Hikayat Perberasan di Bandar Niaga Somba Opu pada Abad XVI dan XVII

 

Masyarakat di Sulawesi Selatan sejak dahulu dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Berdasarkan catatan pengelana Portugis, penduduk dari negeri ini telah melakukan suatu perniagaan dan menjalin kontak dagang dengan masyarakat (pedagang) di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan tempat-tempat di antara Siam dan Pahang. Tome Pires dalam catatannya menggolongkan pedagang-pedagang dari wilayah tersebut dalam dua golongan. Golongan yang pertama mencakup para pedagang yang melakukan kegiatan perdagangan dengan membawa beras putih dan sedikit emas. Sedangkan golongan kedua ialah mereka yang berlayar atau berniaga dengan membawa istri mereka dan melakukan perampokan—dan tentunya menjual barang rampokan tersebut, terkadang pula mereka menawan budak. Jika dikaitkan pemberitaan dengan budaya di negeri-negeri tersebut, maka jelas bahwa kelompok yang dimaksud adalah Bajo atau Sama (penduduk aquatik), sementara yang lainnya adalah orang Makassar, Bugis, Mandar, dan Selayar.[1]

Berdasarkan gambaran dari Tome Pires[2] bahwa jaringan perdagangan Sulawesi Selatan telah berkembang setidaknya pada Abad ke XVI—di mana salah satu komoditi yang diperdagakan menurut Pires adalah beras. Perkelindaan para pedagang-pedagang Sulawesi Selatan dalam dunia pelayaran niaga dimungkinkan oleh keadaan pesisir Sulawesi Selatan di Abad ke XVI. Paruh awal abad ke XVI di pesisir Sulawesi Selatan telah terbentuk kota-kota pelabuhan atau bandar niaga seperti: Siang (Pangkajene), Bacukiki, Suppa, Nepo (Balanipa), Tallo, dan Somba Opu.[3] Bandar niaga inilah yang dimanfaatkan penduduk dan penguasa setempat untuk memasarkan komoditi andalannya di mana salah satunya adalah beras.

Keterlibatan penduduk di kota-kota pelabuhan tersebut kiranya mengingatkan pada pernyataan Alfred Thyan Mahan, yang menyatakan :apabila keadaan pantai suatu negara memungkinkan penduduknya turun kelaut, mereka akan lebih bergairah untuk mencari hubungan keluar melalui laut. Dorongan untuk menjalin hubungan dengan wilayah luar berkaitan dengan kecenderungan penduduknya untuk berdagang yang pada gilirannya akan melibatkan kebutuhan untuk memproduksi barang dagangan.[4] Pernyataan ini menempatkan keadaan geografi sebagai faktor keterlibatan penduduk dalam dunia kemaritiman, khususnya dalam kaitannya dengan dunia perdagangan, termasuk perdagangan beras. Itulah sebabnya tercatat—dalam berbagai catatan atau literature—bahwa para pedagang asing dalam jumlah besar telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di daerah tersebut.

Kehadiran pedagang luar ke pelabuhan di wilayah Sulawesi Selatan pada masa itu berpengaruh terhadap kebijaksanaan pemerintah setempat. Kerajaan yang memiliki ambisi yang besar untuk dapat mengawasi kegiatan perniagaan di kawasan Sulawesi Selatan adalah kerajaan Gowa-Tallo atau lazim disebut Kerajaan Makassar. Sekadar catatan, musabab bersatunya dua kaerajaan ini selain merekatkan hubungan antara Raja Gowa dan Tallo yang pernah renggang juga mencanangkan usaha penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan pesisir dan kerajaan agraris yang potensial di jazirah Sulawesi. Kebijaksanaan itu berakibat pada kota pelabuhan-pelabuhan kerajaan taklukkan menjadi sirna. Walhasil, kota pelabuhan di Kerajaan Makassar Makassar berkembang menjadi pusat perniagaan Jazirah Sulawesi.[5] Selain itu, Pemusatan kegiatan penduduk yang bergiat dalam dunia niaga/perdagangan di kawasan Makassar akhirnya berhasil menempatkan kota pelabuhan tersebut sebagai pusat perniagaan dan pelabuhan transito terbesar di Nusantara dalam paruh Abad XVI dan Abad XVII.[6]

Sekadar catatan tersendiri, Pelabuhan Makassar atau Bandar Niaga Somba Opu baru memperlihatkan gejala pertumbuhan dengan pesat pada pertengahan abad XVI, kemudian meningkat lagi perkembangannya di awal abad XVII.  Pertumbuhan itu sangat dipengaruhi oleh dorongan pertumbuhan internal maupun pengaruh situasi perkembangan niaga dari luar. Pertumbuhan  internal bersumber dari adanya “ambisi” penguasa kerajaan Gowa-Tallo untuk mengembangkan bandar niaganya sebagai satu-satunya pelabuhan dagang dan pusat perdagangan di wilayah tersebut.[7]

Sedangkan dorongan pertumbuhan dari luar antara lain disebabkan: Pertama, terjadinya pergeseran kegiatan perniagaan ke wilayah timur mengikuti situasi perkembangan politik di Nusantara, yakni sejak jatuhnya Malaka pada tahun 1511 dan dikuasainya jaringan perdagangan Selat Malaka untuk beberapa waktu oleh orang-orang Portugis. Ihwal tersebut menyebabkan banyak pedagang-pedagang dari Malaka mengalihkan perdagangannya, salah satunya ke Makassar atau Pelabuhan Somba Opu.[8] Kedua, hadirnya sekelompok pedagang asing untuk menjadikan Pelabuhan Makassar sebagai koloni dagang dan mengalihkan perdagangan mereka ke Makassar. [9]

Pilihan pada pelabuan ini di samping letaknya strategis, sikap penguasa di bandar ini sangat terbuka bagi kehadiran pendatang asing dan tidak membatasi perdagangan di wilayahnya. Hal ini tak mengherankan karena kerajaan ini menerapkan politik terbuka (mare liberum) dalam dunia perdagangan pada abad XVII.[10]

Para pedagang yang berdatangan dari berbagai suku bangsa ke pelabuhan ini masing-masing membawa komoditi perdagangan andalannya. Pedagang Asia seperti Melayu, Cina, India, dan Arab membawa kain tenun, kain sutera, porselen, barang pecah belah dan perhiasan. Sedangakan pedagang Portugis membawa pakaian. Menurut memorandum Belanda tentang perdagangan di Nusantara tahun 1603, bahwa tiap-tiap tahun kapal Portugis ke Somba Opu (Makassar) membeli pala, bunga pala, dan budak. Semua pembelian tersebut ditukarkan dengan pakaian.[11]

Kemudian bagi penduduk pribumi, hasil utama yang diperdagangkan di bandar niaga Somba Opu adalah komoditi beras dari daerah pedalaman. Maros dan Takalar adalah daerah pedalaman yang subur sebagai daerah produksi beras, sedang Bantaeng dikenal sebagai lumbung beras Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar). Demikian pula dengan kerajaan Bugis seperti Bone, Wajo, dan Soppeng, merupakan kerajaan agraris yang menghasilkan beras. Bahkan menurut Anthony Reid di tahun 1610 daerah Maros menghasilkan beras tidak kurang dari 1000 ton tiap tahun.[12] Bahkan seorang Belanda yang pernah mengunjungi Makassar pada permulaan abad XVII mengungkapkan ketakjubannya terhadap kesuburan dan keindahan wilayah ini:

“Wilayah Makassar dari laut terlihat sebagai daerah yang paling subur dan paling menyenangkan. Wilayah ini berupa daratan, indah, hijau, dan tidak begitu tertutup hutan seperti daerah-daerah lain di Hindia; penduduknya sangat padat. Makassar adalah daerah persawahan indah, di mana-mana padi tumbuh; hal ini dapat dilihat jika berlayar menyusuri pantai, terutama pada bulan Maret, April, Mei, dan Juni. Lebih ke dalam lagi terdapat kebun kelapa yang indah. Pohon ditanam berjejer-jejer teratur dan daunnya yang rindang melindungi orang dari terik matahari”.[13]

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kegiatan niaga di daerah ini  erkembang karena didukung oleh potensi penduduk Sulawesi Selatan yang bergerak di bidang agraris dan maritim, pun berkelindaan dengan potensi wilayahnya yang subur dan sangat baik untuk ditanami padi. Bahkan, ketika pemerintahan kolonial Belanda menancapkan kukunya di wilayah ini (sejak tahun 1667) kegiatan pertanian dan perdagangan beras pun masih tetap berlanjut dan menjadi salah satu penggerak urat nadi perekonomian di jazirah Sulawesi.

Daftar Rujukan

Anwar, Muhammad Vibrant. 1993. Terbentuknya Kota Pelabuhan Makassar: Studi Kasus Tonggak Awal Pembentukan Kota Makassar Pada Masa Kerajaan Gowa Tahun 1510-1653, Skripsi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Poelinggomang, Edward L., 2002. Makassar Abad  XIX Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation.

————————————— 2011. Padewakang dan Pinisi Kajian Kemaritiman Sulawesi Selatan, dalam Jurnal IKAHIMSI Edisi I, No.2, Juli-Desember. Palu: Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se Indonesia bekerja sama dengan Penerbit Ombak.

Hamid, Abd. Rahman. 2013. Sejarah Maritim Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

M.A.P., Melink Roelofs dalam Yuliani Umar. 1990. Bandar Somba Opu Sebagai Sumber Penghasilan Kerajaan Gowa Sampai Tahun 1667, Skripsi. Jakarta: Fakults Sastra Universitas Indonesia.

Maryam, Siiti. 1999. Perdagangan Beras Di Sulawesi Selatan Tahun 1930-1940, Skripsi. Ujung Pandang: Fakultas Sastra Hasanuddin.Pires, Tome. 2014. Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Fransisco Rodrigeus. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

[1] Edward L Poelinggomang, Padewakang dan Pinisi Kajian Kemaritiman Sulawesi Selatan, dalam Jurnal IKAHIMSI Edisi I, No.2, Juli-Desember (Palu: Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se Indonesia bekerja sama dengan Penerbit Ombak, 2011) hlm. 49

[2] Salah satu karya termahsyur Tome Pires adalah Suma Oriental, Suma Oriental que trata do Mar  Raxo ate aos Chins (Ikhtisar Perjalanan Wilayah Timur dari Laut Merah Hingga Negeri Cina), karya ini ditulis Tome Pires pada tahun 1512-1515 yang berisi informasi kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara di Abad ke XVI termasuk wilayah Indonesia (Nusantara). Karya Tome Pires dicetak ulang oleh Penerbit Ombak dengan judul Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Fransisco Rodrigeus. (Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2014).

[3] Edward LPoelinggomang, Makassar Abad  XIX Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 2002) hlm. 23-26

[4] Edward LPoelinggomang, Op.,Cit. Hlm. 50 lihat Pula Abd. Rahman Hamid, Sejarah Maritim Indonesia (Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2013)

[5] Ibid

[6] Edward LPoelinggomang Loc.Cit

[7] Muhammad Vibrant Anwar, Terbentuknya Kota Pelabuhan Makassar: Studi Kasus Tonggak Awal Pembentukan Kota Makassar Pada Masa Kerajaan Gowa Tahun 1510-1653, Skripsi  (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1993) hlm. 84

[8] Jatuhnya Malaka di tangan portugis di tahun 1511 membuat kegiatan perniagaan yang awalnya berpusat di Malaka bergeser ke daerah tanah Jawa yakni pesisir Jawa timur, akan tetapi adanya serangan dari Mataram mengakibatkan pesisir Jawa Timur tidak aman, peperangan terus menerus berlangsung antara Jawa Timur (bekas wilayah pengaruh Kerajaan Majapahit) dan Jawa Tengah (Kerajaan Mataram), antara tahun 1600-1625 yang menandai kemunduran bagi perdagangan melalui pesisir Jawa Timur beralih ke Bandar Somba Opu (Makassar). Kegiatan perdagangan di bandar Somba Opu (Makassar) memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi Kerajaan Gowa (di Abad ke XVII Kerajaan Gowa telah menguasai wilayah Sulawesi Selatan) posisi yang strategis sebagai bandar transito mendorong daerah tersebut untuk memproduksi komoditi perdagangan (salah satunya beras) serta mendatangkan dari daerah sekitarnya (Maros, Pangkep, Bone, Bantaeng dan beberapa daerah pedalaman)

[9] Muhammad Vibrant Anwar, Op.,Cit. Hlm. 85-86.

[10] Siti Maryam, Perdagangan Beras Di Sulawesi Selatan Tahun 1930-1940, Skripsi  (Ujung Pandang: Fakultas Sastra Hasanuddin, 1999) hlm. 84

[11] M.A.P., Melink Roelofs dalam Yuliani Umar, Bandar Somba Opu Sebagai Sumber Penghasilan Kerajaan Gowa Sampai Tahun 1667, Skripsi (Jakarta: Fakults Sastra Universitas Indonesia, 1990) Hlm. 47

[12] Ibid, Hlm. 49

[13] Edward L. Poelinggomang. Op.,Cit. Hlm. 15

 

 

 

Sumber gambar: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmakassar/wp-content/uploads/sites/32/2015/05/Benteng-Somba-Opu1.jpg

 

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *