Arsip Kategori: Unjuk Rasa

Tengkiyu  Profesor, Tarimakasi Profesor.

 

“Bukan saja fisik yang berubah, tapi mindset ikut berubah.” (Nurdin Abdullah)

“Penting untuk menang, tapi jauh lebih penting, bangkit dari kekalahan.” (Arsene Wenger)

Selaku anak negeri, tanah tumpah darah saya di Kabupaten Bantaeng, dan penikmat permainan sepak bola. Saya membajak nafkah di kota Makassar, waima akhir pekan saya, nyaris selalu  tunai di tanah kelahiran. Saya  telah jatuh pikir dan taut hati pada dua orang profesor.  Setidaknya, sepuluh tahun terakhir ini.  Bahkan, bisa lebih jauh ke belakang.

Satu professor berlatar belakang akademik, Nurdin Abdullah, satunya lagi berlapik sepak bola, Arsene Wenger.  Jika Nurdin Abdullah mendapatkan lewat jalur formal, maka Arsene Wenger meraihnya melalui non-formal.  Dua profesor ini, punya kesamaan, yakni sudah meninggalkan posisi lamanya, menuju posisi baru.

Nurdin Abdullah, kelahiran Kota Pare-Pare, 7 Februari 1963. Masih merupakan keturunan keluarga raja Kerajaan Bantaeng.  Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Jepang. Dosen di Universitas Hasanuddin. Tahun 2008, mencalonkan diri menjadi Bupati Bantaeng. Masyarakat Bantaeng memilihnya.  Karena dianggap berhasil, maka terpilih kembali pada periode berikutnya. Memimpin Bantaeng dua perode.

Arsene Wenger, lelaki berkebangsaan Perancis, lahir di Strasbourg, 22 Oktober 1949. Pernah menjadi pesepakbola, meski lebih cemerlang ketika menjadi pelatih. Pernah menukangi beberapa klub, sebelum Arsenal. Nagoya Grampus Eight, salah satunya. Jadi, Nurdin Abdullah dan Arsene Wenger, kesamaannya, berkiprah di Jepang. Nurdin sekolah, Wenger melatih.

Nurdin Abdullah, baru saja dilantik menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, setelah ia menjadi Bupati Bantaeng sejumlah dua periode, 2008-2013 dan 2013-2018. Sementara Arsene Wnger, sehabis menukangi klub sepak bola Arsenal, selama  22 tahun, 1996-2018 kini, di tempat barunya , sementara masih “semedi”. Belum menerima tawaran klub maupun negara. Walaupun, tidak sedikit lamaran yang ditujukan padanya.  Pengganti Nurdin Abdullah, terpilihlah Ilham Azikin.  Pun di Arsenal, Arsene Wenger diganti oleh Unai Emery

Keterpilihan Nurdin Abdullah menjadi gubernur, tidak lepas dari torehan prestasi, selama menjabat bupati di Bantaeng. Sederet prestasi, berupa penghargaan yang ia terima. Jumlahnya puluhan tanda prestasi. Tahun 2009, 5. Tahun 2010, 14. Tahun 2011, 14. Tahun 2012, 6. Tahun 2013, 8. Tahun 2014, 19. Tahun 2015, 13. Tahun 2016, 12. Dan, tahun 2017, 17.  Sekotah penghargaan itu, menemukan bentuk mutakhirnya , tersimpai pada tagline kampanyenya, Profesor Andalan, di ajang pemilihan gubernur.

Begitupun Arsene Wenger. Selama menukangi Arsenal, sejumlah trofi dipersembahkan.  Piala Liga Primer (3), 1997-1998, 2001-2001, dan 2003-2004. Piala FA (7), 1997-1998, 2001-2002, 2004-2005, 2013-2014, 2014-2015,dan 2016-2017. Piala Community FA (7), 1998, 1999, 2002,2003,2004,2014, dan 2015. Karena kepanditannya meracik pemain Arsenal, dengan tampilan permainan atraktif, sepak bola indah dan menyerang, maka julukan teranyar yang didapukkan padanya, Le Profesor. Maklum, ia berkebangsaan Perancis.

Profesor Andalan, Nurdin Abdullah  menabalkan diri  pada sebundel sertifikat penghargaan.  Buah dari Bantaeng bukan saja berubah secara fisik, tapi mindset warganya ikut berubah.  Le Profesor, Arsene Wenger mengukuhkan diri pada sederet piala liga.  Hasil dari tertanam kuatnya  slogan di Arsenal, pentingnya memenangkan permainan,  waima lebih penting lagi bangkit dari kekalahan.

Capaian yang ditunjukkan oleh Nurdin Abdullah, pastilah terpahat pada pikiran warga Bantaeng. Prestasi yang ditorehkan Arsene Wenger, tentulah terukir di ingatan klub Arsenal. Jujur saya nyatakan, kedua profesor ini, sangat identik dengan tempat yang ditinggalkannya.  Memikirkan Bantaeng, tertujulah pikiran pada Nurdin Abdullah. Pun, demikian dengan  Arsenal. Mengingat Arsenal, ingatan terpatri pada Arsene Wenger.

Karenanya, dengan kondisi kejiwaan warga Bantaeng dan fans Arsenal, bisa saja menyulitkan para penggantinya. Padahal, tidak mestilah begitu. Bupati baru, Ilham Azikin,  tentulah punya kapasitas yang bisa diandalkan untuk menjayakan Bantaeng. Seperti janjinya sebelum terpilih, “Meneruskan Kejayaan Bantaeng.”  Demikian pula, juru taktik baru Arsenal, Unai Emery, memiliki kemampuan buat menukangi Arsenal. Setiap pelatih, punya racikan sendiri dalam menghadapi setiap pertandingan.

Sebagai warga yang baik, berilah kesempatan pada bupati baru, guna merumuskan kebijakannya. Menyusun barisan timnya, buat menyukseskan janji programnya. Satu keniscayaan, merombak tim yang ditinggalkan oleh bupati lama. Mutasi atau pergeseran kedudukan dari sumber daya manusia, selakon pelaksana amanah . Perpindahan jabatan di jajaran pemda, bukanlah suatu kesalahan.  Sebab, antara program yang dijanjikan kepada warga, dengan kemampuan sumber daya manusia yang akan mengelolanya, mestilah pas. Ibarat mur dan baut.

Serupa pula dengan fans fanatik Arsenal.  Pelatih baru dengan keputusannya, patut dihargai. Ada pemain lama yang dipertahankan. Ada pemain yang memilih pindah, atau dijual ke klub lain. Ada pemain baru yang didatangkan. Sekotahnya, bertujuan agar tercipta satu tim kesebelasan, yang bisa mewujudkan kemenangan pada setiap perlagaan.

Jadi, dalam pemerintahan dan kesebelesan yang baru, otoritas bupati dan pelatih menjadi kebijakan terdepan.  Dengan asumsi  teranyar, demi kebajikan bersama. Kejayaan Kabupaten Bantaeng  dan kemenangan klub Arsenal.

Bagi saya, sebagai warga dan selaku penikmat sepak bola, sepatutnya berterimakasih pada dua profesor itu. Ber-tengkiyu dan ber-tarimakasi padanya.  Tengkiyu Profesor Andalan, Nurdin Abdullah, namamu terpahat pada pikiran  warga Bantaeng. Tarimakasi Le Profesor, Arsene Wenger, sosokmu terukir di ingatan fans klub Arsenal. Dan, welkam bupati  Bantaeng, Ilham Azikin, pahatan harapan warga menantimu.  Maeki, pelatih  Atsenal, Unai Emery, ukiran asa fans menunggumu.

 

Ilustrasi:  tafaqquhstreaming.com

Ketika Partai Politik Menjadi Klub Sepak Bola

 

“Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, aku mendapatkannya dari sepak bola.”  [Albert Camus]

Lagi dan lagi, tentang politik berselaras sepak bola. Tapi bukan politik sepak bola, melainkan sepak bola politik. Persisnya, kesamaan antara partai politik dan klub sepak bola. Saya amat suka menggunakan analogi sepak bola, buat memahami dinamika politik. Kenapa? Karena keduanya adalah sebentuk permainan. Dan, permainan itu sendiri, tiada lain adalah aktivitas paling purba bagi manusia.

Waima saya bukanlah pengamat politik dan komentator sepak bola profesional, melainkan seorang yang suka bermain, maka soal politik dan sepak bola, saya simpaikan saja dalam tali permainan.

Peristiwa politik paling kiwari, tersimpul pada sibuknya partai politik mendaftarkan bakal calon anggota legislatifnya, di berbagai ajang tingkatan. Dari Kabupaten-Kota, provinsi, hingga pusat. Pun, telah tiba pula pada lahirnya perikatan koalisi partai, guna menentukan calon presiden dan wakilnya.

Di belahan permainan lain, perlagaan sepak bola, tepatnya, perguliran liga di berbagai negara, khususnya daratan Eropa, juga sudah ditiup pluitnya. Khususnya Liga Primer Inggris. Jendela transfer pemain, memasuki injuri time. Sekotah klub memaksimalkan timnya. Ada pemain yang bertahan, tidak sedikit yang dijual, dan banyak pula pemain yang dibeli oleh klub. Intinya, bagi sebuah klub sepak bola, tatkala memasuki musim kompetisi, bagaimana mendapatkan pelatih, manejer, ofisial, pemain, dan kesetiaan supporter.

Sejak partai politik mendaftarkan calegnya, ditambah lagi dengan koalisi partai politik mengusung calon presiden dan wakilnya, jagat perpolitikan tanah air benar-benar dinamis. Beberapa nama caleg pindah partai, dan nama-nama caleg yang masih setia pada partainya. Ada yang pergi, ada yang datang, ada pula yang tinggal. Persis sama dengan klub-klub sepak bola di daratan Eropa, yang sibuk menjual, membeli dan mempertahankan pemain.

Pertanyaannya, mengapa sedemikian persamaannya? Sebab, partai politik di kekinian dan kedisinian tak jelas lagi ideologi politiknya. Lebih mengarah kepada kepentingan pragmatis, agar partai lolos ambang batas parlemtary threshold. Sewajahlah dengan klub sepak bola profesional, yang ingin tetap bermain di liga primer masing-masing. Jangan sampai terdegradasi.

Karenanya, sebagai suatu permainan politik dan sepak bola, tidak perlulah terlalu serius dalam menyikapi perlagaan ini. Sebab, partai politik dan klub sepak bola, punya satu tujuan, bagaimana tetap bisa bermain. Partai-partai besar, semirip klub-klub kaya, dengan  segala kekayaan yang dimilikinya, tentulah lebih leluasa menjual, membeli, dan mempertahankan calegnya. Intinya, ada proses transaksi di dalamnya. Laku transaksional, berlaku di permainan politik, seperti halnya di perlagaan sepak bola.

Jadi, tak usahlah heran. Apatah lagi baper.Kaget boleh. Politik kita adalah politik permainan, yang tertuang dalam permainan politik. Dalam konteks ini, perpindahan pemain, atau bergersernya kekuatan koalisi partai bukanlah soal yang harus ditangisi berlebihan. Sebagai partasipan dari permainan, kita boleh terharu, sedih, dan bahagia menyaksikan drama permainan politik dan sepak bola. Karena, kesemuanya adalah sari diri selaku manusia yang kebutuhan dasarnya perlu bermain.

Coba bayamgkan saja, betapa eloknya sebuah drama permainan. Musim kompetisi politik dan sepak bola pada periode ini, seorang pemain harus bermain berhadapan dengan mantan partai atau klubnya. Musim berikutnya, boleh jadi pindah partai atau klub lagi. Demikian juga dengan peta koalisi, musim politik kali ini bersama dalam satu barisan, musim berikutnya bercerai. Lalu mengapa harus begitu serius memandang perlagaan raga itu, sehingga merusak ketenangan jiwa?

Bolehlah dicatat seadanya saja. Semisal dalam satu partai atau klub, beragam latar belakang pemainnya. Agama, suku, ras, dan budayanya. Tak elok mengelu-elukan para pemain itu berdasarkan keragaman itu. Sebab, pada setiap partai atau klub, pastilah ada kesamaan agamanya, rasnya, sukunya, dan budayanya di partai atau klub lain. Mungkin akan lebih elok kita memandang partai dan klub itu, memainkan timnya sehingga bisa jadi juara.

Sebagai anak bangsa yang menekuni gerakan literasi, pegiat literasi, saya terkadang agak risau melihat respon terhadap permainan politik yang sama dengan perlagaan sepak bola. Ketika partai politik menjadi klub sepak bola. Manakala umpatan, cacian, fitnah dijadikan lapik dalam pemenangan permainan.Terjadi perkelahian antar pemain, pelatih yang mengumpat pelatih lain, supporter tawuran. Wasit dicaci, pemain dimaki.  Apa yang terjadi? Permaian sepak bola itu dikenang sebagai permainan yang memalukan. Perhelatan politik dicatat sebagai perseteruan keburukan.

Para caleg dan capres-wapres sudah didaftarkan. Itu maksudnya, sama saja jendela transfer pemain di sepak bola telah ditutup. Segenap partai politik atawa klub sepak bola sisa bertanding. Pada setiap kompetisi, selalu ada drama. Permainan politik dan perlagaan sepak bola punya aturan mainnya. Nikmatilah pertandingan ini dalam koridor aturan main itu. Sebab, bila tidak, akan ada sangsi pertandingan. Lebih dari itu, sangsi yang lebih berat adalah, jika pertandingan ini ditabalkan sebagai pertandingan yang tidak sportif. Meskipun ada pemenangnya.

Benarlah nubuat Albert Camus, seorang penulis-filsuf Perancis kelahiran Aljazair, telah saya nukilkan di awal tulisan ini. Saya mengutipnya, sebab untuk memudahkan mengalami permainan, sebagai tindakan paling purba sebagai manusia. Dalam sepak bola, yang esensinya adalah permainan untuk menang, perkara moralitas dan potret sebagai manusia, lebih mudah dipahami. Sekali lagi dan lagi, manakala partai politik atau klub sepak bola, terlibat kompetisi, pasti bermain. Keduanya adalah permainan, yang mewadahi aktivitas paling purba dari manusia dan kemanusiaannya.

Daeng Jokowi, Selamat Datang di Kota Koko

 

Daeng Jokowi, izinkan saya menyapamu dengan panggilan Daeng. Sebab, salah satu julukan Kota Makassar adalah Kota Daeng.

Sejak beberapa hari ini, jelang pucuk Juli 2018, berbagai elemen warga Kota Makassar, menyambutmu dengan ucapan selamat datang. Sebagai missal saja, sepanjang Jalan Andi Pangerang Pettarani, elemen dari Sahabat Rakyat Indonesia, menjejerkan banner Selamat Datang Bapak Presiden RI. Pun, ada elemen masyarakat yang memasang spanduk dan baliho ajakan untuk gerak jalan sehat. Semoga saja masyarakat yang ikut jalan sehat, jiwa dan raganya makin kamil.

Soal sapaan Daeng, saya perlu dudukkan dulu porsinya. Biar  esai-surat saya ini, tidak dianggap gegabah dan nyeleneh. Bahwasanya, bagi masyarakat Makassar, kata Daeng ini, bisa berdimensi panggilan dan gelar. Panggilan Daeng, berkonotasi panggilan seorang yang lebih muda pada yang lebih tua. Sementara gelar Daeng, merujuk pada status sosial yang disematkan pada seseorang. Tepatnya, gelar semacam Paddaengang, Biasanya, paddaengang ini diletakkan pada sesudah nama asli. Dan, paddaengang ini menggambarkan harapan, penyerupaan, dan impian.

Jadi, saya menyapa Daeng Jokowi, itu semata sapaan akrab, dari yang lebih muda usianya, pada yang lebih tua. Memang saya dan Daeng Jokowi, sama-sama sudah berumur lebih setentgah abad, cuma, saya baru 51, sementara Daeng sudah 57 tahun. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada elemen masyarakat yang ingin memberikan gelar paddaengang pada Daeng.

***

Daeng Jokowi, perkenankan saya menyambutmu dengan kerinduan yang tertitip pada anging mammiri. Selamat datang di Kota Anging Mammiri. Karena, Kota Makassar dikenal pula dengan gelaran itu.

Bila Kota Daeng mengalamatkan pada sebentuk pola kemasyarakatan masyarakat Kota Makassar, maka Kota Anging Mammiri, mengarahkan pada suasana kebudayaan Makassar. Khususnya dalam berkesenian. Bukankah  “Anging Mammiri” adalah salah satu lagu daerah yang amat populer? Lagu karangan Bora Daeng Irate ini, menggambarkan kerinduan yang amat khusyuk.

Lewat kelembutan anging mammiri, elemen-elemen masyarakat Makassar yang merindukan Daeng, telah mereka nubuatkan, yang patrinya tertulis pada ucapan selamat dating di berbagai banner, spanduk, dan baliho. Saya berharap, hembusan angin cukup bersahabat, agar jangan sampai merobek, menerbangkan, atau menumbangkan, aneka pernyataan sambutan hangat itu. Pun, ada harapan yang mengada, moga Daeng, pun, merindukan Kota Anging Mammiri.

***

Daeng Jokowi, permaklumkan saya mengenalkan satu julukan lagi bagi Kota Makassar. Selamat datang di Kota Koko. Maksudnya, Kota Kolom Kosong, yang lebih populer dengan sebutan kotak kosong.

Kota Koko, persisnya, Kota Kolom Kosong, merupakan capaian baru bagi Kota Makassar dalam perhelatan politik. Berdemokrasi. Perkaranya, tatkala Pilkada Serentak 2018, di mana Kota Makassar ikut pemilu untuk memilih wali kota dan wakilnya, ternyata warga Makassar lebih banyak memilih kolom kosong. Saya menganggap ini semacam referendum yang lunak, buat menyatakan pilihan, apa anda setuju atau tidak setuju pada pasangan calon wali kota dan wakilnya, Appi-Cicu?

Berlapikkan pada kemenangan Koko, atau lebih banyak masyarakat tidak setuju pada pasangan Appi-Cicu, bagi saya, ini semacam interupsi yang serius bagi perpolitikan kita. Pasalnya, keunggulan Koko ini, hingga pada tahapan penetapan oleh KPU, masih menjadi perbincangan yang hangat. Mungkin memang bukan yang pertamaka kali kemenangan Koko di Kota Makassar, tetapi dari segi dampak politiknya, menyebabkan pamor Koko melangit. Bayangkan saja, pasangan Appi-Cicu, didukung oleh koalisi sekotah partai politik. Pun, dihidu oleh jejaring konglomerasi.

Warga Makassar yang membariskan dirinya pada pilihan Koko, telah memahat history, sekaligus melukis story. History atau sejarah, maupun story atawa cerita, dua-duanya merupakan alat pewaris ingatan pada peristiwa, guna melawan lupa. Pada sejarah dan cerita, masyarakat itu akan setia pada peristiwa. Jika sejarah merumuskannya dalam bingkai ilmu pengetahuan, maka cerita mengawetkannya lewat karya sastra. Satu bekerja di bidang non-fiksi, satunya lagi bergerak di bagian fiksi.

Pahatan sejarah dan lukisan cerita Koko, akan selalu menguar ke permukaan. Manakala anak bangsa ini melakukan perlagaan politik, mulai dari pemilihan kepala desa, bupati-wali kota, gubernur, dan presiden, yang memungkinkan hadirnya Koko sebagai kontestan pemilu, maka ingatan akan sejarah dan cerita pada Koko yang menang di Kota Makassar, bakal hangat lagi. Pastilah menjadi rujukan perbalahan politik. Jadinya, pasangan yang dikalahkan oleh Koko di Kota Makassar itu, penderitaannya tiada berakhir. Dari generasi ke generasi akan didaur ulang sejarah dan ceritanya. Kecuali, sistem politik berubah. Tapi itu pun akan selalu menjadi pelajaran di sekolah, dan cerita legendaris di masyarakat.

***

Daeng Jokowi, sesarinya, saya sudah menyapamu dengan ucapan selamat datang dalam bentuk three in one, maujud dalam satu paket. Sosial, budaya, dan politik. Kota Daeng, Kota Anging Mammiri, dan Kota Koko.

Dari paket itu, saya ingin menebalkan cetak hurufnya pada julukan Kota Koko. Mengapa? Tahun ini, dan tahun depan nanti, adalah tahun politik. Kunjungan Daeng Jokowi ke Kota Makassar kali ini, pun tidak bisa dilepaskan dari terungku aura dan aroma politik. Di era kiwari ini, jalan sehat pun merupakan bagian dari mobilisasi politik. Itu sah saja. Boleh setuju, boleh tidak. Dan, bagi saya, bukan itu poinnya. Tapi, masalahnya adalah, tatkala Daeng Jokowi harus berhadapan dengan Koko di Pilpres 2019. Waima, kekhawatiran saya berlebihan. Sebab, alamat kearah itu nihil.  Gerakan #Gantipresiden, karena #Diasibukkerja, masih berkontestasi.

Daeng Jokowi, tak elok melawan Koko. Ibarat petinju, ia hanya melawan angin. Mau dibilang ada, tak nampak. Mau dikata tiada, jejaknya tampak. Bertinju melawan angin, bak memukul diri sendiri. Kecuali, anginnya, serupa anging mammiri, yang hembusannya mengantar pada kerinduan. Yah, kerinduan pada seorang presiden berkarakter Daeng.

 

Ilustrasi: Nabila Azzahra.

Anak, Gawai, dan Literasi

 

Akhir pekan yang gundah. Apa pasalnya? Tatkala saya melakukan perjalanan ke kampung halaman, Kabupaten Bantaeng, guna berakhir pekan, tetiba saja , ada rasa yang kurang nyaman. Waima, segera saja, saya sanggup mengatasinya, sebelum menjalari sekujur jiwa.  Tempat duduk saya diambil alih oleh penumpang lain. Biasanya, di oto angkutan umum langganan saya, sudah menjadi konvensi, tempat duduk saya di depan, samping sopir.  Tapi kali ini, seorang ibu paru baya  dengan anaknya, sekira dua tahunan umurnya, ngotot untuk di depan.

Mengalahlah saya. Toleransi tingkat tinggi penting untuk dikedepankan. Apatah lagi, karena adanya anak kecil itu.  Masalahnya, saya yang duduk di kursi deretan kedua, kurang nyaman, akibat ulah si anak. Ia amat rewel. Menangis sejadinya, kadang meronta-ronta. Ada permintaannya yang belum dipenuhi oleh  sang ibu. Anak itu merengek, dengan kata-kata kurang jelas, cadel, meminta , “Ape…ape..ape..”. Saya menduga , anak itu minta  buah apel. Sebab, di perjalanan, ada penjual buah di pinggir jalan. Ternyata, yang dia inginkan adalah hape. Satu perangkat alat komunikasi cerdasPonsel cerdas, smart phone, gadget, atau gawai.

Anak itu sempat tertdur sejenak. Mungkin capek karena menangis plus meronta. Begitu melek matanya, ia berulah lagi. Mirip dengan lagu yang diputar, lalu di-pause, dan nyambung lagi lagunya. Tembang kenangan dari flashdisc saya, yang diputar oleh sopir, tak dapat saya resapi. Lagu Koes Plus, nyaris seperti kaset yang tergulung pitanya, atau disc yang tergores permukaannya. Tangisan dan rengekan anak itu, menenggelamkan suara duet maut, Yon dan Yok,  ketika menembangkan lagu “Tangis Peri”. Ketika ibunya memberikan hape yang diminta, ademlah suasana. Anak itu sibuk meungutak-atik gawai. Saya pun tenggelam dalam khusuknya, tembang kenangan.

Pada kedalaman penghayatan perjalanan, alunan lagu lawas mengantarkan ingatan pada anak bungsu saya. Tahun ini lulus SD. Kini, barulah dua pekan bersekolah di SMP.  Walau, tidak separah dengan anak kecil yang saya ceritakan di atas, nampaknya, kecanduan pada gawai juga sudah mulai melilitinya. Mirip ular piton yang meliliti seekor kambing. Saya memisalkannya demikian, sebab, ia juga masih bisa bergerak, berusaha terlepas dari lilitan. Pun, kami kedua orangtaunya, ditambah tiga orang kakaknya, berjuang secara bersama-sama membebaskannya.

Jalan juang seisi mukim, rupanya selaras dengan apa yang ditabalkan oleh seorang psikolog dari Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, bahwa, “Ketidaktegasan orangtua dalam membatasi waktu  anak-anak bermain gawai, terutama gim daring, merupakan salah satu faktor anak kecanduan gawai. Faktor lain, kurangnya literasi orangtua pada teknologi, serta orangtua kurang percaya diri memberikan aturan karena takut anak akan mengamuk ketika gawainya diambil.”

Terungku gawai ini pada anak-anak, tidak main-main jerujinya. Jajak pendapat harian Kompas,  18-19 Juli 2018,tentang permisifnya gawai terhadap anak,  menunjukkan hasil, mayoritas responden, 83,1% berpendapat anak berusia 13 tahun ke atas sudah bisa diizinkan menggunakan gawai yang tersambung internet.  15,8 % responden mengizinkan anak di bawah usia 13 tahun. Sikap  permisif ini sejalan dengan  Kementrian Komunikasi dan Informatika pada awal 2018, bahwa penggunaan internet oleh individu sebanyak 65,34 % berusia 9-19 tahun. Umumnya anak-anak menggunakan internet untuk mengakses media social, juga Youtube dan gim daring.”

Lebih jauh, jajak pendapat itu menggambarkan, meski mengizinkan anak-anak tersambung dengan internet, 49 % responden menyadari anak-anak perlu didampingi ketika mengakses konten internet. Menurut responden, konten internet yang paling berdampak buruk terhadap anak, pornografi (62,3 %). Disusul dengan konten aksi kekerasan (14,2%), dan gaya hidup konsumtif (8,5 %), Kompas, 24 Juli 2018.

Berlapik pada jajak pendapat di atas, maka gerakan pembebasan dari terungku gawai pada anak-anak, mestilah menjadi keprihatinan bersama. Tekad yang kuat dari para orang tua, dan lingkungan rumah yang harus disiplin dalam mengatur penggunaan gawai. Pun, pihak sekolah  tidak kalah pentingnya untuk ikut mendukung gerakan bebas gawai di wilayah sekolah. Pengurus sekolah, harus menegakkan aturan pemakaian gawai, hanya digunakan untuk mendukumg proses belajar dan pembelajaran.

Sebagai tips sederhana yang kami lakukan di mukim, terhadap si bungsu, tetap boleh bermain gawai. Dengan catatan ada kesepakatan waktu yang dipatuhi. Konsesi dari pembolehan itu, ia harus membayarnya dengan kebiasaan membaca.Menumbuhkan tradisi literasi pada anak. Sebab, ada keyakinan saya, hingga kini masih saya anut, bahwa kecanduan pada sesuatu, hanya bisa dilawan dengan kecanduan yang lain.Jika gawai seperti candu, maka literasi haruslah menjadi morphin.

Dan, syukurnya lagi, sebab sekolahnya, tidak membolehkan membawa gawai. Soal kepulangan dari sekolah, atau ada urusan antara sekolah dan orangtua, pihak sekolah menyediakan sarana komunikasinya. Bahkan, yang menggembirakan, karena pihak sekolah, membagikan gambar-gambar  dan informasi kegiatannya di sekolah, kepada seluruh orangtua siswa yang tergabung dalam sebuah group medsos.

Tali simpul sebagai simpai simpulan, saya ingin menegaskan, idealnya, perangkat gawai digunakan untuk penguat literasi. Atau sebaliknya, tradisi literasi mengantar setiap orang, agar menggunakan gawai secara tepat. Rumah, sekolah, dan masyarakat, perlu bersinergi dalam gerakan penggunaan gawai secara sehat. Dan, dukungan pada gerakan literasi, jangan sampai telat.  Sebab, gerakan literasi, masih merupakan garda depan dalam membijaki pemakaian gawai pada anak-anak.

Sepulang dari kampung halaman, ada urita menarik, yang saya dapatkan dari media daring. Bahwasanya, Kabupaten Bantaeng meraih predikat Kabupaten Layak Anak (KLA). Juga, salah satu sekolahnya, SMK Negeri 1 Bantaeng, mendapat penghargaan Sekolah Layak Anak (SKL). Pialanya telah diberikan di Kota Surabaya, sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2018. Pun, ada satu perpustakaan desa, Desa Bonto Jai, masuk  lima besar  perpustakaan desa, sebagai Perpustakaan terbaik di Sul-Sel, oleh Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebagai anak negeri yang mukim di Kota Makassar, tapi punya kampung halaman bernama Kabupaten Bantaeng, yang senantiasa memilih berakhir pecan di sana, tentulah amat membanggakan predikat dan penghargaan  itu. Meski ada resah yang hadir.penguat gundah bin resah yang sudah mengada sebelumnya. Perkaranya, tanpa sengaja, saya bersua kembali dengan ibu paru baya itu, menggandeng anaknya, bersama suaminya, di areal pertokoan, tepatnya kawasan Pecinan Bantaeng. Rupanya, mereka warga Bantaeng. Sang anak riang gembira, bersama orangtuanya, dengan gawai di tangan si anak.

Les Bleus: Ayam Jantan itu, Tetap Indah Bulunya

 

“Harmoni adalah jiwa dari kesebelasan Perancis”  (Didier Deschamps}

Sekali waktu, seorang kisanak menyata di mukim saya. Hari masih pagi. Saat saya memberi makan pada beberapa ekor ayam peliharaan. Seekor jantan dan betinanya. Pun beberapa ekor anaknya. Bertanyalah kisanak, “Apakah saya penyuka ayam?”  “Pastilah”, jawab saya. Saya memang memelihara ayam kampung, karena dua hal. Bulunya dan dagingnya. Saya merasa memandang keindahan wajah Tuhan pada mozaik warna-warni bulu ayam.  Sementara, dagingnya, alamak, nikmat sekali. Jadi, bagi saya, ayam kampung, amat elok dipandang, sangat nikmat disantap.

Perkara suka pada ayam kampung, terutama ayam jantan, sependek ingatan saya, sudah muncul sejak kanak-kanak. Pasalnya, di rumah saya, warga mukim memelihara beberapa ekor ayam kampung. Tapi kelihatannya, bukan itu saja. Belakangan, tatkala mulai menjadi anak sekolahan, oleh guru diperkenalkanlah nama seorang pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa, yang bergelar Ayam Jantan dari Timur. Dan,namanya kemudian diabadikan pada nama universitas terdepan di kawasan timur Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas)

Ketika mulai membaca karya sastra, bersualah saya dengan buku La Galaigo. Kisah yang diceritakan dalam buku itu, tokoh Sawerigading, merupakan sosok yang suka menyabung ayam. Tentulah ayam jantan sebagai ayam aduan. Sebagai orang yang lahir dalam budaya Bugis-Makassar, soal mengadu ayam pernah saya lakukan di masa silam. Kini, kebiasaan itu tidak lagi. Dulu, memelihara ayam Bangkok untuk disabung, sekarang beternak ayam mangkok buat lambung.

***

Perlagaan Piala Dunia, 14 Juni-15 Juli  2018 di Rusia, usai sudah.  Timnas Perancis  menjadi juara. Sejak lama, saya sudah mendukung Perancis. Apatah lagi, ketika memenangkan Piala Dunia 1998 di Perancis. Waima Perancis tidak juara, bahkan tersingkir lebih awal di babak penyisihan, seperti yang pernah dialaminya, saya tetap mendukungnya. Cukup fanatik. Terkadang, kalau Perancis ikut Piala Dunia dan Piala Eropa, lalu Perancis tersingkir, saya pun langsung menganggap perhelatan bola itu sudah berakhir.

Latar apa yang serius, sehingga kefanatikan itu hadir? Adakah karena julukan Timnas Perancis salah satunya adalah Ayam Jantan? Selain gelaran lain, Les Bleus, Si Biru? Soal kesamaan pada lema Ayam Jantan, mungkin jawabannya: Ya. Saya penyuka ayam jantan karena bulu dan dagingnya, sementara Perancis bergelar Ayam Jantan.  Akar sejarah julukan ayam jantan bagi Perancis, punya latar jauh di masa lalu.

Saya nukilkan saja penjelasannya yang bersumber dari berbagai situs di media daring. Bahwasanya, Secara historis, ayam jantan adalah sebutan bangsa Romawi, terhadap bangsa Gaulois (salah satu kaum nenek moyang bangsa Perancis), yang mendiami daerah Gaulle, pada masa penjajahan Romawi di wilayah tersebut. Mereka terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Les coqs (bentuk jamak untuk ayam jantan). Alasannya, karena Gaulle dalam bahasa latin (bahasa bangsa Romawi) adalah Galus. Nah, kata Galus jika ditambahkan satu konsonan « l » yaitu menjadi Gallus, dalam bahasa latin artinya ayam jantan.

***

Jadi, salah satu pasal utamanya, saya jatuh hati pada Timnas Perancis, karena julukan Ayam Jantan ini. Seriuskah? Bukankah saya sudah nyatakan, bahwa saya amat takjub pada keindahan bulu ayam? Bagi saya, warna-warni bulu ayam jantan, meruapakan representasi keindahan keragaman.Beragamnya warna pada bulu ayam, menyemburkan harmoni keindahan warna. Jika warna bulu ayam itu seragam, semisal putih saja pada ayam potong, atau warna coklat pada ayam petelur, betapa tidak indahnya. Gunanya ayam itu  cuma satu; dimakan.

Analogi keindahan bulu ayam ini, terpatri pada kesebelasan Timnas Perancis. Dari sekian timnas  Piala Dunia yang berlaga, Perancislah yang paling beragam latar pemainnya. Dari segi warna kulit, ras, agama, asal klub, dan usia, sungguh beragam.  Dari 23 pemain yang dipanggil, 15 diantaranya adalah warga keturunan (Guniea, Kamerun, Aljazair, Maroko, Senegal, Kongo, Mali, Mauritania, Togo, Zaire, dan Nigeria). Ada 7 orang pemain muslim. 17 klub, dan rentang usia pemain antara 19-33. Hebatnya lagi, semua pemain adalah pemain bintang yang lagi moncer bersama klubnya. Karenanya, CIES Football Observatory, mendapuk Timnas Perancis sebagai tim yang paling mahal nilai pemainnya. 1.410 Miliar Euro.  Ini adalah harmoni. Persis harmonisnya keindahan bulu ayam jantan.

Harmoni Timnas Perancis tercermin pula pada warna bendera kebangsaan. Sering disebut Tri Color. Biru, Merah, dan Putih. Sebutan warna bendera ini, Tri Color, kemudian diadaptasi dengan pemahaman baru, khususnya dalam tim sepak bola, menjadi : Black (Hitam), Blanc (Putih), dan Beur (Arab). Sebab, dalam timnas tersebut, unsur warna kulit berdasarkan keturunan, memperkuat Timnas Perancis. Harmoni timnas ini bukan berarti sepi dari kritikan.

Tersebutlah seorang politisi Perancis dari sayap Ultra Nasionalis, Le Pen, sangat tidak respek dengan tim ini. Bahkan, keragaman ini, dijadikan sebagai isu politik, akan kelemahan kebangsaan Perancis. Padahal, realitasnya, justru bergabungnya warga keturunan dalam  Timnas Perancis, kesebelasan ini menjadi lebih kuat, hingga menjadi juara dua kali Piala Dunia dan dua kalii Piala Eropa. Kini, mestinya skuad Perancis  dipahami bukan lagi sebagai tri color, melainkan multi color.

***

Beruntunglah kesebelan Perancis punya pelatih sekaliber Didier Deschamps. Ia berhasil meramu seluruh potensi disharmoni berdasar ras, agama,klub, dan usia, menjadi satu energi kolektif,mewujudlah harmoni. Inilah pula yang ditabalkan oleh Shindunata, seorang penulis, dalam tulisannya di harian Kompas, bahwa disharmoni adalah godaan skuad Perancis. Mereka kaya dengan pemain bintang.

Lebih tegas Shindunata bilang, oleh karena disharmoni mereka bisa kececeran, Deschamps menggunakan kriteria KO bagi pemain yang tak bisa menjaga harmoni. Ia membangun skuad Perancis  dengan tekad energie coolective et qualite individuelle, energi kolektif dan kualitas individual.  Dan, benar saja adanya, energi kolektif, yang ditopang oleh kualitas individual pemain, dalam sebuah harmoni, mengantarkan Perancis pada juara dunia yang kedua kalinya. Pelajaran terpenting, mengolah keragaman sebagai kekayaan, akan menghasilkan keindahan dan kejayaan. Sebaliknya, bila keragaman dipandang sebagai beban, maka kejelekan dan keterpurukan menanti.

Sebagai penyuka ayam jantan, baik untuk dipandangi elok bulunya dan dinikmati dagingnya, maupun sebentuk julukan kesebelasan Perancis, yang juara sepak bola piala dunia, di kekinian dan kedisinian, saya tetap jatuh hati pada ayam jantan. Saya amat terpesona pada para persona skuad Perancis, manakala mencetak bola, lalu seluruh pemain, dengan latar belakang yang berbeda, serupa keragaman, saling tumpuk menumpuk, berpelukan dalam keriangan. Persis indahnya warna-warni bulu ayam. Ah, Ayam Jantan itu tetap indah bulunya.

 

 

 

 

 

Ishak Ngeljaratan dan Gelora Percakapan

“Bung Sulhan yang baik, baca-bacalah tanpa beban.”  (Ishak Ngeljaratan)

Pagi baru saja  bergegas menapak jalan takdirnya. Terik  baskara masih lembut. Waima kilaunya mulai menyilaukan mata. Saya memacu motor, dari mukim di kawasan selatan kota Makassar, menuju bilangan utara. Saya akan melayat pada seorang guru utama, guru bagi banyak insan, milik berbagai kalangan, pak Ishak Ngeljaratan. Beliau wafat 16 Juli 2018, di Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sekira pukul 07.00 wita. Urita meninggalnya, saya peroleh dari berbagai jejaring media sosial. Saat berpulang pada keabadian , saya masih di luar kota. Jadi, esok harinya, baru melayat. Di depan peti jenazah, ada butiran kristal, sebentuk air mata, yang melompat dari kelopak mata, tak tertahan.

Segera saja pecahan-pecahan ingatan pada rumah pak Ishak ini, terpapar. Sekira tiga tahun lalu, saya bertandang ke rumahnya. Menemui beliau, guna satu hajatan, memohon untuk memberikan epilog atas buku saya yang mau diterbitkan, Tutur Jiwa.  Dan, waktu itu beliau, merespons , dan akan membaca dulu naskahnya. Tapi, saat itu juga, beliau sudah memberikan wejangan, pada percakapan yang intim tentang jiwa. Meski beliau tidak jadi memberi epilog pada buku saya, karena seabrek kesibukannya, bukan berarti tidak ada hikmah di baliknya. Saya makin intim berkomunikasi dengan beliau. Lewat fasilitas gadget, kami amat sering bercakap tentang buku itu. Saya kadang malu dan berat hati, sebab, berkali-kali mohon maaf atas belum selesainya epilog itu. Terakhir beliau menyarankan agar diterbitkan saja, tidak perlu lagi menanti epilognya. Apatah lagi, beliau bilang, “Sudah ada prolog dari  Alwy Rachman.”

Bertandang ke rumah beliau, saya tidak intens. Lebih banyak ketemu di luar rumahnya. Terutama di forum-forum percakapan, atawa pas bertemu di suatu tempat yang tidak direncanakan. Seingat saya, pertama kali mengunjungi rumah pak Ishak, saat saya dan beberapa orang sahabat, mengantar pulang beliau, setelah selesai orasi di gedung DPRD Sul-Sel, saat mahasiswa menduduki gedung wakil rakyat itu, pada Reformasi 1998. Beliau sebenarnya ingin pulang sendiri, sebagaimana kebiasaannya. Tapi kami harus menjaga beliau. Soalnya, perkembangan situasi sosial politik tak begitu baik. Kunjungan  saya kali ini, beliau sudah  tenang di keabadian. Wajah beliau amat cerah, secerah surya yang menyinari persada tanpa memilih objek.

Pertemuan pertama dengan pak Ishak, saya sudah lupa persisnya. Ingatan saya hanya tertumbuk pada momen ketika mulai menjajal kehidupan sebagai aktivis gerakan mahasiswa, akhir 80-an. Saya termasuk orang yang penasaran dengan beliau. Pasalnya, ada beberapa senior saya yang berdiskusi, saya hanya menguping, dan yang dibincangkan adalah seputar “berbahayanya” pikiran-pikiran pak  Ishak Ngeljaratan. Bahkan, ada juga senior yang menyarankan untuk tidak terpengaruh dengan pikiran-pikiran beliau. Sebagai anak muda yang tenggelam dalam pergumulan intelektual, tentulah anjuran ini merupakan petunjuk jalan, agar segera merambah di mana rambahan pikiran-pikiran pak Ishak sering diuarkan. Berbagai forum diskusi yang melibatkan pak Ishak selaku pembicara, sering saya sambangi. Pun, mendaras tulisan-tulisannya di media cetak.

Setibanya saya pada usia aktivis mahasiswa, yang memegang peranan penting di organisasi kemahasiswaan, maka salah satu narasumber utama yang sering saya buru, buat dijadikan pembicara. Tentulah tindakan saya ini tak sepi dari kritikan kawan sejawat yang menganggap seorang  pak Ishak dengan pikirannya yang berbahaya. Belakangan, lebih dari itu, kadang saya menjadi teman panelis beliau, di beberapa acara kaum muda mahasiswa sebagai narasumber. Kadang saya merasa tersanjung, karena beliau biasa mengucapkan, bahwa , “Kalau sudah ada Bung Sulhan, sudah cukup. Tidak perlu lagi saya datang.”

Sekali waktu, ada acara pelantikan pengurus organisasi kemahasiswaan ekstra universiter, yang mengundang pak Ishak, juga melibatkan saya sebagai panelis. Beliau lebih duluan tiba di lokasi acara, meski saya juga tidak terlambat. Acara itu bertempat di salah satu gedung Universitas Negeri Makassar. Begitu saya tiba, beliau langsung berkata, “Wah bagaimana ini anak muda, saya lebih duluan tiba. Padahal rumah saya di Tamalanrea, naik pete-pete lagi.” Saya yang disapa dengan ungkapan itu, agak malu juga. Perkaranya, rumah saya cukup dekat dengan tempat acara, pakai motor lagi. Sejak saat itu, setiap ada acara yang saya mau datangi, selalu ingat pak Ishak. Karenanya, seingat saya tidak pernah lagi telat datang.

Masih di acara itu. Sebelum acara dimulai, terjadilah percakapan ringan di selasar gedung. Saya bilang, “Mohon maaf pak Ishak, adik-adik ini mengundang di hari Minggu. Takutnya, mengganggu acara ibadahnya, Pak.” Umpan saya ini langsung disabet oleh beliau, “Bung Sulhan, orang Kristen itu masuk gereja, kalau saya, gereja yang masuk saya.”  Kawan-kawan muda mahasiswa tertawa dengan candaan pak Ishak. Entah apa yang dipahami 0leh candaan itu. Tapi bagi saya, ini sesungguhnya, ungkapan sari dirinya, sebagai seorang yang inklusif dalam memahami agama. Lalu kami lanjut di ruang diskusi. Kala acara seremonial berlangsung, ada percakapan yang menarik bagi saya. Saya berdampingan  dengan beliau sesama panelis. Setengah berbisik pak Ishak bertutur ke saya, mulutnya nyaris menyentuh telinga saya, katanya, “Bung Sulhan, bisakah saya menjadi Moslem, tanpa harus menyatakan diri secara formal sebagai Moslem?”

Bisikan pak Ishak ini, lebih merupakan  pertanyaan tinimbang pernyataan. Saya yang didadak seperti itu, terus terang kelimpungan. Tidak ada argumentasi yang saya ungkapkan. Saya pun meraba, pak Ishak sudah punya jawaban, namun yang dia sasar adalah pandangan keagamaan saya. Hingga tulisan ini saya torehkan, saya tidak pernah menjawab tanya itu secara verbal. Namun, interaksi yang intim dengannya, sudah merupakan laku jawab. Apatah lagi, di acara diskusi itu, dalam mempercakapkan soal yang dibincangkan, pak Ishak melontarkan pandangan keagamaan yang unik. Beliau bilang begini, “Sulhan seagama dengan Soeharto, tapi belum tentu seiman. Saya dan Sulhan tidak seagama, tapi seiman.”  Saya menduga-duga reaksi para peserta diskusi yang mengambil tema seputar reformasi kekuasaan politik. Tidak sedikit peserta yang terhenyak oleh sodokan ungkapan itu. Namun bagi saya, makin menemukan suatu rangkaian cara hidup beragama, secara inklusif.Percakapan yang intim, sejak di pelataran gedung, sampai pada perbalahan di forum, sekotahnya adalah bukti keinklusifan seorang Pak Ishak dalam beragama.

Lain waktu, seorang junior saya di lembaga kemahasiswaan ekstra universiter, meminta pandangan pada saya, tentang siapa pembicara untuk sebuah topik diskusi bertemakan penerapan syariat Islam. Saya langsung saja mengusulkan nama pak Ishak, ditambah oleh panelis lain. Rupanya, panitia itu setuju dengan usulan saya. Tibalah hajatan itu. Banyak yang protes akan acara itu. Bagaimana mungkin bicara soal syariat Islam, yang pembincangnya adalah seorang non-muslim? Saya hadir di acara itu selaku pendengar. Seorang peserta nyaris menginterupsi, sesaat setelah acara baru dimulai. Saya yang duduk di dekatnya, mencoba mencegahnya, membujuknya agar tenang. Menyarankan agar ikuti saja dulu diskusi, nanti pada babakan tanggapan baru beraksi. Setujulah junior saya itu. Acara pun dibuka.

Berpidatolah penyelenggara. Ucapan perdana yang dilantunkan adalah, “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan dan selamat pagi jelang siang.”  Tetiba saja pak Ishak berdiri, menginterupsi pidato. Bunyi interupsinya, “Cukup assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh saja, tidak usah ditambah selamat pagi atau siang. Itu sudah cukup. Apalagi kalau selamat pagi dan siang itu saudara tujukan pada saya. Islam itu adalah rahmatan lil alamin. Dan, salam itu, merupakan pernyataan keselamatan yang meliputi seluruh alam.” Penyelenggara yang berpidato itu, kelihatannya agak gugup, sambil tersipu. Dan, junior yang saya cegah tadi itu, heran bin ragu. Akibatnya, sampai persamuhan bubar, tidak pernah ia wujudkan interupsinya.

Tak sanggup saya menghitung, apalagi mengingat persuaan dan percakapan dengan pak Ishak. Penggalan ingatan di atas, hanyalah segelintir pecahan ingatan dari intimnya gelora percakapan intelektual; yang saya rasakan bersama beliau. Hebatnya lagi, pak Ishak tidak memilih tempat diskusi. Di pelataran toko buku saya, Papirus, pun pernah jadi pemantik diskusi, bersama komunitas anak muda.

Beberapa waktu lalu, saya melihat pak Ishak berdiri di pinggir jalan. Kayaknya lagi menunggu kendaraan umum. Saya ada di seberang jalan. Saya lalu memutar motor, ingin menyapa. Syukur kalau ada percakapan yang penuh gelora. Setiba di titik bahu jalan, di mana pak Ishak berdiri, beliau sudah tidak ada. Angkutan umum sudah membawanya pergi. Lalu, berlaksa waktu datang kemudian. Urita duka menyapa, Pak Ishak telah berpulang pada keabadian. Saya hanya bisa mematung di hadapan peti jenazah. Lelaki asal Kepulauan Tanimbar itu, memulai tidur panjangnya, dalam damai bersama Tuhan.

Sepulang dari melayat, saya raih kembali buku pemberiannya, sewaktu bertandang ke mukimnya, hasil buah pikirnya, Wajah dalam Cermin Retak. Saya ingin mendarasnya lebih khusyuk lagi.  Biar gelora percakapan tertaut  kembali, walau dalam alam yang berbeda. Saya membuka halaman sampul bukunya, termaktublah pesan bertuah, tulisan dan tanda tangan beliau, seperti yang saya nukilkan di mula tulisan ini.

Setelah Jerman Keok dan Kotak Kosong Berjaya

 

Ada dua “Pil” yang hingga esai ini saya tulis masih ramai diperbalahkan. Pertama, Pilkada Serentak 2018. Kedua, Pildun, Piala Dunia 2018. Satu perhelatan politik, lainnya perlagaan sepak bola. Satu olah jiwa, satunya lagi olah raga. Pilkada Gubernur, Bupati dan Wali Kota, usai sudah hajatannya, 27 Juni 2018, namun hasilnya belum final. Tidak sedikit komponen masyarakat yang berbalah akan hasil sementara ini. Khususnya Pilkada Kota Makassar, buntut masalahnya makin panjang. Pasalnya, hasil hitung cepat dari lembaga survey, menyatakan Kotak Kosong, tepatnya, Kolom Kosong selaku pemenang. Buntut kemenengan Kotak Kosong, berbuntut lagi, sebab kisruh selisih suara mulai terbalik hasil perhitungannya. Apa pun hasilnya, Kotak Kosong sudah bertengger di warga Kota Makassar.

Adapun Pildun, Piala Dunia, hingga tanggal 15 Juli 2018, setiap harinya mengasilkan kejutan-kejutan.  Di antaranya, para bintang sepak bola redup sinarnya. Nama-nama beken, semisal Ronaldo dan Messi, serta sederet nama papan atas pemain Jerman, tertunduk lunglai, meninggalkan lapangan hijau. Pemain debutan malah yang benderang cahayanya. Tim-tim unggulan pulang satu persatu. Portugal dan Argentina digadang-gadang bertemu di babak 8 besar, malah  bersua di bandara. Tim-tim madya tradisi sepak bolanya, justru makin moncer posisinya.

Tatkala hari pemunngutan suara tiba, pagi masih buta, saya sekeluarga berbincang tentang hajatan politik ini. Sembari sarapan, yang lebih mirip rapat penentuan pilihan politik. Perkara Kotak Kosong ini menjadi topik utama. Apatah lagi, salah seorang putri saya, menjadi pemilih pemula. Di mukim saya, ada lima orang yang punya hak pilih, saya dan pasangan, serta tiga orang putri.

Setelah saling mengeluarkan pendapat, saya lalu mengajukan pertimbangan yang agak nyeleneh. Bahwasanya, sudah banyak pemilu yang saya ikuti. Sikap politik pun sudah beraneka. Pernah jadi Golput, juga sudah merasakan memilih calon yang ditawarkan partai politik. Tapi, belum pernah memilih Kotak Kosong. Saya ingin merasakan sensasi memilih Kotak Kosong. Rupanya, pandangan nyeleneh saya, cukup menghidu para pemilih di mukim saya. Termasuk yang baru pertama kali memilih. Ia pun mengajukan pertimbangan, “mending saat ini saya pilih kotak kosong, toh Pilkada mendatang belum tentu ada Kotak Kosong.”

Rinai hujan merintik, mengiringi kami ke TPS dekat rumah. Lima suara dari kami akan menentukan Gubernur Sulawesi Selatan  dan Wali Kota Makassar.  Pilihan pada pasangan calon gubernur dan wakilnya, masing-masing sudah punya. Demikian pula dengan paket calon Wali Kota dan wakilnya.  Untuk calon gubernur, satu suara pada pasangan calon. Hanya kami  sengaja mensenyapkannya. Tapi untuk calon wali kota Makassar, pun sepakat memilih Kotak Kosong, demi sensasi yang terjanjikan. Dan, sensasi Kotak Kosong, pastilah berbeda rasanya di antara kami. Bergantung pada kadar kematangan jiwa politik kami. Pastilah beda, antara saya dan putri saya, serta pasangan saya.

Pulang dari TPS, sepanjang hari, kami masih merasakan sensasi memilih Kotak Kosong. Percakapan kami, senantiasa diinterupsi oleh Kotak Kosong ini. Nah, malamnya, di berbagai stasiun televise lokal dan nasional, perbalahan Pilkada Serentak ini menghegemoni siaran. Hanya jadwal pertandingan Pildun saja yang bisa menyainginya. Malam itu juga, dari tayangan televisi, dan urita di media social, merilis berita, bahwa Kotak Kosong menang atas pasangan Appi-Cicu di Pilkada Kota Makassar. Ada sensasi yang meluap-luap, khususnya kami seisi rumah. Muncul takjub yang tak terduga. Para analis politik pun memberikan perspektif akan kemenangan Kotak Kosong.

Sambil tetap mengikuti perkembangan urita Pilkada, saya pun jeda sejenak, sebab ada interupsi dari hajatan Pildun. Segera saja saya khusyuk menonton pertandingan antara Jerman VS Korea. Tidak sedikit yang menjagokan Jerman. Berharap Jerman mengalahkan Korea, agar Jerman bisa lolos 16 besar. Apa lacur, tersaji “Drama Korea”. Jerman keok oleh Korea. Panser Jerman hancur berantakan dibombardir oleh pasukan Korea. 2-0 untuk Korea, yang semua golnya menggetarkan gawang Jerman pada in juri time. Banyak yang tidak percaya akan kekalahan Jerman. Termasuk komentator yang terbata-bata mengulas hasil pertandingan. Ternyata, bola masih bundar. Sebelum pluit wasit ditiup panjang, sebagai tanda usai perlagaan, sekotahnya bisa saja terjadi.

Lalu, apa sebenarnya hubungan dua kejadian ini? Keoknya Jerman dan berjayanya Kotak Kosong? Bagi saya ini peristiwa besar. Sebab, melahirkan History (Sejarah) dan Story (Cerita). Izinkan saya menukil Pierre Nora, penulis berkebangsaan Perancis, lewat karyanya, “Di antara Ingatan dan Sejarah”, sebagaimana Alwy Rachman, seorang budayawan kelahiran Makassar, menabalkannya,  bahwa, “ingatan tak pernah dikenali melebihi dua bentuk legitimasinya: ingatan sebagai sejarah dan ingatan sebagai literasi.” Dan, sebagai penegasan, saya sepadankan literasi sebagai wujud terdepan dari cerita.

Peristiwa kekalahan tim Jerman dari Korea dan keunggulan Kotak Kosong atas pasangan Appi-Cicu  adalah sebentuk ingatan. Dari ingatan inilah lahir history, sekaligus story. Tim Korea dan sekaum pemilih Kotak Kosong adalah pembikin sejarah dan pencipta cerita. Dari catatan sejarah inilah, sejarah sepak bola Korea dan Kejayaan Kotak Kosong akan selalu dikenang. Pun, bertolak dari keoknya tim Jerman dan kekalahan Appi-Cicu bakal jadi warisan cerita.

Dari sejarah yang tercipta, akan melahirkan ilmu pengetahuan tentang sepak bola dan diskursus politik. Berlapik pada cerita, akan terwujud karya literasi, serupa karya-karya sastra yang berlatar sepak bola dan wacana politik. Saya membayangkan, betapa banyak asumsi teoritis persepakbolaan dan perpolitikan  yang bakal tersaji berkat peristiwa ini, sebagai ingatan sejarah. Begitu pula, saya berharap, akan lahir berlaksa cerita, bahkan mitos-mitos terntang dunia sepak bola dan jagat politik, sebentuk ingatan literasi, ingatan cerita. Setidaknya, Drama Korea dan  Kotak Kosong, telah menjadi hulu ledak, akan sejarah dan cerita sepak bola dan politik. Bukankah sepak bola dan politik, merupakan dua hajatan yang melibatkan orang banyak?

Galon Infak Literasi

 

Sarwanya berawal dari tindakan kecil. Meski dilapiki pikiran besar. Itulah yang saya lakukan beberapa bulan yang lalu. Membikin sebentuk kotak amal, terbuat dari galon air yang sudah pecah pantatnya. Semestinya, nasib galon tersebut sudah harus berakhir di tempat sampah. Tapi, saya lalu teringat dengan beberapa kotak amal yang sering diletakkan di berbagai tempat, bertuliskan nama-nama pemilik kotak amal. Mulai dari yayasan panti asuhan, pengajian dasar, masjid, dan lainnya. Di tempat saya, yang juga sekaligus sebagai alamatnya Toko Buku Paradigma Ilmu Makassar, pun terdapat satu kotak amal dari Taman Pendidikan Alquran (TPA) milik masjid dekat mukim.

Walhasil, galon pecah tersebut saya permak seadanya, sekadar menuliskan kata-kata, “Galon Infak Literasi”, lalu saya letakkan di sudut meja kasir Toko Buku Papirus Tamalanrea Makassar, tempat saya bersemedi dan membajak nafkah. Mulanya, ada keraguan. Khususnya motif dihadirkannya galon infak tersebut. Ragu akan begitu banyak penafsiran nantinya. Waima, naluri saya selaku pegiat literasi, membungkam semua keraguan itu. Sebab, hanya satu tujuan dari hadirnya gallon infak itu, menampung sumbangan dari kisanak-kisanak yang berkenan memasukkan duitnya. Selanjutnya, duit yang terkumpul itu, saya belikan buku, buat menambah koleksi buku komunitas literasi yang saya gawangi, Bank Buku Boetta Ilmoe di Bantaeng.

Sekali waktu, ada seorang dokter muda dari Kota Kendari, berbelanja di Toko Buku Papirus. Setelah transaksi, ia tidak langsung pamit. Rupanya, ia tertarik dengan galon di sudut meja, yang isinya bukan air, melainkan aneka uang, pecahan lima ratus, seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dan dua puluh ribu. Warna-warni uang tersebut, mirip aquarium dengan ragam  jenis ikannya. Ia lirik-lirik. Saya hanya senyum-senyum. Tak tahan ia untuk tidak bertanya, “Apa maksudnya Galon Infak Literasi ini?” Belum saya jawab, ia lanjut berkata lagi, “Soalnya, baru kali ini saya temui beginian”.

Ibarat umpan yang ia lemparkan, saya langsung menyambarnya dengan sejumput penjelasan. Bahwasanya, tidak ada bedanya dengan kotak amal lainnya, yang bisa dokter jumpai di seantero kota ini. Mungkin yang unik, karena terbuat dari galon bekas. Dan, itu pun dibikin seadanya. Keunikan lainnya, terletak pada peruntukan kotak amal yang berbentuk galon infak ini, karena adanya unsur literasi. Saya pun membeberkan sari diri saya selaku pegiat literasi, selain menjadi penjaga toko buku. Penjelasan saya menerungku jiwanya, tatkala saya bilang, bahwa semua uang sumbangan ini, akan dibelikan buku, lalu buku tersebut saya kirim ke Bank Buku Boetta Ilmoe, selanjutnya didistribusikan peminjamannya ke berbagai komunitas literasi yang ada di Bantaeng.

Sekadar info, kini, di Bantaeng sudah ada lebih sepuluh komunitas literasi yang amat membutuhkan suplai buku. Lebih dari itu, akan lahir lagi komunitas-komunitas literasi berikutnya. Artinya, kebutuhan akan buku semakin vital. Buku bagi komunitas literasi, bagai nafas yang akan memperpanjang geliat literasi, dari komunitas yang menggerakkan literasi. Lalu saya kunci, komunitas-komunitas ini, tidak sedikit yang berlokasi di pelosok kampung. Kelihatannya ia tertegun dengan ujar-ujar saya. Naluri kedokterannya mungkin terusik, sebab ia sendiri bertugas di pelosok. Lembaran uang biru ia cabut dari dompetnya. Ia masukkan ke mulut galon infak. Tanpa komentar, selain ia berucap, “Terimakasih, saya akan dating lagi”.

Rasa percaya diri saya makin moncer. Keisengan saya ini berbuah manis. Sekadar memanfaatkan barang bekas. Namun, di situlah letak keunikannya. Akhirnya, saya cari lagi galon bekas di mukim. Ada galon yang nganggur. Saya bikin lagi satu galon infak, buat di taruh pada Toko Buku Paradigma Ilmu. Semulanya, pasangan saya keberatan dengan tindakan kecil ini. Apatah lagi, sudah ada kotak amal milik TPA yang mengangkangi meja kasir. Saya bisa memahami keberatannya, pasalnya, ia adalah salah seorang guru mengaji di TPA tersebut, bahkan mukim kami menjadi salah satu alternatif, tempat mengaji santri TPA selain di masjid. Atas otoritasnya, kotak amal itu nangkring di meja kasir.

Saya lalu meyakinkannya, bahwa di Toko Buku Papirus sudah saya bikin. Berceritalah saya akan keberadaan galon infak tersebut. Saya lalu menabalkan pendapat, kotak amal model TPA itu, dan sejenisnya di berbagai tempat, sudah amat konvensional. Tipe itu warisan zaman old, sementara galon infak literasi merupakan inisiasi zaman now. Tersipu-sipulah ia. Restu pun saya dapat. Akhirnya, Galon Infak Literasi, bertengger pula di sudut meja kasir, menemani kotak amal TPA pada sudut meja lainnya. Belakangan, sering saya menguping, tatkala ia mengajar para santri mengaji, sembari ia menjelaskan keberadaan galon tersebut.

Di hadapan para santrinya, pasangan saya bercerita, seolah mendongeng tentang orang-orang di pelosok kampung, yang amat tertinggal, karena kekurangan bahan bacaan. Apalagi, dalam kisahnya, sering ia bandingkan dengan kemudahan para santri membaca buku yang disediakan oleh Toko Buku Paradigma Ilmu. Dari jendela kamar sering saya intip rona wajah sekaum cilik itu. Beraneka air mukanya. Imajinasinya terbang ke pelosok-pelosok kampung. Meski yang diceritakan itu adalah anak-anak yang kurang beruntung, nasib para santri ini tidak lebih beruntung. Karenanya, solidaritas dan empatinya dibangun lewat cerita. Pada pucuk cerita, pasangan saya tak lupa menawarkan kepada para santri untuk berinfak. Seribu, dua ribu. Sesekali ada juga yang lima ribu. Dan, ketika tulisan ini saya torehkan, baru saja seorang santri memasukkan uang lima ribu ke galon infak tersebut.

Sekali lagi, ini hanya tindakan kecil, berlapikkan pikiran besar. Memanfaatkan barang bekas, menggalang uang kecil dari uang kembalian segenap konsumen yang berkenan, para cilik santri yang berempati dengan lembaran ribuannya. Pepatah pun layak diaumkan kembali, “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”. Tumpukan warna-warni pecahan duit di Galon Infak Literasi, sudah mulai membukit. Jika sudah menggunung, akan saya ledakkan gunung uang tersebut. Biar pecahan-pecahan rupiah itu menjadi lahar, menggulung beberapa eksamplar buku, yang akan saya hanyutkan hingga ke muaranya, pada komunitas literasi, Bank Buku Boetta Ilmoe Bantaeng.

 

 

 

 

 

Pidato, Esai, dan Debat

 

Ada banyak cara mendekati kaum muda, khususnya  yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan yang sederajat. Lebih tepatnya, yang akan menunaikan haknya selaku pemilih pemula pada pesta demokrasi, Pilkada Serentak 2018. KPU Bantaeng menyapanya dengan tiga perjumpaan; lewat lomba pidato, lomba menulis esai, dan lomba debat. Sekotah lomba itu, dipersyaratkan pesertanya, hanya yang menjadi pemilih pemula pada Pilkada nantinya. Tema lomba pun diseseuaikan dengan dunia mereka, generasi millennial. Menyasar pandangan mereka sebagai pemilih pemula dan pemilu. Cakupan ruang lingkup inilah yang terpatri dalam tiga jenis lomba itu.

Saya tergolong insan yang beruntung. Apa pasal? Sebab, sebagai pegiat literasi, berkesempatan menjadi dewan juri pada perlagaan itu. Bahkan menjadi ketua dewan juri. Peruntungan saya, karena selama ini, saya banyak berinteraksi dengan kaum putih abu-abu itu, baik saat saya melaksanakan pelatihan literasi, maupun berkomunitas, tidak sedikit dari anak yang seusia mereka, menjadi lahan garapan saya dalam mendorong gerakan literasi.

Lomba Pidato yang selenggarakan pada tanggal 14 Maret 2018 dengan jumlah peserta lebih 30 orang, telah menghasilkan juara.  Demikian juga Lomba Menulis Esai yang digelar pada tanggal 23 April 2018, sudah memilih sepuluh esai terbaik, selanjutnya  dipaparkan oleh para peserta, lalu dilseleksi menjadi lima esai  terbaik, guna dijadikan bahan Lomba Debat pada tanggal 25 April 2018. Peserta terbaik dari lomba debat ini, akan mewakili Bantaeng dalam ajang Lomba Debat tingkat provinsi, yang dihelat oleh KPU Sulawesi Selatan di Makassar, nantinya.

Sarwa ajang kompetisi  sudah usai gelarannya. Namun, bagi saya ini baru separuh jalan.  Apa perkaranya? Sebab  berpidato, menulis esai, dan berdebat, amat dekat dengan kemampuan literasi seseorang, termasuk sekaum peserta lomba itu.  Kapasitas literasi yang saya maksudkan cukup standar, manakala pahaman yang saya ajukan adalah literasi terkait dengan baca-tulis. Kemampuan membaca dan menulis. Bukankah seorang yang akan berpidato harus punya wawasan yang memadai? Begitu juga menulis esai, dibutuhkan bahan bacaan yang tidak sedikit untuk menulis satu esai. Apatah lagi berdebat, sangat membutuhkan kapasitas yang mumpuni.

Berlapikkan pada pandangan itulah, saya kemudian berpikir untuk mengajukan satu item kegiatan, buat mereka yang ikut lomba itu. Hitung-hitung bonus dari salah seorang jurinya, sebab bonus lainnya, sudah cukup memadai diberikan oleh KPU Bantaeng, selaku penyelenggara. Lalu apa bonus yang saya tawarkan itu? Tiada lain adalah pelatihan literasi, sebagaimana yang sering saya lakukan pada anak-anak muda.  Gagasan ini muncul seketika setelah lomba itu terlaksana. Saya menganggap, anak-anak yang jago berpidato itu, belum tentu juga bisa menulis. Pun yang sudah menulis esai, menurut saya masih perlu ditingkatkan bobot kepenulisan esainya.

Bertolak dari alas pikir inilah, saya ajukan penawaran kepada komisioner KPU Bantaeng, agar memfasilitasi pelatihan literasi ini. Bak saya melempar umpan, langsung disambar oleh segenap komisioner, dengan persetujuan yang bakal digelar beberapa waktu ke depan. Bila tidak ada aral melintang, akan dilakasanakan pada pecan pertama bulan Ramadan. Sekaligus acara buka puasa bersama. Pikiran saya mekar, hati saya pun berbunga-bunga dengan sambutan itu.

Ibarat gelindingan bola salju, makin membesar keinginan dari pantikan awal pelatihan literasi ini. Saya ajukan lagi ide, bahwa sekaum putih abu-abu yang berjumlah sekitar 50-an orang, yang ikut tiga even lomba ini, akan diberi tugas setelah pelatihan, agar menulis esai tentang pemilu, dalam hubungannya dengan pemilih pemula, dengan sudut pandang generasi millennial. Saya lalu menegaskan lebih dalam, jika kita mendapatkan 50 esai dari mereka, maka peluang kita untuk membukukannya akan menyata. Sehingga, dari perhelatan yang digawangi oleh KPU Bantaeng ini, akan menghasilkan satu buku tentang pilkada dan pemilu  serentak, yang ditulis oleh generasi millennial.

Kalau saja asa ini terwujud, tentulah kita akan mendapatkan begitu banyak keuntungan. KPU Bantaeng akan dicatat sebagai institusi yang ikut mendorong tumbuhnya gerakan literasi di kalangan anak muda. Buku ini akan menjadi penanda, buat menandai satu tahapan perkembangan gerakan literasi, khususnya di Bantaeng, yang memang belakangan ini, gerakan literasinya lagi moncer, dengan tumbuhnya puluhan komunitas literasi. Secara tidak langsung, KPU Bantaeng telah berkontribusi positif, menjadi salah satu katalisator gerakan literasi. Inilah namanya sinergi, pun boleh juga disebut sebentuk kolaborasi.

Mengapa sinergi dan kolaborasi ini mungkin terjadi? Waima gelaran lomba pidato, lomba menulis esai, dan lomba debat merupakan program menyeluruh  bagi  KPU seluruh Indonesia, yang artinya ada tuntutan formal yang mendorongnya.  Tentulah nasibnya program ini akan berbeda, bila sekadar mewujudkan perintah formal dari program KPU.  Dan, KPU Bantaeng tidak sekadar menjalankan program lomba. Ada capaian lain yang ingin dinyatakan.  Hal ini bisa terjadi, karena para komisioner KPU Bantaeng, telah menganggap pula gerakan literasi sebagai agenda penting bagi bangsa ini.

Akhirnya, berpidato tapi tidak punya kapasitas literasi yang memdai, hanya akan melahirkan orator yang senada dengan tong kosong yang nyaring bunyinya. Menulis esai, tanpa basis literasi yang mumpuni, bakal menelurkan penulis esai, besar kemungkinannya terjebak dalam terungku copy paste. Terlebih lagi, para pendebat yang abai pada kemampuan literasi, pasti akan masuk dalam lingkaran perdebatan yang tak berujung pangkal. Di era kiwari ini, cukup banyak orang  berpidato minim isi. Menulis esai tanpa kejujuran. Berdebat kusir tiada lelah. Karenanya, dengan sapaan yang sedini mungkin pada sekaum putih abu-abu yang berlomba itu, setidaknya , jangan mendaur ulang para pendahulunya. Dan, salah satu terapinya, menyuntikkan tradisi literasi secepat  pengembaraan mereka dijagat millennial.

 

Ilustrasi: Nabila Azzahra

Kala Helatan Budaya Menghidu Hajatan Politik

 

Tidak mudah menyodorkan dimensi budaya sebagai cara pandang masyarakat di kekinian dan di kesinian. Apatah lagi menghubungkannya dengan dunia politik, terutama cara berpolitik. Lebih tegas lagi, mengharapkan para politisi menjunjung tinggi warisan budaya negeri, buat dijadikan sebagai panduan berlaga dalam perebutan posisi politik, semisal, anggota legislatif maupun presiden dan wakil presiden.

Mungkin amat tepat, bila saya nukilkan pertanyaan Radhar Panca Dahana, seorang kuncen kebudayaan Indonesia, dalam bukunya, Kebudayaan dalam Politik, “Mengapa kehidupan politik, terutama sistem rekruitmen dan mekanisme lahirnya pemimpin di negeri ini, harus senantiasa ditandai oleh sebuah arena tempur yang secara klasik dapat kita temukan dalam sejarah, mitologi, buku-buku sastra, bahkan kisah-kisah religious?”

“Tidak adakah sistem atau mekanisme lain tempat kader dan pemimpin dapat muncul dalam suasana yang lebih karib, bersahabat, gembira, dan melahirkan diskursus baik secara intelektual, moral maupun kultural yang positif dan membangun? Mengapa hidup harus senantiasa diisi oleh konflik oposisional? Dari mana sebenarnya semua itu berasal dan bermula?” Tanya Radhar lebih menukik.

Penabalan tanya dari Radhar itu, lebih tidak mudah lagi menjawabnya. Sebab, hajatan politik yang dilakoni saat ini, boleh jadi tidak mengakar pada budaya politik, yang berhasil ditransformasikan dalam wujud kontemporer. Karenanya, saya mencoba meraba, motif inilah yang melatari, sehingga Komisi Pemilihan Umum, menyelenggarakan acara serentak, ke seluruh penjuru mata angin negeri, guna menyongsong pemilu serentak 2019. Pemilu yang akan memilih Anggota Legislatif, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, jatuh tempo pada tanggal 17 April 2019.

Acara serentak ini, digelar tepat pada hari Sabtu, 21 April 2018 di seluruh Indonesia. Dan, yang menarik adalah KPU Pusat menginstruksikan agar bentuk acaranya dikemas dalam pagelaran seni dan budaya, yang berpijak pada seni dan budaya masyarakat setempat. Pada acara inilah, saya hadir sebagai penyaksi yang diselenggarakan di Kabupaten Bantaeng. Saya amat antusias selaku penghadir, sebab tajuk helatan yang dijanjikan berbunyi, “Melalui Pagelaran Seni Budaya Membangun Pemilih Berdaulat Guna Menyukseskan Pemilu Serentak 2019”.

Terus terang saya terbui oleh tajuk itu. Bahkan terbuai. Apa pasal, sebab tidak sedikit menu seni budaya yang dipagelarkan, sebagaimana tercantum dalam undangan penyelenggara. Pun, tatkala saya bersua dengan Ketua KPUD Bantaeng, Nurbaeti, kembali merapalkan janjinya, bahwa penyelenggara akan menghadirkan beberapa warisan seni budaya, yang selama ini nyaris tidak dipanggungkan. Saatnyalah, di momen ini, dimensi-dimensi seni budaya Butta Toa-Bantaeng ditampilkan, agar pesan-pesan dalam seni budaya ini dapat mengawal perlagaan politik Pemilu Serentak 2019.

Benar saja adanya. Bertempat di Gedung Balai Kartini Bantaeng, sekira pukul 20.00, pagelaran pun dimulai. Tabuhan Rampak Gendang bertalu-talu menandai acara dimulai. Pun, Tunrung Tallua menyusul mengiringi pejabat, beserta 20 pimpinan dan bendera partai politik peserta pemilu memasuki ruangan. Tunrung Tallua adalah sejenis pukulan gendang, yang selama ini hanya hadir ketika ada acara kerajaan dan keluarga kerajaan, serta bangsawan, kini dihadirkan buat memperkuat legitimasi hajatan politik, yang bakal melahirkan pemimpin negeri. Saya menilai, ini sejenis tafsir kontemporer, bagaimana warisan kearifan lama, menemukan bentuk barunya di waktu kiwari.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Setelahnya, Ketua KPUD Bantaeng menabalkan sambutan. Pada sambatunya, ia kembali menegaskan pentingnya kearifan lokal dihadirkan untuk mengawal perhelatan politik nantinya. “Kita punya budaya luar biasa, banggalah menjadi orang Bantaeng. Kami ingin, agar partai politik, yang berjumlah 20 selaku peserta pemilu 2019, membanggakan kami sebagai orang Bantaeng. Mari berkompetisi, penuh persaudaraan. Kampanye mesti berisi anti: Hoaks, Sara, dan Uang”. Tegasnya.

Lalu berikutnya, hadirlah Tari Paddeko. Tari ini dimainkan dengan memakai alat alu yang dipukulkan pada lesung. Irama yang dihasilkan amat indah. Sepintas, kelihatannya amat mudah, setiap orang hanya memukulkan alunya pada lesung. Tapi, gerakan yang nampak sangat atraktif. Indahnya irama dan atraktifnya gerak, bisa hadir bila ada kerjasama yang apik, dan kompak. Demikian pula, tampilan berikutnya, ketika ditampilkan Tari Sitobo Lalang Lipa. Tari  ini memberi pesan kuat pada proses penyelesaian masalah yang dilakukan secara sportif. Jika jalan musyawarah dan mufakat buntu, maka adu kekuatan secara personal, pun dilakukan untuk melahirkan seorang jawara, sosok pemimpin.

Berikutnya, ada pula Tari Paolle, sebentuk tari yang dipertunjukkan dengan pesan utama, bagaimana harmonisasi hubungan dengan Pencipta, pun hubungan dengan sesame manusia. Hubungan vertikal dan horisontal, sehingga keharmonisan semesta mengada dalam hidup dan kehidupan. Selain itu, tampil pula Pagambusu, musik gambus tradisional, dengan sederet syair penuh pesan bertuah. Susulan penampil lainnya, komunitas seni Pakampong Tulen (Komplen), yang menembangkan Kelong Toriolo, lagu-lagu Makassar. Pada hampiran pucuk acara, sekaum siswa SMA, lewat vokal grup, menyanyikan lagu, tentang kecintaan pada negeri Bantaeng, dan ajakan untuk memilih, lewat lagu yang menjadi andalan KPU. Mendekati pukul 24.00, pungkas sudah rangkaian acara seni budaya ini, buat menandai helatan politik, Pemilu Serentak 2019.

Sebagai salah seorang penghadir, sekaligus selaku pegiat literasi, saya tidak langsung meninggalkan arena, setelah sekotah acara usai. Saya mencoba bercakap secara intim dengan para penghelat dan pelibat acara. Ada banyak agenda seni budaya yang menjadi catatan penting untuk ditindaklanjuti. Perhelatan ini hanyalah pintu masuk dari sebuah rumah budaya anak negeri. Sesarinya, apa yang telah dipanggungkan, dengan sarwa pesan yang dipahatkan pada jiwa, selaiknya menjadi tuntunan, kalau bukan tuntutan bagi para pelaku politik yang bakal berlaga di tahun politik 2019. Hanya dengan begitu, budaya menjadi lapik adekuat, menghidu hajatan politik.