Demokrasi, Hoax, dan Ruang Batin

Bentangan sejarah mengajarkan: Hoax adalah mesin pembunuh berdarah dingin. (Alamyin)

Sejak zaman dulu hingga kini umat Islam amat mudah diprovokasi dengan ayat dan riwayat. Jika ayat dan riwayatnya benar, tafsirnya yang dibengkokkan. Sebagaimana tafsir, ia tergantung pada kelayakan tingkat pengetahuan mengorelasikan teks dan konteks. Kisah ini dapat kita baca pada berbagai referensi yang sahih.

Salah satunya dalam buku Geneanologi Hadis Politis Al-Muawiyat, karya Dr. Muhammad Babul Ulum (hal.185) dan bahkan sekujur pembahasan dalam buku tersebut, menggambarkan betapa fitnah (hoaks) sering digunakan untuk suksesi politik.

Riwayat politik Muawiyah mengajarkan banyak hal. Muawiyah mengetahui bahwa Imam Ali bin Bin Abi Thalib adalah sosok yang terbaik di zamannya. Tetapi ia tetap melakukan konsolidasi politik melaknat Imam Ali. Karena warisan kedengkian dan nafsu kekuasaan dapat menutupi keutamaan-keutamaan yang dipancarkan oleh Imam Ali Bin Abi Thalib.  Bahkan dinasti Umayah tegak atas umpatan dan cacian (hal. 185).

Pelajarannya, telisiklah diri masing-masing, kiranya dapat menghindarkan diri dari pilihan pada kelompok/tim sukses yang paling gemar menebar umpatan dan cacian.

Sesuatu (riwayat, berita, tafsir, pernyataan, dll) dapat kita terima kebenarannya berdasarkan pertimbangan 3 hal. Al Haq (kebenaran objektif), As Shiddiq (kebenaran karena orangnya bisa dipercaya), dan Sahih (kebenaran proposisi/pernyataan berdasarkan prinsip berpikir yang benar).

Layar datar (monitor HP, TV, dll) adalah representase bercampurnya antara yang baik dan yang buruk. Dalam istilah Islam kita menyebutnya pertanda ke-Dajjal-an.

Dalam HP atau Laptop bisa saja ada aplikasi/file yang baik untuk kesehatan jiwa dan mental, dan ada juga yang merusak. Di dalamnya mungkin ada aplikasi Quran, sekaligus ada konten-konten fitnah yang siap disebar, file-file film yang hanya dikhususnya untuk golongan usia tertentu (alias bokep), dan lain-lain. Inilah contoh sederhana, bercampurnya yang haq dan yang bathil.

Betul slogan Telkom, world in your hand. Jika dunia yang sering kita geluti adalah dunia fitnah maka amat besar kemungkinan kita menjadi juru fitnah. Dan bukankah fitnah lebih kejam dari membunuh. Demikian pula sebaliknya.

Flat world menghadirkan potensi kesejajaran meskipun tak setara.  Seorang pakar dan awam bisa sama-sama membuat tulisan/status tentang sesuatu hal, tetapi kedalaman konten dan tafsir pasti tidak setara. Jika orang berilmu yang nyata-nyata keilmuaannya digugat oleh orang awam (bahkan ‘dungu’ dalam bidang tersebut) secara terstruktur, sistematis, dan massif, lalu kepakaran orang yang berilmu tersebut diragukan, maka di situlah sisi buruk/negatif dari demokrasi. Tirani mayoritas adalah sisi buruk dari demokrasi.

Demokrasi sejatinya dilakoni oleh orang-orang yang tingkat literasinya sudah mumpuni. Memahami prinsip kebebasan dengan baik, partisipasi aktif berdasarkan kapasitas, dan toleransi dan kesiapan berbeda dan menerima hasil dari proses demokrasi. Jika tidak, ada kemungkinan kita menciptakan neraka di dunia ini.

Pada situasi di atas, amat berbahaya menerapkan demokrasi secara terbuka. Pilihan meritokrasi (kepemimpinan pada orang-orang yang memiliki kapasitas) adalah salah satu alternatif. Soal ekonomi berikan pada yang memahaminya, demikian pula halnya soal agama, politik, militer, dan pemerintahan, dll.

Banyak contoh yang menggambarkan betapa ‘kebebasan’ menjadi kebablasan dan digunakan secara serampangan dan dominan dilakukan oleh orang-orang sekolahan (sarjana). Misalnya, Prof Quraish Shihab, penulis Tafsir Al Misbah ini disesatkan oleh ‘anak bawang’ yang baru ngaji pada pengajian mingguan. Bahkan hasil penelitian dimentahkan dengan trending yang menegasilkan hasil penelitian tersebut. Data yang dikeluarkan oleh lembaga resmi pun, dinegasikan dan disalahkan oleh kelompok yang merasa dirugikan oleh data tersebut.

Kini dan di sini, hoax semakin merangsek dan membabi buta, menghancurkan lapisan-lapisan silaturrahmi yang terbangun sekian lama, hancur sesaat. Di kampung, di kota, di tempat kerja, bahkan sampai di ruang privat suami-istri. Pada level mikrokosmos, jiwa-jiwa yang dirasuki oleh hoax tak mampu lagi melihat ‘permata’ pada tumpukan lumpur. Ia bahkan rela menceburkan diri pada tumpukan jarum beracun, untuk mencari sehelai benang. Rela, menebar hoax, membelanya demi seonggok makanan kekuasaan atau sekadar akses pada penguasa. (Alam, “Hoax dan Sakau Kekuasaan”, 2018).

Sadar atau tak sadar, hoax adalah alat indoktrinasi yang ampuh pada masyarakat yang tingkat literasinya lemah (Alam, 2018). Bentangan sejarah dan fakta-fakta kekinian mengajarkan hal tersebut. Hoax G.30.S/PKI menjadi dasar genosida partai dan simpatisannya. Hoax bahwa Nabi Muhammad Saw mengigau waktu ia meminta kertas untuk menulis wasiat.  Padahal kesempurnaannya dijamin oleh Al Quran. Hoaks hadiah 12.000 bidadari (mungkin) bagi umat Islam yang membunuh orang kafir, dan hoax-hoax lainnya sukses menciptakan martir-martir dan pembantaian. Hoax sedari awal adalah mesin pembunuh berdarah dingin.

Demokrasi adalah ruang kontestasi, ruang kompetisi. Namun,  bisakah proses demokrasi kita diwarnai bukan oleh kontestasi hoax, hoax dan hoax? Jawabannya dapat ditelisik pada ruang batin kita yang paling dalam. Yang mungkin dapat kita ajak berkomunikasi pada keheningan, tidak pada keriuhan pesta pora, pesta yang dapat memporak-porandakan segalanya, termasuk ruang batin kita. Kita terlalu larut dalam konsolidasi politik, dan kadang abai mengkonsolidasikan ruang batin kita.[]

The following two tabs change content below.

Syamsu Alam

Ketua Masika ICMI Makassar, Dosen di Fakultas Ekonomi UNM, dan pegiat di Kelompok Studi Praxis FE UNM.

Latest posts by Syamsu Alam (see all)

2 thoughts on “Demokrasi, Hoax, dan Ruang Batin”

  1. mantaB kaka Alam. Hasil Survey MSRC mengungkap bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rentan dia menjadi korban hoax. Bagaimana menurut ta, hasil riset ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *