Arsip Kategori: Opini

Kampus Islam yang Anti Kritik dan Mahasiswa-mahasiswa yang Menemukan Arus Baru

Tahun 2016 telah berakhir dengan tetap meninggalkan banyak persoalan di dunia pendidikan Indonesia.Terutama institusi perguruan tinggi baik itu negeri maupun swasta, berlomba-lomba atau berkompetisi menceburkan diri ke dalam skema pasar neoliberalisme menuju label world classuniversity. Kampus dengan biaya kuliah mahal, rawan korupsi, dan tidak memberikan hak-hak dasar mahasiwanya, seperti fasilitas kuliah yang tidak layak, serta ruang kebebasan berorganisasi yang terbatas dan jaminan masa depan yang suram, pastinya akan memicu protes dari mahasiswa sebagai kelompok mayoritas di kampus. Sekali lagi, satu teori yang tak pernah usang diberangus zaman dicetuskan oleh “mbah janggut” Karl Marx, bahwa keadaan sosial akan mempengaruhi kesadaran sosial, dan seperti itulah kampus yang menciptakan sebuah keadaan yang jauh dari kenyataan kongkret, sehinga melahirkan gerakan mahasiswa untuk merubah keadaan tersebut. read more

Desember dan Ritus Pembebasan

Desember adalah bulan yang panjang. Banyak peristiwa yang terekam di sana. Hari anti korupsi (9), hari HAM (10), Kelahiran Muhammad (12), hari Ibu (22), dan kelahiran Yesus Kristus (25), kelimanya terekam dalam satu makna yang sama; bukan saja mempertemukan hari kelahiran seorang manusia agung diupacarai, hari di mana Ibu kembali diperingati, atau hari kala anti korupsi dan HAM dirayakan, tapi juga kelima peristiwa itu mengingatkan kita akan perjuangan melawan lupa. Lupa atas penghormatan terhadap nilai ketuhanan, kemanusiaan, pembebasan dan perdamaian. read more

Menggugat Kampus dan Pernak-Perniknya

Aku menghabiskan uang orangtuaku hanya untuk membiayai aku kuliah agar aku tahu betapa itu semua rutininats yang tak bermakna. Seperti seorang dungu yang memenuhi kewajibanya mengisi absen. Aku memang kuliah di salah satu universitas negeri. Yah, aku kuliah di Kota Daeng dengan kampus “tit”.

Bagiku, apa yang kulakukan jauh lebih bermakna yang dikerjakan oleh penjual somai, atau tukang ojek. Penjual somai kedatangannya ditunggu-tunggu penikmat somai, begitupun tukang ojek kehadirannya membantu kemudahan transportasi bagi masyarakat. Tapi yang menungguku di ruang kuliah adalah tugas, absen, bangku, ruang kuliah yang sumpek, dosen dengan segala kebosanannya, dan sebagian mahasiswa lainnya dengan segala kepasifannya. Dunia kampus, begitupun organisasi mahasiswa di dalamnya dengan budaya buta hurufnya menambah ketidakbermaknaannya kampus. read more

Pesta Demokrasi dan Teror Politik Masyarakat Desa

Demokrasi, sebagaimana khalayak ramai memahaminya secara umum adalah praktik politik dari rakyat dan untuk rakyat. Pemahaman ideal ini tidak bisa dimungkiri ibarat “masih jauh api dari panggangnya”. Karena realitas perjalanannya kerap ditemukan kecacatan. Sehingga, berjalan tumpang tindih dan secara halus menciptakan penindasan bagi golongan rakyat tertentu. Acap kali hal ini ditemukan dalam proses pemilihan umum, di mana masyarakat sama-sama menghendaki proses tersebut melahirkan sosok pemimpin yang mampu mengayomi dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya. read more

Dalam Bayang-bayang Intoleransi

Praktik intoleransi kembali terjadi. Mengapa demikian? “Karena kita semua diam“, tukas bang Andre Barahamin dalam statusnya di Facebook. Kita tanpa sadar telah membiarkan kelompok intoleran tumbuh subur di negeri ini. Membiarkan mereka mengorganisir diri, membangun jejaring ke berbagai pelosok negeri, juga membiarkan mereka melakukan tindakan yang sangat jauh melenceng dari cita-cita persatuan bangsa.

Perjuangan pahlawan memersatukan bangsa dari berbagai macam latarbelakang suku, agama, budaya, bahasa dan seterusnya, seakan dikencingi oleh kelompok yang menasbihkan dirinya sebagai sang pemilik tunggal kebenaran. Mereka kerap bertindak dengan cara-cara yang pada akhirnya berujung konflik. Mencoba menerapkan apa yang mereka pahami dengan tindakan yang sangat tidak etis; dengan kekerasan, dan bahkan dengan cara yang bisa menyebabkan kematian –ini tidak berlebihan. read more

Kesalehan Ekologis

Maksiat ekologi kini tak terkendali dan secara pasti telah menusia rasakan dampaknya hingga sekarang. Ironisnya, kejadian itu ada di tengah maraknya manusia mencari kesalehan sosial yang dianggap menyempurnakan kesalehan pribadi. Gerakan filantrofi marak dikerjakan. Gerakan yang mengandung prinsip etis kesatuan umat manusia dalam suatu perasaan dan kepentingan yang sama. Setiap orang yang tampil dengan kepedualian prima atas manusia lainnya maka segera bercitra “saleh sosial”.

Paradigma kesalehan sosial mengasumsikan kepentingan spesies manusia lebih utama dibanding dengan spesies lain. Memang lebih maju daripada paradigma kesalehan pribadi mengasumsikan kepentingan diri sendiri lebih utama daripada kepentingan orang lain. Meski demikian, dalam wacana keberlanjutan kehidupan, kesalehan sosial saja tak memadai untuk menjawab ancaman besar punahnya kehidupan di bumi. read more

Mengakhiri Stigma Ambivalensi Agama

“Apapun alasanya, teror tidak akan pernah dibenarkan. Teror adalah kejahatan kemanusiaan.”

Belum hilang trauma kita akibat konflik atas nama agama—yang sudah beberapa kali terjadi—di negeri ini, kita kemudian dihadapkan lagi dengan sebuah peristiwa teror. Bom Molotov dilemparkan oleh seorang lelaki yang mengenakan kaus bertuliskan “Jihad: Way of Life” ke Gereja Oikumene di Samarinda (13 Nov 2016) yang memakan korban dan di antaranya terdapat balita dan anak-anak yang tidak berdosa.

Drama demi drama kekerasan dan teror yang membawa label agama berlangsung begitu saja dan tak ada penyelesaian. Peristiwa bom yang terjadi di Samarinda adalah sebuah fenomena lepasnya akal sehat dan kontrol diri terhadap fitrah kemanusiaan. Pelaku mungkin terjebak dalam sebuah ekstase, bahwa tindakan yang dia lakukan adalah sebuah kenikmatan sebagai seorang “pembela” agama. Buah dari kesadaran religius palsu (KW, Supercopy) dengan iming-iming kenikmatan surgawi yang pada kenyataanya telah menenggelamkan orang-orang ke dalam agresifitas beragama. read more

Memproduksi Tukang Teologi

Ilustrasi: kalatida.com

Mustahil mencari bursa kerja pada pelataran job fair yang mencantumkan pekerjaan menjadi tukang teologi. Pekerjaan dalam aggapan kebanyakan orang berhubungan dengan Tuhan itu tak layak membuka stand recruitment untuk berbagai lulusan.Perusahaan mana yang akan mencari? Karena tak ada perusahaan yang bekerja pada bidang konstruksi teologi. Itupun kalau ada mau digaji dengan apa? Sebab pekerjaan teologi berhubungan dengan Tuhan sebagai transenden tertinggi, maka sudah pasti gajinya tak bisa diukur dengan sekeping dua ikat kertas. read more

Menghidupkan Kembali Jalan Raya

Pada beberapa potongan sejarah, jalan raya dan mahasiswa adalah satu kesatuan utuh yang dibalut dengan ide-de perubahan. Hal ini terekam pada beberapa kisah tentang sebuah protes yang ditujukan kepada kekuasaan yang tampangnya hipokrit. Kekuasaan yang mendongengkan tentang kemakmuran dan pembangunan yang merata, namun di saat yang bersamaan, dongeng tersebut tak mampu menjangkau semua komponen masyarakat. Pada saat itulah, ketika keresahan terakumulasi dengan praktik-praktik yang tidak adil dan menindas, jalan raya menjadi sebuah potret di mana suara lantang menggema untuk menuntut hak yang mulai dipangkas sedikit demi sedikit. read more

Oktober 28; Menjaga dan Merawat Ingatan Kebangsaan

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

(Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928)

Sumpah di atas adalah bukti bahwa Indonesia sudah dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka. Melalui sumpah itu, kaum muda indonesia meletakkan dasar dari tonggak sejarah kebangkitan nasionalnya. Itu ditandai dengan ikrar bahwa satu Indonesia. Dan karenanya, sudah keharusan bangsa ini untuk memperingati momentum 28 oktober sebagai bagian dari proses lahirnya bangsa Indonesia. read more