Arsip Kategori: Puisi

Kebisuan Kita dan Puisi-puisi Lainnya

Kebisuan Kita

Kebisuan kita dieja

oleh kata-kata yang habis ditikam diam

Direkam oleh senyap

Diabadikan kenangan

Kebisuan kita dibaca

oleh surat-surat tak sampai

Cerita-cerita yang urung

dan pertanyaan-pertanyaan

yang selalu gagal melewati

garis lintang lidah

Kebisuan kita ditulis

dalam lembar-lembar hari

Hariku dan harimu yang terpisah

Didaras pada tengah malam buta

oleh rindu dan sepi yang menggigit

Dan kita saling tidak tahu-menahu

Wahai..

Kebisuan kita.

[Makassar, 21 September 2016]

 

Kahayya

Di sini bukan soal jauh read more

Bulan yang Mendung dan Puisi-Puisi Lainnya

Bulan yang Mendung

 Di balik awan yang berarak kehitaman

Wajah langit sendu menawan

Cahayamu sirna di bawah rintik hujan

Begitulah dikau yang larut dalam airmata kesedihan

Tetesan itu jatuh menanti rembulan

Diiringi gelegar guntur yang saling silih menyilih

Kita masih melangkah walau tertatih-tatih

Demi cinta yang merekah kita takkan letih

Bulanku…

Dikala duka menerungku

Mereka mencaci dan berlalu dengan angkuh

Itulah kala asa dan semangat dipupuk dengan kukuh

Jalan pulang…

Jalan yang masih panjang read more

RINDU

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia berjarak tak berjauhan, jua tak berdekatan

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia derita yang panjang, jua bahagia tak berkesudahan

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia airmata yang tak menetes, jua tawa tak bersuara

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia intensi tanpa pretensi, jua perintah tak menyuruh

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia durasi, jua singkat

Tahukah engkau apa itu rindu?
Entalah yang tak berkesudahan

Asoka dan Puisi-Puisi Lainnya

Asoka

Telah sampai kepadaku kabar tentang puisi

yang paling kelabu di antara taman-taman bunga.

Ia menjatuhkan pagi dengan rasa hangat,

paduan pahit malam dan getar-getir cuaca

yang semalaman tak rela meninggalkan

kisah masa lalu tentang sakit yang tak menentu.

Alangkah sabarnya dada ini.

Hidup di antara sejarah yang sesak dengan kisah

Tercurinya diri sendiri dari bualan tentang masa depan.

Kelak, aku berjalan menyusuri taman asoka

taman penuh suara dari tangis pilu peletak hidup

yang dipaksa membunuh kemanusiaan dalam dirinya. read more

Reruntuhan Peradaban dan Puisi-Puisi Lainnya

Reruntuhan Peradaban

Ketika sore begitu terasa lama, dan rintik hujan turun begitu pelan

Terpantul warna-warna yang indah penuh kehangatan

Aku sejenak terdiam

Namun segera kupandangi bayanganku

Aku makin yakin ini saatnya untuk bergegas

Di tepian rerutuhan peradaban kudapati bangunan yang tua

Di dalamnya terpancar kehangatan yang sedih sedu-sedan

Mungkin tak ada yang peduli

Tapi papan tulis dan potongan kapur

Dan buku-buku yang berserakan menceritakan gambaran masa lalu.

[2016]

 

Lalu emua erlalu

Kudengar derap langkah tiap orang yang melalui jalan sisi menara read more

Tiada Newton Pagi Ini

Buah jatuh dari pohon diterpa barangkali angin mungkin
Akibat beratnya sendiri
Newton tercenung diam, apa yang membuat bintang
Menggelantung
Tapi buah jatuh tanpa disuruh

Di suatu pagi matahari masih kilatan emas
Burungburung terbang melintas
Di atas atapatap daundaun bergesekan
Karsen jatuh tanpa disuruh
Menerpa kursi bambu

Namun tak ada yang tercenung
Mengapa bintang masih di atas sana
Juga buah masih terus berjatuhan
Menggelinding
Sudah tiada Newton pagi ini

Jalan ke Bulan

Telah sampai di suatu subuh
Lotengloteng dibuat bergetar
Tergeletak sudah sebujur tubuh
ditinggal lili tak sempat mekar

Sudah tiba dikau dibuat hari yang naas
sembari jadi siasia, jangan!
ini mimpi yang belum tuntas separuh
sepotongnya telah tiba, di bulan

Jalan lenggang, pagar rumahrumah kokoh dari seikat bambu
Telah lama hilang desir suara di bibir loteng
terbang sejak sajak seperti suara ajak
meraung, tapi siapa peduli
mimpi masih dikandung badan
belum sampai, di bulan

Di atas dipan, tiada purnama
Aku, tak tahu jalan, ke bulan read more