Dari Diary ke Free Writing

Sekotahnya, bermula dari permintaan beberapa orang, baik lewat media sosial, maupun pertemuan langsung dengan saya, agar membuka kelas literasi, lebih tepatnya kelas menulis di Bantaeng. Awalnya, saya enggan menyahutinya. Tapi, atas desakan yang terus menerus, akhirnya saya mengiyakannya. Alasan mereka yang membuat saya takluk, tatkala salah seorangnya minta keadilan, dengan sejumput tanya, semacam gugatan, mengapa hanya di Paradigma Institute Makassar? Bukankah Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng adalah kembarannya?

Akhirnya, saya pun merealisasikan penyelenggaraan kelas literasi di Bantaeng. Bertolak dari pengalaman menggawangi kelas literasi di Paradigma Institute, yang sudah memasuki angkatan ke-3, dan telah melahirkan beberapa orang yang suka menulis di berbagai media luring (cetak) dan daring (maya), saya adaptasi sistem belajarnya. Maka pertemuan pertama pun dimulai pada hari Sabtu, 8 April 2017, pukul 15.00 Wita, bertempat di markasnya Boetta Ilmoe, ruko Lamalaka Bantaeng. Topik perbincangan yang saya sajikan: Mengapa Mesti Menulis?

Topik perbincangan pertemuan perdana ini, sesungguhnya merupakan sejenis kerangka filosofis dalam menulis. Ketika pertanyaan berbau filosofis ini saya ajukan, beragam jawaban yang disahutkan oleh peserta yang jumlahnya menghampiri 20 orang. Dari jawaban mereka yang beragam, saya ikatkan dalam satu kata sebagai jawaban pamungkas, yakni AMBAK. Jawaban yang saya ajukan ini, adalah jawaban yang diperkenalkan oleh Hernowo Hasyim, seorang mentor baca-tulis, yang telah melahirkan puluhan buku yang bertema literasi, membaca dan menulis. AMBAK merupakan akronim dari Apa Manfaatnya Bagiku. Hernowo sendiri menjelaskan bahwa AMBAK diambilnya dari seorang penulis tenar dalam bidang pembelajaran, Bobbi DePorter yang menulis buku Quantum Learning.

Bertolak dari jawaban AMBAK, maka setiap orang bisa berkembang jawabannya, sesuai dengan kebutuhan, atau manfaat yang bakal diambil dari momentum perhelatan, termasuk dalam mengikuti kelas menulis. Meski tidak bisa dimungkiri, ada jawaban umum, yang sudah populer dan menjadi standar argumen, yang telah banyak dikemukakan oleh para pelatih tulis-menulis. Jadi, di samping ada jawaban umum, pun ada jawaban khusus, sifatnya personal. Waima keduanya, umum dan khusus itu, tetap terikat dalam jargon AMBAK.

Berangkat dari motif keikutsertaan dalam kelas literasi ini, yang telah tuntas AMBAK-nya, maka masalah klasik yang paling sering muncul adalah kesulitan dalam memulai menulis. Seabrek kesulitan menulis  pun diajukan oleh peserta. Ibarat umpan yang dilemparkan oleh peserta, saya pun langsung menyambarnya, dengan jawaban taktis, bahwa tiada yang lebih sulit bakal ditemui oleh seorang penulis, jikalau ia kurang membaca. Kunci terdepan dari kepenulisan adalah banyaknya bacaan yang disantap oleh penulis. Bila ingin menulis dengan baik, maka perbanyaklah memakan kata-kata lewat bacaan-bacaan yang bergizi.

Namun, dari rona yang saya lihat, wajah mereka kurang puas dengan jawaban taktis yang saya babarkan. Kelihatannya jawaban saya ini kurang bertuah, sebab jawaban saya ini, memang telah menjadi jargon umum dalam pelatihan menulis. Salah seorangnya, seolah ingin mengajukan tanya, tapi sebelumnya, saya sudah duga maksudnya, bahwa ia membutuhkan tindakan praktis untuk memulai menulis. Sebuah tindakan paling dasar, yang setiap orang bisa melakukannya, dengan amat sederhana, dan gampang untuk diwujudkan.

Pada poin inilah saya ajukan tindakan menulis yang paling dasar kepada mereka. Saya nyatakan, menulislah diary, sebentuk catatan harian dari setiap diri. Diary merupakan sarana terpenting untuk menuliskan apa saja yang ingin dituliskan. Mulai dari sekadar mencatat peristiwa, pengalaman, perasaan, keinginan, penilaian, hingga soal-soal rumit di lingkungan sosial. Menulis catatan pribadi, yang tidak dipublikasikan, adalah tindakan nyata dari menulis yang tidak membutuhkan campur tangan orang lain. Sehingga, terbebas dari penilaian orang lain, yang pada akhirnya memelihara kemerdekaan setiap orang dalam menuliskan apa yang dipikirkannya.

Dan, sesungguhnya pola menulis diary ini, sepertinya diadopsi oleh salah satu media sosial, Facebook. Lewat pertanyaan, Apa yang Anda Pikirkan? Maka setiap orang yang mempunyai akun facebook, pasti terpancing untuk menuliskan apa saja yang ingin dituliskannya. Karenanya, beranekalah pikiran yang dimuntahkan oleh pemilik akun, bergantung pada kualitas tradisi literasi seseorang. Ada yang curhat masalah pribadi, sampai berkomentar masalah yang melanda dunia pun menghiasi jejaring dunia maya.

Saya lalu rekomendasikan, kalau kesulitan menulis pada buku diary konvensional, maka tuliskanlah di akun facebook, atau fasilitas media sosial lainnya. Cuman saya tegaskan, bila ingin menjadikan media-media sosial itu sebagai pengganti buku diary, maka pilih dan pilahlah, mana yang layak diuarkan, dan mana yang mesti disimpan sebagai catatan pribadi, yang fasilitasnya telah disiapkan oleh masing-masing media sosial. Sehingga, tulisan-tulisan yang telah dipahatkan itu, tetap lestari, dan capaian keinginan untuk keluar dari mitos kesulitan menulis, pun terjawab sudah.

Paparan saya tentang menulis diary, menutup sesi pertemuan perdana. Sepekan berikutnya, bertepatan dengan hari Sabtu, 15 April 2017, pada jam dan tempat yang sama, pertemuan kedua berlangsung. Topik kali ini, saya ajukan, Free Writing, menulis bebas. Terus terang, kala saya ajukan topik ini, saya harus menyebut kembali Hernowo Hasim, sebagai sosok yang mempopulerkan dua kata itu. Saya pun pertama kali mendengarnya, ketika membaca tulisan-tulisannya, khususnya yang terangkum dalam bukunya, Flow di Era Socmed, yang saat buku ini didiskusikan di Makassar, saya berkesempatan menimba langsung pokok-pokok pikirannya.

Kalau boleh saya menabalkan pendapat, bahwa sebenarnya, free writing ini, adalah sejenis tindakan menulis yang amat mirip dengan menulis gaya diary. Unsur-unsur kepenulisan diary amat kuat, jika bukan menjadi dasar dalam kepenulisan model free writing. Menulis catatan pribadi, yang tertuang dalam diary, sesarinya tertutup. Sementara menulis apa saja yang tersaji pada free writing, sejatinya terbuka. Menulis dengan gaya menulis bebas, tetap berpijak pada AMBAK, itu pastinya. Maka, sekali lagi, soalnya hanya pada domain tertutup (rahasia?) dan terbuka, antara diary dan free writing.

Menurut Hernowo, free writing, menulis bebas sangat ampuh dalam mengatasi masalah besar bagaimana memulai menulis. Ya, “dari mana mesti memulai menulis?” adalah persoalan klasik menulis yang terus berlangsung sepanjang zaman. Dan free writing, setelah Hernowo praktikkan berkali-kali, benar-benar berhasil menyirnakan persoalan klasik menulis tersebut. Free writing menunjukkan kepada para penggunanya bahwa kegiatan menulis layak, secara mutlak, dikendalikan oleh si pelaku menulis. Ringkasnya, free writing ingin menunjukkan kepada semua penulis bahwa ketika mengawali menulis, mereka berada sendirian di muka bumi.

Lebih dalam Hernowo menyeru, awalilah kegiatan menulis dengan sesuatu yang Anda sukai. Terserah Anda, mau memulai dengan satu kata, “enak”, atau dua kata, “teh manis”. Atau lihatlah di seputar tempat Anda menulis. Apa yang menarik perhatian Anda? “Lampu”? “Lantai”? Atau “meja”? Tulislah segera. Kaitkan apa yang sudah Anda pilih itu dengan diri Anda, lalu alirkan seluruh diri Anda dengan bebas—terkait dengan kata pilihan Anda—ke layar monitor atau selembar kertas. Boleh memulai dengan judul,  boleh pula memulai dengan penutup. Semuanya dalam kendali mutlak Anda.

Selanjutnya, Hernowo berpendapat, free writing memberi tahu kepada kita bahwa ia tidak menekankan hasil tapi proses menulis. Inilah manfaat terbesar dari free writing. Menulis tidak bisa sekali jadi. Menulis perlu waktu. Menulis membutuhkan koreksi atau perbaikan, dan seterusnya. Sehingga, dengan membebaskan diri di awal kegiatan menulis, seorang penulis akan dapat menuangkan (baca: membuang) apa saja yang nantinya bisa dipilih—mana yang sampah dan mana yang mutiara.

Akhirnya, Hernowo mengunci pendapatnya, dengan merujuk pada gagasan persona-persona lantip, serupa, Natalie Goldberg, Peter Elbow, dan Dr. Pennebaker, bahwa menulis bebas atau free writing, adalah menulis dalam makna membuang apa saja, yang ada di di dalam diri secara sangat-sangat bebas. Goldberg, mengatakan, ada kemungkinan yang kita buang (tulis) di awal itu sampah. Elbow menguatkannya, bahwa pembiasaan menulis bebas, bisa membuat Anda menulis seperti laiknya berbicara (tanpa diedit atau dikoreksi berkali-kali ketika tahap mengeluarkan bahan). Dan, Dr. Pennebaker malah menjamin, siapa saja yang bisa menulis bebas, akan menjumpai keajaiban menulis, yaitu “menulis yang menyembuhkan”.

Seintinya, tibalah pada simpai yang menyimpulkan dua sesi persuaan dalam pelatihan di kelas literasi ini. Saya lebih suka dengan pola yang berkelanjutan ide. Bahwasanya, menulis bebas adalah kelanjutan dari menulis catatan pribadi. Dari diary ke free writing. Dari menulis catatan pribadi ke menulis bebas. Dan, dari menulis bebas inilah, merupakan pintu terbaik untuk memasuki lahan kepenulisan, baik yang bersifat fiksi maupun non fiksi. Tentulah, kepenulisan fiksi dan non fiksi itu, sudah penuh dengan rambu-rambu kepenulisan. Tetapi, dengan bantuan free writing, jejak sari diri seorang penulis, termanifestasi dalam tulisan-tulisannya.

 

 

 

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *