Arsip Kategori: Resensi Buku

Metamorfosis Ibu: Merumahkan Ide melalui Literasi Parenting

Yang unik dari buku ini adalah semuanya lahir dari keluarga. Yang menulis, menyunting, sampai ilustratornya.

Tema-temanya digali dari pengalaman keluarga. Entah dari mengasuh anak hingga mengasah anak. Dan juga mengasihi anak. Bisa dibilang dari saling asuh, asah, dan asih inilah buku ini menopangkan dirinya.

Di tulisan yang sedang eike persiapkan untuk buku ini, ada satu peran utama yang menjadi benang merah dari esai-esai literasi parenting ini: ibu.

Ya, dari pengalaman seorang ibu-lah buku ini akhirnya bisa sampai ke tangan pembaca. Tentu perlu digarisbawahi, kata pengalaman yang eike maksud di sini adalah jenis pengalaman yang betul-betul pengalaman. Suatu tindakan yang terlibat dan dilibati lingkungannya. Pengalaman yang mengikutkan rasa, pikiran, emosi, dan intuisi seorang ibu.

Dengan kata lain, suatu pengalaman yang lahir dari dalam. Yang memangkas jarak dan waktu. Yang intim sekaligus fenomenologis.

Itulah mengapa, esai parenting ini begitu hidup dan gamblang. Ia lahir dari orang pertama. Dari pelaku langsung.

Seorang ibu, kiwari agaknya dinilai sebelah mata. Dia hanyalah elemen masyarakat nomor dua. Sebagai perempuan ia dipandang tidak memiliki sumbangsih apa-apa. Ia pasif dan bukan sebagai agen perubahan.

Bahkan banyak fenomena memperlihatkan komunitas ibu-ibu yang berkumpul hanya untuk bersenang-senang. Berbelanja dan bergosip secara berjamaah. Kadang, di akhir pekan mereka bertemu hanya sebagai ajang katarsis. Hanya bersuara akibat menjadi “korban” dunia laki-laki.

Yang paling fenomenal adalah dieksploitasinya dunia ibu-ibu oleh tarik ulur politik. Di kancah nasional ada salah satu capres memanfaatkan emak-emak sebagai kekuatan politiknya. Nampak dari permukaan ini seolah-olah kekuatan baru dalam kancah perpolitikan. Tapi sebenarnya fenomena itu tetap saja menjadi bamper politik.

Kaum perempuan atau ibu-ibu tetap saja masih diimajinasikan melalui kebutuhan laki-laki.

Semua fenomena itu terjadi karena perempuan tidak mampu mendayagunakan protein bahasanya. Saking lemahnya, protein bahasa yang memproduksi kata-kata hanya dimanfaatkan untuk mewacanakan hal-hal di seputar dunia belanja, dapur, dan kasur. Kata-kata perempuan hanya tercecer di pelataran gosip belaka.

Tapi buku ini sebaliknya. Melalui kata-kata (hasil penelitian ahli linguistik menyebutkan perempuan menghasilkan 20.000 kata perharinya dan kaum lelaki hanya 7000 kata saja perhari) seorang ibu malah berjuang dari dalam, dari ruang domestiknya dengan menulis. Suatu pekerjaan para begawan kebudayaan.

Dengan kata lain, dari ruang domestiknya perempuan sebenarnya adalah benteng terakhir peradaban. Di ruang domestiknyalah ia semestinya juga dapat mengembangkan peran sosialnya. Melibatkan diri dari balik pintu rumah ikut membentuk masyarakatnya.

Berbeda dari cara pandang Barat meletakkan peran perempuan dalam skema dinamika masyarakatnya. Perempuan-perempuan Timur dengan adat budayanya justru banyak mendayagunakan ruang keluarganya sebagai basis perubahan. Dengan cara mendidik anak-anak menyiapkan pelanjut-pelanjut generasi bangsanya.

Itulah sebabnya perlu kaca mata lain untuk melihat kebiasan perempuan-perempuan Timur dalam konteks gendernya. Bagi Barat perempuan mesti menerobos dinding domestiknya untuk berperan di ranah publik. Itu adalah cara mereka mengekspresikan kebebasan dan perannya.

Sementara perempuan-perempuan Timur, tidak ada distingsi antara ruang domestik dan ruang publik. Tidak ada pemisahan antara rumah dan masyarakatnya. Meski demikian berjarak dari segi ekonomi dan politik, namun dari segi budaya, dua ranah ini adalah satu kesatuan. Dia berbagi dimensi yang sama.

Di masyarakat Bugis-Makassar, misalnya, di balik kepemimpinan seorang laki-laki justru dilegitimasi oleh keberadaan seorang perempuan. Ada anekdot lucu untuk menggambarkan kedudukan perempuan di masyarakat Bugis: jika gagal memengaruhi pendirian seorang pemimpin, maka cobalah datang melalui ibu atau istrinya. Niscaya melalui pengaruh “di balik layar”, permintaan halus seorang ibu atau istri kepada pemimpin laki-laki akan mengubah keputusannya.

Demikian sentralnya peran perempuan, masih dari tanah Bugis-Makassar, jika ada permintaan atas sesuatu yang sifatnya umum kadang dimediasi melalui datang bertandang langsung ke rumah sang pemimpin. Di rumah, sang pemimpin laki-laki, akan turut ikut kepada kemauan sang istri atau ibunya. Di rumah, sang perempuanlah pemimpinnya.

Buku ini adalah salah satu contoh bagaimana perempuan mengelola rumah tangganya dengan protein bahasanya. Mengumpulkan dan menjadikannya sebagai benda budaya. Sebuah buku untuk disejajarkan sebagai pekerjaan pemberdayaan masyarakat. Terutama bagi ranah sel terkecil masyarakat: keluarga.

Islam menyebut masyarakat atau bangsa dengan istilah khas: umat. Sepadan dengan kata asalnya, “um” yang membentuk kata “umi” atau ibu. Kata umat dari kata “amma-yaummu” yang berarti “menuju”, “menumpu”, “meneladani”.

Kata “imam” juga mengasalkan akar katanya dari asal yang sama dengan kata “umat” dan “umi”. Seorang imam mesti memiliki sifat-sifat seorang ibu: menjaga, mengasihi, mengayomi, melestarikan….

Bahkan, seorang ibu adalah imam. Seorang pemimpin.

Buku ini merekam jejak kepemimpinan seorang ibu. Lebih jauh lagi menunjukkan bagaimana seorang ibu memimpin masyarakatnya. Dari rumah sekalipun.

Data buku:

Judul Buku                      : Metamorfosis Ibu, Sehimpunan Literasi Parenting

Penulis                             : Mauliah Mulkin

Penyunting                     : Sulhan Yusuf

Ilustrasi isi                     : Nabila Azzahra

Desain sampul               : Ambena Akkin

Penerbit                          : Liblitera

Tahun terbit                   : Agustus 2018

Tebal halaman              : 270 halaman

 

 

Luka Daur Ulang; Puisi atau Berita?

Wacana daur ulang, kadang riuh kadang senyap. Daur ulang, biasanya bermisi mengontrol lonjakan jumlah barang tak terpakai. Lewat kreatifitas kerajinan tangan, sampah misalnya, sanggup bertransformasi dari barang tak layak konsumsi menjadi barang ekonomis. Jumlah sampah jadi berkurang. Sampah pun bisa jadi pangkal mata pencaharian.

Di dimensi lain, ternyata, tak hanya sampah atau benda saja bisa didaur ulang. Fauzan Al-Ayyubi, lewat seikat puisi, melahirkan buku bertitel Luka Daur Ulang (2016). Buku puisi menghimpun 70 puisi. Pejumpaan awal dengan buku bikin dahi pembaca mengernyit. Pembaca bertanya, bagaimana produk dari sebuah luka daur ulang?

Fauzan mengolah puisi dari luka; cinta, kenangan, permasalahan kota, dan perenungannya atas hidup. Tema-tema itu membentuk sebuah jejaring raksasa. Saling terhubung, lalu memadat, menyatu, dan berhilir pada sebuah buku kumpulan puisi.

Namun luka akan seperti sampah. Mengeluarkan aroma busuk. Mencemari lingkungan. Dan pada satu waktu, mampu menggoda munculnya sebuah bencana. Maka, luka pun perlu didaur ulang. Didekonstruksi. Agar tak jadi benalu. Tak mengganggu.

Saking semangatnya mendaur ulang, Fauzan bisa memproduksi 8 puisi dalam satu hari. Puisi berjudul “Menjadi Dua”, “Sekali Lagi”, “Bunuh Diri”, “Belanja”, “Si Cantik dan Pemuja Kecepatan”, “Buku dan Jalanan”, “Perang dan Agama”, “Taman, Senja dan Pemakaannya”, bertitimangsa 19 Februari 2016. Sungguh sebuah pencapaian luar biasa. Hanya orang berstamina prima bisa melakukannya. Barangkali, Fauzan tak ingin kehilangan momen. Ia mencatat lewat puisi, semua gambar dalam imajinya sehabis menyaksikan fenomena-fenomena ganjil.

Sebuah karya, susah untuk bisa betul-betul berjarak dari penulisnya, entah itu dari segi ciri khas memadu komposisi bentuk atau gagasan. Selalu ada ekspresi alter-ego penulis atau ciri khas di dalam karya ciptaanya. Hal itu bisa kita simak pada potongan puisi Fauzan: Bahwa kecantikan adalah perangkap kesombongan! Petikan puisi itu, setidaknya memuat dua kemungkinan mengapa si penulis mencatat demikian. Pertama, ia pernah naksir, dan ditolak mentah-mentah atau dicampakkan oleh seorang perempuan mengklaim dirinya cantik. Duh. Sehingga puisi itu lahir dari luka.

Dari kekesalan penulis dengan perempuan berpredikat cantik sekaligus sombong. Padahal cantik itu sementara. Tak kekal dan abadi. Kedua, Fauzan hendak mengkritik budaya konsumerisme pemuja iklan kecantikan. Banyak orang takut pada kulit keriput. Paranoid pada penuaan dini, gugup saat berat badan naik dan lemak menggelambir. Atau takut “tak tahan lama” saat memadu cinta dengan kekasih. Cantik tereduksi pada sekadar imaji perempuan banal dalam iklan-iklan kosmetik. Perempuan itu takut kehilangan stempel “cantik”. Namun, tak takut kehilangan akal sehat dan akhlak terpuji. Siapa perempuan dalam puisi itu, hanya Fauzan mengetahuinya.

Pastinya, perempuan cantik dan sombong itu, bukanlah Isma Aryani. Fauzan menulis 3 puisi ditujukan untuk Isma. Tentu saja Isma perempuan spesial. Karena dalam puisi Luka Daur Ulang, tak ada nama-nama lain, hanya Isma seorang. Puisi-puisi Fauzan tentang Isma, tak bermuatan kritik atau sindiran. Puisi bergelimang kata-kata cinta. Berlimpah pemujaan pada kekasih, amsal Qais si Majenun tatkala bersyair untuk pujaan hatinya, si Laila.

Kita tilik puisi Fauzan: Aku tak punya hari esok jika bukan untuk melengkunkan senyummu./ Sebab sungguh mati, kesedihanmu seperti melihat ratu tanpa mahkota/ dan/ Kau tahu, mahkota itu senyummu./ Aku tak ingin hilang dari wajahmu. Fauzan betul-betul tenggelam dalam kubangan cinta saat menulis tentang kisahnya dengan Isma, meski sedang terluka. Ia hilang kesadaran. Fana dalam istilah sufistik. Hidup mati Fauzan bergantung pada senyum manis di wajah kekasih.

Tetapi, seperti halnya Qais, ekspresi kecintaan Fauzan pada Isma mendapat percik-percik kendala. Tak mengalir lancar. Ada pesan tak sampai. Akhirnya, cinta berjalan terbata-bata. Tak tuntas. Keraguan menjadikan cinta runtuh berkeping-keping. Atau kau tak pernah tau tentangku?/ :menunggumu, ragu Fauzan. Keraguan bukan menu baik bagi pertalian dua sejoli. Cinta pun usai. Menyisakan kenangan, luka, dan nelangsa.

Puisi atau Berita

Puisi-puisi Fauzan lahir dari mendaur ulang kesedihan akibat peliknya pengalaman hidup. Namun, luka ketika didaur ulang, tetaplah berwujud sebuah luka. Barangkali puisi luka, bukan puisi bahagia. Fauzan hanya berputar-putar dengan lukanya sendiri. Ia tak menunjukkan perlawanan. Ia malah menikmati dan semakin pasrah dalam lubang rasa sakit tak terperi. Fauzan –umpama seseorang dalam lagu “Butiran Debu”- terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.

Buku Luka Daur Ulang merupakan rekonstruksi atas suatu kejadian, lalu hasilnya dipahat dalam puisi. Tak ada tawaran untuk sebuah kemungkinan lain. Puisi jadi cermin realitas. Kita menemukan pembenaran itu dalam kata pengantar buku, “Puisi adalah salah satu cara untuk mengabadikan kejadian yang tak sempat terekam”. Puisi jadi mirip dengan berita-berita surat kabar.

Sebenarnya, saya cukup teganggu, ketika Fauzan mengkritik percepatan. Kritik hanya berlaku untuk orang lain, tapi kebal pada dirinya sendiri. Bukankah ia juga melakukan percepatan tatkala menulis 8 puisi dalam satu hari? Saya, sebelumnya tak pernah menemukan seorang penyair bisa menulis 8 puisi dalam satu hari. Bahkan, untuk 1 puisi, beberapa penyair, kadang butuh berhari-hari untuk mengedit dan mencari kepaduan komposisi puitik.

Puisi Fauzan terkesan ditulis dengan terburu-buru. Pada akhirnya puisi jadi semacam catatan jurnalistik. Banyak berkutat pada kulit luar, lupa menyentuh jantung kedalaman bahasa. Puisi lebih menyerupai kalimat-kalimat koran. Bermandikan fakta, namun susah dijumpai metafora. Dan dengan begitu, mungkin, Fauzan perlu mendaur ulang (luka) puisinya agar bisa utuh berwujud “puisi”.

Judul : Luka Daur Ulang

Penulis : Fauzan Al-Ayyubi

Penerbit : SIGn

Cetak : Pertama, 2016

Tebal : xiv + 112 hlm

ISBN : 978 602 72706 2 6

 

Jalan Raya: Alas Pijak Kapitalisme Global

DI ABAD modern,  sejarah jalan raya adalah sejarah modernisasi itu sendiri.  Tanpa jalan raya, percepatan modernisasi berupa perpindahan penduduk, pergerakan arus transporatasi, pembangunan infrastruktur, terbentuknya kawasan perkotaan, dan pergerakan komoditas  akan sulit terealisasi.

Jalan raya adalah tulang punggung yang  menjadi alas sekaligus penghubung beragam penanda modernitas di atas dapat mengalami ekspansi geografis seperti yang dirasakan seperti sekarang ini.

Dengan kata lain, basis utama dari modernisasi (yang dalam kajian kritis adalah juga kapitalisme itu sendiri) adalah jalan raya yang menjadi saluran pembuluh saraf, yang menghubungkan titik-titik terpencar dari aktivitas produksi kapital menjadi lebih terhubung dan lebih gampang terkoordinasi.

Pernyataan ini setidaknya menandai telah terjadi peralihan yang semula dapat disaksikan di tanah air sendiri berkaitan dengan pembangunan jalan-jalan raya di masa silam.

Di tanah air, jika ingin menandai kapan modernisasi pertama kali terjadi akan ditemukan dua peristiwa yang berkaitan kembali dengan sarana transportasi: pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS)  dan megaproyek jalan raya dari  Anyer hingga ujung jawa Bayuwangi berupa pembangunan yang dikenal sebagai jalan raya Pos.

Pembangunan yang pertama bermaksud untuk mengangkut hasil-hasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem cultuur stelsel (tanam paksa). Sementara yang kedua  –selain karena alasan perdagangan—juga dipakai sebagai cara pemerintah Hindia Belanda  mengontrol pergerakan  dan pemberontakan pribumi-pribumi melalui patroli-patroli militer yang mengandalkan akses informasi yang cepat.

Dari kedua peristiwa di atas jalan raya menjadi jauh lebih penting dari masa sebelumnya.  Di era penjajahan jalan raya bukan saja sebagai cara pemerintah Hindia Belanda agar lebih mudah menggerakkan alat-alat militernya, melainkan lebih dari itu yakni sebagai sarana menggerakkan hasil-hasil bumi.

Di masa sekarang, aktivitas di atas jalan raya tidak serta merta difungsikan sebagai sarana transportasi belaka, melainkan juga masih mempertahan cara yang sama seperti di masa penjajahan dahulu: perdagangan.

Namun sayangnya, dari semua itu, betapa fundamentalnya peran dan kedudukkan jalan raya dalam skema pembangunan hari ini, sejauh penulis ketahui belum ada karya pikiran yang khusus mengkaji jalan raya sebagai objek perhatiannya. Padahal jika melihat peran strategisnya menghubungkan lokasi-lokasi sumber daya, dan keberadaannya yang  sangat trategis bagi percepatan pembangunan, jalan raya patut ditelaah secara kritis.

Di tengah kekosongan –dan juga luput dari perhatian–kajian kritis tentang jalan raya, beberapa waktu lalu terbit buku “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik” karya Muhammad Ridha, seorang aktivis cum dosen sosiologi UIN Alauddin yang setidaknya mengisi satu titik kosong di dalam perbincangan berkaitan dengan tema kritik ideologi kapitalisme.

Hendro Sangkoyo dalam kata pengantarnya di buku ini, diasalkan kepada satu pertanyaan mendasar: untuk apa jalan raya dibuat? Melalui pertanyaan utama  inilah analisis-analisis Muhammad Ridha dikembangkan dengan cara menelusuri di mulai dari sejarah jalan raya dan bagaimana posisinya hingga sekarang terutama ketika di dudukkan ke dalam format ideologi pembangunan di tanah air dan  masyarakat kapitalisme global.

Yang paling menarik dari itu, demi menguatkan tesisnya, Ridha menggunakan pendekatan studi ekonomi politik khas Marxian melalui dedah teori ruang yang diperkenalkan seorang Marxis Henri Lefebvre dan David Harvey di dalam melihat jalan raya.

Melalui pendakuan-pendakuan teoritik kedua tokoh inilah, Ridha meneropong  jalan raya dari sisi ekonomi-politik dalam struktur kepentingan kapitalisme global.

Jalan raya dalam imajinasi kapitalisme

Untuk mengemukakan penjelasan dari pernyataan di atas, Ridho memperjelasnya dari pendakuan konsepsional Hendri Lefebvre berkaitan dengan ruang. Bagi Lefebvre, jalan raya sebagai ruang tidak sekadar hanya sebagai spasio-temporal yang sangat harfiah dan tidak memiliki sangkut pautnya dengan representasi struktur sosial tertentu.

Menurut Lefebvre, seperti dikemukakan Ridho, ruang dalam hal ini jalan raya adalah medan yang sudah sebelumnya dikonstruksi elit masyarakat tertentu. (hal.24)

Dalam hal ini kontruksi jalan raya tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan-pertanyaan Ridha untuk menguji keberadaan jalan raya dari sisi politisnya, semisal yang berkaitan dengan siapa yang mengkontruksi jalan raya? Bagaimana ia diproduksi? Apa yang ingin ditunjukkan di atasnya? Untuk apa jalan raya dibangun? Siapa yang diuntungkan dari pembangunan jalan raya, dan siapa yang dirugikan? (hal.23)

Dengan kata lain, konsepsi ruang dalam hal ini juga adalah  jalan raya senantiasa berkaitan dengan eksposisi-eksposisi yang diajukan pertanyaan kritis Ridha di atas.

Sebagaimana dijelaskan menurut logika Lefebvre,  dalam masyarakat kapitalis jalan raya menjadi begitu sentral untuk menjalankan suatu pendekatan yang memeragakan tindakan produksi sekaligus menjadi arena bagi subjek tertentu menjalankan dominasinya.

Jalan raya dalam hal ini tidak terhindarkan dari praktik-praktik representasi melalui beragam subjek yang berbaur di dalamnya. Dia menjadi arena pertarungan untuk mengukuhkan suatu kecenderungan dominasi atas posisi kelas tertentu.

“Masalah terbesarnya adalah representasi ruang elit terlalu mendominasi praktik spasial dan ruang representasional sehari-hari” (hal.25)

Mengikuti pemikiran Lefebvre, dalam struktur dan praktik sosialnya, jalan raya senantiasa dihadirkan berdasarkan logika ruang kelas pemodal demi efisiensi dan efektifitas produksinya. Dalam hal ini ruang atau jalan raya didudukkan berdasarkan kebutuhan kelas pemodal dengan pertimbangan jalan raya mesti memudahkan sirkulasi dan peredaran komoditi, dan bahkan menjadi ruang produksi itu sendiri.

Namun bagaimana sebenarnya ruang atau jalan raya berperan menjadi seperti yang dikatakan di atas sebagai “pembuluh saraf” yang menghubungkan pelbagai titik-titik sumber daya untuk mensirkulasikan pergerakan komoditas dan modal?

Di sinilah peran penjelasan David Harvey dikemukakan mengenai apa yang disebut dengan ekonomi ruang (space economy) dan spatio temporal –fixed. Kedua konsep ini pada dasarnya merujuk kepada strategi kapitalisme  untuk mengektifkan dan mengefesienkan kerja produksi dan sirkulasi komoditi  sekaligus memperluas cakupan dan modus operasionalnya demi menunda krisis yang terjadi dalam dirinya. Hal ini dilakukan dengan pergerakan menemukan dan membuka ruang baru agar terjadi perluasan dan peningkatan surplus modal dapat terus terjadi.

Dua konsep kunci inilah yang menjelaskan mengapa kapitalisme dengan cepat dapat memperluas cakupan pasar dan investasinya kepada proyek-proyek jangka panjang melalui pembangunan-pembangunan infrastruktur berskala global.

Seperti dikemukakan Ridha “di Jawa masa kolonial hingga orde baru ketika jalan berperan khusus memberikan suatu model kompresi ruang dan waktu. Jalan raya pos mengurangi waktu tempuh dan Batavia ke Surabaya yang tadinya bulanan menjadi hanya seminggu, begitu juga jaringan kereta api di Jawa yang menyebabkan pergerakan barang dan orang semakin cepat dari sebelumnya” (hal. 32)

Yang tersingkir dari pembangunan Infrastruktur

Secara kasat mata, di mana pun terjadi perluasan pembangunan infrastruktur, di situ dengan gamblang terjadi juga aktivitas penyingkiran bagi masyarakat sekitar. Pemandangan ini jamak ditemukan di bukan saja di kota-kota besar, melainkan ikut merembes ke wilayah pedalaman sesuai kebutuhan investasi pembangunan.

Menurut liputan Tirto.id tertanggal 24 November 2016 di bawah rezim Jokowi-JK  saat ini tercatat tujuh kasus yang ditimbulkan akibat pembangunan infratruktur berskala nasional.  Dimulai dari proyek pembangunan jalan tol di Kuala Namu, Sumatera Utara, Pembangunan PLTA Waduk Cirata di Purwakarta Jawa Barat, Bandara Internasional di Yogyakarta,  Pembangkit listrik panas bumi di NTT,  Perluasan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, hingga pembangunan BandaraDominique Edward Osok, Sorong Papua.

Sementara Berdasarkan Perpres Nomor 58 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, tercatat ada 248 proyek infrastruktur strategis nasional di berbagai wilayah Indonesia mulai dari jalan tol, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, rusun, kilang minyak, Terminal LPG, SPAM, bendungan dan irigasi, peningkatan jangkauan broadband, techno park, Kawasan Ekonomi Khusus, smalter, dan pembangkit listrik.

Tidak sedikit dari pembangunan infrastruktur berskala nasional di atas menimbulkan banyak korban. Sudah barang pasti proyek pembangunan infrastruktur  di atas banyak mengubah lanskap kehidupan sosial-ekonomi-budaya masayarakat setempat. Bukan saja kehilangan nyawa, tempat tinggal, lapangan pekerjaan, melainkan juga kebiasaan-kebiasaan yang menjadi tradisi dan dasar interaksi masyarakat di dalamnya.

***

AWALNYA seperti dikatakan Ridha buku ini akan diberi judul “Merebut Kembali Jalan Raya Studi Ekonomi Politik”, namun setelah diberikan usulan oleh Eko Prasetyo buku ini sampai ke hadapan pembaca dengan judul cukup menantang: “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik”. Dengan melihat perubahan itu buku ini memiliki motivasi bukan saja sekadar hanya menjadi “imajinasi bagi pembaca”, seperti disebutkan Ridha dalam kata pengantarnya, melainkan sebenarnya sebuah kritik bagi ideologi pembangunan yang dianut pemerintah saat ini.

Itulah sebabnya, barangkali buku ini terkhusus ditujukan kepada mahasiswa, elemen sosial yang paling politis menggunakan jalan raya. Elemen gerakan mahasiswa seperti diketahui, seringkali menggunakan jalan raya sebagai medan terbuka melancarkan kritik-kritiknya terhadap rezim pemerintahan yang dinilai tidak adil dan demokratis.

Memang bagi kelas masyarakat tertentu, aktivitas politik mahasiswa di jalan raya ketika melakukan hajatan aksi demonstrasi, dianggap mengganggu laju lalu lalang sirkulasi transportasi. Ketika mahasiswa turun ke jalan sebagai satuan gerakan, waktu dan ruang gerak bagi pengguna jalan banyak tersita dan terbuang percuma. Karena inilah, acap kali mahasiswa dengan tradisi berlawanan demikian dinilai negatif dan terbelakang.

Namun, ketika pandangan negatif semacam selama ini dikembalikan kepada dalil teoritik dalam buku ini berkaitan dengan jalan raya sebagai ruang konstestasi dalam semesta kepentingan kapitalisme global, keresahan-keresahan berkaitan dengan aktivisme mahasiswa di jalan raya dengan sendirinya akan tertolak.

Di akhir-akhir bagian buku ini juga akan kelihatan dengan terang “semangat awal” dari Ridha ketika meletakkan keperpihakkannya kepada aktivisme kritis mahasiswa yang kerap menjadikan ruang publik sebagai medan pergerakannya. “…tepat pada logika semacam inilah tulisan  ini ingin menjadi pembelaan bagi seluruh aksi-aksi jalanan yang dilakukan oleh kaum miskin, mahasiswa dan elemen sosial lainnya yang merasa bahwa jalan bisa menjadi ruang untuk mempertaruhkan hidup dan masa depan kehidupan mereka”.

Akhirnya, buku ini –sekali lagi—patut diapresiasi tinggi disebabkan memberikan analisis mendalam tentang kedudukan jalan raya di dalam semesta kapitalisme global. Juga  seperti ujaran Martin Suryajaya, buku ini menambah daftar tematik di dalam mendalami kajian-kajian tentang aktivitas produkis kapitalisme yang hanya berfokus di ranah kerja dan produksi belaka.

Data buku:

Judul Buku                : Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik

Penulis                        : Muhammad Ridha

Penerbit                      : Carabaca Makassar dan Social Movement Institute Yogyakarta

Tahun terbit               : Agustus 2018

Tebal halaman           : XXIII + 156 halaman.

Buku dan Puisi; Ziarah Terpanjang Saifuddin Almughniy

Judul          : Cinta dan Nyanyian Hujan (antologi puisi)

Penulis        : Saifuddin Almughniy

Penerbit      : Meja Tamu

Cetakan      : Pertama, Mei 2017

Tebal          : xxx + 160 Halaman

Saat aku berjumpa cinta saat itu juga aku tak bertemu cinta, saat aku memahami cinta saat itu juga aku tak mengerti cinta, saat cinta menyapamu seketika itu engkau tak mengenal dirimu, engkau telah mengubur diri karena yang tumbuh tenyata hanyalah dia.  Sejak itulah aku tak membutuhkan rindu karena dirimu tak lagi berjarak denganku.

(Sopian Tamrin)

Apa yang lebih jujur, halus tetapi kuat dan tajam, lebih dari puisi? Barangkali tak ada, petuah-petuah bijak bahkan kitab-kitab suci datang dengan kalimat yang sangat puitis. Itu menjadi penanda bahwa puisi adalah ruh yang menghidupkan peristiwa bahkan peradaban. Ia menjadi monumen peringatan juga kenangan di sepanjang sejarah peradaban manusia.

Secara sederhana puisi merupakan ekspresi kreatif atau renungan seorang terhadap sebuah peristiwa. Puisi menjadi media mengekspresikan ide-ide pencerahan dan pembaruan. Di sana  kejujuran, maksud baik, refleksi diabadikan.

Para penyair—walaupun saya yakin Saifuddin Almughniy tak pernah berharap disebut penyair—selalu punya caranya sendiri dalam menyampaikan kemarahan, kerinduan, kegelisahan atau pikiran-pikirannya. Mirip-mirip dengan para nabi, pertapa atau para sufi. Ada kekhasan tersendiri bagi mereka dalam memaknai hal-hal yang ditemuinya di setiap lorong-lorong kehidupan. Demikian halnya dengan Saifuddin Almughniy—Penulis buku ini—dalam melukiskan relung-relung keresahan dan kerinduannya.

Cinta dan Nyanyian Hujan. Sebuah buku dengan kejernihan makna dan kedalaman permenungannya; tentang cinta, kepergian dan kesetiaan. Barangkali sulit bagi kita untuk percaya bahwa 129 puisi dalam buku tersebut ditulis hanya dalam waktu 12 hari. Rasa-rasanya memang sulit untuk mempercayainya, bagaimana bisa ia ditulis hanya dalam tempo yang sesingkat itu. Tapi percayalah, puisi tersebut benar-benar dituliskan hanya dalam 12 hari. Kalau tidak percaya, bacalah buku tersebut, lalu temuilah penulisnya dan berbincanglah dengannya.

Sebetulnya, buku tersebut merupakan saripati atau ruh dari novelnya yang juga di tahun ini akan terbit “Memungut Cinta Di Atas Sajadah”, yang ia tuliskan lebih dari enam tahun. Berkebalikan dengan buku puisi ini, yang begitu singkat. Buku ini adalah buku yang ke 22-nya. Sekalipun bukan kali pertama menulis puisi, tetapi buku ini terasa begitu spesial, sebab dialamatkan untuk dua perempuan yang disebutnya sebagai ibu; ibu baginya dan ibu bagi kedua anaknya. Buku ini tentu saja berisi demonstrasi patahan-patahan perasaannya, tentang dua orang perempuan yang begitu banyak mempengaruhi arah sejarah kehidupannya. Anda tahu, perempuan tersebut pergi mengabadi tepat di jam, tanggal dan hari yang sama, hanya berbeda tahun. Suatu peristiwa yang sangat muskil untuk disebut sekadar kebetulan.

Buku Cinta dan Nyanyian Hujan karya Saifuddin Almughniy ini sepertinya ingin menjelaskan lika-liku perjalanan cintanya. Buku ini menjadi tugu dari serangkaian perjalanan yang telah disusurinya. Ia monumen ingatan, pusara keabadian kisahnya. Puisi-puisinya dalam buku tersebut memanifestasi patahan-patahan dari penghayatan dan permenungannyayang begitu reflektif—baik sebagai anak dari seorang perempuan yang disebutnya ibu, maupun sebagai suami dari perempuan yang dipanggilnya kekasih atau ibu anak-anaknya—dalam memotret peristiwa agung antara seorang lelaki dengan dua perempuan yang ia sangat hormati dan kasihi. Terutama kejernihan dan kearifannya dalam mengemas dialog dan laku spritual, sosial dan intelektual ibunya dan ibu dari anak-anaknya, dalam diksi ataupun bait-baitnya yang maknawi.

Buku ini bagi para perindu atau pecinta kesejatian tentu sangat mungkin untuk dijadikan kitab suci, tentu bukan dalam pengertian “pengganti ayat-ayat ilahi”, tetapi dalam pengertian hikmah atau pelajaran. Sekalipun tema-tema yang disajikan dalam buku ini barangkali sudah akrab dengan telinga dan pikiran kita, tetapi ada hal yang khas dari buku ini. Setidaknya buku ini dalam menggambarkan maknanya selalu menggunakan pendekatannya yang sangat reflektif dan kontemplatif. Di situlah salah satu kelebihan dari penulis buku ini, mampu menyajikan beragam dialog dengan bahasa yang cair, komunikatif, dan sangat piawai menempatkan diksi-diksi yang reflektif dalam setiap bait-bait syairnya.

Pada intinya, syair yang ada dalam buku ini mesti dibaca dengan cinta, di mana hati sedang dalam kondisi bersukacita. Tanpa kondisi sukacitakita akan membaca syair-syair tersebut seperti membaca buku biasa, yang mana setiap katanya berlalu begitu saja. Padahal dalam setiap syairnya, ada serangkaian peristiwa, setumpuk makna yang penulis hendak sampaikan.

Orang Miskin Dilarang Kuliah

Judul Buku     : Kuliah Kok Mahal? (Pengantar Kritis Memahami Privatisasi,  Komersialisasi dan Liberalisasi Pendidikan Tinggi)

Penulis            : Panji Mulkillah Ahmad

Penerbit          : Best Line Press

Cetakan          : Pertama, April 2018

Tebal               : vii + 251 Halaman/SC/Book Paper

 

“Pasar dan penjara, mahal dan fasis” barangkali itu kata yang tepat untuk menggambarkan isi buku “Kuliah Kok Mahal?” ini. Buku ini ditulis oleh Panji Mulkillah Ahmad. Di dalamnya mengulas praktik pendidikan tinggi yang menurut Panji semakin disorientasi, mulai dari biaya kuliah yang kian mahal, penyalahgunaan anggaran pendidikan, birokrasi kampus yang makin tidak demokratis, kurikulum yang berorientasi pasar, maraknya pungutan liar, kekerasan akademik serta setumpuk persoalan-persoalan lainnya. Tema-tema seperti UKT, PTN-BH, UU Dikti, kredit pendidikan, liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi pendidikan tinggi  sampai pada wacana gerakan massa diulas secara detail.

Buku ini bagi penulisnya didedikasikan untuk siapapun terutama mereka yang selama ini menjadi korban dari maling-maling berdasi di institusi pemerintahan dan institusi pendidikan. Buku ini mengupas habis tentang mahalnya pendidikan tinggi di negeri ini. Mencari kuliah murah apalagi berkualitas di republik ini rasa-rasanya sulit sekali, seperti mencari jarum dalam timbunan jerami. Semua hal dikenakan biaya, tentu dengan beban biaya yang cukup besar, ditambah lagi pungutan-pungutan liar tambahan. Hal ini menyebabkan hanya mereka yang kaya saja yang berkesempatan untuk mengakses pendidikan tinggi.

Tak hanya itu, persoalan pokok lain yaitu pengambil kebijakan tidak sensitif untuk segera merespon mahalnya biaya pendidikan, banyak kampus yang statusnya negeri tapi malah dikelola seperti perguruan tinggi swasta. Kalau negeri saja nasibnya seperti demikian, bagaimana dengan kampus-kampus swasta. Prakteknya kita menemukan fakta bahwa ada banyak perguruan tinggi yang diswastanisasi karena malasnya pemerintah mengambil peran. Buktinya bisa kita lihat pada politik hukum pemerintah yang lebih memprioritaskan APBN ke pertahanan keamanan dan infrastruktur daripada ke sektor pendidikan. Seolah-olah kita dibawa untuk kembali ke jaman rimba, yang kuat yang menang.

Sepuluh tahun terakhir, gelombang protes atas kebijakan-kebijakan pendidikan tinggi semakin masif. Hal ini seiring dengan biaya kuliah yang meningkat lebih dari 10 kali lipat selama beberapa tahun terakhir. Tentu mahalnya biaya kuliah akan sangat menghambat kemajuan generasi muda Indonesia dalam membangun bangsanya. Hal ini terbukti dari mayoritas angkatan kerja Indonesia merupakan lulusan SD dan SMP, sedangkan yang merupakan lulusan sarjana dan diploma hanya 11 persen saja. Cukup jauh dari negara tetangga seperti Malaysia yang sarjana dan diplomanya mencapai 24 persen, ataupun Singapura yang mencapai 29 persen dari angkatan kerja di negerinya. Dengan riwayat pendidikan formal yang rendah, banyak generasi muda Indonesia terserap di industri sebagai buruh murah dengan hubungan kerja yang tidak adil seperti outsourcing dan kontrak berkepanjangan, maupun sebagai buruh migran di luar negeri yang minim perlindungan.

Secara global, keadaan pendidikan amatlah memprihatinkan. Pendidikan berubah  menjadi proses dehumanisasi, dimana orang kehilangan kemanusiaannya justru dengan belajar untuk mengembangkan dirinya. Inilah ironi pendidikan terbesar di abad 21. Tak heran jika Noam Chomsky, menulis di dalam bukunya yang berjudul Class Warfare, bahwa pendidikan justru membunuh kecerdasan, kepekaan moral dan kebahagiaan yang merupakan tiga ciri utama kemanusiaan. Kalau kita analisis lebih dalam sepertinya praktek liberalisasi pendidikan di Indonesia jauh melebihi negara-negara yang mengaku menganut sistem liberal sekalipun di Eropa dan Amerika. Akibatnya sekolah-sekolah, kampus-kampus hanya menghasilkan mesin pekerja tanpa peduli apa potensi Anda sebenarnya. Di dalam proses itu, soal-soal yang amat penting, seperti pendidikan kemanusiaan, kepedulian sosial dan pendidikan nilai, justru sama sekali diabaikan.

Membaca buku ini, kita akan sampai pada kesimpulan sederhana bahwa sebetulnya pendidikan kita belum benar-benar menjalankan mandat konstitusi, sebab faktanya kita masih merasakan pendidikan terjebak dalam penjara-penjara feodalisme dan kapitalisme. Pertama adalah minimnya sarana dan prasarana. Kedua, ketimpangan akses bagi warga negara. Ketiga rendahnya kualitas tenaga pendidik dan kependidikan. Dan keempat kurikulum pendidikan yang bongkar pasang dan seringkali salah memilih paradigma pendidikan yang tepat.

Padahal Indonesia adalah negara yang punya cita-cita mulia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara yang melindungi warganya, termasuk dalam hal menjamin pemenuhan hak atas pendidikan. Negara mengupayakan pembebasan anak didik dari kemiskinan serta kebodohan, mendewasakan di dalam berpikir (rasional) dan bertindak (bertanggung jawab), serta membuatnya sadar akan situasi diri maupun masyarakatnya. Tetapi dalam kenyataannya, pendidikan diperlakukan seperti komoditas yang diperdagangkan (baca bab xvi). Apa yang membuat pendidikan seperti seolah diperdagangkan? Apakah mungkin pendidikan dapat dijadikan barang dagangan? Kenapa kuliah semakin mahal? Apa yang bisa dilakukan? Buku ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Buku ini tidak hanya asal menghujat mahalnya pendidikan di Indonesia, namun juga dilengkapi dengan data-data konkrit dan berita-berita nyata. Buku ini mengajak kita tertawa, dan di saat yang sama kritis melihat dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Buku ini layak dijadikan referensi sebagai evaluasi bagi kita bagaimana kondisi kehidupan pendidikan di republik Indonesia, juga renungan bagi para pengambil kebijakan, para pendidik, para aktivis mahasiswa dan semuannya yang menginginkan negeri adil makmur dan damai serta pendidikan yang menghasilkan sumberdaya berkualitas dan cerdas.

Melalui buku ini, kita dapat ikut merasakan bagaimana pilunya hati tak dapat menimba ilmu karena tak memiliki uang. Begitulah buku banyak bercerita, buku ini meneriakkan kembali suara protes untuk mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang bobrok menghasilkan lulusan yang juga bobrok, lemah, bodoh dan tak bermoral. Buku ini menjadi nyanyian yang mengingatkan bahwa kuliah harus murah dan juga membangkitkan kembali sebuah mimpi kuliah ideal bahwa pendidikan harus murah bahkan gratis, ilmiah, demokratis, mengabdi pada rakyat dan kemanusiaan. Alasan konstitusional mengapa kuliah harus murah, adalah bunyi amandemen UUD 1945 yang mewajibkan kuliah bisa menampung semua warga. Karenanya, kuliah memang perlu murah agar bisa menyedot semua orang.

Lalu apa solusi yang ditawarkan oleh buku ini ? dihalaman 210 pertanyaan itu terjawab. Sebagai penutup, saya mengajak anda dan kita semua untuk membaca buku ini.

 


sumber gambar: twitter.com/panjimulki

Calabai dan Muara Bissu

Calabai adalah sisi lain dari “wajah masyarakat”. Ia merupakan identitas yang dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan yang memiliki perilaku, sikap, yang berbeda dan tidak sejalan dengan wujud fisiknya sebagai perempuan atau laki-laki pada umumnya. Pun sebagaimana teori gender mengkonstruksikan kedua jenis kelamin ini. Calabai melabrak konstruksi tersebut. Sosok Calabai, sebagaimana Pepi Al-Bayquni telah mengemasnya dengan begitu apik dalam sebuah novelnya yang berjudul Calabai; Perempuan dalam Tubuh Lelaki, atau dalam kalimatnya yang lebih menohok, jiwa perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki. Novel tersebut dengan detail menggambarkan lika liku kehidupan para calabai, terkhusus kepada mereka yang berada di kampung Segeri, Pangkep Sulawesi Selatan.

Sebagai identitas kedirian, calabai bisa merujuk secara personal maupun kelompok, di mana kehadirannya tidak jarang menimbulkan asap bumerang bagi penganut agama Islam tertentu. Betapa tidak, kehadiran mereka kerap dipahami sebagai orang yang melanggar fitrah ciptaan Tuhan, yang hanya menciptakan dua jenis kelamin yakni lelaki dan perempuan, dengan sifat dan ciri khas yang berbeda. Lalu, bagaimana mungkin kehadiran seseorang di luar dari jalur ini bisa ada dan diterima? Setidaknya pertanyaan inilah yang menjadi awal pro dan kontra penerimaan atas eksistensi calabai. Hal ini juga menjadi bagian penting yang disinggung Pepi dalam alur cerita novelnya, di mana Kiyai Kusen dihadirkan sebagai sosok tokoh Islam dalam novel tersebut. Kiyai Kusen memberikan penjelasan berbeda dari apa yang selama ini didapatkan oleh para calabai, melalui ceramah agama tentang diri mereka yang kerap menimbulkan angkara murka.

Melalui Kiyai Kusen, para calabai mendapatkan angin segar dan ceramah meneduhkan. Sebuah penjelasan yang akan membuka cakrawala berfikir para pembaca, melalui metode dialog yang produktif dan argumentasi rasional. Dalam dialog tersebut tidak ada kesan penghakiman secara sepihak, tapi justru tuntunan yang mencerahkan dengan meletakkan pandangan Islam yang ramah, yang mampu mendialogkan situasi dengan sifat merangkul. Demikian, Kiyai Kusen menjadi representasi tokoh Islam yang bijaksana dan mencerahkan, dengan meletakkan persoalan calabai dari sudut pandang yang berbeda. Output yang diperoleh pun berupa respon positif dalam menanggapi eksistensi calabai.  Pada perbincangan calabai ini, agama dihadirkan melalui pandangan yang terbelah. Maka benarlah analisa sang sosiolog kontemporer, Robert K.Merton melalui analisa fungsionalnya tentang agama. Merton mengemukakan agama mampu mempertinggi tingkat kohesi suatu masyarakat, dan di lain sisi agama memiliki konsekuensi disintegratif.

Calabai dalam pandangan sebagian penganut agama Islam, di satu sisi menganggapkannya sebagai makhluk yang dilaknat Tuhan, sehingga kehadirannya hanya akan mendatangkan musibah. Pandangan ini memiliki kecenderungan dalam penarikan kesimpulan yang tergesa-gesa, dengan menyandarkan dalil-dalil penafsiran ayat al-quran dan hadis secara tekstual. Jika ditilik pandangan ini memiliki konsekuensi disintegratif. Di sisi lain, sebagian penganut agama Islam pula memandang calabai melalui penelaahan yang lebih mendalam akan seluk beluknya, dan tidak hanya menyandarkan penelaahan secara tekstual pada tafsiran ayat-ayat al-quran dan hadis. Sehingga pandangan berbeda pun timbul terkait keberadaan calabai. Melalui pandangan ini kran kemungkinan diberikannya apresiasi dan penghargaan akan eksistensinya sebagai ciptaan Tuhan terbuka lebar, bagi calabai yang pada dasarnya sejak lahir telah diberikan kecenderungan naluri atau jiwa yang berbeda dari manusia pada umumnya. Karena pada dasarnya kecenderungan naluri dan kejiwaan yang dibawa sejak lahir adalah di luar dari kehendak mereka. Pandangan ini, memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam menarik kesimpulan serta penelusuran yang mendalam terhadap kehadiran calabai. Pada posisi ini, pandangan penganut agama Islam tentang kehadiran calabai sangat potensial menciptakan kohesi suatu masyarakat.

Kehati-hatian dan penelusuran mendalam tersebut ditunjukkan dalam penjelasan Kiyai Kusen. Kiyai Kusen tidak hanya menyandarkan sudut pandangnya pada dalil-dalil penafsiran agama dan kekuatan penalarannya, tetapi juga mengawalinya dengan meluruskan pemahaman kita terlebih dahulu tentang calabai itu sendiri. Kiyai Kusen dalam dialognya membagi dua calabai atau waria, yakni ada yang dikenal banci tulen dan banci bikin-bikinan, sebagaimana Pepi pada alur cerita, sebelum tokoh Kiyai Kusen dihadirkan dalam novelnya, juga dengan terang mengungkapkan tiga tingkatan calabai, pertama disebut Calabai Tungkena Lino, mereka adalah laki-laki yang sejak kecil bersifat perempuan, tapi tidak genit. Kedua, Paccalabai, yakni Calabai yang genit. Ketiga, Calabai Kedo-Kedo, yakni lelaki tulen yang meniru-niru sifat perempuan. Berdasarkan pembagian ini, dapat dilihat kategori atau tingkatan calabai mana yang tidak dikehendaki agama Islam. Sehingga penghakiman dan pandangan yang menggeneralisir kehadiran calabai dapat dikatakan sebagai pemikiran yang keliru.

Berangkat dari pemahaman ketiga tingkatan calabai ini, Calabai Tungkena Lino dan Paccalabai dikatakan adalah calabai yang potensial menjadi bissu, dan yang paling potensial adalah Calabai Tunkena Lino. Bissu bermakna bersih, ia tidak memiliki nafsu yang berkobar-kobar untuk bersetubuh. Bissu melampaui jenis kelamin. Sebelum calabai ini menjadi bissu, mereka harus melewati beberapa tahap ujian, termasuk bagaimana mereka mengendalikan gairah birahi dan mendapatkan tanda-tanda dari Dewata. Bissu adalah penutur spiritual, pemangku ritual, dan terdapat bissu tertentu yang mendapatkan hidayah dalam kemampuan berbahasa Torilangi, bahasa yang diyakini sebagai bahasa Dewata. Pada zaman kerajaan mereka diberikan tugas penting dan posisi yang terhormat. Mereka diamanahkan untuk menjalankan acara adat di Bola Arajang, menjaga benda-benda pusaka kerajaan, dan pelaksana ritual Mappalili dalam kahidupan masyarakat bertani.

Hiruk pikuk kehidupan calabai hingga menemukan muara kehidupan bissu, terang diuraikan dalam novel Pepi. Mereka yang harus berhadapan dengan dua “wajah masyarakat” sebagai ruang tapak tilasnya. Sebagaimana yang dikatakan Bordieu, masyarakat sebagai ruang (spasial) yang berisi perbedaan-perbedaan dan di dalamnya terdapat berbagai hubungan sosial dominatif yang tersembunyi. Calabai adalah salah satu identitas yang menjadi aktor dalam hubungan sosial dominatif tersebut, dan mengambil bagian di arena diskriminatif.

Syahdan, bagaimana kita menyikapi perbedaan ini, bukankah dari beragam perbedaan yang mereka miliki, kita memiliki satu kesamaan hakiki dari segi kemanusiaan yang tidak bisa disangkal? Wallua’lam bissawab.

 

*Terbit sebelumnya di Harian Radar Makassar

 


sumber gambar: institup.com

Anne dan Getaran untuk Anak Bangsa

Nama Anne di Indonesia ini mungkin sudah banyak, tapi Anne dalam tulisan saya ini bukanlah Anne sebagaimana Anne yang biasa kita temui di tengah jalan, mal, pasar dan sekolah, tapi kemungkinan terdekatnya, sosoknya adalah imajinasi kita dan bagian dari diri kita yang terejawantahkan sebagai Anne. Saya pun tidak tahu seberapa banyak orang yang telah mengenal, berakrab-akrab dengannya, bahkan berasyik masyuk mengikuti perjalanan hidup dan sepak terjangnya. Sosok yang bagi saya agak misterius saat awal saya mencoba mengenalnya lebih dekat. Dialah Anne yang termaktub dalam Anne of Green Gables.

Anne of Green Gables disabdakan Lucy M.Montgomery sebagai novel yang mengangkat nilai-nilai kasih sayang, persahabatan, dan imajinasi. Anne dinobatkan sebagai aktor utama yang mengendalikan alur perjalanan Anne of Green Gables.Usianya yang masih sangat muda dengan pemikiran yang brilian dan karakter yang unik,  menjadi teka-teki bagi pembaca yang melahap kisahnya. Usianya yang masih sekitar 11 tahun dan pertemuan dengan orangtua angkatnya, menjadi awal kemekaran bunga-bunga kehidupannya yang memancar indah, walau sesekali harus diterpa badai.

Bagaimana tidak? Dia harus mengalami pertarungan batinnya, antara kegembiraannya menemukan orangtua yang mengangkatnya sebagai anak, dan memiliki rumah sendiri, dengan awal kehadirannya yang diam-diam tidak diinginkan oleh orangtua angkatnya, hanya karena keberadaan dirinya di rumah tersebut adalah hasil kesalahan. Anne menggantikan sosok anak lelaki dari panti asuhan yang menjadi awal pengharapan orantua angkatnya.

Anne dengan karakternya yang banyak bicara, memiliki pertanyaan ibarat “mata air”, semangat yang bergejolak, rasa penasaran yang membumbung pada hal-hal baru, dan imajinasi yang luas, awalnya menjadi kecemasan ibu angkatnya. Tapi siapa sangka, hanya dengan hitungan bulan, Anne bisa menarik simpati, dan memenangkan hati orangtua angkatnya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering keluar dari bibirnya terkadang menjadi bom bagi dirinya sendiri, tetapi diam-diam kecerewetannya menjadi buah kerinduan orangtuanya.

Kalimat yang sering diutarakan adalah kalimat yang melampui bahasa umurnya. Kerap pula bahasanya dikatakan sebagai bahasa canggih bagi teman-temannya, bahkan oleh orang yang lebih dewasa dari dirinya. Kata apa, mengapa, kapan, dan bagaimana selalu menjadi makhkota dalam ucapan yang keluar dari mulutnya. Imajinasinya yang luas melabrak batas-batas kebiasaan orang di sekitarnya, berbincang dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, air yang mengalir, dan benda mati di sekelilingnya membawa ia berselancar dengan riang tanpa batas.

Tapi bukankah ini suatu cara untuk menjalin kedekatan dengan alam? Tepatnya berdialog dengan alam, yang saat ini kerap diabaikan oleh orang dewasa dan orang-orang yang menggelari dirinya sebagai orang modern, di tengah pertumbuhan industri yang sangat pesat. Alam ditaklukkan dengan sedemikan rupa di bawah kekuasaan manusia.

Tapi Anne, sang gadis kecil Green Gables tidak hidup dalam lingkaran pemikiran manusia modern itu, mampu berdialog dengan alam di sekitarnya dengan penuh penghayatan. Ia begitu hidup dengan keragaman imajinasinya yang terus mengalir. Kegemarannya membaca buku, kesenangannya membantu, sikap tulus dan ketekunanya, serta kasih sayangnya, tidak hanya tercurah kepada orantuanya, tetapi kepada sahabat, rekan sekolahnya, dan orang-orang berjasa di sekitarnya, membuat ia menjadi anak yang dikagumi dan dihormati.

Hal yang dilakoni oleh Anne adalah hal yang saat ini jarang diperankan oleh anak era kiwari. Bahkan mungkin sebagian generasi digital saat ini menganggapnya sebagai peran yang aneh dan jauh dari kesan modern. Mereka begitu sesak diserbu perangkat digital. Orangtua, teman sebaya, dan orang-orang di sekitarnya selalu dilengkapi dengan gadget, akhirnya anak-anak pun tumbuh sebagai penikmat bahkan pecandu gadget.

Bagaimana tidak? Gadget begitu sangat memesona melalui kemudahannya dalam banyak hal, keseruannya melalui audio visual dan pengunaannya yang mudah, hanya gerakan jemari dan pandangan fokus tertuju pada layar gadget, maka di sanalah kesenangan dan kepuasan mereka temukan.

Ada hal menarik dan penting untuk diketahui melalui pertumbuhan anak di era modern ini, era di mana anak dilengkapi dengan kecanggihan teknologi. Salah satu analisa Yee-Jin Shin, seorang psikiater dan praktisi pendidikan anak terkemuka di Korea, yang mencengangkan bahwa kehadiran perangkat digital sangat potensial menyebabkan anak menjadi matang semu, mengalami gangguan kejiwaan, tidak bisa mengontrol emosi, dan terlihat antisosial.

Mereka tumbuh dengan jiwa yang hampa, yang mengenal kepuasaan sesaat bukan kebahagiaan. Hal yang sangat mengerikan bukan? Hal ini benar-benar menjadi tantangan berat bagi orang tua modern untuk mengendalikan kehadiran gadget di rumah dan di tangan buah hati, bukan justru sebaliknya. Beruntunglah Anne yang tidak berada di lingkungan demikian.

Lingkungan Anne adalah lingkungan yang begitu mengapresiasi keindahan dan kelestarian alam, lingkungan dengan didikan orangtua yang tidak serba instan, yang mengajarinya keterampilan, dan penuh kesabaran membimbing dan mengarahkan potensi yang dimilikinya. Kebijaksanaan orangtua angkatnya di antara detik-detik waktu yang berdetak, akhirnya mampu mendidik Anne untuk perlahan beradaptasi, mengelola kecerewetannya pada hal yang posistif dan mengenali karakternya serta memahami keadaan orang lain, sehingga ia tumbuh dengan sikap kepedulian sosial yang tinggi. Anne, sosok yang awalnya tidak diinginkan menjadi sosok yang begitu sangat disayangi dan dikagumi. Tidak hanya bagi orangtuanya, tetapi juga orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Demikian, novel ini sangat memikat hati saya. saya merasa kesepian ketika buku keduanya ini selesai saya baca dan buku selanjutnya belum berada di tangan saya. Akhirnya dengan penuh pengharapan dan penantian, waktu sedang menagajari saya bersabar untuk melamar satu seri sebelumnya dan 6 seri berikutnya. Novel berkualitas yang tak akan membuat anda rugi untuk memilikinya.

 

Njoto sebagai Sela

Literatur mengenai Njoto yang dapat diakses masihlah minim. Di antara yang sedikit itu, Majalah Tempo pernah menurunkan liputan seri tentang orang kiri di tahun 2009. Njoto adalah salah satunya. Setahun berselang barulah dibukukan.

_

Sepekan setelah peristiwa G30S, pada 6 Oktober 1965, Presiden Soekarno menggelar rapat Menteri Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Wakil Ketua II CC PKI, Njoto diberi kesempatan berbicara. Katanya: “PKI tidak bertanggung jawab atas peristiwa G30S. Kejadian itu adalah masalah internal Angkatan Darat.” Setelahnya, Soekarno menabalkan jika peristiwa itu hanyalah riak di tengah samudra.

Harian Rakjat masih terbit pada Sabtu, 2 Oktober 1965. Padahal sehari sebelumnya, Umar Wirahadikusumah, Panglima Komando Daerah Militer Jakarta melarang semua media terbit kecuali harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha.

Tak tanggung-tanggung, judul berita utama Harian Rakjat menuliskan: Letkol Untung, Komandan Bataljon Tjakrabirawa, Menjelamatkan Presiden dan RI dari Kup Dewan Jenderal. Ditambahkan pula judul kecil: Gerakan 30 September Semata-mata Gerakan dalam AD.

Dua tahun setelah Harian Rakjat terbit di tahun 1951, Njoto memimpin harian itu hingga tamat. Meski menjadi corong PKI, puisi Aidit pernah ditolak dimuat. Njoto punya pengaruh besar di harian itu sehingga belakang hari, Aidit memeraksai terbitan Kebudajaan Baru. Tak pelak, oleh militer, Harian Rakjat dianggap melawan.

Sejak tahun 1964, akibat konflik internal yang ditengarai sikap Njoto yang ingin menikah lagi dengan perempuan asal Rusia bernama Rita, ia kena skorsing dari partai dan jabatannya dicabut. Dengan fakta ini, Joesoef Ishak, Redaksi Harian Merdeka dan juga karib Njoto menganggap Njoto tidak terlibat dalam gerakan itu. Sekali rencana itu menjadi pembicaraan internal di orang-orang tertentu di elite PKI.

Itulah mengapa Njoto enteng saja menanggapi peristiwa G30S dan Harian Rakjat tetap terbit. Ia tetap meniup saksofon ketika prahara tengah memuncak. Kelak, sikap itu pula yang membuatnya lenyap di tengah kecamuk tragedi.

_

Sepetak riwayat Njoto di buku ini haruslah disadari sebagai bentuk liputan media dan bukan sebagai hasil penelitian sejarah dengan tingkat metode tertentu. Ditegaskan penanggung jawab liputan, Arif Zulkifli di pengantarnya: “…Kami sadar bahwa kami bukan sejarawan…”

PKI tetaplah isu sensitif meski kebebasan pers sudah lapang. Oleh Zulkifli ditegaskan kembali kalau jurnalisme kepiting sulit diterapkan yang harus berjalan hati-hati di tepi pantai lalu mundur jika capit mengenai kaki. “Dasar media menulis adalah kemenarikan suatu peristiwa. Di atas itu ada hak publik untuk tahu.” Tulisnya.

“Sejarah selalu memberikan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban, dan lebih dari satu jawaban untuk setiap pertanyaan,” ucap Amin Maalouf, Novelis Perancis kelahiran Lebanon. Memakai premis ini tentulah sejarah G30S adalah pertanyaan itu sendiri.

John Roosa, penulis buku Dalih Pembunuhan Massal dalam kolomnya di bagian akhir buku ini: Politbiro PKI, Njoto, dan G30S meragukan asumi tentara di bawah komando Soeharto yang menyebutkan kalau semua anggota PKI terlibat dalam penculikan dan pembunuhan enam jenderal.

“…Apakah itu berarti bahwa tiga juta anggota partai itu bertanggung jawab semua? Jelas tidak. G30S itu merupakan aksi konspirasi: ia diorganisasi secara rahasia…” tulisnya. Ditengarai memang hubungan Aidit dan Njoto merenggang. Soal Lekra, misalnya, sikap Aidit menghendaki Lekra dimerahkan sedangkan Njoto menampik.

Kedekatan Njoto dengan Soekarno juga menjadi benih konflik dingin di antara mereka. Sjam Kamaruzaman, Biro Khusus PKI yang bertugas merangkum perwira di tubuh militer. Dengan cara itulah Aidit lalu merumuskan teori revolusi yang bisa digelorakan dengan menguasai 30% tentara.

Sjam sendiri di kalangan PKI saat itu menjadi sosok misterius. Sukar diraba apakah ia berpihak ke PKI atau ke militer. Ketika ditangkap usai peristiwa G30S, ia mendapat perlakuan istimewa di tahanan. Kesaksian anaknya yang datang menjenguk menuturukan kalau bapaknya memiliki sekoper uang dan ia bebas mengambil berapa yang dibutuhkan.

Njoto yang dikenal multitalenta memang berbeda dengan petinggi PKI yang lain. Ia menyukai musik jaz dan klasik. Mengagumi Ernest Hemingway dan menolak film yang diharamkan kala itu yang bersumber dari novela Lelaki Tua dan Laut. Ketika Manifesto Kebudayaan dibekukan oleh Soekarno, ia tidak bersorak sebagaimana yang lain. Ia pula menginginkan agar Hamka tidak diperlakukan sedemikan buruk dalam polemik plagiat novel Tenggelamnnya van Dert Wijk.

Namun, pasca G30S, operasi sapu rata tak dapat ia hindari. Ia pun menyadari dan berusaha menyelamatkan keluarganya. Rumahnya di Jalan Malang Nomor 22 ditinggalkan. Istri dan anak-anaknya kemudian hidup dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain. Di tapak itulah ia terakhir menatap istri dan anaknya. Sebab selanjutnya tidak ada yang tahu lagi ia berada di mana. Malah, dua anaknya yang terakhir tak pernah menatap wajahnya.

_

Njoto sejak remaja sudah mahir memainkan alat musik gitar dan menggubah lagu yang kemudian dinyanyikan oleh adiknya. Terlahir dari pasangan Masalamah dan Raden Sosro Hartono, pengusaha batik ukir di Solo.

Rumah bapaknya sering dijadikan tempat diskusi para aktivis kemerdakaan, utamanya yang pernah dipenjara di Boven Digul. Bapaknya di posisi itu berperan sebagai penyandang dana bagi pergerakan. Karena itulah bapaknya pernah dipenjara oleh Belanda.

Karier politik Njoto dimulai dengan menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) ketika ia masih 16 tahun. Di Yogyakarta ia bertemu dengan Aidit dan Lukman, kelak menjadi trio merah yang melambungkan nama PKI sebagai partai yang disegani.

Ketiganya sudah masuk dalam jajaran CC PKI sebelum pecah peristiwa Madiun di tahun 1948. Pasca peristiwa itulah tokoh tua PKI digusur dan selanjutnya mereka bertiga yang bahu membahu menghidupkan kembali PKI.

_

Ulasan di buku ini sebagaimana dikatakan Zulkifli di akhir pengantarnya barulah sebagai makanan siap saji. Masih banyak pertanyaan yang menggelantung megenai sosok Njoto. Meski demikian, senarai makanan siap saji itu memberi sela sebelum memamah makanan inti.

Cakupan liputan masa kecil, aktivitas politik, dan perannya sebagai suami dan bapak dalam keluarganya menjadi pengantar memahami beragam sisi Njoto.

Selain mahir menulis puisi, esai, penerjemah, konseptor, pemimpin redaksi, orator, juga pandai memainkan gitar, akordion, piano, dan tentu saja saksofon. Tak heran jika Soekarno menyapanya “Dik” dan bukan “Bung”. Njoto pula yang menuliskan sejumlah isi pidato yang dibacakan Bung Karno.

Membaca Manusia Secara Filosofis tapi Puitis ala Nirwan Ahmad Arsuka

Percakapan dengan Semesta (PDS) adalah buku tipis. Sang pengarang, Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Gerakan Pustaka Bergerak, hanya meraciknya dari tiga esai yang kemudian menghasilkan 120 halaman belaka. Tapi yakinlah, buku ini begitu padat akan sajian diskursus. Para pembaca tidak hanya diajak menyelami tema-tema kebudayaan, tapi juga filsafat, sains, sejarah, yang diracik padu untuk membaca manusia. Manusia akan dilihat pada pertautannya dengan semesta (esai pertama), pertautannya dengan citra-citra foto (esai kedua), dan manusia yang ditafsirkan dalam sebuah karya sinema (esai ketiga). Pertautan-pertautan itulah yang sekaligus membuka tabir-tabir problem kemanusiaan.

Meski diskursus yang disajikan cukup padat, tapi kiranya tidak menjadi kendala bagi psikologi pembaca era kiwari, yang tentunya cepat bosan dengan bacaan-bacaan yang menguras pikiran, apalagi untuk pembaca pemula. Sebab yakinlah, Anda tak akan bosan dengan gaya menulis Nirwan yang begitu sastrawi. Sehingga ragam macam pembahasan filosofis di dalamnya menjadi indah untuk dibaca, sehingga dapat membuat orang betah menghabiskan setiap paragraf yang diracik dari paduan bahasa teknis-ilmiah dan puitik: perbincangan filosofis akhirnya ibarat menyelami teks-teks puisi.

Rekaman manusia itu sudah bisa kita temukan esai pertama PDS, “Percakapan dengan Semesta”, yang mengangkat tema mengenai bagaimana manusia memahami semesta, dan menceritakannya. Upaya memahami semesta itu, yang dalam buku ini sudah berlangsung sejak leluhur manusia mulai berimajinasi terhadap data-data pengalaman kesehariannya. Dan pada dinding padas itulah hasil memahami semesta—atau hasil percakapan dengan semesta dalam bahasa Nirwan— dinarasikan dalam bentuknya yang paling purba: melalui gambar-gambar imajinatif, dengan sentuhan teknologi lukis yang masih sederhana.

Kemudian waktu bergerak, diikuti pula dengan gerak vertikal kecerdasan manusia. Hingga manusia bisa sampai pada ekspresi memahami (percakapan dengan) semesta yang jauh melampaui usaha-usaha epistemik tradisional yang pernah ada. Ekspresi memahami paling mutakhir itulah yang dalam era kiwari dibilangkan sebagai pengetahuan ilmiah. Pengetahuan yang bagi Nirwan “berkembang menjadi bentuk percakapan tertinggi karena ia berusaha sepenuhnya menjadi dialog (hal.9)”. Dialog itu terjadi ketika teori ilmiah coba dikorespondensikan dengan kenyataan, dan akan bisa benar atau salah tergantung semesta menyepakati atau tidak (sesuai dengan realitas apa adanya atau malah melenceng).

Namun, percakapan dengan semesta ini, bukannya tidak melahirkan rasa cemas. Dari awalnya Nirwan menarasikan sejarah percakapan semesta-manusia dengan optimisme yang kuat, tetiba ia menunda optimisme itu pada refleksi era kiwari. Era yang bisa saja menjadi jalan buntu manusia untuk terus menerus mengembangkan dialog mutakhir dengan tatanan kosmik dan segala hamparan misterinya. ketakutan Nirwan ada pada kalangan akademisi yang hanya memuja gelar akademik, tapi begitu berjalan mundur dalam menarasikan semesta.

Ketakutan itu juga terletak pada masih menjamurnya pemujaan pada pandangan dunia tertutup: pandangan dunia yang bisa menjadi ancaman bagi perkembangan ilmu pengetahuan, yang menyaratkan keterbukaan untuk mengkritik, dikritik dan bereksperimen pada hal-hal yang baru. Dan kemunduran memahami semseta pada akhirnya ada pada kemampuan otak manusia itu sendiri, yang harus tunduk pada hantaman ombak informasi yang datang tiada henti. Masalahnya kemudian, “Luapan informasi yang datang dari segala penjuru mengepung manusia tidak dalam kuanta dan paket yang bisa dicerna. Agar bisa dicerna, arus informasi itu harus disederhanakan dan disesuaikan dengan daya cerna manusia: sejumlah informasi pun disingkirkan. Penyingkiran informasi itupun bisa bersifat temporer, juga permanen. Jika ia permanen, manusia dengan mudah melakukan kekerasan kognitif dengan mudah (hl.23),” begitulah ketika Nirwan menarasikan masa depan otak manusia yang kian murung. Penyesuaian informasi oleh daya cerna manusia akhirnya menjadi problem. Informasi yang ditelan kemudian banyak yang belum terbukti secara logis, kritis dan sesuai dengan kenyataan apa adanya, karena daya cerna otak manusia yang rendah hanya menginginkan informasi yang bisa langsung menentramkan, tanpa perlu dipikirkan matang-matang. Jika manusia pada keadaan epistemologis seperti itu, perbincangan pada semesta sukar untuk berkembang.

Di dua esai lainnya, Nirwan memulai perbincangan tentang manusia pada hal yang mungkin di kalangan awam begitu remeh-teme, tapi penting setelah dibedah secara filosofis: fotografi dan sinema. Untuk tema mengenai fotografi, Nirwan mencoba membedah pemikiran Susan Sontag dalam sebuah esai, “Susan Sontag: Citra-Waktu”. Pembahasan yang tidak melulu mendeskripsikan pemikiran filosofis Sontag mengenai fotografi, tapi juga berupaya mengkritiknya. Melalui esai inilah, Nirwan juga bergerak untuk membaca manusia pada relasinya dengan citra-citra fotografi. Fotografi ini, yang bagi Sontag memang sebagai mahakarya teknologis abad ini, tapi justru menjadi jalan buntu untuk menyelesaikan problem epistemologis dan etis dari manusia.

Fotografi memang bisa menguasai waktu, tapi tak bisa menguasai ruang: problem epistemologisnya terletak di sini. Yang tertangkap pada kamera hanyalah irisan kenyataan yang sukar menjadi medium untuk manusia menilai kenyataan itu secara apa adanya. Itu karena kehadiran separuh kenyataan dalam foto berarti ketersediaan informasi di dalamnya juga terbatas. Sementara problem etisnya adalah, fotografi dalam amatan Sontag, bukannya menjadi medium untuk menyelesaikan problem kemanusiaan (misalnya mengintervensi simpati manusia untuk revolusioner dengan melihat foto-foto bencana atau perang), citra foto malah membekukan keberpihakan manusia (berhadapan dengan gambar foto perang, misalnya, membuat manusia serasa tak berdaya, dan hanya bisa diam).

Nirwan bergerak melampaui amatan Sontag. Bukannya menyalahkan citra foto—seperti yang dilakukan Sontag—, Nirwan malah melihat problem itu pada manusia itu sendiri: pada kualitas daya cerna manusia saat berhadapan dengan kenyataan pada citra foto. Keterbatasan kognitif manusia inilah yang kerap membuatnya selalu lupa jika foto bukanlah visualisasi kenyataan yang utuh. Sementara problem etis yang disangka Sontag pada fotografi, Nirwan hanya mengatakan ini: “Bila benar bahwa limpahan citra penderitaan manusia akan membuat kebas mereka yang menatapnya, maka gelombang bantuan kemanusiaan pasca-tsunami dan gelombang bantuan bencana alam lainnya, tentunya tak akan terjadi. Awalnya, mereka yang menatap foto-foto dan rentetan bencana tsunami mungkin memang terpaku beku, tetapi kemudian mereka bergerak (hal. 51-52).”

Tentu, isi esai kedua dalam PDS tak sesederhana yang saya bilangkan itu. Esai ini diracik dengan sangat cerdas. Analisisnya sangat kuat dan mendalam dalam melihat diskursus fotografi Sontag yang banyak menyisakan problem filosofis itu. Tapi juga tak sepenuhnya menyalahkan Sontag. Pada beberapa hal, Nirwan bahkan mendukung pikiran-pikiran revolusioner pakar fotografi itu. Amatan dalam esai ini akhirnya terlihat bijak dalam menanggapi suatu diskursus. Meskipun memang, esai kedua ini akan rumit dipahami jika tak dibekali banyak kosakata teknis-ilmiah, dan ketakbiasaan membaca teks-teks analogi dan metafor: struktur teks dalam esai kedua ini seperti memaksa setiap orang memaksimalkan proses kognitifnya dalam memahami isinya.

Terakhir, pada esai yang ketiga, manusia coba direkam Nirwan dalam pertautannya dengan cita ideal dan semangat kepahlawanan dari film Hero Episode 2 dengan mengangkat judul esai, “Pedang dan Dunia ‘Hero’ Episode 2”. Film yang dianggap Nirwan sejak Hero Episode 1 “tak tuntas menggali pengertian arketipe tentang pahlawan dalam psike Timur (hal. 92).” Film ini, kata Nirwan, “mentok jadi propaganda bagi kediktatoran dan aneksasi, bagi paham legalisme yang mempromosikan kuatnya negara di depan masyarakat, yang dengan sistematis dilemahkan (hal.92).”

Model kepahlawanan dalam psike Timur yang belum tuntas digali dalam Hero 1, sepertinya tak bisa saya komentari lebih lanjut. Apakah yang dimaksud adalah, karena ia film dari Timur (Cina) maka hendaknya merepresentasikan citra kepahlawanan dalam kebudayaan Timur? Sebab memang, film ini bercerita banyak tentang kepahlawanan: bagaimana seorang manusia (4 pendekar), yang sudah jengah dengan kediktatoran penguasa, coba melakukan persekongkolan untuk membunuh sang Kaisar, dengan melakukan pengorbanan nyawa (atau dalam akhir film Hero 1, justru terjadi negosiasi dengan sang Kaisar untuk menjadi “tiang utama” terbentuknya kerukunan antar kerajaan, yang sebenarnya juga bisa dikata sebagai puncak kepahlawanan.). Tapi, apakah memang pesan kepahlawanan dalam film ini, tidak sepenuhnya mewedarkan perspektif kepahlawanan di belahan Timur?

Terlepas dari itu, dalam esai ini, Nirwan sebenarnya lebih memusatkan perhatiannya membedah nilai seni dan muatan sastra dalam struktur film Hero 2 (dan sesekali menyinggung Hero 1), mulai dari kualitas sinematorgafinya yang sangat memukau, hingga jalinan puisi yang menubuh pada setiap adegan dan tuturan para pelakon film. Hingga, pembacaan atas manusia lebih padat pada dua esai pertama ketimbang esai terakhir ini.

Namun, Nirwan pada esai ketiga ini tetap tidak meninggalkan gaya menulisnya yang khas: puitis dan filosofis. Bahkan, membaca esai ini, seperti membaca sebuah cerita pendek yang menceritakan huru-hara di belahan Cina di zaman kerajaan, dengan mengolah kembali kisah-kisah Hero 2 dalam bentuk teks.

Meriwayatkan Makassar dengan Literasi Kenangan Anging Mammiri

—Catatan atas buku Anging Mammiri, Jejak Makassar Tempo Dulu;  karangan Abdul Rasyid Idris

Seorang yang menulis sejarah pasti tahu,  ingatan adalah suatu yang mudah menguap. Begitu pendakuan Goenawan Mohamad di salah satu esainya di tahun 2012. Karena itulah, sejarah mesti diabadikan. Ditulis dan diriwayatkan. Mirip origami, ingatan sangat mudah dibentuk, disusun, dibelokkan, atau bahkan silap dihimpit memori yang lain.

Tapi, Abdul Rasyid Idris dalam Anging Mammiri tidak sedang menulis sejarah. Melalui literasi kenangan, Abdul Rasyid hanya sedang melahirkan saudara kembar sejarah. Sebagaimana pendakuan Alwy Rachman di pengantar buku ini, Abdul Rasyid bukan dalam kapasitas menandingi sejarah Makassar sebagai kota, melainkan berusaha melahirkan kembali suatu peristiwa subjektif di era kekinian melalui kekuatan ingatan.

Ingatan, dalam Anging Mammiri memang adalah kekuatan yang sebenarnya, yang berada di balik 76 esai Abdul Rasyid Idris. Sebagaimana rasio sebagai struktur esensial manusia yang menopang modernisme, ingatan dalam Anging Mammiri juga menjadi subtansi dari sehingga mengapa Makassar dalam buku ini patut diketahui orang-orang.

Makassar dalam sorot ingatan, apalagi dalam bingkai literasi kenangan Abdul Rasyid Idris, bukan Makassar hari ini yang kadung banyak diobjektifkan melalui wacana dan pemberitaan yang memenuhi ruang publik kita. Melainkan suatu dunia subjektif, yang melihat dari “depan” suatu peristiwa masa lalu dan sebelum beralih menjadi konten yang hampir politis.

Makassar dalam Anging Mammiri, hampir semuanya dibilangkan dengan cara menghidupkan “orang-orang kecil” yang mengitari kehidupan penulis di masa lalunya. Bersamaan dengan itu, momen terhadap lokasi-lokasi yang disebutkan dalam buku ini, menjadi lokasi “bersejarah” yang patut dipersoalkan, mengingat tempat-tempat itu telah banyak mengalami perubahan.

Makassar dalam alaf dalam ingatan

Makassar adalah kota yang selain dihuni dan dialami langsung, juga kota yang belum definitif. Dengan kata lain, Makassar merupakan kota yang sedang bergerak, kota yang dialiri perubahan terus-menerus. Melalui konteks ini, Makassar perlu dicermati.

Mencermati Makassar melalui teropong ingatan—seperti yang ditunjukkan Abdul Rasyid Idris—adalah geliat subjektif bagaimana sebuah kota ditangkap, dialami, dan diriwayatkan kembali setelah melewati pelbagai macam perubahan di dalamnya. Dengan kata lain, kota dalam ingatan merupakan suatu arus kesadaran yang hampir semua dipunyai penduduk di dalamnya. Pungkas ingatan melalui alaf waktu, yang diriwayatkan melalui tulisan, dengan ini adalah suatu cara bagaimana suatu kota, melalui ingatan penduduknya melakukan timbal balik pemaknaan untuk mengenali kembali dirinya.

Dalam Anging Mammiri, kota dalam ingatan, ditelusuri kembali melalui tiga perangkatnya: tokoh, waktu dan tempat. Melalui tiga elemen inilah, dari orang-orang seperti Daeng Torro, A Pui, Sang Guru, Tuan Manni, sampai Tanta Gode’, dapat menjadi jalan masuk mencandra kembali Makassar ketika berada di era 70-an. Begitu juga tempat-tempat semisal Pasar Butung, Pelabuhan Paotere, Pasar Senggol, Benteng Somba Opu—untuk menyebut beberapa di antaranya—menjadi situs-situs perkotaan yang dapat ditelusuri seperti apa dan bagaimana cara orang-orang Makassar dahulu menjalani kehidupannya sehari-hari.

Esai yang berjudul Kampung Antang, juga misalnya, merupakan sepercik sejarah bagaimana generasi masa kini dapat mengenali cerita di balik lokasi-lokasi yang memiliki nilai historis.  Begitu pula, penamaan Pasar Paotere, yang ditulis dengan judul yang sama, menjadi keping sejarah yang memotret bagaimana suatu kawasan kota awalnya dinamai berdasarkan aktivitas warga di dalamnya.

Pewarisan nilai-nilai

Maurice Halbwachs, seorang sosiolog sekaligus filsuf abad 20 pernah mengembangkan suatu penemuan ingatan yang bersifat subjektif, hakikatnya merupakan hasil panjang pergumulan interaksi masyarakat di dalamnya. Artinya, ingatan tidak mungkin bersifat individual melainkan hasil proses sosial yang melibatkan simbol-simbol kolektif. Di dalam konteks inilah, Anging Mammiri bukan sekadar ingatan subjektif penulisnya, tapi juga sebenarnya dapat ditarik menyentuh ingatan orang-orang yang mewakili Makassar tahun 80-an.

Tempat, lokasi, waktu, nama-nama jalan, warung kopi, terminal, pasar, areal pertokoan dlsb, yang diliterasikan melalui Anging Mammiri, sebagaimana dikatakan Maurice Halbwach, merupakan sarana ingatan bukan saja menjadi milik ingatan pribadi, tapi juga kepunyaan kolektif yang mewarisi nilai-nilai bersama agar terhindar dari kepunahan.

Sebagai pewarisan nilai-nilai melalui literasi, dalam konteks perubahan, Anging Mammiri bisa difungsikan sebagai pelengkap sejarah untuk mencipta ulang peristiwa masa lalu yang mengikutkan tempat-tempat, kejadian, waktu, dan moment peristiwa untuk menjadi dasar bagi masa kini, dan menjadi pijakan kepada masa depan yang lebih baik.

Walaupun Anging Mammiri bukan buku sejarah, dan dilihat dari proses kreatifnya yang dilahirkan dari dunia maya media sosial, merupakan suatu cara bagaimana kenangan dan teknologi dapat dipertemukan dan melahirkan input positif bagi generasi hari ini yang sulit lepas dari dunia digital. Cara Abdul Rasyid Idris, yang sudah menerbitkan dua buku sebelumnya, yang hampir semuanya lahir dan berbasis dunia digital, dengan sendirinya adalah jawaban bagaimana kenangan atas suatu kota, dapat dirawat dan diriwayatkan dengan memanfaatkan media sosial sebagai canvas pertamanya.