Arsip Kategori: Sastra

Balasan Surat dari Siswa untuk Guru Sejarah yang Nun Jauh di Sana

Baca juga: Sepucuk Surat dari Guru Sejarah untuk Siswanya Nun Jauh di Sana

Ayahanda guru yang kami rindukan. Beribu tanya mengenai keberadaanmu kerap menjadi bahan gunjingan kami di kelas. Bahkan untuk saya pribadi, saya sempat menanyakan pada Ibunda Kepala Sekolah mengenai keberadaanmu. Setelah itu barulah kami mengetahui bahwasanya ayahanda sedang menimba ilmu di Negeri Barat. Sungguh kekaguman terlimpahkan untukmu.

Ayahanda guruku, sekalipun pelajaran sejarah kadang membosankan, namun kami tetap merindukan bagaimana Ayahanda berjalan di koridor menuju kelas menenteng buku pegangan yang nampak usang dengan kemeja dan senyuman khas. Saya sangat merindukan ketika ayahanda memberi kami tugas membuat liputan tentang situs sejarah di sekitar kampung kecil ini. Ayahanda dengan telaten dan sabar membimbing kami dan menjawab semua pertanyaan kami  yang masih awam menuliskan laporan.

Mengenai pelajaran penjelajahan samudera yang diajarkan Ayahanda tempo hari, kami bukannya lupa. Namun lagu Kuburan Band Lupa-lupa Ingat mungkin lebih tepat menggambarkannya. Ah, malu rasanya saya mengakui ini namun mendustai Ayahanda juga toh tak ada untungnya. Mungkin sekitar 20-30% saja yang saya ingat mengenai pelajaran itu. Tentulah Ayahanda paham jika saat ini Ananda tengah kelimpungan atas tugas-tugas dari berbagai pelajaran yang tiada habisnya, namun sebagai pembelajar yang berusaha untuk arif saya menikmati segala proses ini.

Ayahanda, bukannya Ananda tidak menyukai pelajaran sejarah namun jika membahas mengenai penjajah yang memburu gold, glorry dan gospel negeri kita, jujur saja saya masih merasa pilu. Hati saya bergetar mengingat bagaimana susahnya para pejuang negeri ini mengusir para penjajah. Selama 350 tahun atau 3 setengah abad lamanya kita dijajah! Saya tidak mampu membayangkan bagaimana hari-hari yang suram dan malam yang semakin kelam terus mewarnai kehidupan pribumi. Tanam paksa, kerja paksa, dan penarikan pajak yang dilakukan oleh penjajah guna mengeruk kekayaan Ibu Pertiwi sangat-sangat jauh dari kategori manusiawi. Meskipun seperti yang Ayahanda guru jelaskan di kelas, bahwa ada banyak hikmah dari kedatangan para penjajah namun saya masih tetap lebih senang jika membahas mengenai perjuangan rakyat Indonesia.

Saya terkagum-kagum dengan kegigihan para pejuang demi kemerdekaan negeri ini. Kisah para pemuda yang ikhlas meregang nyawa, para istri yang rela menjanda dan anak-anak yang menerima nasib menjadi yatim.

Ayahanda saya jadi teringat cerita tentang seorang pahlawan kemerdekaan di kampung kami. Sebuah tugu dengan keris yang menjadi simbolnya berdiri kokoh di salah satu bukit di barat kota Malino yang bertuliskan “Monumen Perjuangan Buluballea” di sana terukir dengan jelas bahwa seorang pimpinan kelasykaran KRIS Tombolo Pao bertarung satu lawan satu dengan Aspiran Kontreleur Belanda R.F. Westoff (Tuan Petoro), yang melayangkan nyawa keduanya.

Kisah tentang pemimpin KRIS ini belum pernah diulas dengan lengkap oleh pemerintah padahal dengan adanya pertarungan dengan Tuan Petoro itu berbagai perubahan terjadi di daerah Malino dan sekitarnya.

***

Hari itu kekhwatiran Andi Sulaeha semakin menjadi-jadi setelah beberapa hari yang lalu Ia mendengar bahwa suaminya tertangkap dan disekap di Benteng Balangnipa. Menurut cerita dari salah seorang suronya, Karaeng Pado digantung secara terbalik, matanya ditutup dan bagian tubuhnya disulut api sedikit-sedikit. Ia pun dijaga oleh dua orang tentara Belanda. Entah itu benar tentara Belanda atau pengkhianat.

Kekhawatirannya semakin bertambah ketika si bungsu yang kala itu masih bayi tengah dilanda demam. Keempat kakaknya yang juga masih kecil-kecil turut merasakan apa yang tengah merundung Ibunya. Harapan dan doa untuk kebaikan Sang Atta selalu terucap dari bibir mereka.

Desember dengan hujan lebat sebagai ciri khasnya juga menjadi warna tersendiri di Sinjai. Karaeng Pado yang tidak tahan lagi menahan siksaan para penjajah terus berusaha membebaskan diri, terlebih lagi ketika Ia mendengar bahwa Tuan Petoro telah memasuki wilayah Tombolo. Dengan segala usaha akhirnya Ia pun bebas dan bisa keluar dari Benteng Balangnipa yang telah dikuasai Belanda itu.

Oh iya Ayahanda, Benteng Balangnipa ini terletak di Kabupaten Sinjai mungkin Ayahanda guru sudah tahu  kalau Benteng ini dibangun pada tahun 1557 oleh Kerajaan Tondong, Bulo-bulo dan Lamatti atau yang terkenal dengan kerajaan Tellulimpo’e. Namun sayang sekali, benteng ini jatuh ditangan Belanda pada tahun 1859 ketika Kerajaan Tellulimpo’e kalah dalam perang Mangarabombang. Sampai akhirnya bangunannya pun berubah menjadi nuansa Eropa layaknya Benteng Rotterdam di Makassar.

Bisa dibayangkan bagaimana malam-malam Desember yang selalu bermelodikan hujan lebat itu menjadi satu-satunya harapan Karaeng Pado untuk kembali ke rumah dan juga kembali bertempur mengusir penjajah. Hujan semakin mengamuk dan malam pun kian larut, kebingungan menghampiri Karaeng Pado. Apakah Ia akan terus berjalan menuju Barat Sinjai tempat Andi Sulaeha dan anak-anaknya berlindung atau Ia akan mencari pertolongan dan melanjutkan perjalanan esok Subuh.

Hujan semakin deras akhirnya Ia berjalan menuju rumah salah seorang pamannya. Di perjalanan menuju rumah pamannya Ia menemui sungai yang cukup deras untuk disebrangi. Keraguan pun mulai muncul di hatinya, Ia yakin jika sungai yang tidak terlalu lebar ini dilawan maka nyawanya pun ikut melayang. Namun ingatan tentang anak istrinya dan kegeramannya pada penjajah terus menghantui pikirannya. Akhirnya Ia membuka topinya untuk dihanyutkan sambil bergumam.

“Ku hanyutkan engkau sebagai pengganti ragaku. Anak istriku dan negeri ini menunggu ku. Bismillah”

Ia pun menghanyutkan topinya, kemudian menyusul untuk menyebrangi sungai itu dan Iapun selamat. Tekadnya untuk kembali berjuang mengusir penjajah semakin membara, Karaeng Pado langsung menuju rumah pamannya dan meminta kuda untuk ditunggangi kembali ke rumah dan tempat berjuangnya itu.

Ayahanda seperti yang kita ketahui bagaimana tentang kerinduan yang dijelaskan pada surat Ayahanda. Pun kerinduan juga menghampiri Ayah dan anak seperti pejuang ini. Setibanya Ia di rumah, matahari sudah mulai bergeser menghampiri sore. Sisa-sisa hujan yang menyisakan embun pelan-pelan melepuh ketika tapak kakinya mulai melangkah di halaman rumah. Mendengar suara tapak kaki itu Andi Sulaeha pun melangkah dengan harap yang bercampur khawatir. Ia berharap itu adalah Karaeng Pado namun khawatir jika yang datang adalah berita duka. Saat itu berita tentang pejuang yang gugur sangatlah lazim Ia dengar.

Ndi, Assalamualaikum.”

Suara yang telah lama dinanti-nanti Andi Sulaeha itu, seketika mampu memecah celengan rindunya.

“Ye, Waalaikumsalaam Warohmatullah. Kita Daeng?”

Alih-alih makan malam bersama atau andil merawat anak. Selepas memimpin anak dan isterinya menunaikan sholat magrib, Ia langsung bergegas menuju tempat perkumpulan para anggota KRIS guna menumpahkan amarahnya kepada para penjajah.

Hati saya kembali berdesir Ayahanda, bagaimana bisa orang-orang terdahulu kita memiliki keteguhan hati yang luar biasa seperti itu. Mementingkan kepentingan bangsa dibanding kepentingan diri sendiri dan keluarga yang nyata membutuhkannya. Mungkin jiwa-jiwa tulus seperti ini akan sangat sulit kita temui saat ini, termasuk di gedung-gedung tinggi yang diisi oleh para terhormat-terhormat.

Syahdan, setelah menyusun rencana dengan para pemimpin distrik di sekitar Tombolo Pao. Merekapun mempersiapkan strategi-strategi untuk melakukan penyerangan kepada Belanda sebelum memasuki daerah mereka. Karena konon kabarnya saat itu para pasukan kolonial telah memasuki wilayah Malino bagian dalam.

***

Sebelum waktu yang ditentukan amarah Karaeng Pado tiba-tiba memuncak, salah satu suro-nya kembali membawa berita bahwa Tuan Petoro tengah menuju daerah Tombolo dan saat ini sedang membagi-bagikan kain guna mendapatkan simpati dari rakyat setempat agar daerah jajahannya bisa semakin luas.

Tanpa basa basi lagi Karaeng Pado lalu mengambil badiknya dan meminta suronya menyiapkan kuda untuk ditungganginya menuju Buluballea tempat Tuan Petoro dan para tentaranya mengambil simpati rakyat. Menyadari sang suami sedang diterungku emosi, Andi Sulaeha kemudian berusaha meredam emosi Karaeng Pado.

“Apakah tidak bisa Daeng menunggu sampai waktu yang telah disepakati semalam?”

Sambil berjalan menuruni tangga Karaeng Pado tetap dalam emosi “Tidak Ndi, kalau kita biarkan maka seluruh wilayah kita akan dikuasai. Saya sudah terlalu geram Ndi”

Andi Sulaeha bersama beberapa suro-nya terus mengikuti Karaeng Pado sampai Ia berada di punggung kudanya. Tetiba saja cambuk kudanya terjatuh tepat ketika Karaeng Pado akan berangkat.

“Daeng, ini mungkin pertanda tidak baik. Ada baiknya tenangkan perasaan Daeng terlebih dahulu sebelum berangkat.” Suara Andi Sulaeha mulai terisak.

“Tabe Karaeng, sebaiknya Karaeng pertimbangkan perkataan Karaeng Sulaeha.” Sahut suro-nya sambil menyodorkan cambuk yang jatuh tadi.

Tanpa mengindahkan Karaeng Pado dan amarahnya hanya meninggalkan sedikit pesan sembari berpamitan.

“Ndi, jaga anak-anak dan kesehatanmu. Assalamualaikum.”

Ringkikkan kuda terdengar jelas bahwa Karaeng Pado mencambuknya dengan penuh amarah. Derap langkah sepatu kuda bak tentara yang sedang berbaris. Andi Sulaeha dan para suro hanya bisa terdiam dan berdoa dalam hati menyaksikan kebencian pejuang kemerdekaan itu terhadap kolonialisme.

Setibanya di bukit Buluballea, Karaeng Pado langsung menghadang mobil yang dikendarai Tuan Petoro. Bisa dipastikan bahwa amarah Tuan Petoro juga tentu tak dapat dibendung. Pertarungan satu lawan satu pun terjadi. Karaeng Pado akhirnya memuntahkan segala amarahnya, dengan berujung pada badik yang menancap di dada Aspiran Kontroleur Belanda itu. Menyadari Tuannya tidak berdaya lagi salah satu tentara Belanda kemudian mengambil pistol dan juga menembakkan tepat di dada Karaeng Pado. Firasat Andi Sulaeha pun seketika terbukti.

***

Ayahanda menurut sejarah peristiwa ini mengakibatkan diadakannya pembersihan besar-besaran oleh tentara Belanda pada desa-desa di sekitar Buluballea, Tombolo Pao sampai pada Sinjai Barat.

Entah kemana Andi Sulaeha perempuan kaya akan kecantikan khas wanita Bugis-Makassar dengan kulit putih dan bibir merah yang selalu santun itu membawa anak-anaknya bersembunyi dari ancaman tentara Belanda, karena menurut kabar anak bungsunya pun ikut  meregang nyawa akibat tidak bisa diselamatkan ketika rumah  yang menjadi tempatnya berlindung selama ini, habis dibakar tentara Belanda. Kepedihannya yang harus menerima kenyataan bahwa Ia telah menjanda di usia yang terbilang muda, masih terus berlanjut dalam perjalanan membawa anak-anaknya  untuk berpindah dari satu persembunyian ke tempat persembunyian lain adalah luka yang juga harus Ia tanggung sendiri.

Sungguh suatu sejarah yang tidak bisa kita kubur,  peristiwa 11 Desember 1946 mengajarkan kita bahwa pejuang-pejuang terdahulu rela mati muda dan mengesampingkan kepentingan pribadi demi kehidupan generasi mendatang yang lebih laik dan lebih baik.

Mungkin sampai di sini dulu balasan surat dari Ananda, semoga Ayahanda guru senang dengan cerita pahlawan dari barat kota Sinjai ini. Adapun Ananda berharap kesehatan dan keselamatan selalu menjadi Rahmat untuk Ayahanda yang sedang di Negeri Barat sana.

Air Mata Perempuan dan Puisi Lainnya

Kisah Di Bau-Bau

 

Kisah itu tenggelam di balik pohon

Merintis bibir mahasiswa abal-abal

Mereka tercengang saat aku tertawa

Lalu mengerti  mengapa

 

Kuberi jalan agar kita tak bertemu buntu

Bahwa kisah punya bayaran yang setimpal

 

“Kau dimana?” tanyaku

“di Bau-Bau” kau jawab dengan nada tergesa-gesa

 

Bila tak ada orang, jadilah  kau orang itu

Peluang menjadi pertama

Agar kisah ini tidak tenggelam begitu saja

Kisah di bau-bau

 

Kau hardik

Kau cermat

Kemudian kau bongkar

Entah siang, entah malam,  entah pagi

Kau pilih waktumu, kau pilih tempatmu,

Dan kau hitung jumlah uangmu

 

Mungkin pisaumu sedikit tumpul

Pernah  terjadi sebelumnya

Sudah waktunya untuk ditajamkan kembali

 

Menelusuri kisah

Kisah yang tenggelam di balik pohon

Kisah di Bau-Bau

 

Agar dunia tahu

Dimana kita

 

 (Bau-Bau, Selasa, 18 April 2017)

 

 

Ceritamu Malam Ini

 

Malam ini kau bercerita

Tentang masa yang kau pilih sendiri

Waktu dan tenaga hilang tertimbun

Dan lagi-lagi kutemukan dikamar mandi

 

Seperti resah

Sepertinya lucu

Kutunggu malam ini seabad sudah

Kau tak peduli siapa aku

 

Mungkin kau rindu

Tapi tak perrnah sadar ini rindu namanya

 

Kau akhiri cerita dengan sentuhan hangat di pipi

Ternyata aku pun rindu

Rindu kecupan dan belaian

 

Aku menunggu kau kembali

Entah esok, entah kapan

Dan pada tutupan cerita masih ada kau

Masih ada rindu

 

(Bau-Bau, 27 Maret 2017)

 

 

Langkah Sebuah Pensil

 

Aku melangkah dengan sebuah pensil

Dan tintanya adalah  kekuatan yang tak terkira

Bahkan hingga nafas berpamit pulang

Tak sadar oleh harga-harga yang dibuat

 

Sejak tadi ku tatap gelap

Berteman dengan cahaya petir

Dalam halaman-halaman yang tak kunjung habis

Menjemput pulau di dunia lain

 

Setelah suaranya berdering membuyar

Menahan segala tangis dan rindu

Ia tak begitu tahu mengapa ku harus berdiam

Namun tetap berjanji memelukku dari jauh

 

(Jayapura, Jumat, 15 April 2016)

 

 

Air Mata Perempuan

 

air mata perempuan itu pahit

sepahit pisang mentah yang kau gigit tadi pagi

seolah tak ada lagi ketenteraman

kau umpat mereka satu per satu

pelan-pelan kau bunuh mereka

sesudahnya kau menangis membasuh diri

 

ini hujan sudah berusia senja

tenggelamkan wajah daun-daun yang baru mau tumbuh

mangkuk kosong yang kuisi dengan amarah

terasa sangat pahit

 

karena tetesan air mata perempuan

perempuan yang tenaganya hanya sebatang besi

 

(Bau-Bau, 30 Juni 2017)

Sepucuk Surat dari Orang yang Merindu

Rappang, 05 September 2015

Teriring sepucuk surat untukmu Nona. Di ujung sana, di Tana Toraja. Sebelumnya, sahaya ingin menanyakan kabarmu, Nona. Apakah kamu baik-baik saja? Ataukah kamu lagi nelangsa? Sahaya harap kabarmu baik-baik saja.

Oh, iya! Hampir lupa, apakah engkau masih mengingatku? Sahaya harap kamu masih mengingatku. Seorang pria yang pernah menyatakan rasa kepadamu. Nona, apakah kamu memikirkan mengapa sahaya mengirimkan surat kepadamu? Ataukah mengapa sepucuk surat —jikalau sampai—terkirim ke padamu? Ataukah mengapa surat ini jauh-jauh dari selatan menempuh jarak berkilo-kilometer bahkan beratus-ratus kilometer hanya untuk menyambangi kotak pos rumahmu? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan berkelebat di pikiranmu, mungkin juga tidak.

Nona, ketahuilah bahwa sahaya membuat surat ini hanya karena rindu kepadamu, hanya itu saja, tak lebih dan tak kurang, walaupun dalam benakmu berkata, “Ah, kamu kirim surat kepadaku karena belum bisa move on dari cinta yang bertepuk sebelah tangan!” Jikalau dalam pikiranmu berkelebat demikian, maka sahaya akan menerima apa adanya. Toh sahaya tidak punya kuasa atas isi pikiranmu.

Sebelumnya, sahaya ingin menanyakan ikhbar kampung halamanmu Tana Toraja. Apakah masih sesejuk dahulu? Sahaya harap Tana Toraja masih seperti dahulu; sejuk, indah dan nyaman.

Nona, jikalau surat ini mengganggumu maka kembali sahaya menghaturkan maaf, bukan bermaksud mengganggumu, melainkan hanya merindu kepadamu. Lantas, mengapa bisa sahaya merindu? Oh, Nona ketahuilah sahaya merindu karena tetiba saja mengingat peristiwa di jaman bahuela—di saat kita masih berstatus mahasiswa baru.

Masih ingatkah kau peristiwa perjalanan dari Kota Makassar menuju Bumi Latemmamala—yang sejuk itu? Sahaya harap Nona masih mengingatnya. Jikalaupun Nona tak mengingatnya, ijinkanlah sahaya membangkitkan momen itu.

Saat itu, ketika bus melaju dengan penuh khidmatnya membelah dan menyusuri jalan Camba. Sahaya mencuri-curi pandang ke arahmu, sepasang bola mata ini hanya tertuju padamu, tidak memfokuskan pandangan pada hamparan sengkedan yang begitu indah. Pun tak kuhiraukan lebatnya hutan lindung Kabupaten Maros. Juga tak kuhiraukan kelokan nan terjal jalur Camba. Semua manifestasi keindahan di mataku tak kuhiraukan. Karena bagiku, yang indah saat itu hanyalah aura dan pesonamu dan tentunya, mata sendumu.

Nona, sahaya masih mengingat kejadian itu, engkau duduk di kursi bagian tengah dekat jendela bus. Sedangkan sahaya hanya berdiri di bagian depan dekat pintu bus belakang. Saat itu, kawan kita, lelaki berperawakan tinggi—yang mengingatkanku pada salah satu personelnya Super Junior Kyuhyun—memberikan satu kode kepadaku, sahaya paham kode itu, suatu lambaian tangan yang menyiratkan kata, “Bro, kamu duduk di sampingnya! Mumpung kursinya kosong, ajak ia bicara.”

Sahaya mengerti maksud dari kode itu, pun kuikuti kata hati dan memberanikan diri untuk duduk di sampingmu. Dan… dag…dig…dug…dag…dig…dug… jantungku berdetak. Mengapa demikian?! Karena engkau tertidur lelap, mungkin kecapaian. Nona, saat engkau terlelap maka sungguh! Engkau begitu cantik saat itu. Maka benarlah kata nenek sahaya, bahwa kecantikan alami dari seorang gadis celebes dapat dilihat ketika ia terlelap.

Namun sahayang,  itu hanya berlangsung sepuluh menit, karena engkau terjaga lalu tetiba saja berpindah tempat. Ah…, Nona! Perlakuanmu padaku saat itu kuartikan sebagai, “Maaf  yah?! Kamu tidak usah dekat-dekat padaku,”

Sekejap saja, sahaya memilih untuk memandang keluar jendela. Menunggu temaram dan senja berlalu.

***

Nona, masih ingatkah kau ketika malam menyambangi Kabupaten Soppeng. Di beranda rumah Pak Ketua Panitia—yang sama-sama kita kenal sebagai pria parlente, flamboyan, dan don juan. Mungkin yang Nona ingat hanyalah hal-hal formatif saja, suasana desa yang sejuk, keramahan warga dan bahasa bugis yang indah. Namun, sahaya berbeda Nona, yang kuingat adalah perbuatanku yang keseringan mencuri-curi pandang, tepat di beranda rumah—yang timpaq laja’ nya tersusun tiga. Wih…, hatiku berdesir saat itu, memandangi ciptaan tuhan, gadis dari Tana Toraja. Ahh…, sungguh mungkin itulah yang dinamakan lope. Lope pakai logat Makassar. Walaupun sahaya ana’ ogiq kasiasi.

            Nona, tahukah kau? Semenjak malam hingga siang hari menyambangi Kabupaten Soppeng, ada satu kebulatan tekad saat itu. Menyatakan perasaan, mengutarakan isi hati.

Mungkin kamu masih mengingat waktu itu, kala cahaya matahari yang terik menembusi dedaunan yang merimbungi Sewo. Engkau berjalan di hadapanku, sahaya membuntutimu dari belakang. Pada satu waktu yang tepat, tetiba saja sahaya mencegatmu. Matamu menuding tajam kepadaku, seolah ada siratan makna dalam pikiranmu, “Ini si botak-cupu bin aneh mau ngapain lagi?!”

Nona, sahaya tak menghiraukan sorotan mata itu, yang kupedulikan saat itu hanya satu! Mengutarakan perasaan. “Nona, tahukah kau bagaimana perasaanku kepadamu? Sesungguhnya ada satu desiran ketika menatap wajahmu. Serasa hati ini berdebar. Nona, apakah kamu memiliki satu perasaan yang sama denganku? Perasaan berdebar-debar ketika menatapku?”

Seketika saja sahaya harap-harap cemas, apakah kamu menerima utaran maksud atau tidak? Namun sayang, engkau hanya menyeringai dan melambaikan tangan. Sebuah pertanda yang cukup untukku. Engkau berlalu, sejenak kemudian berbalik. Dari bibirmu yang ranum berujar kata, “Maaf, saya sudah ada yang petik.”

Sahaya hanya menghela nafas yang panjang, sejenak terpekur.  Rupanya, Nona cantik dari Tana Toraja menolakku.

***

Nona, sahaya harap kamu jangan tersinggung dengan isi surat ini, ataukah membenciku karena mengungkit peristiwa itu. Nona, sekali lagi dan mungkin telah kuulang berkali-kali. Bahwa surat ini kubuat lantaran merindu kepadamu.

Nona, walaupun sudah bertahun-tahun telah berlalu, pertemuan pertama kita di hari senin pertama di bulan september tahun 2011. Dan semenjak sahaya telah merasakan desiran hati kepadamu. Dan sejak engkau menolakku di Sewo. Sahaya harap engkau tak pernah lupa dengan peristiwa itu.

Nona, tahukah kau?! Setelah penolakan itu, sahaya menjadi bahan perundungan teman-teman, tak terkecuali beberapa ayahanda di jurusan. Sahaya tak usah menyebutkan namanya, tak eloklah. Toh itu sudah menjadi rahasia umum, bahwa sahaya telah menyatakan satu perasaan di tempat cukup aneh, hutan belantara di dekat situs megalitik. Yang mungkin terdapat kuburan di dekatnya.

Bahkan setelah setahun sejak kunyatakan perasaanku, sahaya masih saja diperhadapkan pada perundungan. Kawan kita dari Butta Toa itu pernah berujar kepadaku, saat kita bersama-sama menuju kampung halamanmu—dalam rangka lawatan sejarah dan budaya. Dengan logat Makassarnya yang khas, “Pantasko ditolak sama cewe! Ka kau iyya nutembaki di dekat kuburan! Tena romantis-romantisna.

Nona, setidaknya melalui surat ini sahaya ingin menyampaikan satu hal. Sahaya bersyukur pernah memiliki rasa terhadapmu. Walaupun pada akhirnya perasaan itu hanya bertepuk sebelah tangan. Toh itu sudah berlalu dan telah manjadi bagian dari kisah sejarah—walaupun kisah itu hanya untukku. Nona, sahaya akan mengakhiri surat ini dengan satu pertanyaan, “Apakah Nona bersedia membalas surat ini? Surat dari seorang yang merindu.”

Terkirim dari Sungguminasa 29 Juni 2016, dan mungkin tak pernah sampai…

 

Sumber gambar: mailboxhappiness.blogspot.co.id