalu.

Kemudian gadis-gadis cantik dengan nampan-nampan berisi emas dan batu permata datang menghampiri mengelilingi tenda itu dan berkata : “Wahai putra kaisar, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa ditebus dengan kekayaan dan kecantikan, niscaya kami merelakan diri dan harta kekayaan kami yang banyak ini untuk menebusmu dan tidak kami tinggalkan engkau di tempat ini. Namun malapetaka ini ditimpakan oleh Dia yang tak bisa dipengaruhi oleh harta kekayaan dan kecantikan.” Setelah kata-kata itu mereka ucapkan, mereka pun meninggalkan tempat itu.

Terakhir sekali kaisar beserta perdana menteri tampil, masuk ke dalam tenda dan berkata : “wahai biji mata dan pelita hati ayahanda! Wahai buah hati ayahanda! Apakah yang bisa ayahanda lakukan? Ayahanda telah mendatangkan sepasukan tentara yang perkasa, para filsuf dan cendekiawan, para pawang dan penasehat, dan dara-dara cantik yang jelita, harta benda dan segala macam barang-barang berharga. Ayahanda sendiri pun telah datang. Jika semua ini ada manfaatnya, maka ayahanda pasti melakukan segala sesuatu yang dapat ayahanda lakukan. Tetapi malapetaka ini telah ditimpakan kepadamu oleh Dia yang tidak bisa dilawan oleh ayah beserta segala aparat, pasukan, pengawal, harta benda dan barang-barang berharga ini. Kata-kata ini diucapkan oleh Sang Kaisar kemudian berlalu dari tempat itu.

Hanya Dia yang pasti selainNya hanyalah bayang-bayang dan fatamorgana. Dalam kisah yang terjadi di abad 6 masehi itu antara Bashrah dan Bizantium. Negeri raksasa, adidaya, dan penguasa dunia. Tapi takluk pada yang Maha Kuasa yang semula dinapikannya. Maharaja dan Pangeran yang ia sangat cintai bertekuk lutut pada kuasaNya. Sebuah kisah yang mestinya dirujuk oleh para elit negeri ini, sebab negeri ini  butuh para pemimpin dan elit yang meyakini kekuatan yang maha dahsyat yang ada di luar dirinya.

Saat ini di negeri ini, elit-elit kita kerap lupa bahwa segala kuasa dan harta benda yang melimpah ruah pada akhirnya bertekuk pada kuasaNya. Sehingga peran-peran kuasa Mang Maha Kuasa hendak diambil alihnya. Segala tipu muslihat dilakunya untuk melanggengkan kemapanannya. Segala modus operandi licik dan picik digunakannya untuk tetap bertahta pada pucuk kuasa, yang sesungguhnya semu.

 

Ilustrasi: Nabila Azzahra

Di Pojok Jalan Ada Sudut Baca

Pagi sekira pukul sembilan, kami meninggalkan rumah di bilangan kompleks Bulurokeng Permai Makassar menuju Kabupaten Sengkang. Perjalanan kali ini, mengantar anak menemui mertuanya yang baru sekira sepekan saya nikahkan. Di Sengkang akan ada resepsi pernikahan yang diraya oleh keluarga besar besanku. Sebagai sebuah tatanan adat yang mesti direspon secara bijaksana. Sebab, substansi dari sebuah pernikahan adalah selain ijab kabulnya adalah mempersaksikan kepada kerabat, handaitoulan, dan masyarakat umum bahwa kedua orang muda berlainan jenis ini telah melakukan sebuah ikrar untuk hidup bersama dan saling mendukung dalam semua hal. Sepanjang perjalanan kami sua panorama indah hamparan sawah menguning yang seperti tak bertepi, dalam suasana jelang panen dan sedang panen. Beberapa kali kala menemukan spot indah dan super indah kami menghentikan kendaraan dan berfoto ria di sana. Mengabadikan ke indahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa dan Maha Indah tentulah sebuah momentum yang sangat mengasyikkan. Demikianlah sebuah perjalanan yang selalu menyimpan pesan dan kenang indah di lubuk hati manusia. Sudah lama aku tak bertandang ke kota kecil yang berjuluk Kota Sutra ini. Mungkin sekira hampir sepuluh tahun. Setelah melewati malam dengan berbagai aktivitas sebelum terlelap menemui mimpi-mimpi indah, seperti kebiasaanku bila berkunjung ke sebuah kota atawa tempat, maka sebelum matahari menyingsing aku mengelilinginya sembari menikmati suasana subuh dan menyerap aura tempatnya secara natural. Kota ini, bagi beberapa kota sekitarnya menjadi kota destinasi belanja selain kota Makassar yang tentu jaraknya lebih jauh. Maka, walaupun dari sana sini tidak banyak perubahan yang kulihat tapi tetaplah Ia nampak sebagai kota bisnis dengan berbagai pernak perniknya. Menyediakan sentra-sentra bisnis dengan variasi produk yang lumayan lengkap dengan jejeran Ruko (rumah Toko) yang menyeruak di banyak spot. Dan yang terbaru sebuah mall telah tegak berdiri di sana. Di samping trade mark-nya sebagai kota bisnis, yang baru bermunculan laiknya kota-kota di seantero negeri ini adalah cafeteria-cafetaria yang secara khas menjadikan kopi dengan berbagai racikannya sebagai menu utama. Sebagai penikmat kopi sangat memudahkan kala waktunya ngopi dan besosialisasi di mana saja di hampir semua kota di negeri ini termasuk kota Sutra yang sedang kunikmati saat ini. Setelah menikmati kota sutra ini di subuh hari, sekira pukul sepuluh pagi kami mengelilinginya kembali dengan harapan menemukan cafeteria yang meracik kopi sesuai selera kami. Sepertinya kami sedang melintas di jalan kota tua karena ruko-rukonya nampak lebih kecil dan tua juga berarsitektur “antik”  persis di perempatan jalan di depan sebuah kantor bank. Pandangku tertumbuk ke sebuah tembok atawa dinding cafeteria yang menjejer buku-buku. Di pojok jalan ada sudut baca, gumam kami hampir bersamaan. Cafeteria itu berada di pojok jalan sebuah ruko tua. Selintas kami melihat deretan buku di dindingnya, itulah yang seolah memanggil-manggil kami untuk mampir. Kopinya masih standar tak memenuhi kualifikasi selesra kami. Tapi dua hal yang menarik dari cafeteria nyaris mungil ini, yang pertama deretan buku-buku di dindingnya. Walau tak terlampau banyak tapi cukuplah sebagai upaya awal untuk memadukan cafeteria dan dan ruang baca. Yang kedua adalah di salah satu pojoknya ada pemusik akuistik tampil dengan elegan dan apik, yang ternyata pemusiknya adalah ownernya sendiri. Dalam perspektif sejarah, wajo yang beribu kota Sengkang ini adalah sebuah kerajaan yang unik tak seperti kerajaan lainnya. Ia berdiri tak seperti kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan. Berdiri tanpa diawali oleh datangnya To Manurung. Menurut lontara Sukkuna Wajo kerajaan ini berdiri dimulai dengan pembentukan komunitas di tepi Danau Lampulung. Mereka dipimpin oleh seseorang yang tak diketahui namanya yang digelari dengan Puangnge Ri Lampulung. Puangnge Ri Lampulung dikenal sebagai orang yang bijak. Mengetahui tanda-tanda alam dan tata cara bertani yang baik. ada pun penamaan Danau Lampulung dari kata sipulung yang berarti berkumpul. Dalam perkembangan kerajaan Wajo kemudian, mengalami perubahan struktural setelah Perjanjian Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo. Posisi Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional, dari sinilah kemudian falsafah orang yang Wajo menggaung di kenal sebagai orang merdeka “maradeka to wajo’e ade’nami napupuang” “merdekalah orang Wajo hanya tunduk pandak konstitusi.” Dan Wajo mengalami pase keemasan di masa pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo menjadi anggota persekutuan Tellu Poccoe sebagai saudara tengah bersama Kerajaan Bone sebagai saudara tua dan Kerajaan Soppeng sebagai saudara bungsu. Perang Makassar (1660 -1669) dengan kekalahan Kerajaan Gowa juga berdampak pada Kerajaan Wajo. Kala Kerajaan Wajo dipimpin oleh Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin, sehingga kerajaan Wajo pun diserang oleh pasukan gabungan Belanda dan takluk. Kekalahan kerajaan Wajo oleh Belanda, banyak diantara warganya yang memiliki jiwa merdeka meninggalkan kampungnya pergi merantau dan membangun komunitas social ekonomi di daerah perantauannya. Salah satu yang sohor adalah, Lamohang Daeng Mangkona salah satu panglima perang Kerajaan Wajo yang tidak terima kekalahan merantau ke Kerajaan Kutai dan membuka lahan yang kini dikenal sebagai Samarinda. Sejarah panjang Kerajaan Wajo dan Kota Sengkang, mesti menjadi titik tolak inspiratif pemerintah dan warganya saat ini dalam membangun peradabannya. Semangat orang-orang merdeka mesti tetap patri di jiwa-jiwa pelaksana pemerintahan dan warganya. Saya mengkhayal, sekiranya cafeteria tempatku duduk menyesap kopi saat itu juga menginspirasi cafetraia lainnya dan pemerintah Kabupaten Wajo membangun sebuah taman baca atawa perpustakaan yang cukup representatif dengan semangat Matoa La taddampare Puangrimaggalatung, tentu sebuah langkah yang bijak dalam menyerap semangat “maradeka to wajo’e ade’nami napupuang.”

 

Illustrasi: Nabila Azzahra

Aji Mumpung

Perjalanan pulang kali ini kami mengendarai tumpangan umum. Dari kota kecil tempatku bermukim menuju kota nyiur melambai dengan perkiraan perjalanan sekira kurang lebih empat jam. Kendaraan bus ukuran sedang, Toyota Hiace berisi penumpang sekira 15 orang. Perjalanan riuh mempercakapkan beberapa tema. Tapi yang menarik adalah perbincangan tentang banjir di beberapa kampung di sekitar  tempat kerja kawanku seperjalanan.

Sejak perusahaan tempat kami bekerja yang beroperasi empat tahun silam, setiap musim hujan tiba dan terjadi banjir di kampung sekitar maka perusahaan kami menjadi terdakwa ujar kawanku itu nampak raut sedih di wajahnya. Saat kuriset secara kecil-kecilan, maka terungkap bahwa sesungguhnya kampung-kampung tersebut, sejak rawa-rawa di sisi muara sungai itu disulap menjadi perkampungan maka setiap kali hujan turun dan cukup intens maka dipastikan kampung-kampung itu akan banjir. Bahkan bila hujannya betah kerap pula banjir melanda perkampungan tersebut hingga mencapai atap rumah.

Risetku itu pun menyimpulkan bahwa sesungguhnya yang mengklaim atawa menuduh penyebab banjir itu adalah keberadaan perusahaan yang berlokasi bersisian dengan hulu sungai, hanyalah beberapa gelintir elit kampung-kampung itu, elit kecamatan, hingga elit di kabupaten, dan orang-orang yang mengaku aktivis organisasi non pemerintah alias LSM, serta sebagian pegiat media online.

Adalah hal yang menarik ketika para penuding itu melakukan komunikasi dengan humas tempat kami bekerja, bahwa ternyata tuduhan-tuduhan yang disampaikan hanyalah sasaran antara untuk menyelami komunikasi lebih jauh dengan pihak perusahaan. Sebagai alat bargaining untuk kepentingan pundi-pundi pribadi. Ini yang orang-orang biasa membilangkannya aji mumpung. Ada momentum atawa kejadian yang bisa dijual sebagai alat negosiasi dan bargaining.

“Pemerasan” pun kerap dilakukan atas nama aji mumpung yang memenej isu banjir ini seolah elit-elit tersebut membela rakyat. Namun sesungguhnya fenomena aji mumpung ini tidak hanya milik para elit-elit tertentu di semua jenjang kehidupan masyarakat tapi bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk pelaksana pemerintahan di semua level.

Secara teoritis Aji mumpung memiliki 2 arti. Aji mumpung berasal dari kata dasar aji. Aji mumpung adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Arti dari aji mumpung bisa masuk dalam jenis kiasan sehingga penggunaan aji mumpung bisa bukan dalam arti kata yang sebenarnya. Aji mumpung memiliki arti dalam kelas adverbia atau kata keterangan sehingga aji mumpung dapat memberikan keterangan kepada kata lain dan nomina atau kata benda sehingga aji mumpung dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

Perdefinisi, aji mumpung dapat diartikan sebagai pemanfaatan situasi dan kondisi untuk kepentingan diri sendiri selagi memegang jabatan yang memungkinkan adanya peluang untuk hal itu.

Merujuk pada perdefinisi di atas, maka tampaknya fenomena aji mumpung telah mewabah di negeri ini. Dari pemerintahan desa hingga pemerintahan di pucuk negeri. Apatah lagi bila kita menilik fenomena di lingkaran ruang-ruang politik tentu lebih riuh lagi. Hal itu pula tampaknya yang menjadi asbab gemerlapnya laku korupsi di mana-mana. Semakin ketat pengawalan dan pengawasan tentang laku-laku korupsi di pelbagai level institusi dan lembaga semakih riuh pula pelakunya menggerogoti uang negeri yang bersumber dan diperuntukkan untuk semua rakyat negeri ini.

Laku korupsi, pungli, dan lain sebagainya bukan semakin berkurang tapi sesungguhnya semakin riuh dan hampir aji mumpung, karena posisi atawa jabatan dan amanah yang diemban seseorang. Apatah lagi bila menilik pada aspek yang lebih kecil nyaris bergeming dan mengalami perubahan tidak signifikan. Mulai dari tarif pernikahan oleh imam di bawah kementerian agama pungutan-pungutan di atas tarif yang semestinya, itu berlangsung secara terus menerus. Kata seorang kawan, tarif resminya hanya 600 ribu fix, tapi realitasnya di lapangan pungutannya lebih dari tarif yang sesungguhnya. Bila selisihnya hanya 100 ribu hingga 400 ribu nampak sangat kecil tapi selisih kecil yang dibiasakan terus menerus menjadi sebuah fenomena yang lambat laun merusak konsistensi pemberantasan korupsi walaupun secara nominal jumlahnya kecil.

Yang di atas itu contoh fenomena pungli yang relatif jumlahnya kecil dalam satu lembaga saja. Fenomena korupsi dalam skala yang lebih besar tak kalah riuhnya, bahkan OTT (Operasi Tangkap Tangan) oleh KPK hampir tiap bulan meriuh jagat negeri ini.

Namun sesungguhnya aji mumpung itu tidak semata berlangsung di tataran korupsi dan sejenisnya, tapi laku semena-mena dalam kekuasaan dan kesempatan. Tengoklah fenomena “pemerasan” yang di lakukan oleh oknum-oknum elit dan orang-orang yang mengaku aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dengan dalih banjir di awal tulisan di atas, yang sesungguhnya peristiwa banjir tersebut adalah disebabkan oleh fenomena alam dan kontur topografi sebagai asbab utamanya. Dan kejadian banjir tersebut sudah terjadi sejak kampung itu dihuni. Bagaimana mengklaim bila banjir atawa bah yang terjadi, sejenis bah yang terjadi di zaman nabi Nuh dan yang sepadannya, bagaimana memanfaatkannya sebagai aji mumpung

 

Sumber ilustrasi: http://www.koran-jakarta.com/jangan–aji-mumpung-/

Bukit-Bukit Cengkih

Hari Jumat di awal September ini sangat cerah. Matahari tak terhalang sedikit pun awan sehingga jalan-jalan di lereng-lereng perbukitan yang dipenuhi rerimbun cengkih sangatlah terang dan lapang. Bersama kawan sejawat menyusuri jalan-jalan di perbukitan itu menuju ibu kota kabupaten yang berjarak sekira kurang lebih satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Di sepanjang jalan aku menemui petani kebun yang cukup riuh mengemasi hasil panen langsat. Ternyata tahun ini, musim panen raya cengkih jatuhnya bersamaan dengan ranumnya buah langsat di kebun-kebun tumpangsari dengan cengkih.

Langsat dikemas dengan rapi dalam bilah-bilah bambu berbentuk segi empat yang siap dikirim ke kabupaten dan kota-kota terdekat. Sebagian akan dijual di lapak-lapak emperan sepanjang jalan kampung bukit-bukit cengkih itu.

“Pak, tidak mampir dulu membeli langsat sekantong dua kantong,” sapa pak Dody di belakang kemudi buyarkan renungku memandang hamparan bukit-bukit cengkih yang sangat luas di kejauhan nan indah dan memesonaku.

“Oh.. mungkin sekembalinya nanti dari kota kabupaten, pak. kita diburu waktu. Soalnya beberapa orang telah menunggu kita di kantornya dan hari ini hari jumat,  biasanya kantor cepat tutup.” “Oke baik pak balas pak Dody singkat.”

Setelah menempuh jalan berkelok, mendaki bukit  dan menuruni lembah, sampailah kami di ibu kota kabupaten yang baru empat tahun ini dimekarkan. Kotanya pun masih seukuran desa di kampung moyangku. Kantor-kantor dinas masih menyebar di mana-mana dalam bentuk rumah kontrakan. Satu-satunya yang menandakan bila kawasan ini adalah ibu kota kabupaten adalah kantor bupati yang baru saja usai diresmikan. Pun halamannya masih didandani di berbagai sudut.

Usai menemui beberapa orang yang sebelumnya telah janjian  di kota kecil ini, masjid-masjid telah mengalunkan shalawat, pertanda bahwa sebentar lagi salat jumat akan dilangsungkan. Lambungku mulai mencubit-cubit sebagai penanda bahwa ia mesti segera dijamah.

“Pak Dody, kita cari penganan ringan dulu ya, kampung tengahku sudah mulai meminta dibesuk, sebelum kita menyesap makanan berat seusai jumatan sebentar.” “Baik pak, ujar pak Dody.” Kami susuri jalan memanjang sekitar dua kilo meter ini. Namun tak menemui toko atau pun kedai kecil yang menjaja makanan. Satu-satunya warung yang buka adalah warung ikan bakar yang dijubeli pengunjung.

“Kok kota kecil ini laiknya kota-kota di timur tengah yang bila hari jumat tokonya pada tutup?” ujarku sembari tersenyum pada pak Dody sebagai penduduk lokal. “Mungkin, karena pemimpinnya memang beretnis Arab, Pak,” ujarnya sembari membalas senyumku dengan sedikit jenaka. “Oh.. ya, mungkin ya.. Oke bila demikian, kita sholat jumat saja dulu, setelahnya kita bersantap di rumah makan yang tadi.” “Baik pak kata pak Dody.”

Di dalam masjid hampir semua shaf telah terisi kecuali beberapa yang masih lowong di shaf pertama dan kedua. Aku dengan pak Dody memilih di shaf kedua searah dengan mimbar. Tak beberapa lama, hanya terhitung menit kami duduk di dalam masjid, seorang lelaki yang relatif nampak masih muda bertampang Arab dengan kumis dan janggut bersambung memasuki masjid dan langsung mengambil tempat duduk di shaf paling depan searah dengan tempat imam pemimpin sholat jumat.

“Itu pak bupati, Pak.” Bisik paka Dody di sampingku. “Oh.. sepertinya beliau memang beretnis Arab ya..” “Iya pak balas pak Dody singkat.”

Usai mengucapkan salam, kami saling berjabat tangan dengan jamaah lainnya, termasuk pak Bupati yang duduk tak jauh dariku. Beliau dikerubuti oleh warganya untuk sekedar berjabat tangan dan bertanya beberapa hal terkait dengan pembangunan yang sementara berlangsung dan rencana perhelatan Pemilukada tahun depan. Senyumnya tak pernah reda sepanjang proses jabat tangan dan menjawab pertanyaan yang ditanyakan warganya.

Seorang lelaki berumur paruh baya duduk sedikit jauh dariku sedang bersandar di tembok, juga banyak disapa oleh jamaah. Penampilannya sangat sederhana untuk ukuran seorang pejabat di kabupaten. Juga tak hentinya membagi-bagikan senyumnya pada segenap yang hadir di masjid itu. Menurut pak Dody, beliau adalah calon wakil bupati pada perhelatan pemilukada tahun depan, tahun 2018. Sosok sederhana yang saat ini menjabat sebagai pimpinan di salahsatu kantor di kabupaten ini.

Usai santap siang mengisi kampung tengah yang sedari tadi mencubit-cubit, kami beranjak hendak menemui beberapa kepala desa yang tengah mengerjakan beberapa program sharing yang kami gagas bersama.

Di ujung kampung yang tadi kami lewati berjejer lapak-lapak penjual langsat yang mulai rapi setelah ditata sedari pagi. Kami mampir sebagaimana janjiku pada pak Dody.

Menyesap langsat manis sembari rehat sejenak dan menikmati keindahan alam sejauh mata memandang. Bukit-bukit cengkih berpadu dengan barisan nyiur melambai-lambai, seakan menggodaku dan mempersaksikan dirinya. Inilah aku kekayaan negerimu yang tiada tara, bersyukurlah padaNya. Jangan utak-atik ketenangan kami dengan berbagai pikir culas atas nama politik dan demokrasi.

Di tengah asyiknya kami menikmati segala rupa kasih Tuhan di tepi kampung berbukit rerimbun pohon cengkih, seorang ibu tua menjelaskan bila hasil cengkih dan tumbuhan lainnya itulah yang menyekolahkan anaknya di kota. Anaknya lima orang. Empat perempuan satunya pria. Dua dari lima anaknya telah bekerja. Yang paling sulung bekerja sebagai perawat di salahsatu Puskesmas di kampung sebelah dan telah dipersunting oleh rekan sejawatnya di Puskesmas yang sama. Satunya lagi pegawai di kantor kecamatan di kota terdekat dan telah terangkat sebagai ASN (Aparat Sipil Negara).

Di kampung kami ini, sepanjang mata memandang yang topografinya berbukit-bukit dipenuhi dengan pepohonan cengkih dan kelapa, selebihnya buah langsat. Alhamdulillah tahun ini, hampir semuanya bersamaan berbuah. Inilah waktu yang kami sebut panen yang betul-betul raya, sebab kami mengupah orang-orang dari kampung-kampung nun jauh untuk memetik cengkih di panen raya ini.

Bukit-bukit cengkih itu adalah anugerah Tuhan yang kami sangat syukuri, ujar ibu tua itu lagi melanjutkan penjelasan singkatnya. kampung kami kampung damai. Seluruh perhatian kami hanya tertuju pada pengeleloaan kebun yang subur ini. Mudah-mudahan kondisinya tetap bertahan hingga anak-anak cucu kami kelak, imbuhnya menutup percakapan ringan kami. Di tengah-tengah cuaca terang benderang dan angin sepoi yang tak hentinya berhembus hingga ke relung-relung hati kami, menyejukkan dan mendamaikannya.

Kasih Sayang yang Raib

Hari ini, hujan sedari pagi hingga jelang siang seperti gayung bersambut dengan kehadiran kabut yang seolah tak hendak menjauh dari kawasan tempat kami mengais nafkah. Tempat kerjaku di ketinggian hampir seribu meter di bawah permukaan laut (DPL) selalu saja trauma dengan tanah longsor sepanjang jalan dari desa paling ujung dan paling bawah walaupun sangat jarang terjadi kecuali di desa-desa dan kampung-kampung tetangga. Hal itu yang banyak berpengaruh secara psikologis ke kami. karena memang perbukitan-perbukitan bertanah subur yang labil mengelilingi kami.

Siang itu, pimpinan kami di kantor baru saja usai berkeliling lapangan dan melintasi beberapa desa. Rupanya di salah satu pojok jalan tikungan, beliau memerintahkan sopirnya menghentikan kendaraan tatkala ia melihat seekor monyet yang di daerah sini dibilangkan, Yaki, sedang mengejar seekor anak kucing kerempeng. Tolong ambil anak kucing itu, dan bawa ke kantor. Sang sopir dengan bersusah payah mengusir Yaki itu untuk menyelamatkan anak kucing kerempeng tersebut.

Setiba di kantor, kawan-kawan sejawatku nampak heran dan melongo saling berpandangan. Ada yang berdesis, dari mana Boss itu memungut anak kucing yang kotor dan kudisan. Dan hendak diapakan. Setelah, anak kucing kerempeng itu dibersihkan dan mengobati luka yang dicakar oleh Yaki tadi, berceritalah sejenak kepada kami, tentang asal muasal anak kucing itu. bahwa, laku menyelamatkan kucing itu adalah spontan setelah melihat anak kucing kerempeng itu tak berdaya oleh kejaran dan cengkraman yaki yang jauh lebih besar dan kuat. Spontanitas lakunya adalah gerak kasih sayang yang naluria. Semua orang memilikinya, Cuma ada orang yang selalu berusaha memaksimalkan potensi itu dan ada pula orang yang mengabaikannya.

Rasa sayang itulah yang nampak tergerus di kehidupan khalayak ramai saat ini. Ia terhijab oleh ego yang menggunung menutupi hingga ke hati kecil kita. Tertutupi oleh ketakpedulian pada alam sekitar dan semesta raya. Dalam perspektif agama Islam, kasih sayang adalah ajaran utama dari seluruh muatan ajaranNya. Sebelum memulai pekerjaan apa saja kita diperintahkan memulainya dengan ucapan basmalah “bismillahirrahmanirrahim” dengan makna yang sangat filosofis “dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih dan penyayang” jadi, amatlah sangat kontras bila ada orang atawa sekelompok orang yang kerap melakukan kekerasan kepada sesama dengan mengatasnamakan Tuhannya yang maha pengasih dan penyayang.

Dalam tafsir Al Misbah, ketika mengurai surah Al fatihah, pada, Arrahmanirrahim, dari dua kata, Arrahman dan Arrahim, yang maha pengasih dan maha penyayang. Ketika seseorang membaca, Basmalah, seharusnya menghayati kekuatan dan kekuasaan Allah. Serta kasih sayangnya yang tercurah bagi seluruh makhluk. Kalau demikian itu yang selalu tertanam di dalam jiwa, maka pasti nilai-nilai luhur terjelma keluar dalam bentuk perbuatan. Karena, perbuatan merupakan cerminan dari suasana kejiwaan.

Jadi, bila kasih sayang Tuhan adalah diperuntukkan untuk seluruh makhlukNya, kenapa pula kita kerap menganeksasinya. Kemudian, kita berlaku banal dan kasar kepada sesama atau makhluk lainnya dengan mengatanamakanNya.

Beberapa dekade terakhir kita mwnyaksikan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama di negeri-negeri nun jauh mempertontonkan adegan yang tidak elok. Pemberontakan dan peperangan di mana-mana terjadi dengan pembunuhan massif anak-anak dan perempuan serta orang-orang yang tak tahu menahu kenapa ada perang di negerinya. Berimplikasi pada banyaknya manusia menjadi imigran dan mengungsi ke pelbagai negeri, kehilangan negeri yang dicintainya.

Yang paling terdekat dari negeri ini sebagai contoh adalah, pemberontakan di  Maringas, salah satu propinsi di Filipina. Sebelumnya, warganya sangat tenang menjalankan kehidupan sehari-harinya. Beragama dengan beragam keyakinan. Tapi, ketika sekelompok orang datang mentasnamakan agama ingin membentuk atawa mendirikan negara sendiri berdasarkan keyakinannya, dengan menggunakan kekerasan membabi-buta, maka hancurlah semuanya. Ketenangan dan kedamaian warga sekejap raib berubah huru hara menghancurkan segala. Dan yang pasti yang paling menderita adalah anak-anak dan perempuan. Masa depan anak-anak luntang lantung tak jelas arah entah mau kemana. Agama apa yang di usungnya sehingga gemar menebar ketakutan dan kehancuran. Tidakkah mereka tahu bahwa nabi yang katanya dijunjungnya adalah nabi welas asih. Tak berperang bila tak mempertahankan diri. Dalam perang pun kaidah-kaidah akhlakul karimah tetap dijunjungnya. Beliau melarang keras membunuh atawa melukai anak-anak dan perempuan. Kepada musuh yang sudah tak berdaya sekalipun mesti tak diserang lagi. Yang lebih damai dan menentramkan adalah, setiap kali peperangan akan dimulai, beliau mengingatkan pasukannya, bila dalam peperangan sekalipun ranting pohon takboleh dipatahkan kecuali dibutuhkan berkenaan dengan keberlanjutan kehidupan manusia. Sangat beradab bukan ? tak seperti sebagian orang-orang beragama di zaman now.

  1. Mustafa Bisri yang kerap disapa Gus Mus, memotret dan menyentil dengan keras fenomena Bergama kita di zaman now dengan amat indahnya ;

Ketika Agama Kehilangan Tuhan

 

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena agama

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun takpernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esesnsi Bergama telah dilupakan. Agama kini hanya komuditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah di dewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena taktahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.

 

Kucing yang dipungut oleh pimpinan kami di perusahaan tempat kami mengais nafkah, setelah berhari-hari mukim di kantor mulai nampak cerah, mulai berisi tak lagi kerempeng. Luka-lukanya telah tertutupi. Tanpa diperintah, kami bergantian merawatnya. Mulai dari memberi makan dari sisa-sisa penganan kami yang sengaja disisakan. Memandikan dan menghiasinya. Dari hal-hal kecil itu kami berusaha membangun komunikasi yang saling mengasihi dan menyayangi.

 

Sumber ilustrasi:    http://islamidia.com/12-ilustrasi-kasih-sayang-manusia-di-zaman-modern-ini-bikin-miris/w644-1/

 

 

Bekerja dengan Hati

Sepanjang jalan, senyap tidak seperti  biasanya bila aku melintas di jalan sekira dua ratus kiloan hingga tiba di kota Manado. Kali ini hujan pun sejenak jedah temani kami. Biasanya jalan-jalan ini cukup riuh oleh pengendara dengan berbagai jenis kendaraan dan dari berbagai arah.

Kami berempat menembus malam setelah menyudahi kerja-kerja di kantor, hingga senja dan sore datang menyambangi kami. Sepanjang jalan sembari menikmati suara emas Vina Panduwinata dan kawan-kawan, diskusi kami terus berlangsung, dan kali ini sedikit fokus dengan rencana kemitraan kantor kami dengan BP2LHK (Balai Peneltian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Manado. Berdasarkan proposal yang kami terima, kami akan support beberapa item pengadaan material  dan kegiatan pengembangan anoa yang untuk kantor BP2LHk Manado telah berjalan beberapa tahun lalu dengan sub unit kegiatan, Anoa Breeding Centre (ABC).

Anoa adalah mamalia terbesar dan endemik yang hanya hidup di pulau Sulawesi dan pulau Buton. Anoa merupakan satwa liar yang langka dan dilindungi undang-undang di Indonesia sejak tahun 1931 dan dipertegas dengan undang-undang No. 5 tahun 1990 dengan peraturan pemerintah No. 7 tahun 1999. Ada dua spesies anoa, yaitu: anoa pegunungan (bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (bubalus depressicornis). Kedua jenis ini tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Keduanya juga termasuk jenis yang agresif dan sulit dijinakkan untuk dijadikan hewan ternak (domestikasi). Kedua jenis ini dibedakan berdasarkan bentuk tanduk dan ukuran tubuh. Anoa dataran rendah relatif lebih kecil, ekor lebih pendek dan lembut, serta memiliki tanduk melingkar. Sementara anoa pegunungan lebih besar, ekor panjang, berkaki putih, dan memiliki tanduk kasar dengan penampang segitiga. Penampilan mereka mirip dengan kerbau, dengan berat tubuh 150-300 kilogram dan tinggi 75 centimeter. Saat ini konservasi anoa difokuskan pada perlindungan terhadap kawasan hutan dan penangkaran. Banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kerdil.

Sejak tahun 1986 hingga 2007, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan anoa sebagai satwa terancam punah (endangered species). Populasi anoa diperkirakan kurang dari 2.500 individu dewasa dengan perkiraan laju penurunan populasinya di alam selama kurang lebih 14-18 tahun terakhir mencapai 20%. Berdasarkan peta sebaran anoa ditambah dengan fakta populasinya saat ini di alam, distribusi anoa di Sulawesi khususnya bagian utara, cenderung mengalami penurunan populasi dengan laju yang sedikit lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lainnya di Sulawesi. Hal ini dibuktikan di beberapa kawasan konservasi di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang dan CA. Manembo-nembo, anoa telah dinyatakan punah lokal. Hal ini dibuktikan di beberapa kawasan konservasi di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang dan CA. Manembo-nembo, anoa telah dinyatakan punah lokal. Dalam lima tahun terakhir populasi anoa menurun secara drastis. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulit, tanduk dan dagingnya. (Sumber : Wikipedia dan buletin ABC).

***

Dalam obrolan kami di sepanjang jalan, sesekali jedah karena kami tertidur mengikuti ritme alam yang mengantar malam semakin larut. Hingga setelah menempuh perjalanan sekira empat jam lamanya kami tiba di mess kantor jelang dinihari. Kami bergegas menemui peraduan sua mimpi masing-masing.

Keesokan harinya bahan-bahan telah kami siapkan untuk pertemuan pertama hari ini dengan tim Anoa Breeding Centre (ABC). Sekira setengah jam kemudian kami tiba di kantor BP2LHK yang sekaligus satu kompleks dengan secretariat ABC. Kami disambut dan diterima dengan ramah oleh kepala balai dan tim ABC. Pertemuan berlangsung santai dengan suasana informal. Kepala balai menjelaskan secara umum fungsi dan peran balai dan dilanjutkan penjelasan tentang penangkaran anoa yang telah mulai punah oleh beberapa orang dari tim ABC yang expert di bidang masing-masing. Setelah meeting dan ramah tamah sejenak kami pun diajak berkeliling di area penangkaran anoa.

Dari tim ABC ini, empat orang diantaranya mendampingi kami mengelilingi kantor dan sekretariat yang luasnya lebih dari sembilan hektar. Penangkaran dibagi menjadi enam tempat dengan fungsi masing-masing dari lokasi mengawinkan mamalia liar ini hingga area persiapan melahirkan. Dari tim itu ada yang menjelaskan menejemen pengelolaan penangkaran hingga penangkaran secara teknis yang diketuai oleh seorang dokter hewan. Kurang lebih satu jam kami mengelilingi area penangkaran ini. Dari komunikasi dan diskusi yang sangat intens itu, aku sesekali membatin menikmati keahlian di bidangnya masing-masing. Dari empat orang anak muda yang mengantar kami, inilah mungkin yang kerap dibilangkan oleh para pakar motivator di bidang manajemen bahwa bila ingin sukses dan melebihi kerja-kerja orang lain dalam menekuni sebuah tanggung jawab yang diberikan kepada kita maka libatkanlah hatimu dalam bekerja. Sepanjang jalan mengelilingi area penangkaran itu, di samping suasana adem dari rerimbun pohon yang meneduhkan, mereka juga nampak bekerja dengan sangat expert dan melayani kami dengan sangat baik.

Adven Simamora, demikian nama seorang perempuan muda nan cantik berkulit putih, dengan suara lembut memanggil-manggil nama induk dan anak anoa yang seolah memanggil sahabatnya. Anoa itu keluar dari rerimbun semak dan pohon lalu mendekati, Adven dokter Hewan yang masih berusia muda itu. Kala mendekat Anna dan Anni (nama induk dan anak Anoa) dielus-elusnya kepalanya dan seolah dua mamalia yang agresif ini tunduk dan menunggu perintah dari sahabatnya untuk mengerjakana apa saja. Menyaksi dua mahluk yang berbeda berkomunikasi dengan apik, aku sedikit terhenyak, pemandangan ini hanya kerap aku saksikan dalam pertunjukan sirkus.

Dalam diskusi kami selanjutnya, lebih detail dokter hewan Adven Simamora menjelaskan bahwa hewan-hewan liar dan agresif itu memang kuperlakukan sebagai keluargaku sendiri. Pra melahirkan hingga lahiran akulah yang merawatnya sepenuh hati, bila tak seperti itu mustahil kami bisa sukses mengembangbiakkan mamalia liar dan agresif ini. Kami di sini di tim ABC, harus bekerja dengan hati sebab yang kami pelihara dan rawat adalah mamalia liar dan agresif.

Menurut, Agus Hermawan, Memenej hati dalam bekerja, dia adalah sebuah proses kegiatan seseorang untuk mengelola, reconditioning dan mengatur hati sehingga dapat mencapai kesempurnaan manusiawi (insan kamil) dan berusaha merealisasikan dalam pekerjaan untuk kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat sesuai tuntunan spiritualitas agama.

Cukup lama kami berbincang sepanjang jalan mengelilingi area penangkaran anoa ini, hingga jelang sore barulah kami berpamitan hendak bergegas kembali ke tempat tugas. Hanya sekira beberapa jam bersama mereka namun serasa kami telah akrab seperti kawan yang telah lama berteman. Itu mungkin karena kami datang dengan hati dan mereka menyambut kami dengan hati pula.

 

Musim Pemilukada

Memasuki tahun 2018, bermunculan orang-orang nampak saleh. Diliput media maenstream hingga media abal-abal. Diberitakan oleh hampir semua Medsos. Mengurai tutur kata yang elok di waktu dan ruang hampir tak berbatas, yang sebelumnya tak pandai sedikitpun mengolah kata. Berpakaian nampak bak’ orang saleh dan saleha. Rajin mengunjungi tempat-tempat kumuh. Rajin mendatangi sentra-sentra berkumpulnya orang banyak. Yang tak kalah pentingnya senyumnya hampir tak pernah katup disungging terus menerus hingga masuk ke ruang-ruang mimpinya.

Itulah fenomena Pemilukada (Pemilihan Umum Kepala Daerah). Ada yang membilangkannya pesta demokrasi, tapi ada pula yang menolak pemakaian kata pesta dalam Pemilukada. Sebab, pesta dalam substansi maknanya adalah perjamuan dalam suka cita dan suka ria. Sedangkan fenomena di setiap perhelatan demokrasi di negeri ini, apakah itu Pemilu, Pemilukada, dan pemilihan Presiden dan wakilnya, sarat kekerasan, kebencian, dan fitnah. Banalisasi sepertinya massif terjadi dalam setiap perhelatan demokrasi di semua level.

Baru saja mendaftar diri di KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai Paslon Bupati, Walikota, dan Gubernur, eh.. belum ditetapkan sebagai kandidat tetap peserta Pemilukada, sudah OTT (Orang Tangkap Tangan) oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Fenomena beruntun yang seolah tak hendak berhenti bak’ jamur di musim hujan, hampir setiap pekan ada kandidat calon bupati dan gubernur  yang OTT, sehingga ada yang membilangkannya negeri ini darurat korupsi.

Telah banyak analisis oleh para pakar dan seolah-olah pakar berkenan dengan korelasi antara pemilu-pemilukada dengan korupsi. Tingginya biaya yang harus dikeluarkan para Paslon membuatnya rentan melakukan korupsi. Menurut pengamat politik dan Dirjen Otoda Kementerian Dalam Negeri, estimasi pengeluaran setiap Paslon dalam perhelatan Pemilukada kabupaten/kota diperkirakan mencapai angka 15 milyar hingga 30 milyar. Sedangkan Pemilukada di level propinsi membutuhkan dana antara 30 milyar hingga 100 milyar. Sebuah angka yang sangat spektakuler bila dibandingkan penghasilan mereka setelah terpilih menjadi Bupati/Walikota dan Gubernur kelak. Jadi, nampaknya haus kuasa kerap menjauhkan kita dari rasionalitas dan budi baik.

Beberapa tahun terakhir ini, pelaksanaan Pemilu dan Pemilukada menuai banyak sikap negatif mewarnai pergumulan hidup khususnya di dunia Medsos (Media Sosial). Para Paslon, tim pemenangan, dan simpatisannya secara massif menabur duri melukai budi pekerti dan kemanusiaan. Terlalu mudah merakit bom fitnah untuk melukai kontestan calon lainnya. Menebar berita hoax hingga ke bilik-bilik mimpi warga. Yang aneh, karena mereka kerap menggunakan pesan-pesan agama untuk menfitnah, menghardik, dan bahkan mengancam.

Agama yang mestinya sebagai pemantik damai, penyemai kasih sayang, dan menyebar cinta, menjadi kering kerontang dan bahkan menakutkan. Manjadi antitesa dari substansi agama itu sendiri sebagai penebar kasih sayang dan cinta, rahmatan lilalamin. Kita dibutakan oleh kuasa dinia, oleh kebencian yang akut. Padahal, semua yang ikut “berlaga” di dalamnya adalah para “cerdik pandai” orang-orang yang paham agama. Bahwa fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan. Kebencian akan mengotori hati dan mejauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Tapi, realitasnya kita sangat massif terlibat dalam menebar kebencian dan fitnah. Bila sudah seperti itu masih layakkah kita mengaku sebagai pengikut Muhammad Nabiullah SAW? Yang sangat pengasih dan penyayang. Nampaknya, karena pilihan di Pemilu dan di Pemilukada hati kita katup tak terpa cahaya kebajikan. Ia bergumul dengan gulita yang sangat pekat.

Rasionalitas dan budi pekerti tak berfungsi kala masuk di gelanggang politik, karenanya kemudian ada yang menjudge bahwa politik itu licik dan bahkan kejam. Katanya lagi, di politik tak ada teman yang abadi yang ada adalah kepentingan yang abadi. Padahal, banyak negeri yang mempraktekkan proses demokrasi dalam politik, dan negerinya tetap baik dan sejahtera, karena mereka mengasumsikan bahwa politik untuk memperbaiki keadaan negeri. Membangun dan menata negeri sesuai azas kebajikan universal yang kerap menjadi visi misi para Paslon. Tapi, apa lacur semua janji-janji yang telah dihambur ke publik kala kampanye dan debat publik hanya sebatas janji tanpa realisasi setelah mereka terpilih. Maka, tinggallah para pemilih gigit jari sembari mimpi buruk sepanjang hidupnya, dan akhirnya menuai kehilangan trust pada proses-proses demokrasi, menjadi warga yang apatis, dan labil.

Sejatinya, hasil dari seluruh proses politik yang melelahkan itu untuk siapa? Itu pertanyaan yang mesti dijawab sepenuh hati oleh segenap petarung dalam proses demokrasi itu. karena bila pertanyaan di atas tidak terjawab dan teraktualisasi setelah kemenangan diraih, maka lihatlah hasilnya kini, koruptor merajalela di kalangan para pemenang kontestasi. Jelang pemilukada kali ini, seperti yang riuh diberitakan para kandidat pemerintah daerah khususnya para petahana  terjerembab ke lembah nista. Proses penggarongan uang rakyat berlangsung secara berkesinambungan. Yang aneh dan mungkin lucu adalah para petahana yang OTT oleh KPK masih ngotot pula untuk tetap maju dalam pertarungan Pemilukada. Hendak ke mana bangsa dan negeri ini hendak menuju ? wallahu a’lam.

Tahun 2018 ini, kita akan memasuki musim Pemilukada. Pemilukada akan berlangsung pada 27 Juni, di 171 Daerah di seluruh negeri. 17 propinsi, 39 Kota, 115 Kabupaten. Dengan anggaran dari negera berkisar 11,4 trilyun. Musim pemilukada akan datang lagi menyambangi rakyat sebagai pemilik tunggal suara pada perhelatan itu. semoga para kandidat dapat bertarung secara elegan dan dapat memenuhi janji-janjinya kala kampanye dihelat. Melihat proses yang sudah-sudah walau masih pesimis dan getir, semoga Pemilukada kali ini dapat menghasilkan pemimpin daerah yang amanah dan lebih baik.

“Akhirnya aku menemukan apa yang selama ini kucari. Sebut saja cinta dan seks, atau bisa juga ejakulasi hati nurani. Dan itu aku dapatkan di sebuah kamar gelap bernama politik” (Tandi Skober

Sumber gambar: Gogle

 

 

 

 

 

Dana Desa untuk Desa

Perjalananaku kali ini mengelilingi desa-desa di daerah pesisir Sulawesi Utara setelah matahari meranjak, menghampiri posisi tegak lurus persis ketika cahayanya menerpa ubun-ubun. Panasnya menyengat kulitku setelah hampir sepekan di akhir September ini tak dijamah hujan. Pohon-pohon nyiur daunnya melambai di hampir semua hamparan daratan tinggi sepanjang jalan nyaris tak bersela sebagai ciri khas daerah ini. Jalan-jalan masih lengang walau matahari telah meninggi sebab kawasan ini penduduknya belum sepadat daerah lain. Sehingga ada pameo di daerah ini, bahwa hanya orang malas saja yang tidak bisa hidup layak.

Tiba di desa yang kutuju, warga baru saja keluar dari masjid setelah melaksanakan salat berjamaah. Dari kejauhan seorang kepala desa yang lazim dibilangkan sangadi di daerah ini, yang hendak kutemui melambaikan tangan dan memberi isyarat mempersilahkankanku memasuki rumahnya. Bersama dua sejawatku kami duduk di teras rumah sangadi sembari berangin-angin, sedikit menggerus penat setelah berkendara selama lebih dari satu jam. Kami berbincang lepas berbasa-basi sebelum masuk ke inti pembeicaraan.

Setelah menyampaikan hajat kami, bahwa kami akan melakukan assessment untuk pengalokasian anggaran CSR (Corporate Social Responsibility) dan sinkronisasi dengan program-program yang akan dibiayai oleh alokasi anggaran ADD (Alokasi Dana Desa) yang tahun ini rate anggaran di kabupaten ini untuk setiap desa mulai dari tiga ratus juta hingga satu milyar. Sebuah angka yang cukup banyak untuk sebuah desa. Belum lagi proyek-proyek langsung dari pusat, propinsi, dan kabupaten. Para sangadi pun telah berkali-kali dibekali pengetahuan tentang pengeloaan anggaran tersebut, baik yang bersifat substansi maupun praktek-praktek manajemen dan pengelolaan keungan dengan berbagai jenis pelatihan di daerah hingga ke berbagai tempat serta setudi banding dan sejenisnya. Jadi, sesungguhnya tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa mereka tidak paham. Sebab, bukan saja sangadinya tapi juga para perangkat desa telah mendapatkan pelatihan dan bimbingan teknis secara berkala dari berbagai nara sumber.

Namun, setiap kali kami mendiskusikan tentang alokasi dana desa nampak sangadi melempar jauh pandangnya menerawang tanpa batas. Suatu waktu, kala kutanya tentang mimiknya itu, dia bercerita dengan perasaan gundah, bahwa sejak dana desa dikucurkan kami sering didatangi orang-orang yang mengaku LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan wartawan dengan berupa-rupa gertakan dan ancaman, tapi ujung-ujungnya mereka meminta uang transportlah, uang makan diperjalananlah, dan berbagai macam peruntukan untuk kepentingan pribadinya. Aku, menenangkannya dengan cerita pengalaman kala aku menjabat sebagai ketua komite sekolah di sekolah tempat anakku belajar. Kami dan kepala sekolah kerap “diteror” dengan oknum-oknum serupa yang mengaku wartawan dan LSM, dan kami tidak menggubrisnya kerap pula kami “melawannya” bila mereka terlampau melampaui batas dan kurang ajar dengan ancaman-ancaman yang cukup kasar.

Barulah Bapak Sangadi sedikit lega dan nampak matanya berbinar kembali setelah kami berbincang cukup panjang dan menyemangatinya, bahwa selama Pak Sangadi tidak melakukan kesalahan dan penyimpangan barjalan dan lakukan saja sesuai peruntukan dan tertib administratif. Insha Allah semua akan berjalan lancar dan lima tahun kemudian kita akan melihat desa ini akan berkembang pesat, kataku santai namun tegas dan pasti. Nampak gesture tubuh dan wajah sangadi bersemangat dan cerlang kembali. Sebab, filosofi undang-undang Republik IndonesiaNo.6 Tahun 2017 Tentang Desa (Hasil Revisi),   adalah proses pemberdayaan desa beserta warga dan seluruh perangkatnya. Agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Melakukan sebuah perubahan yang cukup fundamental tidaklah cukup dengan niat baik, tapi perlu kerja keras dalam mengawalnya apatahlagi bila melibatkan orang banyak yang sangat heterogen dalam semua hal. Melakukan evaluasi berkala dalam menampung semua kritik dan masukan selama proses menjalankan sebuah program yang prestisius untuk penyempurnaan-penyempurnaan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat terkini.

Setelah beberapa tahun berjalan dan telah dikucurkan anggaran puluhan triliun di sekitar 74 .000 Desa, telah ditengarai terjadi penyimpangan atawa bermasalah dengan berbagai modusnya dikurang lebih 900 Desa di seluruh negeri.

Jadi, evaluasi tentang penyelenggaraan program dana desa adalah keniscayaan. Dari sistem administrasi hingga pelaksanaan program-program di lapangan. Sebab, memang menjadi sangat rawan karena ADD yang dikucurkan di desa, nantinya tidak akan berjalan sendiri tapi juga ada program-program lain termasuk dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut sebagai partisipasi dan tanggung jawab sosial perusahaan kepada desa dan warga yang juga diatur dalam undang-undang. Karenanya sinkronisasi program-program juga menjadi keniscayaan. Sebab, bila hal ini tidak dilakukan dan dikawal dengan  baik maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi double fund hingga melahirkan korupsi dari salah satu anggaran yang usulan dananya kembar.

Dalam perjalananku kembali ke kediamanku, di sepanjang jalan aku menghayal bila anggran-anggaran yang turun ke desa saat ini di kelola dan di menej dengan bagus alangkah majunya negeri ini, sebab desa memang adalah front line pelayanan pembangunan untuk warga negara. Desa adalah basis paling bawah, langsung bersentuhan antara penyelenggara negara dengan warganya. Makanya pula penentuan kepala desa di sebuah desa dilakukan dengan pemilihan secara terbuka dan demokratis agar warga dapat memilih kepala desanya secara langsung dan yang terbaik dari seluruh warga yang ada.

Berkenan dengan semua hal di atas cobalah kita kembali menengok sedikit, apa sesungguhnya yang di maksud desa. Bahwa, kata desa berasal dari bahasa sanskerta yakni “dhesi” yang bermakna tanah kelahiran. Istilah dhesi telah digunakan sejak tahun 1114 M yang ketika itu Indonesia hanya terdiri dari beberapa kerajaan saja. Dan Indonesia secara de yure belum ada. Bila desa secara substansial bermakna tanah kelahiran, maka ia mesti dijunjung tinggi dan membangunnya secara bersungguh-sungguh penuh tanggung jawab. Bukankah kita akan bangga bila tanah kelahiran kita berkembang dan berperadaban baik dan maju.

Semoga seruak dana yang melimpahi desa-desa di negeriku menjadi titik awal perkembangan desa dan negeriku kelak. Mengawal lahirnya peradaban yang memanusiakan manusia.

Kampung di atas awan, Desember 2017.

Korupsi Lagi

“Walaupun esok langit akan runtuh, hukum harus tetap ditegakkan”

(Baharuddin Lopa, 27 Agustus 1935 – 3 Juli 2001)

 

Dalam sebuah waktu jedah di kantor, kawan-kawan sejawat sedang ramai mendiskusikan fenomena korupsi yang semakin meriuhi jagad media, sembari santap siang bersama. Mereka masing-masing aktivis di masa kuliah di kampus dulu, dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dalam diskusi santai itu di antaranya ada yang nyeletuk, tuh Pak Rasyid sekampung dengan Pak Bahruddin Lopa. Sebab, dalam perbincangan santai itu mereka mencari sosok penegak hukum yang cerdas dan tangguh serta menafikkan semua rasa takutnya. Mereka setuju bahwa hingga kini setelah bertahun-tahun lembaga rasua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) itu berdiri dan mengejar para koruptor, ternyata kita belum menemukan sosok seperti, Pak Baharuddin Lopa yang kapasitas dan keberaniannya berimbang.

Maka, aku bercerita sedikit pada kawan-kawanku itu tentang Bapak Baharuddin Lopa yang saya ketahui, sebab malu juga bila aku didaulat sebagai orang sekampung dengannya tapi taktahu sedikitpun tentang beliau.

Pertengahan tahun delapan puluhan, kala itu aku masih duduk di semester empat. Aku diberi undangan seminar tentang hukum dan pelaksanaan proyek di pemerintahan oleh seorang senior. Aku lupa waktu tepatnya, tapi seminar itu dilaksanakan di fakultas teknik kampus baraya Unhas. Dengan suaranya yang berat aku mengikuti pembicaraannya yang tak sedikit pun terdengar gentar dan roman muka yang ragu atawa takut kala beliau menyampaikan kritik pedas pada penguasa tentang penegakan hukum kala itu, ketika rezim orde baru dalam posisi kuat-kuatnya dan sangat represif. Salah satu kalimat yang tak bisa kulupakan adalah, bila penegakan hukum pada koruptor ingin ditegakkan tanpa pandang bulu di negeri ini maka pesiapkanlah LP (Lembaga Pemasyarakatan) seratus kali lipat dari yang ada sekarang ini, itupun belum tentu tertampung semuanya. Artinya, Baharuddin Lopa yang kerap di pendekkan namanya menjadi Barlop, sudah memahami betapa kronis dan menyedihkannya kondisi negeri ini berkenaan dengan perlakuan korupsi warganya. Dari hulu hingga ke hilir, dari pungli dan gratifikasi skala kecil hingga para garong berdasi di level-level elit.

Di zaman beliau menjabat kepala kejaksaan tinggi Sulawesi Selatan, para koruptor dibuatnya ketar-ketir di daerahnya. Beliau memenjarakan seorang pengusaha kakap di Makassar yang di kenal sangat dekat dengan penguasa termasuk istana kala itu. kala pendukungnya khawatir, beliau tetap tegar setegar karang yang kokoh tak terusik dengan prinsip yang senantiasa ia dengungkan pada khalayak “kendati kapal akan karam, tetap tegakkan hukum dan keadilan.”

Dalam mengawal penegakan hukum, Barlop nyaris tak punya rasa takut kecuali kepada Allah yang mendasari keberaniannya. Dirinya telah ia gadaikan pada hal penegakan hukum dan keadilan di negerinya. Hingga kini, ia menjadi teladan bagi orang-orang yang berani melawan arus kebobrokan serta pengaruh kapitalisme dan neoliberalisme dalam hukum. Ia mewariskan sikap mulia bagi penegakan hukum dan keadilan tanpa pandang bulu bagi bangsanya.

Perlahan tapi pasti sinyalemen yang pernah disampaikan oleh almarhum Barlop semakin terkuak kebenarannya. Korupsi semakin menggurita, hampir setiap saat kita menyaksikan para pejabat negara silih berganti memakai rompi oranye dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Menurut data dari kantor KPK, hingga tahun 2016 saja para pejabat daerah sudah 18 Gubernur dan 343 Bupati/Walikota telah dibui karena kasus korupsi. Di tahun 2017 hingga bulan September terjerat hukum kasus korupsi, 1 Gubernur dan 4 Bupati/Walikota menjadi tersangka. Dan yang lebih mengagetkan, mengawali tahun 2018, terjerat lagi gubernur Jambi dan bupati Jombang. Semua ini belum terhitung para menteri, Dirjen dan setingkatnya, Sekda dan para kepala dinas dan setingkatnya, hingga sampai ke bawah-bawahnya. Pun para pengusaha serakah yang selalu memenangkan tender dengan cara pat gulipat bersama para politisi dan oknum pemerintah.

Menurut Ranu Wiharja, deputi pengawasan internal dan pengaduan KPK, bahwa fenomena korupsi yang berlangsung dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Telah bermetamorfosa, yang pada awalnya korupsi hanya dilakukan oleh ASN (Aparat Sipil Negara) secara massif dengan alasan untuk mempertahankan hidup karena gaji mereka kecil maka pungli atau sejenis korupsi lainnya dilakukan untuk menambah biaya hidup yang minim. Kemudian berkembang ke pelaku usaha atawa pebisnis yang bukan untuk mempertahankan hidup tetapi karena serakah. Lalu merambah pula ke para politisi, korupsi berkembang biak dan massif untuk mempertahankan jabatan dan posisinya. Maka, lengkaplah sudah setelah bemetamorfosa dari hulu hingga ke hilir. Bila melihat fenomena dan realitasnya, bangsa ini telah menghampiri titik nadir, semua tak terkatakan lagi.

Bila melihat kembali tapak tilas para tokoh dan elit di kekinian, nampaknya bangsa ini krisis keteladanan. Di hampir semua segmen kehidupan mengalami krisis yang akut apatah lagi di level elit. Para elit asyik memperkaya diri dengan jalan tak lazim, menggerogoti negerinya bak tikus pemangsa tak jera. Harta, kuasa, dan mungkin syahwat membusukinya.

Keteladanan Barlop nyaris tak ditemukan lagi. Suatu waktu, Goenawan Mohamad, sebagai pendiri dan pengasuh majalah mingguan tempo yang sohor itu, bercerita tentang dirinya. Barlop menelponnya, bila ia ingin mengirim tulisan artikel ke majalahnya, tapi Barlop minta dibayar duluan honornya, sebab ia ada keperluan mendadak untuk dibayar, padahal kala itu beliau telah menjabat Dirjen Lembaga Pemasyarakatan yang berarti orang kedua setelah menteri di sebuah departemen kementerian. Konon, Goenawan Mohamad kala itu tak bisa menahan rasa harunya dan langsung mengiyakan dan takmau bicara lebih lama lagi. Padahal, media yang diasuhnya sangat ketat menerima sebuah artikel dari mana pun juga. Dan selanjutnya, diketahui artikel tersebut diedit langsung oleh GM sapaan akrab Goenawan Mohamad untuk dapat lolos di dewan redaksi. Ketika menjabat Dirjen, beliau tak mau menggati kendaraan dinasnya walaupun telah dipaksa oleh menteri, ia enjoy saja dengan mobil dinas kijang bututnya buatan tahun delapan puluhan. Bahkan di rumah pribadinya, istri yang ia kasihi juga membuka usaha kecil-kecilan berupa warung telepon (Wartel) untuk menambah biaya hidup keluarganya.

Jelang pukul satu waktu kantor kami, obrolan ringan kami sudahi. Kami masing-masing kembali ke meja kerja melanjutkan tanggung jawab yang kami emban. Sembari berdoa, semoga negeri tercinta ini menemukan orang-orang yang dapat diteladani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kata, Plato, keadilan, kebenaran, dan kebebasan, itulah pangkal dari kebahagiaan. Rawatlah ketiga unsur itu untuk kebahagianmu dan kebahagiaan kita.

 

sumber gambar: tirto.id

Silariang

Waktu field break-ku di kantor kali ini cukup membahagiakan. Sebab, selain kebahagiaan yang ditaburkan keluargaku, dengan kelahiran cucu pertama dan lamaran untuk putri ke-tigaku. Juga karena tayangnya sebuah film besutan putra daerah yang bercerita tentang peristiwa lokal Makassar yang cukup sensitif, SILARIANG, Cinta Yang (Tak) Direstui. Salah satu aktornya cukup dekat denganku dalam artian yang sesungguhnya meskipun beliau bukanlah saudara atawa keluarga satu darah tapi secara psikologis lebih dari segala embel-embel itu. Dia keluarga, adik, dan juga sahabat. Dia yang banyak memotivasi saya dalam berkarya di dunia penulisan walaupun sesungguhnya hal ini sudah lama saya tekuni sebelum sua beliau secara intens.

Beberapa kali dia bercerita tentang film-nya itu, baik kualitas maupun alur cerita yang menarik dan cerita tentang perannya di film itu. Mungkin karena dia tahu bila aku memang penikmat film sejak masa kanakku. Tapi, yang dia lupa bahwa hampir semua film hasil kreativitas anak bangsa apatah lagi karya anak-anak sekampung pastilah aku menyisipkan waktu dalam kesibukanku untuk menyaksikannya. Bahkan bila tak sempat kudapati di bioskop pertunjukannya karena kesibukanku di rantau mengais nafkah, maka suatu saat akan kucari cakramnya untuk kunonton di rumah.

Kembali ke film “Silariang” yang di bintangi sahabatku itu. Substansi ceritanya, siapa pun yang membuat film-nya pasti sama. Jadi, tidak bisa ada yang mengklaim bahwa kisah itu adalah miliknya, sebab cerita dan peristiwa ini adalah cerita rakyat yang sangat mengakar di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Bagi warga Makassar dan Sulawesi Selatan umumnya yang lahir di tahun enam puluhan dan tujuh puluhan, kemungkinan masih kerap menyaksikan langsung peristiwa pembawa aib bagi keluarga ini. saya pun, dalam sebuah buku kumpulan tulisan tentang Makassar Tempo Dulu telah menuliskannya. Sebuah cerita tentang Silariang, jauh sebelum dua film dengan judul yang sama dibesut oleh para sineas Makassar ini. Substansi kisahnya sama tapi alurnya bisa berbeda. Sepasang kekasih kawin lari oleh penyebab bisa berbeda, ada to masiri’ dan to mappasiri, ada proses a’baji’. Ada proses mappaoppangi tana, dll. Isi atawa substansi ceritanya tak jauh dari situ. Yang berbeda-beda dalam setiap kisah atawa kejadiannya adalah alur ceritanya.

Secara keseluruhan film “SILARIANG, Cinta Yang (Tak) Direstui” ini, sangat menarik, dari sisi pengambilan gambar, akting para pemain yang terlibat, kecuali yang berperan sebagai Ibu yusuf atau Ucu. Saya tidak bisa menguraikannya apatah lagi bila memasuki perasaan seorang Ibu di kalangan Bugis-Makassar, jauh sekali. Seorang Ibu di Bugis-Makassar adalah figur penyayang, penuh cinta kasih, romantik, terkhusus untuk keluarga kecilnya. Selebihnya, film ini memuaskan dahaga kami sebagai penikmat film. Bahkan, dalam satu adegan kala Ibu Sulaikha membaringkan anaknya di pangkuannya lalu menyanyikan lagu “Ininnawa Sabbara’e” aku dan istriku saling memandang sejenak sebab kami spontan bersamaan mengelus tebing-tebing pipi yang mulai renta. Di adegan dan lagu itu membawa emosi kami ke masa lampau, masa kanak kami di tanah Bugis kala Ibu menina-bobokkan kami di pangkuannya dengan lagu yang sama. Ah.. kami betul-betul menangis.

Di sela-sela adegan serius yang nyaris tegang, diselingi pula dialog-dialog jenaka yang berkualitas, tidak sekedar melucu tapi ia menyampaikan pesan-pesan bajik pada penonton. Ada pula sedikit yang mengganggu pendengaranku, kala Sese Lawing yang berperan sebagai Puang Ridwan, paman Sulaikha, kala menutur pesan-pesan tu riolo orang Bugis tentang siri dan keperibadian, beliau kurang pas dalam dialek Bugisnya. Memang pada sisi itu perlu latihan yang lebih serius dan intens. Sesungguhnya, hal ini terasa bila kita betul-betul meresapi makna yang ditutur dalam bahasa Bugis yang sarat pesan filosofis itu. Selebihnya, Sese berakting sebagai paman to masiri’ dengan sangat bagus. Eee terlalu jauh saya berkomentar tentang film-nya padahal saya bukanlah kritukus film, hehe.. hanyalah seorang yang sedari kanak kerap di bawah orang tuanya nonton di bioskop, alias jadi hobi dan penikmat film.

Satu lagi yang membuatku amat suka dengan film ini, kru filmnya berhasil mengeksplorasi keindahan kampung halamanku di kabupaten Maros. Sebuah destinasi wisata yang belum terlalu lama dikembangkan oleh warga masyarakat dan pemerintah. Rammang-rammang namanya, yang terdiri dari beberapa kampung di dalamnya. kawasan ini di kelilingi oleh perbukitan kars (batu kapur) termasuk di sebuah alur sungai menuju dermaga. Sebuah kawasan pegunungan kars yang konon dikatakan sebagai gunung kars terluas di dunia setelah Tsingy di Madagaskar dan Shilin di Tiongkok China. Oleh sebab itulah UNESCO menetapkannya sebagai situs Word Heritage terhitung sejak tahun 2001.

Rammang-rammang berasal dari kata rammang yang berarti awan atau kabut. Sehingga warganya menyebutnya rammang-rammang atau sekumpulan awan atawa kabut. Menurut warga di sana, penamaan ini diberikan berkenaan dengan suasana kampung ini ketika pagi hari atawa saat hujan turun maka kawasan ini akan dipenuhi awan atau kabut.

Lokasi wisata Rammang-rammang yang terdiri dari gugusan pegunungan kars yang terbentang seluas 45.000 hektare  bersambung dengan taman nasional Bantimurung. Dan dari keseluruhan luas kawasannya terbagi menjadi dua kompleks taman hutan batu, yakni, Desa Salenrang dan Desa Berua, dan kedua Desa ini suasananya tak jauh berbeda. Bukan hanya pegunungan kars dan kampungnya yang memesona, tapi juga sungai Pute yang menyambungkan antara desa Salenrang dan Desa Berua masih berpanorama asri di samping kiri kanannya. Tumbuhan mangrove-nya masih mengundang damai kala melintas dan memandangnya.

Muhary Wahyu Nurba, nama beken sahabatku ini, mengajakku nonton di gala premier film yang dibintanginya itu, SILARIANG, Cinta Yang (tak) Direstui. Padahal hari itu bersamaan dengan aqiqah cucu pertamaku. Karena masih ada sela beberapa jam dari pertunjukan maka kusempatkan untuk datang walau akhirnya terlambat sedikit. Memberi apreseiasi pada sahabat dan anak daerah sekampung atas kreatifitasnya mesti menjadi prioritas, dan mereka buktikan bahwa film besutannya tidak mengecewakan, menggerus lelahku setelah mengurus dua event di rumahku yang hampir bersamaan. Lamaran putri ke tigaku dan aqiqah cucu pertamaku. Tiga hari kemudian bersama istri terkasih aku nonton lagi film yang lain, besutan putra daerah lainnya.

Sepanjang perjalanan pulang, kenangku terbang jauh ke tahun tujuh puluhan, terkenang film-film daerah Makassar yang pernah tayang di bioskop di kota tercinta ini. Diantaranya, La Tando Di Toraja, Sanrego, dan Senja Di Pantai Losari, dll.

 


sumber gambar: bagaya.id