Arsip Kategori: Opini

Menanti Presiden Pemberani untuk Indonesia Baru

Memimpin adalah jalan derita (prinsip H. Agus Salim)

Mengawali tulisan ini, penulis mengutip falsafah penantian sosiolog dan cendekiawan muslim Iran, Ali Syariati. Dalam buku yang berjudul Para Pemimpin Mustadhafin: Sejarah Panjang Perjuangan Melawan Penindasan dan Kezaliman (2001), ia menjelaskan, penantian adalah sintesis dari dua prinsip yang bertentangan yakni kebenaran dan kenyataan. Penantian merupakan jalan untuk mengatakan tidak terhadap realitas (yang timpang dan kontradiksi dengan kebenaran). Seseorang yang sedang menanti adalah bentuk sanggahan atas kondisi yang ada sekarang. Lanjut Ali Syariati:Orang yang menanti memiliki harapan dan orang yang berharap adalah hidup. Penantian adalah keyakinan pada masa depan, dengan maksud menolak masa kini. Orang yang puas dengan masa kini tidaklah menanti. Sebaliknya, ia konservatif. Ia takut akan masa depan, ia khawatir terhadap segala peristiwa. Ia menyukai status quo dan mencoba untuk mempertahankannya. Berangkat dari uraian tersebut, setidaknya bangsa ini menanti dua hal: Presiden pemberani dan Indonesia baru. read more

Obesitas di Era Konsumsi Massal

Dalam beberapa pandangan tokoh ilmu sosial, konon katanya kita telah memasuki suatu fase baru yakni era pascamodernitas yang ditandai dengan peningkatan pola interaksi secara digital, merebaknya budaya online dan menipisnya batas-batas antar ruang.

Berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh umat manusia lewat pengembangan Ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi telah mengantarkan kehidupan pada suatu keadaan kemudahan dalam melakukan upaya kontrol pada alam. Dalam salah satu pandangan tokoh Ilmu sosial, W.W Rostow, pola pembangunan ekonomi akan bermuara pada tahap konsumsi massal di mana suatu masyarakat dan negara telah sampai pada keadaan yang sejahtera. Produksi dan konsumsi yang berlebih dan Industrialisasi yang telah mantap. Terlepas dari hal tersebut, perlu dipertanyakan apakah tahapan tersebut adalah suatu akhir dari linearitas zaman, puncak dari segala bentuk perubahan evolusionis dari suatu masyarakat layaknya Francis Fukuyama dalam “The End Of History” ataukah malahan memunculkan suatu tahapan baru dari buah realitas yang ada di dalam tahapan tersebut. read more

Filosofi Pendidikan yang Diabaikan

Pendidikan saat ini menjadi sesuatu hal yang wajib diperoleh oleh setiap manusia. Karena ditinjau dalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, tercantum pengertian pendidikan: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Berdasarkan hal itu, pendidikan menjadi sesuatu hal yang sangat penting  untuk dilaksanakan. Setiap orang dapat memaksimalkan semua unsur yang ada dalam pendidikan untuk mengembangkan potensi diri sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kita ketahui bahwa tujuan dari pendidikan itu sendiri yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Itulah sebabnya mengapa pendidikan menjadi hal yang paling penting bagi setiap manusia. Sangat mulialah tujuan pendidikan di negara kita ini (Indonesia). read more

Komunisme yang Patah, Tumbuh dan Hilang Berganti

Akhir- akhir ini narasi G30S/PKI kembali mencuat ke publik tanah air. Seperti lazimnya, tatkala bulan September tiba, ada saja pihak yang cekatan menggiring opini publik agar terjebak pada pembahasan perihal salah satu narasi sejarah kelam Indonesia tersebut. Pada dasarnya, sebuah narasi yang ‘menjual’ selalu melahirkan tiga kubu; kubu pro, kubu kontra dan kubu moderat. Untuk kubu moderat sendiri, mereka layaknya sang dialektikawan, berupaya mencari sintesis sebuah perkara dari hasil pergumulan pihak pro (tesis) dan pihak kontra (anti tesis). read more

Kemerdekaan Ekologis

Dua tahun lalu penulis diminta seseorang untuk menulis tentang refleksi kemerdekaan Indonesia. Saat itu, mereka hendak menyusun buku 70 Tahun Indonesia Merdeka. Penulis melihatnya dalam perspektif lingkungan hidup.

Tesis yang dikemukakan adalah dokumen kemerdekaan Indonesia tidak memasukkan perspektif ekologis secara spesifik. Semua statemen tujuan negara hanya bersifat politik, ekonomi, dan sosial. Nanti setelah direnungkan dan dimaknai lebih mendalam baharulah dapat dijumpai bahwa dengan melaksanakan amanat kemerdekaan secara sungguh-sungguh, aspek lingkungan hidup dapat dipandang inhern pada tujuan negara itu. read more

Pancasila dan Indonesia: Meneropong Titik Temunya

Setiap negara modern memiliki ideologi sebagai landasan dalam bersikap. Ideologi menjadi acuan bagi warga negara dalam melihat, menimbang, dan menilai apakah sesuatu itu kemudian terhukumi sebagai perbuatan baik ataukah buruk. Karena pada sebuah ideologi terkandung seperangkat nilai-nilai dasar yang menjadi pondasi dari kerangka berpikir penganutnya. Maka ia menentukan bagaimana bentuk dan rupa dari bangunan secara keseluruhan, apakah ia menyejahterakan atau tidak, mengayomi atau tidak, memberi rasa aman atau tidak, dan seterusnya dan sebagainya. read more

Senjakala Kelisanan

Cerita rakyat kakak-beradik Ayuh (Sandayuhan) dengan Bambang Basiwara adalah salah satu babad yang paling lekat dalam bilik ingatan orang-orang Dayak-Meratus dan Banjar. Tersebutlah, ketika kepada dua orang itu diserahkan masing-masing satu kitab suci yang akan menjadi pedoman dalam hidup mereka, Bambang Basiwara sang adik mengambil kitab itu untuk selanjutnya disimpan dan dipelajari. Dari kitab itulah Bambang belajar membaca dan menulis, sekaligus memahami kehidupan secara paripurna. Dengan kitab itu pula Bambang mengenal agama. read more

Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-2, Habis)

Baca juga:

Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-1)

***

Dalam kajian ideologi dikenal dua kutub ideologi besar dunia yakni individualisme dan sosialisme. Individualisme dan sosialisme sebenarnya sama-sama melayani keserakahan, masing-masing keserakahan diri dan keserakahan kelompok (spesies manusia). Oleh sebab itu, penulis merasa perlu mengenalkan bahwa selain makhluk individu dan sosial seperti yang lazim didoktrinkan di sekolah formal, manusia juga sebenarnya adalah makhluk ekologis. Konsekuensinya, dukungan prinsip antroposentrisme yang ada dalam definisi materialisme saat ini memang perlu diperbaharui sebab hanya mengunggulkan jenisnya (spesiesnya). read more

Belajar dari Rektor UII

Tepat sebulan yang lalu, dunia pendidikan tinggi kembali berduka, tiga calon anggota Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Islam Indonesia (UII), meningga dunia usai menjalani Great Camping atau Pendidikan Dasar (Diksar) lembaga kemahasiswaan tersebut. Kekerasan fisik, diduga menjadi sebab dari hilangnya nyawa tiga mahasiswa itu.

Apa yang menimpa ketiga mahasiswa tersebut, menambah daftar hitam kasus kekerasan berujung maut di dunia kampus, tentu hal ini adalah pukulan telak bagi institusi pendidikan tinggi, khususnya pihak UII. Sebelumnya, Amirulloh Adityas Putra, taruna tingkat satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STP) Jakarta Utara, juga meregang nyawa setelah dianiaya empat seniornya di dalam asrama beberapa waktu sebelumnya. read more

Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-1)

Problem bumi dan masa depannya telah menjadi perhatian utama masyarakat dunia sejak Rachel Carlson mengeluarkan dokumen yang bercerita tentang bahaya residu pestisida. Bukan hanya itu. Menurutnya, industri yang sudah gegap gempita di seluruh dunia ternyata meninggalkan masalah masa depan bumi. Dokumen ilmiah yang ditulis pada tahun 1962 itu menandai sebuah kecemasan umat manusia soal fungsi satu-satunya planet yang dihuni makhluk hidup ini. Buku Silent Spring yang ditulis Carlson itu mau mengabarkan sebuah aba-aba bahwa manusia saat ini juga harus berpikir tentang kelestarian planet ini. read more