Arsip Kategori: Parenting

Jalan-jalan Parenting

Sore yang masih menyisakan terik bercampur debu Kota Makassar mengiringi perjalanan kami ke penghujung salah satu desa di Kabupaten Gowa. Jarak yang singkat (105 km) dengan kondisi jalan yang belum bagus harus ditempuh dalam waktu tiga jam lebih, bahkan hampir empat jam. Berangkat pukul lima sore, sempat terhenti beberapa saat di daerah Hertasning untuk menyaksikan iring-iringan kendaraan pejabat melintas.

Sepanjang perjalanan, saya mencoba memvisualisasikan dalam benak tempat kegiatan nanti akan dilangsungkan, seperti apa antusiasme warganya. Model dialognya bagaimana, seberapa dalam pemahaman mereka soal parenting yang akan dibahas nanti. Mengingat selama ini saya lebih banyak bertemu dan berinteraksi dengan orangtua-orangtua yang tinggal di daerah perkotaan. Dalam hati saya salut pada keinginan mereka untuk belajar mengasuh anak.

Meskipun sebenarnya kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan CSR (Corporate Social Responsibility) dari Yayasan Hadji Kalla, namun semangat belajar dan keingintahuan warga yang secara geografis jauh terpencil patut diacungi jempol. Rupanya teknologi banyak membantu mereka untuk bisa mengakses pengetahuan terkait persoalan kekinian. Termasuk tema-tema yang menyangkut bagaimana mengasuh anak dengan baik.

Sebelum berangkat, oleh penyelenggara saya diberikan sedikit gambaran bagaimana kondisi masyarakat di sana. Taraf pemikirannya seperti apa, kalau bisa gunakan saja bahasa-bahasa yang mudah dipahami. Hindari menggunakan istilah-istilah sulit. Bahkan kalau perlu selipkan juga bahasa daerah. Wah, ini yang sulit. Yang lain saya bisa sesuaikan, tetapi untuk menggunakan bahasa daerah, terlebih bahasa warga Pao, Konjo, saya tidak bisa sama sekali. Kecuali paham sedikit jika mendengar pembicaraan mereka. Karena banyak kemiripan dengan bahasa Makassar.

Bagi saya, bertemu dan mengobrol dengan orang-orang sederhana tetapi memiliki keinginan besar untuk belajar, sungguh hal yang menyenangkan. Saya menikmati bertatap muka, bercakap-cakap, dan memandang bola-bola mata mereka yang berbinar-binar. Rasanya saya ingin bilang, saya akan membantu  sebisa mungkin masalah Ibu/Bapak dengan segenap tenaga dan pikiran saya. Kurang lebih seperti itulah pesan yang ingin saya kirimkan kepada mereka.

Hari pertama, di tengah suhu yang luar biasa dingin, sehingga mandi pun serasa disiram air es, dimulai pukul delapan lewat. Perkiraan warga yang hadir hanya tiga puluh,  tetapi nyatanya ada lebih empat puluh orangtua dan calon orangtua. Karena kursi tidak mencukupi maka diputuskanlah untuk duduk di lantai saja beralaskan karpet. Penyajian materi kurang lebih satu jam dilanjutkan dengan diskusi. Banyak persoalan yang mereka tanyakan. Ada orangtua yang sekaligus guru sekolah, ada ibu rumah tangga yang lebih banyak waktu di rumah, ada pula remaja-remaja yang tampak mau belajar banyak sebelum mulai membentuk keluarga nantinya. Untuk kelompok ini saya mengucapkan salut yang tinggi. Mau belajar jauh-jauh hari sebelum masanya tiba. Ini menurut saya tindakan yang paling tepat dan patut ditiru. Bukannya nanti dihujani masalah baru mulai tersadar untuk mau belajar.

Hari kedua, warga yang hadir kurang lebih sama dengan hari sebelumnya. Hanya saja yang berbicara dan menyampaikan materi ditunjuk dari salah seorang peserta. Karena kegiatan ini bertujuan untuk mencari dan membina kader, maka diharapkan nantinya akan banyak muncul dari kalangan warga, orangtua-orangtua yang punya potensi untuk bisa memberikan penyuluhan kepada orangtua-orangtua lainnya. Ada salah seorang ibu yang memiliki potensi tersebut, Bu Murni namanya. Di rumah beliaulah kami menginap selama dua malam di sana.

Pak Desa yang sempat menyimak cukup lama beserta istri, tampak banyak manggut-manggut membenarkan isi pembicaraan saya dan hadirin lainnya. Mungkin karena latar belakang beliau dari militer yang dididik secara militer, menjadikan model mendidiknya pun tak jauh-jauh dari gaya tersebut. Sementara tema yang diangkat oleh penyelenggara adalah “Bagaimana Membangun Cinta untuk Menjadi Keluarga Kuat dan Bahagia”. Adakah cinta di balik setiap kekerasan? Rasanya mustahil menemukannya. Yang terjadi, pesan cinta itu sulit diterima sebagaimana yang diinginkan oleh pengirimnya.

Banyak orangtua dengan atas nama cinta mendidik anak dengan kekerasa fisik maupun verbal, tetapi apakah anak merasakannya sebagai sebuah ungkapan cinta? Adakah cinta di balik pengabaian dan ketidakpedulian? Jadi sudah saatnya mengubah metode pengasuhan kita menjadi pengasuhan cinta. Tanpa kekerasan dan tanpa intimidasi. Yakin dan percaya anak-anak yang diasuh dengan penuh kasih-sayang dan bertabur cinta yang tulus dari kedua orangtuanya, akan tumbuh menjadi anak dengan kepribadian yang kuat dan mandiri.

Cukuplah sekolah tidak memberikan jaminan kenyamanan, tetapi keluarga dan rumah adalah tempat kembali yang nyaman dan membahagiakan bagi anak-anak. Kondisi dan suasana tersebut bisa diperoleh jika orang-orang mau peduli, mau belajar, dan mau bertanggung jawab membesarkan anak-anaknya sebagai sebuah amanah dari Tuhan. Yang tentu saja harus dikembalikan kepada Pemiliknya dalam kondisi sebaik-baiknya.

 

Ritual Lebaran

Banyak hal yang berubah dari tahun ke tahun setiap lebaran tiba. Namun satu tradisi yang masih sulit kami tinggalkan, yakni menyediakan makanan khas lebaran, berupa ketupat atau buras. Memasaknya pun menggunakan kayu seperti di kampung-kampung kala kami kecil dulu. Padahal jika ingin praktis bisa saja dimasak dengan kompor gas yang nyala apinya tentu lebih stabil dibandingkan menggunakan kayu yang tiap beberapa menit harus ditengok. Apakah api yang membakar kayu masih menyala atau jangan-jangan ada di antara kayu-kayu itu yang memendek dan akhirnya habis tanpa disadari.

Kendati kesibukan hidup warga kota perlahan-lahan telah semakin menggerus banyak tradisi menyambut lebaran, namun sebagian kecil masih berusaha melestarikannya. Kami adalah bagian kecil itu. Rasanya tidak sah berlebaran tanpa ketupat dan buras. Plus sop ayam kampung. Bukan hasilnya yang kami kejar, melainkan proses kebersamaan dalam pembuatannya.

Pada hari semua anggota keluarga berkumpul, pembagian tugas pun dipertegas lagi. Ada yang bagian bersih-bersih rumah, ada yang membantu persiapan masakan di dapur. Bekerja riang sambil berbagi cerita dan pengalaman sehari-hari, diselingi musik dari radio. Saya yang sudah seumur ini masih kadang meragukan kemampuan saya dalam membuat buras. Pernah sekali waktu isinya banyak yang keluar dari daun, melayang-layang di atas air panci. Gara-gara daun pisang yang digunakan terlalu muda dan tipis. Tidak terpikirkan untuk membungkus luar lagi, jadilah biji-biji nasi itu berhamburan keluar meninggalkan daunnya.

Pantang menyerah, pembuatan berikutnya saya sudah lebih waspada. Daun pisangnya saya dobel, dan ikatannya saya kencangkan. Agar kejadian sebelumnya tidak terulang kembali. Pernah saya berpikir, jika di generasi saya saja, yang lahir tahun 70-an sudah langka yang bisa bikin makanan khas lebaran ini, apatah lagi generasi-generasi berikutnya. Mungkin makanan sejenis ini sudah langka mereka dapatkan. Atau bisa jadi orang tidak perlu repot-repot membuatnya, sisa ke supermarket, karena aneka macam makanan tradisional sudah lengkap tersedia di sana.

Lalu bagaimana tanggapan anak-anak saya? Mereka justru mau menyediakan makanan yang ringkas saja, tidak pakai repot dan ribet. Saya yang dengan semangat tinggi berusaha mengajak dan melibatkan mereka dalam pembuatannya, akhirnya menyerah pasrah melihat rendahnya antusiasme mereka.

Konon dari cerita ibu saya, dulu sewaktu masih kecil seusia SD, memang beliau yang selalu diliputi rasa ingin tahu setiap kali melihat orangtua-orangtua di sekitarnya memproses sesuatu, entah itu kerajinan tangan, ataukah masakan tertentu. Tanpa diajak, tanpa ada yang menyuruh, ia yang masih kanak-kanak mendekat minta diajari cara membuatnya. Berlanjut ke generasi berikutnya, kami yang ketika itu juga masih kecil, usia SMP bahkan nanti dipanggil mendekat baru kami datang membantu. Lalu sekarang, di generasi ketiga, anak-anak sudah sangat jarang yang tertarik membuat penganan dari bahan daun pisang yang dikesani sulit ini.

Zaman kini segalanya serba instan. Pengetahuan inginnya yang instan, proses pengerjaan sesuatu inginnya instan, mencapai sesuatu tidak sabar melewati tahapan demi tahapan. Guru yang tidak sabar mengajarkan ilmu setahap demi setahap, murid-murid pun demikian. Memperoleh nilai bagus, maunya lewat jalan pintas. Tanpa usaha dan tanpa jerih payah. Rupanya bukan hanya makanan yang instan, akan tetapi hampir semua lekuk kehidupan manusia tak luput dibayang-bayangi soal ini. Juvenal, seorang penyair berkebangsaan Italia menyitir ujar bijak, “Betapa banyak yang ingin memiliki ilmu, tetapi betapa sedikit yang rela bersusah payah untuk mendapatkannya.”

Sebagai praktisi pendidikan anak dan keluarga, saya terus-menerus mengamati, merenungi nasib anak-anak kita yang dibesarkan di tengah zaman teknologi canggih seperti sekarang ini.  Semakin kecil peluang anak-anak akan betah belajar dan menjalani proses pembuatan sesuatu,  tahapan demi tahapan. Terlalu banyak godaan kesenangan di luar sana yang menawarkan hasil yang sama dengan kecepatan yang berbeda

Selama ini kita telah menanamkan sebuah kesadaran baru di hati dan pikiran mereka. Contoh kecil dan nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, yakni praktik mendongkrak nilai siswa dengan memberitahukan jawaban dari soal-soal yang diujikan. Hasil yang instan, tanpa perlu proses. Lambat-laun pengalaman tersebut akan terekam dalam ingatan mereka, bahwa ada suatu cara yang ‘dibenarkan’ untuk mendapatkan nilai yang bagus tanpa belajar.

Contoh lainnya, ketika anak-anak bertanya sambil lalu, bagaimana cara menghasilkan ini dan itu? Orangtua banyak yang memangkas rasa ingin tahu anak dengan jawaban singkat, “Ah, kamu masih kecil, belum waktunya tahu.” Atau langsung memberitahukan jawabannya tanpa proses mengajak anak untuk mencoba berpikir mandiri terlebih dahulu dengan jawaban dari alam pikirannya sendiri.

Sesungguhnya kita para orang dewasa sendiri yang telah mencabut rasa ingin tahu anak dengan jalan-jalan pintas di atas. Pola tersebut akan diingat anak jika selanjutnya menemukan masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Boleh jadi mereka akan memilih Om Pintar Google untuk mendapatkan jawaban-jawaban tersebut. Peran orangtua jadi tersingkirkan tanpa kita sadari. Padahal sangat berbeda jika jawaban tersebut diberikan oleh orang yang ia percayai, ketimbang pihak lain yang tidak mereka kenal. Kita tidak tahu seberapa akuratnya penjelasan tersebut ditinjau dari sisi moralitas. Waktunya kita membenahi diri.

Sepenggal Napak Tilas

Saya senang membaca buku-buku lama yang memuat banyak gagasan cemerlang tentang pendidikan, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup yang lebih luas. Meskipun tentu saja tidak semua pemikiran mereka cocok untuk saya terapkan di dunia yang sekarang. Sebelum berjumpa dengan penulis-pemikir hebat  tersebut, tidak jarang saya harus (terpaksa) membaca buku-buku yang sebaliknya. Sempat tersesat dengan metode-metode yang disodorkan. Tetapi bersyukur saya berhasil segera mengubah arah ke posisi yang benar.

Hingga hari ini saya justru menyandarkan sebagian besar metode pendidikan saya pada tokoh-tokoh ini. Seperti Dr. Thomas Gordon, seorang psikolog berlisensi serta pendiri dan presiden Effectiveness Training Incorporated dari Amerika. Ada teori sekaligus praktik yang diajarkan olehnya. Bahkan dilengkapi pula dengan acara khusus di televisi swasta awal 90-an kala itu. Saya rutin mengikuti programnya. Saat itu bertepatan dengan usia anak pertama kami, kurang lebih tiga tahun.

Seperti  Shinichi Suzuki yang menganjurkan mengasah bakat anak sejak usia sangat dini, misal bakat bermusik dan bahasa, ada pula Glenn Doman yang bahkan di usia bayi yang masih beberapa bulan sudah bisa diajar membaca. Saya pernah mempraktikkannya pada anak pertama saat usianya masih 7 bulan. Semua pemikiran tokoh di atas telah melalui praktik dan uji coba dalam waktu yang lama.

Perjalanan saya masuk-keluar toko buku memelototi satu per satu buku-buku pendidikan anak dan keluarga alhamdulillah membuahkan hasil. Teori-teori tersebut saya baca berkali-kali, tak lupa saya terapkan langsung begitu menyadari materinya sangat bermanfaat dan membantu menuntun  kami dalam mengawal kehidupan-kehidupan baru yang diamanahkan Tuhan. Terkadang salah mengambil sikap,  bahkan salah memperlakukan anak. Namun pantang menyerah, jika salah, coba lagi jalan lain.

Pemahaman awal yang masih gado-gado bisa saja menjadi pembenaran atas sikap-sikap kami yang keliru. Namun akhirnya saya berhasil menyimpulkan, belajar haruslah cepat. Kalahkan masalah-masalah yang timbul tanpa henti. Lambat sedikit saja, kita akan kewalahan dan terseret. Kecepatan saya mempelajari seni berkomunikasi, bagaimana mengendalikan perilaku anak yang menyimpang, pada akhirnya berhasil melahirkan sikap-sikap yang mapan. Hasilnya pun sampai saat ini cukup memuaskan. Anak-anak tumbuh dalam naungan komunikasi positif walaupun masih tetap perlu ditambal di sana-sini.

Bisa saya nyatakan dalam satu adagium, “Belajar banyak dan giat saja masih banyak salahnya, apatah lagi jika tidak belajar.” Dalam pahaman saya, menjadi pendidik itu perlu terus-menerus belajar. Di samping pengetahuan yang harus dikuasai sangat luas cakupannya, metode mendidik juga terus-menerus mengalami banyak perubahan dan perkembangan. Meskipun bisa jadi metode yang lama kembali diterapkan karena dianggap terbukti membuahkan hasil.

Kontroversi dalam meyakini suatu pandangan ataupun teori tak luput mewarnai perjalanan seseorang dalam menemukan kebenaran akan sesuatu. Boleh jadi apa yang saya anggap benar, tidak berlaku bagi sekelompok orang lainnya. Silakan saja, masing-masing orang bebas memilih dan memutuskan cara atau metode yang ingin ia gunakan. Bagi saya ukuran keberhasilan itu perlu ditilik dari dua aspek, jangka pendek dan jangka panjang.

Mungkin saja ada sebuah metode mendidik yang secara jangka pendek tampak efektif, namun buruk untuk jangka panjangnya. Begitupun sebaliknya, tampak tak membuahkan hasil secara jangka pendek, namun secara jangka panjang akar pengaruhnya kuat menghunjam ke dalam tanah. Hanya penelitian intensif yang bisa membuktikan yang manakah teori yang lebih efektif.

Bagi kita orang awam sederhana saja tolok ukurnya, seberapa terbantukah kehidupan kita dengan menggunakan metode tertentu dalam mengarungi hidup sehari-hari. Tentu saja pondasi metode tersebut mesti dipahami pula dengan tepat. Misalnya, apakah baik dan sehat menakut-nakuti anak? Saya yakin dari mana pun kita memandangnya, tak kan ada yang setuju jika menakut-nakuti anak itu tindakan yang tepat. Dampak positif jangka pendeknya, anak akan mudah menurut atau mengikuti keinginan orang dewasa di saat-saat yang diperlukan. Tetapi dampak negatif jangka panjangnya, anak serba ragu-ragu dalam bertindak, tidak memiliki kepercayaan diri yang kuat, tidak berani mengambil keputusan. Dan akibat paling parahnya, anak jadi serba tergantung pada pendampingan orangtua.

Jika sudah seperti itu pola pengambilan keputusannya, maka setiap orang hendaknya tidak berpangku tangan menyaksikan generasinya bertumbuh. Berharap mendapatkan hasil yang terbaik tetapi kurang bahkan tidak mengambil peran aktif di dalamnya. Tahap demi tahap pertumbuhan perlu dicermati dan diperhatikan sepenuhnya, agar hasilnya maksimal. Ibarat tanaman yang harus disemai di lahan yang subur, seperti itulah anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang nyaman dan mendukung potensinya. Jika tanaman perlu asupan pupuk dan obat-obatan, anak-anak pun perlu “disuntik” dengan berbagai bentuk dukungan baik psikis maupun emosional. Apabila tanaman terdeteksi terganggu oleh rumput-rumput liar, maka rumput-rumput tersebut harus segera disingkirkan. Seperti itu pula potensi gangguan yang mungkin saja muncul di tengah proses tumbuh-kembang anak-anak.

Jangan pernah melepaskan pengawasan dan pendampingan pada mereka hingga saatnya tiba. Apabila semua tahapan sudah kita lakukan dengan optimal, di kemudian hari tidak akan timbul penyesalan.

Matano di Suatu Ketika

Minggu pagi adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kami, kaum anak-anak. Tetapi bisa pula menjadi hari yang sebaliknya, dihindari. Ia akan dinanti-nanti jikalau hari itu diisi dengan rencana berenang di danau yang tak jauh dari rumah. Sebaliknya, menjadi hari yang akan terasa membosankan manakala Bapak menggaungkan harus bekerja bakti di halaman rumah beberapa hari sebelumnya. Begitulah kami, anak-anak usia awal belasan tahun yang tentu saja akan lebih menikmati berenang daripada bekerja. Sebuah pilihan yang wajar. Bersenang-senang tanpa keharusan bekerja selalu lebih menyenangkan di mana pun dalam kehidupan kanak-kanak.

Kala hari yang dinanti tiba, suasana pagi serasa lebih semarak dan semangat. Kami bangun sendiri tanpa perlu alarm pengingat. Seusai sholat Subuh kami segera membereskan rumah seadanya dengan sedikit tergesa-gesa. Seolah khawatir air danau  akan mengering jika tidak segera kami temui. Lalu berhamburanlah kami, empat bersaudara tambah Bapak sebagai pemimpin dan pelatih kami.  Ada yang membawa ban besar, pelampung karet, dan handuk. Meskipun di sekolah ada guru olahraga yang juga mengajari renang, tetapi Bapak tetap berperan penting dalam melatih kami berenang  sesekali. Walaupun hanya terbatas pada dua gaya saja, gaya katak dan gaya punggung.

Kata orang-orang yang mengenal Sorowako dan danaunya, berenang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bahkan ada yang hampir setiap sore berlatih renang di sana. Kesempatan kami hanya terbatas pada saat libur saja, karena  masih harus disibukkan  dengan urusan pekerjaan rumah tangga dan kerja-kerja tambahan lainnya. Karena tak mempekerjakan tukang kebun, maka kamilah anak-anak yang menggantikan peran mereka. Lumayan bisa menghemat anggaran pengeluaran keluarga.

Tahun-tahun yang telah berlalu tak akan pernah kembali lagi, sekuat apa pun ingatan  menariknya. Begitu pula dengan pilihan peristiwa yang kita inginkan. Duka, kesedihan, kesengsaraan sudah pasti hadir di setiap sudut kehidupan. Karena ia adalah pasangan kegembiraan. Tetapi pilihan untuk tetap bahagia adalah tantangan tersendiri.

Tak satu pun anak menginginkan kenangan buruk atas kehidupan masa kecilnya. Tetapi apakah mereka dapat memilih? Yang bisa kita berikan bukanlah momen-momen terbaik, melainkan respons atau reaksi terbaiklah yang mampu kita persembahkan. Kita tak dapat menolak kondisi kesulitan keuangan ketika mereka kecil, tetapi mengajari dan melatih mereka untuk hidup di tengah kondisi serba sulit itulah pelajaran yang mahal.

Bahkan kita pun tak dapat menolak keterpisahan kedua orangtua pada anak-anak, tetapi mengajarinya sikap yang benar dan bijak itulah tantangan paling berharga. Bagaimana bisa tetap mencintai kebenaran dan kesetiaan, menolak pengkhianatan dan ketidakjujuran. Tetapi di sisi yang lain tetap menaruh penghargaan yang tinggi pada kejujuran, kesetiaan, dan pengkhidmatan.

Sebuah kebahagiaan terbesar bila mampu melalui rintangan-rintangan masalah, mengurai lilitan pengikat hingga berhasil keluar dari ceruk kesulitan. Siapa pun akan sangat berterima kasih dan bersyukur atas kondisi akhir yang mampu diraih.

Momen kebersamaan walaupun sederhana bisa menjadi perekat kerenggangan akibat kesibukan masing-masing. Tak jadi soal bentuknya seperti apa. Dulu kami melakukannya dalam bentuk kegiatan berenang bersama, atau sesekali berkebun membersihkan rumput-rumput liar yang mengganggu keindahan rumput gajah. Sekali waktu jika kekompakan kami tiba-tiba bangkit, Bapak akan meraih gitarnya, mulai memetik senarnya satu satu sebagai pancingan buat yang lain, saya bermain pianika elektrik, adik saya yang nomor tiga bermain rekorder. Saudarar-saudara yang lain spontan bernyanyi walau berbekal vokal  yang pas-pasan.

Kami sadar bukan keluarga yang sepi dari persoalan sehari-hari. Tetapi kami memilih untuk mencari bahagia dengan cara berbeda. Persoalan hidup tetap ada, bahkan semakin beragam dari waktu ke waktu, tetapi kekompakan dan kebersamaan menjadi modal penting mengarungi banyak kesulitan yang menghadang di sepanjang perjalanan. Kami ingin menjemput bahagia, bukan hanya diam menanti  rasa itu datang menghampiri.

Anak dan Sekolah

Anak-anak setahu saya sangat mendambakan sekolah. Masih di usia balita saja ada yang sudah mendesak untuk diikutkan sekolah. Ia ingin seperti teman-temannya yang lebih besar, setiap pagi berangkat ke sekolah. Ramai-ramai berjalan kaki, pulang pun tetap riang, ceria berlarian sambil tertawa-tawa.

Jika pun belum sampai umurnya, ia sudah cukup puas dengan berlagak seolah-olah bersekolah. Minta dibelikan tas ransel kecil, tempat bekal air minum dan kue-kue. Lalu merengek minta diantar ke sekolah kendati hanya berputar-putar dibonceng motor sekitar kompleks rumah. Sesekali ia meniru suara guru menjelaskan dengan mengajak anak-anak kecil seusianya untuk jadi murid, bermain sekolah-sekolahan. Lagi-lagi pengalaman itu ia dapatkan dari hasil peniruannya di suatu ketika.

Orang dewasa yang melihat gelagat anak yang sangat  ingin bersekolah akhirnya dengan antusias mencoba mengantarkan anaknya masuk Taman Kanak-kanak (TK). Walaupun usianya baru menginjak empat tahun. Meski itu berarti pula si anak akan lebih lama duduk di TK. Tak ada yang bisa memastikan apakah ia akan betah ataukah sebaliknya, bosan dengan  kegiatan yang monoton setiap hari. Bernyanyi, mewarnai, dan bermain.

Anak kami pernah berada di antara siswa yang bosan bersekolah di level ini. Akhirnya masa TK hanya ia tempuh setahun saja. Awalnya ia sama dengan anak-anak pada umumnya. Belum cukup umur untuk masuk, tetapi sudah mendesak agar dimasukkan bersekolah. Untuk mengobati hasratnya yang besar, kami mengalihkannya ke Taman Pendidikan Qur’an (TPA). Pada setiap sore saya meluangkan waktu untuk mengantarnya ke sekolah sore. Tetapi itu pun tidak lama. Karena jaraknya yang jauh menyulitkan saya untuk setiap hari mengantarnya pergi-pulang berjalan kaki.

Pada hakikatnya anak-anak di mana pun senang sekolah, senang belajar. Yang mengubahnya tidak lagi menyenangi sekolah adalah suasana ataupun lingkungan belajarnya. Cara guru-gurunya mengajar, suasana kelas yang terlalu ramai, atau teman-teman yang merundungnya. Walau bagaimana peliknya masalah anak, perasaan mereka acap kali terabaikan oleh guru atau orangtua di rumah. Dianggapnya masalah-masalah tersebut hanyalah rintangan-rintangan kecil yang wajar dihadapi anak jika ingin menjadi orang sukses.

Masalah menjadi sesuatu yang wajar dihadapi sendiri oleh anak tanpa bantuan orang dewasa jika masih dalam batas-batas bermain. Dalam artian tidak menyakiti hati, tidak menyakiti badan, terlebih lagi tidak membahayakan nyawa. Karena betapa banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini, anak-anak yang menjadi korban perundungan teman-temannya. Apabila orangtua atau guru tidak waspada dan peduli bisa-bisa keselamatan anak menjadi taruhannya.

Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi, seorang siswa SD yang harus menjemput maut di tangan teman-teman sekolahnya sendiri. Usia anak-anak yang masih sangat muda, 8 tahunan, tetapi sudah memiliki kekuatan mematikan teman seusianya. Benar-benar di luar batas penerimaan akal sehat manusia.

Berdasarkan pengetahuan saya tentang anak-anak, sesungguhnya mereka dikaruniai jiwa yang bersih, tulus, dan penuh kasih. Sekali lagi lingkunganlah yang mendidiknya atau menjadikannya anak-anak yang memiliki karakter sebaliknya. Faktor lainnya, anak-anak tersebut mungkin saja tidak menyangka bahwa perbuatan mereka bisa berakibat fatal, yang mengakibatkan nyawa temannya melayang. Pendampingan dan pengawasan orangtua sangat dibutuhkan sebagai antisipasi terhadap kasus-kasus serupa.

Pihak yang seharusnya disalahkan bukanlah anak-anak, melainkan orangtua para pelaku ini beserta guru-guru sebagai pihak sekolah. Orangtua semestinya  yang paling mengenal kepribadian anaknya. Sebagai contoh, anak pendiam perlu ditangani dengan cara khusus yang berbeda jika berbicara atau berhadapan dengan anak yang cerewet. Sehingga isyarat nonverbal yang mengindikasikan adanya masalah pada diri anak seharusnya bisa segera diketahui oleh orangtua.

Seorang anak yang memendam masalah di sekolah akan tampak kurang bersemangat, lebih banyak diam, enggan bangun pagi untuk ke sekolah, dan sebagainya. Tentunya banyak kejadian kecil yang mendahului peristiwa besar saat si anak akhirnya meninggal di tangan teman-temannya. Orangtua seharusnya mewaspadai semua penanda ini.

Namun seperti itulah gambaran kehidupan kita kini, karena kesibukan bekerja dan urusan-urusan lainnya, membuat banyak orangtu tidak lagi memiliki cukup waktu untuk duduk berbicara saling berhadapan dengan anak-anak mereka. Pertemuan itu sudah banyak tergantikan dengan cukup memonitor lewat aplikasi-aplikasi canggih yang ada di gawai masing-masing. Lambat-laun anak-anak dipaksa beradaptasi dengan kondisi seperti ini. Tanpa kita sadari ada sisi-sisi kemanusiaan yang tergerus secara perlahan-lahan di sana.

Sekali waktu bolehlah kita bertanya kepada mereka, seberapa besar sayang kami padamu?

 

 

 

 

Karisma

Di sebuah kenduri keluarga, seorang ibu menatap anaknya, tak berkedip, lurus menyentuh hingga terasa ke palung hati terdalam. Tanpa kata-kata, hanya gerakan mata. Sebagai penanda ada sesuatu yang menyimpang dalam geraknya. Si anak  sadar dia harus segera  mengubah perilaku.

Di tempat lain, kakak-adik sedang terlibat percekcokan kecil yang makin lama makin serius. Si kakak tidak mau kalah, adik terlebih-lebih. Suara tinggi ibu tiba-tiba terdengar menggema ke dalam ruangan. Menghentikan dua anak kecil yang sedang bertikai.

Ini cerita zaman saya kecil dulu. Dengan hanya menggerakkan bola mata, ibu saya berhasil meredam kenakalan kecil yang saya perbuat. Sekarang, kata orang mata itu sudah tidak lagi memiliki kekuatan magis. Dibelalakkan sampai mau copot pun anak akan bergeming.

Semakin sedikit orang yang memiliki karisma, yang mampu memberikan pengaruh ke orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Mulai politisi, aparat pemerintah, hingga lingkungan sekolah dan rumah. Sebagian besar masih menggantungkan diri pada unsur lain untuk bisa menegakkan pengaruhnya. Ada iming-iming hadiah, ada sosok hantu terselubung, dan ada puluhan tokoh fiktif di luar sana yang siap mereka kerahkan untuk memangsa anak-anak  jika tak patuh.

Kita semakin tak berdaya di hadapan anak-anak yang dalam rentang waktu singkat telah menjelma jadi besar dan kuat menapakkan kaki-kakinya. Mereka bukan lagi anak-anak balita yang bisa kita perintah dan marahi kala tidak patuh. Atau mengurungnya di dalam gudang yang gelap manakala kehendaknya tak berkompromi dengan keinginan kita. Mereka kini bisa melawan dengan fisik, pandai membantah dengan kata-kata, juga berdalih dengan kalimat logis. Jika tak siap orangtua bisa tergilas.

Beberapa kejadian semakin menguatkan fenomena ini. Seorang anak laki-laki usia SD berbadan tambun bersuara keras nyaris membentak ibunya di atas angkutan umum karena si ibu menginginkan si anak untuk ikut dengannya ke sebuah tempat, sementara anak tersebut tidak berminat sama sekali. Atau debat kecil sehari-hari yang sering kali terjadi di depan mata. Gara-gara keinginan orangtua yang berbenturan dengan keinginan anak.

Saya merekam semua tengara itu dengan pikiran yang was-was dan miris. Akan jadi seperti apa model hubungan itu lima hingga sepuluh tahun yang akan datang? Jika masih di usia pra remaja seperti ini tidak tumbuh rasa hormat dan penghargaan pada orang-orang yang lebih tua, khususnya orangtua sendiri. Hidup sudah tak ada bedanya dengan gambaran kisah dalam sinetron televisi. Anak yang susah payah dibesarkan, setelah dewasa justru balik meraup harta benda orangtua setelah berhasil mengusirnya. Atau bisa jadi sebaliknya, orangtua yang terus-menerus bersifat kekanak-kanakan meski sudah bercucu dan bercicit. Sehingga keteladanan pun jadilah barang langka yang makin jauh dari jangakuan.

Menanam pengaruh

Setiap kita ingin menjadi orang yang berpengaruh, mudah memengaruhi orang lain, khususnya anak-anak yang menjadi tanggung jawab kita bersama.  Memang benar orangtua adalah orang pertama yang wajib dihormati dalam kehidupan setiap manusia. Tetapi zaman sudah bergeser, doktrin agama saja tidak kan cukup mengawal manusia untuk tetap berjalan pada koridor yang telah ditentukan. Ia perlu ditopang oleh unsur-unsur lain. Seperti keteladanan yang nyata dari tokoh-tokoh agama dan masyarakat, kepedulian dan belas kasih yang dipancarkan sepanjang waktu, juga kesederhanaan dalam berperilaku sehari-hari.

Karena generasi muda melihat, mencontoh orang-orang dewasa di sekitarnya. Bukan meminta mereka mendengar petuah atau nasihat yang bagaikan pita rekaman suara yang diputar berulang-ulang, tetapi nihil praktik. Angin pun menyeretnya menjauh, tak menyisakan jejak dalam jiwa. Sudah saatnya kita meninjau kembali cara-cara pendekatan yang selama ini kita tempuh. Banyak hal yang perlu dibenahi di sana.

Beberapa orang bertanya dan penasaran bagaimana cara memengaruhi anak-anak agar mereka mau mendengar, mau bekerja sama, dan berjalan beriringan ke tempat tujuan. Kata Thomas Gordon, penulis favorit saya, agar seseorang dapat menjadi agen pengubah yang baik, mereka harus mengikuti prinsip-prinsip dan praktik-praktik tertentu yang telah teruji. Mereka telah belajar menjadi “konsultan” yang baik.

Konsultan yang baik tahu kapan klien (anak) mereka siap dan menerima orangtuanya sebagai konsultan. Salah satunya, anak dalam keadaan siap mendengarkan dan punya waktu luang. Orangtua pun dalam hal ini melengkapi diri mereka dengan data-data yang cukup. Misal dalam hal merokok, pornografi, dll. Kita perlu mencari tahu seluk-beluk tentang rokok, manfaat dan kerugiannya. Seperti apa bahaya pornografi, bagaimana berselancar di dunia maya dengan aman, dan sebagainya.

Unsur lain yang saya tambahkan, orangtua mengerti cara atau metode berbicara yang enak dan nyaman dengan anak. Karena meski tujuannya baik, tetapi caranya tidak nyaman, pesan yang sampai akan terpental kembali. Dan di atas segalanya, agar pengaruh kita efektif, sekali lagi, orangtua adalah pihak pertama yang perlu menunjukkan contoh atau teladan nyata akan hal yang ingin kita ubah.

Suargaloka, Kado Terindah untuk Anak-anak

Dari belakang meja kerja toko, saya memandang satu per satu anak-anak yang pagi ini memenuhi ruang baca di bagian samping rumah. Raut wajah mereka tampak riang, semringah, dan bahagia. Meskipun di balik rupa ceria mereka ada beragam karakter yang tersembunyi di sana. Lamun semua menyembul dalam satu bahasa, suka cita.

Kegiatan yang mereka lakukan beraneka jenis, ada yang bermain puzzle, ada yang menggambar, ada yang membaca buku, ada yang sibuk mengobrol dengan temannya.  Jumlah mereka tak lebih dari tigapuluh. Suasana sangat riuh tetapi masih tetap dalam batas-batas yang bisa dikendalikan. Keramaian ini hanya terjadi sekali dalam sepekan, setiap Sabtu pagi. Karena pada hari ini mereka bebas melakukan kegiatan apa saja yang kiranya menarik minatnya. Hari-hari selebihnya mereka rutin mengaji setiap hari kecuali libur

Bahkan ada kalanya anak-anak usia SD ini menunda pulang dan tinggal lebih lama untuk membaca dan bermain. Jika tak ada pekerjaan penting yang harus saya selesaikan saya akan membolehkan mereka untuk berdiam lebih lama. Sudah beberapa tahun ini rumah kami sepi dari keramaian anak-anak seusia mereka. Anak-anak semua sudah besar, sehingga waktu saya yang tersisa bisa saya alihkan untuk mengajar dan berinteraksi dengan santri-santri  cilik.

Dalam benak orang dewasa, kehidupan surgawi nanti bisa dinikmati setelah melalui proses perjalanan kematian yang panjang. Di dunia anak-anak, kebahagiaan surgawi  itu sederhana saja. Asal mereka merasa dicintai oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama oleh ayah-ibunya, bebas mengekspresikan perasaan dan keinginannya, memperoleh perasaan aman dan perlindungan dari kejahatan orang-orang tak bertanggung jawab, dan bebas bermain bersama teman-temannya. Itulah dunia terindah yang  sangat mereka impi-impikan.

Dalam iklim seperti ini, angan mereka bebas mengembara ke ujung dunia, meniti pelangi, menuju angkasa yang tak bertepi. Dalam naungan kasih sayang orang-orang dewasa, langkah-langkah mereka seolah tarian riang penari yang berlompatan, lalu menjulang ke langit ide dan kreativitas. Keberanian dan percaya dirinya menguatkan otot-ototnya, mengukuhkan tulang-tulang tanggung jawabnya. Yang pada suatu masanya nanti menjelma menjadi manusia-manusia yang kompeten dan peduli pada dirinya juga lingkungan sekitarnya.

Cerita imajinatif pada penggalan paragraf di atas adalah sekelumit khayalan sekaligus harapan yang hendak saya titipkan pada dunia orang dewasa. Bahwa anugerah perhatian dan kasih-sayang itu bisa mahal bisa murah tergantung persepsi masing-masing. Sejauh mana kemampuan setiap orang menghadirkan anugerah tersebut  sebagai kado abadi dan terindah kepada anak-anaknya.

Kelak, setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Maha Pemberi Karunia. Sudah seberapa syukurkah kita mengelola karuniaNya selama di dunia? Pada penglihatan, pada pengecapan, dan pada pendengaran yang dianugerahkanNya? Mulut kita sudahkah menjalankan fungsinya bertutur ramah dan lemah-lembut, pada anak-anak sebagai makhluk lemah dan tak berdaya di hadapan kuasa manusia dewasa? Pendengaran kita sudahkah digunakan untuk mendengar segala curahan hati, keluh-kesah, atau cerita indah keseharian mereka? Dan mata kita, sudah mampukah memancarkan kesejukan dan kedamaian di hati anak-anak kala kabut gelap mengikis.

Atau jangan-jangan mulut hanya kita gunakan untuk menghardik dan memaki saat mendapati perilaku mereka tidak memenuhi standar dan harapan kita. Pendengaran kita sumbat manakala anak-anak hendak berbicara, berbagi keluh soal kehidupannya yang terasa berat untuk ia lalui. Dan kita hanya berminat mendengar kisah-kisah indah yang bertabur prestasi yang sebenarnya tak pernah sungguh-sungguh kita tabur. Lalu memelototkan mata saat menemukan tingkah anak-anak yang sedikit bergeser keluar baris. Bahkan marah dengan mata merah ketika mendengar laporan prestasi dan perilaku anak yang tak pantas di luar.

Anak-anak tak inginkan surga yang jauh tak tergapai, yang mereka ingin kehidupan surgawi yang tampak nyata di depan mata. Percuma mengisahkan surga jika perilaku tidak indah di hadapan mereka. Percuma berkisah neraka manakala rumah adalah kepedihan yang nyata mereka rasakan. Rumah, keluarga semestinya menjadi tempat pertama yang aman dan nyaman bagi anak. Bukan orang lain, pihak lain, atau lembaga lain yang tak punya ikatan emosional dengan mereka. Saatnya memulangkan kesadaran ini pada pihak rumah dan keluarga.  

Ingin Berhasil tapi Minim Usaha

Kesuksesan harusnya seiring sejalan dengan usaha yang kita kerahkan. Karena langka terjadi sukses yang diraih tanpa kerja keras atau usaha yang sungguh-sungguh. Tetapi begitulah kita manusia, yang memiliki tabiat ingin segalanya terwujud tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Sehingga tidak heran jika banyak yang doyan menempuh cara-cara instan untuk meraih suatu keberhasilan. Dan itu sudah jamak terjadi di negeri ini. Mulai cara masuk sekolah setingkat TK hingga skala perguruan tinggi. Demi mencapai keinginannya banyak yang rela menempuh jalan pintas meski secara kualitas hasilnya mengkhawatirkan.

Menjadi jujur dan tetap berjalan di garis lurus adalah hal yang asing. Maka bersiaplah untuk disoroti oleh lingkungan sekitar. Banyak yang bertahan di jalur ini, banyak pula yang gugur. Jika keberhasilan tersebut sifatnya semu, hanya berupa cetakan tinta hitam di atas putih, imbasnya pun hanya pada diri pribadi, mungkin tidak mengapa. Lain halnya jika keberhasilan yang diraih itu ternyata berdampak buruk pada orang lain dan lingkungan sekitar. Kompetensi di bidangnya tidak sesuai dengan laporan di atas kertas. Maka tentu bukan kesuksesan namanya, melainkan manipulasi data.

Mendidik manusia tidak bisa dilakukan secara instan. Ia perlu ilmu dan keahlian yang didapatkan dari banyak sumber referensi seperti dari buku, seminar, pelatihan, dan praktik langsung di lapangan. Ia pun butuh pengulangan secara sabar dan terus-menerus. Juga sesekali dievaluasi. Agar hasilnya bisa memuaskan. Olehnya itu guru, maupun orangtua kiranya perlu menyadari hal ini. Jangan pernah memimpikan anak didik akan berubah dalam sebulan, seminggu, atau bahkan sehari. Karena mengubah manusia tidak seperti mengutak-atik benda tak bernyawa, yang bisa berubah dalam hanya hitungan jam saja setelah diservis.

Makanya saya sering skeptis dan pesimistis jika ada orangtua yang bernafsu ingin mengubah perilaku anaknya dalam hanya hitungan hari. Tanpa teladan dan tanpa pendampingan, mustahil ia bisa melewati proses tersebut dengan mulus dan instan. Saya pernah membaca di sebuah buku yang menyatakan, perubahan kebiasaan itu perlu dilakukan selama satu bulan penuh agar ia bisa melekat dalam pikiran dan menjelma dalam tindakan yang permanen.

Tanpa proses yang cukup lama kecil kemungkinan bisa menuai hasil yang memuaskan. Godaan manusia era digital saat ini sungguh berat. Banyak pekerjaan yang antri berderet untuk diselesaikan, sementara waktu yang tersedia singkat saja. Akhirnya pekerjaan tersebut tidak berhasil dituntaskan sesuai dengan tenggat waktu yang diperkirakan, sementara masalah-masalah lain bermunculan terus-menerus tanpa mampu kita cegah. Harapan menjadi kompeten di suatu bidang pun menjadi muskil. Pikiran-pikiran dan perhatian kita bercabang kesana-kemari. Jika tidak melakukan pengurutan skala prioritas, maka bersiaplah menuai ketidakberesan dan kekecewaan yang tak berkesudahan.

Terkait mendidik manusia, bukan perkara main-main. Ia tidak bisa dilakukan sambil lalu apalagi hanya menunggu waktu luang. Jika kondisi ini kita paksakan, janganlah terperangah dengan hasilnya. Model mendidik cara begini sifatnya hanya sementara dan keropos. Dari luar kelihatan baik-baik saja, di dalamnya ternyata hanya berisi ruang hampa. Berurusan dengan watak dan kepribadian manusia perlu dilakukan dengan serius, jika tidak, gangguan-gangguan perilaku dan kejiwaan akan mudah mencuat ke permukaan meski hanya untuk urusan yang nampak sepele. Itulah mengapa saya perlu menekankan hal ini berulang-ulang.

Tak terhitung banyaknya orang yang ingin berubah hidupnya, mengubah perilaku anaknya, atau mengubah hal-hal yang tidak menyenangkan dalam relasinya dengan pasangan. Akan tetapi seberapa banyak yang mau menempuh proses perjalanannya yang panjang dan berat? Semua bermula dari perspektif yang benar diiringi kemauan kuat untuk mulai melakukannya. Karena berpikir semua bisa ditempuh dengan cara instan adalah hal yang sia-sia.

Ingin berhasil? Mari berproses…

 

Mencintai Kehidupan, Didiklah Manusia

Memilih jalan hidup yang dekat dengan anak-anak dan orangtua saat ini tidak pernah masuk dalam daftar cita-cita dan impian masa kecil saya. Seperti banyak anak-anak lain yang ketika ditanya ingin menjadi apa mereka nantinya seperti itu pulalah kurang lebih gambaran dalam ingatan berpuluh tahun lalu. Ketika guru menunjuk secara bergilir murid-murid untuk ke depan kelas menceritakan cita-citanya masing-masing. Hari ini ingin menjadi guru, bulan depan berubah keinginan jadi insinyur, lalu di akhir tahun berganti cita-cita hendak menjadi penerjemah Presiden di istana.

Karena kesukaan pada pelajaran Bahasa Inggris, dan ketertarikan pada Bahasa Indonesia membuat nilai-nilai rapor untuk kedua mata pelajaran tersebut selalu di atas rata-rata. Itu pula yang menjadi sebab saya memilih jurusan Bahasa Inggris saat kuliah meski tidak tuntas menyelesaikannya. Namun sebenarnya ada sedikit cerita di balik alasan saya memilih jurusan tersebut.

Bahwa cita-cita kanak-kanak yang berubah-ubah sempat mengombang-ambingkan perasaan, manakala dihampiri keinginan untuk menggeluti dunia psikologi. Karena saat itu jurusan yang saya inginkan belum tersedia, maka pilihan jatuhlah pada jurusan Sastra Inggis. Dengan pertimbangan ada sedikit kemiripan, meskipun hanya nol koma sekian persen.

Dalam perjalanan selanjutnya ketertarikan saya mengerucut pada tema-tema psikologi populer khususnya yang berkaitan dengan pendidikan anak. Kemudian berlanjut pada pengembangan diri seiring kebutuhan pada tahun-tahun yang terlewati. Semua saya peroleh dari hasil belajar otodidak serta lewat pelatihan dan  seminar yang terkait dengan tema-tema tersebut.

 

Antara hasrat dan kebutuhan

Rhonda Byrne bilang dalam bukunya Renungan Harian The Secret, “Menghasratkan sesuatu adalah menjadi selaras dengan hukum tarik-menarik. Anda menarik apa yang Anda hasratkan. Membutuhkan sesuatu adalah penyalahgunaan hukum tarik-menarik. Anda tidak bisa menarik apa yang Anda butuhkan jika Anda merasa Anda membutuhkannya dengan sangat dan mendesak, karena emosi itu mengandung rasa takut. Jenis “membutuhkan” seperti itu akan menjauhkan segalanya. Hasratkan sesuatu jangan membutuhkan apa pun.”

Inilah barangkali  yang menjadi jawaban mengapa saya mencintai dunia saya yang sekarang. Dunia pendidikan dan buku. Karena saya tidak membutuhkan orang-orang untuk harus masuk semua ke dalamnya seperti halnya perasaan saya terhadap dunia ini. Meskipun sebelum saya dikuatkan oleh pernyataan di atas, saya pernah merasa kecewa dengan respons orang-orang terhadap banyak tawaran saya. Mulai dari usaha membentuk kelas parenting yang makin lama makin berkurang pesertanya, tidak konsistennya banyak orangtua mempraktikkan pengetahuan yang telah diketahuinya, hingga kekecewaan menyaksikan banyaknya orang dewasa yang tidak peduli terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di sekitarnya, bahkan mungkin anak-anaknya sendiri.

Setelah menyadari korelasi yang terjalin pada dua kutub di atas, maka makin yakinlah saya pada pilihan jalan yang saya tempuh. Bahwa hasrat itu tak mengenal balasan, tak peduli reaksi. Selama engkau memiliki hasrat yang besar maka semesta akan bersinergi mewujudkannya. Tuhan tak menilai hasil tetapi sangat peduli pada usaha yang kita lakukan.

Hasilnya mungkin tak terlihat sekarang, tetapi akan dirasakan oleh generasi-generasi yang akan datang. Almarhum Bapak saya belum sempat melihat tulisan-tulisan yang saya hasilkan. Tidak sempat melihat hasil pengajarannya mengajari saya mengetik cepat, sehingga saya sangat terbantu bias menyelesaikan banyak tulisan berbekal keterampilan tersebut. Saya bersyukur bisa mengajar anak-anak mengaji dengan bacaan tajwid yang lumayan, karena diajari Bapak ketika saya duduk di bangku SMU. Begitupun dengan banyak keterampilan lainnya.

Kecintaan beliau pada ilmu pengetahuan terlihat dari ketekunannya setiap malam bangun belajar, merekam suara melatih pronounciation membaca teks-teks berbahasa Inggris. Dan kami, anak-anaknya melihat langsung keteladanan pada sosoknya. Sedikit berbicara, lebih banyak mencontohkan. Seperti itulah gambaran sehari-hari kehidupan Bapak.

 

Mendidik mestilah mencintai

                Tanpa dasar kecintaan yang besar pada pendidikan, siapa pun saya yakin akan mengalami banyak kesulitan atau hambatan. Karena obyek pendidikan adalah manusia, anak yang memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan. Jika tak sabar dan mengayomi kerja akan terasa berat. Anak yang memiliki niat baik namun diterima oleh hati dan perasaan yang kurang stabil, akan dinilai buruk oleh si penerima. Oleh karenanya tak heran jika banyak kasus penganiayaan ataupun kekerasan verbal yang dilakukan oleh pendidik terhadap anak didik.

Seorang yang diliputi cinta tak akan mudah marah dan cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dibandingkan orang-orang yang tidak mendasari segenap perbuatannya dengan dasar kecintaan pada obyek atau profesi. Ia akan berpikir seribu kali jika hendak marah, menimbang dalam-dalam jika akan menindak anak. Karena kendali ada pada tangannya bukan terletak pada hal-hal di luar dirinya.

Ia tak kan marah hanya karena anak bersikap kurang sopan, ia juga tak kan kehilangan kesabaran hanya karena anak tidak mampu menjawab dengan cepat dan tepat soal yang diberikan. Ia pun tak kan tersinggung hanya karena anak tidak menyapanya saat berpapasan dengan dirinya. Karena baginya semua perilaku itu terbentuk bukan semata disebabkan oleh faktor internal anak, melainkan banyak disemai dan dipupuk oleh orangtua dan lingkungan anak yang bersangkutan.

Pada akhirnya, anak akan melihat patron pada orang dewasa yang ada di sekitarnya. Terutama orangtua, guru, ulama, pejabat, dan mereka yang memiliki otoritas dalam kehidupan di masyarakat. Jika ingin anak-anak berperilaku baik, cintailah mereka, didiklah mereka dengan tak lupa mendidik diri sendiri.

 

               

Mengagungkan Lisan

Kata orang-orang dalam beberapa hal saya memiliki banyak kemiripan dengan Bapak. Dari cara jalan, bagaimana menjejakkan kaki kanan dan kiri yang meskipun tampak lambat dan jauh menjangkau ke depan, namun iramanya cepat dan konstan. Postur tubuh yang cenderung lurus bahkan sedikit maju mulai bahu hingga pinggang. Serius dan menyimak jika mendengar orang berbicara. Bapak  sangat tidak suka pada orang yang seenaknya memotong pembicaraan, baik secara sadar maupun tanpa disadarinya. Kami, anak-anaknya pun dipetuahi begitu. Itulah mungkin salah satu sebabnya hingga seusia ini saya lebih senang mendengar orang lain berbicara daripada saya yang harus berbicara kecuali diperlukan.

Apabila salah seorang di antara kami hendak menyampaikan sesuatu kepada Bapak, ia sudah harus mempersiapkan susunan kalimat dengan baik, karena beliau tampak kurang respek pada mereka yang berbicara tetapi terlalu banyak jeda alias boros kata, padahal maksudnya sederhana. Bisa dinyatakan dalam kalimat pendek saja. Seperti pada mereka yang biasa menggunakan frasa “apa namanya”, “eh…”, “anu”, “siapa lagi”, dan seterusnya. Kata-kata tersebut muncul sebenarnya dikarenakan orang tersebut dalam kondisi sementara berpikir, dan di saat bersamaan tetap membuka mulut mengeluarkan kata-kata itu sebagai pengisi kekosongan. Sekarang ini saya pun jika berbicara berusaha seperti itu. Sejak dulu sudah membiasakan diri berbicara dengan hanya menggunakan kata-kata yang benar-benar dibutuhkan.

Berdasarkan pertimbangan itu pula, kami terkadang banyak menimbang sebelum menyampaikan sesuatu kepadanya. Di sisi lain, secara tidak langsung kami terdidik dan dibiasakan untuk merapikan susunan kata yang digunakan dalam pembicaraan. Selain hal-hal tersebut di atas, Bapak juga seorang penafsir. Beliau mampu membaca apa yang tersirat di balik yang tersurat. Jadi, jangan coba-coba mengakalinya dengan bersandar pada kata-kata saja, jika di balik itu tersimpan maksud tersembunyi yang kita tidak ingin ia ketahui.

Dari sudut tinjauan pendidikan anak, metode Bapak memiliki kekurangan, yakni anak menjadi tidak bebas dalam mengekspresikan pikirannya karena dibatasi oleh aturan kata-kata di atas. Lamun bisa saya katakan bahwa aturan tersebut tidak selamanya berlaku. Dalam situasi-situasi bercanda, ungkapan kata-kata spontan, kami bisa bebas mengemukakan pendapat. Yang saya maksudkan dengan ini adalah saat-saat tertentu ketika kami ingin membicarakan hal-hal yang sifatnya serius. Dalam situasi seperti itu diperlukan kesungguh-sungguhan pula dalam berkata-kata dan menyampaikan ide.

Apa yang pernah diajarkan oleh beliau baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, tanpa saya sadari—karena ia otomatis tersimpan dalam otak bawah sadar sebagai memori yang cenderung menetap sifatnya—menjelma dalam perilaku saya hingga kini. Saat hal yang sama saya praktikkan pada anak-anak kami . Pada mereka saya pun mengajarkan cara bertutur kata yang sarat sopan santun dan etika. Dalam pembicaraan sehari-hari, saya khususnya telah menjadi “polisi” bahasa di rumah. Membantu siapa pun yang menggunakan bahasa Indonesia asal-asalan dan salah penempatan untuk berusaha meluruskannya. Karena bahasa bukan perkara sepele. Kadang koreksinya sambil bercanda, kadang serius. Tidak ada yang keberatan ataupun protes, karena siapa pun saling menghargai otoritas masing-masing. Kepada anak-anak pun kami berlaku serupa. Menghargai kelebihan mereka,  atas penguasaannya  yang berbeda-beda dalam bidangnya masing-masing.

Satu pertanyaan besar, di era digital seperti sekarang masih banyakkah orang yang mau peduli dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Saat orang-orang dibanjiri informasi dari kanan-kiri, depan-belakang, tanpa memiliki cukup waktu jeda untuk sedikit menghadirkan kesadaran dalam diri, apakah saya sudah berbahasa sesuai dengan aturan semestinya? Realitasnya nampak kurang, karena banyak faktor yang memengaruhinya. Di antaranya terkait dengan pendidikan formal di sekolah-sekolah sejak anak kecil hingga berlanjut pada jenjang-jenjang di atasnya. Sementara pendidikan informal, yang berlangsung di dalam keluarga tidak banyak yang mempraktikkan tradisi belajar seperti ini. Umumnya kita masih menganggap berbahasa adalah masalah sepele yang tak perlu dipikirkan penggunaannya secara serius dan sungguh-sungguh.

Sebab lainnya karena tidak adanya siaran pendidikan bahasa Indonesia di televisi seperti dulu, kendati orang-orang yang tertarik dengan bahasa Indonesia saya yakini tidak pernah banyak, kecuali mereka yang berkecimpung dalam dunia tulis-menulis yang memang taat aturan. Akan tetapi tidak banyak yang tertarik bukan berarti tidak penting, ini hanya soal kesadaran dan waktu.