Arsip Kategori: Teori

Sekilas Tentang Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan Pasca Perjanjian Bongaya[1]

Pernah satu waktu saya bersua dengan saudara Erwin Djunaedi—lelaki dari Kabupaten Wajo yang berkebetulan menjadi seorang duta museum Yogyakarta—pada satu masa di bilangan Makassar, kala itu kawan saya yang alumni Ilmu Sejarah UGM itu memintaku untuk mengajaknya berkeliling Kota Makassar, mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota para daeng. Wal hasil saya membawanya ke sebuah tempat yang dikatakan kawasan Kota Tua Makassar, sebuah daerah yang dahulunya bekas Staatsgemente Macassar[2] yang kini bagian dari Kecamatan Ujung Tanah (di sebelah utara) hingga Kecamatan Mamajang (selatan jalan Veteran Selatan).

Singkat kata saya mengajaknya bertamasya menyusuri seluk beluk Kawasan Kota Tua Makassar, mulai dari melihat-lihat klenteng di Kawasan Pecinan Makassar[3] yang berlokasi di sekitaran Jalan Sulawesi, menyaksikan gedung-gedung tua peninggalan Belanda; seperti Kantor Walikota, Gedung Kesenian Makassar, Museum Kota Makassar, Gereja Immanuel, dan beberapa gedung-gedung tua di sepanjang jalan Ahmad Yani dan Jalan Balaikota. [4] Kunjungan hari itu diakhiri dengan menyaksikan semburat senja di Fort Rotterdam (Ujung Pandang)[5], salah satu benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo—yang setelah Perjanjian Bongaya diteken, benteng ini diserahkan ke VOC Belanda.

Perjumpaan saya dengan saudara Erwin Djunaedi tidak berakhir di situ, keesokan harinya beliau meminta kesediaan saya untuk menyambangi salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Gowa, yakni Istana Balla Lompoa yang terletak di jantung Kota Sungguminasa. Permintaan eks mahasiswa Ilmu Sejarah UGM ini pun saya amini, sebagai tuan rumah yang baik maka saya langsung mengajaknya menuju lokasi, melihat Istana Balla Lompoa yang telah berubah fungsi menjadi museum.

Syahdan, ketika berada di kawasan Balla Lompoa, Erwin Djunaedi sempat melontarkan pertanyaan seputaran Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang tentu saja selaku eks mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM pertanyaan itu kujawab. Kujelaskan seksama tentang awal mula lahirnya Kerajaan Gowa dengan menarasikan mitos atau kisah Tomanurung, pun tak ketinggalan kuceritakan tentang Daeng Matanre Tumapa’risi Kalllonna, Raja Gowa ke-9 yang mengubah orientasi kerajaan dari agraris menjadi maritim. Tidak sampai di situ, saya juga menyempatkan menjelaskan tentang daerah-daerah kekuasaan dan pengaruh Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar) yang membentang luas pada Abad XVII.[6] Walaupun demikian, ada satu pertanyaan dari saudara Erwin Djunaedi yang tak bisa saya jawab, tentang kondisi politik, pemerintahan, dan wilayah serta pengaruh Kerajaan Gowa-Tallo pasca Perjanjian Bongaya.

***

Berselang beberapa masa setelah kejadian itu, ketika berkuliah di Program Pascasarjana UNM, pertanyaan Erwin Djunaedi tempo itu terulang kembali—dalam mata kuliah Sejarah Perkembangan Politik. Saat itu dosen pengampuh mata kuliah Dr. A. Suriadi Mappangara, M.Hum menugaskan kami untuk mencari tentang kondisi politik kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pasca Perjanjian Bongaya 1667. Dalam penugasan itu kami diminta untuk membaca setidaknya tiga buku, pertama Warisan Aru Palakka karya Andaya, kedua Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I, dan ketiga Minawang : Hubungan Patron Klien.

Membaca ketiga buku tersebut, sedikit banyak memberikan informasi mengenai kondisi Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan pasca Perjanjian Bongaya. Andaya dalam bukunya Warisan Aru Palakka menyebutkan, setelah Perjanjian Bongaya penguasa Bone—dalam hal ini Aru Palakka—dan Kerajaan Bone menjadi “penguasa tunggal” di jazirah Sulawesi Selatan (bersama V.O.C tentunya). Bahkan lebih jauh lagi Andaya menjelaskan bahwa ketika penguasa-penguasa lokal di Sulawesi Selatan ingin menghadap ke-pada VOC Belanda harus melalui perantara Aru Palakka—Kerajaan Bone.[7]

Lebih lanjut dalam buku Sejarah Sulawesi Selatan jilid I dijelaskan tentang penggambaran geo-politik Sulawesi Selatan pada Abad ke-XVII, salah satunya adalah pembagian—segregasi / pemisahan—antara kerajaan-kerajaan Bugis dan kerajaan-kerajaan Makassar yang dilakukan oleh Speellman. Apa yang dilakukan sang penguasa kolonial ini sesungguhnya suatu tindakan untuk memertahankan pengaruh dan kekuasaan Belanda di Jazirah Sulawesi Selatan—di samping tetap menjaga dan menjalin persahabatan dengan Kerajaan Bone.

Adapun dua kelompok besar itu ialah Kelompok Bugis, kerajaan-kerajaan yang tergolong dalam kelompok tersebut adalah Kerajaan Bone, Soppeng, Binamu, Bangkala, dan Laikang. Keterlibatan kerajaan-kerajaan itu sehubungan dengan pemihakan mereka terhadap Aru Palakka dalam Perang Makassar.[8] Sedangkan kelompok kedua adalah Kelompok Makassar yang berada dalam kepemimpinan Raja Gowa. Kerajaan-kerajaan yang tergolong dalam kelompok ini adalah semua kerajan di Sulawesi Selatan yang berpihak kepada Kerajaan Gowa-Tallo dalam Perang Makassar yang tidak tergolong dalam Kelompok Bugis, antara lain: Mandar; Luwu; Wajo; Sidenreng; Agangnianjo; Kerajaan-Kerajaan Malussetasi, Suppa, Sawitto, Enrekang, dan Toraja.[9]

Seiring berjalannya waktu, beberapa kerajaan-kerajaan tersebut kehilangan otonominya—sebagai konsekuensi dalam Perjanjian Bongaya. Heddy Shri Ahimsa Putra dalam bukunya Minawang : Hubungan Patron Klien di Sulawesi Selaatan menjelaskan secara ringkas tentang pembagian daerah Sulawesi Selatan dalam dua bentuk, pertama kerajaan yang diperintah langsung oleh Belanda—dalam istilahnya rechtsreeks bestuurd gebied yang juga dikenal dengan istilah gouvernementslanden. Lalu apakah yang dimaksud kerajaan yang diperintah langsung oleh Belanda? Secara sederhana kerajaan yang diperintah langsung oleh Belanda ialah suatu kerajaan yang di mana pihak Belanda memiliki kuasa terhadap urusan politik, keamanan, perekonomian, dan perdagangan atas kerajaan tersebut selain itu kerajaan-kerajaan tersebut berada dalam pengawasan pegawai pemerintahan kerajaan Belanda—dalam hal ini penunjukan seorang regent, controuler, asisten countroler, resident, asisten resident.[10] Adapun daerah yang dikuasai Belanda secara langsung di Sulawesi Selatan dibagi dalam suatu afdeling-afdeling sebagai berikut: (1) Afdeling Makassar: terdiri dari Makassar[11] dan Kerajaan lama Tallo; (2) Afdeling Nooderdistricten (Wilayah distrik utara) : terdiri dari Maros, Pangkajene, Segeri, dan beberapa Bergregentschappen; (3) Afdeling Zuiderdistricten (Wilayah distrik selatan) : terdiri dari Binamu, Bonthain, dan Bulukumba; (4) Afdeling Takalar : terdiri dari Takalar dan Bangkala; (5) Afdeling Oosterdistricten (Wilyah distrik timur) : terdiri dari Balangnipa, Bikeru, dan Kajang; dan (6) Afdeling Saleier.

Dalam alinea-alinea sebelumnya dijelaskan bahwa pasca Perjanjian Bongaya beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan kehilangan otonominya, walaupun demikian tidak semua kerajaan-kerajaan kehilangan legitimasi kekuatannya. Kerajaan Gowa walaupun kalah dalam perang masih dipandang sebagai suatu kerajaan yang merdeka sejajar dengan Kerajaan Bone yang menjadi pemenang dalam Perang Makassar. Kedua kerajaan ini berstatus bondgenootschaplanden atau kerajaan sekutu, selain Kerajaan Gowa dan Bone terdapat pula Kerajaan Mandar, Luwu, Masenrempulu, Wajo, dan sebagainya—kerajaan lokal yang menjadi sekutu ini tetap dikendalikan oleh raja masing-masing dan tidak berada di bawah kekuasaan Belanda. Hubungan antara kerajaan sekutu dengan Belanda lebih bersifat hubungan kontrak atau perjanjian. Dan bagi Belanda, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone pada masa itu dipandang sebagai sekutu utama.[12]

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andaya, Leonard Y.,(diterjemahkan oleh Nuhary Sirimorok). 2004. Warisan Aru Palakka Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. Makassar: Ininnawa.

Anwar Jimpe Rahman (peny.) 2004.  Seri Kompilasi Tulisan Makassar Nol Kilometer (Dotcom) Jurnalisme Plat Kuning : menceritakan wajah Makassar yang lain – dari meja warkop sampai riuh festival rock. Makassar : Tanah Indie.

Majalah Imaginedhistoria edisi Februari – Mei 2016

Majalah Imaginedhistoria edisi Agustus – Desember 2016.

Palisuri, H. Udhin, dkk. 2000.  Makassar Doeloe, Makassar Kini, dan Makassar Nanti. Makassar : Yayasan Losari Makassar.

Poelinggomang, Edward L., dan A. Suriadi Mappangara (ed), dkk., 2004. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I. Makassar: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan.

Rasyid, Darwas. Beberapa Catatan tentang Benteng-Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa. Ujung Pandang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Wiarawan, Yerry. 2013. Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar dari Abad ke-17 hingga ke-20. Jakarta : KPG.

 

Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/-yQCubSTOI-c/VHQ9Mqu6VYI/AAAAAAAAC2s/nGt_BXrsCGk/s1600/hsntm.jpg

 

 

[1] Tulisan ini lahir ketika saya mengerjakan tugas Mata Kuliah Sejarah Perkembangan Politik—yang diampuh oleh Dr. Andi Suriadi Mappangara, M.Hum.

[2] Penjelasan terperinci mengenai “di mana kawasan Kota Tua Makassar” itu dapat dilihat secara tersirat di buku Anwar Jimpe Rahman (peny.) Seri Kompilasi Tulisan Makassar Nol Kilometer (Dotcom) Jurnalisme Plat Kuning : menceritakan wajah Makassar yang lain – dari meja warkop sampai riuh festival rock. (Makassar : Tanah Indie, 2004) Lihat juga Majalah Imaginedhistoria edisi Februari – Mei 2016 dan edisi Agustus – Desember 2016.

[3] Penulusuran tentang masyarakat Tionghoa di Makassar dapat dilihat pada karya Yerry Wiarawan, Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar dari Abad ke-17 hingga ke-20. (Jakarta : KPG, 2013)

[4] Untuk informasi mengenai bangunan-bangunan tua di Makassar dan Gedung Kesenian Makassar dapat disimak dalam kumpulan tulisan yang dikuratori H. Udhin Palisuri, dkk., Makassar Doeloe, Makassar Kini, dan Makassar Nanti. (Makassar : Yayasan Losari Makassar, 2000) Hlm. 71-78 dan Hlm 293-295.

[5] Mengenai Fort Rotterdam dapat dilihat dalam tulisan Darwas Rasyid, Beberapa Catatan tentang Benteng-Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa. (Ujung Pandang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional)

[6] Mengenai wilayah Kerajaan Gowa – Tallo dapat dilihat dalam salah satu peta yang termaktub dalam bukunya Abd. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa dan salah satu koleksi peta milik Museum Balla Lompoa Sungguminasa.

[7] Leonard Y. Andaya, (diterjemahkan oleh Nuhary Sirimorok)., Warisan Aru Palakka Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. (Makassar: Ininnawa, 2004)

[8] Edward L. Poelinggomang dan A. Suriadi Mappangara (ed), dkk. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I (Makassar: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan, 2004). Hlm. 130-131

[9] Ibid.

[10] Heddy Shri Ahimsa Putra, Minawang : Hubungan Patron Klien di Sulawesi Selatan. (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press)

[11] Makassar yang dimaksud di sini mungkin sekitaran wilayah Fort Rotterrdam, yang pada perkembangan selanjutnya menjadi Staatsgemente Macassar yang terdiri dari empat distrik yakni Distrik Wajo, Distrik Makassar, Distrik Ujung Tanah, dan Distrik Mariso. Selengkapnya lihat pada Majalah Imaginedhistoria edisi Agustus – Desember 2016.

[12] Heddy Shri Ahimsa Putra, Op.,Cit. Hlm. 52-53

Waktu Senggang Perempuan di Bawah Telunjuk Kapitalisme

 

Rentang sejarah kehidupan manusia yang panjang, ada gerak perubahan yang menjadi keniscayaan dalam semesta kehidupan. Hal tersebut tak menampik timbulnya pembelahan atas waktu yakni waktu senggang dan bekerja, yang mewarnai ragam corak kehidupan manusia, terutama makhluk yang bergelar perempuan. Peristiwa ini telah diulas dengan apik oleh salah seorang Intelektual di Makassar, Muhammad Ridha dalam bukunya “Sosiologi Waktu Senggang: Eksploitasi & Komodifikasi Perempuan di Mall”.

Josef Pieper dalam Ridha, mengemukakan pemanfaatan waktu senggang yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Di mana waktu senggang pra industri tepatnya di era Yunani klasik, dimanfaatkan untuk produktifitas pemikiran dengan berfikir mendalam dan radikal tehadap makna filosofis dan hakiki kehidupan manusia, berlangsungnya aktivitas berdiskusi, berimajinasi soal-soal terdalam kemanusiaan. Sehingga pemanfaatan waktu senggang melahirkan banyak buah pemikiran yang cemerlang di zaman tersebut seperti Anaxigoras, Parmanedes, Plato, Sockrates, Aristoteles dan lain-lain. Tak luput juga karya-karya dari beberapa filosof perempuan yang lahir di masa itu, yang saat ini jarang disabdakan, seperti Theano yang merupakan istri Pytagoras, Diotima dari Mantinea yang diakui Plato sebagai mentor Socrates, Aspasia dari Miletus sang politikus, Hypatia dari Alexandria sebagai ahli matematika dan fisuf neo-platonis.

Pasca industri, waktu bekerja belangsung padat, pemanfaatan waktu senggang mengalami pergeseran aktivitas. Sebagaimana yang dibahasakan Ridha, waktu senggang tidak lagi bermakna kontemplatif, tetapi pada makna simbolik konsumsi. Lebih jauh diungkapkan di era industrial lahir masyarakat konsumen, di mana praktek waktu senggang sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dengan kerja secara jelas, yakni keduanya bisa dilakukan bersamaan dalam satu kesempatan. Waktu senggang seperti halnya waktu kerja yang dinilai sebagai aktivitas ekonomi di mana waktu senggang ini dimanfaatkan oleh industri dalam proses penjualan komoditasnya.

Pada era ini pula, gaung kebebasan bagi perempuan bergema. Perempuan menemukan momentum kebebasan dirinya untuk mengaktualisasikan diri secara terbuka di ranah publik, setelah melewati proses diskriminasi yang cukup lama. Pendiskriminasian perempuan dalam analisa penulis, telah lahir dari konstruksi sosial yang telah tertanam sejak berabad-abad, perempuan didefenisikan di bawah kekuasaaan dan kepentingan laki-laki. Sebagaimana Plato dan Rene Descartes  dalam Arivia mengungkapkan bahwa perempuan adalah makhluk yang irasional, tidak mampu dalam ilmu pengetahuan. Selain itu, Thomas Aquinas, Aristoteles, Francis Bacon mengatakan bahwa perempuan layaknya berada di dunia domestik dan berfungsi sebagai makhluk bereproduksi daripada mereka berkecimpung di dunia publik sebagai makhluk yang produktif. Pada masa Arab jahilia, perempuan juga dimaknai sebagai aib besar bagi keluarga, liang kubur menjadi rumah yang nyaring akan tangisan bayi perempuan. Jika hidupnya dipertahankan, ia hanya sebatas pelayan laki-laki.

Setelah kehadiran Rasulullah saw, melalui kehadiran buah hatinya Fatimah Az Zahrah, barulah perempuan mendapatkan tempat dalam struktur masyarakat jahilia kala itu. Fatimah Az Zahrah menjadi tonggak istimewa diakuinya eksistensi  dan hak-hak kemanusiaan perempuan. Meski demikian, kepentingan dan kekuasaan laki-laki tetap langgeng seiring dengan gerak zaman. Sejarah yang menjadi pil pahit yang harus ditelan oleh kaum perempuan juga digambarkan Frederick Engels dalam bukunya, “Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara” tentang ruang gerak perempuan yang direduksi seiring dengan perubahan dalam organisasi keluarga. Fase awal, perempuan dan laki-laki tidak memiliki ikatan dengan perempuan  dan perempuan bebas menentukan hidupnya.

Fase kedua, terjadi seleksi alam, populasi perempuan lebih sedikit daripada laki-laki sehingga banyak laki-laki yang memutuskan untuk tidak ingin melepaskan pasangannya. Sejak itu, diberlakukan aturan mengenai pasangan tetap. Pada masa ini perempuan dianggap sebagai asset. Engels mengasumsikan bahwa masyarakat ketika itu adalah masyarakat matrilineal (garis keturunan ibu) dan juga masyarakat matriarkhal (perempuan mempunyai kekuasaan ekonomi dan politik). Fase ketiga, perkembangan dan perubahan terus terjadi, aktivitas memproduksi alat-alat material rumah tangga dianggap tidak memadai lagi, aktivitas perburuan binatang kemudian menjadi mata pencaharian yang penting untuk kelangsungan hidup. Di sini pergeseran kekuasaan mulai terlihat berubah, pembagian kerja dibentuk, perempuan terkungkung di dalam pekerjaan rumah dan dianggap tidak lebih penting dari aktivitas laki-laki. Hal ini disebabkan, hasil perburuan tidak hanya untuk makan tetapi dapat dipertukarkan dengan barang lain. Sehingga hasil produksi laki-laki semakin dihargai. Atas dasar itu, laki-laki kemudian menempati posisi yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat.  Sampai pada akhirnya, laki-laki menggeser garis matrilineal menjadi garis patrilineal dan mengokohkan budaya patriarkhal. Engels mengatakan pada saat itulah terjadi “kekalahan sejarah terbesar bagi mereka yang berjenis kelamin perempuan”.

Pengukuhan atas identitas dan posisi perempuan dalam rentang sejarahnya yang cukup panjang ini, telah berhasil menanamkan nilai ruang yang telah dijeniskelaminkan, bahwa perempuanlah yang menjadi pemangku ranah domestik, meski gaung kebebasan tentang aktualisasi diri telah digencarkan oleh para feminisme di era industri. Ibarat gayung yang bersambut dengan wajah sistem kapitalisme yang tumbuh subur pada era ini. Peran dan kebutuhan pemangku domestik, disambut baik oleh sistem kapitalisme dengan menyediakan tempat yang nyaman dan ragam kemudahan bagi perempuan dalam mendapatkan segala kebutuhan domestik. Prinsip efisiensi dan efektifitas ini telah mendukung langkah-langkah strategis perempuan dalam melakukan aktivitas konsumsi.

Selain sebagai pelaku konsumsi, perempuan juga menjadi sasaran empuk kapitalis untuk menjadi objek pelaris. Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Dunia yang Dilipat” melihat keterpautan antara perempuan dan ekonomi politik tubuh. Adalah hal yang kontradiksi, perempuan yang menyatakan telah mendapatkan kebebasannya berekspresi di ranah publik atau kegiatan-kegiatan industri, namun terperangkap dalam tata tertib atau pendisiplinan tubuh melalui etiket sistem kapitalis. Di mana Yasraf mengemukakan bahwa sejarah tubuh perempuan di dalam ekonomi politik kapitalisme adalah sejarah pemenjaraannya sebagai tanda atau fragmen-fragmen tanda. Fungsi tubuh digeser dari fungsi organis biologis atau reproduktif ke arah fungsi ekonomi politik, khususnya fungsi tanda. Tubuh perempuan dimuati dengan modal simbolik ketimbang sekedar modal biologis.

Keterlibatan perempuan di ranah industri menghadirkan dua sisi yang memiliki garis impit, antara eksplorasi dan eksploitasi. Mekanisme eksploitasi tubuh perempuan agar berfungsi dan berpotensi sebagai tanda, selain di pusat-pusat perbelanjaan juga digunakan dalam media massa, sebagaimana Raditya mengungkapkan yakni nilai tanda tubuh sebagai komoditi media. Hal tersebut dapat dilihat melalui berbagai aspek. Pertama, tampilan tubuh (body apprearance), di mana tubuh ditertibkan melalui tampilan yang menekankan aspek umur, yang secara visual tubuh perempuan memiliki nilai sensualitas yang relatif tinggi. Kedua, perilaku, aspek ini menentukan relasi tanda tubuh (body sign). Dilihat dari ekspresi tubuh dengan berbagai gaya (menantang, merayu, menggoda dan lain-lain). Ketiga, Aktifitas tubuh yang menjadi penanda bagi posisi sosialnya. Diantaranya sentuhan, apakah sebatang tubuh itu pasif, aktif, lemah, dan berkuasa.

Pada posisi ini, perempuan yang tadinya telah mendapatkan kemerdekaan untuk berekspresi di ranah publik, baik dalam menikmati waktu senggangnya maupun bekerja, kembali masuk ke perangkap ketertindasan model baru, yakni melalui penjajahan atas tubuh. Bagian ini pula yang menjadi sorotan feminisme postkolonialisme, yang menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang maupun mentalitas perempuan. Melalui sistem kapitalisme, terjadi kolonialisasi terhadap tubuh perempuan, hingga perempuan tidak memiliki kuasa lagi terhadap tubuhnya.

 

Referensi:

Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan

Engels, Frederick. 2004. Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara. Kalyanamitra

Raditya, Ardhie. 2014. Sosiologi Tubuh. Yogyakarta: Kaukaba

Ridha, Muhammad. 2012. Sosiologi Waktu Senggang; Ekslpoitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall.Yogyakarta: Resistbook.

Piliang, Yasraf Amir. 2010. Dunia yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung; Matahari.

 


 

Gara-Gara Foucault

Eike kira kekuasaan tidak serta merta hanya berurusan dengan negara sebagai institusi koersif yang selama ini sering dianggap sebagai satu-satunya sumber. Atau bahkan kekuasaan adalah legitimasi yang dimiliki negara secara “ekslusif” untuk menundukkan warganya kepada suatu kepatuhan tertentu. Kekuasaan, seperti yang dikatakan Michel Foucault –seorang sosiolog cum filsuf pasca strukturalis– hanya dapat diandaikan dalam hubungan relasional. Artinya, setiap ada relasi, maka di situ ada kekuasaan.

Eike mengganggap ini perlu diangkat (kembali) ke permukaan untuk memahami bahwa selain melalui negara, kekuasaan itu tersebar di mana-mana.

Jadi tidak seperti dalam pengertian klasik, kekuasaan di mata Foucault lebih bersifat menyebar dari pada fenomena tunggal seperti yang diyakini selama ini.

Implikasi dari cara memahami kekuasaan seperti ini, maka dalam konteks sehari-hari, kekuasaan sangatlah mungkin diidentifikasi secara konkrit (dan kompleks) di dalam setiap hubungan yang je alami.

Je mungkin saja adalah seorang mahasiswa yang setiap hari berurusan dengan dosen, begitu juga sebaliknya, yang sehari-hari berada dalam jaringan hubungan kompleks civitas akademika. Atau seorang bawahan yang bekerja di perusahaan tertentu, atau mungkin juga sebaliknya, juga berada dalam jaringan sistem struktur korporasi. Atau mungkin saja je adalah suami dari istri je, juga mungkin sebaliknya, dan juga terlibat dalam relasi sosial yang jauh lebih besar di masyarakat. Kata Foucault, di setiap relasi itu, di situlah kekuasaan dapat eksis.

Tapi, pertanyaannya adalah, siapa yang menentukan siapa lebih berkuasa dari siapa? Kondisi apa yang memungkinkan siapa lebih berkuasa dari siapa? Elemen apa saja yang mendukung terjadinya kekuasaan? Prasyarat-prasyarat apa sajakah yang menjadi mungkin untuk seseorang berkuasa? Dan seperti bagaimana proses kekuasaan itu bekerja dan dengan cara apa kekuasaan itu terjadi dalam relasi yang serba kompleks?

Je bisa saja menjawabnya melalui cara yang je sukai. Bisa mengambil contoh dari diri je sendiri, misalnya. Atau dalam kasus-kasus sehari-hari, hubungan seorang murid dan gurunya, mungkin. Dari mana je tahu seorang murid patut patuh di bawah wewenang gurunya? Kalau je pengikut pemikiran Weber, misalnya, mungkin je akan menjawab karena kharisma gurunya. Tapi, je juga mesti menerima, dari kacamata Faucauldian itu akibat relasi pengetahuan.

Sebenarnya melalui ini eike bukan mau menyoal relasi pengetahuan dan kekuasaan atau sebaliknya, yang disebut Foucault saling mereproduksi. Atau membahas secara sambil lalu konsep kekuasaan yang dinyatakan Foucault melalui karya-karyanya. Melainkan eike ingin berbagi sedikit tentang satu konsep Foucault yang juga penting: objektifikasi subjek.

Eike mengira konsep ini masih terus terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dan sering menjadi cara kekuasaan (bukan saja negara melainkan juga kelompok, komunitas, grup, person tertentu) menstigmatisasi dan kemudian menyingkirkan siapa pun dalam kehidupan sosial yang dianggap bertentangan dengannya.

Pertama eike perlu menjelaskan tentang apa itu objektifikasi subjek, dan yang paling utama siapa itu sebenarnya subjek bagi Foucault.

Eike mulai dari siapa sebenarnya itu subjek. Subjek dinyatakan Foucault sebagai entitas yang dibentuk secara spesifik dan khas dalam sejarah. Pengandaian ini sekaligus merupakan penolakan unsur metafisik dan otonom dalam subjek seperti yang dikonsepsikan pemikir-pemikir sebelum dirinya. Dengan kata lain, subjek bagi Foucault bukan seperti yang dinyatakan Rene Descartes atau pun Immanuel Kant, misalnya, yang berarti entitas yang universal dan “transparan”.

(Oh iya, jika je belum paham dengan pemakain istilah subjek, maka ganti dan identikkan saja dia sebagai manusia)

Subjek bagi Foucault karena entitas yang berada dalam sejarah, dan terbentuk di dalamnya, maka subjek dipandang Foucault mengalami konstitusi (ditentukan) melalui sejarah yang melingkupinya.  Di titik inilah pemahaman mengenai objektifikasi subjek menjadi terang.

Sementara objektifikasi subjek, secara sederhana dapat diterangkan sebagai proses ketika subjek ditundukkan menjadi objek atas kekuasaan atau wewenang tertentu. Implikasinya, objektifikasi subjek menghilangkan “ciri-ciri” dan “sifat-sifat” tertentu yang dimiliki secara esensil ataupun epistemologis dari subjek. Secara moral dan politik, objektifikasi subjek mengakibatkan dihilangkannya kebebasan dan ruang esksistensi bagi subjek.

Nah, bagaimanakah objektifikasi subjek itu berlangsung? Menurut Foucault, ada tiga modus yang mendasari subjek mengalami objektifikasi.

Objektifikasi subjek dapat dipahami, pertama, dari apa yang dinyatakan Foucault sendiri sebagai  “praktik pembelahan”. Praktik ini merujuk kepada suatu kondisi ketika subjek dijadikan objek melalui aktivitas pemilahan  dari dalam dirinya dan dari yang lainnya. Praktik ini melalui proses tertentu mengkategorisasi manusia dengan cara pelabelan dan stigmatisasi untuk menyingkirkannya dari kehidupan bersama. Foucault merujuk fakta historis ini seperti yang pernah di alami Eropa di abad 19 dengan memisahkan masyarakat tidak normal (pengidap lepra, kaum miskin, orang gila) dari masyarakat yang dinyatakan sehat dengan prosedur yang dimiliki dalam dunia medis.

Di bangsa sendiri “praktik pembelahan”, walaupun tidak sepadan, pernah dialami di masa orde baru ketika seluruh masyarakat yang berbau komunis disingkirkan dan distigmatisasi sebagai “yang lain” dan mesti dilenyapkan dari bumi Indonesia.

(Contoh yang lain dapat je sertakan di sini mengenai fenomena keagamaan yang seringkali menstigmatisasi dan melabeli golongan atau aliran keagamaan minoritas yang dianggap menyimpang dari keyakinan agama umumnya)

Kedua, manusia dibelah dan dijadikan objek melalui prosedur klasifikasi ilmiah. Praktik pembelahan ini dinyatakan Foucault terjadi dengan cara samar akibat melibatkan pengetahuan sebagai salah satu elemen yang menundukkan manusia melalui bahasa.

Kalau tidak salah tafsir, eike mengajukan kasus belakangan ini yang berkaitan dengan kebangkitan PKI sebagai contoh bahwa terjadi proses pembelahan subjek melalui ilmu pengetahuan yang berlawanan antara versi satu dengan versi lainnya. Bahkan, selama ini di bawah tirani pengetahuan tertentu, masyarakat Indonesia dibuat terbelah atas setuju tidak setujunya versi yang diajukan negara. Konsekuensinya jelas, bagi yang tidak sependapat dengan versi negara maka dengan sendirinya akan disingkirkan dan dilabeli sebagai antek-antek komunis.

Kasus yang lain juga dapat je dalami melalui aktivitas masyarakat yang selama ini sering kali berdebat kusir di linimasa medsos untuk saling merebut klaim kebenaran (dalam wilayah agama) dengan cara membangun pencapan negatif terhadap lawan debatnya melalui rezim diskursif yang dibangunnya.

Atas dasar rezim wacana, pengklasifikasian ilmiah tidak didasarkan kepada kekuasaan yang bersifat hierarkis atau siapa yang powerfull dan siapa yang powerless, melainkan secara inheren dikandung di dalam wacana itu sendiri yang secara khas sudah mapan dan dianggap sebagai satu-satunya tilikan pengetahuan.

Dengan cara demikian, wacana disebutkan Foucault adalah cara kekuasaan beroperasi tidak dengan cara menekan, koersif, intimidatif dan menindas, melainkan secara halus dan sulit terprediksi karena selain tidak nampak, juga tidak disadari memengaruhi dan mengendalikan sampai ke tingkat praktis seseorang (dapatkah je memikirkan mengapa ada seseorang melakukan misalnya, bom bunuh diri dengan cara suka rela, kalau bukan melalui rezim pengetahuan tertentu memengaruhi pikirannya sampai memungkinkannya bertindak demikian?).

(Atau coba pikirkan ulang tentang kebijakan “dua anak cukup” di masa orde baru, yang sebenarnya ditujukan kepada upaya kekuasaan untuk mengontrol populasi masyarakat dengan cara membangun wacana melalui pengetahuan yang sering dipropagandakan melalui institusi kesehatan. Program “dua anak cukup” adalah cara pemerintah menguasai tubuh masyarakatnya melalui pendisiplinan tertentu)

(Sekarang, coba je pikirkan juga melalui diskursus apakah suatu wacana membangun pembedaan antara yang benar dan yang salah, yang layak dan yang tak layak, yang harus dan yang tak harus? Otoritas pengetahuan apa yang menentukan semua itu?)

Yang ketiga adalah pembalikan dari modus-modus sebelumnya. Ini disebut Foucault sebagai “subjektifikasi”. Subjektifikasi adalah cara seseorang mengubah atau mengembalikan dirinya menjadi subjek setelah sekian lama mengalami objektifikasi. Proses ini hanya dimungkinkan jika si subjek mengalami pelampauan atas dirinya melalui keinsafannya sendiri. Dengan kata lain, si subjek berani menampilkan dimensi aktif dari dalam dirinya. Menurut Foucault proses subjektifikasi dapat dilihat secara genealogis dalam sejarah modernitas ketika manusia tampil dan berhasil keluar dari kekuatan eksternalitas budaya dan gereja yang selama berabad-abad mengalienasikan dirinya.

Subjektifikasi juga dapat dipahami dalam dua pengertian. Pertama ketika subjek menemukan otonomi kesadarannya dalam menentukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukannya secara bebas.  Atas otonomi ini, subjek keluar dan menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

Kedua, subjektifikasi berarti “kembalinya” secara tersirat “ke-aku-an” subjek melalui relasi yang saling terhubung yang memberikannya “keterhubungan kebermaknaan” di dalamnya. Dengan kata lain, “ke-aku-an” subjek bukanlah ditemukan dengan sendirinya dari dalam dirinya, melainkan dari keterhubungan relasi dengan “yang lain” di luar dirinya.

Eike kembali kepada peristiwa belakangan yang marak dibicarakan, mengenai pemutaran kembali film G30S/PKI yang kemudian dimunculkan pula film tandingan besutan Joshua Oppenheimer. Dari kemunculan dua film ini, terbuka kemungkinan terjadinya subjektifikasi melalui relasi pemaknaan yang menyandingkan dua pemahaman besar yang dikandung dari kedua film. Dengan kata lain, akan terbuka kemungkinan baru melihat dengan cara lain dalam memahami sejarah G30S/PKI bagi generasi sekarang.

Walaupun begitu, subjektifikasi dari contoh di atas tidak akan terjadi dalam konteks waktu yang singkat. Hal ini akibat subjektifikasi bukanlah pendasaran semata-mata terhadap subjek itu sendiri secara substansial, melainkan merupakan rangkaian proses terus-menerus di antara relasi struktur kompleks ideologi, politik, budaya, ekonomi, dan juga agama.

Itu berarti, untuk menjadi manusia yang sebenarnya di negeri ini adalah proses yang masih sangat panjang.

 


sumber gambar: Google

Perempuan dan Media

Seringkali saya menyaksikan pengalaman saudara perempuan saya, di waktu ia beranjak remaja. Ketika itu menulis diari adalah suatu kebiasaan –barangkali bagi sebagian besar perempuan seumuran di zamannya. Di tiap malam, pengalaman itu membentuk persepsi saya, bahwa perempuan memiliki rahasia yang diucapkannya melalui bibir kedua, tempatnya berbicara. Berhari-hari kebiasaan itu dilakukannya, menulis apa saja yang datang dari pikiran dan perasaannya. Berlembar-lembar halaman dihabiskan hingga selanjutnya dia harus bersekolah jauh dari rumah. Sampai akhirnya, saya tidak pernah lagi melihatnya menulis di buku yang disimpannya entah di mana.

Setelah selama ini sedikit mempelajari posisi dan peran perempuan dalam sejarah sosial kebudayaan, peristiwa itu saya refleksikan kembali. Saya cari apa hubungan diari perempuan sebagai medan ekspresifnya dengan alam kebudayaan tempat perempuan hidup. Berdasarkan pemikiran Luce Irigaray, seorang feminis Prancis, yang mengandaikan eratnya subjektifitas dalam bahasa, saya menemukan suatu hubungan berkenaan subjektifitas perempuan di dalam bahasa. Saya berhipotesis dalam kasus saudara perempuan saya itu, bahasa adalah medan di mana perempuan dapat menentukan dirinya. Diari, buku kecil yang menjadi representasi bahasa, dalam kasus saudara saya adalah alam kebudayaan yang dibentuknya sendiri. Dengan kata lain, kakak saya itu sedang menulis kembali budayanya, bukan sebaliknya, ditulis oleh budayanya.

Perempuan melalui dunia patriarki, adalah sosok asing yang juga sekaligus diberlakukan asing. Jika di situ ada hirarki yang mengitarinya, maka perempuan diposisikan subordinat. Jika dicari asal usulnya dalam ayat-ayat suci, perempuan ditafsirkan sebagai mahluk nomor dua. Jika perempuan ditulis di lembar kebudayaan, maka dia menjadi kata kerja pasif. Perempuan pada akhirnya, dikemukakan mengalami penindasan berlapis-lapis: beban kerja ganda, diasingkan, diperbudak, didomestifikasi, dan diseksualisasi.

Tapi, jika mau mengambil hikmat dari pengalaman saudara saya, perempuan sebenarnya memiliki peluang. Dengan segala kemampuannya, perempuan mampu menjadi subjek bahasa, subjek budaya, politik, sosial, atau subjek sejarah, jika perempuan mau bersuara. Mengemansipasi dirinya melalui media. Berpikir tentang dirinya, menulis tentang dirinya, dan juga berbahasa melalui bahasanya sendiri.

Citra perempuan dalam media

Hubungan perempuan dan media hakikinya adalah hubungan yang kompleks dan problematis.[1] Pertama, dalam konteks zaman millenial, seperti ramalan Alfin Tofler, perempuan dalam ranah informasi yang berkembang pesat akibat kemajuan teknologi informasi, hanya menjadi objek pasif dari kepentingan nalar patriarki yang bekerja di belakang media massa. Kedua, perempuan dalam visualisasi media massa, hanyalah alat akumulasi modal berdasarkan streotipenya sebagai objek hasrat. Ketiga, perempuan dalam pemberitaan-pemberitaan media massa seringkali menjadi korban akibat reportase yang tidak berperspektif perempuan.

Penelitian yang dilakukan PBB tentang peran media dalam perbaikan status perempuan, menunjukkan dua gejala patologis, pertama, betapa perempuan di pelbagai media di dunia dicitrakan hanya berdasarkan stereotipe tinimbang mewakili aspirasi perempuan.  Kedua, dalam kaitannya dengan dunia kerja perempuan di institusi media, perempuan hanya terlibat sebatas kerja-kerja administratif belaka dan tidak banyak sampai pada posisi strategis untuk dapat mengambil keputusan-keputusan penting.

Patologi pertama dalam temuan di atas menandakan bahwa ketika perempuan dicitrakan melalui pelbagai wadah –dalam kasus ini adalah media, perempuan tidak lepas dan hanya menjadi objek kekerasan simbolik dari suatu cara pandang tertentu. Kedua, melalui cara pandang yang mendeskreditkan perempuan, dalam dunia kerja juga berlaku aturan main yang merepresentasikan pandangan yang menomorduakan perempuan.

Penelitian Nurul Islam melalui Perempuan dalam Media Massa di Indonesia mengemukakan adanya hubungan industri media yang ditopang ideologi kapitalisme dengan perempuan sebagai objek penindasannya. Akibat didorong kepentingan bisnis, perempuan seringkali dijadikan alat bisnis dengan membangun visualisasi sebagai mahluk yang seksi, erotis, dan berpenampilan minim demi mengejar profit.

Iklan, sinetron, film, adalah media-media visual yang menurut Nurul Islam adalah tempat perempuan mengalami eksploitasi demi melanggengkan bisnis, produk, ataupun cara pandang, dari pelbagai bentuk tubuh, cara bicara, karakter, dan sifat yang dimiliki perempuan. (Kita sendiri seringkali menyaksikan iklan rokok, mobil, atau pemutih kulit, yang dekat sebagai contoh-contoh yang berkaitan dengan proposisi di atas).

Analasis Michel Foucault, sosiolog berkebangsaan Prancis dalam hal ini telah menerangkan bahwa tubuh merupakan pusat kenikmatan dan sensasi. Artinya tubuh menjadi politis akibat menjadi arena kekuasaan. Dalam konteks kekuasaan kapitalisme melalui industri medianya, tubuh perempuan dikategorisasi dan diidealisasi menjadi bukan sekadar tumpukan daging belaka, melainkan melibatkan penilaian atas dasar seksualitas dan erotisme di dalamnya.[2]

Narasi yang sama juga dikemukakan Yasraf Amir Piliang melalui Dunia yang Dilipat:Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, yakni tubuh dalam kategori economy-politik of the body, telah mengalami semacam “ideologisasi” penandaan yang mengaitkan tubuh perempuan dengan penandaan erotis demi melipatgandakan hasrat dalam sistem kerja akumulasi modalnya.[3]

Perempuan yang distereotipekan negatif juga tidak hanya berlaku dalam media elektronik. Melalui Wajah Perempuan dalam Media Massa, Nurul Arifin menuliskan pelabelan-pelabelan negatif terhadap perempuan selamai ini juga ditemukan dalam media cetak. Jika mengandaikan media massa sebagai reperesentasi cara berpikir budaya patriarki, maka media cetak banyak mengadopsi cara pandang demikian ketika menuliskan perempuan sebagai bahan beritanya.

Itu artinya perempuan sebagai suatu konsep dan sekaligus objek, melalui tindak penulisan pemberitaan mengalami diskrimanatif dengan kata-kata yang merendahkan perempuan.

Coba perhatikan judul-judul berita di bawah ini:

  1. Tergiur Tubuh Molek, Pria Bejat Tega Nodai Anak Tiri (Kamis, 30 Maret 2017. Sindonews.com)
  2. Gadis 17 Tahun di Buleleng Digilir Tiga Pria di Kamar Mandi (Kamis, 6 April 2017. Sindonews.com)
  3. Bripda Muthia , Polwan Cantik Jadi Korban Penganiayaan (25 Mei 2016. Liputan6.com)
  4. Bikin Iri, Dokter Gigi Cantik Ini Usianya Sudah Hampir 50 Tahun! (Selasa, 4 April 2017. Vemale.com)
  5. Ingat Syekh Puji? Siapa Sangka Begini Kehidupannya Sekarang Bersama Istri Mudanya (Minggu, 16 April 2017. Tribuntimur.com)

Judul nomor 1, 3, dan 4 dengan terang merupakan judul yang bombastis, tidak berkeadilan gender, dan mengesankankan mengobjektifasi perempuan. “Molek”,  dan “cantik”, adalah pilihan kata yang tidak mencerminkan keberpihakan kepada perempuan. “Molek” dan “cantik” secara fungsional sengaja dipakai agar menarik secara konotatif imajinasi hasrat pembaca, terutama pembaca laki-laki. Dikatakan tidak berkeadilan gender dan tidak berpihak kepada perempuan karena di situ perempuan mengalami kekerasan dua kali lipat. Selain dia korban tindakan diskrimantif seperti yang diberitakan, juga mengalami objek kekerasan bahasa yang menjadikannya objek hasrat dari kata-kata yang merendahkan.

Sementara nomor 2 dan 5 adalah judul yang mencerminkan perempuan sebagai barang/benda yang bisa “digunakan” semaunya. Apabila ditelisik, di balik dua judul ini mewakili ideologi patriarki yang “membendakan” perempuan. Perempuan yang dijadikan benda sama halnya dilucutinya perempuan dari aspek-aspek manusiawinya yang  khas perempuan. Bahkan dalam judul nomor 5, nampak sekali makna eksploitatif terhadap perempuan dengan mencantumkan “istri muda” sebagai diksi yang mencerminkan perempuan sebagai objek hasrat.

Tidak saja melalui bahasa, perempuan seringkali mengalami pelecehan, diskriminasi, dan kekerasan melalui simbol-simbol. Mulai dari iklan, film, sinetron, talkshow, hingga gambar pendukung dari sebuah berita, perempuan sering menjadi penanda simbolik demi tujuan-tujuan tertentu. Tubuh perempuan yang kebanyakan sering dijadikan “alat” pendongkrak, dalam hal ini seperti yang dinyatakan dalam objetification theory oleh Fredrickson dan Roberts adalah “…that women exist in a culture which their bodies are ‘looked at, evaluated, and always potentially objectified”.[4]

Artikel yang ditulis Nurdin Abdul Halim, Media dan Pencitraan Perempuan, cukup menarik diulas karena menerangkan hasil penelitian Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Dalam penelitian itu dikemukaan dari aspek pemberitaan media cetak, berita kekerasan perempuan masih lebih banyak diberitakan dibandingkan dengan kiprah positif perempuan dalam ranah sosial.  Riset ini juga menunjukkan akibat etika jurnalistik yang tidak mumpuni, perempuan paling banyak menjadi korbannya. Bahkan ketika merekonsruksi informasi, perempuan jarang dilibatkan sebagai sumber informasi yang mengakibatkan banyak aspirasi perempuan tidak sampai.

Keterlibatan perempuan dengan media

Luviana melalui Jejak Jurnalis Perempuan, Pemetaan Kondisi Kerja Jurnalis Perempuan di Indonesia menuliskan bahwa hingga tahun 2011 Dewan pers mencatat jumlah media cetak mencapai 1.076, jumlah radio 1.248 dan jumlah stasiun televisi mencapai 76, serta terdapat 176 stasiun televisi yang mengajukan izin baru.

Hubungan perempuan dan media akan nampak timpang jika melihat dari segi keterlibatan perempuan sebagai pemilik atau pendirinya. Untuk dijadikan sebagai contoh, di Indonesia, seluruh pemilik 10 media siar stasiun televisi tidak sama sekali mencatatkan seorang perempuan di dalamnya. RCTI, MNCTV dan Global TV dimiliki Hary Tanoe Sudibyo, TV One dan ANTV kepunyaan Aburizal Bakrie, Trans TV dan Trans 7 Chairul Tanjung, Metro TV dipunyai Surya Paloh, SCTV dan Indosiar dimiliki Eddy Kusnady Sariaatmajaya, Kompas TV kepunyaan Jakob Oetama, dan terakhir jaringan Net TV dimiliki Wishnutama.[5]

Sementara bagi media cetak –untuk menyebut beberapa di antaranya, di Jawa Pos Group mencatatkan Dahlan Iskan sebagai pemiliknya, Goenawan Mohamad dan Yusril Djalinus sebagai pendiri Majalah Tempo, di Koran Kompas ada P.K Ojong dan Jakob Oetama, berkerjama sama dengan Surya Paloh, Teuku Yousli Syah  membesarkan Media Indonesia, Lampung Post, Borneo Newa dan Prioritas. Di Sulawesi Selatan Harian Fajar yang merupakan bagian dari Jawa  Pos tertera nama Alwi Hamu sebagai pimpinan perusahaannya. Sementara Tribun Timur yang merupakan bagian dari Kompas Gramedia pimpinan P.K Ojong dan Jakob Oetama.

Persoalan di atas juga dapat kita  telisik lebih dalam mengenai apakah dalam jajaran keredaksian suatu media, perempuan memiliki keterlibatan aktif di dalamnya? Apakah ada jajaran redaksi yang dipimpin oleh seorang perempuan? Jika ada, berapa banyakkah mereka? Berapa banyakkah perempuan jurnalis tercatat? Apakah pembawa berita perempuan di siaran-siaran televisi dapat dinyatakan sebagai kemajuan keterlibatan perempuan dalam media?

Sementara itu Luviana juga menyertakan hasil riset dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di tahun 2012 yang mengatakan rendahnya perbandingan perempuan jurnalis dengan jurnalis laki-laki. Dari 10 jurnalis hanya ada 2-3 perempuan jurnalis. Dengan kata lain dari 1000 jurnalis laki-laki, maka 200-300 di antaranya adalah jurnalis perempuan.

Hasil riset AJI juga melaporkan apabila di Jakarta perbandingan jurnalis perempuan dan laki-laki berkisar antara 40 berbanding 60, justru tidak terjadi di luar Jakarta tekhusus kota-kota madya yang disebutkan sangat memprihatinkan.

Nurul Qomariah menyebutkan bahwa di Indonesia tidak seperti negara-negara maju yang memiliki perempuan jurnalis yang hampir merata dengan jurnalis laki-laki. Walaupun tidak spesifik menyebut negara mana –kecuali finlandia mencapai 49%, melalui artikelnya yang berjudul Jurnalis Perempuan dan Citizen Jurnalisme mencapai angka 30%-40%. Keseimbangan ini disebutnya karena di negara-negara maju jurnalis merupakan profesi yang sudah populer sebagaimana dokter, guru,  maupun artis seni peran.

Sementara di Indonesia, walaupun sampai hari ini perkembangan media massa berkembang pesat, jurnalis belum menjadi profesi yang populer di kalangan perempuan-perempuan Indonesia. Itulah sebabnya sampai tahun 2003, berdasarkan data Persatuan Wartawan Indonesia jumlah wartawan perempuan di Indonesia hanya berkisar 10,5% atau 1.079 orang dari 10.278 anggota PWI yang terdaftar.

Salah satu yang menarik dari artikel Nurul Qomariah adalah ulasannya tentang perempuan jurnalis dan majalah perempuan di masa perjuangan (di mulai dari tahun 1904) yang berorientasi menghapus penidasan perempuan dari kolonialisme dan ketidakadilan gender. Bahkan di artikel itu melalui penelitian Myra Sidharta, peneliti sastra Tionghoa, beranggapan bahwa majalah perempuan pertama adalah Tiong Hwa Wi Sien Po, yang terbit pada 1906 dan diasuh seorang perempuan peranakan, Lien Titie Nio.

Selanjutnya berturut-turut terbit majalah perempuan Poeteri Hindia yang dipimpin R. T. A. Tirtokoesoemo, Bupati Karanganyar, yang kemudian menjadi Ketua Perkumpulan Boedi Oetomo. Di Padang, Soenting Melajoe, terbit pertama kali pada 6 Juli 1912. Surat kabar mingguan ini diterbitkan oleh Snelpersdrukkerij. Juga “Orang Alam Minangkabau”, dipimpin Datoe Soetan Maharadja yang diselingi pantun dan syair-syair. Sementara terbit pula majalah yang menggunakan bahasa lokal yakni Perempuan Sworo yang terbit di Pacitan, Jawa Timur. Di Solo Hesti Oetama, majalah perempuan dwimingguan yang terbit pada 1918.

“Sementara buat perempuan keturunan Arab, terbit majalah bulanan Isteri Worosoesilo, 1918, yang menggunakan aksara dan bahasa Arab serta tidak berilustrasi. Puncak euforia majalah perempuan era 20-an ditandai munculnya Doenia Isteri, dwimingguan yang mengaku soerat chabar perempoean yang esa di Hindia ini. Dicetak pertama kali dengan teknik handset serta berhias foto hitam putih, pada 1922 Doenia Isteri mendorong kemajuan yang berguna untuk kaum perempuan.”[6]

Patut disayangkan sebagaimana juga disebutkan dalam tulisan itu, telah terjadi pergeseran orientasi yang melibatkan perempuan di dalam pemberitaan media. Jika disebutkan di masa-masa perjuangan media-media perempuan yang bermunculan adalah dalam rangka mengangkat harkat dan martabat perempuan dari penjajahan, sebaliknya, di era kemajuan media massa, perempuan justru berbalik menjadi objek pemberitaan dengan unsur-unsur konsumtif dan hedonis.

Perempuan memanfaatkan media

Ada empat fungsi media massa. Pertama, pengawasan (surveillance), terhadap ragam peristiwa yang dijalankan melalui proses peliputan dan pemberitaan. Kedua, menghubungkan (correlation), mobilisasi massa untuk berpikir dan bersikap atas suatu peristiwa atau masalah. Transmisi Kultural (cultural transmission), pewarisan budaya, sosialisasi. Keempat, Hiburan (entertainment)[7]

Dalam konteks transformasi sosial, empat fungsi media di atas sangat signifikan dalam memangkas hambatan-hambatan sosial-kultural perubahan sosial. Melalui fungsi pengawasannya, arus informasi dapat cepat menembusi sekat-sekat jarak dan waktu dengan implikasi informasi yang akan cepat menyebar luas. Fungsi korelasi yang dimiliki media, ditunjang dengan platform baru berupa jaringan internet mampu menggerakkan masyarakat menjadi kelompok-kelompok kritis yang tanggap persoalan akibat terliterasikan melalui arus informasi. Melalui proses itu, proses sosialisasi akan diiringi dengan internalisasi nilai-nilai dalam proses transmisi kultural.

Perubahan sosial yang digerakkan media, terutama media sosial dalam konteks hari ini dapat disaksikan dalam beberapa peristiwa semisal Arab-Spring, Occupy Wall Street, hingga Revolusi Payung Hongkong. Bahkan dalam kasus-kasus seperti terpilihnya Barack Obama, Jokowi, hingga Anis-Sandi sebagai presiden dan gubernur, media massa sangat berperan dalam membangun suatu kelompok bukan saja sekadar ajang kampanye, tetapi juga menggerakkan sampai tingkatan praktis.

Penelitian Rehia.K.I Barus dalam Pemberdayaan Perempuan melalui Media Sosial menarik diungkapkan di sini tentang pemanfaatan media sosial sebagai wadah aktif dalam gerakan pemberdayaan perempuan. Melalui studi kasusnya terhadap Hapsari, suatu organisasi pemberdayaan perempuan di Sumatra Utara, dikemukakan bahwa media sosial sangat berpeluang dijadikan sebagai salah satu unsur yang signifikan dalam menggalakkan pemberdayaan perempuan. Melalui penelitiannya itu, media sosial facebook yang digunakan Hapsari, sangat efektif menggalang opini dalam pembentukan mindset yang seharusnya tentang perempuan dan perannya di masyarakat.

Salah satu kesimpulan dari penelitian itu adalah, walaupun sudah memanfaatkan media sosial sebagai strategi pemberdayaan, tetap ditemukan kendala berupa minimnya pengahayatan tentang kemanfaatan penggunaan media sosial sebagai salah satu strategi dalam mengawal agenda-agenda perubahan. Kendala itu disimpulkan menjadi dua, yakni kurangnya SDM dan manajerial yang tidak terkoordinir di dalam menggunakan media sosial.

Terlepas dari penelitian yang dikemukakan di atas, perempuan sangat berpeluang mengemukakan aspirasinya dengan memanfaatkan kemudahan teknologi media informasi. Namun sebelumnya, penting disadari bahwa perempuan mesti membangun sendiri bahasanya, menulis sendiri pikiran-pikirannya, yang melalui cara itu akan jauh lebih otentik dan bebas dari stigma-stigma bernada maskulin yang juga beroperasi melalui bahasa. Dengan kata lain, perempuan harus mencari teksnya sendiri, membangun budayanya yang lebih egaliter dan emansipatif melalui medianya sendiri.

 

Daftar bacaan:

  1. Amsal, B (2012). Media Massa dan Budaya Populer (Studi pada Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar).(Skripsi)
  2. Andriani, T. (2011). Media Massa dan Konstruksi Gaya Hidup Perempuan. (Jurnal Marwah UIN Sultan Syarif Kasim Riau). Vol. 10. No. 2 hal. 1-16
  3. Arifin, N. (2001) Wajah perempuan dalam media massa. (Jurnal Online) http://download.portalgaruda.org/article.php?Article=117021&val=5336
  4. Barus, R.K.I. (2015). Pemberdayaan Perempuan melalui Media Sosial. (Jurnal Simbolika Univeritas Medan Area). Vol. 1. No. 2. Hal. 113-123.
  5. Halim, N. A. (2011). Media dan Pencitraan Perempuan. (Jurnal Marwah UIN Sultan Syarif Kasim Riau) Vol. No. 2 hal. 14-25.
  6. (2010). Perempuan Dalam Pengelolaan Surat Kabar Di Sulawesi Tengah (Studi Posisi dan Peran Perempuan dalam Media Cetak). (Jurnal Academica FISIP Tadulako). Vol. 2. No.1. Hal. 359-372.
  7. Islam, N. (2008). Perempuan Dalam Media Massa Di Indonesia: Analisis Isi Media Massa Tentang Sosok Perempuan Dalam Paradigma Kritis. (Jurnal Yin Yang IAIN Purwekerto). Vol. 3. No. 01 hal.89-100.
  8. (2012). Jejak Jurnalis Perempuan, Pemetaan Kondisi Kerja Jurnalis Perempuan di Indonesia. (Online) https://ajiindonesia.or.id/upload/content/Jurnalis-Perempuan-FA.pdf
  9. Nayahi, M. (2015). Objektifikasi Perempuan oleh Media: Pembakuan Identitas Perempuann dan Dominasi Kekuasaan Laki-Laki (Jurnal Online) http://www.jurnalperempuan.org/blog2/objektifikasi-perempuan-oleh-media-pembakuan-identitas-perempuan-dan-dominasi-kekuasaan-laki-laki
  10. Piliang, Y. A. (2004). Dunia yang Dilipat:Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan
  11. Qomariah, N. (2011). Jurnalis Perempuan dan Citizen Jurnalism. (Jurnal UIN Sultan Syarif Kasim Riau). Vol. 10. No. 2 hal. 1-13.

Catatan belakang:

[1] Seorang feminis yang juga pengamat media, Lisbeth van Zonen kemudian memberikan masukan tentang bagaimana melihat kiprah perempuan di media-media: 1. Berapa banyak perempuan yang sudah terlibat di media? 2. Apakah mereka sudah dalam posisi sebagai pengambil kebijakan dalam proses produksi/dalam redaksi? 3. Potensi apa saja yang mereka punyai untuk membawa isu perempuan di media? Feminis multikultural, Angela Mc Robbie kemudian menambahkan teori untuk melihat bagaimana posisi perempuan di media: 1. Apakah perempuan telah tampak di media? Jika tidak, mengapa? 2. Jika perempuan tampak, lalu di mana posisi mereka? 3. Bagaimana cara mereka menegosiasi keputusan? 4. Strategi apa yang mereka lakukan untuk mengorganisir dirinya?

[2] Piliang, Y. A. Dunia yang Dilipat:Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan

[3] Parmato, K. Tubuh dalam manifesto sejarah, Michel Foucault, dan seksualitas Deskripsi Dokumen:http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=20159860&lokasi=lokal

[4] http://www.jurnalperempuan.org/blog2/objektifikasi-perempuan-oleh-media-pembakuan-identitas-perempuan-dan-dominasi-kekuasaan-laki-laki

[5] Luviana melalui Jejak Jurnalis Perempuan, Pemetaan Kondisi Kerja Jurnalis Perempuan di Indonesia menuliskan bahwa hingga tahun 2011 Dewan pers mencatata jumlah media cetak mencapai 1.076, jumlah radio 1.248 dan jumlah stasiun televisi mencapai 76, serta terdapat 176 stasiun televisi yang mengajukan izin baru. Akan sangat menarik jumlah pasti perempuan di dalam banyaknya media yang ada.

[6] Qomariah, N. Jurnalis Perempuan dan Citizen Jurnalisme

[7] Amsal, B (2012). Media Massa dan Budaya Populer (Studi pada Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar).

Mengakhiri Prasangka dan Fanatisme Agama: Ikhtiar Telaah Psikologi Gordon Allport

Beberapa bulan terakhir, kita sama-sama menyaksikan fenomena keagamaan di Indonesia yang makin lama makin panas. Hal ini tak lepas dari adanya sikap memosisikan keyakinan kelompok agama sebagai satu-satunya nilai yang paling benar di atas segalanya. Artinya, nilai-nilai yang berada di luar keyakinan kelompok agamanya pasti salah. Maka secara sederhana, fanatisme agama merupakan sikap tak terbuka pada pandangan yang tak seiman dan congkak merasa paling benar.

Pada konteks epistemik fanatisme agama, ruang-ruang dialogis komparatif yang mengusung tema-tema lintas iman dan mazhab jarang kita jumpai. Seperti dibilangkan Muhajir MA dalam esainya Memulai Epistemologi Berdialog, Menyudahi Fanatisme; Upaya Mendekati Nalar Lintas Disiplin, bahwa permasalahannya terletak pada tertutupnya pengetahuan lain sebagai pertimbangan alternatif menilai kenyataan, akibat absolutisme yang berlebihan. Jadi dengan kata lain, fanatisme agama tak mengandaikan pertukaran pemikiran, dialog interaktif dan analisis kritis perbandingan agama dan mazhab. Akibatnya, pemeluk agama yang fanatik cenderung menjadi kolot. Namun tak jarang juga pemeluk agama yang fanatik menjadi buas dan beringas. Apa pasal? Ya itu tadi, minus akal.

Fanatisme beragama mengantar perilaku pada ketertarikan terhadap suatu nilai pandangan agama yang berlebihan. Fanatisme beragama membabat habis ekspresi yang berlawanan dengan pandangan keimanannya. Pada titik radikal, fanatisme beragama ditengarai sebagai biang kerok dari tindak kekerasan atas nama agama. Meminjam istilah Bahrul Amsal “fanatisme agama merupakan saudara kembar dari fundamentalisme keagamaan” pada artikelnya Mengakhiri Fanatisme dan Literalisme: Suatu Pengantar Cara Pandang Perspektif Hermenutika (Suatu catatan kecil menuju Seni Memahami karanagan F. Budi Hardiman).

Secara psikologis fanatisme agama pelan-pelan membentuk hubungan antarpribadi yang otoritarian, di mana yang satu menganggap lebih tinggi dan orang lain lebih rendah dari dirinya, atau yang satu memandang lebih suci dari yang lainnya. Kecenderungan bersikap sinis makin bulat tatkala menguatnya stereotip pada kelompok-kelompok keagamaan, bahkan dapat berujung pada perilaku agresif. Pada titik didihnya, alih-alih sebagai penyejuk jiwa, beragama secara fanatik justru mendorong seseorang menjadi abnormal.

Gordon Allport dalam mahakarya yang berjudul The Individual and His Religion: A Psychological Interpretation, Classic Study of the Funcion of Religious Sentimen in the Personality of the Individual banyak mengkaji persoalan-persoalan di seputar kepribadian dalam persinggungannya dengan agama atau religiusitas. Di buku itulah -yang kira-kira tebal halamanya seratus tujuh puluhan- Allport memperkenalkan konsep orientasi religiusitas individu.

Secara sederhana, orientasi religiusitas dipahami sebagai kecenderungan individu hidup dalam keyakinan agamanya. Orientasi religiusitas juga bertalian erat pada motivasi individu dalam mempraktikkan agamanya. Pada titik ini, Allport berusaha meneropong isu-isu penghayatan, motivasi dan integrasi kepribadian individu dalam beragama.

Selanjutnya Subandi dalam buku Psikologi Agama & Kesehatan Mental menulis bahwa Allport membagi dua ciri orientasi religiusitas, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Orientasi religiusitas intrinsik dan ekstrinsik memiliki pengertian yang saling bertolak belakang satu sama lainnya. Ibaratnya seperti dua kutub magnet –kutub positif dan kutub negatif- yang tak bisa lengket.

Tipologi pembagian orientasi religiusitas individu bersifat vis a vis. Orientasi religiusitas intrinsik vs orientasi religiusitas ekstrinsik. Masih dalam Subandi di buku Psikologi Agama & Kesehatan Mental, kategori orientasi religius intrinsik ialah individu menerima agama sebagai penghayatan nilai dalam arti menjadikan agama sebagai tujuan dan kebutuhan hidup. Agama terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan sehingga individu mampu membangun harmoni antara agama dengan dunia. Individu yang memiliki orientasi religius intrinsik yang tinggi selalu menjaga perkembangan imannya dengan cara terus menerus memperdalam ajaran agamanya.

Kebalikan dari itu, orientasi religius ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dalam hidup. Agama dilihat dari segi kegunaannya untuk menunjang motif-motif lain seperti, kesejahteraan ekonomi dan status sosial. Individu memosisikan agama bukan bagian integral dalam hidupnya. Ciri lain orientasi religius ekstrinsik yaitu individu berpuas diri menjalankan ibadah seperti apa yang diterima dari lingkungan dan orangtuanya, tak ada upaya menambah pemahaman ajaran agamanya.

Pada kajian lebih lanjut, Allport merumuskan Religious Orientation Scale atau biasa disingkat ROP. Religious Orientation Scale adalah skala yang digunakan dalam penelitian untuk mengindentifikasi kecenderungan orientasi religius seseorang. Secara keseluruhan skala ROS terdiri dari 20 item. Terdapat 11 item pada orientasi religius ekstrinsik sedangkan orientasi religius ekstrinsik 9 item. Sependek pengetahuan saya, inilah skala terobosan Allport, terutama dalam kajian psikologi agama, yang kemudian dikembangkan oleh pemikir atau peneliti-peneliti selanjutnya.

Telah kita lihat di atas, Allport memetakan dua orientasi religiusitas individu. Dalam arti sederhana, pada religius intrinsik individu berusaha ‘menghidupkan agama’ dan religius ektrinsik individu ‘menggunakan agama untuk hidup’. Dua orientasi religius adalah gejala yang berkelanjutan atau kontinum. Artinya, individu dapat bergerak dari kutub intrinsik menuju kutub ekstrinsik, begitupun sebaliknya.

Ketika seseorang khusyuk menghayati nilai-nilai agamanya, namun kemudian menggunakan agama untuk menunjang karir dan status sosialnya. Maka di situlah pergeseran religius instrinsik menjadi religius ekstrinsik. Lebih jauh lagi, ketika seseorang terus menjaga perkembangan imannya dengan cara terus menerus memperdalam ajaran agama, kemudian berhenti dan menelan mentah-mentah ajaran agamanya. Maka di situlah pergeseran religius instrinsik menuju religius ekstrinsik dan bahkan pada konteks ini—secara hipotetis—persegeran itu dapat menggiring seseorang menuju jurang fanatisme yang kaffah.

Perjumpaan prasangka dan fanatisme

Di sisi lain, fanatisme agama tak jarang melahirkan prasangka. Prasangka dapat dipahami sebagai persepsi seseorang terhadap sesuatu tanpa melalui proses berpikir panjang. Artinya, sesorang menilai sesuatu hanya pada permukaan tanpa menukik ke dalam. Selain itu, adanya informasi yang keliru atau tidak lengkap serta tanpa melakukan verifikasi yang ketat semakin membuat persepsi seseorang menjadi bias.

Pada dasarnya prasangka tak melulu buruk atau negatif. Terkadang prasangka bersifat positif, jadi ini yang biasa orang sebut berprasangka baik. Dengan kata lain prasangka sejatinya berada pada posisi netral. Namun, yang jadi persoalan adalah berprasangka negatif secara berlebihan sehingga persepsi seseorang menjadi keliru dan akhirnya tidak objektif memberi penilaian.

Tanpa melalui pemikiran mendalam, seseorang memiliki kecenderungan kuat untuk menilai atribut-atribut di luar kelompoknya secara negatif dibanding kelompoknya sendiri. Kecenderungan ini disebut prasangka negatif. Jika prasangka negatif terus berlanjut maka otomatis dapat menimbulkan konflik berkepanjangan.

Fenomena prasangka negatif dapat kita jumpai dalam relasi kelompok-kelompok keagamaan. Mengacu pada buku Theories of Personality karya Jess Feist, Allport memulai studi tentang prasangka ketika mengobservasi orang-orang di gereja. Menurutnya beberapa orang yang rajin beribadah di gereja justru memiliki prasangka yang sangat besar. Dan terkadang sikap fanatik terhadap agama belum tentu membuat seseorang menjadi religius. Maka dari observasi ini Allport berusaha merumuskan asumsi teoritiknya.

Prasangka negatif memberi penilaian (justification) buruk tanpa melalui proses berpikir panjang dan mendalam. Sementara fanatisme agama ditandai dengan pikiran tertutup (closed minded) terhadap kemungkinan-kemungkinan lain. Dapat ditebak ketika dua jargon ini bertemu dan saling bahu membahu, maka peluang timbulnya benih perpecahan terbuka lebar. Menguatnya eksklusivisme agama, timbulnya sekte dan ormas-ormas radikal, prilaku intoleran dan dikriminasi adalah sebagian contoh konkrit atau bahkan dapat memicu seseorang membunuh atas nama Tuhan.

Menanggapi persoalan tersebut, Allport dalam buku Theories of Personality karya Jess Feist berpendapat bahwa salah satu komponen untuk mengurangi prasangka adalah kontak: apabila anggota dari kelompok mayoritas dan minoritas lebih berinteraksi di bawah kondisi optimal, maka prasangka akan berkurang. Hal ini kemudian dikenal hipotesis kontak optimal, di antaranya status setara dari dua kelompok, tujuan yang sama, kerja sama di antara kelompok dan dukungan dari figur otoritas.

Berhubungan dari teori kontak optimal Allport, barangkali jika kelompok-kelompok keagamaan tak memiliki tujuan politis kekuasaan maka internalisasi agama dalam kelompok keagamaan akan mengantar seseorang menjadi manusia yang tercerahkan. Juga apabila kelompok keagamaan bekerja sama saling bahu membahu memerjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa peduli dari agama ini dan dari agama itu. Kemudian kerjasama positif itu mendapat dukungan penuh dari figur otoritas tiap-tiap kelompok. Maka mungkin dari upaya mengurangi prasangka kelompok keagamaan dapat mengikis fanatisme agama yang mengkristal.

Religius dalam kepribadian sehat

Satu lagi gagasan Allport menurut saya penting dan cukup relevan untuk dipaparkan. Yaitu pandangan Allport tentang kepribadian yang sehat. Allport di buku Teori-teori Sifat dan Behavioristik karya Calvin S. Hall mencatat setidaknya ada enam karakteristik kepribadian yang matang atau sehat.

Yang pertama adalah perluasan diri. Dengan arti, kehidupan seseorang tidak boleh terikat secara sempit pada sekumpulan aktivitas-aktivitas yang monoton. Orang harus dapat mengambil bagian dan menikmati bermacam-macam aktivitas yang berbeda-beda bukan hanya sedikit dan itu-itu saja. Selain aktivitas sosial, perluasan diri juga menyangkut tentang perkembangan kognitif seseorang.

Kedua, yaitu hubungan yang hangat dengan orang lain. Seseorang harus mempunyai perasaan mencintai orang lain dalam cara-cara yang intim dan simpatik kepada orang lain. Selain itu, seorang pribadi yang sehat secara psikologis memperlakukan orang lain dengan rasa hormat serta peka menyadari kebutuhan, keinginan dan harapan orang lain.

Ketiga, keseimbangan emosional. Individu tidak akan terlalu menjadi sedih apabila terjadi hal-hal buruk menimpanya serta menyadari bahwa rasa frustrasi dan ketidaknyamanan merupakan bagian dari hidup.

Keempat, yaitu persepsi realistis. Individu memiliki persepsi realistis mengenai lingkungannya serta tidak hidup dalam dunia fantasi atau membelokkan kenyataan sesuai dengan harapannya.

Yang kelima adalah insight dan humor. Individu mengenal baik dirinya sendiri dan lebih objektif menilai peristiwa, sehingga tidak mengkambinghitamkan kesalahan dan kelemahannya kepada orang lain. Perasaan humor pada pribadi yang sehat dan matang tidak hanya untuk menemukan kesenangan dan gelak tawa, tetapi juga kemampuan untuk membina hubungan positif dengan diri sendiri dan orang lain.

Terakhir, integrasi filosofi kehidupan. Individu mempunyai pandangan yang jelas mengenai tujuan dan makna hidupnya. Dalam hal ini agama dipandang sebagai sumber terpenting yang memersatukan atau filosofi kehidupan yang integral berupa sesuatu yang bersifat religius.

Era kiwari peneliti mulai melalukan penelitian atas implikasi terhadap kecenderungan orientasi religius intrinsik dan ekstrinsik pada kesehatan pribadi. Suatu temuan menarik Thimothy Smith di buku Theories of Personality karya Jess Feist. Ia mengkaji ulang semua penelitian topik agama dan depresi. Dalam kajian ulang atas 20 penelitian yang menggunakan teori orientasi religiusitas (ROS) Allport, ditemukan bahwa orientasi religiusitas intrinsik berhubungan negatif dengan depresi dan orientasi religiusitas ekstrinsik berhubungan positif. Artinya, saat seseorang cenderung lebih berorientasi intrinsik pada agama, ia sulit mengalami gejala depresi dan semakin ia berorentasi ekstrinsik maka semakin mudah mengalami depresi.

Berkaitan dengan karakteristik kepribadian sehat, komitmen mendalam atas agama adalah suatu tanda kematangan pribadi. Allport nampaknya menitikberatkan bahwa dalam kehidupan pribadi yang sehat, orientasi religius sangat berperan penting. Orientasi religius membawa seseorang pada motif dan karakter keberagamaannya masing-masing, sebagaimana yang tampak dalam orientasi religius intrinsik dan ekstrinsik.

Akhir kata, untuk menjadi religius tidaklah cukup hanya dengan rutin melaksanakan ibadah ritual. Penting bagi seseorang menjadi religius karena alasan yang benar. Agama hidup dalam diri seseorang dan dihayati secara maksimal, bukan sebaliknya menggunakan agama untuk hidup. Seseorang harus benar-benar percaya atas pesan dari agama yang dipilihnya dan menjadi bagian integral sebagai cara menjalani kehidupan sambil terus berpikiran terbuka (open minded) untuk menambah wawasan keagamaannya. Bukankah demikan, wahai fanatik?

*****

Sumber Bacaan;

Calvin S. Hall. Psikologi Kepribadian 3, Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Kanisius.

Gordon Allport. The Individual and His Religion: A Psychological Interpretation, Classic Study of the Funcion of Religious Sentimen in the Personality of the Individual. Macmilan (pdf).

Jess Feist. Theories of Personality (terj: Smita Prathita). Selemba Humanika.

Subandi. Psikologi Agama & Kesehatan Mental. Pustaka Pelajar.

Bahrul Amsal. Mengakhiri Fanatisme dan Literalisme: Suatu Pengantar Cara Pandang Perspektif Hermenutika (Suatu catatan kecil menuju Seni Memahami karanagan F. Budi Hardiman). http://alhegoria.blogspot.co.id/2017/03/mengakhiri-fanatisme-dan-literalisme.html

Muhajir MA. Memulai Epistemologi Berdialog, Menyudahi Fanatisme; Upaya Mendekati Nalar Lintas Disiplin. http://kalaliterasi.com/memulai-epistemologi-yang-berdialog-menyudahi-fanatisme-upaya-mendekati-nalar-lintas-disiplin/

 

Ilustrasi: http://www.famouspsychologists.org/gordon-allport/

Cuap-Cuap Perihal Ideologi

Ideologi adalah konsep yang kompleks dalam artian tidak memiliki definisi yang tunggal. Jumlah definisi ideologi tergantung tokoh yang mengkajinya. Bagus Takwin dalam Akar-Akar Ideologi, mendaku bahwa ada tiga kategori dan pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat dan memahami ideologi: Pertama, pendekatan aliran yakni ideologi dicermati berdasarkan asumsi dari mana manusia mendapatkan pengetahuan. Dari pendekatan ini pula, maka ideologi dipandang dari segi positif dan negatif. Kedua, pendekatan yang dilihat aspek psikologis yang menjadi ranah (domain) ideologi. Ketiga, pendekatan kronologi yaitu melihat urutan waktu lalu membandingkanya dengan konsep ideologi yang lahir dalam waktu tertentu.

Mengacu pada pendekatan aliran sebagaimana di atas telah dijelaskan, maka dua bentuk yang muncul secara umum yakni ideologi yang dipandang positif dan negatif. Kelompok yang memandang ideologi sebagai suatu yang positif, melihatnya sebagai seperangkat nilai dan aturan tentang kebenaran.  Dari sudut pandang ini, ideologi dianggap sebagai suatu yang terberi, alamiah, dan universal dan menjadi rujukan manusia dalam bertingkah laku. Aliran ini disebut sebagai aliran rasionalisme-idealis.

Aliran atau kelompok selain rasionalisme-idealis adalah empirisme-realis. Aliran empirisme-realis mengamati ideologi sebagai studi bagaimana ide-ide manusia tentang semua hal yang diperoleh dari pengalaman. Kemudian dari pengalaman itu, tertata dalam pikiran (mental) selanjutnya menjadi kesadaran yang mendeterminasi tingkah laku. Dengan demikian, aliran ini memandang ideologi dapat bernilai positif maupun negatif. Sisi positif dan negatif sangat ditentukan oleh realitas (fakta sosial) yang dihadapi oleh manusia.

Berdasarkan pada aliran rasionalisme-idealis dan imperisme-realis, maka pengkajian ideologi pun akhirnya bisa dilacak akar-akar kemunculanya. Walaupun penggunaan kata ideologi itu sendiri baru familiar di abad 18 oleh Destutt de Tracy (1754-1836). Dari asal katanya, istilah ideologi dapat dipilah menjadi kata idea dan logos. Secara sederhana dapat diartikan sebagai aturan atau hukum tentang idea atau pikiran. Penggunaan kata idea sendiri sejatinya sudah dapat ditemukan pada abad ke- 3 SM oleh Platon.

Platon yang merupakan salah satu filosof besar Yunani mengatakan, bahwa ada alam di mana segala kebenaran sejati dan segala rujukan bagi benda-benda yang ada di dunia fisik ini, ditempati oleh manusia sekarang ini—disebut sebagai alam idea. Apa yang ada pada alam semesta ini, merupakan tiruan semata dari apa yang ada dalam alam idea. Dengan demikian alam idea bersifat abadi sedangkan alam dunia (semesta) fana dan musnah. Pengertian ideologi jika mengacu pada idea sebagai kebenaran sejati, maka di sinilah ideologi menjadi sesuatu yang positif bagi manusia. Pandangan idea Platon ini, sejatinya mewakili aliran rasionalisme-idealis. Platon dengan konsep idea-nya banyak menjadi rujukan bagi pemikir-pemikir berikutnya.

Konsep idea yang kemudian berbeda yang dimaksud oleh Platon, lahir dari muridnya sendiri yakni Aristoteles. Istilah idea bagi Platon yang berarti kebenaran sejati dari “dunia idea” kemudian digunakan oleh Aristoteles dengan pengertian yang lain. Bagi Aristoteles, idea merupakan “representasi mental (dalam benak) dari persentuhan manusia dengan suatu yang ada pada kenyataan”. Padangan Aristoteles mewakili aliran empirisme-realis.

Gagasan Aristoteles ini kemudian banyak diikuti oleh kaum empiris berikutnya seperti John Lock, Etienne Bonnot de Condillac, Antonie Destuctt de Tracy, Karl Marx dan penerusnya (Marxian). Sebagaimana di atas telah diuraikan bahwa pada aliran ini, ideologi bisa dinilai sebagai sesuatu yang positif maupun negatif. Ideologi sebagai suatu yang positif memandang bahwa realitas (kenyataan-empiris) yang membentuk kesadaran (ide) sebagai suatu kebenaran yang sesungguhnya. John Lock, Etienne Bonnot de Condillac, Antonie Destuctt de Tracy mewakili pandangan ini.

Sedangkan di lain pihak, realitas atau kenyataan empiris yang kemudian selanjutnya menjadi kesadaran (ide) tidak menunjukkan kebenaran sebagaimana adanya. Dalam artian kenyataan itu, hasil rekayasa oleh kelompok tertentu—oleh kelas borjuis—oleh sistem kapitalisme. Sehingga kesadaran yang dimiliki oleh subjek (individu atau kelompok) adalah kesadaran palsu. Pada pandangan ideologi dinilai sebagai sesuatu yang negatif. Karl Marx menjadi tokoh utama dari pandangan ini kemudian dilanjutkan pengikutnya (Marxian).

Dari uraian di atas, kajian tentang ideologi benar-benar merupakan sesuatu yang kompleks. Tentunya dengan kompleksitas tersebut penarikan definisi ideologi menjadi beragam. Ali Syariati seorang pemikir asal Iran di bukunya, Ideologi Kaum Intelektual, misalnya, memberi pengertian tentang ideologi dengan melihat dari akar katanya. Ideo berarti pemikiran khayalan, konsep, keyakinan dan sebagainya. Sedang kata logi yang berarti logika, ilmu, atau pengetahuan—sehingga ideologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang keyakinan. Dalam konteks ini ideologi mengandung keyakinan-keyakinan dan gagasan-gagasan yang ditaati oleh kelompok, suatu kelas sosial, bangsa, ras tertentu.

John Storey, pemikir pop culture, melihat ada lima setidaknya pengertian ideologi. Pertama, ideologi yang dinilai sebagai seperangkat ide sistematik yang terlembagakan kemudian diartikulasikan oleh kelompok tertentu dalam masyarakat. Kedua, ideologi sebagai teks-teks atau praktik-praktik yang telah didistorsi dan diselewengkan dari kenyataan. Ketiga, ideologi adalah teks-teks budaya atau bentuk-bentuk ideologis yang mempresentasikan citra tertentu tentang dunia. Keempat, ideologi tidak hanya sebagai pelembagaan ide-ide, tetapi juga sebagai praktik material. Kelima, ideologi pada level konotasi, makna dan sekunder, makna biasanya tidak disadari yang ditampilkan oleh teks atau praktik.

Menurut Martin Suryajaya, ideologi memiliki kekuatan. Kekuatan pertama, ideologi adalah mampu mempengaruhi cara berpikir kita: mana benar, mana salah. Kedua, mengarahkan cara kita menilai mana baik, mana buruk. Ketiga mampu mengarahkan kita pada tindakan tertentu. Mana yang harus dilakukan mana tidak harus dilakukan. Lanjut Martin Suryajaya mengatakan bahwa terdapat beberapa bentuk ideologi antara lain: liberalisme, anarkisme, dan marxisme.

Liberalisme adalah idelologi yang menganggap individu harus bebas menentukan kehendak sendiri. Artinya individu bisa menentukan nasibnya sendiri. Ideologi liberalisme merupakan ideologi yang merayakan kebebasan individu. Liberalisme ini merupakan penopang dari kapitalisme. Liberalisme memiliki beberapa model. Model tersebut seiring dengan perjalanan sejarahnya—yakni kondisi sosial yang dihadapi. Liberalisme pertama disebut liberalisme klasik, kemudian modern, selanjutnya neoliberalisme. Adapun ideologi anarkisme adalah ideologi melihat bahwa sumber permasalahan politik yakni adanya negara. Terjadinya penindasan karena adanya dianggap lembaga yang berwenang sifatnya memaksa. Maka bagi anarkisme, negara harus dihapuskan dan digantikan dengan sistem komunal.

Selanjutnya, Marxisme adalah rumpun teori yang menjadi pengikut Karl Marx dan Engels. Ideologi ini melihat bahwa terjadinya penindasan karena adanya sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan kelas. Dua kelas yang dilahirkan adalah kelas borjuis dan kelas proletar. Maka cita-cita dari ideologi adalah masyarakat tanpa kelas—komunal modern. Namun sebelum sampai ke komunal modern terlebih dahulu menerapkan sosialisme demokratik. Sosialisme demokratik memiliki beberapa ciri misalnya kediktatoran proletariat, depripatisasi, negara sebagai lembaga distribusi, negara menerapkan sistem jaminan universal.

 

#Tulisan ini sebagai bahan diskusi pada Intermediate Training BEM FIP UNM bertempat di STIE Amkop Makassar, Desember 2016

 

Rene Descartes

Suatu ketika, Rene Descartes mengunjungi sahabatnya, orang Inggris, dan diajak makan malam bersama. Sahabatnya bertanya apakah sebelum makan malam dia mau mencicipi hidangan pembuka terlebih dahulu? “No, thank you”, ujar Descartes, “Aku lebih suka kita langsung makan malam saja.” Lalu sahabatnya kembali bertanya, “Apakah Anda mau minum dulu sebelum kita mulai makan malam?” Karena Descartes adalah seorang Katolik saleh yang tidak suka minuman beralkohol, dengan tegas dia berkata “I think not!”, dan WUSSSS! Descartes pun menghilang.

Lelucon di atas memang memparodikan adagium Descartes “cogito ergo sum”. Adagium itu bisa dikatakan menyalakan api pencerahan ke segenap Eropa yang nantinya mengkristal menjadi Renaissance (artinya adalah “kelahiran kembali”). Sebelumnya, filsafat tengah tertidur pulas, dan kedatangan Descartes telah memungkinkan “kelahiran kembali” khazanah pemikiran Yunani. F. Budi Hardiman menyatakan bahwa semenjak Descartes, bisa dikatakan bahwa filsafat Barat seakan menyibukkan diri dengan tema ‘kesadaran’ (sebelum nantinya akan dijungkirbalikkan oleh Sigmund Freud yang ‘menemukan’ terra incognita bernama ketaksadaran). Namun, menariknya, inspirasi pemikiran Descartes, sang rasionalis besar itu, justru lahir dari ketaksadaran, yaitu tiga mimpi beruntun yang dialaminya pada 11 November 1619, saat dia menjadi tentara Bavaria dan sedang berkemah di tengah badai salju.

Mimpi pertamanya memperlihatkan bagaimana Descartes berjuang melawan angin yang sangat kencang ketika hendak menuju gereja yang terdapat di kolesenya di la Flèche, lalu dia berbalik untuk menyapa seseorang, dan dia pun terlempar menjauh dari gereja tersebut dan terjatuh persis di tengah-tengah sekumpulan orang yang sama sekali tak tergerak oleh angin kencang tersebut. Mimpi yang sepertinya mengisyaratkan bagaimana Descartes ‘dicerabut’ dari segenap doktrin gereja Abad Kegelapan agar bisa meragukan segala hal lalu merumuskan pemikirannya. Kemudian mimpi keduanya memperlihatkan bagaimana Descartes tengah mengalami ketakutan, lalu tiba-tiba dia mendengar ‘sebuah suara yang kedengarannya seperti guntur’ dan kamarnya yang gelap pun dipenuhi dengan cahaya yang terang benderang. Suatu mimpi yang mengingatkan pada gambaran tentang orang yang tengah berada dalam gelap gulita, dan tak bisa melihat jalan di depannya, lalu muncul kilat dan guruh yang sesaat menerangi jalan di hadapannya, namun tak jarang itu membuat manusia menutup telinga dengan kedua jarinya serta dilingkupi perasaan takut mati. Kemudian mimpi ketiganya menggambarkan bagaimana Descartes tengah memegang kamus yang masih harus dia lengkapi, lalu dia mendengar kata-kata “Quod vitae sectabor iter?” (Jalan hidup manakah yang seharusnya aku tempuh?). Descartes percaya bahwa melalui berbagai visi dan mimpi yang didapatkannya Tuhan telah mengungkapkan tugas yang diberikan kepadanya sehingga memberinya kepercayaan untuk memenuhi panggilan hidup tersebut, sekaligus kepercayaan terhadap kebenaran penemuan-penemuannya.

Kemudian, inspirasi lainnya Descartes temukan dari Imam Al-Ghazali, sang Hujattul Islam. Pada masa itu, karya-karya Al-Ghazali telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Dominicus Gundisalvus, dan salah satunya adalah Al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan) yang merupakan buku autobiografi sang Imam. Descartes memiliki terjemahan bahasa Latin buku tersebut, dan mendapati ungkapan “Keraguan adalah peringkat pertama keyakinan” yang kemudian diberi garis merah dan dilengkapi tulisan tangan dari Descartes di sampingnya “Pindahkan ini ke dalam metode kita.” Kata-kata lainnya yang lebih lengkap dari dalam buku itu adalah “Keraguanlah yang mengantarkan pada kebenaran. Barang siapa yang tidak merasa ragu, maka ia tidak memandang. Barang siapa yang tidak pernah memandang, maka ia tidak pernah melihat. Dan barang siapa yang tidak pernah melihat, maka ia akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan.” Lalu, Descartes pun membuat parafrase dari ungkapan Al-Ghazali tersebut menjadi “Keraguan adalah jalan pertama menjadi keyakinan” (La doute est le premier pas vers la certitude).

Dari mimpi dan inspirasi Al-Ghazali tersebut, maka Descartes pun merumuskan metodenya yang dikenal sebagai “Dubium Methodicum” (Metode Keraguan). Dalam baris pembuka buku Meditations I, Descartes menuliskan: “Hal itu dimulai ketika aku pertama kalinya menyadari betapa banyaknya opini keliru yang aku terima sebagai kebenaran dari masa kecilku, dan betapa meragukannya keseluruhan struktur pemikiran yang aku bangun di atas landasan yang salah itu. Karena itu, aku mengerti bahwa aku harus—kalau aku berkeinginan untuk berbuat sesuatu di dalam ilmu pengetahuan yang kokoh dan bisa diandalkan hingga detik terakhir—memperketat diriku sendiri dalam memperlakukan semua opini yang aku terapkan, serta memulainya dari landasan yang baru.”

Sebenarnya, karya awal yang dituliskan oleh Descartes adalah Traité du Monde (Makalah tentang Dunia), namun, karena pada tahun 1633 Gereja telah menghukum dan memaksa Galileo untuk meralat teori heliosentris, sementara makalah yang ditulis oleh Descartes itu justru malah mendukung pemikiran Galileo, maka dia pun memilih tidak jadi menerbitkan makalah tersebut. Lalu dia pun memilih mengkaji dan memaparkan tentang metode, sebab itu lebih aman dan lebih abstrak, dengan menggunakan penalaran yang jelas dan cermat melalui pembuktian matematika. Selain sebagai filsuf, Descartes juga seorang pakar matematika (dan menciptakan sistem koordinat Cartesian, yang kini dikenal sebagai geometri analitis) serta menerapkan ilmu itu pada filsafat. Bahwa pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang memiliki kepastian, namun untuk memperoleh kepastian maka kita harus meragukannya dulu. Jangan takut. Ragukan semuanya, hingga yang tersisa adalah sesuatu yang pasti, yaitu keraguan itu sendiri. Bahwasanya ada satu yang tak bisa diragukan, yaitu ‘aku yang meragukan semuanya’, karena untuk meragukan harus ada yang ‘berpikir’, dan untuk berpikir harus ada aku yang berpikir, sehingga dengan demikian, aku ada. Maka lahirlah adagium ‘cogito ergo sum’, ‘aku berpikir maka aku ada’. Dengan itu, maka Descartes menjadikan subjek yang berpikir (yang di kemudian hari nanti dikenal sebagai ‘subjek cogito’) sebagai pijakan atau titik tolak bagi filsafatnya. Hal ini mungkin tampak sederhana, namun justru filsafat yang menjadikan diri sendiri sebagai titik pangkal adalah sesuatu yang revolusioner pada masa tersebut. Sebelum kemunculan Descartes, kebenaran selalu berdasarkan pada kekuasaan yang justru berada di luar diri manusia, yaitu Gereja, Alkitab, tradisi atau negara. Lalu, oleh Descartes, pusat dunia di Abad kegelapan tersebut dia jungkir balikkan, dan menempatkan subjek cogito sebagai pusatnya, sehingga dengan demikian Descartes telah menyalakan api Pencerahan di Eropa.

Terkait adagium ‘cogito ergo sum’, dalam kata-katanya sendiri, Descartes menuliskan sebagai berikut: “Karena panca indera kadang menipu kita, aku mengandalkan bahwa tak ada hal yang menampakkan diri sebagaimana adanya, dan karena dalam pembuktian bahkan pernyataan-pernyataan geometri sederhana sekali pun sering terjadi kekeliruan dan kesimpulan salah,…aku menolak segala alasan. Akhirnya aku mengenali bahwa pikiran yang sama baik di saat berjaga mau pun dalam mimpi dapat muncul dalam diri kita tanpa memberi alasan kepada kita; karena itu aku sengaja membayangkan bahwa segala yang kutemui di dalam pikiranku tidak lebih benar daripada tipu muslihat mimpi-mimpi. Namun, di sini aku segera menyadari bahwa sementara aku mau menilai segalanya sebagai keliru, aku sendiri yang sedang memikirkan hal itu secara niscaya pasti ada, dan aku menemukan bahwa kebenaran ‘aku berpikir, maka aku ada’ sedemikian kokoh dan pasti, sehingga pandangan seorang skeptikus yang paling sengit tidak akan dapat menggoyahkan kebenaran tersebut. Demikianlah aku meyakini dapat mengambil tesis ini tanpa ragu untuk prinsip pertama filsafat yang kucari.”

Seperti halnya Platon yang meragukan kebenaran inderawi dalam mencari kebenaran dan menyodorkan alegori gua sebagai penggambarannya, dan terkait juga dengan metode keraguannya, maka Descartes mengajukan teka-teki tentang malignus genius (iblis yang sangat cerdik) yang telah menipunya dengan tipuan realitas. Descartes menjelaskannya sebagai berikut: “Oleh karena itu aku menganggap bahwa bukanlah Tuhan, yang Maha Pemurah dan sumber kebenaran, tetapi justru sejumlah setan jahat yang benar-benar kuat lagi licik telah memanfaatkan seluruh energinya untuk menipuku. Aku akan berpikir bahwasanya angkasa, udara, bumi, warna, bentuk, suara dan segala perkara eksternal semata hanyalah delusi mimpi, yang telah ia rancang untuk memerangkap penilaianku.” Untuk penggambaran visual yang canggih dari kisah malignus genius ini bisa kita nikmati dalam film box office garapan Wachowski Bersaudara, yaitu The Matrix, yang menceritakan tentang bagaimana sekian banyak manusia dimanfaatkan menjadi sumber energi bagi Artificial Intelligence sembari dicekoki mimpi kehidupan yang seolah tengah dijalani padahal hanya simulasi yang diciptakan oleh suatu sistem komputer yang sangat canggih.

Descartes juga meluncurkan pertanyaan tentang mimpi. Bagaimana kita yakin bahwa saat ini kita tidak sedang bermimpi, bahwa makalah ini, kertas yang sedang dipegang ini, bukanlah kejadian di dalam mimpi yang terasa sangat nyata dan koheren? Descartes mengemukakan argumen semacam itu untuk melemahkan keyakinan kita bahwa kita mengetahui sebanyak yang kita kira kita tahu, bahwa kita tahu banyak. Jika kita tidak bisa yakin bahwa kita sedang bermimpi sekarang ini, maka bagaimana dengan kejadian beberapa jam yang lalu? Beberapa hari yang lalu? Misalkanlah kita memang tengah bermimpi, lalu dari dalam mimpi itu, apakah ada cara untuk mengetahui atau memastikan bahwa kita tengah bermimpi? Di sini Descartes ingin menyatakan bahwa mungkin apa yang kita sebut sebagai sebagai realitas, sebagai dunia ini tidak benar-benar ada, bahwa semua ini hanyalah mimpi. Kita bisa saja percaya bahwa realitas dan dunia ini memang nyata dan ada, bahkan sangat mempercayainya, tetapi kita tidak dapat mengetahuinya.

Demikianlah, Descartes menjelaskan Dubium Methodicum melalui dua gambaran rekaan tentang malignus genius dan mimpi, bahwasanya segala yang nyata ini mungkin hanyalah mimpi, dan bahwasanya ada iblis yang sangat cerdas menipu pikiran kita dengan gambar-gambar palsu tentang realitas. Akibatnya, kita tidak bisa begitu saja berasumsi bahwa tubuh mau pun pengalaman kita itu ada dan bisa dipercaya sebagai realitas sebenarnya. Pada masanya, gambaran rekaan Descartes ini mengundang banyak tuduhan bid’ah, misalnya oleh Voetius, Jacques Triglandius, Jacobus Revius.

Dubium Methodicum dilandaskan pada dua pertanyaan fundamental, yaitu, pertama, apa yang benar-benar aku ketahui dengan jelas dan terang sehingga demikian mutlak kepastiannya dan berada di luar keraguan apa pun?; kedua, pengetahuan lanjutan manakah yang mungkin diturunkan dari kepastian ini? Dubium Methodicum dilakukan dengan cara meragukan segala sesuatu hingga sampailah pada sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi oleh wujud rasional mana pun; suatu gagasan yang pasti, tidak akan diragukan dan benar secara universal. Dari gagasan yang mutlak pasti dan benar ini, orang kemudian dapat menurunkan kepastian dan kebenaran lainnya secara logis. Sebuah sistem yang dibangun dengan cara seperti itu akan menjadi sekelompok gagasan teratur yang saling bebas, masing-masing konsisten dengan yang lainnya dan masing-masing mengimplikasikan yang lainnya, sehingga sistem tersebut akan menjadi komprehensif dan tanpa cacat.

Descartes tidak pernah ragu tentang adanya prosedur tertentu untuk mencapai pengetahuan deduktif lengkap berdasarkan kebenaran tak terbantah ini. Dia percaya akan kemungkinan untuk mengatasi keraguan atau sikap skeptis itu dan menemukan pengetahuan yang absolut, pasti, wajib, dan terbukti dengan sendirinya, pengetahuan yang menjadi dasar bagi seluruh pengetahuan lain dan bagi pengetahuan tentang seluruh realitas. Dan untuk itu, dia meragukan segala sesuatu, menyangkal eksistensi dunia eksternal, pikiran eksternal, dan lain sebagainya. Karena itulah dia menyatakan barangkali realitas yang kita jalani sekarang hanyalah mimpi, hanya sebentuk tipuan dari malignus genius. Namun, ada satu hal fundamental yang tidak dapat diragukan, yaitu, bahwa dia ada untuk diragukan, untuk di tipu, untuk bermimpi, bahwa dia ada untuk penyangkalan itu sendiri. Siapa pun tidak bisa meragukan bahwasanya dia sedang meragukan, karena dia harus eksis agar bisa meragukan. Dan, seperti sudah dikemukakan sebelumnya, itulah cogito ergo sum.

Descartes memberikan empat kaidah Dubium Methodicum yang bisa memberi kita pengetahuan serta merupakan dasar-dasar dari seluruh pencarian filosofis yang dikemukakannya sebagai berikut: “Berjubel-jubelnya hukum seringkali menghalangi keadilan, sehingga pemerintahan yang terbaik bagi suatu negara berjalan ketika di dalamnya terdapat sedikit hukum yang diselenggarakan dengan ketat; serupa dengan itu, bukan besarnya jumlah hukum yang membuat logika itu baik, dan aku mempunyai opini bahwa empat hukum sudah mencukupi untukku, kalau saja aku mempunyai resolusi yang kokoh dan tak tergoyahkan untuk melaksanakannya dengan jelas setiap saat. Yang pertama adalah sama sekali tidak menerima apa pun sebagai kebenaran kalau aku tidak jelas-jelas mengetahuinya sebagai kebenaran; yakni, dengan hati-hati menghindari pengambilan kesimpulan dan dugaan, lalu, dalam keputusannya tidak menyajikan lebih banyak dibandingkan dengan apa yang tersaji secara jelas dan nyata di pikiranku, sehingga tak ada alasan untuk meragukannya. Yang kedua, memilah-milah masing-masing kesukaran yang aku temui menjadi sebanyak mungkin bagian, karena mungkin diperlukan untuk suatu solusi yang setepat-tepatnya. Yang ketiga, membenahi pemikiranku secara teratur, dengan memulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, sehingga aku bisa mendaki, sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, untuk menuju ke pengetahuan yang lebih kompleks; dan dengan menyusun sejumlah penataan, termasuk pada objek-objek yang tampaknya tidak memiliki keteraturan. Dan akhirnya, yang keempat, selalu melakukan penghitungan yang selengkap-lengkapnya, serta melakukan peninjauan yang begitu komprehensif, sehingga aku bisa memastikan tak ada yang tertinggal.”

Jadi, melalui Dubium Methodicum, kita bisa dengan jelas dan tajam menangkap kebenaran yang tak terbantahkan. Bagi Descartes, pengetahuan itu harus pasti, harus nyata secara objektif, dan harus teguh lagi musthail untuk diragukan. Jika tidak demikian, maka akan muncul berbagai kontradiksi. Pengetahuan hanya dimungkinkan dengan syarat ada sesuatu atau beberapa hal yang kita tidak pernah salah mengenainya. Seluruh pengetahuan diturunkan oleh proses deduktif seperti proses dalam geometri aksiomatik. Karena itu, seluruh gagasan yang benar harus diketahui dengan cara yang jelas dan tajam, sehingga dengan demikian gagasan itu bisa diketahui dengan benar. Gagasan-gagasan tersebut antara lain: eksistensi suatu dunia eksternal dan pikiran-pikiran lainnya, eksistensi Tuhan dan karakteristik-Nya, bahwa Tuhan tidak pernah menipu (bisa dipersepsi dengan jelas dan tajam bahwa Tuhan tidak mungkin berbuat salah atau cacat karena jika Tuhan seperti itu, maka Tuhan tidak akan menjadi Tuhan, dan kecurangan pastilah bersumber dari kekurangan), bahwasanya Tuhan mendukung prinsip bahwa seluruh gagasan yang dipersepsi secara jelas dan tajam adalah benar (karena Tuhan itu Maha Penyayang dan Tuhan tidak akan membawa manusia pada kesalahan).

Lebih jauh, Descartes menjelaskan rumusan bahwa sebuah ide itu jelas jika ide tersebut dapat dipahami sebagai suatu keseluruhan dan konsisten, misalnya, konsepsi tentang sebuah lingkaran. Sebuah ide dikatakan tajam jika ide itu tidak pernah bercampur baur dengan ide lainya, misalnya, lingkaran tidak pernah dicampurbaurkan dengan persegi empat. Descartes percaya bahwa ide-ide itu memang harus demikian dan hanya ide yang seperti itulah yang dapat diterima sebagai ide yang benar. Selain itu, sebuah ide mungkin jelas tapi tidak tajam, tapi tidak mungkin bahwa ide itu tajam tapi tidak jelas. Menurut Descartes, ada tiga ide yang jelas dan tajam serta terbukti dengan sendirinya tentang realitas yang memberi dasar bagi filsafat yang dirumuskannya, yaitu, pertama, keluasan (materi menempati ruang); kedua, figur (bentuk, ukuran, dimensi spasial); ketiga, perpindahan (gerak).

Descartes pun kemudian menjabarkan tiga jenis ide, yaitu, pertama, ide-ide bawaan (innate ideas) yang muncul dari struktur, aktivitas, atau potensi pemikiran itu sendiri. Ada tiga ide bawaan utama, yaitu, ide tentang Tuhan, ide tentang jiwa (pikiran, ego, substansi pikiran), dan ide tentang materi (benda, objek-objek fisik eksternal, substansi material). Kedua, ide-ide buatan (factitious ideas), yang dibangun oleh pikiran untuk memahami seperti apakah sesuatu itu (seperti seorang ilmuwan fisika atau kimia memodelkan sebuah objek material). Ketiga, ide-ide yang tidak disengaja (adventitious ideas) yang datang sebagai rangsangan dari dunia eksternal seperti bunyi not musik, sinar rembulan, panasnya api. Ide-ide kebetulan tidak datang dari luar ke dalam pikiran seperti halnya berbagai kualitas atau entitas, tetapi dibentuk oleh pikiran dari gerak-gerak fisik yang mempengaruhi otak.

Sejalan dengan paparannya tentang ide bawaan, Descartes menjelaskan bahwasanya ada tiga substansi dalam sistem filsafatnya, yaitu Tuhan, jiwa yang pada hakikatnya adalah pemikiran (cogitatio) dan materi yang pada hakikatnya adalah keluasan (extensio). Namun, sebelum masuk pada penjelasan lebih jauh mengenai tiga substansi tersebut, ada beberapa asumsi yang harus dipahami terlebih dahulu terkait konsepsi Descartes mengenai substansi. Menurut Descartes, substansi adalah sesuatu yang dapat diketahui hanya oleh dirinya sendiri tanpa membutuhkan sesuatu yang lain dan tanpa ketergantungan pada sesuatu yang lain untuk eksistensinya (dan hanya ada satu eksistensi sejati yang memenuhi syarat ini, yaitu Tuhan). Mengenai substansi Tuhan, Descartes menjelaskan bahwa itu adalah sesuatu yang tak terhingga, wujud yang tak diciptakan, yang tidak tergantung pada apa pun selain Diri-Nya untuk eksis. Ini merupakan eksistensi wajib yang sempurna sepenuhnya, yang kepada-Nya segala sesuatu tergantung demi keterciptaannya dan keberlanjutan eksistensinya. Substansi ini bersifat abadi, spiritual, imaterial, tak berubah, tak bisa di bagi, tidak spasial, tidak temporal, selalu ada, serba bisa, Maha Pengasih, Pencipta alam semesta, Pencipta seluruh jenis substansi lainnya, dan eksistensinya kita ketahui secara bawaan.

Asumsi lainnya mengenai substansi selain Tuhan adalah setiap substansi memiliki esensi yang jelas dan tak pernah terlepas darinya. Jika substansi kehilangan esensi, maka esensi tersebut tidak lagi bisa eksis, tidak lagi berfungsi, serta tidak lagi diketahui atau dapat diketahui. Misalnya, esensi substansi spiritual adalah berpikir, dan esensi substansi material adalah keluasan. Sifat-sifat lain yang dimiliki oleh substansi disebut sebagai mode esensi atau atribut esensi. Misalnya, seluruh substansi spiritual seperti berimajinasi, meragukan dan berkehendak merupakan mode, ekspresi, eksemplifikasi, juga manifestasi dari esensinya, yaitu berpikir. Substansi-substansi itu saling berinteraksi, namun juga saling bertentangan; secara logis dan ontologis saling meniadakan serta dapat dipahami dan eksis tanpa yang lain. Substansi-substansi tersebut harus eksis, karena kalau tidak, atribut (yaitu sifat, kualitas dan lain sebagainya) tidak akan memiliki sesuatu yang dikandung di dalamnya, misalnya, atribut berpikir tidak akan menjadi atribut dari sesuatu. Adalah kontradiktif apabila dikatakan bahwa aktus berpikir terjadi tapi tak ada subjek yang melakukan tindakan berpikir tersebut; atau apabila dikatakan bahwa sebuah dimensi spasial itu eksis tetapi tidak ada yang meluas atau memiliki dimensi spasial tersebut. Dengan demikian, maka konsep berpikir dan berkeluasan akan menjadi tak bermakna.

Mengenai dua substansi selain Tuhan, Descartes mengungkapkannya sebagai berikut: “Terdapat perbedaan yang sangat besar antara pikiran dan tubuh, dalam hal bahwa tubuh secara kodrati selalu bisa di bagi-bagi, sedangkan pikiran secara utuh tidak terpisahkan. Sebab, ketika aku memikirkan tentang pikiran, atau lebih tepatnya memikirkan diriku sendiri sebagai sesuatu yang berpikir, maka aku tak dapat membeda-bedakan bagian di dalam diriku, dan aku dengan jernih melihat melihat bahwa aku adalah sesuatu yang benar-benar satu dan utuh. Meski pun keseluruhan pikiranku tampaknya menyatu dengan keseluruhan tubuhku ketika salah satu kaki, atau salah satu tangan, atau bagian tubuh mana pun terkelupas, tetapi aku tidak menyadari adanya apa pun yang disingkirkan dari pikiranku. Akan halnya kehendak, persepsi, konseptualisasi dan sebagainya, dengan berbagai cara bisa disebut sebagai bagian dari pikiran, karena memang pikiran itulah yang selalu melakukan kehendak, persepsi, konseptualisasi dan sebagainya. Sementara itu, hal yang sebaliknya, benar-benar berlaku untuk benda-benda fisik. Sebab, aku tak dapat memikirkan bahwa salah satu di antaranya yang tak bisa dipisah-pisahkan di pikiranku, karenanya aku memahaminya sebagai sesuatu yang dipecah-pecah.”

Dua substansi inilah yang nantinya akan menjadi landasan dualisme manusia dalam filsafat Descartes. Dia membagi manusia menjadi kesatuan dari dua substansi terpisah dan berbeda, yaitu, res cogitans dan res extensa. Res cogitans (dari bahasa Latin yang artinya ‘sesuatu yang berpikir’) merujuk pada suatu frase yang secara prinsip digunakan oleh Descartes untuk menyebut substansi berpikir, yang tidak lain mengacu pada pikiran individual atau diri yang berpikir, juga mengacu pada benda atau jiwa spiritual yang berfungsi sebagai landasan yang mendasari pikiran semua manusia atau diri-diri yang berpikir. Res cogitans merupakan substansi spiritual yang diciptakan, yang esensinya adalah berpikir dan memiliki pemikiran, tidak meluas karena tidak terukur, tidak dapat dilihat, nonspasial dan nontemporal. Ia memuat dan dan menggunakan benda-benda material tetapi tidak terbatas pada benda-benda, karena ia dapat memasuki alam tanpa benda. Jiwa—sebagai res cogitans—dikaitkan dengan seluruh bagian tubuh, tetapi melakukan sebagian besar fungsinya dengan menggunakan kelenjar pineal di dasar otak—argumen yang nantinya juga tidak akan Descartes yakini lagi—yang digunakan untuk berinteraksi dengan tubuh agar menghasilkan berbagai peristiwa mental seperti kesadaran, pikiran, ide-ide, kehendak, imajinasi, dan lain sebagainya.

Sedangkan res extensa (dari bahasa Latin yang artinya ‘sesuatu yang meluas’) merupakan suatu frase yang secara prinsip digunakan oleh Descartes untuk menyebut substansi material (fisikal). Substansi material ini bagi Descartes mengacu pada landasan yang mendasari seluruh perubahan material (mekanis) di alam semesta dan tidak memiliki karakteristik atau kehidupan. Res extensa merupakan substansi material terbatas yang diciptakan, seperti tubuh, objek-objek material, materi, dan alam semesta; singkatnya, esensi substansi benda fisik adalah keluasan. Ia menempati ruang, eksis dalam waktu, terukur, dapat dilihat, dapat dilokasikan, berubah, dapat dibagi, dan memiliki ukuran serta dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Tubuh, sebagai res extensa, dalam hal ini merupakan bagian dari alam fisik dan mekanis dalam kerjanya, sebagaimana segala sesuatu di alam fisik. Tubuh dengan sendirinya dapat—dan memang—menjalankan kehidupannya sendiri, dan sebagian besar aktivitasnya tidak disebabkan oleh jiwa, namun tubuh juga bisa menjadi tak ubahnya mesin yang dijalankan oleh jiwa.

Demikianlah gambaran global dari beberapa pokok pemikiran Rene Descartes terkait dengan cogito ergo sum, dubium methodicum, res cogitans dan res extensa.[]

Ilustrasi: http://aestela.deviantart.com/favourites/38684556/Descartes

Referensi:

Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2011.

Descartes, Rene, Risalah Tentang Metode, Jakarta: Gramedia, 1995.

Descartes, Rene, Meditations, Objections, and Replies, edited and translated by Roger Ariew and Donald Cress, Indianapolis: Hackett Publishing Company Inc., 2006.

Gombay, André, Descartes, USA: Blackwell, 2007.

Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1983.

Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2004.

Rowlands, Mark, Menikmati Filsafat Melalui Film Science-Fiction, Bandung: Mizan, 2004.

Strathern, Paul, 90 Menit Bersama Descartes, Jakarta: Erlangga, 2006.

Van Peursen, C. A., Tubuh-Jiwa-Roh: Sebuah Pengantar dalam Filsafat Manusia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.

Zaqzuq, Mahmud Hamdi, Al-Ghazali: Sang Sufi, Sang Filosof, Bandung: Pustaka, 1987.

Mengenal, Awal Cinta (Bag-4)

Lihat juga:

Mengenal, Awal Cinta (Bag-1)

Mengenal, Awal Cinta (Bag-2)

Mengenal, Awal Cinta (Bag-3)

***

Di tulisan saya sebelumnya, telah kita ketahui bahwa subyek filsafat adalah wujud (ada) mutlak atau wujud sebagaimana wujud itu sendiri. Konsep—pahaman—wujud adalah sesuatu yang paling badihi yang diabstraksikan benak manusia dari seluruh keberadaan. Ke-badihi-annya adalah bukti ia tidak membutuhkan definisi.[i] Konsep wujud adalah sesuatu yang dipahami setiap manusia secara huduri.[ii]

Dalam diskursus filsafat “Islam”, terdapat prinsip utama yang sejak awal mesti kita tegaskan. Yaitu antara pahaman (konsep) wujud dan realitas wujud. Struktur filsafat tidak akan dapat dipahami dengan benar, jika seseorang tidak menangkap secara jelas signifikansi pembedaan antara keduanya. Sebab apa yang disebut sebagai pahaman wujud, jelas bukanlah wujud itu sendiri. Wujud bukan pula realitas yang terlahir dari sebuah pahaman. Sebaliknya, suatu pahaman lahir dari adanya wujud itu sendiri.[iii]

Lalu apa yang dimaksud wujud itu badihi? Yakni wujud yang ditinjau secara konsep tidak dalam makna realitasnya. Konsep wujud, memang disadari oleh setiap manusia. Akan tetapi, ketika konsep ini dirujuk pada sesuatu yang bersifat eksternal (misdaq), ia menjadi sangat sulit terjelaskan. Dalam hal ini, Toshihiko Izutsu, memberikan perumpamaan, hal ini sama sulitnya dengan menjelaskan apakah Tuhan itu? Orang yang percaya dengan Tuhan mungkin dengan segera sadar terhadap-Nya. Ia merasakan kehadiran-Nya bersama seluruh wujud-Nya. Namun, ia akan kesulitan jika diminta menjelaskan apa Tuhan itu sebenarnya”.

Salah satu pertanyaan dalam pembahasan wujud (ada) adalah apakah wujud dapat diterapkan pada satu makna (univokal) atau beragam makna (ekuivokal)? Persoalan ini muncul disebabkan sebagian kaum teolog menyatakan bahwa berbeda antara makna wujud yang dipredikasikan pada Tuhan dengan makna wujud pada makhluk-Nya. Dalam pandangan teolog, wujud itu memiliki makna yang beragam (ekuivokal). Sebanyak apa objek yang kita predikasi pada wujud, sebanyak itu pula maknanya. Misalnya kita menyatakan bahwa Tuhan ada, makhluk ada, binatang ada dan seterusnya.

Untuk mendukung beragamnya makna pada wujud, para teolog biasanya membangun argumetasi bahwa jika kita menyamakan antara wujud Tuhan dengan wujud makhluk, antara yang tak terbatas (Tuhan) dengan yang terbatas (makhluk), maka yang terjadi adalah kontradiksi. Mengapa kontradiksi? Sebab Tuhan menciptakan makhluk. Suatu hal yang tidak mungkin disamakan antara yang menciptakan dan diciptakan hatta dalam tataran wujud. Intinya, wujud Tuhan dan wujud manusia, dua hal yang berbeda dan mustahil tersatukan dalam satu realitas.

Berbeda dengan para teolog, sebaliknya para filosof menyatakan, bahwa wujud Tuhan ataupun wujud makhluk memiliki satu makna (univokal/musytarak maknawi). Dalam arti, makna wujud atau ada dapat dipredikasikan pada apapun, yang terhimpun dalam satu kata wujud. Misalnya dikatakan bahwa, Tuhan ada, manusia ada, binatang ada, benda ada dsb. Apapun yang kita sebut sebagai sesuatu—tanpa menunjuk realitas eksternal—pasti dikatakan dia ada.[iv]

Prof. Mohsen Gharawiyan, menyatakan bahwa jika makna wujud yang kita nisbahkan pada Tuhan berbeda dengan makna wujud yang kita nisbahkan pada makhluk, maka muncul masalah lain. Saat kita katakan bahwa Tuhan ada, maka maknanya berbeda dengan saat kita katakan makhluk ada. Padahal predikat wujud (ada) di kedua subjek tadi lawannya adalah tiada—nonwujud. Dengan demikian, jika kita menerima pandangan para teolog, itu meniscayakan bahwa proposisi Tuhan ada sama dengan makna Tuhan tiada, sebab di antara ada dan tiada tak ada pilihan ketiga. Hal ini dipertegas oleh Prof. Gharawiyan, salah satu dalil kesatuan makna wujud adalah bahwa satu-satunya lawan ada adalah tiada, dan tiada hanya memiliki satu misdaq, yaitu lawan ada. Sesuai dengan konsep nonkontradiksi, maka ada dan tiada mustahil sama-sama terafirmasi sebagaimana juga mustahil sama-sama ternegasi.[v]

Untuk membuktikan kebenaran argumentasi di atas, para filosof mengutarakan beberapa dalil. Namun, di sini penulis hanya akan memberikan beberapa dalil saja. Misalnya kita membagi wujud atas wujud wajib dan wujud mumkin. Dari pembagian ini, kita menemukan tiga makna darinya. Pertama, baik wajib atau mumkin, keduanya tersatukan dalam kata wujud. Kedua, kita dapat membagi kata wujud sebagaimana makna yang kita pahami darinya. Misalnya, wujud terbagi dalam: wujud wajib dan wujud mumkin. Wujud mumkin terbagi dalam wujud substansi dan wujud aksiden dan seterusnya. Ketiga, ketika wujud menjadi objek pembagian, kita telah menambahkan sesuatu yang lain sehingga ia menjadi satu bagian. Misalnya, kata terbagi atas kata benda, kata kerja, dan sifat. Masing-masing setiap kata, baik ia kata benda, kata kerja, dan sifat tersusun dari dua bagian. Satu bagian—yakni sebagai kata—dan satu bagian khas yang menjadi pembedaan di antaranya, yakni kata benda dan kerja kerja. Dan bagian khas ini tidak lain adalah hubungan yang ditambahkan kepada makna kata.[vi]

Dalil yang lain, misalnya kita menerima adanya jiwa. Tetapi, kita ragu apakah ia adalah sesuatu yang materi atau non-materi, substansi atau aksiden. Namun, kita tetap yakin bahwa jiwa itu ada. Atau predikasi pada subjek, seperti Tuhan ada dan makhluk ada. Semua proposisi ini, tetap memiliki makna yang satu, yaitu wujud atau ada.

Dengan demikian, pandangan yang menyatakan bahwa wujud itu bermakna banyak, sebenarnya tidak mampu membedakan antara wujud dalam pengertian konsep dengan wujud dalam pengertian realitas. Itulah sebabnya mengapa Sabzawari menyatakan bahwa konsepnya—wujud—adalah sesuatu hal yang sangat jelas. Tetapi realitasnya berada dalam puncak kegelapan.[vii]

Tentu hal ini bukan sekadar permainan logika semata. Lebih dari itu, persoalan ini adalah tuntutan fitrawi tiap manusia yang senantiasa ingin menyingkap batin realitas. Walaupun kita terima bahwa, terdapat sesuatu yang tak tersentuh oleh akal dan pikiran manusia itu sendiri. Namun, akal adalah jalan terbaik untuk menemukan hal itu.

Bersambung……

[i] Jika kita mendefinisikannya, maka terjadi daur. Mislanya mendefinisikan wujud dengan ‘sesuatu yang nyata secara obyektif’. Kemudian ditanyakan lagi apa itu obyektif? Obyektif adalah sesuatu yang mewujud. Jawaban ini kembali lagi pada yang ditanyakan sebelumnya,yaitu wujud. Sehingga hal demikian menjadi daur, berputar.

[ii]Ilmuini biasa disebut ilmu intuitif, yang dimiliki setiap manusia.

[iii]Mungkin pemikiran Berkeley adalah contoh yang menarik dalam konteks ini.

[iv]Maksud menunjuk pada realitas ialah hakikat wujudnya

[v]Lihat, Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam

[vi]Lihat,https://makkawaru.wordpress.com/2014/11/25/daras-filsafat-3/

[vii]Lihat Toshihiko Izutsu, Struktur Metafisika Sabzawari.

Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-4, Habis)

Mawathin: Pemetaan Kehidupan yang Dilalui Manusia

Untuk memahami entitas manakah yang merupakan diri manusia sejati, maka perlu disimak terlebih dahulu paparan menyeluruh ihwal tahapan kehidupan manusia sebagaimana tertuang dalam Al-Quran, yang memetakan dari minus tak hingga masa lalu sampai plus tak hingga masa depan. Pemetaan menyeluruh tersebut dirumuskan menjadi konsep tujuh mawathin (bentuk jamak mauthin) oleh Ibn ‘Arabi1 plus satu konsep mauthin tambahan dari Zamzam AJT (mendahului ketujuh mauthin lainnya yang dirumuskan Ibn ‘Arabi).2

Makna harfiah dari mauthin adalah tempat, tapi Ibn ‘Arabi mendefinisikannya sebagai “alam manusia dalam perjalanannya pada jenjang kehidupannya.” Dimulai dari mauthin awwal—dari Zamzam AJT—yaitu, suatu tempat di masa awal ketika Allah menciptakan nafs, namun belum diatributi apa pun (lihat QS Al-Insan [76]: 1). Apabila secara jasad nasab manusia itu terhubung kepada Adam, maka secara nafs terhubung kepada Nur Muhammadiyyah. Proses penciptaan tersebut apabila diilustrasikan menyerupai sumber cahaya yang memiliki radius cahaya sekian jauh, merentang dari yang paling terang dan terdekat dengan sumber cahaya hingga yang berbatasan dengan kegelapan dan terjauh dari sumber cahaya. Allah menciptakan nafs dari cahaya di segenap radius cahaya tersebut. Dari sini beralih ke tujuh mauthin yang dipaparkan Ibn ‘Arabi.

Dari mauthin awwal beralih ke mauthin syahadah. Di mauthin inilah nafs dipersaksikan ihwal Allah sebagai Rabb-nya dan mendapatkan ‘amr sebagai atribut kedirian, yaitu, misi hidup masing-masing (lihat QS Al-A‘raf [7]: 172). Penyaksian dan ‘amr ini direkam serta disimpan dalam Rûh Al-Quds sehingga harus dicari, ditemukan dan dibuka dalam mauthin dunya. Kemudian beralih ke mauthin rahim. Di mauthin ini, nafs dimasukkan ke dalam jasad beserta peniupan ruh (min rûhi). Jasad merupakan ‘ciptaan baru’—karenanya bukanlah diri manusia sejati—yang menjadi wahana (markab) untuk nafs di mauthin berikutnya, yaitu mauthin dunya. Pertemuan antara nafs dan jasad menghasilkan psikis. Psikis itu tak ubahnya pertemuan lautan (nafs) dengan pantai (jasad) yang menghasilkan bunyi deburan keras. Psikis memiliki sejarah pembentukannya melalui faktor keluarga, sosial dan budaya (psikoanalisis adalah salah satu bidang keilmuan yang menelaah arkeologi psikis ini, meski seringkali bersifat overinterpretasi). Sementara nafs lebih azali ketimbang psikis, dan bukan bentukan.

Ketika terlahir ke mauthin dunya, manusia dianugerahi pendengaran, penglihatan dan fu‘ad (lihat QS An-Nahl [16]: 78). Fu‘ad merupakan bentuk primitif dari lubb. Ketika jasad tumbuh membesar, fu‘ad membentuk pikiran (mind). Selain itu, psikis pun mulai mengkristal menjadi kepribadian. Psikis, secara sederhana, bisa disamakan dengan shadr (dada), namun konsep shadr dalam Islam lebih lengkap ketimbang konsep psikis Barat yang enggan memasukkan unsur-unsur spiritual dan keilahian dalam konsepsinya. Al-Hakim At-Tirmidzi menjelaskan bahwa shadr itu menyerupai telaga yang menampung sekian banyak mata air, dari mulai ‘air keruh’ beserta kotoran dari sensasi inderawi, pikiran, hasrat, obsesi hingga ‘air mineral’ dari nafs, qalb, atau bahkan rûh. Namun karena teramat derasnya aliran ‘air keruh’ dari mata air lainnya, maka ‘telaga’ shadr tersebut menjadi kotor, hitam, penuh sampah dan hal itulah yang termanifestasi menjadi kepribadian psikis beserta segenap tabiatnya. Namun, tegas Zamzam, bagi yang telah Allah anugrahkan furqan—pembeda antara haqq dan bathil—yang berfungsi menyerupai ‘saringan’, segenap ‘aliran air’ menuju ‘telaga’ shadr akan disaring sehingga hanya unsur haq dari segala sesuatu sajalah yang masuk.

Ketika mati, jasad tidak meneruskan perjalanan ke mauthin barzakh seperti nafs. Di mauthin barzakh ini, nafs melanjutkan ‘perjalanan’ tanpa jasad yang telah terurai menyatu kembali dengan asalnya (yaitu, tanah). Apabila nafs bisa ditimpa azab kubur karena ternodai dosa, maka ruh sudah pasti diterima di sisi-Nya karena ruh tak pernah ternodai oleh dosa dan terkenai segala kelemahan makhluk.3 ‘Perjalanan’ nafs di mauthin barzakh ini merupakan simulasi ulang kehidupan di mauthin dunya, namun dengan berbagai pemanifestasian konkrit segala elemen dalam diri dan kehidupan di mauthin dunya yang tadinya abstrak atau tidak kongkrit, seperti hawa nafsu, syahwat, dosa dan amal buruk yang bermanifestasi menjadi sosok makhluk buruk rupa, atau Al-Quran yang biasa dibaca seorang muslim bermanifestasi menjadi sosok yang rupawan dan menemani nafs dalam ‘perjalanan’ tersebut (sebagaimana disebutkan dalam hadis), dan lain sebagainya.4

Setelah itu, nafs memasuki mauthin mahsyar. Di mauthin ini, nafs dipertemukan kembali dengan jasad yang dulu telah hancur terurai ‘dipeluk bumi’, namun sekalipun bahan baku pembentukannya kembali masih dari ‘tanah’ jasad yang dahulu, kini bentuk lahiriahnya sama sekali berbeda. Apabila di mauthin dunya yang menjadi cetakan jasad adalah aspek ‘kebumian’ kedua orangtua (sehingga anak memiliki aspek keserupaan fisik dengan orangtua dan para leluhurnya), maka di mauthin mahsyar yang menjadi cetakan adalah ‘kondisi’ batin nafs. Itulah sebabnya hadis menggambarkan bahwa di mauthin mahsyar manusia dikumpulkan dalam berbagai bentuk dan keadaan, seperti, perut yang buncit besar, lidah yang panjang terurai hingga tergelar laksana tikar dan terinjak-injak yang lain, hingga jasad-jasad yang menyerupai kompilasi bentuk sekian binatang, dan sebagainya. Sementara nafs yang suci dan bercahaya, maka jasadnya pun akan menjiplak kondisi tersebut.

Kemudian beralih lagi ke mauthin akhirat, yang terbagi menjadi surga dan neraka. Di mauthin ini, nafs dan jasad mendapatkan surga dan nerakanya masing-masing. Surga bagi jasad adalah makan dan minum yang enak, tidur nyenyak, bidadari atau perhiasan mewah, dan kenikmatan material lainnya, sedang surga bagi nafs bukanlah kenikmatan material tersebut, tetapi ‘ilm tentang Allah, al-haqq, berbagai cahaya yang Allah anugerahkan, dan seterusnya. Begitu juga neraka bagi jasad dan nafs.

Terakhir adalah mauthin al-katsîb, atau ‘tempat yang dekat’, merupakan mauthin di pinggiran surga, tempat nafs suci bisa menikmati surga yang tak pernah dicerap indera dan pikiran, yang tak terlintas dalam bayangan, yaitu bertemu dan menatap Allah, sebagaimana diungkap hadis: “Sesungguhnya Allah memiliki surga yang tak ada kenikmatan di dalamnya, selain Allah menampakkan Diri tertawa di dalamnya.”

image6

Bagan Mawathin

 

Dari paparan ihwal mauthin di atas, kita bisa melihat bahwa oknum atau entitas yang selalu ada di semua tahapan mauthin tersebut adalah nafs. Dengan demikian terlihat jelas bahwa diri manusia yang sebenarnya itu adalah nafs, bukan jasad mau pun ruhnya. Namun nafs adalah entitas yang sering dikacaukan dengan pengertian psikologis yang memandangnya sebagai kualitas. Selain itu, nafs pun sering dikacaukan pengertiannya dengan hawa nafsu. Nafs adalah fokus pendidikan Ilahi dan “harus mengembara di muka bumi hingga terbuka kepadanya malakut langit, atau hakikat dari segala yang wujud (khalq) di alam syahadah, dan hakikat dari setiap khalq adalah Al-Haqq.”5 Sejak awal, nafs memang sudah memiliki potensi pengetahuan, yaitu tentang dirinya sendiri. Karena itu, aksioma Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu terbagi menjadi tiga bagian, di mana frasa ‘arafa nafsahu menunjukkan proses sang nafs ketika berusaha memahami pengetahuan yang dikandung dalam dirinya. Frasa ‘arafa Rabbahu menunjukkan proses ketika datang pengetahuan dari Tuhan yang melegalkan (membenarkan maupun menyalahkan) pengetahuan sang diri manusia tentang nafsnya. Sementara kata faqad tidak mesti bermakna serial secara waktu, namun serial secara urutan sebab akibat. Dalam hal ini, Man ‘arafa nafsahu adalah sebab dari ‘arafa Rabbahu. Tuhan berkepentingan terhadap kebenaran proses pengenalan manusia terhadap dirinya, karena manusia diciptakan sesuai dengan citra-Nya, dan sebagai makhluk yang paling ‘mirip’ dengan-Nya, maka diri manusia membawa pengetahuan tentang Tuhan dalam derajat akurasi dan kebenaran tertinggi di seluruh semesta alam. Ma‘rifat merupakan rahmat Tuhan terhadap hamba-Nya yang Dia kehendaki, yaitu rahmat kedua setelah kembali menjadi al-muthaharûn (tingkat kesucian bayi, yang merupakan rahmat pertama). Mengenai hal ini, Ibnu Atha‘illah mengatakannya dalam Al-Hikam:

Ketika terbuka kepadamu wajah pengenalan (ta‘aruf), maka jangan engkau hiraukan amalanmu yang sedikit itu. Sesungguhnya hal ini tidak terbuka bagimu melainkan karena Dia menghendaki pengenalan-Nya atasmu. Tidakkah kau ketahui bahwa sebuah pengenalan itu merupakan pengenalan ihwal Diri-Nya kepadamu, sedangkan amal itu sesuatu yang engkau hadiahkan kepada-Nya. Maka sepadankah antara apa yang engkau berikan kepada-Nya dengan Diri-Nya yang Dia berikan kepadamu?”

Bila dalam proses ‘arafa nafsahu subjeknya adalah jiwa (an-nafs), maka dalam proses ‘arafa Rabbahu subjeknya adalah h Al-Quds. h Al-Quds ini baru akan hadir bila nafs telah sempurna berproses, yaitu telah sampai ke derajat nafs al-muthmainnah. Hadirnya h Al-Quds yang merupakan “utusan-Nya di dalam diri, yang membawa ketetapan-ketetapan hidup (‘amr) si nafs di dunia ini (lihat QS Asy-Syûra [42]: 52, langsung dari bahasa Qur`annya yang mana terdapat kalimah rûh dan ‘amr). h Al-Quds merupakan juru nasihat si nafs dari dalam qalb, dan nafs yang telah diperkuat dengan h ini, selain disebut sebagai an-nafs an-natiqah (jiwa yang berkata-kata disebabkan adanya juru nasehat dari dalam qalbnya), juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainnah. Disebut muthmainnah karena si nafs tersebut telah stabil dalam orbit dirinya (qudrah diri/swadharma), di sini h tadi disebut pula sebagai sakinah (syekinah dalam bahasa Ibrani) yang diturunkan ke dalam qalb yang memperoleh kemenangan (al-fath) ‘amr.”6

Karena itulah kehadiran h Al-Quds sangat terkait dengan amal shalih yang membuat nafs mampu menggunakan kekuatannya (aradh), maupun membuat tubuh mampu untuk menjalankan amal shalihnya, yaitu sesuai dengan kehendak Tuhan. h Al-Quds ibarat sosok Rasul di suatu kaum, di mana kaum itu adalah diri al-mu‘min. h Al-Quds berbeda dengan nafakh rûh atau nyawa, karena h Al-Quds bukanlah wujud fisik sebagaimana nafakh ruh. Dia pun bukanlah aradh, sebab urusan (‘amr) Tuhan mustahil berupa tubuh maupun aradh. h Al-Quds ini bersifat lathifah ‘alimah, yaitu sesuatu yang lembut (tidak bertubuh), memiliki ilmu dan memberikan kepahaman pada diri (nafs) manusia. Karena itu, bila dikaitkan dengan nafs, kehadiran h Al-Quds ini adalah dalam posisi guru, pemberi pemahaman, dan yang mentransfer pengetahuan dari sisi Tuhan, dikarenakan an-nafs hanya mampu mengetahui kekuatan yang ada dalam dirinya saja. Entitas h Al-Quds ini disebut dengan h ‘Amr dalam terminologi Al-Ghazali.

 

Penjabaran Amanah Misi Hidup Menurut Para Sufi

Perkara amanah misi hidup ini sebenarnya juga sudah banyak dipaparkan oleh para sufi—sebagian contohnya akan diperlihatakan di bawah—dan bahkan sudah tertuang pula dalam pembabakan macapat yang akrab bagi orang Jawa sebagai berikut: (1) Mijil, awal kelahiran manusia ke dunia; (2) Sinom, melukiskan masa muda yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan; (3) Maskumambang, masa ketika masih belum memiliki ilmu yang mantap dan terombang ambing; (4) Kinanthi, masa pembentukan dan pencarian jati diri serta menempuh jalan pencarian jati diri tersebut; (5) Asmarandana, masa-masa di rundung asmara; (6) Gambuh, komitmen untuk menyatukan cinta dalam satu biduk rumah tangga; (6) Pangkur, menyingkirkan syahwat dan hawa nafsu yang melumpuhkan nafs, dan untuk itu diperlukan riyadhah atau “melatih untuk mati sebelum mati”; (7) Dhandhanggula, gambaran dari kehidupan yang serba indah; (8) Durma, ber-dharma dengan menjalankan misi hidup; (8) Megatruh, terpisahnya nyawa (nafakh ruh) dari jasad; (9) Pocung, dibungkus kain mori putih menuju liang lahat; dan (10) Wirangrong, tembang penutup, usailah masa hidup.

Pemaparan semacam itu juga bisa ditemui dalam kitab Gelaran Sasaka Kaislaman karya Haji Hasan Mustapa, sufi dari tatar Pasundan. Kitab tersebut terbagi menjadi 7 bagian, yaitu Islam, Iman, Soleh, Ihsan, Sahadah, Sidikiyah dan Kurbah, yang menggambarkan jenjang status nafs manusia dalam perjalanan menuju Allah. Lima bagian pertama dari kitab tersebut terdiri dari dua kolom berdampingan. Kolom sebelah kiri adalah ajakan atau seruan dari setan (panggoda iblis), sementara kolom sebelah kanan adalah ajakan atau seruan dari Allah SWT (pangjurung kapangeranan). Menjelang akhir bagian Sahadah, kolom sebelah kiri (panggoda iblis) berhenti dengan ucapan “perpisahan” dari setan karena telah gagal menggoda, dan kolom sebelah kanan (pangjurung kapangeranan) terus berlanjut. Pada bagian Sidiq dan Qarib, tidak ada lagi dua kolom yang berdampingan, yang ada hanyalah satu kolom besar yang semata berisi ajakan Allah.

Dalam kitab Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi menjelaskan sebagai berikut: “Dan seseorang berkata, ‘Aku telah melupakan sesuatu.’ Sesungguhnya, hanya satu hal saja di dunia ini yang tidak boleh engkau lupakan. Boleh saja engkau melupakan semua hal lain, kecuali yang satu itu, tanpa engkau harus menjadi risau karenanya. Jika engkau mengingat semua yang lain, tapi melupakan yang satu itu maka tiada sesuatu pun telah engkau capai. Dirimu itu bagaikan seorang utusan yang dikirim seorang raja ke sebuah desa dengan suatu tujuan khusus. Jika engkau berangkat dan kemudian mengerjakan seratus tugas lainnya, tapi lalai menyelesaikan tugas yang dikhususkan untukmu tersebut, itu sama saja artinya dengan engkau tidak mengerjakan apa-apa. Demikianlah, manusia diutus ke dunia ini untuk suatu tujuan dan sasaran khusus. Jika seseorang tidak mencapai tujuan itu, berarti ia tidak menyelesaikan apa pun… ‘Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah itu kepada petala langit dan bumi dan gunung-gunung: dan mereka menolak untuk memikulnya dan gentar kepadanya; tetapi Al-Insan mengambilnya; dan sungguh, ia itu zalim dan bodoh’” (QS Al-Ahzab [33]: 72). Lalu dalam salah satu syair Matsnawi, Rumi kembali menegaskan: “Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.” Dan dalam Rubaiyat F#77, Rumi pun menuliskan sebagai berikut:

 

Bertahun kucoba kukenali diriku, dengan meniru orang lain.

Dari dalam diriku, aku tak tahu harus lakukan apa.

Tak kulihat siapa, kudengar namaku di seru dari luar.

Lalu jiwaku melangkah keluar dari dalam diriku.

 

Ibn ‘Arabi pun pernah menceritakan pertemuannya, ketika masih muda, dengan ‘Abd Allah Al-Khayyath atau Al-Qarraq, sebagai berikut: “Aku berjumpa dengannya di Masjid ‘Udays di Seville ketika dia baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Penampilannya sangat tidak rapi, berwajah kurus, seorang yang suka berpikir, sangat intens dalam ekstase dan kesedihannya. Tidak lama sebelum aku berjumpa dengannya, aku telah menerima inspirasi mengenai Jalan yang tak seorang pun belum mengetahuinya. Karena itu, ketika aku melihatnya di masjid itu, aku ingin tampil sebagai tandingan spiritualnya. Aku memandangnya dan dia balik memandangku serta tersenyum. Aku lalu memberikan isyarat kepadanya dan dia melakukan hal serupa. Kemudian, tiba-tiba saja, aku merasa seperti seorang penipu di hadapannya. Dia berkata kepadaku, ‘Rajin-rajin dan tekunlah, sebab terberkahilah seseorang yang mengetahui untuk apa dia diciptakan.” Pemaparan yang gamblang ihwal tujuan penciptaan manusia yang diamanahi misi hidup ini juga dituangkan oleh Nasir-I Khusrau dalam syair berikut:

 

Kenalilah dirimu

Kalau kau pahami dirimu sendiri,

Kau akan bisa memisahkan yang kotor dari yang suci

Pertama, akrablah dengan dirimu

Kemudian jadilah pembimbing lingkunganmu

Kalau kau kenal dirimu, kau akan mengetahui segalanya

Kalau kau pahami dirimu, kau akan terlepas dari bencana

Kau tak tahu nilaimu sendiri

Sebab kau tetap begini

Akan kau lihat Tuhan, kalau kau kenal dirimu sendiri

 

Langit yang tujuh dan bintang yang tujuh adalah budakmu

Namun, kasihan, kau tetap membudak pada ragamu

Jangan pusingkan kenikmatan hewani

Kalau kau pencari surgawi

Jadilah manusia sejati

Tinggalkan tidur dan pesta ria

Tempuhlah perjalanan batin seperti pertapa

Apapula tidur dan makan-makan?

Itu semua urusan binatang buas

Dengan ilmu jiwamu bertunas

Jagalah sekarang juga

Sudah berapa lama kau tidur?

 

Pandanglah dirimu sendiri

Kau sesungguhnya luhur

Renungkan, coba pikirkan dari mana kau datang?

Dan kenapa kau dalam penjara ini sekarang?

Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang pemberani

Ada maksud kau dicipta serupa ini

Sungguh malu kalau kau telantarkan maksud penciptaanmu ini.

 

Penutup: Amanah Misi Hidup sebagai Titik Temu Agama-agama dalam Berbagai Kitab Suci

Di atas telah diperlihatkan beberapa contoh pembahasan tentang ma’rifat atau pengenalan diri dan penemuan misi hidup yang Allah amanahkan kepada manusia. Sebagaimana telah diungkap di atas oleh Ali bin Abi Thalib, awal dari Ad-Dîn adalah mengenal Allah, dan mengenal Allah itu dengan mengenal diri sendiri, seperti telah dijelaskan di atas, yang ironisnya, justru hal sepenting ini yang paling sering dilupakan oleh banyak penganut agama—termasuk umat Muslim—yang justru menjadi titik temu dan khazanah esoterik yang masih bisa ditemukan dalam berbagai kitab suci. Zamzam menjelaskan “bahwa dalam kitab-kitab ajaran langit yang dibawa para rasul, siapa pun dia, kapan pun dan di mana pun, terbukti memiliki konsep yang sama, mengisyaratkan turun dari satu sumber yang sama. Mata air (kesatuan) agama-agama dalam konsep dan aspek praktis tentang qadar-qadar langit, kelahiran spiritual, kodrat diri dan misi khalifah, empat perkara yang saling terkait erat tak terpisahkan satu sama lain. Pemahaman yang benar atas empat hal di atas adalah pokok dari pemahaman seseorang tentang arti dari saksi Allah yang benar, tentang pengabdian yang benar, tentang kehidupan sejati dan kebahagiaan hakiki.”7

Lebih jauh lagi, Zamzam menjelaskan: “Di dalam Al-Quran, kunci kebahagiaan hidup sejati dari makhluk, terselubung di belakang kata tasbih. Di balik kata tasbih ini, tersimpan makna berserah diri dan ketundukan yang sebenar-benarnya, makna Islam sejati, sebaik-baik keadaan hamba dalam beragama. Firman Allah, “Bertasbih kepada-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi.” (Al-Hasyr [59]: 24) Tanpa tasbih ini tak ada kehidupan bagi jiwa, sebab jiwa itu hanya dapat hidup dengan memakan kehendak-kehendak Allah. Bertasbihnya makhluk-makhluk Allah itu sesuai dengan bakatnya. Bakat langit dari ikan adalah berenang, bakat langit dari burung adalah terbang. Jika makhluk berjalan di luar bakatnya, berarti kesengsaraan dan kematian…Demikian pula manusia, agar dikatakan hidup, maka ia harus bertasbih menurut bakat langit masing-masing yaitu BEKERJA sesuai dengan bakat langitnya atau sesuai dengan kodratnya, sesuai kuasa yang diberikan Allah kepadanya… Kesamaan arti tasbih inilah yang (salah satunya) menunjukkan bahwa agama-agama langit itu merupakan ranting-ranting suci dari pohon agama universal. Implikasi dari ini adalah: bahwa kebahagiaan itu menjadi universal, dan kesesatan itu juga universal, dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Dosa itu ada pada kesadaran si manusia dan bukan terletak pada batu, simbol-simbol dan papan-papan nama.”8

Demikianlah, hilangnya khazanah tentang amanah misi hidup yang diemban oleh setiap manusia dalam pemahaman kebanyakan pemeluk agama-agama sebenarnya merupakan suatu kehilangan besar yang sangat disayangkan. Namun, ironisnya, sekali pun hal tersebut sangat berharga dan bisa memberi jawaban bagi tujuan penciptaan dan keberadaan manusia di muka bumi ini, tapi justru hal tersebut pula yang sering dipandang tak berharga oleh hasrat manusia (post)modern yang bersikukuh mengikuti obsesi kebebasannya untuk menjadi apa pun, sekali pun bertentangan dengan energi minimalnya, bertentangan dengan jalan yang telah Allah mudahkan baginya karena dia memang diciptakan untuk suatu tujuan khusus bagi setiap individu.[]

Selesai….

Catatan kaki

  1. Zamzam & Tri Boedi., cit., hlm. 7.
  2. Ibn ‘Arabi, Cahaya Penakluk Surga: Sisi Praktis Khalwat di Kalangan para Awliya, 2002, diterjemahkan dari Al-Anwar Fîma Yamnahu Shâhib al-Khalwat min Asrâr, Pustaka Progresif: Surabaya.
  3. Di dalam setiap mauthin terdapat maudhi‘ yang jumlahnya begitu banyak, sehingga akal manusia tidak mampu menangkap seluruhnya. Maudhi‘ itu adalah lokasi atau tempat dari tempat. Misalnya, mauthin saya adalah di Jakarta, maudhi‘ saya adalah di STFD Driyarkara.
  4. Karena itu, tidaklah tepat apabila mendoakan seseorang yang meninggal dengan kata-kata “Semoga arwahnya di terima di sisi Tuhan”. Selain kata arwah itu adalah bentuk jamak dari ruh sehingga mengisyaratkan seseorang memilik banyak ruh, padahal tidak demikian, juga mengisyaratkan bahwasanya ruh itu bisa tertolak karena berlumur dosa, padahal ruh itu senantiasa suci.
  5. Alamah Quchani, seorang pemuka agama di Iran, menulis sebuah buku pengalaman fana pribadi yang menggambarkan bagaimana dia diperjalankan kembali di mauthin barzakh mulai dari penguburan hingga mengalami simulasi ulang kehidupannya dengan berbagai hal menjadi termanifestasi konkrit, seperti kebodohannya yang maujud menjadi sosok Jahal, hawa nafsu dan syahwat menjadi sosok-sosok hitam mengerikan, petunjuk yang menuntun perjalanan menjadi sosok Hadi, berbagai permasalahan diri yang menghimpit di dunia maujud menjadi penjara, dan seterusnya. Namun, karena sentimen Syiah beliau cukup kuat, maka nuansa sentimen tersebut begitu kuat ‘mewarnai’ gambarannya tentang perjalanan di mauthin barzakh. Lihat Alamah Quchani, Tamasya di Alam Barzakh, 2003, Remaja Rosdakarya: Bandung.
  6. Zamzam & Tri Boedi., cit., hlm. 7.
  7. Zamzam A. J. Tanuwijaya, Mata Air Agama-Agama, makalah presentasi di forum kajian Perhimpunan Islam Paramartha, tanpa tahun, tidak dipublikasikan, hlm. 2.
  8. Ibid.

LAMPIRAN UNTUK ARTIKEL ILMIAH “MATA AIR AGAMA-AGAMA (BAG 1-4)”

I. AL-QUR‘AN:

 Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa-apa yang ada di langit dan di bumi, juga burung-burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh! Masing-masing mengetahui (cara) shalatnya dan tasbihnya, dan Allah mengetahui apa-apa yang mereka kerjakan. (QS An-Nur [24]: 41)

Maka Kami telah berikan pengertian kepada Sulaiman, dan kepada masing-masingnya (Daud dan Sulaiman) Kami berikan hikmah dan ilmu, Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. (QS Al-Anbiya [21]: 79)

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS Al-Isra [17]: 44)

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya. (QS Ar-Ra‘d [13]: 13)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS An-Nahl [16]: 68-69)

Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku pun bekerja, maka kelak kamu akan mengetahui (QS Al-Zumar [39]: 39).

Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu (QS Hud [11]: 93).

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka (QS Al-Isra [17]: 13).

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. (QS Al-Shaffat [37]: 96)

Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS Al-Isra [17]: 84).

Dan bagi tiap-tiap manusia telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. (QS Al-Isra [17]: 13)

Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut cara (bakat) masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS Al-Isra [17]: 84)

Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu pagi dan petang. (QS Shad [38]: 17-20)

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai, manusia kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar satu kurnia yang nyata.” Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Dan apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai, semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”, maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya, Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang shalih.” (QS An-Naml [27]: 16-19)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” (QS An-Nahl [16]: 68-69)

II. Bhagawad Gita (Alih Bahsa dan Penjelasan oleh Prof. Dr. I.B. Mantra)

Bab XVIII no. 41 – 48

O, Arjuna, tugas-tugas itu terbagi menurut sifat dan watak kelahirannya sebagai halnya Brahmana, Ksatrya, Waisya dan Sudra

Pembagian empat kelas ini sebenarnya bukan terdapat pada Hindu saja, tetapi bersifat universal. Klasifikasi tergantung dari tipe alam manusia, dari bakat kelahirannya. Tiap-tiap dari empat kelas ini mempunyai karakter tertentu. Ini tidak selalu ditentukan oleh keturunan. Dalam Bhagawad Gita, teori warna diluaskan dan mendalam. Kehidupan manusia di luar, mewujudkan wataknya yang di dalam. Tiap makhluk mempunyai watak kelahirannya, yaitu, swa-bhawa. Dan yang membuat efektif dalam kehidupan adalah kewajibannya, swa-dharma.

Tiap-tiap individu adalah fokus dari Yang Maha Tinggi. Kewajibannya adalah mewujudkan dalam hidupnya kemungkinan kekuatan suci ini. Selama kita melakukan pekerjaan sesuai dengan alam kelahiran kita, maka itu adalah baik dan benar, dan bila itu kita abdikan kepada Tuhan, maka pekerjaan kita menjadi alat penyempurna bagi jiwa. Problem dari kehidupan manusia ini adalah menemukan kebenaran itu dari jiwa kita, kemudian kita hidup menurut kebenaran itu sendiri.

Ada empat tipe dalam garis besarnya dan ini kemudian mengembangkan empat macam kehidupan sosial. Keempat kelas ini tidak ditentukan oleh kelahiran, tetapi berdasarkan karakter jiwa.

Ketenangan, pengendalian diri, keteguhan tapa, kesucian, kesabaran dan keadilan, kebijaksaan dan pengetahuan, dan kepercayaan pada agama, ini adalah kewajiban-kewajiban seorang Brahmana, yang lahir menurut bakatnya (alamnya).

Kepahlawanan, keteguhan, ketetapan hati, kecerdikan, tidak lari dari peperangan, kemurahan hati dan kepemimpinan, ini adalah kewajiban ksatrya yang lahir menurut bakatnya (alamnya).

Pertanian, pemeliharaan ternak dan perdagangan adalah kewajiban-kewajiban dari Waisya yang lahir menurut bakatnya. Pekerjaan yang berkarakter melayani adalah kewajiban dari Sudra yang lahir dari alamnya (bakatnya).

Ingat! berbakti menurut kewajibannya masing-masinglah seseorang bisa mencapai kesempurnaannya. Dengan berbakti pada kewajibannya masing-masing, seseorang mencapai kesempurnaan, dengarkanlah itu!

Dia sebagai asal mula dari semua makhluk dan berada di mana-mana, maka dengan menyembah Dia melalui pelaksanaan kewajiban masing-masing, orang dapat mencapai kesempurnaan.

Lebih baik swa dharma sendiri meskipun kurang sempurna pelaksanaannya, daripada dharma orang lain yang sempurna pelaksanaannya. Karena seseorang itu tidak akan berdosa jika melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh alamnya sendiri.

Orang hendaknya jangan melepaskan pekerjaan yang sesuai dengan diri, O Arjuna! Meskipun mungkin ada kurangnya, karena semua usaha diselimuti oleh kekurangan-kekurangan, seperti halnya api oleh asap.

              

Bab III No. 33 – 35

Sebagai orang bijaksana, bergerak menurut alamnya sendiri, maka demikian pula makhluk bergerak mengikuti alam. Apakah gunanya menahan dari hawa nafsu itu?

Ikatan dan keengganan indra terhadap objek-objek yang bersangkutan, adalah sudah pembawaannya. Barang siapa jua pun, janganlah membiarkan jiwa ditarik oleh kedua pertentangan ini, sebab ini adalah dua musuhnya. Tiap-tiap perbuatan kita hendaknya berdasarkan budi atau pengertian dan jangan sampai dikuasai oleh getaran nafsu, yang akhirnya tidak jauh dengan binatang.

Adalah lebih baik dharma sendiri meski ada kekurangan dalam pelaksanaannya, daripada dharma orang lain walaupun baik dalam pelaksanaan. Kalaupun sampai mati, dalam melakukan dharma sendiri adalah lebih baik, sebab menjalankan bukan dharma sendiri adalah berbahaya. Keinginan kita adalah untuk mencapai kesempurnaan hidup. Kita tidak boleh setengah-setengah dalam kewajiban kita.

Haruslah benar-benar di dalam pekerjaan sendiri. Kewajiban adalah swa dharma. Pada penemuan “swa-dharma” sendiri akan terletak kebahagiaan hidup. Pengabdian yang terbesar yang dapat kita lakukan bagi masyarakat, adalah atas dasar penemuan dari swa dharma, kelahiran bakat sendiri. Iiap-tiap orang harus mengerti bakat kelahirannya. Dalam bakat yang sama, tidak semua orang mempunyai keistimewaan. Yang penting adalah, bahwa tiap-tiap orang itu harus sungguh-sungguh dapat mengerjakan tugas yang diamanahkan kepadanya dengan memuaskan. Tiap-tiap orang itu harus menjadi patriot dalam bidangnya masing-masing, baik kecil maupun besar.

 

Bab IV No. 13 – 14

Catur warna Kuciptakan menurut pembagian dari Guna dan Karma (sifat dan pekerjaan). Meskipun Aku sebagai penciptanya, ketahuilah, Aku mengisi gerak dan perubahan.

Pengertian warna adalah menurut pembawaan dan fungsinya. Pembagian menjadi empat adalah berdasarkan kewajiban. Orang dapat mengabdi sebesar mungkin menurut pembawaannya. Di sini ia dapat melaksanakan tugasnya dengan rasa cinta dan keikhlasan, sesuai dengan ajaran Hindu.

Pekerjaan tidak dapat menodai Aku, pun juga Aku tidak terikat dan tidak merindukan hasil-hasil pekerjaan itu. Ia yang mengetahui Aku demikian, maka ia tidak akan terikat oleh hasil pekerjaan. Juga gerak tidak menodai Aku! Yang menggerakkan pelaksanaan semua itu adalah getaran sinar suci, oleh karena itu mengatasi pengaruh dari karma, yang membawa baik dan buruk dalam proses kosmos ini.

 

Bab V No. 25

Orang suci, yang dosanya telah dimusnahkan, kebimbangannya telah dihilangkan, pikirannya telah mencapai keadaan yang tetap dan yang suka melakukan kebaikan kepada semua makhluk, mencapai kebahagiaan dalam Tuhan.

Melakukan kebaikan kepada semua makhluk bukan berarti memberi bantuan keperluan kebutuhan materil, tetapi membantu untuk dapat menemukan alam (bakat) yang sebenarnya (swa dharma) untuk mencapai kebahagiaan abadi. Bhagawad Gita menekankan pada dua segi dari agama, yaitu: pertama, yang sifatnya perseorangan di mana kita harus menemui yang suci di dalam diri kita sendiri. Dan kedua, segi sosialnya di mana masyarakat dikendalikan dengan bayangan dari yang suci.

 

III. Injil Barnabas

Pasal 114, No. 1 – 16

Isa menjawab: “Sebenarnya kukatakan kepadamu bahwa pemilik kebun itu Allah, sedang tukang kebun itu syariatNya.

Maka di sisi Allah, di surga terdapat pokok kurma dan pokok balsan, pokok kurma adalah setan, sedang manusia pertama adalah pokok balsan.

Kemudian diusir-Nya-lah kedua-duanya, karena keduanya tidak menghasilkan buah berupa amal shalih, bahkan keduanya mengucapkan kata-kata yang tidak baik di mana menjadi hukuman atas malaikat dan banyak manusia.

Dan karena Allah telah menempatkan manusia ini di tengah-tengah makhluk-Nya (alam semesta) yang seluruhnya menyembah Dia menurut (sesuai) titah-Nya, maka jika manusia seperti yang telah kukatakan tidak membuahkan sesuatu, maka Allah akan memotongnya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Karena itu Dia tidak memaafkan kepada si Malaikat dan manusia pertama itu, Ia mengutuk si Malaikat untuk selamanya, tetapi kepada si manusia hanya untuk sementara!

Maka berkatalah syariat Allah, bahwa bagi si manusia tersedia bermacam-macam rizki lebih dari semestinya di dalam kehidupan ini.

Dari itu, maka ia harus tahan menerima penderitaan dan menjauhkan diri dari kelezatan duniawi agar ia berbuat amal yang shalih.

Maka atas dasar itulah Allah memberikan kepada manusia ini kesempatan untuk bertaubat.”

Sebenarnya kukatakan kepadamu, “Bahwa Tuhan kita mewajibkan atas manusia untuk bekerja, untuk suatu tujuan seperti yang pernah dikatakan Ayub, Nabi dan kekasih Allah, “Sesungguhnya burung itu dilahirkan untuk terbang, ikan untuk berenang, demikian juga manusia itu dilahirkan untuk bekerja!”

Dan begitu pula Bapak kita Nabi Allah Daud berkata: “Karena apabila kita memakan dari hasil kerja tangan kita sendiri, akan diberkahilah dan menjadi baik bagi kita”

Dari itu kukatakan, bahwa setiap orang itu harus bekerja sesuai dengan bakat masing-masing.

Ketahuilah, bahwa untuk menjadi lebih shalih, maka seorang shalih itu harus dapat membebaskan diri dari kebutuhan.

Karena itu, matahari dan bintang-bintang yang lain itu menjadi kuat dengan perintah-perintah Allah, sehingga mereka tidak dapat berbuat selain perintah itu, maka tiadalah bagi mereka itu suatu kelebihan.

 

Pasal 114, No. 116

Seperti Ayub berkata: “Bahwa manusia itu dilahirkan untuk bekerja”

Dan atas dasar itulah, maka yang bukan tergolong dari jenis manusialah yang bebas dari seruan itu.

Maka andaikata mereka itu mau bekerja, sebagian bertani, sebagian memancing ikan di air, niscaya dunia ini berada dalam kelebihan yang besar.

Maka kekurangan-kekurangan itu akan diperhitungkan di hari pembalasan yang dahsyat kelak!

 

Pasal 59, No. 7 – 15

Ketika itu Petrus berkata kepada Isa as: “Ya, guru, sungguh keadilan Allah itu besar dan engkau pada hari ini telah menjadi iba hati karena uraian-uraian itu…

dari sebab itu, kami memohon kepadamu untuk beristirahat, dan besok beritahulah kami tentang benda apa yang menyerupai neraka”

Isa menjawab: “Ya, Petrus, engkau mengatakan kepadaku untuk beristirahat, sedang engkau ya, Petrus tidak mengetahui apa yang kau katakan, jika engkau paham niscaya engkau tidak bicara yang demikian itu.

Sesungguhnya kukatakan kepadamu, bahwa istirahat di alam ini adalah racunnya takwa dan api yang membakar segala kebaikan.

Lupakah kamu bahwa betapa Nabi Allah Sulaiman dan seluruh Nabi-nabi telah mengecam kemalasan.

Benar seperti apa yang dikatakan bahwa “Si pemalas itu tidak bercocok tanam (di musim dingin) karena takut dingin, sehingga ia mengemis di musim panas”

Dari itu ia berkata: “apa yang bisa dikerjakan dengan tangan, maka kerjakanlah tanpa istirahat”

Dan apa yang diucapkan Ayub sebakti-bakti khalil Allah itu: “Sebagaimana burung itu dilahirkan untuk terbang, begitu juga manusia dilahirkan untuk beramal”

“Sebenarnya kukatakan kepadamu, bahwa aku membenci istirahat itu, lebih dari segala sesuatu”

 

Pasal 83, No. 9 – 12

Di saat itu berkata Isa: “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui bahwa makanan yang hakiki itu adalah mengamalkan kehendak Allah.

Karena bukanlah roti yang memberi makan manusia dan memberinya hidup, tetapi sebenarnya kalimat Allah dan kehendakNya.

Oleh karena itu, para Malaikat yang suci itu tidak makan, tetapi mereka hidup dengan cara memakan kehendak-Nya.

Dan begitu pula Kami, Musa, Ilyas dan seorang lagi, pernah tinggal selama 40 hari 40 malam tanpa satu makanan pun!”

 

IV. PERJANJIAN LAMA

Ulangan 8: 2 – 6

Ingatlah, 40 tahun Allah Tuhanmu memimpinmu (Musa as) dalam perjalanan yang amat jauh, melintasi padang gurun. Tujuan perjalanan itu merupakan ujian bagimu, agar Allah dapat melihat apa-apa yang terkandung dalam hatimu dan apakah kamu mentaati perintah-perintah-Nya. Ia membiarkanmu kelaparan, lalu kamu diberi-Nya manna sebagai makanan, sedang kamu dan leluhurmu tak pernah memakan makanan itu sebelumnya.

Tuhan berbuat begitu untuk mengajar kamu, bahwa manusia itu sebenarnya tidak hidup dari makanan, melainkan dari segala sesuatu yang dikatakan Tuhan.

Selama 40 tahun ini pakaianmu tidak menjadi usang dan kakimu tidak menjadi bengkak.

Ingatlah Allah Tuhanmu mengajari kamu seperti seorang ayah mengajari anaknya.

Jadi, lakukanlah segala yang diperintahkan Allah kepadamu. Hiduplah menurut hukum-hukumNya dan hormatilah Dia.

 

Mazmur 128: 2

Berbahagialah orang yang takwa dan hidup sesuai perintah (kehendak) Allah. Engkau makan dari hasil kerjamu dan hidup makmur sejahtera.

 

Yehezkiel 36: 26

Aku akan karuniakan kepadamu hati yang baru, dan ruh yang baru pun akan Kukaruniakan ke dalam batinmu, dan hati batu itu akan Kukeluarkan dari dalam tubuhmu dan hati daging pun akan Kukaruniakan kepadamu.

 

Kejadian 41: 16 – 46

Oleh Ruhul Kudus ia (Yusuf as) dapat menafsirkan mimpi Raja dengan tepat dan karena Ruhul Kudus ia menjadi wazir Negeri Mesir.

 

Keluaran 31: 1 – 6

Dari Ruhul Kudus mereka (Bezaliel dan Aholiab) menerima hikmat dan kepandaian dalam segala pekerjaan tangan untuk mengerjakan segala alat Tabernakel sesuai dengan kehendak Allah.

 

Bilangan 11: 16 – 17, 25

Musa as dapat memimpin bangsa Israil dengan luar biasa karena Ruhul Kudus ada di dalam dia.

 

Bilangan 27: 18 – 23

Yusa terpilih untuk menggantikan Musa karena Ruh Kudus ada di dalam diri Yusha. Atas perintah Allah Musa menumpangkan tangannya di atas dia dan melantik dia sebagai penggantinya di hadapan Imam besar Eliazar.

 

Hakim-hakim 6: 34; 8: 28; 7: 1 – 25

Ruh Kudus datang di atas Gideon, sehingga ia dapat melepaskan bangsa Israil dari serangan tentara Midian dan membawa perdamaian 40 tahun.

Dengan hanya 300 serdadu ia dapat mengalahkan seluruh tentara Midian dan Amalek.

 

Hakim-hakim 3: 9 – 10

Otniel dapat melepaskan bangsa Israil dari musuh mereka dan memerintah 40 tahun lamanya dengan damai karena Ruh Kudus ada di atasnya.

 

Samuel I 10: 1, 6; K.R. 13: 21

Ruh Kudus datang di atas Thalut sehingga ia diubah menjadi orang lain. Dengan ketetapan Allah ia dilantik (oleh Samuel as; ref.: QS 2: 246-251) menjadi raja bangsa Israil yang pertama dan memerintah 40 tahun lamanya.

 

Samuel I 16: 13; Mazmur 51: 13 – 14

Daud diurapi oleh Samuel untuk menjadi Raja atas bangsa Israil menggantikan Thalut. Mulai hari itu Ruh Kudus ada di dalam hidupnya, dan dengan kuasa dan hikmat Allah ia memimpin bangsanya selama 40 tahun dalam kemajuan.

 

Keluaran 18: 21 – 22; Bilangan 11: 17, 25 – 29

Tujuh puluh orang Israil (ref.: QS 7: 154-155) dipilih untuk membantu Musa, harus menerima Ruh Kudus terlebih dahulu, sebelum mereka menjalankan tugasnya.

 

Bilangan 11: 25; K.R. 19: 6

Ketika Ruh Kudus turun di atas mereka, maka mereka bernubuwah. Itulah tanda bagi mereka akan kehadiran Ruh Kudus di dalam diri mereka. Dengan Ruh Kudus mereka berani melayani sebagai pembantu Musa.

 

Kejadian 39: 2, 21, 23

Ruhul Kudus menyertai dia (Yusuf as), sehingga ia sabar dalam segala ujian dan penderitaan. Dan dengan Ruh Kudus ia dapat menerangkan mimpi penghulu penjawat minuman Istana Fir’aun itu.

 

Keluaran 3: 12 – 14; 4: 1 – 12, 21

Ia seorang nabi yang luar biasa, karena Ruh Kudus menyertai dia (Musa as) sepanjang hidup dan pelayanannya. Ia meninggal pada usia 120 tahun sesudah ia melayani selama 40 tahun. Dikatakan bahwa pada hari ia meletakkan hidupnya “matanya belum kabur dan kuatnya pun belum hilang” ia Nabi terbesar karena “Allah mengenal dia wajah dengan wajah”. Dengan kuasa Ruh Kudus ia berbuat perkara-perkara yang hebat dan besar-besar di hadapan segenap bangsa Israil.

 

Daniel 4: 8, 18; 6: 4

Ia (Beltsazar) dapat menafsirkan mimpi raja Nebukanedzar, karena Ruhul Kudus ada di dalam dia.

 

V.  PERJANJIAN BARU

Lukas 1: 35; Matius 1: 18, 20

Ruh Kudus turun di atasnya, menaungi dia (Maryam binti Imran) sehingga ia hamil karena Ruh Kudus dan melahirkan Yesus Kristus.

 

Lukas 1: 41

Ketika Maryam memberi salam kepadanya (Elizabeth isteri Zakaria as), maka bayi (Yahya as) yang ada di dalam kandungan Elizabeth meronta dari Allah suka citanya, dan ia (Yahya as) pun penuh dengan Ruh Kudus.

 

Lukas 1: 13, 67 – 69

Sesudah Yahya si Pembaptis lahir dan diberi nama sesuai petunjuk Malaikat Tuhan (ref.: QS 3: 39; 19: 7; 19: 12), maka ia penuh dengan Ruh Kudus dan bernubuwah.

 

Lukas 1: 15 -17

Ia (Yahya as) akan menjadi seorang yang besar dalam pandangan Tuhan, ia tidak akan minum anggur dan minuman keras. Sejak lahir akan dikuasai Ruh Allah (Ruh Kudus). Banyak orang Israil akan dibimbingnya kembali (bertaubat) kepada Allah, Tuhan mereka. Ia (Yahya as) akan menjadi utusan Allah yang kuat dan berkuasa seperti Elia (Ilyas as).

 

Lukas 1: 67

Zakariya, ayah dari anak itu (Yahya) dikuasai oleh Roh Allah sehingga ia dapat menyampaikan pesan Allah.

 

Yohanes 3: 3

Yesus (Isa as) menjawab: “Percayalah, tak seorang pun dapat menjadi anggota umat Allah, kalau ia tidak dilahirkan kembali.

 

Yohanes 3: 5 – 7

Yesus (Isa as) menjawab: “Sungguh benar ucapanku ini, kalau orang tidak dilahirkan dari air dan dari Ruh Allah (Ruhul Kudus), orang itu tidak dapat menjadi anggota umat Allah. Manusia secara jasmani dilahirkan oleh orang tua, tetapi secara ruhani dilahirkan oleh Roh Allah (Ruh Kudus). Jangan heran kalau aku katakan kepadamu sekalian, bahwa kalian semua harus dilahirkan kembali.

 

Yohanes 3: 34

Sebab (kata Isa as) orang yang diutus Allah menyampaikan kata-kata (firman) Allah, karena Ruh Allah (Ruh Kudus) sudah diberikan kepadanya sepenuhnya.

 

Yohanes 14: 15 – 17

Kalau kalian mengasihi aku (Isa as), kalian akan melaksanakan perintah-perintahku. Aku akan minta kepada Allah, dan Ia akan memberikan kepadamu Penolong lain, yang akan tinggal bersama kalian selamanya. Dia itu Roh Allah (Kuasa Allah, Ruh Kudus) yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah. Dunia tak dapat menerima dia, karena tidak dapat melihat atau mengenalnya. Tetapi kalian mengenal dia (Ruh Allah), karena ia tinggal bersama kalian dan akan bersatu dengan kalian.

 

Yohanes 14: 24 – 26

Orang yang tidak mencintai aku (Isa as), tidak akan melaksanakan ajaranku. Ajaran-ajaran yang kalian dengar itu bukan dari aku melainkan dari Allah yang mengutus aku. Semua (ajaran) itu, aku sampaikan kepadamu selama aku masih bersama kalian. Tetapi Roh Allah, penolong yang akan diutus Allah atas namaku, dialah yang akan mengajar kalian tentang segala sesuatu, dan mengingatkan kalian akan semua yang sudah kuberitakan kepadamu.

 

Yohanes 16: 13 – 14

Kalau Roh Allah (Ruh Kudus) itu datang, yaitu dia yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbingnya untuk mengenal seluruh kebenaran. Ia (Ruh Kudus) tidak akan berbicara dari dirimu sendiri tetapi mengatakan apa-apa yang sudah didengarnya dariNya, dan ia akan memberitahukan kepadamu apa-apa yang akan terjadi di kelak kemudian hari.

 

2 Timotius 1: 7

Allah mengaruniai kita bukannya dengan suatu ruh yang penakut, melainkan ruh kuasa dan kasih dan memerintahkan diri.

 

1 Korintus 6: 19

Tidakkah kamu tahu bahwa tubuhmu itu rumah Ruhul Kudus yang diam di dalam dirimu itu, yang telah kamu peroleh dari Allah, dan bukan milikmu sendiri ?

 

Yohanes 15: 1 – 13

Yesus (Isa as) berkata: “Aku adalah pohon anggur sejati dan Tuhanku tukang kebunnya, dan setiap cabang yang berbuah dikurangi daunnya dan dibersihkan olehNya supaya lebih banyak lagi buahnya. Kalian sudah bersih ! karena ajaran yang kuberikan kepadamu. Tetaplah bersatu denganku dan aku pun akan tetap bersatu dengan kalian. Cabang itu sendiri tak dapat berbuah kecuali jika tetap bersatu dengan pohonnya. Demikian juga kalian, hanya dapat berbuah kalau tetap bersatu dengan aku. Akulah pohon anggur dan kalian adalah cabang-cabangnya. Orang yang tetap bersatu dengan aku dan aku dengan dia, akan berbuah banyak ! sebab tanpa aku, kalian tak dapat berbuat apa-apa. Orang yang tidak tetap bersatu dengan aku, akan dipotong dan dibuang seperti cabang, lalu menjadi kering. Cabang-cabang yang seperti itu akan dikumpulkan dan dibuang ke dalam api, lalu dibakar. Apabila kalian tetap bersatu dengan aku dan ajaran-ajaranku tetap tinggal dalam hatimu, mintalah kepada Tuhan apa saja yang kalian mau, niscaya permintaanmu akan dipenuhiNya. Kalau kalian berbuah banyak, maka Tuhanku akan diAgungkan dan dengan demikian kalian betul-betul menjadi pengikutku. Seperti Tuhan mengasihi aku, demikianlah aku mengasihi kalian. Hendaklah kalian senantiasa menjadi orang yang kukasihi. Kalau kalian mentaatiku berarti kalian tetap setia kepada kasihku, sama seperti aku tetap setia kepada kasih Tuhanku, karena aku mentaati-Nya.

Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-3)

Struktur Insan: Triadik Jasad, Nafs dan Ruh Al-Quds

Konsepsi mengenai Struktur Insan serta visi penciptaannya adalah hal fundamental untuk memahami tentang misi hidup. Namun, permasalahnya, sedikit sekali yang dapat menguraikan konsepsi Struktur Insan tersebut secara rigour dan sistematik. Sebagaimana dinyatakan oleh Jane Idelman Smith & Yvonne Yazbeck Haddad bahwa “…sebagian dari ajaran-ajaran eskatologi yang lebih populer, yang dalam hal ini, para penulis—kalangan teolog tradisionis—telah gagal membedakan antara istilah nafs dan ruh, jiwa dan roh, baik dengan cara mempertukarkan kedua istilah itu maupun menggunakan yang satu untuk mengganti yang lain. Kecenderungan ini juga menjadi ciri sebagian besar analisis kontemporer. Persoalan bagaimana menamakan dan memahami fitrah kemanusiaan memang cukup njelimet sehingga banyak penulis kontemporer menegaskan bahwa mereka sangat malas membicarakan hal ini.”1 Kerancuan itu bahkan terlihat lebih luas lagi di wacana Psikologi Islam, misalnya, ketidaktelitian untuk membedakan antara nafs dengan hawa nafsu, nafs dengan psikis, lubb atau ‘aql (orang yang memilikinya di sebut ulil albab) dengan nalar (otak), dan lain sebagainya. Gejala ini sebenarnya telah diungkapkan penyebabnya oleh Al-Ghazali sepuluh abad yang lalu, dan ternyata masih terus terjadi hingga hari ini, yaitu, dikarenakan pemahaman akan istilah nafs, ruh, qalb dan ‘aql yang “…sedikitlah kalangan ulama-ulama yang terkemuka, yang mendalam pengetahuannya tentang nama-nama ini, tentang perbedaan pengertian-pengertiannya, batas-batasnya dan apa yang dinamakan dengan nama-nama tersebut. Kebanyakan kesalahan itu terjadi karena kebodohan dengan arti nama-nama ini dan persekutuannya di antara apa yang dinamakan itu yang bermacam-macam”.2

Ada pun penjelasan tentang Struktur Insan dalam bentuk perumpamaan yang ringkas dan padat dapat dilihat pada QS An-Nuur [24]: 35, yaitu:

Allah cahaya petala langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah misykat yang di dalamnya terdapat pelita terang. Pelita tersebut di dalam kaca, kaca itu seolah kaukab yang berkilau dinyalakan oleh (minyak) dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tanpa disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa-siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

image4Struktur Insan menurut QS An-Nuur (24) : 35

Ayat beserta gambar misykat di atas merupakan skema ringkas namun padat dari Struktur Insan; struktur manusia yang digelari sebagai Cahaya Allah, khalifatullah, yaitu, mereka yang telah menemukan misi hidupnya di muka bumi ini (syuhada) untuk kemudian menjalankan misi hidup tersebut (shiddiqin). Ayat ini merepresentasikan nafs yang di dalamnya terdapat qalb (zujajah) yang bercahaya seperti kaukab (benda langit yang tidak memiliki cahaya sendiri, menyala karena memantulkan cahaya dari benda lainnya) buah dari ketaqwaannya. Titik api yang menyala di inti qalb tak lain adalah Ruh Al-Quds (mishbah). Kesemuanya itu dibungkus dalam sebuah jasad (misykat, benda gelap yang tak tembus pandang). Uraian dari Zamzam A.J.T. berikut ini bisa merangkum dan menjelaskan perbedaan ketiga entitas tersebut:

Cahaya Allah atau insan Ilahi ini diibaratkan dengan misykat, fash, ceruk, lubang tak tembus yang di dalamnya terdapat pelita terang. Misykat melambangkan kegelapan jasad insan, merupakan tempat bertemunya dua lautan, lautan yang mengalir dari mata air ubudiyyah hamba dan lautan yang bersumber dari ketinggian Uluhiyyah-Nya. Aspek ubudiyyah insan keluar dari sisi jasad dan jiwa insan (nafs), sedangkan apa yang datang dari aspek Uluhiyyah adalah Amr-Nya yaitu h Al-Quds yang dilambangkan dengan pelita atau api yang terang nyalanya.

Jasad insan merupakan wujud yang dibangun dari aspek al-ardh (kebumian); sedangkan nafs insan yang karena kejernihan wujudnya bagaikan kaca, dilabel oleh kata as-samaai (langit). Jadi as-samaai dunya dan al-ardh melambangkan pasangan jiwa dan raga insan yang dijenjang tertentu keduanya berperan sebagai cahaya Allah Ta‘ala, saksi Allah sejati. Dalam persoalan mengabdi kepada Al-Khaliq (sang pencipta), nafs insan merupakan imam bagi jasad dimana pasangan ini akan bertindak sebagai pelaku utama dalam persoalan pengungkapan khazanah Ilahi.

“Aku adalah harta tersembunyi (kanzun makhfiy), Aku rindu untuk dikenal, karena itu aku ciptakan makhluk agar aku diketahui.”(hadis qudsi).

Sedangkan tiupan atau nafas h (arwah) ke dalam diri insan merupakan ujung dari nafas panjang Rububiyyah, yang dilambangkan dengan cahaya jernih yang mengisi ruang-ruang petala langit, as-samawaati. Jadi nafs insan merupakan langit pertama, langit terdekat ke sisi jasad, dari tujuh langit malakut yang berlabuh didalam jasad insan.

Jasad atau jism insan merupakan rumah atau wadah bagi nafs insan, dan qalb dari nafs yang telah diterangi cahaya taqwa merupakan rumah bagi Ar-Ruh yang datang dari sisi-Nya. Kehadiran h Al-Quds ke dalam nafs insan dan menetapnya Ar-Ruh ini di dalam qalb merupakan satu persoalan yang mengakibatkan manusia tersebut digelari cahaya Allah, baitullah, ahlul bait.3

Contoh lain yang mungkin lebih mudah dimengerti untuk imajinasi manusia saat ini adalah OHP (Over-Head Projector). Keseluruhan badan OHP itu ibarat tubuh, sementara plastik transparansi itu ibarat nafs. Di atas plastik transparansi tersebut dituliskan sesuatu, itu ibarat misi hidup manusia yang dituliskan di nafs, namun dia tidak bisa membacanya. Dibutuhkan sesuatu yang lain agar tulisan tersebut bisa dibaca, itulah lampu OHP, yang mengibaratkan h Al-Quds. Cahaya dari lampu OHP (h Al-Quds) inilah yang bisa menzahirkan tulisan (‘amr atau misi hidup) di atas plastik transparansi (nafs) tersebut ke layar (alam dunia) melalui lensa proyektor (qalb). Alegori yang sama bisa ditemukan juga pada wayang kulit. Wayang kulit yang dihias indah berwarna-warni, itulah nafs, ternyata hanya dimainkan bayangannya saja, itulah jasad manusia. Lalu api sebagai simbol Ruh Al-Quds, sang utusan dalam diri setiap manusia, adalah obor api yang bersinar di belakang hingga membentuk bayangan di layar, bayangan yang dilihat oleh para penonton. Siapakah yang memainkan pertunjukan wayang tersebut? Sang dalang, yang tersembunyi dan tak terlihat oleh para penonton, itulah simbol Allah yang mengatur segalanya. Ibn ‘Arabi bahkan menjelaskan sebagai berikut:

Barang siapa ingin tahu arti sejati, bahwa Tuhanlah yang berkarya di balik layar alam ciptaan, hendaknya ia memandang pertunjukan bayangan (khayal) dan bayangan-bayangan (suwar) yang ditampilkan (sitara) pada layar, lalu memperhatikan siapakah yang berbicara dalam bayangan-bayangan itu menurut hemat anak-anak kecil yang duduk agak jauh dari layar yang dibentangkan antara mereka dan para boneka. Demikian juga bentuk-bentuk dunia ini; kebanyakan orang masih seperti anak-anak. Di sini kita dapat belajar, dari mana asalnya peristiwa-peristiwa yang dibeberkan (di layar). Anak-anak kecil tertawa dan merasa gembira, orang-orang dungu memandang hal-hal itu sebagai banyolan dan senda gurau, tetapi orang-orang bijak berpikir dan mengetahui, bahwa itu semua oleh Tuhan hanya diatur sebagai suatu perumpamaan, agar manusia tahu, bahwa hubungan antara dunia ini dan Tuhannya seperti antara boneka dan dalangnya, lagi pula bahwa layar itu merupakan tirai al-kadar (takdir) yang tak dapat disingkirkan oleh siapa pun.12

image5

Al-Ghazali membuat dua pengertian nafs. Pertama, adalah nafs dalam pengertian awam yang dipahami sebagai hawa nafsu. Hawa nafsu adalah campuran atau aradh pada nafs, namun sebenarnya bukan bagian dari nafs. Dalam diri manusia ada embrio-embrio hawa nafsu yang diturunkan dari kedua orangtua. Embrio-embrio tersebut bisa tumbuh jika dipupuki sehingga mewujud dalam diri secara independen yang akhirnya membentuk nufusul hawwiyyah. Jika sudah terlanjur mewujud, maka nafs harus bisa menjadi gembalanya. Kedua, adalah nafs dalam arti unsur halus (lathifah) yang merupakan hakikat Al-Insân. Penyebutan Al-Insân itu ditujukan kepada nafs ini. Nafs diidentifikasi atau dinamai berdasarkan kadar pengaruh dari embrio-embrio hawa nafsu tersebut. Apabila nafs tersebut terwarnai kuat oleh embrio-embrio hawa nafsu yang ada di antara nafs dan tubuh, maka nafs lathifah tersebut dinamai dengan nafs ‘amara bi su‘ karena menyuruh atau cenderung kepada hal-hal yang buruk. Inilah menghijabi antara manusia (mar‘i) dengan qalbnya. Pada setiap noda yang Allah Ta‘ala buang berarti ada bagian yang dirahmati oleh Allah Ta‘ala. Sementara nafs al-lawwamah adalah nafs yang mencela, yang dalam transisi dan tengah berjihad serta menyesali noda-noda yang menempel pada dirinya. Dominasi hawa nafsu sudah berkurang terhadap fas. Jika nafs terbebas dari berbagai pengaruh hawa nafsu dan embrio-embrionya, disebutlah sebagai nafs itu sebagai nafs muthmainnah. Itulah nafs yang telah tenang dan telah sampai di jenjang ridha, yaitu, ridha kepada Allah Ta‘ala dan diridhai, karena telah ridha terhadap seluruh qadha Allah Ta‘ala dalam dirinya. Inilah nafs yang telah memiliki taswiyah (kesempurnaan penerimaan) untuk kehadiran h Al-Quds.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Rûh. Katakanlah: “Ar-Rûh itu dari ‘amr Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al-Isrâ‘ [17]: 85)

Persoalan h ini merupakan bagian dari ‘amr Rabb atau termasuk alam ‘amr. Karena itu, tidak ada istilah tazkiyatur ruhiyyah atau mi‘raj rûh, tetapi tazkiyatun nafs dan mi‘raj nafs. h itu sesuatu yang suci dari Allah Ta‘ala dan merupakan ‘amr Rubbubiyyah. Adapun kata sedikit dalam ayat tersebut bukanlah ditujukan kepada sedikitnya pengetahuan tentang h yang bisa manusia ketahui, tetapi sedikitlah di antara manusia yang diberi pengetahuan tentang h. Karena, di ayat lain dalam Al-Quran disebutkan adanya orang yang disebut sebagai Ulil ‘Amri. Bagaimana bisa seseorang yang sudah dirahmati dan dipercaya memegang ‘amr oleh Allah Ta‘ala, tetapi tidak mengetahui tentang h yang merupakan bagian dari ‘amr (ingat hadis Rasulullah tentang amanah dan ‘amr).

h itu terletak di inti nafs. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa h itu tidak berada baik di dalam maupun di luar tubuh, tidak melekat dan juga tidak lepas dari tubuh. Lebih jauh lagi, beliau menjelaskan h itu bukan makhluk karena tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk, tetapi h itu juga makhluk karena datang berikutnya (perkara yang huduts bukan qadim). Selain itu, Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan dua kategorih, yaitu, pertama, jisim latif (cahaya ruh). Ini seperti membanjirnya cahaya hidup dari lampu yang menyebar pada sekeliling ruangan, atau ibarat menjalar atau mengalirnya darah dalam tubuh yang dipompa oleh qalb jismaniyyah (jantung). Yang kedua adalah latifah ‘alimah, yaitu api atau sumber cahaya. Inilah h Al-Quds atau Ar- Rûh yang merupakan sumber pengetahuan. Tidaklah sama antara h Al-Quds dengan h Al-Amîn, karena h Al-Amîn adalah Jibril. Namun, keduanya mempunyai kesamaan tugas, yaitu sama-sama mengajarkan Al-Kitab.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada al-mu‘min ketika Allah mengutus di antara mereka rasul dari nafsnafs mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali ‘Imran [3]: 164)

Dan hari Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari nafsnafs mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira (busyran) bagi al-muslimîn. (An-Nahl [16]: 89)

Katakanlah: Diturunkan kepadanya h Al-Quds (inilah rahmat kedua—pen.) dari Rabbmu dengan penyertaan al-haqq, untuk meneguhkan orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi al-muslimîn. (An-Nahl [16]: 102)

h itu dilambangkan dengan api (misbah), ada pun tubuh (jism) dapat hidup walau hanya dengan cahaya api h saja, atau bagian dari h atau aspek-aspek yang terbawa karena tiupan atau nafakh h saja. Dalam Al-Quran disebutkan dengan ungkapan min rûhi atau “dari h-Ku”. Tak ubahnya seperti bunga dengan harumnya. Harum bunga yang terbawa angin (busyran) sudah dapat menghidupkan rasa lapar lebah (lambang al-mu‘min). Atau seperti orang tengah berada di depan api unggun, walaupun apinya tidak menyentuh tubuhnya, tetapi hangatnya api yang terbawa oleh angin sudah bisa terasakan oleh tubuh.

Maka tatkala dia tiba di api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dalam api itu, dan orang-orang yang berada disekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (An-Naml [27]: 8)

Atau coba rasakan sendiri. Pegang tubuh Anda, bagian leher misalnya. Apabila masih terasa hangat, itu tanda masih ada h yang tiupan atau nafakh h-nya masih memberi kehidupan kepada tubuh Anda. Bahkan seandainya tiupan atau nafakh h ini mengenai dinding, maka dinding tersebut dapat hidup. Sementara apabila Anda menyentuh tubuh orang yang sudah mati, maka terasalah tubuh orang mati itu sudah dingin. Itu mengisyaratkan bahwa dalam tubuh orang mati tersebut sudah tidak ada lagi h yang memberikan tiupan atau nafakh h yang bisa menghidupkan tubuh tersebut. Tiupan atau nafakh rûh itulah yang secara umum disebut sebagai nyawa dalam bahasa Indonesia. Alam semesta ini maujud karena adanya nafakh rûh di dalamnya, misalnya burung itu memiliki h bukan nafs. Karena, apabila burung memiliki nafs, maka akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir nanti, dan bisa mendapatkan siksa kubur dan neraka. Fungsi nafakh rûh bagi tubuh adalah untuk menghidupkan, karena sebelum diberi nafakh rûh, tubuh itu dalam keadaan mati. Sedangkan fungsi nafakh rûh bagi nafs adalah sebagai energi paling dasar. Hakikat atau bahan dasar nafs adalah sesuatu yang hidup, tetapi untuk bergerak (energik) maka nafs memerlukan cahaya h sebagai energi dasar.

 Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan (nafakh) ke dalamnya dari h-Ku (min hi), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS Al-Hijr [5]: 29 dan QS Shâd [38]: 72)

Ayat tersebut sudah menunjukkan bahwa tidak keseluruhan h, tapi bagian atau persoalan yang terkait dengan h. Ini tak ubahnya seperti cahayanya matahari, harumnya bunga, terang dan hangatnya api. Singkatnya, sesuatu yang ditiupkan (nafakh) yang akan menghidupkan atau menyalakan, seperti minyak yang sudah menyala atau hidup walau belum disentuh api. Nafakh rûh ditiupkan apabila Allah Ta‘ala telah menyempurnakan tempat penerima h atau taswiyah (kesempurnaan penerimaan) dari tubuh yang terbentuk dari 4 unsur (api, air, tanah, udara). Taswiyah tersebut lebih menekankan kepada komposisi elemen pembentuk tubuh yang tepat. Jika campurannya terlampau basah, maka “adonan” tubuh tersebut tidak akan mampu menerima nafakh rûh. Sedangkan untuk menerima h Al-Quds, yaitu sang mataharinya, sang apinya, sang bunganya, sehingga seorang hamba bisa menemukan diri sejati dan misi hidupnya, tidak cukup hanya kesiapan 4 unsur tersebut, tetapi juga diperlukan unsur ke 5, yaitu nafs. Harus ada taswiyah baik di nafs maupun di tubuh. Untuk menerima nur ilmu saja, tubuh harus dalam kondisi sehat kokoh dan tidak terlampau basah dengan minuman duniawi (syahwat), terlebih lagi untuk menerima h Al-Quds. Sedangkan untuk nafs, harus dalam kondisi bersih dari hawa nafsu (tazkiyatun nafs), seperti yang disabdakan Rasulullah Saw, “Musuhmu yang terbesar berada di antara kedua sisimu.” Nabi Isa pernah mengatakan bahwa manusia itu harus dilahirkan dua kali, pertama lahir secara jasmani, sedang kedua adalah lahir secara ruhani.

Sebagaimana diungkapkan Syaikh Abdul Karim Al-Jilli, h Al-Quds itu adalah hul Arwâh. h Al-Quds itu bukan makhluk karena ia merupakan wajah khusus dari wajah-wajah Al-Haqq. Adapun h Adam (nafakh ruh) adalah makhluk, akan tetapi h Allah bukanlah makhluk, dialah h Al-Quds yang disucikan dari kekurangan-kekurangan Kauniyyah makhluk. h Al-Quds ini merupakan pengibaratan wujud Ilahi di dalam makhluk, atau ungkapan dari wajah Ilahi. Karena itu, dalam bahasa Jawa disebut juga sebagai ‘gusti’ dengan g kecil atau gusti di dalam diri.

Dalam kosmologi Islam, perempuan dan laki-laki disimbolkan dengan dua hal yang berbeda namun saling melengkapi, berpasang-pasangan, yin dan yang yang membentuk harmoni dan keseimbangan. Segala sesuatu (selain Tuhan) diciptakan secara berpasang-pasangan yang didasarkan bukan pada logika dominatif, tetapi logika komplementer. Pasangan perempuan dan laki-laki yang juga disebut dalam Al-Quran merupakan gambaran dari keseluruhan kosmos, yaitu langit dan bumi. Dalam hubungan antara tubuh dan nafs, maka tubuh adalah perempuan dan nafs adalah laki-laki. Apabila keduanya “menikah” (menyatu), dikatakanlah hal itu sebagai “setengah dari Ad-Dîn.” Untuk menggenapkan Ad-Dîn maka pasangan tubuh dan nafs tersebut harus menyatu dengan h Al-Quds, dan bentuk hubungannya menjadi pasangan tubuh plus nafs adalah perempuan, dan h Al-Quds adalah laki-laki. Namun dalam beberapa ayat nafs pun dilambangkan sebagai perempuan yang melahirkan laki-laki (‘aql), dan begitu pula halnya dengan h Al-Quds yang juga kadang dilambangkan sebagai perempuan, karena merupakan Ummul Kitab (Induk Kitab). Pendek kata, simbolisasi ini bukan merendahkan yang satu terhadap yang lain, tapi merupakan suatu kesatuan yang komplementer sebagaimana diterangkan oleh Zamzam sebagai berikut:

Maka yang disebut insan Ilahi, cahaya Allah, adalah insan yang api jiwanya telah dinyalakan Allah Ta‘ala, telah diperkuat oleh cahaya ilmu dan cahaya ma‘rifat. Insan seperti ini memiliki struktur seperti yang digambarkan dalam surat An-Nuur ayat 35, cahaya di atas cahaya.

Misykat, zujajah dan pohon zaitun adalah persoalan yang datang dari aspek ubudiyyah, merupakan pasangan bagi api ­al-mishbah yaitu urusan yang datang dari aspek Uluhiyyah-Nya; persoalan yang diidentifikasi oleh hakikat pasangan perempuan dan laki-laki.4

Selain itu, dalam Al-Quran, tubuh dilambangkan juga sebagai bumi, nafs sebagai langit, dan h sebagai matahari. Namun, seperti telah diutarakan sebelumnya, untuk bisa mendapatkan predikat Insan Ilahi atau menemukan misi hidup, maka manusia yang akan dirahmati tersebut harus berada dalam posisi percaya dan dipercaya. Sebelumnya, terlebih dahulu dia harus dibakar dalam api pensucian, harus menerima ujian untuk memurnikan niatnya dalam mencari Allah Ta‘ala.

Triadik jasad, nafs dan ruh—terutama dua yang terakhir—seringkali tak dikenali, atau bahkan rancu dalam pembahasannya, sebagaimana telah disinyalir oleh Al-Ghazali. Beliau pun menjelaskan dua pengertian nafs, yaitu, pertama, nafs dalam arti hawa nafsu yang merupakan campuran (aradh) pada nafs lathifah, namun sebenarnya bukan bagian dari nafs lathifah. Hawa nafsu adalah “kecenderungan kepada yang lebih bersifat non-material, yang berkaitan dengan eksistensi dan harga diri, persoalan-persoalan yang wujudnya lebih abstrak…merupakan produk persentuhan antara nafs dan jasad.”13 Hawa nafsu tersebut berbentuk embrio-embrio yang dapat tumbuh jika dipupuk, sehingga maujud dalam diri manusia secara independen dan membentuk nufussul hawiyyah. Jika hawa nafsu sudah maujud, maka sang nafs harus menjadi gembalanya. Kedua, nafs dalam arti unsur halus (lathifah) yang merupakan Hakikat Insan atau diri manusia yang sebenarnya. Nafs al-lathifah ini diidentifikasi (atau dinamai) berdasarkan kadar pengaruh dari embrio-embrio hawa nafsu tersebut. Jika sang nafs terbebas dari berbagai pengaruh hawa nafsu beserta embrio-embrionya, maka disebutlah sebagai an-nafs al-muthmainnah. Nafs ‘amara bi su’ adalah nafs yang menyuruh atau cenderung kepada hal-hal yang buruk, karena ia disifati, bahkan didominasi, oleh hawa nafsu yang merupakan hijab antara manusia dengan qalb-nya. Sedang an-nafs al-lawamah adalah nafs yang tidak sempurna “ketenangannya”, mencela, berperang dan menyesali noda-noda yang menempel dalam dirinya.

Insan cahaya Ilahi dengan struktur utuh (telah hadir di dirinya Ruh Al-Quds) merupakan subjek yang akan mulai berjalan dalam Ad-Dîn Allah. Untuk mencapai struktur yang sempurna (ma’rifatullah), maka manusia harus menumbuhkan bola kaca (zujajah) qalb dengan membuatnya menyala bak kaukab, melalui minyak pohon-zaitun, buah ketaqwaan. Dengan hidupnya qalb, maka nafs yang terkulai lemas akibat dosa-dosa menjadi hidup (dosa bagi jiwa adalah seperti kryptonite bagi Superman) dan mulai berjalan mengenali urusan (amr) dan kadar dirinya yang telah ditetapkan Allah. Jika proses penyucian diri dan pengenalan diri (jasad dan nafs) telah paripurna, maka Allah akan mengirim utusan-Nya, Ruh Al-Quds, sebagai penasihat atau pemberi fatwa dalam hati. Keadaan (state) ma’rifatullah ditandai dengan hadir-Nya kuasa Allah (Ruh Al-Quds) dalam qalb insan. Ma’rifat merupakan rahmat dari Allah terhadap hamba-Nya yang Dia kehendaki. Inilah rahmat kedua. Rahmat yang diperoleh setelah sang hamba kembali menjadi al-muthaharrun (tingkat kesucian bayi) yang merupakan rahmat pertamanya.

Bersambung…

Catatan Kaki:

  1. Jane Idelman Smith & Yvonne Yazbeck Haddad, Maut, Barzakh, Kiamat, Akhirat: Ragam Pandangan Islam dari Klasik hingga Moderen, Serambi: Jakarta, cetakan I, 2004, hlm. 38.
  2. Al-Ghazali, Ihya Al-Ghazali, (1983) Jilid 4, diterjemahkan oleh Prof. Tk. H. Ismai Yakub, SH, MA., C.V. Faizan: Jakarta Selatan, cetakan ketiga, hlm. 7.
  3. Zamzam A. Jamaluddin T. (1997). “Misykat Cahaya-cahaya”, PICTS-YPP, Bandung.
  4. Zoetmulder, P.J., (1995): “Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa”, Gramedia: Jakarta, cet. 3, hlm. 286.