Digital Parenting Karena Gawai Sebuah Keniscayaan

Seumpama hidup di tengah pusaran air yang mengepung dari segala penjuru, serupa itulah gambaran hidup manusia era kini. Tak hanya anak sekolah, bahkan yang belum bersekolah, hingga orangtua yang sudah berumur pun, yang baru beberapa hari mengenal internet, tak pelak jadi mangsa empuk teknologi. Tidak memegang gawai serasa seperti orang  bego di antara kerumunan orang-orang berponsel, yang setiap jam bahkan beberapa menit mengecek  benda yang berada di genggamannya.

Boleh dikata dialah orang pintar yang mampu menjawab setiap pertanyaan. Anak kami yang ingin mengetahui cara menangani lengan terkilir, langsung searching informasi dari Google. Dalam sekejap ia pun mendapatkan penjelasan cara penanganannya. Saya termasuk yang sering memanfaatkan fitur canggih ini untuk mencari gambar buku yang dicari oleh pelanggan toko. Pernah pula mencari  tips bagaimana membuka tutup toples yang mengeras. Di antara jurus-jurus  tersebut ada yang manjur, tak jarang ada pula yang tidak. Namun yang pasti informasi saat ini tidak lagi sesulit era sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan, era kini era banjir informasi. Saking membanjirnya, pembaca jadi bingung sendiri ingin membaca bagian mana terlebih dulu. Semua hadir di saat yang bersamaan dan menuntut perhatian yang serentak pula. Jika tak jeli memilih bacaan digital, pembaca bisa jadi korban berita palsu (hoax).

Beberapa waktu, sebelum saya mulai menulis perihal perangkat digital, saya termasuk orang yang prihatin terhadap perkembangan penggunaan alat ini di kalangan anak-anak sekolah. Bahkan menentang memberikan fasilitas tersebut pada mereka. Paling cepat ia boleh diberikan saat anak duduk di usia kelas menengah awal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, serta mengamati kecenderungan penggunaan pada alat ini yang semakin hari semakin tak terbendung, maka pikiran bijak pun perlahan saya kedepankan.

Ibarat berumah di tepi pantai, bersiaplah untuk belajar berenang. Menghindarkan anak dari peranti elektronik ini saat orang-orang di sekitarnya menjadikannya sebagai teman belajar, teman ngobrol, bahkan sebagai buku pintar tempat rujukan banyak soal sulit, adalah sebuah keniscayaan. Namun di satu sisi, bukan berarti pula anak-anak di bawah standar umur boleh dibiarkan bermain game dan melihat layar tanpa kendali. Pengaruh buruk tetap mengintai jika masih sangat dini anak-anak sudah dibiasakan memegang dan memainkan perangkat digital.

Pembahasan akan besarnya dampak buruk yang diakibatkan oleh anak-anak dan remaja yang kecanduan game atau pun menonton video dan berbagai permainan lainnya sudah banyak dibahas di buku dan artikel-artikel yang tersebar luas. Seperti melemahnya lobus frontalis yang membuat anak “matang semu”, ketidakmampuan anak bersosialisasi di dunia nyata akibat dominasi dunia maya yang tidak berimbang. Ada pula anak yang mengalami gangguan emosional bahkan cenderung mengarah pada gangguan kejiwaan. Begitu pula dengan menurunnya konsentrasi dan daya nalar. Sangat membahayakan jika kita mau merunut dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh peranti-peranti ini.

Namun sebagaimana yang telah saya ungkapkan di atas, suatu hal yang sangat sulit ditanamkan pada benak anak betapa gawai dan sejenisnya merupakan benda-benda yang perlu dihindari. Sementara setiap hari, setiap waktu kita sebagai orangtuanya atau orang-orang dewasa di sekitarnya umumnya menggunakan alat tersebut. Di sekolah pun guru menyuruhnya mencari informasi di internet. Setiba di rumah, ibu, ayah, dan kakak-kakaknya didapati menggunakan hampir seluruh waktunya bersentuhan dengan perangkat tersebut.

Di rumah, kami nyaris setiap hari berhubungan dengan laptop, membuka media sosial sebagai media promosi  buku ataupun hal-hal yang terkait dengan kegiatan tulis-menulis. Anak-anak menyaksikannya langsung, melihat dari dekat apa yang kami lakukan. Melakukan penjualan, diskusi, dan  menulis hal-hal yang bermanfaat, yang kesemuanya terangkum dalam satu misi, ingin memperkuat branding. Meskipun begitu, ada rasa yang kurang nyaman jika terlalu lama waktu yang saya habiskan untuk berselancar, padahal tujuan semula sudah terpenuhi. Untuk itu kami kerap memberi keterangan atau penjelasan, alasan mengapa melakukan ini dan itu pada mereka.

Kadang terbersit kerinduan pada suasana kampung halaman, hidup di desa yang belum banyak terpapar polusi teknologi. Tetapi adakah kehidupan desa yang seideal itu? Karena saat ini bahkan desa yang terpencil secara lokasi sekalipun selama jaringan operator masih bisa menjangkaunya, tetap akan terseret budaya modernitas. Kecuali akses listrik dan jaringan telekomunikasi masih sulit, mungkin di sanalah kehidupan tanpa perangkat digital akan ditemukan.

Jika situasinya sudah seperti ini, maka tak ada cara lain selain memberikan pendidikan digital sejak awal pada masyarakat umum, khususnya para orangtua dan guru sebagai pihak yang akan memberikan pengaruh besar pada perkembangan anak-anak.

Sebagai langkah awal, fase-fase ini yang perlu dilakukan menurut Yee-Jin Shin, seorang psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea. Saya merangkumnya dalam 3 poin berikut.

  1. Berhenti mendewakan perangkat digital.

Orangtua sendiri pun harus membatasi penggunaan perangkat digital. Selanjutnya mengganti dengan buku atau media cetak lainnya sebagai sumber referensi.

  1. Orangtua harus terus mempelajari “musuh”.

Orangtua perlu terus-menerus mempelajari segala sesuatu  yang berkaitan dengan perangkat digital dan situs-situs di dunia maya. Permainan jenis apa yang saat ini paling banyak digandrungi anak-anak, situs-situs apa yang boleh dan yang tidak layak ditonton oleh anak, dst.

  1. Orangtua harus melakukan digital clean.

Karena orangtua adalah model atau contoh bagi anak-anaknya, maka perlu waspada agar usaha membatasi penggunaan perangkat digital tidak sia-sia hanya karena anak melihat contoh pada orangtuanya sendiri. Selain itu pula orangtua perlu rutin memonitor penggunaan alat ini, agar tidak dirasuk virus-virus konten pornografi, kekerasan, dan berbagai ancaman lain yang bisa membahayakan masa depan anak.

Ajarilah anak cara berenang, bukan melarang mendekati pantai. Jika anak tahu cara berenang, ia akan selamat mengarungi lautan air yang tak bertepi. Hidup dengan menggunakan perangkat digital laksana hidup di tengah air.

 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *