Arsip Kategori: Puisi

Rimba dan Puisi-puisi Lainnya

RIMBA

 

Karts membentang  gagah tadah langit senja

Tegak menapak  kepak sayap tornado dari daratan para pendongeng

 

Gemulai nyiur padanya simpan pesan di gerimis senin pagi

“pergi tuan!” Desus  sanca, rupa tarantula, jari-jari benalu, murka

Membakarmu dari getah –  getah  pinus dan ranting – ranting cemara yang marah mendesau “

 

Rimba gelap berloreng tentara

Pun bersemayam arwah – arwah purba menggantung di pucuk -pucuk  dewadaru

Ia lah sukma belantara mayapada tafakkur di lebat jati

Berlafads doa, menamat dosa karma tuan pada hutan

 

Di tebing kapur berkali

Diterjal air terjun

Di jenggot beringin sajen

Di bilah tuak lontar

Biar raga dikoyak malam

Di mangsa waktu di balutan embun, pulas di sarang kunang- kunang, lelap di nyanyian alam

Ikutlah padaku kawan

Balas budi meski hanya lestari

 

Satulah aku

Tuan di hamparan  belantara

Anging lembah barat daya,merasuk jiwa

Ao …….masuk menusuk, dingin menggigil

Getar tubuh berujung di paru – paru abu

 

Terbanglah aku bersama dekapan sang  gagak

Mencumbui fajar di lereng  rimba

Mengalun kisah di saran anoa

Bercerita tentang monyet menimang anak

 

Jiwa merdeka,

Damai mengenang rindu di tengah perdu belantara

 

Pangkep, 28  Mei 2017

 

 

PEREMPUAN ITU

 

Merobek dada

Sepintas bayang mengharu

Air mata tumpah kering terbawa badai benua

 

Perempuan itu

Disimpannya harap di januari kemarin

Secerca cinta menggantung kerinduan

Miris sia-sia lenyapkan dunia dibias cahaya misteri

 

Terbuanglah sudah

Hina didustakan kepalsuan lelaki

Tak kembali menapaki jalan kasih ibu

Di batas kota dititipnya sesal dan air mata memprasasti luka

Bersketsa karma dari goresan tradisi belaka

 

Makassar, 20 Juni 2017

 

 

 

 

NEGERI BUDAK IBLIS

 

Alam kelabu

Hamparan gelap menelan jiwa

Berpijak pada ruang kepalsuan

 

Tiang pelayaran di anjungan kapal retak

Gemuruh petir dari barat

Melukis riwayat

Kebenaran sembunyi

Tak nampak pada jalan menuai bakti

 

Antara dirgantara

Para praja berjaga

Suara sepatu militer tua

Di jalan bergaris darah

Tak seirama dalam perang menantang

Suara bakti kemanusiaan didustakan

Lempar jauh dari kehidupan

 

Pelor bahkan teluh lempar  terlempar

Air mata dari mata yang buta

Adalah makna kebohongan belaka

 

Terlalu sempit bumi

Dihuni perempuan sundal

Lahir dari rahim ibu yang mandul

Di jalan, zina tak bisa dijinakkan

Apalagi ekstasi  perlahan bunuh generasi

 

Dalam birokrasi

Di payung demokrasi

Hukum jadi mayat

Dikafani aturan dari duit siapa yang berdaulat

 

Inilah negeri budak-budak iblis

Bergulat melumat cacat

Jadi parket dipalsukan dalam persil sejarah bangsa

 

Maros, 2010-2017

 

 

SEBELAH JANTUNGKU KAU BAWAH PERGI

 

Malam terkutuk, siang kelabu

Rindu terapung,hanyut terambing di samudera galau

 

Tak ada cinta,hasrat memudar

Naluri padam,seketika bintang kehilangan sinar

 

Aku sang malam melepuh dalam gelapnya kehidupan, terpenjara dalam hening , merindukan cumbu bidadari dari syorga para pencinta

 

Debar jantung sekejap hilang ditelan duka perih,

Terbakar bara oleh palsunya gerhana  menodai hari

 

Kau adalah penghibur cinta, kurindukan menghapus jejak durjana dalam impian tak berbatas

Kau adalah cinta, mematung di taman kota membisu mensungging senyum semu

Kerinduanku adalah suara- suara penyair yang digilakan cinta yang tak pasti

 

May, sebelah jantungku kau bawah pergi

Nisanmu, pena cinta abadi yang melukis di keningku, bergaris penuh keriput

 

Maros, 23 Oktober 2015

 

 

SINAR PUASA

 

Pertarungan menemus syorga

Dalam gelap renta dijabah bayang – bayang neraka

Tatapan mata iblis nyala di topeng lelaki mati jiwa

Serak sumbang nada serakah dilukis-Nya di lidah gadis nyinyir

 

Cakra berselimut berkah ramadan

Ialah lentera menepi pada sinar yang kudus

Ialah sayap pada lemah api  abadi

Di sinilah malam mati diremuk tasbih

Siang dipeluk syahadat pada roh agung

Tantang adabiah islamiah ditikam dzikir dan solawat

Diputihkan bias sabar obralnya amalan puasa

 

Tadarus digema

Tembuslah arasy

Taburlah hikmah

Terbungkuslah hidayah

Tersemailah pahala

Gaib malaikat jelma dalam doa

Teruntuk para jiwa yang lailatulkadar

 

Oh .. sekuntum kembang adnan

Petiklah di hening simpuh tahajud

Aromanya pada musafir berserah diri

Tunduk dalam putaran senja sampai mati

Kepada Sang Maha yang menjanji

 

Sinar puasa,puasa bersinar

Lebur pada binara-binar dakwah dipuja

Urai makna Ilah dalam air mata dosa

 

Sinar puasa, sinarnya raga berpeluk puasa

Mukmin tadabur kaji hakikat jiwa semesta

Lupa dunia menjerumus ilusi belaka

 

Maros, 12 Juni 2017

 

 

BIDUAN KAMAR MANDI

 

Jelita

Merah delima kecupan bibir-bibir hitam

Bau kopi

Sebut saja  Si Sanja

Tegur malam lewat rayuan- rayuan cinta yang basah

 

Rindunya menggumpal

Jadi awan

Jadi hujan

Jadi  embun

Ikut gugur bersama daun tersungkur

Bertekuklutut di padang –padang asmara yang binal

 

Sembunyilah

Di sudut malam kita lebur

Dalam irama tak menjumpai dosa

Biar kita mati

Digigit siluman berkutu dari rambutmu berparas kleopatra di sana

 

Ah…..

Kau dangdut

Kau gitar yang melodi

Lembut kulit lembu tubuhmu

Siksalah sang kumbang berharap cemas antara bayang-bayang

 

Aku tamu

Jamu aku secangkir anggur putih

Bersulam rasa mengecup sukma

Indah

Alunan nafasmu kusimpan dalam kapas berjimat

 

Biduan dalam kamar mandi

Jangan bersiul

Karena itu bukanlah mukjizat bagimu

 

Maros , 07 Desember 2016

1920 dan Puisi-puisi Lainnya

1920

Keramaian doa di sebuah stasiun kereta menuju langit
Tiba-tiba saja merah. Semua tahu warna doa
: putih. Suci di bibir seorang pendeta
Sedang bertarung dengan makna-makna yang berdarah

Seluruhnya patuh menyaksikan debat
Orang-orang gempal bertopi coklat
Menikmati wangi asap dari pabrik dan pajak.
Kakinya disilangkan, seperti mendengarkan sajak

Teriakan demi teriakan menyemat di telinga takdir
Jiwa-jiwa merah-berdarah-darah terlentang di sepanjang relnya
Beberapa orang bersenggama seperti ibadah
Percaya bahwa Tuhan lupa membawa kunci gereja

Kerajaan surga telah digambar di atas sebuah kanvas
Oleh anak albino kecil yang kehilangan kaki kanannya
Ia menggambar dengan kebebasan dan persamaan,
Sebelum ia sadar, ukuran kanvasnya tak sepadan

Daun-daun kering patah di atas sebuah pohon
Akasia yang mencuri segala yang masih bisa diteguk
Orang-orang naik kereta. Orang-orang berjejer di relnya
: Tuhan lupa membuat kunci kereta.

2017

 

Manuskrip Beda

Sebening rasa
Seputih jatuh cinta
Sedalam luka
Sejauh berpisah

Tuhan menciptakan kita
Di rahim berbeda
Kau berjalan, aku juga
Terluka pada banyak hal
Di dunia

Umpama kata
Kita makna yang dibelah
Dalam kerongkongan puisi
Sebelum mulut-mulut berbisik

Dan aku mendengarmu, kau juga
Lalu kita saling menemukan,
Saling menyembuhkan.

2017

 

Menjawab Pertanyaan Sendiri

Apa rupa sepi di tubuh sendiri
: aku mencintaimu

Aku menyelam ke dalam matamu
Mencari senyumku sendiri
Tak pernah mencari senyummu
Yang sejak lama telah hilang dari dirimu

Apa rupa sendiri di tubuh sepi
: aku mencintaiku

Aku tidak mencintaimu
Aku mencintaiku, yang mencintaimu
Di tubuh sepi, bibirmu masuk sebagai tamu
Kulumat ia hingga kau tak mencintai dirimu

Apa rupa tubuh di sepi sendiri?
: kita tidak saling mencintai

Aku memilikiku, begitupun sebaliknya
Kita memiliki sepi sendiri-sendiri
Mengikat lirih pada tubuh kita dengan senyum
Hingga sepiku dan sepimu, beriringan di tubuh cinta

2017

Trilogi Interupsi dari Kampus: Oemar Bakri Bertanya dan Puisi-puisi Lainnya

Oemar Bakri Bertanya

 

Oemar bakri mengejek.

Kalian para pendidik, nalarmu kau kemanakan ?

Makin hari makin jongkok, ucap dan tingkahmu makin berjarak.

Papan tulismupun makin jauh dari soal-soal kehidupan.

 

Kalian para birokrat kampus, apa kerjaanmu ?

Yang kulihat, sehari-hari kerjaanmu hanya memperkaya diri, memahalkan biaya kuliah, mengkomersilkan fasilitas kampus, membuat kebijakan yang mengkerangkeng kreatifitas mahasiswa.

Kampus kau buat tuli, buta, bisu dan impoten.

Kampus kalian buat menjadi penjara, di sana kalian malah memperbudak.

 

Oemar bakri bertanya, lalu dimana sosok pahlawan tanpa tanda jasa itu ? pengabdi tanpa berharap pamrih itu ?

 

 

Kabar Derita

 

Lewat angin dikala hujan,

Lewat rinai gerimis,

Lewat malam yang gulita,

Lewat kopi yang pahit dan pekat,

Lewat pelataran-pelataran kampus yang tergenang banjir,

Lewat biaya kuliah yang mencekik mahal,

Lewat kebijakan yang kian memenjara.

 

Sekali lagi, kukabarkan berita ini.

Pada kalian yang sibuk dan lupa.

Karena hidupmu berlimpah nikmat dan kemewahan.

Bahwa di sini, ada susah yang menggunung,

Ada derita yang bertumpuk-tumpuk.

 

Dengarlah, menolehlah sejenak, mendekatlah kemari.

Agar kalian percaya, yang kukatakan itu bukanlah bualan.

 

 

Bait-bait Rindu

 

Pada malam yang basah,

Pada angin dan gerimis,

Pada daun yang jatuh berguguran,

Pada pohon dan rumput yang bergoyang.

Dengarlah, ada rindu yang ingin kutitipkan.

 

Kami rindu,

Rindu pada pendidikan murah.

Rindu pada pendidikan yang ilmiah.

Rindu pada pendidikan yang membebaskan.

 

Kami rindu,

Rindu pada kedamaian,

Pada keadilan,

Pada kemerdekaan.

 

Sampaikanlah rinduku padanya.

Pada mereka yang diperbudak nafsu kebinatangan.

Karena semua itu sudah lama pergi,

hilang, tertimbun nafsu serakah.

Kisah di Teluk Bone dan Puisi-puisi Lainnya

KISAH DI TELUK BONE

 

Bertahun berlari buang perih, merajam jiwa di September senja  berlalu

Kenangan telah dituliskan di jalan berdebu, angin menghempasnya jauh

Jadi koloid menumpang pada keringnya daun- daun tulip tanah Cenrana  menanti semi

Sisa- sisa kerinduan telah terbuang pada jurang yang dalam, di terjalnya lembah Bawakaraeng

 

Terhempas

Sisa darah dan udara mengisi  ruang jiwa, hampa diguyur hujan malam

Meski perih  bersisa di hantam percik gelombang Losari  yang asin

tak kuratapi segalanya, kecuali takdirlah  memahaminya

 

Pada cakrawala, pada pelangi kutuliskan kebencian, telah dihapus angin badai Selayar

Perapian cinta yang pernah nyala, telah di padamkan busa air terjun Malino

Pun kasih yang pernah tumbuh, telah terkubur mati di makam Londa

 

Usai sudah sepenggal kisah di Teluk Bone

Jangan kembali ! karena gairah  seribu tahun lagi akan bersemi

Pergilah, jangan lagi menoleh pada gerbang luka

Masa lalu itu adalah nestapa yang dicatat langit kelam

Biar aku di sini, mengurai kisah di sebait puisi

 

Pangkep,17 Mei 2017

 

 

PATUNG

 

Lemah pasrah patah rebah

Lihatlah

Jiwanya mati

Lengking jarinya menulis takdir pada tanah

Air langit menjilat debu keningnya

Netra pada pigura diam

Rintih memecah ingin

Berilah kehidupan

Meski hanya semalam pada pajangan

 

Patung

Tamat ditelan tamak

Belum termakna cerita Tuhan di lipatan selendangnya

Mematung

Mati rasa tuannya pada malam dalam pahatan

 

Maros, 05 juni 2017

 

 

MAWAR

 

Mawar dipetik

Duri padanya

Menancap di kulit

Darah menetes

Jeritan pilu

Perih

Langit tak sudi mendengar rintih

 

Makassar, 19  September 2016

 

 

BIAR

 

Ha… ha…ha…gh

Kulihat rindu di matamu mengemis senada denting –  denting kecapi

Lidahmu meludahkan neraka,

kidung- kidung munafik merobek jala –jala kupingku ditenun tabah

 

Kuharap cacing yang sembunyi  di hatimu,

perlahan mengunyah angkuh bersemedi  di batu – batu batinmu

 

Sayang

Tak  kau lesapi, sungguhnya bening cermin jiwaku,

padanya bukanlah bayang melainkan rupa keabadian  kasih,

tak berselendang  kafan dari tubuh- tubuh digauli benci

 

Biar

Sepanjang jalan kita jadi musafir kelana

Saling memaham lewat lekuk angin,

menuliskan makna di daun gugur remuk terpelanting

Pun waktu kan mengejar hidup,

menikamnya dalam ketiadaan harapan dari ilusi roh tentangmu

 

Makassar, 24 Juni 2017

 

 

MENTARI MENUNGGUMU TERSENYUM

 

Lahir dari tangisan

Bawa pesan dari Tuhan

Tak bisa terbaca

Tanpa kajian kesucian

 

Mungil di ayunan berangin

Air susu ibu mengalir dalam tubuhmu

Cahya nirmala malaikat

Melekat belai lelapmu

Itari mimpi dini hari

 

Jika pagi menghilang

Jangan sambut cerahnya hari

Hiasan air mata memecah sunyi

Jika ibu di kali tua

Mencuci popok kencingmu

 

Kutimang engkau di lembutnya hastaku

Iringilah langkah ayahmu

Senyum meski belum bisa termaknai

Yang di gerbang pelabuhan kota

Mengganti keringat dengan rupiah

Demi banjirnya air susu ibu

 

Anakku

Dalam ruang ini

Udara alam semesta

Hangatkan tubuhmu

Ketika selimutmu basah

Karena hujan di atap rumah ini

Jatuh menetes bekukan jemari ibumu

 

Anakku

Jika kelak kau dewasa

Wujudkan baktimu pada ayah bunda

Junjung amanah Tuhanmu

Tinggikan martabat bangsamu

 

Tidurlah nak dengan nyenyak

Sebab esok mentari menunggumu tersenyum  ***

 

Makassar,06 Maret 2017

 

 

LUSUH

 

Mata nyala pada wajah merah

Sekelopak mawar lusuh pada sanggulnya

Birulah wahai kau yang berdiri di balik jendela

Diamlah,

Tidurlah yang manis

Meski dipanmu gusar pada pundakmu

 

Pangkep,21 November 2016

 

 

KEMELUT DUNIA

 

Kepala melayang

Ganti berlari tembus udara

Separuh gelinding di jalan

Digunduli roda-baja diserbu asap

Dilibas waktu

Memburu hidup pada butanya pagi meninggalkan tidur

Di perbatasan terjungkal

Dimandikan keringat  tubuh sendiri

Berdiri meratapi jalan bertikung

 

Kemelut dunia ,mendaki lengkung pelangi berlumut

 

Petang usai

Cerita baru dimulai

Dimanalagi dunia ?

 

Makassar, 18 Juni 2017

 

Ilustrasi: https://www.redbubble.com/

Kitab Suci yang Mendekam di Rahim Sapi dan Puisi-Puisi Lainnya

Kitab Suci yang Mendekam di Rahim Sapi

 

/1/

Seorang utusan, pendoa di kehidupan yang lain sedang menulis kitab suci pada daun lontar, setelah ia  menulis ayat terakhir, ihwal paling intim penutup suratnya, seekor sapi betina datang memakannya.

/2/

Sesaat setelah kata-kata Tuhan dituliskan, ingatan akan hilang menuju entah, kini ayat itu ditemukan oleh seorang penyair, sesaat setelah ia umrah di pusara seorang kekasih, dan Ia menuliskannya jadi puisi.

 

/3/

Agama, remah-remah roti untuk burung-burung

Mereka datang, cuma membawa kata  dan suara

sebelum malam mengatup dan pagi membuka mata

 

2.

Iman. Keheningan panjang, yang bersandar di pepohonan

sambil menerka wajah mereka pada kaca di palung jalan-jalan kota.

 

Makassar 12-April-2016

(Puisi ini terinspirasi oleh kisah jus ke 40 dari kitab  suci yang  raib di kajang)

 

 

Sungguh Begitu Dekat Tempat untuk Berdoa

 

/1/

Kita tak pernah lihai mengangkat kepala

Membiarkan fikiran jatuh ke bebayang yang mengalir deras di punggung kita

Karena sungguh, begitu dekat tempat untuk berdoa

Inti laut bukan pada pusarnya yang telentang, tetapi tepi.

di deru-deru sungai, di urat-urat masa lalu yang gusar

/2/

yang terpenting ialah ketabahan menerimamu

di palung terdalam dadaku, aku menimang-nimang pesan dan kesan

mengejanya, menelitinya satu persatu diantara langit, dan angin

mendekapnya, mendekam diantara dingin dan ingin

Hingga pada akhirnya, di punggung musim, kita mengubur diri.

 

Selasa 25 april 2017

 

 

Yang Diketahui Ingatanku Tentang Ibu

 

Denyut nadir dan nyala api di kepalaku

Puisi masa silam yang kubaca di Rahimmu

Riak sungai, doa-doa khusyuk, yang rentan merentang rindu.

 

2i april 2015

 

 

Alaf, di Mata Seorang Pendoa

 

/1/

Tepat tengah malam, tokoh-tokoh di Rahim ibu sudah tutup. Para bayi tak ingin lahir, mereka tahu jika lahir mereka akan saling beradu mata dengan sesaudara, pisau penunggu bercak darah di bilah, naluri hewani purba di dada.

/2/

Ada saatnya beras, ikan hasil tangkapan tetangga, atau petuah-petuah moyang telah habis dilahap kemarau panjang, dan kita tak punya apapun lagi untuk dibagi, kecuali siasat ular adam yang aral juga martabat kemanusiaan yang menenggelamkan diri, di sisi teluk mercusuar tua, sambil menunggu badai kemaruk tiba.

/3/

di suatu shubuh, kulihat mata air keluar dari kepalamu, raib seperti kabut alun-alun selatan senyum kekasih pemalu dan peragu, dekat-dekat ini baru kutahu, itu Suara-suara Tuhan yang berkelindang di urat-urat bumi. Aduh celaka, dekat-dekat ini juga baru kutahu, suara-suara itu jadi soundtrack lagu dangdut, di cafe pinggiran kota.

 

Kamis 04 mei 2017


sumber gambar: karaenginfo.wordpress.com

Bumi Pembodohan dan Puisi-puisi Lainnya

BUMI PEMBODOHAN

/1/
Pada waktu yang paling bodoh kuminta hidupku ditarik kembali ke masa kecil. Menghitung jari dan langkah kaki tiap kali kembali dari bermain-main.

Di sore hari. Aku pulang dengan wajah yang basah: menangis. Menjadi tak peduli.

/2/
Kadang-kadang aku berlagak sebagai tamu untuk diri sendiri. Pengunjung dan yang dikunjungi adalah sosok yang sama. Dan aku tak lagi pernah membiarkan orang lain lewat di depan istanaku. Istana yang ditinggalkan akal sehatnya.

Jika sekadar memorak-porandakan taman dengan lampunya yang kedinginan, aku juga bisa. Tapi aku merasa rugi membuang waktu dalam sendiri seperti itu.

Maka kupalangi jalannya sesuka hati. Dan aku benar-benar tak peduli.

/3/
Aku menjadi lebih bodoh lagi dari yang terkira saat dunia di kepalaku berbalik membelakangi kata dan cebiran orang lain, mengikuti saat dimana hujan yang memayungi desaku lebih pantas dijuluki duri. —Duri yang hidup dari dalam tubuh, tubuh yang tak peduli dengan siapa: dengan hidup orang lain.

“Aku begini karena si tua yang sudah lama mati.” cibir batinku dalam pilu mengenaskan ini.

Yang kucibir kembali, pula adalah seisi kepala mereka yang menjalar, yang diwariskan dari kepala ke kepala. Para tokoh: mereka yang ditugaskan memajang rapi kepentingan. Hingga kami berhasil jauh lebih bodoh saat ini.

Dan bodohnya lagi, kenapa ini harus terjadi atas kami yang baru mengenal bentuk dan isi?. Sungguh kami masih anak-anak dalam berpikir, dalam menyimpulkan.

/4/
Tak sulit untuk mengoceh, dengan perintah-larangan yang lebih banyak mengambil tempat di dunia ini. Padahal yang kukira, selama ini dunia tak lagi-lagi meminta isi, setelah orang-orang bodoh menyesaki posisi di antara mereka yang pura-pura pintar namun membodohi seenaknya.

/5/
Jika begini, jalanan ke masa depan dunia ~akan semakin gelap. Dunia terancam dibodohkan secara rapi dan teratur. Dan kembalilah dunia ditakut-takuti oleh bayangan suram generasi dan peradaban.

Lalu apa yang membayang hingga kini? —jika kita berjalan ke perbatasan hari?
Semoga kita tersadar, dan semakin sadar.

Tentang kita yang akan mati dalam merugi.

Bontonompo Gowa, 2017

 

 

WAKTU

Sejak kedatangan malam
Dari terjualnya siang oleh senja
Juga kepergian malam
Sejak siang menebus kelam lewat fajar

Bahkan setiap saat kita diingatkan
Aku yang berjalan
Aku yang sedang duduk
Tertidur dan terjaga

Masih sukar mengundang peka
Jika kesibukan menggerogotimu yang sedang luang
Atau membiarkanmu tergesa-gesa mengejar kepergiannya

Kehilangannya adalah penyesalan
Serupa kayu
Yang menjadi rata
Oleh api yang melompat memeluk kayu

Menggunakannya dengan bijak adalah kebahagiaan
Tak ubahnya seperti air
Mengalir membasahi kerongkongan
Dan mengusap air mata
Sisa tangis dahaga

Makassar, 2015

 

GELANG

Berhentilah merengek di pembaringan waktu
Dan tak usah kau tanyakan pada leluhurku
Sebab aku, akan menceritakan semuanya kepadamu
Tentang kisah yang berjalan: mengikutiku.

Aku adalah serpihan cerita
Lingkaran yang terpasang bersama kutukan
Terkungkung di setiap pos pendakian
Terpasung menjadi saksi dari sejuta janji.

Aku adalah serpihan cerita
Ku muntahkan keluhku di depan cermin kehidupan
Berharap ia bisa mengerti
Tentang aku yang tak bebas bersama mereka.

Selamanya aku jadi pemalu
Tak mampu menatap mata yang menatapku
Meski aku sebenarnya datang bersama tuanku.

Makassar, 2015

 

APA YANG TERTINGGAL

“Kemenangan milik kita dan tanah ini tanah merdeka”
Ternyata—kalimat itu masih ada.
Tanah bermartabat di keberagaman hidup berbudaya
Bersih dan telah suci dari wajah menyeramkan para penjajah.
Tanah surga yang kaya raya
Berlimpah sumber daya.

Bukan bendungan atau jembatan
melainkan seperangkat pemikiran
Sebuah warisan; dengan sejuta penderitaan
Yang lebih menyeramkan

Syahdan, ketakutanku adalah ketakutan semua orang
Yang benar, fisik mereka telah tiada
Tapi racunnya masih subur terjaga
Dan kini ia masih sibuk menjarah.

Samata Gowa, 2016

 

DUPLIKAT HARAPAN

Telah datang kepadaku, penebus kata dari rumpun yang terpisah.
Menggelinding; jauh di antara jarak dan waktu yang mati suri.

Dia adalah aku, yang terkisah bersamamu
Diri yang pernah mengagumimu di balik kata “tidak”
Dia yang ku kisahkan sebagai diriku sendiri
Duduk menunggu; setiap kata yang melintas di penghujung waktu.

Apa mungkin aku yang tak terbiasa?
Hingga kalimatku menjadi kaku oleh kerinduan,
Sedang jemariku sibuk menuang sajak di atas kertas
Menggemuruh ….
Menyeruak di antara sepi hendak membunuh,
Aku masih bisa tersenyum—menahan rinduku serta
Kesyukuranku tetap terjaga. Dan cara—masih berpihak kepadaku.

Bontonompo Gowa, 2015

Terungku dan Puisi-puisi Lainnya

TERUNGKU

bila saja dirimu sudah tiba

pada ketetapan putusan

terhukumlah dirimu

maka bukan soal benar salah yang terpenting

 

menjalaninya jauh lebih penting

bincang benar salah batasnya ada di jeruji terungku

di balik jeruji dirimu bisa lebih merdeka

sebab dirimu hanya berurusan dengan dirimu

 

pada kala demikianlah

aku ingin menandangi dirimu

entah dengan cara apa saja

setidaknya,  akan kubawakan pena dan kertas

 

torehkanlah segala kisah dirimu

tentang dirimu yang sejati-jatinya

soal dirimu yang sesari-sarinya

buat pelajaran bagiku yang di luar jeruji terungku

 

dirimu diterungku namun merdeka untuk menuliskan segalanya

diriku dimerdekakan tapi terterungku buat menuliskan sekotahnya

terterungku bisa mewujud arena baru menjajal kebebasan

terbebas boleh menjadi lahan memborgol terungkuan

 

Makassar, 2017.

 

 

MUARA

harihari ini, meluapluap

harihari kini, terbiritbirit

harihari dini, terburuburu

 

luapan katakata

belum juga surut

biritan tuturtutur

tak jua reda

buruan uritaurita

tidak pula nyata

 

sungai tak sanggup lagi

menampung luapan, banjirlah

bengawan nirdaya

melapang biritan, bahlah

kali tiada sudi

merela buruan, kayaulah

 

sungai, bengawan, kali

banjir, bah, kayau

sungai kebanjiran kata

bengawan kebahan tutur

kali kekayauan urita

 

hanyalah muara harapan terakhir

pada lautan semua berakhir

 

tapi jangan menari di permukaan gelombang laut

menyelamlah pada kedalaman samudera

 

permukaan selalu menawarkan riak

kedalaman menyajikan hening

 

Makassar, 2017

 

 

PANGGILAN

bermil jarak kutempuh

berliter keringat kutumpah

beribu ayunan kaki kulangkah

 

datang memenuhi panggilanmu

yang semula kukira panggilan tuhan

kini kumengerti hanyalah panggilan tuan

 

salahku yang tak mungkin kumaafkan

sebab kebodohanku meyakini tuan sebagai wakil tuhan

memahamkan diri tentang wajah tuhan ada pada tuan

ternyata tuan menista wajah tuhan

 

Makassar, 2017.

 

Hari Jumat dan Puisi-Puisi Lainnya

Rumah Jiwa

 

Aku tempat kau istirahat

Rawatlah aku dari segala debu-debu yang menempel

Jangan biarkan aku kotor, agar kau betah berteduh

Dari segenap kerisauan duniawi

 

Pintu rumahku selalu terbuka lebar

Tapi kau jarang sekali masuk untuk sekedar meneguk segelas air atau menyapu kamar tidurmu

 

Aku rumahmu yang sejuk, sesekali ingatlah

Siramilah rumput-rumput di halamanku

Supaya udara sejuk engkau hirup

Sucikanlah segala jenis najis yang ada di kursi, meja, ranjang, lantai

Jagalah aku, agar kau nyaman dan damai

 

2017

 

 

Hari Jumat

 

Pintu masjid terbuka lebar

Sajadah terhampar panjang

Orang-orang berjubah putih berjajar menghadap kiblat

 

Lupakan dunia, tutup pintu tokomu, gudangmu, warungmu

Bukalah baja kotor di sekujur tubuhmu

Segarkanlah jiwa ragamu

 

Ini hidup hanya sebentar

Kita akan pulang ke kampung halaman

Seperti jarum jam dinding yang tercabut baterainya, ia akan berhenti di menit apa pun

“Lalu apa yang telah kau siapkan kawan, untuk hidup selanjutnya yang kekal.”

 

Hapus tabir hitam yang menutupi nuranimu

Supaya cahaya-Nya masuk menuntun pada jalan sesungguhnya hidup

Tak sekedar fatamorgana

Harta yang buta hanya menyalakan api neraka

 

2017

 

 

Menatap Keheningan

 

Hening adalah kesadaran aqli yang menuntun pada aliaran jernih nurani

Adalah menghitung langkah kaki, matahari yang saban hari menyinari

Membaca setiap helai angin yang menerpa jendela dada

 

Hening adalah menyingkap selimut dini hari yang begitu dingin ketika segala manusia terlalap

“Kemudian basuh wajah lusuh dengan sejuk air wudhu’ tegak menghadap kiblat, sambil meraba tumpukan sampah yang tak terhinggah jumlahnya.”

 

Hening adalah menyendiri munuju jalan ridho-Nya

Menyandarkan segenap jiwa raga tanpa sisa

 

2017

 

 

Kosong

 

Malam ini tanpa bulan dan bintang

Mendung bergulung di langit menebar kobar

Tak ada arah, tak ada langkah

Di halaman aku menulis hampa lara

Adzan hanya didengarkan telinga saja

 

2017

 

 

Waktu

 

Ia datang

Dari apa ia dicipta?

Siapa sesungguhnya waktu?

Kemana ia pulang?

Di mana ia rumahnya?

Atau ia terbuat dari udara tanpa disentuh, atau perkumpulan embun pagi, atau kobaran api, atau percik air laut yang asin

Hingga tak seorang pun yang mampu menahan lajunya, dan kita pun bisa terpenggal

 

Ke utara, ke selatan, ke barat, ke timur

Aku mencari warna waktu, merahkah? Putihkan? Hitamkah? Atau memang ia tak punya warna apa-apa, selain menembus tak mengenal usia

Atau waktu itu hanya kekosngan

Atau aku yang telah berhianat kepadanya

Hingga aku tak pernah tahu letak waktu yang sebenarnya

Jika nafas lepas, akankah kita masih temukan waktu?

 

2017

 


sumber gambar: www.crystalwind.ca

Cahaya Malam dan Puisi-puisi Lainnya

 Cahaya Malam

 

Seperti kunang-kunang di malam hari

perempuan itu berteman ajal kala anaknya tertidur sendiri

disibakkannya tirai labirin pembakar mimpi

Menjelma begitu abadi dalam sepi

 

Ia menggerutu akan pilu yang semakin menggebu

demi sekolah putrinya, ia menjadi mayat yang terasing bisu

Menguyupi jalanan,  menderakkan cumbu satu persatu

Mengutuki kaum berdasi yang sedang riuh

Sesak seolah tak mau menepi dari tubuh

 

Perempuan itu seringkali mengeluh

mengobarkan luka sendiri lalu pulang sehabis subuh

potret ketika yang halal seolah menjauh

meninggalkan ruh yang sebentar lagi kian runtuh

 

Bagaimana ia rela menjejal tubuh ?

dicibir tetangga yang seolah menyimpan isyarat prahara beku

Tak dipedulikannya satu persatu

toh inilah fakta perihal kelabu

 

Kiamat nafasnya seolah remuk pada segala arah

melontarkan tangis yang kian amarah

pada diri yang hina

Jejaknya ditumbuk pada sebuah gairah

Meski sesekali penyesalan datang menyapa

 

Berulang kali ia berdoa

agar putrinya hidup dalam aljabar atau logaritma saja

Tak peduli betapapun peluh atau nyeri yang ia rasa

meski pekik dan umpatan melingkar dimana-mana

 

 

Perempuan Senja

 

Percik gelisah pada sebuah semburat di jingga merah.

Berdiri ia pada jejak sebuah prasasti mengenai opera sang alam semesta.

Lalu membenamkan imaji pada nuansa langit bersahaja.

 

Seperti senja kali ini …

Ia tak sengaja membaluri tubuh masih dengan setapak arah masa lalu.

Melangitkan elegi, beraroma misteri pada kitab seorang hamba.

Melayang ia bersama burung yang kian bersorak.

Seolah menikmati pulang ke tempat rindang bagai singgasana sang Tuan.

 

Adakah ia kian remuk oleh asa yang memintal ?

Adakah ia memaksa tubuhnya berkawan langit binal ?

Adakah ia masih menyeru ego di sepia usia yang nakal ?

 

Rupanya ia terlupa,

Pedih telah menggerogoti jiwanya sedari tadi

Mengotori mimpi tanpa peduli akan sebuah teriakan rasa yang tersemai.

Pecah, berpendar menanti sebuah perjumpaan yang dinanti.

 

Pun pada akhirnya ia harus kembali jua , sebab senja telah hilang ditelan malam, seakan tak peduli akan kisah yang semakin ramai oleh renjana yang harusnya kian padam.

 

 

Mengenang lewat stasiun kereta

 

Ada yang terus menggaris pada sebuah stasiun.

Cuaca yang menghadirkan semesta yang terburu berembun

Disapanya aku lewat peron yang gelisah tertuju

Berganti rupa dari kesepian yang tak terkira

 

Pernahkah kau menjejak diruang tunggu stasiun kereta?

Yang menyimpan pekik bagaimana aku menggeram merindu rupa

Seolah rahasia dalam hati makin nyeri terasa

meremuk dipikat jarak nostalgia

 

Lalu dibalik rel-rel kereta yang melengkung

Mengguratkan kepedihan yang sebentar lagi di larung

Ada bekumu sudah bagaikan patung

yang sebentar lagi dinamakan berkabung

 

Bagaimana lagi aku menafsir matamu yang kaku?

Sedangkan sudut-sudut besi tua di stasiun yang penuh cerita tak mau tahu

Lampu kristal disudut pemberhentian seolah menjelma batu

Ruang-ruang liar tak lagi mengadu

Hanya menyisakan kata-kata rancu

 

Sebentar lagi ruhku akan pergi

dalam ruang kereta yang melaju dengan mimpi

redamkan amarahmu kasih

Matamu yang surga tak dapat kunikmati lagi.

 

 

Perihal Sore dan Mimpi

 

Disuatu sore yang teduh

Seorang perempuan merebah tubuh

Ingin membisikkan pada langit yang semakin syahdu

Mengenai lekukan mimpi pada altar yang membatu

 

Berceloteh ia sungguh parau pada semesta

Menyapa ngilu bagai kutukan yang sama

Mencoba memancarkan cahaya seribu warna

Pada sesat jalan gemerincing fana

 

Dan pengharapan pada gandrung yang kian rekah

Mengolok cerita pada karisma pucuk rasa

Menyusun kesuma sakral pada puncak suara basi akan nada

Bergegas mengelok, meletup imaji putra surya

Lalu haruskah ia berpekik mencium aroma mesiu ?

Yang menyimpan meta si Fulan di tanah haru biru

Haruskah ia memejam beku dipelukan sang ibu ?

Menjatuhkan tangis pada telapak tangan yang kaku.

 

Maka biarkan ia layu ,

Sebab hanya kelu yang kini menyeruak la

Luruh dan Puisi-puisi Lainnya

Luruh

Telentang pada hamparan pasir

Teriakan ombak tak lagi sama

Kau lihat dia di bibir pantai

Rinduku dahulu

Seperti alunan hempasan air laut mencumbu tepian karang

Menjauh lalu mendekap lebih erat

Gelora ombak luruh saat air surut

Apa kau yakin air yang pergi meninggalkan

Serupa pada yang kembali?

 

Reyot

Ukirannya telah lapuk diterkam waktu

Terurai; lepas pada bentuknya

Pelitur kusam tampak usang

Bau dan noda; membuatnya tak menarik

Kubawa langkahku (lagi) menujunya

Lelah berdiri; Aku duduk bertumpu tungkainya

Ada yang menepuk; jangan di situ (katanya)

Tapi tak terlihat yang lain

Aku (masih) mampu menikmati

Dia datang menawarkan kursi baru

Coklat basah; mengkilap. Kokoh; lebih indah

Kemarilah! Ini untukmu;

Menopang kau mengukir cerita

Tidak! Kursi ini (tetap) sama

Kenanganlah yang memikat seperti waktu pertama kulihat

Ketika dihantar menuju rumahku

Kusambutnya penuh bahagia

Aku hanya perlu sedikit merawat dan memolesnya

Dia menarikku, coba kau rasakan!

Nyamannya membuatku terlelap di atas kursi baru

Terjaga dalam mimpi,

Kubuka mata; cerita telah menua bersama kursi reyot

 

 

Kelor

Ranting daun kelor kupatah berkali-kali

Sekiranya berhenti di sini untuk menggugurkannya

Harus kucabuti satu-persatu dari tangkai yang halus

Untuk meraih dedaunan yang utuh tanpa tulang

Rangkaian kecil lebih sulit diretas

Serupa menyatukan

Rimbun di rekat pohon

Dia bisa lepas dengan mudah

Ketika saatnya dia harus jatuh

Pula telah menyingsing makna