Hantu Komunisme dan Mengapa Ilmu Pengetahuan Harus Tetap Ada

Ketika Marx dan Engels menyebut komunisme sebagai ‘hantu’ dalam Manifesto Komunis, saat itu pula komunisme benar-benar hanya sebagai hantu. Dia hadir sebagai pembawa rasa cemas  pada orang-orang yang alergi terhadap imaji mengenai tatanan dunia tanpa kelas.

Dia sebagai ‘genderuwo’ bagi orang-orang yang takut pada persatuan kaum buruh dalam merebut alat produksi: menghancurkan kapitalisme. Tapi komunisme tak bisa menjadi nyata sebagai sebuah sistem utuh dan tak terbantahkan. Dia ada hanya menakuti, sesekali makan korban, setelah itu menghilang.

Uni Soviet telah gagal mempertahankan komunisme. Kini Rusia hadir menjadi negara yang berdamai dengan kapitalisme. Komunisme yang menjelma menjadi totalitarianisme memang tak bisa bertahan lama di hadapan manusia yang secara alamiah tak bisa dipaksakan satu dan seragam. Ideologi yang ingin menegaskan totalitas dan merasa tanpa cacat, akan musnah di hadapan pikiran yang memang selalu bekerja untuk melakukan penolakan.

Atau,  komunisme menjadi kacau balau di tangan pemeluknya sendiri. Komunisme Korea Utara justru menjadi senjata untuk melegitimasi brutalitas sang diktator: Kim Jong Un. Selama ini negara tersebut hanya menjadi dinasti yang gila. Juga, komunisme Cina hanya topeng. Tapi kontradiksinya sangat jelas, saat negara tersebut mengafirmasi ekonomi kapitalisme dan menjadi negara modern yang timpang.

Komunisme ini mirip dengan, misalnya, ideologi khilafah. Para penganut ideologi khilafah di Indonesia kontradiktif bukan main. Mendukung capres yang secara figuritas berbanding terbalik dengan prinsip-prinsip ideologi Islam. Mereka juga kerap menuntut berdirinya sistem khilafah dengan memakai layanan demokrasi (misalnya demonstrasi) yang selama ini dianggapnya “thoghut“: dan mereka tetap jadi PNS sambil bercita-cita merobohkan sistem demokrasi.

Sejarah bergerak, dan kita menyaksikan ideologi itu tidak akan bisa tegak dan konsisten diterapkan. Karena ideologi itu selalu dijadikan senjata untuk menjadi totalitarian. Maka dia dengan sendirinya akan mendapatkan perlawanan pada kumpulan manusia yang menolak menjadi satu dan seragam. Dan pemeluk suatu ideologi selalu tak ideologis pada waktunya.

Maka, menjadi hal  lucu jika masih ada yang percaya komunisme bisa bangkit. Karena baru-baru ini kita kembali diperlihatkan pada sebuah lelucon. Saat beberapa oknum TNI menyita buku-buku yang berbau komunis  pada sebuah toko buku kecil.  Buku-buku yang sudah sangat sering didiskusikan di forum akademik. Buku yang sangat gampang diakses di perpustakaan-perpustakaan kampus. Mereka masih merasa dihantui oleh ideologi yang sudah tidak relevan lagi di sebuah era yang serba  cair ini.

Komunisme sebagai ideologi memang bisa runtuh. Tapi sebagai sebuah sejarah dan ilmu pengetahuan dia akan—dan seharusnya—tetap ada. Marxisme—fondasi paradigmatik komunisme itu dibangun—kini menjadi santapan teori untuk mahasiswa ilmu sosial dan politik. Dan sejarah komunisme diajarkan di bangku kuliah. Buku Capital karya Marx saja bisa dibaca oleh anak muda yang mengenakan pakaian merk Nike, di sebuah cafe dengan secangkir kopi seharga Rp.50.000.

Marxisme dan komunisme sebagai ilmu pengetahuan ini yang tak bisa disingkirkan oleh siapapun. Dia tak akan bisa runtuh. Karena dia akan terus dipelajari dalam forum-forum akademik, dikritik, diperbaruhi, disintesiskan dengan sejumlah teori yang ada sesuai kebutuhan zaman.

Karena, sekali lagi, manusia adalah mahluk yang secara alamiah tak bisa dipaksakan satu dan seragam. Untuk itu manusia tidak bisa dilarang-larang  mempelajari teori dan masa lalu. Jika banyak oknum yang masih takut ideologi komunisme akan berkembang biak lagi jika mempelajari hal ikhwal mengenainya, maka dia sedang takut dengan delusi yang diciptakannya sendiri. Di banyak negara, komunisme sudah kacau balau. Berhentilah berkhayal.

Di zaman post truth yang merayakan perbedaan dan nihilisme ini, ideologi yang dianggap sempurna dan tanpa cacat dan untuk itu perlu dianut pada semua orang, tidak akan bisa bertahan. Bahkan, jika militerisme kembali ingin ditegakkan, dia akan mendapatkan perlawanan pada manusia.

Hal ini perlu ditegaskan. Karena fenomena demikian selalu saja terulang di Indonesia. Masih saja ada oknum yang melarang buku kiri beredar. Bahkan diskusi tema marxisme atau PKI selalu dihentikan paksa. Bangsa yang ingin maju selalu butuh buku. Agar masyarakatnya punya semangat mengembangkan ilmu pengetahuan.

Bagaimana pun sosiolog tetap butuh buku karangan Karl Marx untuk disintesiskan dengan segala teori yang ada agar bisa mengembangkan ilmu sosial guna membaca permasalahan masyarakat yang begitu kompleks. Sebagaimana teori sains mutakhir selalu dibutuhkan guna menciptakan teknologi yang baru. Kalau bacaan publik saja sudah dibatasi, apa gunanya bicara tentang kemajuan?

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/mrmephobia/art/Communist-party-vector-graphic-369113172

The following two tabs change content below.

Muhajir MA

Kesehariannya bekerja sebagai jurnalis. Ikut mengasuh kalaliterasi.com dengan posisi sebagai redaktur. Menyukai kopi dan buku. Saat ini bercita-cita untuk berhenti merokok, saat menyadari menjadi Ksatria Baja Hitam itu mustahil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *