Arsip Kategori: Resensi Buku

Calabai

Kurang lebih tiga pekan saya menunggu, setelah melihat wajah cantiknya di media sosial kala itu. Hati saya langsung kepincut dan coba meminangnya. Barangkali masih ada kesempatan mempersunting atau paling tidak, menjadi sahabatnya. Ia berdarah Bugis-Makassar, tapi kini masih berada di pulau Jawa, saya berharap belajar banyak darinya. Malam 21 oktober, akhirnya ia tiba di pangkuan saya. Saya pun berkenalan lebih jauh dengannya.

Namanya Calabai, anak spiritual Pepi Al-Bayqunie. Bajunya (cover) sederhana, namun sangat elegan. Bagian depan berlatar putih, memperjelas kesan ketentraman. Gambar seorang lelaki dipilih sebagai gambar sampul. Lelaki yang berbalut pakaian adat, berwarna kuning keemasan ini, terlihat sedang khusyuk membaca kitab. Meski lelaki, citra perempuan tergambar jelas. Ini sering disebut masyarakat Bugis-Makassar sebagai calabai, lelaki berjiwa perempuan.

Calabai, novel berlatar belakang sejarah. Novel terbitan Javanica ini, memiliki ketebalan sekitar 3 cm, dan kurang lebih 385 halaman. Pepi Al-Bayqunie alias Saprillah penulisnya. Ia dilahirkan tanggal 10 Februari 1977 di Cappasolo, kecamatan Malangke, Luwu Utara. Lelaki yang sangat mencintai kebudayaan lokal ini, penulis novel yang aktif. Sejauh ini sudah empat novelnya diterbitkan, Tahajjud Sang Aktivis, Kasidah Maribeth, Jejak, dan si bungsu, Calabai.

Novel Calabai, sebenarnya mengulas perjalanan pemimpin bissu, Puang Matoa Saidi. Keberadaan Puang Matoa Saidi di masa kecilnya, ditolak ayahnya karena ia seorang calabai. Berbagai penderitaan dilaluinya, hingga memaksa Saidi merantau. Tekadnya melakukan perjalanan, bermula dari mimpi aneh yang memintanya menjemput takdirnya. Hingga akhirnya, Saidi bertemu daeng Maddenring yang mengangkatnya sebagai anak dan membawa Saidi ke Segeri. Di Segeri, Saidi berjumpa Puang Matoa Saena, pemimpin para Bissu. Sebuah pertemuan yang menghantarkan Saidi, memulai kehidupan baru meniti jalan menjadi seorang Bissu.

Calabai, dalam stigma sebagian masyarakat modern tidaklah terlalu baik. Mereka kadang dianggap sebagai pembawa sial. Ditambah lagi dogma agama yang mengatakan lelaki menyerupai perempuan ataupun sebaliknya, dilaknat Tuhan. Tidak cukup sangsi individual, agama pun melarang keras mendekati mereka. Dikatakan ibadah seseorang tidak diterima selama 40 hari 40 malam jika mendekati calabai atau waria. Maka tidaklah mengherankan, sebagian masyarakat memandang sebelah mata seorang calabai.

Pepi menjelaskan kepada masyarakat, Calabai adalah jiwa perempuan yang terperangkap tubuh lelaki-tubuh yang pemiliknya sendiri kerap gagap memahaminya. Calabai mengulik sisik-melik kehidupan Bissu, ahli waris adat dan tradisi luhur suku Bugis, yang dipercaya menjadi penghubung alam manusia dan alam Dewata. Bagi orang Bugis, dunia ini terdiri dari beberapa tingkatan, dunia atas (botting langik), dunia tengah (ale kawa), dan dunia bawah (peretiwi). Diceritakan, Datu Patoto dan Datu Palinge penghuni dunia atas, mengutus Batara Guru sebagai Tomanurung di Tanah Luwu. Batara Guru membentuk kehidupan baru di bumi, hingga akhirnya diturunkan Bissu ke dunia tengah. Bissu ditugaskan menjaga Arajang dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Selain itu diceritakan pula bagaimana Bissu bisa sampai ke Segeri, Pangkep.

Kelahiran novel Calabai, membawa angin segar bagi para calabai. Pepi Al-Bayqunie, melihat calabai dari sudut pandang kemanusiaan dan posisi sentral mereka dalam suku Bugis. Sebagai bagian sejarah yang senantiasa menjaga tradisi dan kearifan lokal. Calabai dan Bissu adalah jalan hidup, menjadi Bissu artinya menyerahkan jiwa raga, berbakti pada Dewata dan masyarakat. Bissu adalah calabai yang mendapat pammase Dewata, dan mampu mengendalikan hasratnya terhadap lelaki. Karenanya tidak semua calabai dapat menjadi Bissu, tetapi semua calabai terlahir sebagai manusia – sebagai lelaki dan perempuan sekaligus.

Mengintip Sejenak “Si Kyai Merah”

Judul: Pertarungan Islam dan Komunisme Melawan Kapitalisme: Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach
Penulis: Nor Hiqmah
Penerbit: Madani, 2011
Tebal: 113 halaman

“jangan takut, jangan khawatir”

  –Misbach

Siapa yang tidak mengenal Haji Misbach, mungkin banyak, mungkin juga sedikit. Tetapi itu bukan soal. Biarkan itu menjadi hipotesa sementara, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melihat dan mediskusikan sosok “Kyai Merah” seperti Haji Misbach ini. Sebelum kita lebih jauh menelisik sosok Haji Misbach, saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk menyatukan presepsi, bahwa setelah rezim  Orde Lama tumbang, dan digantikan oleh zaman Orde Baru, dalam hal ini rezim Soeharto,  hampir seluruh elemen masyarakat menjadi serba bungkam, terkhusus dalam mendiskusikan tokoh-tokoh terlarang, dan peristiwa- peristiwa kelam di masa lalu, baik itu peristiwa G30S/PKI sampai pemberontakan-pemberontakan awal sebelum meletusnya peristiwa 65.

Tetapi suatu kesyukuran bagi kita semua karena setelah Orde Baru runtuh, Kran demokrasi menjadi terbuka. Hal ini ditandai dengan banyaknya peluncuran buku-buku “kiri” dari Jawa khususnya di Yogyakarta, meskipun hal ini masih menjadi hal yang sensitif, tetapi setidaknya ruang-ruang  sejarah menjadi terbuka dan bisa kita dijadikan sebagai wacana dan diskusi-diskusi akademik. Maka dari itu pada kesempatan ini saya akan mencoba mereview  tulisan Nor Hikmah yang berjudul: Pertarungan Islam & Komunisme Melawan Kapitalisme : Teologi Pembebasan Kyai Kiri, Haji Misbach. Buku ini merupakan edisi perbaikan dari yang telah diterbitkan pertama kalinya. Saya mengaku tidak Sehebat Nor Hiqmah yang menulis khusus tentang Haji Misbach, tetapi setidaknya melalui tulisan ini sedikit banyak bisa menambah wawasan kita tentang sejarah, tokoh-tokoh yang berpengaruh di masa Haji Misbach.

 

Haji Misbach dan Sepak Terjangnya

Nor Hiqmah menulis tentang Haji Misbach, mencoba menampilkan sosok Haji Misbach sebagai tokoh propagandis sekaligus tokoh penggerak kaum muda Islam. Haji Misbach lahir pada tahun 1876 di Kauman Surakarta, dari keluarga pedagang batik yang sukses,  ketika masih kecil ia bernama Achmad, lalu setelah menikah ia berganti nama Darmodipromo, dan setelah menikah untuk yang terakhir kalinya ia berganti nama Mohammad Misbach yang sampai hari ini kita kenal dengan sebutan Haji Misbach sang “Kyai merah”, karena ia hidup dalam keluarga pejabat keagamaan kraton, dengan kondisi keuangan yang cukup, maka ia disekolahkan dalam pendidikan pesantren, perlu kita ingat bahwa di masanya tidak semua pribumi bisa berpendidikan, kecuali orang-orang dari kalangan pejabat, pengusaha kaya, meskipun nantinya telah di sediakan pendidikan untuk orang-orang golongan bawah, tetapi dengan kelas yang berbeda dengan para pejabat, pengusaha yang berada di golongan atas.  Menginjak dewasa ia sempat menggeluti usaha dagang batik higga sukses, dengan watak yang revolusioner dan senang berorganisasi maka akhirnya ia meninggalkan usahanya dan memilih  bergabung di IJB (Inlandsche Journalisten Bond) yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo pada tahun 1914 dan bergabung dengan Sarekat Islam, disingkat SI.

Sepak terjang Haji Misbach  dimulai pada tahun 1915 ketika ia menerbitkan surat kabar Medan Muslimin, kemudian pada tahun 1917 menerbitkan surat kabar Islam bergerak, yang nantinya akan menjadi media propaganda yang sangat berpengaruh menentang kolonialisme Belanda. Nor Hiqmah sering mengutip tulisan-tulisan Haji Misbach dari surat kabar. Melakukan propaganda melalui media membuatnya dikenal dan dihormati. tidak hanya itu Haji Misbach selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an untuk mendukung tulisan dan propagandanya. Pada tahun 1920 ia sudah terlibat dalam pemogokan-pemogokan di wilayah Klaten sampai akhirnya diseret ke pengadilan dan dipenjara. Pada tanggal 22 Agustus tahun 1922 ia kembali dibebaskan dari penjara Pekalongan, kemudian bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang bergerak untuk memperjuangkan hak-hak kemanusian, membela para buruh, petani-petani miskin dan melawan kolonialisme Belanda.

Sampai di sini kita bisa melihat bahwa wajar ketika setiap gagasan Haji Misbach selalu disertai dengan kutipan-kutipan ayat Al-Quran sebab ia berlatar belakang pendidikan pesantren, tetapi yang menarik nantinya adalah dia berusaha mempertemukan wajah Komunisme dan Islam dalam satu kesatuan yang sama sekali tidak bersebrangan, dalihnya, kesamaan misi yaitu misi kemanusiaan. Setelah ia bergabung dalam organisasi partai, dia menjadi propagandis yang lebih garang. Nor Hiqmah mengganggap Haji Misbach memilih bergabung dengan partai kiri sebab organisasi-organisasi Islam tidak mampu menampung aspirasi rakyat kecil. Menurutnya organisasi Islam seperti SI di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Muhammadiyah dianggap mandul dan lebih bersikap kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda. Sebaliknya organisasi komunislah yang mampu bersikap radikal dan anti kooperatif terhadap pemerintah kolonial.

 

Pecahnya SI dan Disiplin Partai

Salah satu hal yang melahirkan perpecahan dalam tubuh SI dimulai ketika Tjokroaminoto menetapkan aturan tentang disiplin partai, hal ini yang di tentang oleh Semaun, Tan Malaka, termasuk Haji Misbach, mereka menganggap SI yang dibawah pimpinan Tjokroaminoto bergerak dan mendukung langkah-langkah pemerintah. Selain itu, iuran dan anggaran yang diperoleh SI digunakan untuk keperluan pribadi,  hal ini yang disebut Haji Misbach kapitalis Islam. Evaluasi perpecahan dalam internal SI dilakukan pada tanggal 14 Maret 1923, tetapi gagal dan tidak membuahkan hasil, tidak hanya itu, banyaknya surat kabar yang  yang menentang sikap Cokro menjadi pengaruh bagi kepercayaan pengikutnya, Tjokroaminoto pun tidak mau kalah, menurutnya langkah yang diambil disebabkan karena SI sudah terlalu banyak mengakomodir kepentingan ISDV, yang nantinya berganti nama menjadi PKI.

Akhirnya SI pecah menjadi dua, (SI putih) dibawah pimpinan Tjokroaminoto dan (SI merah) dibawah pimpinan Semaun, SI yang di bawah oleh Tjokroaminoto dianggap lebih mengarah pada gerakan moral dan bersikap kooperatif terhadap pemerintah, sementara SI Semarang yang dibawah oleh Semaun bergeser ke sosialisme kiri.

Nor Hikqmah juga menjelaskan bagaimana ketakutan Tjokroaminoto terhadap orang-orang sosialis yang dia anggap mencoba merampas orang-orang SI, sehingga menjadi wajar Tjokroaminoto mengeluarkan kebijakan tentang adanya disiplin partai. Dan disamping itu Nor Hiqmah juga menuliskan bahwa perpecahan itu disebabkan karena politik kanalisasi (adu domba) yang dilakukan oleh Dirk Fock, Gubernur Jendral baru, salah satu usahanya adalah memperketat pengawasan Algemeene Rechercheichediennst (Dinas Intelejen Umum),  terhadap seluruh organisasi-organisasi pribumi.

 

Haji Misbach dan Ayat-ayat Propaganda

Setelah kemudian Haji Misbach menjadi pemimpin di Vostenlanden, mendirikan PKI dan memimpin rapat-rapat umum. Dengan pengawasan ketat yang dilakukan oleh Gubernur Jendral polisi lebih mudah menangkap gerakan politik Misbach, akhirnya pada tanggal 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Monokwari, sejak priode itu iya disebut sebagai tokoh komunis terkemuka. Seperti yang sebelumnya telah kita singgung, bahwa ia selalu mengutip ayat-ayat Al-Quran untuk melakukan aksi propagandanya, seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’uun ayat 1-7 yang artinya :

“Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,(yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. (Terjemahan Al-Qurannurkarim Surat Al-ma’uun Ayat 1-7 Oleh Yayasan Penyelenggara Penerjemah / Penafsir Al-Qur’an, 1971 ).

Selain itu Misbach juga orang-orang yang menggap Islam tidak hanya berbicara tentang spiritual semata tetapi, Islam juga berbicara tentang hak-hak kemanusiaan di muka bumi, Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran tentang keselamatan di akhirat, tetapi Islam juga mengajarkan bagaimana kita selamat di dunia, Misbach menyerukan kepada orang-orang untuk tidak takut dan ragu berperang melawan kapitalisme yang menghisap, menindas, dan menjadikan rakyat sengsara, seperti ayat yang dikutip Misbach:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, maupun anak-anak yang semuanya berdoa:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dhalim Penduduknya dan berilah kami perlindungan dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”. (Terjemahan Qur’an Surat (4) An Nisa’ Ayat 75, Departemen Agama RI 1993;131).

Misbach sebenarnya ingin menyampaikan bahwa agama Islam tidak hanya sekedar tampil sebagai doktrin spritual tetapi juga punya gagasan pembebasan. Semua agama sama menurutnya, yang membedakannya hanyalah nama dalam setiap kepemimpinan dan masa setiap Rasul yang membawa ajaran Tuhan dimuka bumi. Sintesis yang ditemukan Misbach adalah bahwa Islam dan komunisme menekan pada ajaran untuk melenyapkan kapitalisme, sebagai sumber kemiskinan dan kesengsaraan rakyat Hindia Belanda. Hal inilah yang menjadi dasar religiusitas yang dibangun dari akar sosial masyarakat pada waktu itu.

“Orang-orang yang mengaku dirinya Islam tapi menolak komunisme, saya berani katakan ia bukanlah Islam sejati”. Misbach.

Bercakap-cakap dalam Sunyi

Judul: AirMataDarah (Sehimpun Puisi)

Penulis: Sulhan Yusuf

Penerbit: Liblitera Institute bekerja sama Boetta Ilmu

Cetakan: Pertama, Maret 2015

Tebal: 178 halaman

 

Inilah buku yang menarik untuk dibaca dan didialogkan. AirMataDarah (Sehimpun Puisi) mengalir sebagaimana air, melihat sebagaimana mata, dan menghidupkan sebagaimana darah. Buku ini begitu reflektif, tidak kering, tetapi juga tidak amat-amat romantik. Ia memberikan gambaran refleksi sekaligus kritik-kritik dalam setiap bait-bait syairnya. Sebagai seorang penyair yang sejati—walaupun penulis buku ini tidak pernah disebut atau menyebut diri sebagai penyair—selalu menerjemahkan setiap fenomena itu dengan cara yang reflektif, jernih dan segar. Relektif, jernih dan segar di sini bertolak pada esensi bahwa setiap puisi pada dasarnya merupakan anak kandung dari penulis atau penciptanya. Sebagai anak kandung ia harus lahir tepat waktu, tak boleh premature, kedaluwarsa, dan tentu saja, mencitrakan kekhasan penciptanya. Tidak bolehlah ia menjadi anak tiri—berjarak dari si penciptanya. Itulah yang dimaksud dengan jernih serta segar. Sulhan merenungkan begitu banyak persoalan hidup yang dijumpainya: dari yang hina hingga terhormat, suci maupun bersimbah noda, dari yang empirik, filosofis sampai yang paling mistik. Renungan-renungan itu tergambarkan dalam syair-syairnya.

Secara umum buku sehimpun puisi ini berkisah tentang lika-liku pengembaraan penulis di jagat ruhani kata-kata. Jagat perjuangan yang sunyi, tapi menghidupkan dan mengabadi. Ya, inilah Sulhan Yusuf. Lewat magnum opus-nya, AirMataDarah, tergambarkan beragam refleksi-refleksi perjuangan sunyi dari penulis. Di puisinya yang bertajuk “Diri”, Sulhan bercerita tentang hakikat dari diri dan kehidupan yang sebenarnya. Berikut penggalan bunyi bait puisi tersebut: “Usaikan dulu pelajaran tentang diri/kemudian mulailah belajar tentang yang lainnya/sebab, insan yang telah selesai belajar tentang dirinya/akan lebih mudah mempelajari sesuatu yang beredar di luar diri/aku baru saja menyaksikan insan yang telah menempuh perjalanan/berproses untuk menyelesaikan satu mata pelajaran tentang diri di sekolah kehidupan.” (hal.61).

Puisi di atas pada dasarnya ingin mengabarkan kepada pembaca bahwa hidup adalah kerja-kerja permenungan. Sebuah kerja mendialogkan diri, yang mana dialog tersebut akan memproses kesadaran kita pada dua arah. Yang pertama, kita menjadi semakin mengenali diri kita, makin menghayati diri dan pada akhirnya akan benar-benar menyatu dengan diri dan sang pencipta. Kedua, dialog juga membawa kita kepada kesadaran baru yang keluar dari diri sendiri, lalu menuju bergerak kepengenalan kepada sesuatu yang di luar diri sendiri. Itulah serangkaian kisah perjalanan seorang pejuang sunyi yang menjadikan kata-kata sebagai medium pencerahan. Melalui bait-bait syairnya tersebut Sulhan Yusuf berkisah tentang dialog-dialognya dalam merenungkan perjalanan hidupnya.

Dalam penggalan syairnya yang berjudul “Pengkhotbah” penulis menggambarkan kritiknya pada laku para pengkhotbah. Berikut puisinya: “Dimenara maya, ia selalau berkhotbah/tentang segala macam persoalan hidup dan kehidupan yang rumit/didedahkan tentang negerinya yang karut-marut/pemimpinnya yang tidak becus/rakyatnya yang tidak kritis/birokratnya yang korup/mungkin saja isi khotbah-khotbah itu benar adanya/tetapi, seorang jamaah interupsi ‘lalu apa yang telah kau lakukan wahai sang penghotbah?’/aku sendiri sebenarnya sependapat dengan jamaah itu/lalu kutambahkan ‘selain mempromosikan diri?’.” (hal. 124). Puisi ini berceritra betapa tragis wajah keberagamaan kita saat ini. Begitu banyak pengkhotbah yang tak paham esensi dari khotbah. Sehingga khotbah-khotbahnya yang disampaikan hanya sampai di telinga, tidak menyentuh hati dari pendengarnya, menurut Sulhan hal yang demikian sama saja seperti sebuah celotehan.

Di puisinya yang lain, berjudul “Culas” penulis juga menggambarkan kegelisahannya menyaksikan tingkah para akademikus dan kaum agamawan. Kegelisahan tersebut digambarkan dengan amat pendek tetapi padat dalam puisi tersebut : “Titel akademik ada padamu/tapi picik omongmu/sorban terikat di kepalamu/namun bicaramu melilit pikirmu/sujudmu menghitamkan jidatmu/walakin ceroboh mulutmu/lelang saja titelmu/jual pula sorbanmu/lego sekalian jidatmu ?” (hal. 55).

Kegeramannya menyaksikan kekuasaan yang sewenang-wenang juga tergambar dalam puisinya yang berjudul “Kesewenangan”. Berikut puisinya: “Hasrat untuk berkuasa yang ada pada diri/sesungguhnya amat purba keberadaannnya dalam setiap jiwa/kuasa berbiak/mengikuti jalan-jalan naluri tersaji/sedianya kuasa, ibarat air mensucikan daki pada tubuh/itu jika kuasa diberi jalan kelapangan dada dikedalaman ruhani/…lambang-lambang pengetahuan/kebertumpukan harta/simbol-simbol religiusitas/dan trah kebangsawanan/kesemuanya merupakan jalan-jalan menuju pada kuasa/kekuasaan dalam genggaman/dari genggaman kekuasaanlah lahir kesewenang-wenangan/setiap diri berlomba untuk berkuasa/sebab padanya ada kewenangan/dengan memiliki kewenangan maka menjadilah diri berwenang/berwenang berarti jari telunjuk amat sangat menentukan nasib yang ditunjuk…” (hal. 90). Penggalan puisi tersebut menandakan kegeraman penulis menyaksikan laku-laku atau wajah para penguasa, penguasa politik, agama, budaya, akademik dan semacamnya. Tentu kegeraman ini menjadi bukti keberpihakan penulis terhadap mereka orang-orang yang terzhalimi oleh kesewenang-wenangan penguasa.

Sulhan, sosok yang saat  ini banyak bergiat dalam kerja-kerja pencerahan atau literasi—baik di Paradigma Intitute, Komunitas Papirus, Boetta Ilmoe­—agaknya telah memilih dengan sadar akan pilihan hidupnya. Ia paham betul dengan tanggungjawab seorang intelektual, sebagaimana yang dibilangkan oleh Ali Syari’ati dalam bukunya Ideologi Kaum Intelektual bahwa kaum intelektual harus  memimpin gerakan progresif dalam sejarah, dan menyadarkan umat terhadap kenyataan kehidupan. Ia harus memprakarsai gerakan revolusioner untuk merombak stagnasi. Sebagaimana rasul-rasul selalu muncul untuk mengubah sejarah dan menciptakan sejarah baru. Dan juga harus memulai gerakan dan menciptakan revolusi sistemik. Kesadaran  inilah yang membawa penulis buku ini, mengapa ia mau mengambil berbagai peran altruistik dalam kehidupannya.

AirMataDarah barangkali tidak seperti banyak karya-karya puisi lainnya. Buku ini tidak begitu mempedulikan segala embel-embel aturan yang menggolongkan sebuah karya sastra atau bukan, sebuah puisi atau bukan. Kombinasi latar belakang sebagai pegiat literasi, pencinta sastra, dan penganut agama yang taat serta pembaca filsafat yang baik, mengondisikannya menjadi penulis atau penyair yang unik atau berbeda dari yang kebanyakan. Menikmati satu persatu karya dalam buku ini seperti menggali atau menjelajah jauh ke dalam memori-memori aktual yang ada dalam diri penulisnya. Kadang kita disodorkan dengan kontemplasi keindahan cinta yang menghanyutkan, lalu tiba-tiba diusik oleh ironi-ironi kehidupan yang absurd. Atau masalah-masalah sepele namun menggelitik kesadaran kita.

Karya ini, sebagaimana buku puisi pada umumnya, memang masih menyisakan banyak pertanyaan, sebuah tanda yang sebenarnya sangat baik. Ya, bagi saya Sulhan Yusuf ini adalah sosok yang tidak pernah basi untuk diperbincangkan, demikian pula karya-karyanya. Sebab, ia sosok yang selalu mengajak untuk terus dan terus belajar, berefleksi dan berbagi, dalam hal apapun itu. Ia mirip-mirip seorang “nabi”. Saya kira buku ini tak cukup hanya sekadar dicecap sebagai bacaan, tapi jauh dari itu, marilah kita mendialogkan buku tersebut lalu mengaktualkannya dalam laku sehari-hari.

Rashomon: Membincang Kegilaan

Setelah membaca Rashomon (2015), kumpulan cerpen karya Akutagawa Ryunosuke, saya lantas dilanda heran. Mengapa juga orang yang pernah mengalami sakit jiwa, justru melahirkan karya yang sangat brilian? Anda mungkin mengenal Nietzsche, yang dalam kondisi kejiwaan yang sakit justru lebih produktif menulis buku yang berisikan pemikiran cerdas dan rumit. Konon, The Will to Power lahir di puncak-puncak kegilaannya. Lantas, bagaimana dengan Akutagawa? Membaca Rashomon maka anda mungkin akan sulit mempercayai jika penulisnya adalah persona yang pernah ditimpa schizophrenia, dan akhirnya bunuh diri di usia 35 tahun.

Rashomon berisikan kumpulan cerita hasil imajinasi cerdas Akutagawa, yang beberapa di antaranya sangat terkenal di masa abad 20, sampai sekarang. Buku dengan ketebalan 167 halaman ini memuat tujuh cerpen, termasuk yang paling panjang dan juga yang paling terkenal, “Kappa”. Meski ketebalannya cukup tipis, tidak mudah menghabiskannya hanya dengan satu malam, setidaknya bagi orang yang ingin lebih memahami kedalaman makna yang coba disampaikan oleh Akutagawa. Kekuatan simbolisme yang sangat kuat, juga bangunan konflik yang tak sederhana, menjadikan setiap pembaca mesti sedikit berpikir keras untuk memahami maksud terdalam pada setiap bangunan cerita.

Namun, secara umum, setiap isi cerita dalam Rashomon selalu mengangkat perkara nilai dan segenap batasannya yang kabur, juga kenyataan hidup yang penuh dengan ironi. kesemuanya digambarkan melalui hubungan antara orang-orang dan persona yang diposisikan sebagai the other, juga melalui imajinasi mahluk-mahluk aneh. Dalam satu kisah yang berjudul “Rashomon”, anda akan menyadari betapa rumitnya perkara moralitas itu. Simaklah bagaimana seorang nenek kurus melalukan satu tindak kriminal karena tuntutan hidup, dan bagaimana ia memahami tindakannya sebagai perihal yang mesti dimaklumi, sebab ia mengambil sesuatu dari orang yang di masa hidupnya kerap melakukan kejahatan. Dengan demikian, bukankah baik dan buruk itu batasannya begitu tipis, bahkan saling silang sengkarut?

Melalui cerita tentang si nenek pencuri, saya pikir, Akutagawa hendak berkisah mengenai kegilaan yang kerap menyelinap di setiap tindak tanduk manusia, toh ketika kegilaan itu dimaksudkan sebagai ihwal yang melampaui batas, kekacauan, dan perkara yang tak masuk akal. Yang lebih gila lagi apa yang dilakukan seorang genin, samurai kelas rendah yang hendak menghadang kejahatan yang dilakukan nenek itu. Di satu sisi ia mencoba menjadi penegak moralitas, namun di sisi lain turut pula melakukan kejahatan, dengan merampas pakaian yang dikenakan nenek itu.

Dalam buku ini, kegilaan tak berhenti hanya dalam satu cerita saja. Dalam cerita lainnya, “Kappa” misalnya, realitas sosial kemudian digambarkan sebagai ihwal yang centang perenan. Hal demikian dikisahkan melalui kehidupan masyarakat kappa, mahluk yang mirip katak namun memiliki paruh. Dari situ, kita akan menemukan kehidupan yang kacau dan rada-rada irasional. Seperti pembantaian buruh dianggap biasa saja, yang diperlihatkan melalui dialog antara tokoh “aku” dan seorang kappa kapitalis bernama Gael. Pun, potret pesimisme yang menjangkiti seorang individu, turut digambarkan melalui tokoh kappa penyair bernama Tock, yang kemudian mengidap schizophrenia, dan akhirnya bunuh diri. Tentu, hal tersebut hanyalah dua permasalahan, dari sekian banyak persoalan kehidupan yang diangkat dalam “Kappa” yang, sebegitu menyedihkannya, tokoh utama bahkan berusaha keluar dari carut-marut dunia yang dijalaninya, dan akhirnya menjadi gila.

Dan soal orang-orang yang terhina oleh relasi identitas dan kelas sosial adalah perihal yang turut diangkat, setidaknya dalam dua cerita: ”Bubur Ubi” dan “Hidung”. Dalam problem identitas hari ini, selalu saja ada yang merasa terpinggirkan, merasa sebagai the other ditelikung mayoritas. Beberapa di antaranya akan berupaya meniru citra mayoritas karena dianggap sebagai identitas yang lebih ideal. Namun, apakah mereka menemui kebahagiaan setelah itu? Kisah dalam “Hidung”, saya pikir menyinggung soal demikian. Diceritakan, seorang pendeta memiliki hidung panjang, dan menjadi terkucilkan karenanya. Dengan berbagai cara, ia akhirnya berhasil memendekkan hidungnya, seperti milik kebanyakan orang. Namun, justru orang-orang semakin menertawainya, karena bagi mereka, si hidung panjang menjadi semakin aneh karena tidak berhidung panjang. Pada akhirnya ia tak bahagia.

Syahdan, kisah-kisah dalam Rashomon akhirnya hadir tidak dalam rangka berkhotbah mengenai heroisme, dan penggambaran dunia ideal seharusnya seperti apa. Justru, ihwal yang retak, tak utuh, dan paradoks tentang kehidupan yang dijalani manusia. Sebagai seorang yang sempat gila, Akutagawa memang lihai membicarakan kegilaan.