Arsip Kategori: Unjuk Rasa

Dari Sukma ke Rocky

 

Bukan hendak mengajak membahas kata “Sukma”, apatah lagi mendefenisikan lalu menguraikan apa sesungguhnya itu sukma, khususnya dalam kaitan dengan jati diri. Pun, demikian kata “Rocky”, tak ingin mencabarkan sebuah judul film, tentang hayat seorang petinju, dibintangi oleh Silvester Stallone, yang pernah menjadi tontonan populer bertahun-tahun lalu. Saya hanya mau  merapalkan kembali Sukma, sebagai kependekan panggilan atas nama panjang dari Sukmawati Soekarno Putri. Juga Rocky, merujuk pada alamat dari suatu nama panjang, Rocky Gerung. Baik Sukma maupun Rocky, amat moncer popularitasnya belakangan ini. Sukma dengan puisi “Ibu Indonesia”, Rocky dengan ulasannya seputar ,“ Kitab Suci Sebagai Fiksi”.

Saya tidak akan membahas puisi itu. Demikian pula kitab suci sebagai fiksi. Tapi , saya hanya berkepentingan untuk mendedahkan lebih jauh, atas hikmah  apa yang mesti dipungut dari kontroversi, tepatnya polemik  yang ditimbulkan oleh Sukma dan Rocky. Kira-kira singkatnya begini, dari puisi ke filsafat. Puisi yang dibacakan oleh Sukmawati, telah benderang penisbatannya sebagai puisi. Sementara pernyataan Rocky, tidak banyak yang menganggap sebagai pernyataan filsafat. Rocky sendiri adalah pengampu mata kuliah filsafat.

Satu hal yang bisa saya pastikan, gara-gara puisi Sukmawati, sebagai aksi yang menimbulkan reaksi, menyebabkan masyarakat tiba pada dunia puisi. Ramai-ramai orang bikin puisi. Ada yang menegaskan sebagai bantahan atas puisi Sukma, pun tidak sedikit yang memberikan tanggapan atas kualitas puisi itu. Karenanya, saya amat bersyukur dengan kegaduhan dunia perpuisian kita. Sebab, dengan begitu, popularitas puisi naik ratingnya. Apalagi sebelumnya, sudah ada puisi dari Fadli Son yang dibacakan oleh Gatot Nurmantiyo, yang memicu perdebatan pula. Juga puisi Gus Mus yang dibacakan oleh Ganjar Pranowo, seolah menegaskan kesejatian puisi sebagai bagian terpenting dari pengayaan sari diri bangsa ini. Waima, puisi – puisi tersebut, lebih hidup karena ada tunggangan politik yang menerungkunya.

Moncernya puisi sebagai karya sastra dalam kegaduhan ini, semestinya para kritikus sastra, penyair, atau siapa saja yang berkepentingan untuk memajukan perpuisian kita, ambil bagian untuk terjun bebas ke gelanggang melakukan edukasi massal atas kehidupan sastra , khusunya perpuisian kita. Mengapa? Ini momen langka. Sebab, karya sastra dapat menentukan perjalanan suatu bangsa. Ignas Kleden dalam buku, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan , menulis, “Dalam pandangan fungsional,  sastra dianggap sebagai salah satu fungsi dari perkembangan masyarakat dan kebudayaan.”

Konsekuensinya, lanjut Ignas,” perkembangan dalam sastra harus dilihat dalam kaitan dengan fungsi-fungsi lain dalam masyarakat dan kebudayaan, seperti keadaan ekonomi, susunan dan bangunan kelas social, pembentukan kekuasaan dan distribusi kekuasaan dalam soistem politik, peran agama dalam kebudayaan. Kaitan antara sastra dengan fungsi-fungsi  tersebut, ibarat kaitan antara akar pohon dengan hijau daun dan mutu buah sebatang pohon.”

Sama halnya dengan kegaduhan intelektual yang dipantik oleh Rocky. Seharusnya ini juga menjadi pintu masuk, guna melakukan pendidikan massal akan pentingnya filsafat diajarkan secara masif. Saya mau mengutip apa yang dibilangkan oleh Seyyed Hossein Nasr,seorang scholar kelahiran Iran, dosen di George Washington University,  tentantg pentingnya filsafat diajarkan. Terutama kaum terpelajar. Dalam tulisannya, Teaching of Philosohy, Nasr  merekomendasikan pengajaran filsafat secara komprehensif. Baik filsafat Barat, Timur, maupun Islam. Warisan filsafat mesti dikaji . Mulai dari masa klasik, hingga modern. Pantikan Rocky tentang fiksi dalam kaitannya dengan kitab suci, sesungguhnya hanyalah setitik dari berlaksa isu filsafat.

Baik sastra maupun filsafat, amat penting bagi pengembangan kemajuan bangsa ini. Keduanya, sastra dan filsafat berkelindan dalam dunia imajinasi. Bangsa ini butuh imajinasi agar bisa menjadi bangsa yang besar. Setujulah saya pada seorang penyair yang sekaligus kritikus sastra, Aslan Abidin, pengajar di Universitas Negeri Makassar (UNM), dalam suatu percakapan di group WA, Literasi Bantaeng, bahwa, “Persoalan puisi Bu Sukma dan fiksi Rocky Gerung, menjadi masalah yang memang mesti, cepat atau lambat, akan dialami oleh bangsa yang mengabaikan pengajaran sastranya”.

Bagi saya, selaku pegiat literasi, mensyukuri kegaduhan semesta perpuisian  dan jagat filsafat kita. Sebab, kata Alwy Rachman, seorang budayawan asal Makassar, masih di percakapan group WA, “Kayaknya bangsa ini memasuki pengalaman baru tentang diskursus baru. Untuk sementara memang ‘mengguncangkan’, tetapi dalam jangka panjang akan menyehatkan bangsa ini.” Karenanya, mari kita senantiasa meniup api sastra dan filsafat, demi hadirnya imajinasi bangsa ini. Api imajinasi bangsa ini, tidak boleh padam. Cukuplah kekuasaan otoriter Orde Baru yang telah merampasnya.

Buat para kritikus sastra dan penyair, segenap pengajar filsafat dan filosof, Sukma dan Rocky telah memantik api perdebatan. Walau nuansanya amat politis awalnya, karena memang lebih dominan kepentingan politik yang mengiringinya. Sebaiknya segera diambil alih ketersesatan itu. Membiarkan para politisi menunggangi sastra dan filsafat, akan menjadi liarlah karya sastra itu, membuai publik. Mengajukan ke meja hijau, karya sastra dan filsafat akan terbui.  Padahal karya  sastra dan filsafat, harus diapresiasi dan dikritik, serta dipercakapkankan, bukan dimejahijaukan, supaya berkembang. Hanya pengadilan ilmu pengetahuan yang pas sebagai arenanya. Tunjukkanlah jalan yang benderang buat bangsa ini. Agar sukma bangsa ini menggumpal sari dirinya. Biar cita dalam tinju Rocky negeri ini mengarahkan masa depan.

 

Ilustrasi: Nabila Azzahra

Jeritan Seorang Biblioholik

 

Don’t be sad, la tahzan, jangan bersedih. Sesarinya, kata-kata itulah yang berusaha saya desakkan ke jiwa. Mestinya saya bersedih, untuk apa? Betapa tidak, saya telah mengalami tragedi diri. Seharusnya saya marah. Pada siapa? Bukankah sedih dan marah, hanyalah semacam jembatan ruhani — bila terkendali — menuju kebeningan jiwa?

Deretan pertanyaan dan gugatan di atas mengada, sebab beberapa hari yang lalu, mukim saya diserbu luapan air. Banjir. Air begitu melimpah, menggenangi segenap lingkungan rumah saya, dan tetangga. Laiknya segerombolan penjahat yang masuk di perkampungan, menebarkan teror pada sekaum pemukim. Banjir kali ini, lebih tinggi debit airnya. Bila biasanya, saya dan seisi mukim, cenderung bershabat dengan desakan air, kini, membikin perkara yang tidak sedikit bekas pahatan akibatnya.

Betapa tidak, perpustakaan keluarga saya disetubuhinya. Bahkan diperkosa tanpa ampun. Ratusan buku, jurnal, klipping koran, majalah, dan berkas-berkas berharga dilumat penuh gairah. Seolah air yang menggumpalkan diri menjadi serupa banjir, ingin menegaskan kedigdayaannya. Padahal, tanpa penabalan semacam itu, saya sudah amat paham akan kekuatan air. Batu cadas saja ia bisa lubangi, manakala tetes demi tetes ditetesi secara telaten. Celakanya, yang digasak adalah pojok surga saya, ruang baca, ranah peradaban. Sebab, di areal inilah, aktivitas literasi menemukan bentuk tereloknya.

Pojok surga, ruang baca, ruang belajar, atau perpustakaan keluarga yang bisa diakses olek publik, sebagai wujud aktualisasi dukungan penuh pada gerakan literasi, saya dan keluarga hadirkan dengan spirit biblioism. Ya, biblioisme, dari keluarga yang mendefenisikan diri sejak mula sebagai sekawanan biblioholik. Lalau apakah gerangan itu biblioisme dan biblioholik?

Seorang penulis, Tom Raabe, lewat bukunya, Bibliolism The Literary Addiction, mendedahkan dua wajah bibliolisme. Pertama, bibliomania, gila buku. Kedua, bibliofil, cinta buku. Perupaan dua model itu menunjukkan perbedaan. Jika seorang penggila buku, mengoleksi buku hanya untuk menumpuknya, menjadikan pajangan,  maka pecinta buku mengumpulkan buku untuk didaras. Mengambil pengetahuan sebanyak mungkin dari buku-buku itu.

Jadi, biblioisme dapat dipahami sebagai gairah mengumpulkan buku, mengoleksi, dengan cara membeli atau cara lainnya, lalu mengagumi buku melebihi dari orang kebanyakan. Sedangkan pelakonnya disebut selaku biblioholik. Sepanjang sejarah umat manusia, sejak ada persentuhan dengan buku, tidak sedikit sosok-sosok yang menampakkan diri sebagai biblioholik. Meskipun ada turunan peristilahan yang mendapuknya, karena adanya keunikan, atau bahkan kegilaan yang lebih meyerupai keanehan prilaku.

Sebagai misal, bibliotaf, suatu tindakan mengubur buku agar buku lebih aman. Ada lagi semacam bibliokas, sebentuk aktivitas melakukan penghancuran buku. Dan, ini yang paling aneh, bibliofagi, serupa perbuatan memakan buku. Satu lagi, biblionarsis, memperlakukan buku sebagai sarana agar mengagumi diri sendiri. Maksudnya, menjadikan buku sebagai tunggangan buat pamer, riya, dan bermewah. Ingin dipuji sebagai kolektor buku.

Berlapik pada paparan sosok biblioholik, saya berani memastikan diri, bahwa saya tergolong salah seorangnya. Saya penggila buku, sekaligus pecinta buku. Waima, saya bukanlah pengubur buku. Tiada pula melakukan penghancuran buku. Apatah lagi pemakan buku, tapi mencari makan lewat bisnis buku. Pun, jauh dari ingin pamer koleksi doang, meski sesekali unjuk diri, memamerkan koleksi buku bila ada kisanak datang ke mukim saya, lalu bicara tentang kemegahan hidup.

Nah, cobalah bayangkan. Seorang biblioholik, yang menjadikan perpustakaannya sebagai pojok surganya, tetiba ada yang mengusiknya. Bisa terjadi perang dunia dalam diri. Semesta diri bisa terguncang, untuk tidak mengatakan akan berujung pada kemarahan yang meluap-luap, dan kesedihan yang bertubi-tubi. Karenanya, bagi sosok biblioholik, setidaknya dalam menjaga bukunya, ada tiga musuh utama; rayap, api, dan air. Manakala ketiga makluk ini menghampiri buku, tindakan membikin pertahanan berlapis, pasti akan dilakukan.

Tetiba saja saya teringat dengan seorang biblioholik, yang harus takluk di hadapan pasukan rayap. Dialah almarhum Asdar Muis RMS, seorang penyair, penulis, dan budayawan. Suatu ketika bukunya dimakan rayap. Puncak pembalasan Asdar, sebagai wujud ketidakpuasan pada rayap, ia membakar buku-buku sisa rayap itu di tempat terbuka. Seolah ia mengatakan, sekalian saja api, musnahkanlah buku-buku ini bersama rayapnya. Memang, sejatinya, menurut Fernando Baez, dalam buku Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa, setidaknya, mendaftar ada sembilan rayap penghancur buku, sebagai musuh alami.

Pada kali lain, seorang sahabat saya, masih mahasiswa tahap akhir, telah berhasil mengumpulkan ratusan buku. Saya anggap dia seinsan biblioholik. Tetiba saja api membakar rumah kosnya. Kebakaran melanda pemukiman tempat tinggalnya. Kala ia datang ke mukim saya, melaporkan bahwa semua bukunya tak satu pun yang bisa diselamatkan. Sebab, selain dilalap api, pun air semprotan pemadam kebakaran, menuntaskan nasib sisa buku-buku yang terbakar. Mungkin ada buku yang selamat dari api, tapi musnah pada semprotan air.

Dan, kali ini. Di kekinian dan kedisinian. Pada kala kiwari, giliran saya yang disambangi oleh musuh buku lainnya, air. Banjir yang menerobos mukim saya telah berhasil merendam ratusan buku, dan bahan bacaan lainnya. Saya ingin marah, tapi pada siapa? Saya mau sedih, tapi buat apa? Saya tetap menjerit atas peristiwa tragis yang menimpa ini. Walau tetap dalam bingkaian, jeritan seorang biblioholik, atas rusaknya buku-buku, sebagai hukuman, atas kelalaian saya menjaga benteng pertahanan dari serbuan banjir. Satu jeritan kekalahan seorang biblioholik, dari perkasanya air, unsur semesta yang gagal dikelola dengan baik.

 

 

Cukup Secukupnya Saja

 

“Orang yang tahu cukup adalah orang yang sudah berkecukupan”. (Dao De Jing, Lao Zi)

 

Bulan Maret 2018, belum sampai semadya jalannya. Tepatnya antara tanggal 6-10, saya ikut nimbrung di persamuhan Palopo Literasi Festival, yang bertempat di areal Taman Baca Kota Palopo. Letak perhelatan ini, berada di jantung kota. Tak jauh dari Istana Datuk Luwu, pun beberapa langkah saja dari mesjid tua, Mesjid Jami Palopo. Pagelaran literasi ini, dihamparkan oleh sekaum altruist, yang terhimpun dalam berbagai komunitas literasi. Waima saya tidak ikut acara secara keseluruhan, hanya dua hari saja, namun aura getaran momen ini, cukup terpahat dalam tulang sumsum kembara saya selaku pegiat literasi.

Sepulang dari festival itu, diatas bus antar kota yang membawa saya balik ke mukim, Makassar, seorang kisanak dari pulau seberang, menjapri saya di medsos. Amat elok jikalau saya nukilkan kiriman pesan, yang bernuansa nasehat itu. Dikisahkan bahwa, seorang pemimpin spiritual, sesosok Imam, dari suatu negeri, berdialog dengan seorang pengikutnya, tentang buah jeruk, yang menyebabkan seorang ibu, didapuk telah berdosa.

Kira-kira begini kisahnya. Oleh Ibu Marzieh Hadidehchi (Dabbaq) menceritakan : Suatu hari di Neauphle-le-Chateau aku membeli jeruk dua kilo karena harganya murah. Karena udara dingin, aku berpikir kita akan punya persediaan jeruk hingga tiga atau empat hari. Ketika Imam melihat jeruk-jeruk itu, beliau berkata, “Untuk apa semua jeruk ini ?” Saya menjawab, “Jeruk harganya murah dan saya beli untuk beberapa hari.” Imam berkata, “Kamu telah melakukan dua perbuatan dosa.

Pertama, kita tidak membutuhkan semua jeruk ini. Kedua, mungkin saja di Neauphle-le-Chateau ada orang yang belum sempat membeli jeruk karena sebelumnya harganya mahal dan sekarang harganya murah mereka dapat membelinya, sementara kamu membeli jeruk untuk kebutuhan tiga sampai empat hari. Kembali ke sana dan kembalikan sebagiannya.” “Tidak mungkin mengembalikannya,” jawabku. “Harus ada jalan untuk itu,” ujar Imam. “Aku harus melakukan apa?” tanyaku. Beliau mengatakan, “Kupas jeruk-jeruk itu dan berikan kepada orang-orang yang belum memakannya. Semoga dengan cara ini Allah mengampuni dosamu.”

Entah suatu kebetulan. Tapi, sesungguhnya tiada yang kebetulan di dunia ini. Sebab, Tuhan tidak bermain dadu, saat mendedahkan takdir kejadian. Pasalnya, tidak lama setelah pesan kisanak itu saya eja, saya memicingkan mata, meresapi hakikat terdalam akan sajian akhlak tingkat tinggi dalam bermasyarakat, tetiba saja pesan japri berikutnya, datang dari pasangan saya di mukim. Ia bilang, “sudah ada lima orang tetangga yang melaporkan kondisi pohon pisang kita di belakang rumah”.

Lalu aku jawab, “wow, aku baru berangkat pagi ini. Kemungkinan tiba malam”. Setelahnya, aku bertanya, “sejak kapan menguning?” Karena agak ada gangguan, maka saya inisiatif menelponnya, bahwa cari jalan keluar saja, agar segera ditebang. Tidak lama kemudian, pesan japrinya masuk, tertulis, “sudah saya bagi-bagi ke tetangga”. Rupanya, begitu pasangan saya memberi tahu tetangga belakang rumah, bahwa saya malam baru tiba, maka tetangga pun berinisiatif menebang pisang itu. Soalnya, lumayan besar pohonnya, buahnya pun lebih sepuluh sisir. Maklum buah perdana.

Orang di mukim saya mengambil secukupnya saja. Sekira setengah saja. Beberapa sisir dibagi ke tetangga. Pun, ada jua yang dikirim ke sanak saudara. Perkara bagi-bagi pisang ini belum berakhir ceritanya. Sebab, selain pesan lewat japri, ia pun menuliskan di linimasa facebooknya, “Sejak kemarin sudah ada enam tetangga yang melaporkan kondisi pisang di belakang rumah. Yang mau makan pisang goreng, ayo ke sini”. Sembari menampilkan gambar pisang, guna menguatkan ajakan itu.

Selama di atas bus, saya selalu merenungkan dua peristiwa yang dipesankan kepada saya. Tentang kisah jeruk dari seorang Imam dan seorang Ibu, juga cerita tentang pisang dan tetangga. Pada prinsipnya, dua peristiwa itu, mempunyai pesan yang sama. Pentingnya berbagi, dan mengambil secukupnya saja. Sebab, dengan begitu, kita akan merasa cukup. Berkecukupan dalam hidup. Jika setiap orang mengambil secukup kebutuhannya, bukan lebih karena dorongan keinginan, betapa tentramnya hidup dan kehidupan bermasyarakat.

Kacaunya tatanan hidup dan kehidupan, berakar pada ketidakmampuan diri mendefenisikan kebutuhan diri. Sehingga, seringkali terjebak dalam tuntutan keinginan sebagai tuntunan. Padahal, sesarinya, antara kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang berbeda, namun tidak banyak insan yang bisa menelisik perbedaannya. Kisanak yang hidup berdasarkan kebutuhannya, itulah seorang yang selalu merasa cukup. Sementara, manusia yang melata berlapik pada keinginannya, itulah sewujud keserakahan. Bagi orang serakah, dunia dengan segala isinya, belumlah cukup buat dirinya. Itulah sejatinya ketamakan.

Telah ditorehkan dalam Udanavarga, kitab suci Budha, bahwa, “kalau membuang semua ketamakan, Anda akan menikmati kebahagiaan yang paling tinggi. Hanya orang yang melekat pada ketamakan yang tidak mungkin bisa merasa puas dalam hidup. Karenanya, tak peduli dia itu siapa, semua perlu memilki kebijaksanaan, melenyapkan ketamakan untuk menikmati hidup berkecukupan”.

Cerita tentang jeruk dan pisang, dari setting peristiwa yang berbeda, sekadar contoh dari laku dan lakon hidup dari para pemantik kehidupan yang bernubuat serba cukup. Benarlah penabalan Lao Zi, seperti yang saya petikkan di mula tulisan ini, yang bila ditegaskan lebih jauh, akan bermuara pada penjelasan, bahwa, “mendapat banyak atau sedikit, bagi orang yang tahu cukup, itu sama saja, tidak ada bedanya, selalu merasa bahagia dalam hidup”. Singkatnya, bila butuh hidup berkecukupan, cukup hidup secukup kebutuhan saja.

 

Sumber ilustrasi: http://www.nu.or.id/post/read/68851/puasa-dan-pesan-tentang-kesederhanaan

Tatkala Partai Politik Menjadi Kuda Rodeo

 

 

Selang beberapa hari, setelah penetapan pasangan calon gubernur dan bupati oleh KPU, untuk pemilu serentak di beberapa wilayah yang menyelenggarakannya, langsung harian Kompas menurunkan hasil risetnya. Riset itu, dilapikkan pada segala gejolak pencalonan sebelum penetapan, maupun hasil pasangan calon yang lolos. Laporan itu menunjukkan simpaian simpulan, bahwa partai politik yang berlaga, amat pragmatis dalam mengusung calon. Bukan pada visi ideologis partai, platform, dan kader.  Tetapi, lebih pada peluang sang calon dan basis material memenangkan pertarungan. Sehingga, sampai pada detik terakhir, tidak sedikit kegalauan menguar kepermukaan. Perubahan dukungan, yang terkesan plin plan, menjadi bagian dari aroma penetapan.

Akibatnya, tidak ada koalisi permanen. Harapan sekaum anak negeri yang mengharapkan koalisi pilkada gubernur DKI Jakarta diterapkan pada daerah lain, bak asap yang menguap. Asa yang menggebu, ternyata berujung pada menggantang asap. Coba bayangkan, pemetaan hasil koalisi, hanya ada 10 koalisi yang melibatkan Gerindra, PKS, dan PAN, dari 17 provinsi yang melakukan pilgub. Belum lagi di pilbub, lebih berantakan lagi. Karenanya, pilkada gubernur dan bupati serentak pada periode kali ini, seperti gado-gado. Tetap enak disantap. Waima, gado-gado bukan makanan pokok, tapi cukup mengatasi rasa lapar kekuasaan.

Karenanya, berhentilah mengusung isu-isu yang bersifat memancing ketidakstabilan negeri. Hentikan isu agama, jenis kelamin, suku, dan lainnya. Sebab, di atas semua itu, ada yang mengangkanginya. Kepentingan kelompok elit yang lebih mengemuka. Isu-isu itu, hanyalah jualan belaka. Makanya, berharap pada partai politik, buat menjadi kuda tunggangan, buat berpacu dalam pacuan kuda memperebutkan piala kekuasaan, menjadi gubernur dan bupati, ibarat para calon itu menunggangi kuda rodeo. Bukan sembarang kuda. Artinya, para joki pun bukan sembarang joki. Sebab, bila tidak punya keahlian mengendalikan binalnya kuda, si joki akan terpelanting.

Saya ingin mengajukan satu ilustrasi tentang bagaimana partai politik, tatkala menjadi kuda rodeo. Hebatnya lagi, kuda rodeonya, seperti semi digital, bisa dikendalikan lewat remoute controll. Sehingga, terkadang kudanya sudah kelelahan, tapi karena pengendalinya masih saja menekan tombol-tombol angkanya, maka kuda pun masih berjingkrak-jingkrak. Ilustrasi ini faktuil, terjadi di tanah tumpah kelahiran saya, sewujud kabupaten yang lagi moncer namanya di seantero Nusantara. Saya tidak perlu menyebut nama partainya. Pun, para joki yang terpelanting.Toh tidak penting.

Mulanya, partai politik itu dijoki oleh seorang pengusaha. Menjadi ketua partai. Dan, berhasil duduk di parlemen. Tentulah ia berniat menungganginya kembali untuk keperluan jadi calon bupati. Dirawatnya dengan baik kuda itu. Dijaga sedemikian rupa, melebihi menjaga diri sendiri. Bahkan, kebersihan, kesehatan, dan makanannya, melebihi ongkos dari pada kebutuhan sandang pangannya.

Tapi apa lacur, baru tahun pertama pemeliharaan, kuda yang jinak itu mulai liar. Hadirlah seorang penunggang lain yang mengincar kuda itu. Memanfaatkan keliaran kuda. Si pengincar membatin, bagaimana caranya supaya menjadikan kuda liar ini menjadi kuda rodeo, sehingga penunggang terpelanting. Betul saja, si ketua partai terpelanting, padahal jingkrakan kuda itu belum seberapa. Maklum si joki sudah tua, sementara yang mengincar seorang anak muda yang lagi naik daun, karena kedermawanannya.

Partai politik, eh maksud saya, kuda rodeo itu, amat adem di tangan anak muda ini. Sama seperti si perawat pertama. Memperlakukan kuda rodeo ini senyaman mungkin. Karenanya, menjadi jinak di mukimnya. Lebih dari itu, ia menjadikannya kendaraan sehari-hari. Kemana saja ia pergi, hanya kuda ini yang dipakainya. Identiklah ia dengan partai politik itu. Apatahlagi, belakangan ia menjadi ketuanya. Pokoknya, menyebut nama partai itu, ingatan publik sudah pasti ingatan tertuju pada anak muda itu. Atau sebaliknya, melihat anak muda itu, berarti mengadalah partai. Tak terhitung duit yang melayang dalam proses pengidentikan ini. Entah sudah seri ke berapa lembaran fulusnya yang terbang. Pahaman orang banyak mengatakan, “banyak sekali”. Beberapa masjid jadi saksinya. Pos ronda, bisa ikut pula bersaksi. Apalagi, berkardus batang rokok, pastilah tak ketinggalan.

Namun apa lacur, setahun sebelum pilkada bupati, kuda jinak ini mulai bertingkah. Partai politik yang diketuainya ini, mulai meringkik, matanya jelalatan, kakinya menghentak-hentak, penanda ketidaknyamanan. Walau ia sebagai ketua, rupanya kandang yang ia siapkan di mukimnya, tidak memadai lagi untuk menjaga partainya dari incaran para joki. Betul bin benar adanya. Hadirlah seorang calon penunggang yang lagi sibuk mencari kuda tunggangan. Mengincar partai politik, buat kendaraan untuk maju di pilkada bupati. Dan, alamak, ia melihat kuda si anak muda ini cukup potensial untuk ditunggangi.

Mulailah si pengincar mencari tahu, bagaimana caranya supaya partai ini makin tidak stabil di tangan anak muda ini. Memata-matai agar kuda ini menjadi tidak nyaman dan aman, agar mewujud menjadi kuda rodeo, supaya si anak muda pun bakal terpelanting. Sehingga, peluang menungganginya terbuka lebar. Akhirnya, masa itu pun tiba. Si pencari kuda tunggangan, melobi petinggi partai politik yang lebih tinggi. Ke pengurus partai tingkat provinsi, hingga ke pusat ia bergerilya.

Tombol pengendali pun mulai dipencet angka-angkanya oleh pengurus provinsi dan pusat. Kuda yang semula dipelihara dengan adem oleh si anak muda pun mulai bertingkah. Liar tidak karuan. Dan, ketika tombol angka tertentu ditekan oleh orang provinsi, anak muda itu pun tak kuasa mengendalikan kuda, meski tetap kandangnya berdomisili di mukimnya. Ia tetap ketua, tapi tak kuasa mengendalikan kekuasaan partai.

Memang anak muda ini sempat terpelanting, tapi karena ia memegang tali kekang kuda, sehingga kuda ini tidak lepas sama sekali. Namanya juga partai politik ini sudah menjadi kuda rodeo, maka silih bergantilah antara anak muda dan pengincar tunggangan, berlatih menunggangi kuda, yang tingkahnya minta ampun. Sebab, siapa saja di antara keduanya, yang menungganginya, pastilah terpelanting. Karenanya, di penghujung waktu tertentu, keduanya bersepakat untuk menungganginya secara bersama. Maka berpasanganlah keduanya menunggangi kuda rodeo ini. Nampaknya mulai aman. Kelihatan mulai jinak. Sang pengincar menjadi calon bupati, sementara si anak muda menjadi wakil bupati.

Pada pucuk perhelatan pilkada bupati, makin riuh keadaannya. Rupanya, rasa nyaman dan aman, mulai raib. Kegelisahan diantara keduanya mulai menyata. Keduanya mulai saling bertanya, “mengapa kuda kita ini makin tak bisa kita kendalikan?” Mengapa partai ini, yang sudah menjadikan kita berdua menjadi jokinya untuk bertarung, sepertinya, bakal disalib oleh joki lain?”

Benar saja adanya, di kala jelang peresmian pendaftaran perlagaan pacuan kuda, pada pendaftaran pasangan calon bupati dan wakil bupati, keduanya terpelanting. Kuda rodeo itu tak sanggup sama sekali lagi dikendalikan olehnya. Tetiba saja, partai politik itu berpindah ke calon lain. Berpindah ke lain hati, begitu sepotong syair dari sebuah lagu kesedihan akan ketidakberdayaan. Kini, keduanya telah menjadi mantan calon bupati dan wakil bupati. Pragmatisme partai politik memangsanya. Dari pinggir lapangan pacuan, keduanya akan menonton perburuan kekuasaan. Ah, partai politik, eh kuda rodeo, siapa sesungguhnya pemegang kendalimu?

 

Sumber gambar: http://medanheadlines.com/wp-content/uploads/2018/01/Ilustrasi-1.jpg

 

Mereka Bernyanyi di Keabadian

 

“Selama masih bisa bernyanyi, saya akan terus menyanyi” (Yon Koeswoyo)

Kini, mereka telah bersatu di keabadian. Besar kemungkinan, mereka lagi menikmati damainya nirwana. Dan, pastilah mereka bernyanyi, bahkan mungkin saja sementara merancang konser di alam sana. Lalu, siapa mereka? Tiada lain yang saya maksudkan adalah Tony Koeswoyo, Murry, Totok AR, dan Yon Koeswoyo. Mereka inilah para personil Koes Plus formasi awal, setelah Koes Bersaudara ditinggal Nomo Koeswoyo dan si bungsu Yok Koeswoyo. Pun, makin ramai kebahagiaan mereka, sebab Koeswoyo Senior dan juga Jhon Koeswoyo, sudah bergabung pula.

Peran Koeswoyo senior, yang merupakan ayah dari Koes Bersaudara, amat menentukan keberadaan group band paling awal di negeri ini. Dari Sang Senior mengalir darah berkesenian, khususnya bermusik. Bukankah Koeswoyo adalah seorang musisi di eranya? Aliran darah bermusik inilah yang menurun kepada anak-anaknya. Demikian pula, posisi Jhon Koeswoyo sebagai saudara sulung, yang semula juga memperkuat formasi awal Koes Bersaudara, memilih mundur, namun tetap mensupport adik-adiknya, baik secara material dan spiritual. Jhon amat berjasa dalam pengadaan alat-alat musik.

Lengkapnya personil Koes Plus formasi awal, dipadatkan oleh hadirnya Yon Koeswoyo di keabadian, setelah wafat beberapa hari lalu, Jumat, 5 Januari 2018. Yon dimakamkan di Pekuburan Umum Tanah Kusir, satu liang lahat dengan kakaknya, Tony Koeswoyo, yang wafat puluhan tahun yang lalu, 27 Maret 1987. Personil kedua yang lebih dulu bergabung dengan Tony, yakni Murry, sang penabuh drum, drummer Koes Plus, telah mengalmarhum pada 1 Februari 2014. Setelah itu, disusul oleh Totok AR, pemetik gitar bas, sang bassist Koes Plus, meninggal 4 Mei 2017. Murry dan Totok adalah Plus dari duo Koeswoyo, Tony dan Yon.

Saya membayangkan di keabadian, sebelum mereka merancang konser, atau yang serupa dengannya, mereka terlebih dahulu berlatih kembali. Persis seperti ketika mereka merancang album pertama Koes Plus, Dheg Dheg Plas, tahun 1969. Saya tertegun, tatkala Murry sudah di posisi kursi emasnya, siap menabuh drum, Tony telah menyelempang gitarnya, sembari mengetes piano-keyboard. Totok AR, tak ketinggalan pula dengan gitar basnya, yang hendak menghentak. Pun, Yon telah siap dengan gitar rhythmnya, sambil testing pengeras suara. Perlahan, mereka mulai memainkan tembang-tembang lawas volume pertama Koes Plus.

Mengalunlah tembang-tembang secara berturut-turut, Awan Hitam, Derita, Kelelawar, Tiba-tiba Aku Menangis, Bergembira, Tjintamu Telah Berlalu, Dheg Dheg Plas, Manis dan Sajang, Hilang Tak Berkesan, Kembali Ke Djakarta, Biar Berlalu, dan dipamungkasi dengan lagu, Lusa Mungkin Kau Datang. Sewaktu album perdana ini diedarkan, respon publik kurang berkenan. Rupanya masih belum bergeser dari terungku kebesaran Koes Bersaudara. Karenanya, Murry sempat down, dan kecewa lalu ke Jember, Jawa Timur, dan sempat bergabung dengan Gombloh dalam group musik Lemon Tree’s Anno ’69.  Nanti setelah RRI memutar lagu-lagu yang ada di album ini, barulah penggemar mulai terhipnotis. Dan, Tony pun pergi menjemput kembali Murry.

Dari tonggak inilah kejayaan Koes Plus mulai menapak jalan. Bayang-bayang Koes Bersaudar mulai terimbangi dengan eksisnya Koes Plus, yang memang secara musikal agak berbeda rasanya. Ini karena adanya dua orang plus, Murry dan Totok AR. Benar-benar plus. Terutama dalam pukulan drum Murry, yang unik, sekaligus pembeda dengan pukulan Nomo di Koes Bersaudara. Memasuki album berikutnya, Totok AR hengkang. Yok pun masuk menggantikannya. Jadi, benar-benar sisa Murry yang plus. Formasi inilah yang malang melintang merajai musik Indonesia, menjadi trend setter balantika musik di Indonesia.

Kejayaan menuju legenda musik Indonesia, meski mereka tidak pernah menduganya. Setidaknya, hingga tahun 80-an. Meski pada rentang waktu yang dimangsa itu, terkadang Koes Plus passif, yang maju Koes Bersaudara, atau sebaliknya. Di paruh waktu itu pula, ketika Koes Plus eksis, Nomo Koeswoyo tidak tinggal diam dalam bermusik, hadirlah band Nokoes, akronim dari namanya. Ketika Koes Bersaudara, yang nampak, Murry pun tetap bermusik, dengan band yang dibikinnya, Murry’s Group.

Wafatnya Yon Koeswoyo, berarti Koes plus sisa menyisakan satu personil, Yok Koeswoyo. Tapi, bila bendera Koes Bersaudara yang dikedepankan, maka masih tersisa dua personil, Nomo dan Yok. Tentulah dua personil ini telah ditunggu oleh personil-personil lainnya di keabadian. Dan, ini sebuah keniscayaan dalam kepastian. Jelasnya, saat ini Yon Koeswoyo telah mencukupkan jatah usianya di kesementaraan dunia, lalu menapaki jalan keabadian di akhirat. Dengan begitu pula, mereka tetap mengabadi di kesementaraan, karena tembang-tembangnya akan abadi dari generasi ke generasi berikutnya anak bangsa ini. Demikianlah takdir dari mereka, Koes Bersaudara-Plus, menjadi legenda musik Indonesia.

Saat saya menuliskan esai ini, saya mengetiknya dengan amat khusyuk. Sekhusyuk dalam mendengarkan tembang-tembang volume satu ini. Seiring dengan berakhirnya ketikan tulisan, pun tiba pada tembang  pamungkas, Lusa Mungkin Kau Datang.  Dari keabadian, Yon Koeswoyo melantunkan bait-baitnya:

Sepi, sepi hatiku sedih
Sunyi, sunyi aku sendiri

Ku menanti
Kau kembali
Kau di sini

Lusa, lusa mungkin kau datang
Lama, lama ku mengharapkan

Ku menanti
Kau kembali
Kau di sini

 

Sumber gambar: https://nadatjerita.files.wordpress.com/2013/07/koes-plus-vol-1-dheg-dheg-plas-2.jpg

 

 

Why not Share?

 

Sungguh, bagi saya, esai ini amat spesial. Apa latarnya? Tatkala saya tuliskannya, sebagai bentuk rutinitas  menulis di media ini, pada setiap hari Ahad, bertepatan dengan hari terakhir tahun 2017. Bukankah 31 Desember 2017, jatuh pada hari Ahad? Tentulah momen berharga semisal ini, hanya berlaku bagi insan yang menganggap pergantian kalender masehi, bukanlah soal yang mesti dipersoalkan. Dan, saya termasuk yang tidak mempermasalahkannya. Sebab, padanya berlakon, sebagai kesempatan melakukan sejenis rangkuman perjalanan, dari satu ikatan kala.

Bagi setiap orang, ada banyak cara mengakhiri putaran tahun ini. Ada yang bikin pesta. Tiada terkira institusi sosial ekonomi melakukan persamuhan akhir tahun, sembari melahirkan resolusi buat dijalani tahun berikutnya. Berbagai keluarga memanfaatkan liburan panjang bersama keluarga. Saya sendiri, di samping meladeni permintaan beberapa acara dialog akhir tahun, yang terpenting adalah melipat kembali masa, lalu menetapkan satu poin yang amat membekas dalam diri. Pada, jati diri waktu inilah, saya tiba di suatu kesan terdalam pada sekelompok pemusik, era enam puluhan hingga tujuh puluhan, yang lahir di tanah Inggris, The Hollies.

Perkenalan dengan The Hollies, jauh di masa silam. Sekira usia sekolah dasar jelang sekolah menengah. Salah satu tembangnya yang sering kami putar di rumah berjudul Just One Look. Lagu ini terdapat dalam sebuah kaset, yang saban waktu kami bermain permainan bola kancing, sebagai penanda durasi memulai dan mengakhiri permainan. Side A menandai babak pertama, sedang side B untuk babak kedua. Pastilah generasi sekarang tidak mengenal permainan ini, pun kaset sebagai pemutar lagu.

Jelang pertengahan tahun sembilan puluhan, ketika saya memulai usaha membuka toko buku di bilangan utara kota Makassar, saya bertetangga dengan pengusaha warung. Ada lagu yang setiap hari pasti ia putar. Saya menduga, seringnya lagu itu diputar, sebab stok kasetnya terbatas. Lebih dari setahun saya bertetangga, sebelum saya pindah ke bagian selatan kota. Jujur, saya tidak tau apa judul lagu itu, sebab kasetnya sudah tak bersampul. Tapi, karena lagu itu sepanjang tahun diputar, akhirnya sulit sekali saya tampik. Padahal, di tahun yang sama, saban waktu salah satu perusahaan komputer IBM, menjadikan lagu ini sebagai latar iklannya, yang menggambarkan dua ekor gajah, induk dan anaknya, jalan beriring.

Nanti di tahun ini, tanpa sengaja saya berselancar di YouTube, bertemu dengan lagu yang penuh kesan tersebut. Ternyata, judulnya, He Ain’t Heavy, He’s My Brother, yang ditembangkan oleh group The Hollies. Anehnya, entah iklim spiritual apa yang melatari, sehingga, nyaris setiap hari lagu ini saya dengarkan. Bahkan, terkadang seperti orang minum obat, tiga kali sehari. Barulah di penghujung tahun 2017, saya berani memastikan, bahwa suasana kebatinan saya amat tertambat pada lagu ini, dikarenakan pada tahun ini, tidak sedikit saya menyaksikan peristiwa kemanusiaan yang antikemanusiaan. Manifestasinya amat telanjang dalam dunia politik, ekonomi, sosial, agama, dan budaya.

Lalu, apa sebenarnya yang dikandung oleh lagu ini? Saya selalu merinding jika tiba pada syair ini, With gladness of love for one another // It’s a long long road // From which there is no return // While we’re on our way to there, why not share?. Karenanya, dari sini pula, saya petik judul tulisan ini, Why not Share? Yang amat memengaruhi jiwa saya, sebab adanya ajakan untuk berbagi. Meski sebenarnya, lagu ini dicipta dengan latar perang di Amerika. Namun, pesannya begitu universal, melampaui batas benua. Sekat pembatas sebagai bangsa, ras, agama, budaya, dan berbagai ikatan lainnya, teretas karena ajakan berbagi. Jadi, kenapa tidak berbagi, why not share?

Sekira pertengahan tahun ini, saya merasa amat malu. Terutama pada diri sendiri. Betapa tidak, sekali waktu, saya ke tempat pembuangan sampah. Orang yang mengolah tempat sampah, semulanya hanya dua orang, pasutri. Tidak lama kemudian menjadi beberapa orang. Pasutri awalnya menguasai tempat sampah itu seharian, pagi hingga larut malam. Tapi, kemudian ia membaginya dengan sebuah keluarga, yang ingin juga mengais nafkah di tempat sampah itu. Dengan segala kelapangan dada, pasutri itu membaginya. Saya mencari tau muasal pembagian jatah itu. Pasutri saya tanya, mengapa sudah tidak sampai malam. Dijawabnya, bahwa ia membaginya dengan seorang yang juga punya keluarga, karena baru saja ia pensiun dari mengayuh becak.

Penasaran saya berlanjut. Saya lalu cek kebenarannya pada yang menerima jatah malam, bagaimana cara ia memperoleh pekerjaan di tempat sampah ini. Dengan mata yang berkaca-kaca ia bertutur, bahwa atas kebaikan orang semula menguasai tempat ini, membagikannya buat jatah malam. Rupanya, keinginan berbagi di antara orang yang dianggap kecil dan terpinggirkan amat kuat. Terus terang saya malu, amat malu pada mereka. Mengapa? Karena selama ini saya hidup di tengah orang-orang yang lebih suka mengambil dari pada berbagi. Kalaupun berbagi, maka yang dibagi hanyalah kebencian, pencitraan, malah pembagi aktif hoaks. Saya pun membatin, sembari membayangkan orang-orang yang suka berebut jatah, apa saja, bahwa mereka sudah tidak punya malu, yang tersisa hanya kemaluannya saja.

Akhirnya, memasuki Desember 2017, umat manusia di berbagai belahan dunia, larut dalam perayaan akan dua manusia agung. Tepatnya, di pekan pertama Desember, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.  Pada pekan terakhir Desember, merayakan Natal Yesus Kristus. Kedua, utusan Tuhan ini, adalah manusia paripurna dalam berbagi. Nabi Muhammad dengan rahmat seluruh alamnya, sedangkan Yesus Kristus bersama cinta kasihnya. Dua persona yang begitu mempesona, sehingga setiap persona, pasti terpesona akan pesonanya dalam berbagi. Jadi, kenapa tidak berbagi, padahal berbagi adalah sari diri para utusan Tuhan? Sungguh, Why not share?

 

Sumber gambar: https://cdns.klimg.com/vemale.com/g/ilustrasi_realita_kehidupan_masa_kini_bikin_miris_tapi_nyata/realita-zaman-now-20170929-editor-001.jpg

 

 

 

 

Songkolo Maudu

“Reski itu memberi. Tak melulu menerima”. (Alwy Rachman)

All about love, semua tentang cinta. Ada kebiasaan yang saya rawat. Penuh cinta. Bila keluar daerah, memakai oto angkutan umum langganan saya. Posisi tempat duduk paling depan dekat sopir, atau paling belakang berhimpit bagasi. Posisi kursi yang saya pilih itu, bukan tanpa alasan. Jika di depan, maka itu berarti, saya akan bercakap dengan sopir, sepanjang jarak tempuhan. Kalau di belakang, hanya aktivitas membaca atau tidur, selama perjalanan.

Kali ini, saya memilih duduk di kursi depan, berdua dengan sopir langganan. Menurut pengakuannya, ada rasa yang tak tertukarkan bila saya duduk di dekatnya. Sembari menemani bercakap, rasa kantuknya hilang. Apatah lagi, terkadang percakapan itu amat intim, sesekali tawa menguar. Ada kesetaraan antara saya selaku penumpang, dan ia selakon sopir. Tidak berlaku semboyan penjaja usaha sektor jasa, “penumpang serupa raja, sopir sebentuk pelayan”.

Lalu, apa topik percakapan selama tempuhan perjalanan? Tiada lain adalah perayaan kelahiran manusia agung – lelaki ilham dari surga, menurut Ebiet G. Ade — Nabi Muhammad SAW, yang diganjar dengan hari libur nasional. Memang, negeri kita adalah penggalan sepetak surga, yang amat menghargai peristiwa. Amat setia pada peristiwa. Libur nasional, yang sepanjang tahun bisa kita nikmati bersama, sebentuk tali karet, yang amat lentur untuk menguarai ketegangan-ketegangan sosial, yang menyetubuhi masyarakat.  Sulit membayangkan, sakit massal apa yang bakal diidap oleh bangsa ini, manakala tidak punya sederet libur nasional.

Merayakan libur nasional Maulid Nabi, hanyalah salah satunya. Dan, kesempatan ini saya gunakan melenturkan diri, bersama dengan sopir, bercakap akan gundah gulananya. Sang sopir mengalami gulana. Bergundalah ia, sebab ada rasa bersalah, sekaligus penasaran, sebagai akibat dari adanya tradisi keluarga besarnya, mulai hilang. Perlahan menuju kepunahan. Sepenggal kebiasaan yang dilakukan oleh kakeknya, kala merayakan kelahiran Sang Nabi. Tradisi yang memulai memudar itu disebabkan oleh dua hal, adanya pandangan keagamaan, sebagai prilaku bid’ah, dan makin sulitnya meniru prosesi perayaan maulid.

Menurutnya, pada setiap perayaan maulid, keluarga besarnya mempersiapkan dengan sepenuh cinta. Dan, salah satu topik yang menarik adalah Songkolo Maudu, sejenis penganan yang istimewa, yang keberadannya hanya pada acara maulid. Posisi Songkolo Maudu amat sentral dalam upacara maulid. Bermaulid tanpa Songkolo Maudu, sepertinya tidak sah perayaan itu.

Dalam masyarakat Makassar dan juga Bugis, penganan songkolo, merupakan seseuatu yang lumrah. Setiap hari bisa dijumpai buat dimakan. Songkolo (Makassar) atau sokko (Bugis), telah menjadi penganan yang mudah didapat. Tengoklah Songkolo Bagadang, yang dijual jelang tengah malam. Mungkin maksudnya, songkolo ini bisa dimakan sambil begadang. Pun, pada pagi hari, banyak yang menjadikannya sebagai sarapan.

Selanjutnya, adakah perbedaan antara jenis-jenis songkolo itu dengan Songkolo Maudu? Saya meraba saja, bahwa songkolo selain Songkolo Maudu itu, betul-betul hanya untuk keperluan konsumsi. Fungsinya mengenyangkan raga. Sementara, Songkolo Maudu dibikin karena motif cinta, guna memenuhi kebutuhan jiwa. Songkolo Maudu adalah persembahan tanda cinta pada suami Khadijah, Nabi Muhammad SAW.

Mari saya ceritakan ulang, hasil percakapan dengan sopir langganan saya, atas prilaku kakeknya dalam menghadirkan Songkolo Maudu, penganan paripurna, buat persembahan perayaan maulid. Bahwasanya, ada banyak banyak bahan yang mesti disiapkan dalam pembuatannya. Pun, proses membikinnya. Juga saat penyajian. Bahan utamanya, beras ketan, ayam kampung, telur ayam kampung, dan aneka rempah sebagai bumbu penyedap. Dan, wadah penyimpanannya.

Semua bahan Songkolo Maudu itu mudah didapat pada pasar tradisional. Tapi, bagi Sang Kakek, semuanya disiapkan sendiri, sepenuh cinta pada junjunganya, kakek dari Hasan dan Husain, Muhammad SAW. Misalnya, untuk beras ketan, ditanam sendiri, yang sejak mula diniatkan untuk perayaan maulid. Pada sepetak sawah, terpisah dengan padi lainnya. Pun saat dipanen, proses pemanenannya serba khusyuk. Tidak terburu-buru. Setelah dipanen, gabah itu disimpan pada penyimpanan khusus, di atas para, sebuah tempat yang letaknya di atas langit-langit rumah, di bawah atap, hingga jelang perayaan baru ditumbuk, mewujud jadi beras ketan.

Adapun kelapanya, Sang Kakek mempersyaratkan harus dipanjat, tak boleh dibuang. Si pemanjat harus memetiknya dengan sepenuh cinta, lalu membawanya turun. Demikian pula ayam kampung, diternak sendiri, atau setidaknya ia beli sebulan sebelum bukan maulid tiba. Dipeliharanya dengan telaten, dikurung agar tidak makan sembarangan. Hanya beras dan jagung makanannya. Nasib telur ayam kampung pun diperlakukan istimewa. Hasil dari beternak sendiri, atau dipesan khusus. Wadahnya, berupa baku, sejenis tempat hasil anyam yang terbuat dari daun lontar.

Setiba di hari perayaan maka Songkolo Maudu itu sudah nyaman keberadaannya dalam dekapan baku. Isi dalamnya ayam kampung yang telah digoreng. Bagian luarnya, ditancapkan telur yang telah dimasak, penuh warna-warni sebutannya male. Pada Songkolo Maudu pula, melintang-lintang telur dadar yang amat tipis. Taburan merica dan ketumbar, serta bawang goreng, bercampur baur, damai dalam keperkasaan dan wibawa Songkolo Maudu sebagai persembahan. Dari sekian Songkolo Maudu yang disiapkan, ada satu yang bentuknya jumbo, namanya Baku Karaeng. Pada yang jumbo inilah, isi dalamnya seekor ayam kampung terbaik, yang telah digoreng. Dan, inilah yang menjadi incaran setiap orang, karena dipercayai sebagai keberkahan, dari sebuah tindakan penuh cinta.

Di penghujung percakapan, saya bilang pada sopir langganan saya, bahwa laku Sang Kakek adalah laku penuh cinta. Lakon semisal inilah yang dimaksudkan oleh Erich From, dalam bukunya To Have or To Be, Memiliki dan Menjadi, sebagai modus eksistensi seseorang. Sang Kakek telah berhasil, berjalan dari modus memiliki dan tiba pada menjadi. Kesemuanya terjadi karena cinta. Hanya kecintaan pada lelaki suci, ayah dari Fatimah az-Zahra, Nabi Muhammad SAW. Cintanya bukanlah yang memiliki, karena akan menerungku diri. Cintanya merupakan cinta yang memberi, sebab membebaskan diri. Ini pula yang dimaksud oleh pendakuan seorang budayawan, Alwy Rachman, bahwa reski itu memberi, tak melulu menerima. Dan, manifestasinya pada Songkolo Maudu.

 

Sumber gambar: https://services.sportourism.id/fileload/img-20161212-wa0001jpg-jZo6.jpg?q=75

 

 

Negeri Baliho

 

Sungguh, saya benar-benar kecanduan. Serupalah para cilik yang ingin merasakan dahsyatnya narkoba, tapi tidak punya fulus, sehingga jatuhnya pada menghirup lem tertentu. Ngelem namanya. Kata orang banyak, efeknya, malah lebih hebat dari narkoba. Sesarinya, kecanduan memang sesuatu yang tidak normal. Apa saja. Bila sudah kecanduan, maka ketidakseimbangan pun menanti di ujung akibat.

Mulanya, sederhana saja. Normal adanya. Tatkala sekaum panitia pelaksana mendapuk saya menjadi salah seorang pembicara, seputar gerakan literasi. Terpajanglah sebuah baliho raksasa, yang besarannya layak dipertandingkan dengan baliho para calon bupati dan gubernur. Taksiran biayanya, sekira di atas lima ratus ribu rupiah. Demikian dugaan saya. Takjublah saya pada baliho itu. Betapa tidak, saya sendiri, nyaris tidak percaya, sebegitu memukaunya tampilan saya di baliho itu. Perkaranya, bukan saja soal gambarnya yang sudah dipermak sedemikian aduhainya, tapi kata-kata bertuah, dan sederet  gelar pun ikut nangkring.

Bagi orang seperti saya, yang baru saja meresakan efek pukau baliho itu, tentulah mendambakan bukan kali itu saja, melainkan ingin berkali-kali. Soalnya, model yang semisal saya, amat garib mendapatkan kesempatan berbaliho ria. Dulu, di waktu lampau, kala masih muda di “zaman old”, sama sekali tidak pernah merasakan ketakjuban. Meski sering diajak untuk menjadi pembincang di berbagai forum, kusususnya di kalangan kaum muda mahasiswa. Paling banter, diganjar dengan pamplet-pamplet hitam putih. Kadang berwarna, cuman kertasnya doang. Kini, di masa kiwari, ketika ketuaan hadir di “zaman now”, baliho mulai memanggil untuk dijajal. Karenanya, baliho adalah candu yang menggiurkan.

Pun, seiring dengan makin seringnya saya diajak, tepatnya dibajak jadi pemantik perbincangan seputar gerakan literasi, maka saya makin sering melakukan perjalanan. Memenuhi panggilan, menjadi lelaki panggilan atas nama perhelatan literasi. Ibarat artis, undangan manggung makin menjadi. Lagi moncer bersama animo masyarakat,  yang lagi jatuh hati pada geliat gerakan literasi. Dan, dalam perjalanan itu pula, saya mulai mengangankan pajangan tampang saya di baliho-baliho raksasa.

Pada perjalanan memenuhi panggilan berliterasi, baik di kabupaten bagian  selatan, maupun bagian utara Kota Makassar, sepanjang jalan, saya banyak menemukan baliho-baliho raksasa. Tapi, alamak celaka tiga belas, sayangnya bukan baliho saya. Baliho raksasa itu, tiada lain adalah kepunyaan para calon bupati dan gubernur. Tampangnya, slogannya, janjinya, gelarnya, dan sederet penambah citra, sekotahnya terpatri di baliho itu. Ada yang memaksakan diri tersenyum, pun ada jua yang menatap tajam, seolah penuh wibawa. Jargon dan salam sapanya apa lagi, sedapat mungkin menambah kasiat bujuk rayu, agar rakyat memilihnya kelak.

Lalu, buat menghibur diri yang kecewa, saya cukup membayangkan saja. Setiap wajah dari mereka yang terpampang itu, saya tempelkan wajah saya, menutupi wajah mereka. Pastilah, semua tulisan penyemangat di baliho itu, saya tukar pula. Sehingga, selama perjalanan itu, sepertinya saya melihat diri sendiri, mengagumi, menakjubi berbagai ragam pose gambar saya, seperti yang selama ini telah saya umbar di facebook dan instgram saya.

Sesekali, tangan saya melambai ke baliho itu, jika baliho itu bergambar  melambaikan tangan. Kadang juga, saya tersenyum, membalas senyuman di baliho itu. Momen lain, saya kepalkan tinju, guna membalas kepalan tangan yang di baliho.Alangkah indahnya perjalanan ini, berjalan-jalan di negeri baliho. Setiap tempat merupakan sarana baliho, dan setiap wajah  adalah  rupa saya. Sehingga, saya pun membatin, nyatakanlah dirimu lewat baliho.

Kenikmatan pada kecanduan baliho ini, makin menggila. Sebagai contoh, ketika sekelompok  kaum muda meminta saya untuk menjadi pembincang acara seputar literasi, maka salah satu syarat yang saya ajukan agar mereka membuatkan saya baliho. Dan, ketika mereka bertanya ukurannya, saya langsung menukas, sebesar baliho para calon bupati dan gubernur itu. Bila perlu lebih besar. Kalau terasa berat pengadaannya, tidak usah siapkan uang pembicara, apalagi plakat, atau nanti saya tambah kekurangan duit penyelenggara. Hanya ada tiga kata, baliho, baliho, dan baliho.

Pada kenikmatan senggama pada baliho, sebelum mencapai orgasme kecanduan, tetiba saja konsentrasi persetubuhan buyar. Apa pasal? Gara-gara tertuju pada ingatan lain, yang sudah lama terpendam.  Munculnya kata-kata, yang hadir menginterupsi tanpa tabik. Ikut nangkring  pada baliho raksasa yang paling bagus desainnya. Kata-kata itu berbahasa lokal, Bugis dan Makassar, sebagaimana etnik yang dominan di Sulawesi Selatan. Terpampanglah slogan, Puji Ale dalam bahasa Bugis, dan Ero’ Nikana dalam bahasa Makassar.

Kata-kata itu bak tamparan keras, yang membuat saya limbung, selimbung-limbungnya, padahal saya bukan orang Limbung (sebuah daerah di Kabupaten Gowa). Ibarat  pesohor yang lagi manggung, lalu mati lampu. Hanya gulita yang mengada. Apa yang bisa dibikin dalam keadaan gelap, selain meraba-raba?  Itu pula yang saya lakukan. Meraba-raba, apa maunya kata-kata interupsi itu, yang membuat baliho raksasa nan megah itu kehilangan daya pikat.

Rabaan saya ternyata tiba pada sebuah buku, Ruang Sadar tak Berpagar, anggitan Alwy Rachman. Di buku ini, ada satu esai yang bertajuk, “Mitos-Mitos Puji Ale dan Ero’ Nikana”. Ternyata, kata sepadan untuk mengenali kata-kata lokal itu, adalah narsisme, memuji diri sendiri. Oleh Jean M. Twenge dan W.Keith Campbell, sebagaimana dinukil Alwy Rachman, sebagai abad Narsisme. Suatu abad yang narsistik, bisa dikenali dengan tanda-tanda: arogan, sombong, melihat dirinya besar dan berkharisma singa, dan segala sesuatu berpusat pada dan untuk dirinya sendiri.

Dan, puncak dari pribadi narsistik itu, terpahat pada laku, “seorang manusia yang lapar dengan sebutan, haus akan gelaran. Orang-orang yang seperti ini segera menjadi agresor ketika sedikit dicubit. Satu lagi, mereka tidak pernah tertarik pada hubungan yang intim, jujur dan akrab”. Demikian Alwy Rachman mendakukan tohokan pada manusia narsisistik.

Sungguh, saya betul-betul ketagihan. Sebentuk pengembara di jalan ruhani, yang tergila-gila pada kekhusyukan jalan hidup. Ketagihan pada tamparan kesadaran hidup, agar menjadi manusia apa adanya saja. Ketagihan pada gelap gulita, biar keinginan untuk meraba benderang kebaikan hidup, semakin menggila. Kecanduan pada baliho, sedapat mungkin segera berlalu. Ketagihan  pada sari diri, sesering mungkin mulai dicicil. Jika tidak, “sungguh terlalu”, begitu Bang Rhoma bilang. Sungguh.

 

Sumber gambar: https://sagligabiradim.com/wp-content/uploads/2016/03/%C3%B6zsayg%C4%B1.jpg

 

 

Politik Itu, Serupa Sepak Bola

Entahlah. Belakangan ini, sudah lebih dari lima jari tangan saya, jumlah kisanak yang menandangi mukim saya, guna berbagi kepusingan soal politik. Padahal, sesarinya, saya bukanlah pengamat politik, tidak pula konsultan politik, apatah lagi dukun politik. Bahkan, oleh banyak kawan, saya didapuk sebagai persona, yang apolitik. Soalnya, sejak pasca reformasi, sempat pula singgah di partai politik, menjadi elit partai, selaku ketua harian pelaksana partai, waima,  partainya tergolong partai gurem. Dan, tidak lolos dalam perhelatan pemilu berikutnya. Kini, partai itu sudah almarhum.

Tapi, menurut kisanak-kisanakyang datang itu, justru di sinilah letak pentingnya saya diajak berbincang. Pasalnya, bila pengamat politik, apalagi konsultan politik, sangat sulit didapatkan objektivitasnya, sebab mereka ikut bermain politik, baik sebagai pemasok kata-kata, maupun selaku pelaksana tugas pemenangan aktor politik. “Kami butuh orang yang tidak berpolitik praktis, yang kami butuhkan adalah orang yang punya rasa politik”, katanya.

Tidak sedikit di antara mereka yang menyambangi saya itu, membawa rasanya. Tepatnya, kepusingan mereka melihat perhelatan politik, yang tidak lama lagi digelar. Pilkada serentak, untuk memilih gubernur dan bupati, di beberapa wilayah akan digelar. Kebingunan yang nyaris merata dari mereka, tertuju pada partai politik yang dalam mengusung pemaiannya, maksudnya menetapkan calon gubernur dan bupati, tidak konsisten pada setiap wilayah pemilihan.

Padahal, tidak sedikit dari mereka, telah terlanjur mematenkan permusuhan antar partai. Dan, mula paling terdepan adalah kasus pilkada gubernur di DKI Jakarta, yang ingin diimpor ke daerah lain. Nyatanya, di pilkada Jakarta partai bermusuhan, sampai membawa urusan agama segala, di tempat lain, bersenggama laiknya burung jalak di rimbunan pohon kersen, atau setidaknya, malah berpelukan, seperti boneka-boneka Teletubis.

Nah, agar rasa politik mereka tidak menjalar pada kemarahan, maka saya pun mengajak untuk hadir pada persamuhan di akhir pekan. Saya mengajak mereka nonton bareng. Tapi bukan nonton film, melainkan nonton sepak bola. Wajah-wajah keriangan menghidu mereka. Maka pilihan pun jatuh untuk menonton Liga Primer Inggris, sebagai liga paling dinamis di dunia. Tentulah sebagai fans salah satu kesebelasan, Arsenal, saya mau supaya mereka menonton perlagaannya. Pasal siapa yang menang, itu soal lain. Walau, saya khawatir juga, jangan sampai Arsenal kalah di depan fansnya panatiknya, dan juga calon fans. Bukankah sebagai fans klub sepak bola, sering pula saling bajak pemuja klub?

Setelah nonton bersama, mulailah saya membuka ruang percakapan. Saya memberi pengantar perbincangan, tentag bagaimana perlagaan sepak bola, bisa kita jadikan sebagai cara memahami dan menyikapi permainan politik. Bicaralah saya seluas mungkin, tentang bagaimana klub sepak bola sekelas Arsenal, dalam mengikuti setiap kompetisi, di berbagai ajang perburuan piala. Saya dedahkan saja dengan gamblang, bahwa Arsenal setiap musim pertandingan, selalu mengikuti empat  ajang kompetisi. Mulai dari Piala Liga, Piala FA, Liga Primer, dan Liga Champion. Bila dalam politik, setaralah partai politik itu berlaga di ajang pemilihan bupati, gubernur, legislatif, dan Presiden.

Pada setiap perlagaan, tentulah dibutuhkan strategi untuk pertandingan, agar di ujungnya piala dapat diraih. Dan, ingat, sebelum kompetisi di berbagai ajang itu, setiap klub sepak bola, akan melakukan pembelian dan penjualan pemain. Istilah kerennya, transfer pemain. Pada momen ini, seluruh energi klub dikerahkan untuk memenuhi harapan klub agar terbentuk tim yang solid, guna menghadapi ajang perebutan piala. Perpindahan pemaian, apalagi pemaian bintang yang bayarannya selangit, menjadi keniscayaan. Pemain yang pindah dari klub seteru, itu biasa dalam sepak bola. Apalagi, pergantian manejer dan pelatih amat lumrah. Para pemuja klub, fans, boleh setuju, boleh protes. Tapi, keputusan ada di tangan elit dan pemilik klub. Terkadang ada pemain pujaan fans, tapi tidak berkenan di pemilik.

Ilustrasi permainan sepak bola itu, serupalah dengan perlagaan politik. Pada partai politik, bisa diamsalkan sebagai klub sepak bola. Ada elit pengurus, pelatih, manejer, ofisial, pemain, pemegang saham, dan pemilik. Fans juga ada, tapi otoritas tertinggi untuk menentukan mekanisme klub, ada di tangan para elit klub. Demikian pula dengan partai politik. Di dalamnya ada elit pengurus partai, staf ahli, pendiri merangkap pemilik, dan para anggota partai. Perubahan kepengurusan, pergantian atau pindahnya anggota partai, sama saja dengan apa yang terjadi pada sepak bola.

Jadi, jangan terlalu seriuslah memandang persoalan politik ini. Ini sebentuk permainan. Dalam permainan yang bakal menghasilkan pemenang,  mekanisme tempuhannya dengan berbagai macam cara. Mulai dari cara yang mengikuti peraturan pertandingan, sampai pada yang ugal-ugalan dalam memperlakukan mekanisme semuanya ada. Jika klub menang dan juara, maka pesta digelar. Kalau klub kalah, maka ratapan tangis menguar. Perkelahian antara pemaian, apalagi fans, itu semuanya pernak-pernik pertandingan. Tawa karena menang, sedih sebab kalah, itu bagian dari dinamisasi pertandingan.

Meski begitu, pertandingan sepak bola yang sepadan dengan perhelatan politik ini, haruslah dipandang pula sebagai kerja-kerja industri modern. Kapaitalisasi terhadapnya, telah menjadi jati diri. Maka sekotah bidang kehidupan, dikapitalisasi untuk mendukung kesuksesan perlagaan sepak bola, pun, permainan politik. Anasir-anasir  budaya, psikologi, ekonomi, dan agama, dikerahkan demi sepak bola, eh…, politik juga. Demi kebesaran klub. Demi kejayaan politik.

Maka benarlah apa yang dinubuatkan  Emha Ainun Najib, dalam bukunya, Bola-Bola Kultural, bahwa energi, emosi, uang, militansi, fanatisme, tekad hidup atau mati, serta segala yang mendasar , dipersembahkan untuk sepakbola.  Dengan begitu, berlapikkan pada Emha, saya pun menggiring alam pikiran ke alam perpolitikan. Bahwasanya, tidak bisa dimungkiri, masih ada pula yang memandang ajang perhelatan politik, adalah arena mengaktualkan segala yang mendasar pada diri. Namun, biasanya dianut oleh orang-orang yang melihat dinamika politik sebagai ajang memperjuangkan semangat ideologis.

Adakah kisanak-kisanak masih bingung bin pusing , terhadap perhelatan politik, yang melibatkan partai politik, yang tak jelas kelamin ideologisnya, dengan segenap perangkatnya? Bila masih dalam kegalauan, maka saya ajak kembali, untuk menghadiri persamuhan di mukim saya. Mari nonton bareng sepak bola, sembari mempercakapkan politik. Entahlah.

 

Sumber gambar: http://majalahpeluang.com/wp-content/uploads/2014/09/121soccer.jpg

 

Kendaraan Politik dan Politik Kendaraan

 

“Sekadar urita. Bila saja ada calon bupati atau calon gubernur, yang belum punya kedaraan untuk maju di Pilkada serentak periode ini, sila hubungi saya. Ada motor saya. Nanti saya bonceng motor ke tujuan. “

Di tempat saya mengais nafkah, toko buku saya bertetangga dengan usaha rental kendaraan, penyewaan mobil. Aneka oto yang disiapkan. Bergantung pada selera penyewa. Bahkan, kalau tidak cukup, karena banyaknya permintaan, semisal menghadapi hari raya, masih bisa diladeni, dengan cara meminta pada mitranya. Ada semacam konsorsium rental kendaraan di antara mereka. Istilah kerennya, punya koalisi. Jenis mobil yang tersedia, rupa-rupa mereknya. Pun, kapasitas muatnya. Ada yang empat kursi, enam kursi, dan tentu bisa pula ganjil hitungannya. Mirip-miriplah jumlah kursi partai politik di parlemen.

Saban waktu, jika masing-masing tak ada orderan, saya sering terlibat percakapan mendalam, tentang seluk beluk usaha penyewaan kendaraan. Mulai dari kemampuan si penyewa, selera oto yang disukai, jenis strata sosial ekonomi penumpang, momentum perhelatan yang bakal dihadapi, jumlah kursi yang dimuat, apa sopir ikut atau tidak, dan sederet perjanjian yang mesti disepakati. Perjanjian pemakaian kendaraan mesti dikongkritkan, sebab bisa saja, selama penyewaan, atau setelah pemakaian, timbul perkara. Terkadang ada penyewa yang ingkar, bahkan ada pula yang bawa lari kendaraan. Ada pula penyewa, kemudian membeli kendaraan yang awalnya hanya menyewa. Pokoknya, macam-macamlah suka duka usaha rental kendaraan ini.

Kini, tetangga toko saya ini beralih usaha. Ditinggalkannya usaha penyewaan kendaraan ini, lalu beralih ke usaha percetakan. Peralihan usaha ini, karena mungkin trauma dengan para penyewa, yang kadang selalu bermasalah di ujung persepakatan. Apatah lagi, satu unit mobilnya sudah dibawa lari oleh perental. Hingga tulisan ini saya bikin, oto itu belum balik jua. Duit sudah banyak keluar guna mencarinya, tapi nihil hasilnya. Usaha percetakan yang digarap, tidak tanggung-tanggung, berbasis digital printing. Produk yang ditawarkan bermacam-macam. Mulai dari bikin stempel, undangan perhelatan, sampai baliho aneka ukuran.

Nah, dari sinilah makin menarik bagi saya. Pasalnya, nyaris setiap saat ada baliho untuk calon gubernur dan bupati dicetak. Mungkin bagi si tetangga pemilik percetakan tidak melihat hubung kait, antara jenis usaha sebelumnya, rental kendaraan, dengan cetakan baliho para calon gubernur dan bupati, di tahun perhelatan politik ini. Mungkin tetangga saya ini sudah lupa pada suka duka usaha penyewaan kendaraan sebelumnya. Sebab, kini, sepertinya sudah mulai panen cetakan baliho politik dari para politisi yang berhasrat mau jadi pemimpin. Entah itu gubernur atawa bupati. Saya berani menduga, bahwa tetangga toko saya ini, tidak peduli dengan para calon yang dicetak balihonya. Bahwa tak kalah susahnya dengan para politisi yang butuh kendaraan politik, guna mengangkut mereka sampai pada tujuan politiknya tercapai. Seperti susahnya mencari rental mobil kala musim pemakian mobil tiba.

Artinya, para calon bupati dan gubernur, ibarat penyewa yang butuh kendaraan politik. Dan, partai politiklah sebagai kendaraannya. Maka tidak heran, jikalau sejak beberapa waktu lalu, pengurus partai politik sudah pasang kuda-kuda buat menyewakan partainya untuk dikendarai. Maklum, lagi musim pemakaian kendaraan politik. Para calon membutuhkan partai politik sebagai kendaraannya. Sebab, nyaris inilah cara yang paling efektif untuk sampai ke tujuan. Boleh juga tidak pakai partai politik, lewat mekanisme perseorangan, yang berarti menyiapkan sendiri kendaraannya, serupa kendaraan pribadi, tapi harus beli berlaksa KTP sebagai syaratnya. Ongkos belinya, bisa lebih besar dari sekadar menyewa partai politik sebagai kendaraan.

Saya pada akhirnya, lebih mudah memahami masalah kebutuhan kendaraan politik, bagi para calon gubernur dan bupati, berkat seringnya bercakap-cakap dengan pengusaha rental mobil, tetangga toko saya itu. Persis masalahnya. Mulai dari harga, berapa kursi yang dibutuhkan, butuh sopir atau tidak, mau koalisi jika belum cukup kendaraan. Itu dari sisi penyewa kendaraan politik. Dari sisi penyedia jasa kendaraan, pun pastilah punya strategi tersendiri, agar kendaraannya dipakai dengan harga yang sepadan. Bahkan, jika kepepet, mobil seadanya pun masih bisa ditawarkan, kalau memang itu baru mencukupi kursi yang dibutuhkan. Satu kursi, atau sepuluh kursi, sama nilainya bila belum cukup. Sama-sama tidak bisa berangkat ke tujuan. Itulah politik kendaraan.

Jadi, kendaraan politik dan politik kendaraan, harus bertemu pada satu titik perjanjian. Ada persepakatan. Mulai dari harga sewa kendaraan, jumlah kursi yang disiapkan, kualitas kendaraan, daya tarik kendaraan, sopir kendaraan, dan citra kendaraan di mata masyarakat. Fungsi perjanjian ini menjadi sangat penting, karena amat menentukan sampai tidaknya di tujuan. Tatkala sudah mencapai tujuan, biasanya perjanjian pun berakhir. Bisa karena batal demi hukum, boleh karena sudah tidak saling butuh, tapi tak menutup kemungkinan memperbaharui pernjanjian untuk tujuan-tujuan politik selanjutnya.

Ehem…, lalu di mana nilai tawarnya motor saya itu? Yang telah saya tawarkan, bila ada calon gubernur dan bupati, tidak mendapatkan kendaraan politik untuk disewa, agar bisa ikut bertarung di Pilkada? Jujur, saya nyatakan, itu hanya gurauan. Upaya meretas kebuntuan, kala berdiskusi dengan sekaum penyokong calon gubernur dan bupati, belum mendapatkan partai politik sebagai kendaraannya. Saya bermaksud melucu, tapi pasti kisanak tidak merasa lucu. Buktinya? Terkekeh pun tidak. Ini semua gara-gara saya keseringan nonton sinetron, di salah satu chanel TV swasta, judulnya Dunia Terbalik. Saya jatuh hati pada seorang tokohnya, namanya Idoi, yang karakternya, agak pintar tapi bodoh, kadang jua bodoh tapi pintar. Semirip Abu Nawas. Ia kadang memutus logika perbincangan, tapi bisa juga menyambung alur perbincangan yang putus. Dan, semua penonton, eh… pembaca terkekeh.