Arsip Kategori: Kembara

Jujur Itu Indah

Baru sepekan dimutasi bekerja di sebuah tempat berketinggian delapan ratus meter lebih dari permukaan laut. Tentu cuacanya dingin dengan berbagai variable lain menghiasi daratan setinggi itu. Seperti kabut yang nyaris tak hendak beranjak setiap hari. Curah hujan yang cukup tinggi dan intens. Dalam suasana itu hari-hari kumulai kukayuh untuk sesuap nasi dan dedikasi untuk keluarga tercinta.

Pekan pertama kudapati sebuah fenomena yang menurutku cukup menarik. Yakni seorang petugas kebersihan berjenis kelamin perempuan bertubuh tambun, lazim disebut office boy walau petugas sesungguhnya adalah perempauan. Selain berprofesi sebagai office boy beliau juga mencari nafkah sampingan dengan berjualan penganan ringan dan setengah berat. Mulai dari cemilan, kue-kue basah, dan mie siram. Bukan jualannya yang menarik tapi cara melakunya. Jualannya dihampar saja di salah satu sisi dari pantri dan dapur kantor tanpa perlu dia jaga atau tongkrongi. Para karyawan yang jumlahnya cukup banyak bebas mencicipi penganan yang tersaji tanpa kesepakatan awal dan mengalir saja. Nanti jelang pulang kantor di sore hari barulah para pencicip membayar penganan yang disesapnya. read more

Puisi Membunuhmu

Aku tersedak kala sedang mengunyah ubi goreng sebelum menyesap kopi hitam pasangannya. Kala tiba pada paragraf, Sam Suharto mendekati Hapsah, mantan Istri Chairil, yang datang membawa Evawani anak perempuan semata wayang Chairil Anwar. Hapsah menangis saja sepanjang pemakaman itu. Wajahnya bersimbah air mata. Kepada Hapsah, Sam Suharto menyampaikan harta yang ditinggalkan Chairil: 1 ons gula merah, sepasang sepatu dan kaus kaki hitam, juga selembar uang rupiahan, dan satu map berisi kertas tulisan tangan sajak-sajaknya. Pakaian terakhir dia pakai sudah dibuang petugas rumah sakit. Demikianlah Hasan Aspahani menuliskan dalam novelnya, yang berjudul, Chairil. read more

Perjalanan Cinta

Sore jelang senja tak ada kabut seperti biasanya menyelimuti kampung tempatku berdomisili mengais nafkah. Aku berkemas hendak melakukan perjalanan cukup jauh beratus kilometer jelang pekan keempat ramadan ini. Dalam kaidah fikih yang kupahami, perjalanan ini lazim disebut safar atau orang yang melakukan perjalanan jauh disebut juga musafir. Ada ahli fikih yang tidak membolehkan berpuasa bagi orang-orang yang melakukan safar, ada pula yang beranggapan boleh saja tetapi tidak wajib tergantung kekuatan sang musafir, dan ada juga yang berpendapat boleh tapi perjalanannya diawali sejak matahari berada di posisi tegak lurus lebih condong ke barat atau setelah salat Zuhur ditunai. Betapa dinamis dan bervariasinya fikih dalam Islam, para ulama fikih menguras pikiran menafsir berbagai rujukan yang ada, dan dari sudut pandang yang berbeda melahirkan kesimpulan yang berbeda pula. Setelah masing-masing berupaya maksimal. Inilah mungkin yang disebut “perbedaan itu adalah rahmat”. read more

Tentang Waktu

In memoriam, Halimah Usman.

Senja baru saja turun, hampar ke seluruh penjuru kota Makassar. Aku tak hendak menyaksi matahari terbenam di Kampoeng Popsa atawa di Pantai Losari yang banyak dinanti-nanti orang. Tapi, aku bergegas memasuki gerbang Fort Rotterdam, di mana perhelatan MIWF (Makassar International Writing Festival) 2016 sedang berlangsung. Kala kakiku kupijak melewati gerbang, suara perempuan menyapaku akrab dan familiar. Ia kerap menyapaku, ustadz dan kerap pula memanggilku kakak. Untuk sapaan ustadz, bagiku punya cerita panjang dalam jejak-jejak hidup yang dinamis. read more

Geliat Gerakan Literasi di Butta Toa-Bantaeng

Senja mulai menyapa, ketika aku memasuki gerbang kabupaten Bantaeng. Betul kata orang-orang yang pernah melintas, atawa bertandang di kabupaten ini, bahwa sangat terasa perubahan suasana, apabila kita beralih dari kabupaten sebelumnya, dan memasuki kabupaten yang luasnya, paling kecil di Sulawesi Selatan ini. Susana bersih dan teduh, oleh julang pohon-pohon, yang mengitari jalan, menyambut para pejalan, baik yang akan bertamu maupun yang sekadar melintas.

Bersama istri dan anak bungsuku, aku tak langsung menemui sahabatku, yang telah menunggu kedatanganku, tapi langsung menuju Pantai Seruni, yang selama ini membuatku penasaran, sebagai destinasi wisata pantai dan kuliner, yang banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, baik perorangan dan keluarga, maupun studi banding yang dilakukan pemerintah kabupaten lain, dari berbagai daerah. Suasana ini telah terekspos di berbagai media, baik cetak maupun online. read more

Kesepian

Seorang tua renta penghuni sebuah panti jompo di salah satu kota nun jauh di seberang benua. Setiap jelang memperingati hari-hari besar negeri dan agamanya, ia mengirim surat dan ucapan selamat untuk dirinya sendiri via jasa Pos. Malam sepi dengan mengurai air mata ia menulis surat yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Diantarkannya ke kantor Pos sendiri. Tiba di panti tempatnya bermukim melepas penat di hari tuanya, kemudian dibacanya sendiri, dinikmatinya sendiri dalam kesepian yang menderanya dalam waktu panjang. read more

Bunda Maemuna

Hari minggu, umumnya kota-kota di Sulawesi Utara sepi nyaris senyap. Demikianlah, suatu pagi sekira matahari sudah mulai menanjak ke perempat depah. Lambungku mulai minta dijamah penganan untuk melanjutkan kehidupan. Jalan-jalan kususuri di kota mungil tempatku bermukim secara tidak menetap. Setelah berkeliling beberapa saat dalam sepi, aku menemukan sebuah warung yang berukuran relatif mungil pula. Kendaraan kutepikan tak jauh dari warung yang hendak kutuju.

Ruang kecil berukuran sekira tiga kali dua setengah meter. Hanya dimuati tiga buah meja plus bangku kayu yang masing-masing hanya memuat dua orang pengunjung. Jadi, paling banter hanya bisa memuat pelanggan atawa pengunjung sebanyak enam orang. Seorang ibu berusia senja menyambutku dengan senyum super ramah. Rona wajahnya menampakkan kebajikan dan bening matanya mengundang kasih. read more