Arsip Kategori: Parenting

Peliknya Menjadi Anak (Tetesan Rasa Kemanusiaan di Hari Anak Indonesia)

Sedikit rasa kemanusiaan sungguh jauh lebih berharga daripada seluruh peraturan yang ada di dunia ini. ~ Jean Piaget

Sering kali muncul gugatan dan perasaan miris dalam hati, manakala menyaksikan lingkungan anak-anak yang sungguh memprihatinkan. Bukan soal materi semata melainkan pada bagaimana cara orang-orang dewasa berinteraksi dengan mereka. Bagaimana perlakuan orangtua terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Rasa kepemilikan seolah menjadi pembenar atas banyaknya perlakuan yang salah. read more

Teruslah Berjalan… (Refleksi Pada Suatu Hari Wisuda)

Pada suatu masa, rentang waktu 95-an, usiamu setahun kurang lebih, kami sang orangtua baru dengan penuh semangat mengajarimu berbagai macam keahlian. Mulai mengeja abjad, pada usia hitungan bulan, berbahasa dan bercakap-cakap dengan kalimat yang baku dan tertata kaidahnya. Hingga mengatur dan menjaga interaksi orang-orang dewasa di sekitarmu agar mengikuti aturan dan arahan dari kami. Agar tidak terjadi kesalahan perlakuan yang akibatnya bisa runyam di kemudian hari.

Orangtua manapun di dunia ini sudah pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Tak ada yang berniat buruk ingin mencelakakan ataupun menjerumuskan buah hati yang sangat disayanginya. Jika ternyata dalam praktiknya terjadi kesalahan, maka bisa dipastikan bukan itu niat mereka. Hanya karena ketidaktahuanlah yang menggiring mereka melakukan kesalahan. Mengapa tidak tahu? Karena tidak ada proses pencarian pengetahuan di dalamnya. Jika terus dirunut ke belakang, mengapa tidak belajar, boleh jadi seribu satu alasan akan mengemuka. Beberapa di antaranya, kurangnya waktu, semangat mencari ilmu sudah terhenti pada batas bangku akademik, dan lain-lain alasan yang mungkin akan panjang jika disebutkan. read more

Surat untuk Anakku

Di tengah malam seperti ini, hal yang paling Ibu suka adalah membaca sambil mendengarkan lamat-lamat musik dari radio. Buku setebal 150 halaman sanggup Ibu baca dalam suasan malam yang hening. Sesekali jika ada ide yang melintas, bergeraklah jari-jari ini menari di atas tombol-tombol huruf notebook. Walaupun hadirnya tak pernah bisa bertahan hingga hitungan jam. Karena bagaimanapun Ibu sekarang tak kuat lagi begadang hingga melewati batas kemampuan tubuh ini. Sehingga kendati semangat untuk menulis itu terkadang menderu-deru, namun pikiran dan tenaga harus pula Ibu siapkan untuk urusan lain keesokan harinya. read more

Maafkan Kami yang Telah Mengirimmu ke Sekolah

Suatu sore seorang kenalan baru bertandang ke toko dan melihat aktivitas yang saya lakukan. Mengajar anak usia SD pelajaran matematika, Bahasa Inggris, dan mengaji. Terlontarlah tanya dari mulutnya, “Anak-anak ta pastinya rangking semua ya di sekolah?”

“Oh, tidak juga. Mereka biasa-biasa saja prestasinya di kelas.”

Kami termasuk orangtua yang tidak mematok anak-anak harus menduduki peringkat tertentu. Karena bagi kami, sekolah bukanlah segalanya dalam menjalani kehidupan ini. Bahkan, anak-anak berkelakar di rumah, kala ditanya oleh temannya, bahwa sekolah itu hanya sampingan saja. Pengisi waktu di sela-sela banyaknya kegiatan yang lain. read more

Ayah dalam Episode Kenangan

Oleh Bapak saya pernah diperdengarkan sebuah rekaman suara obrolan dua orang yang sedang bercakap-cakap. Suara laki-laki dewasa dan seorang anak perempuan kecil usia sekitar 3 tahunan yang terdengar ceriwis dan kritis. Saya bertanya ke Ibu itu rekaman suara siapa? Ternyata anak kecil dan orang dewasa dalam rekaman kaset tersebut adalah suara saya dan Bapak. Beliau rajin mengabadikan momen kanak-kanak kami dalam bentuk kaset rekaman.

Saya bisa membaca sebelum usia SD,  atas jerih payah Bapak. Saya pun sudah bisa melafazkan huruf-huruf Hijaiyah dengan baik dan jelas pada usia tersebut. Dalam bayang-bayang ingatan yang belum terlalu jelas saya sering ikut beliau ke masjid dan tinggal di sana beberapa waktu setiap selesai salat Magrib untuk mengajari mengaji beberapa anak-anak kecil. Saya duduk di samping Bapak menunggunya selesai mengajar. Sesekali saat murid-muridnya ada yang kesulitan melafazkan sebuah huruf, Bapak akan berbalik ke saya meminta saya untuk mencoba menyebutkannya dengan tepat. Sembari show of force saya pun  dengan bangga menyebutkannya. read more

Mengasah Kreativitas Anak Lewat Gambar

Siapa bilang gambar anak-anak tidak mengandung makna? Siapa bilang anak-anak yang suka menggambar hanya membuang-buang waktu saja? Dan siapa di antara kita yang masih suka menilai gambar anak dengan satu kata saja, “bagus”? Saatnya mengubah pemahaman dan cara pandang tersebut. Bahwa dalam kegiatan menggambar beragam makna bisa terungkap di sana.

Prof. Dr. H. Primadi Tabrani, sang penemu konsep Limas Citra Manusia dan Bahasa Rupa yang telah berjasa menyebarluaskan temuannya kepada warga dunia. Temuan yang masih orisinal dan belum ada dalam khazanah perbendaharaan ilmu Barat. Kemarin, Sabtu, 21 Oktober 2017 adalah momen yang sangat menguntungkan karena putri beliau, bu Luna Setiati mau meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dengan sebagian kecil orangtua yang menaruh minat besar pada pertumbuhan putra-putri mereka. read more

Anak-anak Hilang

Akhir-akhir ini negeri kita dilanda krisis keberagaman. Setiap perbedaan sekecil apa pun dengan mudah disikapi dengan reaksi yang berlebihan. Hingga terkadang berlarut-larut dan berkembang keluar meninggalkan akar masalah yang sebenarnya. Setiap orang begitu gampang tersulut, marah, sehingga melahirkan perilaku-perilaku yang tak lagi saling menghargai kemanusiaan satu dengan lainnya.

Pancasila kembali dipertanyakan kepatutannya sebagai dasar negara, anak-anak pun ikut menjadi bingung dengan situasi yang terjadi. Sesama orang dewasa saling menyudutkan, antar kelompok saling menegasikan, tak ada yang benar kecuali kelompoknya sendiri. read more

SEAMEO CECCEP

Rabu, 27 September 2017 sedikitnya 70 peserta menyatakan diri siap mengikuti rangkaian tiga hari kegiatan di Hotel Singgasana, Makassar. Mereka datang dari beberapa provinsi di Indonesia Timur. Papua, Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, serta beberapa kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Di samping itu beberapa peserta ada pula yang dari Maros, Bantaeng, Jeneponto, dan dari Makassar sendiri sebagai kota tempat penyelenggaraan kegiatan. Para peserta yang datang dari luar Makassar mulai check-in kamar hotel sejak siang, sementara saya sendiri memilih berangkat ke lokasi pukul tujuh malam untuk registrasi, agar sekaligus bisa langsung mengikuti pembukaan pada malam itu. read more

Aku pun Terisak Seperti Ayah Arun Gandhi

Anak adalah permata yang tak ternilai harganya. Kesadaran itu yang selamanya akan tertanam dalam batin sejak awal kehadiran mereka di muka bumi. Setiap yang berhati nurani akan membenarkan anggapan ini. Walaupun dalam kenyataannya banyak yang mengingkarinya. Kasus-kasus kekerasan terhadap mereka bercerita dengan jujur, bagaimana ulah bejat manusia-manusia yang berstatus ibu dan bapak. Seolah kekerasan adalah satu-satunya alat komunikasi yang mangkus.

Entah ada hubungannya atau tidak, antara buku-buku yang saya baca dengan tokoh pergerakan India, Mahatma Gandhi, yang masyhur dengan  ajarannya, ahimsa. Saya selalu memilih jalan-jalan damai, persuasif, tetapi tegas dalam berinteraksi dengan orang lain. Prinsip  yang saya berlakukan pula pada anak-anak. Rasanya tidak tega memarahi anak-anak, kecuali mereka kelewatan kurang ajarnya. Yang mana sesungguhnya kemarahan itu saya tujukan kepada orangtuanya. Kenapa melakukan pembiaran  terhadap perilaku anak-anaknya. read more

Digital Parenting Karena Gawai Sebuah Keniscayaan

Seumpama hidup di tengah pusaran air yang mengepung dari segala penjuru, serupa itulah gambaran hidup manusia era kini. Tak hanya anak sekolah, bahkan yang belum bersekolah, hingga orangtua yang sudah berumur pun, yang baru beberapa hari mengenal internet, tak pelak jadi mangsa empuk teknologi. Tidak memegang gawai serasa seperti orang  bego di antara kerumunan orang-orang berponsel, yang setiap jam bahkan beberapa menit mengecek  benda yang berada di genggamannya.

Boleh dikata dialah orang pintar yang mampu menjawab setiap pertanyaan. Anak kami yang ingin mengetahui cara menangani lengan terkilir, langsung searching informasi dari Google. Dalam sekejap ia pun mendapatkan penjelasan cara penanganannya. Saya termasuk yang sering memanfaatkan fitur canggih ini untuk mencari gambar buku yang dicari oleh pelanggan toko. Pernah pula mencari  tips bagaimana membuka tutup toples yang mengeras. Di antara jurus-jurus  tersebut ada yang manjur, tak jarang ada pula yang tidak. Namun yang pasti informasi saat ini tidak lagi sesulit era sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan, era kini era banjir informasi. Saking membanjirnya, pembaca jadi bingung sendiri ingin membaca bagian mana terlebih dulu. Semua hadir di saat yang bersamaan dan menuntut perhatian yang serentak pula. Jika tak jeli memilih bacaan digital, pembaca bisa jadi korban berita palsu (hoax). read more