Arsip Kategori: Teori

Filsafat Kebahagiaan Platon

Sejak dahulu, pembahasan mengenai pertentangan internal dalam diri manusia antara hasrat (nafsu) dan akal budi telah menjadi tema penting dalam ajaran kearifan dan agama-agama kuno. Sanatana Dharma dalam ajaran Hindu mengajarkan memperoleh kebijaksanaan abadi dengan mengendalikan nafsu yang kerap menghambat jalan dharma. Ajaran Buddhis lebih ekstrem dengan menegaskan bahwa sumber penderitaan adalah hasrat, dan untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan membebaskan jiwa dari penjara hasrat melalui 8 jalan. Ajaran kearifan Timur tersebut mengingatkan akan bahayanya nafsu bagi pencapaian kebahagiaan sejati manusia. read more

Postmodernisme dan Fenomena Kebudayaannya

Charles Jencks, seorang arsitek sekaligus pemikir, mengklaim bahwa postmodernisme lahir pada tanggal 15 Juli 1972, pukul 15.32 bersamaan dengan diruntuhkannya kompleks perumahan untuk orang-orang berpenghasilan rendah, yaitu, Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, yang baginya merupakan lonceng kematian bagi arsitektur modern. Kompleks perumahan tersebut di desain oleh Minoru Yamasaki, yang juga mendesain gedung WTC (dan kini pun sudah ambruk). Arsitektur adalah sebuah titik awal yang cukup bagus untuk mulai membicarakan tentang postmodernisme, karena istilah modernisme pun lahir dari bidang arsitektur. Awalnya adalah Suger, seorang kepala biarawan, yang merekonstruksi basilika St. Denis pada tahun 1127, yang kebingungan untuk menyebut apa gaya arsitektur baru yang didesainnya tersebut, karena merupakan suatu “penampakan baru” untuk masa itu. Maka dia pun mencomot istilah Latin, yaitu opus modernum, yang artinya “sebuah karya modern”. Kata modern sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu modo yang artinya “barusan”.1 read more

Sekilas Tentang Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan Pasca Perjanjian Bongaya[1]

Pernah satu waktu saya bersua dengan saudara Erwin Djunaedi—lelaki dari Kabupaten Wajo yang berkebetulan menjadi seorang duta museum Yogyakarta—pada satu masa di bilangan Makassar, kala itu kawan saya yang alumni Ilmu Sejarah UGM itu memintaku untuk mengajaknya berkeliling Kota Makassar, mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota para daeng. Wal hasil saya membawanya ke sebuah tempat yang dikatakan kawasan Kota Tua Makassar, sebuah daerah yang dahulunya bekas Staatsgemente Macassar[2] yang kini bagian dari Kecamatan Ujung Tanah (di sebelah utara) hingga Kecamatan Mamajang (selatan jalan Veteran Selatan). read more

Waktu Senggang Perempuan di Bawah Telunjuk Kapitalisme

Rentang sejarah kehidupan manusia yang panjang, ada gerak perubahan yang menjadi keniscayaan dalam semesta kehidupan. Hal tersebut tak menampik timbulnya pembelahan atas waktu yakni waktu senggang dan bekerja, yang mewarnai ragam corak kehidupan manusia, terutama makhluk yang bergelar perempuan. Peristiwa ini telah diulas dengan apik oleh salah seorang Intelektual di Makassar, Muhammad Ridha dalam bukunya “Sosiologi Waktu Senggang: Eksploitasi & Komodifikasi Perempuan di Mall”.

Josef Pieper dalam Ridha, mengemukakan pemanfaatan waktu senggang yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Di mana waktu senggang pra industri tepatnya di era Yunani klasik, dimanfaatkan untuk produktifitas pemikiran dengan berfikir mendalam dan radikal tehadap makna filosofis dan hakiki kehidupan manusia, berlangsungnya aktivitas berdiskusi, berimajinasi soal-soal terdalam kemanusiaan. Sehingga pemanfaatan waktu senggang melahirkan banyak buah pemikiran yang cemerlang di zaman tersebut seperti Anaxigoras, Parmanedes, Plato, Sockrates, Aristoteles dan lain-lain. Tak luput juga karya-karya dari beberapa filosof perempuan yang lahir di masa itu, yang saat ini jarang disabdakan, seperti Theano yang merupakan istri Pytagoras, Diotima dari Mantinea yang diakui Plato sebagai mentor Socrates, Aspasia dari Miletus sang politikus, Hypatia dari Alexandria sebagai ahli matematika dan fisuf neo-platonis. read more

Gara-Gara Foucault

Eike kira kekuasaan tidak serta merta hanya berurusan dengan negara sebagai institusi koersif yang selama ini sering dianggap sebagai satu-satunya sumber. Atau bahkan kekuasaan adalah legitimasi yang dimiliki negara secara “ekslusif” untuk menundukkan warganya kepada suatu kepatuhan tertentu. Kekuasaan, seperti yang dikatakan Michel Foucault –seorang sosiolog cum filsuf pasca strukturalis– hanya dapat diandaikan dalam hubungan relasional. Artinya, setiap ada relasi, maka di situ ada kekuasaan. read more

Perempuan dan Media

Seringkali saya menyaksikan pengalaman saudara perempuan saya, di waktu ia beranjak remaja. Ketika itu menulis diari adalah suatu kebiasaan –barangkali bagi sebagian besar perempuan seumuran di zamannya. Di tiap malam, pengalaman itu membentuk persepsi saya, bahwa perempuan memiliki rahasia yang diucapkannya melalui bibir kedua, tempatnya berbicara. Berhari-hari kebiasaan itu dilakukannya, menulis apa saja yang datang dari pikiran dan perasaannya. Berlembar-lembar halaman dihabiskan hingga selanjutnya dia harus bersekolah jauh dari rumah. Sampai akhirnya, saya tidak pernah lagi melihatnya menulis di buku yang disimpannya entah di mana. read more

Mengakhiri Prasangka dan Fanatisme Agama: Ikhtiar Telaah Psikologi Gordon Allport

Beberapa bulan terakhir, kita sama-sama menyaksikan fenomena keagamaan di Indonesia yang makin lama makin panas. Hal ini tak lepas dari adanya sikap memosisikan keyakinan kelompok agama sebagai satu-satunya nilai yang paling benar di atas segalanya. Artinya, nilai-nilai yang berada di luar keyakinan kelompok agamanya pasti salah. Maka secara sederhana, fanatisme agama merupakan sikap tak terbuka pada pandangan yang tak seiman dan congkak merasa paling benar.

Pada konteks epistemik fanatisme agama, ruang-ruang dialogis komparatif yang mengusung tema-tema lintas iman dan mazhab jarang kita jumpai. Seperti dibilangkan Muhajir MA dalam esainya Memulai Epistemologi Berdialog, Menyudahi Fanatisme; Upaya Mendekati Nalar Lintas Disiplin, bahwa permasalahannya terletak pada tertutupnya pengetahuan lain sebagai pertimbangan alternatif menilai kenyataan, akibat absolutisme yang berlebihan. Jadi dengan kata lain, fanatisme agama tak mengandaikan pertukaran pemikiran, dialog interaktif dan analisis kritis perbandingan agama dan mazhab. Akibatnya, pemeluk agama yang fanatik cenderung menjadi kolot. Namun tak jarang juga pemeluk agama yang fanatik menjadi buas dan beringas. Apa pasal? Ya itu tadi, minus akal. read more

Cuap-Cuap Perihal Ideologi

Ideologi adalah konsep yang kompleks dalam artian tidak memiliki definisi yang tunggal. Jumlah definisi ideologi tergantung tokoh yang mengkajinya. Bagus Takwin dalam Akar-Akar Ideologi, mendaku bahwa ada tiga kategori dan pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat dan memahami ideologi: Pertama, pendekatan aliran yakni ideologi dicermati berdasarkan asumsi dari mana manusia mendapatkan pengetahuan. Dari pendekatan ini pula, maka ideologi dipandang dari segi positif dan negatif. Kedua, pendekatan yang dilihat aspek psikologis yang menjadi ranah (domain) ideologi. Ketiga, pendekatan kronologi yaitu melihat urutan waktu lalu membandingkanya dengan konsep ideologi yang lahir dalam waktu tertentu. read more

Rene Descartes

Suatu ketika, Rene Descartes mengunjungi sahabatnya, orang Inggris, dan diajak makan malam bersama. Sahabatnya bertanya apakah sebelum makan malam dia mau mencicipi hidangan pembuka terlebih dahulu? “No, thank you”, ujar Descartes, “Aku lebih suka kita langsung makan malam saja.” Lalu sahabatnya kembali bertanya, “Apakah Anda mau minum dulu sebelum kita mulai makan malam?” Karena Descartes adalah seorang Katolik saleh yang tidak suka minuman beralkohol, dengan tegas dia berkata “I think not!”, dan WUSSSS! Descartes pun menghilang. read more

Mengenal, Awal Cinta (Bag-4)

Lihat juga:

Mengenal, Awal Cinta (Bag-1)

Mengenal, Awal Cinta (Bag-2)

Mengenal, Awal Cinta (Bag-3)

***

Di tulisan saya sebelumnya, telah kita ketahui bahwa subyek filsafat adalah wujud (ada) mutlak atau wujud sebagaimana wujud itu sendiri. Konsep—pahaman—wujud adalah sesuatu yang paling badihi yang diabstraksikan benak manusia dari seluruh keberadaan. Ke-badihi-annya adalah bukti ia tidak membutuhkan definisi.[i] Konsep wujud adalah sesuatu yang dipahami setiap manusia secara huduri.[ii]

Dalam diskursus filsafat “Islam”, terdapat prinsip utama yang sejak awal mesti kita tegaskan. Yaitu antara pahaman (konsep) wujud dan realitas wujud. Struktur filsafat tidak akan dapat dipahami dengan benar, jika seseorang tidak menangkap secara jelas signifikansi pembedaan antara keduanya. Sebab apa yang disebut sebagai pahaman wujud, jelas bukanlah wujud itu sendiri. Wujud bukan pula realitas yang terlahir dari sebuah pahaman. Sebaliknya, suatu pahaman lahir dari adanya wujud itu sendiri.[iii] read more