Arsip Kategori: Rekomendasi

Meriwayatkan Makassar dengan Literasi Kenangan Anging Mammiri

—Catatan atas buku Anging Mammiri, Jejak Makassar Tempo Dulu;  karangan Abdul Rasyid Idris

Seorang yang menulis sejarah pasti tahu,  ingatan adalah suatu yang mudah menguap. Begitu pendakuan Goenawan Mohamad di salah satu esainya di tahun 2012. Karena itulah, sejarah mesti diabadikan. Ditulis dan diriwayatkan. Mirip origami, ingatan sangat mudah dibentuk, disusun, dibelokkan, atau bahkan silap dihimpit memori yang lain.

Tapi, Abdul Rasyid Idris dalam Anging Mammiri tidak sedang menulis sejarah. Melalui literasi kenangan, Abdul Rasyid hanya sedang melahirkan saudara kembar sejarah. Sebagaimana pendakuan Alwy Rachman di pengantar buku ini, Abdul Rasyid bukan dalam kapasitas menandingi sejarah Makassar sebagai kota, melainkan berusaha melahirkan kembali suatu peristiwa subjektif di era kekinian melalui kekuatan ingatan. read more

Sapi Malas Petani

Sebelum ada traktor, kehidupan petani tidak sepelik ini. Sapi-sapi selalu patuh dan taat diajak membajak sawah. Sebelum ada mesin perontok bulir padi, hidup petani adem ayem. Orang-orang datang membantu menuai padi, tanpa perlu kesepakatan mereka dapat berapa.

Tapi modernisme membuat perbedaan mencolok. Modernisme menjanjikan efisiensi dan efektivitas, tapi justru menghadirkan kehampaan.

Sapi malas

Sapi-sapi yang dahulu, hampir semua rumah di kampung ini terikat di kolong rumah belakang, kini tak lagi bisa ditemui. Sapi-sapi yang dahulu menjadi teman petani membajak sawah, kini pergi jauh ke areal peternakan. Yang tersisa hanya sapi-sapi malas, yang kerjanya hanya makan, minum dan pup. Sapi malas itu akan dijual seharga jutaan oleh pemiliknya. Tapi, sapi tetaplah sapi, ia tunduk pada keinginan tuannya. Yang membuat mereka malas adalah tuannya sendiri. read more

Iman Kepada Media

Kemarin saya diminta oleh panitia LK 2 Psikologi UNM membawakan materi tentang ‘Hegemoni Media’[. Kegiatan yang bertempat di STIE AMKOP Makassar menghadirkan beberapa pemateri yang punya perjalanan dan karya intelektual yang begitu berpengaruh. Tersebutlah nama besar seperti pak Alwy Rahman, Alto Makmuralto, Bahrul Amsal sampai Aan Mansur. Sedangkan saya – Syahrul Al Farabi – sama sekali jauh dari hal itu. Oleh sebabnya, sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya, atas dasar apa si panitia ikut menyelipkan nama saya di sana? read more

Amma Lolo

Di suatu sudut di hutan Kajang…

Sadrak dan aku membungkuk-bungkuk memungut kayu bakar. Lima ekor ayam dan tiga sapi sudah dikandangkan semenjak sore ketika Amma1 masuk ke rumahnya tanpa menggunakan pasappu2. Amma juga baru saja kedatangan tamu dua jam lalu. Ketika ayam-ayam meloncati dahan tempatnya mengeram, Amma bersuara sembari batuk keras dari bilik jendela menyuruh Madah mengisi gentong penampungan air. Saat itu aku dan Sadrak masih di tengah hutan mencari kayu bakar.

Walaupun agak basah pasca hujan, kayu-kayu bekas tiupan angin semalam banyak yang masih bisa digunakan. Mencari kayu bakar bukan pekerjaan utama sore itu, sebelumnya kami disuruh Amma untuk membersihkan hutan tempat upacara adat seringkali dilaksanakan. read more

Aku Ingin Memetik Mawar dan Puisi-puisi Lainnya

Aku Ingin Memetik Mawar

Belati kau tanam tepat di jantungku

Sebelum mawar itu kupetik

Selepas hujan datang mengetuk

Di taman penuh bunga dan duka

Dada ini adalah tanah yang begitu subur

Kau menanam cinta, tak akan kau petik luka

Kau menanam luka, silakan memetik duka

Lalu apa yang ingin kau petik, jika menanam belati tepat di jantungku?

Makassar, 2016

Aku Menunggumu di Kelopak Mawar

Tulisan hanyalah kata-kata yang kesepian.

Ia membutuhkan kata yang lain untuk selalu menemaninya.

Begitupun tanda baca yang selalu ia harapkan menyatu dengannya di akhir kalimat. read more

Bajingan, Paloma, dan Tari

”Weee Bajingan!”

“Laki-laki Brensek!”

“Kau kurang ajar!”

Tiga kalimat dari pesan WhatsApp dua malam yang lalu seolah mempertegas dan memberi gelar: bahwa kau adalah satu dari banyak lelaki buruk di zaman yang masih merendahkan kedudukan perempuan, sebagai makhluk lemah dan tak berdaya oleh nafsu lelaki. Tiga kalimat itu sedikit mengganggu konsentrasiku untuk menyelesaikan bacaan cerpen berjudul “Paloma”.

Membaca adalah salah satu caraku untuk sedikit melepas beban, tetapi Paloma justru mengajakku bercengkrama imajiner untuk membahas tentang arti kesetiaan. Paloma tetap bersetia meski kekerasan dan pengkhianatan menjadi santapannya setiap hari terhadap lelaki yang telah memilihnya sebagai istri. Puncaknya adalah setelah kebenaran masa lalu terungkap sendiri oleh suaminya melalui foto-foto kemesraan Paloma bersama perempuan. Iya, Paloma adalah seorang lesbi di masa lalu dan mencoba menghapusnya di masa depan dengan kesetian tanpa syarat. Gugatan cerai suaminya mengakhiri kesetiaan tersebut, dan Paloma akhirnya tersenyum dan berkata, “Tuhan telah membebaskanku dari jerat lelaki yang tidak dewasa ini.” read more

Mapia, bukan Mafia

Adakah bahagia yang melebihi kebahagiaan tatkala sejumput janji telah ditunaikan? Mungkin saja ada, bahkan banyak. Namun, janji yang saya tunaikan kali ini, cukup menghasilkan bahagia yang meluap-luap, seperti meluapnya air yang tak tertampung di selokan depan rumah, karena derasnya hujan belakangan ini. “Janji adalah utang,” demikian kata bijak yang sering diuarkan. Dan, ketika saya membayarkan janji, untuk datang memenuhi permintaan tandang, maka dengan serta merta, utang saya pun lunas. Waima di pucuk persuaan, lahir lagi janji baru, yang berarti utang baru pula. read more

Orang Pintar dan Mereka yang Menelan Tanpa Mengunyah

Andaikan saja kau kenal seorang yang cerdas. Cerdasnya di sini bisa mungkin persepsimu saja, atau memang ia cerdas betulan. Lebih mudahnya, misalkan saja ia sudah tembus magister atau doktor, itu. Dari cerita-cerita juga hal-hal yang kau lihat langsung, ia dikenal paham sengkarut kuasa, punya pengaruh, banyak kenal dengan orang penting, pernah masuk ruang-ruang yang tak biasa, punya karya-karya monumental meski tak banyak, berintegritas dan teguh profesionalisme, serta pengalaman-pengalaman lainnya yang bisa bikin sesiapapun berdecak senyaring cicak. read more

Irmus dan Tandang Literasi ke Lantebung

Kala itu, pada akhir pekan di pertengahan bulan, tepatnya, hari Ahad, tanggal 12 Februari 2017. Mentari baru semenjana teriknya, saya merapat ke tribun lapangan sepak bola Lompo Battang, Bantaeng. Hajatan yang digagas oleh Ikatan Remaja dan Mushollah (Irmus) SMA Neg.1 Bantaeng, bertajuk Pelatihan Literasi dan Teknik Resensi Buku, dengan mengambil tema, seputar hubung kait antara literasi dan peradaban.

Oleh penyelenggara, saya diundang untuk berbagi dua hal, gerakan literasi di sekolah, dan teknik meresensi buku, sebagai bekal kelantipan dalam membaca, sekaligus menuliskan hasil bacaan. Kehadiran saya atas undangan Irmus, bukanlah yang pertama. Entah sudah berapa kali saya didapuk sebagai pemantik gagasan, yang kesemuanya diselenggarakan di areal sekolah. Barulah kali ini di luar sekolah, yang menurut pembinanya, sekaligus guru agamanya, yang juga pegiat literasi di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Kamaruddin, mencari suasana baru, sebagai bagian dari cara menyegarkan kegiatan-kegiatan literasi. read more

Raja Salman, Pete, dan Buku

Tetiba saja  saya tersentak, tatkala seorang karib, Surya Darma, memposting di akun facebooknya, sebuah gambar seikat pete, berjumlah tujuh bongkol, sembari menuliskan pesan, “My beloved belikan saya buah pete pagi ini. Ihhh, tiba-tiba saja saya merasa lebih kaya dari Raja Salman. Sebab segemerlap apapun istananya, haqqul yakin barang dibawah ini tak pernah tersaji di meja hidangannya. Allahumma ‘ainni ‘alaa syukrika wa husni ‘ibadatika…”

Lontaran pesan itu, pastilah banyak menimbulkan penafsiran. Apalagi di era bermedia sosial yang kadang kacau balau ini, karena hoax dan hate spech. Tapi, saya ingin menafsirkannya sebagai sebuah tindakan penuh satir. Bahwasanya, seperti yang diulaskan pada catatan lain Surya di akunnnya, “Kedatangan Salman disambut gegap gempita. Banyak yang sumringah karena ‘bantuan’ ratusan trilliun akan mengalir dalam berbagai bentuk proyek. Bahkan ada yang membahasakannya, Salman datang dengan tujuan ‘charity’. Adakah ini benar ? read more