Arsip Kategori: Unjuk Rasa

Ular Merah Putih

Beraneka cara merayakan HUT NKRI ke-74. Secara umum, anak-anak negeri menandainya dengan berbagai macam lomba. semisal, lari karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, dan lainnya. Pun, di bidang seni,  beragam lomba digelar, sebentuk, baca puisi, lagu perjuangan, dan seterusnya. Intinya, beriang gembira, dengan harapan tiba rasa senang, syukur bisa bahagia. Waima, semua jenis lomba itu, sudah amat konvensional. Berlangsung dari tahun ke tahun. Anehnya, tetap dinanti buat dihelat.

Hingga beberapa hari kemudian, aura perayaan itu masih terasa. Berlaksa gambar dan video, bertebaran di dunia maya. Nyaris setiap orang yang punya akun media sosial, mengabadikan apa yang dibikin pada jelang, saat, dan sesudah perayaan itu. Saya pun turut ambil bagian. Setidaknya, foto akun media sosial saya, terbingkai dengan simbol merah putih, ditambah beberapa kata, sebagai penanda ikut merayakan kemerdekaan. Tak ketinggalan pula, saya ukir di status, tentang  rasa merdeka. read more

Elegi Dua Batang Pinang

Sepekan sebelum perayaan kemerdekaan, HUT NKRI ke-74, tepatnya, pada malam Idul Adha, saya mendapati dua batang pohon pinang, tergeletak kaku. Masih basah tubuhnya. Malam makin larut, nyaris semadya perjalanan malam. Cuaca amat dingin. Tubuh dingin ditambah cuaca dingin, hanya gigil menyata. Samar saya lihat, kedua batang pinang itu gemetar.

Malam itu juga, seiring suara takbir, beberapa orang warga, silih berganti menguliti kulit bagian luar dari batang pinang itu.. Entah kenapa, seorang anak muda, menebaskan parangnya ke batang pinang, sembari memolototi kepala saya. Saya menafsir, seolah ia bergumam, targetnya mesti licin, meski tak perlu selicin kepala saya yang plontos. read more

Mengeja Rendah Hati, Menuju Transendensi

Cuman segelintir turunan Adam, yang layak untuk dikenang. Manusia terkenang pada sosok tertentu, jika sari diri sosok itu, telah terpahat pada hati dan terlukis di pikiran insan berikutnya. Sesarinya, perjalanan hidup adalah usaha memahat dan melukis pada semesta kehayatan. Hanya pahatan dan lukisan kehidupan sebagai pengantar pada kenangan. Itulah cara mengenang kenangan. Dan, pada kenanganlah, tertambat rindu akan napak tilas jalan hidup seseorang.

Mengenang Ishak Ngeljaratan, menegaskan ada rindu, senantiasa membuncah pada orang-orang yang akan menyusulnya. Berkumpullah mereka, menubuhkan diri dalam satu hajatan, menghadirkan kembali Ishak Ngeljaratan, lewat tajuk acara: Mengenang Satu Tahun Kepergian Almarhum Ishak Ngeljaratan. Persamuhan ini dirangkaikan sawala buku, Quo Vadis Indonesia? anggitan Ishak Ngeljaratan. Hari Sabtu, 03 Agustus 2019, bertempat di Fajar Room Lantai 4, Gedung Graha Pena Makassar, pukul 10.00-selesai. Saya termasuk salah seorang penghadir, ikut larut dalam kenangan. read more

Bukuku Sayang, Bukuku Malang

“Cukuplah rayap saja yang menghancurkan buku.” (Guru Han)

Apa jadinya, jika setiap kelompok mendatangi toko buku, lalu meminta sejumlah buku untuk dikembalikan ke penerbitnya, karena tidak setuju dengan buku itu? Maka akan kosonglah toko buku. Dan, tahukah anda jika buku tak bebas diperdagangkan lagi? Mandeklah ilmu pengetahuan. Macetlah peradaban.

Beberapa waktu lalu, segelintir orang, menamakan diri dari Pemuda Pancasila (PP) dan Brigade Muslim Indonesia (BMI) mendatangi toko buku Gramedia di Mal Trans Studio Makassar. Maksud kedatangannya dapat dilihat pada video berdurasi 39 detik, yang lagi viral. Mereka sedang mencari buku yang berpaham Marxisme. Dan, bersepakat dengan pihak Gramedia, untuk menarik seluruh buku tersebut dan mengembalikan ke pihak percetakan. Mereka ingin Makassar bebas dari paham itu. Apesnya, buku yang dipertontonkan di video itu adalah bukunya Franz Magnis Suseno, yang justru buku tersebut mengkritik marxisme. Satu kebodohan menurut Romo Magnis. Rupanya mereka tidak bisa bedakan, mana buku marxisme dan buku kritik atas marxisme. read more

Beternak Derita

“Berbuatlah, tapi jangan karena ingin beternak derita.” (Guru Han)

Gempa politik pilkada di beberapa daerah, sekira dua tahun sebelum datangnya badai dan tsunami politik pilpres dan caleg, sekotahnya sudah berlalu. Waima gempa politik, dan badai, serta tsunami politik, tetap menyisakan akibat, hingga kini masih terasa. Negeri ini butuh pemulihan atas sakit jiwanya.

Saya punya beberapa kawan yang terkena dampak akut gempa, badai, dan tsunami politik itu. Mereka adalah para pendukung peserta helatan politik itu. Pasalnya, banyak kawan saya menang, juga tidak sedikit yang kalah. Dan, baik menang maupun kalah, ternyata nasibnya sama: menderita. read more

Mengeja Republik yang Sedang Oleng

Tidak banyak anak muda aktivis, begitu intens terlibat dalam menggalang demontrasi di jalanan, sekaligus punya kemampuan menulis. Biasanya, jago demontrasi, minim menulis. Sebaliknya, banyak juga rajin menulis, namun gagap dalam berdemonstrasi. Terkadang, kaum muda-mahasiswa pendemo itu, bacaannya hanya running text di televisi, plus dua-tiga ban bekas, dan toa di tangan, sudah mampu memacetkan jalan raya. Syukur kalau ada lembaran  pernyataan sikap, dengan kelogisan tuntutan.

Itulah pernyataan provokatif saya, sebagai pengantar, tatkala diminta menjadi pembincang  pada peluncuran dan sawala buku, Republik yang Sedang Oleng, anggitan Arman Syarif. Siapa Arman Syarif? Ia adalah seorang mantan mahasiswa, Jurusan PPKn, FIS-UNM. Lulus tahun 2007. Lelaki kelahiran Togo-Togo, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sederet aktivitas dibabarkan, lewat buku ini, sudah cukup memadai untuk didapuk, sebagai seorang aktivis mahasiswa dan kepemudaan. Kini, ia telah menjadi guru di SMK  Telkom Makassar. read more

Pendar Literasi di Pucuk dan Akar Tahun

“Semuanya ini menimpamu karena aku. Badai bulan Desember… Desember.” (Ucok Aka Harahap)

“Januari… Januari yang biru. Asmaramu asmaraku membisu.”  (Andi Meriam Mattalatta)

“Badai Bulan Desember”, tembang rock bernada lembut dari Ucok Harahap, personil  AKA, group band rock legendaris, senantiasa menghidu saya, manakala memasuki bulan Desember. Tak kecuali tahun 2018. Tapi, siapa tertimpa dan penimpanya? Saya hanya menyodorkan tembang ini sebagai metafor semata.

Selaku pegiat literasi, di pucuk tahun 2018, saat Desember menyata, saya diterungku badai literasi. Selama bulan itu memanjangkan masanya, sederet aktivitas literasi saya setubuhi. Jiwa dan raga saya, berkali-kali bersua orgasme literasi. Tak jelas lagi, siapa yang menimpa dan apa yang tertimpa badai literasi. Apakah saya pengusung badai literasi, ataukah saya tersapu badai literasinya bulan Desember. read more

Manakala Sekaum Anak-Remaja Sua Bupati

“Bersikap rendah hati, menyadari bahwa masih banyak kekurangan adalah satu syarat penting lainnya dalam belajar.”  (Gobind Vashdev, Happiness Inside, hal. 19)

Entah kenapa, saya terjebak dalam  salah perkiraan. Ini semata, karena rutinitas yang telah menerungku sekian lama, tetiba bergeser waktunya. Saya mengira bahwa para pegiat Forum Anak Butta Toa Bantaeng (FABT) akan bersua dengan Bupati Bantaeng, Ilham Azikin,  di hari Sabtu, 24 November 2018, tempatnya di arena Lapak Baca, Taman Bermain dan Sport Centre Seruni Bantaeng. Nantilah seorang  pegiat memberitahukan, sekaligus mengirimkan gambarnya, mengkonfirmasi acara jatuh pada esok harinya, Ahad, pukul 15.30. read more

Ali Syariati: Sang Raushan-fikr

Apa yang harus dilakukan ? Darimana kita mesti mulai ? Dua pertanyaan kunci ini, selalu saja menjadi alas pijak bagi saya, tatkala terlibat dalam setiap perbalahan. Perkakas pikir tersebut, saya dapatkan dari seorang intelektual tercerahkan, Ali Syariati.

Tetiba saja, saya terkenang pada sosok ini. Apatah lagi, hingga kini, posternya masih bertengger gagah di dinding ruang baca saya. Dan, ketika tulisan ini saya bikin, jika saja Syariati masih hidup, maka usianya tepat 85 tahun.

Adalah Mazinan, sebuah desa di pinggiran Masyad, di timur laut Khurasan, Iran, yang menjadi saksi tanah tumpah darah pertama dari seorang Ali Syariati. Tepatnya, pada tanggal 24 november 1933, Ali Syariati di lahirkan, dari pasangan Sayyid Muhammad Taqi’ Syariati dan Zahra. Syariati adalah putra sulung dari kedua pasangan keluarga tersebut. read more

Yang Tersisa dari Hutan Pinus Bonto Lojong

Sekira empat puluh tahun yang lalu, kala usia masih di sekolah dasar, pikiran saya diselimuti beragam tanya. Membatinkan hal-hal yang penuh misteri terhadap gunung, yang hanya saya sanggup pandang dari kejauhan. Maklum, saya lahir dan tumbuh memangsa usia di kota, sementara yang saya pandangi amat jauh ke pelosok desa, pada ketinggian pegunungan. Saya menghabiskan masa kecil hingga remaja, bahkan sampai separuh abad usia, di kota Bantaeng dan Makassar. Saya bukan seorang lelaki pemanjat gunung, melainkan lelaki yang diterungku oleh silapan kota. read more