Dialog Data: Tentang Literasi di Negara Berkode +62

 

Semalam saya sibuk merenung, yang membuat saya tidak bisa menulis. Apakah benar kesadaran literasi (baca-tulis) pada masyarakat di sebuah negara berkode +62, masih sangat rendah?

“Ya,” jawab teman saya singkat

“Ah, mosok, sih? Negara kita kan keren, mosok masyarakatnya malas baca?”

“Pulang gih, sono! Liat kampung! Ini malah betah, habisin beras orang saja!”

Saya menelan ludah. Pahit juga rocosannya.

Tapi buat apa pulang? Kemarin melamar jadi dosen, tidak diterima. Bukan kurang gelar, tapi sepertinya alumni Tehran masih cenderung dianggap ‘kolot’.

“Apa mungkin rektor-rektor itu merasa takut, dosen dan mahasiswanya bakal ketularan Syiah dan semangat revolusi?”

Ah, sudahlah. Toh saat ini, Iran butuh banyak peneliti muda. Entah mengapa, Iran begitu tertarik dengan dunia riset-meriset.

Dalam hati berbisik, semua orang pasti memilih berkhidmat, kepada siapa yang lebih bisa menghargai kerja keras kita.

“Saya begitu, dek ‘Im,” ujar saya lembut, sembari menoleh ke arah meja belakang. Tapi rupanya meja Fatimah sudah kosong. Ia sudah pergi sejak tadi, meninggalkan saya bersama arsip dan buku-buku.

***

Tapi benarkah semangat baca masyarakat Indonesia begitu rendah? Bukankah ada banyak buku bertumpuk di gerai-gerai toko itu? Kalau menengok jumlah jaringan toko buku di Indonesia, terdata 313 toko buku dari 8 perusahaan buku Nasional. Ini yang tercatat oleh Komite Buku Nasional (Puslitjakdikbud, April 2019).

Belum lagi jumlah perpustakaan resmi di seluruh Indonesia, tercatat sekitar 154.359 perpustakaan, ini terdiri dari Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum milik provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, komunitas dan taman baca, sekolah, kampus, rumah-rumah ibadah, dan balai desa.

Bukankah semua fasilitas sudah tersedia? Lalu mengapa malas baca? Belum lagi perpustakaan keliling dan digital merebak di mana-mana? Apakah benar kurang peminatnya? Atau LAKIP Perpusnas (2016) kesulitan dalam membaca data?

Kata Hetih, teman saya yang editor, “Bangun, Jeng Rumi. Bangun!”

“Faktanya, Indonesia ada diperingkat 62 dari 70 negara. Tapi ini data 2015. Sumbernya dari PISA (Program for International Student Assessment rilisan OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development), Paris.”

Kalau data terakhir (2016), Indonesia masuk peringkat 60 dari 61. Ini data dari CCSU (Central Connecticut State University, Inggris.

Kalau memang benar, lembaga mana yang adakan survei? Pakai standar apa? Skala berapa? Jangan-jangan pakai skala 1:500.000? Atau jangan-jangan mengadakan surveinya berdasarkan kepentingan politik?

Maklum, saya masih sulit menerima, kalau ternyata sebangsaku malas baca. Malu dunk sama orang-orang Iran. Mereka doyan banget dengan urusan baca-tulis.

Tapi lain kata Arinda, mahasiswa sekolah Pascasarjana UI saat saya tanya, lebih ekonomis mana, beli bukunya langsung atau model online?

“Harga buku mahal, Mbak. Mending beli data, bisa baca buku banyak…”

“Lagian sekarang kan sudah era 4.0. Digital library udah bertebaran sono-sini. Ada iJak, iPusnas, iNgawi, iKaltara. Uh, macam-macam. Ini sebentar lagi digital 5.0 jelas Arin.”

“Ahaa. Begitu, ya?”

Mendengar jawaban Arinda, saya sedikit lega. Bukankah jumlah pengguna smartphone di Indonesia sangat banyak?

Data yang saya dapat dari situs resmi Kominfo (Emaketer, 2018), terdapat 100 juta pengguna smartphone di Indonesia. Kalau 3/4 saja dari angka ini rutin mengakses buku online gratis, dan membacanya sebagai sebuah kebutuhan; tentu ini kabar yang menggembirakan.

Tapi menurut data yang dihimpun Statista online pada 2018, faktanya menyedihkan, Kak, ujar Yessi dengan mimik sedih.

“Kok bisa begitu, dik?”

“Iya, Kak Rumi. Katanya, dari angka 100 juta pengguna itu, disebutkan 44 % populasi masyarakat Indonesia lebih memanfaatkan smartphone untuk mengambil foto dan video saja. Masih sedikit yang mengunjungi perpustakaan-perpustakaan online, mendownload, dan membacanya.”

“Coba aja liat data-datanya di situs katadata.co.id (2019). Indonesia peringkat berapa soal kebiasaan bermedsos? Peringkat tiga, kak Rumi! Pas di bawah Brasil dan Filipina…”

“Ini kata Global Web Index lho, Kak.”

“Hmm.” Buru-buru saya membenarkan posisi kacamata yang mulai melorot ke bawah hidung.

Felicia, seorang pegiat blog nasional yang sempat saya tanya terkait perkembangan blogger di Indonesia, ternyata jawabannya cukup membesarkan hati.

“Sekarang enak, dik Rumi. Pemerintah sudah menghargai pegiat blogger sebagai pendukung gerakan literasi nasional. Dulu mah, boro-boro…, jelas perempuan muda bergaya casual di balik layar laptopku.”

“Benar, mbak Fell. Pelan-pelan Indonesia bisa menyesuaikan diri dengan revolusi digital yang terus melaju ini. Perkembangan data aktivitas blogger Indonesia sudah cukup menggembirakanlah menurut saya..”

“Bener lho, dik Rumi. Sekarang anak-anak muda Indonesia rame berliterasi di media sosial. Meski menurut data, masih 3,8 persen (sekitar 3 juta) dari total pengguna internet di Indonesia. Ini data dari Marketing online (2017). Naik sekitar 0,3 persen dari angka 3,5 persen pada 2015. Ini satu kesyukuran.”

“Sekarang pun ada peningkatan dalam bisnis media. Platform blog nasional semakin bertambah jumlahnya,” saya mengeluarkan statemen.

Rasanya berbunga hati ini mendapat teman diskusi sebijak mbak Felicia.

[Hahaha]

“Pelan-pelan saja. Tidak usah buru-buru.”

“Saya juga bilang begitu, mbak Fell. Fakta bicara, Indonesia tertinggal 20 tahun dari teknologi dunia Barat. Semua baru saja masuk ke negara kita.”

“Iya, sekarang ada peningkatan perkembangan bisnis platform blog dan story di tanah air,” saya menambahkan.

“Tidak banyak sih yang berbau Indonesia. Tapi sudah menggembirakanlah, dik Rumi.”

“Saya senang adik-adik peneliti macam kamu bisa aktif berliterasi di Kompasiana, di Tempo, di Detik, atau di mana aja lah. Saya dengar LIPI juga mau buat platform khusus bagi para ahli riset. Agustus kemarin itu ada pertemuannya di Jakarta. Kamu baca deh di Tempo online,” ucapnya dengan nada memberi motivasi.

“Baik, mbak. Akan saya baca beritanya. Terimakasih.”

***

Itu cerita kemarin. Cerita hari Rabu. Karena hari ini weekend, saya berniat menyelesaikan [Dialog Data] Tentang Literasi ini.

***

Saya makin semangat dalam berliterasi, saat berkumpul dengan teman-teman sebijak Mbak Felicia. Ketika orang-orang sibuk mencibir rendahnya minat literasi (baca/tulis) dari masyarakat sebuah negara berkode +62, saya mengajak untuk menengok faktor-faktor data yang disodorkan oleh lembaga-lembaga survei semisal PISA, CCSU, dan lainnya; sebab-sebab dan dampak dari hasil survei tersebut, bahwa masih rendahnya minat baca (literasi) masyarakat Indonesia.

Menurut data, Indonesia termasuk dari 72 negara yang dianggap memenuhi syarat sebagai responden survei, yang diwakili oleh 540 ribu orang anak usia 15 tahun. Sampling error-nya kurang lebih 2 hingga 3 skor.

Meski usia responden dianggap cukup (pantas) mengikuti survei, namun perbedaan kultur masing-masing negara berbeda. Negara-negara Barat dikarenakan ideologi liberal yang dianut, maka kebijakan pendidikannya jelas berbeda dengan Indonesia. Mari kita ulik.

Faktor Kultur dan Usia

Di Barat, usia 15 dianggap sudah sangat dewasa dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Pendidikan Barat (seolah, atau memang) diproyeksikan agar anak usia 15 tahun sudah bisa mandiri, dan keluar dari institusi keluarga (hidup terpisah dari orangtua). Sedang rata-rata anak usia 15 Indonesia, dikarenakan kultur Timur yang mendominasi; diyakini belum mampu untuk mengambil keputusannya sendiri.

Ini bukan masalah mandiri atau tidak mandiri, tapi kedudukan orang tua bagi anak-anak kultur Timur masih menempati posisi utama untuk dihormati dan dimintai keputusan.

Ini memang tidak berhubungan dengan minat baca. Tapi kedewasaan dan kematangan masih cukup berpengaruh.

Dalam kaidah logika, membandingkan dua sesuatu dengan syarat dan klasifikasi kecakapan yang berbeda; merupakan satu kesalahan dalam penerapan ilmu logika. Ini terpapar jelas dalan ilmu logika terapan.

Faktor Teknologi dan Rumah Produksi Buku

Tampaknya penyelenggara survei tidak memperhitungkan faktor kemajuan teknologi dalam menjalankan risetnya. Jika mempelajari tabel data yang umum tersebar di media sosial, peringkat 1-26 didomonasi oleh negara-negara Eropa. Amerika Serikat menempati posisi 7, sedang Australia posisi 16. Pertanyaan, bagaimana mungkin membandingkan 26 negara maju ini dengan Indonesia yang masih tertatih-tatih dalam sains, teknologi, dan manajemen pendidikannya?

Ketika anak-anak Barat pada 1960-1970 sudah akrab dengan buku dan rumah-rumah produksi buku (literasi klasik sangat jaya di masa-masa ini); sementara anak anak Indonesia di era yang sama, jangankan masuk ke rumah produksi buku bacaan, melihat buku saja (mungkin) ada yang belum pernah lihat.

Mari geser masa ke era 1980-1990. Di tahun ini anak-anak Barat usia 15 sudah akrab dengan PC intel pentium, atau android versi 1.0 (anggaplah), juga software-software buku pelajaran. Sementara anak-anak Indonesia yang bermukim di kota pada era yang sama, baru mengenal adanya satu-dua nama perusahaan buku nasional, yaitu Gramedia dan Kharisma (misalnya). Sementara anak-anak Indonesia di desa terpencil 3T, mungkin baru melihat bentuk rupa sebuah buku. Itupun milik bapak-ibu guru, dan dibacakan di depan kelas. Mungkin saja di satu desa terpencil cuma ada 20-30 buah buku saja.

Perlu diingat, jarak 20 tahun ketertinggalan ini tidak main-main. Imbasnya sangat kuat, sangat mempengaruhi akses masyarakat terhadap buku. Terlebih lagi, hal-hal yang berkaitan dengan minat baca buku.

Faktor Geografis

Faktor geografis sudah sangat jelas. Negara-negara Barat sudah cukup lama telah membuka lahan dan membangun moda transportasinya sejak berpuluh-puluh tahun silam. Sementara Indonesia yang ‘penuh’ dengan hutan tropis, (bahkan) sampai saat ini masih ada yang belum bisa diakses (seperti, beberapa daerah di Papua). Kondisi bentukan alam ini jelas mempengaruhi akses masuknya buku di daerah-daerah terluar dan terpencil seperti Oksibil dan beberapa daerah lainnya di Pegunungan Bintang.

Mari tetap fokus pada perbedaan jarak kemajuan teknologi Barat dengan Indonesia. Bandingkan antara sekolah swasta berkualitas Internasional, sebut saja SMP Santa Ursula (maaf, jika ada yang sama nama) dengan fasilitas ruang perpustakaan penuh buku, mewah, dan megah; bandingkan dengan sekolah-sekolah desa terpencil 3T, sebut saja SMP Beringin Jaya (maaf, jika sama nama) yang Infrastruktur dan suprastrukturnya serba terbatas, bahkan kekurangan!

Kemudian adakan survei mengukur minat literasi, dan libatkan para pelajar usia 15, dari dua SMP ini. Jika kita abaikan faktor jumlah siswa, teknlogi pendidikan yang diterapkan, model MBS, danp faktor mutu; dan tiba-tiba hasil survei menempatkan (maaf) SMP Santa Ursula di posisi 1 dan SMP Beringin di posisi 60, dengan dokumentasi foto/video anak-anak ramai duduk di taman dengan gaya serius (sok kutu buku) membaca buku. Logikanya di mana? Tanpa bermaksud meragukan minat baca anak-anak kita di sekolah-sekolah swasta nasional, model dan bermutu.

Faktor Jumlah Penduduk

Faktor jumlah penduduk tidak bisa dianggap remeh saat penyelenggaraan survei. Salah menentukan jumlah sampling error, berpengaruh pada kemurnian data dan hasil riset. Tapi, mari tetap fokus pada jumlah produksi dan akses buku.

Tentu perlu dimaklumi jumlah anggaran yang digelontorkan pemerintah; cenderung dianggap kurang cukup untuk pengembangan dunia pendidikan nasional dan termasuk gerakan literasi ke depannya. Istilahnya, anak-anak mau dikasih makan apa, pak, kalau duitnya hanya untuk beli buku dan rak buku?

Belum lagi banyaknya pemekaran berbasis otoda di provinsi dan kabupaten-kabupaten.

Masih belum banyak memang, anggaran belanja 2020 yang dikucur untuk sistem pendidikan nasional, skala Indonesia yang pada penduduk ini. Menurut media, sekitar 20% dari total anggaran, atau sebesar 505,8 triliun. Tapi lumayan, ada kenaikan. Asal jangan dikorupsi saja!

Kembali pada masalah. Untuk dibandingkan dengan minat baca anak-anak Barat usia 15, tentu saja (minat baca anak-anak kita) sampai 100 tahun ke depan posisinya akan di sekitaran itu saja.

Tentu, dengan teori abal-abal, posisi Indonesia akan naik ke rating 40 di posisi Yunani; atau 32 di posisi Jepang. Tapi pertanyaannya, apakah Amerika Serikat masih eksis sebagai sebuah negara berdaulat, hingga 1 abad mendatang? Kalau masih eksis, bertahan lagi Indonesia mah, di posisi kolong. Ini hanya joke. Tidak usah ditanggapi.

Faktor Media

Kalau mau lebih teliti, mari pelajari peran media dalam upaya penggiringan opini publik, bahwa bagaimana pun, ideologi liberal pendidikan Barat adalah tetap unggul sebagai model dan metode pendidikan terbaik dunia.

Penggiringan opini publik ini dibutuhkan oleh Barat untuk transfer culture learning, investasi pendidikan, impor teknologi pendidikan, memasarkan produk dan alat-alat pendidikan, serta segala sesuatu yang bersifat edupreneur dan menghasilkan uang serta keuntungan lainnya (politik kapitalis).

Bukankah di negara Indonesia berjamur sekolah-sekolah berstandar internasional dengan kurikulum liberal secontoh kulikulum Oxford AQA, kurikulum IB (Swiss), Cambridge (UK), Singaporean Primary School Curriculum, Montessori (Italia), International Primary Curriculum (IPC) produk UK yang banyak dipromosikan oleh negara tetangga, Malaysia. Dan masih banyak lagi.

Sebagai tambahan, produk SDIT disinyalir sebagai produk kurikulum Ikhwanul Muslimin yang banyak diintegrasikan oleh kelompok-kelompok transnasional untuk kepentingan jamaah bersangkutan.

Bukan tidak boleh. Tapi apakah kurikulum tersebut sesuai untuk dipadukan dengan kultur pendidikan nasional dan ke-Indonesiaan?

Mari kembali ke peran media dalam penyelenggaraan survei minat baca. Saya ingin memperlihatkan beberapa dokumentasi terkait survei minat baca di Indonesia yang di kutip oleh beberapa situs nasional.

Gambar pertama:

https://desfortinmenulis.wordpress.com/2017/03/07/

 

Anak-anak Amerika disetting sedemikian rupa, terlihat budaya membaca yang tinggi di kalangan usia dini. Gambar dipakai untuk mewakili muatan artikel bertema rendahnya minat baca anak-anak Indonesia.

 

Gambar kedua:

Masih di situs dan artikel yang sama, menunjukkan tingginya budaya baca di Jepang. Dan gambar-gambar lainnya.

Di setiap kesempatan berlibur ke tanah air, saya selalu menyempatkan mengunjungi toko-toko buku, taman baca, komunitas literasi, launching buku, bursa buku, pameran buku Gramedia, sampai Makassar International Writer Festival dan (berharap bisa ke Bali mengikuti Ubud Writers and Readers Festival), selalu saja tampak antusiasme tinggi dari peminat buku dan pecinta literasi.

Silakan cari foto-foto dan dokumentasi even-even tersebut. Informasi dan sudut pandang tentu akan lebihnya berimbang.

Apa yang ingin saya katakan? Bahwa (sebenarnya) minat baca dan literasi masyarakat Indonesia tidak rendah, apalagi usia kanak-kanak.

Usia kanak-kanak adalah usia selalu ingin banyak bertanya, mengeksplorasi hakikat segala sesuatu, dan mencarinya di buku-buku.

Lalu mengapa terukur rendah dalam angka-angka?

Jangan lupa menambahkan peran ibu dalam budaya baca ini. Semua potensi anak adalah sama. Orangtua-nya lah yang menjadikan mereka pecinta Smartphone, dan bukan buku.

Mestinya para orangtualah yang menjadi responden dari riset minat baca oleh lembaga PISA, dan lainnya. Bukan anak-anak usia dini dan 15-an, lalu menuduh bahwa minat baca anak-anak Indonesia rendah. Malas baca buku.

Tapi memang benar, ada dan tidak ada survei, kita mesti selalu membaca, dan menjadikannya sebagai satu kebutuhan utama dalam hidup.

The following two tabs change content below.

S. R. Siola

S. R. Siola, seorang pecinta ilmu dan hikmah. Kecenderungannya terhadap dunia literasi telah terpupuk sejak kecil. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Iran, bidang Filsafat dan Theologi Islam, dan Master Pendidikan di Indonesia. Saat ini menetap di Iran, menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.

Latest posts by S. R. Siola (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *