Arsip Kategori: Unjuk Rasa

Galon Infak Literasi

Sarwanya berawal dari tindakan kecil. Meski dilapiki pikiran besar. Itulah yang saya lakukan beberapa bulan yang lalu. Membikin sebentuk kotak amal, terbuat dari galon air yang sudah pecah pantatnya. Semestinya, nasib galon tersebut sudah harus berakhir di tempat sampah. Tapi, saya lalu teringat dengan beberapa kotak amal yang sering diletakkan di berbagai tempat, bertuliskan nama-nama pemilik kotak amal. Mulai dari yayasan panti asuhan, pengajian dasar, masjid, dan lainnya. Di tempat saya, yang juga sekaligus sebagai alamatnya Toko Buku Paradigma Ilmu Makassar, pun terdapat satu kotak amal dari Taman Pendidikan Alquran (TPA) milik masjid dekat mukim. read more

Pidato, Esai, dan Debat

Ada banyak cara mendekati kaum muda, khususnya  yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan yang sederajat. Lebih tepatnya, yang akan menunaikan haknya selaku pemilih pemula pada pesta demokrasi, Pilkada Serentak 2018. KPU Bantaeng menyapanya dengan tiga perjumpaan; lewat lomba pidato, lomba menulis esai, dan lomba debat. Sekotah lomba itu, dipersyaratkan pesertanya, hanya yang menjadi pemilih pemula pada Pilkada nantinya. Tema lomba pun diseseuaikan dengan dunia mereka, generasi millennial. Menyasar pandangan mereka sebagai pemilih pemula dan pemilu. Cakupan ruang lingkup inilah yang terpatri dalam tiga jenis lomba itu. read more

Kala Helatan Budaya Menghidu Hajatan Politik

Tidak mudah menyodorkan dimensi budaya sebagai cara pandang masyarakat di kekinian dan di kesinian. Apatah lagi menghubungkannya dengan dunia politik, terutama cara berpolitik. Lebih tegas lagi, mengharapkan para politisi menjunjung tinggi warisan budaya negeri, buat dijadikan sebagai panduan berlaga dalam perebutan posisi politik, semisal, anggota legislatif maupun presiden dan wakil presiden.

Mungkin amat tepat, bila saya nukilkan pertanyaan Radhar Panca Dahana, seorang kuncen kebudayaan Indonesia, dalam bukunya, Kebudayaan dalam Politik, “Mengapa kehidupan politik, terutama sistem rekruitmen dan mekanisme lahirnya pemimpin di negeri ini, harus senantiasa ditandai oleh sebuah arena tempur yang secara klasik dapat kita temukan dalam sejarah, mitologi, buku-buku sastra, bahkan kisah-kisah religious?” read more

Dari Sukma ke Rocky

Bukan hendak mengajak membahas kata “Sukma”, apatah lagi mendefenisikan lalu menguraikan apa sesungguhnya itu sukma, khususnya dalam kaitan dengan jati diri. Pun, demikian kata “Rocky”, tak ingin mencabarkan sebuah judul film, tentang hayat seorang petinju, dibintangi oleh Silvester Stallone, yang pernah menjadi tontonan populer bertahun-tahun lalu. Saya hanya mau  merapalkan kembali Sukma, sebagai kependekan panggilan atas nama panjang dari Sukmawati Soekarno Putri. Juga Rocky, merujuk pada alamat dari suatu nama panjang, Rocky Gerung. Baik Sukma maupun Rocky, amat moncer popularitasnya belakangan ini. Sukma dengan puisi “Ibu Indonesia”, Rocky dengan ulasannya seputar ,“ Kitab Suci Sebagai Fiksi”. read more

Jeritan Seorang Biblioholik

Don’t be sad, la tahzan, jangan bersedih. Sesarinya, kata-kata itulah yang berusaha saya desakkan ke jiwa. Mestinya saya bersedih, untuk apa? Betapa tidak, saya telah mengalami tragedi diri. Seharusnya saya marah. Pada siapa? Bukankah sedih dan marah, hanyalah semacam jembatan ruhani — bila terkendali — menuju kebeningan jiwa?

Deretan pertanyaan dan gugatan di atas mengada, sebab beberapa hari yang lalu, mukim saya diserbu luapan air. Banjir. Air begitu melimpah, menggenangi segenap lingkungan rumah saya, dan tetangga. Laiknya segerombolan penjahat yang masuk di perkampungan, menebarkan teror pada sekaum pemukim. Banjir kali ini, lebih tinggi debit airnya. Bila biasanya, saya dan seisi mukim, cenderung bershabat dengan desakan air, kini, membikin perkara yang tidak sedikit bekas pahatan akibatnya. read more

Cukup Secukupnya Saja

“Orang yang tahu cukup adalah orang yang sudah berkecukupan”. (Dao De Jing, Lao Zi)

Bulan Maret 2018, belum sampai semadya jalannya. Tepatnya antara tanggal 6-10, saya ikut nimbrung di persamuhan Palopo Literasi Festival, yang bertempat di areal Taman Baca Kota Palopo. Letak perhelatan ini, berada di jantung kota. Tak jauh dari Istana Datuk Luwu, pun beberapa langkah saja dari mesjid tua, Mesjid Jami Palopo. Pagelaran literasi ini, dihamparkan oleh sekaum altruist, yang terhimpun dalam berbagai komunitas literasi. Waima saya tidak ikut acara secara keseluruhan, hanya dua hari saja, namun aura getaran momen ini, cukup terpahat dalam tulang sumsum kembara saya selaku pegiat literasi. read more

Tatkala Partai Politik Menjadi Kuda Rodeo

Selang beberapa hari, setelah penetapan pasangan calon gubernur dan bupati oleh KPU, untuk pemilu serentak di beberapa wilayah yang menyelenggarakannya, langsung harian Kompas menurunkan hasil risetnya. Riset itu, dilapikkan pada segala gejolak pencalonan sebelum penetapan, maupun hasil pasangan calon yang lolos. Laporan itu menunjukkan simpaian simpulan, bahwa partai politik yang berlaga, amat pragmatis dalam mengusung calon. Bukan pada visi ideologis partai, platform, dan kader.  Tetapi, lebih pada peluang sang calon dan basis material memenangkan pertarungan. Sehingga, sampai pada detik terakhir, tidak sedikit kegalauan menguar kepermukaan. Perubahan dukungan, yang terkesan plin plan, menjadi bagian dari aroma penetapan. read more

Mereka Bernyanyi di Keabadian

“Selama masih bisa bernyanyi, saya akan terus menyanyi” (Yon Koeswoyo)

Kini, mereka telah bersatu di keabadian. Besar kemungkinan, mereka lagi menikmati damainya nirwana. Dan, pastilah mereka bernyanyi, bahkan mungkin saja sementara merancang konser di alam sana. Lalu, siapa mereka? Tiada lain yang saya maksudkan adalah Tony Koeswoyo, Murry, Totok AR, dan Yon Koeswoyo. Mereka inilah para personil Koes Plus formasi awal, setelah Koes Bersaudara ditinggal Nomo Koeswoyo dan si bungsu Yok Koeswoyo. Pun, makin ramai kebahagiaan mereka, sebab Koeswoyo Senior dan juga Jhon Koeswoyo, sudah bergabung pula. read more

Why not Share?

Sungguh, bagi saya, esai ini amat spesial. Apa latarnya? Tatkala saya tuliskannya, sebagai bentuk rutinitas  menulis di media ini, pada setiap hari Ahad, bertepatan dengan hari terakhir tahun 2017. Bukankah 31 Desember 2017, jatuh pada hari Ahad? Tentulah momen berharga semisal ini, hanya berlaku bagi insan yang menganggap pergantian kalender masehi, bukanlah soal yang mesti dipersoalkan. Dan, saya termasuk yang tidak mempermasalahkannya. Sebab, padanya berlakon, sebagai kesempatan melakukan sejenis rangkuman perjalanan, dari satu ikatan kala. read more

Songkolo Maudu

“Reski itu memberi. Tak melulu menerima”. (Alwy Rachman)

All about love, semua tentang cinta. Ada kebiasaan yang saya rawat. Penuh cinta. Bila keluar daerah, memakai oto angkutan umum langganan saya. Posisi tempat duduk paling depan dekat sopir, atau paling belakang berhimpit bagasi. Posisi kursi yang saya pilih itu, bukan tanpa alasan. Jika di depan, maka itu berarti, saya akan bercakap dengan sopir, sepanjang jarak tempuhan. Kalau di belakang, hanya aktivitas membaca atau tidur, selama perjalanan. read more