Arsip Kategori: Rekomendasi

Meriwayatkan Makassar dengan Literasi Kenangan Anging Mammiri

—Catatan atas buku Anging Mammiri, Jejak Makassar Tempo Dulu;  karangan Abdul Rasyid Idris

Seorang yang menulis sejarah pasti tahu,  ingatan adalah suatu yang mudah menguap. Begitu pendakuan Goenawan Mohamad di salah satu esainya di tahun 2012. Karena itulah, sejarah mesti diabadikan. Ditulis dan diriwayatkan. Mirip origami, ingatan sangat mudah dibentuk, disusun, dibelokkan, atau bahkan silap dihimpit memori yang lain.

Tapi, Abdul Rasyid Idris dalam Anging Mammiri tidak sedang menulis sejarah. Melalui literasi kenangan, Abdul Rasyid hanya sedang melahirkan saudara kembar sejarah. Sebagaimana pendakuan Alwy Rachman di pengantar buku ini, Abdul Rasyid bukan dalam kapasitas menandingi sejarah Makassar sebagai kota, melainkan berusaha melahirkan kembali suatu peristiwa subjektif di era kekinian melalui kekuatan ingatan.

Ingatan, dalam Anging Mammiri memang adalah kekuatan yang sebenarnya, yang berada di balik 76 esai Abdul Rasyid Idris. Sebagaimana rasio sebagai struktur esensial manusia yang menopang modernisme, ingatan dalam Anging Mammiri juga menjadi subtansi dari sehingga mengapa Makassar dalam buku ini patut diketahui orang-orang.

Makassar dalam sorot ingatan, apalagi dalam bingkai literasi kenangan Abdul Rasyid Idris, bukan Makassar hari ini yang kadung banyak diobjektifkan melalui wacana dan pemberitaan yang memenuhi ruang publik kita. Melainkan suatu dunia subjektif, yang melihat dari “depan” suatu peristiwa masa lalu dan sebelum beralih menjadi konten yang hampir politis.

Makassar dalam Anging Mammiri, hampir semuanya dibilangkan dengan cara menghidupkan “orang-orang kecil” yang mengitari kehidupan penulis di masa lalunya. Bersamaan dengan itu, momen terhadap lokasi-lokasi yang disebutkan dalam buku ini, menjadi lokasi “bersejarah” yang patut dipersoalkan, mengingat tempat-tempat itu telah banyak mengalami perubahan.

Makassar dalam alaf dalam ingatan

Makassar adalah kota yang selain dihuni dan dialami langsung, juga kota yang belum definitif. Dengan kata lain, Makassar merupakan kota yang sedang bergerak, kota yang dialiri perubahan terus-menerus. Melalui konteks ini, Makassar perlu dicermati.

Mencermati Makassar melalui teropong ingatan—seperti yang ditunjukkan Abdul Rasyid Idris—adalah geliat subjektif bagaimana sebuah kota ditangkap, dialami, dan diriwayatkan kembali setelah melewati pelbagai macam perubahan di dalamnya. Dengan kata lain, kota dalam ingatan merupakan suatu arus kesadaran yang hampir semua dipunyai penduduk di dalamnya. Pungkas ingatan melalui alaf waktu, yang diriwayatkan melalui tulisan, dengan ini adalah suatu cara bagaimana suatu kota, melalui ingatan penduduknya melakukan timbal balik pemaknaan untuk mengenali kembali dirinya.

Dalam Anging Mammiri, kota dalam ingatan, ditelusuri kembali melalui tiga perangkatnya: tokoh, waktu dan tempat. Melalui tiga elemen inilah, dari orang-orang seperti Daeng Torro, A Pui, Sang Guru, Tuan Manni, sampai Tanta Gode’, dapat menjadi jalan masuk mencandra kembali Makassar ketika berada di era 70-an. Begitu juga tempat-tempat semisal Pasar Butung, Pelabuhan Paotere, Pasar Senggol, Benteng Somba Opu—untuk menyebut beberapa di antaranya—menjadi situs-situs perkotaan yang dapat ditelusuri seperti apa dan bagaimana cara orang-orang Makassar dahulu menjalani kehidupannya sehari-hari.

Esai yang berjudul Kampung Antang, juga misalnya, merupakan sepercik sejarah bagaimana generasi masa kini dapat mengenali cerita di balik lokasi-lokasi yang memiliki nilai historis.  Begitu pula, penamaan Pasar Paotere, yang ditulis dengan judul yang sama, menjadi keping sejarah yang memotret bagaimana suatu kawasan kota awalnya dinamai berdasarkan aktivitas warga di dalamnya.

Pewarisan nilai-nilai

Maurice Halbwachs, seorang sosiolog sekaligus filsuf abad 20 pernah mengembangkan suatu penemuan ingatan yang bersifat subjektif, hakikatnya merupakan hasil panjang pergumulan interaksi masyarakat di dalamnya. Artinya, ingatan tidak mungkin bersifat individual melainkan hasil proses sosial yang melibatkan simbol-simbol kolektif. Di dalam konteks inilah, Anging Mammiri bukan sekadar ingatan subjektif penulisnya, tapi juga sebenarnya dapat ditarik menyentuh ingatan orang-orang yang mewakili Makassar tahun 80-an.

Tempat, lokasi, waktu, nama-nama jalan, warung kopi, terminal, pasar, areal pertokoan dlsb, yang diliterasikan melalui Anging Mammiri, sebagaimana dikatakan Maurice Halbwach, merupakan sarana ingatan bukan saja menjadi milik ingatan pribadi, tapi juga kepunyaan kolektif yang mewarisi nilai-nilai bersama agar terhindar dari kepunahan.

Sebagai pewarisan nilai-nilai melalui literasi, dalam konteks perubahan, Anging Mammiri bisa difungsikan sebagai pelengkap sejarah untuk mencipta ulang peristiwa masa lalu yang mengikutkan tempat-tempat, kejadian, waktu, dan moment peristiwa untuk menjadi dasar bagi masa kini, dan menjadi pijakan kepada masa depan yang lebih baik.

Walaupun Anging Mammiri bukan buku sejarah, dan dilihat dari proses kreatifnya yang dilahirkan dari dunia maya media sosial, merupakan suatu cara bagaimana kenangan dan teknologi dapat dipertemukan dan melahirkan input positif bagi generasi hari ini yang sulit lepas dari dunia digital. Cara Abdul Rasyid Idris, yang sudah menerbitkan dua buku sebelumnya, yang hampir semuanya lahir dan berbasis dunia digital, dengan sendirinya adalah jawaban bagaimana kenangan atas suatu kota, dapat dirawat dan diriwayatkan dengan memanfaatkan media sosial sebagai canvas pertamanya.

Sapi Malas Petani

Sebelum ada traktor, kehidupan petani tidak sepelik ini. Sapi-sapi selalu patuh dan taat diajak membajak sawah. Sebelum ada mesin perontok bulir padi, hidup petani adem ayem. Orang-orang datang membantu menuai padi, tanpa perlu kesepakatan mereka dapat berapa.

Tapi modernisme membuat perbedaan mencolok. Modernisme menjanjikan efisiensi dan efektivitas, tapi justru menghadirkan kehampaan.

Sapi malas

Sapi-sapi yang dahulu, hampir semua rumah di kampung ini terikat di kolong rumah belakang, kini tak lagi bisa ditemui. Sapi-sapi yang dahulu menjadi teman petani membajak sawah, kini pergi jauh ke areal peternakan. Yang tersisa hanya sapi-sapi malas, yang kerjanya hanya makan, minum dan pup. Sapi malas itu akan dijual seharga jutaan oleh pemiliknya. Tapi, sapi tetaplah sapi, ia tunduk pada keinginan tuannya. Yang membuat mereka malas adalah tuannya sendiri.

Tanpa sapi, petani mengandalkan mesin traktor yang canggih. Sekali dorong, traktor bisa menyelesaikan kerjaan sapi. Dengan traktor, tak perlu menunggu berhari-hari untuk melihat tanah di sawah itu berubah menjadi lumpur. Meski tidak semua petani bisa membelinya.

Pergeseran siklus

Saat musim tanam tiba, siklus hidup di kampung juga banyak mengalami pergeseran. Jika dahulu, ada ritual khusus, yang dihadiri warga kampung sebelum turun sawah, kini tradisi itu perlahan-lahan ditiadakan. Mereka sepakat menyebutnya dengan istilah kuno, ketinggalan zaman. Tak perlu ritual atau menunggu kesepakatan mengenai jadwal yang tepat. Buat mereka, lebih cepat lebih baik, apalagi siklus hujan kian tak menentu.

Dahulu, menanam padi tidak hanya dilakukan serempak. Menanam padi adalah pemandangan kehidupan kampung yang riuh, ramai dan dilakukan tidak sendiri-sendiri. Bahkan, yang tidak memiliki lahan sawah pun tidak pernah ketinggalan untuk turun ke sawah, melebur dalam kubangan lumpur.

Dahulu, ada gairah yang hidup saat musim tanam. Di pematang, para petani melepas lelah dengan mengepulkan asap tembakau sambil berkelakar. Mereka datang saling membantu dengan sukarela. Tak ada yang dibayar, kecuali penganan seadanya dan segelas kopi.

Tapi waktu seperti mengubah segalanya. Siklus tanam bersama itu telah hilang. Petani kini sibuk dengan sawahnya masing-masing. Bukan tidak peduli dengan yang lain, tapi para petani lebih fokus pada lahan garapannya untuk segera diselesaikan. Mereka mengejar target produksi yang telah dikalkulasi untuk membayar pupuk, pestisida, bibit, traktor, dan bersyukur kalau sisanya dapat dipakai hidup menunggu musim panen selanjutnya.

Musim panen juga mengalami perubahan. Tak ada lagi waktu senggang. Beberapa petak sawah yang biasanya butuh waktu seminggu untuk selesai dipanen, kini dengan bantuan mesin perontok padi, berpetak-petak padi bisa selesai sehari, langsung dikepak dalam karung.

Memang masih ada diantara mereka melibatkan orang lain, tapi polanya berbeda. Mereka ikut memanen karena menginginkan upah. Segalanya dihitung dengan uang. Dan hanya sedikit waktu yang tersisa untuk bersenda gurau, semua diburu target.

Perubahan siklus

Sapi malas dan perubahan siklus adalah revolusi petani yang telah mengubah kehidupan kampung. Seperti orang-orang kota, sibuk. Mereka menjadi efektif, dengan pola hidup yang efisien. Tak ada waktu senggang. Segera setelah panen, lahan sawah kembali diairi. Sawah kembali digarap oleh traktor, dan seterusnya.

Tapi sapi malas itu bukan murni kesalahan petani. Petani meninggalkan sapi, karena mereka dikejar oleh pemenuhan kebutuhan. Mereka butuh uang untuk membayar cicilan motor, membeli sayuran, membeli air galon, membayar tagihan listrik, televisi kabel, uang sekolah, pulsa dan kuota. Petani itu juga berharap bisa membangun rumah permanen yang terbuat dari batu dan semen.


sumber gambar: galeri-nasional.or.id

Iman Kepada Media

Kemarin saya diminta oleh panitia LK 2 Psikologi UNM membawakan materi tentang ‘Hegemoni Media’[. Kegiatan yang bertempat di STIE AMKOP Makassar menghadirkan beberapa pemateri yang punya perjalanan dan karya intelektual yang begitu berpengaruh. Tersebutlah nama besar seperti pak Alwy Rahman, Alto Makmuralto, Bahrul Amsal sampai Aan Mansur. Sedangkan saya – Syahrul Al Farabi – sama sekali jauh dari hal itu. Oleh sebabnya, sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya, atas dasar apa si panitia ikut menyelipkan nama saya di sana?

Tapi saya sudah jadi bubur. Eh, maksud saya, nasi sudah jadi bubur. Saya mengikuti permintaan teman-teman panitia. Dengan demikian, sejak empat hari yang lalu , saya disibukkan bertanya sana sini kepada senior dan membaca beberapa buku terkait ‘Hegemoni Media’. Sebutlah misalnya Eriyanto dengan Analisis Wacana-nya,  Franz Magnis Suseno  Dalam Bayang-bayang Lenin, dan beberapa artikel tentang framing dan teori kritis. Itulah sedikit modal dasar saya bicara di depan teman-teman mahasiswa Psikologi. Dan supaya ndak malu-maluin amat, saya sertakan juga beberapa keping tulisan di bawah ini tentang Hegemoni, yang saya beri judul ‘Iman kepada Media’.

*

Iman adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan sebuah ketundukan kepada Tuhan yang Maha Esa. Iman menjadi sebuah sistem kepercayaan yang hendak mendeklarasikan sebuah kebenaran pada sesuatu yang Transenden. Hari ini kita menyebutnya Tuhan. Segala sistem kepercayaan ini didasarkan pada teks kitab suci (Al Qur’an) ataupun Sunnah Rasul. Dari sanalah segala informasi kepercayaan dijadikan dasar hingga akhirnya dipercaya, diyakini, dan jadi pedoman hidup hingga akhir zaman.

Nah, di era modern seperti saat sekarang, di mana teknologi semakin berkembang, cepat, dan canggih, iman telah mengalami pergeseran. Kalau sebelumnya kita menyandarkan segala sistem kepercayaan (iman) kepada kitab suci dan segala tingkah laku Rasul, hari ini mungkin iman telah bergeser kepada ‘sebuah alat’ yang bisa mendefinisikan tentang dunia dan segala isinya ; Media. Melalui alat baca inilah, sebuah ideologi ataupun ajaran disisipkan untuk diyakini seperti wahyu yang diturunkan oleh Tuhan dari langit. Seperti sebuah kebenaran, yang tak punya cela dan cacat untuk dikritik lagi. Selesai. Final dan objektif. Dengan demikian, kita hanya butuh tunduk dan patuh.

Saya lebih senang menyebut bentuk kepercayaan (iman) di atas sebagai bentuk hegemoni. Pada poin ini, kita harus berkenalan dengan Gramsci. Laki-laki bongkol dari pulau Sardinia ini “membangun sebuah teori yang menekankan bagaimana penerimaan kelompok yang didominasi terhadap kehadiran kelompok dominan berlangsung dalam suatu proses yang damai, tanpa tindakan kekerasan” (Eriyanto, hal.103). Pada tahap ini media bekerja, bagaimana dia (media) menguatkan posisi sebuah kelompok dan merendahkan kelompok lain.

Masih menurut Gramsci, kekuatan dan dominasi kapitalis tidak hanya menguasai melalui dimensi material dari sarana ekonomi dan  relasi produksi, tetapi juga melalui kekuatan (force) dan hegemoni. Yang pertama menggunakan daya paksa lewat aturan-aturan yang mengikat untuk ikut dan patuh atas segala syarat atau nilai-nilai tertentu, yang kedua lebih bersifat ‘sukarela’. Gramsci menyebutnya sebagai ‘kepatuhan aktif’ dari kelompok-kelompok yang dikuasai. Penguasaan ini, bisa dengan jalan politik, kepemimpinan intelektual, moral sampai agama. Ciri dari hegemoni ini adalah ia menciptakan cara berpikir yang dominan, rasional, paling benar, dan menegasi kelompok lain.

Demikianlah ritual hegemoni itu lahir. Ia berjalan melalui proses yang halus dan tampak wajar. Semua orang menganggapnya benar dan tidak usah dipertanyakan lagi. Media adalah dunia yang menjadi lahan subur berkembangnya ritual hegemonik tersebut.

*

Secara umum, media dalam menyebarkan doktrinnya menggunakan medium/pemakaian bahasa. Bahasa menjadi representasi dari kenyataan atau sebuah peristiwa. Mohammad A.S Hikam melalui ‘mulut’ Eriyanto membaginya dalam tiga cara pandang. Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivisme-empiris. Menurut pandangan ini, bahasa dilihat sebagai perantara antara manusia dan objek di luar dirinya. Bahasa yang memuat pernyataan-pernyataan logis, sistematis, dan terukur adalah bahasa yang tidak butuh lagi tafsir yang sifatnya subjektif. Bagi penganut paham ini, benar dan salah hanya dilihat dari bangunan semantiknya.

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme yang punya persinggungan dengan fenomenologi. Aliran ini menolak positivisme-empiris yang memisahkan subjek dan objek bahasa. Konstruktivisme menganggap subjek (dalam hal ini si penyampai berita) punya peran sentral. Alasannya, subjek memiliki kemampuan kontrol terhadap setiap kepentingan/maksud dalam setiap wacana. Namun bagi saya , subjek dan bahasa secara bersama-sama punya peran sentral dalam pembentukan wacana. Lewat medium bahasalah segala kepentingan mewujud dan jati diri subjek terepresentasikan.

Pandangan kritis menjadi pandangan ketiga yang mengoreksi pandangan konstruksivisme. Apa yang menjadi kritik adalah hubungan proses produksi dan reproduksi wacana yang tidak berimbang, baik secara historis maupun institusional. Dengan demikian, pandangan ini tidak hanya melihat hubungan tata bahasa, pernyataan-pernyataan, ataupun makna yang punya tujuan tertentu, tetapi lebih jauh menganalisis konteks dan praktik kekuasaan.

*

Analisis Wacana Kritis

Bagaimanakah sebaiknya berhadapan dengan berbagai macam wacana yang diproduksi oleh media? Itu adalah pertanyaan umum yang hadir dari diskusi LK2 kemarin. Oleh sebabnya, saya hanya menyarankan untuk bersama-sama membaca dua alat analisis. Yang pertama adalah Critical Discourse Analisis atau Analisis Wacana Kritis dan kedua Analisis Framing. Namun, pada tulisan ini, saya tidak akan menyinggung perihal ‘framing’. Selain kekurangan referensi, konsep framing terbilang detail dan spesifik menganalisis media dalam memilah dan memotong realitas, yang kemudian akhirnya melemparnya ke publik. Sedangkan untuk teori analisis wacana kritis, saya hanya akan menyinggung teori Fairclough dari sekian banyak teori yang ada.

Menurut Fairclough, analisis wacana kritis melihat wacana – pemakaian bahasa dalam tuturan dan tulisan – sebagai bentuk dari praktik sosial (Eriyanto, hal 7). Sebagai praktik sosial, wacana menjadi semacam diskursus berhadapan dengan segala situasi, institusi ataupun struktur sosial di masyarakat. Pada tahap ini, Fairclough mengintegrasikan analisis wacana berdasarkan linguistik dan pemikiran sosial-politik demi perubahan sosial. Melalui model ini, Fairclough berusaha melihat bagaimana sebuah wacana terbentuk dan bagaimana semaksimal mungkin menggunakan wacana tersebut sebagai alat perubahan sosial.

Ada tiga dimensi penting dalam teori Fairclough : text discourse practice, dan sociocultural practice. Teks dianalisis secara linguistik, misalnya kosakata, aturan penggunaan kalimat ataupun tata bahasa. Analisis ini bertujuan melihat hubungan linguistik dan  semantik yang kemudian membentuk suatu pengertian sehingga menunjukkan muatan ideologis tertentu.

Berbeda dengan teks, discourse practice melihat bagaimana sebuah teks diproduksi dan dikonsumsi. Setiap teks ataupun wacana punya pola yang berbeda dalam proses produksi. Pola ini punya mekanisme yang spesifik dan teratur di mana setiap wartawan mesti mengikuti pola ini. Demikian juga dengan pola konsumsi teks akan berbeda berdasarkan konteks sosial. Seorang petani akan punya kecenderungan membaca berita yang berbeda dengan seorang politisi di perkotaan.

Sedangkan sociocultural practice lebih menekankan pada segala konteks di luar teks. Segala kejadian atau peristiwa di luar teks sangat mempengaruhi bagaimana sebuah teks dibangun. Menurut Fairclough, kondisi sociocultural ini mempengaruhi teks secara langsung namun tetap dipengaruhi atau dimediasi dalam pola hubungan discourse practice. Misalnya bagaimana sebuah teks harus diproduksi ataupun bagaimana wajah masyarakat yang akan mengonsumsi berita tersebut.

Demikian sebagian catatan kecil dari teori Fairclough. Karangan sederhana ini hanya mewakili satu dari sekian banyak teori tentang analisis wacana kritis. Buku yang bisa menjadi pengantar adalah Eriyanto Analisis Wacana ataupun Analisis Framing. Buku Idi Subandi Ibrahim yang menulis Budaya Populer sebagai Komunikasi atau Deddi Mulyana yang menulis Bercinta dengan Televisi. Beberapa buku tersebut cukup komprehensif dalam mengkaji ‘Analisis Wacana’.

Sebagai penutup, penting sebagai pembaca untuk senantiasa mengambil jarak dan curiga pada setiap teks yang lahir dari rahim seorang penulis. Kecurigaan ataupun daya kritis ini bisa dalam bentuk opini yang cerdas dalam melihat dan membaca segala bentuk wacana yang hegemonik. Kecurigaan dan daya kritis ini juga diharapkan melahirkan fungsi batas faktual, dalam bahasa St. Sunardi, semacam pelampauan positivitas (text) menuju after-humanistic.

Trims.

Ilustrasi: https://digitalculurejamrhetorics.wordpress.com

Amma Lolo

Di suatu sudut di hutan Kajang…

Sadrak dan aku membungkuk-bungkuk memungut kayu bakar. Lima ekor ayam dan tiga sapi sudah dikandangkan semenjak sore ketika Amma1 masuk ke rumahnya tanpa menggunakan pasappu2. Amma juga baru saja kedatangan tamu dua jam lalu. Ketika ayam-ayam meloncati dahan tempatnya mengeram, Amma bersuara sembari batuk keras dari bilik jendela menyuruh Madah mengisi gentong penampungan air. Saat itu aku dan Sadrak masih di tengah hutan mencari kayu bakar.

Walaupun agak basah pasca hujan, kayu-kayu bekas tiupan angin semalam banyak yang masih bisa digunakan. Mencari kayu bakar bukan pekerjaan utama sore itu, sebelumnya kami disuruh Amma untuk membersihkan hutan tempat upacara adat seringkali dilaksanakan.

Sementara di rumah, Madah hanya duduk terdiam pasca mengisi gentong air di depan bilik Amma. Badannya masih berkeringat. Tapi dia nampak baik-baik saja ketika keringat mengalir di goresan luka di punggungnya. Nampak di wajahnya sedang merapal sesuatu.

“Sampai kapan Amma akan menyudahi ritual yang dialami Madah?” Sadrak angkat bicara saat memungut ranting beringin hutan yang sudah mulai mengering.

“Itu ada waktunya, dan semua tergantung Amma.”

Mendengar itu, Sadrak tak lagi bertanya. Dia melihat Aku dengan tatapan tanda ingin pulang…

Di suatu waktu, di sudut rumah Amma…

Madah meneguk air tepat saat hujan reda. Tegukan itu sekaligus tanda Madah berbuka puasa. Amma melihat raut Madah dengan seksama. Sebentar lagi magrib dan burung-burung hutan kembali keperaduannya, selang tidak lama dari itu mereka berdua saling menatap. Sunyi seketika.

“Aku ingatkan kembali, engkau mesti banyak bersabar, dan harus banyak menyelami hakikat pasang3,” Amma membuka percakapan.

“Sudah tak terhitung burung-burung pulang pergi menuju sangkarnya, Tu Ria Ara’na4 juga tak terhitung perhatiannya kepada kita.”

“Kali ini, engkau jangan lupa, pasang begitu penting untuk disimpan dalam benak dan hati, sedikit saja lafalnya salah, maka itu akan menyalahi artinya.”

Madah beradu mata, tapi sebenarnya dia hanya menundukkan kepalanya.

“Sekarang, tempatkan ingatanmu kepada Tu Ria’ Ara’na, dan kemudian sekali napas lafalkan pasangmu!”

Madah mengeluarkan suaranya: “Tu Ria’ Ara’na, ammantangngi ri pa’ngarakanna, Anre’ nisei rie’ne anre’na Tu Ria Ara’na nakiappala doang, Padato’ji pole nitarimana pangnrota iya toje’na, Gitte makianjo punna nigaukangi passuroanna, Nanililiang pappisangkana.”

“Anne linoa pamari-marianji, Allo riboko pa’mantangang kara’kang.”

”Appa’ battu ri amma: rara, assi, gaha-gaha na ota’, Appa’ battu ri anrong: bulu-bulu, bukule, kanuku, buku, Lima battu ri Tur Ria’ Ara’na: mata, toli, ka’murung, baba’, nyaha.”

“Lima ampangissengi ilalang batangkale: Ri ngitetta baji’, ri mallangiretta baji’, Ri mangaratta baji’, ri pautta haji’, ripappisa’rinta haji’.”

Begitulah ritual itu dilakukan. Amma memasang telinga baik-baik. Jika satu saja pasang salah dilafalkan, tak segan-segan Amma memukul badan Madah dengan sebilah tangkai kayu. Kadang, akibat itu punggung madah membekas goresan luka.

Sementara aku, ketika hapalan  pasang ke 759 yang diucapkan Madah, tidak jauh dari tiang rumah memilih mempersiapkan secarik kertas untuk menulis puisi. Malam ini langit patut dilukiskan sebagaimana Amma seringkali melukiskan pasang untuk dipegang teguhkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Langit yang dibikin pergi

Malam, sudah

habis aku ditimpa sepi

Ibarat bulan  separuh ditinggal purnama

Sudah datang suatu kabar

Suara orangorang dihempas kelana…”

Saat aku menulis dan membaca habis puisiku, aku jatuh tertidur. Itu bersamaan dengan bunyi bilah kayu di punggung Madah yang ketiga kalinya…

Kembali ke suatu sudut di hutan Kajang…

“Menjadi puto itu tidak segampang yang orang bayangkan!”

“Selain caradde5, seorang calon puto6 juga mesti jujur”

Sadrak siaga memasang telinga mendengarkan. Semenjak keluar dari hutan, dia banyak diam. Matanya dari tadi hanya memerhatikan batangan kayu yang dipikulnya. Tapi, aku masih saja menjelaskan untuk menjadi puto, orang suci setelah Amma, bukan perkara mudah. Sadrak masih terdiam seperti sedang merekam seluruh yang aku katakan. Sebentar lagi kami tiba di rumahku.

Sampai di rumah, Madah sedang membersihkan bekas penapis beras. Amma, ayahku sedang berada di biliknya. Dapur yang bagi kami orang-orang Kajang merupakan lokasi yang penting, nampaknya juga sudah dirapikan Madah. Ketika malam tiba, sulo-sulo dinyalakan. Sadrak yang semenjak tadi ikut bersamaku sudah capai merebahkan badan di bawah jendela rumah. Semenjak dia masuk di dalam kawasan tanah adat, Sadrak banyak mempelajari tradisi hidup kami. Hari ini berarti juga sudah tujuh minggu dia tinggal bersamaku. Mencatat dan meneliti apa saja yang dapat dilihat dan didengarnya. Beruntung kemarin dia mendapat restu Amma ikut bersamaku masuk ke hutan keramat.

Lima bulan setelah suatu waktu di sudut hutan Kajang…

Setelah Sadrak pulang ke Makassar dan dua hari lalu datang membawa hasil penelitiannya, Amma semakin tidak kuat menuruni tangga. Praktis dengan kondisi Amma yang semakin parah, mengurungkan niatku kembali ke Makassar bersama Sadrak. Seperti tradisi sebelumnya, pergantian menjadi Ammatoa dilakukan dengan cara yang selama ini diajarkan leluhur. Mengantisipasi pergantian kepemimpinan Ammatoa, Amma sudah memberikan tanda-tanda bakal meninggalkan kami semua. Itu seperti yang dialami Ammatoa sebelumya. Menurut cerita Amma di waktu aku kecil, semua orang suci mengetahui kapan dia datang ke dunia dan di saat kapan dia akan pergi meninggalkan seluruh sanak keluarganya.

Semakin mendekati waktu kepergiaannya, Amma semakin giat melatih Madah, orang yang diberikan petunjuk bakal menggantikan kedudukannya. Melihat perhatian Amma yang besar terhadap Madah, membuatku tidak sanggup berpisah dengan Amma. Terlebih lagi masyarakat Kajang pasti akan terpukul dengan kepergian Amma.

“Baru saja saya meninggalkan Kajang dua minggu yang lalu, Madah sudah banyak berubah,” Ungkap Madah.

“Sepupuku Madah, semakin siap menjadi calon puto.” Aku berkata sembari membaca hasil riset yang dibawa Sadrak.

“Tahukah kau, bahwa setelah kepergian Amma, Madah akan menyiapkan dirinya selama tiga tahun menjadi puto, menjadi Amma Lolo7, menjalani kehidupan orang-orang suci.”

Aku menjelaskan kewajiban yang bakal dialami Madah. Aku tidak peduli apakah pengetahuan ini sudah diketahui Sadrak atau belum. Sadrak memasang telinga. Aku justru bercerita tanpa disadari air mata tergenang di pelupuk mataku.

Hingga tibalah waktu yang semua orang tidak dapat menolaknya. Di suatu malam dingin, Ammatoa pergi selama-lamanya. Sebelum dia pergi, Madah sudah dipersiapkan Amma menggantikan posisinya sebagai kepala adat. Dua hari pasca Amma dikebumikan di tempat para Ammatoa sebelumnya, aku dan Sadrak pergi meninggalkan tanah adat menuju Makassar. Sementara Madah seperti yang direncanakan sebelumnya akan masuk hutan keramat menjalani ritual sebagai Amma Lolo. Tapi, sebelum ia masuk ke hutan keramat, subuh-subuh ketika aku melayangkan doa dan meninggalkan makam Amma, Madah mencegatku dengan berpesan: “Tiba masamu, pulanglah, jika engkau telah siap!”

Catatan:

  1. Panggilan sehari-hari orang Kajang kepada Ammatoa.
  2. Kain penutup kepala berwarna hitam yang dipakai lelaki dewasa Kajang.
  3. Kumpulan petuah dan pesan yang berisikan hikmat tentang alam semesta, cara hidup, tata cara bersikap yang dipakai sebagai pegangan hidup orang-orang Kajang.
  4. Zat tertinggi dalam keyakinan masyarakat Kajang; Tuhan.
  5. Cerdas, cemerlang akal
  6. Orang suci Kajang, orang yang tidak berbuat tercela.
  7. Gelar calon Ammatoa, orang yang mempersiapkan diri selama 3 tahun dengan ritual khusus sebelum menjadi Ammatoa.

sumber gambar: viva.co.id

Aku Ingin Memetik Mawar dan Puisi-puisi Lainnya

Aku Ingin Memetik Mawar

Belati kau tanam tepat di jantungku

Sebelum mawar itu kupetik

Selepas hujan datang mengetuk

Di taman penuh bunga dan duka

 

Dada ini adalah tanah yang begitu subur

Kau menanam cinta, tak akan kau petik luka

Kau menanam luka, silakan memetik duka

Lalu apa yang ingin kau petik, jika menanam belati tepat di jantungku?

 

Makassar, 2016

 

Aku Menunggumu di Kelopak Mawar

Tulisan hanyalah kata-kata yang kesepian.

Ia membutuhkan kata yang lain untuk selalu menemaninya.

Begitupun tanda baca yang selalu ia harapkan menyatu dengannya di akhir kalimat.

Tak ada hal lain yang ia miliki selain dirinya sendiri.

 

Lalu bagaimana dengan kertas yang setia menunggu curahan hati pena?

Apakah ia akan tetap kosong jika tak ada pena yang bercerita kepadanya?

Setia hanyalah kata lain yang selalu kita gunakan untuk membahagiakan diri sendiri.

Sebab tak ada kesetiaan yang tak menanggung derita.

 

Jika seseorang benar mencintaimu, maka ia akan senantiasa membacamu.

Sebab ia tahu cinta yang dicari tertulis pada kelopak mawar.

Apakah ia mencintai pencipta kata atau kata-kata itu sendiri?

Tak ada yang benar-benar dimiliki oleh kata selain dirinya sendiri.

 

Makassar, 2016

 

Mawar Hitam

Kau tahu penjara?

Ruang persegi, gelap, dan penuh penghapus dosa

Aku tahu kau tahu penjara

Kau pernah cerita tentang para penjarah yang dipenjarakan

 

Sebagian diriku sudah kupenjarakan bersama masa silam

Sebagian diriku kupenjarakan didalam kepalaku sendiri

Bersama setangkai mawar hitam penuh duri

Buat apa bunga mawar itu?

 

Aku pernah menyaksikan seseorang terbunuh oleh mawar hitam

Seseorang yang sangat mencintai bunga : Bunga Mawar

Aku juga sedang jatuh cinta kepada bunga indah itu

Disaat yang sama dia memesonamu, juga sebaliknya dapat membunuhmu

 

Aku rela dipenjarakan didalam kepalaku sendiri

Sambil memegang setangkai mawar yang kupetik sendiri di taman tempat kita berteman

Seulas senyum kau jatuhkan di mataku

Sebelum aku jatuh dipelukanmu dan kau membunuhku

 

Makassar, 2016

 

Memimpikan Mawar-Mawar

Aku lupa kapan terakhir kali melihatmu di taman.

Tapi aku tak lupa kapan kita menjadi teman.

Aku lupa kenapa kita bisa bertemu di taman.

Tapi aku tak lupa, ketika kau memintaku menjadi teman.

 

Ditaman itu, kujumpai begitu banyak bunga.

Juga bunga-bunga yang ditanamkan seseorang di matamu.

Matamu adalah taman terindah yang pernah kudatangi.

Disana tumbuh subur mawar-mawar yang kini selalu kumimpikan.

 

Mawar tumbuh di taman penuh bunga itu.

Cinta tumbuh di matamu.

Luka tumbuh di hatiku.

Sebab yang tumbuh diantara kita hanyalah sebatas teman.

 

Makassar, 2016

 

Menanam Mawar

 

Bunga mawar itu bukanlah tanaman yang nyata, katamu.

Tidak akan pernah tumbuh ditempat manapun, kecuali dikepalamu sendiri.

Kau menanamnya dikepalamu lalu berharap dapat kau petik segera.

Kau selalu memuja keindahannya. Ia punya warna yang bermacam-macam dan duri di tangkainya.

begitulah kau menceritakannya padaku.

 

Didepan sana, perempuan bermata sendu sedang menyanyikan lagu dengan suara yang merdu.

Mungkin saja dia juga menanam mawar dikepalanya seperti yang kau lakukan.

Kepalamu adalah tanah yang subur. Aku percaya jika mawar hanya tumbuh dikepalamu

Sedang matamu adalah lautan yang jauh lebih basah daripada Desember.

 

Ia akan membasahi pipimu ketika duri mawar menusuk tanganmu.

Mungkin kamulah orang yang paling senang bersedih.

jika itu membahagiakanmu, tanamlah beberapa lagi

suatu hari nanti akan kubantu kau memetiknya, jika itu perlu

 

Makassar, 2016

 

http://erool.deviantart.com/art/lady-rose-545766865

Bajingan, Paloma, dan Tari

”Weee Bajingan!”

“Laki-laki Brensek!”

“Kau kurang ajar!”

Tiga kalimat dari pesan WhatsApp dua malam yang lalu seolah mempertegas dan memberi gelar: bahwa kau adalah satu dari banyak lelaki buruk di zaman yang masih merendahkan kedudukan perempuan, sebagai makhluk lemah dan tak berdaya oleh nafsu lelaki. Tiga kalimat itu sedikit mengganggu konsentrasiku untuk menyelesaikan bacaan cerpen berjudul “Paloma”.

Membaca adalah salah satu caraku untuk sedikit melepas beban, tetapi Paloma justru mengajakku bercengkrama imajiner untuk membahas tentang arti kesetiaan. Paloma tetap bersetia meski kekerasan dan pengkhianatan menjadi santapannya setiap hari terhadap lelaki yang telah memilihnya sebagai istri. Puncaknya adalah setelah kebenaran masa lalu terungkap sendiri oleh suaminya melalui foto-foto kemesraan Paloma bersama perempuan. Iya, Paloma adalah seorang lesbi di masa lalu dan mencoba menghapusnya di masa depan dengan kesetian tanpa syarat. Gugatan cerai suaminya mengakhiri kesetiaan tersebut, dan Paloma akhirnya tersenyum dan berkata, “Tuhan telah membebaskanku dari jerat lelaki yang tidak dewasa ini.”

Setelah bebas, aku pun memulai percakapan awal dengan Paloma. “Aku berbeda dengan suamimu Paloma, aku hanya ingin berdamai dengan masa lalu dan masih belajar setia,” ungkapku dengan kalimat datar tanpa ekspresi.

Paloma sejenak menghela nafas dan mencoba untuk bijak menanggapi. “Hey Lelaki, sesungguhnya perempuan yang kuat akan mendapatkan lelaki yang baik dan lelaki yang baik belum tentu baik di mata perempuan.” Tuturnya dengan halus. Aku hanya diam dan tak menjawabnya dengan pembelaan.

Dan betul, Paloma telah meninggalkan masa lalunya dan menjadi dewasa karena mencoba untuk bersetia. Sementara aku beberapa minggu terakhir dibunuh oleh tulisan masa lalu. Puncaknya, aku pun menemui masa lalu dengan harapan untuk mengajaknya berdamai dan berhenti mengumbar kebencian masing-masing. Sebelum bertemu, telah aku pastikan bahwa aku juga telah membunuh cintanya dalam hatiku.

Setelah pertemuan itu—yang aku dapatkan jauh dari kata berdamai bahkan lebih dari kebencian itu sendiri—bersama dengan manusia-manusia yang terus mengumpat dan mengeluarkan kata kotor kepadaku. Sepertinya mereka tidak akan puas dengan penghakiman seperti itu.

Aku ceritakan semua kepada Paloma sebelum dia memutuskan untuk pergi dalam pertemuan imajiner ini. Terakhir Paloma hanya menyampaikan pesan singkat sebagai kata-kata perpisahan. “Akibat terjadi karena adanya sebab dan mencari sebab bukan mencari salah benarnya tetapi mencoba untuk menjadi adil.”

“Ah, kata-katamu Paloma rumit dimaknai, seperti filsuf-filsuf yang lebih banyak menyendiri.” Balasku dengan sedikit kesal.

***

Seminggu kemudian, menanti cerpen tentang Paloma seperti menunggu dalam ketidakpastian. Tak ada lagi percapakan imajiner tentang Paloma. Sore ini terasa cuaca lebih bersahaja setelah beberapa hari hujan mengguyur kota yang hanya memiliki 8 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari yang seharusnya merujuk pada aturan minimal 30 persen.

“Wajar saja banjir di mana-mana, toh kota ini adalah binal penuh nafsu membangun hutan beton.” Umpatku, sedikit kesal dalam hati.

Dua jam lamanya aku bercengkrama dengan puluhan mahasiswa dalam sesi acara pelatihan advokasi di salah kampus tertua di kota ini dan bergegas pergi menuju perpustakaan Komunitas Ruang Abstrak. Rasanya aku sudah mulai tenang kembali dari penghakiman dan memulai aktivitas seperti biasanya. Dalam perjalanan, aku tersenyum kecut mengingat salah satu peserta mahasiswa datang menemuiku setelah diskusi berakhir, Namanya Tari, dia justru curhat kepadaku dengan keadaannya yang dilematis.

“Kak, sebenarnya saya sangat ingin menjadi bagian dari setiap advokasi-advokasi yang perjuangankan hak-hak masyarakat marjinal. Terutama ketika itu menyangkut tentang isu-isu perempuan seperti kekerasan seksual dan diskiriminasi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi bulan depan saya akan menikah dengan salah satu lelaki yang berprofesi sebagai tentara dan pastinya dituntut harus patuh dan taat pada perintah suami.”

“Itu lelaki pilihanmu Tari?” Jawabku balik dengan pertanyaan.

Tanpa mesti merasa malu privasinya dipertanyakan, Tari menjawab dengan mimik wajah yang sedih.

“Bukan Kak, ini pilihan sulit karena menyangkut pilihan keluarga dan saya telah berjanji dengan calon suami setelah menikah hanya akan fokus mengurusi rumah tangga dan menjadi istri yang patuh. Tetapi, jujur saya pasti akan terbatasi dan tidak akan bisa melawan keinginan hati.”

“Apakah ada solusi atau saran kepada saya Kak?”

Di motor aku masih membayangkan bagaimana respon Tari dan penilaiannya terhadapku dari apa yang kusarankan kepadanya. Sedikit konyol mungkin menurutnya karena dari masalahnya yang berkaitan dengan pertentangan nurani yang ingin memberontak. Tetapi tak bisa berbuat banyak. Justru aku menyarankan agar Tari lebih banyak lagi membaca, menulis, dan berdiskusi. Terutama yang berkaitan dengan isu-isu perempuan.

Mengakhiri percakapan dengan Tari, aku memberikannya buku yang sebenarnya tinggal sedikit lagi selesai aku baca. Yah, ini menurutku bentuk rasa empati kepadanya. Buku Gadis Pantai karya Pramodya Anantatoer kini telah menjadi milik Tari. Buku yang mengkritik sistem feodalisme dan budaya patriarki di Jawa. Maaf Tari hanya itu yang bisa kuberikan dan semoga buku itu bisa berguna buat kehidupannmu Tari!

Melintasi kolong Fly Over aku memperlambat laju motorku. Terlihat puluhan orang yang lebih banyak didominasi perempuan melakukan aksi demonstrasi dengan pengawalan lebih banyak dari aparat kepolisian. Salah satu poster aksi dengan tulisan yang besar menarik perhatianku. “LGBT juga punya hak hidup yang sama sebagai warga negara”. Di pikiranku langsung teringat Paloma yang masa lalunya adalah lesbi. Dan andai saja Paloma ada dalam kenyataan aku membayangkan Paloma memegang Megaphone, berorasi juga menyuarakan masa lalunya tetapi bukan untuk kembali ke masa lalu.

***

Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di perpustakaan dengan kecepatan laju motorku yang hanya 40 km/jam. Melambat karena macet dan banyak pikiran yang hinggap dalam perjalanan. Perpustakaan nampak sepi, hanya Bento salah satu pustakawan yang lagi asyik menonton film di laptopnya.

“Ben, minta tolong ambil gitar dan mainkan instrumen melodi seperti biasa.”

“Hahaha, siap Kak!”

Ben sudah tahu apa maksudku. Aku pun langsung mengambil satu buku kumpulan puisi Nyanyian Seribu Jiwa karya Muh Ferdhiyadi N dan membacakan satu puisinya.

Lelaki Baik Itu

Lelaki baik itu tidaklah melukai..

Lelaki baik itu tidaklah membohongi..

Lelaki baik itu tidaklah mengumbar janji..

Lelaki baik itu tidaklah memperdayai..

Lelaki baik itu adalah bertanggungjawab..

Lelaki baik itu adalah berpengetahuan..

Lelaki baik itu adalah bekerja keras..

Lelaki baik itu adalah bersikap tegas..

 Lelaki baik itu bukan saya..

Lelaki baik itu hanya ada dalam mimpi dan harapan setiap perempuan..

Apa yang lebih melegahkan setelah membaca puisi? Penting atau tidaklah penting ingin kusampaikan kepada kalian berdua. Paloma dan Tari bahwa saat ini aku belajar untuk menjadi lelaki baik dan bersetia bersama dengan perempuanku saat ini.

Makassar, 4 Maret 2016

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/471822498438883892/

Mapia, bukan Mafia

Adakah bahagia yang melebihi kebahagiaan tatkala sejumput janji telah ditunaikan? Mungkin saja ada, bahkan banyak. Namun, janji yang saya tunaikan kali ini, cukup menghasilkan bahagia yang meluap-luap, seperti meluapnya air yang tak tertampung di selokan depan rumah, karena derasnya hujan belakangan ini. “Janji adalah utang,” demikian kata bijak yang sering diuarkan. Dan, ketika saya membayarkan janji, untuk datang memenuhi permintaan tandang, maka dengan serta merta, utang saya pun lunas. Waima di pucuk persuaan, lahir lagi janji baru, yang berarti utang baru pula.

Utang yang saya lunasi itu, terjadi pada hari Ahad, 5 Maret 2017. Sebelumnya, saya sudah pernah berjanji untuk datang, saat mengunjungi Serambi Baca Tau Macca Loka, beberapa waktu yang lalu, tapi karena berhalangan, hingga baru separuh jalan, balik lagi ke mukim. Sekira pukul 11.00 siang, saya bersama tiga orang kawan, Dion, Mahbub, dan Aswin, tiba di Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying.

Komunitas literasi, tepatnya, serambi baca yang ada di Lanying ini, bolehlah dinyatakan sebagai kembarannya yang ada di Loka. Sebab, kedua komunitas ini dideklarasikan pendiriannya secara bersamaan. Bedanya, satu di Loka, lainnya di Lanying. Walau, sama-sama di Kecamatan Ulu Ere, Bantaeng. Pembeda lainnya, yang di Lanying, mereka menambahkan kata Mapia.

Sewaktu saya tanyakan, sembari menunjukkan rona wajah agak keheranan, apa itu Mapia? Oleh Jamal, salah seorang pendirinya, langsung disahuti dengan ucapan, “mapia, bukan mafia.” Semula, dalam benak saya pun sempat terlintas, kata “mafia” ini, sebab siapa tahu hanya teknik pengucapan saja yang kurang pas. Tapi, rupanya benar-benar “mapia” dan bukan “mafia.” Lalu didedahkannyalah maksud kata mapia ini. Bertolak dari ujar Jamal inilah, saya patenkan untuk jadi judul tulisan.

Bahwasanya, “mapia” adalah akronim dari Manusia Pecinta Alam (MAPIA).  Alamak, benar-benarlah saya tertegun. Sebab, seandainya pun yang Jamal maksudkan adalah kata “mafia”  tak jadi perkara,  karena saya pun bakal mengaminkannya. Soalnya, sering batin saya menabalkan pada diri sendiri, sesekali selaku pegiat literasi, bolehlah bermetamorfosis menjadi mafia literasi, biar lebih keren.

Sebagai komunitas pecinta alam, Mapia telah menunjukkan kreatifitasnya yang amat memadai. Dari deretan buku-buku yang terpajang di rak, terdapat pula hasil-hasil kerajinan tangan, yang terbuat dari limbah, sisa-sisa potongan kayu, kardus-kardus bekas, yang dijadikan hiasan dinding. Rupanya, mereka sudah sering mengikuti perhelatan pameran kerajinan. Saya takjub melihat sekotah hasil kreatifitas itu. Pada kedalaman hati, saya membatin, betapa dahsyatnya potensi kaum muda, yang terserak di pelosok desa. Di kecamuk pikiran, saya merenung, alangkah hebatnya capaian mereka, jikalau produk-produknya, mendapatkan sentuhan tradisi literasi.

Pelengketan akronim Mapia, pada Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying, adalah sebentuk penegasan dari titik berangkat gerakan literasi yang lebih maju. Seperti yang dinyatakan oleh Gola Gong, dalam buku Gempa Literasi, bahwa komunitas literasi, ditilik dari sudut geliatnya, dapat diklasifikasikan pada tiga kelas. Pertama, komunitas literasi, sejenis perpustakaan semata. Kegiatannya, hanya sebatas meminjamkan dan mengembalikan buku. Model semisal ini, banyak dilakukan oleh perpustakaan-perpustakaan pemerintah, termasuk perpustakaan desa.

Kedua, model komunitas literasi, yang di dalamnya ada perpustakaan, menyelenggarakan proses peminjaman dan pengemabalian buku, namun ada kegiatan lainnya. Misalnya, menjadi wadah bersawala, pelatihan keterampilan, penerbitan media, dan kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Dan, ketiga, komunitas literasi yang menyambungkan aktifitasnya dengan ikon-ikon budaya pop. Jadi, sekotah wadah yang memungkinkan berkembangnya kreatifitas, yang mendukung gerakan literasi, disetubuhkan agar terjadi kelanggengan komunitas. Nah, sejauh rabaan saya, meski komunitas literasi masih seumur jagung, tapi kelihatannya, sudah langsung berada pada poin kedua, yang bila saja diberi sentuhan oleh para mafia literasi, ehem, maksud saya, pegiat literasi, bakal moncer ke poin ketiga.

Rombongan kami yang sedari awal kedatangan dan langsung bersawala dengan pengelola, melahirkan banyak perspektif, buat pengembangan komunitas literasi ini. Saya sendiri amat optimis pada komunitas ini, karena selain didukung oleh sumberdaya dari anak-anak pecinta alam, juga di tempat ini sekaligus sebagai rumah buat santri-santri pengajian dasar Alquran. Dukungan dua pilar ini, para pecinta alam dan para santri, sudah menjadi jaminan akan keberlangsungannya. Sehingga, akan terjadi sinergi yang utuh dalam tubuh segitiga yang saling menguatkan.

Toa mesjid dekat markas Serambi Baca Tau Macca Mapia Lanying bunyi, suara azan untuk ibadah zuhur memanggil. Sawala kami akhiri. Usai dirikan salat, sawala berlanjut beberapa saat. Namun sebelum semuanya berakhir, ada beberapa hal yang saya rekomendasikan. Diantaranya, mempersering dalam menguritakan kegiatan-kegiatan komunitas, agar berefek pada adanya hasrat bagi publik yang ingin berwakaf buku. Perlu pula diadakan sejenis pelatihan manajemen komunitas baca yang sederhana pengelolaannya.

Dan, di akhir segalanya, setelah saya tenggak habis secangkir kopi susu, yang sedari awal sawala tersaji, saya tawarkan pelatihan literasi, bersama dengan komunitas literasi kembarannya, yang ada di Loka. Tawaran ini, serupa lagi dengan janji, yang mesti saya tunaikan kelak. Selanjutnya, sungguh-sungguh di ujung persamuhan, rombongan kami menyerahkan beberapa eksamplar buku, yang diwakafkan oleh Teras Baca Lembang-Lembang, asuhan Dion Syaef Sain.

Orang Pintar dan Mereka yang Menelan Tanpa Mengunyah

Andaikan saja kau kenal seorang yang cerdas. Cerdasnya di sini bisa mungkin persepsimu saja, atau memang ia cerdas betulan. Lebih mudahnya, misalkan saja ia sudah tembus magister atau doktor, itu. Dari cerita-cerita juga hal-hal yang kau lihat langsung, ia dikenal paham sengkarut kuasa, punya pengaruh, banyak kenal dengan orang penting, pernah masuk ruang-ruang yang tak biasa, punya karya-karya monumental meski tak banyak, berintegritas dan teguh profesionalisme, serta pengalaman-pengalaman lainnya yang bisa bikin sesiapapun berdecak senyaring cicak.

Ia juga kau kenal cerewet, banyak omong, dan gemar menggunjing. Yang karena pengalamannya, tentu, omongan dan gunjingannya bukan hal-hal remeh. Tapi di satu ruang tertentu, yang publik tapi bukan fana bukan pula nyata, ia agak lain. Omongannya diirit-irit. Idealismenya tetap teguh, tapi tendensinya sedikit janggal.

Tendensinya yang janggal, menurutmu, pasti lahir dari pemahaman yang ditarik dari kekayaan pengalamannya yang tak biasa. Ia tahu banyak hal, kau tahu itu. Perspektifnya pasti lebih banyak. Sudut yang bisa digamitnya pasti lebih luas. Kau tak punya masalah di situ. Masalahmu ada di yang satu: omongannya yang diirit.

Lagi-lagi kau mafhum, orang yang sudah punya banyak pengalaman akan punya lebih banyak referensi. Tempaan itu bikin otaknya lebih cepat mengolah informasi, menjalin pola, menghubungkan yang satu dengan yang lain, hingga akhirnya intuisinya menunjuk satu titik dan lahirlah kesimpulan. Di ruang yang publik tapi bukan fana bukan pula nyata itu, ia, si cerdas ini, kau lihat lebih sering langsung ke kesimpulan. Jarang sekali ia kau lihat berpayah-payah menjelaskan bagaimana pola dijalin, bagaimana yang ini bisa berefek ke situ, mengapa ini mengapa itu, dan runut-runut penalaran penting lainnya.

Dengan sosoknya yang seakan melegenda, ia tentu punya banyak pengikut di ruang maya itu. Dengan satu dua kalimat simpulan, yang runut penalarannya sering tak disertakan dan karenanya terkesan jadi semacam simplifikasi saja, jadilah itu semacam dogma yang dipercaya pengikutnya. Serupa rapalan mantra. Tersuntik masuk langsung tanpa disaring di nalar. Tak lupa dijempoli disertai emosi tertentu, bahkan kalau perlu disebarkan. Jadilah kalimat itu semacam kredo.

*

Ulasan soal penarikan kesimpulan macam itu, ditulis bagus oleh Malcolm Gladwell lewat bukunya, Blink. Gladwell menyertakan contoh kasus bagus semisal lirikan mata telanjang sedetik-dua detik dari seorang pengamat seni senior bisa lebih akurat memastikan sebuah patung yang didaku asli ternyata palsu, ketimbang penyelidikan seorang geolog yang memakai mikroskop elektron.

Saya jadi ingat pengalaman saya (spontan bergabung dengan massa aksi, seperti kebetulan lewat saja) memagari aksi para supir pete-pete terkait protes mereka terhadap niatan kampus membatasi moda itu beroperasi masuk areal kampus Universitas Hasanuddin beberapa tahun lalu. Mengawal massa yang tidak sempat lama diedukasi dan diorganisir, tentu punya risiko tersendiri. Aksi yang dihelat di depan Rektorat itu bisa saja pecah ricuh jika kawan-kawan tak selalu sigap mengingatkan massa bahwa ada provokasi di antara mereka. Ya, dengan aba-aba yang biasa itu—sambil bertepuk tangan: “Hati-hati… hati-hati… hati-hati provokasi.” Kami mudah saja mengenali biang ricuh itu dari gelagat dan tampakannya. Setelah upaya provokasinya gagal, ia saya lihat segera keluar dari kerumunan massa dan pergi berkumpul duduk bersama kawanan Satpam sambil pura-pura meminjam korek dan menggaruki betisnya yang tak gatal.

Bagi yang biasa terlibat dalam aksi-aksi lapangan semacam itu tentu punya kepekaan tersendiri. Bisa mengenali provokator hanya dari pakaiannya, tahu kapan massa perlu didinginkan, tahu di mana sudut-sudut intel ditempatkan juga gerak-geriknya, dan tentu bagi yang provokator, mereka tahu bagaimana bikin ricuh hanya dengan satu gerakan atau seruan sepele.

Hal-hal yang berada di ranah ‘lapangan’ ini, seolah tak punya penjelasan pasti. Meminta penjelasan ke pelaku-pelakunya pun sama saja, tak memperjelasnya pula. Sebagian mungkin menjawab: “Ya hanya insting saja.” Tapi ia bukan barang yang tak mensyaratkan sesuatu pun, ia punya penjelasan, dan itu pasti. Itulah: pengalaman.

Untuk kesimpulan hal-hal ‘lapangan’ mungkin begitu—seakan tak bisa dinalar, lebih soal insting, buah latihan atau praktik tak sebentar. Tapi untuk kasus teks, tulisan, ia bersyarat lain. Berefek lain.

*

“Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: LAWAN!” [Wiji Thukul]

“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” [Milan Kundera]

“Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan.” [Pramoedya Ananta Toer]

Militansi dan heroisme tumbuh dari jargon dan slogan. Dangkal? Kekanak-kanakan? Tidak juga. “Hito no gendouryokutte taigai youchi nandenai no?”, ‘Bukankah hal kekanak-kanakanlah yang umumnya menggerakkan orang-orang?’, kata seorang middle-blocker tim bola voli SMA, Tendou Satori (Haruichi Furudate, Haikyuu!!). Tiga nama di atas beserta seruannya tak berhenti diulang-ulang sebagai bahan bakar aktivisme. Setelah militansi dan heroisme tersemai, kemudian apa? Jargon dan slogan itu harus tak sekadar berhenti di ‘didengar, dibaca, lalu terbakar’, tapi mesti dipikir-pikir.

Apa itu laku subversif? Mengapa dituduh subversif? Kenapa mesti dilawan? Lupa yang bagaimana yang dimaksud di situ? Apa hubungannya kekuasaan dengan lupa? Bagaimana kekuasaan membuat kita lupa? Bagaimana cara mengorganisir? Sikap etis macam apa yang perlu dibawa dalam laku berorganisasi? Bagaimana perlawanan mendidik penguasa? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih sukar menunggu rumusan jawab.

Misalkan sudah terjawab, terus sudah? Belum. Pemahaman itu lalu dibawa ke kerumitan lain yang lebih, ialah realitas medan. Yang ide diboyong ke yang materi. Dari abstrak ke konkret. Di sinilah terjadi itu: apa yang kau pikirkan belum tentu menjadi, mesti diusahakan, dicari dibikin jalannya.

Bila satu hal belum selesai dibayangkan di kepala, bagaimana bisa ia luwes dalam gerak? Melangkah ke ‘keruwetan 3.0’ tanpa tuntas di 1.0 dan 2.0? Jangan bercanda!

Di situlah berbahayanya ‘kata-kata yang diirit-irit’ tadi. Ia bisa begitu saja diterima tanpa dipikir. Diamini bahkan sebelum dibayangkan. Didiktekan, macam imla, jadilah kedangkalan.

*

Edukasi, adalah upaya menarik keluar apa yang ada di dalam, kemudian mengembangkannya, membebaskannya. Bukan sekadar memasukkan apa yang dari luar ke dalam. Itu penetrasi—fase paska ereksi pra ejakulasi—, eh, indoktrinasi. Satu hal diberitahukan hanya untuk diamini. Penalaran berlebih tidak dikehendaki.

Banyak faktor yang bisa menyebab ini. Selain karena memang ada pengujar yang sengaja mengirit ujarannya, lebih penting dari itu, adalah kita, si penerima informasi. Membiasakan diri bergelut mematuhi hal-hal yang tekstual saja, hanya tentang dan seperti apa yang tertera tertulis saja, tanpa menyertakan penalaran kontekstual dan situasional, bikin Anda lebih berisiko diindoktrinasi. Efek itu bisa juga kena pada kita jika kita hanya mau membiasakan diri bergulat dengan hal-hal ideasional dan abstrak, serta menjauhkan diri dari yang konkret dan materiil.

Begitulah. Ia yang cerdas itu, yang sadar tak sadar punya banyak pengikut yang rela menunggui tiap katanya, dengan mengirit ujarannya—sengaja mengesampingkan eksplanasi yang perlu, sesungguhnya sedang menciptakan domba-domba penurut, yang rela membebek mengangguk menurut saja. Mereka yang hanya terus disuap tanpa ma(mp)u berpikir mandiri. Berhadapan dengan mereka tak seperti berhadapan dengan subjek berkesadaran, melainkan hanyameminjam Dietrich Bonhoeffer, seorang penentang Hitler—slogan dan semboyan-semboyan.

Outputnya, lahirlah—yang pernah saya temui misalnya—pemuda-pemuda yang tiap kali melihat ribut-ribut dalam kampus akan berseru: “Ini pasti settingan! Konspirasi!” Tapi begitu diminta jelaskan mengapa-bagaimananya settingan itu, tak mampu dia. Atau juga kawan-kawannya yang lain yang sering mengumpati kekejian birokrat kampus, rutin berseru ‘lawan’ dan ‘revolusi’, tapi diam tak berkutik begitu masuk ruang Komisi Disiplin.

Ilustrasi: http://harvardpolitics.com/harvard/47852/

Irmus dan Tandang Literasi ke Lantebung

Kala itu, pada akhir pekan di pertengahan bulan, tepatnya, hari Ahad, tanggal 12 Februari 2017. Mentari baru semenjana teriknya, saya merapat ke tribun lapangan sepak bola Lompo Battang, Bantaeng. Hajatan yang digagas oleh Ikatan Remaja dan Mushollah (Irmus) SMA Neg.1 Bantaeng, bertajuk Pelatihan Literasi dan Teknik Resensi Buku, dengan mengambil tema, seputar hubung kait antara literasi dan peradaban.

Oleh penyelenggara, saya diundang untuk berbagi dua hal, gerakan literasi di sekolah, dan teknik meresensi buku, sebagai bekal kelantipan dalam membaca, sekaligus menuliskan hasil bacaan. Kehadiran saya atas undangan Irmus, bukanlah yang pertama. Entah sudah berapa kali saya didapuk sebagai pemantik gagasan, yang kesemuanya diselenggarakan di areal sekolah. Barulah kali ini di luar sekolah, yang menurut pembinanya, sekaligus guru agamanya, yang juga pegiat literasi di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Kamaruddin, mencari suasana baru, sebagai bagian dari cara menyegarkan kegiatan-kegiatan literasi.

Di pelatihan itu, saya mendedahkan terlebih dahulu, pandangan seputar pentingnya merawat dan memberikan makanan bergizi pada jiwa, di tengah kegilaan berburu hasrat memenuhi tuntutan raga. Padahal, menurut amanat para pendiri bangsa, yang disabdakan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, meminta agar membangun jiwa terlebih dahulu, barulah bangun raganya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya, begitulah bait sakralnya. Dan, setelahnya, saya sajikan pula, bagaimana kebiasaan membaca, bakal menentukan kemampuan menulis. Proses membaca ibarat memasukkan asupan gizi, agar ada energi yang kuat buat berbicara dan menulis.

Dari sekian buah dari kemampuan menulis, yang dikelompokkan dalam karya fiksi dan non-fiksi, salah satunya adalah resensi buku. Karya non-fiksi, yang berupa resensi buku, biasa pula disebut dalam istilah lain, semisal, timbangan buku, bedah buku, ulasan buku, pustaka, dll, bergantung pada selera media, baik yang berbasis luring (cetak), maupun daring (online).  Istilah yang dipakai boleh saja berbeda, namun yang pasti, tulisan itu berbicara tentang buku yang disorot, mulai dari yang paling kulit, penampakan fisik, hingga konten, atau isi gagasan yang dirahimi oleh sebuah buku.

Secara teknis, tulisan resensi buku, mempunyai tingkatan kualitas. Pertama, tulisan yang sekadar menggambarkan hal-hal yang bersifat umum dari buku itu. Biasanya, hanya mengutipkan apa yang terdapat pada halaman  belakang, sinopsis sebuah buku. Kedua, memaparkan secara deskriptif dari buku itu, ketiga, melakukan perbandingan dengan buku lain, baik buku yang ditulis oleh pengarang yang sama, pun pengarang yang lain. Dalam perbandingan inilah, menuntut keluasan pandangan seorang peresensi buku.

Jelang siang, sekira pukul 11.30, tetiba saja cuaca berubah secara cepat. Langit menjadi mendung, awan gelap menyelimuti. Biji-biji air sebentuk biji jagung, mewujud jadi hujan, berlomba menghempaskan diri ke tanah. Pastilah ada kekacauan sedikit, tapi saya selaku pembicara langsung menenangkan para peserta, dengan sejumput kalimat-kalimat, yang rada bijak, “biarkanlah hujan itu turun, sebab dia juga punya hak untuk berpesta. Tiadalah kebahagiaan yang lebih khusyuk, tatkala titik-titik air itu, berhasil lolos dari terungku awan. Hujan, sesungguhnya adalah simbol pembebasan diri bagi titik-titik air. Tatkala titik-titik air itu, membulatkan diri menjadi biji-biji air, lalu menghempaskan diri, di situlah kemerdekan sang titik air, karena akan segera mencari tempat yang lebih rendah, menggenangkan diri, tenang dalam jeda, sebelum disedot kembali oleh terik matahari, kemudian awan menawannya.”

Setelah pesta penghempasan biji-biji air, hujan pun reda. Kumandang azan membahana, acara pun dinyatakan usai. Selanjutnya, kami pun menuju mesjid terdekat buat tunaikan salat bagi yang ingin melunaskannya. Habis ibadah zuhur, kami semua santap siang. Di sela-sela makan siang itulah, program selanjutnya dibincangkan, bahwa salah satu bentuk follow up dari persamuhan ini, adalah melakukan kunjungan ke komunitas literasi. Saya mengajukan istilah, tandang literasi, yakni menyambangi komunitas literasi, komunitas baca, yang menyediakan fasilatas buku bacaan. Tujuannya, agar anak-anak Irmus mengenal komunitas itu, sekaligus menjadikannya sebagai arena untuk mendapatkan bahan bacaan.

Dari sekian banyak komunitas literasi yang ada di Bantaeng, saya mengusulkan untuk bertandang ke Kolong Baca Lantebung, yang diasuh oleh Atte Shernylia Maladevi. Pertimbangannya sangat strategis, sebab pada pelatihan kali ini, saya tak lupa mengenalkan seorang penulis, dari alumni SMA 1 Bantaeng, yang telah mengarang dua novel, Titisan Cinta Leluhur, dan Djarina. Bagi saya, tandang literasi ini bermakna ganda, selain mengenalkan salah satu komunitas literasi, bertemu pula dengan seorang penulis, pun sekaligus sebagai ajang silaturrahim dengan alumninya. Apatah lagi, pada pelatihan itu, saya memberikan ganjaran hadiah buku, pada dua penanya, yang judul bukunya adalah anggitan Atte itu. Komplitlah sudah.

Ada lebih 20-an orang anak-anak Irmus dan pembinanya, berombongan ke Kolong Baca Lantebung. Jarak tempuhnya, kurang dari 7 menit, dengan kecepatan 20 km per jam. Setiba di lokasi, kami sudah disambut oleh pendiri komunitas literasi ini. Sambutan yang hangat, sehangat cuaca yang berpadu antara terik yang harus berbagi dengan hempasan biji-biji air, hujan. Jadilah sore itu mendung, menyelimuti kami semua. Dan, pada dinding depan Kolong Baca Lantebung, yang juga masih merupakan bagian dari rumahnya Atte, tertulis kalimat indah, “Selamat Datang di Surga Kami.” Wow… Sepetak surga yang bakal kami kunjungi.

Saya sendiri barulah pertama kali bertandang ke Kolong Baca Lantebung ini, sejak dipindahkan dari Kolong Balla Lompoa Lantebung. Sebelumnya, saat komunitas literasi ini didirikan jelang bulan Ramadan tahun 2016, bermarkas di kolong rumah adat Balla Lompoa. Tapi, karena situasinya kurang memadai, sebab buku-buku sering dikencani oleh debu-debu yang ingin melapisi sampul-sampul buku, maka Atte mengamankannya sementara waktu. Jadi, Kolong Baca Lantebung ini, pernah jeda, sembari menunggu selesainya pengerjaan rumah tinggal keluarga Atte. Nah, sekarang rumah itu sudah rampung, maka buku-buku itu menemukan mukimnya yang lebih adem, jauh dari usilan debu.

Salah satu keunikan dari Kolong Baca Lantebung ini, karena yang paling sering menungguinya adalah anak-anak dari pasangan keluarga Atte dan Nasir. Usianya baru duduk di SD, dan ada pula yang masih balita. Namun, yang paling garib lagi, sebab bagi para peminjam leluasa meminjam dan mengembalikan sendiri, tanpa ada proses adminitrasi. Kalau selama ini kita mengenal adanya kantin kejujuran, maka di Kolong Baca Lantebung ini, pun menerapkan mekanisme kejujuran. Jadi, semuanya amat bergantung pada para peminjam. Sebuah terobosan buat pendidikan karakter. Inilah senyatanya penanaman kejujuran.

Rombongan dari Irmus pun menikmati pojok surga itu. Namun, karena luasnya ruangan tidak mampu menampung kami, akhirnya kami diajak untuk ke Balla Lompoa Lantebung, yang jaraknya hanya sekira 30-an langkah. Kami kemudian menaiki Balla Lompoa, yang juga merupakan salah satu situs bersejarah dari Kerajaan Bantaeng di masa silam. Balla Lompoa Lantebung ini adalah rumah tinggal sang raja. Seintinya, ini serupa paket tambahan dari tandangan literasi. Mendapatkan kesempatan naik di Balla Lompoa, diladeni langsung oleh kerabat raja, merupakan kebahagiaan tersendiri. Oleh Atte, diberilah penjelasan mengenai keberadaan rumah adat ini, dan segala sesuatu yang ada di atas rumah ini.

Bagi rombongan Irmus, berlaku pepatah, “Sambil menyelam minum air,” sembari tandang literasi dapat pula wisata budaya. Sebab, banyak yang belum menganal situs ini, bahkan barulah pertama kali berkunjung ke rumah bersejarah ini. Dan, pada ruang yang semirip ruang tamu inilah , anak-anak bersilaturrahim dengan penulis, yang sejak pelatihan berlangsung, saya sudah mengenalkannya. Dari rona muka anak-anak Irmus, terpancar asa untuk menimba ilmu kepenulisan dari sang penulis novel.

Atte memulai perbincangannya dengan bercerita tentang novelnya. Khususnya novel yang kedua, berjudul Djarina. Bahwasanya, Djarina sebagaimana yang ada di novel adalah tokoh nyata dari keluarga Raja Bantaeng. Tempat mukim Djarina, di Balla Lompoa. Sewaktu novel Djarina diluncurkan, pun dilaksanakan di ruangan ini, sebagai bentuk dedikasi buat Djarina. Perbincangan pun melebar pada proses kreatif dalam kepenulisannya, hingga jauh pada putusannya mendirikan komunitas literasi, Kolong Baca Lantebung. Di pucuk persamuhan, Atte menawarkan kepada segenap anak-anak Irmus, agar datang meminjam buku, sesuka hati, lalu mengembalikannya dengan sepenuh hati.

Hingga tulisan ini saya bikin, anak-anak Irmus sudah silih berganti, datang meminjam dan mengembalikan buku. Pun makin merambah ke anak-anak sekolah lainnya. Terkadang, Atte sendiri tidak mengenal lagi siapa mereka, sebab pekerjaannya juga menuntut senantiasa meninggalkan rumah. Untunglah ada sepasukan anak-anaknya yang menggawangi Kolong Baca Lantebung ini. Bagi saya, komunitas literasi ini, hanya ingin selalu mengatualkan vision lamonde, pandangan hidup pemiliknya, mencicil sepetak surga di mukimnya, yang memang sedari awal, keluarga ini telah menabalkan janji, membuat surga di rumahnya, lahan subur menanam kebaikan.

 

Raja Salman, Pete, dan Buku

Tetiba saja  saya tersentak, tatkala seorang karib, Surya Darma, memposting di akun facebooknya, sebuah gambar seikat pete, berjumlah tujuh bongkol, sembari menuliskan pesan, “My beloved belikan saya buah pete pagi ini. Ihhh, tiba-tiba saja saya merasa lebih kaya dari Raja Salman. Sebab segemerlap apapun istananya, haqqul yakin barang dibawah ini tak pernah tersaji di meja hidangannya. Allahumma ‘ainni ‘alaa syukrika wa husni ‘ibadatika…”

Lontaran pesan itu, pastilah banyak menimbulkan penafsiran. Apalagi di era bermedia sosial yang kadang kacau balau ini, karena hoax dan hate spech. Tapi, saya ingin menafsirkannya sebagai sebuah tindakan penuh satir. Bahwasanya, seperti yang diulaskan pada catatan lain Surya di akunnnya, “Kedatangan Salman disambut gegap gempita. Banyak yang sumringah karena ‘bantuan’ ratusan trilliun akan mengalir dalam berbagai bentuk proyek. Bahkan ada yang membahasakannya, Salman datang dengan tujuan ‘charity’. Adakah ini benar ?

Perkara sambutan yang begitu spektakuler ini memang menyita banyak perhatian. Soalnya, di balik harapan yang besar akan maksud kunjungan itu, tersimpan banyak tanda tanya. Maksudnya, banyak masalah-masalah dalam negeri sendiri dari Saudi Arabia yang patut dipertimbangkan, agar dalam memaknai tandangan Raja Salman tidak dalam kerangka yang tunggal; berinvestasi. Dari banyaknya urita yang menguar, semisal anjloknya harga minyak, yang menimbulkan ketidakstabilan sumber pendapatan utama Saudi, keterlibatan Saudi dalam pergolakan politik di kawasan Timur Tengah, baik di Syiria maupun Yaman, menyebabkan pula Saudi terseret dalam pusaran politik global.

Sosok Raja Salman sendiri dipendapatkan sebagai persona yang dilematis. Sosoknya tidak bisa dilepaskan dari representasi penguasa Saudi Arabia, yang dalam sepak terjang kekuasaan para pendahulunya, yang bertumpu pada kekuatan keluarga al-Saud, faham keagamaan warisan Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabisme) dan limpahan minyak, sering menuai kontroversi. Namun, sebagai figur, ada sisi lain dari Raja Salman, yang membuat banyak orang di tanah air, bersimpatik, bahkan memujanya sebagai raja yang agung, sri baginda yang mulia.

Saya rujukkan sisi figuritas Raja Salman pada apa yang ditulis oleh jurnalis Kompas, 2 Maret 2015,  Mustafa Abdurrahman. Dalam paparannya, Mustafa menuliskan bahwa karir politik  Salman, sejak sebelum dinobatkan menjadi raja, amat cemerlang. Ia menjadi Walikota Riyadh selama 48 tahun. Pun yang lebih menarik lagi karena ia didapuk memimpin lembaga kebudayaan dan mengepalai perpustakaan yang mengurus pelestarian budaya dan khazanah. Sebagai pemimpin lembaga kebudayaan dan perpustakaan – dengan koleksi jutaan buku dan dokumen —tentulah Salman bakal dipersepsikan sebagai sosok yang terdidik, walau hidup dalam terungku pemahaman keagamaan, yang sering dianggap terlalu tekstual. Karenanya, kunjungan liburannya ke Bali, tempat yang sarat nilai budaya, selama 6 hari, mungkinkah itu terkait pula dengan pertautan kapasitasnya ini?

Menjawab pertanyaan itu, sebaiknya saya ajak kembali ke soal pete, yang belum tersajikan di meja makan Raja Salman, setidaknya, begitu penabalan Surya dalam sindirannya. Padahal, buah pete adalah buah yang mengandung banyak gizi tinggi, dan punya khasiat sebagai obat berbagai macam penyakit. Dalam tradisi kuliner orang Indonesia, makan pete, sudah menjadi bagian dari budaya makan yang tertanam kuat dalam perjamuan. Satu-satunya masalah terbesar dari pete ini, baunya yang kurang sedap, menyengat bahkan sedari mulut, hingga saat kencing dan berak. Pete sebagai santapan penambah selera makan, diburu karena enaknya, namun diolok sebab baunya.

Demikian pula Raja Salman, ia semirip dengan pete, diburu karena ada pengharapan padanya, dimuliakan sebab sejumlah keinginan di pertautkan dengannya, namun tidak sedikit yang mengecamnya. Saya tidak mau mengatakan, bahwa Raja Salman layak ditandaskan dengan gelar baru sebagai Raja Pete, sebab bisa mengundang kontroversi baru, bisa pula dituduh pelecehan dan penistaan pada raja. Tetapi, yang berani saya pastikan, nasib Raja Salman serupa dengan pete, disanjung sekaligus diolok.

Kala tulisan ini saya bikin, Raja Salman sudah menikmati liburannya di Bali. Berharap pada Raja Salman, agar benar-benar menyelami keindahan alam dan budaya Bali, sebagai seorang mantan pemimpin lembaga kebudayaan dan perpustakaan Saudi Arabia. Dan, di sela jelang makan pagi, siang, maupun malamnya, semoga ada pete goreng yang tersaji. Sebab, pete goreng, jika digoreng agak lama, bakal menjadi coklat kehitaman warnanya, dagingnya mengeriput sedikit, menyerupai buah kurma. Siapa tau Raja salman mengira itu buah kurma, lalu menyantapnya, dan enak maknyus di lidahnya, sembari bertanya,”Ini kurma Indonesia?”

Harapan saya pun berlanjut, setelah perjamuan, Raja Salman penasaran dengan buah yang mirip kurma, namun agak aneh baunya. Lalu ia pun memerintahkan pengawalnya untuk mencarikan buku kurma Indonesia itu, buat ia baca sebelum tidur. Maka siapkanlah buku tentang pete di sisi tempat tidur raja, sebab ketika ia membacanya, sesungguhnya ia sementara mengeja dirinnya.