Arsip Kategori: Puisi

Anawangguluri dan Puisi-Puisi Lainnya

Incognito : Koboi Kembara

Aku berjalan berjejalan ditemani luka-luka laki-laki yang telah diperam kelam terungku kala bertamu diiringi bunyi-bunyi ledak.

Aku menyamar jadi memar usai terjerembap menyusun bunyi sunyi hujan bulan untuk ditadah wadah berupa sedepa ember Desember.

Aku bercerita berita hampar sampar melintang kencang menaungi remaja hingga raja tanpa menggubris lukis dinding pening bencana tak terduga.

Aku lelah membelah maut kalut mencari kilat cerawat guna terang pematang sebab belukar dan akar memuji ramah tanah penerima derma. read more

Pertemuan di Shinjuku Gyoen dan Puisi-Puisi Lainnya

Pertemuan di Shinjuku Gyoen

Suhu udara Tokyo mulai hangat.

Bunga sakura di Shinjuku Gyoen seperti bercerita

tentang sebuah negara yang selalu bersinar, ibarat matahari.

Tapi tak ada yang kilau di Negeri Matahari Terbit siang ini.

Tak ada cahaya menyebar menutupi pandanganku.

Segalanya jelas, dan kita saling tatap.

Aku tak tahu persis bagaimana Tuhan merencanakan sebuah takdir.

Pertemuan kita seperti sudah tertuliskan di catatan harianNya

tanpa kutahu mengapa kita yang mesti bertemu.

Musim semi kali ini merekam banyak cerita read more

Perempuan Kedua dan Puisi Lainnya

Setelah Merdeka

Sekarang betapa mudah mengangkat bendera merah putih itu. Menanamnya di perut bumi. Dengan tiang-tiang bambu.

Kadang dibuat melintang di atas genteng, menjalari seperti ular naga yang melintas bolak-balik, di tiup angin. Begoyang-goyang seperti suara daun bambu

Merah putih berkibar berkelabat di setiap benak pandunya

Melayang layang di bumi Indonesia. Dengan susah payah

kemarin badan koyak, mengucur-ngucur keringat. Apalagi darah

semburat warna bendera. Betapa berat sungguh

Sampai sekarang, tubuh masih kesakitan mengingat read more

Rimba dan Puisi-puisi Lainnya

RIMBA

Karts membentang  gagah tadah langit senja

Tegak menapak  kepak sayap tornado dari daratan para pendongeng

Gemulai nyiur padanya simpan pesan di gerimis senin pagi

“pergi tuan!” Desus  sanca, rupa tarantula, jari-jari benalu, murka

Membakarmu dari getah –  getah  pinus dan ranting – ranting cemara yang marah mendesau “

Rimba gelap berloreng tentara

Pun bersemayam arwah – arwah purba menggantung di pucuk -pucuk  dewadaru

Ia lah sukma belantara mayapada tafakkur di lebat jati read more

1920 dan Puisi-puisi Lainnya

1920

Keramaian doa di sebuah stasiun kereta menuju langit
Tiba-tiba saja merah. Semua tahu warna doa
: putih. Suci di bibir seorang pendeta
Sedang bertarung dengan makna-makna yang berdarah

Seluruhnya patuh menyaksikan debat
Orang-orang gempal bertopi coklat
Menikmati wangi asap dari pabrik dan pajak.
Kakinya disilangkan, seperti mendengarkan sajak

Teriakan demi teriakan menyemat di telinga takdir
Jiwa-jiwa merah-berdarah-darah terlentang di sepanjang relnya
Beberapa orang bersenggama seperti ibadah
Percaya bahwa Tuhan lupa membawa kunci gereja read more

Trilogi Interupsi dari Kampus: Oemar Bakri Bertanya dan Puisi-puisi Lainnya

Oemar Bakri Bertanya

Oemar bakri mengejek.

Kalian para pendidik, nalarmu kau kemanakan ?

Makin hari makin jongkok, ucap dan tingkahmu makin berjarak.

Papan tulismupun makin jauh dari soal-soal kehidupan.

Kalian para birokrat kampus, apa kerjaanmu ?

Yang kulihat, sehari-hari kerjaanmu hanya memperkaya diri, memahalkan biaya kuliah, mengkomersilkan fasilitas kampus, membuat kebijakan yang mengkerangkeng kreatifitas mahasiswa.

Kampus kau buat tuli, buta, bisu dan impoten.

Kampus kalian buat menjadi penjara, di sana kalian malah memperbudak. read more

Kisah di Teluk Bone dan Puisi-puisi Lainnya

KISAH DI TELUK BONE

Bertahun berlari buang perih, merajam jiwa di September senja  berlalu

Kenangan telah dituliskan di jalan berdebu, angin menghempasnya jauh

Jadi koloid menumpang pada keringnya daun- daun tulip tanah Cenrana  menanti semi

Sisa- sisa kerinduan telah terbuang pada jurang yang dalam, di terjalnya lembah Bawakaraeng

Terhempas

Sisa darah dan udara mengisi  ruang jiwa, hampa diguyur hujan malam

Meski perih  bersisa di hantam percik gelombang Losari  yang asin

tak kuratapi segalanya, kecuali takdirlah  memahaminya read more

Kitab Suci yang Mendekam di Rahim Sapi dan Puisi-Puisi Lainnya

Kitab Suci yang Mendekam di Rahim Sapi

/1/

Seorang utusan, pendoa di kehidupan yang lain sedang menulis kitab suci pada daun lontar, setelah ia  menulis ayat terakhir, ihwal paling intim penutup suratnya, seekor sapi betina datang memakannya.

/2/

Sesaat setelah kata-kata Tuhan dituliskan, ingatan akan hilang menuju entah, kini ayat itu ditemukan oleh seorang penyair, sesaat setelah ia umrah di pusara seorang kekasih, dan Ia menuliskannya jadi puisi.

/3/

Agama, remah-remah roti untuk burung-burung read more

Bumi Pembodohan dan Puisi-puisi Lainnya

BUMI PEMBODOHAN

/1/
Pada waktu yang paling bodoh kuminta hidupku ditarik kembali ke masa kecil. Menghitung jari dan langkah kaki tiap kali kembali dari bermain-main.

Di sore hari. Aku pulang dengan wajah yang basah: menangis. Menjadi tak peduli.

/2/
Kadang-kadang aku berlagak sebagai tamu untuk diri sendiri. Pengunjung dan yang dikunjungi adalah sosok yang sama. Dan aku tak lagi pernah membiarkan orang lain lewat di depan istanaku. Istana yang ditinggalkan akal sehatnya.

Jika sekadar memorak-porandakan taman dengan lampunya yang kedinginan, aku juga bisa. Tapi aku merasa rugi membuang waktu dalam sendiri seperti itu. read more

Terungku dan Puisi-puisi Lainnya

TERUNGKU

bila saja dirimu sudah tiba

pada ketetapan putusan

terhukumlah dirimu

maka bukan soal benar salah yang terpenting

menjalaninya jauh lebih penting

bincang benar salah batasnya ada di jeruji terungku

di balik jeruji dirimu bisa lebih merdeka

sebab dirimu hanya berurusan dengan dirimu

pada kala demikianlah

aku ingin menandangi dirimu

entah dengan cara apa saja

setidaknya,  akan kubawakan pena dan kertas

torehkanlah segala kisah dirimu

tentang dirimu yang sejati-jatinya

soal dirimu yang sesari-sarinya read more