Arsip Kategori: Uncategorized

Berbeda Sudut Pandang

Kebiasaan saya bersama istri satu tahun terakhir bila saya berada di kota kelahiranku, Makassar. Setiap akhir pekan melakukan jogging atawa berjalan kaki mengelilingi lapangan karebosi minimal lima hingga tujuh kali putaran. Istriku biasa menyebutnya tawaf di karebosi. Rumahku dari karebosi lumayan jauh. Beberapa  alasan kenapa kami memilih tempat jogging yang terlampau jauh dari kediaman kami, sebab di area ini setiap pekannya dijubeli orang dari berbagai penjuru kota Makassar untuk berolah raga, berjalan kaki seperti yang kulaku. rupa-rupa senam yang dilaku oleh berbagai komunitas, bermain bola kaki, dan yang sekedar datang bersua teman-temannya sembari bersilaturrahim. Aku pun saban hari ke sana kerap sua kawan dan sahabat. Siltaurrahim terjalin kembali dan sungguh amat membahagiakan.

Pagi ini setelah berjalan kaki mengelilingi karebosi sebanyak tujuh kali sembari ngobrol dengan beberapa kawan semasa mahasiswa dulu, saya dan istri mencari-cari warung untuk sarapan pagi dan memilih sebuah cafeteria yang menjual rupa-rupa penganan sarapan pagi dan tak ketinggalan kopinya. Sedang asyik-asyiknya menyesap kopi dan penganan lainnya tiba-tiba suara gemuruh kendaraan roda empat dan dua disertai teriakan-teriakan membesarkan nama Tuhan dengan intonasi amarah melintas di depan café tempat kami rehat sejenak. Spontan pengunjung café yang padat di akhir pekan itu mengalihkan perhatiannya sejenak dengan berbagai ekspresi. Ada yang sinis, merasa lucu, dan biasa-biasa saja karena mungkin menganggap iring-irngan ini adalah hal biasa di zaman demokrasi terbuka ini.

Beberapa spanduk di pampang di mobil yang bertuliskan “Enyahkan Syi’ah dan PKI dari NKRI karena bukan Islam dan tegakkan khilafah” dan beberapa spanduk yang benada mirip-mirip. Bagi yang tidak paham tujuan gerakan kelompok ini pasti akan bertanya-tanya, kenapa mesti mereka yang melarang dengan cara-cara amarah dan anarkis. Bukankah kita mempunyai pemerintahan dengan berbagai perangkatnya. Bila mereka yang dituding sesat oleh pendemo ini adalah pelanggar konstitusi Negara kenapa tidak secara legal dilakukan secara procedural berdasarkan aturan main Negara yang sudah ada, walaupun kita tahu bahwa menyampaikan aspirasi melalui demontrasi sah-sah saja.

Saya tidak mengerti, apakah kelompok yang menyuarakan kesesatan kelompok (keyakinan) lain dan harus dienyahkan dari bumi pertiwi ini ada undang-undang atau perangkat hukum negeri ini yang dilanggar?  Sebab bila hanya sekedar perbedaaan sudut pandang dalam menafsirkan agama yang bermuara pada terbentuknya aliran-aliran dalam sebuah agama dan keyakinan tentu jalan keluarnya bukan memaksa Negara untuk mengenyahkan aliran atau mazhab yang ditengarai menyimpang, untuk mengenyahkannya dari negeri hukum ini. Tetapi salahsatu jalan keluar terbaik adalah melakukan dialog secara intensif. Tentu dialognya dilakukan secara bijak dan arif serta setara sesuai dengan prinsip-prisnsip dasar agama  itu sendiri. Boleh difasilitasi oleh lembaga-lembaga keagamaan, semisal MUI (Majelis Ulama Indonesia), Muhammadiyah, NU (Nahdatul Ulama), dan sebagainya. Untuk tidak berlarut-larutnya setiap penyerangan kepada kelompok yang ditengarai sesat. Pemerintah mestinya melakukan tindakan-tindakan strategis untuk tidak melukai warganya sendiri. Sebab, di negeri ini sudah terlampau banyak peristiwa sebuah komunitas yang dianggap keyakinannya bermasalah dan menyimpang diciderai dengan sangat fatal, baik pisik maupun psikis tapi Negara hanya diam dan tidak berperan. Padahal yang dianiaya itu adalah warga Negara pembayar pajak dan taat pada aturan Negara. Bila hal seperti ini dibiarkan begitu saja maka tunggulah negeri ini akan menjadi negera abu-abu yang tak jelas jenis kelaminnya, sebab hukum menjadi lumpuh bagi kaum minoritas dari kelompok-kelompok yang selalu meyelesaikan masalahnya dengan jalan kekerasan.

Sejak reformasi merebak dan menjatuhkan kekuasaan orde baru, salahsatu pekerjaan pemerintahan era reformasi yang tersisa adalah bagaimana penegakan hukum setegak-tegaknya pada kelompok-kelompok intoleran yang kerap beraksi anarkis dan merusak fasilitas umum yang dibiayai rakyat dari berbagai jenis pungutan yang dilaku pemerintah. Memberi rasa aman kepada warganya untuk hidup dengan aman tentram dan bermatabat tanpa reserve apapun. Kelompok-kelompok dalam etnik, agama, dan mazhab, kerap tersakiti dan tercederai tanpa perlindungan yang memadai dari Negara. Seolah mereka adalah warga kelas dua dari negeri yang dicintainya. Sedang kelompok-kelompok yang selalu mengatasnamakan agama dan keyakinannya paling benar dan pemilik tunggal kebenaran, namun jelas-jelas dari semua aksi yang dilakunnya mengarah pada wacana pendidrian Negara agama berdasarkan keyakinannya dan menggantikan panca sila sebagai dasar Negara. Namun sepertinya dibiarkan melakukan aksi semaunya. Mengganggu ketenangan orang lain dan merusak fasilitas umum, membakar dan merusak rumah ibadah yang menurut mereka berbeda dengan keyakinannya. Padahal negeri ini didirikan dan dibangun berdasarkan kemajemukan agama dan adat istiadat warganya.

Dalam perspektif agama yang kuyakini yakni Islam, mengajarkan budi-pekerti atau yang lazim dibilangkan akhlak sangat di junjung tinggi. Untuk meninggikan ajarannya sebagaimana titahnya “Al Islamu yu’la wa ya’lu alaik, Islam itu tinggi di atas segalanya”, Sang Nabi menitahkan untuk  berakhlakul karimah atau berbudi-pekerti yang mulia. Sebab beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak pengikut agama-agama samawi sebelumnya. Artinya, agama yang di bawahnya mesti memiliki pengikut yang lebih cerlang-cemerlang akhlak dan budi-pekertinya melebihi dari yang lain. Pengikutnya dituntut memelopori kehidupan harmoni saling memuliakan diantara manusia. Memelopori kebangkitan peradaban manusia dengan ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah disuguhkan oleh para ulama kaliber yang pernah lahir di Rahim agama Islam, seperti Ibnu Sina, Alfarabi, Alkindi, Ibnu Arabi dan sebagainya.

Berkenaan hal kecenderungan sebagian ummat Islam dalam menyelesaikan masalah dengan pentungan dan bedil hingga merusak fasilitas umum dan menumpahkan darah. Albert Camus, dalam sebuah esai pendeknya “pohon buah badam” menukil “ tahukah kau, Napoleon suatu kali berkata kapada Fontanes, apa yang membuat diriku penuh kekaguman? Ketidakberdayaan dari kekuatan untuk membangun apapun. Hanya ada dua kekuatan di dunia yakni, pedang dan pikiran. Pada akhirnya pedang selalu dikalahkan oleh pikiran. Belajar dari situ, secara sederhana mengajak kita untuk selalu mendahulukan pikiran dan akal sehat dalam mengawal peradaban melanjutkan dan mengejawanthakan pesan Nabi Suci Muhammad SAW, bahwa Islam itu tinggi dan mulia. Seperti pesannya bahwa dalam peperangan pun, menjatuhkan sehelai daun  bila tak diperlukan tidak boleh dilakukan. Coba simak bagaimana Sayyidina Ali karamallahu wajha mengapresiasi pesan mulia tersebut “kala dalam suatu peperangan beliau urung menebas lawannya hanya karena mukanya diludahi. Kala ditanya kenapa Sayyidina Ali urung menebas lawannya, beliau hanya menjawab dengan senyum, karena beliau tak ingin menebas lawan dalam keadaan marah”.

Jelang Ramadan dan di bulan Ramadan ini dua peristiwa yang memalukan terjadi lagi di negeri yang kita cintai ini. Peristiwa yang mengatasnamakan agama dengan bom bunuh diri di beberapa tempat dan mempora-poranda beberapa rumah warga yang bernaung di bawah organisasi Ahmadiyah di NTB (Nusa Tenggara Barat). Kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah bahkan akan melahirkan kekerasan lainnya bila hal ini terjadi secara terus menerus. Padahal di situlah perlunya dialog secara intens perlu difasilitasi oleh institusi yang berkenan. Kemudian bagi pelanggar hukum, mesti dihukum sebagaimana hukum yang berlaku. Bila hal ini dibiarkan berkecambah maka tunggulah kelompok-kelompok intoleran akan membesar dan di ujungnya akan berbuah teroris serta mengebiri semua perbedaan dengan cara-cara kekerasan hingga pembunuhan.

Padahal perbedaan sudut pandang (perspektif) dalam Islam katanya adalah rahmat. Dan perbedaan dalam pelbagai hal dalam memaknai sesuatu di kalangan sahabat Nabi telah terjadi digenerasi awal kala Nabi masih hidup bersama mereka, hanya Nabi selalu bijak dalam menyelesaikan setiap perbedaan yang terjadi diantara sahabatnya. Bila demikan halnya makin jauhlah kita dari tuntunan dan titahnya.

“Every Economy is a Culture” dan Relevansinya dengan Doktrin Produktivitas.

Menonton film pendek memang mengasyikkan. Di dalamnya tersirat banyak simbol, makna dan pesan-pesan. Pada salah satu perkuliahan ekonomi internasional bagian integrasi ekonomi, saya lazimnya mendahului dengan pengantar cerita-cerita santai dan lucu, sebelum sesi menonton film pendek di kelas, judulnya Why Some Countries are Rich and the Others are Poor? Film ini menyiratkan bahwa perbedaan dalam mengoptimalkan tiga hal; institusi, budaya, dan sumber daya alam sebagai penyebab adanya perbedaan antar negara. Apa, bagaimana dan seberapa penting ketiga hal tersebut?

Sentilan Escobar dalam Encountering Development, Every Economy is a Culture, menarik ditelisik lebih jauh. Mengingat ekonomi adalah hal fundamental dalam hidup dan kehidupan manusia sepanjang sejarah. Selain itu, ekonomi kerap direduksi menjadi sekadar angka-angka statistik yang kaku. Data kuantitatif penting tapi belum cukup menjelaskan kompleksitas ekonomi.

Jika setiap ekonomi adalah juga budaya, hal ini bisa bersifat resiprokal bahwa setiap budaya adalah proses ekonomi, proses pemenuhan kebutuhan atau kesejahteraan. Ukuran kesejahteraan setiap individu tidak sama. Karena secara hakiki tidak ada manusia yang sama. Kita memang sama-sama manusia, tetapi secara personal bakat dan kapasitas setiap orang berbeda sejak ia lahir. Secara potensial mungkin sama, tetapi aktualisasinya beragam. Ada yang belajar puluhan jam tapi tidak paham-paham, ada yang belajar hanya sejam dapat memahami suatu pelajaran dengan baik. Itu bukan ketimpangan, tapi keragaman mengoptimalkan sumber daya. Tuhan telah menganugerahkan potensi panca indera, akal, dan naluri atau kemampuan batiniah. Kemampuan mengoptimalkan segala potensi tersebut meniscayakan kita berbeda dan beragam. Karena kita berbeda maka perlakuan juga berbeda, bahkan di depan hukum sekalipun semua orang sebenarnya tidak diperlakukan sama. Kenapa tidak sama, karena kasusnya beda, deliknya beda, orang-orangnya beda. Itulah kenapa pengadilan kerap tidak mencerminkan keadilan. Karena sedari awal diksi gombalannya “semua orang diperlakukan sama di depan hukum” hampir dipastikan sulit dipenuhi. Keadilan salah satu topik yang sangat dinamis dalam berbagai bidang termasuk dalam kajian-kajian ekonomi.

Dalam Globalisme kehidupan kita digiring pada keadaan yang bersifat homogen. Selera musik sama, makanan sama, slogan sama, dan kemiripan-kemiripan lainnya.  Sadar atau belum sadar, infiltrasi kebudayaan dalam ekonomi global, sedikit demi sedikit menggeser ‘cita rasa’ budaya lokal suatu daerah atau negara. Apa yang dikonsumsi warga Eropa dan Amerika sejatinya dapat dinikmati pula oleh masyarakat lokal. Globalisasi menyediakan ruang-ruang hidup bebas yang sangat luas. Tetapi bukan kebebasan itu sendiri. Termasuk bebas mati kelaparan di pinggir jalan, bebas foya-foya, bebas mati karena kelaparan, keracunan, atau karena mati dibegal ditonton massa yang lebih fokus mengambil gambar daripada berusaha menolong korban.

Globalisasi (ekonomi) bukan sesuatu yang alamiah, ia adalah serangkaian gerakan ideologi (kapitalisme) sistematis. Perpaduan pengusaha fund kartel global beserta institusi global (World Bank, WTO, IMF, dll), kekuatan-kekuatan militer negara-negara tiran global, dan termasuk para intelektual penyebar dan pembela gagasan pasar bebas. Keempat serangkaian itulah yang menciptakan hegemoni global. Dalam terminologi Quran mereka adalah perpaduan Firaun (penguasa), Qarun (hartawan), Bal’am (ulama), dan Hamman (teknokrat), demikian istilah yang  digunakan Dimitri Mahayana dalam Berhala Globalisme. Mereka menciptakan sistem dominasi untuk mengeksploitasi sumber daya alam negara-negara lain.

Globalisme bisa jadi adalah sebentuk tirani. Fidel Castro pernah mengemukakan dengan lantang bahwa “The United States tyrannizes and pillages the globalized world with its political, economic, technological, and military might”. Faktanya, jika suatu negara tidak bisa ditaklukkan atau dijinakkan dengan kekuatan ekonomi dan politik, jalan terakhir adalah kekuatan militer (lihat kasus di timur tengah).

Homogenisasi, penyeragaman yang inheren dalam budaya globalisme adalah sebentuk tirani. Setidaknya tirani psikologis atau tirani pemikiran. Meskipun terkesan hiperbolik, atau lebih tepatnya cara pandang globalisme telah menghegemoni kita. Efek lebih jauh dari sebuah hegemoni adalah membuat pihak-pihak yang terhegemoni rendah rasa percaya diri, bermental budak, dan cenderung menganggap apa pun yang berasal dari yang menghegemoninya adalah sesuatu yang baik dan harus ditiru dan digugu alias latah.

Semakin maraknya standar-standar global, standar-standar kompetensi, pengukuran indeks-indeks , dan ranking-ranking adalah upaya-upaya peningkatan kualitas dan standardisasi global. Hal ini sebagai prakondisi proses produksi dan integrasi global. Meskipun hal ini tidak fair. Saya sering bergurau, apa perbedaan mendasar antara Cambridge dan Universitas di Makassar? Ini jelas tidak mangga dengan mangga, satunya sudah ada abad yang lalu sedangkan UNM misalnya baru kemarin dapat akreditasi A. Akreditasi A (unggul) sudah pasti beda dengan unggulnya yang dipahami sebagai unggul yang sebenarnya. Misalnya para dosen “dipaksa” membuat jurnal internasional dengan level-level pembayaran yang bertingkat. Yang tak jarang membuat para dosen/peneliti lebih sibuk mengurusi administrasi penelitian daripada isi dan substansi penelitan itu sendiri. Tapi sebagai tahap awal okelah, di mana kita ‘dipaksa’ berlomba dengan mereka yang sudah lari duluan. Kita butuh tenaga ekstra, kalau perlu konsumsi doping.

Standar-standar kompetensi yang kini marak dikampanyekan. Menjamurnya institusi-institusi penjamin standardisasi, baik swasta maupun milik pemerintah. Kehadiran institusi-institusi penjamin standar menyerupai massifnya lembaga-lmbaga survey dan pemeringkat kualitas bidang tertentu. Ia seperti sebuah industri tersendiri. Semua diupayakan demi dalih meningkatkan kualitas dan produktivitas. Faktanya, mari kita cek, berapa banyak guru dan dosen yang sudah lulus uji kompetensi (sertifikasi) benar-benar kompeten dan mampu merangsang minat belajar siswa atau mahasiswa? Jawabannya ada di ruang batin kita masing-masing. Berapa banyak universitas, sekolah tinggi, dan progran studi yang berakreditasi unggul, tapi belum memenuhi standar minimal pelayanan konsumen (mahasiswa) dan juga civitas akademika. Inilah salah tantangan dalam perbaikan di bidang institusi (kelembagaan).

Tentang institusi, setidaknya ada tiga hal yang patut diperhatikan menurut North, yaitu formal rule, informal rule, dan force rule. Formal rule berkaitan dengan aturan-aturan formal yang tertulis. Informal rule berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan budaya dalam suatu organisasi/lembaga, termasuk dalam hal ini adalah “pamali”, yang umumnya tidak tertulis tapi disepakati atau diyakini untuk ditatati. Force rule, berkaitan dengan mekanisme reward and punishment untuk menegakkan aturan-aturan. Jika ketiga variabel institusi belum disatupadankan maka wajar-wajar saja kita masih tergolong ‘poor’. Sinkronisasi ketiga hal di atas akan menciptakan kualitas unggul dan akhirnya produktivitas dan inovasi. Namun yang paling adalah perubahan dan transformasi perilaku.

Saya meyakini bahwa tindakan atau perbuatan adalah refleksi dari pengetahuan kita. Kebiasaan konsumtif masyarakat, bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Iklan melalui berbagai media, pada berbagai saluran teknologi, bahkan setiap kedipan mata berseliweran iklan-iklan menjajakan produk untuk dibeli, beli, dan beli. Watak utama iklan adalah, mengubah desire (keinginan) menjadi seolah-olah needs (kebutuhan). Watak tersebut membentuk mental. Mental konsumerisme adalah bentukan pasar, lebih tepatnya pelaku pasar yang kalah oleh mekanisme supply and demand. Pasar secara ekstrim hanyalah supply and demand, kalau kita bukan produsen, maka kita sudah pasti konsumen. Hanya rantai nilainya saja yang kadang panjang dan berbelit, sebagaimana birokrasi yang kompleks. Kini, Interaksi produsen dan konsumen bergeser lebih singkat dan praktis karena kemajuan pemikiran dan kebudayaan manusia melalui teknologi.

Teknologi menghadirkan cara baru berinteraksi. Teknologi adalah proses berkebudayaan. Ia melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru, kebiasaan ini lama kelamaan akan menjadi tradisi dan akhirnya terbentuklah kepribadian. Kepribadian yang menular dan massif akan menciptakan budaya komunitas. Dalam mode produksi kapitalisme lanjut pun mengalami perubahan, entah karena perubahan dari dalam atau perubahan dari luar. Disrupsi, yaa hampir semua sisi kehidupan terdisrupsi oleh kamajuan teknologi. Dalih utamanya semua untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kehidupan.

Dalih efektifitas dan efisiensi kadang seperti bahasa langit yang sulit membumi. Kenapa prinsip dalam ekonomi tersebut teramat sulit untuk dibudayakan. Meskipun ia diklaim sebagai nilai kapitalisme. Tetapi jauh sebelum cara pandang kapitalisme atau liberalisme ekonomi mendominasi kampus-kampus kita, pendahulu kita sangat piawai memerankan hidup dengan efektif dan efisien. Efisien dalam artian tidak boros, efektif dalam arti memanfaatkan semua sumber daya secara penuh untuk mencapai hasil optimal. Atau sederhananya hiduplah secara produktif. Barang siapa yang hidupnya lebih baik dari hati kemarin maka ia adalah orang beruntung, jika sama ia rugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, ia celaka. Ini adalah doktrin-doktrin produktifitas. Doktrin lainnya, manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan sehatmu sebelum sakit. Dan, doktrin yang paling monumental adalah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan ia sendiri yang berusaha merubahnya.

Dalih dan doktrin di atas belum sepenuhnya terserap pada setiap batin-batin kita, termasuk penulis. Kata-kata belum searah dengan aksi, taro ada taro gau masih sebatas slogan, satunya kata dan perbuatan masih sekadar lipsing. Pengetahuan belum menjadi ‘pengetahuan seutuhnya’ yang mewujud dalam setiap tindakan. Pengetahuan kita masih sebatas ceceran-ceceran kata-kata yang hampa nilai “mistis”, nilai yang mampu menggerakkan para penganutnya.

Secara hiperbolik saya ingin menyebutkan setiap kata atau istilah adalah pesan-pesan ideologis. Ideologi dalam pandangan Murtadha Mutahhari adalah sesuatu yang menggerakkan para pengikutnya, sesuatu yang mampu mentransformasikan diri para pendukungnya. Bukan Ideologi sebagaimana yang dipahami Marx  sebagai sesuatu yang datangnya eksternal, ilusif dan melahirkan kesadaran palsu. Ia adalah sesuatu yang inheren dalam diri setiap orang, makanya tindakan setiap orang tidak sama, karena kamampuan dan bakatnya untuk mengeksplorasi cara pandangnya yang berbeda. Mindset bisa jadi kata lain untuk menggambarkannya, ia bukan sekadar alam ide, ia adalah aksi sekaligus. Oleh karena setiap kita berbeda, maka biarkanlah setiap orang, daerah, negara benar-benar bebas mengelola dirinya sendiri berdasarkan local genius masing-masing. Teori-teori ekonomi yang sukses di Eropa dengan keadaan geografis serba dataran, kondisi ruang dan budaya yang berbeda sudah bisa dipastikan gagal diterapkan di negara kepulauan. Rumus sederhanya ATM (Amati Tiru dan Modifikasi) bukan sekadar copy paste kebijakan negara maju ke negara berkembang. Salah satu ciri negara berkembang atau terbelakang dapat dilihat pada saat macet, atau perempatan lampu merah. Itulah cerminan paling kasat mata suatu masyarakat yang terbelakang.

Upaya menstrukturisasi dan menyeragamkan cara pandang terhadap apa pun justru membuat hidup kadang tidak produktif. Jika tidak produktif tidak inovatif. Justru doktrin kebebasan untuk berbedalah yang kerap memicu produktifitas. Berpikirlah bebas niscaya kamu akan menemukan dirimu dan Tuhanmu. Kira-kira demikian pelajaran dari kasus Nabi Ibrahim dalam pencarian Tuhannya. Setiap individu diberikan jatah sumber daya waktu yang sama 24 jam/hari tetapi sungguh masih banyak yang lalai dengan waktunya masing-masing. Mengapa kampus atau sekolah, institusi pendidikan atau pemerintah di negara kita pada umumnya tidak produktif? Bisa jadi karena, kita tidak terbiasa dengan tradisi-tradisi yang berbeda dengan kebiasaan kita. Inginnya itu-itu saja, yang penting damai. Keberagaman memicu dialektika, dialektika dapat merangsang nalar, asalkan tidak baper. Bukankah pelangi indah karena warna-warninya.

Upaya memenuhi kebutuhan (upaya ekonomi) adalah juga proses berkebudayaan maka seluruh standar-standar yang telah menjadi kesadaran massif, mungkin perlu didekonstruksi. Misalnya, kenapa definisi standar kemiskinan tidak ada yang sama, bahkan banyak versi, ada versi konsumsi 2$, 1200 kkalori per hari, dll? Karena sejatinya kemiskinan ataupun kesejahteraan adalah persepsi personal yang coba distandardisasi. Standar-standar umum atau (katanya objektif) dicoba dipadupadankan dengan standar subjektif. Sudah pasti ada konflik dan distorsi. Upaya mendorong ukuran kesejahteraan berbasis komunitas perlu senantiasa digelorakan. Standar kesejahteraan warga pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi, kota-desa umumnya beda.

Von Mises mendefinisikan ekonomi sebagai logika tindakan. Alat analisisnya disebut Praxiology. Dalam logika tindakan terdapat tiga hal; alat, cara, dan tujuan. Besi orang Papua, besi dapat dijadikan tombak atau mata panah, bagi Amerika bagus dibuat senjata. Kedua alat tersebut dapat dijadikan media untuk membunuh, tapi caranya sudah tentu beda. Demikian pula jika kita ingin makan, sejahtera, lulus kuliah, sarjana dst. Tujuannya bisa sama, tapi alat dan caranya berbeda. Logika tindakan ini menyiratkan keberagaman cara untuk mencapai tujuan. Dalam cara pandang demikian pengikut Mises, Mashab Austria menolak cara pandang John Locke yang emipiris, yang pada perkembangan mutakhirnya ‘menuhankan’ data-data statistik. Dampaknya cara pandang tersebut mereduksi kenyataan.

Keterasingan diri memahami logika tindakan kita masing-masing berdampak pada rendahnya produktivitas dan inovasi. Kenapa rendah? Karena dalam logika tindakan terdapat aksi dan refleksi. Apa yang telah dilakukan akan direfleksikan secara berkesinambungan, ada perbaikan secara terus menerus dan berkelanjutan. Sehingga kebiasaan meniru-niru dan latah tidak menjadi kebiasaan kita. Misalnya, ketika seorang Photografer berhasil mempopulerkan wisata “Negeri di atas Awan” di Toraja Utara, hingga menjadi objek wisata alternatif. Daerah lain pun ketularan mengekpose tempat-tempat yang serupa. Kebiasaan latah pun merebak pada hampir semua hal. Latah tentang #Hastag, latah tentang #pilpres, dan lain-lain latah boleh jadi adalah budaya orang-orang/komunitas yang malas bernalar dan berkontemplasi.

Saya tidak tahu harus mengakhiri bagaimana tulisan ini. Banyak pihak yang menginspirasi tulisan ini, WAG literasi Bantaeng, anak-anak Praxis_Comm, Mutahhari, Marx, Mises, mahasiswa Ekonomi Pembangunan UNM, dll. Namun pemicunya adalah buku Escobar Encountering Development. Pembangunan, pernah menjadi anak emas di negeri ini, di era Soeharto, para teknokrat pembangunan melesatkan ide-idenya dalam penerapan pembangunan oleh “Bapak Pembangunan”, namun saya tidak tahu siapa “Anak Pembangunan”. Para kritikus sosial pun mengkritik dan bahkan mencibir “Pembangunan” sebagai biang kerok kerusakan alam, penggusuran, ketimpangan, dll. Kalau pernyataan ini diterima, semakin nyata kalau kata memang adalah senjata. Oleh karena itu untuk menimpali cibiran “Pembangunan”. Menarik merenungkan ungkapan Armatya Sen, Pembangunan adalah pembebasan, Pembangunan harusnya membahagiakan. Nah, apakah Anda sudah bebas dan bahagia?

Kasih Sayang yang Raib

Hari ini, hujan sedari pagi hingga jelang siang seperti gayung bersambut dengan kehadiran kabut yang seolah tak hendak menjauh dari kawasan tempat kami mengais nafkah. Tempat kerjaku di ketinggian hampir seribu meter di bawah permukaan laut (DPL) selalu saja trauma dengan tanah longsor sepanjang jalan dari desa paling ujung dan paling bawah walaupun sangat jarang terjadi kecuali di desa-desa dan kampung-kampung tetangga. Hal itu yang banyak berpengaruh secara psikologis ke kami. karena memang perbukitan-perbukitan bertanah subur yang labil mengelilingi kami.

Siang itu, pimpinan kami di kantor baru saja usai berkeliling lapangan dan melintasi beberapa desa. Rupanya di salah satu pojok jalan tikungan, beliau memerintahkan sopirnya menghentikan kendaraan tatkala ia melihat seekor monyet yang di daerah sini dibilangkan, Yaki, sedang mengejar seekor anak kucing kerempeng. Tolong ambil anak kucing itu, dan bawa ke kantor. Sang sopir dengan bersusah payah mengusir Yaki itu untuk menyelamatkan anak kucing kerempeng tersebut.

Setiba di kantor, kawan-kawan sejawatku nampak heran dan melongo saling berpandangan. Ada yang berdesis, dari mana Boss itu memungut anak kucing yang kotor dan kudisan. Dan hendak diapakan. Setelah, anak kucing kerempeng itu dibersihkan dan mengobati luka yang dicakar oleh Yaki tadi, berceritalah sejenak kepada kami, tentang asal muasal anak kucing itu. bahwa, laku menyelamatkan kucing itu adalah spontan setelah melihat anak kucing kerempeng itu tak berdaya oleh kejaran dan cengkraman yaki yang jauh lebih besar dan kuat. Spontanitas lakunya adalah gerak kasih sayang yang naluria. Semua orang memilikinya, Cuma ada orang yang selalu berusaha memaksimalkan potensi itu dan ada pula orang yang mengabaikannya.

Rasa sayang itulah yang nampak tergerus di kehidupan khalayak ramai saat ini. Ia terhijab oleh ego yang menggunung menutupi hingga ke hati kecil kita. Tertutupi oleh ketakpedulian pada alam sekitar dan semesta raya. Dalam perspektif agama Islam, kasih sayang adalah ajaran utama dari seluruh muatan ajaranNya. Sebelum memulai pekerjaan apa saja kita diperintahkan memulainya dengan ucapan basmalah “bismillahirrahmanirrahim” dengan makna yang sangat filosofis “dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih dan penyayang” jadi, amatlah sangat kontras bila ada orang atawa sekelompok orang yang kerap melakukan kekerasan kepada sesama dengan mengatasnamakan Tuhannya yang maha pengasih dan penyayang.

Dalam tafsir Al Misbah, ketika mengurai surah Al fatihah, pada, Arrahmanirrahim, dari dua kata, Arrahman dan Arrahim, yang maha pengasih dan maha penyayang. Ketika seseorang membaca, Basmalah, seharusnya menghayati kekuatan dan kekuasaan Allah. Serta kasih sayangnya yang tercurah bagi seluruh makhluk. Kalau demikian itu yang selalu tertanam di dalam jiwa, maka pasti nilai-nilai luhur terjelma keluar dalam bentuk perbuatan. Karena, perbuatan merupakan cerminan dari suasana kejiwaan.

Jadi, bila kasih sayang Tuhan adalah diperuntukkan untuk seluruh makhlukNya, kenapa pula kita kerap menganeksasinya. Kemudian, kita berlaku banal dan kasar kepada sesama atau makhluk lainnya dengan mengatanamakanNya.

Beberapa dekade terakhir kita mwnyaksikan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama di negeri-negeri nun jauh mempertontonkan adegan yang tidak elok. Pemberontakan dan peperangan di mana-mana terjadi dengan pembunuhan massif anak-anak dan perempuan serta orang-orang yang tak tahu menahu kenapa ada perang di negerinya. Berimplikasi pada banyaknya manusia menjadi imigran dan mengungsi ke pelbagai negeri, kehilangan negeri yang dicintainya.

Yang paling terdekat dari negeri ini sebagai contoh adalah, pemberontakan di  Maringas, salah satu propinsi di Filipina. Sebelumnya, warganya sangat tenang menjalankan kehidupan sehari-harinya. Beragama dengan beragam keyakinan. Tapi, ketika sekelompok orang datang mentasnamakan agama ingin membentuk atawa mendirikan negara sendiri berdasarkan keyakinannya, dengan menggunakan kekerasan membabi-buta, maka hancurlah semuanya. Ketenangan dan kedamaian warga sekejap raib berubah huru hara menghancurkan segala. Dan yang pasti yang paling menderita adalah anak-anak dan perempuan. Masa depan anak-anak luntang lantung tak jelas arah entah mau kemana. Agama apa yang di usungnya sehingga gemar menebar ketakutan dan kehancuran. Tidakkah mereka tahu bahwa nabi yang katanya dijunjungnya adalah nabi welas asih. Tak berperang bila tak mempertahankan diri. Dalam perang pun kaidah-kaidah akhlakul karimah tetap dijunjungnya. Beliau melarang keras membunuh atawa melukai anak-anak dan perempuan. Kepada musuh yang sudah tak berdaya sekalipun mesti tak diserang lagi. Yang lebih damai dan menentramkan adalah, setiap kali peperangan akan dimulai, beliau mengingatkan pasukannya, bila dalam peperangan sekalipun ranting pohon takboleh dipatahkan kecuali dibutuhkan berkenaan dengan keberlanjutan kehidupan manusia. Sangat beradab bukan ? tak seperti sebagian orang-orang beragama di zaman now.

  1. Mustafa Bisri yang kerap disapa Gus Mus, memotret dan menyentil dengan keras fenomena Bergama kita di zaman now dengan amat indahnya ;

Ketika Agama Kehilangan Tuhan

 

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena agama

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun takpernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esesnsi Bergama telah dilupakan. Agama kini hanya komuditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah di dewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena taktahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.

 

Kucing yang dipungut oleh pimpinan kami di perusahaan tempat kami mengais nafkah, setelah berhari-hari mukim di kantor mulai nampak cerah, mulai berisi tak lagi kerempeng. Luka-lukanya telah tertutupi. Tanpa diperintah, kami bergantian merawatnya. Mulai dari memberi makan dari sisa-sisa penganan kami yang sengaja disisakan. Memandikan dan menghiasinya. Dari hal-hal kecil itu kami berusaha membangun komunikasi yang saling mengasihi dan menyayangi.

 

Sumber ilustrasi:    http://islamidia.com/12-ilustrasi-kasih-sayang-manusia-di-zaman-modern-ini-bikin-miris/w644-1/

 

 

Ironi Kesadaran 2018

Banyak teman saya yang bertanya, ‘kira-kira bagaimana tahun 2018?’ Saya hanya menjawab, mungkin akan lebih baik jika pertanyaannya diubah menjadi pertanyaan yang lebih memprihatinkan, ‘kira-kira apa yang lebih mengkhawatirkan di tahun 2018?’ Bukankah kita melewati tahun 2017 ini dengan ketegangan-ketegangan sosial dan menyisakan keretakan identitas kita sendiri? Dan menurut saya tahun 2018 tentu lebih mengkhawatirkan karena ketegangan-ketegangan sosial tersebut sudah menemukan polanya di tahun ini.

Tak ada yang perlu disalahkan sebab kita semua berkontribusi dalam ketegangan yang hanya menyisakan keretakan tersebut. Hampir kita semua tak bisa menahan diri atau tak tahu menahan diri. Bahkan tak paham apa yang mesti diposting di medsos dan apa yang harus kita bagikan di medsos. Apakah maslahat atau tidak maslahat, sudah tidak menjadi pertimbangan dalam memposting atau merespon sesuatu di sosmed. Seolah tugas kita hanya mengalahkan dan selanjutnya menertawakan orang-orang yang berseberangan pandangan dengan kita.

Ironi kesadaran salah satu tantangan terbesar kita dan bahkan ancaman besar atas budaya dan peradaban manusia di masa depan. Kecendrungan yang serba instan manusia kini akhirnya mampu menurunkan derajat kesadaran masyarakat hanya pada level medsos. Kepuasan dalam membaca dan menganalisa hanya dipermukaan saja. Minat membaca buku-buku di perpustakaan semakin menurun sebab apa yang orang-orang cari sudah tersedia di internet. Orang-orang lebih senang membaca bacaan ringkas dan sederhana dan akan lebih mengasyikkan jika disertai dengan hujatan.

Yang paling ironi karena manusia kini telah lupa membedakan informasi dan kesadaran. Kemajuan teknologi informasi membuat batas-batas ruang dan waktu semakin tidak terasa. Kita bisa tahu dan bahkan menyaksikan secara ‘live’ suatu kejadian di belahan dunia sana. Bahkan kejadian yang sangat sederhana sekali pun sangat mudah untuk diketahui, seperti memancing ikan di daerah kutub. Namun manusia kini sudah tak paham bagaimana mengubah informasi menjadi sebuah kesadaran.

Mengelola informasi menjadi suatu kesadaran sangat bergantung kepada pengalaman dan bentuk-bentuk informasi yang ada di benak kita sebelumnya. Semakin kaya pengalaman dan informasi yang kita miliki, respon kita atas informasi tersebut semakin cepat dan bahkan boleh jadi kita mampu memberikan solusi jika ditemukan suatu persoalan. Tentu tidak seluruh informasi mampu kita ubah menjadi suatu kesadaran di dalam diri sebab sangat bergantung pada batas pengalaman dan informasi yang kita miliki.

Semisal suatu ketika anda melihat foto orang faqir yang sedang makan di atas tempat sampah. Keesokan harinya anda menyaksikan foto anak seorang buruh yang sedang memikul beban berat membantu ayahnya. Kemudian di hari selanjutnya anda menyaksikan sebuah berita proses belajar mengajar yang sangat tidak memadai di tempat terpencil. Besoknya lagi anda mendengarkan berita tentang seseorang yang harus menjual ginjalnya demi membiayai perkuliahan adiknya.

Berita-berita tersebut yang anda dengarkan dan saksikan –hari demi hari- tentu akan mempengaruhi kondisi kejiwaan. Hari pertama akan menyentuh perasaan. Hari kedua mulai menyayat hati dan anda mencoba untuk membantunya. Hari ketiga anda mulai mengutuknya dan sudah mulai menyalahkan. Hingga suatu saat kita akan terbiasa dengan kondisi kemiskinan dan kefaqiran dan menerima keniscayaan keberadaan seorang faqir.

Dalam kondisi tersebut, seseorang  akan mencoba memberikan alasan-alasan atas fenomena yang ada di balik kemiskinan. Sebagian mengatakan karena korupsi masih terjadi dimana-mana. Analisis lainnya akan mengatakan sebagai ujian Tuhan kepada hamba-hambaNya. Sebagian lagi akan mengatakan, kemiskinan itu karena faktor kemalasan saja karena setiap orang memiliki potensi yang unik.

Namun seperti apakah hakikat kemiskinan itu? Pertanyaan ini tidak akan terjawab di medsos. Perlu penelusuran lebih jauh agar kita bisa berada di dalam kesadaran dalam memahaminya sehingga tidak hanya sekedar menerima informasi. Membaca buku akan memperkaya penelusuran kita tentang kemiskinan. Membaca roman Oliver Twist akan menambah khazanah kita tentang kemiskinan.

Dunia saat ini dipenuhi dengan informasi dan tak ada batasnya. Justru wadah manusia yang terbatas dalam menerima informasi. Dan hanya dengan menelaah dan penelusuran yang mendalam manusia akan memperoleh kesadaran. Memutuskan diri dari buku berarti kita tidak akan tahu proses nikmatnya menelaah suata persoalan.

Maulana Rumi menggambarkan manusia kini dalam meraih hakikat seperti orang-orang yang ingin memahami gajah di malam hari yang gelap gulita. Proses yang bisa dilakukan dalam memahami gajah di malam hari yang gelap gulita adalah dengan proses meraba. Ilustrasi ini mampu menggambarkan manusia kini yang tak mampu lagi membedakan antara kesadaran dan informasi.

Komunisme yang Patah, Tumbuh dan Hilang Berganti

Akhir- akhir ini narasi G30S/PKI kembali mencuat ke publik tanah air. Seperti lazimnya, tatkala bulan September tiba, ada saja pihak yang cekatan menggiring opini publik agar terjebak pada pembahasan perihal salah satu narasi sejarah kelam Indonesia tersebut. Pada dasarnya, sebuah narasi yang ‘menjual’ selalu melahirkan tiga kubu; kubu pro, kubu kontra dan kubu moderat. Untuk kubu moderat sendiri, mereka layaknya sang dialektikawan, berupaya mencari sintesis sebuah perkara dari hasil pergumulan pihak pro (tesis) dan pihak kontra (anti tesis).

Untuk periode September tahun ini, narasi G30S/PKI mengangkat topik seputar kelayakan pemutaran kembali film (pengkhiatan) G30S/PKI. Sebagaimana kita ketahui, pemutaran perdana film tersebut dirilis pada 1984 dan tiap tahunnya diwajibkan menonton bagi segenap kalangan masyarakat Indonesia. Sementara pasca rezim Orde Baru tumbang pada 1998, film yang digarap oleh sineas Arifin C Noer tersebut akhirnya berhenti ditayangkan oleh Menteri Penerangan Letjen (Purn.) Yunus Yosfiah dan Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono saat itu. Hal ini sekaligus menjawab permintaan pihak Angkatan Udara yang merasa tersudutkan oleh film tersebut.[1]

Wacana pemutaran kembali film (pengkhianatan) G30S/PKI pertama kali disuarakan oleh Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo. Ia memberikan instruksi (perintah) kepada seluruh prajurit TNI AD agar menggelar nonton bersama. Wacana ini kemudian diperkuat oleh pernyataan pemerintah Jokowi yang sepakat agar diadakan pemutaran kembali film G30S/PKI, namun dengan sedikit polesan untuk menyesuaikan karakter generasi millenials hari ini, mengingat film tersebut memakan durasi 3 jam setengah dengan kualitas video hitam putih. Tentunya ini akan mengundang kebosanan bagi generasi millenials hari ini yang terbiasa mengkonsumsi produksi High Digital.

Hingga wacana tersebut bergulir, ternyata mengundang keriuhan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Biang utama keriuhan tersebut adalah berseliwerannya berbagai fakta dan berita (hoax) yang terkadang sulit dibedakan kesahihannya oleh sejumlah kalangan masyarakat (awam dan sumbu pendek). Sesuatu yang opini (hoax) dianggap fakta dan sesuatu yang fakta hanya dipandang sebelah mata. Sehingga asumsi yang berkembang di tengah masyarakat bersifat oposisi biner, kalau anda tidak setuju terhadap film tersebut maka akan dicap antek-antek PKI dan begitupun sebaliknya.

Jika ditelusuri lebih jauh, tindakan penilaian hitam putih tersebut hadir disebabkan oleh sukarnya memisahkan unsur subjektifitas terhadap film tersebut. Subjektifitas mengacu kepada memori luka lama yang masih membekas yang kemudian diproduksi kembali agar generasi yang tidak mengalami peristiwa tersebut dapat meng-imajinasikan kejadiannya (verstehen ala Weberian). Sehingga dengan bergulirnya wacana ini, dendam lama yang telah terkubur bermuara kepada lahirnya konflik laten antara kubu tentara + kubu umat islam vis a vis kubu (keturunan) PKI. Lalu, siapakah yang paling diuntungkan dari polemik ini selain para elit yang hendak mendulang suara pada pesta demokrasi dalam waktu dekat ini (pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019).[2]

Jalan Panjang Komunisme di Indonesia

Ketika Uni Soviet runtuh di bawah kepemimpinan Gorbachev tahun 1991 yang juga diawali oleh runtuhnya tembok Berlin (bersatunya Jerman Tmur dan Jerman Barat), maka kedua peristiwa tersebut menjadi penanda resmi sebagai keruntuhan ideologi komunisme di permukaan bumi ini. Kendati kepemimpinan Negara Komunisme pertama di dunia ini – Uni Soviet –dianggap telah runtuh, tetapi ada beberapa rezim Marxis – Leninis (sebutan lain dari Komunis) yang masih mampu bertahan seperti Cina, Kuba, Laos dan Vietnam (Fakih, 2017).

Secara kelembagaan, komunisme memang dapat dihancurkan, tetapi secara ideologis ia sangat sulit bahkan mustahil dihilangkan. Melacak akar sebuah ideologi hanya mampu ditemukan dalam semesta ide individu saja sehingga untuk melawan atau menghilangkannya hanya dengan pertentangan ideologi pula (sering diistilahkan dengan perang pemikiran/gawzl fikr). Terlebih komunisme pernah mencatatkan namanya sebagai salah satu ideologi terbesar di dunia karena ia mampu berkembang biak di berbagai belahan bumi ini. Ketika Uni Soviet masih dibawah kepemimpinan Nikita Kruschev, embrio komunisme ini tumbuh kembang dengan pesat di berbagai benua seperti Amerika Latin (Kuba, Bolivia, El Salvador, Grenada, Nikaragua, Peru, dan Uruguay), Afrika (Benin, Kongo, Ethiopia, Zimbabwe dan Somalia), Asia (RRC, Vietnam, Laos, Kamboja, Philiphina dan Indonesia) (Fakih, 2017).

Di Indonesia sendiri, perkembangan komunisme terjadi di masa pergerakan nasional awal abad 20. Lebih jauh, embrio lahirnya komunisme di Indonesia adalah hasil “persetubuhan” antara organisasi sosialis ISDV dan organisasi dagang Sarekat Islam (SI). SI yang merupakan organisasi Islam pertama di Indonesia ini kemudian pecah pada 1923 menjadi 2 kubu yakni SI putih (CSI) yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto dan SI Merah (SI Semarang) yang dinahkodai oleh Haji Misbach. SI Merah inilah yang kemudian melebur kedalam tubuh PKI yang mana nantinya menjadi partai komunis terbesar di dunia diluar Uni Soviet. Bahkan dalam pemilu 1955, PKI masih mampu meraih posisi ke empat di bawah PNI, Masyumi dan NU.

Syahdan, jika PKI yang selama ini dipropagandakan sebagai ideologi yang anti tuhan (atheis), anti islam, maka kiranya perlu diluruskan kembali. Pasalnya, aktualisasi nilai-nilai komunisme bergantung di mana ia bersarang. Selama ini komunisme diidentikkan dengan ideologi anti Tuhan atau anti agama itu dikarenakan yang menjadi rujukan adalah komunisme Eropa. Sebagaimana jamak diketahui, karakter masyarakat Eropa dibangun di atas nilai – nilai sekulerisme sehingga wajar jika pandangan hidup seperti Atheis dan Agnostic tumbuh subur. Tetapi lain halnya tatkala komunisme berkembang di Indonesia, sebab ia berkelindan dengan karakter masyarakat indonesia yang dikenal akan sisi religiusitasnya.

Olehnya, hanya di Indonesia kita mendapati seorang komunis yang islami, seorang komunis yang haji bahkan seorang komunis yang menghafal Al-Qur’an. Datuk Tan Malaka adalah seorang komunis (tulen), tetapi ia juga adalah seorang hafidz Qur’an ketika muda. Haji Misbach adalah pemuka Islam (petinggi SI), tetapi ia juga adalah seorang komunis.[3] Pun jika ada yang tak sependapat atas pencampuran kedua ideologi tersebut, faktanya komunisme dan islam (isme) masih mampu bergandengan tangan di masa – masa awal pergerakan nasional demi satu tujuan bersama, yakni menumpas kolonialisme Belanda.

Akhirnya di tangan Soeharto lah komunisme dengan berbagai variannya menemui ajalnya. Pasca peristiwa G30S/PKI, ideologi tersebut akhirnya dikubur bersamaan dengan orang – orangnya yang dilegalkan melalui Tap MPRS XXV 1966. Kendati ia telah dikubur, tetapi kenyataannya komunisme tak jarang abstain untuk diperbincangkan bahkan setiap tahunnya terutama menjelang bulan September. Diperbincangkan bukan dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan, lebih – lebih aktualisasi prinsip dalam kehidupan, namun diperdebatkan dalam kerangka propaganda kebencian. Demikianlah potret perlakuan rezim orde baru selama 32 tahun berkuasa.

Komunisme vis a vis Kapitalisme dan Islamisme

Kini kekhawatiran yang berlebihan akan bangkitnya hantu komunisme[4] beserta lembaganya (PKI) melanda sebagian masyarakat kita. Melalui analisis prematur, propaganda dan penyebaran hoax, kesadaran masyarakat dengan mudah digiring pada phobia yang berlebihan. Padahal ada kenyataan sosio – ideologis yang lebih utama untuk diwacanakan, sebab ia sedang berkembang biak menggerogoti negeri ini dan tentunya ialebih atau minimal setara bahayanya dengan komunisme jika dikonfrotasikan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Rupa dari ideologi tersebut adalah kapitalisme dan islamisme.

Andai pun hantu komunisme mampu bangkit kembali, maka ia harus berjibaku melawan kedua ideologi besar tersebut – kapitalisme dan islamisme yang tengah menguasai tatanan masyarakat global. Bahkan Negara sekelas China yang masih mempertahankan identitas sosialismenya, faktual telah berselingkuh dengan kapitalisme dalam praktik sistem ekonominya. Mungkin kita perlu mengaminkan ramalan Fukuyama tentang akhir dari sejarah ini yang mana dimenangkan oleh rezim kapitalisme.

Selain kapitalisme, Indonesia juga sedang berada dalam cengkraman islamisme. Sekali lagi, jika kita berbicara dalam kerangka Pancasila sebagai ideologi final bagi bangsa Indonesia maka islamisme atau jamak masyarakat menyebutnya dengan radikalisme Islam pun dianggap sebagai virus bagi NKRI harga mati (price dead). Meskipun salah satu prinsip perjuangan islamisme adalah menentang neoliberalisme/kapitalisme, tetapi hal itu belum mampu mendulang suara mayoritas masyarakat islam Indonesia yang mendaku diri menganut islam Nusantara. Untuk pembahasan lebih jauh tentang poin ini, akan dibahas pada tulisan lain.

Oleh karena itu, untuk mengurangi kekhawatiran tersebut dapat diobati dengan memperbanyak membaca sejarah dan mendiskusikannya, bukan dengan membubarkan diskusi yang di dalamnya terdapat proses mencari kebenaran dan reproduksi ilmu pengetahuan. Kalaupun pemerintah dan bala tentaranya berhasil merebut kesadaran masyarakat (awam) untuk menggelar nonton bersama film G30S/PKI yang dinilai oleh sejumlah kalangan sarat akan nuansa politis dan adegan kebohongan, maka propagandakan lah film Jagal “The Act of Killing” (2013) dan Senyap “The Look of Silence” (2014) karya besutan Sineas Amerika, Joshua Oppenheimer yang berhasil meraih nominasi piala Oscar (penghargaan film bergengsi) 2016.

Sumber gambar: https://patri0tuj.deviantart.com/

 

Bahan Bacaan :

Ali Fakih, Muhammad. 2017. Biografi Lengkap Karl Marx (Pemikiran dan Pengaruhnya). Labirin.

Majalah Tempo. 2010. Tan Malaka (Bapak Republik yang Dilupakan). Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.

Ritzer, George dan Douglas J.Goldman. 2016. Teori Marxis dan Beragam teori Neo-Marxian. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

 

Internet :

http://www.idsejarah.net/2014/11/pemilihan-umum-1955.html, akses 25 September 2017

http://wawasansejarah.com/sarekat-islam/, akses 25 September 2017

https://tirto.id/mohammad-misbach-sang-haji-merah-chBV, akses 26 September 2017

http://historia.id/film/orang-orang-di-balik-penghentian-penayangan-film-pengkhianatan-g30spki, akses 26 September 2017

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510094659-21-129620/kapan-kambuhnya-bahaya-pki/, akses 26 September 2017

https://www.voaindonesia.com/a/reaksi-sutradara-the-act-of-killing-joshua-oppenheimer-masuk-nominasi-oscar/1851030.html, akses 27 September 2017

 

Catatan Kaki:

[1]Pihak TNI – AU merasa tersudutkan oleh adanya penanyangan film G30S//PKI sebab salah satu latar yang dijadikan tempat penggarapan film tersebut adalah bandar udara Halim Perdanakusuma yang notabenenya adalah markas TNI-AU sehingga beberapa mantan perwira tinggi seperti , yakni Laksamana Madya Udara TNI (Purn.) Sri Mulyono Herlambang dan Marsekal TNI (Purn.) Saleh Basarahmendesak agar penayangan film tersebut diberhentikan. Lihat, orang- orang dibalik pemberhentian penayangan Film G30S/PKI, http://historia.id/film/orang-orang-di-balik-penghentian-penayangan-film-pengkhianatan-g30spki

[2] Prof Ariel Heryanto menganalisis selain isu “china”,  isu “bahaya PKI” juga dipropagandakan oleh kalangan elit untuk mendulang suara pada pilkada 2017 kemarin. Bahkan pada pemilu 2014, isu “bahaya komunis” dijadikan kampanye hitam untuk menyerang salah satu capres pada saat itu yakni Jokowi. Lihat : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510094659-21-129620/kapan-kambuhnya-bahaya-pki/

[3]Haji Misbach pernah menyatakan “Komunisme mengajarkan untuk menentang kapitalisme, itu tercakup di dalam Islam. Saya menerangkan hal itu sebagai (seorang) muslim dan komunis.” ia menuliskan kalimat itu dalam artikel yang tayang di surat kabar Soeara Moeslimin, 1926. Artikel itu ditulis ketika ia telah yakin pentingnya nilai-nilai pembebasan yang dinilai juga paralel dengan prinsip-prinsip komunisme. Lihat :https://tirto.id/mohammad-misbach-sang-haji-merah-chBV

[4] Dalam karyanya, “ The Manifesto of the Communist Party” Marx menyebut komunisme sebagi hantu yang akan menghantui Eropa. Lihat, Ritzer & Goldman. Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori  Neo- Marxian (2016)

Digital Parenting Karena Gawai Sebuah Keniscayaan

Seumpama hidup di tengah pusaran air yang mengepung dari segala penjuru, serupa itulah gambaran hidup manusia era kini. Tak hanya anak sekolah, bahkan yang belum bersekolah, hingga orangtua yang sudah berumur pun, yang baru beberapa hari mengenal internet, tak pelak jadi mangsa empuk teknologi. Tidak memegang gawai serasa seperti orang  bego di antara kerumunan orang-orang berponsel, yang setiap jam bahkan beberapa menit mengecek  benda yang berada di genggamannya.

Boleh dikata dialah orang pintar yang mampu menjawab setiap pertanyaan. Anak kami yang ingin mengetahui cara menangani lengan terkilir, langsung searching informasi dari Google. Dalam sekejap ia pun mendapatkan penjelasan cara penanganannya. Saya termasuk yang sering memanfaatkan fitur canggih ini untuk mencari gambar buku yang dicari oleh pelanggan toko. Pernah pula mencari  tips bagaimana membuka tutup toples yang mengeras. Di antara jurus-jurus  tersebut ada yang manjur, tak jarang ada pula yang tidak. Namun yang pasti informasi saat ini tidak lagi sesulit era sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan, era kini era banjir informasi. Saking membanjirnya, pembaca jadi bingung sendiri ingin membaca bagian mana terlebih dulu. Semua hadir di saat yang bersamaan dan menuntut perhatian yang serentak pula. Jika tak jeli memilih bacaan digital, pembaca bisa jadi korban berita palsu (hoax).

Beberapa waktu, sebelum saya mulai menulis perihal perangkat digital, saya termasuk orang yang prihatin terhadap perkembangan penggunaan alat ini di kalangan anak-anak sekolah. Bahkan menentang memberikan fasilitas tersebut pada mereka. Paling cepat ia boleh diberikan saat anak duduk di usia kelas menengah awal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, serta mengamati kecenderungan penggunaan pada alat ini yang semakin hari semakin tak terbendung, maka pikiran bijak pun perlahan saya kedepankan.

Ibarat berumah di tepi pantai, bersiaplah untuk belajar berenang. Menghindarkan anak dari peranti elektronik ini saat orang-orang di sekitarnya menjadikannya sebagai teman belajar, teman ngobrol, bahkan sebagai buku pintar tempat rujukan banyak soal sulit, adalah sebuah keniscayaan. Namun di satu sisi, bukan berarti pula anak-anak di bawah standar umur boleh dibiarkan bermain game dan melihat layar tanpa kendali. Pengaruh buruk tetap mengintai jika masih sangat dini anak-anak sudah dibiasakan memegang dan memainkan perangkat digital.

Pembahasan akan besarnya dampak buruk yang diakibatkan oleh anak-anak dan remaja yang kecanduan game atau pun menonton video dan berbagai permainan lainnya sudah banyak dibahas di buku dan artikel-artikel yang tersebar luas. Seperti melemahnya lobus frontalis yang membuat anak “matang semu”, ketidakmampuan anak bersosialisasi di dunia nyata akibat dominasi dunia maya yang tidak berimbang. Ada pula anak yang mengalami gangguan emosional bahkan cenderung mengarah pada gangguan kejiwaan. Begitu pula dengan menurunnya konsentrasi dan daya nalar. Sangat membahayakan jika kita mau merunut dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh peranti-peranti ini.

Namun sebagaimana yang telah saya ungkapkan di atas, suatu hal yang sangat sulit ditanamkan pada benak anak betapa gawai dan sejenisnya merupakan benda-benda yang perlu dihindari. Sementara setiap hari, setiap waktu kita sebagai orangtuanya atau orang-orang dewasa di sekitarnya umumnya menggunakan alat tersebut. Di sekolah pun guru menyuruhnya mencari informasi di internet. Setiba di rumah, ibu, ayah, dan kakak-kakaknya didapati menggunakan hampir seluruh waktunya bersentuhan dengan perangkat tersebut.

Di rumah, kami nyaris setiap hari berhubungan dengan laptop, membuka media sosial sebagai media promosi  buku ataupun hal-hal yang terkait dengan kegiatan tulis-menulis. Anak-anak menyaksikannya langsung, melihat dari dekat apa yang kami lakukan. Melakukan penjualan, diskusi, dan  menulis hal-hal yang bermanfaat, yang kesemuanya terangkum dalam satu misi, ingin memperkuat branding. Meskipun begitu, ada rasa yang kurang nyaman jika terlalu lama waktu yang saya habiskan untuk berselancar, padahal tujuan semula sudah terpenuhi. Untuk itu kami kerap memberi keterangan atau penjelasan, alasan mengapa melakukan ini dan itu pada mereka.

Kadang terbersit kerinduan pada suasana kampung halaman, hidup di desa yang belum banyak terpapar polusi teknologi. Tetapi adakah kehidupan desa yang seideal itu? Karena saat ini bahkan desa yang terpencil secara lokasi sekalipun selama jaringan operator masih bisa menjangkaunya, tetap akan terseret budaya modernitas. Kecuali akses listrik dan jaringan telekomunikasi masih sulit, mungkin di sanalah kehidupan tanpa perangkat digital akan ditemukan.

Jika situasinya sudah seperti ini, maka tak ada cara lain selain memberikan pendidikan digital sejak awal pada masyarakat umum, khususnya para orangtua dan guru sebagai pihak yang akan memberikan pengaruh besar pada perkembangan anak-anak.

Sebagai langkah awal, fase-fase ini yang perlu dilakukan menurut Yee-Jin Shin, seorang psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea. Saya merangkumnya dalam 3 poin berikut.

  1. Berhenti mendewakan perangkat digital.

Orangtua sendiri pun harus membatasi penggunaan perangkat digital. Selanjutnya mengganti dengan buku atau media cetak lainnya sebagai sumber referensi.

  1. Orangtua harus terus mempelajari “musuh”.

Orangtua perlu terus-menerus mempelajari segala sesuatu  yang berkaitan dengan perangkat digital dan situs-situs di dunia maya. Permainan jenis apa yang saat ini paling banyak digandrungi anak-anak, situs-situs apa yang boleh dan yang tidak layak ditonton oleh anak, dst.

  1. Orangtua harus melakukan digital clean.

Karena orangtua adalah model atau contoh bagi anak-anaknya, maka perlu waspada agar usaha membatasi penggunaan perangkat digital tidak sia-sia hanya karena anak melihat contoh pada orangtuanya sendiri. Selain itu pula orangtua perlu rutin memonitor penggunaan alat ini, agar tidak dirasuk virus-virus konten pornografi, kekerasan, dan berbagai ancaman lain yang bisa membahayakan masa depan anak.

Ajarilah anak cara berenang, bukan melarang mendekati pantai. Jika anak tahu cara berenang, ia akan selamat mengarungi lautan air yang tak bertepi. Hidup dengan menggunakan perangkat digital laksana hidup di tengah air.

 

Catatan KLPI Pekan 15

Kelas dimulai dengan suara abaaba Hajir, itu tanda forum dibuka. Setelah mengucap beberapa kata, orang pertama yang membacakan tulisannya adalah Asran Salam. “Cinta Seorang Kierkegaard,” begitu Asran Salam mengucapkan judul tulisannya. Agak lama ia mengeja tulisannya. Sekira hampir sepuluh menit. Setelah itu, satu persatu mata mempelototi naskah yang dibagikannya. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah jadi mekanisme menggeledah tulisan. Siapa pun punya tulisan akan tetap dilucuti satusatu , entah itu soal EYD, kelogisan gagasan, keterhubungan kalimat, atau bahkan sampai soal gaya tulisan.

Tulisan Asran Salam kalau dibaca adalah esai yang menyorot sisi manusiawi filsuf eksistensialis asal Denmark: cinta. Di moment kritikal ini, ada pertanyaan yang sempat diajukan Sulhan Yusuf. Kalau tidak silap ingat adalah apakah Kierkegaard juga mengadaptasikan pandangan filsafat eksistensialisnya di saat lagi kasmaran.

Dalam tulisan Asran Salam, kasmaran filsuf ini melibatkan seorang perempuan bernama Regina. Asran Salam bilang, cinta adalah pengalaman eksistensial yang melibatkan keyakinan agar manusia dapat bertindak dan bersikap. Cinta adalah pengalaman yang ditulisnya harus menanggung konsekuensi: penantian. Sampai di sini sempat Asran Salam memapar pemikirannya lingkait filsafat eksistensialisme terutama apakah Kierkegaard mengimplementasikan filsafatnya dalam kehidupan asmaranya.

Di akhir tulisannya, Soren Abaye Kierkegaard terpaksa harus meninggalkan Regina hanya karena problem belas kasih. Ternyata, dari yang ditulis Asran Salam, cinta Kierkegaard disambut hanya dengan perlibatan belas kasih dari Regina. Cinta yang demikian bukan cinta yang sejati. Asran tulis, jalan cinta Kierkegaard adalah pilihan yang dibentang atas dasar pertimbangan filosofis. Pilihan yang disebutnya sudah jadi pilihan hidupnya.

Karena tulisan ini, juga sempat ada perbedaan konseptual soal apa yang dinyatakan cinta sebagai pengalaman eksistensial. Cinta bagaimanakah yang disebut pengalaman eksistensial? Kalau pengalaman cinta Kierkegaard dan Regina adalah fenomena eksistensial, lantas apa yang membuat dia begitu khas dari pengalaman yang semua orang rasakan? Bukankah cinta adala gejala universal? Kalau begitu, cinta khas yang bagaimanakah jika mau disebut pengalaman eksistensial? Cinta yang khas dialami seorang diri, bukan cinta yang dipersepsi oleh “kita” atau banyak orang?

***
Sekarang hari Jumat, belum ada email yang masuk. Maklum, tiap hari Jumat saya jadi orang pertama yang akan membaca tulisannya. Akibatnya, jika Jumat jelang saya bakal menunggu tulisannya via surat elektronik. Kebiasaan ini sudah dimulai dari beberapa pekan silam. Biasanya, jika matahari sudah meninggi di waktu itu pula tulisannya masuk. Kalau sudah begitu saya bakal lega.

Tapi kala sore tulisannya pun belum jua datang. Saya pikir barangkali lepas magrib tulisannya bakal masuk. Barangkali beliau masih kurang enak badan hingga memperlambat mengirim tulisan. Info ini saya dapat kala berkunjung di mukimnya di sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan hari Kamis kemarin.

Dari anaknya yang paling gede, saya dapat kabar kalau beliau kecapean paska dari Bantaeng, kampung halamannya yang sering dikunjunginya akhirakhir ini. “Sakitki Abi kodong, kecapeanki dari Bantaeng,” begitu ucap Aqila kala saya datang bertandang.

Aqila hanya sendiri bersetia dengan tumpukan bukubuku yang dijagainya. Di waktu saya datang nampak wajahnya kelelahan, atau mungkin boring. Tak lama berselang saya menerka wajahnya yang agak kusut itu kalau tidak salah akibat memikirkan tugas akhirnya. Saya tahu itu selang setelah beberapa lama bercerita, Qila telah mengubah perencanaan penulisan penelitiannya. Dulu dia bilang bakal meneliti kecenderungan aktifitas kawula mudamudi yang disebutnya masuk kategori gerakan sosial baru. Kiwari, indikator yang dibilangnya itu adalah tipe aktifivis kampus yang senang mengikuti kegiatankegiatan programatik yang tak mengikat secara total. Aktifitas ini hanya diikat oleh kontrak secara temporal. Contoh kongkritnya dibilangnya adalah anakanak muda yang suka jadi volunteer.

Sekarang malah dia berencana bakal mengorek gerakan literasi di kampung ayahnya, Bantaeng. Penelitiannya diarahkan kepada soal –kalau tidak salah mengapa ada perbedaan minat baca anakanak muda di kota dan desa. Apa kondisi yang menyituasikannya demikian? Apa asbabnya, dan bagaimana hubungannya dengan Boetta Ilmu, komunitas yang digerakkan Ayahnya selama ini? Apakah ada signifikansinya atau tidak?

Pertanyaan pertama saat saya mendengarnya: “mengapa di Bantaeng?” Qila hanya bilang, santai, “ada Abiku bisa jadi informannya nanti.” Mendengarnya saya hanya tertawa.

Saya juga mendengar bahwa ia sedang mengumpukan bahanbahan yang berkaitan dengan perencanaan penelitiaanya. Persiapan ini sering dibilang dengan istilah reading course. Singkatnya, Qila harus banyakbanyak membaca seluruh literatur yang bisa ditemukannya yang berbicara soal seluk beluk dunia literasi.

Selang limabelas menit saya bergegas pulang, membelah punggung aspal panas yang diterpa kuning matahari. Berpacu dengan kuda besi yang meraungraung. Kota adalah kota, terutama di jalan raya waktu adalah waktu. Yang cepat pastilah yang ideal.

Namun, jelang malam tulisan yang ditunggu tak jua datang. Akhirnya, kesimpulan diambil. Masih ada hari Sabtu besok. Yakin dan percaya tulisannya bakal datang. Seperti biasanya, dia bakal menelpon atau sms bertukar kabar kalau tulisannya baru saja dikirim.

***
Menulis di kelas literasi sudah jadi program paten. Jadi bagi kawankawan yang mau terlibat maka harus mengikuti rumus ini. Setiap pekan harus membawa tulisan. Dan, di dalam KLPI setiap tulisan langsung ditakwilkan sebagai karya yang lahir dari seorang tersangka.

Karena ditulis oleh seorang tersangka, tulisannya akhirnya jadi sorotan. Logikanya, setiap omongan tersangka patut dicurigai sebagai cara untuk menutupi kesalahannya. Apalagi kalau seorang tersangka menulis, maka tulisannya pasti adalah pledoi yang dipakainya untuk menutupi dosadosa yang telah diperbuatnya. Karena itulah, di KLPI setiap tulisan mengandung dosa, tak ada tulisan yang bersih dari kesalahan.

Untuk sampai kepada tulisan yang licin, maka di kelas selama ini menggunakan dua tahapan introgatif. Pertama, karya yang dibawa bakal dibacakan (sekaligus dinarasikan), dan kedua adalah momen ktitikal dari setiap mata yang mempelototi tulisan yang disangkakan bersih oleh penulisnya.

Jadi kalau ada kawankawan yang mau ikut KLPI, maka salah berkeyakinan bahwa orangorang yang terlibat di dalamnya adalah orangorang bersih secara literatif. Justru, yang berkecimpung di dalamnya adalah tersangkatersangka yang ikut di mahkamah literasi dalam rangka membersihkan jarijarinya dari kesalahan di saat menulis. Dengan kata lain, orangorang di KLPI adalah orangorang yang banyak dosa literasinya, mulai dari EYD sampai pola gagasannya.

Kalau sudah begitu, penolakan kawankawan yang kadung menampik ikut terlibat di KLPI bisa dibilang orangorang yang mendaku telah bersih jarinya dari dosa literasi. Atau orangorang yang tak mau dihakimi tulisannya di hadapan majelis hukum literasi KLPI. Kalau begitu, sudah sampai di mana kemaksuman literatif orangorang yang menampik terlibat?

***

Ari membawa tulisan yang lumayan unik. Karya tulisnya mau dia tujukan kepada Rektor terpilih UNM. Agak tepat tulisan ini kalau disebut surat terbuka, walaupun dia memberi judul dengan mengikutkan kata catatan di dalamnya. Seperti biasa, tulisannya penuh nuansa kritik soal pendidikan.

Isu pendidikan adalah tema yang konsisten dibetot Ari. Di tulisannya kali ini dia banyak menyampir mulai dari tukang sapu kampus sampai penyelenggaraan pendidikan di UNM. Walaupun itu ditulisnya di bawah bayangbayang sebagai seorang mahasiswa UNM, tulisannya itu sekaligus bisa jadi cermin buat keadaan kampuskampus lain saat ini. Artinya esai Ari itu bergerak dari subjetivitasnya sebagai mahasiswa UNM menjadi refleksi atas keadaan objektif kampuskampus masa kiwari.

Ari bilang tulisannya ini bakal ia lombakan. Profesi, UKM Pers UNM memang saya dengar sedang membuat lomba membikin surat buat rektor barunya. Walaupun niatannya dimulai dengan pragmatisme literatif, tulisannya itu memang berangkat dari keresahannya yang hidup total di dalam lingkungan kampus.

Tulisan Ari memang mirip surat, maka pasca ia membacanya ada saran kalau lebih tepat judul tulisannya diubah jadi “Surat Terbuka Buat Rektor.” Pertimbangan ini diambil untuk mengikuti trend esai yang berkembang saat ini.Apalagi Muhiddin M. Dahlan bilang dalam bukunya Inilah Esai, esai itu seperti surat. Karena itulah tulisan yang memang mirip surat itu diberi judul eksplisit saja: Surat Terbuka Buat Rektor.

Tak tahu apakah judul karya literatifnya sudah dibuat judul baru. Soalnya Ari bilang bakal dia kirim malam harinya, batas waktu pengiriman kalau mau ikut lomba. Mudahmudahan tulisannya dapat satu posisi di situ. Ini sebagai tanda bahwa KLPI punya dampak serius dengan karyakarya yang teruji di mata publik.

***

Saya datang bersamaan hujan yang pecah pasca mendung menggelantung. Kala, buletin yang sedari Sabtu kemarin dikerjakan sudah diambil alih Hajir untuk digandakan. Makanya, saya berani menembus pecahan hujan. Tak ada Kala yang dirisaukan karena basah hujan.

Sekira lima menit menembus tirai hujan bukan soal buat KLPI. Keyakinan ini sama di mata kawankawan, akhir pekan adalah hari khusus buat kelas menulis PI.

Setiba di lokasi sudah ada beberapa yang lebih awal datang. Sulhan Yusuf, pimpinan Paradigma Institute dengan kaos oblong putih khasnya duduk diapit Asran Salam dan Muhajir tepat di sampingnya. Nampaknya mereka sedang mengobrolkan sesuatu. Saya yang baru saja tiba hanya duduk di atas jok motor mengeringkan baju yang kadung basah.

Nampaknya di hari yang sama sudah digelar sebelumnya Kelas Parenting. Itulah sebabnya ada Muchniart datang bersama dua orang lainnya, Nasrah dan Retno Sari. Mereka sibuk membolak balik buku dari pajangan yang ada di rakrak panjang TB Paradigma. Sedang di belakang mereka, Muchniart sedang mengobrolkan sesuatu dengan Mauliah Mulkin, orang yang menginisiasikan kelas parenting selama ini.

Tak lama berselang entah siapa yang menggiring kawankawan masuk di ruangan belakang tempat kelas sering dilaksanakan. Nampaknya, di dalam sudah ada Hajrah yang duduk memegang Kala. Raut mukanya agak lesu. Ternyata dia masih sakit dan baru saja datang dari Bulukumba. Tidak seperti biasa, Hajrah yang kerap bikin forum jadi ramai kali ini hanya lebih banyak diam. Barangkali akibat sakit yang dideritanya. Dia lebih banyak memerhatikan yang lain bercerita.

Seperti janjinya minggu lalu, Hajrah datang dengan membawa langsat. Sekantung plastik penuh dibawanya beserta beberapa biji rambutan. Saya yang baru saja datang tak banyak pikir langsung mengambil beberapa biji. Satu biji, dua biji, tiga biji dan seterusnya…
Tak lama saya memanggil Andang dan Sakman masuk ke dalam kelas. Dua orang ini datang berboncengan bersama saya dari awal. Andang, yang beberapa hari lalu datang dari Majene akan saya antar pulang kembali ke tempat penyewaan mobil sebelum jam tujuh nanti.

Berselang beberapa menit forum bersiap dimulai. Jam sudah hampir pukul empat sore. Hajir didaulat jadi pimpinan forum. Dia mengucap beberapa kata, tanda kelas di mulai. Sementara di luar kelas dikepung hujan. Tik tik tik, begitu bunyinya.