Arsip Kategori: Parenting

Peliknya Menjadi Anak (Tetesan Rasa Kemanusiaan di Hari Anak Indonesia)

Sedikit rasa kemanusiaan sungguh jauh lebih berharga daripada seluruh peraturan yang ada di dunia ini. ~ Jean Piaget

 

Sering kali muncul gugatan dan perasaan miris dalam hati, manakala menyaksikan lingkungan anak-anak yang sungguh memprihatinkan. Bukan soal materi semata melainkan pada bagaimana cara orang-orang dewasa berinteraksi dengan mereka. Bagaimana perlakuan orangtua terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Rasa kepemilikan seolah menjadi pembenar atas banyaknya perlakuan yang salah.

Tanpa kita sadari, kelak rekamana-rekaman pengalaman masa kecil ini akan banyak mengendalikan arah hidup mereka dan memengaruhi lebih dari setengah keputusan-keputusan akibat sikap dan pandangan hidup semasa kanak-kanak. Sayangnya hanya segelintir saja yang tergerak untuk mau mengetahui akar masalah dari semua ini dan menjadi sadar setelahnya.

Sebuah fenomena yang menarik perhatian saya, saat menyadari betapa kita telah banyak mengabaikan substansi ketika menghadapi sebuah persoalan. Sejauh ini kita lebih tertarik untuk menilai dan membesarkan sesuatu yang maujud tinimbang sebaliknya. Kita lebih terobsesi mencetak anak-anak yang secara intelektual pintar, patuh pada perintah tanpa berusaha membangun sikap kritisnya. Lebih membanggakan menyaksikan tumpukan prestasinya daripada kebanggaan dalam membangun hubungan emosional yang kuat dan hangat dengan mereka.

Disiplin dan keteraturan itu penting, namun kebahagiaan mereka jauh lebih penting lagi. Saya memaknainya sebagai sebuah perjuangan, bagaimana kita berusaha mengerahkan segenap pengetahuan dan kebijaksanaan kita sebagai orang dewasa yang memiliki otoritas pengasuhan, agar mampu menciptakan harmoni antara jiwa dan raganya. Bukan sesuatu yang tidak mungkin membesarkan anak-anak dalam suasana damai, menyenangkan, serta membahagiakan kedua belah pihak tanpa ada jiwa yang terluka. Saya sangat yakin usaha ini akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan manakala ada kesungguhan di dalamnya.

Masa kanak-kanak semestinya menjadi ajang mula penerimaan bagi mereka. Menerima kelahirannya apa adanya, bukan sebagaimana seharusnya mereka diinginkan. Kepasrahan dan penerimaan akan kehadiran mereka merupakan anugerah terindah yang hendaknya dipancarkan secara terus-menerus tanpa mengharap imbalan kecuali ridha Tuhan semata. Kelak perasaan dan sikap awal ini memupuk subur emosinya yang tentunya berpengaruh kuat pada tumbuh kembangnya.

Pelik memang menjadi anak-anak saat harus terlahir di tengah orang-orang dewasa yang tidak mengerti dan tidak peduli soal dunia perkembangan anak. Mereka yang hanya mengerti bagaimana cara melahirkan yang aman, sehingga ibu dan bayi bisa selamat. Anak-anak yang pada masa kanak-kanaknya hanya menjadi obyek kepemilikan yang hanya dipenuhi kebutuhannya secara lahiriah tanpa upaya menumbuhkan ruhaninya. Anak-anak yang tak pernah didengarkan tetapi dituntut untuk selalu patuh mendengarkan nasihat orangtua. Anak-anak yang dituntut sempurna di hadapan orangtua yang justru jauh dari kesempurnaan. Anak-anak yang dipaksa bersikap santun dan patuh di tengah orang-orang yang tidak hirau dengan tata krama dan cenderung seenaknya sendiri.

Di dunia kini kita tanpa sadar semakin berpacu dalam setiap relung kehidupan. Orangtua dan anak sama-sama berlomba merebut panggung penghargaan. Tak mudah lagi kita membedakan mana orangtua usia paruh baya mana usia anak usia sekolah dasar. Mereka sama-sama berlomba menampilkan sisi-sisi kelebihannya di hadapan pemirsa dunia maya. Tentunya yang ditonjolkan adalah atribut lahiriah, bukan hal-hal yang lebih substantif sifatnya. Sulit membedakan yang mana yang harusnya menjadi panutan atau teladan. Tak ada lagi wibawa, atau bahkan harga diri. Anak-anak pun tumbuh dan berkembang dalam asuhan media sosial. Mau meniru siapa, mau menjadi apa, dan mau mematuhi siapa,  semua terjawab di sana.

Lalu secara tiba-tiba anak-anak ini pun bertumbuh meninggalkan masa kanak-kanaknya. Tanpa persiapan, tanpa bekal, dan tanpa pendampingan apa pun. Bertarung di tengah dunia antah-berantah yang masih asing. Berlari bersama orang-orang yang tak dikenal, entah ke mana arah tujuannya. Bentangan jalan yang penuh risiko harus mereka lalui sebab tak ada lagi waktu untuk berbalik arah. Maka kawan-kawan seperjalanan menjadi tempat bertanya yang mudah untuk dijangkau. Ketimbang orang-orang dewasa yang jauh tak tergapai di ujung sana.

Waktu yang terus bergulung tanpa kita sadari. Rasanya  semakin sulit dan berat menjalani peran sebagai seorang anak. Banyak dituntut tetapi kurang dituntun. Diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada orangtua, namun seatap dengan mereka yang tidak memberikan contoh bakti kepada kedua orangtua. Dituntut banyak berprestasi tanpa usaha mengenalkan makna keberhasilan yang sesungguhnya. Perbedaan antara yang halal dan haram, yang baik dan yang buruk, yang asli dan yang palsu, semakin tak bersekat. Akhirnya di tengah kebingungan yang tak berujung, anak-anak pun tumbuh besar menjadi pribadi yang terasing. Asing dalam memahami dirinya sendiri terlebih keterasingan dalam memahami lingkungan sekitarnya.

Karena setiap orang dewasa nampaknya masih akan terus disibukkan oleh urusan-urusan yang tak mengenal kata selesai. Anak-anak hanyalah ibarat partikel halus di antara sekian banyak masalah yang saling berdesakan menanti penyelesaian. Maka beruntunglah jika ternyata Engkau berada di tangan orang-orang yang bertanggung jawab. Dan tetaplah bersyukur jika kenyataannya berbeda. Mungkin Tuhan ingin mendidikmu dengan cara yang luar biasa.

Sebagai penawar  dari keriuhan yang kian menjadi, maka kata-kata Jean Piaget di atas kiranya dapat menjadi oase di tengah kekeringan hubungan, kekeringan perasaan, dan lain-lain. Bahwa anak-anak butuh diatur, tetapi di atas segalanya, taburilah peraturan-peraturan tersebut dengan unsur-unsur kemanusiaan yang akan melontarkan mereka menggapai cita-cita tertingginya.

 

 

Teruslah Berjalan… (Refleksi Pada Suatu Hari Wisuda)

Pada suatu masa, rentang waktu 95-an, usiamu setahun kurang lebih, kami sang orangtua baru dengan penuh semangat mengajarimu berbagai macam keahlian. Mulai mengeja abjad, pada usia hitungan bulan, berbahasa dan bercakap-cakap dengan kalimat yang baku dan tertata kaidahnya. Hingga mengatur dan menjaga interaksi orang-orang dewasa di sekitarmu agar mengikuti aturan dan arahan dari kami. Agar tidak terjadi kesalahan perlakuan yang akibatnya bisa runyam di kemudian hari.

Orangtua manapun di dunia ini sudah pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Tak ada yang berniat buruk ingin mencelakakan ataupun menjerumuskan buah hati yang sangat disayanginya. Jika ternyata dalam praktiknya terjadi kesalahan, maka bisa dipastikan bukan itu niat mereka. Hanya karena ketidaktahuanlah yang menggiring mereka melakukan kesalahan. Mengapa tidak tahu? Karena tidak ada proses pencarian pengetahuan di dalamnya. Jika terus dirunut ke belakang, mengapa tidak belajar, boleh jadi seribu satu alasan akan mengemuka. Beberapa di antaranya, kurangnya waktu, semangat mencari ilmu sudah terhenti pada batas bangku akademik, dan lain-lain alasan yang mungkin akan panjang jika disebutkan.

Situasi seperti itulah yang kurang lebih terjadi pada masa itu. Semangat belajar pengasuhan harus berjalan bersisian dengan hadirnya peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari. Sehingga belajar tidak lagi bisa dilakukan secara santai dan hanya kalau ada waktu, melainkan mesti ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat penting dan jadi prioritas di atas keteraturan tata letak perabotan dalam rumah. Perhatian dan komunikasi antar individu yang hidup di dalamnya semestinya menjadi hal terpenting, bukan justru sebaliknya. Maka kami pun memilih untuk berjalan cepat dengan harapan mampu melampaui semua masalah yang satu per satu muncul di tengah perjalanan itu.

Lalu sesekali kita pernah terjatuh, ada kalanya bersamaan, namun paling sering berbeda waktu. Yang lebih kuat menarik bangkit yang lemah, yang masih sehat harus turut membopong yang sakit, dan yang masih berstamina prima harus rela melakukan usaha yang berlipat sambil terus menyemangati yang lainnya. Karena jalan masih sangat panjang, perlu perbekalan yang lebih banyak lagi.

Hingga hari ini semangat belajar itu terus terpelihara dengan baik dalam rumah kita. Motto “Alah bisa karena biasa” menjadi alas pijakan untuk kita terus mencoba dan berusaha melakukan hal-hal yang lebih baik dari hari-hari kemarin. Walaupun lingkungan tempat kita tinggal menerapkan budaya dan kebiasaan yang berbeda dalam beberapa hal. Ingin rasanya mengubah mereka sebagaimana yang kita inginkan, akan tetapi keinginan itu adalah sesuatu yang mustahil. Maka kita pun memutuskan untuk membalik situasinya. Mengubah manusia dan lingkungan sekitar dengan mengubah perilaku kita sendiri. Begitulah hukum kehidupan mengajarkannya.

Fase demi fase pertumbuhanmu berhasil engkau lalui. Belajar dan bereksperimen dengan berbagai persoalan hidup yang mendera bahkan menciutkan nyali. Sekali dua kali kita nyaris menyerah, dan memilih untuk berhenti berjalan. Namun tangan-tangan tak kasat mata seolah menarik kita untuk bangkit dan bergerak meskipun hanya perlahan. Dalam remangnya cahaya, di tengah badai emosi yang berkecamuk, spiritualitas pun diuji.

Di antara cobaan dan godaan yang menggedor-gedor perasaan, kita pun saling menyemangati. Menangis, tertawa, karena sedih dan terkadang karena haru bahagia menghias hari-hari yang berlalu. Hingga tanpa kita sadari, di ufuk, mentari menyembul malu-malu, dan perlahan hati-hati ini menghangat kembali dengan semangat baru. Perjalanan pun kembali kita lanjutkan.

Hari ini sebuah gelar baru telah engkau sandang. Menjadi noktah yang nyaris tak terlihat di hamparan warna senada di jagat akademisi. Kecuali engkau mampu mengubahnya menjadi sebuah warna yang mencolok penglihatan. Karena sekadar gelar sarjana tak akan berarti banyak tanpa melengkapinya dengan perangai yang sujana. Bukankah ini tema yang acapkali kita perbincangkan saat ngobrol atau diskusi bersama? Bahwa segala sesuatu yang sifatnya asesoris belaka, tak kan bertahan lama, dan tak kan mampu mengubah apa-apa.

Kini, engkau harus bersiap untuk bertarung ide dan kinerja di tengah lautan manusia yang mengantri menunggu diberikan kesempatan. Namun kami tahu engkau bukan bagian dari jenis kelompok ini. Engkau bisa menciptakan model kehidupan seperti yang kau mau. Bukan hasil bentukan dan pendiktean dari pihak lain.

Jalan masih sangat panjang. Tantangan dan rintangan masih akan terus hadir menguji nyali. Jika tak siap engkau kan tergilas. Maka persiapan yang matang menjadi sebuah pilihan bijak. Jangan berhenti lalu menyerah, tetaplah melangkah walau harus perlahan.

 

 

 

 

 

 

Surat untuk Anakku

Di tengah malam seperti ini, hal yang paling Ibu suka adalah membaca sambil mendengarkan lamat-lamat musik dari radio. Buku setebal 150 halaman sanggup Ibu baca dalam suasan malam yang hening. Sesekali jika ada ide yang melintas, bergeraklah jari-jari ini menari di atas tombol-tombol huruf notebook. Walaupun hadirnya tak pernah bisa bertahan hingga hitungan jam. Karena bagaimanapun Ibu sekarang tak kuat lagi begadang hingga melewati batas kemampuan tubuh ini. Sehingga kendati semangat untuk menulis itu terkadang menderu-deru, namun pikiran dan tenaga harus pula Ibu siapkan untuk urusan lain keesokan harinya.

Kali ini tiba-tiba saja Ibu ingin merenungi dan memutar kembali episode-episode kehidupan kita yang telah lama lewat. Dalam rangkaian ingatan yang tak pernah utuh menghadirkan penggalan-penggalan kisah masa kecil kalian. Sesekali ingatan yang sudah bolong di sana-sini kalian tambal dan lengkapi dengan kenangan atas peristiwa-peritiwa kecil yang tentu saja masih lebih segar bercokol dalam kepala kalian.

Dan dari serpihan-serpihan tersebutlah Ibu banyak menyadari betapa masa lalu kalian yang Ibu anggap sudah mendekati sempurna, ternyata masih menyimpan banyak kekurangan akibat pengetahuan dan pemahaman kami orangtuamu yang juga masih jauh dari kesempurnaan. Seperti kenangan pada sebuah masa sekolah awal yang tentu saja masih banyak meninggalkan dampak buruk pada sikap dan perasaan kalian. Tentang teman-teman sekolah yang tidak selevel ekonominya, beserta gaya hidup setengah mewah yang mereka peragakan. Rupanya meninggalkan kesan kurang nyaman di hati kalian. Bukan menyesali hidup kita yang sederhana saja, melainkan pada sikap-sikapa asosial yang tak bersahabat yang teman-temanmu tampilkan.

Dalam hal ini Ibu tak cukup menanamkan kekuatan rasa yang dalam tentang kehidupan sederhana yang seharusnya kalian jalani. Yang terbaca adalah kalian tampaknya baik-baik saja dan cukup menikmati sekolah dengan segala varian suka-dukanya. Riang gembira berangkat pagi pulang siang bahkan sore, terkadang diselingi dengan kegiatan les pelajaran di sekolah. Sesekali mungkin kalian pernah bercerita tentang teman A, B, dan C. Lalu Ibu dengan kondisi yang sibuk seolah mendengarnya, tetapi faktanya tidak mampu berempati sepenuhnya. Tetapi itu cukup memuaskan perasaan kalian walaupun masalah tidak serta-merta berakhir hanya lewat obrolan yang bertabur interupsi kesibukan.

Bagi Ibu itu sebuah kekurangan di tengah semangatku yang berusaha menguasai cukup teori dan seluk-belum mendidik serta membesarkan anak. Tetapi rupanya semua itu belum maksimal usaha yang kami kerahkan. Namun nanti kita akan melihat perbandingannya dengan usaha sebagian besar ibu-ibu di luar sana. Saat itulah Ibu akan mengucap syukur yang tak terhingga.

Lalu seperti itulah manusia, yang hanya ingin mengingat segala kenangan yang baik saja yang telah ia lakukan, dan cenderung melupakan yang sebaliknya. Ibu pun mengalami hal yang sama. Hingga pada suatu cerita di antara kalian mengingat dengan jelas penggalan-penggalan peristiwa menyedihkan yang cukup berbekas di hati hingga hari ini. Cerita tentang keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi atau deretan hasrat yang harus berakhir kecewa. Kami pun sesekali pernah berjanji tetapi ternyata tidak mampu kami penuhi. Tentu saja kalian menjadi kecewa. Kami juga pernah marah kecil hingga marah besar yang di usia kanak-kanak kalian bahkan berencana untuk minggat dari rumah. Oh, betapa menggemaskannya episode itu. Orang dewasa mungkin saja tertawa bila mendengar kisah ini, tetapi dalam benak dan jiwa kalian, peristiwa tersebut pastinya sangat menyinggung perasaan hingga di usia balita pun kalian tampak kompak dalam kesedihan dan rencana. Lucunya kejadian itu.

Tapi tahukan kalian, di tengah perasaan gado-gado kalian itu, ada segunung usaha Ibu dan Bapak untuk melahirkan generasi yang tangguh, teruji, dan terpuji. Untuk itu kami tak sayang-sayang untuk berinvestasi pengetahuan dalam bentuk buku, seminar, pelatihan, dan berbagai kemasan lainnya demi menunjang misi mulia menjadi orangtua terbaik untuk kalian. Dan itu semua Ibu lakukan dengan sepenuh semangat, kegembiraan, keikhlasan, dan cinta. Ibu rela begadang untuk membuat alat peraga demi mengembangkan kecerdasan kalian, sanggup menata dialog yang sehat agar jiwa kalian tumbuh merdeka. Tak ada rasa letih dan bosan menghadapi ulah kanak-kanak kalian yang berbeda-beda dan sering kali tak sejalan antara teori dan praktik di lapangan. Apakah Ibu menyerah? Tentu saja tidak, Sayang. Karena Ibumu ini telah lama jatuh cinta pada kehidupan dan masa depanmu.

Jika ada yang bertanya, apakah pernah tebersit rasa sesal terhadap model pengasuhan kalian? Ibu akan jawab dengan mantap, TIDAK. Karena kami telah memberikan yang terbaik yang kami bisa. Pengetahuan terbaik, pola asuh terbaik, serta contoh terbaik yang mampu kami lakukan. Jika ternyata usaha itu belum mampu menggiring dan mengantar kalian pada tempat tertinggi sebagaimana harapan kami, tentu saja semuanya berpulang kepada Dia Sang Pemilik Kehidupan.

 

Maafkan Kami yang Telah Mengirimmu ke Sekolah

Suatu sore seorang kenalan baru bertandang ke toko dan melihat aktivitas yang saya lakukan. Mengajar anak usia SD pelajaran matematika, Bahasa Inggris, dan mengaji. Terlontarlah tanya dari mulutnya, “Anak-anak ta pastinya rangking semua ya di sekolah?”

“Oh, tidak juga. Mereka biasa-biasa saja prestasinya di kelas.”

Kami termasuk orangtua yang tidak mematok anak-anak harus menduduki peringkat tertentu. Karena bagi kami, sekolah bukanlah segalanya dalam menjalani kehidupan ini. Bahkan, anak-anak berkelakar di rumah, kala ditanya oleh temannya, bahwa sekolah itu hanya sampingan saja. Pengisi waktu di sela-sela banyaknya kegiatan yang lain.

Inilah soal yang senantiasa menjadi keprihatinan kami. Dalam perenungan saya, anak-anak saat ini banyak melakukan hal-hal yang sifatnya sia-sia di sekolah. Diajar menghafal tanpa memahami, diberikan instruksi tanpa proses dialog. Anak-anak dicekoki materi pelajaran dari semester ke semester dengan susah payah, tiba saat ujian, kunci jawaban tersebar dengan mudahnya. Sesungguhnya kita sudah melakukan banyak sandiwara dan kepura-puraan dengan mengirim anak-anak kita ke sekolah-sekolah.

Termasuk kami, yang tidak mampu menempuh pilihan lain selain memasukkan anak-anak ke sekolah. Namun satu langkah yang menurut saya bisa mengimbangi keputusan tersebut adalah dengan tidak menambah beban mereka dengan keharusan untuk mendapat peringkat tertentu di sekolah. Di samping itu, kami rutin melakukan dialog dengan mereka mulai dari masalah yang remeh-temeh hingga ke persoalan  yang menyangkut dunia politik, agama, dll. Kenapa ini kami lakukan, agar mereka tahu dan sadar bahwa proses bersekolah yang saat ini mereka tempuh bukan satu-satunya jalan untuk mendapat pengetahuan dan menjadi generasi yang berguna. Sekolah bukan pula tujuan yang boleh menghalalkan segala cara untuk menjadi bintang.

Keluhan soal sekolah sudah banyak bertebaran di mana-mana, baik media cetak, media daring, maupun lewat perbincangan antar orangtua dan guru. Tetapi seolah berjalan di tempat, perbaikan sistem ke arah yang lebih baik tampaknya tidak kunjung tiba. Suatu ketika seorang anak les saya, yang duduk di kelas V SD bertanya pada saya, “Bu, untuk apa orang belajar matematika? Tidak ada ji nanti hubungannya dengan pekerjaan.” Saya menatapnya sambil menunggu ia menyelesaikan kalimat berikutnya. “Jadi menurutku, sekolah itu hanya untuk mendapat pengetahuan saja,” lanjutnya. Mungkin maksudnya, materi pelajaran itu hanya sekadar diketahui saja, bukan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Diam-diam saya salut dengan cara berpikirnya. Ia sudah kritis terhadap proses kehidupannya. Jika guru-gurunya di ruang kelas tidak terbiasa menciptakan dialog dengan siswa, besar kemungkinan anak-anak akan mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan besarnya. Bersyukur jika menemukan orang atau pihak yang tepat untuk menjelaskan kegundahan-kegundahannya, tetapi jika sebaliknya, maka tentunya bersekolah hanyalah sebatas ritual belaka yang mesti dilakoninya saban pagi hingga siang atau sore hari.

Memang benar saat ini kita masih diliputi oleh sistem pendidikan yang seolah berjalan di tempat. Kalaupun ada perubahan yang mengiringi pergantian program pemerintahan baru, berubahnya hanya pada wajah dan kulit, namum hakikat di dalamnya belum mengalami perbaikan yang berarti. Buku-buku paket yang diganti dari tahun ke tahun, bukan karena kontennya hendak diperbaiki, melainkan penerbit B lebih mampu melakukan lobi yang lebih baik ke pihak sekolah daripada penerbit A.  sebelumnya. Jumlah mata pelajaran yang wajib dipelajari pun masih tetap sama. Anak-anak bingung hendak mengutamakan yang mana. Semuanya penting untuk dipelajari. Dan saat ujian tiba, siapa yang memori di kepalanya paling kuat maka ialah yang akan berhasil menjawab soal-soal yang diberikan. Lalu ketika nilai seorang siswa tergolong rendah, maka ia akan diberikan kesempatan untuk memperbaikinya di hari lain.

Saya yakin di antara ribuan sekolah yang tersebar di negeri ini, pasti ada beberapa yang berbeda di antaranya. Yang mendirikan sekolah sesuai idealisme dan keyakinan mereka akan hakikat pendidikan dan kemanusiaan. Yang bukan menjadikan sekolah sebagai sebuah industri atau pabrik. Yang hanya tahu berhitung untung rugi membangun sekolah.

Ujian anak sekolah baru saja usai. Ada beberapa broad cast yang saya temukan di grup obrolan aplikasi ponsel soal tidak perlunya orangtua memusingi peringkat anak di sekolah. Yang perlu jadi perhatian seharusnya pada soal akhlak dan karakter anak, juga bagaimana perkembangan minat bacanya. Bukan melulu pertanyaan soal nilai-nilai dan ranking anak. Dari dulu kami sudah setuju pemikiran seperti ini. Persoalannya, sudah sejauh mana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari kita? Di kanan kiri masih ramai pertanyaan-pertanyaan seputar prestasi anak di sekolah. Apatah lagi saat penerimaan rapor. Jujur, saya sesekali iseng juga menanyakan pertanyaan serupa. Tetapi hanya sebatas ingin tahun seberapa mampu ia menyerap pelajaran selama ini. Bukan menjadi prioritas yang harus dicapai anak. Karena kami sangat menyadari iklim sekolah, serta bagaimana kualitas guru yang mengajar. Semua biasa kami kontrol situasinya lewat obrolan di rumah.

Suatu waktu saya bertanya kepada anak kami yang duduk di kelas VI SD sebuah sekolah negeri yang cukup baik di kota ini. Mengapa untuk pelajaran Bahasa Inggrisnya ia sering diberikan paper, semacam PR untuk dikerjakan di rumah. Hampir setiap pekan tugas tersebut diberikan. Lalu saya mulai serius bertanya kepadanya, apakah gurunya menjelaskan semua hal yang terkait dengan tugas tersebut sebelum diberikan? Karena kalau tidak, maka itu berarti PR yang diberikan sesungguhnya dimaksudkan untuk dikerjakan oleh orangtua di rumah. Anak sisa menuliskannya saja. 90% hasil pikiran orangtua. Lalu kalau guru tidak pernah menerangkan materi tersebut, apa yang ia lakukan setiap kali masuk mengajar?

Sistem pendidikan kita tampaknya masih akan maju-mundur, jatuh-bangun, dan gonta-ganti kostum untuk jangka waktu yang panjang ke depan. Jika orangtua, guru, dan pihak-pihak yang memiliki wewenang mau bergerak untuk mengubah apa yang bisa diubah, mungkin akan ada hasil yang bisa diraih walaupun tidak signifikan hasilnya. Setidaknya, mari mengajari anak untuk jujur belajar dan meraih prestasi walaupun dalam skala kecil. Menolak menyontek saat ujian, menolak bocoran soal dari guru, dan menolak bekerja sama dalam kebohongan meskipun dikemas dalam sebuah slogan kebersamaan dan persatuan.

 

 

Ayah dalam Episode Kenangan

Oleh Bapak saya pernah diperdengarkan sebuah rekaman suara obrolan dua orang yang sedang bercakap-cakap. Suara laki-laki dewasa dan seorang anak perempuan kecil usia sekitar 3 tahunan yang terdengar ceriwis dan kritis. Saya bertanya ke Ibu itu rekaman suara siapa? Ternyata anak kecil dan orang dewasa dalam rekaman kaset tersebut adalah suara saya dan Bapak. Beliau rajin mengabadikan momen kanak-kanak kami dalam bentuk kaset rekaman.

 

Saya bisa membaca sebelum usia SD,  atas jerih payah Bapak. Saya pun sudah bisa melafazkan huruf-huruf Hijaiyah dengan baik dan jelas pada usia tersebut. Dalam bayang-bayang ingatan yang belum terlalu jelas saya sering ikut beliau ke masjid dan tinggal di sana beberapa waktu setiap selesai salat Magrib untuk mengajari mengaji beberapa anak-anak kecil. Saya duduk di samping Bapak menunggunya selesai mengajar. Sesekali saat murid-muridnya ada yang kesulitan melafazkan sebuah huruf, Bapak akan berbalik ke saya meminta saya untuk mencoba menyebutkannya dengan tepat. Sembari show of force saya pun  dengan bangga menyebutkannya.

 

Jelang kelas 3 Sekolah Dasar, kami harus pindah meninggalkan desa mengikuti Bapak yang bekerja di sebuah perusahaan asing di Sorowako. Perpindahan itu membutuhkan banyak usaha yang sangat besar dan serius. Bagaimana proses adaptasi lingkungan dan budaya yang jauh berbeda sempat membuat saya mogok sekolah. Atas usaha Bapak yang tidak main-main saya bersama saudara-saudara  lainnya berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Peran Ibu di mana? Banyak, hanya untuk kali ini saya ingin menggali ingatan khusus untuk Bapak.

 

Bapak adalah sosok yang perhatian dan peduli pada tumbuh kembang anak-anaknya saat masih bayi hingga balita. Setiap pagi kami dijemurnya di bawah sinar matahari pagi demi memperolah vitamin D katanya. Bubur bayi dengan kandungan gizi yang seimbang pun rajin diramunya agar anak-anak dapat tumbuh sehat meskipun dengan bahan-bahan makan yang murah saja. Maklum, saat kami lahir, anak pertama hingga ketiga, Bapak belum memperoleh penghasilan tetap. Sehingga upaya untuk mencukupkan gizi anak-anaknya harus dilakukan dengan cara seirit mungkin.

 

Bapak juga seorang pembelajar sejati. Setiap malam kami biasa mengintip aktivitasnya di balik meja kerjanya. Membaca buku-buku atau melatih pronounciation sering dilakukannya pada malam hingga dini hari. Disiplin dan keteraturan waktunya terus terbawa hingga masa jelang pensiunnya. Satu hal yang menjadi cita-citanya dan belum tercapai hingga akhir hayatnya, adalah menulis buku. Dan itu akan dilakukannya untuk mengisi usia tuanya di tengah lautan buku sebagai perpustakaannya.

 

Beliau pensiun dalam karirnya sebagai guru. Sebuah profesi yang mungkin tidak masuk dalam cita-citanya. Entahlah. Karena jalur akademiknya tidak merujuk kepada jalan itu. Bapak tidak selesai kuliah, hanya sampai tingkat tiga fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar. Meskipun tidak pernah menempuh jalur pendidikan guru, tetapi beliau dipercaya oleh yayasan sekolah untuk mengajar beberapa bidang studi yang terbukti dikuasainya. Agama, akuntansi, bahasa daerah, bahasa Inggris, dan keterampilan mengetik. Kelak beberapa dari keterampilan beliau bisa saya rasakan manfaatnya hingga usia dewasa kini.

 

Kendati tidak didapuk sebagai guru musik, namun Bapak terkadang diminta unjuk kebolehan bernyanyi sambil bermain gitar di atas panggung sesekali. Kemampuan baca notasi angka dan balok pun tak diragukan. Terkadang untuk mengetahui not sebuah lagu saya hanya cukup menyanyi dengan baik di depannya. Bapak pun segera bisa menyebutkan notasinya dengan tepat. Yang penting menyanyi tidak dengan suara fals.

 

Satu pesan yang masih selalu terngiang di telinga dan ingatan kami, Bapak tidak pernah mau berkompromi dengan ketidakjujuran. Integritas adalah hal nomor satu. Sehingga menurunlah kepada kami anak-anaknya. Hal sederhana yang sering kali dijadikan contoh adalah soal menyontek. Kami dilarang keras untuk melakukan perbuatan curang ini saat ulangan atau ujian. Bahkan meski Bapak juga adalah guru kami, akan tetapi dalam penilaian ulangan atau tugas sehari-hari, bukan. Alhasil pesan dan sikap tersebut terbawa hingga kini dalam menjalani hidup sehari-hari.

 

Jika Bapak mendapat tugas diutus untuk keluar kota oleh yayasan sekolah, maka beliau akan memanfaatkan fasilitas yang diberikan sesuai peruntukannya. Tidak ada permainan hitam di atas putih. Yang dilakukan berbeda, yang dituliskan pun lain pula. Bahkan pernah ada salah sebuah partai besar dan sangat berpengaruh di negeri ini yang dengan arogannya menempeli rumah-rumah warga dengan stiker partainya, tanpa peduli apakah penghuni rumah tersebut salah seorang partisipannya. Dengan tegas dan spontan Bapak mencabut dan membuangnya. Begitu pula kala pengguna jilbab mendapat penentangan dari berbagai penjuru termasuk dari sekolah, dengan tegas dan jelas Bapak menyatakan sikapnya.

 

Bapak telah berpulang 17 tahun lampau. Namun kehadirannya masih tetap saya rasakan lewat mimpi-mimpi dan petuah-petuahnya. Beliau berpulang setelah menempuh perjalanan nikmat sakit yang serius. Dan ia melewatinya dengan riang dan suka cita. Tercermin dalam gubahan syair lagunya yang menunjukkan betapa sakit adalah karunia dan anugerah dari Allah Sang Maha Penyayang. Alfatihah untukmu, Ayah.

 

Selamat Hari Ayah…

 

 

 

Mengasah Kreativitas Anak Lewat Gambar

Siapa bilang gambar anak-anak tidak mengandung makna? Siapa bilang anak-anak yang suka menggambar hanya membuang-buang waktu saja? Dan siapa di antara kita yang masih suka menilai gambar anak dengan satu kata saja, “bagus”? Saatnya mengubah pemahaman dan cara pandang tersebut. Bahwa dalam kegiatan menggambar beragam makna bisa terungkap di sana.

Prof. Dr. H. Primadi Tabrani, sang penemu konsep Limas Citra Manusia dan Bahasa Rupa yang telah berjasa menyebarluaskan temuannya kepada warga dunia. Temuan yang masih orisinal dan belum ada dalam khazanah perbendaharaan ilmu Barat. Kemarin, Sabtu, 21 Oktober 2017 adalah momen yang sangat menguntungkan karena putri beliau, bu Luna Setiati mau meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dengan sebagian kecil orangtua yang menaruh minat besar pada pertumbuhan putra-putri mereka.

Jika muncul pertanyaan, mana yang lebih ingin kita utamakan dalam hidup ini sekaligus dalam mengawal pertumbuhan anak-anak kita, rasio atau kreativitas? Maka saya yakin sebagian besar orangtua atau orang dewasa akan menjawab “rasio”. Tercermin dari animo orangtua yang lebih bangga jika anaknya ada yang meraih juara di bidang sains, juara olimpiade mata pelajaran, atau juara dalam adu kecerdasan yang bersifat kognitif. Bahkan tak sedikit orangtua yang menginginkan anaknya cepat bisa membaca tinimbang mendorong si anak dalam menggali kreativitasnya lewat kegiatan menggambar.

Mengapa? Karena anak yang bisa membaca lebih cepat, kecerdasannya lebih terukur dan tampak jelas, berbeda dengan anak yang senang menggambar. Yah, balik lagi ke pernyataan awal di atas, betapa banyak di antara kita yang masih menganggap dunia gambar bagi anak hanyalah sebatas hobi dan bakat saja. Tak lebih dari itu. Padahal menurut penjelasan Luna Setiati yang akrab disapa bu El, yang juga mengacu pada buku Prof. Primadi, “Proses Kreasi—Gambar Anak—Proses Belajar” dituliskan dalam pernyataan berikut ini.

Menggambar, sebagai salah satu sarana untuk mengekspresikan kreativitas manusia, sudah dilakukan anak sejak usia 1-2 tahun. Coba diingat, setiap anak berusia 1-2 tahun, bila diberi pensil, mereka selalu melakukan coret-coretan. Coretan merupakan ekspresi kreativitas yang bersifat awal. Semakin lama, sejalan dengan bertambah uisia, coretan akan bekembang menjadi bentuk yang semakin jelas dan variatif. Melalui gambar, anak dapat mengungkapkan sesuatu yang dirasakan, dipikirkan, dan bahkan yang dialaminya. Begitu mengagumkannya ekspresi kreativitas anak melalui gambar.

Sayang sekali masih banyak di antara kita  yang tidak menganggap penting kegiatan menggambar pada anak. Bahkan yang umum kita lakukan adalah menyuruh anak mewarnai gambar yang sudah jadi. Sering kali ditambahi embel-embel pesan, “Jangan keluar garis ya”, “Ingat, daunnya harus berwarna hijau”, “langit biru”, “rumput hijau”, dan sederet rambu-rambu yang sesungguhnya justru membatasi kreativitas anak. Anak jadi tidak bebas bereksplorasi dengan ide-idenya, dengan imajinasinya, atau dengan keinginannya sendiri.

Padahal, sesungguhnya dalam kegiatan menggambar—masih menurut Primadi Tabrani, terkandung banyak dimensi perkembangan dan pertumbuhan anak, di antaranya, tumbuh-kembangnya jadi matang, terjadi keseimbangan pada otak kiri dan otak kanan anak, bertumbuh dan berkembangnya imaji anak. Bila pendidikan benar, akan terjadi integrasi fisik – kreatif – rasio, dan terbentuklah intuisi. Kekeliruan selama ini, kita mengira aktivitas fisik lebih untuk bayi, kreativitas hanya untuk anak, dan orang dewasa sebaiknya rasional. Akibatnya, kreativitas mundur, padahal ia penting untuk masa depan bangsa.

Jika berbicara soal pendidikan anak baik di sekolah maupun di rumah, masih akan berderet agenda persoalan yang menunggu untuk dibenahi. Sistem pendidikan yang sementara berlaku di sekolah-sekolah belum banyak mengakomodasi keinginan anak serta hakikat pendidikan yang sebenarnya. Dunia pendidikan formal masih melaju pada rel yang masih menekankan kecerdasan kognitif, mengabaikan karakter, kendati pendidikan karakter masih terus-menerus didengungkan lewat jargon-jargon dan seruan-seruan dari tahun ke tahun.

Mengetahui dan menyadari ada jalur kreativitas yang bisa diasah dengan mudah, seharusnya mampu membuka mata dan cakrawala berpikir orang dewasa. Berikan ruang yang cukup untuk anak-anak usia dini mengekspresikan diri serta mengasah kecerdasannya lewat media gambar. Apa yang perlu dilakukan orangtua, cukup menyediakan fasilitas dan pendampingan pada anak, alih-alih mengajari mereka menggambar. Karena justru dengan mengajari mereka “bagaimana cara menggambar” akan mengungkung daya kreatif mereka.

 

 

Anak-anak Hilang

Akhir-akhir ini negeri kita dilanda krisis keberagaman. Setiap perbedaan sekecil apa pun dengan mudah disikapi dengan reaksi yang berlebihan. Hingga terkadang berlarut-larut dan berkembang keluar meninggalkan akar masalah yang sebenarnya. Setiap orang begitu gampang tersulut, marah, sehingga melahirkan perilaku-perilaku yang tak lagi saling menghargai kemanusiaan satu dengan lainnya.

Pancasila kembali dipertanyakan kepatutannya sebagai dasar negara, anak-anak pun ikut menjadi bingung dengan situasi yang terjadi. Sesama orang dewasa saling menyudutkan, antar kelompok saling menegasikan, tak ada yang benar kecuali kelompoknya sendiri.

Dalam situasi serba kalut seperti ini, keluarga menjadi satu-satunya rujukan paling layak untuk menjadi tolok ukur kebenaran dan jitu yang diharapkan dapat dipercayai oleh anak-anak. Karena orangtuanya tidaklah mungkin berbohong kepadanya. Terlebih segala informasi baik benar maupun salah semuanya dapat diperoleh dengan mudah dari sumber media internet. Bukannya anak semakin tercerahkan justru semakin terperosok masuk ke dalam rimba informasi yang berpotensi menyesatkan. Tanpa ada perimbangan masukan dari orang dewasa yang terpercaya dalam hal ini kedua orangtuanya, maka bibit-bibit radikalisme akan semakin menemukan lahan suburnya.

Menurut Sidharta Susila, seorang pendidik dari Muntilan, Jawa Tengah, dalam opininya di Harian Kompas, 3 Juni 2017 lalu, bisa saya simpulkan di sini. Beberapa hal bisa menjadi penyebab anak dan remaja menjadi pribadi yang kurang bertoleransi, di antaranya peran orangtua yang sangat dominan, dan menyerahkan segala pekerjaan meskipun sepele ke tangan pembantu rumah tangga. Anak tidak dilibatkan untuk mengurus pekerjaan dalam rumah dan lingkungannya. Anak bertumbuh jadi pribadi yang tidak peka dan tidak peduli.

Hal lain adalah ketidaksiapan calon orangtua menjalani peran menjadi orangtua. Apalagi dalam  iklim ekonomi yang tidak mendukung, pasangan orangtua menjadi gampang marah, maka anak adalah objek tak berdaya yang akan menjadi sasaran. Dari sini pulalah anak-anak mulai menyerap contoh nyata sehari-hari perihal kekerasan yang nyata di depan mata. Belum lagi jika orangtua adalah pasangan yang menikah karena “kecelakaan” seksual. Akan muncul banyak penolakan dan pertentangan batin di sana-sini yang berakibat pada tidak wajarnya perlakuan terhadap anak.

Melihat peta masalah yang terjadi sekarang, maka sangatlah tepat bila kita semua, para pelaku pendidikan, khususnya para orangtua segera turun tangan mengambil alih tanggung jawab memperbaiki moralitas anak-anak bangsa. Mencegah perilaku-perilaku intoleransi sejak dini dari rumah sendiri, dari lingkungan terdekat, KELUARGA. Orangtua adalah pihak yang pertama paling bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya.  Agar kelak di kemudian hari mereka tidak semakin menjadi beban bangsa dan negara. Dan bisa jadi justru berpotensi merongrong keberadaan negara.

Akan tetapi masalah ternyata tidak sesederhana keinginan kita. Tidak semudah membalik telapak tangan.  Orangtua sudah menyanggupi untuk bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya mulai hari ini. Tetapi langkah-langkah apa yang sudah mereka lakukan? Persiapannya seperti apa, dan sanggupkah melanjutkan misi mulia mengantarkan anak-anaknya pada kehidupannya sendiri kelak? Saat tantangan banyak menghadang di sepanjang jalan, saat emosi tak dapat dikuasai, saat masalah demikian banyak bertumpuk, saat beban kehidupan silih-berganti melongok di depan pintu?

Di saat-saat seperti ini sangat mudah melupakan janji-janji suci kita pada anak-anak yang tentu saja tidak akan menuntut orangtuanya dengan ujuran-ujarannya. Mereka manusia lemah yang kadang tak berdaya di hadapan kuasa orang dewasa di sekitarnya. Mereka pulalah yang dengan mudahnya menjadi mangsa empuk para pengincar anak-anak di luar sana. Karena bedebah itu sadar, anak-anak adalah korban dan sasaran yang mudah untuk dipengaruhi, diiming-imingi kesenangan semu yang selama ini tak tergapai di dalam rumah.

Orang-orang yang bertopeng kebaikan dan kemurahan hati perlahan-lahan akhirnya berhasil menggiring anak-anak  yang tanpa daya dan tanpa perlawanan sedikit pun. Hingga pada suatu pagi kita terbangun dengan pandangan mata yang nanar, terbelalak, menyaksikan kehidupan baru di depan mata. Anak-anak itu sudah bukan lagi anak-anak kita…

 

 

 

SEAMEO CECCEP

Rabu, 27 September 2017 sedikitnya 70 peserta menyatakan diri siap mengikuti rangkaian tiga hari kegiatan di Hotel Singgasana, Makassar. Mereka datang dari beberapa provinsi di Indonesia Timur. Papua, Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, serta beberapa kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Di samping itu beberapa peserta ada pula yang dari Maros, Bantaeng, Jeneponto, dan dari Makassar sendiri sebagai kota tempat penyelenggaraan kegiatan. Para peserta yang datang dari luar Makassar mulai check-in kamar hotel sejak siang, sementara saya sendiri memilih berangkat ke lokasi pukul tujuh malam untuk registrasi, agar sekaligus bisa langsung mengikuti pembukaan pada malam itu.

Sesaat pandangan saya tertuju pada judul kegiatan yang tertera di spanduk persis di atas kursi-kursi para pembicara. Kegiatan Sosialisasi The Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP). Pada sesi pembukaan malam itu saya memahami, SEAMEO adalah sebuah organisasi yang diprakarsai oleh menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara. Berdiri sejak tahun 1965, lembaga ini bertujuan membangun kerja sama dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Asia Tenggara. Saat ini kantor sektretariat berlokasi di Bangkok, Thailand. Sebuah organisasi bertaraf internasional.

Latar belakang didirikannya karena meningkatnya kebutuhan terhadap penelitian dan praktik berbasis bukti nyata, komitmen regional dan global, serta untuk memenuhi kebutuhan, tantangan, dan harapan dari negara-negara anggota SEAMEO di bidang pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga.

Visi SEAMEO, menjadi organisasi yang terkemuka dalam peningkatan pemahaman dan kerja sama regional dalam pendidikan, sains dan budaya untuk kualitas kehidupan yang lebih baik di Asia Tenggara.

Sementara untuk misinya, ia bertujuan memperkuat pemahaman, kerjasama dan kesatuan tujuan regional negara-negara anggota untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik melalui: pembentukan jaringan kemitraan, penyediaan forum antara pembuat kebijakan dan para ahli, serta promosi sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Ada 7 program yang diprioritaskan oleh SEAMEO ini:

  1. Mencapai pendidikan universal bagi anak usia dini.
  2. Mengatasi hambatan pendidikan inklusi.
  3. Memastikan ketahanan dalam menghadapi keadaan darurat.
  4. Mempromosikan pendidikan dan pelatihan vokasi dan kejuruan.
  5. Merevitalisasi pendidikan guru.
  6. Mendorong harmonisasi pendidikan dan riset.
  7. Mengadopsi kurikulum abad ke-21.

Proposal SEAMEO CECCEP mulai diajukan pendiriannya pada tahun 2015 di SEAMEO HOM (High Official Meeting) ke-38 di Bangkok. Proposal diterima tahun 2016, dan disetujui di SEAMEO Council ke-49 SEAMEC di Jakarta tahun 2017. Gedung SEAMEO CECCEP saat ini berlokasi di dalam Area Pusat Pengembangan PAUD dan Pendidikan Masyarakat di Lembang, Jawa Barat, Indonesia.

Ada pun pertimbangan Indonesia dipilih sebagai lokasi kantor pusat SEAMEO CECCEP dikarenakan:

  1. Indonesia merupakan negara yang besar dan beragam.
  2. Negara dengan ekonomi yang berkembang pesat.
  3. Memiliki kebijakan dan program pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga.
  4. Memiliki sumber daya untuk menjamin dan mendukung pendirian serta pengoperasian centre.
  5. Memiliki komitmen pemangku kebijakan untuk mendukung pelaksanaan program PAUD dan pendidikan keluarga di masa yang akan datang.

Selain sosialisasi SEAMEO CECCEP itu sendiri, mulai sejarah pembentukan, latar belakang berdirinya, dll, masih ada beberapa materi khusus yang disampaikan pada kegiatan ini di antaranya, Hak Anak dalam Pendidikan Usia Dini, Pengasuhan (parenting) Berbasis Hak Anak, juga mengenal lebih jauh gerakan-gerakan yang dilakukan dan dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya menanamkan pemahaman akan pentingnya pendidikan yang ditopang oleh tiga pilar, rumah, sekolah, dan masyarakat. Ketiga komponen ini mesti bekerja sama bersinergi agar generasi-generasi yang dilahirkan mampu menjadi pribadi-pribadi yang kuat, mandiri, cerdas, dan kreatif. Jika tidak, maka cita-cita dan visi bersama akan sulit untuk diraih.

Salah satu laman bentukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sempat diperkenalkan adalah laman Sahabat Keluarga. Situs yang hampir setiap hari saya kunjungi, selain untuk mengetahui kabar terkait dunia sekolah dan pendidikan keluarga di Indonesia, juga karena saya rutin menulis di sana sejak akhir tahun 2016 hingga tulisan terakhir yang dimuat di bulan April 2017.

Oleh karenanya meskipun kuota peserta pada kegiatan sosialisasi awal ini sangat terbatas, diharapkan partisipasi hadirin yang terdiri dari guru-guru PAUD, anggota HIMPAUDI, tenaga-tenaga pendidik tingkat satuan pendidikan, mitra sekolah, serta pegiat parenting, dll dapat menjadi perpanjangan tangan informasi yang didapatkan pada dua hari kegiatan ini.

Yang menarik bagi saya, yakni soal penelitian yang terkait pengasuhan. Banyak hal yang selama ini menjadi pengamatan sehari-hari yang masih terbatas pada tulisan dalam bentuk artikel-artikel pendek, bagaimana menghadapi dan menangani perilaku-perilaku anak. Lewat wadah ini banyak hal dapat dilakukan oleh mereka yang ingin serius mendalami soal pengasuhan dan pendidikan anak. Di mana temuan-temuan itu nantinya akan dipublikasikan, bukan hanya di tingkat nasional melainkan pula pada skala internasional.

Pada akhirnya tanggung jawab pendidikan bukan hanya terletak di pundak satu pihak saja, yakni sekolah atau pemerintah, melainkan seluruh komponen yang terkait dengan dunia ini. Di atas segalanya, orangtua atau keluarga adalah pihak pertama yang seharusnya paling bertanggung terhadap pembentukan karakter dan masa depan anak-anak yang dilahirkannya.

 

 

Aku pun Terisak Seperti Ayah Arun Gandhi

Anak adalah permata yang tak ternilai harganya. Kesadaran itu yang selamanya akan tertanam dalam batin sejak awal kehadiran mereka di muka bumi. Setiap yang berhati nurani akan membenarkan anggapan ini. Walaupun dalam kenyataannya banyak yang mengingkarinya. Kasus-kasus kekerasan terhadap mereka bercerita dengan jujur, bagaimana ulah bejat manusia-manusia yang berstatus ibu dan bapak. Seolah kekerasan adalah satu-satunya alat komunikasi yang mangkus.

Entah ada hubungannya atau tidak, antara buku-buku yang saya baca dengan tokoh pergerakan India, Mahatma Gandhi, yang masyhur dengan  ajarannya, ahimsa. Saya selalu memilih jalan-jalan damai, persuasif, tetapi tegas dalam berinteraksi dengan orang lain. Prinsip  yang saya berlakukan pula pada anak-anak. Rasanya tidak tega memarahi anak-anak, kecuali mereka kelewatan kurang ajarnya. Yang mana sesungguhnya kemarahan itu saya tujukan kepada orangtuanya. Kenapa melakukan pembiaran  terhadap perilaku anak-anaknya.

Efek dari sikap saya terhadap mereka, anak-anak di rumah mudah menangkap sinyal-sinyal kemarahan atau ketidaksetujuan saya terhadap sesuatu. Saya ingin mereka tumbuh dengan tingkat kepekaan yang tinggi terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga tidak perlu adu vokal atau adu otot untuk mempertahankan pendapat atau menggolkan keinginan masing-masing.

Hingga di suatu waktu, ada kejadian yang seolah meruntuhkan upaya yang selama ini kami lakukan dalam membesarkan mereka. Saat saya berbicara dengan anak kami yang nomor tiga, dia sementara memainkan game yang ada di ponselnya. Matanya lurus tertuju pada benda yang ada di tangannya. Tidak berhenti bermain apalagi menoleh ke arah sumber suara. Perasaan marah, kesal, kecewa bercampur jadi satu. Saya berbalik meninggalkan ruangan sambil membanting pintu kamar. Suaranya cukup keras, tetapi ia masih mengira bantingan itu karena dorongan angin yang sesekali berperan meringankan pekerjaan menutup pintu.

Selama berjam-jam saya memilih bungkam sebagai sinyal protes terhadap sikapnya barusan. Hingga kemudian saya memulai berbicara dengannya. Mempertanyakan sikapnya yang seolah tidak menghargai orangtua yang sementara berbicara. Ia membela diri mengatakan kalau sudah menjawab pertanyaan saya saat itu. Saya menukasnya, bahwa bagaimanapun anak harus menghentikan kegiatannya yang tidak terlalu penting saat  berbicara dengan orangtua. Saya kembalikan ia pada jalur peraturan yang sudah sama-sama kita sepakati selama ini. Karena bagi saya tindakan pembiaran yang remeh sekali pun dapat berdampak pada pengabaian pada skala besar nantinya.

Keesokan paginya suasana rumah yang sunyi dan tenang membawaku pada perenungan diri yang panjang. Apakah saya telah gagal mendidik mereka? Tanpa terasa air mata yang cukup lama tertahan akhirnya tumpah juga. Sebagaimana ayah Arun Gandhi yang mendapati anaknya telah berbohong, memilih menghukum dirinya dengan berjalan kaki selama lima setengah jam sebagai sebuah aksi penebusan rasa bersalahnya.

Inilah kisah lengkapnya.

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

 

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

 

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata “Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya.

 

Saat itu sudah hampir pukul 18.00!!!Dengan gelisah ayah menanyai saya “Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong.

 

Lalu ayah berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

 

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

 

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin.

 

Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua “bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. “Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan “bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam “bibit” perilaku dan sikap itu.

 

Artikel ini milik sekolahSuper[dot]com. Silakan disebarkan dengan tetap mencantumkan sumbernya.

 

Arun yang bernama lengkap Dr. Arun Manilal Gandhi merupakan cucu kelima dari Mohandas K. Gandhi, atau yang biasa kita kenal dengan nama Mahatma Gandhi. Seandainya tindakan ayahnya berkebalikan dengan kisah yang terjadi, tentu kesan dan perasaan yang tertanam dalam dirinya akan berbeda. Bisa jadi ia masih mengulang kebohongan yang sama di kesempatan lain.

Sore menjelang Magrib, anak saya pulang dari sekolah. Hal pertama yang ia lakukan, mendatangi saya dan meminta maaf atas kejadian kemarin. Kami berpelukan cukup lama seperti biasa.

 

 

 

Digital Parenting Karena Gawai Sebuah Keniscayaan

Seumpama hidup di tengah pusaran air yang mengepung dari segala penjuru, serupa itulah gambaran hidup manusia era kini. Tak hanya anak sekolah, bahkan yang belum bersekolah, hingga orangtua yang sudah berumur pun, yang baru beberapa hari mengenal internet, tak pelak jadi mangsa empuk teknologi. Tidak memegang gawai serasa seperti orang  bego di antara kerumunan orang-orang berponsel, yang setiap jam bahkan beberapa menit mengecek  benda yang berada di genggamannya.

Boleh dikata dialah orang pintar yang mampu menjawab setiap pertanyaan. Anak kami yang ingin mengetahui cara menangani lengan terkilir, langsung searching informasi dari Google. Dalam sekejap ia pun mendapatkan penjelasan cara penanganannya. Saya termasuk yang sering memanfaatkan fitur canggih ini untuk mencari gambar buku yang dicari oleh pelanggan toko. Pernah pula mencari  tips bagaimana membuka tutup toples yang mengeras. Di antara jurus-jurus  tersebut ada yang manjur, tak jarang ada pula yang tidak. Namun yang pasti informasi saat ini tidak lagi sesulit era sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan, era kini era banjir informasi. Saking membanjirnya, pembaca jadi bingung sendiri ingin membaca bagian mana terlebih dulu. Semua hadir di saat yang bersamaan dan menuntut perhatian yang serentak pula. Jika tak jeli memilih bacaan digital, pembaca bisa jadi korban berita palsu (hoax).

Beberapa waktu, sebelum saya mulai menulis perihal perangkat digital, saya termasuk orang yang prihatin terhadap perkembangan penggunaan alat ini di kalangan anak-anak sekolah. Bahkan menentang memberikan fasilitas tersebut pada mereka. Paling cepat ia boleh diberikan saat anak duduk di usia kelas menengah awal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, serta mengamati kecenderungan penggunaan pada alat ini yang semakin hari semakin tak terbendung, maka pikiran bijak pun perlahan saya kedepankan.

Ibarat berumah di tepi pantai, bersiaplah untuk belajar berenang. Menghindarkan anak dari peranti elektronik ini saat orang-orang di sekitarnya menjadikannya sebagai teman belajar, teman ngobrol, bahkan sebagai buku pintar tempat rujukan banyak soal sulit, adalah sebuah keniscayaan. Namun di satu sisi, bukan berarti pula anak-anak di bawah standar umur boleh dibiarkan bermain game dan melihat layar tanpa kendali. Pengaruh buruk tetap mengintai jika masih sangat dini anak-anak sudah dibiasakan memegang dan memainkan perangkat digital.

Pembahasan akan besarnya dampak buruk yang diakibatkan oleh anak-anak dan remaja yang kecanduan game atau pun menonton video dan berbagai permainan lainnya sudah banyak dibahas di buku dan artikel-artikel yang tersebar luas. Seperti melemahnya lobus frontalis yang membuat anak “matang semu”, ketidakmampuan anak bersosialisasi di dunia nyata akibat dominasi dunia maya yang tidak berimbang. Ada pula anak yang mengalami gangguan emosional bahkan cenderung mengarah pada gangguan kejiwaan. Begitu pula dengan menurunnya konsentrasi dan daya nalar. Sangat membahayakan jika kita mau merunut dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh peranti-peranti ini.

Namun sebagaimana yang telah saya ungkapkan di atas, suatu hal yang sangat sulit ditanamkan pada benak anak betapa gawai dan sejenisnya merupakan benda-benda yang perlu dihindari. Sementara setiap hari, setiap waktu kita sebagai orangtuanya atau orang-orang dewasa di sekitarnya umumnya menggunakan alat tersebut. Di sekolah pun guru menyuruhnya mencari informasi di internet. Setiba di rumah, ibu, ayah, dan kakak-kakaknya didapati menggunakan hampir seluruh waktunya bersentuhan dengan perangkat tersebut.

Di rumah, kami nyaris setiap hari berhubungan dengan laptop, membuka media sosial sebagai media promosi  buku ataupun hal-hal yang terkait dengan kegiatan tulis-menulis. Anak-anak menyaksikannya langsung, melihat dari dekat apa yang kami lakukan. Melakukan penjualan, diskusi, dan  menulis hal-hal yang bermanfaat, yang kesemuanya terangkum dalam satu misi, ingin memperkuat branding. Meskipun begitu, ada rasa yang kurang nyaman jika terlalu lama waktu yang saya habiskan untuk berselancar, padahal tujuan semula sudah terpenuhi. Untuk itu kami kerap memberi keterangan atau penjelasan, alasan mengapa melakukan ini dan itu pada mereka.

Kadang terbersit kerinduan pada suasana kampung halaman, hidup di desa yang belum banyak terpapar polusi teknologi. Tetapi adakah kehidupan desa yang seideal itu? Karena saat ini bahkan desa yang terpencil secara lokasi sekalipun selama jaringan operator masih bisa menjangkaunya, tetap akan terseret budaya modernitas. Kecuali akses listrik dan jaringan telekomunikasi masih sulit, mungkin di sanalah kehidupan tanpa perangkat digital akan ditemukan.

Jika situasinya sudah seperti ini, maka tak ada cara lain selain memberikan pendidikan digital sejak awal pada masyarakat umum, khususnya para orangtua dan guru sebagai pihak yang akan memberikan pengaruh besar pada perkembangan anak-anak.

Sebagai langkah awal, fase-fase ini yang perlu dilakukan menurut Yee-Jin Shin, seorang psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea. Saya merangkumnya dalam 3 poin berikut.

  1. Berhenti mendewakan perangkat digital.

Orangtua sendiri pun harus membatasi penggunaan perangkat digital. Selanjutnya mengganti dengan buku atau media cetak lainnya sebagai sumber referensi.

  1. Orangtua harus terus mempelajari “musuh”.

Orangtua perlu terus-menerus mempelajari segala sesuatu  yang berkaitan dengan perangkat digital dan situs-situs di dunia maya. Permainan jenis apa yang saat ini paling banyak digandrungi anak-anak, situs-situs apa yang boleh dan yang tidak layak ditonton oleh anak, dst.

  1. Orangtua harus melakukan digital clean.

Karena orangtua adalah model atau contoh bagi anak-anaknya, maka perlu waspada agar usaha membatasi penggunaan perangkat digital tidak sia-sia hanya karena anak melihat contoh pada orangtuanya sendiri. Selain itu pula orangtua perlu rutin memonitor penggunaan alat ini, agar tidak dirasuk virus-virus konten pornografi, kekerasan, dan berbagai ancaman lain yang bisa membahayakan masa depan anak.

Ajarilah anak cara berenang, bukan melarang mendekati pantai. Jika anak tahu cara berenang, ia akan selamat mengarungi lautan air yang tak bertepi. Hidup dengan menggunakan perangkat digital laksana hidup di tengah air.