Arsip Kategori: Resensi Buku

Calabai dan Muara Bissu

Calabai adalah sisi lain dari “wajah masyarakat”. Ia merupakan identitas yang dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan yang memiliki perilaku, sikap, yang berbeda dan tidak sejalan dengan wujud fisiknya sebagai perempuan atau laki-laki pada umumnya. Pun sebagaimana teori gender mengkonstruksikan kedua jenis kelamin ini. Calabai melabrak konstruksi tersebut. Sosok Calabai, sebagaimana Pepi Al-Bayquni telah mengemasnya dengan begitu apik dalam sebuah novelnya yang berjudul Calabai; Perempuan dalam Tubuh Lelaki, atau dalam kalimatnya yang lebih menohok, jiwa perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki. Novel tersebut dengan detail menggambarkan lika liku kehidupan para calabai, terkhusus kepada mereka yang berada di kampung Segeri, Pangkep Sulawesi Selatan. read more

Anne dan Getaran untuk Anak Bangsa

Nama Anne di Indonesia ini mungkin sudah banyak, tapi Anne dalam tulisan saya ini bukanlah Anne sebagaimana Anne yang biasa kita temui di tengah jalan, mal, pasar dan sekolah, tapi kemungkinan terdekatnya, sosoknya adalah imajinasi kita dan bagian dari diri kita yang terejawantahkan sebagai Anne. Saya pun tidak tahu seberapa banyak orang yang telah mengenal, berakrab-akrab dengannya, bahkan berasyik masyuk mengikuti perjalanan hidup dan sepak terjangnya. Sosok yang bagi saya agak misterius saat awal saya mencoba mengenalnya lebih dekat. Dialah Anne yang termaktub dalam Anne of Green Gables. read more

Njoto sebagai Sela

Literatur mengenai Njoto yang dapat diakses masihlah minim. Di antara yang sedikit itu, Majalah Tempo pernah menurunkan liputan seri tentang orang kiri di tahun 2009. Njoto adalah salah satunya. Setahun berselang barulah dibukukan.

_

Sepekan setelah peristiwa G30S, pada 6 Oktober 1965, Presiden Soekarno menggelar rapat Menteri Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Wakil Ketua II CC PKI, Njoto diberi kesempatan berbicara. Katanya: “PKI tidak bertanggung jawab atas peristiwa G30S. Kejadian itu adalah masalah internal Angkatan Darat.” Setelahnya, Soekarno menabalkan jika peristiwa itu hanyalah riak di tengah samudra. read more

Membaca Manusia Secara Filosofis tapi Puitis ala Nirwan Ahmad Arsuka

Percakapan dengan Semesta (PDS) adalah buku tipis. Sang pengarang, Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Gerakan Pustaka Bergerak, hanya meraciknya dari tiga esai yang kemudian menghasilkan 120 halaman belaka. Tapi yakinlah, buku ini begitu padat akan sajian diskursus. Para pembaca tidak hanya diajak menyelami tema-tema kebudayaan, tapi juga filsafat, sains, sejarah, yang diracik padu untuk membaca manusia. Manusia akan dilihat pada pertautannya dengan semesta (esai pertama), pertautannya dengan citra-citra foto (esai kedua), dan manusia yang ditafsirkan dalam sebuah karya sinema (esai ketiga). Pertautan-pertautan itulah yang sekaligus membuka tabir-tabir problem kemanusiaan. read more

Meriwayatkan Makassar dengan Literasi Kenangan Anging Mammiri

—Catatan atas buku Anging Mammiri, Jejak Makassar Tempo Dulu;  karangan Abdul Rasyid Idris

Seorang yang menulis sejarah pasti tahu,  ingatan adalah suatu yang mudah menguap. Begitu pendakuan Goenawan Mohamad di salah satu esainya di tahun 2012. Karena itulah, sejarah mesti diabadikan. Ditulis dan diriwayatkan. Mirip origami, ingatan sangat mudah dibentuk, disusun, dibelokkan, atau bahkan silap dihimpit memori yang lain.

Tapi, Abdul Rasyid Idris dalam Anging Mammiri tidak sedang menulis sejarah. Melalui literasi kenangan, Abdul Rasyid hanya sedang melahirkan saudara kembar sejarah. Sebagaimana pendakuan Alwy Rachman di pengantar buku ini, Abdul Rasyid bukan dalam kapasitas menandingi sejarah Makassar sebagai kota, melainkan berusaha melahirkan kembali suatu peristiwa subjektif di era kekinian melalui kekuatan ingatan. read more

Calabai

Kurang lebih tiga pekan saya menunggu, setelah melihat wajah cantiknya di media sosial kala itu. Hati saya langsung kepincut dan coba meminangnya. Barangkali masih ada kesempatan mempersunting atau paling tidak, menjadi sahabatnya. Ia berdarah Bugis-Makassar, tapi kini masih berada di pulau Jawa, saya berharap belajar banyak darinya. Malam 21 oktober, akhirnya ia tiba di pangkuan saya. Saya pun berkenalan lebih jauh dengannya.

Namanya Calabai, anak spiritual Pepi Al-Bayqunie. Bajunya (cover) sederhana, namun sangat elegan. Bagian depan berlatar putih, memperjelas kesan ketentraman. Gambar seorang lelaki dipilih sebagai gambar sampul. Lelaki yang berbalut pakaian adat, berwarna kuning keemasan ini, terlihat sedang khusyuk membaca kitab. Meski lelaki, citra perempuan tergambar jelas. Ini sering disebut masyarakat Bugis-Makassar sebagai calabai, lelaki berjiwa perempuan. read more

Mengintip Sejenak “Si Kyai Merah”

Judul: Pertarungan Islam dan Komunisme Melawan Kapitalisme: Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach
Penulis: Nor Hiqmah
Penerbit: Madani, 2011
Tebal: 113 halaman

“jangan takut, jangan khawatir”

  –Misbach

Siapa yang tidak mengenal Haji Misbach, mungkin banyak, mungkin juga sedikit. Tetapi itu bukan soal. Biarkan itu menjadi hipotesa sementara, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melihat dan mediskusikan sosok “Kyai Merah” seperti Haji Misbach ini. Sebelum kita lebih jauh menelisik sosok Haji Misbach, saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk menyatukan presepsi, bahwa setelah rezim  Orde Lama tumbang, dan digantikan oleh zaman Orde Baru, dalam hal ini rezim Soeharto,  hampir seluruh elemen masyarakat menjadi serba bungkam, terkhusus dalam mendiskusikan tokoh-tokoh terlarang, dan peristiwa- peristiwa kelam di masa lalu, baik itu peristiwa G30S/PKI sampai pemberontakan-pemberontakan awal sebelum meletusnya peristiwa 65. read more

Bercakap-cakap dalam Sunyi

Judul: AirMataDarah (Sehimpun Puisi)

Penulis: Sulhan Yusuf

Penerbit: Liblitera Institute bekerja sama Boetta Ilmu

Cetakan: Pertama, Maret 2015

Tebal: 178 halaman

Inilah buku yang menarik untuk dibaca dan didialogkan. AirMataDarah (Sehimpun Puisi) mengalir sebagaimana air, melihat sebagaimana mata, dan menghidupkan sebagaimana darah. Buku ini begitu reflektif, tidak kering, tetapi juga tidak amat-amat romantik. Ia memberikan gambaran refleksi sekaligus kritik-kritik dalam setiap bait-bait syairnya. Sebagai seorang penyair yang sejati—walaupun penulis buku ini tidak pernah disebut atau menyebut diri sebagai penyair—selalu menerjemahkan setiap fenomena itu dengan cara yang reflektif, jernih dan segar. Relektif, jernih dan segar di sini bertolak pada esensi bahwa setiap puisi pada dasarnya merupakan anak kandung dari penulis atau penciptanya. Sebagai anak kandung ia harus lahir tepat waktu, tak boleh premature, kedaluwarsa, dan tentu saja, mencitrakan kekhasan penciptanya. Tidak bolehlah ia menjadi anak tiri—berjarak dari si penciptanya. Itulah yang dimaksud dengan jernih serta segar. Sulhan merenungkan begitu banyak persoalan hidup yang dijumpainya: dari yang hina hingga terhormat, suci maupun bersimbah noda, dari yang empirik, filosofis sampai yang paling mistik. Renungan-renungan itu tergambarkan dalam syair-syairnya. read more

Rashomon: Membincang Kegilaan

Setelah membaca Rashomon (2015), kumpulan cerpen karya Akutagawa Ryunosuke, saya lantas dilanda heran. Mengapa juga orang yang pernah mengalami sakit jiwa, justru melahirkan karya yang sangat brilian? Anda mungkin mengenal Nietzsche, yang dalam kondisi kejiwaan yang sakit justru lebih produktif menulis buku yang berisikan pemikiran cerdas dan rumit. Konon, The Will to Power lahir di puncak-puncak kegilaannya. Lantas, bagaimana dengan Akutagawa? Membaca Rashomon maka anda mungkin akan sulit mempercayai jika penulisnya adalah persona yang pernah ditimpa schizophrenia, dan akhirnya bunuh diri di usia 35 tahun. read more