Arsip Kategori: Unjuk Rasa

Di Sela Bait “Imagine” dan “Heal the World”

Berlaksa detik telah lewat, peringatan Hari Perdamaian Internasional, yang jatuh pada  tanggal 21 September setiap tahun. Namun, putra bungsu saya, masih sering memainkan lagu “ImagineJohn Lennon dan “Heal the World”, Michael Jackson. Lewat pianonya, mengantarkan saya pada momentum peringatan itu.

Sekaum warga Kota Makassar, menggabungkan diri dalam Aliansi dan Kolaborasi Hari Perdamaian Internasional. Aliansi mereka, merupakan gabungan lebih dari 50 organisasi dan komunitas yang cinta damai dan mengusung tema perdamaian. read more

Tali Welas Asih

Nitoboki Wiranto! Seru seorang kisanak di pesan pribadi media sosial saya. Ia menguritakan, Wiranto, Menko Polhumkam, ditikam, kala melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. Persisnya, di pintu gerbang Alun-Alun Mebes, Purwaraja, pada Kamis, 10 Oktober 2019. Penikamnya Syahril Alamsyah, alias Abu Rara.

Nitoboki, sepenggal kata dalam bahasa Makassar, berarti ditikam. Maknanya, ada seseorang yang menikam Wiranto.

Sejak urita itu menyebar, media daring dan media sosial sangat ramai mengabarkannya. Campur aduk kontennya. Dugaan pun beraneka. Opini muncul beragam. Tafsiran liar hadir bermacam-macam maksudnya. Hoax (berita bohong), fake news (berita palsu), dan hate speech (ujar kebencian), bertubi-tubi berebut panggung di jagat maya. read more

Anak Itu, Telah Ikut Demonstrasi

Kiwari, ia sudah memangsa jatah waktu melatanya di bumi, sekira 20 tahun. Ia telah  menjadi mahasiswi tahun kedua, persisnya duduk di semester tiga, pada Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar (UNM). Selama tahun pertama, ia selalu mengenakan jaket orange, saat ke kampus. Memasuki tahun kedua, tidak lagi memakainya, kecuali ada acara penting di kampusnya. Tapi, beberapa hari terakhir ini, sejak demontrasi mahasiswa-mahasiswi berlangsung, jaket itu ia kenakan kembali.

Sejak semester awal, ia sudah mengikuti berbagai kegiatan yang ditawarkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa UNM. Perkaderan himpunan, latihan jurnalistik, pecinta alam, kelas literasi, dan beberapa item kegiatan lainnya, suah ia jajal. Kelihatannya, ia mencari aktivitas yang bakal menguatkan kapasistas kemahasiswaannya. Paling mutakhir, ia juga ikut demonstrasi mahasiswa, menuntut dikeluarkannya Perpu Revisi UU KPK dan membatalkan RUU KUHP yang tidak pro rakyat. read more

Sekubu dan Sebuku

Ini duet maut. Celutuk seorang kisanak. Siapa yang berduet? Dan maut apa? Ini bagai sepasang bintang film tempo dulu, duet maut artis film, Sophan Sophian dan Widowati. Atau seduet penyanyi legendaris, duet  maut penyanyi, Muchsin Alatas dan Titiek Sandora. Tapi kali ini, duet maut literasi,  pasutri literasi, sejoli literasi. SulhanYusuf dan Mauliah Mulkin.  Penabalan-penabalan itu, secara samar sampai di imaji saya. Benarkah saya dan Mauliah Mulkin, pasangan saya, lebih sering saya panggil Uli, selaku sejoli literasi? read more

Merdeka! Ya, Berbuku

Dua hari setelah HUT RI ke-74, persisnya, hari Senin,  19 Agustus 2019, sekira pukul 09.00, saya sudah menyata di Aula Kantor Lurah Ereng-Ereng, Kecamatan Tompo Bulu, Bantaeng. Rintik hujan jatuh perlahan  membasahi pepohonan, masih enggan menderas. Seolah hanya menyapa saja. Padahal, pohon cengkeh telah menengadahkan daunnya, buat memandikan diri, sebab mulai kering kerontang. Maklum, musim kemarau mulai mencicil safarnya. Tentu, bukan saja cengkeh, tanaman lain , semisal kopi dan cokelat, pun berharap sama. read more

Ular Merah Putih

Beraneka cara merayakan HUT NKRI ke-74. Secara umum, anak-anak negeri menandainya dengan berbagai macam lomba. semisal, lari karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, dan lainnya. Pun, di bidang seni,  beragam lomba digelar, sebentuk, baca puisi, lagu perjuangan, dan seterusnya. Intinya, beriang gembira, dengan harapan tiba rasa senang, syukur bisa bahagia. Waima, semua jenis lomba itu, sudah amat konvensional. Berlangsung dari tahun ke tahun. Anehnya, tetap dinanti buat dihelat.

Hingga beberapa hari kemudian, aura perayaan itu masih terasa. Berlaksa gambar dan video, bertebaran di dunia maya. Nyaris setiap orang yang punya akun media sosial, mengabadikan apa yang dibikin pada jelang, saat, dan sesudah perayaan itu. Saya pun turut ambil bagian. Setidaknya, foto akun media sosial saya, terbingkai dengan simbol merah putih, ditambah beberapa kata, sebagai penanda ikut merayakan kemerdekaan. Tak ketinggalan pula, saya ukir di status, tentang  rasa merdeka. read more

Elegi Dua Batang Pinang

Sepekan sebelum perayaan kemerdekaan, HUT NKRI ke-74, tepatnya, pada malam Idul Adha, saya mendapati dua batang pohon pinang, tergeletak kaku. Masih basah tubuhnya. Malam makin larut, nyaris semadya perjalanan malam. Cuaca amat dingin. Tubuh dingin ditambah cuaca dingin, hanya gigil menyata. Samar saya lihat, kedua batang pinang itu gemetar.

Malam itu juga, seiring suara takbir, beberapa orang warga, silih berganti menguliti kulit bagian luar dari batang pinang itu.. Entah kenapa, seorang anak muda, menebaskan parangnya ke batang pinang, sembari memolototi kepala saya. Saya menafsir, seolah ia bergumam, targetnya mesti licin, meski tak perlu selicin kepala saya yang plontos. read more

Mengeja Rendah Hati, Menuju Transendensi

Cuman segelintir turunan Adam, yang layak untuk dikenang. Manusia terkenang pada sosok tertentu, jika sari diri sosok itu, telah terpahat pada hati dan terlukis di pikiran insan berikutnya. Sesarinya, perjalanan hidup adalah usaha memahat dan melukis pada semesta kehayatan. Hanya pahatan dan lukisan kehidupan sebagai pengantar pada kenangan. Itulah cara mengenang kenangan. Dan, pada kenanganlah, tertambat rindu akan napak tilas jalan hidup seseorang.

Mengenang Ishak Ngeljaratan, menegaskan ada rindu, senantiasa membuncah pada orang-orang yang akan menyusulnya. Berkumpullah mereka, menubuhkan diri dalam satu hajatan, menghadirkan kembali Ishak Ngeljaratan, lewat tajuk acara: Mengenang Satu Tahun Kepergian Almarhum Ishak Ngeljaratan. Persamuhan ini dirangkaikan sawala buku, Quo Vadis Indonesia? anggitan Ishak Ngeljaratan. Hari Sabtu, 03 Agustus 2019, bertempat di Fajar Room Lantai 4, Gedung Graha Pena Makassar, pukul 10.00-selesai. Saya termasuk salah seorang penghadir, ikut larut dalam kenangan. read more

Bukuku Sayang, Bukuku Malang

“Cukuplah rayap saja yang menghancurkan buku.” (Guru Han)

Apa jadinya, jika setiap kelompok mendatangi toko buku, lalu meminta sejumlah buku untuk dikembalikan ke penerbitnya, karena tidak setuju dengan buku itu? Maka akan kosonglah toko buku. Dan, tahukah anda jika buku tak bebas diperdagangkan lagi? Mandeklah ilmu pengetahuan. Macetlah peradaban.

Beberapa waktu lalu, segelintir orang, menamakan diri dari Pemuda Pancasila (PP) dan Brigade Muslim Indonesia (BMI) mendatangi toko buku Gramedia di Mal Trans Studio Makassar. Maksud kedatangannya dapat dilihat pada video berdurasi 39 detik, yang lagi viral. Mereka sedang mencari buku yang berpaham Marxisme. Dan, bersepakat dengan pihak Gramedia, untuk menarik seluruh buku tersebut dan mengembalikan ke pihak percetakan. Mereka ingin Makassar bebas dari paham itu. Apesnya, buku yang dipertontonkan di video itu adalah bukunya Franz Magnis Suseno, yang justru buku tersebut mengkritik marxisme. Satu kebodohan menurut Romo Magnis. Rupanya mereka tidak bisa bedakan, mana buku marxisme dan buku kritik atas marxisme. read more

Beternak Derita

“Berbuatlah, tapi jangan karena ingin beternak derita.” (Guru Han)

Gempa politik pilkada di beberapa daerah, sekira dua tahun sebelum datangnya badai dan tsunami politik pilpres dan caleg, sekotahnya sudah berlalu. Waima gempa politik, dan badai, serta tsunami politik, tetap menyisakan akibat, hingga kini masih terasa. Negeri ini butuh pemulihan atas sakit jiwanya.

Saya punya beberapa kawan yang terkena dampak akut gempa, badai, dan tsunami politik itu. Mereka adalah para pendukung peserta helatan politik itu. Pasalnya, banyak kawan saya menang, juga tidak sedikit yang kalah. Dan, baik menang maupun kalah, ternyata nasibnya sama: menderita. read more