Arsip Kategori: Puisi

Ketika Doa-doa Daun-daun Gersang Terkabulkan dan Puisi-puisi Lainnya

HUJAN MUHARAM

Langit muharam kelabu
Lengkapi musim yang suri
Bumi sunyi perlahan diludahi gerimis kamis
Santri- santri menari di bawah rindang ketapang
Bunga-bunga temukan hidup dipenjara kemarau
Tangisan awan semakin sedu
Deraslah hujan
Deraslah hujan
Deraslah hujan
Mengguyur dosa terhadap tuhan
Salam –salam syukur pada-Nya sedalam cinta bertasbih

Hujan muharam membawa cinta- Mu padaku
Di pelukan matahari melisan rinduku pada-Mu

 

Pangkep, 21 September/01 Muharam 2017

 

 

WAHAI ARBINU

Kutemukan syairmu di bawah gundukan pasir
Tentang suara sunyi yang disembunyi
Bagaimana amarah dikunci dalam getiir
Sedalam apa dendam dicuci sepi

Arbinu, kau sepucuk kertas memburam dilepuh hujan petang
Kau suara sajak merima di batas subuh
Melawan pagi mencari sepinya rembulan remang
Ketika dunia mencekik hidup dan ditendang-tendang kekuasaan gaduh

Kau hidup menghirup abu kelabu
Mati membawa sakit dirakit konglongmerat bergengsi
Kumimpikan kau menjolok bintang wahai Arbinu
Di Pencipta Hidup kau mengadu tentang keadilan diperjualbelikan orator penipu

Kau kawan yang baik
Pergi membawa air mata di bawah terik
Titipkan jimat ketika jumat tegak
Tentang sabar meski sesekali murka sungguh menyibak

Arbinu, kau kenangan yang haru
Maafkanlah aku
Terlupakan waktu bahwa sudah tahun ke tujuh
Almamater Tuhan menggagahi almamater kampus di pusara tubuhmu

 

Maros, 29 September 2017

 

 

KETIKA DOA-DOA DAUN-DAUN GERSANG TERKABULKAN

Ketika doa-doa daun-daun gersang terkabulkan
Terdengar lirih dari celah rintik melinggis
Mega-mega hitam histeris di batas-batas langit bengis
Terjalnya jalan kota senandung tamboring disusuri air kali
Tebing erosi bersaksi tentang hutan digunduli jadi pengintai menghantui
Sajak-sajak badai lahir menjemput amarah zaman di punggung bumi
Hiduplah kuncup-kuncup teratai di bawah mata kaki dirantai alergi
Tiram lautan diantarkan gelombang jadi jalan setapak penjarakan perjalanan sepi
Sementara burung-burung pun tak sudi lagi menikmati bangkai para famili
Kemana lagi mata menjumpai mimpi?
Bukankah langit dan bumi dalam prosesi perwujudan doa-doa daun-daun gersang dikebiri?

 

Pangkep, 15 Oktober 2017

 

 

LHO LUNG

I
Kau Jepang merayuku meniduri angan-anganku seperempat malam. Aku tak biasa menulis puisi Lho Lung, rangkaian kata tak bisa mewakili inginku tentang bagaimana aku hendak memperlakukanmu. Mungkin esok atau lusa aku bisa, beri aku waktu berguru pada musim yang romantis, antara hujan dan angin aku pinjam bahasa asmaranya tentang bumi yang merindukannya.

II
Bolehkah aku menjadi angin o…. johar yang merindangi jalan bersalju? Membawa pergi aroma rosa menyusupi dinding-dinding alam sembunyikan ayunya kekasih pada sakura dan halimun jingga berbias orange. Merampas warna pelangi, melukiskan lesung pipi kekasih di buih memutih, dan engkau wahai gelombang jangan hapus senyum itu, sebab senada detak jam menawar sepi, meluruh. Engkau sang badai, sembunyilah dalam kamar-kamar mega karena beliung kuncupmu aku tunggangi mengantar getar doa-doaku menembus ari terdalam jantung kasihku. Jadilah aku syahadat cinta setiap hela nafasnya mengalun rindu.

III
Ini bukan syair penggoda Lho Lung, tapi bisikan cinta memundaki jiwa, lahir dari manisnya tegukan tuak nipah Rammang-rammang memabukkan. Antara maya dan fatamorgana, cinta – kasih sayang diserupakan waktu yang saga menjaga. Datanglah di selasar ini, telah sekian lama arkaisnya irama kecapi di putih hastaku bersenandung namamu.

IV
Lho Lung, tapi akulah biduk itu, di tengah atlanta merantaukan sepi, diludahi langit ditertawakan belibis samudera, hendak menyerupakan mimpi mentakhtai karang berpamor garam. Apakah mungkin biduk yang karam, oleh mendung dan keajaiban angin membawanya pulang ke dermaga impian?

V
Lho Lung, biarlah aku jadi puisi, ditorehkan pada dinding-dinding ancala mempurba oleh cahaya pena gemintang, jadi hening pada air yang terjun dari muara cadas Bantimurung, bersama basahnya ranting-ranting jati Leang-leang, biarlah aku jadi air mata yang tertinggal di atas hitamnya bebatuan Tamangngura. Jadi rintih difahami luka-luka alam.

 

Maros, November 2017

Samita dan Puisi-Puisi Lainnya

Samita

 

“Pada suatu ketika
Sesekali aku menguluk senyum,
Tidak ada balasan..
Kemudian sedikit tertawa..
Lalu..
Diam..
Setelahnya, aku memilih pergi..
Pulang dan berjumpa kesunyian..
Di rumah, Samita menunggu hendak menemani sepi malamku
Samita, gadis yang penuh rasa keingintahuan..
Samita sesaat menjadi penawar qalbu yang diterpa badai kerinduan..
Berdua menikam malam dengan secangkir kopi hitam..
Berbincang tentang batik hingga kedirian dan kesendirian
Syahdu kita dalam romantisme sederhana..
Larut dalam keberduaan yang tunggal..
Dan ba bi bu
Hilang dalam kenikmatan..

 

 

Siklus

 

Siklusnya berulang
Seperti lingkaran setan tak berujung
Membikin pusing
Kepala pun jadi pening

Hitam
Putih
Hitam
Putih

Putih lagi
Hitam lagi
Kembali ke putih lagi
Hitam lagi-lagi

Tidaklah ada getar ketakutan di dadamu?
Akan suatu masa dikau tidak lagi menjadi putih setelah hitam lakumu?
Lalu maut menyapa,
Tiada guna lagi sesalmu

Rindu dan Kota Cinta Habibi Ainun
Suatu malam dalam perlintasan
Di kota cinta Habibi-Ainun
Kerlap-kerlip lampu jalan
Menyingkap tabir gelap
Aku berdiri tegap
Menatap nanar senyap
Sayup-sayup
Lagu pop dari tape recorder
Bertajuk cinta terdengar
Aku melankolis
Semua menjelma si gadis
Tersenyum manis
Bak cahya rembulan nan tipis

Berdesir qalbu diterpa angin kerinduan
Kepada si gadis rupawan
Yang mengulurkan tangan
Menarikku dari lumpur kealpaan

Dia adalah karunia Ilahi
Yang melembutkan kerasnya hati
Dia menabur ayat-ayat cinta
Menjadi spirit meraih taqwa
Meniti shiratal mustaqim kepadaNya

Tapi ada masa aku bersujud syahdu
Berharap cinta dan rindu
Kepada si gadis di angkat
Takut kembali tersesat
Atau hilang nikmat
Andai boleh aku meminta
Dahsyatnya rindu dan cinta
Hanya kepada Allah dan Rasulnya
Agar tenggelam di samudera hakiki
Yang diliputi nur rahman, Nur magfirah, Nur hidayah, Nur Muhammad, dan Nur Ilahi..
Karena itulah cinta hakiki..

 

 

Bunga

 

Yudisium
Bunga
Promosi doktor
Bunga
Menikah
Bunga
Aqiqah
Bunga
Katakan cinta
Bunga
Bunga simbol suka cita kataku
Dan saat aku berjalan di sebuah lorong
Aku berjumpa bunga lagi
“Turut berduka cita atas meninggalnya fulan bin fulani”
Barangkali orang ini bersuka cita atas wafatnya fulan pikirku
Lalu aku melihat orang-orang menabur bunga di atas pusara si fulan
Disertai isak tangis..
Fulan..fulan..
Pulanglah dengan bunga..!!

 

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/408349891184237365/

Jendela dan Puisi-Puisi Lainnya

Jendela

Saban pagi aku membukanya
Menyingkap tirainya beserta doa-doa
Angin baik, hujan dan kicau burung
dan embun sisa semalam pada kisi-kisinya

Saban pagi aku selalu membukanya
Suatu saat di bilangan pagi yang entah keberapa
Wajahmu muncul di balik tirai
beserta doaa-doaa..

Makassar, Juli 2017

 

Katamu, tidak semua bisa diungkapkan lewat kata-kata

 

Seperti malam pada gulita
Dan api pada nyala
Sunyi kita berbicara
Semesta menciut sebatas pelukan

Seperti malam pada gulita
Katamu tidak semua bisa diungkapkan lewat kata-kata
Tapi aku adalah mata
yang mencari petanda

Seperti api pada nyala
Tidakkah kau tahu?
Benda bermula dari kata
Kata menjadi kerja
Dan kerja adalah sikap

Seperti api pada nyala
Sunyi kita berbicara
Tapi aku tidak mau selamanya
menatap matamu
Menebak-nebak isi kepalamu

Makassar, Juli 2017

 

Pintu

 

Aku memikirkan sebuah pintu
dengan gagang gading yang berkelotak
saban memikirkanmu
Dan terbuka membawaku padamu setiap kali aku rindu

Makassar, September 2017

Lelaki Pukul Dua dan Puisi-Puisi Lainnya

 

LELAKI PUKUL DUA

 

Sesekali ia berbincang lewat sebatang rokok saja

Pada seperempat malam di penghujung upaya

Pada diksi sebuah metafora

Pada segala resah diringkas sang rupa

 

Ada apa dengan dirinya si lelaki pukul dua

Yang menelan malam lewat bening kosong gelas kaca

Yang katanya kopi telah murka pada dirinya

Membiarkan aroma pahit itu dicumbui orang berada

 

Lalu melalui sebait kata dipekik raya

Hitam menjelma terasing tak bermakna

Memulangkan segala rasa

Di trotoar jalan terbaring buta

 

PADAMU SANG MALAM

 

Jemariku tak berkesudahan mengirimkan lagu lama pada maut cakrawala.

Menahan waktu yang terburu oleh berangkat.

Menahan lelah yang tersingkap oleh beberapa kalimat.

 

Padamu sang malam.

Kuberi tahu bahwa jam tidak berkesudahan menekuni nafas usia.

Ia duduk melingkar menyerupa metamorfosa

Memungut peristiwa menafsir cuaca

Pada mata mata yang surga

 

Lalu aku adalah sosok yang menghitung rencana

memaki diriku sendiri dengan serbuan tanda tanya

binatang jalang yang lupa kembali akan kemana

Kemana akan kembali

Kemana akan pulang pergi

Pergi lalu pulang lagi.

 

Lalu bisakah kuhimpun nama berhaus?

pada segala hilang yang menghulu arus

pada segala tualang yang kupintal rakus

pada segala syair yang kurajut terbungkus

 

Padamu sang malam

Yang kutuang menimbun jalan lengang rumah rumah

aku hilang arah menekuni dunia

mencoba berbisik pada sudut sudut kota

bahwa lindung langit tak berjejak kini muram akan cahaya.

 

PADAM

 

Melaui segala warna yang sulit kumakna

Kini aku tak lagi merah

Kini telah padam tak lagi menyala

Mebiarkan segalanya hitam dan buta

 

Biarkan semua menjadi hitam putih saja

berteman pendar cahaya sepia

Meski kata kata saling menafsir beku

Meski jejak jejak mimpi digubah hari dan waktu

 

Lalu di sepasang mata yang ramu

Telah kuhitung angka-angka rindu

Menjelma seolah sesak di balik pintu-pintu

Yang kadang di sebut waktu

 

Kini aku padam tak berdaya

 

SURAT TANPA JUDUL

 

Kepada Lelaki yang pernah pergi

Mari kita berbicara tentang waktu kali ini

Yang sempat menelusup pada kilas cahaya sunyi

Lalu memperpanjang ruang rindu yang berderet rapi

 

Kita pernah ada sedekat jengkal jemari

Memandangi dinding malam serta rasi bintang di galaksi

Atau sekedar memperbanyak teka teki

Mengenai apapun yang semakin sulit dimengerti

 

Lalu haruskah kita kembali berjalan sendiri-sendiri

Membiarkan semua berjarak lalu kian menepi

Saling menghilang bak ditelan bumi

Hingga akhirnya semakin sulit untuk saling mengenali

 

Belajarlah hanya untuk saling menemui

Melihat lalu mengerti

dan aku hanya bisa memberi ucapan kali ini

“Selamat Wisuda setelah empat tahun berjuang sendiri”

 

ELEGI

 

Pada matamu rindu-rindu mengakar sendiri

Serupa basa dedaunan pagi yang dulu kau beri

Abadi percakapan kita seolah meminang sepi

Membaca gerak lama yang bertasbih sunyi

 

Bayang-bayang asmaradana hilang ditelan bumi

Sedangkan kita pernah asyik ngopi pada sebuah kenduri

Menerbangkan debu cemburu pada mimpi

Lalu nasib yang seolah terasing pergi

 

Bayang-bayangmu hilang wahai kasih

Melumatkan nyawaku yang tinggal sekutip perih

Membakar takwil segala sakit dirajami rintih

Menyelimutkan musim pada seteguk jejak ilustrasi

 

Lupakan saja ingatan mengenai panorama abadi

Seolah menikamku dan memberi cundrik kesumat diserapahi

Bayangmu akan kukubur dalam lanskap imaji

Membuang satu persatu rindu yang dirajami

Hantu dan Puisi-puisi Lainnya

Ayahku seorang petani

Ayahku seorang petani

tanah yang ia gali

menggunakan pacul semalam

kini menjadi liang untuk tubuhnya yang kaku

arit yang ia gunakan memotong padi semalam

kini menjadi bagian tubuhnya

membagi ruang dengan kepala.

Bulan merah menangis

 

Makassar, September 2017

 

 

Hantu

(1)

Yang kau tunggu tak kunjung datang

Kau mengutuknya sambil mengamininya

 

Kau yang buta buku hanya tahu

Merah dan perkakas kerja

Adalah alat pengguling kekuasaan

 

(2)

Yang kau tunggu tak kunjung datang

Sebab angka-angka fantastis yang kau pungut serampangan

Lalu kau jejalkan ke muka orang-orang

Tak lebih hanya sekedar angka yang tak memiliki raga

 

(3)

Yang kau tunggu tak akan pernah datang (lagi)

Ia telah mati sejak sebelum kau membunuhnya

 

Makassar, September 2017

 

 

Ibuku seorang penjahit

 

Ibuku seorang penjahit.

Tubuh ayah yang koyak di sawah semalam

Ia jahit satu-persatu dengan sabar

Menggunakan air matanya.

 

Makassar, September 2017

 

 

Memori

Dan kita yang tak pernah menghargai sejarah

Selamanya hanya akan kehilangan arah

Hilang didalam diri kebingungan

Sebab sebelum kita jelas mampu membeda yang hitam dan putih

Mereka yang marah sudah datang

Menutup mata dan telinga kita dengan yang merah

 

Apa yang kita warisi adalah perihal yang belum usai

Ingatan yang belum mulai mengingat

Tapi telah jatuh terkulai

Redup, tak terang, tek terjamah

 

Makassar, September 2017

 


Ket. Gambar: Roda Kehidupan
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 71cm x 100cm
Media: Cat acrylic diatas canvas
Tahun: 2015
Sumber: Google

Pregnant dan Puisi-Puisi Lainnya

 

Pregnant

 

cinta hanyalah sebuah kandungan

merawat serta mempersiapkan benih-benih kehilangan, katamu

aku mendengarnya baik-baik, dan apa jadinya

aku menjadi tidak baik, puisi memaksa salah satu

di antara kita pergi memutus seluruh asa juga bahasa

yang pernah susah payah dipelajari perasaan kita

seperti anak kecil untuk belajar berbicara

sebentar lagi kau kehilanganku,

dan janinmu itu—satu-satunya kegagalanku yang tersisa.

 

2017

 

Terinspirasi dari Lukisan karya Helene Knoop

 

 

Dweller on Threshold

 

Segalanya terasa dekat tapi sulit kujangkau

Di manapun kau sembunyi, mata rabunku selalu

mampu menemukanmu dengan denyut aroma

tubuhmu yang pernah tak henti-hentinya

menindihku dengan kasih sayang semalaman.

Segalanya terasa dekat dan sulit bagi kita

tuk saling menatap, mata kecilmu tak mampu

menampung seluruh yang ia lihat sebagai kepergian

yang tak henti-hentinya menyerangmu dengan puisi

puisi karbitan terbitan koran stensilan.

Segalanya menjadi terasa lebih jauh

setelah jauh yang lain melipat jaraknya,

kemudian menyimpannya rapat-rapat di lemari

tempat baju tidur dan kelambu yang kita pakai

membuat janin-janin puisi di dalam tubuhku.

 

2017

 

Terinspirasi dari Lukisan karya Arthur Bowen Davis

 

 

Kretekopi

 

;Ibe S Palogai

Kita mampu lebih paham tentang perasaan

katamu, karena pernah salah paham

Kesalahan hanyalah ritus terkecil dari ego

yang paling rendah dengan palung seperti gelas

kopimu yang larut menemani malam, lalu

kemudian sesuatu jatuh ke atas langit

menyentuh lantai ubun-ubun yang licin

karena melihat di losari ada mata yang bersedih

sampai terpeleset jatuh ke pelukan kata-katamu.

Kau mata yang tabah, dan aku air mata

yang merubah kata menjadi telaga.

 

2017

 

Ilustrasi: http://www.epistela.com/

Naik Haji dan Puisi-Puisi Lainnya

Naik Haji

kamu mau naik haji?
tanya guru mengaji
salat masih bolong
anak-anak yang ditinggal orang tuanya dan
orang-orang di sekitarmu masih butuh makan

naik haji memang rukun islam kelima
bisa naik haji kalau disebut mampu
mampu uang ada, tenaga bisa juga

siapa yang mau naik haji?
tanya guru mengaji
kalau daftar hari ini
berangkat mungkin nanti
itupun belum pasti
ada yang naik haji

karena telah berjanji
pada Tuhan yang maha tinggi
ada pula yang naik haji
hanya ingin dipuji
sebagai bapak dan ibu haji

maukah kamu naik haji?
luruskan dulu niat
tinggalkan prilaku maksiat
hingga kamu siap
Tuhan tempatmu sujud.

Takalar, Agustus 2017.

 

Qurban

Setiap tahun kau yang paling rajin berkurban

di hari jika tiba haji musim
2 sampai 3 ekor sapi
bersama istri dan anak-anakmu

orang-orang di sekitar rumahmu tak pernah kau tengok
yang makannya sehari sekali
di manakah belas kasih
agama telah kau sakiti

qurban memang perintah Alquran
dan merupakan kewajiban
tapi untuk apa kamu qurban
jika orang miskin tak diberi makan

sama saja jika kamu sedang di atas kendaraan
di samping orang-orang lalu lalang
lampu merah, lampu jalan
anak-anak kelaparan.

Takalar, Agustus 2017.

 

Pangkalan Ojek

pangkalan ojek di depan taman Cibubur, dua orang tukang ojek mendengar lagu dangdut mengalir ditemani lalu lalang mobil dan motor kota jakarta

kulihat tukang ojek itu berbaring sambil memeluk takdirnya sendiri, di tengah kota kita semua adalah orang lain. Kemanusiaan hanya tumbuh di hati para petani dan nelayan. Perlahan tukang ojek itu tertidur di samping motornya yang sudah lelah menunggu penumpang

aku ingin naik ojek, tapi aku tak ingin ke mana-mana, tidak ada lembaran peta atau map di sebuah gawai, kenangan dan masa depan terlalu jauh untuk naik ojek, aku memilih duduk saja dengan beberapa jarak, lagu-lagu terus mengalir menenggelamkan mimpi-mimpi tukang ojek

di kota ini, kebijakan berubah seperti seperti senyapnya waktu, listrik dan bbm melonjak tanpa diusik pemerintah hanya peduli dengan dirinya sendiri, nasib tukang ojek dan lagu-lagu yang didengarnya kini perlahan juga senyap. Suara hanya lalu lalang kendaraan.

Jakarta, 22 Mei 2017.

 

Sepi Betul Hari Ini

Sepi betul hari ini
mentari hangat telah bertepi
aku duduk dengan kekasih
kami seperti berjarak kisah
memelihara diam
curiga kami dalam
meski mata kami saling bicara

biasanya jam segini
dua orang pemulung
duduk di depan toko yang sudah lama
tak pernah dibuka
pemulung itu bersaudara
yang satu Yana
dan yang satu Yono

Yana dan Yono kini tidak lagi terlihat jam segini
pantas kota sudah bersih
tempat sampah berjejer
saling menjaga jarak
Yana dan Yono tidak lagi mengambil peran
pemulung kedua bersaudara itu
mungkin sudah pulang kampung
tapi di mana kampung mereka?

atau mungkin saja saat malam
Yana dan Yono diciduk
kota sudah bersih
dari pemulung
sepi betul hari ini
biasanya jam segini.

Takalar, 3 Mei 2017

 

Kemenangan Kenangan

Setiap kali menaikkan bendera merah putih
air matanya buru-buru merangkak di pipinya
kenangan menyeret ingatannya
hatinya mulai tergenang

seperti senja, umurnya memang jelang benam
namun perasaan dan cintanya masih sangat dalam
mungkin saja tak ada yang bisa benar-benar kehilangan
dari janda yang ditinggal pejuang

tujuh puluh dua tahun
ia kehilangan cahaya di hatinya
tujuh puluh dua tahun
ia menyesali perjuangan yang memisahkan itu

cahaya di balik matanya barulah terbit
mengusir gelap yang menyeruak
ia melihat orang-orang berlari ke arah mentari
bedil kecil menembus tubuh suami

setiap kali menaikkan bendera
lukanya seperti disapa cuka
setiap kali menaikkan bendera
dirinya merasa tenggelam.

Makassar, Agustus 2017

 

Anawangguluri dan Puisi-Puisi Lainnya

Incognito : Koboi Kembara

Aku berjalan berjejalan ditemani luka-luka laki-laki yang telah diperam kelam terungku kala bertamu diiringi bunyi-bunyi ledak.

Aku menyamar jadi memar usai terjerembap menyusun bunyi sunyi hujan bulan untuk ditadah wadah berupa sedepa ember Desember.

Aku bercerita berita hampar sampar melintang kencang menaungi remaja hingga raja tanpa menggubris lukis dinding pening bencana tak terduga.

Aku lelah membelah maut kalut mencari kilat cerawat guna terang pematang sebab belukar dan akar memuji ramah tanah penerima derma.

Aku terbang menyerang dahan cemara utara yang kerap berharap pagi kembali guna dijelma suguhan perjamuan jelang diserang siang.

Aku melihat kelebat punggung burung memikul bakul penyokong kelana merana di bentang padang pasir benua tertua.

Aku mendengar senar dipetik lentik tangan kenangan pada pertunjukan dadakan menyambut dentang serta kembang api tersepi.

Aku larut berlutut bertaruh keruh sisa-sisa keberanian bajingan tanpa tunggangan dan kelaparan lagi kedinginan meminta tumpangan menuju tujuan.

Aku terdampar gelepar menjatuhkan kejantanan, jelaskan pengembaraan untuk pelana yang bertanya kudaku ke mana.

 

(Makassar, Januari 2017)

 

 

Pertempuran dan Insomnia

 

Untuk mengetahui perincian cara terjaga

mata perlu menerka takaran kadar kafein

sebelum dinding kamar menyempatkan diri

menggambar ratusan domba lari dari peternakan

 

Aku terbaring dan membayangkan pertempuran

singgah di sebuah benteng paling sunyi

menyalakan rahim-rahim sengat api

ritus abadi kaum penyembah laras senapan

 

Ngeri, bau anyir keringat ditimpali luka segar

doa-doa keselamatan lupa terucap sebelum tidur

udara meniup ilusi berwarna hijau teras rumah

saat dada disumpal kata-kata umpatan

 

Memejamkan tatap seperti seorang peziarah

yang tersesat saat kehilangan rumah ibadah

mungkin engkau tahu caraku kembali

sementara astralku mengembara di garis depan

 

(Makassar, Februari 2017)

 

 

Pawai Semut Api

(catatan setelah mendengar lagu Mastodon)

 

Berjagalah di selasar pintu rumah sepanjang malam

sebelum kesedihan bertamu terlalu dini

dan kami bertepuk tangan tanpa pesta,

setelah mengukur luas sekujur tubuh hangus

yang rela menampung relief pertempuran

kami akan bergegas mencari sarang baru

 

Bernyanyilah di batas kota para terusir

sebelum mereka kian pandai gugur dari ingatan

dan kami menggambar persimpangan di kulit,

setelah berkelakar tentang kamar-kamar temaram

yang lupa dipasangkan pintu keluar

kami akan begadang merayakan tibanya maut

 

Bertanyalah di satu hari musim kemarau

sebelum sungai menguap jengkal demi jengkal

dan kami menunggu matahari setubuhi bentang aspal,

setelah pematang hijau minggat dari semayam

yang keguguran benih bakal humus

kami akan pulang ke hutan merawat luka gigitan

 

(Makassar, Februari 2017)

 

 

Anawangguluri

 

Usaha menyangkal makna kepulanganmu

menuju kahyangan, menuju kamar-kamar gaib

yang letaknya tak pernah diajarkan oleh guruku

sebab dongeng selalu mengantarku

menuju lembah paling sunyi bernama pipi

Aku kalah duluan sebelum berangkat mencari

sebab ranjangmu tetap satu-satunya yang basah

meski dia bergantung di langit kota ini

 

(Makassar, Maret 2017)

 

Catatan : Anawangguluri adalah nama tokoh bidadari dalam salah satu cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara.

 

 

Menunaikan Pesan Ibu

 

Ibuku berkata “sesekali keluarlah menangisi dunia

Maka kusesatkan diriku di antara Tigris dan Eufrat

mengajarkan cara bersembunyi setelah berlari

sebab bendera hitam selalu berarti maut

diikuti ambruknya barisan apartemen di tengah kota

 

Di lain hari, kutenggelamkan ujudku di laut Mediteran

mendengar kecipak ombak menghantam lambung kapal

pelayaran tanpa pelampung bermuatan tubuh menggigil

hanya ada buntal satu pertanyaan : “di mana daratan?”

 

Sesekali kukunjungi nisan-nisan di garis depan

istirahat abadi setelah bercinta dengan senapan

nama-nama dari negeri asing lengkapi kalimat perintah

nasib kini mudah ditebak, pertempuran tanpa aba-aba

 

Rombongan terakhir akan tiba di seberang pagar kawat

setelah Balkan mengaku kehabisan taman untuk ditinggali

pawai terpanjang sepanjang sejarah, aku jadi pemandunya

ikut ditempa tongkat baton dan pesta gas air mata

 

Ibuku berkata “sesekali keluarlah menangisi dunia

Petaku berwarna senjakala, tiap pijak jadi luka yang baru

 

(Makassar, Maret 2017)

 

 

Jaga Malam

 

Menilik keramaian, kudapati diriku membaur dan menghitung satu demi satu helai rambut yang jatuh

Pernah sekali raut wajah malam menggenapkan jengkal demi jengkal tanah paling kering

tempatmu tersesat, sebab doa-doa pengantar tidur gugur sebagian, juntai dari sepotong bibir

milikmu, sebab musabab musim pembawa basah ingin bertanya persinggahan, memisah nama hari

kelahiran yang lupa memberimu petunjuk menyimpan ucapan terima kasih terpanjang untuk kau tulis

 

Salinan tulisan ini bukan puisi penenang keributan, atau bersendok-sendok gula beku di dadamu

Jangan sandingkan dengan kidung kudus dalam gumam para penjaga perbatasan sebuah negara

penganut agama prasangka buruk, kita terlalu sibuk dengan televisi dan wajah-wajah yang

selalu menghukum kegembiraan, sesekali tanyalah resep hidangan makan malam atau meminta dibuatkan bait-bait lagu cinta

karena hanya hal-hal itu yang sanggup menjebak tawa setelah seharian berkeliaran di keringnya mata

 

(Makassar, Maret 2017)

 

 

Pewarta Kitab Perang

 

Malam ini aku mendadak pelan berdoa

dan mendengar candaan paling asing

silih berganti meminta izin untuk dekam

di telingaku yang menjejalkan suara khutbah

 

Aku terlalu sering kehilangan jawaban

padahal sudah kutelan bulat-bulat firman ganjil

penuntun domba kelaparan menuju bilik penjagalan

tidak ada ampunan paling sendu selain asahan parang

 

Ingin kusampaikan padamu bahwa merah ialah panji suci

berkibar dan tegang di tubuh-tubuh telanjang

melintasi garis depan menuju gunduk ratusan kuburan

agama paling waras sekali pun akan kehilangan namanya di sini

 

Setiap hari, dosa-dosa lahir dalam keadaan prematur

dipaksa berjalan di tanah lumpur bercampur amis nanah

kesedihan hakiki terwarta dalam kerlip mata sebelum padam

akan tiba masa di mana kita lupa cara berlari

 

Malam ini, aku berdoa terlalu terlalu pelan

mendoakan suami-suami yang jauh dari rumah

mendoakan pemuda-pemuda tanggung yang tak pernah merasakan cabikan pedang

mendoakan musuh-musah usai berpencar dalam suasana kabung

 

Aku akan berdoa di depan pintu pemakaman para martir tanpa nama :

terkubur bersama pasungannya

 

(Makassar, Maret 2017)

 

 

Tujuh Hari Dalam Seminggu

 

Jika Senin adalah hari memulai percintaan, maka aku akan berkuda begitu jauh dari semadiku. Sebab pertama-tama ingin kuantar potretmu menuju tebing kemudian langsung membuangnya. Aku tidak punya waktu untuk mengamati dan mengingat terlalu sedikit. Bertanya kabar hanya membuang waktu, membalas tidak selalu berarti bertukar pengertian.

Jika Selasa adalah hari libur, tidak ada cara lain untuk bersantai kecuali melipat banyak peta untuk kukantungi. Orang-orang boleh tersesat dan kurang pandai membaca tanda kehidupan lewat remah lumut di kulit pohon. Setiap perjalanan akan berakhir di sebuah persimpangan. Setelahnya aku berlayar menuju pulau tanpa nama untuk menemui musafir pertama yang mengembara karena patah hati.

Jika Rabu adalah hari kemerdekaan, maka akan kembali kubelenggu diriku di dalam rahim ibu. Sebab dunia kini lebih gila dari kisah kaum pertama melintasi bentang gurun dengan tubuh telanjang. Kebebasan hanya tulisan di tubuh dewi keadilan, noda campak dan selalu diatur luput dari amatan.

Jika Kamis adalah hari berkabung, anak-anakku akan membeli pakaian di sebuah butik di mana air mata dan ratapan menjadi alat pemintal cuaca. Warna hitam tidak lagi sakral, biru laut pindah menuju dinding-dinding kota tanpa kesenian. Aku menebak-nebak kenapa musik blues cocok mengiringi upacara pemakaman.

Jika Jumat adalah hari ibadah, menghindari khutbah adalah kejahatan termanis pada tahun-tahun ini. Rangkai kebencian menulari masa-masamu tumbuh dengan televisi layar datar. Setiap pertanyaan akan selalu berarti ledakan di sebuah halte bis. Sementara sanggahan tidak sanggup membawa beliaku mengerti masa-masa darurat.

Jika Sabtu adalah hari akhir, pesta paling meriah akan diadakan sebelum kiamat bertamu lupa permisi. Aku mendongeng kemarahan dewa-dewa menjelang Ragnarok dan Kurusetra. Rasa takut menegang lebih cepat daripada berita duka. Maka hadiah cokelat tidak laku, mencair dalam dekap rombongan penyesalan.

Jika Minggu adalah hari milikmu, ingin kugemakan lonceng-lonceng di pos jaga sebab engkau akan terlelap hingga siang berderik. Berjaga seperti prajurit tak menolongku mengingat ini jam berapa. Tunggu ini hari apa?

 

(Makassar, April 2017)

 


Keterangan gambar: Lukisan Heno Airlangga

sumber gambar: lelang-lukisanmaestro.blogspot.co.id

Pertemuan di Shinjuku Gyoen dan Puisi-Puisi Lainnya

Pertemuan di Shinjuku Gyoen

 

Suhu udara Tokyo mulai hangat.

Bunga sakura di Shinjuku Gyoen seperti bercerita

tentang sebuah negara yang selalu bersinar, ibarat matahari.

Tapi tak ada yang kilau di Negeri Matahari Terbit siang ini.

Tak ada cahaya menyebar menutupi pandanganku.

Segalanya jelas, dan kita saling tatap.

Aku tak tahu persis bagaimana Tuhan merencanakan sebuah takdir.

Pertemuan kita seperti sudah tertuliskan di catatan harianNya

tanpa kutahu mengapa kita yang mesti bertemu.

Musim semi kali ini merekam banyak cerita

yang mesti dilanjutkan atau diakhiri saja.

Tapi takdir Tuhan tak pernah cacat.

Bunga sakura telah mekar,

harapan akhirnya mekar juga.

 

 

Festival Kembang Api Nagaoka

 

Malam ini kulihat masa depan yang cerah

pada percik kembang api di Nagaoka.

Kehidupan yang akan kita lalui sepertinya

lebih panjang dan berliku dibanding Sungai Shinamo.

Tapi genggaman tanganmu di pinggir sungai itu seperti isyarat.

Jika aral melintang di waktu mendatang

bukanlah perkara yang mesti dicemaskan.

Sepertinya, hari-hari di musim panas ini justru akan sejuk.

Lalu, jangan tanyakan bagaimana aku

menikmati festival kembang api malam ini.

Aku lebih menghayati percik hanabi di pikiranku,

yang membawaku ke suatu masa akan datang.

 

 

Ciuman Musim Gugur

 

Bibirmu adalah pagi yang sejuk.

Menumpahkan embun.

Kali ini bibir itu tak semerah

daun musim gugur Hokkaido.

Gincu hanyalah zat kimia

yang tak ingin kau lumuri di bibirku.

Di pangkal pendakian Akadake,

Ginsendai semacam gairah yang membuncah.

Jiwa-jiwa kita berwarna-warni,

serupa taburan warna-warna daun

di musim gugur yang rimbun

 

 

Yang Telah Berakhir di Shirakawa

 

Pagi ini hujan tak turun lagi.

Tapi langit tak menumpahkan salju.

Tubuhmu tak sedang di Shirakawa.

Kenangan mengering.

Genangan menguap oleh terik.

Tapi sebenarnya kenangan itu tak perlu diingat.

Ia tak seindah sejarah Gassho-Zukuri.

Seandainya ingatan bisa dikubur,

kan kubawa kau sekali lagi melintasi prefektur Gifu

pada Desember yang beku.

Biarkan sejarah itu ditenggelamkan salju,

bersama dengan tanah Shirakawa.

Kau hanya belum tahu,

punggungku sudah punya sepasang sayap malaikat.

Perempuan Kedua dan Puisi Lainnya

Setelah Merdeka

Sekarang betapa mudah mengangkat bendera merah putih itu. Menanamnya di perut bumi. Dengan tiang-tiang bambu.

Kadang dibuat melintang di atas genteng, menjalari seperti ular naga yang melintas bolak-balik, di tiup angin. Begoyang-goyang seperti suara daun bambu

Merah putih berkibar berkelabat di setiap benak pandunya

Melayang layang di bumi Indonesia. Dengan susah payah

kemarin badan koyak, mengucur-ngucur keringat. Apalagi darah

semburat warna bendera. Betapa berat sungguh

Sampai sekarang, tubuh masih kesakitan mengingat

hayat dirajah penjajah

 

—-

 

Memunggungi Buku

 

Mereka tak mencintai buku-buku

Hidungnya lebih sayang di bibir perempuan

Melepas sarung setelah hujan

 

Mereka tak mencintai buku-buku

Memahami pagina tak sudi

ketika satu kata hilang dibawa air

 

mereka tak mencintai buku-buku

seperti semut tak menyukai minyak tanah

 

mereka tak mencintai buku-buku

mereka tak mencintai buku-buku

mereka tak mencintai buku-buku

 

mereka sudi sakit memanggul

dipunggunginya berlama-lama, kata-kata

 

 

Perempuan Kedua

 

Kau putuskan dia

Setelah janji tidak kau tunaikan

“Aku mencintaimu entah sampai kapan”

Kau mengucapnya pelan

di bawah desir angin

Seperti sepotong sajak cinta

“Tunggulah aku, ketika muka-muka menjadi bahagia”

Tapi, itu justru naskah entah siapa

penulisnya. Kau ucapkan seperti

suatu kebiasaan di sore hari

saat burung-burung berdecit mengakhiri

senja yang ganjil

 

Kau tinggalkan dia

Setelah seorang perempuan menyicil

hatimu sebelah, tapi tidak jiwamu

yang kelimpungan akibat air matanya

membentuk sungai tempat ganggang

tumbuh di hati yang koyak

 

Kau tinggalkan dia

begitu saja dipias sepi

membuat hari-hari gelap

setelah rembulan kau berikan

ke dalam mata perempuan itu

yang kau tatap setiap malam

“Aku bakal menyanyangimu, setiap jiwaku”

Itu kau ucapkan, ketika siang

Berhari-hari dan, malam pun tiba

Kembali kau pandangi lagi, bulan

Di mata perempuan itu

 

Kau tinggalkan dia

dengan bibir gemetar

sekaligus kau ambil mataharinya

dibenamkan di hati

perempuan itu yang bakal

kau katakan “ini matahariku, pakailah jika kau mau”

dengang harap suatu waktu

dia melunasi hatimu yang masih

setengah, tapi bukan jiwamu

 

Kau tinggalkan dia

seperti baru saja terjadi

dengan rembulan dan matahari

yang kau rebut paksa, siang malam

untuk perempuan kedua

yang tak pernah kau temui

 


sumber gambar: google