Di Lembah itu, Kami Kembali Bersumpah

Udara dingin masih menghidu perhelatan. Sisa-sisa bara api unggun, tak mampu menghangatkan suasana. Namun, percakapan tetap intim, dimediasi kopi sekhusyuk-khusyuknya. Tetiba saja, saya dan dua orang kawan, Rahman Lintas Batas, dan Ato Rachmat Saleh, teralihkan perhatian pada bendera merah putih, mulai dibentangkan. Bendera sepanjang 74 meter itu, membelah tanah lapang, di lokasi Kemah Buku Kebangsaan (KBK) Jilid III, Trans Muntea, Desa Bonto Lojong, Kecamatab Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.

Segera saja kami beranjak dari peraduan. Menyongsong puncak cara perkemahan. Di tengah lapangan, saya sudah melihat Jamal Mapia dan Aby Pasker, dua orang pembina KBK, mengkoordinasi acara. Pun, Nurung Karaeng Lannying, selaku ketua panitia, sibuk wara-wiri, mempersiapkan keberlangsungan upacara. Sesarinya, pagi itu, tepat 28 Oktober 2019, segenap penghadir di KBK , melaksanakan upacara Sumpah Pemuda, sebagai penanda pucuk perhelatan, sekaligus penutup perkemahan.

Sekotah penghadir, jumlahnya ratusan, diminta memegang bendera merah putih. Ada di sisi merah, sebagiannya di sisi putih. Pemegang warna merah berdiri, sementara pemegang warna putih jongkok. Kawan Ato,seorang volunter,  segera memerintahkan, agar setiap orang menggoyangkan apa yang dipegang. Saya ikut menggoyangkan. Setelahnya, seorang pemandu acara, Jumaris, mengajak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Gelombang goyangan, bak ombak, bendera merah putih 74 meter itu, menghujam rasa haru. Saya tersendat-sendat menyanyi, bukan karena tidak hafal, tetapi, nyaris setiap kata menghujam di lubuk hati, memekarkan pikiran saya. Sehabis menyanyi, entah kenapa, pipi saya basah. Saya yakin bukan karena sisa-sisa embun, sebab baskara sudah semenjana teriknya.

Bung Ato kembali bersuara. Agak bariton suara ajakannya, membaca teks Sumpah Pemuda. Segenap penghadir larut dalam sumpah. Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga:Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lagi-lagi, pipi saya basah. Mungkin karena beberapa kristal air mata, berhasil melompat keluar dari kelopaknya. Meleleh. Saya memerhatikan penghadir, ternyata, tidak sedikit yang basah pipinya. Air mata telah menghangatkan pipi para penyumpah di pagi itu.

Haru demi haru mengalir  deras, bagaikan air, tak terbendung. Sesekali, malah seperti air terjun. Air mata menghempaskan diri di setiap raut wajah penghadir. Pasalnya, ketika acara penutupan KBK Jilid III ini digelar, segenap pelibat, peserta dan panitia, bersalaman saling memaafkan, berpelukan seerat-eratnya. Tangis massal pecah. Ada yang terisak, ada juga yang suaranya terputus-putus oleh tangis. Saya yang sedari awal, sejak memegang bendera, air mata sudah menyata, tak sanggup lagi berucap. Cuman tangis dan air mata mewujud.

Perlahan tapi pasti. Helatan Kemah Buku Kebangsaan (KBK) Jilid III, mesti berakhir. Surya makin meninggi, teriknya semadya. Satu persatu peserta KBK pamit, pulang ke mukim masing-masing.  Matahari benar-benar terik di puncak siang bolong, berkebalikan dengan semalam, dinginnya menusuk tulang. Tersisa penyelenggara. Saya dan kawan-kawan penghelat, kembali bercakap-cakap. Keintiman kembali menghidu percakapan. Ada refleksi menguar atas apa yang baru saja didedahkan.

Di sela-sela percakapan, kopi kembali tersajikan. Sebungkus keripik hasil olahan warga ikut menemani. Tak lama kemudian, sebaskom ukuran sedang, penganan diajukan. Sebentuk kue berair menyuntukkan percakapan. Lebo-lebo nama penganan itu. Kuliner semacam ini, biasanya disajikan sebagai rasa syukur. Bahannya dari beras ketan, dicampur air gula merah. Bentuknya biji-biji mengapung. Mungkin filosofi penganan ini menyatakan agar senantiasa mengapung. Tak boleh tenggelam. Apatah lagi, tenggelam dalam kesedihan, sebab helatan KBK Jilid III usai.

Di percakapan itu, Aby Pasker mengajukan permintaan agar kami semua menjaga solidaritas helatan ini. Dari setiap mata yang saya pandangi, memastikan kata iya, atas permohonan itu. Memang menjadi berat kepastian solidaritas bersama ini, karena keinginan untuk menggelar kembali KBK tahun depan, menjadi janji bersama.  Sepertinya, kami hanya jeda sejenak. Mungkin hanya raga yang butuh jeda, tapi jiwa akan terus bekerja. Sumpah Pemuda seolah meminta manifestasinya dalam wujud kebangsaan, secara praksis lewat KBK.

Baskara sudah mulai tergelincir dari teriknya. Sekira pukul 13.00, seorang karib, Mahbub Ali Muhyar, menyata di lokasi.  Ia menunaikan janjinya, untuk kembali di hari penutupan, setelah upacara di kantornya.  Mas Mahbub yang membersamai saya ke lokasi perkemahan, saat pembukaan, pada hari Sabtu, 26 Oktober 2019. Sorenya ia balik ke kota Bantaeng. Pasalnya, urusan kantornya, sebagai Kasubag Hukum di KPU Bantaeng, masih ada agenda harus dilunaskan.

Tak lama kemudian, seorang kawan, Rahmatullah, juga muncul, bermaksud menjemput saya. Adanya dua orang karib ini datang menjemput, terkesan tidak terkoordinasi, sebab di lokasi, jaringan internet tidak tersedia. Sesekali ada sinyal, namun lebih banyak hilang bin lenyap.

Sekira pukul 14.00, saya pamit pada segenap penyelenggara. Mereka adalah Aliansi Pemuda Ulu Ere. Mereka, kaum muda sejati, menubuhkan diri dalam kerja-kerja altruis. Menyiapkan medan jiwa, bagi segenap penghadir buat berbahagia. Inilah makna kolektif dari perkataan Imam Ali bin Abi Thalib, “Sebaik-baik manusia, paling banyak gunanya bagi orang lain.” Apa yang didedahkan aliansi pemuda ini, sungguh bentuk nyata dari kegunaan diri buat orang lain untuk berbahagia.

Dari dua karib yang menjemput, akhirnya saya jatuhkan pilihan pada Mas Mahbub. Berharap Rahmatullah mengalah. Pasalnya, ia lebih berumur tinimbang Rahmatullah. Sebagai pemuda yang baik, Rahmatullah oke saja. Sebelum tiba di tempat parkir kendaraan, kami bertiga jalan kaki. Soalnya, akses jalanan ini lumayan rusak. Kendaraan cukup tersiksa untuk mencapai lokasi ini.

Sembari berjalan, saya kadang berhenti, tarik nafas panjang-panjang, sambil mengelabui dua kawan beriring. Saya seolah meluaskan pandangan ke lembah sekitar, menikmati pemandangan. Padahal, sesungguhnya, saya menyembunyikan ketuaan saya, yang berusaha menaklukkan jalan ini.

Pada perjalanan pulang, dibonceng oleh Mas Mahbub, saya banyak diskusi dengannya. Terkhusus pada apa saja yang baru saya ikuti, KBK Jilid III. Dari spirit helatan ini, ada keinginan kuat untuk mendorong lahirnya Perda Literasi Bantaeng. Sebenarnya, di pucuk percakapan sebelum pamit, ada diskusi kecil dengan kawan Rahman Lintas Batas, pembina KBK, tentang topik ini. Dan, saya ingin memastikan pada Mas Mahbub, agar pantikan kolektif ini segera ditindaklanjuti. Apalagi, sejak awal helatan KBK Jilid III ini, bincang tentang perda literasi sudah mengemuka. Gayung bersambut dengan kehadiran Ketua DPR Bantaeng, Hamsya Ahmad, membuka acara perkemahan.

Setiba di mukim, Kota Bantaeng, sudah menjelang sore. Senja menyata, Magrib menyongsong. Malamnya, sengaja saya tidak bikin agenda dengan siapa pun. Saya hanya tidur sepanjang malam. Subuh terbangun, tunaikan kewajiban akan cinta pada Ilahi. Sekira pukul 05.30, oto langganan saya, angkutan umum datang menjemput. Saya meninggalkan Kota Bantaeng, balik ke Makassar. Tiba di mukim sekira pukul 08.30. Siangnya, langsung ke tempat semedi, guna membajak nafkah, di Toko Buku Papirus, Tamalanrea, Makassar.

Di tempat semedi inilah, rangkaian helatan KBK Jilid III, rekamannya dalam jiwa, seolah terputar kembali. Serupa peristiwa lama, namun hadir kembali. Terkadang, ada juga perasaan peristiwa belum terjadi. Campur aduk, semacam de javu. Ah, tak perlu larut dalam terungku campur aduk itu. Pastinya, saya sudah bersumpah kembali, mengucapkan Sumpah Pemuda, di suatu lembah, di ketinggian Trans Muntea, Bonto Lojong. Bersama ratusan pemuda Ulu Ere dan segenap penghadir, saya yang sudah melata di usia 52 tahun, serasa menjadi 25 tahun, gara-gara sumpah bersama itu.

Kredit foto: Riris.

 

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

One thought on “Di Lembah itu, Kami Kembali Bersumpah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *