Arsip Kategori: Resensi Buku

Literasi Desa Labbo: Dari Desa, Oleh Desa, dan Untuk Desa

Ini bocoran saja: dua hari lalu saya didadak Sulhan Yusuf agar segera meresensi buku teranyar dari salah satu desa di Bantaeng –kabupaten di Sulawesi yang mencuri perhatian kita 1 dekade belakangan–“Literasi Dari Desa Labbo”. Buku kumpulan tulisan yang tempo hari sudah saya ketahui cikal bakal kedatangannya. Tapi, berhubung masih diikat kesibukan lain, saya akhirnya baru bisa menulis ini di sela-sela pertemuan akhir kelas kuliah yang saya ampu. Sembari memberikan final mahasiswa, saya mencuri waktu agar tulisan yang dibuat ini dapat rampung dan dinikmati sesuai pesanan. read more

Dengarlah Nyanyian Angin dan Akar-Akar Modernisme di Dalamnya

Dengarlah Nyanyian Angin ditulis Murakami dengan pembukaan yang jitu. Dimulai dengan pernyataan yang singkat tapi sekaligus menggoda: “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

Bagi saya, kalimat ini pertaruhan Murakami dengan para pembacanya. Ibarat sedang berjudi, ia menaruh taruhan tinggi sejak di kalimat pertamanya. Jika ia kalah, si pembaca akan berhenti dan memikirkan hal lain tinimbang melanjutkan membacanya. Namun jika menang –dan ini terjadi di setiap karangan-karangannya yang lain— ia layak menguasai benak pembacanya dengan dunia yang dikarangnya. read more

Mengungkap Rahasia Menjadi Orang di atas Rata-rata

Kembali dunia sastra Indonesia digairahkan oleh penerbitan buku yang penuh inspirasi dan motivasi, berjudul “Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata”. Buku ini merupakan edisi kedua yang dihasilkan oleh pengarang termahsyur dan ternama asal Lamongan yakni Ahmad Rifa’i Rif’an, yang sebelumnya telah menerbitkan buku yang berjudul “From Kuper To Super”.

Bedanya dengan buku sebelumnya, jika buku “From Kuper To Super” hanya membahas tentang langkah yang ditempuh untuk mengubah pribadi yang kurang pergaulan menjadi pribadi yang sukses di masa depannya, maka buku “Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata” ini membahas tentang langkah dalam mengubah pribadi yang biasa menjadi pribadi di atas rata-rata. read more

Lian dan Lain, Literasi tentang Parenting

Refleksi atas buku Metamorfosis Ibu

Dua pesona tersemat pada Metamorfosis Ibu, ditulis oleh Mauliah Mulkin, di publikasi pada 2018. Pertama, karya ini berdiri di atas jangkar konsep “parenting”. Muasal “parenting” datang dari khazanah bahasa Latin. Maknanya: “bringing forth”, “memindahkan ke (masa) depan”. Itu sebabnya, “parenting” bermatra transformatif, bergatra perubahan abadi,
berdimensi peristiwa eventual, terjadi hanya sekali dan tak akan berulang. Transformasi memang bukan reformasi. read more

Vendredi Si Teledor dan Revolusi di Pulau Harapan

Revolusi di sini hanya berarti kiasan. Yang terjadi sebenarnya adalah rontoknya bertahun-tahun kehidupan yang telah dibangun Robinson Crusoe di pulau tempatnya terdampar. Dinding gua-gua, kebun-kebun, peternakan, sejumlah alat rumah tangga dan harta karun yang disimpannya di dalam ceruk-ceruk gua luluh lantak akibat ledakan dahsyat.

Ledakan itu berawal dari simpanan mesiu yang disembunyikan Robinson di bawah dinding gua. Tanpa sengaja Vendredi si Indian, pembantu Robinson yang diselamatkannya dari upaya ritual pembunuhan, melempar pipa rokok secara asal-asalan. read more

Metamorfosis Ibu: Membumikan Ilmu Parenting

Buku yang lahir dari cinta keluarga untuk peradaban. Merupakan sekumpulan esai parenting yang telah terbit di media daring (online) maupun media luring (cetak). Harian Fajar, Koran Tempo, Edunews.id, dan Kalaliterasi.com menjadi ruang untuk menerbitkan gagasan yang luar biasa. Buku ini merumahkan ide literasi parenting. Mengapa tidak, ditulis dari rumah, dipraktikkan di rumah, dan tujuan akhirnya adalah “rumah”. Mengupas kulit-kulit paradigma tentang anak melalui pendekatan penuh cinta dan jauh dari kata pelampiasan, kekerasan, ancaman, dan jebakan. Menjadi seorang ibu merupakan keniscayaan bagi yang telah menikah dan mengasuh anak sebagaimana mestinya merupakan didikan awal sebagai sosialisasi primer membentuk kepribadian yang berkeadaban. read more

Antara Demigod dan Yunani : Percy Jackson

Bagaimana jika ternyata kita bukan manusia biasa? Setengah dewa misalnya. Mungkin kalimat “tidak percaya” merupakan kalimat pertama yang terucap. Bagaimana mungkin ada manusia setengah dewa? Itulah yang dirasakan oleh Percy Jackson, karakter utama dalam cerita yang tertuang dalam buku Percy Jackson: The Lightning Thief. Seorang anak yang kehidupannya seperti manusia biasa pada umumnya. Bahkan jauh lebih buruk. Percy selalu membuat masalah di sekolah sehingga dia masuk ke asrama Akademi Yancy, sekolah swasta untuk anak bermasalah di New York Utara. Masalahnya adalah dia tidak bermaksud untuk bermasalah. Itu bukan kesalahannya meski memang itu adalah kesalahan dari dirinya. Bertahun-tahun dia harus melewati harinya dengan menyandang status anak paling bermasalah. Bahkan terkadang dia tak dapat membaca. Hal ini dikarenakan dia menderita disleksia. Usut punya usut, ternyata semua kejadian itu berakar oleh sebuah fakta. Fakta bahwa Percy adalah Demigod, sebutan bagi manusia setengah dewa. Setelah melalui berbagai macam kejadian yang menegangkan, ia akhirnya masuk ke perkemahan musim panas yang berisi anak sepertinya. Namun bukan itu pula permasalahan utamanya. Ia telah dituduh mencuri petir asali milik Dewa Zeus. Hal ini membuat Percy dan kawan-kawannya mesti mengembalikan barang yang bahkan membayangkannya pun tak pernah. Pengalaman-pengalaman baru kian menanti Percy serta kawan-kawannya. Menegangkan mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan pengalaman Percy. Buku ini merupakan buku pertama dari lima serial Percy Jackson and The Olympians. Setiap seri bukunya akan mengantarkan kita ke puncak permasalahan yang terdapat di buku terakhir, dan setiap serinya akan menyajikan berbagai peristiwa serta fakta menarik. Pengalaman-pengalaman serta pengetahuan baru mengenai Yunani Kuno disajikan begitu apik setiap seri bukunya. Hal inilah yang membuat saya terus membaca hingga buku terakhir dari serial Percy Jackson and The Olympians. Rasa penasaran terus menerus menggerogoti tubuh saya. Satu hal saya suka dalam buku ini adalah gaya bahasa sang penulis, Rick Riordan. Gaya bahasanya sebagai sudut pandang orang pertama benar-benar membuat kita merasakan apa yang dirasakan oleh Percy. Selain itu, Rick Riordan juga mendeskripsikan segala hal secara rinci sehingga kita mesti beradu dengan imajinasi sendiri. Penggambaran dewa-dewi Yunani Kuno yang begitu deskriptif membuat saya berpikir bahwa mereka benar-benar ada. Sungguh mendetail. Bahkan watak mereka pun digambarkan dengan sangat baik olehnya. Di dalam buku ini, disediakan berbagai macam peristiwa di luar nalar kita. Selain itu, protagonis dan antagonis dalam buku ini terkadang tidak jelas, tapi kadang pula disebut secara gamblang. Sehingga alurnya begitu mengalir dan begitu nyata. Tidak dibuat-buat dan dipaksakan. Pendapat saya mengenai isi buku ini hanya dua kata. Luar biasa! Dengan membaca buku ini saya mengetahui semua hal yang berbau Yunani dan Romawi Kuno. Terkadang saat sedang membaca, saya mesti menyediakan smartphone untuk siap mencari kata-kata baru dan berbau Yunani, atau sekadar mencari gambar sesuatu. Dengan begitu saya bisa lebih menghayati buku ini dan memahami apa yang dimaksud oleh penulis. Akan tetapi hal itu dapat menjadi kekurangan buku ini. Begitu banyak kata-kata yang berbau Yunani yang tidak saya ketahui. Mungkin untuk kasus saya, akan terselesaikan dengan bantuan dari mesin pencarian. Namun bagaimana dengan orang lain, mungkin saja mereka terlalu malas untuk mencari arti kata tersebut, sehingga mereka memakai prinsip “nanti juga paham” yang membuat mereka membaca buku ini tanpa mengerti arti kata tersebut. Hal ini dapat mengurangi keapikan buku ini, karena saya merasa kita mesti memahami setiap butir kalimatnya agar dapat menghayati cerita yang disajikan oleh sang penulis. Jadi saya sangat merekomendasikan smartphone selalu siap sedia jika buku ini sedang di baca agar lebih memudahkan untuk mencari kata-kata baru. Setelah sukses besar dengan bukunya, akhirnya Percy Jackson: The Lightning Thief diangkat ke layar lebar. Awalnya saya sangat antusias. Membayangkan bagaimana keseruan filmnya. Saya pun sempat teringat oleh seri buku Harry Potter yang diangkat ke layar lebar, buku dan filmnya benar-benar membuat mind blowing (luar bisa, red). Namun sayangnya saya mesti menerima kenyataan pahit. Film yang disajikan benar-benar membuat saya kecewa. Dari editannya mungkin sudah memenuhi standar. Namun, apa yang saya imajinasikan pada bukunya begitu berbanding terbalik. Mungkin hal ini bukan kesalahan dari pembuat filmnya. Namun tetap saja saya merasa kecewa. Selain itu penggambaran tokoh Percy Jackson sebagai anak berusia 12 tahun diperankan oleh Logan Lerman. Dan jelas Logan Lerman bukan anak berusia 12 tahun, atau sekitar 12 tahun. Inilah salah satu kekecewaan terbesar saya. Penggambaran Percy Jackson sebagai seorang anak 12 tahun tidak digambarkan dengan baik. Padahal penokohan peran utama merupakan sesuatu yang sakral, dan sutradaranya tidak mengindahkan hal ini. Akan tetapi, meski filmnya tidak sesuai dengan harapan saya, saya masih tetap menyukai buku ini. Buku ini merupakan buku favorit saya. Dan saya sangat merekomendasikan buku ini bagi kalian yang ingin mengetahui hal-hal mengenai mitologi Yunani Kuno dengan cara yang menyenangkan. Selain itu, buku ini merupakan buku wajib bagi kalian yang menyukai genre fantasy. read more

Metamorfosis Ibu: Merumahkan Ide melalui Literasi Parenting

Yang unik dari buku ini adalah semuanya lahir dari keluarga. Yang menulis, menyunting, sampai ilustratornya.

Tema-temanya digali dari pengalaman keluarga. Entah dari mengasuh anak hingga mengasah anak. Dan juga mengasihi anak. Bisa dibilang dari saling asuh, asah, dan asih inilah buku ini menopangkan dirinya.

Di tulisan yang sedang eike persiapkan untuk buku ini, ada satu peran utama yang menjadi benang merah dari esai-esai literasi parenting ini: ibu.

Ya, dari pengalaman seorang ibu-lah buku ini akhirnya bisa sampai ke tangan pembaca. Tentu perlu digarisbawahi, kata pengalaman yang eike maksud di sini adalah jenis pengalaman yang betul-betul pengalaman. Suatu tindakan yang terlibat dan dilibati lingkungannya. Pengalaman yang mengikutkan rasa, pikiran, emosi, dan intuisi seorang ibu. read more

Luka Daur Ulang; Puisi atau Berita?

Wacana daur ulang, kadang riuh kadang senyap. Daur ulang, biasanya bermisi mengontrol lonjakan jumlah barang tak terpakai. Lewat kreatifitas kerajinan tangan, sampah misalnya, sanggup bertransformasi dari barang tak layak konsumsi menjadi barang ekonomis. Jumlah sampah jadi berkurang. Sampah pun bisa jadi pangkal mata pencaharian.

Di dimensi lain, ternyata, tak hanya sampah atau benda saja bisa didaur ulang. Fauzan Al-Ayyubi, lewat seikat puisi, melahirkan buku bertitel Luka Daur Ulang (2016). Buku puisi menghimpun 70 puisi. Pejumpaan awal dengan buku bikin dahi pembaca mengernyit. Pembaca bertanya, bagaimana produk dari sebuah luka daur ulang? read more

Jalan Raya: Alas Pijak Kapitalisme Global

DI ABAD modern,  sejarah jalan raya adalah sejarah modernisasi itu sendiri.  Tanpa jalan raya, percepatan modernisasi berupa perpindahan penduduk, pergerakan arus transporatasi, pembangunan infrastruktur, terbentuknya kawasan perkotaan, dan pergerakan komoditas  akan sulit terealisasi.

Jalan raya adalah tulang punggung yang  menjadi alas sekaligus penghubung beragam penanda modernitas di atas dapat mengalami ekspansi geografis seperti yang dirasakan seperti sekarang ini.

Dengan kata lain, basis utama dari modernisasi (yang dalam kajian kritis adalah juga kapitalisme itu sendiri) adalah jalan raya yang menjadi saluran pembuluh saraf, yang menghubungkan titik-titik terpencar dari aktivitas produksi kapital menjadi lebih terhubung dan lebih gampang terkoordinasi. read more